ANALISIS DEIKSIS PADA NOVEL “CATATAN DARI
PENJARA PEREMPUAN” KARYA NAWAL EL SAADAWI
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mengikuti Ujian Skripsi Pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh Kasmawati. B NIM 10533 6941 12
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2016
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : KASMAWATI. B
NIM : 10533 6941 12
Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Judul Skripsi : Analisis Deiksis pada novel Catatan dari Penjara perempuan karya Nawal El Saadawi.
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya sendiri dan bukan ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun.
Demikian pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, Oktober 2016
Yang Membuat Pernyataan
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
SURAT PERJANJIAN
Saya yang bertandatangan di bawahini: Nama : KASMAWATI. B NIM : 10533 6941 12
Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakulta : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).
2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas.
3. Saya tidak akan melakukan penjuplakan (Plagiat) dalam penyusunan skripsi. 4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3, saya bersedia
menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.
Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.
Makassar, Oktober 2016 Yang Membuat Perjanjian
KASMAWATI. B
Mengetahui,
Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Dr. Munirah, M.Pd
Belajarlah seolah engkau hidup selamanya”
Pengalaman adalah guru, menjadikan pengalaman jatuh dan bangun
sebagai proses dalam membangun pendidikan yang berkarakter untuk diri
sendiri dan orang lain. Usaha dan doa yang tiada henti agar bisa
mengalahkan musuh dalam hidup (malas). Menjadikan hari ini baik dan
hari esoknya lebih baik lagi.
Persembahan
Setiap goresan tinta ini adalah wujud dari keagungan dan kasih saying
yang diberikan Allah Swt kepada semua umatnya.
Setiap waktu untuk menyelesaikan karya tulis ini adalah dorongan
motivasi dari kedua orang tua dan keluarga yang memberikan doa yang
tiada hentinya.
Setiap usaha yang tergores dalam tulisan ini merupakan dorongan dan
semangat dari teman-teman seperjuanganku.
ABSTRAK
Kasmawati B. 2016. “Penggunaan Deiksis pada Novel“Catatan dari Penjara Perempuan”
Karya Nawal El Saadawi”. Skripsi. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Drs. H. Tjoddin, SB, M. Pd. dan pembimbing II Syekh Adiwijaya Latief, S. Pd., M. Pd.
Masalah utama dalam penelitian ini adalah memahami situasi pembicaraan dalam karya sastra terutama novel untuk mengetahui, biasanya pembaca kurang memahami maksud sebenarnya yang ingin disampaikan penulis, untuk itu penggunaan deiksis sangatlah perlu dikaji untuk memahami situasi penutur dan lawan tutur dan tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penggunaan deiksis dalam sebuah karya sastra.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, maksudnya peneliti hanya menjelaskan dan mendeskripsikan tentang penggunaan deiksis persona, tempat, dan waktu. Sedangkan data yang dikumpulkan peneliti berasal dari sebuah novel “Catatan dari Penjara
Perempuan” Karya Nawal El Saadawi, berupa korpus-korpus data yang diambil setelah
membaca berulang-ulang novel.
Hasil penelitian ini ditemukan penggunaan deiksis “penunjukan” dalam beberapa kutipan parargraf, seperti contoh deiksis persona yang merujuk pada orang atau menggantikan seseorang (ia, dia, kita, mereka dan kamu), selanjutnya penggunaan deiksis tempat (di sana dan di sini), penggunaan deiksis waktu ( pagi tadi, sejam yang lalu dan sekarang).
Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, dapat disimpulkan penggunaan deiksis pada novel ini ditemukan banyak penggunaan deiksis yang menjelaskan siapa dan untuk siapa tuturan itu.
vii
Puji syukur penulis panjatkan ke hadapan Tuhan yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nyalah skripsi ini dapat terselesaikan tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Kesempurnaan hanya milik Allah, tetapi penulis dengan segala ketekunan ingin memperoleh hasil yang memuaskan, dan untuk itu dengan segala tekad yang kuat penulis membuat tulisan ini ingin bermanfaat dalam dunia pendidikan, khususnya dalam lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.
Motivasi dari berbagai pihak yang sangat membantu dalam penyusunan penelitian ini mulai dari penyusunan proposal hingga skripsi. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Drs. H. Tjoddin, SB, M. Pd. Selaku pembimbing 1 dan Syekh Adiwijaya Latief, S. Pd., M. Pd. pembimbing II, yang
telah memberikan bimbingan dan motivasi sejak awal penyusunan proposal hingga selesainya skripsi ini.
Kepada Bapak Dr. H. Abdul Rahman Rahim, S.E., M.M Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. A. Syukri Syamsuri, M. Hum., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. Munirah, M.Pd., Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga penulis ucapkan kepada kedua orang tua saya yang telah berjuang, berdoa, mengasuh, membesarkan, mendidik dan membiayai penulis dalam pencarian ilmu. Demikian pula, penulis mengucapkan kepada para keluarga yang tak henti-hentinya memberikan motivasi, kepada sahabat serta teman-teman seperjuangan dari kampus dan juga
viii
terkhusus teman-teman kelas A Bahasa dan Sastra Indonesia Angkatan 2012 yang telah berbagi suka duka selama empat tahun bersama menekuni pendidikan ini dan yang telah memberikan motivasi dan masukan selama proses penyusunan dan selesainya skrispi ini, Serta semua pihak yang telah memberikan semangat, inspirasi dan motivasi yang tidak sempat disebutkan namanya.
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak yang sifatnya membangun karena penulis yakin bahwa suatu masalah tidak akan berarti tanpa adanya kritikan dan saran. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Makassar, 2016
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ...i
HALAMAN PENGESAHAN ...ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ...iii
SURAT PERNYATAAN...iv
SURAT PERJANJIAN ...v
MOTO DAN PERSEMBAHAN...vi
ABSTRAK ...vii
KATA PENGANTAR ...viii
DAFTAR ISI ...xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Kajian Pustaka ...7
1. Penelitian yang Relevan ...7
2. Kajian Teori ...8
3. Pragmatik dan Ruang lingkup ...9
4. Konsep dan Teori Pragmatik ...11
5. Pengertian deiksis...13
6. Karya Sastra ...18
7. Hakikat Novel ...19
8. Bahasa Novel ...19
9. Jenis-jenis deiksis ...21
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ...23
2. Deiksis tempat...32 3. Deiksis waktu... ...46
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan...47 B. Saran...47
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP
1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Manusia senantiasa mendambakan komunikasi. Komunikasi ini terjadi baik antar sesamanya maupun pada makhluk lain. Komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara yang sifatnya komunikatif. Artinya, antara orang yang satu sebagai pemberi informasi dengan orang yang lain sebagai penerima informasi (Simpen, 1987: 2).
Apabila dilihat dari perkembangannya, maka bahasa pertama kali disampaikan secara lisan. Dalam hal ini bahasa sebagai alat komunikasi yang disampaikan secara langsung terhadap lawan bicaranya. Pada dasarnya yang kita terima melalui pendengaran adalah bunyi.
Kehidupan manusia sangat kompleks. Bersamaan dengan hal itu banyak kegiatan harus diwarnai oleh penggunaan bahasa. Otak manusia memiliki kemampuan yang amat terbatas, untuk mengingatkan semua gejala, peristiwa, fakta, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan hidupnya. Oleh karena itu, pergaulan antar manusia telah mencapai kepesatan yang luar biasa (Simpen, 1987: 4-5).
Untuk menjamin kelangsungan akan warisan budaya yang amat berarti bagi generasinya, maka manusia mulai menyadari pentingnya bahasa tulis, selain bahasa lisan. Bahasa tulis senantiasa membawa misi agar dapat mengabadikan segala peristiwa manusia di dalam hidupnya.
Sastra merupakan wujud gagasan seseorang melalui pandangan terhadap lingkungan sosial yang berada di sekelilingnya dengan menggunakan bahasa yang indah. Sastra hadir sebagai hasil perenungan pengarang terhadap fenomena yang ada. Sastra sebagai karya fiksi memiliki pemahaman yang lebih mendalam, bukan hanya sekadar cerita khayal atau angan dari pengarang saja, melainkan wujud dari kreativitas pengarang dalam menggali dan mengolah gagasan yang ada dalam pikirannya.
