BUKU PEDOMAN PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN (PPDH)
ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
VETERINER
JILID I
( DASAR DASAR TEORI)
OLEH :
Drh. I Wayan Suardana, MSi Drh. Ida Bagus Ngurah Swacita, MP
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas berkat rahmat-Nya lah penyusunan Buku Pedoman Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Ilmu Kesehatan Masyarakat Veteriner ini dapat diselesaikan dengan baik.
Penyusunan buku ini dimaksudkan sebagai acuan dasar bagi mahasiswa “ Sarjana Kedokteran Hewan” yang bermaksud memperdalam profesinya melalui pendidikan profesi / koasistensi khususnya di laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner, dengan harapan melalui buku pedoman ini dapat terpenuhinya Standar Minimal Kompetensi Lulusan Dokter Hewan yakni : “memiliki ketrampilan dalam melakukan pemeriksaan antemortem dan postmortem, mampu melakukan pengawasan bahan makanan asal hewan dan produk olahannya, mampu melakukan pengukuran (assesment) dan penyeliaan kesejahteraan hewan serta memiliki kemampuan manajemen pengamanan hayati hewan (biosecurity), pengendalian lingkungan, serta pengendalian dan penolakan penyakit strategis dan zoonosis”.
Kami menyadari bahwa Buku Pedoman ini masih banyak kekurangannya, untuk itu saran dan kritik sangat kami harapkan demi peningkatan kualitas lulusan dokter hewan dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana.
Denpasar, Agustus 2015
BAB I
GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN (GBPP) KOASISTENSI KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER
Program PPDH : Koasistensi Kesmavet SKS : 3 SKS
Waktu : 3 minggu
Lokasi Koas : RPH Mambal, RPH dan Unggas Pesanggaran, RPA Kediri Tabanan, Lab Kesmavet FKH Unud.
Deskripsi Singkat :
Koas kesmavet memperdalam pengetahuan dan keterampilan cara pemeriksaan ante-mortem dan post-mortem pada ternak sapi dan babi; Pengawasan mutu dan kesehatan bahan asal hewan dan produk olahannya; Pengukuran dan penyeliaan kesejahteraan hewan, Penilaian kelayakan dan kesehatan lingkungan suatu RPH.
Tujuan Instruksional Umum :
Setelah koas kesmavet selama 3 minggu, mahasiswa program PPDH mampu :
1. Menilai dan terampil melakukan pemeriksaan kesehatan ante mortem dan post-mortem pada ternak sapi dan babi.
2. Menilai dan terampil melakukan pengawasan mutu dan kesehatan bahan makanan asal hewan (daging, susu, telur) dan produk olahannya
3. Menerapkan pengukuran (assesment) dan penyeliaan kesejahteraan hewan 4. Menilai kelayakan suatu Rumah Pemotongan Hewan (RPH).
MINGGU/ HARI
WAKTU MATERI PENANGGUNG
JAWAB I Senin 08.30-09.00
09.00-11.30
Pengarahan koas (tata tertib, materi, jadwal koas, pemilihan koordinator) Review perundang-undangan yang berkaitan dengan Kesmavet :
1.PP RI No.23/1983 : Kesmavet.
2.PP RI No.15/1977 : Penolakan dan Pemberantasan Penyakit.
3.SK Mentan No.745/1992 : Peng- awasan Daging dari Luar Negeri 4.SK Mentan No.445/2002 : Pela- rangan Impor Ternak Ruminansia
dari Negara Tertular BSE 5.SE Mentan No.TN 510/2001 : Penolakan Masuknya Penyakit PMK
6.SK Dirjenak No.254/1995 : NKV bagi RPH Unggas dan Tempat Pemotongan Daging
7.SK Dirjenak No.114/1996 : NKV Bagi Usaha Pengimpor Daging 8.SK Dirjen Produksi Ternak No.71 :
Prosedur Baku Importasi Hewan dan Bahan Asal Hewan
Tim Pengelola Koas
Prof.Dr.IB Arka, GDFT.
9.SE Dirjen Produksi Peternakan No.TN 540/2002 : Penghentian Sementara Pemasukan Hewan Ruminansia dari Negara Tertular BSE
I Selasa 08.30-09.30 1.Tugas dan Fungsi Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner 2.Program Monitoring dan Survei- lens Residu pada Produk Pangan
Drh. Wayan Bagiasih Wisna, MS
09.30-10.30 1.Review Penyakit yang Ditularkan oleh Makanan (Food Borne Disea- ses)
2.Pedoman Teknis Sanling RPH/ Unggas
Drh. I Ketut Suada, MSi
10.30-11.30 1.Review Penyakit yang Ditularkan oleh Susu dan Produk Susu (Milk Borne Diseases)
2.Kebijakan Pemerintah dalam Me-
Drh. I Made Sukada, MSi.
ningkatkan Produksi Susu di Indo. I Rabu 08.30-09.30 1.Pedoman Seleksi dan Penyembe-
lihan Hewan Qurban
2.Pedoman Penyembelihan Halal
Drh. Mas Djoko Rudyanto, MS 09.30-10.30 1.Petunjuk Untuk Penanganan,
Pengiriman dan Pemotongan yg Manusiawi
2.Review Pemeriksaan Kesehatan Ante-mortem dan Post-mortem serta Kualitas dan Kesehatan Daging
Drh.I.B. Ngurah Swacita, MP
10.30-11.30 1.Kebijakan mengenai Keamanan dan Kualitas Daging Indonesia 2.Peningkatan Peranan Pemerintah dalam Pengawasan Bahan Makan an Asal Hewan, Memperkenalkan Konsep HACCP Drh. I Wayan Suardana, MSi I Kamis 08.30-selesai 23.00- selesai
1.Pemeriksaan Kualitas Daging dan Produknya (3 tempat pengambilan 2.Pemeriksaan Kesehatan AM-PM Sapi di RPH Mambal
Drh.I.B. Ngurah Swacita, MP
I Jum’at 09.30- selesai
1.Pemeriksaan Kualitas Daging dan Produknya (ulangan dari 3 tempat
Drh.I.B. Ngurah Swacita, MP I Sabtu 08.30-
selesai
1.Pemeriksaan Kualitas Susu Segar (3 tempat pengambilan) Drh. I Made Sukada, MSi II Senin 08.30- selesai 23.00- selesai
1.Pemeriksaan Pemalsuan Susu (air tajin, santan, dll)
2. Pemeriksaan Kesehatan AM-PM Sapi di RPH Mambal
Ir. Martini Hartawan, MSi Drh. I Ketut Gunata II Selasa 09.30-selesai 1.Pemeriksaan Kualitas Telur Ayam
Ras (3 tempat pengambilan)
Drh. I Wayan Suardana, MSi II Rabu 08.30-selesai
23.00-selesai
1.Pemeriksaan Kualitas Telur Ayam Ras (3 tempat pengambilan) 2.Ujian Praktek Pemeriksaan AM & PM Sapi di RPH Mambal
Drh. I Wayan Suardana, MSi Drh.I.B. Ngurah Swacita, MP II Kamis 09.30-selesai 1.Pemeriksaan Kualitas Air Limbah
RPH/Peternakan
Drh. I Ketut Suada, MSi II Jum’at 08.30-selesai
23.30-selesai
1.Pemeriksaan Kualitas Air Limbah RPH/Peternakan
2.Pemeriksaan Kesehatan AM-PM Babi di RPH&Ungg. Pesanggaran
Drh. I Ketut Suada, MSi Drh.I.B. Ngurah Swacita, MP II Sabtu 09.30-selesai 1.Tabulasi data dan diskusi Pembimbing
3.Pemeriksaan Kesehatan AM dan PM Babi di RPH dan Unggas Pesanggaran
Drh.Md. Ngurah Sugiri
III Selasa 08.30-selesai 1.Kunjungan ke TPA PT Wonokoyo, Kediri, Tabanan
2.Pembuatan draft laporan
Drh.I Wayan Suardana, MSi III Rabu 08.30-selesai
23.30-selesai
1.Kunjungan ke TPA PT Wonokoyo, Kediri, Tabanan
2.Pembuatan draft laporan
3.Ujian Praktek Kesehatan AM dan PM Babi di RPH dan Unggas Pesanggaran
Drh.Mas Djoko Rudyanto, MS Drh.I.B. Ngurah Swacita, MP III Kamis 09.30-11.30 1.Pengumpulan Laporan Koas Pembimbing Koas 1 dan 2 III Jum’at 08.30-selesai 1. Ujian Koas Kesmavet Pembimbing
Koas 1 III Sabtu 08.30-selesai 1. Ujian Koas Kesmavet Pembimbing
BAB II
2.1 MATERI PERATURAN PERUNDANGAN KESMAVET
PERATURAN PERUNDANGAN
K E S M A V E T
EDISI I
DIREKTORAT JENDERAL KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DIREKTORAT JENDERAL BINA PRODUKSI PERTERNAKAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1983
TENTANG
KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Menimbang : a. Bahwa kesehatan masyarakat veteriner mempunyai peranan penting dalam mencegah penularan zoonosa dan pengamanan produksi bahan makanan asal hewan dan bahan asal hewan lainnya. Untuk kepentingan kesehatan masyarakat ;
b. Bahwa sebagai pelaksanaan Pasal 19 dan Pasal 21 Undang – Undang No 6 Tahun 1967 dipandang perlu mengatur Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Peraturan Pemerintah
Mengingat : 1. Pasal 5 Ayat (2) Undang – Undang Dasar 1945;
2. Undang – Undang Nomor Tahun 1967 tentang Ketentuan – Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara tahun 1967 No 10, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2824);
3. Undang – Undang No 5 Tahun 1974 tentang Pokok – Pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara tahun 1974 nomor 3B, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037)
4. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1973 tentang Pembuatan Persediaan, Peredaran dan Pemakaian Vaksin, Sera dan Bahan – bahan Diagnostika Biologis untuk Hewan ( Lembaran Negara Tahun 1973 No 23 );
5. Peraturan Pemerintah No 15 tahun 1977 tentang Penolakan, Pencegahan, Pemberantasan, dan Pengobatan Penyakit Hewan (Lembaran Negara Tahun 1977 No 20, Tambahan Lembaran Negara No 3101);
6. Peraturan Pemerintah No 16 Tahun 1977 tentang Usaha Peternakan (Lembaran Negara Tahun 1977 No. 21, tambahan Lembaran Negara No 3102);
M E M U T U S K A N:
Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :
a. Pengujian adalah kegiatan pemeriksaan kesehatan bahan makanan asal hewan dan bahan asala hewan untuk mengetahui bahwa bahan-bahan tersebut layak, sehat dan aman bagi manusia;
b. Daging adalah bagian-bagian dari hewan yang disembelih atau dibunuh dan lazim dimakan manusia, kecuali yang telah diawetkan dengan cara lain daripada pendinginan;
c. Susu adalah cairan yang diperoleh dari ambing ternak perah sehat, dengan cara pemerahan yang benar, terus menerus dan tidak dikurangi sesuatu dan/atau ditambahkan kedalamnnya sesuatu bahan lain;
d. Usaha pemotongan hewan adalah kegiatan – kegitan yang dilakukan oleh perorangan dan/atau badan yang melaksanakan pemotongan hewan dirumah potong hewan milik sendiri atau milik pihak ketiga atau menjual jasa pemotongan hewan;
e. Telur adalah telur unggas;
f. Zoonosa adalah penyakit yang dapat berjangkit dari hewan kepada manusia atau sebaliknnya;
g. Pengawetan adalah usaha atau kegiatan tertentu untuk mengendalikan, menghambat reaksi enzima oleh mikroorganisme pembusuk, sehingga bahan makanan tersebut dapat digunakan dengan aman dalam jangka waktu yang lebih lama;
h. Menteri adalah mentri yang bertanggung jawab dalam bidang kesehatan masyarakat veteriner.
BAB II
PENGAWASAN KESEHATAN MASYARAKAT VETRINER
Pasal 2
1) Setiap hewan potong yang akan dipoktong harus sehat dan telah diperiksa kesehatannya oleh petugas pemeriksa yang berwenang.
2) Jenis – jenis hewan potong ditetapkan lebih lanjut oleh menteri.
ketentuan sebagaimana dari dimaksud dalam ayat (3) Pasal ini, dengan mendapat izin terlebih dahulu dari Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan atau pejabat yang ditunjuknya.
5) Syarat – syarat rumah potong hewan, pekerja, pelaksanaan pemotongan, dan cara pemeriksaan kesehatan dan pemotongan harus memenuhi ketentuan – ketentuan yang ditetapkan oleh menteri
Pasal 3 (1) Setiap orang atau badan yang melaksanakan :
a. Usaha pemotongan hewan untuk penyediaan daging kebutuhan antar propinsi dan ekspor harus memperoleh surat ijin usaha pemotongan hewan dari menteri atau pejabat yang ditunjuknnya.
b. Usaha pemotongan hewan untuk penyediaan daging kebutuhan antar Kabupaten/Kotamadya daerah Tingkat II dalam suatu daerah Tingkat I harus memperoleh surat ijin usaha pemotongan hewan dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan.
c. Usaha pemotongan hewan untuk penyediaan daging kebutuhan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II harus memperoleh surat izin usaha pemotongan hewan dari Bupati atau Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan.
(2) Tata cara memperoleh surat ijin usaha pemotongan hewan ditetapkanb oleh :
a. Menteri sepanjang mengenai usaha pemotongan hewan untuk penyediaan daging kebutuhan antar Propinsi dan ekspor
b. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, sepanjang mengenai usaha pemotongan hewan untuk penyediaan daging kebutuhan antar Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II, dalam suatu Daerah Tingkat I yang bersangkutan.
c. Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II sepanjang mengenai usaha pemotongan hewan untuk penyediaan daging kebutuhan suatu Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan
Pasal 4
(1) Daging hewan yang telah selesai dipotong harus segera diperikasa kesehatannya oleh petugas pemeriksa berwenang
(2) Daging yang lulus dalam pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal ini, baru diedarkan setelah terlebih dahulu dibubuhi cap atau stempel oleh petugas pemeriksa yang berwenang
(3) Ketentuan – ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) Pasal ini dan cara penanganan serta syarat kelayakan tempat penjualan daging diatur lebih lanjut oleh menteri.
(4) Setiap orang atau badan dilarang mengedarkan daging yang tidak berasal dari rumah potong hewan sebagimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (3) Peraturan pemerintah ini, kecuali dari daging yang berasal dari pemotongan hewan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (4) peraturan pemerintah ini.
(5) Setiap orang atau badan dilarang menjual daging yang tidak sehat. Pasal 5
(1) Setiap perusahaan susu harus memenuhi persyaratan tentang kesehatan sapi perah, perkandangan, kesehatan lingkungan, kamar susu, tempat penampungan susu dan alat – alat serta keadaan air yang dipergunakan dalam kaitannya dengan produksi susu.
(2) Persyaratan usaha peternakan susu rakyat diatur tersendiri oleh Menteri.
(3) Tenaga kerja yang menangani produksi susu harus memenuhi syarat- syarat sebagai berikut :
a. berbadan sehat; b. berpakaian bersih;
c. diperiksa kesehatannya secara berkala oleh dinas kesehatan setempat; d. tidak berbuat hal – hal yang dapat mencemarkan susu;
e. syarat – syarat lain yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 6
Pemerahan dan penanganan susu harus : a. Dilakuakn secara higienis;
b. Mengikuti cara – cara pemerahan yang baik;
c. Memenuhi syarat – syarat lain yang ditetapkan oleh menteri
Pasal 7
(1) Setiap orang atau badan dilarang mengedarkan susu yang tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Menteri
(2) Setiap orang atau badan yang mengedarkan susu harus mengikuti cara penanganan, penyimpanan, pengangkutan dan penjualan susu kyang ditetapkan oleh Menteri (3) Menteri menetapkan syarat kelayakan tempat usaha dan tempat penjualan susu
Pasal 8
Setiap usaha peternakan babi harus memenuhi ketentuan tentang kesehatan masyarakat veteriner dari ternak babi, syarat – syarat kesehatan lingkungan dan perkandangan yang ditetapkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuknya.
Pasal 10
(1) Setiap orang atau badan dilarang mengedarkan telur yang tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Menteri
(2) Setiap orang atau badan yang mengedarkan telur harus mengikuti cara penyimpanan, dan pengangkutan yang ditetapkan oleh Menteri
Pasal 11
Setiap usaha atau kegiatan pengawetan bahan makanan asal hewan dan hasil usaha atau kegiatan tersebut harus memenuhi syarat – syarat kesehatan masyarakat veteriner yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 12
Menteri menetapkan batas maksimum kandungan residu bahan hayati, antibiotika, dan obat lainnya dalam bahan makanan asal hewan.
Pasal 13
Setiap usaha pengumpulan, penampungan, penyimpanan dan pengawetan bahan asal hewan harus memenuhi ketentuan – ketentuan kesehatan masyarakat veteriner yang ditetapkan oleh Menteri
Pasal 14
(1) Pelaksanaan pengawasan kesehatan masyarakat veteriner atas pemotongan hewan, perusahaan susu, perusahaan unggas, perusahaan babi, daging, susu dan telur, pengawetan bahan makanan asal hewan yang diawetkan dan bahan asal hewan dilakukan oleh Bupati/Walikotamadya Kepala daerah Tingkat II, kecuali usaha pemotongan hewan sebagimana dimaksud dalam pasal 3 ayat (1) huruf a dan huruf b Peraturan Pemerintah ini
(2) Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II menetapkan tata cara pelaksanaan pengawasan kesehatan masyaratkat veteriner dengan memperhatikan ketentuan Menteri.
