• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alu la igejab, enggo kita

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Alu la igejab, enggo kita"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

K

ATANTARAS

EDISI 3, JANUARI 2018

1

K

ATANTARA

S

K

ATANTARA

S

Tabloid Karo Bulanan Edisi Januari 2019, No. 3

(Bersambung ke hal. 11 kol 1)

Kabanjahe, Katantras.

S

elama beberapa dekade yang lalu, bila orang berbicara ten-tang kopi Sumatera, maka biasanya yang disebut kopi Gayo, kopi Sidikalang, dan kopi Man-dailing. Kopi Karo tidak dikenal. Tapi sejak beberapa tahun tera khir, telah muncul kopi Karo. Dan kemunculannya di dunia perkopi-an, baik di pasar nasional maupun luar negeri, cukup mencengangkan. Melesat bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Duka nestapa yang menggelantung terus di atas Tanah Karo akibat erupsi Gunung Sinabung yang berkepanjangan, kini sirna dan ternyata membawa berkah atau tuah yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Betapa tidak. Di pameran SAL Paris, Perancis (23/10/2018) Kopi Cimbang Sinabung besama kopi asal Indonesia lainnya, telah memenangkan penghargaan AVPA Gourmet Product di pameran SIAL Paris, Perancis, AVPA atau Agen-cy for the Valorization of the Ag-ricultural Products merupakan or-ganisasi Perancis yang bertujuan membantu para produsen produk pertanian dari seluruh dunia untuk memasarkan produk mereka di pas-ar Eropa. Penghpas-argaan Gourmet ini dibagi menjadi empat kategori yakni Gold Gourmet, Silver Gour-met, Bronze Gourmet dan Simple

Gourmet. Kopi Cimbang Sinabung

mendapat penghargaan simple gour-ment.

Desa Cimbang, yang orang Karo sendiri banyak yang sebelumnya ti-dak pernah mendengarnya, kini men-jadi tersohor berkat kehadiran kopi Cimbang Sinabung. Tapi bagaimana pun juga, kebangkitan Kopi Karo tidak terlepas dari peran Badan Na-sional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Program Rehabil-itasi dan Rekonstruksi kepada mas-yarakat empat kecamatan di lingkar Sinabung. Yaitu Kecamatan Simpang Empat, Tiganderket, Naman Teran, dan Payung .

Hal itu berawal dari kondisi erupsi Gunung Sinabung berkepan-jangan, sejak tahun 2013. BNPB pun melakukan survei lapangan dan mencari cara upaya pemulihan so-sial ekonomi masyarakat terdampak Sinabung, di luar zona merah. Ketika itu BNPB secara kebetulan mendapat kerja sama internasional dengan New Zealand, menggandeng Food and Agriculture Organization of the Unit-ed Nations (FAO) yang bergerak di bidang pangan dan pertanian.

Dua di bidang pertanian yang coba digalakkan BNPB yaitu budi-daya tanaman jeruk dan kopi. Tana-man jeruk pertama kali dicoba untuk dibudidayakan sebab jeruk merupa-kan ciri khas tanaman yang banyak ditanami masyarakat sebelum

musi-bah letusan Sinabung. Namun setelah dicoba dan dievaluasi, ternyata pros-es pemasaran tanaman jeruk dan hasil yang didapat tidak maksimal. Hal ini disebabkan karena daya tahan jeruk yang tidak berlangsung lama sehing-ga tidak jarang jeruk justru membu-suk sebelum laku dijual.

Akhirnya tanaman kopi coba dikembangkan untuk dibudidayakan. Ternyata tanaman kopilah yang pada akhirnya lebih mampu bertahan dari pengaruh abu vulkanik Sinabung. BNPB melalui Badan Penanggulan-gan Bencana Daerah (BPBD) mem-bina petani untuk bisa mengelola tanaman kopi hingga pasca panen. Petani juga diberi pengetahuan mem-proses kopinya sendiri menjadi bu-buk dengan proses lebih maju seperti semi wash process, natural process, maupun honey process.

Ternyata proses budidaya ta-naman kopi tidak berjalan semulus yang direncanakan. Faktor sosial dan budaya masyarakat Tanah Karo menjadi rintangan paling besar. Ta-naman kopi yang sudah ditanam puluhan tahun yang lalu hanya di-anggap sebagai tanaman pembatas antar lahan masyarakat Seperti yang disampaikan Imam Syukri, salah seo-rang petani kopi dari Desa Cimbang, Kecamatan Payung yang dilansir dari Medanheadlines.com.

“Kebanyakan orang di Tanah Karo mengganggap kopi sebagai

tumbuhan pembatas saja. Jadi dise-butnya tanaman tuah dibata yang art-inya hadiah dari Tuhan atau tanaman tanaman tedah ate yang berarti yang dirindukan. Artinya tanaman kopi jika berbuah maka disyukuri, tapi kalau tidak ya tidak ada ruginya”, ujar Imam yang juga penggagas Kopi Cimbang Sinabung.

Ada juga yang menyebutn-ya singgalar utang, alias pemba-yar utang karena kopi baru dipanen ketika petani tercekik hutang. “Itu dulu, Tapi sekarang, kami merawat betul-betul, tinggal dia yang bisa di-andalkan” ujar Nur Hayati Sembiring (75), petani di Desa Cimbang, seperti dilansir dari harian Kompas.

Pertanian kopi merebak

Pertanian tanaman kopi pun ter-us berkembang pesat di Kabupaten

Karo. Semakin banyak petani yang beralih ke tanaman kopi.Kopi di Kab Karo adalah kopi jenis arabika. Hingga saat ini menurut data Di-nas Pertanian Kabupaten Karo luas kebun kopi di Karo sekitar 10.000 ha, atau lebih luas dari beberapa ta-hun sebelumnya yang hanya 7.500. Dengan rata-rata menghasilkan 1,5 ton tiap hektar per tahun

Perkembangan pertanian kopi di Tanah Karo didukung oleh posisi geografis Tanah Karo yang merupa-kan dataran tinggi 900 M DPL sam-pai 1900 DPL, dan dalam gugusan Bukit Barisan. Dimana terdapat dua gunung berapi, Gunung Sinab-ung dan GunSinab-ung Sibayak. Sehing-ga sanSehing-gat ideal bagi pertumbuhan tanaman kopi jenis arabika, dan

BANGKITNYA KOPI KARO

Café Juma.

Muat wari ndabuh ku gelapna, bagendam suasana Café Juma, i jalan Rakutta Brahmana Km. 13.7 (Lintas Kabanjahe - Kotacane), Sukarame, Kabanjahe. Amin gia merekna Cafe Juma tapi adi reh kam janah nin-du: “kopi sada, Perkede!”, ugapa pe iangkana denga. Sikap kal I Café Juma enda natap-natap matawari

Foto : Pengarahen Sembiring

KATASUKI

+ Kita rayat enda, sekrajangenta 5 tahun sekali ng

enca

itami-tami..

- Uga kin maka bage nim, Pande? Rempet ka meg

ogo

atem?

+ Labo megogo. Kitik kal ukurku…!

ndabuh ku kesunduten, sunset nina anak singuda, janahta ngopi. Pernahangna, bali ras sabaris lirik lagu Djaga Depari ija nina “inganta ngadi rate mesui…”. Eaak, pindo kopindu, Silih!

(2)

K

ATANTARAS

EDISI 3 JANUARI 2018

2

Pimpinan Umum/Pimpinan Redaksi : Simson Gintings,

Wakil Pimpinan Umum/Pim pinan Redaksi : Julianus P. Liembeng.

Dewan Redaksi : Robinson Sembiring, Yoel Kaban.

Artistik : Arthur Sembiring. Photografer : Sadrah Ps., Jupiter Maha.

Tata Letak : Yosef Depari. Kontributor : Moses Pinem, Salmen Kembaren, Imanuel Tarigan, Tridah Sembiring, Septa Sembiring, Imanuel Bukit, Emma Sinulingga (Medan), Alex Depari (Kabanjahe) Ezra Deardo Purba (Yogyakarta), Oren B. Peranginangin (Bandar Lampung). Pimpinan Perusahaan : Asmanta Barus, Sekretaris : Eko Tarigan. Manager Produksi : Jecky Edward Sembiring D., Staf Produksi Julio Ari Napitupulu

Alamat Redaksi : Jl. Marsaid I No. 44 Rt.01 Rw.06, Marga Jaya Bekasi Selatan.

E-mail : [email protected] Rekening BNI No. 0753540507 An. Simson Gintings, Percetakan : Aneska Grafindo

Redaksi

K

ATANTARAS

Redaksi menerima kiriman tulisan dari pembaca, berupa cerpen, puisi, dan artikel yang berkaitan dengan suku Karo. Tulisan dapat dalam bahasa Indonesia atau bahasa Karo dan dikirimkan ke email Redaksi : [email protected]. Isi tulisan sepenuhnya men-jadi tanggungjawab penulis Redaksi berhak mengedit artikel tanpa mengubah isi dan sub-stansi dari tulisan. Hak cipta tulisan tetap menjadi milik penulis. Tulisan yang dimuat tidak mendapat honorarium.

Editorial

K

l

A

l

T

l

A

l

N

l

A

l

K

l

A

l

N

A

lu la igejab, enggo kita bengket ku bas tahun si mbaru, eme kap tahun 2019. Tambah wari si benta-si kita tambah ka umur kita kerina manusia. Termasuk pe umur tabloidta si kitik enda. Gundari nggo multak nomor si peteluken.

Si jadi penungkunen bas kami Redaksi, bage pe bas pembaca, uga kerna kualitas bas si telu nomor enda? Arus si lakoken avluasi. igejap kami, bas dampar kualitas, ndauh denga seh bagi sini suraken kita kerina. Si enda erkiteken memang lit keterbatasen bas kami Redaksi. Amin bage gia, tabloid enda arus tetap banci erdalan. Alu sada pengarapen si ijemak kami alu meteguh, tabloid enda arus lit gunana man jelma si enterem. Banci perturah sada proses dikur-sus tah pe proses dialektika intlektual. Misalna, uga ker-na perkembangen kebudayan Karo bas jaman milennium enda. Tentuna masarakat per-lu erbahan evaper-luasi. Setidakna banci turah sada wacana.