Karya sastra merupakan hasil pemikiran tentang kehidupan manusia yang perwujudannya dalam fiksi serta keberadaannya merupakan pengalaman manusia. Suatu karya sastra diciptakan oleh pengarang untuk dibaca, dipahami dan dinikmati. Melalui karyanya, pengarang ingin mengungkapkan masalah manusia dan kemanusiaan, penderitaan, perjuangan, kasih sayang, kebencian, nafsu, segala sesuatu yang dialami manusia di dunia ini. Pengarang dengan cipta sastra ingin menampilkan nilai-nilai yang lebih tinggi dan mampu menafsirkan tentang makna dan hakikat hidup.
Selanjutnya karya sastra tidak saja lahir dari fenomena-fenomena kehidupan lugas, tetapi juga kesadaran penulisnya bahwa sastra sebagai sesuatu yang imajinatif dan fiktif, sehingga harus melayani misi-misi yang dapat dipertanggungjawabkan. Sastrawan ketika menciptakan karya sastranya tidak saja didorong oleh hasrat untuk menciptakan keindahan, tetapi juga berkehendak untuk menciptakan pikiran-pikirannya, dan kesan-kesan perasaannya terhadap sesuatu. Setiap pengarang dalam membuat karya akan memperlihatkan penggunaan bahasa dengan ciri-ciri dan pola-pola tersendiri yang membedakannya dengan pengarang
3
lainnya. Penggunaan bahasa yang khas dalam karyanya tentu akan memperlihatkan ciri-ciri individualisme, originalitas, dan gaya masing-masing pengarang.
Bahasa mempunyai peran di bidang komunikasi dalam berbagai konteks. Konteks yang dimaksud adalah konteks bahasa, baik tulisan maupun lisan. Dalam hal ini ilmu kebahasaan, konteks serta peristiwa tutur dikaji dalam sebuah ilmu yang disebut pragmatik. Pendekatan pragmatik dipergunakan untuk memahami srategi pemahaman konteks yang biasanya diluar konteks penutur dan lawan tutur.
Kajian pragmatik ada beberapa aspek yang dibahas yaitu: teori tindak tutur, teori implikatur, teori relevansi, deiksis, praanggapan. Dari beberapa aspek yang dibahas penulis hanya mengkaji dari segi penggunaan deiksis.
Penggunaan deiksis yang jelas dapat membuat pembaca mengerti ide yang akan disampaikan oleh pengarang, sebaliknya penggunaan deiksis yang kabut akan membuat pembaca tidak tanggap akan ide yang akan disampaikan oleh pengarang. Penggunaan deiksis sangat penting dalam sebuah tuturan agar maksud yang disampaikan oleh pembicara dapat dimengerti oleh lawan tutur.
Penelitian tentang deiksis perlu dilakukan karena dapat memahami tuturan tidak hanya secara lateral, tetapi juga dengan pemahaman berbagai bentuk dan fungsi deiksis yang dihubungkan dengan konteks (berkaitan dengan siapa yang berbicara, apa yang dibicarakan kepada siapa pembiacaraan itu ditujukan, kapan, dan di mana pembicaraan itu dilakukan) yang ada dan pengetahuan yang dimiliki penutur. Penelitian deiksis dilakukan dengan menggambarkan fungsi kata persona, fungsi ganti demonstrative, fungsi waktu, dari bermacam-macam ciri
gramatikal dan leksikal lainnya yang menghubungkan ujaran dengan jalinan ruang dan waktu dalam tindak ujar (Purwo: 1984: 25).
Novel catatan dari penjara perempuan Nawal El Sadawi adalah seorang dokter sekaligus seorang aktifis perempuan. Dalam masa pemerintahan Anwar Sadat yang sedang berkomfrontasi dan disusul dengan proses perjalanan damai dengan negara israel. Mesir tidak mengijinkan bentuk aksi protes maupun pemikiran kritis warga negaranya. Nawal El Saadawi yang juga dikenal sebagai perempuan yang cendekiawan dan berdarah kritis yang tidak mempedulikan rambu-rambu yang telah ada. Dengan pasal melawan pemerintahan yang sah dan menimbulkan permusuhan bersifat sectarian, hingga diseret kedalam penjara.
Di tangan seorang feminis macam Nawal El Sadawi, peristiwa itu dijalaninya dengan suatu cerita-cerita yang memikat menyentuh dasar hubungan kaum perempuan dengan kekuasaan politik maupun kekuasaan kaum pria baik yang berasal dari pembenaran teologis maupun pembenaran lainnya tak terkecuali perempuan kalangan atas maupun kalangan bawah.
Sajian Nawal El Saadawi pada novel Catatan Dari Penjara Perempuan ia menyajikan luapan-luapan analisisnya terhadap peristiwa yang benar-benar dialaminya sendiri.
Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik menganalisis pragmatik khususnya Analisis deiksis pada novel Catatan dari Penjara Perempuan karena melibatkan bagaimana orang saling memahami satu sama lain secara linguistik, namun dapat juga merupakan ruang lingkup studi yang mematahkan semangat karena studi ini mengharuskan kita untuk memahami orang lain dan apa yang ada
5
dalam pikirannya. Dalam kajian pragmatik ada beberapa aspek yang dibahas yaitu: teori tindak tutur, teori implikatur, teori relevansi, deiksis, praanggapan. Dari beberapa aspek yang dibahas penulis hanya mengkaji dari segi penggunaan deiksis yang terdiri dari deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu.
B. Rumusan Masalah
Penelitian mengenai deiksis dalam novel Catatan dari Penjara Perempuan belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, penelitian tentang deiksis dalam novel ini perlu dilakukan. Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dirumuskan permasalahan yaitu: Bagaimanakah penggunaan deiksis pada Novel “Catatan dari
Penjara Perempuan” karya Nawal El Saadawi?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penggunaan deiksis pada Novel “Catatan dari Penjara Perempuan” Karya Nawal El Saadawi.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat, baik manfaat secara teoritis maupun praktis.
1. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi dan memperkaya teori pengetahuan tentang pragmatik terutama penggunaan deiksis (penunjukkan) untuk memahami makna yang disampaikan penutur.
2. Manfaat Praktis
a. Memberikan informasi mengenai penggunaan deiksis atau penunjukkan;
b. Dapat membantu pengembangan ilmu pragmatik, khususnya pada penggunaan deiksis yang merupakan bagian dari pragmatik.
c. Dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian berikutnya dengan substansi yang sama.
E. Definisi istilah
1. Karya sastra merupakan hasil pemikiran tentang kehidupan manusia yang perwujudannya dalam fiksi serta keberadaannya merupakan pengalaman manusia. Suatu karya sastra diciptakan oleh pengarang untuk dibaca, dipahami dan dinikmati(Badrun, 1983:19).
2. Novel adalah prosa baru yang menceritakan tentang perjalanan hidup
pelaku utamanya yang mengandung konflik dan sangat menarik minat pembaca melanjutkan ceritanya. Novel lebih panjang dan kompleks daripada cerpen (Badrun, 1983:98).
3. Pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (atau pembaca). Pragmatik adalah studi tentang maksud penutur (Yule :1996: 3).
4. Deiksis adalah suatu gejala semantis yang terdapat pada kata atau kontruksi yang acuannya dapat ditafsirkan sesuai dengan situasi pembicaraan dan menunjuk pada sesuatu di luar bahasa seperti kata tunjuk, pronomina, dan sebagainya(Yule, 1996:13).
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Kajian Pustaka
1. Penelitian yang Relevan
Penelitian mengenai deiksis bukanlah hal yang baru pertamakali ini dilakukan, sudah ada penelitian terdahulu mengenai deiksis. Penelitian yang relevan mengenai penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Penelitian deiksis dalam naska Drama Sawerigading baru dilakukan oleh
Slamet Riyadi (2013) berjudul “Penggunaan Deiksis dalam”Drama
Sawerigading karya Nunding Ram”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
penggunaan deiksis dalam drama Sawerigading dibuktikan dengan banyaknya pemakaian kata ganti diri, baik kata ganti orang pertama, kedua dan ketiga. Sebuah kata dikategorikan sebagai bentuk deiksis apabila acuan atau rujukannya berbeda-beda, bergantung pada saat, di mana dan siapa yang menuturkan kata tersebut.
b. Penelitian yang relevan juga pernah diteliti oleh Hasria (2012) berjudul
“penggunaan Deiksis dalam novel Bercinta dalam Tahajjudku” karya Anshela. Dalam penelitian ini ditemukan penggunaan deiksis “Penunjukkan” seperti contoh deiksis persona yang merujuk pada orang atau menggantikan seseorang (ia, dia, kita, mereka dan kamu).
