DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN Jl Salemba Raya No.16
DAGING SERTA HASIL OLAHANNYA
IV. TATA CARA PEMBERIAN NOMOR KONTROL VETERINER
1. Prinsip Dasar
Penetapan program pemberian Nomor Kontrol Veteriner (NKV) terhadap Usaha Pengimpor, Pengumpul/Penampung dan Pengedar Daging Serta Hasil Olahannya dilakukan oleh Direktorat Jendral Peternakan cq. Direktor Bina Kesehatan Hewan berdasarkan atas permohonan masyarakat/pihak swasta dan pihak lain yang melakukan usaha Pengimpor, Pengumpul/Penampung dan Pengedar Daging Serta Hasil Olahannya setelah mendapatkan rekomendasi dan Dinas Peternakan Propinsi Dati I setempat.
Prinsip yang dianut dalam mempersiapkan pemberian Nomor Kontrol Veteriner (NKV) adalah harus menjamin bahwa NKV yang ditetapkan sesuai dengan keadaan usaha pengimpor, pengumpul/penampung dan pengedar daging serta hasil olahannya dan memenuhi persyaratan minimal yang ditentukan peraturan perundangan yang ada sehingga kepentingan pengusaha/pengelola usaha pengimpor, pengumpul/penampung dan pengedar daging serta hasil olahannya dan kepentingan konsumen dapat diperhatikan. Untuk itu selalu dilakukan peninjauan dan evaluasi secara periodik agar NKV yang diberikan dapat dilaksanakan dan dipertahankan atau bahkan apabila di perlukan dapat ditingkatkan.
2. Ruang lingkup
Ruang lingkup pemberian Nomor Kontrol Veteriner mencakup semua aspek dan kegiatan di tempat usaha pengimpor, pengumpul/penampung dan pengedar daging serta daging hasil olahannya yang dilakukan oleh pengelola sesuai dengan peraturan mengenai Penanganan Daging/Daging Unggas serta Hasil Ikutannya yang secara garis besar meliputi:
1) Usaha Pengimpor, Pengumpulan/Penampungan dan Pengedar Daging serta Hasil Olahannya.
a. Lokasi yang meliputi posisi Usaha Pengimpor, penngumpulan/penampungan dan pengedar daging serta hasil olahannya tersebut, khususnya dengan keadaan sekitar seperti jaraknya dengan sumber pencemaran (bau busuk, debu, asap) dan sumber pencemaran lain.
b. Bangunan dan fasilitasnya yang meliputi ruangan-ruangan berurutan sesuai tahapan kegiatan dengan konstruksi berupa dinding bagian dalam, lantai, langit-langit, pintu, jendela, ventilasi, dan penerangan serta air yang tersedia sedemikian rupa sehingga dapat mencegah terjadinnya kontaminasi silang.
c. Fasilitas yang ada harus dapat menjamin dan memudahkan pengawasan kesehatan daging beserta pelaksanaan pemeriksaannya termasuk fasilitas sanitasi yang berupa air (dingin, panas), sistem saluran pembuangan, ruang ganti pakaian/toilet, fasilitas cuci tangan di ruangan dan fasilitas pembersih/desinfeksi.
d. Karyawan dan kesehatannya termasuk keharusan adannya dokter hewan sebagai penanggung jawab teknis dan tenaga teknis lainnya.
e. Proses penanganan daging dan hasil olahannya harus diawasi oleh penanggung jawab teknis dan seluruh tahap penanganan daging dilakukan dalam kondisi yang baik dan metode yang benar untuk mencegah kemungkinan kontaminasi/tumbuh kembangnya mikroorganisme patogen/pembusuk.
2) Ruang/Sarana Penyimpanan dan Hasil Olahannya.
a. Ruangan/sarana penyimpanan daging/hasil olahannya harus berupa ruangan khusus penyimpanan daging dan hasil olahnnya dan tidak digunakan untuk keperluan penyimpanan barang/komoditi lain.
b. Dinding bagian dalam dari ruangan penyimpanan daging harus terbuat dari bahan anti karat, berlantai tidak licin, bersudut pertemuan antara dinding melengkung sehingga mudah dibersihkan dan dilengkapi lampu penerangan yang cukup. c. Ruangan/sarana penyimpanan daging/hasil olahannya mempunyai langit-langit
yang bagian-bagiannya tidak mudah lepas.
d. Ruangan/sarana penyimpanan daging / hasil olahannya dilengkapi dengan pintu pengaman dari bahan yang tidak mudah berkarat serta pengontrolan /pengatur suhu.
e. Tata cara penyimpanan daging/hasil olahannya harus di atur sedemikian rupa sehingga daging/hasil olahannya yang disimpan terlebih dahulu akan dengan mudah untuk dikeluarkan lagi.
f. Pembungkusan dan wadah produk akhir harus memenuhi persyaratan sebagai wadah/pembungkus makanan (food grade) dan ditangani secara higienis.
g. Ruangan-ruangan lain dalam kompleks, yang meliputi ruang administrasi, ruang penyimpanan alat, ruang, istirahat, locker, kantin dan ruangan lain.
h. Alat pengangkutan produk akhir yang meliputi jenis angkutan, fasilitas yang ada pada alat angkut, kapasitas dan kondisinya
i. Langkah-langkah pemeliharaan / perawatan, khususnya program pembersihan / desinfeksi, pengontrolan suhu/temperatur ruangan penanganan maupun ruangan penyimpanan daging/ produk akhir dan penyimpanan bahan berbahaya.
3) Alat/kendaraan Pengangkut Daging dan Hasil Olahanya
a. Kendaraan pengangkutan daging dan atau hasil olahannya harus berupa kendaraan khusus pengankut daging dan tidak digunakan untuk keperluan lain.
dibersihkan dan dilengkapi lampu penerang yang cukup, mempunyai pintu yang selalu tertutup selama perjalanan.
c. Kendaraan angkutan daging harus mempunyai fasilitas sedemikian rupa sehingga daging dan atau hasil olahannya tidak kontak dengan lantai (tidak diletakkan langsung dilantai kendaraan angkutan).
d. Untuk dapat mempertahankan suhu daging selama pengangkutan, kendaraan angkutan daging yang mengangkut daging lebih dari 2 (dua) jam harus dilengkapi dengan alat pendingin dengan suhu setinggi-tingginya 100C dan untuk pengangkutan daging/hasil olahannya dalam keadaan beku bersuhu antara minus 180C sampai dengan minus 220C.
4) Bahan Makanan Asal Hewan (Daging dan Hasil Olahannya)
Untuk mencegah kemungkinan masuknya/menjalarnya penyakit hewan menular ke wilayah/antar wilayah Republik Indonesia yang dapat ditularkan melalui daging/hasil olahannya dan menjamin ketentraman batin masyarakat dalam mengkonsumsi daging/hasil olahannya, maka:
a. Daging/hasil olahannya yang berasal dari luar negeri:
a) Setiap pemasukan daging/hasil olahannya harus disertai Surat Keterangan Kesehatan (Health Certificate) yang dikeluarkan oleh dokter hewan pemerintah yang berwenang.
b) Disertai dengan sertifikat halal, yang menyatakan bahwa daging tersebut berasal dari ternak yang pemotongannya dilakukan menurut syariat islam. c) Harus dikemas dengan baik sehingga tidak terjadi pencemaran.
d) Dalam pengangkutan dan tempat penyimpanan daging babi dengan hewan lainnya harus terpisah.
b. Daging/hasil olahannya yang berasal dari dalam negeri/luar daerah:
a) Harus disertai Surat Keterangan Kesehatan dan Asal Daging (Certificate Of Health And Origin) yang dikeluarkan oleh dokter hewan yang berwewenang pada Dinas Peternakan daerah pengirim.
b) Khusus daging yang berasal dari propinsi lain, selain kelengkapan dokumen diatas, harus disertai Surat Izin Pengeluaran Bahan Makanan Asal Hewan (daging/olahannya) dari Direktur Jendral Peternakan.
c) Harus dikemas dengan baik sehingga tidak terjadi pencemaran.
d) Dalam pengangkutan dan tempat/penyimpanan daging babi harus terpisah dengan daging hewan lainnya.
3. Cara Penulisan Nomor Kontrol Veteriner (NKV)
1) Pada prinsipnya Nomor Kontrol Veteriner terdiri dari urutan 3 (tiga) jenis huruf/ angka yang menunjukkan jenis dan lokasi usaha pengimpor, pengumpul/penampung dan pengedar daging serta hasil olahannya serta nomor urut pemberian NKV:
a. Jenis usaha yang dinyatakan dengan huruf, yaitu: I (import), D (distributor), P (pengenceran) atau gabungan diantaranya.
b. Lokasi usaha pengimpor, pengumpul/ penampung dan pengedar daging serta hasil olahanya dinyatakan dengan angka yang menunjukkan propinsi, kabupaten/kotamadya dan kecamatan (sesuai standar BPS).
c. Nomor urut pemberian NKV yang dinyatakan dengan angka.
2) Berdasarkan permohonan dari pengelola usaha pengimpor, pengumpul/penampung dan pengedar daging serta hasil olahanya atau pihak swasta lainnya serta dari hasil peninjauan dan evaluasi Direktorat Jendral Peternakan, maka akan dikeluarkan Nomor Kontrol Veteriner, yaitu Sertifikat Pemberian Nomor Kontrol Veteriner.
3) Sesuai dengan peraturan perudang-undangan tentang kesehatan masyarakat veteriner dan penanganan daging/daging unggas, maka NKV yang telah diberikan, harus dicantumkan pada label pembungkus dan kemasan daging/bagian-bagian daging/daging unggas (parting) dan hasil olahannya sebagai hasil produksi usaha pengimpor pengumpul/penampung dan pengedar daging serta hasil olahannya.
V. PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
1. Pembinaan
Pembinaan mempunyai tujuan meningkatkan, mengarahkan dan menkoordinasi kegiatan usaha pengimpor, pengumpul/penampung dan pengedar daging serta hasil olahanya dengan sasaran untuk mewujudkan agar pengelola dan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan. Pembinaan dilaksanakan oleh instansi teknis baik ditingkat daerah maupun Pusat bekerjasama dengan pihak lain yang terkait.
2. Pengawasan
Pengawasan mempunyai tujuan untuk meningkatkan pelaksanaan penerapan/pemberian NKV dengan lebih konsisten, memberikan umpan balik dalam penyempurnaan sistem pemberian NKV, menciptakan iklim standarisasi usaha pengimpor, pengumpul/penampung dan pengedar daging serta hasil olahanya dengan pemberian NKV yang sehat dan benar, mempermudah pendeteksian timbulnya masalah-masalah yang berkaitan dengan pengelolaan usaha tersebut serta melindungi konsumen dari jasa penanganan dan peredaran daging / hasil olahannya yang dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan maupun yang kualitasnya rendah.
Maksud dari pengawasan adalah untuk menjamin bahwa pemberian dan penerapan NKV tetap memenuhi ketentuan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab. Obyek yang diawasi adalah segala fasilitas dan kegiatan yang berkaitan dengan pemberian NKV sesuai dengan janji pedoman dan peraturan perundangan yang
3. Sanksi
Sanksi yang telah ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan dikenal kepada pengelola usaha pengimpor, pengumpul/penampung dan pengedar daging serta hasil olahanya yang telah melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam pengelolaan usaha dan penerapan NKV sesuai dengan ketagori penyimpangan yang tertuang dalam ketentuan yang berlaku.
Sanksi dalam pengelolaan usaha pengimpor, pengumpul/penampung dan pengedar daging serta hasil olahanya yang dikategorikan dalam 2 (dua) jenis yaitu:
1) Sanksi pidana, yaitu sanksi yang dikenakan terhadap mereka yang telah melakukan tindakan pidana atau pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam pasal 5, 6, 7, 9, 21, dan 25 Undang-Undang NO. 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, Tumbuhan.
2) Sanksi pidana, yaitu sanksi yang dikenal terhadap mereka yang telah melakukan tindakan pidana atau pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam pasal 4 ayat (4) Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner, yaitu mengenai larangan mengedarkan daging yang tidak berasal dari RPH dan pasal 4 ayat (5) mengenai larangan menjual daging yang tidak sehat.
3) Sanksi administrasi, yaitu sanksi yang dikenakan dalam bidang administratif terhadap pengelola usaha pengimpor, pengumpul/penampung dan pengedar daging serta hasil olahanya perubahan pencabutan persetujuan impor/izin pengumpul/penampung dan pengedar daging dan peninjauan kembali sertifikat pemberian NKV yang telah diberikan.
VI. PENUTUP
Diharapkan melalui sistem pemberian/penerapan Nomor Kontrol Veteriner (NKV), yang merupakan dasar dan pedoman kegiatan pengelolaan usaha pengimpor, pengumpul / penampung dan pengedar daging serta hasil olahanya keterpaduan derap langkah dalam standarisasi usaha tersebut dan penanganan daging untuk penyediaan daging yang aman, sehat, utuh murni dan halal dapat lebih ditingkatkan.
DEPARTEMEN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN
Jl Salemba Raya No.16Kotak Pos 1402 Telp. (021)331859, 334948, 3149287 Jakarta 10014 Fax. (021) 3143937
SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR JENDRAL PETERNAKAN NOMOR : 143/TN.520/KPT/DJP/Deptan/1996
TENTANG
PETUNJUK PELAKSANAAN PENGAWASAN KESEHATAN