Memang, bagi si eteh, labo mesunah empengaruhi proses perdalanen ras perkembangen kebudayanta. Janah prosesna pe pasti gedang. Tapi si jadi kebiarenta, kune lanai lit kita si terkena guna ngukurisa. Kai pe siakap bali saja, lanai jadi soal. Alo-alo saja kerina alu la rukur. Adi bage, ertina kita nggo apatis ras fatalistis ka pe. Adi sempat kin bage terjadi, e secara kebudayan nggo lampu merah man banta.

Sedalanen ras si e, gelah ula kita apatis, ibas nomor enda si jadi profil emekap seka-lak penggagas gelah gendang tradisional Karo si biasa ikatak-en gikatak-endang si lima sedalanikatak-en, tapi menurut Simpe Sinulingga

si datna arah semacam “riset” si pernah lakokena lebih ku-rang 3 tahun dekahna, tah pe arahna erlajar man tua-tua si meteh, istilah menurut sejar-ahna ikataken Gendang Lima Si Perarihen.

Lit sada perayaken Simpe Sinulingga arah sanggar Ng-gara Simbelin si pajekena I Lingga, em kap gelah min gendang tradisonal Karo ci tetap eksis, janah adi ban-ci, mulihken jadi simada jabu, bagi mbarenda. Tambah sie, adi gendang tradisonal e mu-lihi memasyarakat banci ka pe jadi sadaa atraksi budaya gelah ertemna wisatawan tah pe turis reh ku Taneh Karo.

Tangkas kal matata natap, keteng-keteng Jepang alias kibod, lanai banci lang, enggo dekah menda jadi bagin bas kebudayanta. Lanai lit kalak si emperosalkensa. Adi tang-tangna mbarenda, sempat kibod jadi perdebaten, erkite-ken lit terjadi pro kontra. Tapi kedungena, enggo banci ialko-ken jelma si enterem.

Kehebaten alat musik ki-bod, lagu kai pe banci bengket. Poco poco, sasojo, langgam Melayu, dangdut, kerina ban-ci imainken bas kibod. Ema-ka perlandek jelma pe iper-ngaruhi lagu ras langgam si mainken perkibod.

Bas situasi si bagenda, Simpe Sinulingga, ndalanken sada misi, melestariken musik tradisonal Karo. La saja alu mereken pelatihen ku piga-pi-ga kuta, tapi pe iproduksina ka kerina alat-alat musik tra-disional Karo. Mbera-mbera arah kai si bahan Simpe enda banci jadi inspirasi man banta. Adi banci, ikut lah kita mere-ken penampat tah dorongen moral gelah Simpe tetap kon-sisten bas misina e.

TAHUN SI MBARU, 2019

B

anyak cara yang ditempuh oleh Pdt Madasa Sinukaban untuk berbuat kebaikan. Se-lain melalui gerakan kebersihan, ia juga memberikan bantuan be-rupa bibit kentang merah secara gratis kepada para petani di desa Tajung Barus, Suka, Bukit dan Jeraya. Masing-masing petani mendapat antara 500 – 1000 bibit kentang merah. Aksi itu sudah di-alkukannya sejak tahun 2016. Ta-hun ini pembagian bibit kentang dilakukannya di desa Kaban.

“Bibit kentang itu adalah ha-sil dari tanaman sendiri”, ujar Pdt Masada. Awalnya ia menanam 3500 bibit dan kelebihan dari bibit

J

akarta, Katantaras. Tim Produksi film Jandi La Sur-ong dalam edarannya men-yatakan jadwal tayang gala prim-ere film tersebut diundur. Semula gala premiere direncanalan bu-lan Januari 2018 diundur men-jadi tanggal 23 Februari 2019. Priemere diadakan di Gedung Teater Mikie Holiday, Berastagi.

Penundaan itu dilakukan un-tuk mencapai kualitas terbaik untuk gambar dan suara serta proyeksi film. Untuk mencapai hasil optiomal, proses mastering

film ini yang dilakukan di Jakarta, membutuhkan waktu yang

pan-jang.

Dalam proses itu juga dilaku-kan pemilihan soundtrack bagi

seluruh lagu yang digunakan da-lam film untuk memperkuat sua-sanaKaro pada saat menonton film itu.

Film Jandi La Surong ber-dasarkan novel dengan judul yang sama, karya H, Tempel Tarigan, seorang mantan wartawan. Sep-uluh lagu dalam film JLS dian-taranya dengan judul yang sama (theme songs), digarap oleh seni-man Karo Julianus Liembeng,

dibawakan Xeane Limbeng.**

MUNDUR, JADWAL TAYANG

GALA PRIEMERE FILM

JANDI LA SURONG

Pdt Madasa Sinukaban

MEMBANTU PETANI DENGAN PEMBERIAN

BIBIT KENTANG MERAH GRATIS

itu dibagikan kepada para petani. Kemudian jumlah bibit kentang yang ditanamnya meningkat men-jadi 7500 dan kelebihan dari yang dibutuhkannya dibagikannya lagi kepada para petani. Begitulah yang dilakukan Pdt Masada, ter-us meningkatkan tanaman bibit kentangnya sehingga mencapai 10.000 dan yang dibagikannya kepada para petani menjadi 5000.

“Bibit kentang itu diberikan kepada 20 orang petani, yang se-lalu bergantian orangnya” ujarn-ya. Sekalipun hanya menjangkau 20 orang, namun pemberian bibit kentang itu cukup bermakna bagi para petani. Tujuan Pdt Masada

Sinukaban hanya untuk mengem-bangkan kentang merah.

Seperti diketahui, kentang merah masih langka di pasa-ran. Seperti dilansir detik.com, kentang merah memiliki banyak keunggulan. Salah satu man-faat yang membuatnya diincar banyak orang adalah khasiatnya yang mampu membuat kenyang lebih lama siapapun yang men-gonsumsi namun dengan jum-lah kalori yang rendah. Singkat kata, kentang merah cocok untuk orang yang sedang menjaga pola makan atau berdiet. Dan juga co-cok untuk menjaga kadar ***

Semua orang senang selfie. Sel

-fie itu sendiri adalah singkatan dari self portrait atau padanannya dalam bahasa Indonesia, swafoto. Rasanya tidak ada manusia yang tidak pernah

selfie. Hanya Nini Tudung dan Nini Bulang saja di desa yang tidak pernah melakukannya. Tapi tidak

juga. Kalau cucu mereka datng dari kota, si cucu pun mengajak mereka selfie.

Tapi jika banyak melakukan selfie, lebih dari sepuluh yang ada dalam satu frame, berarti orang itu sudah punya gangguan kesehatan mental.

Ya, tanda-tanda kelain-an psikologis ykelain-ang

dimak-sud ini dijelaskan oleh para peneliti dari Nottingham Trent University, Inggris dan Thiagarajar School of Management, India. Menurut hasil penelitian mereka, orang yang memi-liki kecanduan mengambil foto selfie

setiap hari memiliki gangguan kese-hatan mental, yaitu ‘penyakit’ yang disebut dengan nama “Selfitis”.

Selfitis adalah kondisi kelain-an mental di mkelain-ana seorkelain-ang mkelain-anusia mengalami ketergantungan berfoto

selfie dan selalu mengunggahnya ke media sosial. “Tak cuma setiap hari, tapi foto selfie yang diunggah bisa setiap jam,” ujar tim peneliti

se-bagaimana dilansir koran Inggris The Sun.

Adapun peneliti menemukan enam faktor utama yang memicu seseorang menjadi Selfitis. Pertama, penderita Selfitis kerap berfoto self-ie untuk meningkatkan rasa percaya

diri. Malah ada yang kelewat suka. Bisa lima atau sepuluh foto selfie yang diambil dalam sehari.

Kedua ingin mencari perhatian di internet, Ketiga ingin memperbai-ki mood-nya. “Kebanyakan merasa puas setelah melihat hasil foto

sel-fie mereka, mood mereka biasanya membaik,” lanjut tim peneliti.

Keempat, penderita ingin mence-tak ‘kenangan’ dari foto selfie yang diambil. Hal tersebut dilakukan supaya mereka ingat foto mereka waktu muda di saat mereka sudah be-ranjak tua nanti.

“Kelima, mereka ingin menyam-paikan ‘komunikasi’ dengan cara ber-selfie, dan ingin menjadi kom-petitif di circle sosial mereka,” tam-bah peneliti.

Hal lain yang dapat kita amati, ketika mengunjungi teman atau sa-habat yang sedang dirawat di rumah sakit, para pengunjung itu melaku-kan selfie, untuk diunggah di FB atau WAG. Yang ganjil, bila mereka melakukan selfie sementara teman yang sedang dirawat itu, hi-dungnya dipasang selang, serta peralatan medis lainnya yang memberi kesan, konsi kesehatan orang yang di-kunjungi itu sedang dalam kondisi yang serius. Tapi

sel-fie jalan terus.

Yang sulit dimengerti bagi kita, di negara-negara Barat, ada yang melakukan selfie dengan latar belakang peti jenazah nenek atau kakeknya.

Yang mengenaskan, ketika kita membaca berita tentang selfie yang berujung maut. Ada orang yang ter-peleset dari ketinggan 100 meter ke-tika melakukan selfie. Ada pria yang tewas saat mencoba mengambil selfie

dengan beruang. Masih banyak lagi peristiwa lain yang menyedihkan saat melakukan selfie. Terutama

sel-fie yang ekstrim. Seperti selfie di rel kereta api saat kereta yang melaju mendekat.

Perlu hati-hati dalam melakukan

selfie. Selain memperhatikan aspek keselamatan diri, juga menahan diri jangan sempat disangka orang secara mental sudah tidak sehat seperi dalam gambar di atas.**

(3)

K

ATANTARAS

EDISI 3, JANUARI 2018

3

Nusantara

U

ntuk menghadapi Sekutu da lam peperangan yang diper kirakan semakin gawat, pejabat tinggi militer Jepang untuk wilayah Sumatera, ingin menciptakan basis militer yang kuat di pedesaan. Yang nanti dapat dimanfaatkan bagi kepentingan militer Jepang dalam menghadapi pasukan Sekutu bila mendarat di Sumatera. Usaha kearah itu ditugaskan Letnan Inoue Tetsuro, kepala polisi di Medan yang menindas peristiwa aron*) di Deli tahun 1942. Dia juga yang menangkap Jakub Siregar dan Saleh Umar, dua tokoh radikal Gerindo yang banyak berperan dalam peristiwa pemberontakan aron itu. Pada tahun 1943 Inoue, seorang militer beraliran keras, mendirikan Taman Latihan Pemuda Tani (Talapeta) di Gunung Rintis, Deli Serdang.

