• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PRASANGKA SOSIAL DALAM RELASI (ISLAM-KRISTEN) DI AMBON PASCA KONFLIK AMBON TAHUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V PRASANGKA SOSIAL DALAM RELASI (ISLAM-KRISTEN) DI AMBON PASCA KONFLIK AMBON TAHUN"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

40

BAB V

PRASANGKA SOSIAL DALAM RELASI (ISLAM-KRISTEN) DI AMBON PASCA

KONFLIK AMBON TAHUN 1999-2003

5.1 Prasangka sosial

Prasangka merupakan fenomena yang terjadiantar kelompok yang cenderung

berkonotasi negatif, prasangka bisa muncul karena adanya konflik atau kompetisi antar

kelompok. Prasangka tersebut terkait erat dengan stereotipe negatif pada kelompok lain atau

stigma yang akan melekat dan diturunkan terus menerus dalam kehidupan selanjutnya,

akhirnya prasangka tersebut terlihat sebagai dosa turun-temurun yang akan selalu ditularkan

dari satu generasi ke generasi yang lain. Prasangka menjadi mengkristal karena tidak pernah

ada penyelesaian yang tuntas. Pada akhirnya prasangka yang tak kunjung selesai akan

menciptakan keinginan untuk melakukan diskriminasi dalam berbagai bidang kehidupan.

Akan muncul konsep in-group dan out-group, yang menganggap kelompok dan orang-orang

se-ide dan se-ideologi sebagai kelompok yang benar, dan sebaliknya orang lain yang tidak

se-ide sebagai ancaman bagi dirinya. Namun dari hasil wawancara menunjukkan bahwa

masyarakat yang beragama Islam maupun yang beragama Kristen mulai membuka diri untuk

saling menerima dan mau hidup bersama seperti dulu sebelum konflik terjadi. Hal ini

nampak dari hasil wawancara mengenai pandangan Islam ke Kristen sebagai berikut:

Karna selama ini beta kerja sama campor, katong campor muslim-kristen semua kerja sama baik, beta anggap hubungan kerjanya baik seng ada yangkarna beda agama jadi masing-masing mau menjatuhkan yang satu seng.. semuanya baik” (wawancara dengan saudara Azis).

“Bapa raja selalu bilang konflik boleh berlalu, tapi katong sebagai masyarakat yang punya iman, katong seng boleh membangun kebencian.Harus menjunjung cinta kasih di antara katong deng sodara-sodara Kristen dong”(wawancara dengan bapak Suban).

“Ya. kan kita punya saudara kan semua sama disini tidak ada beda baik Islam maupun Kristen semua sama-sama baik” (wawancara dengan bapak Agus).

(2)

41

“katong selalu diingatkan akan hidup berpela gandong dimana pun katong berada jadi seng boleh memandang saudara islam yang negatif, harus berpikir positif” (wawancara dengan bapak Vicko).

“pokoknya menjaga supaya dong hidup damai seng bikin hal-hal yang macam jadi profokator misalnya ketika dong ada tinggal sama-sama untuk memprofokasi dong kaya gitu seng jadi tetap menjaga hubungan dengan cara memelihara itu menjaga kedamaian” (wawancara dengan Saudara Sella).

“mau seng mau katong dituntut baik dari pemerintah maupun petinggi-petinggi adat dan tokoh agama untuk tetap membangun relasi sosial antar umat beragama dengan baik. Itu juga yang selalu disampaikan dalam khotbah para pendeta di gereja” (wawancara dengan Saudara Glen).

5.2 Aspek-Aspek Perilaku Prasangka

a. Perilaku menghindar, seseorang dengan prasangka akan cenderung berperilaku

menghindar dari kelompok yang diprasangkainya atau dapat pula beranggapan bahwa

kelompok yang diprasangkainya cenderung menghindar dari kelompoknya. Hal ini jika

dilihat dari pandangan Islam ke Kristen. Seperti hasil wawancara yaitu dengan:

“Kalau untuk beta pribadi dari dolo dari sekolah TK sampai SMA tuh betapung tamang bae rata-rata kristen beta tidor deng dongmakan deng dongwalaupun, mungkin karna kerusuhan jadi katong (kami) agak terpisah toh katong jaga jarak cuma kalau dari dolo betabatamang bae tuh, batamang bae paskali deng tamang-tamang dari mayoritas non muslim” (wawancara dengan saudara Azis).

“Kalau beta lebih senang bergaul diluar karna dengan katong yang satu agama su jelas sudah, memang katong (kami) lebih ke orang agama lain karna katong)hidup dari dolo itu yang paleng banyak tuh dengan agama lain agama kristen yang palin mantap e..jadi katong lebih bergaul lebih baik dengan dorang, kehidupan lebih baik dengan dongdari pada kehidupan dengan orang islam karna orang islam kebanyakan yang pendatang” (wawancara dengan bapak Suban).

