1
PENELITIAN KORELASIONAL
Oleh: Imam Azhar
ABSTRAK
Penelitian pada dasarnya adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah yang dilakukan dengan menerapkan metode ilmiah (scientific methods). Usaha ilmiah adalah untuk menjelaskan, memprediksikan, dan atau mengontrol fenomena. Tujuan ini didasarkan pada asumsi bahwa semua perilaku dan kejadian adalah beraturan dan bahwa semua akibat mempunyai penyebab yang dapat diketahui, (creswell, 1998). Kemajuan kearah ini berhubungan dengan pemerolehan pengetahuan dan pengembangan serta pengujian teori-teori. Eksistensi dari suatu teori yang dapat hidup sangat mempermudah kemajuan ilmu pengetahuan yang secara simultan menjelaskan banyak fenomena. Dibandingkan dengan sumber pengetahuan yang lain, seperti pengalaman, otoritas,penalaaran induktif, dan penalaran deduktif, penerapan metode ilmiah tidak diragukan, paling efesien, dan paling terpercaya.
Kata kunci: penelitian, korelasi.
PENDAHULUAN
Suatu permasalahan diasosiasikan dengan pengalaman dan otoritas sebagai sumber pengetahuan yang secara grafis diilustrasikan oleh sebuah cerita tentang Aristoteles. Menurut cerita suatu hari Aristoteles menangkap seekor lalat dan
secara hati-hati menghitung dan
menghitung kembali kakinya. Kemudia ia mengumumkan bahwa lalat mempunyai lima kaki. Tidak seorangpun meragukan kata-kata Aristoteles. Untuk beberapa tahun penemuannya diterima secara tidak
kritis. Karena lalat yang ditangkap
Aristoteles telah mengalami kejadian yaitu kakinya hilang satu. Apakah anda percaya atau tidak cerita tersebut, itu telah
memberikan ilustrasi keterbatasan
bertumpu pada pengalaman seseorang dan otoritas sebagai sumber ilmu pengetahuan. Sementara, penelitian didefinisikan oleh banyak penulis sebagai suatu proses yang sistematik. Mcmillan dan Schumacher
(1989) dalam Wiersma (1991)
mendefinisikan penelitian sebagai suatu
proses sistematik pengumpulan dan
penganalisisan informasi (data) untuk berbagai tujuan. Sementara Kerlinger (1990) mendefinisikan penelitian ilmiah
se agai penyelidikan sistematik,
terkontrol, empiris, dan kritits tentang fenomena sosial yang dibimbing oleh teori dan hipotesis tentang dugaan yang berhubungan dengan fenomena tersebut. Pe elitia e ggu aka
metode ilmiah, penyelidikan pengetahuan melalui metode pengumpulan, analisis, dan
interpretasi data. Dikaitkan dengan
metode ilmiah, suatu proses penelitian sekurang-kurangnya berisi suatu rangkaian urutan langkah-langkah.
Menurut Emzir (2008), ada Lima langkah yang sesuai dengan metode ilmiah dan melengkapi elemen-elemen umum pendekatan sistematik pada penelitian yaitu 1) identifikasi masalah penelitian, 2) review informasi, 3) pengumpulan data, 4) analisis data, dan 5) penarikan kesimpulan, sebagaimana yang tertuang dalam gambar 1 berikut:
2 Identifikasi masalah Analisis Data Review Informasi Pengumpulan Data Penarikan Kesimpulan
Proses sistematik dari penelitian dan metode ilmiah mengarah pada
aktivitas yang dilibatkan dalam
pelaksanaan suatu studi penelitian.
Aktivitas tersebut tidak terbatas pada suatu jenis penelitian tertentu, melainkan aplikasi secara umum. Wiersma (1991) menyajikan suatu pola urutan aktivitas dalam pelaksanaan suatu studi penelitian dan hubungan setiap aktivitas dengan keberadaan ilmu pengetahuan, seperti terdapat dalam gambar 2.
Deretan kotak paling atas
menyajikan aktivitas umum, da agar mengakomodasi fleksibiatas dalam proses penelitian dan variasi dalam berbagai jenis
penelitian yang berbeda, terdapat
beberapa kegiata yang tumpang tindih.
