Copyright © Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Vokasi (JP2V)
PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MENGGUNAKAN MODEL GROUP
INVESTIGATION (GI) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI
BIOTEKNOLOGI DAN PRODUKSI PANGAN SISWA KELAS IX-9 MTsN 5 PIDIE Nurul Husna1
Diterima : 20 Januari 2021 Disetujui : 04 Februari 2021
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada materi kemagnetan dan pemanfaatannya siswa kelas IX-9 MTsN 5 Pidie Tahun Pelajaran 2019/2020. Model yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah strategi pembelajaran Teams Games Tournament. Subyek Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa Kelas IX-9 MTsN 5 Pidie. Jumlah siswa/i adalah 37 dengan jumlah siswa laki-laki 11 orang dan jumlah siswa perempuan 26 orang. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan pada Tahun Pelajaran 2019/2020. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam kurun waktu 3 bulan yaitu dari bulan Oktober 2019 s.d Desember 2019 pada Semester Ganjil. Metodologi penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas terdiri dari dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Pada setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Prosedur penelitian terdiri dari pra penelitian, perencanaan siklus satu, pelaksanaan tindakan siklus satu, pengamatan siklus satu, refleksi siklus satu, perencanaan siklus dua, pelaksanaan tindakan siklus dua, pengamatan siklus dua dan refleksi siklus dua. Teknik pengumpulan data yaitu mengumpulkan nilai tes yang dilaksanakan pada setiap akhir pembelajaran pada setiap siklus dengan menggunakan instrument soal (tes tertulis). Data observasi dilakukan dengan melihat keaktifan siswa proses pembelajaran. Data dianalisis dengan cara statistik persentase. Hasil Penelitian Tindakan Kelas menunjukkan bahwa terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa dari 43.24% pada pra penelitian meningkat menjadi 70.27% pada siklus I dan meningkat menjadi 89,18% pada siklus II. Aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan dari kategori cukup menjadi baik dan kategori baik meningkat menjadi sangat baik. Penerapan pendekatan kontekstual menggunakan model Group Investigation (GI) dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada materi bioteknologi dan produksi pangan siswa kelas IX-9 MTsN 5 Pidie Tahun Pelajaran 2019/2020.
Kata Kunci: Hasil Belajar, Group Investigation (GI), IPA, Bioteknologi dan Produksi Pangan.
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Kegiatan belajar mengajar sangat diperlukannya interaksi antara guru dan murid yang memiliki tujuan. Agar tujuan ini dapat tercapai sesuai dengan target dari guru itu sendiri, maka sangatlah perlu terjadi interaksi positif yang terjadi antara guru dan murid. Dalam interaksi ini, sangat perlu bagi guru untuk membuat interaksi antara kedua belah pihak berjalan dengan menyenangkan dan tidak membosankan. Hal ini selain agar mencapai target dari guru itu sendiri, siswa juga menjadi menyenangkan dalam kegiatan belajar mengajar, serta lebih merasa bersahabat dengan guru yang mengajar. Sehingga dalam mengajar diperlukan pendekatan dalam pembelajaran.Interaksi dalam pembelajaran adalah bagaimana cara guru dapat meningkatkan motivasi belajar dari siswa. Hal ini berkaitan dengan strategi apa yang dipakai oleh guru, bagaimana guru melakukan pendekatan terhadap siswanya.
Selama ini masih banyak guru di MTsN 5 Pidie yang mengajar IPA di kelas IX-9, diperoleh informasi bahwa 1) dalam proses pembelajaran di kelas, guru menggunakan metode ceramah saat pembelajaran. 2) Dalam proses pembelajaran guru tidak menggunakan media untuk menerangkan materi pembelajaran pada siswa. 3) Dalam proses pembelajaran penerapan bioteknologi dalam mendukung
kelangsungan hidup manusia melalui produksi pangan dengan materi bioteknologi saat proses pembelajaran guru belum menggunakan model pembelajaran langsung, dengan pendekatan kontekstual.