“Senang..kalau dia punya sifatnya baik saya akan bergaul biarpun dia agama lain apapun itukarna saya tidak membedakan agama dan bergaul dengan siapa saja” (wawancara dengan bapak Agus).

(3)

42

Sebaliknya jika dilihat dari pandangan Kristen ke Islam mengenai perilaku menghindar.

Seperti hasil wawancara yaitu dengan:

“Kalau presentasenya si 60, 40 enam puluh sesama empat puluh dengan beda agama tapi pergaulan sama biasa saja seng ada pake pilih kasih” (wawancara dengan bapak Vicko).

“Kalau beta sih beta senang bergaul dengan sapa saja sekalipun dia beda agama tapi kalau ya dia nyaman ya beta bergaul dengan dia sengmemandang itu dia agama islam ataupun kristen tapi kalau dia baik ya bergaul saja jadi sengpandang dia agama kristen kah agama islam kah selama dia memberikan kenyamanan vorkatongya katong bergaul saja seng ada batasan gitu yang membedakan” (wawancara dengan saudara Sella).

“Saya senang bergaul dengan siapa saja, dengan berbeda agama sekalipun” (wawancara dengan saudara Glen).

b. Perilaku anti sosial, seseorang dengan prasangka akan memandang bahwa kelompok yang

diprasangkainya adalah outgroup dan menolak untuk melakukan kontak sosial dengan

kelompok yang diprasangkainya atau dapat pula orang dengan prasangka akan

beranggapan bahwa kelompok yang diprasangkainya menganggap kelompoknya adalah

outgroup dan menolak untuk melakukan kontak sosial dengan kelompoknya. Hal ini jika

dilihat dari pandangan Islam ke Kristen. Seperti hasil wawancara yaitu dengan:

“Siap.. beta siap terima, siap bekerja sama yang penting tujuan dan katong pung motivasi kerja sama”. (wawancara dengan Saudara Azis).

“Sebenarnya sama saja, sama saja karna katong (kami) sebenarya su seng ada beda lai”.(wawancara dengan Bapak Suban).

“Ya ikut saja sesuai dengan kemampua saya karna itu kan kita punya saudara kan semua sama disini tidak ada beda”. (wawancara dengan Bapak Agus)

Sebaliknya jika dilihat dari pandangan Kristen ke Islam perilaku anti. Seperti hasil

wawancara yaitu dengan:

“Yang pasti katong (kami) seng (tidak) talalu ada geb bagitu seng (tidak) ada batasan bagitu bekerja seperti biasa saja seng (tidak) perlu katong (kami) mau kasi tunju katong (kami) pung kelebihan agama seng ada seperti biasa saja”. (wawancara dengan Bapak Vicko).

“Ya bekerja maksudnya sama-sama toh sama-sama bekerja dengan mereka seng perlu untuk membedakan agama seng (tidak) perlu untuk membedakan kepercayaan selama orang itu bisa di

(4)

43

ajak untuk bekerja sama apa salahnya jadi seng perlu untuk membeda-bedakan gitu selama apa yang dia kerjakan maksudnya sejalan gitu sevisi semisi dengan katong gitu jadi seng boleh lihat atau nilai dari agamanya tapi bagaimana pandangan dong pung komitmen yang sama ya bekerja kalau memang sama-sama punya komitmen toh misalnya beta punya komitmen dia punya komitmen sekalipun katong beda agama toh tapi kalau katong pung satu tujuan seng ada salah toh sama-sama untuk bekerja sama”. (wawancara dengan Saudara Sella).

“Ya ikut bekerja sama, biasa-biasa saja”.(wawancara dengan Saudara Glen).

c. Perilaku kekerasan, orang dengan prasangka akan menilai bahwa kekerasan adalah suatu

hal yang wajar untuk mempelakukan kelompok yang diprasangkainya atau dapat pula

orang dengan prasangka menganggap bahwa kelompok yang diprasangkainya menilai

bahwa kekerasan adalah suatu hal yang wajar untuk mempelakukan kelompoknya. Hal ini

jika dilihat dari pandangan Islam ke Kristen. Seperti hasil wawancara yaitu dengan:

“Karakter pribadi seng tergantung dari dia pung agama jadi dari dia pung pribadi lah mau dia agama islam atau kristen kalau dia pung karakter pendendam dia pasti pendemdam seng tergantung dia pung agama karna dalam ajaran agama pasti kan seng diajarkan par bagitu jadi dari dia pung karakter pribadi”. (wawancara dengan saudara Azis).