Hasil penelitian sebelumnya mengenai deiksis dapat menjadi informasi dan acuan bagi peneliti saat ini dalam menganalisis deiksis pada novel Catatan dari
2. Kajian Teori
Kajian teori yang diuraikan dalam penelitian ini pada dasarnya dijadikan acuan untuk mendukung dan memperjelas penelitian ini. Sehubungan dengan masalah yang diteliti, teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini diuraikan lebih lanjut.
3. Pragmatik dan Ruang Lingkupnya
Bahasa merupakan suatu sistem yang sistematis dan sistemis. Di dalam ketiga sub sistem – fonologi, gramatikal, dan leksikon- dunia bunyi dan dunia makna bertemu dan membentuk struktur. Di dalam dunia bunyi dan dunia makna terdapatlah konteks. Konteks mempengaruhi keserasian sistem suatu bahasa. Konteks, yaitu unsur di luar bahasa, dikaji dalam pragmatik. Pragmatik merupakan cabang linguistik yang memperlajari bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dalam situasi tertentu Nadar (2013: 2).
Pertimbangan definisi pragmatik berikut yang diajukan Cummings(1999: 2). Pragmatik dapat dianggap berurusan dengan aspek-aspek informasi (dalam pengertian yang lebih luas) yang disampaikan melalui bahasa yang tidak dikodekan oleh konvensi yang diterima secara umum dalam bentuk-bentuk linguistik yang digunakan, namun juga muncul secara alamiah dan tergantung pada makna-makna yang dikodekan secara konvensional dengan konteks tempat penggunaan bentuk-bentuk tersebut [penekanan ditambahkan]. Tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (atau pembaca). Sebagai akibatnya studi ini lebih banyak berhubungan dengan analisis tentang apa yang dimaksudkan orang dengan tuturan-tuturannya daripada
9
dengan makna terpisah dari kata atau frase yang digunakan dalam tuturan itu sendiri. Pragmatik adalah studi tentang maksud penutur.
Tipe studi ini perlu melibatkan penafsiran tentang apa yang dimaksudkan orang di dalam suatu konteks khusus dan bagaimana konteks itu berpengaruh terhadap apa yang dikatakan. Diperlukan suatu pertimbangan tentang bagaimana cara penutur mengatur apa yang ingin mereka katakan yang disesuaikan dengan orang yang mereka ajak bicara, di mana, kapan, dan dalam keadaan apa.
Pragmatik adalah studi tentang makna kontekstual.
Pendekatan ini juga perlu menyelidiki bagaimana cara pendengar dapat menyimpulkan tentang apa yang dituturkan agar dapat sampai pada suatu interpretasi makna yang dimaksudkan oleh penutur. Tipe studi ini menggali betapa banyak sesuatu yang tidak dikatakan ternyata menjadi bagian yang disampaikan, kita boleh mengatakan bahwa studi ini adalah studi pencarian makna yang tersamar. Pragmatik adalah studi tentang bagaimana agar lebih
banyak yang disampaikan daripada yang dituturkan.
Pandangan ini kemudian menimbulkan pertanyaan tentang apa yang menentukan pilihan antara yang dituturkan dengan yang tidak dituturkan. Jawaban yang mendasar terikat pada gagasan jarak keakraban, baik keakraban fisik, sosial, atau konseptual, menyiratkan adanya pengalaman yang sama. Pada asumsi tentang seberapa dekat atau jauh jarak pendengar, penutur menentukan seberapa banyak kebutuhan yang dituturkan. Pragmatik adalah studi tentang ungkapan
Pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dan pemakaian bentuk-bentuk itu. Di antara tiga bagian perbedaan ini hanya pragmatik sajalah yang memungkinkan orang ke dalam suatu analisis. Manfaat belajar bahasa melalui pragmatik ialah bahwa seseorang dapat bertutur kata tentang makna yang dimaksudkan orang, asumsi mereka, maksud atau tujuan mereka, dan jenis-jenis tindakan (sebagai contoh : permohonan) yang mereka perlihatkan ketika mereka sedang berbicara.
Jadi, pragmatik itu menarik karena melibatkan bagaimana orang saling memahami satu sama lain secara linguistik, tetapi pragmatik dapat juga merupakan ruang lingkup studi yang mematahkan semangat karena studi ini mengharuskan kita untuk memahami orang lain dan apa yang ada dalam pikiran mereka (Yule : 1996: 6).
Istilah pragmatik itu sendiri lahir dari filsuf Charles Morris yang mengolah kembali pemikiran-pemikiran filsuf-filsuf pendahulunya mengenai ilmu tanda dan lambang yang disebut semiotika. Oleh Morris, semiotika dibagi menjadi tiga cabang, yaitu semantik, sintaksis dan pragmatik (Levinson, 1983:1).
Menurut kamus linguistik pragmatik adalah syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi; aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran.
Dari banyaknya pengertian pragmatik di samping definisi tersebut, sejumlah definisi lain juga dicatat oleh Levinson (1983:1) dari berbagai sumber, antara lain : Pragmatics is one of those words that gives the impression that
11
something quite specific and techincal is being talked about when often infact it has no clear meaning (“pragmatik merupakan suatu istilah yang mengesankan
bahwa sesuatu yang sangat khusus dan teknis sedang menjadi objek pembicaraan, padahal istilah tersebut tidak mempunyai arti yang jelas.
1. Konsep dan Teori Pragmatik
a. Teori tindak tutur. b. Teori implikatur. c. Teori relevansi d. Deiksis
e. Praanggapan
Dari beberapa konsep dan teori pragmatik yang dituliskan, penelitian ini lebih berfokus pada penggunaan deiksis yang akan dibahas selanjutnya.
2. Pengertian Deiksis
Deiksis adalah cara merujuk pada suatu hal yang berkaitan erat dengan konteks penutur. Dengan demikian ada rujukan yang berasal dari penutur, dekat dengan penutur dan jauh dari penutur.
Deiksis berasal dari kata Yunani kuno yang berarti “menunjukkan atau menunjuk”. Dengan kata lain informasi kontekstual secara leksikal maupun gramatikal yang menunjuk pada hal tertentu baik benda, tempat, ataupun waktu itulah yang disebut dengan deiksis, misalnya dia,di mana, sekarang. Ketiga ungkapan itu memberi perintah untuk menunjuk konteks tertentu agar makna ujaran dapat di pahami dengan tegas. Deiksis adalah gejala semantis yang terdapat
pada kata atau konstruksi yang hanya dapat ditafsirkan acuannya dengan memperhitungkan situasi pembicaraan (Alwi, 1998:42).
Dalam KBBI (2005:245), deiksis diartikan hal atau fungsi menunjuk sesuatu di luar bahasa atau kata yang mengacu kepada persona, waktu, dan tempat suatu tuturan. Dalam kegiatan berbahasa kata-kata atau frasa-frasa yang mengacu kepada beberapa hal tersebut penunjukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung kepada siapa yang menjadi pembicara, saat dan tempat dituturkannya kata itu. Kata-kata seperti saya, dia, kamu merupakan kata-kata yang penunjukannya berganti-ganti. Rujukan kata-kata-kata-kata tersebut barulah dapat diketahui siapa, di mana, dan kapan kata-kata itu diucapkan. Sedangkan deiksis menurut kamus linguistik adalah hal atau fungsi yang menunjuk sesuatu di luar bahasa ; kata tunjuk pronomina, ketakrifan dan mempunyai fungsi deiktis..
Pengertian deiksis dibedakan dengan pengertian anafora. Deiksis dapat diartikan sebagai luar tuturan, dimana yang menjadi pusat orientasi deiksis senantiasa si pembicara, yang tidak merupakan unsur di dalam bahasa itu sendiri, sedangkan anafora merujuk pada tuturan baik yang mengacuh kata yang berada di belakang maupun mengacuh kata yang berada di depan.
Dari defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa deiksis adalah bentuk bahasa baik berupa kata maupun yang lainnya yang berfungsi sebagai penunjuk hal atau fungsi tertentu di luar bahasa. Dengan kata lain, sebuah bentuk bahasa bisa dikatakan bersifat deiksis apabila acuan/rujukan/referennya dapat berpindah-pindah atau berganti-ganti pada siapa yang menjadi sipembicara dan bergantung
13
pula pada saat dan tempat dituturkannya kata itu. Jadi deiksis merupakan kata-kata yang tidak memiliki referen yang tetap. Seperti contoh dialog berikut ini:
Ani : saya akan ke bandung minggu depan, kalau kamu? Ali : kalau saya santai di rumah.
