1
Universitas Kristen Petra 5,819,565
9,475,362 12,482,829
36,235,795
0 5,000,000 10,000,000 15,000,000 20,000,000 25,000,000 30,000,000 35,000,000 40,000,000
2009 2010 2011 2012
Tahun
Produksi Nikel di Indonesia
Produksi Nikel (ton)
BAB 1 PENDAHULUAN
Seiring dengan perkembangan zaman, perekonomian mengalami perubahan yang cukup signifikan khususnya di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia yang terus mengalami peningkatan khususnya dalam bidang industri pertambangan. Sejak dahulu, aktivitas pertambangan merupakan industri yang strategis dan vital dalam perekonomian suatu negara. Salah satu industri pertambangan di Indonesia yang mengalami perkembangan yaitu industri pertambangan yang menghasilkan nikel. Hal ini terbukti sesuai dengan adanya data yang diperoleh dari http://www.bps.go.id/ yang dapat dilihat dari peningkatan hasil produksi nikel di Indonesia tiap tahunnya yang telah disajikan dalam bentuk gambar grafik dibawah ini.
Gambar 1.1 Grafik Industri Pertambangan di Indonesia Sumber : Pengolahan Data (2015)
Nikel adalah salah satu produk tambang yang banyak di produksi yang merupakan logam serbaguna dengan kombinasi kualitas yang unik sehingga cocok digunakan sebagai bahan baku pembuatan baja nirkarat (stainless steel). Dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang didukung dengan kemajuan teknologi dan meningkatnya kebutuhan masyarakat dunia akan barang-barang yang
2
Universitas Kristen Petra
mengandung unsur bahan galian seperti nikel membuat industri pertambangan berkembang pesat. Salah satu industri pertambangan di Indonesia yang memproduksi dan mengolah nikel terbesar di dunia berlokasi di Sorowako di Pulau Sulawesi adalah PT. Vale Indonesia Tbk. Pasar nikel adalah esensi dari prospek bisnis PT. Vale Indonesia Tbk. PT. Vale Indonesia Tbk memproduksi nikel dalam matte, yaitu produk antara yang digunakan dalam pembuatan nikel rafinasi. Operasi bisnis nikel terdiri dari penambangan dan pengolahan bijih menjadi produk nikel dalam matte.
Dalam memproduksi nikel, perusahaan mengalami masalah dalam memproduksi jumlah nikel yang optimal. Hal ini berkaitan dengan masalah- masalah operation yaitu mulai dari ketersediaan sumber daya yang dimiliki seperti bahan baku, mesin dan peralatan lainnya yang mendukung dalam proses- proses produksi dalam menghasilkan nikel, sehingga dapat menyebabkan keterlambatan dalam pengiriman produk kepada pelanggan. Apabila ada masalah pada sektor-sektor tersebut maka produksi setiap tahunnya akan tersendat, biaya produksi akan semakin tinggi, dan jumlah produksinya tidak sesuai dengan keinginan perusahaan. Hal ini menyebabkan keuntungan yang diperoleh perusahaan tidak maksimal sesuai dengan yang diharapkan.
Setiap perusahaan tentu akan memberdayakan sumber daya yang dimiliki dengan efektif dan efisien. Tujuan dari pemberdayaan ini adalah untuk memperoleh keunggulan kompetitif. Dengan memanfaatkan sumber daya secara tepat, maka perusahaan mampu mencapai tujuan umumnya yaitu meminimalkan biaya dengan mengoptimalkan jumlah produksi untuk memperoleh keuntungan yang maksimal.
Tingkat produktivitas di PT. Vale Indonesia Tbk sangat ditentukan oleh teknik produksi, hal ini mencakup : perencanaan produksi, pengadaan bahan baku dan mesin, proses persiapan, proses produksi, proses finishing sampai pada tahap packing untuk dikirim kepada pelanggan.