“Kalau katong sebenarnya pendendam tuh mungkin pada jaman kerusuhan saja, sebenarnya kerusuhan tuh hanya orang-orang pung kepentingan saja makanya sampai sekarang su seng ada apa-apa lai malah sudah seperti semula seperti yang dulu lagi”.(wawancara dengan Bapak Suban).

“Tidak, semua tergantung sifatnya kalau untuk saya pribadi itu tidak ada dendam selama ini akur, baik-baik saja”.(wawancara dengan Bapak Agus).

Sebaliknya jika dilihat dari pandangan Kristen ke Islam mengenai perilaku kekerasan.

Seperti hasil wawancara yaitu dengan:

“Beta seng tau orang lain e..maksudnya katong batamang seng talalu macam tau dia punya seluk beluk bagaiman yang pasti batamang tuh seperti biasa saja maksudnya katong kalau di lingkungan karja tuh profesional saja seng ada pake islam atau kristen samu satu”. (wawancara dengan Bapak Vicko).

“Menurut beta seng juga karna yang beta lihat toh kehidupan sehari-hari mungkin kalau orang pendendam itu mungkin orang-orang yang dia pembawaannya subagitu kapa. Kalau menurut beta sejauh ini yah selama beta bersosialisasi deng orang-orang yang beda agama ya memang sihada waktu-waktu kalau istilah orang ambon bilang dong tengsi, dong marah-marah kaya gitu

(5)

44

toh tapi maksudnya kalau selesai itu selesai dong seng ada simpan-simpan dendam keh apa keh karna buktinya sampe sekarang nih yah gitu katong aman-aman saja kalau simpan dendema kan otomatis katong bikin tasalah sadiki kan pasti sudah terjadi perpecahan, terjadi konflik kaya gitu tapi kenyataannya yang beta lihat tuh sekalipun memang istilah orang ambon bilang kalau ada tensi, kadang-kadang marah tapi setelah itu abis ya abis seng ada simpan dendam karna kalau simpan dendam otomatis kan terjadi konflik toh kaya gitu”. (wawancara dengan Saudara Sella ).

“Seng..seng pendendam itu kan imbas-imbas konflik saja tapi sudah baik orang sudah menyadari bahwa konflik itu karna sebenarnya kita di adu domba bukan karna kita yang lakukannya”.(wawancara dengan Saudara Glen).

d. Perilaku merendahkan religiusitas, seseorang dengan prasangka akan memandang rendah

tingkat kereligiusitasan kelompok yang diprasangkainya atau dapat pula seseorang dengan

prasangka beranggapan bahwa kelompok yang diprasangkainya memandang rendah

tingkat kereligiusitasan kelompoknya. Hal ini jika dilihat dari pandangan Islam ke Kristen.

Seperti hasil wawancara yaitu dengan:

“Ya beta rasa katong seng selamanya katong hidup di komunitas sendiri toh muslim jadi katong harus sosialisasi deng tamang-tamang laeng dari dong katong dapat sesuatu, di katong dong juga dapat sesuatu jadi ibadahnya dapat disitu”.(wawancara dengan Saudara Azis).

“Ah.. maksudnya beta kalau seandainya kalau ada apa-apa toh katong harus saling toleransi jangan kamong seperti begini kan masih ada jalan keluar panggil samua yang memang ada ini baru katong ngomong par dorang bagitu dan sebaliknya untuk dorang juga seperti begitu”.(wawancara dengan Bapak Suban).

“Iya, hubungan dekat dengan teman-teman yang berbeda agama. (wawancara dengan Bapak Agus).

Sebaliknya jika dilihat dari pandangan Kristen ke Islam mengenai perilaku menghindar.

Seperti hasil wawancara yaitu dengan:

“Pernah sih, yang pasti iya kalau toleransi pernah jam makan katong pigi abis makan pas dia sholat jumat katong dua sama-sama dia pi sholat jumat beta tunggu di depan mesjid deng motor karna kebetulan katong dua satu motor sama-sama baku gonceng jadi dia selesai baru katong pulang, bale ka tempat kerja sama-sama”.(wawancara dengan Bapak Vicko).

“Ya iya selama ini beta toleran lah kepada orang yang beda agama bagaimana beta menerapkan ya menghormati dong contoh kecil saja kalau macam dikantor itu orang puasa misalnya katong

(6)

45

didalam ruangan bukan hanya ada kristen tapi ada islam juga kalau dong puasa gitu katong seng makan di depan dong kaya gitu itu contoh-contoh kecil dan contoh besar antara lainnya dalam pergaulan sehari-hari seng berbuat sesuatu yang menyinggung dong pung perasaan ataupun mengungkit-ungkit satu permasalahan misalnya menyangkut sara misalnya kalau katong ada baca berita tentang profokasi antar agama seng perlu untuk ungkit itu sehingga kalau diungkit otomatis terjadi perdebatan toh jadi seng perlu jadi tetap berpikir positif gitu toh”. (wawancara dengan Saudara Sella).