Kata saya di atas sebagai kata ganti dua orang. Kata pertama adalah kata ganti dari ani sedangkan kata kedua sebagai kata ganti ali. Dari contoh di atas, tampak kata saya memiliki referen yang berpindah-pindah sesuai dengan konteks pembicaraan serta situasi berbahasa.
Fenomena deiksis merupakan cara yang paling jelas untuk mengambarkan hubungan antara bahasa dan konteks dalam struktur bahasa itu sendiri. Kata seperti saya, sini, sekarang adalah kata-kata deiksis, kata-kata ini tidak memiliki referen yang tetap. Referen kata saya, sini, sekarang, baru dapat diketahui maknanya jika diketahui pula siapa, ditempat mana, dan waktu kapan kata-kata itu diucapkan. Jadi, yang menjadi pusat orientasi deiksis adalah penutur atau pembicara.
3. Karya Sastra
Sastra bukanlah sebuah benda yang kita jumpai, tetapi sastra adalah sebuah nama yang dengan alasan tertentu diberikan kepada sejumlah hasil tertentu dalam satu lingkungan. Karya sastra adalah perwujudan dari pengalaman jiwa, bahasa, garis atau simbol-simbol lain yang unsur-unsurnya dipadukan pengarang dengan kekuatan imajinasi.
Sastra, seperti halnya karya seni lain hampir pada setiap zaman memegang peranan penting selalu mengekspresikan nilai-nilai kemanusian dan berfungsi sebagai alat meneruskan tradisi suatu bangsa. Sastra merupakan bagian dari kehidupan yang sering dikaji untuk menyingkap misteri kehidupan, membantu manusia menyingkap rahasia keadaannya, memberikan makna kepada eksistensinya, serta membuka jalan menuju kebenaran. Oleh karena itu, sastra sebagai ilmu pengetahuan memegang peranan yang sangat penting karena berusaha menyelidiki dengan mengupas berbagai aspek (Aziz, 2011: 1).
Karya sastra bernilai seni adalah karya sastra yang bersifat imajinatif dan seni. Artinya, karya sastra yang bermutu ialah karya sastra yang menunjukkan kreaktivitas/ penciptaan baru dan menunjukkan keaslian cipta serta bersifat seni. Sifat kegunaan karya sastra lebih banyak berhubungan dengan pemberian konsumsi batin penikmat. Karya sastra dapat berguna karena memancarkan pengalaman jiwa yang tinggi, hebat, agung sehingga dapat bermanfaat dalam memberikan pengalaman jiwa kepada penikmat. Dengan demikian fungsi seni sastra adalah menyenangkan dan berguna. Salah satu bentuk karya sastra prosa adalah novel (Badrun, 1983: 19).
Novel
1) Hakikat Novel
Novel ialah suatu cerita dengan plot yang cukup panjang mengenai satu atau lebih buku yang menggarap kehidupan laki-laki dan wanita yang bersifat imajinatif.
15
Kalau ditinjau dari segi kata-kata, biasanya novel mengandung kata-kata yang berkisar antara 3500 sampai tidak terbatas. Sedangkan jika diukur dengan kertas kuarto yang jumlah barisnya 35 buah dan tiap baris sepuluh kata, maka jumlah kata dalam satu lembar kuarto adalah 35 x 10 = 350 buah. Novel yang paling pendek 100 halaman, berarti 35 x 10 x100 = 35000 kata.
Jika diukur dengan kecepatan membaca maka untuk membaca sebuah novel diperlukan dua jam.
Ciri-ciri lain novel yaitu: tergantung kepada pelaku, menyajikan lebih dari satu impresi, menyajikan lebih dari satu efek, menyajikan lebih dari satu emosi (Badrun, 1983: 98).
2) Bahasa Novel
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, manusia memerlukan berbagai macam kebutuhan pokok; diantaranya ialah bahasa (Junus, 2010: 1). Bahasa indonesia sudah ditetapkan sebagai bahasa negara, seperti tercantum dalam Pasal 36, Undang-undang Dasar 1945. Oleh karena itu, semua warga negara indonesia wajib menggunakan bahasa indonesia itu dengan baik dan benar (Arifin, 1993: 1).
Bahasa adalah salah satu kebutuhan pokok diantara sejumlah kebutuhan manusia sehari-hari. Betapa pentingnya bahasa sebagai alat komunikasi yang primer dapat dirasakan oleh setiap pengguna.
Definisi bahasa yang tidak hanya menunjukkan fungsi sosial namun bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan
mengidentifikasikan diri. Bahasa sebagai sistem lambang bunyi oral yang arbitrer yang digunakan oleh sekelompok manusia atau masyarakat sebagai alat komunikasi atau berinteraksi. Sebagai alat komunikasi verbal bahasa merupakan suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer. Maksudnya, tidak ada hubungan wajib antara lambang sebagai hal yang menandai yang berwujud kata atau leksem dengan benda atau konsep yang ditandai, yaitu referen dari kata atau leksem tersebut (Chaer, 2009: 1).
Bahasa merupakan salah satu ciri kekhususan seni sastra khususnya novel. Oleh sebab itu, kita perlu mengenal ciri bahasa seni sastra. Bahasa novel berbeda dengan bahasa ilmu pengetahuan. Bahasa ilmu pengetahuan berhubungan dengan pikiran dan mengandung satu pengertian (denotatif). Sedangkan bahasa seni sastra bersifat perasaan dan mengandung banyak tafsir. Selain itu bahasa seni sastra tidak hanya menunjuk, tetapi bersifat ekspresif dan membawa nada dan sikap penulisnya, juga tidak hanya menerangkan dan menyatakan apa yang dikatakan namun bermaksud mempengaruhi sikap pembaca, membujuk dan mengubah pendirian pembaca.
Perlu diketahui bahasa seni sastra merupakan hasil penggalian dan peresapan secara teratur seluruh kemungkinan yang dikandung bahasa itu, sehingga tidak jarang banyak penyair atau pengarang yang menggunakan sesuatu yang telah diolah oleh generasi sebelumnya (Badrun, 1983: 17).
17
Bahan untuk mewujudkan bentuk sastra adalah bahasa. Bahasa dalam sastra dapat berwujud lisan dan melahirkan sastra lisan. Tetapi, juga dapat berwujud tulisan dan melahirkan sastra tulis.
Baik sastra tulis maupun sastra lisan mewujudkan dirinya dalam suatu bentuk yang bermacam ragam. Namun, apa pun bentuknya, setiap bentuk itu terdiri dari satuan unsur-unsur yang membentuk satu susunan atau struktur sehingga menjadi sesuatu wujud yang bulat dan utuh (Aziz, 2011: 1).
Bahasa dalam bentuk tertulis merupakan catatan pikiran dan budaya manusia dari zaman ke zaman sepanjang zaman yang dapat memperkenalkan setiap karya-karya sastra kepada generasi berikutnya. Sehingga, anak dapat menumbuhkan apresiasi keindahan bahasa sebagai media komunikasi di dalam berkarya.
Bahasa merupakan sarana pengarang agar leluasa dalam mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaannya. Penelitian menggunakan bahasa yang memungkinkan bunyi bahasa yang dituturkan pengarang mungkin selalu berubah, kadang-kadang secara teratur dan kadang tidak dengan faktor-faktor pendorong yang bermacam-macam pula.
Semua bentuk ekspresi kejiwaan dalam karya sastra khususnya novel, disalurkan melalui bahasa yang lebih ruwet, membahasakan ekspresi pengarang yang ditujukan kepada pembacanya misalnya meyakinkan, menyindir, mengkritik, menghibur, dan sebagainya. Seorang sastrawan, memerlukan kalimat yang
sanggup menggugah perasaan yang halus dari manusia dan kemanusiaan, dan mampu membahasakan ekspresi kejiwaannya.
4. Jenis-Jenis Deiksis
Dalam kajian pragmatik, deiksis dapat dibagi menjadi beberapa jenis berikut ini.
a. Deiksis Persona
Istilah persona berasal dari kata Latin persona sebagai terjemahan dari kata Yunani prosopon, yang artinya topeng (topeng yang dipakai seorang pemain sandiwara), berarti juga peranan atau watak yang dibawakan oleh pemain sandiwara. Istilah persona dipilih oleh ahli bahasa waktu itu disebabkan oleh adanya kemiripan antara peristiwa bahasa dan permainan bahasa.