Pada awalnya Inoue bermaksud mengembangkan konsep membentuk satu pusat latihan pertanian saja, untuk mengalihkan perhatian para petani Karo dari gerakan aron. Tapi kemudian berkembang dan berlaih ke tujuan yang lebih luas, yaitu tujuan militer yang dirancang secara rahasia. Yaitu mencetak kader-kader berdisiplin tinggi yang mampu menggerakkan kaum tani di Sumatera Timur kepada tujuan militer Jepang. Setelah setahun, Inoue berhasil membentuk kader yang berdisiplin teguh untuk menjadi basis yang

ideal bagi suatu perlawanan gerilya. Organisasi pertama yang didirkan Inoue dengan Jakub Siregar adalah Kaijo Jeikedan (Barisan Pertahanan Pantai).

Perkembangan perang Pasifik memaksa Jepang banyak menarik pasukannya dari Sumatera untuk dikirim bertempur di Filipina. Ke kuatan Jepang di Sumatera semakin berkurang, hanya tergantung dari Divisi Konoe-Daini di utara Sumatera dan brigade tambahan di Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan. Un tuk mengahadapi kemungkinan sera ngan Sekutu ke Sumatera, pasukan-pasukan baru untuk perang gerilya dan memobilisasi rakyat perlu dibentuk. Mereka harus dilatih secepatnya dan secara rahasia supaya penduduk tidak kehilangan kepercayaan kepada kekuatan tentara Jepang. Diatas semua itu, pasukan-pasukan itu harus mempunyai tekad perlawanan yang tidak kenal menyerah. Calon-calon yang tepat untuk pasukan yang demikian adalah unsur-unsur radikal yang sudah pernah bertindak terhadap rejim Belanda pada tahun 1942, PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) dan Gerindo.

Inoue meresmikan Kenkoikutai shintai (Barisan Pengabdi Pemba ngunan Tanah Air) dalam satu upacara rahasia pada tanggal 20 Maret 1945. Organisasi ini disusun secara militer, Inoue sebagai komandan, Jakub

Siregar sebagai wakil Komandan, Saleh Oemar sebagai kepala staf, dan lain-lain tokoh Gerindo. Tempat latihan tetap diadakan di Talapeta dan pelatihan yang diberikan satu sampai tiga bulan lamanya. Berbeda dengan pelatihan yang diterima angkatan sebelumnya yang lebih menekankan pada aspek pertanian, kelompok ini mendapat materi tentang strategi militer, disiplin milter Jepang yang keras, indoktrinasi anti Barat, dan membangkitkan rasa nasionalisme. Kepada pemimpin kelompok nasio nal radikal diberikan kelas khusus indoktrinasi.

Jumlah seluruhnya yang dilatih di Talepeta mencapai 2000 aktivis muda. Setiap kader diperintahkan untuk membentuk satu batalion terdiri dari 500 orang. Dengan cara itu secara teoritis Inoue dapat membangun satu kekuatan gerilya yang berakar pada kaum tani dan nelayan sampai sejumlah 50.000 orang. Kekuatan ini dibagi di dalam tiga seksi : Mokotai yang terutama terdiri dari pemuda-pemuda Karo, Simalungun dan Toba, beroperasi di dataran tinggi Sumatera Timur; Hiryuta untuk pertahanan pantai di daerah Asahan dan satu seksi Islam yang kecil jumlahnya Sabillillah (Jungkyotai).

Setelah Jepang menyerah kepa da Sekutu tahun 1945, kader-kader Kenkoutai shintai cerai berai. Ada yang masuk ke dalam berbagai organisasi baru, seperti Saleh Oemar mendorong lulusan-lulusan Talapeta masuk TKR. Sebagian besar masuk PRI/Pesindo (PRI = Pemuda Republik Indonesia. Pesindo = Pemuda Sosialis Indonesia). Jakub Siregar kembali membuka hubungannya dengan Inoue dan membangun kembali Mokotai yang berubah nama menjadi Barisan Harimau Liar dengan markas besar nya di Tanah Karo. Payung Bangun menjadi komandan BHL di Tanah Karo, dan Saragih Ras di Simalungun, masing-masing mewakili satu keluarga yang haknya menjadi raja

diabaikan oleh Belanda.

Pasukan BHL kebanyakan ber asal dari orang desa yang tidak berpendidikan yaitu kaum petani. Pasukan ini bersikap radikal, sesuai dengan sejarah pembentukannya di Talapeta oleh Inoue yang memang sengaja merekrut orang-orang yang tidak berpendidikan dan berjiwa radikal. Pasukan BHL terkenal tidak punya disiplin dan bengis. Tidak heran, petani berpikiran sederhana seperti mereka digembleng secara militer oleh Inoue lalu ditempa dengan indoktrinasi oleh orang sekaliber Jakoeb Siregar. Jadilah mereka barisan yang sama dengan nama pasukan itu, barisan harimau yang benar-benar liar.

Berikut catatan kecil mengenai latar belakang tokoh-tokoh BHL.

Mohammad Jakoeb Siregar, anak orang kaya di Medan, merupakan tokoh Partindo yang berpandangan radikal, anti feodalisme dan tidak percaya kepada diplomasi atau berunding dengan Belanda. Dalam buku biografinya “Dari Medan Area ke Sipirok“, Payung Bangun mengatakan perkenalannya dengan Jakoeb Siregar membuatnya melek politik. Meski tidak diceritakan panjang lebar tentang hubungan itu, namun bila dilihat dari kedekatan hubungan mereka di Talapeta dan sesudahnya dapat disimpulkan Jakoeb Siregar merupakan “guru politik“ Payung Bangun.

Siregar Ras tokoh BHL di Simalungun adalah perbapaan di Pane. Pada tahun 1923 masuk dalam dunia kejahatan selama beberapa tahun, kemudian menjadi sopir taksi. Pada tahun 1931 dia ingin menggantikan ayahnya sebagai kepala di kampungnya tapi ditolak oleh Raja Pane. Dia kemudian masuk Gerindo 1938, dan F-kikan (gerakan pro Jepang) kemudian komandan BHL di Simalungun. Pada mulanya pasukannya tidak begitu menonjol, tapi setelah pasukan ini berhasil mengumpulkan harta kekayaan dalam “revolusi sosial“ mulai berkiprah.

Karena itu, ketika Jepang menye rah kepada Sekutu, terjadi revolusi sosial di Sumatera Timur tahun 1946, dimana keluarga raja-raja dan bangswaan dibunuhi. Peristiwa itu juga menjalar ke Tanah Karo.

Revoulsi sosial berdarah di Tanah Karo baru terjadi tahun 1947, setelah tokoh-tokoh BHL Karo yang tahun 1946 dipernjarakan oleh Ngerajai Meliala, tahun 1947 dibebaskan. Bekas Mokotai yang kemudian menjadi Barisan Harimau Liar, para sejarawan menyebut tidak ada lagi yang memperhatikan garis komando yang jelas. BHL itu seperti milisi, bertindak dengan inistiasif sendiri. Banyak yang bertindak karena dendam pribadi, karena permusuhan lama, dan mereka yang dituduh bekerjasama dengan Jepang atau Belanda dihabisi. Sikap curiga mencurigai berkembang sehingga masyarakat dicekam ketakutan. Banyak orang tua jaman dulu dengan getir mengenang episode sejarah perjuangan itu mengatakan lebih kejam dari pada perang melawan Belanda. Mayat-mayat korban revolusi sosial di buang ke Lau Biang dan Lau Borus. Setelah kembali dari pengungsian selama beberapa tahun tidak ada penduduk yang mau menangkap ikan di kedua sungai itu. Seperti masih terbayang di benak mereka mayat-mayat yang dibuang (ombaken) ke sana. (S.M Ginting Suka)

*) Aron adalah organisasi rahasia petani Karo yang didirikan di daerah Deli sekitar tahun 1938

dengan tujuan merebut hak atas tanah jaluran di daerah perkebunan

yang semakin berkurang diterima penduduk. Dalam waktu singkat

gerakan aron cepat meluas tidak saja di dusun-dusun di wilayah

kesultanan tapi juga sampai di Tanah

Karo. Tindak kekerasan pertama terjadi justru di Tanah Karo, di desa Batu Karang, untuk mengambil alih tanah-tanah persawahan luas

milik beberapa raja urung kaya, lalu

menjalar ke Mardinding, dan Tiga

Nderket – gerakan itu ditumpas polisi yang didatangkan dari Kabanjahe. Kekerasan itu segera menjalar ke dusun-dusun Karo di Kesultanan Deli, terutama di Sunggal.

**) Tulisan ini bersumber dari buku Anthony Reid, Perjuangan Rakyat, Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatra, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 1987, dan Mary

Margaret Steedly, The Riffle Reports :

A Story of Indonesian Independence, University of California Press, 2013

TALAPETA, DIKLAT

BAGI KADER RADIKAL

Kilasan Sejarah

J

akarta, Katantaras. Presiden GBC (Green Business Center) yang merupakan badan dari The ASEM SMEs Eco-Innovation Cen-ter (ASEIC), Lee Jeong Soon, secara simbolis menyerahkan dana Corpo-rate Social Responsibility (CSR) dari Korea, kepada tiga koperasi asal Ka-bupaten Karo.

Dana itu diperuntukkan bagi tiga koperasi untuk pengembangan mas-yarakat Kabupaten Karo, pasca-erup-si Gunung Sinabung. Sebagaimana dijelaskan Bupati Karo Terkelin Brahmana, dana yang diterima per-wakilan koperasi akan dimanfaatkan untuk pengembangan Rumah Kopi Karo di Desa Tambusan, Kecamatan Merek, Rumah Pinta di Desa Kuala, Kecamatan Tiga Binanga, dan Ru-mah Perpustakaan di Desa Pertum-buken, Kecamatan Barus Jahe.