Diperoleh siswa tidak fokus pada materi yang disampaikan oleh guru, hal ini terlihat bahwa pada saat proses pembelajaran banyak siswa melakukan aktivitas diluar pembelajaran seperti keluar masuk saat proses pembelajaran berlangsung dan siswa cenderung pasif didalam kelas. Dalam pembelajaran masih banyak siswa yang tidak merangkum materi yang diajarkan sehingga materi yang disampaikan hanya sebagian siswa yang benar-banar memahami materi yang diajarkan yaitu siswa yang memperhatikan pada saat guru menjelaskan pembelajaran. Proses pembelajaran seperti ini dapat mempengaruhi hasil belajar. Hal ini dapat dilihat dari jumlah siswa 37 dikelas IX-9, ketuntasan belajar secara klasikal hanya 43.24%. Pada hasil nilai rata-rata siswa kelas IX-9 adalah 64.32 sedangkan ketuntasan individu adalah 70 untuk materi pembelajaran IPA.
Ada beberapa macam pendekatan yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran yaitu: Pendekatan Kontekstual, Pendekatan Konstruktivisme, Pendekatan Deduktif, Pendekatan Induktif, Pendekatan Konsep, Pendekatan Proses, dan Pendekatan Sains, Teknologi, dan Masyarakat (Muchtar, Y. 2012). Dari beberapa pendekatan pembelajaran tersebut peneliti menggunakan pendekatan kontekstual karena pendekatan kontekstual,didasarkan pada pikiran bahwa makna muncul dari hubungan antara isi dan konteksnya.Konteks memberikan makna pada isi.Semakin banyak keterkaitan yang ditemukan siswa dalam suatu konteks yang luas, semakin bermakna isinya bagi siswa.Pendekatan kontekstual, suatu pendekatan pendidikan yang berbeda, melakukan lebih dari sekedar menuntun para siswa dalam menggabungkan subjek-subjek akademik dengan konteks keadaan mereka sendiri.Kontekstual melibatkan siswa dalam mencari makna “konteks” itu sendiri (Widatin.T. 2009).
Pendekatan kontekstual dapat digunakan melalui berbagai model pembelajaran antara lain model Group Investigation (GI). Group Investigation adalah kelompok kecil untuk menuntun dan mendorong siswa dalam keterlibatan belajar. Metode ini menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok (group process skills). Hasil akhir dari kelompok adalah sumbangan ide dari tiap anggota serta pembelajaran kelompok yang notabene lebih mengasah kemampuan intelektual siswa dibandingkan belajar secara individual (Riadi, M. 2013).
Menurut Doymus dalam Dewi (2012) pembelajaran GI sangat cocok untuk pelajaran sains yang bertujuan untuk melibatkan siswa dalam penyelidikanilmiah dan mendorong siswa untuk berkontribusi pada pembelajaran didalam kelas. Melalui kerjasama kelompok dan penyelidikan, metode GI mendorong siswa dapat memperoleh suatu penemuan.
Melalui pengajaran model Group Investigation (GI) diharapkan peserta didik mampu menyelesaikan masalah dalam pembelajaran sendiri sedangkan peran guru disini hanya sebagai fasilitator dan juga motivator bagi siswa. Melalui pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran Group
Investigation (GI) diharapkan siswa dapat menumbuhkan minat dan motivasi siswa sehingga dapat aktif
dalam proses pembelajaran dan mampu mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan yang dimilikinya serta membantu siswa dalam merangkum dan memahami materi pembelajaran. Dari latar belakang diatas maka peneliti bekerja sama dengan guru berkalaborasi untuk melakukan perbaikan terhadap proses pembelajaran melalui pendekatan kontekstual menggunakan model Group Investigation (GI). Oleh karena itu, peneliti mengangkat judul penelitian tentang Penerapan pendekatan kontekstual menggunakan model Group Investigation (GI) untukmeningkatkan hasil belajar siswa kelas IX-9 MTsN 5 Pidie.
1.2. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu : Untuk meningkatkan hasil belajar siswa di kelas IX-9 MTsN 5 Pidie dalam pembelajaran IPA dengan menerapkan pendekatan kontekstual menggunakan model
Group Investigation (GI) pada materi bioteknologi dan produksi pangan Tahun Pelajaran 2019/2020. 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Hakikat Pembelajaran IPA di SMP/MTs
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis sehingga IPA bukan hanya sekedar penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga suatu proses penemuan. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan menguasai alam sekitar secara ilmiah (Trianto dalam Silisti, 2013).