Keterlambatan dan kesalahan supply barang dari supplier seperti mesin dan peralatan lainnya yang mendukung kegiatan produksi berkaitan dengan supply chain management. Supply chain management merupakan suatu sistem dimana rantainya tidak boleh terputus atau terjadi hambatan, bila terjadi hambatan atau
3
Universitas Kristen Petra
terputus maka akan merusak sistem tersebut. Keterlambatan ketersediaan barang akan mengakibatkan terhentinya proses produksi. Terhentinya proses produksi jelas merupakan suatu kerugian bagi perusahaan. Mesin-mesin tidak dapat beroperasi, operator tidak dapat bekerja, dan hal ini tidak hanya berakibat pada kerugian biaya akan tetapi juga dapat berkembang pada risiko psikologis karyawan. Mesin dan operator merupakan hal utama yang paling penting dalam proses produksi nikel. Agar proses pengadaan barang dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan yang diharapkan, maka peran supply chain management menjadi sangat penting dan perlu mendapatkan perhatian yang serius. Dan segala kegiatan tersebut tidak luput dari peran sumber daya manusia yang seharusnya dapat berkoordinasi dengan baik agar tidak terjadi miscommunication.
Pada kenyataan yang terjadi di lapangan, tidak jarang supplier-supplier PT.
Vale Indonesia Tbk melakukan suatu kesalahan dalam mengambil data sehingga barang yang dikirim dari supplier tidak sesuai dengan permintaan perusahaan. Hal ini tentu tidak hanya berdampak pada kuantitas, tetapi juga berdampak pada kualitas barang yang diminta. Terkadang barang yang diminta oleh perusahaan telah disetujui oleh supplier untuk dipenuhi, namun pada saat barang dibutuhkan oleh perusahaan, yang terjadi adalah barang tersebut ternyata tidak ada sehingga supplier harus mencari ke vendor-vendor lain. Hal ini menyebabkan terjadinya keterlambatan pengiriman barang yang seharusnya disuplai.
Selain itu, fenomena ini juga didukung dengan adanya permintaan pelanggan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah produksi yang dihasilkan sehingga permintaan tidak dapat dipenuhi dengan baik. Hal ini terbukti dari hasil produksi PT. Vale Indonesia Tbk pada tabel berikut ini.
4
Universitas Kristen Petra 60,000
65,000 70,000 75,000 80,000 85,000
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Tahun
Produksi dan Permintaan Nikel PT. Vale Indonesia
Produksi Nikel dalam Matte (ton)
Permintaan Nikel Matte (ton)
Tabel 1.1 Jumlah Produksi dan Permintaan pada PT. Vale Indonesia Tbk Tahun Produksi Nikel (Ton) Permintaan Nikel (Ton)
2008 72,385 74,030
2009 67,329 67,782
2010 75,989 77,035
2011 66,900 67,916
2012 70,717 71,379
2013 75,802 77,198
2014 78,726 79,477
Sumber : PT. Vale Indonesia Tbk (2015)
Agar dapat terlihat secara jelas, data jumlah produksi dan permintaan nikel pada PT. Vale Indonesia Tbk yang disajikan dalam bentuk tabel tersebut, ditunjukkan juga pada gambar grafik pada halaman berikut ini. Pada gambar grafik tersebut dapat terlihat bahwa permintaan nikel selalu lebih tinggi dibandingkan dengan produksi nikel pada PT. Vale Indonesia Tbk.
Gambar 1.2 Grafik Produksi dan Permintaan PT. Vale Indonesia Tbk Sumber : Pengolahan Data (2015)
5
Universitas Kristen Petra
Jika masalah ini tidak diselesaikan, maka perusahaan akan terus menerus mengalami kesulitan dalam memenuhi permintaan pelanggan karena tingkat permintaan akan berfluktuasi dan perusahaan selalu dibatasi oleh tanggal waktu penyerahan produk yang dapat mengakibatkan keterlambatan waktu pengiriman.
Hal ini tentunya sangat merugikan perusahaan.
Setiap perusahaan tentu akan berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan produktivitasnya sehingga dapat berjalan dengan efektif dan efisien dimana diperlukan adanya pengelolaan baik secara internal maupun secara eksternal. Pesatnya pertumbuhan perusahaan di bidang pertambangan membutuhkan perhatian yang menyeluruh dan mendalam dari semua pihak yang terkait agar dapat melanjutkan keberhasilan yang telah dicapai dan mempertahankan serta memaksimalkannya. Seperti yang dikemukakan oleh Pujawan & Mahendrawati (2010) bahwa pentingnya peranan semua pihak mulai dari supplier, manufacturer, distributor, retailer, dan customer dalam menciptakan produk melahirkan konsep baru yaitu supply chain management.
Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan produksi merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam kemajuan suatu perusahaan disamping kegiatan pemasaran, keuangan, dan personalia. Verdiar dan Siagian (2014) menjelaskan bahwa hubungan antara supplier dengan perusahaan itu sendiri harus dikelola dengan baik. Supplier ikut bertanggung jawab terhadap hubungan yang baik dan jangka panjang dengan perusahaan.
Menurut Indrajit & Djokopranoto (2005) istilah supply chain pertama kali digunakan oleh beberapa konsultan logistik sekitar tahun 1980-an, kemudian oleh para akademisi dianalisis lebih lanjut pada tahun 1990-an, maka lahirlah konsep supply chain management. Pada hakikatnya supply chain management adalah perluasan dan pengembangan konsep dan arti dari manajemen logistik.
Heizer & Render (2010) menjelaskan bahwa perusahaan perlu mempertimbangkan permasalahan rantai pasokan untuk memastikan bahwa rantai pasokan mendukung strategi perusahaan. Jika fungsi manajemen operasi mendukung strategi perusahaan secara keseluruhan, maka rantai pasokan didesain untuk mendukung strategi manajemen operasi. Fasilitas dan biaya-biaya yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen, dengan tujuan mencapai biaya
6
Universitas Kristen Petra
minimum dan service level maksimum semuanya dipertimbangkan dalam supply chain management. Hal tersebut didukung oleh pendapat Chopra & Meindl (2007) bahwa, desain supply chain, perencanaan, dan keputusan operasi memberikan peranan yang penting dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan sebuah organisasi. Rantai pasokan telah berkembang menjadi sebuah konsep luas yang meliputi seluruh kegiatan dalam perusahaan, termasuk pemasaran dan operasional perusahaan (Maryanto, 2005).
Marpaung (2002) mengatakan bahwa supplier dipandang sebagai sumber daya yang kritis bagi perusahaan. Seleksi dan evaluasi terhadap kinerja supplier menjadi aktivitas yang sangat penting karena seleksi dan evaluasi yang salah terhadap supplier dapat memberikan dampak yang buruk bagi kineria perusahaan.
Oleh sebab itu evaluasi dan penilaian terhadap kinerja supplier menjadi bagian yang sangat penting dalam menjamin tersedianya material yang berkualitas untuk proses produksi.
Saat ini makin banyak perusahaan manufaktur yang menyadari pentingnya peranan supplier dalam mendukung kinerja supply chain mereka secara keseluruhan. Paramita, Effendi, & Dewi (2011) mengemukakan bahwa supplier merupakan salah satu bagian supply chain yang sangat penting dan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup perusahaan. Membina hubungan yang baik antara perusahaan dan suppliernya merupakan sebuah keharusan karena supplier merupakan mitra yang sangat penting dalam menunjang kegiatan operasional perusahaan. Untuk membangun hubungan yang baik, maka diperlukan sebuah manajemen yang khusus yang disebut supplier relationship management.
Voorbehouden (2013) mengatakan bahwa supplier relationship management (SRM) adalah pendekatan sistematis untuk mengembangkan dan mengelola kemitraan. PT. Vale Indonesia Tbk telah menjalin kerjasama dengan supplier- suppliernya guna untuk mendukung dan menjamin kelangsungan produksinya.
Evaluasi kinerja supplier sangat penting dilakukan secara berkala oleh perusahaan agar para supplier selalu termotivasi untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi perusahaan.
Interaksi antara Trust Supplier, Commitment Supplier, Information Sharing, dan Collaboration merupakan bagian dari faktor-faktor yang
7
Universitas Kristen Petra
mempengaruhi kinerja Supply Chain Management pada perusahaan sehingga berdampak pada Supplier Performance. Rahardian (2011) mengatakan bahwa pentingnya kerjasama antara supplier dengan perusahaan yang dibina dengan baik tidak hanya untuk kepentingan dalam jangka pendek namun juga untuk jangka panjang. Salah satu faktor yang mempengaruhi stabilitas suatu hubungan adalah trust dan commitment. Hubungan bisnis yang kooperatif akan tumbuh seiring meningkatnya trust dan commitment di antara mitra bisnis.