Penyerahan dan CSR Korea se-cara simbolis diserahkan Lee Jong Soon kepada Rumah Kopi diwakili Liasta Karo-karo, Yuni dari Rumah Pintar, dan Jusia Barus dari Rumah Perpustakaan. Dilakukan di Ruang Rapat Lantai VIl Kementerian Kop-erasi dan UKM, Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta (17/12/2018) disaksikan Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Meliadi Sembiring, Bupati Karo Terkelin Brahmana, Kepala Di-nas Pegendalian Penduduk dan KB Karo Seruan Sembiring.

Perwakilan Rumah Kopi, Lias-ta Karo-karo, mengaLias-takan, konsep Rumah Kopi Karo yang diusung agar wisatawan sebelum sampai ke Danau Toba dapat menikmati kopi asli Kabupaten Karo. “Rumah Kopi berkoordinasi dengan Kepala BPODT (Badan Pelaksana Otoritas

Danau Toba) agar setiap wisatawan yang melintas wilayah Merek menuju objek Danau Toba singgah di Rumah Kopi, untuk memperkenalkan kea-slian dan keunikan dari kopi Karo,” kata Liasta.

Turut hadir dalam serah terima CSR ini Siti Ayu Prameswari (GBC), Sapta Putra Ginting, Ph.D, Analgin Ginting, Bestari Tarigan (Perpus-takaan), Jusia Barus (Perpus(Perpus-takaan), Baltasar Taringa, SE (Koperasi Kerja Kita Karo),

Perlu diketahui, GBC yang mer-upakan badan dari ASEIC di Indo-nesia, dibentuk berdasarkan Nota Kesepahaman (MOU) antara Kemen-terian Koperasi dan UKM Indonesia dengan Kementerian UKM (SMBA) Korea. Sedangkan ASEIC sendiri dibentuk oleh Asia-Europe Meeting (ASEM) tahun 2011.** (smg)

TIGA KOPERASI KARO

TERIMA DANA CSR KOREA

Staf dan Redaksi Tabloid

K

ATANTARAS

Mengucapkan

Selamat Hari Natal

dan

Tahun Baru 2019

Kepada Segenap Pembaca

dan Simpatisan

(4)

K

ATANTARAS

EDISI 3 JANUARI 2018

4

Pa Katan

Pa Taras

Pa Katan : Mamang kal ateku sobat!

Pa Taras : Kai?

Pa Katan : Bangsanta enda seh gundari lalap denga sitahanen er-cakap kerna soal-soal si kuakap sepele. Enda kin kerna kotak suara alumunium tah plastik; rombongen ise si atan ku surga; uga peruis; uga perpangkas; uga perseluar, ras sidebanna. Kalak kuta sideban i luar negeri ngukurken uga erban HP si canggih; erban mesin otomatis gelah nukah rani juma; erban aplikasi erbinaga hasil juma melalui online; penelitian kerna ruang angkasa, ndarami planet ingan tading simbaru, ras sidebanna.

Pa Taras : Ena soal kengasupen rukur nak. Lit jelma la ngasup latih rukur. Lit ka singasup rukur kerna kai si la terukurken jelma si enterem. Jelma sibagenda nge sierbahani i babo doni enda. Kita ersoal denga soal erjanggut tah la erjanggut, seh mon-mon rubati pe kita. Kalak luar nggo ngukurken uga erban motor la padah lit rodana. Bage pagi nggo iproduksi, kita jadi tegun sinukur, simake, ras singgalari saja ngenca. Kalak si ngalo galarna.

Pa Katan : Uga maka kita nggit? Em simamang ateku e.

Pa Taras: Kita endam bangsa si nggo kena santo, kena tama-tama nak. Ibahan me rusur soal gelah kita rubati kerna soal-soal sepele, meriah ka siakap piah ersoal ka kita sapih-sapih kita. Kalak dauh nggo erbahan pesawat penumpang ku planet sideban, erban teknologi perang online, ras sidebanna. Enda kerina la banci mobah, adi la kin kita seh ku kerina pejabat pemerintah sedar, maka kita nggo ndauh ketadingen.

Pa Katan: Kai dage perlu siban?

Pa Taras: Adi si sekolahken anak, ula gelah dat ijasah saja, terlebih nggalar pe kita nggit gelah nggo dat ijasah. Tapi, si jemba anak-anak gelah nggit ngukurken karya si lenga lit iban kalak. Ula nari sipedah-pedahi rusur anak alu ngataken: “Adi kami mbarenda, ...!”

Kuakap enggo perlu ninta man anak-anakta: “Ban nakku, si lenga iban kalak, inovatif nina kin, gelah kalak mehangke tare kita!” Anak-anakta nari ngenca arapenta. Adi kita enda nggo “afkir” nak!!! Ibarat motor ndai, enggo jadahen gregos.

Pa Katan: Payo kel katam e nak…eggo arus si ubah caranta rukur….perubahen mindset nina kubegi sekalak guru SMA asum ia koyok-koyok ras teman-temana sapih guru sekolah i kede kopi Pa Gulame.

Robinson Sembiring

“BANGSA KENA SANTO”

TAWA

RAS

TAWA

MELEMUK BAGI KETADU

“Asakai rega manuk Bengkila”? nungkun Bajing man perbinaga manuk.

“Man kadem ka nungkun rega manuk” ?

“Suruh nande aku ndayaken manuk....”

“Lima puluh ribu, baba ku jenda manukna”.

La ndekahsa, mintes reh Bajing mbaba manuk buganna. Perbi-naga manuk pe minter ka bere-kenna senna.

“Uga maka 40 ribu ngenca Kila, ndai 50 nindu” ?

“Ena pe enggo bujur adi ma-nuk tangkoon..., pala kataken kin man bapandu.., gelah kam i gudamna ...“!??

“Kataken to...., aku gia ma banci kang kulaporken man bibi..., ise singuda nguda si boncengndu nderbih...” ???

Ih, kam pe permen..., jagar-jagar pe minter kang kam merawa...., enda kurangna sendundu ndai..” , nina si Bengkila rempet melemuk bagi ketadu.

BAJING RULAH

“O, Bajing, Uga ka maka bagi jel-ma kuidah anak kambingta e, la lah bekasmu rulah ka e” ?

“Lang pa Tengah...”

“Lang, lang, nim..., seri kuidah in-cumu ena ras incum kambing e.... Kueteh nge, enget ka nge tabun-mu e mei “?

“Lang ningkalak, la kam tek !!

Kencing saja nge aku sange, enca surut-surut kambing e kem-pak aku...”

“Bajiiiing...legi laya e kal ko daaa!!!

SALAH PAHAM

Seorang bule, istri pegawai kedutaan asing yang baru beber-apa bulan menetap di Indonesia, memasuki salah satu Bank. pegawai Resepsionis menyong-song ke pe pintu sambil mengu-capkan selamat datang.

“Apakah saya boleh dapat seo-rang pembantu disini“ ? katan-ya terbata bata sambil melihat kamus di HPnya

“Oh, ya, miss, saya dapat mem-bantu anda”, sahut pegawai bank dengan sok yakin.

“Oh, good, anda sendiri tersedia “ ?? kata si bule sambil mengamati pegawai bank dari kepala sampai ke kaki...dan merasa sesuai sel-eranya.

“Ada yang bisa saya bantu ?” tan-ya resepsionis memperjelas “Ya, saya ada perlu seorang untuk membantu saya di rumah, anda bersedia”? tanya sibule mengira

Foto Sejarah. Endam situasi kuta Seberaya asum jaman Belan-da nai . Ruamah aBelan-dat lengkap denga. TeriBelan-dah piga-piga pernan-den kundul bas ture. Banci jadi pernanpernan-den e paksa ercakap-cakap

Foto : Koleksi Tropen Museum, Belanda

kerna sada tah dua kalak Belanda si paksa tedis motret janah takalna itutupi alu kain mbiring. Jelas kal teridah or-namen tumah si waluh jabu e seh kak jilena.

FOTO SIADI

GBKP PERPULUNGEN MAKASSAR

dan

PERPULUNGEN MERGA SILIMA MAKASSAR

Mengucapkan

Selamat Hari Natal

dan

Tahun Baru 2019

Kepada Redaksi dan Staf Tabloid KATANTARAS

SEMOGA TERUS MAJU

DAN SELALU ADA DI HATI MASYARAKAT KARO

si reseptionis dalah calon pem-bantu.

“Ini office bank miss..., bukan

agen pembantu !! sahut reseptio-nis ketus....

Ternyata tulisan BANK CABANG PEMBANTU yang ada di depan disangka si Bule adalah agen pembantu.

Bajing si paksana numpang ngadem ibas bank e jadi cirem-cirem. “Ih, bali kap longorna bibi enda ras aku ate Bajing bas ukur-na”.

MAMA SI PAIS

Bajing : O, Ma, lit kang idahndu lowongen ?

Mamana : Man ise kin ?

Bajing : Aku ma, lalap ladat.

Mamana : Ih, bulan si lewat mind-ai kam reh lit nge si perlu.

Bajing : Bulan si lewat gia mei kuorati nge kam Ma!?

Mama : Eh, sope si e ka mak-sudku…

Bajing : Emh, mama si Pais ndai ngenda tuhu..nina bas akurna, la ia pang melaskenca.

JUMPA DIBERU MEJILE Bajing besuk temanna si paksa-na sakit. Perban la enggo ku ru-mah sakit janah mela nungkun, enggo papak ia. Aturna nulih nu-lih, idahna sekalak diberu. Mejile. Minter deherina. Lenga sempat nungkun, minter ka ciremi di-beru ndai ia. “Oh, enda me bagi menci ndabuh ku cimpa ningen e ari..” nina Bajing bas ukurna. “Kok senyum aja dek..,” nina Bajing, pekerina kal gayana... “Abis abang ganteng sih..” Enggo gurupuh kal perdegup-na jantung Bajing. Dudurkenperdegup-na tanna gelah kenalen.

“Rina..Rina.., ngapain disitu, ayo masuk !! nina suster erle-buh, janah minter teguna diberu ndai ku bas ruangen.