Hakikat IPA merupakan makna alam dan berbagai fenomenanya/perilaku/karakteristik yang dikemas menjadi sekumpulan teori maupun konsep melalui serangkaian proses ilmiah yang dilakukan manusia. Teori maupun konsep yang terorganisir ini menjadi sebuah inspirasi terciptanya teknologi yang dapat dimanfaatkan bagi kehidupan manusia (Mariana, 2009).
Biologi sebagai salah satu bidang IPA menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains. Biologi adalah ilmu yang mempelajari makhluk hidup, zat-zat yang dibutuhkan makhluk hidup, dan segala hal yang ada hubungannya dengan makhluk hidup dan lingkungannya (Wijayani, 2013).
Tujuan pembelajaran Biologi di SMP adalah 1) membentuk sikap positif terhadap biologi dengan menyadari keteraturan dan keindahan alam serta mengagungkan kebesaran tuhan yang maha esa, 2) memupuk sikap ilmiah yaitu, jujur, objektif terbuka, ulet, kritis, dan dapat berkerjasama dengan orang lain, 3) mengemangkan pengalaman untuk dapat mengajukan dan menguji hipotesis melalui percobaan, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis, 4) mengembangkan berfikir analisis, induktif dan deduktif dengan menggunkan konsep dan prinsip biologi, 5) megembangkan penguasaan konsep dan prinsip biologi dan saling keterkaitannya dengan IPA lainnya serta mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap percaya diri, 6) menerapkan konsep dan prinsip biologi untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia, 7) meningkatkan kesadaran dan berperan serta dalam menjaga kelestarian lingkungan. PERMEN dalam Ningsih (2013).
2.2. Pendekatan Konstektual
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Menurut sanjaya dalam Rusman, (2012) pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum.
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Aqib.Z, 2013).
Elaine B. Johnson dalam Rusman (2012) mengatakan pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun polapola yang mewujudkan makna. Lebih lanjut, Elaine mengatakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah suatu sistem pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konsteks dari kehidupan sehari-hari siswa.
CTL memiliki lima elemen belajar yang kontruktivistik, yaitu (1) pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge); (2) pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge); (3) pemahaman pengetahuan (understanding knowledge); (4) mempratekkan pengetahuan dan pengalaman (applying knowledge) dan (5) melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut. (Trianto, 2009).
Menurut Muslich (2007) pembelajaran dengan pendekatan kontekstual mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1) Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks otentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan pada ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
2) Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).
3) Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (learning
by doing).
4) Pembelajarandilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, dan saling mengoreksi antar teman (learning in group).
5) Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk menciptakan rasa kebersamaan, berkerja sama, dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam (learning to
know each other deeply).
6) Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerjasama (leaning
7) Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan (learning as an enjoy activity).
2.3. Model Pembelajaran Group Investigation
Menurut Slavin dalam Rusman (2012) strategi kooperatif GI sebenarnya dilandasi oleh filosofi belajar John Dewey. Group Investigation adalah kelompok kecil untuk menuntun dan mendorong siswa dalam keterlibatan belajar. Metode ini menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok (group process skills). Hasil akhir dari kelompok adalah sumbangan ide dari tiap anggota serta pembelajaran kelompok yang notabene lebih mengasah kemampuan intelektual siswa dibandingkan belajar secara individual (Riadi.M, 2013).
Menurut Aqib, Z (2013) menyatakan bahwa, “langkah-langkah pembelajaran pada model pemelajaran GI sebagai berikut:
1) Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok heterogen. 2) Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok.
3) Guru memanggil ketua-ketua untuk satu materi tugas sehingga satu kelompok mendapat tugas satu materi/ tugas yang berbeda dari kelompok lain.
4) Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif berisi penemuan. 5) Setelah selesai diskusi, lewat juru bicara, ketua menyampaikan hasil pembahasan kelompok. 6) Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberikan kesimpulan.
7) Evaluasi. 8) Penutup.
Menurut Sudrajat, A (2009) ada 6 tahapan kemajuan Siswa di dalam Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Group Investigation :
Tabel 1. Tahapan Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Group Investigation Tahap I
Mengidentifikasi topik dan membagi siswa ke dalam kelompok.
Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberi kontribusi apa yang akan mereka selidiki. Kelompok dibentuk berdasarkan heterogenitas.
Tahap II
Merencanakan tugas
Kelompok akan membagi sub topik kepada seluruh anggota. Kemudian membuat perencanaan dari masalah yang akan diteliti, bagaimana proses dan sumber apa yang akan dipakai.
Tahap III
Membuat penyelidikan
Siswa mengumpulkan, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membuat kesimpulan dan mengaplikasikan bagian mereka ke dalam pengetahuan baru dalam mencapai solusi masalah kelompok.
Tahap IV
Mempersiapkan tugas akhir
Setiap kelompok mempersiapkan tugas akhir yang akan dipresentasikan di depan kelas.
Tahap V
Mempresentasikan tugas akhir
Siswa mempresentasikan hasil kerjanya. Kelompok lain tetap mengikuti.
Tahap VI Evaluasi
Soal ulangan mencakup seluruh topik yang telah diselidiki dan dipresentasikan.
2.4. Hasil Belajar IPA
Hasil belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003). Sedangkan menurut Woordworth dalam Efriza (2012), hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari proses belajar. Woordworth juga mengatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan actual yang diukur secara langsung. Hasil pengukuran belajar inilah akhirnya akanmengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah tercapai. Bloom merumuskan hasil belajar sebagai perubahan tingkah laku yang meliputi domain (ranah) kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik.
Hasil belajar merupakan suatu hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar. Penampilan yang dapat diamati sebagai hasil belajar disebut dengan kemampuan. Kemampuan ini perlu dibedakan karena kemampuan memungkinkan berbagai macam penampilan manusia dan arena kondisi untuk memperoleh kemampuan tersebut juga berbeda. Kemampuan ini meliputi: keterampilan
intelektual, strategi kognitif, sikap, informasi verbal dan ketrampilan motorik. Kemampuan intelektual, kognitif, sikap, informasi verbal dan keterampilan motorik dapat menjadi acuan dasar dapat melaksanakan penilaian prestasi belajar siswa. Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa, yaitu : (1) Proyek/ kegiatan dan laporannya, (2) Pekerjaan rumah, (3) Kuis, (4) Karya siswa, (5) Presentasi atau penampilan siswa, (6) Demonstrasi, (7) Laporan, (8) Jurnal, (9) Hasil tes tulis, (10) Karya tulis. (Depdiknas, 2002).
Menurut Sudjana (2008) hasil belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dari siswa dan faktor eksternal yang dating dari lingkungan belajar terutama kualitas pembelajaran. Faktor internal ditekankan pada keadaan psikologi siswa antara lain motivasi, perhatian, pengamatan, tanggapan dan lain sebagainya.Sedangkan faktor eksternal berkaitan dengan lingkungan belajar yang kondusif dan kualitas pembelajaran seperti adanya pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan, serta pembentukan sikap.
3. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan yang dilaksanakan dalam proses belalar mengajar, oleh sebab itu metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), dengan rancangan model siklus yang terdiri dari dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan di MTsN 5 Pidie pada tahun pelajaran 2019/2020 dalam kurun waktu 3 bulan yaitu dari bulan Oktober s.d Desember 2019 pada semester ganjil. Subyek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IX-9 MTsN 5 Pidie. Dengan jumlah 37 siswa yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 26 siswa perempuan.
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Kondisi Awal
Selama ini dalam proses pembelajaran di kelas, guru masih menggunakan metode ceramah saat pembelajaran, dalam proses pembelajaran guru tidak menggunakan media untuk menerangkan materi pembelajaran pada siswa, dalam proses pembelajaran penerapan bioteknologi dalam mendukung kelangsungan hidup manusia melalui produksi pangan dengan materi bioteknologi saat proses pembelajaran guru belum menggunakan model pembelajaran langsung, dengan pendekatan kontekstual. Diperoleh siswa tidak fokus pada materi yang disampaikan oleh guru, hal ini terlihat bahwa pada saat proses pembelajaran banyak siswa melakukan aktivitas diluar pembelajaran seperti keluar masuk saat proses pembelajaran berlangsung dan siswa cenderung pasif didalam kelas juga ditemukan dalam pembelajaran masih banyak siswa yang tidak merangkum materi yang diajarkan sehingga materi yang disampaikan hanya sebagian siswa yang benar-banar memahami materi yang diajarkan yaitu siswa yang memperhatikan pada saat guru menjelaskan pembelajaran.
