• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2001

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2001"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KEBIJAKAN TEKNIS KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER

DALAM MENDUKUNG EKSPOR PRODUK PETERNAKAN

BACHTIAR MOERAD

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan

ABSTRAK

Dengan ditandatanganinya persetujuan pembentukan WTO tahun 1994, dimana tarif yang sering menjadi hambatan teknis termasuk Sanitary and Phytosanitary menjadi semakin berkembang digunakan oleh negara-negara yang berusaha memproteksi industri dalam negerinya. Berkaitan dengan hal tersebut serta dalam rangka meningkatkan pertumbuhan perekonomian nasional, maka diperlukan beberapa kebijakan teknis yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta ketentuan-ketentuan internasional, sehingga produk-produk hewan baik pangan maupun non pangan dapat memenuhi kriteria Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) untuk produk pangan dan kriteria Aman, Sehat dan Utuh untuk produk non pangan yang dapat memberikan perlindungan terhadap konsumen serta meningkatkan daya saing dalam mendukung ekspor. Berdasarkan potensi, tantangan dan peluang yang akan datang, strategi kebijakan yang dipergunakan untuk mendukung ekspor adalah 1) Pengembangan kebijakan jaminan mutu (Quality Assurance) akan menjamin keamanan pangan produk peternakan; 2) Pengembangan harmonisasi dan ekivalensi sistem pengawasan keamanan pangan dan mutu produk; 3) Peningkatan kredibilitas kelembagaan dalam rangka pembinaan dan pengawasan keamanan serta mutu produk; 4) Pengembangan pedoman praktis dalam penerapan jaminan keamanan pangan dan mutu produk.

PENDAHULUAN

Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan perekonomian nasional menghadapi era perdagangan bebas di masa mendatang khususnya berkaitan dengan upaya pemulihan ekonomi disaat krisis, pemerintah perlu memanfaatkan peluang ekspor untuk mendapatkan sumber devisa yang berasal dari subsektor peternakan. Sejalan dengan upaya peningkatan produksi peternakan melalui pengembangan agro industri dan agribisnis diharapkan sektor swasta mampu memproduksi bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan yang memiliki daya saing tinggi sehingga mampu memasuki pasar internasional yang semakin kompetitif.

Dengan ditandatanganinya persetujuan pembentukan WTO tahun 1994, dimana tarif yang sering menjadi hambatan teknis termasuk Sanitary and Phytosanitary menjadi semakin berkembang digunakan oleh negara-negara yang berusaha memproteksi industri dalam negerinya.

Berkaitan dengan hal tersebut serta dalam rangka meningkatkan pertumbuhan perekonomian nasional, maka diperlukan beberapa kebijakan teknis yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta ketentuan-ketentuan internasional, sehingga produk-produk hewan baik pangan maupun non pangan dapat memenuhi kriteria Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) untuk produk pangan dan kriteria Aman, Sehat dan Utuh untuk produk non pangan yang dapat memberikan perlindungan terhadap konsumen serta meningkatkan daya saing dalam mendukung ekspor.

KEBIJAKAN TEKNIS

Berdasarkan potensi, tantangan dan peluang yang akan datang, strategi kebijakan yang dipergunakan oleh Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan Cq. Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner untuk mendukung ekspor adalah 1) Pengembangan kebijakan jaminan mutu

(3)

(Quality Assurance) akan jaminan keamanan pangan produk peternakan; 2) Pengembangan harmonisasi dan ekivalensi sistem pengawasan keamanan pangan dan mutu produk; 3) Peningkatan kredibilitas kelembagaan dalam rangka pembinaan dan pengawasan keamanan serta mutu produk 4) Pengembangan pedoman praktis dalam penerapan jaminan keamanan pangan dan mutu produk.

Pengembangan Kebijakan Mutu (Quality Assurance) akan jaminan keamanan pangan produk peternakan

Dalam upaya menerapkan sistem jaminan keamanan pangan, akan selalu didasarkan pada prinsip-prinsip sistem manajemen mutu secara terpadu sejak dari pra produksi, produksi hingga pasca produksi. Sistem tersebut akan lebih mudah diterapkan bila suatu sarana produksi telah memenuhi persyaratan dasar yaitu telah memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV) dengan nilai baik.

