DIREKTORAT JENDERAL BINA PRODUKSI PETERNAKAN Jl Harsono RM No. 3 Gedung C
KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI SUSU DI INDONESIA
II. SITUASI DAN KONDISI USAHA SAPI PERAH DI INDONESIA
dan umumnya merupakan unit usaha yang baru tumbuh. Dalam komposisi seperti ini, secara kasar diperkirakan 64% produksi SSDN berasal dari peternak skala kecil. Berdasarkan hasil Sensus Pertanian yang dilakukan BPS, jumlah rumah tangga peternak sapi perah di Indonesia meningkat dari 31.438 KK pada tahun 1973 menjadi 64.663 KK pada tahun 1983 dan meningkat lagi menjadi 98.000 KK pada tahun 1993.
Peternakan sapi perah di Indonesia masih dicirikan dengan tingkat manajemen dan pemeliharaan yang sederhana. Bahkan di lokasi pemeliharaan baru, seringkali ditemukan kondisi ternak dan praktek pemeliharaannya jauh dibawah standar, sehingga tingkat produksi susunya masih sangat rendah dibandingkan dengan potensi genetik bibit yang mungkin dapat dihasilkan, disamping rendahnya kualitas susu akibat tingginya cemaran mikroba.
Dari segi penyebaran usaha peternakan sapi perah di Indonesia, sekitar 97% populasi dan produksi susu sapi perah terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sedangkan penghasil susu diluar Jawa adalah Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Sumatra Selatan dengan taraf kontribusi terhadap susu nasional sebesar 3%. Kondisi ini menimbulkan masalah pada penyediaan lahan sebagai basis ekologi budidaya sapi perah mengingat keterbatasan penyediaan lahan karena berbagai kepentingan lainnya.
Penerapan teknologi Inseminasi Buatan (IB) pada sapi perah telah mulai diintroduksikan sejak tahun 1969, dan sejak tahun 1979 IB dilakukan secara terprogram dalam suatu paket kebijaksanaan untuk perbaikan mutu dan peningkatan populasi. Sejak tahun 1994 mulai diintroduksikan teknologi transfer embrio (ET).
Tekonologi budidaya lain yang diterapkan pada usaha peternakan sapi perah adalah paket teknologi SAPTA USAHA, yaitu implementasinya dilaksanakan bersama oleh pemerintah dan masyarakat melalui Koperasi Persusuan.
III. PERMASALAHAN
Permasalahan yang dihadapi dalam pembinaan dan pengembangan usaha sapi perah di Indonesia meliputi beberapa hal sebagai berikut :
1. Mutu Bibit Sapi Perah
Pada saat dimulainya program persusuan nasional, bibit sapi perah yang berasal dari impor memiliki mutu yang baik. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, performans mereka kian menurun akibat perkawinan silang yang kurang memperhatikan pemilihan bibit yang baik, faktor agroklimat yang relatif kuarng mendukung serta penerapan manajemen peternakan yang relatif masih tradisional.
Faktor-faktor tersebut mengakibatkan rendahnya produksi dan produktivitas per satuan ternak. Dewasa ini, rata-rata produksi susu baru mencapai 10-12 liter/ekor/hari, masih jauh dari kemampuan genetic mereka yang seharusnya dapat mencapai sekitar 20 liter/ekor/hari. Disamping itu jumlah sapi perah produktif juga menurun, hanya 42% dari total populasi sapi perah dan dari jumlah tersebut 70% yang laktasi. Relatif rendahnya produktivitas ditandai pula dengan calving interval yang cukup panjang, yaitu lebih dari 16 bulan.
2. Skala Kepemilikan
Jumlah rata-rata pemilikan ternak relative rendah, yaitu sekitar 2-4 ekor/peternak. Padahal jumlah yang ideal pemilikan ternak berskala ekonomi atau yang cukup sebagai usaha pokok menunjang kehidupan peternak adalah 10-15 ekor atau rata-rata 7 ekor sapi laktasi.
pengembangan sapi perah di Pulau Jawa, akan dihadapkan kepada dimensi-dimensi tantangan baru yaitu kendala terbatasnya ketersediaan lahan. Sementara itu, pengembangan usaha peternakan sapi perah ternyata belum terpola sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan Rencana Detil Tata Ruang (RDTR). Kondisi ini telah menimbulkan masalah yang cukup serius, khususnya disentra-sentra produksi susu sebagai akibat adanya konflik kepentingan diantara berbagai sektor dan sub sektor.
3. Teknologi
Keterampilan sumber daya manusia yang masih rendah, terutama ditinjau dari asfek penerapan pengetahuan dan teknologi serta keterbatasan sarana dan prasarana pemeliharaan sapi perah menyebabkan tidak diterapkannya praktek higiene dengan baik dan benar. Hal tersebut tercermin dari masih tingginya jumlah cemaran mikroba, khususnya jumlah angka lempeng total (Total Plate Count). Ditingkat penampungan susu (Milk Collecting Center), sebagian besar susu segar yang disalurkan ke IPS memiliki TPC sekitar 10-20 juta CFU/ml susu segar, jauh diatas Standar Nasional Indonesia Susu Segar (SNI 01-3141-1998) yang menetapkan TPC maksimum adalah 1 juta CFU/ml susu segar.
4. Penyakit Hewan Menular
Keterbatasan modal dan teknologi peternak menyebabkan mudahnya ternak terserang penyakit menular. Beberapa jenis penyakit yang sering ditemukan adalah mastitis, brucellosis, tuberculosis, prolapsus uteri dan kembung. Apabila penyakit-penyakit ini tidak dikendalikan dapat mempengaruhi produksi maupun produktivitas ternak sapi perah.
Soedarwanto, dkk (1990), melaporkan bahwa lebih dari 80% sapi perah produktif positif terhadap mastitis subklinis yang menyebabkan penurunan produksi hingga 15-18%.
5. Pelayanan Koperasi Susu
Koperasi persusuan hanya berkonsentrasi pada peroduksi dan pemasaran yang menciptakan ketergantungan koperasi kepada IPS. Sementara usaha penunjang seperti kegiatan pengadaan bibit, pakan dan pengolahan belum ditangani secara sungguh-sungguh sebagai kegiatan yang akan berdampak kepada peningkatan produktivitas, kualitas dan efisiensi usaha. Disamping itu, unit susu pada KUD banyak yang mendapat beban dari unit usaha lain dalam KUD tersebut seperti usaha sayuran, palawija dan sebagainya yang sering merugi. Hal tersebut menyebabkan banyaknya pungutan yang dibebankan kepada peternak anggota koperasi.
6. Ketergantungan Pasar Susu Segar Dalam Negeri kepada IPS
Selama ini sekitar 85% produksi SSDN dijual ke IPS sebagai bahan baku industri. Dengan adanya reformasi ekonomi, melalui Inpres No. 4 tahun 1998, maka tata niaga susu dibebaskan sesuai mekanisme pasar, sehingga tidak ada lagi kewajiban bagi IPS untuk menyerap susu produksi dalam negeri sebagai bahan baku, dan produk SSDN dituntut untuk dapat bersaing dengan susu impor baik dari segi kualitas maupun harganya. Apalagi, beberapa IPS besar akan menerapkan sistem reward and penalty dalam penyerapan produksi SSDN.
IV. PROGRAM PENGEMBANGAN