“Ya itu nilai toleran itu dibangun bagaimana saya membangun relasi dengan orang yang tidak seagama dengan saya membangun kerja sama membangun sinafitas sebagai tetangga-dengan tetangga pokoknya dengan mereka lah membangun kerja sama”. (wawancara dengan Saudara Glen).

Dari hasil di atas, dapat dilihat bahwa meskipun kedua komunitas (Islam-Kristen) pernah

mengalami konflik namun setelah konflik, masing-masing komunitas menyadari akan

kehidupan bersama yang kodusif sehingga bagi kedua komunitas (Islam-Kristen) tidak

memiliki keinginan untuk menghindar dari orang lain yang beragama beda, tidak memiliki

anti sosial, tidak mau melakukan tindak kekerasan, maupun perilaku merendahkan kelompok

agama tertentu. Tetapi yang nampak ialah keinginan untuk hidup bersama seperti semula

tanpa harus membeda-bedakan antara satu dengan yang lain, saling melindungi dan saling

mendukung untuk membangun hidup bersama yang lebih baik lagi ke depan.

5.3 Sumber Prasangka

Perbedaan sosial yang dimiliki sebagian orang yang mengalami konflik di Ambon

adalah tinggi. Perbedaan sosial didefinisikan sebagai pengetahuan kelompok dimana

kelompok tersbut merasa sesuai pada suatu kelompok tertentu bersama dengan emosi dan

nilai yang signifikan bagi kelompok tersebut sebagai anggota dari kelompok tersebut.

Kelompok sosial yang dimaksud disini adalah perbedaan sosial orang-orang tersebut sebagai

bagian dari kelompok agama yang mereka anut. Pada orang yang beragama Islam berarti

yangdimaksud perbedaan sosial disini adalah perbedaan sosial mereka sebagian dari

kelompok Islam begitu juga sebaliknya pada orang yang beragama Kristen berarti yang

dimaksud perbedaan sosial disini adalah perbedaan sosial mereka sebagai bagian dari

(7)

46

kelompok Kristen.Pada penelitian ini berarti sebagian besar para orang yang mengalami

konflik di Ambon merasa tergolong pada kelompok Agamanya.

Prasangka didapatkan bahwa sebagian besar dari orang-orang yang mengalami konflik

di Ambon memiliki prasangka rendah. Prasangka menurut Baron dan Byrne (2003) adalah

sebuah sikap negatif anggota kelompok sosial tertentu. Myers (1999) juga mengatakan hal

yang serupa, yaitu, bahwa prasangka merupakan penilaian awal yang negatif tentang sebuah

kelompok dan anggotanya, prasangka yang dimaksud sikap negatif atau penilaian negatif

orang yang mengalami konflik di Ambon terhadap orang-orang atau kelompok yang berbeda

agama dengan mereka, dalam halini peneliti berasumsi bahwa agama selain agama yang

mereka anut adalah agama Islam dan Kristen. Jadi jika orang tersebut beragama islam, maka

prasangka yang dimaksud adalah prasangka terhadap orang-orang atau kelompok Kristen,

begitu juga sebaliknya, jika orang tersebut beragama Kristen, maka prasangka yang

dimaksud adalah prasangka terhadap orang-orang atau kelompok Islam.

Untuk hasil utama dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan yang signifikan

antara perbedaan sosial dan prasangka pada orang yang mengalami konflik di Ambon.

Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa tinggi rendahnya prasangka tidak dapat dijelaskan

hanya dengan tinggi rendahnya perbedaan sosial. Pada sampel penelitian ini, hasilnya tidak

sejalan dengan beberapa teori yang mengatakan bahwa perbedaan sosial merupakan salah

satu sumber dari timbulnya prasangka. Mungkin ada hal-hal lain yang lebih berpengaruh

terhadap timbulnya prasangka pada orang yang mengalami konflik di Ambon dan mungkin

juga ada hal-hal lain yang mempengaruhi timbul atau tidankya dua hal tersebut.

Ada beberapa hal bisa dibahas.Pembahasan juga dapat dilihat dari berbagai aspek,

seperti dari lingkungan sosial, dari perkembangan orang dan faktor budaya.

Tinggi perbedaan sosial orang yang mengalami konflik di Ambon sebagai bagian dari

kelompok agamanya masing-masing dapat dilihat dari lingkungan sosial di Ambon sendiri

yang sudah terpisah-pisah antar agama, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa di

Ambon wilayahnya sudah terbagi-bagi menjadi kampung Islam dan kampung Kristen. Hal

ini dapat lebih mendukung terjadinya proses kategorisasi, yakni pengelompokkan individu ke

dalam kelompok-kelompok tertentu dan memberikan label dalam berdasarkan kelompoknya.

