• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengembalikan toleransi di Yogyakarta.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Mengembalikan toleransi di Yogyakarta."

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

"KEDAUI-ATAN RAKYAT''

RABU

WAGE,

30

MARET

2016

HALAMAN

12

f

TEBEBASAN

beragama

dan

berke-t{g#ffi

.^?f

;,ffi

i3?:ii'##;

hak kebebasan beragama dan berkeyakinan. Hal

itu

diungkap

dalam

rangkuman Kertas Posisi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di

DIY

yang diumumkan Lembaga Bantuan

Hukum

(LBH)Yogyakarta (2313). Tercatat lima jenis

per-masalahan,

yakni

(a)

diskriminasi

perizinan kegiatan keagamnan, (b) perizinan pendirian nrmah ibadah. (c) Ttrduhan sesat terhadap ke-lompok tertentu, (d) pembiaran aktivitas kelom-pok intoleransi, dan (e) penyebaran kebencian melalui media sosial.

Pengrrmuman

itu tentu

mengagetkan. Bukankah DIY dikenal sebagai'Indonesia mini'

yang terbuka bagi kehadiran siapa

pun?

Tidakkah pada 2003 kota Yogyakarta pernah

mencanangkan slogan city of tollerance?

Di

Balik Lrtoleransi

Menurut

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), toleransi berarti sifat atau sikap toleran. Adapun toleran adalah sifat atau sikap meneng-gang (menghargai, membolehkan, membiarkan)

pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakukan, dsb) yang berbeda atau bertentangan dengan

pendirian sendiri.

Pe-ngertian tersebut menunjukkan bahwa toleransi

dapat berwujud

menghargai, membolehkan, atau membiarkan. Menghargai merupakan

wu-jud tertingg

toleransi.'Membolehkan'

meru-pakan wujud tengah yang moderat, sedangkan

'membiarkan' merupakan wujud paling seder-hana atau terendah.

Di

negara

hukum

seperti Indonesia, aturan

bersama yang tertuang sebagai hukum dan atur-an penrndatur-ang-undatur-angatur-an menjadi patur-anglima bagi

kehidupan

bersama. Segala

tindakan

'main hakim sendiri'tidak bisa dibenarkan, apalagr

ji-ka

melanggar

aturan

dan menodai keadilan.

Inilah rupanyayangjustru terjadi di DfY selama

2071-2015. Hukum dan keadilan diabaikan,

hak-hak

masyarakat (minoritas) dalam beragama dan berkeyakinan dilecehkan, tetapi

tindakan

intoleransi malah dibiarkan.

Intoleransi

memperlihatkan

terjadinya

pe-langgaran

hukum. Lima

masalah yang

men-gusik kebebasan beragama dan berkeyakinan

Mengembalikan

Tioleransi

di

Yogyakarta

I

T

P

Ari Subagyo

tersebut

tentu

melanggar

UUD

1945 sebagai sumber

hukum

di negeri

ini.

Pasal 29 ayat (2)

truD

1945 menyatakan: "Negara menjamin he' merdekaan tiap-tiap pendud,uk untuk memeluk agamanya rnnsing-masing dan untuk beribadat menurut agamnnya dan kepercayaannya itu."

Keprihatinan

terasa

makin

mertdalam

jika

hierarki hukum

kita

tengok. Di negeri ini, Pan-casila merupakan sumber

dari

segala sumber

hukum.

Jika

demikian, bukankah intoleransi

sesungguhnya mengkhianati Pancasila, khusus-nya sila KetuhananYang Maha Esa? Intolerarsi

sesungguhnya menggerogoti Pancasila. Ini sung-guh ironis mengingat Yogyakarta telah melahir-kan tokoh-tokoh sehebat Pangeran Diponegoro,

Ki

Hadjar Dewantara, Hamengku Buwono D(,

PakuAlamMII,

dll.

