• Tidak ada hasil yang ditemukan

NO PARAMETER METODA PERALATAN

DIREKTORAT JENDERAL BINA PRODUKSI PETERNAKAN Jl Harsono RM No. 3 Gedung C

NO PARAMETER METODA PERALATAN

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kekeruhan Warna Suhu Amonia PH

Zat padat tersuspensi Chlorida

COD BOD

Minyak dan Lemak

Photometri/Nephelometri Perbandingan visual dengan standar pt-Co Pengukuran langsung Nessler Elektrometeri Photometri Titrasi Reflux dichromat Pengenceran Ekstraksi 1-1-2 Trichloroetan Turbidimeter/Nephelometer Tabung Nessler Thermometer Spektrophotometer PH meter Photometer Titrimeter Inkubator Spektophotometer

e.Metoda dan analisa komponen Biologi

Komponen biologis, merupakan salah satu komponen lingkungan yang kemugkinan terkena dampak, sehingga perlu pula diketahui komponen biologi secara jelas terutama yang diperkirakan terkena dampak.

Bentuk dampak tersebut antara lain dapat berupa: (a) berkurangnya luas habitat

(b) turunnya kualitas habitat

(c) eksploitasi dan perburuan yang berlebihan (d) pemanfaatan teknologi yang tidak bijaksana (e) penurunan populasi

(f) penurunan keanekaan

Metoda pengumpulan data biota darat:

(a) Contoh metoda pengambilan data vegetasi. Metoda tanpa plot:

- Buat garis utara sesuai dengan arah kompas.

- Buat garis transek tegak lurus garis utama, pada ujung garis utama. - Tentukan sejumlah titik sepanjang garis transek

- Ukur jarak dan diameter pohon terdekat. Buat garis-garis transek berikutnya sejajar garis pertama dan berselang-seling dikedua sisi garis utama.

- Pada setiap garis transek dibuat atau dikerjakan seperti cara di atas. - Menghitung jarak rata-rata:

= titik Jumlah 4 jarak Total ×

-Kerapatan pohon per hektar: = jarak rata rata 000 . 10 −

(b) Beberapa contoh pengumpulan data satwa i. Sensus.

Adalah perhitungan semua jenis satwa yang meliputi suatu areal pada suatu waktu tertentu atau suatu interval waktu pada areal tertentu.

ii.Pendugaan populasi dengan perhitungan total: Wilayah jelajah satwa diketahui terlebih dahulu.

- Areal cukup kecil. - Satwa mudah dilihat - Satwa relatif menetap

- perlu diulang beberapa kali untuk menghindari perhitungan ulang iii. Pendugaan populasi dengan perkiraan

- Lama pejabat ditempat itu.

- Aktifitas pejabat dalam mengetahui kawasannya.

- Cara perkiraaan berdasarkan: jejak kaki, suara, lihat langsung, kombinasi langsung dan tidak langsung.

iv. Pendugaan "Capture Recapture".

- menangkap jumlah satwa dan menandai. - melepas jumlah satwa yang ditandai. - menangkap kembali sejumlah satwa. - Populasi terduga (N). N= M n . H

H = jumlah satwa yang ditandai

n = populasi yang tertanda dan tertangkap kembali M = jumlah satwa yang ditangkap

e. Metoda analisa biota perairan.

Kualitas lingkungan perairan parameternya ditentukan dengan-adanya ikan, plankton dan bentos.

(a) Pengumpulan plankton.

i. Pengumpulan kualitatif di kolam atau di danau dapat dilakukan dengan menggunakan jala plankton baik secara horizontal maupun vertikal. Pengambilan contoh plankton pada perairan yang banyak tumbuhan terapung dengan menggunakan jala plankton bertangkai.

ii. Pengumpulan secara kualitatif, dengan cara air yang telah diketahui volumenya dituangkan pada jala plankton. Plankton yang terjaring dikumpulkan dan dihitung.

(b) Pengumpulan bentos.

i. Bentos pada air tergenang.

Pengmpulan bentos dari dasar sungai, kolam atau sawah yang tergenang dapat dilaksanakan dengan alat Ekmandrege yang mempunyai luas 20 x 20 cm2.

Contoh: lumpur yang mengandung komonikan bentos dimasukan kedalam ember kemudian dituangkan dalam kantung plastik dan diberi pengawet Formalin 40% secukupnya lalu dibawa ke laboratorium yang ditunjuk untuk dihitung.

ii.Bentos pada air mengalir.