Sebelum melakukan penelitian, guru memberikan pre tes kepada siswa. Pre test ini dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa sebelum penggunaan pendekatan kontekstual model Group Investigation (GI) dalam pembelajaran. Hasil pre test siswa sebelum penggunaan pendekatan kontekstual model Group
Investigation (GI) dalam pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Pre Test Siswa Sebelum Penggunaan Pendekatan Kontekstual Menggunakan Model
Group Investigation (GI) dalam Pembelajaran.
No Nama L/P KKM Nilai Ketuntasan
1 Aflahur Rahil P 70 70 Tuntas
2 Arkaan Muntazari L 70 60 Belum tuntas
3 Asmaul Husna H. P 70 80 Tuntas
4 Aura Balya P 70 70 Tuntas
5 Cut Navita Zahara P 70 60 Belum tuntas
6 Dhuhra Hannah P 70 90 Tuntas
7 Diana Alvira P 70 70 Tuntas
8 Fatin Al Khaira P 70 50 Belum tuntas
9 Fitria L 70 50 Belum tuntas
10 Hafid Darianta L 70 50 Belum tuntas
11 Hafidhul Aulia P 70 50 Belum tuntas
13 Ira Rodiatul L 70 70 Tuntas
14 M. Arifal Jerda L 70 80 Tuntas
15 Mudassir Mubarraq L 70 80 Tuntas
16 Muhammad Fahril L 70 50 Belum tuntas
17 Muhammad Habil L 70 50 Belum tuntas
18 Muhammad Zarir L 70 40 Belum tuntas
19. Nasrullah L 70 40 Belum tuntas
20. Nur Nazirah P 70 40 Belum tuntas
21. Nursaimah P 70 60 Belum tuntas
22. Pocut Amalia Dhuhra P 70 60 Belum tuntas
23. Putri Raffaila Nofit P 70 60 Belum tuntas
24. Rayyan Silva Safitri P 70 80 Tuntas
25. Reisya Amanda Putri P 70 70 Tuntas
26. Rifqa Anisa P 70 60 Belum tuntas
27. Ryan Syuhada L 70 60 Belum tuntas
28. Salman Al Farisi L 70 40 Belum tuntas
29. Sinta Rahayu P 70 50 Belum tuntas
30. Suci Fazilla P 70 90 Tuntas
31. Syifa Safira P 70 90 Tuntas
32. Syifa Unnaja P 70 60 Belum tuntas
33. Tursina AKmalia P 70 60 Belum tuntas
34. Uswatun Hasanah P 70 90 Tuntas
35. Zahra Salsabila P 70 90 Tuntas
36. Zakiantun Nafis P 70 80 Tuntas
37. Zuhra Putria P 70 60 Belum tuntas
Jumlah 2.380
Jumlah Rata-rata 64.32
Persentase (%) 43.24%
Berdasarkan Tabel 2, hasil pre test siswa yang dilakukan pada saat pra penelitian memperoleh persentase ketuntasan belajar sebesar 43.24%. Nilai terendah pada pre test adalah 40 dan nilai tertinggi adalah 90. Nilai rata-rata pada pre test adalah 64.32 Setelah melakukan pre test, maka peneliti akan melanjutkan penelitian pada Siklus I.
4.2. Hasil Penelitian Siklus I
Setelah penggunaan pendekatan kontekstual model Group Investigation (GI) pada Siklus I, siswa telah mengalami peningkatan pemahaman terhadap materi bioteknologi dan produksi pangan, hal ini terlihat dari hasil tes belajar yang diperoleh oleh siswa. Hasil belajar siswa yang diperoleh setelah penggunaan pendekatan kontekstual model Group Investigation (GI) pada Siklus I dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Belajar Siswa pada Siklus I
No Nama L/P KKM Nilai Ketuntasan
1 Aflahur Rahil P 70 80 Tuntas
2 Arkaan Muntazari L 70 70 Tuntas
3 Asmaul Husna H. P 70 90 Tuntas
4 Aura Balya P 70 80 Tuntas
5 Cut Navita Zahara P 70 70 Tuntas
6 Dhuhra Hannah P 70 100 Tuntas
7 Diana Alvira P 70 80 Tuntas
8 Fatin Al Khaira P 70 60 Belum tuntas
9 Fitria L 70 60 Belum tuntas
10 Hafid Darianta L 70 60 Belum tuntas
12 Humaira P 70 80 Tuntas
13 Ira Rodiatul L 70 80 Tuntas
14 M. Arifal Jerda L 70 90 Tuntas
15 Mudassir Mubarraq L 70 90 Tuntas
16 Muhammad Fahril L 70 60 Belum tuntas
17 Muhammad Habil L 70 60 Belum tuntas
18 Muhammad Zarir L 70 50 Belum tuntas
19. Nasrullah L 70 50 Belum tuntas
20. Nur Nazirah P 70 50 Belum tuntas
21. Nursaimah P 70 70 Tuntas
22. Pocut Amalia Dhuhra P 70 70 Tuntas
23. Putri Raffaila Nofit P 70 70 Tuntas
24. Rayyan Silva Safitri P 70 90 Tuntas
25. Reisya Amanda Putri P 70 80 Tuntas
26. Rifqa Anisa P 70 70 Tuntas
27. Ryan Syuhada L 70 70 Tuntas
28. Salman Al Farisi L 70 50 Belum tuntas
29. Sinta Rahayu P 70 60 Belum tuntas
30. Suci Fazilla P 70 100 Tuntas
31. Syifa Safira P 70 100 Tuntas
32. Syifa Unnaja P 70 70 Tuntas
33. Tursina AKmalia P 70 70 Tuntas
34. Uswatun Hasanah P 70 100 Tuntas
35. Zahra Salsabila P 70 100 Tuntas
36. Zakiantun Nafis P 70 90 Tuntas
37. Zuhra Putria P 70 70 Tuntas
Jumlah 2.750
Jumlah Rata-rata 74.32
Persentase (%) 70.27%
Berdasarkan Tabel 3 hasil hasil belajar pada siklus I, siswa telah mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan hasil pre test sebelum digunakan pendekatan kontekstual model Group
Investigation (GI). Berdasarkan Tabel 3, dari 37 siswa yang mengikuti pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan kontekstual model Group Investigation (GI) terdapat 26 siswa yang sudah mencapai ketuntasan nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) dan 11 siswa lagi belum mencapai ketuntasan nilai KKM. Nilai tertinggi siswa yang diperoleh pada Siklus I yaitu 100 dan nilai terendah adalah 50. Persentase ketuntasan siswa hasil belajar siswa pada Siklus I adalah sebesar 70.27%, dengan nilai rata-rata 74.32. Berdasarkan hasil belajar yang diperoleh pada Siklus I, maka peneliti ingin melanjutkan penelitian pada Siklus II dengan menggunakan model yang sama yaitu pendekatan kontekstual model Group Investigation (GI). Pada Siklus II, peneliti mengharapkan adanya peningkatan hasil belajar yang diperoleh oleh siswa, sehingga persentase ketuntasan siswa juga mengalami peningkatan sesuai dengan indikator Siklus II yang telah ditetapkan oleh peneliti.
4.3. Hasil Penelitian Siklus II
Setelah penggunaan pendekatan kontekstual model Group Investigation (GI) pada Siklus II, siswa telah mengalami peningkatan pemahaman terhadap materi bioteknologi dan produksi pangan, hal ini terlihat dari tes hasil belajar yang diperoleh oleh siswa. Hasil belajar siswa yang diperoleh setelah penggunaan pendekatan kontekstual model Group Investigation (GI) pada Siklus II dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Belajar Siswa pada Siklus II
No Nama L/P KKM Nilai Ketuntasan
1 Aflahur Rahil P 70 80 Tuntas
3 Asmaul Husna H. P 70 90 Tuntas
4 Aura Balya P 70 80 Tuntas
5 Cut Navita Zahara P 70 80 Tuntas
6 Dhuhra Hannah P 70 100 Tuntas
7 Diana Alvira P 70 80 Tuntas
8 Fatin Al Khaira P 70 70 Tuntas
9 Fitria L 70 70 Tuntas
10 Hafid Darianta L 70 70 Tuntas
11 Hafidhul Aulia P 70 70 Tuntas
12 Humaira P 70 80 Tuntas
13 Ira Rodiatul L 70 80 Tuntas
14 M. Arifal Jerda L 70 90 Tuntas
15 Mudassir Mubarraq L 70 90 Tuntas
16 Muhammad Fahril L 70 70 Tuntas
17 Muhammad Habil L 70 70 Tuntas
18 Muhammad Zarir L 70 60 Belum tuntas
19. Nasrullah L 70 60 Belum tuntas
20. Nur Nazirah P 70 60 Belum tuntas
21. Nursaimah P 70 80 Tuntas
22. Pocut Amalia Dhuhra P 70 80 Tuntas
23. Putri Raffaila Nofit P 70 80 Tuntas
24. Rayyan Silva Safitri P 70 90 Tuntas
25. Reisya Amanda Putri P 70 80 Tuntas
26. Rifqa Anisa P 70 80 Tuntas
27. Ryan Syuhada L 70 80 Tuntas
28. Salman Al Farisi L 70 60 Belum tuntas
29. Sinta Rahayu P 70 70 Tuntas
30. Suci Fazilla P 70 100 Tuntas
31. Syifa Safira P 70 100 Tuntas
32. Syifa Unnaja P 70 80 Tuntas
33. Tursina AKmalia P 70 80 Tuntas
34. Uswatun Hasanah P 70 100 Tuntas
35. Zahra Salsabila P 70 100 Tuntas
36. Zakiantun Nafis P 70 90 Tuntas
37. Zuhra Putria P 70 80 Tuntas
Jumlah 2.960
Jumlah Rata-rata 80.00
Persentase (%) 89.18%
Berdasarkan Tabel 4 hasil hasil belajar pada siklus II, hasil belajar siswa telah mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan Siklus I. Berdasarkan Tabel 4, dari 37 siswa terdapat 33 siswa yang sudah mencapai ketuntasan nilai klasikal dan 4 siswa yang belum mencapai ketuntasan klasikal. Nilai tertinggi siswa yang diperoleh pada Siklus II yaitu 100 dan nilai terendah adalah 60. Persentase ketuntasan siswa hasil belajar siswa pada Siklus II adalah sebesar 89.18% dengan nilai rata-rata 80.00. Berdasarkan hasil belajar yang diperoleh pada Siklus II, maka peneliti mencukupkan penelitian sampai pada Siklus II, hal ini dilakukan karena siswa telah mencapai indikator ketuntasan yang harapkan oleh guru.
4.4. Pembahasan Perbandingan Antar Siklus
Penggunaan pendekatan kontekstual model Group Investigation (GI) pada Siklus I telah memperlihatkan adanya peningkatan hasil belajar siswa menjadi lebih baik jika dibandingkan hasil pre test siswa pada saat pra penelitian. Pada Siklus I, siswa yang tidak tuntas dalam pembelajaran adalah siswa yang terlihat belum begitu aktif dalam melakukan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
kontekstual model Group Investigation (GI). Ketidaktuntasan yang dialami oleh siswa dapat disebabkan oleh perlunya adaptasi dengan penggunaan pendekatan kontekstual model Group Investigation (GI). Persentase ketuntasan yang didapatkan pada Siklus I, telah mencapai indikator Siklus I yang ingin dicapai oleh peneliti.
Berdasarkan hasil test, hasil dari observasi serta refleksi yang telah dilakukan pada Siklus I, maka perbaikan yang telah dilakukan oleh peneliti pada Siklus II, telah memberikan hasil yang sesuai dengan harapan penulis. Pada Siklus II, terlihat adanya peningkatan hasil belajar yang diperoleh oleh siswa menjadi lebih baik. Pada Siklus II, persentase ketuntasan siswa telah mengalami peningkatan dan telah mencapai indikator Siklus II yang ditetapkan oleh peneliti.
Pada Siklus II, tidak semua siswa mencapai ketuntasan belajar yang sesuai dengan nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum). Siswa yang tidak mengalami ketuntasan belajar, terlihat mengalami peningkatan yang baik terhadap hasil tes yang mereka peroleh. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada Siklus I dan II, penggunaan pendekatan kontekstual model Group Investigation (GI) telah memberikan nilai yang positif terhadap peningkatan hasil belajar IPA siswa terutama pada materi bioteknologi dan produksi pangan.