“Maaf ya, Adik engga baca itu kata suster sambil menunjuk tulisan : Dilarang Masuk Per-awatan Orang Stress Tanpa Ijin. “Iooohhh...mate menda nanam-na, sambar kepe sireh e, nina Bajing jungut jungut bas ukur-na”.

(5)

K

ATANTARAS

EDISI 3, JANUARI 2018

5

Marsa Barus

KELIGENNEN PUSUH

Tempa ernipi Tapi la tunduh

Tempa kiam bagi harimau Tapi erdalan bagi keong Terdaram kel aku. Tapi la kebenen Tersungkun kel pusuh

Uga maka bagenda kel jadina Kam kel ndube sikuarapken Kam kel ndube si ibas pusuhku La kepe aku punana

Kam enggo lawes ras si deban Getem merampek pusuh si kubaba Mengogo mesui penadingkenndu Kai kel nge dosaku ....

Salah ras lepakku?... Adi gargari pe pusuku

Asa gundari pe kam denga lalap Enggo gia bage perbahanendu Tapi pusuhku lalap terligen nandangi kam

Bujur, bujurmelala

Enggo kam singgah bas pusuhku Aminna gia ceda ate ras iluh nge sitadingkendu

La kumorahi... Marsa Barus

SEDAK…

Ibas aku rate ngena Ibas aku rate tutus

Ije kang ate keleng e ndauh Ije kang aku tangis teriluh Jumpa ras ate ngena Jumpa ka ras ate aru Jumpa kita duana

Jumpa kam ras saingenku Sedak Pusuhku

Sedak agingku Sedak perbahanendu

Seh kel sedakna nepcep kupusuh

HartaPinem

Gebyar Suara

Untuk siapakah gebyar suara ini Semua dihadirkan di aula Hotel Nuan-sa Pekanbaru

Malam kian bergemuruh

Ditambah musik karaoke di gedung sebelah

Inikah pergulan manusia menjelang-maut tiba

Sementara Dita dan Widyawati asyik-bicara tentang pergulatan

Hari esok

Sepulang menonton pertunjukan AB-CD-nya musik masa kini

Kita tiduran di ranjang sunyi

Mengenang Chairil dan Raja Ali Haji Gurindam itu kekasih bisakah me-nenangkan kita

Puisi-puisi luka itu dapatkah kita cerna lagi di sini

Kabarkanlah semua rindu ini pada Koran pagi

Aku tak punya kekuatan menahan sakit

Jika esok kita harus pulang

Semoga kenangan manis jadi ingatan sampai nanti

Medan, 2005

Puisi Natal

Harta Pinem

Natal adalah gebyar rindu

adalah warna-warni sinar kemerlap di hatiku

adalah cinta berpendar rasa halimun-berlaksa jiwa

adalah kesaksian iman kepadaMu yang esa

Pasca Menurunnya Aktivitas Gunung Sinabung

Pariwisata Karo Meningkat

Kabanjahe –Katantaras.

T

ingkat kunjungan

wisa-tawan ke Kabupaten

Karo, dalam beberapa

bulan terakhir terus meningkat,

menyusul menurunnya

akti-vitas Gunung Sinabung sejak

Februari 2018 serta dibukanya

ka-wasan wisata baru di Kecamatan

Merek, seperti dilansir dari Antara.

Menurut Kepala Dinas

Pari-wisata Kabupaten Karo, Mulia

Barus, berdasarkan data

ter-akhir tercatat 700 ribu lebih

wisatawan yang telah

berkun-jung baik itu domestik maupun

mancanegara ke Tanah Karo.

Jumlah ini mengalami

pening-katan sekitar 30 persen

diband-ingkan tahun lalu.

“Kita berharap dan yakin

angka itu akan terus meningkat

hingga akhir tahun dengan

tam-bahan 10 persen lagi,” katanya.

Menurut Mulia,

meningkatn-ya kunjungan wisatawan pada

tahun ini di Tanah Karo tidak

terlepas dari peran serta pelaku

wisata, salah satunya oleh

Ta-man Simalem Resort.

Sebab, Taman Simalem

Resort terus mengembangkan

potensi-potensi wisata baru

dengan bekerja sama dengan

pemerintah daerah dan

mas-yarakat. Bahkan, Taman

Si-malem Resort telah mendapat

penghargaan Indonesian

Suita-inable Tourism Award (ISTA),

yang menduduki peringkat

kedua setelah Bali pada

ta-hun 2017 dan tata-hun 2018 juga

mendapat penghargaan sebagai

Pamong Wisata Berkelanjutan.

“Apa yang telah diperbuat

Taman Simalem Resort patut

dicontoh, karena mereka

mem-benahi wilayah Karo tanpa

merusak, sehingga dapat

dira-sakan oleh generasi yang akan

datang. Taman Simalem Resort

menggabungkan sektor

pari-wisata dengan pertanian, yaitu

agrowisata dan ecowisata,”

ka-tanya.

Salah satu destinasi

wisa-ta baru di Karo yang terus

dibenahi, jelas Mulia

yak-ni beberapa desa di kawasan

Kecamatan Merek, seperti

Desa Dokan yang dijadikan

wisata budaya kearifan lokal.

Desa itu juga dikembangkan

sektor pertaniannya dengan

sistem organik, dimana

kelom-pok tani diberikan pelatihan

dan pembekalan untuk

mener-apkannya. Hasil dari pertanian

organik bisa dijadikan buah

tangan oleh para wisatawan

dan bahkan disuplai ke

beber-apa kabupaten/kota di Sumut

hingga ke provinsi lain.

“Selain Desa Dokan, Desa

Pangambaten, Desa Tongging,

Desa Regaji dan Desa Mulia

Rakyat, juga dikembangkan

tanaman organik. Di sisi lain,

Air Terjun Sipiso-piso di Desa

Tongging dikembangkan untuk

menampilkan atraksi budaya

dan tempat souvenir yang

diba-ngun serta paket edukasi

perta-nian,” katanya.***

Ibu Lucia Sriati, ibunda pebulutangkis Indonesia Anthony Sinisuka Ginting, menyambut gembira kehdiran tabloid Karo Katantaras yang dalam edisi perdana memilih putranya Anthony Sinisuka Ginting sebagai berita utama. Waktu itu Anthony baru saja menjadi juara dunia di Cina Terbuka 2018 dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, termasuk masyarakat Karo. Sebagai ibu jelas Ibu Lucia memainkan peran penting dalam perjalanan karir Antho-ny di dunia bulutangkis yang semakin kompetitif.

Foto Grace Sinulingga

Simson Ginting

REKUIEM PERIK LA RASAR

Kabang kidaram niar-niar langit meganjang Latih kabang lanai kal lit inganku mulih Andiko kendit si mbelang si mesuni Lalit ingan ngampeken ukur latih

Kudaram-darami buah barangku si megara rupa Ku turiken ateku man bana turi-turin kekelengen Ku endeken ateku pasu-pasu lampas mbelin Gia nggeluh latih ula min lampas terlolah-lolah Paguhlah min bagi empungna si rajawali Sorana erciak-ciak ngerimpuken pusuhku

Kudarami bulung-bulung muniken ate mesui Jumpa enterem jelma mersan kapak mbelin si erndilap

“Tabah, tabah, kerina tabah, ula lit sitading” nina alu sora nergang

Aah oleee, aah oleee, sorana rende seh ku deleng-deleng

Sora pusuhku tangis gedang wari lalit si ndengkehsa

Andiko, langit si meganjang Labuh ras keri kal gegehku

Andiko, buah barangku si megara rupa Alo-alondu aku anakku bagi gelgel teptep mulih aku

W 19.07.03

L E G O

Nono sisada I sapo ku dakep ateku tedeh

I embus surdam sorana seh ku langit Tapi la nggit langit nuriken kerehena Angin mentas la melasken kata Ku cakap-cakapi percibal geluh ni baba

Erlebuh-lebuh aku ku empat suki taneh si lino

Ku kepultaken ras ku kesunduten aku erdilo

Sora ku mulihken ngerigep aku Nono sisada I sapo tertande ku bina-nguna si mumuk

Sora surdam salih jadi kesi kesi

Ngarap-ngarap gembura mata jadi meremang

Si atekutedeh awihna lalap la teridah

(6)

K

ATANTARAS

EDISI 3 JANUARI 2018

6

SKETSA RUMAH SI WALUH JABU

KARYA TIGA PELUKIS NON-KARO

M

enurut Affandi, sketsa itu seumpama puisi. Kata-ka-tanya pilihan dan indah. Jika dalam sketsa garisnya he-mat, tidak seperti ilustrasi yang terlalu detil. Sketsa yang baik, bisa kita lihat garisnya yang len-tur, pas dan hidup. Selain itu juga bagus penempatannya – propor-sional. Dan tangan-tangan yang lentur, lemas, goresan-goresann-ya akan terlihat luwes dan indah. Goresan-goresannya bisa jadi penuntun imaginasi penikmatnya. Biasanya, penikmatnya akan ber-lama- lama memandanginya.

Affandi pernah mengatakan kepada beberapa pemuda calon pelukis di Medan, untuk menjadi pelukis yang hebat, perlu seorang calon pelukis hebat biasanya dia matangkan dulu pelajaran awal-nya. Yaitu sketsa. Kematangan membuat sketsa seorang calon pelukis besar akan lebih sabar, teliti dan lebih hidup karya-kary-anya.

Mengingat lukisan sketsa mengandung keindahan tersendi-ri, maka nerikut ini disajikan 3 buah sketsa rumah si waluh jabu, karya 3 orang pelukis non-Karo. Mudah-mudahan pembaca bisa menikmatinya, Yang pertama berjudul “Rumah Adat Tradisional di Kampung Karo “ (1997) karya seni sketsa alm Oncot Moeliyo-no, pelukis kelahiran Aceh tahun 1957. Yang kedua sketsa Syam-sul Bahri bejudul Rumah Adat Karo (1984). Yang ketiga sebuah desa Karo, sketsa Richard Paul

Max Fleischer (pelukis Jerman). Jika penari bercerita dengan gerak seluruh anggota badannya, termasuk kerling dan senyumn-ya dan sastrawan akan bercerita dengan kepandaiannya menyusun

sapuan kwasnya seolah-olah hid-up. Berjiwa. Bisa menggetarkan jiwa pemirsanya.” Tambah Afandi dengan senyum tuanya

Menurut Affandi sketsa itu puisi. Kata-katanya pilihan dan

adalah lokasi-lokasi yang ikonik. Bangunan-bangunan kuno, pan-orama destinasi

wisata atau obyek tentang peri kehidupan sekitar misaln-ya. Penonton akan lebih muda menikmatinya. Ada ungkapan bi-jaksana yang mngatakan bahwa sketsa itu sebuah ekspresi intuisi yang penuh estetika. “ Sepanjang jalan Malioboro, baik siang

mau-pun malam, bisa disaksikan orang yang sedang nyekets. Setiap hari. “tambah Affandi.“ Sebaiknya, jika kalian pameran – sertakan juga sletsa- sketsa sekalian. Biar kolektor tahu. Karena kolektor juga kadang pandai menilai. Ke-cuali kalian sudah punya nama. He he he.” Sosok Afandi yang se-derhana dan sangat bersahabat dengan siapapun, sungguh profil maestro yang karismatik.

“Rumah Adat Tradisional di Kampung Karo “ (1997) karya seni sketsa alm Oncot Moeliyono,

Sketsa Rumah Adat Karo karya Syamsul Bahri (1984). Sketsa Desa Karo karya Richard Paul Max Fleischer (pelukis Jerman).

kata, pelukis akan bercerita dengan goresan, sapuan kwas dan kepandaiannya mencampur warna di atas medianya, kata Af-fandi..

“Kuncinya, banyak-banyak membuat skets, tentang apa saja. Setiap hari. Ceritanya, pelukis-pe-lukis China, dia pandangi dan re-nungi berlama- lama apa yang dia pilih jadi obyeknya. Setelah puas dan ‘kena’ barulah dia gore-skan pena atau kuwasnya den-gan mata batinnya. Goresan atau

indah. Jika dalam skets garisnya hemat, tidak seperti ilustrasi yang terlalu detil. Sketsa yang baik, bisa kita lihat garisnya yang len-tur, pas dan hidup. Selain itu juga bagus penempatannya –propor-sional. Dan tangan-tangan yang lentur, lemas, goresan-goresann-ya akan terlihat luwes dan indah. Goresan-goresannya bisa jadi penuntun imaginasi penikmatnya. Biasanya, penikmatnya akan ber-lama- lama memandangi.

Apa lagi jika obyek sketsanya

TUAN RHODA,

Enda aku Reh ku Belanda...

Cerpen

A

min gia enggo lit mesin penggil-ing page i kuta kami, tapi labo mis anak kuta nggit nggiling pagena ku kilang page kami. Mbue denga per-nanden si nutu page bas lesung. “Tabe-hen nanam beras tutu e asangken giling ku kilang”, nina piga- piga pernanden ku begi ngerana. Tahun 1949, kilang page kami me sipemena lit ibas belang-belang kuta i Daerah Karo Dusun seki-tarna. Erkiteken bapa biasa erbinaga ku Delitua ras Medan, emaka naluri bisnis-na pe turah erbahan mesin penggiling page i kuta. Tek bapa maka mesin peng-giling page e pasti jadi kebutuhen man rayat si rulo. Payo, dua tahun litna mesin penggiling e, enggo lanai lit si nutu page berngi. Menam kerina kuta-kuta sekitar mbaba pagena i giling mesin penggil-ing page kami. Lit deba sinjujung, lit ka kuta sideban nari enggo er-lereng. Mes-in penggilMes-ing bapa e, eme mesMes-in bekas sini itukur ibas Tuan Rhoda nari. Sekalak Belanda si pernah tading i piga-piga kuta i Daerah Karo Dusun. Nina bapa ia per-nah erdahin i Deli Batavia Maats, Su-matra’s Oostkust, pernah ka i Ottzen & Mac Intijre, Serdang Plantation, bagepe terakhir i perusahaan Kereta api. Labo kuangkai kel kerina e, tapi si kueteh

paksa e maka Belanda eme penjajah. Tapi man bangku Tuan Rhoda sitik pe lalit bagi penjajah. Erkiteken megati nge ia reh ku kuta kami erbual-bual, tawa-tawa meriah ras bapa.

Situhuna merincuh kel aku ngerana ras ia, tapi mbiar aku ncampuri urusen bapa ras ia, terlebih aku pe anak-anak denga. Labo aku mbiar erkiteken dagingna mbes-tang janah igungna pe nggedang. Tapi lit ka tempa perasaan lebih rendah sebage ka-lak terjajah. Enda kerina erkiteken kubegi rusur penuri-nuriken nini bagepe nande man bangku kerna uga kin kalak Belanda sedekah enda njajah kalak Karo. Bagepe aku sendiri tupung kitik denga pernah ngenanami uga ngungsi sangana Agressi Belanda Pasca Proklamasi 1945. Tiap ken-ca ia ku kuta, ndauh-ndauh nari ia kutat-ap. Lit perasaan nembeh, tapi pemetehna luar biasa ka man bangku, erkiteken ceda kenca rusur mesin page kami, ia ngenca beluh pekenasa. Guru Mbelin si lit i kutaku pe la beluh pekenasa. Emaka turah ibas pusuhku rasa kagum campur ras nembeh ate. “Adi perjatina taneh Karo Dusun enda, ugape denggo arus ka kudedeh taneh Be-landa”, nina ibas ukurku.

Amin gia Indonesia enggo merdeka, tapi Tuan Rhoda tetap tading i Medan.

Ke-peken ia ahli ibas mesin. Erkiteken langa piga kalak Indonesia si beluh teknisi kereta api, emaka Kereta Api tinading Belanda e me ia erdahin. Teknisi sekaligus sebagai pengelola. Emaka adi masalah kenca mes-in page kami, ia tetap dahi bapa. Nmes-ina bapa man bangku, erkiteken enggo merdeka, pernah ipindo gelah kaum pribumi saja si-mengelola kereta api e. Nina Tuan Rhoda man kalak si mindo e, “Lit kari waktuna, er-lajarlah kena lebe, adi gundari langa bo kena

ngasup, la hanya masalah teknis, tapi pe sideban..”. Emaka igus-gusken Tuan Rhoda me bajuna si mbentar e ku gerbong kereta api. Emaka tuduhkenna man jel-ma si pulung ije, sitik pe la melket. “Eng-go kena pagi ngasup bage, e eng“Eng-go banci kena mengelolasa. Perlu ate tutus ras pro-fesional”, nina.

Setahun berikutna, mulih me Tuan

Rhoda ku kutana Belanda. Sebulan ope ia mulih enggo iajarina bapa kerna me-sin page e. Emaka bicara lit pe ceda adi la parah-parahsa, enggo me beluh bapa pesikapsa. Erkiteken kueteh ia nangdan-gi mulih ku Belanda, emaka ku pepang me ndeheri ia. “Ise enda?”, nina man bapa. Ikataken bapa aku anakna singu-da. “Mejile kel anakndu e.. uga akapndu bicara kubaba ku Belanda, aku nekolah-kenca jah. Lebih terjamin kuakap masa depanna.. kune tedeh pagi atendu banci ka nge kam reh ku Belanda, entah pe adi ijinken Tuhan denga pagi banci denga pagi aku ku Karo Dusun enda ras ia..”, nina Tuan Rhoda. “Ise gelarndu?’, nina janah ndakep aku. Lakujawab erkitek-en biarku babana ku Belanda. Kerkitek-enca enggo kataken bapa man bana, maka la berena aku ikut ras Tuan Rhoda, je maka enggo bas aku kuakap kesahku. Ope ia nadingken kami, ergambar me kami ibas Mesin Penggiling page e. Nini ras nande pe ikut ka potretna. Emaka piga-piga anak kuta sier-abit das denga pe potretina. Entah lit gambarna entah lang labo kueteh, tapi tek aku maka gambarku pasti enggo baba Tuan Rho-da ku BelanRho-da.

Keberkaten Tuan Rhoda ku Belanda nambah semangat man bangku gelah la gia pagi kujajah ka kalak Belanda, kud-edeh saja gia pagi tanehna enggo me malem ukurku. Adi ate Tuhan denga pagi jumpa, mbera-mbera jumpa denga ras tuan Rhoda, entahpe sinurusrna gelah banci pagi kuidah fotoku ras ia tupung ibas mesin penggiling page bapa.

(7)

K

ATANTARAS

EDISI 3, JANUARI 2018

7

Pinta Pinta

Ola singet aku nari Ola ku tenahken pepagi Sope lenga terang wari Tekuak manuk merari Ola lolah lolah turang Dahilah dahindu mesayang Gia kita enggo ndauh sirang Pekepar lawitna si mbelang Ola atendu aru turang Gia sirang si kita lebe Kena nge pinta-pintaku jine Bagem dage

Bagem lebe

Ola lolah lolah turang Gia kam bas sapo terulang Tatap pagi ku bulan meganjang Ngataken arih-arihta labo sirang Ola atendu aru turang

Gia sirang si kita lebe Kena nge pinta-pintaku jine Bagem dage

Bagem lebe (Djaga Depari)

P

aling tidak ada 4 lagu karya Djaga Depari yang menurut hemat saya, baik dari segi melodi maupun syair, merupakan karya monumental dari komponis besar itu. Yakni Piso Surit, Sora Midoido, Si Mulih Karaben dan Pinta Pinta. Keempatnya menjadi klasik, disukai tua muda dari generasi ke generasi dan menjadi lagu pujaan banyak orang. Konon seorang tokoh politik pelarian di luar negeri, sebelum meninggal di Belanda, dia memberikan wasiat lisan kepada isterinya, bila kelak dia meninggal agar di depan jenazahnya dinyanyikan lagu “Pinta-Pinta”.