Pengumpulan bentos pada air mengalir, misalnya sungai dapat menggunakan jala Surber yang mempunyai luas 40 x 25 cm2. Jala tersebut harus diletakan pada dasar perairan dari sungai dengan arah menentang aliran arus. Caranya: area seluas 0,1 m2, kita aduk-aduk dengan hati-hati sehingga organisme bentos yang melekat di batu-batu, pasir, atau lumpur tercuci akan hanyut dan terapung dijala Surber, kemudian kita masukan dalam kantung plastik dan diberi formalin 40% untuk selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk dihitung.

f. Metoda analisa komponen sosial budaya.

Dampak yang timbul pada komponen sosial budaya pada tiap periode kegiatan berbeda-beda, sesuai dengan periode kegiatan tersebut. Dampak yang timbul pada: (a)Periode Prakonstruksi.

Pada periode ini umumnya dampak yang muncul adalah proses ganti rugi pemilikan tanah. Untuk mengatasi hasil ini tokoh masyarakat informal perlu diikutsertakan di dalam penentuan nilai rugi. Persepsi masyarakat terhadap rencana kegiatan usaha perlu dipertimbangkan, untuk merencanakan kegiatan masa akan datang dan untuk itu perlu diambil beberapa sampel pendapat masyarakat dengan metode quesioner.

(b)Periode Konstruksi.

Dampak yang muncul pada periode ini adalah masalah ketenagakerjaan. Umumnya tenaga yang dapat diserap dari masyarakat setempat adalah tenaga kerja non teknis yang hanya dipekerjakan untuk sementara. Penggunaan tenaga kerja non teknis berasal dari masyarakat setempat hendaknya diperhitungkan jumlah penggunaannya tanpa harus memberi janji-janji pada masyarakat.

(c)Periode Pasca Konstruksi (Operasional).

Dampak yang timbul pada periode ini antara lain i.Pendapatan masyarakat.

Untuk menambah pendapatan masyarakat, kerjasama dengan KUD di dalam pengolahan kotoran sebagai bahan pupuk kandang merupakan tindakan yang bijaksana dan melestarikan simpatik masyarakat.

ii.Kesehatan masyarakat.

Tidak atau kurang memperhatikan sanitasi lingkungan RPH dapat menimbulkan penyakit pada masyarakat dan bahkan dapat menimbulkan wabah penyakit. Penyakit dimaksud dapat yang bersifat zoonosis maupun non zoonosis.

iii. Keagamaan

Faktor religius merupakan faktor sangat mendasar terutama pada RPH babi. Limbah buangan yang perlakuannya ceroboh dapat menimbulkan protes masyarakat.

iv.Budaya

(d)Penilaian Rona Awal lingkungan dan selama kegiatan.

Berdasarkan hasil analisa yang didapat dengan metoda ilmiah yang dipilih dari cara-cara di atas maka dapat digambarkan/didiskripsikan keadaan awal komponen lingkungan dari satu kawasan. Keadaan awal kualitas lingkungan inilah yang menjadi tolak ukur dalam pengendalian dampak yang timbul akibat suatu kegiatan. Pendataan data awal dan data selama kegiatan dengan metoda dan analisa yang sama dapat mengambarkan atau dapat memperkirakan penurunan atau kenaikan angka-angka besaran yang berpengaruh pada rona lingkungan awal, sehingga bila terjadi kenaikan besaran dapat diketahui sedini mungkin.

V. LAIN-LAIN

1. Saran penyempurnaan dokumen UKL dan UPL dari rencana usaha atau kegiatannya yang dibiayai baik oleh APBN atau swasta yang izin usahanya dikeluarkan oleh instansi berwenang tingkat pusat, BUMN lingkup Dep. Pertanian, dilakukan oleh Badan Agribisnis bersama-sama dengan Direktorat Jenderal yang membidangi dan membina rencana usaha atau kegiatan tersebut

2. Saran penyempurnaan dokumen UKL dan UPL dari rencana usaha atau kegiatan yang dibiayai oleh APBD atau APBN apabila penyelenggara rencana kegiatan tersebut diserahkan kepada daerah atau swasta yang izin usahanya dikeluarkan oleh instansi yang berwenang tingkat daerah, dilakukan Kepala Kantor Wilayah Departemen Pertanian setempat bersama-sama dengan Dinas Peternakan Dati I yang membidangi dan membina rencana usaha atau kegiatan tersebut.

3. Saran penyermurnaan tertulis atas dokumen UKL dan UPL disampaikan kepada pemrakarsa oleh instansi yang disertai dokumen tersebut selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari kerja terhitung dokumen diterima.

4. Apabila dalam jangka waktu tersebut tidak ada saran penyempurnaan tertulis, maka dokumen UKL dan UPL tersebut anggap telah memenuhi persyaratan.

BAB VII