Sampai saat ini telah diberikan NKV kepada 34 RPH, 13 RPU, 3 TPD dan 5 importir daging. Hal ini untuk mencegah kemungkinan terjadinya hal-hal yang menimbulkan resiko terhadap keamanan atau kelayakan mutu produk peternakan dengan memberikan kepastian jaminan keamanan/mutu.

Dengan perkembangan dan peningkatan permintaan konsumen dalam menghadapi era perdagangan bebas diharapkan semua Rumah Potong Hewan dan Rumah Potong Unggas yang ada di Indonesia telah memiliki NKV dengan nilai baik dan telah menerapkan labelisasi pada produknya.

Dalam rangka pengembangan sistem jaminan keamanan pangan berdasarkan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point), maka telah diterbitkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Bina Produksi Peternakan No.89/2000 tentang Penetapan Lembaga Sertifikasi Sistem HACCP yang kegiatan operasionalnya diselenggarakan oleh Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner.

HACCP adalah sistem pengawasan pangan berdasarkan pencegahan dini, digunakan secara sistematis pada aspek keamanan pangan dari pengadaan bahan baku, pengolahan dan distribusi sampai ke konsumen. Dengan pelaksanaan HACCP maka jaminan keamanan pangan terpenuhi juga peningkatan kualitas, produktifitas dan pengurangan biaya produksi.

Dalam perkembangannya pembentukan lembaga-lembaga tersebut nantinya dapat dilakukan oleh masing-masing daerah sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Kebijakan ini merupakan komitmen pimpinan puncak pembina dan pengawas keamanan pangan produk peternakan sebagai competence authority dalam memberikan jaminan keamanan produk kepada negara importir.

Pengembangan harmonisasi dan ekivalcnsi sistem pengawasan keamanan pangan dan mutu produk

Dalam rangka memenuhi tuntutan persyaratan ekspor terhadap produk peternakan dari negara pengimpor, pemerintah melaksanakan kebijakan dengan pengawasan terhadap penerapan NKV, labelisasi dan pengujian terhadap residu dan cemaran mikroba, yaitu:

Penerapan NKV (Nomor Kontrol Veteriner)

Harmonisasi dan ekivalensi sistem pengawasan keamanan pangan dan mutu produk diimplementasikan dalam bentuk NKV (Nomor Kontrol Veteriner) pada semua sarana produksi

(4)

pangan produk peternakan seperti RPH/RPU/TPH, usaha pengimpor, pengumpul/penampung dan pengedar daging, susu dan telur serta hasil olahannya. NKV merupakan registrasi dari kelayakan usaha dengan dasar penilaian adalah dipenuhinya persyaratan teknis yang berdasarkan cara berproduksi yang baik (Good Manufacturing Practise/GMP).

Dasar pemberian NKV pada RPH/RPU dan TPD adalah Keputusan Dir. Jen. Peternakan No. 144/1996. Dengan peraturan perundangan yang ada tersebut, operasionalisasi pemberian NKV dilakukan berdasarkan permohonan masyarakat/pihak swasta dan pihak lain yang melakukan usaha dibidang produk peternakan.

Sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah yang dilandasi oleh Undang-Undang No. 22/1999 Tentang Pemerintah Daerah yang dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. 25/2000 tentang Kewenangan Daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota, maka kewenangan pemberian NKV akan segera dilimpahkan ke daerah yang pelaksanaannya mengacu kepada pedoman, standar, norma, kriteria dan prosedur yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat.

Penerapan Labelisasi

Penerapan labelisasi mulai dirintis pada produk daging berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Peternakan No. 28/1997 tentang Pedoman Pemberian/Pencantuman Label pada Kemasan Daging dan merupakan tindak lanjut SK Menteri Pertanian yang mengatur tentang Pemotongan Hewan/Unggas dan Penanganan Daging/Daging Unggas serta ketentuan mengenai persyaratan dan pengawasan pemeriksaan daging dari luar negeri.

Dalam penerapannya labelisasi diberlakukan bagi produk lokal maupun produk eks impor yang beredar. Dalam kaitan produk eks impor, walaupun produk tersebut telah diberikan label oleh petugas yang berwenang di negara asal, pelabelan ulang tersebut dimaksudkan sebagai tanda bahwa keamanan dan kesehatan produk peternakan telah diperiksa oleh petugas pengawas kesmavet setempat sebelum produk diedarkan kepada konsumen.