Dari segi syair “Pinta Pinta” mencerminkan komitmen yang kuat terhadap sebuah cita-cita. Ada tekad yang membara. Meskipun hal itu tidak terungkap secara eksplisit, namun sangat terasa menjiwai syair lagu itu. Berbeda dengan spirit yang tercermin dalam lirik lagu-lagu yang lain yang juga tersohor. Seperti “Piso Surit” dan “Pio Pio” misalnya, berbicara tentang

kerinduan yang tidak kesampaian, soal nasib malang, rasa kesepian karena sang kekasih (melambangkan sesuatu) tidak memberikan tanggapan (bersikap dingin). Sedangkan lirik “Pinta-Pinta” melukiskan hal yang sebaliknya. Si “aku” meminta, dia yang bertindak, mengambil inisiatif, agar sang kekasih tidak mengenang dirinya. Apalagi memintanya untuk kembali (Ula singet aku nari/Ula ku tenahken pepagi) seperti ditekankan pada larik pertama dan kedua.

Sampai disini, kita menemukan dua kalimat negatif berisi larangan : jangan. Jangan lakukan ini dan jangan lakukan itu. Ada kesan angkuh atau setidaknya mencerminkan sosok pribadi yang kokoh. Seperti puisi Chairil Anwar “Aku“, tidak perlu sedu sedan itu, katanya menampik sentimentalitas manusia dalam meng hadapi maut (kodrat kematian).

Tapi apakah memang demikian? Ternyata untuk bisa memukan makna yang utuh harus dilihat larik yang selanjutnya : Sope lenga terang wari/Tekuak manuk merari. Sebelum fajar menyingsing dan ayam berkokok bersahut-sahutan, jangan kau kenang diriku, jangan pula memintaku untuk kembali atau pulang. Itulah yang menjadi konteks dari larik pertama dan kedua tadi. Inilah kunci untuk memahami isi keseluruhan lirik lagu tsb.

Simbol fajar

Bila demikian maka kata fajar tampak menjadi syarat mutlak atau menjadi prinsip si aku. Sebelum fajar tiba, si kekasih tidak perlu mengenang dirinya. Lupakan aku sayang. Hapus saja aku dari ingatanmu. Tak ada gunanya kau kenang diriku, begitu kira-kira Djaga Depari berkata. Kalau si aku meminta kepada kekasihnya untuk menghapus dirinya dari dalam ingatannya, itu artinya menghapus eksistensinya dalam hubungan mereka berdua. Dia menjadi bagian dari ketiadaan selama fajar itu belum menyingsing.

Sungguh tekad yang sangat kuat. Bila demikian, apa yang dimaksudkan Djaga Depari dengan ungkapan fajar menyingsing dan ayam

berkokok (menekankan pada suasana fajar), Sope lenga terang wari/Tekuak manuk merari, sehingga menjadi syarat utama dalam hubungan mereka? Artinya, kalau fajar tidak menyingsing maka mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Si aku tidak akan pernah kembali. Konsekwensinya, hubungan itu akan selesai dengan begitu saja, tanpa bekas, tanpa kenangan, dan tanpa makna.

Secara alamiah, fajar menandai pergantian hari, hari yang baru. Suara ayam berkokok dimana-mana (merari), bersahut-sahutan, ada dinamika, merupakan “musik alami” dalam menyambut datangnya hari yang baru. Bila Fajar datang maka kegelapan malam berlalu dan tibalah hari yang baru.

Fajar tentu menjadi simbol dari sebuah cita-cita. Sesuatu yang dianggap ideal setelah keadaan buruk (kegelapan dilambangkan dengan malam) berlalu. Tapi sebelum hal itu terwujud, sebelum fajar tiba, dirinya tidak punya arti apa-apa sehingga tidak perlu atau tidak layak dikenang.

Obesesi

Bila kita amati keseluruhan dari lirik lagu “Pinta Pinta“, tampak sturkturnya sebagai berikut. Bait 1 berisi komitmen si tokoh dengan tekadnya yang membaja, Ola singet aku nari/Ola ku tenahken pepagi/ Sope lenga terang wari/Tekuak manuk merari. Dalam bait ke 2, si tokoh mulai memberikan perhatian kepada sang kekasih dengan lemah lembut dan penuh dengan kasih sayang :Ola lolah-lolah turang/ Dahilah dahindu mesayang/Gia kita enggo ndauh sirang/Pekepar lawitna si mbelang/Ola atendu aru turang.

Si aku memberikan dorongan moril kepada sang kekasih. Kendati mereka berpisah, si aku berada di seberang lautan, di perantauan, di medan juang, dia meminta kepada kekasihnya agar tidak larut dalam lamunan dan tenggelam dalam kesedihan sampai pekerjaannya terbengkalai.

Ternyata sekalipun mereka berjauhan, tidak berarti hilang dari pandangan hilang pula di hati seperti sering terjadi di era modern ini.

Melainkan hanya sang kekasih saja yang senantiasa menjadi dambaan hidupnya. Gia kita sirang lebe/Kena nge pinta-pintaku jine, ujarnya. Pinta-pinta adalah sesuatu yang menjadi idaman hati.Menjadi Obsesi. Menjadi bagian dari hidupnya. Apapun yang dilakukannya, segala perjuangannya, mengarah kepada sang kekasih. Karena memang sang kekasih selalu dalam pikirannya.

Kemudian pada bait ke 3 ada kata kunci yang perlu mendapat perhatian kita yaitu larik Gia kam bas sapo terulang. Terulang artinya sesuatu yang terlantar, tidak dipergunakan lagi sehingga keadaannya tidak terurus. Sapo, tempat sementara. Bisa juga sebelum rumah selesai dibangun, untuk sementara orang membuat sapo-sapo sebagai tempat tinggal sementara. Sapo terulang simbol dari tempat tinggal sementara yang buruk dimana sang kekasih hidup/berada. Biarpun dalam keadaan seperti itu, dia minta sang kekasih tidak larut dalam lamunan atau hilang pikiran. Bila sang kekasih larut dalam kesedihannya, diminta agar dia menatap bulan di langit sebagai bukti bahwa janji yang telah mereka ikrarkan berdua tidak akan pernah luntur. Jadi, janganlah kau bersedih dik, bisik si aku dari tempat yang jauh, pekepar lawitna si mbelang. Jarak yang jauh hendaknya jangan dilihat dari segi geografis, soalnya bisa juga berarti jarak psikologis. Ndeher tempa tapi la terjaka.

Saya teringat akan kisah Abraham dalam Kitab Perjanjian Lama. Ketika hatinya mulai ragu-ragu akan janji Allah, Tuhan meminta kepada Abraham untuk pergi ke luar dari tendanya dan memandang bintang-bintang di langit.Itulah tanda dari janjiKu kepadamu Abraham, berkata Tuhan. Sejak itu, manakala hati Abraham diliputi keragu-raguan, ia pun memandang bintang-bintang di langit lalu hatinya pun menjadi kuat kembali menanti-nantikan janji agung tersebut.

Hal seperti itu pula tampaknya yang diminta oleh si aku kepada kekasihnya. Memandang bulan di langit, itulah

tanda komitmen akan janji yang telah dicanangkannya. Mereka pasti bersatu, karena fajar yang dinanti-nantikan itu pasti menyingsing. Tinggal soal waktu saja. Itulah pancaran optimisme yang tersirat dalam syair lagu itu.

Multi tafsir

Seperti kita ketahui, kekuatan sebuah puisi terletak pada isinya yang bersifat multi tafsir. Apa sebenarnya makna keseluruhan lirik lagu “Pinta-Pinta”? Tidak dapat diterangkan dengan tuntas tanpa menerobos masuk ke dunia imajaniasi orang lain. Masing-masing orang menafsirkan dan merasakan getarannya secara sendiri-sendiri. Tidak ada yang seragam. Karena itu, puisi dapat berbicara kepada setiap individu dengan isi dan kadar keindahan yang berbeda-beda dan unik.

Sekarang masih tersisa dua buah pertanyaan kunci yang belum kita kupas. Pertama, kita mengerti

kata fajar melambangkan sebuah

cita-cita. Tapi cita-cita tentang apa? Kedua, siapa yang dimaksudkan sebagai “kekasih“ yang disapa oleh si aku dengan penuh kasih sayang itu, yang hidupnya berada dalam situasi yang serba tidak terurus, gia kam bas sapo terulang, melambangkan

keadaan yang serba susah itu? Apakah benar-benar seorang gadis atau itu lambang dari sesuatu yang lebih luas?

Terserah kepada penafasiran kita masing-masing. Menikmati sebuah puisi pada hakekatnya merupakan sebuah pertemuan rahasia antara pembaca dengan si pencipta. Dalam hal ini pertemuan antara kita dengan Djaga Depari. Saya tidak bermaksud menggiring orang lain masuk ke bilik pertemuan saya dengan Djaga Depari. Kita mempunyai bilik pertemuan masing-masing. Di dalam bilik itulah terasa betapa Djaga Depari merupakan seorang penyair Karo yang luar biasa. Sayang sekali, sampai hari ini pengharagaan kita kepadanya belum setara dengan rasa kagum kita itu. Penghargaan itu masih bersifat artifisial, belum substansial.**Kota W 22092006

KOMITMEN SEORANG LAKI-LAKI SEJATI

(8)

K

ATANTARAS

EDISI 3 JANUARI 2018

8

K

E

DENTARAS

La

B

anci

NGE

B

o

n

GOBANG SAMBAR

KADE-KADE

S

ore itu langit cerah. Warung kopi reot itu berubah fungsi menjadi forum di-skusi politik yang cukup berbobot. Pasalnya, dua pengamat politik lokal, Drs. Tangkudung Colia M.A dan Drs. Germet Purba MA, mampir disana. Mereka baru saja menghadiri seminar yang diselengga-rakan oleh pemuda gereja bertajuk “Poli-tik Uang Dalam Pemilu dan Pileg di Tanah Karo”. Bebe rapa langganan Kedentaras, dua orang guru SMA “Pedas Beluh”, dua pemain catur profesional (artinya, mereka cari makan lewat papan catur), ikut nim-brung mendengarkan pendapat kedua pa-kar itu. Sebagai pemain catur profesion-al sudah barang tentu urat takprofesion-al mereka gedang, mendekati gedang-nya urat takal politikus.

Para pemegang saham Kedentras mengikuti jalannya diskusi dari seberang meja mereka dengan penuh minat. Mereka tertarik pada isu politik uang yang tengah marak. Berkembang seperti kanker. Tapi bagi mereka, jauh lebih penting soal uang masuk hari itu; permintaan kopi dan roti hi-tam dalam terus mengalir sejalan dengan menghangatnya diskusi.