Menurut Heizer & Render (2010), trust merupakan hal yang sangat penting dalam supply chain yang efektif dan efisien. Hubungan yang dibangun atas dasar rasa saling percaya cenderung akan berhasil. Bernard (2011) mengatakan bahwa trust dipandang sebagai unsur mendasar bagi keberhasilan suatu hubungan (relationship). Hubungan akan tercipta dari trust yang terus berlanjut, tanpa adanya trust suatu hubungan tidak akan bertahan dalam jangka waktu yang panjang. Menurut Moorman & Zaltman (1999), trust adalah kemauan dengan senang hati untuk saling bekerja sama dengan partner bisnisnya yang didasari oleh keyakinan antara kedua belah pihak yang terlibat. Trust berasal dari kemampuan untuk membentuk konsistensi kepercayaan (reliability), kemauan untuk melakukan sesuatu (intentionality) dan keahlian atau expertise.
Menurut Cambra & Polo (2011), hubungan jangka panjang membutuhkan commitment dari pihak-pihak yang terlibat. Prasojo (2010) mengemukakan bahwa commitment menyatakan secara langsung dan apa adanya tentang rahasia perusahaan. Commitment menyatakan percaya bahwa mitra kerjanya akan bertindak dengan integritas dan hanya dapat dibangun dengan tindakan, tidak hanya sekedar janji. Cook & Emerson (1978) mendefinisikan commitment sebagai pertukaran kepercayaan antar partner dalam hubungan kolaboratif yang terus- menerus dan usaha untuk selalu mempertahankannya, sehingga pihak yang berkomitmen percaya bahwa hubungan kolaboratif yang dilakukan merupakan tindakan yang bernilai yang harus dipertahankan. Definisi ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Morrman (1992), bahwa commitment dalam bekerjasama didefinisikan sebagai kemauan untuk selalu memelihara dan mempertahankan kerjasama yang menambah nilai.
8
Universitas Kristen Petra
Information sharing mengacu pada sejauh mana informasi penting dikomunikasikan terhadap mitra usaha perusahaan (Monczka RM, et al., 2008).
Menurut Ariani (2013), information sharing merupakan elemen penting dalam supply chain management karena dengan adanya information sharing yang transparan dan akurat maka dapat mempercepat proses rantai pasokan dari supplier. Antaditama (2014) mengatakan bahwa dengan adanya information sharing maka perusahaan dapat memberikan informasi kepada supplier, maupun sebaliknya tentang barang yang dibutuhkan, jumlah, dan waktu pengiriman barang tersebut. Selain itu, information sharing sangat diperlukan karena pemasok harus mengetahui keinginan perusahaan terhadap barang yang diinginkan yang sesuai dengan kontrak yang telah disepakati. Miguel & Brito (2011) menjelaskan bahwa information sharing adalah aliran komunikasi secara terus menerus antara mitra kerja, baik formal maupun informal dan berkontribusi untuk suatu perencanaan serta pengawasan yang lebih baik dalam sebuah rangkaian.
Collaboration adalah suatu usaha oleh dua atau lebih organisasi untuk mencapai hasil yang tidak dapat dicapai jika dikerjakan sendiri. Collaboration rantai pasok diperlukan agar perusahaan mampu mengintegrasikan informasi dari berbagai mitra rantai pasok (Daugherty et al., 2005). Menurut Tarigan (2009), collaboration yang dibangun antara bagian purchasing perusahaan dengan supplier dilakukan dengan adanya diskusi dan pelatihan bersama. Collaboration yang dibangun antara perusahaan dengan supplier dapat membantu pengembangan supplier dan memberikan perbaikan-perbaikan pada lini produksi supplier yang berdampak pada peningkatan kinerja perusahaan. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Vereecke & Muylle (2006) dimana tingginya tingkat collaboration baik dengan supplier dan perusahaan, akan mengarah pada perbaikan kinerja keseluruhan.