Perbandingan persentase hasil belajar siswa pada Pra Siklus, Siklus I dan II dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Perbandingan Persentase Hasil Belajar Siswa pada Pra, Siklus I dan Siklus II
Berdasarkan Gambar 4.1, terlihat bahwa adanya peningkatan hasil belajar siswa dari Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II. Pada Pra Siklus persentase ketuntasan hasil belajar siswa adalah 43.24%. Siklus I, penggunaan pendekatan kontekstual model Group Investigation (GI) telah mampu memberikan persentase hasil belajar siswa yaitu sebesar 70.27% dan telah mengalami peningkatan menjadi 89.18% pada Siklus II.
5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: Penerapan pendekatan kontekstual model Group Investigation (GI) sudah terbukti dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi bioteknologi dan produksi pangan di kelas IX-9 MTsN 5 Pidie Tahun Pelajaran 2019/2020, hal ini dibuktikan dengan perolehan persentase hasil belajar siswa yaitu 43.24% pada pra siklus, 70.27 pada Siklus I, dan 89.18% pada Siklus II.
43.24%
70.27%
89.18%
0.00%
10.00%
20.00%
30.00%
40.00%
50.00%
60.00%
70.00%
80.00%
90.00%
100.00%
Pra Siklus
Siklus I
Siklus II
P
er
se
n
tas
e
(%
)
Perbandingan Persentase Ketuntasan Hasil
Belajar Siswa pada Pra Siklus, Siklus I dan
Siklus II
Pra Siklus
Siklus I
Siklus II
5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan saran yang ingin disampaikan adalah:
1) Dalam kegiatan pembelajaran, Guru mengharap menerapkan pendekatan kontekstual model Group
Investigation (GI) untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.
2) Guru hendaknya mampu menciptakan suasana pembelajaran aktif dan menyenangkan, sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan memilih teknik pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
3) Dalam menuntun peserta didik pada poses pembelajaran, Guru hendaknya aktif memperhatikan masing-masing individu karena setiap individu punya kebutuhan yang heterogen. Ada individu yang punya tingkat pemahaman yang cepat dan ada pula individu punya tingkat pemahaman yang lambat.
6. DAFTAR PUSTAKA
[1] Aqib, Z. 2013. Model-Model, Media dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif). Bandung: Yrama Widya.
[2] Depdiknas. 2002. Pendekatan Konstekstual. Jakarta. Depdiknas.
[3] Dewi Puspitasari. 2012. Strategi Pembelajaran Terpadu (Teori, Konsep, & Implementasi). Yogyakarta: Familia.
[4] Johnson Elaine, B. 2012. CTL-Contextual Teaching & Learning Menjadikan Kegiatan Belajar
Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna. Bandung : Kaifa.
[5] Mariana. 2009. Hubungan Sikap Konsumen Pada Discount Dengan Minat Membeli Produk
Fashion Pada Remaja Akhir. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Malang : Fakultas Psikologi
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. [6] Muchtar, Y. 2012. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC.
[7] Muslich, Mansur. 2007. KTSP. Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Panduan
Bagi Guru. Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah. Jakarta : Bumi Aksara.
[8] Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
[9] Riadi, Muchlisin. 2013. Definisi, Fungsi dan Bentuk Keluarga. Tersedia pada:
http://www.kajianpustaka.com/2012/11/definisi-fungsi-dan-bentuk keluarga.
[10] Rusman, 2012. Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
[11] Sanjaya, Wina. 2013. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.
[12] Sudjana, Nana. 2008. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo. [13] Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Surabaya: Kencana.
[14] Trianto. 2013. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, Konsep, Landasan, dan
Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.
[15] Widatin.T. 2009. Peningkatan Kemampuan Menghitung Volume Bangun Ruang Menggunakan
Pendekatan Konstekstual pada Siswa SD Negeri 2 Sambeng Juawngi Boyolali. Skripsi. Surakarta:
Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Jurusan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. [16] Wijayanti, Anis. 2013. Pengaruh Beberapa Variabel Makro Ekonomi dan Indeks Pasar Modal
Dunia Terhadap Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI. Jurnal Ilmiah