Sebagai contoh, sutau eksperimen
mungkin dilakukan dengan merumuskan hipotesis terlebih dahulu sebelum data diidentifikasi dan dikumpulkan. Di pihak lain, seseorang peneliti etnografis dapat
merumuskan hipotesis dan
mengidentifikasi data tambahan di dalam
proses penelitian. Karakteristik ini
diidentifikasi oleh tumpang tindih kota dalam gambar.
Kotak-kotak di bawah bukan merupakan aktivitas, tetapi dalam esensi sebagai produk-produk penelitian. Panah-panah mencerminkan hubungan antara akitvitas dan keberadaan ilmu pengetahuan; teori yang berhubungan dan perluasan, revisi, dan teori serta pengetahuan baru. Teori yang berhubungan dianggap menjadi uatu bagian, tetapi tidak harus semua, dati tubuh pengetahuan yang berhubungan dengan masalah penelitian. Perluasan, revisi, dan teori baru, jika ada dari proyek penelitian, kemudian menjadi bagian dari keberadaan tubuh pengetahuan, sebagai pengetahuan baru dan bukan dianggap sebagai teori.
Pada akhir pendahuluan ini,
disajikan juga beberapa macam
pendekatan dalam penelitian sehingga
didapatkan gambaran yang tepat
mengenai posisi pembahasan dalam
makalah ini. Creswell (2003)
mengemukakan tiga pendekatan, yaitu
pendekatan kuantitatif, pendekatan
kualitatif, dan pendekatan metode
gabungan (mixed methods approach). Tabel 1. Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
dan Metode Gabungan (Creswell, 2003)
Pendekat an penelitian Tuntutan pengetahu an Strategi penelitian Metode Gabungan Kuantitatif Asumsi Postpositivi stime Desain eksperimental dan noneksperimen tal Pengukuran sikap, tingkatan (rating) perilaku Kualitatif Asumsi Konstruktiv isme Desain Etnografis, Naratif, fenomenologis, Grounded theory, studi kasus Wawancara terbuka Metode Gabungan Asumsi Pragmatis Sekuensial Concurrent transformatif Pengukuran tertutup, observasi terbuka
3 Berdasarkan tabel tersebut, maka jelaslah
bahwa posisi penelitian korelasional
termasuk menggunakan pendekatan
kuantitatif dan memakai strategi penelitian
desain eksperimental maupun
non-eksperimental.
PEMBAHASAN A. PENGERTIAN
Kata korelasi erasal dari bahasa Inggris correlation. Dalam
bahasa Indonesia diterjemahkan
de ga : hu u ga , atau sali g
hu u ga , atau hu u ga ti al
alik . Dala il u statistik istilah korelasi di eri pe gertia se agai hu u ga a tar dua aria el atau le ih “udijo o,
Peter (2000) mengemukakan bahwa hubungan antar dua variabel dike al de ga istilah Bivariate
Correlation , seda gka hu u ga
antar lebih dari dua variabel disebut
Multivariate Correlation
Definisi di atas dapat
diilustrasikan lebih dalam seperti
berikut: Hubungan antar dua
variabel misalnya, hubungan atau korelasi antara prestasi belajar (variabel X) dan kerajinan kuliah (variabel Y); maksudnya bahwa
prestasi belajar ada
hubungannya dengan kerajinan
kuliah. Hubungan antar lebih dari dua variabel, misalnya hubungan antara prestasi belajar (variabel X) dengan kerajinan kuliah (variabel
Y1), keaktifan mengunjungi
perpustakaan (variabel Y2) dan keaktifan berdiskusi (variabel Y3), lebih jelasnya perhatikan diagram berikut:
Bivariate correlation: X Y
Y Multivarite Correlation: X Y Y
Dalam contoh di atas,
variabel prestasi belajar (variabel X) adalah variabel dependen atau
variabel yang dipengaruhi,
sedangkan variabel kerajinan
kuliah(variabel Y1), keaktifan
mengunjungi perpustakaan (variabel
Y2) dan keaktifan berdiskusi
(variabel Y3) adalah independent variable atau variabel bebas dalam arti berbagai macam variabel yang Identifikasi Masalah Penelitian
Perumusan Hipotesis
Identifikasi Data yang diperlukan Perumusan kembali hipotesis Bila diperlukan Pengumula n data Analisis data Merangkum Hasil Menggambar kan kesimpulan dari implikasi
Keberadaan Tubuh Pengetahuan yang berhubungan dengan masalah
Teori yang berhubungan
Perluasan, Revisi, dan Teori Baru Pengetahuan Baru Merangku m Hasil Menggam barkan kesimpula n dari implikasi
4
dapat mempengaruhi prestasi
belajar.
Demikian gambaran singkat
mengenai pengertian korelasi.
Namun untuk menemukan arti yang lebih komprehensif dapat dijelaskan
lebih luas menganai penelitian
korelasional. Penelitian korelasional adalah penelitian yang dirancang
untuk menentukan tingkat
hubungan variabel-variabel yang
berbeda dalam suatu populasi. Sifat-sifat perbedaan kritis adalah usaha
untuk menaksir hubungan dan
bukan diskripsi saja (Fox, 1969). Melalui penelitian tersebut dapat dipastikan berapa besar yang disebabkan oleh satu variabel dalam hubungannya dengan variasi yang disebabkan oleh variabel lain. Disini, penggunaan pengukuran korelasi adalah untuk menentukan besarnya arah hubungan.
Menurut Gay (1981:182)
penelitian korelasional
kadang-kadang diperlakukan sebagai
penelitian deskriptif, terutama
disebabkan penelitian korelasional
mendeskripsikan sebuah kondisi
yang telah ada. Menurut dia,
bagaimanapun, kondisi yang
didiskripsikan berbeda secara nyata
dari kondisi yang biasanya
didiskripsikan dalam laporan diri atau studi observasi; suatu studi korelasional mendeskripsikan, dalam istilah kuanitatif tingkatan di mana
variabel-variabel tersebut
berhubungan.
Sementara Sutrisno
(2007:167), Penelitian korelasional melibatkan pengumpulan data untuk menentukan apakah, dan untuk tingkatan apa, terdapat hubungan antara dua atau lebih variabel yang
dikuantitatifkan. Tingkatan
hubungan diungkapkan sebagai
suatu koefesien korelasi - yaitu alat
statistik untuk menerangkan
keeratan hubungan antara dua variabel atau lebih. Jika terdapat hubungan antara dua variabel, maka itu berarti bahwa skor di dalam rentangan tertentu pada suatu pengukuran berasosiasi dengan skor di dalam rentangan tertentu pada pengukuran yang lain. Sebagai contoh, terdapat korelasi antara inteligensi dan prestasi akademik; subjek yang skornya tinggi pada tes inteligensi cenderung memiliki rata-rata prestasi akademik yang tinggi
pula, sebaliknya subyek yang
skornya rendah pada tes inteligensi cenderung pula memiliki rata-rata prestasi akademik yang rendah. Tujuan studi korelasional adalah untuk menentukan hubungan antara variabel, atau untuk menggunakan hubungan tersebut untuk membuat prediksi.
Penelitian korelasional
menggambarkan suatu pendekatan
umum untuk penelitian yang
berfokus pada penaksiran pada kovariasi di antara variabel yang
muncul secara alami. Tujuan
penelitian korelasional adalah untuk mengidentifikasi hubungan prediktif dengan menggunakan teknik korelasi atau teknik statistik. Hasil penelitian
korelasional juga mempunyai
implikasi untuk pengambilan
keputusan (Zechmester, 2000:1) Studi hubungan biasanya menyelidiki sejumlah variabel yang
dipercaya berhubungan dengan
suatu variabel mayor, seperti hasil belajar sebagaimana dalam contoh di atas. Variabel yang ternyata tidak mempunyai hubungan yang tinggi
dieliminasi dari perhatian
selanjutnya; variable yang
mempunyai hubungan yang tinggi disarankan untuk diteliti lebih lanjut
5 dengan metode kausal komparatit
(expost facto) atau metode
eksperimental untuk menentukan
jika hubungan tersebut adalah
kausal.
Sebagai contoh, terdapat
fakta bahwa hubungan antara
konsep diri dan hasil belajar tidak mengimplikasikan bahwa konsep diri mempengaruhi hasil belajar atau hasil belajar mempengaruhi konsep diri. Tanpa memperhatikan apakah
hubungan bersifat sebab-akibat,
eksistensi hubungan yang tinggi mengizinkan adanya prediksi.
Studi korelasional
melengkapi penaksiran seberapa tepat hubungan dua variabel. Jika dua variabel mempunyai hubungan
yang tinggi, koefesien korelasi
mendekati +1,00 (atau -1,00) akan diperoleh; jika dua variable tidak mempunyai hubungan, maka suatu koefesien mendekat 0,00 akan ditemukan. Semakin tinggi hubungan
dua variabel, semakin akurat
prediksi yang didasarkan pada
hubungan tersebut. Sementara
untuk hubungan yang agak
sempurna, sejumlah variabel cukup
memadai untuk membolehkan
prediksi yang bermanfaat (Gay, 1981:184)
Dalam penelitian
korelasional harus dikumpulkan dua atau lebih perangkat nilai dari sebuah sampel peserta, lalu dihitung
hubungan antara
perangkat-perangkat tersebut. Misalnya,
seorang peneliti hendak menguji hepotesis tentang hubungan antara kreativitas dan kemampuan mental antara sampel mahasiswa, kemudian nilai dari dua variabel tersebut dikumpulkan, lalu dihitung korelasi koefesien antara dua perangkat itu.
Berkaitan dengan hal
tersebut, Sevilla at,al. (2006)
menyatakan bahwa untuk penelitian hipotesis seperti itu dapat digunakan teknik korelasi. Caranya dengan mengukur sejumlah variabel dan kemudian menghitung koefesien korelasi di antara variabel tersebut untuk menentukan variabel mana yang mempunyai hubungan. Tujuan
umum penelitian semacam ini
adalah untuk menjelajahi variabel-variabel yang mempunyai hubungan yang dapat diidentifikasikan.
Dalam penelitian dengan uji-hipotesis, seseorang haruslah telah mempunyai dasar harapan bahwa mereka dapat mengamati hubungan
antara variabel-variabel yang
diselidiki. Variabel yang dipilih
didasari oleh teori yang dibangun terdahulu sehingga arah pertalian yang diharapkan dapat diasumsikan.
Penelitian korelasional tidak memerlukan sampel yang besar. Diasumsikan jika ada pertalian, maka
akan merupakan bukti bahwa
sampel yang digunakan adalah mewakili populasi yang diselidiki dan instrumen yang digunakan dapat dipercaya dan sahih. Oleh karena itu, yang sangat penting dalam dalam penelitian ini adalah memilih dan
mengembangkan instrumen.
Hubungan atau pertalian secara
signifikan dapat diperoleh bila
instrumen yang digunakan reliable dan valid dalam mengukur variabel-variabel yang diselidiki (Emzir, 2010
Sebelum mengakhiri
pembahasan ini, penulis ingin
mengajak pembaca membahas
sedikit tentang penelitian survey.
Menurut Zechmester (2000),
penelitian survey mengilustrasikan
prinsip-prinsip penelitian
6 dengan cara yang tepat dan efektif untuk mendeskripsikan pemikiran, pendapat, dan perasaan orang. Berbagai survey berbeda dalam tujuan dan ruang lingkup, tetapi secara umum semuanya melibatkan sampling. Hasil yang diperoleh untuk suatu sampel yang dipilih secara
hati-hati dipergunakan untuk
mendes- kripsikan seluruh populasi
objek penelitian yang menarik
perhatian. Survey juga melibatkan penggunaan suatu set pertanyaan awal yang pada umumnya berbentuk kuesioner.
Dengan demikian, jika
digabungkan antara pandangan
Zechmester (2000) pada alinea sebelumnya dengan pendapat Gay (1981:182) di awal pembahasan yang menyatakan bahwa penelitian
korelasional kadang-kadang
diperlakukan sebagai penelitian
deskriptif, terutama disebabkan
penelitian korelasional
mendeskripsikan sebuah kondisi
yang telah ada. Maka dapat
disimpulkan bahwa berbagai macam
dan jenis penelitian dapat
dikategorisasikan ke dalam
penelitian deskriptif jika tujuan utama dari penelitian tersebut adalah mendeskripsikan.
Kiranya, untuk mengakhiri
pembahasan dalam bagian ini,
penulis perlu menukil kembali
tentang taksonomi pemecahan
masalah dalam penelitian
sebagaimana yang diungkapkan oleh Dwiyogo (2010: 13/10/) yaitu: tujuan
akhir penelitian adalah untuk
menarik kesimpulan, untuk
membuat keputusan, untuk
menghasilkan produk, dan untuk mengadakan perbaikan. Sedangkan jika dilihat dari jenis analisis datanya,
maka penelitian itu dapat
dikategorikan sebagai 1) penelitian
untuk menggambarkan atau
mendiskripsikan fenomena dengan
jenis analisisnya deskriptif
kuantitatif, 2) penelitian untuk
menghubungkan antar variabel,
analisisnya adalah analisis
korelasional, dan 3) penelitian untuk
membedakan atau menemukan
perbedaan diantara berbagai
variabel penelitian, maka jenis
analisisnya adalah analisis
komparatif.
Sedangkan Tuckman, B.W. . Dala uku a Conducting
Educational Research”
mengelompokkan beberapa teknik
analisis statistik inferensial
berdasarkan tujuan penelitian dan
pendekatan dalam statistik
inferensial, sebagaimana dalam
tabel 2 berikut: Pendekatan dalam Statistik inferensial Tujuan penelitian Menguji Hubungan Menguji Perbedaan Statistik parametric Korelasi product moment Uji-t students
Korelasi parsial ANAVA
Regresi ANAKOVA
Analisis Faktor MANOVA Analisis Kanonik MANACOVA Statistik Non-Parametrik Korelasi tata jenjang Spearmen Chi Kuadrat Korelasi tata jenjang Kendall Tes Kolmogorovsmirnov Korelasi biserial Tes McNemar Korelasi Point Biserial Tes Wilcoxon Korelasi tetrachoric Tes U Mann-Whitney Korelasi Kontingency
Tes Wald Wolffowitz
Koefesien Phi Tes Q Cohran Koefesien Cramer ANAVA Friedman
Kruskal Walls
Tabel 2. Diadopsi dari Tuckman, B.W.
1978. Conducting Educational
7
B. ARAH, PETA, DAN ANGKA KORELASI
Untuk memberikan gambaran
yang utuh mengenai penelitian
korelasional, maka perlu juga dibahas hal-hal yang berkaitan dengan jenis penelitian ini.
1. Arah Korelasi
Hubungan antar
variabel itu jika ditilik dari segi
arahnya, dapat dibedakan
menjadi dua macam, yaitu:
hubungan yang sifatnya satu arah, dan hubungan yang sifatnya berlawanan arah. Hubungan yang bersifat searah diberi nama
korelasi positif, sedangan
hubungan yang sifatnya
berlawanan arah disebut korelasi
negatif (Borg & Gall, 1989)
Disebut korelasi positif jika dua variabel atau lebih yang
berkorelasi berjalan parallel;
artinya bahwa hubungan tersebut menunjukkan arah yang sama. Misalnya, apabila variabel X
mengalami kenaikan atau
pertambahan, akan diikuti pula
dengan kenaikan atau
pertambahan pada variabel Y,
atau sebaliknya. Contohnya,
kenaikan harga BBM diikuti
dengan kenaikan ongkos
angkutan; sebaliknya jika harga
BBM rendah, maka ongkos
angkutan pun murah (rendah).
Dalam bidang pendidikan
misalnya, terdapat relasi positif
antara nilai hasil belajar
Matematika dan nilai hasil belajar Fisika, Kimia, dan Biologi.
Disebut korelasi negatif jika dua variabel atau lebih yang berkorelasi itu berjalan dengan
arah yang berlawanan,
bertentangan atau berbalikan. Hal ini berarti bahwa kenaikan
atau pertambahan pada variabel X akan diikuti dengan penurunan atau pengurangan pada variabel Y. misalnya, makin meningkatnya kesadaran hokum di kalangan masyarakat diikuti dengan makin menurunnya angka kejahatan atau angka pelanggaran; makin
giat berlatih makinsedikit
kesalahan yang diperbuat oleh seseorang; makin kurang dihayati ajaran agama oleh para remaja
akan diikuti oleh makin
meningkatnya frekwensi
kenakalan remaja; atau
sebaliknya. Pernyataan tersebut dapat dibuatkan bagan seperti berikut:
Korelasi Positif Korelasi Negatif
VX VY VX VY VX VY VX VY
2. Peta Korelasi
Arah hubungan variabel
yang dicari korelasinya, dapat
diamati melalui sebuah peta atau diagram yang dikenal dengan istilah Peta Korelasi. Dalam peta korelasi itu dapat dilihat pencaran titik atau moment dari variabel yang sedang dicari korelasinya. Karena itu peta
korelasi juga disebut Scatter
Diagram (Diagram Pencaran Titik)
Borg & Gall dalam Sudijono
(2003) dan Arikunto (2006),
mendiskripsikan ciri-ciri yang yang terkandung dalam peta korelasi, yaitu:
8 a. Jika korelasi antara variabel X
dan variabel Y merupakan korelasi positif maksimal, atau korelasi positif tertinggi atau korelasi positif sempurna, maka pencaran titik yang terdapat
pada peta korelasi akan
membentuk satu bua garis lurus yang condong kearah kanan (apabila dihubungkan antara satu dengan yang lain), seperti diagram berikut:
Diagram 1.
Korelasi Positif Maksimal
Y 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X
b. Jika korelasi antara variabel X dan variabel Y merupakan korelasi negatif maksimal, atau korelasi negatif tertinggi atau
korelasi negatif sempurna,
maka pencaran titik yang
terdapat pada peta korelasi akan membentuk satu bua garis lurus yang condong kearah kiri (apabila dihubungkan antara satu dengan yang lain), seperti gambar berikut:
Diagram 2: Korelasi Negatif Maksimal
Y 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X
c. Jika korelasi antara variabel X
dan variabel Y termasuk
korelasi positif yang tinggi atau kuat, maka ada peta korelasi pencaran titiknya sedikit mulai menjauh garis linier, yaitu titik tersebut terpencar atau berada di sekitar garis lurus tersebut, dengan kecondongan kearah kanan, seperti dalam diagram 3 berikut:
Diagram 3: Korelasi Positif Tinggi
7 Y 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X
9 d. Jika korelasi antara variabel X
dan variabel Y termasuk
korelasi negatif yang tinggi atau kuat, maka ada peta korelasi pencaran titiknya sedikit mulai menjauh garis linier, yaitu titik tersebut terpencar atau berada di sekitar garis lurus tersebut, dengan kecondongan kearah kiri, seperti dalam diagram 4 berikut:
Diagram 4: Korelasi Negatif Tinggi
Y 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X
e. Jika korelasi antara variabel X
dan variabel Y termasuk
korelasi positif maupun negatif dikatakan sebagai korelasi yang cukup atau sedang dan korelasi
rendah atau lemah, maka
pencaran titik pada peta
korelasi itu semakin jauh
tersebar/menjauhi garis linier, sebagaimana diagram berikut:
Diagram 5: Korelasi Positif Lemah
Y 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X Diagram 6: Korelasi Negatif Lemah
Y 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X 3. Angka Korelasi
Tinggi rendah, kuat lemah atau besar kecilnya suatu korelasi dapat diketahui dengan melihat
besar kecilnya suatu angka
(koefesien) yang disebut Angka Indeks Korelasi atau Coeffesient of
Correlation.
Jadi Angka Indeks Korelasi adalah sebuah angka yang dapat
dijadikan petunjuk untuk
10 kekuatan korelasi di antara variabel yang sedang diselidiki korelasinya.