Dengan mengacu pada hal tersebut, maka perusahaan perlu melakukan pembenahan dalam perencanaan yang lebih terstruktur agar dapat memenuhi permintaan pasar dengan optimal. Perencanaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu perencanaan yang memberikan keputusan optimum berdasarkan sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk memenuhi permintaan akan produk
9
Universitas Kristen Petra
yang dihasilkan dengan cara membangun dan membina hubungan dengan supplier-supplier perusahaan.
1.1 Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan suatu penelitian mengenai Analisis Pengaruh Trust Supplier dan Commitment Supplier Terhadap Supplier Performance Melalui Information Sharing dan Collaboration pada PT. Vale Indonesia Tbk, sehingga dapat diambil beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apakah Trust Supplier berpengaruh terhadap Collaboration?
2. Apakah Trust Supplier berpengaruh terhadap Information Sharing?
3. Apakah Commitment Supplier berpengaruh terhadap Collaboration?
4. Apakah Commitment Supplier berpengaruh terhadap Information Sharing?
5. Apakah Information Sharing berpengaruh terhadap Collaboration?
6. Apakah Information Sharing berpengaruh terhadap Supplier Performance?
7. Apakah Collaboration berpengaruh terhadap Supplier Performance?
1.2 Ruang Lingkup
Ruang lingkup dibutuhkan untuk membatasi penelitian agar menjadi lebih teratur dan terarah. Untuk itu, ruang lingkup dalam penelitian ini yaitu terbatas pada departemen Logistics, departemen Operation (Process Plant), dan departemen Procurement, Contract & Warehouse untuk PT. Vale Indonesia Tbk dan pada departemen Procurement untuk perusahaan supplier dalam melakukan supply chain management dengan menjaga dan menjalin hubungan yang baik dengan supplier. Dengan demikian, proses produksi dapat berjalan dengan lancar dan perusahaan dapat mengoptimalkan kapasitas produksi serta dapat memenuhi permintaan pelanggan dengan meminimalisasi biaya produksi sehingga mengurangi kerugian pada PT. Vale Indonesia Tbk.
10
Universitas Kristen Petra
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dipaparkan, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh Trust Supplier terhadap Collaboration.
2. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh Trust Supplier terhadap Information Sharing.
3. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh Commitment Supplier terhadap Collaboration.
4. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh Commitment Supplier terhadap Information Sharing.
5. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh Information Sharing terhadap Collaboration.
6. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh Information Sharing terhadap Supplier Performance.
7. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh Collaboration terhadap Supplier Performance.
1.4 Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini, manfaat yang dapat diperoleh yaitu sebagai berikut :
1. Bagi Penulis
Penulis dapat memperoleh pengalaman baru sewaktu melakukan penelitian, mengetahui serta menganalisis supplier relationship management pada PT. Vale Indonesia Tbk dengan menerapkan ilmu pengetahuan yang sudah diperoleh selama proses perkuliahan. Penulis juga dapat memperluas pengetahuan, wawasan, serta kreatifitas sehingga mampu menjadi tenaga ahli yang berkualitas, bertanggung jawab, jujur, terampil, dan profesional dalam melakukan tugas.
2. Bagi Perusahaan
Mengetahui cara mengoptimalkan produktivitas kinerja supply chain management pada perusahaan dengan membangun dan menjaga
11
Universitas Kristen Petra
hubungan yang baik dengan supplier untuk memperoleh keuntungan yang maksimal serta memberikan masukan bagi perusahaan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan sehingga perusahaan bisa berjalan dengan lebih efektif dan efisien yang berdampak bagi kemajuan perusahaan.
3. Bagi Pembaca
Penelitian ini bisa menjadi tambahan ilmu pengetahuan dan wawasan baru khususnya dalam pengaplikasian ilmu pengetahuan dalam bidang supply chain management terutama yang berhubungan dengan supplier relationship management bagi pembacanya maupun memperkuat ilmu pengetahuan yang sudah dimiliki oleh pembacanya. Selain itu juga dapat menjadi bahan referensi dan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya.