BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Notaris/PPAT merupakan profesi hukum sekaligus sebagai suatu profesi mulia (nobile officium). Disebut sebagai nobile officium dikarenakan profesi Notaris/PPAT sangat erat hubungannya dengan kemanusiaan. Notaris/PPAT diangkat oleh penguasa tertinggi negara dan kepadanya diberikan kepercayaan dan pengakuan dalam memberikan jasa bagi kepentingan masyarakat. Hanya orang-orang yang sudah dikenal kejujurannya serta mempunyai pengetahuan dan kemampuan di bidang hukum sajalah yang diijinkan untuk memangku jabatan Notaris/PPAT. Oleh karena itulah pemegang jabatan Notaris/PPAT harus menjaga keluhuran martabat jabatannya dengan menghindari pelanggaran aturan dan tidak melakukan kesalahan profesi yang dapat menimbulkan kerugian kepada orang lain.
Profesi Notaris/PPAT merupakan profesi yang berkaitan dengan individu,
organisasi profesi, masyarakat pada umumnya dan Negara. Tindakan
Notaris/PPAT akan berkaitan dengan elemen-elemen tersebut oleh karenanya
suatu tindakan yang keliru dari Notaris/PPAT dalam menjalankan pekerjaannya
tidak hanya akan merugikan Notaris/PPAT itu sendiri, namun juga akan
merugikan organisasi profesi, masyarakat dan Negara.
Notaris/PPAT dalam menjalankan jabatannya secara profesional dirasakan semakin penting karena kedudukan Notaris/PPAT sebagai pejabat umum berhadapan langsung dengan kepentingan masyarakat dalam memberikan bantuan pelayanan atau jasa. Apabila hal tersebut tidak diberikan secara baik atau profesional, maka nantinya terdapat pihak yang dirugikan sebagai akibat hukum dari kesalahan atau kelalaian yang telah diperbuat oleh Notaris/PPAT.
Pemberian jasa hukum yang melatarbelakangi hubungan antara Notaris/PPAT dan masyarakat ini dapat dilihat sebagai salah satu upaya yang dilakukan untuk memberikan pelayanan hukum sekaligus juga sebagai proses transformasi pengetahuan hukum kepada masyarakat agar masyarakat dapat bertindak sesuai dengan aturan hukum dan demi tegaknya aturan hukum itu sendiri, dengan begitu secara implisit Notaris/PPAT pun sebenarnya telah ikut berperan serta dalam membantu membudayakan hukum dalam kehidupan masyarakat sebagai unsur terpenting dalam penegakan hukum, meskipun kebenaran dan keadilan yang hakiki sulit untuk dicapai, namun sebagai Negara hukum yang berdaulat upaya untuk menjadikan hukum sebagai panglima harus terus menerus diupayakan bersama oleh setiap kalangan, khususnya profesi hukum.
1Notaris/PPAT selain diberi wewenang untuk membuat akta otentik juga ditugaskan untuk melakukan pendaftaran dan mensahkan surat-surat atau akta- akta yang dibawah tangan, serta memberikan nasihat hukum dan penjelasan kepada pihak-pihak yang bersangkutan.
Sehubungan dengan pemberian nasihat hukum, telah diatur pula dalam Pasal 15 ayat (2) huruf e Undang-Undang Jabatan Notaris, bahwa Notaris berwenang memberikan penyuluhan hukum dan penjelasan-penjelasan kepada pihak-pihak,
1 Suen Herief, 2010,” Tanggung Jawab Sosial Dalam Menumbuhkan Kesadaran Hukum
Masyarakat”, Tesis, S2 Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hlm 12.
sehubungan dengan pembuatan akta yang akan, sedang dan atau dibuat oleh para pihak tersebut.
Beberapa gejala atau fenomena terhadap eksistensi jabatan Notaris/PPAT secara realita di lapangan, banyak masyarakat baik tidak maupun pengguna jasa hukum tidak tahu hukum walaupun Notaris/PPAT mempunyai keyakinan bahwa semua orang tahu hukum. Tetapi ini tidak boleh dianggap demikian, ini disebabkan tingkat pendidikan dan pengetahuan semua orang berbeda. Sedangkan masyarakat juga membuat hal demikian yang dalam pembuatan akta otentik sepenuhnya diserahkan pada Notaris/PPAT.
Hal ini berdasarkan pandangan masyarakat yang menganggap bahwa Notaris/PPAT lebih banyak tahu, mengerti dan berkompeten di dalamnya baik pengetahuan hukum maupun pembuatan akta otentik. Keberadaan seorang Notaris/PPAT harus benar-benar memiliki dan menguasai serta mempunyai pengalaman dan keterampilan dalam ilmu pengetahuan baik dibidang kenotariatan maupun bidang hukum lainnya.
Selain adanya integritas moral yang dimiliki seorang Notaris/PPAT dalam
melaksanakan tugas sebagai pejabat umum diharuskan pula memiliki kemampuan
atau kejelian dalam melaksanakan jabatannya. Hal ini disebabkan bahwa apabila
terdapat kesalahan atau kekeliruan yang mungkin dilakukan oleh seorang
Notaris/PPAT, maka bisa menimbulkan suatu permasalahan. Permasalahan
tersebut bahkan dapat membawa Notaris/PPAT untuk diajukan ke pengadilan oleh pihak yang merasa dirugikan atas kesalahan atau kekeliruan tersebut.
Dewasa ini dimana iklim usaha menjadi semakin baik dan dengan terus meningkatnya pertumbuhan penduduk, menyebabkan meningkatnya kebutuhan masyarakat atas ruang (space) baik untuk tempat tinggal (rumah, apartemen, dan lain-lain) untuk keperluan berusaha (rumah toko, rumah kantor, office building, pusat perbelanjaan, dan lain-lain) serta untuk berinvestasi, karena investasi di bidang properti merupakan jenis investasi yang rendah resikonya dan menjanjikan karena nilainya akan selalu meningkat. Hal ini menyebabkan banyak pihak yang tertarik untuk terjun ke dalam usaha properti. Banyak bermunculan pengembang- pengembang baru yang meramaikan usaha properti, akan tetapi tidak semua pengembang memiliki itikad baik terhadap konsumennya, dan tidak semua pengembang memiliki integritas dan profesionalisme, acapkali pengembang pada tahapan promosi menjanjikan berbagai macam hal kepada konsumen agar mereka tertarik, akan tetapi di masa yang akan datang, janji-janji tersebut tidaklah dipenuhi.
Pertumbuhan penduduk yang terus bertambah mengakibatkan meningkatnya
kebutuhan akan perumahan, dimana kondisi ini telah membawa implikasi dengan
munculnya kebiasaan baru dalam sistem pemasaran produk perumahan. Dalam
sistem pemasaran tersebut maka rumah-rumah yang belum selesai dibangun atau
bahkan yang masih dalam perencanaan sudah bisa dipasarkan. Cara pemasaran
seperti ini dilakukan berdasarkan pertimbangan ekonomi. Bagi developer hal ini dilakukan guna memperlancar peralihan dana murah dan untuk memperoleh kepastian pasar. Sedangkan bagi konsumen hal ini dilakukan agar harga jual rumah terasa lebih murah sehingga para calon konsumen tidak merasa terbebani dalam melakukan pembayaran harga rumah, sebab mereka sudah membayar sebagian uang mukanya terlebih dahulu.
Dilaksanakannya cara pemasaran seperti ini telah menimbulkan adanya jual
beli secara pesan lebih dahulu, sehingga mengakibatkan adanya perjanjian jual
beli pendahuluan (priliminary purchase) yang selanjutnya dituangkan dalam akta
pengikatan jual beli rumah. Namun demikian dari segi perlindungan konsumen
cara pemasaran seperti ini telah membuka peluang bagi pihak-pihak tertentu atau
pihak perusahaan pembangunan perumahan yang tidak mempunyai atau belum
memenuhi memenuhi persyaratan administratif (persyaratan yang berkaitan
dengan masalah perizinan seperti izin prinsip, izin lokasi, izin mendirikan
bangunan) untuk melakukan promosi terhadap produk perumahan yang
dikeluarkannya dengan melalui pameran atau dengan cara menyebarkan brosur
perumahan kepada calon konsumen perumahan. Yang mana hal ini dapat
memungkinkan terjadinya penjualan rumah fiktif, penjualan rumah di atas tanah
bermasalah, mutu bangunan di bawah standar, banjir dan lain sebagainya. Hal-hal
diatas sangat merugikan konsumen
Dalam usaha properti ini terdapat ketimpangan informasi yang menyebabkan kedudukan yang tidak seimbang antara konsumen dan produsen. Konsumen properti acapkali kurang mengerti mengenai seluk-beluk usaha properti menyebabkan posisi konsumen properti lebih lemah dibanding kan produsen properti (Developer/pengembang).
Notaris/PPAT dalam memberikan penyuluhan hukum wajib memberikan informasi dan pengetahuan hukum kepada para pihak yang ingin membuat akta otentik secara akurat, tidak hanya sekedar membuatkan aktanya saja. Dan oleh karena itu pula, seorang Notaris/PPAT dituntut untuk lebih meningkatkan pelayanan jasa kenotariatan secara profesional dan tidak memihak. Berdasarkan hal tersebut dia atas maka penulis tertarik untuk mebuat penelitian dengan judul
“PERANAN NOTARIS/PPAT DALAM PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN PROPERTI”.
B. Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang permasalahan dia atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaturan tentang kewajiban Notaris//PPAT di dalam memberikan perlindungan hukum terhadap konsumen properti?
2. Bagaimana implementasi perlindungan hukum yang dilakukan oleh
Notaris/PPAT terhadap konsumen properti?