“Emaka, bas politik jaman gundari e, la-nai bo lit kade-kade” berkata Drs. Tangku-dung dengan perasaan kecewa. “Kade-kade ndu pe lanai bo milih kam adi la kin lit serpi”

“Ihh, enggo kap mejin jelma ndai ker-ina adi bage! Man sogoken kerker-ina.” Kali ini yang buka suara Rokker Tarigan, salah seorang pemain catur profesional di daer-ah itu. “Adi kami enda ndarami serpi alu adu otak, adu akal adu siasat bas papan satur. Labo ndayaken bana bagi diberu perdenggal”. Selesai berkata demikian dia membuang ingus lewat jendela dan ingus itu mendarat di atas tanah dengan kecepa-tan suara.

“Emaka kalak pertandang pe nggo ter-pilih jadi anggota DPRD perbahan lit serpi-na” ujar Drs Germet menambahkan. ”Labo perbahan enterem kade-kadena”.

“Gejala kai akap kena e? Enggo kuidah mata duiten kerina jelma ndai”

“Gendekna, kai pe idaya ken asal jadi duit

“Tuhu mejin. Ihh mejin kal ya” “Tentu sienda kerina lit kaitena ras situasi mental jelma sienterem. Si lit bas utuk takal jelma sienterem sada ngenca : uga cara gelah dat sen alu cara si

mesu-kah.. Emaka nggo kumelih ibahana curak perkade-perkaden” ujar Drs. Tangkudung.

“Enggo bicuk kerina jelma ndai.”

“Adi la dat serpi, lanai bo lit kade-kade, lanai lit teman sada kinitken, lanai lit teman meriah, kandu-kandu pe lanai lit. Gobang enggo jadi kade-kade situhu-tuhu” Drs. Germet menambahkan sambil mereguk kopinya yang masih tersisa. “Sada nari kopi ndai Perkede!” dia berseru. Dengan gesit Perkede segera memenuhi order itu.

“Kalau begitu, apakah solidaritas sosial atas dasar ikatan kekrabatan sudah begitu kendor?”. Tamburarak II tidak dapat men-ahan diri untuk tidak ikut nimbrung. Maka dia pun memberanikan diri untuk menga-jukan pertanyaan itu dengan berbahasa Indonesia. Maksud utamnya sebenarnya hanya satu, yaitu untuk memperpanjang proses diskusi, dengan harapan pesanan akan terus bertambah. Bertanya dengan tujuan komersil. Demi gobang, itulah yang dilakukannya.

“Jelas sekali, Tambur” jawab Drs. Tangkudung. “Orientasi masyarakat tel-ah bergeser ke uang, uang dan uang. Akan gawat sekali kalau nanti kade-kade pun “dimakan” alias dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan.”

“Banci kataken masarakata paksa sakit. Adi bage, uga nambarisa?” bertan-ya BG, guru IPA di SMA “Dalan Beluh”. Dia sepenuhnya menyadari bahwa jalan keluarnya sangat sulit, dan memerlukan kerjasama dari banyak pihak. Tapi kalau “pihak-pihak” itu juga ingin mendapatkan uang tanpa mempersoalkan segi moral, kan makin ruwet? Begitu jalan pikirannya

sehingga dia jadi pusing sendiri.

”Enam siman ukurenta ras-ras. Pemer-entah, tokoh agama, tokoh masyarakat, kerina harus radu ras erbahan kampanye. Semacam gerakan moral” sahut Drs. Tangkudung.

“Adi la dat serpi, lit ka nge ndia jel-ma si nggit ngelakokensa idendu ena?”

Tamburakrak menyelutuk dengan jalan pikirannya yang sederhana. “Ma minakna nge penggorengna, teku ka tempa”. Sele-sai berkata demikian dia geleng-geleng kepala.

Sebagaimana halnya ba nyak ke-giatan diskusi di muka bumi ini, disku-si di warung itu pun tidak menghadisku-silkan kesimpulan apapun. Yang didapat para peserta diskusi hanya sakit kepala bela-ka. Mereka kini mengetahui adanya satu persoalan berat yang tengah melanda masyarakat. Tapi apa jalan keluarnya, ti-dak ada yang tahu. Sama halnya dengan seseorang yang penyakitnya dapat didi-agnosa dokter de ngan jitu. Tapi ternyata obatnya tidak ada.

Tapi dalam hal diskusi, proses yang lebih penting dari pada hasil, kata Drs. Tangkudung ketika dia bersama sahabat-nya Drs. Geremt beranjak meninggalkan warung itu. Sementara itu Perkede dkk sedang sibuk menghitung isi lacinya, be-rapa laba yang me reka peroleh pada hari itu. Bagi mereka tidak ada masa lah yang lebih relevan dari uang masuk, hasil dari jerih payah mereka sendiri. Bukan hasil politik uang dengan memperdagangkan suara dalam pemilu dan pileg. *** ( [email protected])

Tanah Karo, Katantaras.

K

omisi D DPRD Sumut dan

Pemkab Karo merasa lega, bangga dan gembira. Pem-bangunan jalan tembus Karo-Lang-kat yang membelah kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) sepanjang 4,5 km, sekarang sudah bisa dilanjutkan kembali. Setelah UNESCO yang menaungi TNGL memberikan persetujuan sehing-ga Kementerian Kehutanan beserta TNGL dapat mengeluarkan izin bagi pembangunan lanjutan jalan alternat-if Karo – Langkat itu.

Pengaspalan jalan tersebut su-dah rampung sekitar 90 persen dan sudah bisa dilalui kendaraan roda dua maupun empat, sehingga sudah bisa mengatasi kemacetan jalan nasional jurusan Medan–Berastagi yang

sela-ma ini terus mengalami kesela-macetan yang kronis.

Seharusnya pembangunan jalan alternatif ini sudah selesai akhir 2018, tapi dikarenakan pada April 2018 izin memulai pekerjaan agak terhambat keluar dari Kementerian Kehutanan beserta TNGL, karena harus ada persetujuan dari Unesco. Karena itu, penyelesaiannya ditar-getkan Januari 2019 baru tuntas,” kata Drs. Baskami Ginting, anggota Komisi D DPRD Sumut dari Frak-si PDIP, saat memmpin peninjau-an (7/1/2019) pembpeninjau-angunpeninjau-an jalur evakuasi jalan tembus Karo-Langkat yang sudah mulai dikerjakan.

Dalam peninjauan itu Baskami Ginting didampingi Leonard Samosir anggota DPRD Komisi D dari Fraksi Golkar, Dinas BMBK Sumut yang

di-Dilanjutkan, Pembangunan

Jalan Alternatif Karo-Langkat

wakili Kepala UPT (Unit Pelayanan Teknis) Binjai-Langkat Ir Moden Brutu bersama Bupati Karo Terkelin Brahmana, Wakil Bupati Karo Cory Sebayang, Kepala Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Karo Ir Nasib Sianturi didampingi Camat Namanteran Dwikora Sitepu, Kades (Kepala Desa) Sukanalu Sen-tosa Sitepu dan Kades lainnya se-ke-camatan tersebut.

Jalan alternatif berbiaya Rp14,5 miliar dari APBD Sumut TA 2018 ini, menurut Baskami perlu segera diba-ngun drainase/parit agar aspal tidak cepat hancur. “Kita berharap kepada Dinas BMBK Sumut untuk segera mengajukan anggaran pembangu-nan drainase tersebut ke Gubsu dan DPRD Sumut, untuk dialokasikan di P-APBD 2019 atau di APBD 2020,”

tambahnya.

Diakui bahwa pembangunan jalan lintas Karo-Langkat itu mer-upakan perjuangan semua pihak di Provinsi Sumut, baik DPRD Su-matera Utara maupun Pemprovsu melalui Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi, Pemkab Karo, Pemk-ab Langkat dan juga dukungan dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) serta Ikatan Cend-ikiawan Karo (ICK), karena jalan tembus sepanjang 5,362 KM sangat urgen bagi masyarakat khususnya Sumut. “Apresiasi juga kepada Bupa-ti Karo, Terkelin Brahmana yang san-gat progresif memperjuangkan jalan tersebut,” ujar Baskami Ginting .

Untuk lebih memajukan daer-ah ini (Karo), sekaligus mendukung pembangunan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba, langkah kita tidak berhenti disini, tetapi selanjutnya kami anggo-ta DPRD Sumut akan fokus memper-juangkan jalan tol Medan-Berastagi, tegasnya.

Sementara itu anggota DPRD

Leonard Samosir mengatakan seperti dilansir dari harian Analisa menga-takan bahwa dalam perjanjian Ke-menhut, Balai Besar TNGL maupun Unesco dengan Pemprovsu, kelestar-ian jalan yang membelah kawasan TNGL itu harus tetap dijaga, sebab TNGL merupakan hutan milik dun-ia. Leonard meminta semua pihak terutama Dinas Kehutanan Sumut, Pemkab Karo dan Pemkab Langkat terus mengawasi secara ketat agar para perambah hutan atau mafia kayu tidak masuk dan membabati hasil hutan TNGL, terutama di sepanjang jalan alternatif.

“Kita di Komisi D bersama Pem-provsu, Pemkab Karo dan Pemkab Langkat sudah “pasang badan” di Kemenhut, TNGL maupun Unesco, untuk menjamin tidak akan terjadi perambahan hutan di kawasan jalan. Jadi mari kita awasi, jangan sampai para mafia kayu membabati hutan di kawasan TNGL terutama sepanjang jalur alternatif dimaksud,” kata Leo. (Tdkn)

S

A

T

U

R

Kami Mengucapkan

Selamat Merayakan

Ulang Tahun Perkawinan

ke 25

(Pesta Perak)

Kel. Bpk. Ir. James Pinem

beserta

Ibu Gestinawati Pangaribuan, BE.

Semoga Tetap Langgeng

Sukses dalam Tugas

& Pelayanan

dari

Gambar

Foto : Pengarahen Sembiring
Foto Sejarah. Endam  situasi kuta Seberaya  asum  jaman  Belan-
Foto  Grace Sinulingga
Foto : Sadrah Peranginangin

Referensi

Dokumen terkait