Deiksis perorangan (persona deixis); menunjuk peran dari partisipan dalam peristiwa percakapan misalnya pembicara, yang dibicarakan, dan entitas yang lain. Deiksis orang ditentukan menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa. Peran peserta itu dapat dibagi menjadi tiga. Pertama ialah orang pertama, yaitu kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya, misalnya saya, kita, dan kami. Kedua ialah orang kedua, yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama, misalnya kamu, kalian, saudara. Ketiga ialah orang ketiga, yaitu kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu, baik hadir maupun tidak, misalnya dia dan mereka.
19
Contoh:
Ada 2 orang di kebun. Mereka sedang menanam ketela.
Pada kalimat di atas, terdapat deiksis persona berbentuk kata “mereka” yang mengacu pada dua orang.
Selain itu juga terdapat beberapa jenis penggunaan deiksis persona dan digunakan untuk membedakan pembentukan kata ganti orang yaitu : deiksis persona pertama tunggal berupa kata aku dan saya, kata aku digunakan pada situasi formal dan kata saya juga digunakan pada situasi formal, deiksis persona pertama jamak yaitu penggunaan kata kami dan kita. Kata kami digunakan untuk orang yang dimaksud adalah dirinya dan orang yang mewakilinya, sedangkan kata
kita digunakan jika yang dimaksud adalah dirinya sendiri; deiksis persona kedua
tunggal dapat berupa engkau, kamu, anda, dikau, kau- dan mu-; deiksis persona kedua jamak hanya memiliki satu bentuk yaitu kalian ; deiksis persona ketiga tunggal dapat berupa ia, dia, nya, beliau ; deiksis persona ketiga jamak dan tidak memiliki variasi bentuk yaitu penggunaan kata mereka.
Deiksis persona merupakan deiksis asli, sedangkan deiksis waktu, deiksis tempat adalah deiksis jabaran, deiksis persona merupakan dasar orientasi bagi deiksis ruang dan tempat serta.
Deiksis perorangan menunjukkan subjektivitas dalam stuktur semantik. Deiksis perorangan hanya dapat ditangkap jika kita memahami peran dari pembaca, sumber ujaran, penerima, target ujaran, dan pendengar yang bukan
dituju atau ditarget. Dengan demikian kita dapat mengganti kata ganti dan kata sifat.
Jenis-jenis deiksis persona dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1
Deiksis Persona Tunggal Jamak
Pertama Aku, saya, -ku Kita, Kami
Kedua Kamu, Anda, Saudara, -mu
Kalian
Ketiga Dia, ia, -Nya, Beliau Mereka
b. Deiksis Tempat
Deiksis tempat yaitu pemberian bentuk kepada lokasi ruang (tempat) dipandang dari lokasi orang dalam peristiwa berbahasa. Istilah deiksis ruang digunakaan oleh (Purwo 1984: 37) untuk deiksis tempat . Verhaar (1996: 407) membicarakan deiksis tempat sebagai bagian dari deiksis adverbial, yaitu adverbial yang mengacu pada ruang (adverbial lokatif).
c. Deiksis Waktu
Deiksis waktu berkaitan dengan waktu relatif penutur atau penulis atau mitra tutur. Bahasa indonesia mengungkapkan waktu sekarang untuk waktu kini, tadi dan dulu untuk waktu yang lampau, nanti untuk waktu yang akan datang. Hari ini, kemarin, dan besok juga merupakan hal yang relatif, dilihat dari kapan suatu ujaran diucapkan.
21
Di dalam bahasa Inggris pengungkapan waktu didukung di dalam verbanya, yaitu di dalam tense. Verba pada kalimat-kalimat berikut dengan kata bantunya menunjukkan referensi yang berpindah-pindah, bergantung dari kapan kalimat-kalimat itu diucapkan.
Deiksis waktu ialah pemberian bentuk pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan penutur dalam peristiwa bahasa.
a) Kita harus berangkat sekarang. b) Harga barang naik semua sekarang.
Kata sekarang pada kalimat (a) mengacu pada waktu yang sempit (ke jam atau menit). Pada kalimat (b), acuannya pada waktu yang lebih luas, mungkin sejak bulan lalu sampai hari ini.
d. Deiksis Wacana
Dalam deiksis wacana, ungkapan linguistik digunakan untuk mengacu pada suatu bagian tertentu dari wacana yang lebih luas (baiki teks tertulis maupun/teks lisan) tempat terjadinya ungkapan-ungkapan ini. Teks tertulis di samping menempati ruang juga disusun dan dibaca pada saat-saat tertentu dalam waktu. Dimensi waktu serupa diberikan pada teks lisan melalui tindakan produksi teks oleh penutur dan tindak penerimaan teks oleh mitra tutur dalam waktu khusus. Mengingat adanya aspek-aspek ruang dan waktu teks lisan.
Contoh:
a) “Paman datang dari desa kemarin dengan membawa hasil palawijanya”.
b) “Karena aromanya yang khas, mangga itu banyak dibeli”.
Dari kedua contoh di atas dapat kita ketahui bahwa “-nya” pada contoh (a) mengacu ke paman yang sudah disebut sebelumnya, sedangkan pada contoh (b) mengacu ke mangga yang disebut kemudian.
e. Deiksis Sosial
Social deixis concerns “that aspect of sentences which reflect or establish or are determined by certain realities of social situation in which the speech act occurs.
Deiksis sosial ialah rujukan yang dinyatakan berdasarkan perbedaan kemasyarakatan yang mempengaruhi peran pembicara dan pendengar. Perbedaan itu dapat ditunjukkan dalam pemilihan kata. Dalam beberapa bahasa, perbedaan tingkat sosial antara pembicara dengan pendengar yang diwujudkan dalam seleksi kata dan/atau sistem morfologi kata-kata tertentu. Dalam bahasa Jawa umpamanya, memakai kata nedo dan kata dahar (makan), menunjukkan perbedaan sikap atau kedudukan sosial antara pembicara, pendengar dan/atau orang yang dibicarakan/bersangkutan. Secara tradisional perbedaan bahasa (atau variasi bahasa) seperti itu disebut “tingkatan bahasa”, dalam bahasa Jawa, ngoko dan kromo. Aspek berbahasa seperti ini disebut “kesopanan berbahasa”, “unda-usuk”, atau ”etiket berbahasa.
23
Di dalam bahasa Indonesia kita menyebut demontratif (kata ganti penunjuk): ini untuk menunjuk sesuatu yang dekat dengan penutur, dan itu untuk menunjuk sesuatu yang jauh dari pembicara. “Sesuatu” itu bukan hanya benda atau barang melainkan juga keadaan, peristiwa, bahkan waktu. Perhatikan penggunaannya dalam kalimat-kalimat berikut.
a) Masalah ini harus kita selesaikan segera. b) Ketika peristiwa itu terjadi, saya masih kecil. c) Saat ini saya belum bisa berbicara.
d) Contoh-contoh di atas menunjukan, penggunaan deiksis ini dan itu tampaknya bergantung kepada sikap penutur terhadap hal-hal yang ditunjuk; jika dia “merasa” sesuatu itu dekat dengan dirinya, dia akan memakai ini, sebaliknya itu digunakan untuk menyatakan sesuatu yang jauh darinya.
B. Kerangka Pikir
Salah satu karya sastra yang tidak pernah habisnya untuk dikaji yaitu Novel, dengan berbagai pendekatan dan berbagai macam kajian bahasa digunakan oleh peneliti untuk menghasilkan sebuah penelitian yang belum ada maupun yang sudah ada dengan melengkapi penelitian selanjutnya, terciptalah sebuah ide-ide baru dalam melakukan penelitian dan memperdalam bidang kajian bahasa.
Novel “Catatan dari Penjara Perempuan” merupakan salah satu novel yang akan diteliti dalam penggunaan deiksis. Ada beberapa jenis-jenis deiksis yang akan dikaji yaitu: deiksis persona, tempat, dan waktu. Dalam hal ini penulis akan mendeskripsikan contoh penggunaan deiksis dalam novel.
Bagan Kerangka Pikir Deiksis is Deiksis Persona Deiksis Tempat Deiksis Waktu Sastra
Novel Nawal El Saadawi “Catatan dari Penjara Perempuan”.
Analisis
25
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Metode penelitian merupakan cara yang teratur untuk mencapai tujuan. Metode yang merumuskan ide dan pikiran untuk mencapai sasaran penelitian, seperti pendapat Sudaryanto (1993: 25) yang mengatakan bahwa metode penelitian sangat dibutuhkan untuk menuntun seorang peneliti menuju kebenaran dan juga menuntun pada kajian penelitian. Untuk dapat menentukan suatu hasil maka perlu dilakukan rancangan penelitian. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, deskriptif kualitatif adalah prosedur penelitian berdasarkan data deskriptif, yaitu berupa lisan atau kata tertulis dari seseorang subjek yang telah diamati dan memiliki karakteristik bahwa data yang diberikan merupakan data yang digunakan secara sistematis, maksudnya peneliti hanya menjelaskan dan mendeskripsikan tentang penggunaan deiksis persona, tempat, waktu, wacana dan sosial pada novel “Catatan dari Penjara Perempuan” karya Nawal El Saadawi.
B. Fokus Penelitian
Fokus penelitian yang dipilih oleh peneliti ialah penelitian kualitatif, peneliti ini ingin memahami bagaimana penggunaan deiksis yang terdapat dalam novel
Catatan dari penjara Perempuan karya nawal El Saadawi. Fokus berikut ini
bagaimana penggunaan deiksis, seperti deiksis persona, deiksis tempat dan deiksis waktu.
C. Data dan Sumber Data 1. Data
Data penelitian ini adalah penggunaan deiksis persona, tempat, waktu, sosial, wacana, pada novel “Catatan dari Penjara Perempuan” karya Nawal El Saadawi.
2. Sumber data
Sumber data dalam penelitian ini adalah novel “Catatan dari Penjara
Perempuan” karya Nawal El Saadawi, diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia
anggota IKAPI DKI Jakarta, Jl. Plaju No.10, Jakarta 10230, (021) 326978.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah menggunakan teknik catat yaitu mencatat jenis-jenis deiksis yang terdapat dalam novel tersebut ke dalam kartu-kartu data (korpus data) selain itu teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi dengan cara sebagai berikut:
1. Membaca berulang-ulang novel “Catatan dari Penjara Perempuan” karya Nawal El Saadawi sampai menemukan data yang sesuai dengan rumusan masalah.
2. Mencatat seluruh bagian yang relevan dengan rumusan masalah yang akan diteliti kemudian memisahkan penggunaan deiksis sesuai jenisnya.
27
3. Mengumpulkan bahan bacaan yang berhubungan dan mendukung dalam pengambilan kesimpulan tentang objek yang diteliti.
E. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan suatu cara yang digunakan untuk menganalisis, mempelajari serta mengolah data tertentu. Sehingga dapat diambil kesimpulan yang konkret tentang persoalan yang diteliti. Berdasarkan teknik pengumpulan data yang dipergunakan maka data yang dianalisis secara deskriptif kualitatif, deskriptif selanjutnya dideskripsikan berdasarkan pengertian deiksis dan jenis-jenis deiksis yang dijadikan acuan penelitian meliputi:
1. Menelaah seluruh data yang telah diperoleh berupa isi novel “Catatan dari
Penjara Perempuan” karya Nawal El Saadawi.
2. Penulis menganalisis penggunaan deiksis pada novel Catatan dari Penjara
Perempuan” karya Nawal El Saadawi.
3. Penulis mengidentifikasi semua data yang terdapat penggunaan deiksis dalam novel Catatan dari Penjara Perempuan” karya Nawal El Saadawi.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil penelitian
Berdasarkan penjelasan mengenai deiksis atau penunjukkan ditemukan banyak penggunaan deiksis pada novel “Catatan dari Penjara Perempuan” karya Nawal El Saadawi sebagai berikut :
1. Penggunaan Deiksis dalam Novel Catatan dari Penjara Perempuan
a). Deiksis Persona
Adapun contoh dari hasil penelitian yaitu :
1. Deiksis persona ketiga tunggal
konteks : Ia menghendaki segala-galanya atau tidak sama sekali, persis
sebagaimana diriku (Hal 3) .
Berdasarkan kutipan di atas penggunaan deiksis persona ketiga tunggal “ia” yang mengacu pada Nawal dan menceritakan dirinya pada novel ini.
2. Deiksis persona ketiga tunggal
Konteks : Sejauh aku memberikan seluruh diriku kepadanya, ia pun berserah diri.
Selain ia tak mau ada saingan terhadap hati dan pikiranku apakah dari pihak suami, putra atau putriku, ia pun tidak menerima sama sekali
29
keterlibatan diriku dalam pekerjaan lain sekali pun dalam kegiatan demi cita-cita wanita.( Hal 4).
Penggunaan deiksis “ia” termasuk deiksis persona ketiga tunggal karena melibatkan penutur, yang dituturkan sebagai kata ganti orang ketiga dan mengacu pada Nawal.
3. Deiksis persona ketiga jamak
Konteks : Pada kesempatan tersebut, ruangan kuliah dipenuhi oleh ratusan atau
bahkan ribuan mahasiswa, dan mereka semua merasa senang. (Hal 6)
Penggunaan deiksis persona “mereka” termasuk deiksis persona ketiga jamak. Yang dirujukkan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama.
4. Deiksis persona ketiga tunggal
Konteks : Segala sesuatu di negeri kami dipegang oleh pemerintah dan
dikendalikan olehnya secara langsung ataupun tidak langsung. (hal 7).
Penggunaan deiksis “nya” termasuk deiksis ketiga tunggal yang merujuk pada pemerintah.
5. Deiksis persona ketiga tunggal
Konteks : Ia menjawab, jika Al Ahram memecatku, apakah Anda menghidupi
Pada kutipan tersebut penggunaan deiksis “ia” termasuk deiksis persona ketiga tunggal.
Konteks : Ia pun menoleh ke salah seorang pemimpin penjara utama yang
bergegas menyahut, „memang begitu. Ia tak menyinggung butir-butir yang kukemukakan itu. Ia mengemukakan beberapa komentar.(Hal. 141).
Pada kutipan di atas penggunaan deiksis “ia” termasuk deiksis persona ketiga tunggal.
Konteks : Ia sekonyong-konyongnya bertanya. Ia tak ingin perempuan manapun
melebihinya. Katanya ia cemburu. (Hal. 142).
Pada kutipan di atas penggunaan deiksis “Ia” termasuk deiksis persona ketiga tunggal.
Konteks : Ia mengamatiku dengan matanya. Apa ia tetap aktif setelah suaminya
tidak jadi penguasa lagi? (Hal. 143)
Kutipan di atas merupakan penggunaan deiksis persona ketiga tunggal yaitu “Ia”.
Konteks : Ia seorang mata-mata yang bekerja pada polisi. Ia mendekatiku. Ia
membaca Al.qur‟an. Ia bertanya cemas. (Hal. 151)
Kutipan di atas merupakan penggunaan deiksis persona ketiga tunggal yaitu “Ia”.
31
Konteks : Ia menghentakkan tumitnya yang kuat ke tanah. Sekalipun Ia
berbadan lebih besar.(Hal.153)
Kutipan diatas merupakan deiksis persona ketiga tunggal yaitu
“Ia”
Konteks : Ia akan masuk mencium bau kertas terbakar. Ia tidak mengatakan
apa-apa.(Hal.153)
Kutipan diatas merupakan deiksis persona ketiga tunggal yaitu “Ia”
Konteks : Ia akan masuk mencium bau kertas terbakar. Ia tidak mengatakan
apa-apa. (163)
Kutipan diatas merupakan deiksis persona ketiga tunggal yaitu “Ia”
Konteks : Waktu ia memegang pacul dan memukulkannya.(Hal.211)
Pada kutipan di atas penggunaan deiksis “Ia” termasuk deiksis persona ketiga tunggal.
Konteks : Ia segera mengeluarkan perintah, Ia tetap berdiri di depan pintu.Ia
tetap pada tempatnya. Ia telah meminum susu dan jus bua. Ia telah tidur nyenyak.(221)
Konteks : Ia tersenyum. Ia berseru. Ia mengatakan dengan suara keras-keras.
(223)
Pada kutipan di atas penggunaan deiksis “Ia” termasuk deiksis persona ketiga tunggal.
Konteks : Ia menyeka mulut. Ia meluruskan kerah jasnya. Ia tersenyum dan
memberikan semangat. (266)
Pada kutipan di atas penggunaan deiksis “Ia” termasuk deiksis persona ketiga tunggal.
Konteks : Ia pun sahabatku semenjak berrtahun-tahun lamanya.(64)
Pada kutipan di atas penggunaan deiksis “Ia” termasuk deiksis persona ketiga tunggal.
6. Deiksis persona pertama jamak
Konteks : Saat ini tak terbawa oleh kami. (Hal 11)
konteks ini termasuk penggunaan deiksis persona pertama jamak
“kami” Yang mengacu pada seorang polisi.
7. Deiksis persona kedua tunggal
Konteks : Saya tak mungkin membuka pintu bagi Anda tanpa melihat surat
33
Pada kutipan tersebut penggunaan deiksis “Anda” termasuk deiksis persona kedua tunggal.
8. Deiksis persona pertama jamak
Konteks : Begitulah undang-undang kita (Hal 11).
Pada kutipan tersebut penggunaan deiksis “kita” termasuk deiksis persona pertama jamak, yang melibatkan orang kedua.
9. Deiksis persona pertama jamak
Konteks : Foto kami berdua di atas meja tulis (Hal13).
Penggunaan deiksis “kami” sebagai deiksis persona pertama jamak, yang melibatkan pada Nawal dan Suaminya.
10. Deiksis persona ketiga tunggal
Konteks : Tadi ia berangkat pagi benar dan belum membaca koran(Hal 13).
Pada kutipan tersebut penggunaan deiksis “ia” termasuk deiksis persona ketiga tunggal, yang dirujukkan pada suaminya. Dan sekaligus deiksis waktu yaitu “tadi”.
11. Deiksis persona kedua jamak
Konteks : Kalian merusak pintuku. Itu suatu kejahatan (hal 14).
Konteks ini termasuk penggunaan deiksis persona kedua jamak
12. Deiksis persona ketiga tunggal, deiksis persona kedua tunggal.
Konteks : Memeriksa rumahku sedang aku tak di sini? Aku bertanya kepadanya.
Ini tindakan kriminal ketiga! Jika sampai ada yang hilang, kamulah yang bertanggung jawab (Hal 15).
Pada kutipan di atas menunjukkan pada penggunaan deiksi “nya” yaitu deiksis persona ketiga tunggal. Dan penggunaan deiksis “kamu” menunjukkan deiksis persona kedua tunggal.
13. Deiksis persona pertama tunggal, deiksis persona pertama jamak.
Konteks : kulihat Dr. Awatib Abd al-Rahman masuk ke sel kami (Hal. 65)
Pada kutipan di atas penggunaan “ku” termasuk deiksis persona pertama tunggal dan sekaligus kata “kami” termasuk deiksis pertama jamak.
14. Deiksis persona ketiga tunggal
Konteks : Ia pun sahabatku semenjak berrtahun-tahun lamanya(Hal 64)
Kata “ia” termasuk penggunaan deiksis persona ketiga tunggal.
15. Deiksis persona pertama tunggal, deiksis persona ketiga tunggal.
Konteks : Aku sangat senang melihatnya, merangkulnya dan sambil tertawa
bertanya, „Lambat betul kau datang, Awatib? mengapa begitu?‟ Ia pun tertawa. „Aku sedang bepergian, mereka menahanku di bandara.
35
sedang menjemputku dan berjalan di sebelahku sewaktu polisi mengepung kami. Ia tidak terkejut atau merasa malu, melah berjalan di sisiku, bangga akan ibunya (Hal 65-66).
Pada kutipan di atas kata “Aku” termasuk penggunaan deiksi persona pertama tunggal dan pada kata “Ia” termasuk penggunaan deiksis persona ketiga tunggal.
16. deiksis persona pertama tunggal
Konteks : Di manapun ku pergi, ke manapun aku melakukan perjalanan,
betapapun jauhnya tempat, betapapun tidak ramahnya, aku akan mengamati sekelilingku dalam kegembiraan dan konsentrasi, seolah-olah aku tidak pernah mengetahui wujud tempat itu (Hal 66).
Pada kutipan tersebut penggunaan “ku” termasuk deiksis persona pertama tunggal.
17. Deiksis persona pertama jamakku.
Konteks : Beberapa orang di antara kami duduk di lantai, ada yang duduk di
bangku tidur, memandang nanar dengan mata terbuka lebar-lebar, baik yang tanpa kerudung, maupun yang berhijab, atau mengintip dari balik celah-celah dalam cadar (Hal 90).
Pada kutipan di atas penggunaan kata “kami” termasuk deiksis persona pertama jamak.
18. Deiksis persona ketiga tunggal
konteks : Ia menoleh ke salah seorang pemimpin penjara utama yang bergegas
menyahut, „Memang begitu, Tuan.(Hal 91).
Pada kutipan tersebut penggunaan kata “ia” termasuk deiksis persona ketiga tunggal.
b. Deiksis Tempat
Adapun deiksis tempat dari hasil penelitian ini adalah :
konteks : Aku sedang duduk menghadapi meja tulis kecil di kamar tidurku, larut
dalam penulisan novel baru. (Hal.3)
Pada kutipan tersebut menunjukkan deiksis tempat yaitu meja tulis dan
kamar tidur.
Konteks : Ia jadi kelihatan putus asa. Dengan mendahuluiku ia naik mobil, lalu
duduk d:i sebelah supir. Aku segera naik setelah dia, dan duduk di sisi pintu (Hal 17).
Berdasrakan kutipan tersebut penggunaan deiksis “ia” termasuk deiksis persona ketiga tunggal karena melibatkan penutur, yang dituturkan sebagai kata ganti orang ketiga. Selain itu penggunaan deiksis di sebelah, di sisi termasuk deiksis tempat yang di mana Nawal dan Polisi sedang duduk di atas mobil.
37
Konteks : Di belakang gedung kami turun melalui sebuah tangga sempit, lalu aku
di bawa masuk ke suatu ruangan lantai bawah tanah dan sambil menunjuk kepada sebuah kursi kayu kecil di tengah-tengah ruangan, perwira itu berkata,‟Duduklah sebentar, saya segerah kembali (Hal 22).
Pada kutipan di atas menunukkan penggunaan deiksis tempat yaitu
“di belakang”
konteks : Apakah di sini ada telepon yang dapat saya pinjam untuk menelepon ke
rumah? Saya ingin menenangkan hati keluarga saya, memberitahukan bahwa saya di sini. (Hal 24)
Berdasarkan kutipan tersebut penggunaan deiksis “di sini” termasuk deiksis tempat karena menunjukkan tempat di mana Nawal disembunyikan.
Konteks : Pekerjaan di sini serius dan Direktur bertanggungjawab penuh. Bahkan
saya orang kecil begini, mempunyai tanggungjawab atas segala sesuatu, apakah masalahnya besar ataupun kecil. Di sini tak ada masalah kecil, saya diharapkan tahu hal-hal kecil dari masalah-masalah yang besar tersebu, namun di rektur sendiri tak mengetahui hal-hal demikian (Hal 27) .
Berdasarkan kutipan di atas penggunaan deiksis “di sini” termasuk deiksisi tempat karena menunjukkan di mana Nawal berada dan
keberadaan kakek tua itu yang menceritakan apa yang dia ketahui selama hidupnya di penjara.
Konteks : Aku masih jalan sekeliling kamar, mondar-mandir laksana hewan
dalam kurungan. Sekonyong-konyongnya aku berhenti, „Aku ingin ke kamar kecil.‟ „Hanya satu kamar kecil di sini,‟ jawab orang tua itu langsung, „di lantai satu, di sebelah kantor Direktur (Hal 31)
Berdasarkan kutipan di atas penggunaan deiksis “di sini” termasuk deiksis tempat karena menunjukkan di mana tempat kamar kecil itu.
Konteks : Aku tak tahu apa yang telah terjadi, tetapi kulihat seorang petugas baru
masuk ruangan. „Ayo pergi.‟ „ke mana?‟ „ Tak masalah, sama sekali tak apa-apa, satu dua jam, lalu Anda pulang.‟(hal 33).
Berdasarkan konteks di atas penggunaan deiksis “ke mana” merupakan deiksis tempat karena menanyakan ke mana ia harus pergi.
Konteks : Kukatupkan bibirku rapat-rapat dan beberapa saat aku berdiam diri,
lalu dengan marah bertanya, „Kita ini ke mana?‟(Hal 39).
Berdasarkan kutipan tersebut penggunaan deiksis “ke mana” termasuk deiksis tempat karena bertanya mengenai di mana tempat yang akan dia tuju.
Konteks : kulihat kaca kecilku di atas meja dan kujulurkan tangan kearahnya.
Hampir kubawa sampai ke depan wajahku, namun tangan pejabata itu lebih cepat.
39
Berdasarkan kutipan di atas penggunaan deiksis “ di atas, depan,” termasuk deiksis tempat karena menunjukkan tempat di mana kaca itu berada.