(3) Pengawasan kesehatan masyarakat veteriner yang menyangkut bidang teknis higienis dan sanitasi dilakukan oleh Dokter Hewan Pemerintah
(4) Dokter Hewan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) Pasal ini ditunjuk oleh Menteri.
Pasal 15
(1) Pengawasan atas pelaksanaan ketentuan – ketentuan kesehatan masyarakat veteriner yang menyangkut kepentingan suatu Daerah Tingkat II dan antar Daerah Tingkat II
dalam suatu Daerah Tingkat I, dilakukan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan atau pejabat yang ditunjuk olehnya.
(2) Pengawasan atas pelaksanaan ketentuan – ketentuan kesehatan masyarakat veteriner yang menyangkut kepentingan antar Propinsi atau Daerah Tingkat I dan keperluan ekspor dilakukan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk olehnya.
BAB III PENGUJIAN
Pasal 16
(1) Dalam rangka pengawasan daging, telur, bahan makanan asal hewan yang diawetkan, dan bahan asal hewan apabila dipandang perlu dapat dilakukan pengujian.
(2) Dalam rangka pengawasan terhadap kesehatan susu, pengujiannya dapat dilakukan setiap waktu.
Pasal 17
Menteri atau pejabat yang ditunjuk olehnya menetapkan petunjuk teknis pengujian
Pasal 18
(1) Pengujian daging, susu dan telur serta bahan asal hewan lainnya dilakukan oleh pemerintah daerah Tingkat II
(2) Pemerintah daerah Tingkat II mengatur lebih lanjut pelaksanaan pengujian bahan makanan asal hewan dan bahan asal hewan yang beredar didaerah kewenangannya masing – masing.
(3) Dalam melakukan kewenangan tersebut pemerintah daerah harus mengindahkan petunjuk teknis pengujian yang dikeluarkan oleh Menteri.
Pasal 19
Menteri mengatur pengujian bahan makanan yang berasal dari hewan yang diawetkan. Pasal 20
(1) Pengujian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) Peraturan Pemerintah ini, dilakukan dilaboratorium yang merupakan kelengkapan Dinas Peternakan Daerah Tingkat II setempat.
Daerah Tingkat II setempat, Menteri menunjuk lembaga atau laboratorium yang berwenang melakukan pengujian.
BAB IV
PEMBERANTASAN RABIES
Pasal 21
Menteri menetapkan daerah – daerah tertentu didalam Wilayah Negara Republik Indonesia, sebagai daerah bebas rabies.
Pasal 22
(1) Untuk mempertahankan daerah bebas rabies, setiap orang atau badan hukum dilarang memasukkan anjing, kucing, kera, dan satwa liar lainnya yang diduga dapat menularkan rabies.
a. dari Negara atau bagian Negara lain yang belum diakui sebagai Negara atau bagian Negara yang bebas rabies kedalam wilayah Negara Republik Indonesia yang telah dinyatakan sebagai daerah bebas rabies;
b. dari daerah yang belum dinyatakan oleh Menteri sebagai daerah bebas rabies kedaerah lain di wilayah Negara Republik Indonesia yang telah dinyatakan sebagai daerah bebas rabies.
(2) Menteri dapat memberikan pengecualian dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini hanya untuk kepentingan umum, ketertiban umum dan mempertahankan keamanan.
Pasal 23
Menteri mengatur syarat – syarat dan tata cara tentang :
a. pemasukan anjing, kucing, kera, dan satwa liar lainnya yang diduga dapat menularkan rabies dari wilayah Negara Republik Indonesia
b. pengeluaran anjing, kucing, kera, dan satwa liar lainnya yang diduga dapat menularkan rabies dari wilayah Negara Republik Indonesia keluar negeri
c. pemasukan dan pengeluaran anjing, kucing, kera, dan satwa liar lainnya yang diduga dapat menularkan rabies antar daerah didalam wilayah Negara Republik Indonesia.
Pasal 24
(1) Pencegahan dan pemberantasan rabies pada anjing kucing, kera, dan satwa liar lainnya yang diduga dapat menularkan rabies diatur lebih lanjut oleh Menteri
(2) Pelaksanaan pencegahan dan pemberantasan rabies diselenggarkan dengan kerjasama dengan instansi lain
Dengan tidak mengurangi berlakunya Pasal 22, Pasal 23, dan Pasal 24 Peraturan Pamerintah ini, pencegahan dan pemberantasan rabies pada anjing dibawah kewenangan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dilakuakan oleh Departemen Pertahanan dan Keamanan.
BAB V
PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN ZOONOSA LAINNYA
Pasal 26
Menteri menetapkan jenis – jenis zoonosa yang harus diadakan pencegahan dan pem,berantasan,
Pasal 27
(1) Pencegahan dan pemberantasan zoonosa sebagaimana dimaksud dalam pasal 26 peraturan pemerintah ini merupakan kewajiban pemerintah dan dilaksanakan bersama antara instansi – instansi yang langsung atau tidak langsung berkepentingan dengan kesejateraan dan kepentingan umum.
(2) Menteri menetapkan petunjuk – petunjuk pelaksanaan pemberantasan zoonosa.
BAB VI
KETENTUAN PIDANA
Pasal 28
(1) Barang siapa melanggar ketentuan Pasal 2 ayat (3), ayat (4), dan ayat (5), Pasal 3 ayat (1), Pasal 4 ayat (1) dan ayat (4), Pasal 5 (1), Pasal 8, Pasal 9, Pasal 11, Pasal 13 Peraturan Pemerintah ini dipidana dengan pidana kurungan selama – lamanya 6 (enam) bulan dan/atau denda setinggi – tingginya Rp 50.000 (lima puluh ribu).
(2) Barang siapa melanggar ketentuan Pasal 4 ayat (5), Pasal 7 ayat (1), Pasal 10 ayat (1) Peraturan Pemerintah ini dipidana berdasarkan ketentuan perundang – undangan yang berlaku.
BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 29
(2) Peraturan yang mengatur masalah kesehatan masyarakat veteriner yang sudah ada dan berlaku sebelum dikeluarkan peraturan pemerintah ini, masih tetap berlaku sebelum peraturan pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini dikeluarkan
BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 30
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar supaya setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia
Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 13 Juli 1983
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Ttd
S O E H A R T O
Diundang di Jakarta Pada tanggal 13 Juli 1983
MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Ttd
SUDHARMONO, S.H
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1983
TENTANG
KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER
A. UMUM
Kesehatan masyarakat veteriner adalah segala urusan yang berhubungan dengan hewan dan bahan – bahan yang berasal dari hewan yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kesehatan manusia.
Oleh karena itu kesehatan masyarakat veteriner mempunyai peranan yang penting dalam mencegah penularan penyakit pada manusia baik melalui hewan maupun bahan makanan asal hewan atau bahan hewan lainnya, dan ikut serta memelihara dan mengamankan produksi bahan makanan asal hewan dari pencemaran dan kerusakan akibat penanganan yang kurang higienis.
Fungsi kesehatan masyarakat veteriner sebagaimana diuraikan dalam peraturan pemerintah ini, antara lain untuk melindungi konsumen – konsumen dari bahaya yang dapat mengganggu kesehatan (“Foodborne Disease”) akibat menggunakan baik untuk dipakai atau dimakan bahan makanan asal hewan, melindungi dan menjamin ketentraman bhatin masyarakat dari kemungkinan – kemungkinan penularan zoonosa yang sumbernya berasal dari hewan serta melindungi petani atau peternak dari kerugian – kerugian sebagai akibat penurunan nilai dan kualitas bahan makanan asal hewan yang diproduksi. Dengan demikian kiranya dapat dipahami tentang pentingnya kesehatan masyarakat veteriner, karena menyangkut aspek kesehatan dan secara tidak langsung mempengaruhi aspek ekonomi yang satu dengan lainnya mempunyai pengaruh timbal balik.
Peraturan dibidang kesehatan masyarakat veteriner di Indonesia pada saat sekarang yang meliputi atau mencakup usaha – usaha yang berhubungan dengan bahan makanan asal hewan dan bahan asal hewan serta pencegahan atau pemberantasan atau zoonosa belum lengkap sebagaimana yang diharapkan
Keadaan ini mempersulit dalam pembinaan teknis pelaksanaan yang dapat berakibat kurangnya pengawasan sehingga menyebabkan timbulnya kerugian baik pada konsumen maupun produsen
Dalam usaha penanganan, pembinaan dan pengembangan bidang kesehatan masyarakat veteriner serta mengingat atau memperhatikan kemajuan teknologi di bidang lain maka bidang kesehatan masyarakat veteriner perlu mendapat perhatian bagi pengembangannya. Untuk maksud tersebut diperlukan adanya peraturan pemerintah tentang kesehatan masyarakt veteriner yang dapat memberikan kepastian dan jaminan hukum baik bagi pemerintah maupun masyarakat
Sebagimana diketahui bahwa bahan makanan asal hewan atau bahan asal hewan lainnya berhubungan dengan sifatnya yang mudah rusak dan dapat menjadi sumber penularan penyakit hewan kepada manusia, maka setiap usaha yang bergerak dan berhubungan dengan bahan-bahan tersebut harus memenuhi syarat kesehatan masyarakat veteriner agar bahan-bahan tersebut tetap sehat dan dapat dikonsumsi manusia (memenuhi persyaratan kesehatan).
Dalam pelaksanaannya diperlukan adanya pengawasan Pemerintah terhadap usaha-usaha tersebut agar syarat-syarat yang telah ditetapkan ditaati. Di samping itu diperlukan pula pengujian-pengujian terhadap bahan tersebut agar dapat diketahui apakah bahan-bahan tersebut benar-benar memenuhi persyaratan.
Mengenai perusahaan susu, perusahaan unggas, dan perusahaan babi sehubungan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1977 tentang Usaha Peternakan di Indonesia yaitu dalam rangka usaha pembangunan dan pengembangan peternakan umumnya, maka dalam pembina dan penerapan peraturan mengenai bidang peternakan tersebut diatas, kepentingan-kepentingan/masalah kesehatan masyarakat veteriner wajib diperhatikan. Dengan demikian hal-hal yang menyangkut perizinan wajib diperhatikan. Dengan demikian hal-hal yang menyangkut perizinan usaha peternakan harus di syaratkan sebelumnya agar syarat-syarat kesehatan masyarakat veteriner dapat dipenuhi.
Usaha pemotongan hewan juga termasuk ruang lingkup bidang kesehatan masyarakat veteriner dan dapat merupakan suatu unit usaha yang sifatnya terpadu dengan rumah potong hewan dan pengawetan daging atau bahan asal hewan.
Keadaan ini sama halnya dengan usaha peternakan sapi perah atau perusahaan susu yang membutuhkan unit untuk pengerjaan atau penampungan susu (kamar susu).
Pengujian merupakan bagian dari pada kegiatan pengawasaan, baik pengujian terhadap bahan segar, bahan hasil pengawetan dan bahan asal hewan itu. Untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pengujian ini diperlukan adanya tenaga-tenaga terampil, sarana dan peralatan yang memadai dan biaya operasional. Dengan melaksanakan pengawasan dan pengujian ini, maka semua produk bahan asal hewan yang disampaikan kepada pihak konsumen dapat dijamin kebersihan dan keamanannya, sehingga tidak menimbulkan bahaya-bahaya yang tidak diinginkan bila dikonsumsi atau digunakan oleh para konsumen. Bidang pengujian ini cukup luas, pada pokoknya akan mencakup pengujian secara fisis, khemis dan bakteriologis dan dapat diperinci lebih lanjut tergantung pada macam atau kondisi bahan yang akan diuji dan apa yang perlu diperiksa.
Pengujian bahan makanan asal hewan (daging, susu, dan telur) dan bahan asal hewan lainya, menjadi tanggung jawab Pemerintah. Khusus mengenai rabies yang merupakan zoonosa terpenting yang berbahaya bagi keselamatan jiwa manusia, perlu diatur usaha penolakan, pencegahan dan pemberantasannya di indonesia dengan sebaik-baiknya. Dalam rangka penolakan rabies ke dalam wilayah atau daerah-daerah di Indonesia makan diadakan larangan untuk memasukkan anjing, kucing atau kera, dan satwa liar lainnya ke dalam wilayah atau daerah-daerah tertentu.
Pengecualian terhadap larangan tersebut dapat diberikan kepada rombongan sirkus atau badan lain yang sama sifatnya. Daerah-daerah tersebut di atas dikenal sebagai daerah bebas rabies. Daerah bebas rabies tersebut kita pertahankan agar tetap bebas.
PASAL DEMI PASAL
Pasal 2 Ayat (1)
Pemeriksaan hewan sebelum dipotong adalah untuk daging sehat untuk konsumsi manusia.
Ayat (2)
Cukup jelas Ayat (3)
Untuk memperoleh daging yang sehat pada dasarnya pemotongan hewan harus dilakukan di rumah pemotongan hewan. Namun demikian mengingat belum semua daerah mempunyai rumah pemotongan hewan maka pemotongan hewan dapat dilakukan ditempat pemotongan hewan lain yang ditunjuk oleh Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II setempat.
Pemotongan hewan yang dilakukan menyimpang dari ketentuan ayat (3) Pasal ini, semata-mata hanya untuk keperluan keluarga, agama, adat, dan bukan untuk mata pencaharian atau diperdagangkan.
Ayat (5)
Pekerja yang dimaksud dalam ayat ini adalah tenaga-tenaga yang langsung terlibat dalam pemotongan hewan (orang yang menyembelih, orang yang menguliti dan lain-lain).
Pasal 3 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3)
Yang dimaksud penanganan dalam ayat ini antara lain pemotongan bagian-bagian daging, pengangkutan, penyimpanan, dan manjanjakan daging pada saat penjualan. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas
Pasal 6
Yang dimaksud penanganan dalam pasal ini antara lain pendinginan, pasteurisasi, dan sterilisasi susu.
Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 8
Ketentuan dalam pasal ini dimaksudkan untuk mencegah kemungkinan timbulnya gangguan kesehatan dan pencemaran lingkungan terhadap masyarakat sekitarnya dan kesehatan ternak babinya sendiri.
Pasal 9
Ketentuan dalam pasal ini dimaksudkan mencegah kemungkinan timbulnya gangguan kesehatan dan pencemaran lingkungan terhadap masyarakat sekitarnya dan kesehatan ternak unggasnya sendiri.
Pasal 10 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 11
Maksud dan tujuan pengawetan dalam pasal ini adalah semua usaha/kegiatan untuk mengendalikan, menghambat reksi enzyma dan mikroorganisme pembusuk. Sehingga bahan makanan tersebut dapat digunakan dengan aman dalam jangka waktu yang lebih lama. Dalam usaha/kegiatan pengawetan ini termasuk: penggunaan suhu rendah, suhu tinggi, proses pengeringan, dan bahan-bahan kimiawi dan zat tambahan lainya. Syarat-syarat kesehatan masyarakat veteriner dalam pasal ini adalah syarat-syarat kesehatan tentang: Bahan baku, bahan pengawet, bagan tambahan lainnya, sarana dan cara pengawetan serta cara pengepakan, penyimpanan dan pengangkutan hasil
Pasal 12
Penggunaan bahan hayati, antibiotika dan obat-obat lainnya pada hewan dapat meningkatkan residu dalam bahan makanan asal hewan yang bersangkutan, yang pada tingkat tertentu dapat membahayakan kesehatan manusia. Oleh karena itu perlu ditetapkan batas maksimum residu yang dapat diizinkan dalam bahan makanan asal hewan.
Pasal 13
Syarat-syarat kesehatan masyarakat veteriner dalam pasal ini adalah syarat-syarat kesehatan tentang:
• Tempat atau lokasi pengumpulan dan penampungan serta lingkungannya
• Cara-cara pengawetan dan penyimpanan serta keterangan asal dari bahan asal hewan tersebut
Pasal 14
Ayat (1)
Bahwa tugas-tugas bidang kesehatan masyarakat veteriner sesuai dengan maksud Peraturan Pemerintah ini merupakan tugas pembantuan (medebewind) kepada Pemerintah Daerah Tingkat I dan Tingkat II. Dengan demikian hanya pelaksanaannya diserahkan kepada Pemerintah Daerah sedangkan pembinaan dan hal-hal yang menyangkut masalah teknis tetap menjadi tanggung jawab dan sepenuhnya ditangan Pemerintah Pusat.
Ayat (2)
Cukup jelas Ayat (3)
Dalam hal pelaksanaan pengawasan yang nyata-nyata menyangkut bidang teknis higiene dan sanitasi akan dilakukan oleh dokter hewan ditunjuk dan dianggap cakap dalam bidang ini.
Ayat (4) Cukup jelas Pasal 15 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas
Pasal 16
Ayat (1)
Pengujian terhadap daging, telur, bahkan makanan asal hewan yang diawetkan dan bahan asal hewan dapat dilakukan bila hasil penentuan sebelumnya belum dapat memberikan keyakinan tentang kesehatan dari bahan-bahan tersebut. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 18 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 19 Cukup jelas Pasal 20 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2)
Apabila laboratorium yang merupakan kelengkapan Dinas Peternakan Daerah Tingkat II setempat tidak tersedia perlengkapan yang memadai atau Dinas Peternakan setempat tidak memiliki laboratorium sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, maka pelaksanaan pengujian dapat dilakukan di laboratorium lain yang ditunjuk oleh Menteri.