Toleransi dan

Keistimewaan

Kita semakin prihatin bila intoleransi dikait-kan dengan UU No 73120t2 tentang

Keistime-waan DfY. Tbleransi merupakan bagian dari ke-istimewaan. Pada pasal 5 ayat (1), dinyatakan

tujuan keistimewaan DfY antara lain : mewuju&

kan kesejahteraan dan ketenteraman

masyara-kat,

mewujudkan

tata

pemerin-tahan dan tatanan

sosial yang merj amin

ke-bhinneka-tunggal-ika-an

dalam kerangka NI{RI.

Serta melembagakan peran dan tanggung jawab Kasultanan dan

Kadipaten dalam

menjaga dan

rnengembangkan

budaya Yogyakarta.

Pasal

5

ayat

(3), (a),

dan

(6) mengatur lebih lanjut cara

penca-paian tujuan-tujuan

itu.

Kata

kuncinya: kepentingan

masyara-kat;

pengayoman

dan

pembim-bingan oleh pemda; pemeliharaan

dan

pendayag'un.aan

nilai-nilai

musyawarah, gotong royong,

soli-daritas, tenggang rasa, dan

tole-ransi;

pelestarian

dan

pengem-bangan budaya; serta pendayagu-naan, pengembangan, penguatan

nilai-nilai, norma, adat istiadat, dan tradisi luhur

yang mengakar dalam masyarakat DIY Adapun pasai 15 ayat (1) mengatur kew4jiban Gubernur dan Wakil Gubernur DfY, antara lain:

menga-malkan Pancasila,

UUD

1945, memelihara

ke-utuhan NKRI; memelihara ketenteraman dan

ketertiban masyarakat; melestarikan dan me-ngembangkan budaya Yogyakarta; serta

me-lindunsi

berbagai budaya masyarakat daerah

laindiDry.

Karena

itu

sungguh tepat usulan LBHYogya-karba agar Pemerirrtah Provinsi dan Kota,/Kabu-paten di DIY menggunakan pendekatan budaya. Budaya dalam wujud kesenian maupun musya-warah, gotong royong, solidaritas, tenggang rasa,

dan

toleransi periu terus

diupayakan

untuk

menghasilkan pe{umpaan dan dialog karya di tengah masyarakat. Pemerintah

juga

harus

menindak tegas mereka yang mengobarkan

in-toleransi. Di pihak lain, para pendatang tidak

se-mestinya menyalahgunakan keterbukaan DfY. Silakan menjadi warga DIY, tetapi harus toleran.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Predikat Yoryakarta sebagai 'Indonesia

mini'

menjadi tak berarti jika tanpa toleransi. tr -

g

DrP,4riSubagYoMHum,

Dekan Fahultas Sastra U SD Yogyaharta.

Referensi

Dokumen terkait

Koreksi statik dilakukan dengan pengamatan data Time domain Elektromagnetic (TDEM) pada titik yang sama untuk mengoreksi data MT yang mengalami efek statik.. Dengan koreksi

Sasaran rumah sakit pada tahun anggaran 2020 secara umum pendapatan diharapkan meningkat rata – rata 5 % dari tahun sebelumnya, disertai dengan peningkatan

Dengan dilakukannya pelebaran, harapan arus lalu lintas yang menuju Provinsi Kalimantan Selatan ke Kalimantan Tengah atau sebaliknya datang melewati ruas jalan

Tanggung jawab Direksi ketika terjadinya Kepailitan pada Perseroan Terbatas menurut Ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007, adalah dalam hal Kepailitan terjadi karena

(1) Setiap orang yang mengetahui telah terjadinya pelanggaran Peraturan Disiplin memiliki hak untuk melaporkan kepada Rektor secara langsung atau melalui Dekan,

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta pencerahan yang dibawakan oleh

Indikator konflik kerja mengganggu keluarga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara istri dengan jenis pekerjaan formal dan informal pada tiga item

Menimbang, bahwa Majelis Hakim tingkat banding setelah memeriksa dan meneliti secara seksama berkas perkara yang terdiri dari Berita acara pemeriksaan, surat-surat lain