C. Keaslian Penelitian
Berdasarkan pengetahuan penulis, penulis belum menemukan penelitian yang mengkaji khusus mengenai “Peranan Notaris/PPAT Dalam Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Properti”. Adapun beberapa hasil penelitian ilmiah yang memiliki relevansi terhadap penulisan tesis ini adalah sebagai berikut :
1. Penelitian yang dilakukan oleh Ricky Rangkuti tahun 2008 dengan judul “ Pelaksanaan Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Da lam Bisnis Properti Di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta”. Adapun permasalahan yang diteliti adalah apa bentuk perlindungan hukum terhadap konsumen dalam bisnis properti di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta; Bagaimana mekanisme penyelesaian Sengketa Konsumen Bisnis Properti; serta bagaimana ganti rugi yang didapatkan oleh konsumen dalam bisnis properti.
22. Penelitian yang dilakukan oleh Hesti Vidyastuti tahun 2009 dengan judul
“Peranan Notaris Terhadap Pelaksanaan Penyuluhan Hukum Dalam Pembuatan Akta Di Kota Makassar”. Adapun permasalahan yang diteliti adalah bagaimana Peranan Notaris dalam menjalankan tugas penyuluhan hukum dalam pembuatan akta untuk menciptakan kepastian hukum bagi masyarakat; serta bagaimana konsekuensi yuridis terhadap pelaksanaan dalam pembuatan akta.
32 Ricky Rangkuti, 2008, “Pelaksanaan Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Dalam Bisnis Properti Di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta”, Tesis, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hlm 6.
3 Hesty Vidyastuti, 2009, “Peranan Notaris Terhadap Pelaksanaan Penyuluhan Hukum Dalam Pembuatan Akta Di Kota Makassar”, Tesis, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hlm 6.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Suen Herief tahun 2010 dengan judul
“Tanggung Jawab Sosial Dalam Menumbuhkan Kesadaran Hukum Masyarakat”. Adapun permasalahan yang diteliti adalah bagaimana UU No.
30/2004 tentang Peraturan Jabatan Notaris mengatur tanggung jawab social notaris dalam rangka membangun kesadaran hukum masyarakat demi tumbuhnya kesadaran hukum masyarakat; bagaimana Notaris menjalankan tanggung jawab sosialnya dalam rangka membangun kesadaran hukum masyarakat demi tumbuhnya kesadaran masyarakat; serta apa faktor penghambat Notaris dalam menjalankan tanggung jawab sosial dalam rangka menumbuhkan kesadaran hukum masyarakat.
44. Penelitian yang dilakukan oleh Reni Permata Sari tahun 2011 dengan judul
“Peran Notaris Dalam Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Saham Minoritas”. Adapun permasalahan yang diteliti adalah bagaimana perlindungan hukum bagi pemegang saham minoritas menurut UU No. 40 Tahun 2007;
upaya-upaya hukum apakah yang dapat dilakukan oleh pemegang saham minoritas apabila hak-haknya dilanggar; serta bagaimana peran notaris dalam memberikan perlindungan hukum bagi saham minoritas yang dituangkan dalam Akta Pendirian Perseroan Terbatas.
5
4 Suen Herief, 2010, “Tanggung Jawab Sosial Dalam Menumbuhkan Kesadaran Hukum
Masyarakat”, Tesis, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hlm 6.
5 Reni Permata Sari, 2011, “Peran Notaris Dalam Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Saham Minoritas”, Tesis, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hlm 5.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Helan Hanitia Herlambang tahun 2012 dengan judul “Peranan Notaris/ PPAT Dalam Pemberian Nasihat/ Penyuluhan Hukum Addendum Perjanjian Kredit Dengan Jaminan Hak Tanggungan Di BRI Unit Kleco Surakarta”. Adapun permasalahan yang diteliti adalah apa urgensi Notaris/ PPAT dalam pemberian penyuluhan hukum addendum perjanjian kredit dengan jaminan hak tanggungan di BRI Unit Kleco Surakarta; serta bagaimana upaya Notaris/ PPAT dalam memberikan perlindungan hukum jika terjadi kredit macet dalam addendum perjanjian kredit dengan jaminan hak tanggungan di BRI Unit Kleco Surakarta.
6Selain Penelitian tersebut di atas, juga masih terdapat beberapa penelitian lainnya yang bertema Peranan Notaris Dalam Masyarakat tetapi dari keseluruhan penelitian belum ada yang secara khusus membahas Peranan Notaris/PPAT Dalam Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Properti. Apabila dalam kenyataannya telah diteliti terlebih dahulu oleh pihak lain, maka penulis berharap penelitian ini dapat menjadi bahan perbandingan dan saling mengisi satu sama lain sehingga dapat memperluas wawasan dan pengetahuan mengenai hal tersebut di atas. Oleh karena itu penulis menegaskan lebih lanjut bahwa penelitian ini bersifat orisinil, mandiri, serta aktual dan belum pernah dipublikasikan.
6 Helan Hanitia Herlambang, 2012, “Peranan Notaris/ PPAT Dalam Pemberian Nasihat/
Penyuluhan Hukum Addendum Perjanjian Kredit Dengan Jaminan Hak Tanggungan Di BRI Unit Kleco Surakarta”, Tesis, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hlm 6.