Konteks : Cacat yang memalukan ialah penindasan, bohong serta penghapusan
daya pikir manusia, baik daya pikir manusia perempuan ataupun laki-laki,‟ kataku.‟kehadiran kita dalam penjara ini, padahal kita tak melakukan kejahatan, dan tanpa diadakan pemeriksaan, itulah yang merupan cacat (Hal 55).
Berdasarkan kutipan di atas penggunaan deiksis ”ini” merupakan deiksis tempat karena Nawal sedang berbicara dan mengatakan keberadaan dirinya.
Konteks : Aminah kembali menaiki bangku tidurnya di sebelah atas, di samping
seorang gadis Kristen dengan wajah yang kelihatan sangat muda, yang bernama Nur (Hal 57).
Dengan deiksis “di sebelah atas” merupakan deiksis tempat yang ditujukkan kepada Aminah.
Konteks : Kupejamkan mataku, lalu kubuka kembali. Aku ini di mana? Kuraba
kepalaku. Apakah ini, yang di bawah kepalaku? Lantai semen (Hal 64)
Menurut uraian di atas menunjukkan pemakaian deiksis tempat yaitu
“ di mana” karena seakan-akan Nawal menanyakan di mana dirinya
berada.
d. Deiksis Waktu
Adapun deiksis waktu dari hasil penelitian ini yaitu :
konteks : Ia tersenyum sinis. „Undang-undang mana? Apa Anda tak mengikuti
pidato kemarin? (Hal 19).
Penggunaan deiksis selanjutnya yaitu “kemarin” termasuk deiksis waktu, yang bisa dimaknai bahwa hal yang terjadi sebelum hari itu.
Konteks : Aku belum sepenuhnya bangun dari tidur ayamku di ruang yang
membuatku lemas. Suara orang tua itu masih terngiang-ngiang di telingaku, bagaikan suara setan-setan atau malaikat-malaikat yang menghitung dosa/amal orang-orang yang telah meninggal di dalam kuburan mereka, kerut-kerut memenuhi wajahnya seperti wajah nenekku dulu, sewaktu mendongen ketika kami masih anak-anak, tentang siksaan-siksaan kubur. (Hal 33).
Berdasarkan kutipan di atas merupakan pemakaian deiksis waktu yaitu
“dulu” yang menunjukkan kata lampau.
Konteks : Pada saat itu aku memandang lurus wajah sang perwira tadi. Ia
41
Pemakain deiksis “pada saat itu” termasuk deiksis waktu yang menunjukkan hal yang bisa dikatakan sudah lama terjadi. Dan “tadi” merupakan deiksis tempat juga karena bisa dimaknai yaitu mengacu pada waktu yang baru saja terjadi.
Konteks : Pada suatu hari, kulihat dhuba membuang muka dengan air mata
menggenang di pelupuknya, „Aku tak akan datang besok. Mereka menyuruh saya memata-matai Anda semua dan seya menolak.
Berdasarkan kutipan di atas penggunaan deiksis yaitu “pada suatu
hari” termasuk deiksis waktu yang mengacu pada waktu yang sudah
berlalu atau sudah lama terjadi. kemudian kata “besok” juga merupakan deiksis waktu yang bisa dimaknai hal yang akan terjadi dihari selanjutnya.
Konteks : Aku tidak tahu mengapa aku di sini, „timpal salah seorang perempuan
bercadar. Aku sedang dalam perjalanan menemui bibiku dan mereka menangkapku di jalan‟. (Hal 101)
Pada kutipan di atas penggunaan deiksis “di sini” termasuk deiksis tempat.
Konteks : Di kaki tembok kulihat piring aluminium berisi ful dan ditutupi dengan
roti kemarin (Hal 106).
Pada kutipan di atas penggunaan deiksis “kemarin” termasuk deiksis waktu.
Konteks : Dengan suara keras aku berseru, „hei, ke sini. Jangan bersembunyi
!‟(Hal 107).
Pada kutipan diatas penggunaan kata “ke sini” termasuk deiksis tempat.
Konteks : Pekarangan di sini mengingatkanku kepada pekarangan rumahnya
(Hal 106).
Pada kutipan di atas penggunaan kata “di sini” termasuk deiksis tempat.
B. Pembahasan
Berdasarkan penganalisaan Novel “Catatan dari Penjara Perempuan” karya Nawal El Saadawi ditemukan penggunaan deiksis “penunjukkan” dalam beberapa kutipan parargraf.
Deiksis orang ditentukan menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa. Peran peserta itu dapat dibagi menjadi tiga. Pertama ialah orang pertama, yaitu kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya, misalnya saya, kita, dan kami. Kedua ialah orang kedua, yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama, misalnya kamu, kalian, saudara. Ketiga ialah orang ketiga, yaitu kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu, baik hadir maupun tidak, misalnya dia dan mereka.
Penggunaan deiksis tempat di sana, sini, ini, di atas, di belakang dan selanjutnya penggunaan deiksis waktu sekarang, besok, saat ini, nanti, dan dulu.
Penggunaan deiksis pada novel lebih banyak menggunakan deiksis persona karena ada beberapa karakter yang diceritakan dalam novel ini tapi tidak semua
43
penggunaan deiksis terdapat dalam novel seperti penggunaan deiksis saya (deiksis persona pertama tunggal). Kemampuan memahami suatu konteks tergantung dengan pemahaman penutur, untuk itulah sebagai penegasan kembali untuk memperjelas pemahaman penutur juga harus pandai memahami situasi tuturan yang dikatakan.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan penganalisaan Novel “Catatan dari Penjara Perempuan” karya Nawal El saadawi ditemukan penggunaan deiksis “penunjukkan” dalam beberapa kutipan parargraf, seperti contoh deiksis persona yang merujuk pada orang atau menggantikan seseorang (ia, dia, kita, mereka dan kamu), selanjutnya penggunaan deiksis tempat (di sana dan di sini), penggunaan deiksis waktu ( tadi,
kemarin, dan sekarang).
Penggunaan deiksis sebagai kata ganti dalam kutipan paragraph merujuk ke masing-masing penutur, mitra tutur dan orang yang dibicarakan. Penggunaan deiksis ini ditentukan menurut peran dan fungsi penutur, mitra tutur dan orang yang dibicarakan dan untuk membedakan pembentukan kata ganti orang yaitu : deiksis persona pertama tunggal berupa kata Aku, Aku digunakan pada situasi formal dan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna kata ganti orang pertama yang berbicara atau yang menulis (dalam ragam akrab); diri sendiri.
Selanjutnya deiksis persona pertama jamak yaitu penggunaan kata Kami dan Kita. Kata Kami digunakan untuk orang yang dimaksud adalah dirinya dan orang yang mewakilinya, sedangkan kata Kita digunakan jika yang dimaksud adalah dirinya sendiri; deiksis persona kedua tunggal berupa kata kamu, kau, dan
mu. Deiksis persona kedua jamak kalian; deiksis persona ketiga tunggal berupa ia, dia dan nya; dan terakhir deiksis persona ketiga jamak mereka.
45
Penggunaan deiksis tempat di sana, di sini, ke sini, dan itu mengacu pada makna atau lokasi tersebut jauh atau dekat dengan penutur dan disesuaikan bagaimana peristiwa bahasa itu terjadi.
Penggunaan deiksis tempat seperti saat ini, sekarang, tadi, kini, nanti,
besok dan hari ini mengacu pada situasi peristiwa bahasa kapan peristiwa itu
terjadi dan dijelaskan di setiap konteks kalimat pada paragraf di atas.
Tidak semua penggunaan kata yang terdapat pada contoh jenis deiksis di gunakan dalam novel ini. Misalnya penggunaan deiksis persona saya karena dalam novel ini penggunaan persona aku digunakan sebagai kata ganti orang pertama yang bertindak sebagai menceritakan dirinya sendiri. Adapun penggunaan deiksis tempat hanya beberapa saja yang di temukan penulis dalam novel ini. Selanjutnya penggunaan deiksis waktu juga hanya mewakili kata yang sama. Penggunaan deiksis pada novel lebih banyak menggunakan deiksis persona karena ada beberapa karakter yang diceritakan dalam novel ini. Kemampuan memahami suatu konteks tergantung dengan pemahaman penutur, untuk itulah sebagai penegasan kembali untuk memperjelas pemahaman penutur juga harus pandai memahami situasi tuturan yang dikatakan.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah di bahas maka peneliti menyarankan sebagai berikut :