Melalui labelisasi, identifikasi produk dapat lebih mudah dilaksanakan, disamping itu dapat lebih dipastikan bahwa produk berasal dari RPH/RPU, TPD, importir, pengumpul/ penampung daging yang telah memenuhi persyaratan kesmavet yang dicerminkan dari Nomor Kontrol Veteriner yang tercantum dalam label.

Kebijakan labelisasi akan diterapkan mengikuti kebijakan dalam pemberian NKV. Namun demikian labelisasi akan ditetapkan secara Nasional melalui pelaksanaan oleh daerah dengan kewenangan tetap di Departemen Pertanian sesuai dengan prinsip standarisasi.

Pengawasan Residu dan Cemaran Mikroba

Kebijakan teknis pengawasan residu dan cemaran mikroba bertujuan membangun dan memantapkan mekanisme kerja pengendalian dan monitoring residu dan cemaran mikroba oleh lembaga serta membina laboratorium penguji yang ada saat ini yang diakui kredibilitasnya dengan mendapatkan akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional-Badan Standarisasi Nasional (KAN-BSN).

Pada saat ini pelaksanaan pengujian dan pemeriksaan laboratorium umumnya masih terbatas pada pengujian antibiotika dan cemaran mikroba. Untuk memenuhi tuntutan konsumen, maka diperlukan perangkat operasional diantaranya yaitu Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Batas Maksimum Cemaran Mikroba dan Batas Maksimum Residu dalam bahan makanan asal hewan. Dan

(5)

didukung adanya Program Monitoring dan Surveilans Residu serta Cemaran Mikroba (PMSRC) pada produk pangan hewani setara dengan negara-negara maju.

PMSRC dilakukan pada seluruh mata rantai produksi yang meliputi perusahaan peternakan, rumah potong, distributor, eksportir dan importir bahan asal hewan, tempat pengolahan, penampungan dan penjualan daging.

Program Monitoring dan Surveilans Residu serta Cemaran Mikroba (PMSRC) sejak tahun 1995 sampai sekarang telah dilaksanakan oleh seluruh Balai Penyidikan Penyakit Hewan (BPPH) Wilayah I s/d VII, Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BPMSOH) dan Loka Pengujian Mutu Produk Peternakan (LPMPP). Diharapkan dimasa mendatang laboratorium kesmavet yang ada di daerah dapat ikut melaksanakan secara aktif Program Monitoring dan Surveilans Residu serta Cemaran Mikroba (PMSRC) sesuai dengan sarana dan prasarana yang dimiliki.

Jumlah sampel dan asal sampel yang diuji terhadap residu antibiotika dari tahun 1996 sampai dengan tahun 2000 dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:

Tabel 1. Jumlah dan asal sampel daging yang diuji terhadap residu antibiotika dari tahun 1996-2000

Tahun Jumlah Sampel Asal Sampel

1996 1997 1998 1999 2000 1.776 2.482 1.368 1.870 1.575 - Pasar Tradisional - RPH - Peternak - Pasar Swalayan

Sumber: BPPH Wilayah I sampai dengan VII dan LPMPP

Dari hasil monitoring tersebut terlihat bahwa sampel yang positif terhadap residu antibiotika cukup tinggi. Hal tersebut mengungkap beberapa kemungkinan antara lain a) pemberian antibiotika yang berlebihan pada pakan ternak sebagai growth promotors; b) saat pemotongan ternak masih dalam taraf penyembuhan dimana masa henti obat belum terlewati.

Disamping itu dari tabel tersebut terlihat bahwa dari segi teknis laboratorium jumlah sampel yang diuji masih sangat kurang, sehingga hasil pengujian belum dapat mewakili dari jumlah produk yang dihasilkan.

Diharapkan diwaktu yang akan datang peran serta pihak swasta lebih ditingkatkan lagi sehingga jumlah sampel yang diuji dapat bertambah sesuai dengan ketentuan teknis laboratorium. Bagaimanapun juga keberhasilan program ini di lapangan akan banyak ditentukan oleh mekanisme kerja dan koordinasi antara pelaku bisnis, dinas daerah, laboratorium penguji serta masyarakat konsumen yang semakin peduli.

Peningkatan kredibilitas kelembagaan pembinaan dan pengawasan keamanan serta mutu produk

Peningkatan kredibilitas kelembagaan pembinaan dan pengawasan keamanan serta mutu produk dilaksanakan dengan peningkatan pembinaan terhadap laboratorium penguji seperti Balai Penyidikan Penyakit Hewan (BPPH) Wilayah I sampai dengan VII, Balai Pengujian Mutu dan

(6)

Sertifikasi Obat Hewan (BPMSOH) dan Loka Pengujian Mutu Produk Peternakan (LPMPP) serta Lembaga Sertifikasi HACCP yang telah dibentuk dan diharapkan dapat memperoleh akreditasi dari KAN-BSN.

Pembinaan terhadap laboratorium penguji dilaksanakan dengan mengupayakan peningkatan jenjang eselonisasi bagi BPPH dan LPMPP dimana BPPH menjadi Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) yang mempunyai pengembangan dalam tugas dan fungsi, diantaranya adalah pelaksanaan pengujian veteriner produk asal hewan (food-borne dan zoonosis), analisa veteriner terapan, pelayanan teknis laboratorium kesmavet dan pelayanan teknis kegiatan penyidikan, pengujian veteriner, pengamanan hewan dan produk asal hewan. Disamping itu Loka Pengujian Mutu Produk Peternakan (LPMPP) berubah menjadi Balai Pengujian Mutu Produk Peternakan (BPMPP).

Dengan demikian diharapkan setiap Balai Penyidikan Penyakit Hewan dapat berfungsi sebagai laboratorium pembina di wilayah regionalnya masing-masing khususnya dalam membina laboratorium yang ada di daerah, sehingga laboratorium di daerah tersebut dapat lebih diberdayakan sesuai dengan kemampuan dan fasilitas yang dimiliki.

Pengembangan pedoman praktis dalam penerapan jaminan keamanan pangan dan mutu produk

Pengembangan pedoman praktis dalam penerapan jaminan keamanan pangan dan mutu produk ditujukan khususnya untuk Rumah Potong Hewan dan Rumah Potong Unggas juga produsen lainnya melalui pembinaan dan panduan dalam pembuatan model Rencana Kerja Jaminan Mutu atau pedoman mutu lainnya.

REALISASI EKSPOR PRODUK PETERNAKAN

Sampai saat ini ekspor produk peternakan yang telah dilaksanakan adalah untuk produk bahan asal hewan dan produk hewan non pangan. Untuk produk bahan asal hewan yang telah dilakukan ekspor adalah produk susu dan olahannya, daging sapi dan ayam beku ke negara-negara Malaysia, Oman, Jepang dan Thailand, sedangkan untuk produk hewan non pangan seperti kulit (terdiri dari kulit jadi, kulit mentah), bulu, pakan unggas, pakan anjing dan kucing juga tanduk/tulang ke negara-negara Italia, Brazil, Hungaria, Jerman, Thailand, USA dan Jepang. Data tentang realisasi ekspor seperti terlampir pada tabel 2 dan 3.

Khusus untuk ekspor unggas ke negara tertentu seperti Malaysia dan Singapura masih mengalami kendala dalam persyaratan seperti:

1. Persyaratan penerapan HACCP untuk produsen produk peternakan mempunyai kecenderungan menjadi wajib dilaksanakan.

2. Persyaratan penerapan sistem pengendalian residu dan cemaran mikroba serta keberadaan dokter hewan pemerintah di rumah potong untuk ekspor produk unggas ke Singapura. 3. Persyaratan bebas penyakit ND pada unggas untuk ekspor ke Eropa.

4. Persyaratan sertifikasi personil bagi para penyembelih/modin di Rumah Potong Unggas yang akan diekspor ke Malaysia.

(7)

Dengan penerapan kebijakan teknis yang telah ditetapkan Pemerintah secara baik, diharapkan masalah persyaratan untuk melaksanakan ekspor dapat diatasi, sehingga produk peternakan dapat diekspor ke negara manapun.

Tabel 2. Ekspor produk hewan non pangan Januari-Juni 2001 Jenis Ekspor Negara Tujuan

Bulu Bebek Italy, Korea, Taiwan

Bulu Kuda USA

Kulit Jadi India, Italy, Brazil, Hongaria, Taiwan, Malaysia, Jepang, Jerman

Kulit Mentah Thailand, Cina

Pakan Anjing dan Kucing Australia

Pakan Unggas USA

Tulang/Tanduk Eropa, Jepang

Sumber: Data Dit. Kesmavet

Tabel 3. Realisasi ekspor bahan pangan asal hewan Januari-Juni 2001

Eksportir Jenis Ekspor Negara Tujuan

PT. Nestle Beverages Ind. Nescafe Classic Delux, Teapot SBC Pro C3 TP. Fac Nescafe, Nescafe Classic KSXE

Malaysia, India, Turkmenistan

PT. Nestle Indonesia Magie instant noodles. Teapot SB Cpromott 3 TP fac 1 Mzmn, Teapot beverages creamer. Milk Maid SBC, Teapot SBC Punch, Nestle Mix vegetables, Mixed fruit F spoon,Fox candy, instant full milk powder

Malaysia, Oman, India, Iraq

PT. Ciomas Adisatwa Daging ayam Jepang

PT. Unilever Indonesia Magnum Classic ice cream walls Malaysia PT. Ultra Jaya Milk Industry RSM Condensed filled milk, Buavita USA, Australia PT. Pasific Indo Dairy Instan Full Cream Milk Powder Iraq

PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. Chicken Flavour Delux, Flavour Noodles Jepang, Papua New Guenia, Fiji

PT. Indolakto UHT Milk, Susu Kental Papua New Guenia, Guatemala

PT. Australia Indomilk Industri Susu Kental, Susu Cream, Sweetened Condenced Filled Milk.

Belanda, Pakistan, Jepang, Trinidad, Papua New Guenia, Dili, Cabo Verde, Singapura.

PT Indomilk Susu Bubuk Coklat Perancis

PT Japfa Osi Food Industries Olahan Ayam Hongkong

PT Dian Niaga Pratama Candy Moss Singapura

PT Nissinmas Nissin Mie Fiji Island

Mama Dunia Boga Sensor Chewy Candy Singapura

PT Niki Segar Echo Daging Sapi Saudi Arabia

PT Indomeiji Ice Cream Brunai Darussalam

(8)

PENUTUP

Kebijakan teknis Kesehatan Masyarakat Veteriner akan disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan ketentuan internasional sehingga seluruh produk hewan, baik pangan maupun non pangan dapat memenuhi kriteria Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) serta dapat diterima oleh negara importir.

Didalam menangani dan menyelesaikan issu-issu kesmavet yang berkembang saat ini serta dimasa mendatang, maka masih banyak hal-hal yang perlu segera ditindak lanjuti dengan tetap memperhatikan skala prioritas.

DAFTAR PUSTAKA ANONYMOUS, 1996. Undang-Undang No. 8 tentang Perlindungan Konsumen.

ANONYMOUS, 1983. Peraturan Pemerintah No. 22 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner.

ANONYMOUS, 1991. Instruksi Presiden No. 2 tentang Peningkatan Pembinaan dan Pengawasan Produksi dan Peredaran Makanan Olahan.

Gambar

Tabel 1.  Jumlah dan asal sampel daging yang diuji terhadap residu antibiotika dari tahun 1996-2000
Tabel 3. Realisasi ekspor bahan pangan asal hewan Januari-Juni 2001

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Ramaiah (2006) bahwa salah satu cara yang sangat efektif untuk mencegah nyeri disminore adalah melakukan aktifitas olahraga. Beberapa latihan dapat meningkatkan

Steve Kosasih, Direktur Keuangan WIKA, mengatakan bahwa pihaknya akan menyuntik anak usaha lebih dari Rp 500 miliar pada September 2016 mendatang.. WIKA berharap, aset Wika

Secara umum kebijakan yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Tual dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang berkaitan dengan kepentingan Peradilan Tingkat Pertama, baik yang

Sehubungan dengan keputusan Mata Acara Rapat Ketiga sebagaimana tersebut di atas, dimana Rapat telah memutuskan untuk dilakukan pembayaran dividen tunai kepada pemegang saham

Bidang Pendaftaran, Ekstensifikasi, dan Penilaian mempunyai tugas melaksanakan bimbingan dan pemantauan pelaksanaan kebijakan teknis pendaftaran, melaksanakan bimbingan

Adanya galur mutan yang memiliki kadar gula batang lebih manis dibandingkan tetua, hal ini terlihat bahwa perlakuan radiasi gamma dapat memperbaiki sifat gula batang

Walaupun Nabi Musa (a.s) diberi mukjizat tongkat sakti dan merupakan seorang rasul yang diberi anugerah oleh Allah dapat bercakap dengan Allah tanpa ada perantaraan , namun

Bahan-bahan hukum yang diperoleh akan dianalisis dengan cara deskriptif kualitatif, khususnya dalam hasil analisis dari pertimbangan hakim dalam putusan pengadilan