Pasal 21
Cukup jelas
Daerah bebas rabies dalam wilayah Negara Wilayah Indonesia ditetapkan dengan Keputusan Menteri. Untuk daerah tersebut dilarang memasukkan anjing, kucing, kera, dan satwa liar lainya yang dapat menularkan rabies.
Ayat (2)
Izin pengecualian untuk memasukkan anjing, kucing, kera dari daerah rabies untuk keperluan umum dan pertahanan keamanan diberikan oleh Menteri atas dasar permohonan dari yang bersangkutan. Sedangkan yang dimaksud dengan kepentingan pertahanan dan keamanan misalnya anjing-anjing pelacak untuk pengamanan operasi/obyek militer, anjing pelacak untuk operasi kepolisian, dan petugas/instansi Bea dan Cukai misalnya operasi narkotika dll. Sedangkan anjing, kucing, kera, dan satwa liar lainya untuk kepentingan pribadi dari anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, tidak termasuk di dalam pengecualian sebagaimana dimaksud dalam pasal 22 ayat (2) ini.
Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2)
Pelaksanaan pencegahan dan pemberantasan rabies diselenggarakan dengan kerja sama dengan instansi lain, karena disamping rabies mempunyai akibat negatif terhadap manusia yang terjangkit dan masyarakat sekitarnya, juga pelaksanaan pencegahan dan pemberantasan rabies tersebut dapat disertai dengan suatu tindakan pemusnahan terhadap milik orang lain.
Pasal 25
Anjing yang ada di bawah kewenangan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia antara lain ialah anjing-anjing pelacak dalam satuan Brigade Anjing dalam Dinas Provost Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, anjing pelacak yang merupakan bagian dari Satuan Satwa POLRI. Untuk usaha pencegahan adanya rabies pada anjing tersebut termasuk pelaksanaan vaksinasi dilakukan oleh unsur Departemen Pertahanan dan Keamanan. Dalam hal-hal tertentu Departemen Pertahanan Keamanan dapat minta bantuan kepada Dinas Peternakan bilamana tenaga teknis untuk maksud tersebut belum dapat dipenuhi.
Pasal 26
Cukup jelas
Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 28 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUU 1977
TENTANG
PENOLAKAN, PENCEGAHAN, PEMBERANTASAN DAN PENGOBATAN PENYAKIT HEWAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MENIMBANG :
a. Bahwa ternak sebagai sumber produksi untuk mencukupi kebutuhan manusia akan protein hewani merupakan salah satu bahan produksi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, kemakmuran serta kesejahteraan bangsa dan negara perlu dipelihara kelestariannya dan dikembangkan sebaik-baiknya;
b. Bahwa usaha pemeliharaan dan peningkatan perkembangan hewan perlu dilindungi dari kerugian yang dapat ditimbulkan oleh berbagai macam penyakit hewan serta adanya penyakit yang dapat berpindah dari hewan kepada manusia;
c. Bahwa atas dasar hal tersebut, maka usaha penolakan, pencegahan, pemberantasan, dan pengobatan penyakit hewan perlu dilakukan secara seksama dan diatur dengan sebaik-baiknya;
MENGINGAT :
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;
2. Ketentuan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor IV/MPR/1973 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara;
3. Undang-Undang Nomor 6 tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok Peternakan Dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2824);
4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintah Di Daerah (Lembaga Negara Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Di Daerah, Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomer 3037);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1973 tentang Perubahan, Persediaan, Peredaran Dan Pemakaian Vaksin, Sera Dan Bahan-Bahan Diagnostik Untuk Hewan (Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 23);
MEMUTUSKAN : MENETAPKAN :
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENOLAKAN, PENCEGAHAN, PEMBERATASAN, DAN PENGOBATAN PENYAKIT HEWAN
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Didalam peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1. Pemerintah adalah Pemerintah Republik Indonesia.
2. Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab dalam bidang penolakan, pencegahan, pemberatasan dan pengobatan penyakit hewan.
3. Penolakan Penyakit Hewan adalah:
a) Semua tindakan untuk mencegah masuknya sesuatu penyakit hewan dalam negeri ke dalam wilayah negara republik indonesia;
b) Semua tindakan untuk mencegah masuknya penyakit hewan dari suatu wilayah pulau yang satu ke dalam wilayah/pulau yang lain dalam lingkungan negara republik indonesia.
4. Pencegahan penyakit hewan adalah semua tindakan untuk mencegah timbulnya, berjangkitnya dan menjalarnya panyakit hewan.
5. Pemberatasan penyakit hewan adalah semua tindakan untuk manghilangkan timbulnya/terjadinya, berjangkitnya dan menjalarnya kasus penyakit hewan.
6. Pengobatan penyakit hewan adalah semua tindakan untuk melaksanakan pemyembuhan penyakit hewan yang menular maupun yang tidak menular.
7. Pelabuhan hewan adalah pelabuhan laut, sungai, dan udara yang oleh Menteri ditetapkan sebagai tempat untuk memasukkan atau mengeluarkan hewan ternak bahkan asal hewan dan hasil bahan asal hewan.
8. Karantina hewan adalah tempat dan atau tindakan mengasingkan hewan ternak bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan agar supaya tidak menular kepada hewan/ternak yang sehat.
9. Pengawasan penyakit hewan adalah tindakan pemilihan dan pengawasan yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah atau ahli pengawas yang ditunjuk oleh Menteri, untuk mendapatkan kepastian apakah seekor atau lebih hewan/ternak, bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan bebas dari segala penyakit hewan.
10. Bahan asal hewan /ternak adalah bahan yang berasal dari hewan/ternak yang dapat diolah lebih lanjut.
11. Hasil bahan asal hewan / ternak adalah bahan asal hewan /ternak yang diolah dan dipergunakan untuk makan manusia, penyusunan makanan hewan dan bahan baku untuk industri dan farmasi.
BAB II
KEBIJAKSANAAN UMUM
Pasal 2
Untuk menjamin wilayah Negara Republik Indonesia bebas secara lestari dari penyakit hewan, pemerintah mengambil tindakan-tindakan yang meliputi penolakan, pencegahan, pemberantasan, dan pengobatan penyakit hewan.
Pasal 3
Dalam melaksanakan tindakan penolakan penyakit hewan sebagaimana dimaksud pada pasal 2, maka setiap hewan/ternak, bahan asal hewan, hasil-hasil bahan asal hewan yang didatangkan dari luar negeri ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia harus disertai surat keterangan kesehatan hewan yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang dari negara asalnya.
Pasal 4
1) Pemindahan hewan/ternak, bahkan asal hewan dan hasil bahan asal hewan dari suatu wilayah propinsi ke wilayah propinsi lainya dalam negara republik indonesia harus disertai surat keterangan kesehatan hewan yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang untuk itu, dengan memenuhi tatacara karantina hewan.
2) Setiap orang harus mencegah timbulnya dan menjalarnya penyakit hewan yang dapat dibawa oleh hewan/ternak, bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan dalam perjalanan atau pengangkutan antar pulau/wilayah sesuai dengan ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 5
1) Setiap orang harus melaporkan adanya persangkaan atau adanya kasus kepada pejabat atau instansi yang berwenang.
2) Keharusan melapor sebagaimana dimaksud pada ayat (1), merupakan kewajiban bagi pemilik atau peternak, pejabat pamong praja, dan pejabat atau ahli yang karena tugasnya ada hubunganya dengan pengobatan dan perawatan penyakit hewan.
BAB III
WEWENANG PENGATURAN DAN PELAKSANAAN
Pasal 6
1) Pelaksanaan tindakan-tindakan penolakan, pencegahan, pemberantasan, dan pengobatan penyakit hewan diatur lebih lanjut oleh menteri
2) Wewenang pengaturan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) dapat dilimpahkan kepada pejabat yang ditunjuk oleh menteri.
3) Wewenang pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat dilimpahkan oleh menteri kepada Gubernur kepala daerah.
4) Gubernur kepala daerah dalam melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (3), bertanggung jawab kepada Menteri.
5) Wewenang pelaksanaan atas ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhadap hewan/ternak milik Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia diserahkan kepada Menteri Pertahanan Keamanan.
BAB IV PENGAWASAN
Pasal 7
Menteri mengadakan pengawasan atas pelaksanaan tindakan-tindakan penolakan, pencegahan, pemberantasan, dan pengobatan penyakit hewan sebagaimana dimaksud pada pasal 6 dengan sebaik-baiknya.
Pasal 8
1) Menteri menetapkan jenis-jenis penyakit hewan dan wilayah bebas.
2) Menteri menetapkan pelabuhan hewan setelah berkonsultasi dengan Menteri yang bertanggung jawab dalam bidang pelabuhan.