Proses kategorisasi, tersebut adalah salah satu proses yang dilakukan kelompk dalam

pembentukan perbedaan sosial.

(8)

47

Pengambilan data di kelurahan-kelurahan mungkin juga mempengaruhi hasil penelitian

ini sebagai pengaruh dari lingkungan sosial mereka.Hal ini dapat dijelaskan dari beberapa

program pemulihan pasca konflik di Ambon yang dilakukan melalui institusi kelurahan.Hal

ini berkaitan dengan salah satu sumber sosial prasangka menurut Myers (1999).

Jika dilihat dari perkembangan orang dalam perilaku sosial, rendahnya prasangka dapat

dilihat sebagai dampak dari wawasan sosial orang yang semakin membaik.Hal ini disebabkan

karena orang pada tahun-tahun tingkat terlibat dalam berbagai kegiatan sosial banyak

dilakukan di kelurahan-kelurahan.Kemungkinannya adalah mungkin karena peneliti

mengambil di kelurahan-kelurahan, maka para orang yang menjadi subjek dalam penelitian

ini memang memiliki wawasan yang lebih luas dibandingkan dengan orang yang memiliki

konflik yang tidak bersekolah. Dari kegiatan sosial yang mungkin dilakukan, orang-orang

tersebut saling berinteraksi satu sama lain yang mungkin membuat mereka tidak menelan

mentah-mentah informasi tentang masalah sosial (dalam hal ini masalah SARA) yang terjadi

pasca konflik. (Ambon).

Salah satu dampak dari hal tersebut adalah kedamaian, seperti yang disampaikan oleh

responden dari agama Islam:

“Biasanya kalau ada dengar isu konflik di satu desa, katong selalu kumpul lalu katong selalu berusaha berpikir positif kalau isu tersebut hanya prasangka buruk yang mencoba biking katong masyarakat kota Ambon ricuh kembali. Tapi katong sudah tidak bodoh lagi seperti dulu yang mudah terpengaruh. Kalau skarang, kalau ada apa-apa katong selalu kumpul kalau tidak dengan pimpinan agama atau dengan bapa raja lalu katong musyawarah untuk tetap menjaga kenyaman dan menghindari isu-isu tersebut”.(wawancara dengan Saudara Azis).

“Deng seperti diketahui Ambon ni kan daerah adat jadi katong seng boleh sembarangan. Katong harus junjung kehidupan damai di kota ini. Bapa raja selalu bilang konflik boleh berlalu, tapi katong sebagai masyarakat yang punya iman, katong seng boleh membangun kebencian.Harus menjunjung cinta kasih di antara katong deng sodara-sodara Kristen dong” (wawancara dengan Bapak Suban).

“Katong kalau kumpul katong selalu berbagi pengetahuan maupun pengalaman yang berhubungan dengan cara membangun hubungan yang tetap baik deng saudara-saudara Kristen. (wawancara dengan Bapak Agus).

Begitu juga dengan yang disampaikan oleh responden dari agama Kristen mengenai

dampak musyarah ketika ada konflik antar kedua kelompok:

(9)

48

“Kalau mau aman, yah katong harus hindari konflik.Katong seng boleh cepat emosi, seng boleh cepat menuduh, seng boleh saling menyalahkan.Katong harus banyak intropeksi diri.Katong harus hidup satu sayang satu. Katong harus menjunjung nilai-nilai budaya yang mengajarkan katong hidup baku sayang. Bagitu juga katong harus bisa jaga katong perilaku saat berhadapan deng orang lain, supaya jang menimbulkan masalah. Kalau biking demikian pasti katong akan hidup aman dan damai antar orang basudara baik Kristen maupun Islam” (wawancara dengan Bapak Vicko).

”karena katong pung adat su ator seperti bagitu. Kalau ada yang susah mau itu dia Islam atau Kristen, tetap sama saja dalam membantu. Pokoknya kalau ada apa-apa katong biasanya kumpul masyarakat desa baru katong dengar pendapat, setelah itu bapa raja kasih jalan keluar alternative yang menguntungkan.Sehingga biasanya masyarakat desa batu merah rata-rata puas deng keputusan bapa raja dalam membangun tali persaudaraan yang rukun deng soadar-sodara Kristen”. (wawancara dengan Saudara Sella).

“Mau Kristen atau Islam, sekarang ini sudah tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal yang dapat menimbulkan konflik sehingga masyarakat skarang sudah mulai menyadari akan hidup rukun dan damai”.(Wawancara dengan Saudara Glen).

Selain itu, dalam perkembangan orang juga dikatakan bahwa kebutuhan untuk

berhubungan dengan orang lain dimana mereka dapat saling berbagai minat. Jika dikaitkan

dengan hasil dari penelitian ini, rendahnya perbedaan sosial dan rendahnya prasangka pada

orang yang mengalami konflik di Ambon mungkin disebabkan oleh kebutuhan

tersebut.kebutuhan untuk berteman mungkin membuat para orang yang mengalami konflik di

Ambon secara tidak langsung mengabaikan pebedaan antara mereka, dalam hal ini

perebedaan agama. Pada orang, salah satu dampak posotif dari teman sebaya adalah

memberikan kesempatan bagi mereka untuk mempelajari hak-hak orang lain, serta sebagai

wadah untuk mengontrol diri dan sebagai tempat untuk belajar. Kemungkinan lain adalah

pertemanan terjadi diantara para orang yang mengalami konflik di Ambon membuat mereka

untuk mempelajari hak-hak teman mereka baik yang seagama maupun yang tidak seagama

serta mereka dapat mengontrol diri mereka dan belajar banyak hal dari pertemanan tersebut

sehingga mungkin pertemanan yang terjalin mempengaruhi sumber sosial dan prasangka

pada mereka.

(10)

49

Perbedaan prasangka pada orang yang beragam Islam dan beragama Kristen.Dari hasil

tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan bahwa salah satu yang mempengaruhi

prasangka pada orang adalah agama.

5.4 Faktor-Faktor Prasangka

5.4.1. Fanatisme

Fanatisme yang berlebihan dan keliru pertentangan antar kelompok bisa muncul bila

terjadi adanya pandangan mengagung-agungkan kelompoknya, namun mengangap rendah

kelompk lain. Akhirnya segala hal yang menyangkut kelompok lain, dianggap sebagai

sesuatu yang negatif atau bahkan lebih jauh lagi dianggap sebagai musuh yang tidak harus

dihormati. Akhirnya pandangan negatif tersebut akan menjadi bibit permusuhan antara

kelompok.Sebagaimana diistilahkan sebagai klaim kebenaran yang didasarkan atas

keyakinan membabibuta terhadap hasil interpretasi atas teks ajaran agama. Hal tersebut

karena klaim kebenaran akan mengarah pada munculnya konflik antar pemeluk agama yang

bisa meluas pada konflik pada wilayah kehidupan yang lain. Hal ini jika dilihat dari

pandangan Islam ke Kristen. Seperti hasil wawancara yaitu dengan:

“Iya beta rasa pasti ada e.. beta pung tamang-tamang jua dong samua ada pengaruh yang baik par beta yang islam-kristen seng pandang agama, samua ada pengaruh baik”.(wawancara dengan Saudara Azis).

“Ya jelaslah kalau untuk katorang pasti yang baik karna seng mnungkin dong bikin yang seng baiklah pasti yang baik yang seng baik tu kan pasti orang luar”.(wawancara dengan Bapak Suban).

“Iya, saling membantu, hidup baik”.(Wawancara dengan Bapak Agus).

Sebaliknya jika dilihat dari pandangan Kristen ke Islam mengenai fanatisme. Seperti hasil

wawancara yaitu dengan:

“Selama ini beta hidup di lingkungan kristen dia di dong pung lingkungan sendiri beta seng bisa nilai dia pung kehidupan dengan dia pung tetangga toh yang beta tau dia hidupnya seng talalu macam mau fanatik bagitu dia deng beta pung kehidupan sama baik”. (wawancra dengan Bapak Vicko).

(11)

50

“Kalau yang beta lihat selama ini pengaruh yang baik ada, pengaruh yang baik maksudnya misalkan dong kasi tau oh ini salah toh seharusnya begini, seharusnya begini yaitu maksudnya dong berikan pengaruh gini berikan pengaruh bukan cuma lewat dong pung tutur kata toh tapi lewat dong pung tindakan juga kaya gitu seharusnya begini yang dong lakukan seperti begitu lewat dong pung siakp-sikap hidup itulah yang menjadi pengaruh gitu jadi pengaruh yang baik bukan cuma saja lewat dong pung cara berbicara kaya gitu toh tapi maksudnya katong bisa belajar dong bisa memberikan pengaruh yang baik lewat dong pung sikap dong pung sikap-sikap itulah yang jadi pelajaran toh pelajaran vor katong bahwa oh ia ternyata dong pung sikap begini menjadi pengaruh yang baik vor katong kaya gitu vor beta”. (wawancara dengan Saudara Sella).

“Ya, mereka memberikan pengaruh tidak lagi hidup saling mencurigai tapi bagaimana hidup sebagai adik dan kakak sebagai keluarga orang basudara saling menegur kalau salah”. (wawancara dengan Saudara Glen).

Pandangan kedua komunitas islam-kristen terhadap fanatisme, tidak ada fanatisme terhadap

kedua kelompok atau komunitas.Tetapi dimana kedua komunitas tersebut sama-sana

memberikan pengaruh dan sikap yang baik.

5.4.2. Pengaruh Komunikasi

Pengaruh komunikasi suatu pertentangan atau permusuhan kadang kala disebabkan oleh

ketidak lancaran dalam mengkomunikasikan pesan. Pesan ditangkap oleh orang lain sebagai

sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diinginkan oleh pemberi pesan. Akibatnya

akan terjadi kesalahan persepsi akan maksud pesan tersebut, yang berlanjut dengan

ketegangan diantara pemberi dan penerima pesan. Begitu pula dalam kehidupan bersama,

sesuatu ketegangan akan terjadi bila suatu hal yang dikomunikasikan oleh kelompok tertentu

dipersepsikan keliru oleh kelompokyang lain. hal tersebut karena kelompok-kelompok yang

jarang atau tidak pernah berkomunikasi akan menggunakan info yang sedikit tersebut untuk

mengambil keputusan akan kemungkinan perilaku orang lain. oleh karena itu perlu adanya

komunikasi antara kelompok agar tercapai kesamaan persepsi atau sensitivitas akan maksud

dan tujuan pesan yang dikomunikasikan. Hal ini jika dilihat dari pandangan Islam ke Kristen

mengenai pengaruh komunikasi. Seperti hasil wawncara yaitu dengan:

“Seng.. beta rasa seng, seng karna dia pung agama pasti karna dia pung pribadinya toh seng karna dia pung agama”.(wawancara dengan Sauadara Azis).

(12)

51

”Sebenarnya katong harus cari dia pung solusi dolo apalagi disana kan komunitas, bisa saja yang islam yang bikin dia masuk ke daerah kristen dia yang bikin seakan-akan bahwa banyak yang terjadi begitu, orang islam pigi di daerah kristen bikin ini baru dia bilang orang kristen sana sama lai begitu lagi orang kristen kebalikan begitu lai dong batamang deng orang islam ah jadi akang saling bagitu itu yang memang su pernah terjadi ulang-ulang makanya katong ambil langkah-langkah itu kalau memang untuk pemuda atau ini seng bisa katong ambil aparat supaya ini bisa terselesaikantoh kalau seng bisa jadi konflik lagi karna dari kecil itu bisa terjadi besar. (wawancara dengan Bapak Suban).

“Tidak, itu karena orang yang tidak mau damai terus memprofokator dari luar saja”.(wawancara dengan Bapak Agus).

Sebaliknya jika dilihat dari pandangan Kristen ke Islam mengenai pengaruh komunikasi.

Seperti hasil wawancara yaitu dengan:

“Kalau apa kejadian yang pernah katong alami kerusuhan akang juga su jadi macam mau bilang su tatanam dalam pikiran toh bahwa katong yang seng pernah bikin salah dong yang bikin salah tapi sebenarnya bukannya agama tapi oknum-oknumnya macam profokator bagitu jadi bukan dia pung golongan agamanya tapi dia punya orang-orangnya saja”.(wawancara dengan Bapak Vicko).

“Kalau menurut beta sih katong seng boleh langsung menjas bahwa itu memang terjadi karna agama lain tapi maksudnya katong harus berpikir positif katong harus cari tahu dolo cari informasi dolo seng boleh langsung menjas seng boleh langsung menghakimi bisa saja yang terjadi tuh profokasi orang-orang yang mencoba untuk menghancurkan jadi seng bolehlah bilang ini terjadi karna sebelah pihak bagitu seng boleh”. (wawancara dengan Saudara Sella).

“Seng,, saya tidak lagi memandang itu agama tapi lebih mendang kepada individu orang yang melakukannya jadi agama jangan dibawa sebagai agama yang memicu bukan tetapi individu seorang jadi sebenarnya masalah atau segala sesuatu itu tergantung pada pribadi seseorang jangan dibawa-bawa atas nama agama dan dibawa-bawa atas kepercayaan tapi bagaimana pribadi seseorang tidak boleh melekatkan atas nama agama”.(wawancara dengan Saudara Glen).

Pandangan kedua komunitas Islam-Kristen terhadap pengaruh komunikasi, tidak ada

tetapi dimana kedua komunitas tersebut Islam-Kristen sama-sama berpikir positif dan

mendengarkan informasi dengan baik dan mencari solusi untuk menyelesaikan masalah.Hal

ini biasa terjadi karena adanya profokasi-profokasi dari orang-orang yang ingin

menghancurkan.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa meskipun konflik yang pernah

terjadi dan menyisahkan luka yang dalam, namun masyarakat dari kedua komunitas (Islam

(13)

52

dan Kristen) selalu belajar dan mencoba membangun relasi dengan lebih baik antara satu

dengan yang lainya, sehingga dapat meminimalisir prasangka diantara kedua komunitas.

5.4.3. Pengaruh Kelompok

pengaruh kelompok, kelompok memiliki norma dan nilai tersendiri dan akan

menpengaruhi pembentukan prasangka pada kelompok tersebut. Oleh karenanya norma

kelompok yang memiliki fungsi otonom dan akan banyak memberikan informasi secara

realistis atau secara emosional yang mempengaruhi sistem sikap individu, yang dapat pula

menjadi pemicu dasar kerusuhan, apabila dikaitkan dengan persoalan SARA. Hal tersebut

bisa menjadi, faktor atau peristiwa yang ampuh dalam memunculkan kerusuhan. Apalagi ada

provokator yang mampu member isu sehingga mudah membakar massa yang sudah frustasi

dengan serba ketidakpuasan. Hal ini jika dilihat dari pandangan Islam ke Kristen mengenai

pengaruh kelompok. Seperti hasil wawancara yaitu dengan:

“Seng.. selama ini beta baik-baik saja deng dong, kembali lagi ke karakternya pribadinya seng tergantung agama jadi kalu orangnya jahat, dasarnya jahat mau dia agama islam atau kristen kan tetap jahat”. (wawancara dengan Saudara Azis).

“Oh tidak, itu tentang katong pung kehidupan kalau memang katong pung hidup jahat pasti orang seng mau hidup deng katong lai itu pasti”. (wawancara dengan Bapak Suban).

“Tidak, semua sama karna waktu kerusuha saja saya lari mengungsi di daerah kristen mengungsi mereka menganggap saya orang baik”. (wawancara dengan Bapak Agus)

Begitu juga sebaliknya jika dilihat dari pandangan Kristen ke Islam Pengaruh Kelompok.

Seperti hasil wawancara yaitu dengan:

“Kalau jahat fisik seng ada secara fisik maupun hala-hal yang lain tuh seng ada katong hidup damai”. (wawancara dengan Bapak Vicko).

“Selama ini dalam hubungan sosial yang beta rasakan orang yang beda agama memperlakukan beta baik adanya ya mungkin karna relasi yang katong bangun tuh hubungannya baik sehingga maksudnya katong seng menonjolkan bahwa katong ni fanatik terhadap katong pung agama tapi katong ni berjiwa sosial yang tinggi makanya orang lain mempelakukan katong tuh selayaknya istilahnya orang bagini apa yang katong pikirkan berarti apa yang katong harapakan kaya gitu toh berarti kan itu yang nanti akan terjadijadi orang bilang mimpi menjadi kenyataan nah seperti gitu jadi ketika katong berfikir positif baahwa orang lain akan perlakukan katong dengan baik

(14)

53

maka itu juga terjadi jadi selama ini yang terjadi kaya gitu ketika maksudnya beta dalam kehidupan sehari-hari kaya gitu berpikir bahwa orang lain tuh dong baik yang terjadi juga sama dong memperlakukan beta dengan baik kaya gitu. (wawancara dengan Saudara Sella).

“Seng, saya merasa baik”. (wawancara dengan Saudara Glen).

Pandangan kedua komunitas Islam-Kristen terhadap pengaruh kelompk, dimana kedua

komunitas tersebut tidak ada kejahatan, tidak membeda-bedakan satu sama lain. Hal ini

bermaksud agar kedua belah pihak (Islam dan Kristen) saling mendukung, saling membantu

dan tidak memberikan pandangan buruk terhadap suatu kelompok

Referensi

Dokumen terkait

Kakak kandung (Naidah Abbas) dari Mama Ulan, tidak sempat ditanyakan saat wawancara berlangsung sehubungan dengan status pernikahan. Hal ini dikarenakan ketika

Bela (sumpah darah), sota tofang sahi fani tofang sahi (pepatah/sumpah adat) dan tarian lego-lego adalah fakta sosial yang merupakan warisan leluhur atau nenek moyang, yang

BAGAN II DESAIN PENDEKATAN KONSELING ORANG BASUDARA KOMPON EN TEORI LANDASAN FILOSOFIS NILAI SPIRITUAL TEKNIK KONSELING ORANG BASUDARA PERMASALAHAN KONSELING ORANG

Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan siswa kelas X SMK Kristen BM Salatiga memiliki siswa yang lebih suka berinteraksi secara face to face atau langsung