Pasal 9
Menteri menunjuk ahli pengawas untuk diikutsertakan dalam tindakan-tindakan penolakan, pencegahan, pemberantasan, dan pengobatan penyakit hewan.
BAB VI
KATENTUAN PERALIHAN
Pasal 11
1) Hal-hal yang belum cukup diatur di dalam peraturan pemerintah ini akan diatur lebih lanjut oleh Menteri atau bersama-sama dengan Menteri lain yang bersangkutan. 2) Selama ketentuan pelaksana peraturan pemerintah ini belum ditetapkan, maka
ketentuan yang ada tetap berlaku, sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa peraturan pemerintah ini.
BAB VII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 12
Peraturan pemerintah ini disebut peraturan pemerintah tentang penyakit hewan. Pasal 13
Peraturan pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Agar supaya setiap orang mengetauhinya, memerintahkan pengudangan peraturan pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Diundangkan di Jakarta Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 16 Maret 1977 Pada Tanggal 16 Maret 1977
MENTERI/SEKERTARIS NEGARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
ttd ttd
SUDHARMONO, S.H. S O E H A R T O
PENJELASAN ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1977
TENTANG
PENOLAKAN, PENCEGAHAN, PEMBERANTASAN DAN PENGOBATAN PENYAKIT HEWAN
I. UMUM
Pemerintah menyadari akan pentingnya hewan/ternak sebagai salah satu sumber kemakmuran, sehingga oleh karena itu adalah menjadi kewajiban pemerintah untuk memelihara dan megembangkan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat dicapai maksud penggunaan hewan/ternak secara lestari.
Pada umumnya sampai saat ini, mengenai pemeliharaan hewan/ternak masih banyak dipergunakan peraturan-peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda, yang dalam beberapa hal sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan dewasa ini, baik ditinjau dari segi teknis biologis, maupun dari segi sosial ekonomi.
Oleh karena itu, pemerintah perlu mengadakan pengaturan yang mengarah kepada kelestarian sumber kemakmuran yang berwujud hewan/ternak yang disesuaikan dengan perkembangan keadaan secara Nasional dan Internasional. Pengaturan tersebut meliputi penolakan masuknya penyakit hewan ke dalam wilayah negara republik indonesia, antar wilayah Indonesia, pencegahan timbulnya penyakit hewan, pemberantasan penyakit hewan dan pengobatan hewan/ternak yang menderita penyakit. Untuk keperluan pelaksanaan usaha-usaha tersebut diperlukan tenaga ahli, sarana, prasarana dan organisasi serta tatakerja yang sebaik-baiknya.
Berhubungan penyakit hewan dapat cepat menular secara luas tanpa mengenal batas lokal, regional dan batas negara, yang disebabkan oleh sifatnya penyakit itu sendiri dan oleh perkembangan lalu-lintas perhubungan yang modern dan cepat, sehingga oleh karena itu pemerintah bertanggung jawab atas masalah penolakan, pencegahan, pemberantasan, dan pengobatan penyakit hewan/ternak dan apabila perlu untuk mempercepat pelaksanaan tindakan-tindakan tersebut, dapat dilimpahkan wewenang pelaksanaannya kepada Pemerintah Daerah tingkat I
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Angka 1 dan 2 Cukup jelas
Yang dimaksud dengan tindakan penolakan penyakit hewan, ialah mencegah penularan penyakit hewan, karena penularan itu dapat secara langsung dan tidak langsung yaitu melalui hewannya sendiri, oleh manusia, melalui bahan asal hewan, melalui hasil bahan asal hewan, melalui lalat yang diperlukan untuk menyertai hewan dan melalui bahan makanan hewan.
Angka 4 sampai dengan 9 Cukup jelas
Angka 10
• Termasuk dalam pengertian “bahan asal hewan” ialah daging, susu, telur, bulu, tanduk, kuku, kulit, tulang, mani, madu, dan hasil dari ikan.
Angka 11
• Termasuk dalam pengertian “hasil bahan asal hewan” ialah:
• Bahan asal hewan yang untuk makanan manusia antara lain daging yang diawetkan dengan cara lain daripada pendinginan, misalnya: daging rebus, dendeng, susu kental manis, krupuk kulit, telur dan madu.
• Bahan asal hewan guna keperluan industri seperti kulit, bulu hewan, kuku dan tanduk, tulang, darah, usus, dan pupuk hewan.
Pasal 2 Cukup jelas Pasal 3 Cukup jelas Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 5 Ayat (1)
Yang dimaksud dengan kasus ialah suatu keadaan, dimana terdapat seekor atau lebih hewan/ternak yang terjangkit oleh suatu penyakit hewan.
Ayat (2)
Pasal 6
Ayat (1)
Dalam hal ini Menteri akan mengatur lebih lanjut tentang:
• Pelaksanaan usaha pencegahan dan pengawasan timbulnya penyakit hewan, sehingga dapat terjamin keselamatan hewan secara lestari;
• Pelaksanaan pemberantasan penyakit hewan yang memuat penyakit dan cara-cara pencegahan, pemberantasan dan pemusnahan penyakit hewan;
• Pelaksanaan pengobatan dan penyakit hewan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 7 Cukup jelas Pasal 8 Ayat (1)
Yang dimaksud dengan wilayah bebas (free zone) adalah suatu daerah terbatas yang ditetapkan oleh menteri berdasarkan peraturan pemerintah ini, dimana hewan/ternak ada dibawah pengawasan instansi yang berwenang yang ditunjuk oleh menteri dan di dalam daerah tersebut selama waktu tertentu tidak terdapat sesuatu penyakit hewan.
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 9
Yang dimaksud dengan ahli pengawas adalah dokter hewan, baik yang menjabat pegawai negeri maupun yang ditunjuk khusus untuk melakukan pengawanan kesehatan hewan.
Pasal 10
Pasal 12 Cukup jelas
Pasal 13 Cukup jelas
MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA
SURAT KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 745/Kpts/TN.240/12/1992.
TENTANG
PERSYARATAN DAN PENGAWASAN PEMASUKAN DAGING DARI LUAR NEGERI
MENTERI PERTANIAN,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka mencukupi kebutuhan daging di dalam negeri dan meningkatkan gizi masyarakat serta upaya menunjang kunjungan wisatawan mancanegara, dipandang perlu membuka peluang pemasukan daging dari luar negeri ke dalam wilayah negara Republik Indonesia;
b. bahwa untuk memperlancar arus daging dari luar negeri tersebut agar secepatnya sampai pada konsumen dalam keadaan mutu yang baik, dipandang perlu untuk menyederhanakan proses penanganan tindakan karantina dan pemeriksaan mutunya;
c. bahwa untuk mengurangi resiko masuknya penyakit hewan karantina dan melindungi konsumen dari penyakit zoonosa serta menjamin kelayakan dan ketentraman batin masyarakat dalam mengkonsumsi daging yang berasal dari luar negeri, dipandang perlu melakukan pengaturan yang bersifat teknis terhadap pemasukan daging tersebut;
d. bahwa atas dasar hal- hal tersebut diatas, dipandang perlu menetapkan ketentuan tentang persyaratan dan pengawasan pemasukan daging dari luar negeri dengan Surat Keputusan. Mengingat : 1. Undang-Udang Nomor 6 Tahun 1967;
6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 1986; 7. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 422/Kpts/LB.720/6/-1988: 8. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 560/Kpts/01.210/8/-1990. Memperhatikan : 1. Intruksi Presiden Nomor 2 Tahun 1991
2. Surat Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 200/Kp/VI/92;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : SURAT KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN TENTANG PERSYARATAN DAN PENGAWASAN PEMASUKAN DAGING DARI LUAR NEGERI.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam surat keputusan ini yang dimaksud dengan:
a. Daging adalah bagian-bagian dari hewan yang di dapat dengan cara menyembelih dan atau dibunuh yang lazim di makan oleh manusia, berupa karkas, setengah karkas, potongan daging bertulang lainya, daging tanpa tulang, perutan, kecuali yang telah diawetkan dengan cara lain dari pada pendinginan;
b. Nomor kontrol veteriner adalah registrasi rumah pemotongan hewan; perusahaan-perusahaan pengolahan atau usaha-usaha lainnya yang bergerak dalam bidang pengumpulan, penampungan, penyimpanan dan pengawetan bahan asal hewan yang diterbitkan oleh instansi yang bertanggung jawab dalam bidang kesehatan masyarakat veteriner di suatu negara;
c. Penyakit hewan menular utama adalah penyakit-penyakit yang mempunyai daya penularan cepat dan berdampak sosial ekonomi atau yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat yang serius serta merupakan penyakit yang penting di dalam perdagangan hewan serta bahan asal hewan secara internasional;
d. Kesehatan masyarakat veteriner yang disingkat kesmavet adalah segala unsur yang berhubungan dengan hewan dan bahan yang berasal dari hewan yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kesehatan manusia.
e. Pemasukan daging adalah pemasukan daging dari luar negeri ke wilayah negara Republik Indonesia.
f. Daging asal luar negeri adalah daging yang dimasukkan dari luar negeri ke wilayah negara Republik Indonesia.
Pasal 2
1) Pemasukan daging dapat dilakukan oleh importir umum sepanjang memenuhi ketentuan mengenai jenis dan kualitas, persyaratan teknis penolakan penyakit hewan dan kesehatan mayarakat veteriner sesuai dengan peraturan perudang-undangan yang berlaku, persyaratan keamanan dan ketentraman batin konsumen.
2) Importir dan/atau pengedar daging asal luar negeri, harus mencegah kemungkinan timbul dan menjalarnya penyakit hewan yang dapat ditularkan malalui daging yang diimpor dan/atau diedarkannya, serta ikut bertanggung jawab atas keamanan dan ketentraman batin konsumen.
BAB II
SYARAT PEMASUKAN DAGING
Pasal 1
Pemasukan daging harus memenuhi persyaratan teknis yang terdiri dari persyaratan: a. Negara asal;
b. Rumah potong asal daging; c. Kualitas daging;
d. Cara pemotongan; e. Pengemasan; f. Pengangkutan;
dan disertai surat keterangan kesehatan dan dokumen lainya dari negara asal. Pasal 4
Daging asal luar negeri, harus berasal dari suatu negara yang:
a. Sekurang-kurangnya dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan terakhir dinyatakan bebas dari penyakit hewan menular utama Mulut Dan Kuku (Foot And Mouth Disease) dan Riderpest:
b. Dalam waktu 3 (tiga) tahun terakhir secara berturut-turut, negara tersebut tidak melakukan vaksinasi terhadap penyakt hewan menular utama Mulut dan Kuku dan Riderpest.
c. Telah memiliki sistem pengawasan kesehatan daging baik di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) maupun dalam peredaran sekurang-kurangnya memenuhi standart dan ketentuan peraturan perundang-udangan yang berlaku di Indonesia.
Pasal 5
1) Pemasukan daging babi, disamping harus memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4, negara asal daging yang bersangkutan harus:
a. Sekurang-kurangnya dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan terakhir telah dinyatakan bebas dari penyakit Swine Vasicular Disease, Teschen Disease dan African Swine Fever;
b. Berasal dari suatu peternakan yang sekurang-kurangnya dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan terakhir sudah dinyatakan bebas dari Transmible Gastro Enteritis (TGF), Trichinosis dan Cysticercosis.
2) Pemasukan daging unggas selain harus memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 huruf c. Negara asal daging unggas yang bersangkutan harus sekurang-kurangnya dalam waktu 90 hari terakhir dinyatakan tidak sedang mewabah.
3) Pemasukan daging itik, disamping harus memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut dalam ayat (2), daging itik yang bersangkutan harus berasal dari suatu peternakan yang dalam jangka waktu 90 hari terakhir telah dinyatakan bebas dari penyakit Duck Viral Hepatitis dan Duck Viral Enteritis.
Pasal 6
Daging asal luar negeri harus berasal dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang berasal di bawah pengawasan dokter hewan yang berwenang di negara asal, dan RPH tersebut telah diakui oleh pemerintah Republik Indonesia yang sekurang-kurangnya setara dengan standart RPH klas A di Indonesia.
Pasal 7
Daging asal luar negeri harus disertai Surat Keterangan Kesehatan dari Dokter Hewan yang berwenang di negara asal, yang menyatakan bahwa:
1. situasi penyakit di negara asal dinyatakan bebas dari penyakit hewan menular utama yang dapat menulari jenis ternak asal daging yang bersangkutan;
2. daging tersebut berasal dari ternak yang lahir dan dipelihara atau telah berada di negar tersebut sekurang-kurangnya selama 4 (empat) bulan;
3. daging tersebut berasal dari ternak yang dipotong di RPH seperti tersebut pada pasal 6 serta telah lulus dari pemeriksaan ante mortem dan post mortem, serta diproses menurut persyaratan sanitasi sehingga layak untuk dikonsumsi manusia dan tidak berbahaya sebagai bahan penularan penyakit;
4. daging tersebut tidak mengandung pengawet atau bahan lain yang dapat membahayakan kesehatan manusia;
5. masa penyimpanan daging tersebut tidak lebih dari 3 (tiga) bulan sejak pemotongan ternak hingga batas waktu pemberangkatan.
Pasal 8
1) Pemasukan daging untuk keperluan konsumsi umum atau diperdagangkan harus berasal dari ternak yang pemotonganya dilakukan menurut syarat Islam dan dinyatakan dalam sertifikal halal.
2) Ketentuan pada (1) tidak berlaku bagi pemasukan daging babi, daging untuk keperluan khusus dan terbatas, serta daging untuk pakan hewan yang dinyatakan secara tertulis oleh pemilik dan atau pengguna.
Pasal 9
Daging asal luar negeri harus dikemas, dan kemasan daging tersebut harus: 1. asli dari negara asal dan diberi segel;
2. mencantumkan Nomor Kontrol Veteriner; 3. mencantumkan tanggal pemotongan.
4. mencantumkan jenis dan kualitas daging dan peruntukannya. Pasal 10
1) Daging asal negeri harus diangkut secara langsung dari negara asal ke pelabuhan tujuan pemasukan di Indonesia, dan tidak boleh diturunkan di negara transit.
2) Pemasukan daging dengan cara transit di atau reekspor melalui negara lain, dapat disetujui dengan pertimbangan khusus, setelah diadakan penilaian dan pengamatan terlebih dahulu, serta tidak bertentangan dengan pasal 3, 4, 5, 6, 7, 8 dan 9 surat keputusan ini.
Pasal 11
1) Daging asal luar negeri yang diangkut dengan kontainer, maka kontainer tersebut harus disegel oleh dokter hewan yang berwenang, dan segel tersebut hanya dapat dibuka oleh petugas Karantina Hewan pada tempat pemasukan.
2) Daging yang mempunyai Sertifikat Halal tidak boleh dicampur dalam satu wadah atau kontainer dengan daging yang tidak mempunyai Sertifikat Halal.
3) Selama dalam pengangkutan, temperatur dalam kontainer atau alat angkut harus dijaga stabil, untuk daging segar berkisar antara 00C sampai dengan 40C, dan untuk daging beku berkisar antara 180C sampai dengan 220C dibawah nol.
Pasal 12
Daging asal luar negeri untuk keperluan pakan hewan harus: a) Diberi zat berwarna;
BAB III
TATA CARA PEMASUKAN DAGING
Pasal 13
1) Setiap orang atau badan hukum yang ditetapkan oleh Pemerintah sebagai importir umum dapat melakukan pemasukan daging dari luar negeri ke dalam wilayah negara Republik Indonesia.
2) Direktur Jendral Peternakan melakukan penilaian terhadap situasi penyakit, sistem pengawasan kesehatan dan tata cara pemotongan daging, RPH dan Perusahaan Pengolahan Daging di negara atau bagian suatu negara asal daging, serta jenis, kwalitas, dan peruntukan daging yang akan dimasukkan dari luar negeri ke dalam wilayah negara Republik Indonesia.
3) Penilaian oleh Direktur Peternakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan berdasarkan persyaratan teknis tersebut pada Bab II dan dapat disesuaikan menurut perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat dilaksanakannya penilaian. 4) Untuk keperluan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pada importir
mengajukan permohonan rencana pemasukan daging secara tertulis kepada Direktur Jendral Peternakan dengan mencantumkan Negara Asal, Nama, Alamat dan Nomor Kontrol Veteriner RPH atau Perusahaan Pengolahan Daging daerah pemasukan, jenis dan peruntukan, serta jumlah dan rencana pemasukan daging serta melampirkan data perusahaan dan data teknis yang dipersaratkan.
Pasal 14
1) Direktur Jendral Peternakan setelah menerima permohonan tertulis sebagaimana dimaksud pada Pasal 13 ayat (4), paling lama dalam waktu 14 (empat belas) hari telah memberikan jawaban berupa penolakan atau persetujuan.
2) Dalam hal Direktur Jendral Peternakan menyetujui permohonan pemasukan daging tersebut pada ayat (1), maka Direktur Jendral Peternakan menerbitkan surat persetujuan pemasukan berdasarkan permohonan yang ada dan rencana pemasukan dalam kurun waktu tertentu dan mencantumkan persyaratan kesehatan hewan atau kewajiban lain yang harus dipenuhi oleh importir.
3) Dalam hal Direktur Jendral Peternakan menolak permohonan pemasukan daging dari luar negeri, maka Direktur Jendral Peternakan menerbitkan surat penolakan pemasukan dengan mencantumkan alasan-alasan penolakannya.
4) Tembusan surat persetujuan atau penolakan sebagaimana dimaksud ayat (2) dan ayat (3) disampaikan kepada Direktorat Jendral Perdagangan Luar Negeri, Direktorat Jendral Bea dan Cukai, Kepala Dinas Peternakan Propinsi Dati I setempat, Kepala Pusat Karantina Pertanian, dan Kepala Balai Karantina Hewan setempat.
Pasal 15
Pemasukan daging dari negara-negara yang telah memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud Pasal 4 dan Pasal 5 kedalam wilayah Indonesia yang berupa barang bawaan dan untuk keperluan sendiri serta jumlahnya tidak melebihi 10 kg untuk setiap orang, tidak perlu mengajukan permohonan kepada dan mendapat persetujuan dari Direktorat Jendral Peternakan, tetapi tetap dikenakan tindakan karantina dan pemeriksaan teknis lainya sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Pasal 16
1) Setiap pemasukan daging harus dilaporkan oleh pemiliknya kepada petugas Karantina Hewan pada tempat pemasukan untuk dikenakan tindakan karantina, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan karantina yang berlaku.
2) Apabila tindakan karantina dilakukan diluar tempat pemasukan, maka Kepala Pusat Karantina Pertanian menetapkan tempat penyimpanan daging yang telah memenuhi persyaratan yang disediakan oleh importir, untuk ditetapkan sebagai instalasi karantina dalam melakukan tindakan karantina.
3) Tempat penyimpanan daging yang ditetapkan sebagai instalasi sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus telah mendapatkan ijin sebagai tempat penyimpanan daging dari Dinas Peternakan Daerah Tingkat I setempat.
4) Penetapan instalasi karantina sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak memerlukan rekomendasi lagi dari Dinas Peternakan setempat.
5) Ketentuan tersebut pada ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) berlaku juga untuk pemasukan daging antar area di dalam wilayah negara Republik Indonesia.
Pasal 17
Disamping dikenakan tindakan karantina sebagaimana dimaksud dalam pasal 16, terhadap daging asal luar negeri dilakukan pemeriksaan sebagai berikut:
1. pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan dokumen, surat persetujuan pemasukan daging dan surat keterangan halal.
2. pemeriksaan nomor kontrol veteriner dan tanggal pemotongan; 3. pemeriksaan organoleptik dengan cara:
a. mengambil contoh dengan metode pengambilan contoh acak sederhana (random sampling) yang kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan organoleptik maliputi: bau, warna, dan konsistensi dengan cara melihat, mencium, meraba dan apabila dianggap perlu dengan melakukan penyayatan dalam batas yang wajar, menurut prinsip-prinsip kesehatan masyarakat veteriner.
5. dilanjutkan dengan pengujian laborataris (pengukuran pH, kebusukan dan pencemaran mikrobiologi) apabila dalam pemeriksaan organoleptik terdapat kalainan, dan selama pengujian Dokter Hewan Karantina dapat menahan seluruh atau sebagian kontainer;
6. melaporkan hasil pengujian laboratorium kepada Direktur Jendral Peternakan dan Kepala Balai Karantina Hewan, apabila ditemukan adanya daging yang tidak layak dikonsumsi.
Pasal 18
1) Daging asal luar negeri dibebaskan untuk dapat dikeluarkan dari instalasi Karantina Hewan, apabila semua tindakan karantina sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 17, telah dilaksanakan serta tidak ditemukan hewan menular, serta dianggap layak untuk dikonsumsi manusia.
2) Pembebasan daging asal luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disertai sertifikat pelepasan (surat keterangan kesehatan daging) dengan menambahkan penjelasan bahwa daging tersebut telah dilakukan pemeriksaan ulang (herkeuring) sehingga layak untuk dikonsumsi manusia.
3) Sertifikat pelepasan daging (surat keterangan kesehatan daging) tersebut pada ayat (2) disamping kepada pemilik daging dan tembusannya dikirimkan kepada Kepala Dinas Peternakan Dati I yang bersangkutan.
Pasal 19
Pemasukan daging yang tidak memenuhi ketentuan pasal 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12 dan 16 ayat (1) harus segera ditolak atau dimusnahkan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.
BAB IV
PENGAWASAN PEREDARAN DAGING ASAL LUAR NEGERI
Pasal 20
1) Pengawasan peredaran daging asal luar negeri yang telah dibebaskan dari tindakan karantina dilakukan oleh Dinas Peternakan Dati II di tempat-tempat penyimpanan, penjajaan, dan alat angkut dengan memperhatikan petunjuk Menteri.
2) Pengawasan peredaran daging sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk mengamankan kepentingan konsumen dan dilakukan secara berkala atau sewaktu-waktu apabila ditemui adanya kecurigaan terhadap penyimpangan persyaratan teknis yang telah ditetapkan.
3) Kegiatan pengawasan peredaran daging asal luar negeri meliputi pemeriksaan daging, dan pemeriksaan tempat penyimpanan, tempat penjajaan serta alat angkutnya.
4) Pengawasan peredaran daging asal luar negeri dilakukan oleh Dokter Hewan Pemerintah yang ditunjuk oleh Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II atas usul Kepala Dinas Peternakan Daerah Tingkat II yang bersangkutan.
5) Dokter hewan yang ditunjuk sebagai pengawas peredaran daging sebagaimana dimaksud pada ayat (4), harus memeliki sertifikat sebagai pengawas Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) dari Menteri atau pejabat yang ditunjuk olehnya.
Pasal 21
1) Pemeriksaan daging asal luar negeri meliputi pemeriksaan kesehatan dan kelayakan serta pengujian laboratoris yang dilakukan 4 (empat) kali dalam setahun secara acak sederhana (random sampling) berdasarkan importirnya, negara asal, jenis daging dan merk dagang ditempat penyimpanan, pengangkutan, dan/atau penjajaan.
2) Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan dan kelayakan daging dilakukan secara organoleptik sedangakan pengujian laborataris dilakukan terhadap pH daging, kebusukan, pencemaran, mikro-biologi, kandungan residu dan uji lainnya yang dianggap perlu.
Pasal 22
1) Pemeriksaan terhadap tempat penyimpanan, penjajaan dan alat angkut daging asal luar negeri, meliputi pemeriksaan phisik, higiene, sanitasi dan persyaratan teknis serta administrasi lainnya, yang dilakukan sekali dalam setiap tahun.
2) Persyaratan teknis dan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi : 1.Importir dan/atau pengedar daging asal luar negeri harus telah melaporkan fasilitas
tempat penyimpanan, dan / atau tempat penjajaan, dan / atau alat angkut daging yang akan dipergunakan.
2.Suhu untuk daging segar dingin harus berkisar antara 00 C sampai dengan 40 C dan untuk daging beku antara 180 C sampai dengan 220 C dibawah nol.
3.Penyimapanan, pengangkutan dan penjajaan, daging asal luar negeri yang bersertifikat halal dan/atau yang untuk keperluan pakan hewan.
Pasal 23
1) Pengawasan peredaran daging asal luar negeri melaporklan hasil pemeriksaan daging dan tempat penyimpanan, alat angkut dan penjajaan kepada Kepala Dinas Peternakan Daerah Tingkat II.
2) Dinas Peternakan melaporkan hasil pengawasan peredaran daging asal luar negeri kapada Direktur Jenderal Peternakan, Kepala Dinas Peternakan Daerah tingkat I dan Kepala Pusat Karantina Pertanian sekali setiap tahun.
Pasal 24
Apabila di dalam wilayah Dearah Tingkat II tidak ada atau belum dibentuk Dinas Peternakan Daerah Tingkat II, maka pelaksanaan peredaran daging sebagaimana di maksud dalam Surat Keputusan ini dilakukan oleh Dinas Peternakan Daerah Tingkat I.
BAB V PENUTUP
Pasal 25
Dengan ditetapkannya surat keputusan ini tidak mengurangi :
1. Berlakunya ketentuan karantina hewan kecuali yang secara tegas diatur lain dalam surat keputusan ini;
2. Hak dan wewenang Pemerintah Daerah dalam mengatur dan memungut retribusi atas pemasukan daging asal luar negeri.
Pasal 26
Dengan berlakunya surat keputusan ini maka segala ketentuan yang bertentangan dengan surat keputusan ini dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 27
Surat keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di J a k a r t a Pada tanggal 30 desember 1992 Menteri Pertanian,
Ir. W a r d o j o
SALINAN Surat Keputusan ini disampaikan Kepada Yth :
1. Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, Industri dan Pengawasan Pembangunan;
2. Menteri Dalam Negeri; 3. Menteri Kesehatan;
4. Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan; 5. Inspektur Jenderal Departemen Pertanian;
6. Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman, Departemen Kesehatan;
7. Sekeretaris Jenderal Departemen Pertanian;
8. Para Direktur Jenderal dan Kepala Badan Lingkungan Departemen Pertanian; 9. Para Gubernur Kepala Daerah Tingkat I di seluruh Indonesia;