Angka korelasi biasanya diberi lambang dengan huruf tertentu; misalnya rxy sebagai lambang koefesien korelasi pada teknik korelasi product moment, p
(baca Rho) sebagai lambang
koefesien korelasi pada teknik
korelasi tata jenjang (baca Phi)
sebagai lambang koefesien korelasi pada teknik korelasi Phi, C atau KK sebagai lambang koefesien korelasi pada teknik korelasi Kontingensi, dan lain-lain.
Angka korelasi itu
besarnya berkisar antara 0 (nol) sampai dengan + 1,00; artinya bahwa angka korelasi itu paling tinggi adalah +1,00 dan paling rendah adalah 0. Jika dalam
perhitungan diperoleh angka
korelasi lebih dari 1,00 hal itu merupakan petunjuk bahwa dalam perhitungan tersebut telah terjadi kesalahan.
Korelasi antara variabel X dan variabel Y disebut korelasi
positif apabila angka indeks
erta da plus ; isal a: rxy = + 0,235; rxy = + 0,751 dan sebagainya. Sebaliknya apabila angka indeks korelasi antara variabel X dan
aria el Y erta da i us , aka
korelasi yang demikian disebut korelasi negatif; misalnya: rxy = - 115; rxy = - 0,587
Antara variabel X dan
variabel Y dikatakan tidak ada
hubungannya jika angka indeks
korelasinya = 0.
Angka indeks korelasi yang diperoleh dari proses perhitungan itu sifatnya relative, yaitu angka
yang fungsinya melambangkan
indeks hubungan antar variabel
yang dicari korelasinya. Jadi angka korelasi itu bukanlah angka yang bersifat eksak, atau angka yang merupakan ukuran pada skala linier yang memiliki unit-unit yang sama besar, sebagaimana yang terdapat pada mistar pengukur panjang (mistar penggaris).
Misalnya, angka korelasi
antara variabel X dana variabel Y = 0,75 (rxy = 0,75), sedangkan korelasi antara variabel Y dan variabel Z = 0,25 (ryz = 0,25). Disini kita tidak dapat menyatakan bahwa: rxy = 3 kali lipatnya rxz atau menyatakan bahwa ryz = 1/3 nya rxy.
C. PROSES DASAR PENELITIAN KORELASIONAL
Menurut Gay (1981) studi
hubungan dan studi prediksi
mempunyai karakteristik unik yang membedakan keduanya, proses dasar
keduanya sama. Lebih lanjut ia
menjelaskan prosedur dasar penelitian korelasional yang meliputi: Pemilihan
Masalah, sampel dan pemilihan
instrument, desain dan prosedur, dan teknik analisa data serta interpretasi. Kesemuanya dijelaskan sebagai berikut:
1. Pemilihan Masalah
Studi korelasional dapat
dirancang untuk menentukan
variabel mana dari suatu daftar
yang mungkin berhubungan
maupun untuk menguji hipotesis
mengenai hubungan yang
diharapkan. Variabel yang
dilibatkan harus diseleksi
berdasarkan penalaran deduktif dan penalaran induktif. Dengan kata lain, hubungan yang akan diselidiki harus didukung oleh teori atau
diturunkan dari pengalaman.
Contoh masalah penelitian
11
Judul penelitian:
Kualitas pelayanan Karyawan
Ad i istrasi Akade ik di PT A
Masalah Penelitian:
a. Apakah terdapat hubungan
pengetahuan administrasi
akademik dengan kualitas
pelayanan karyawan?
b. Apakah terdapat hubungan
komunikasi interpersonal
dengan kualitas pelayanan
karyawan?
c. Apakah terdapat hubungan
pengetahuan administrasi
akademik, komunikasi
interpersonal, dan kemampuan
berfikir mekanik dengan
kualitas pelayanan karyawan?
Dari beberapa contoh
pertanyaan diatas jelaslah bahwa
pemilihan masalah dalam
penelitian korelasional harus
menggambarkan hubungan antara satu atau lebih variabel (Variabel Independen) dengan variabel yang lain (Variabel Dependen)
2. Sampel dan Pemilihan Instrumen Sampel untuk studi
korelasional dipilih dengan
menggunakan metode sampling yang dapat diterima, dan 30 subjek dipandang sebagai ukuran sampel
minimal yang dapat diterima.
Sebagaimana suatu studi, adalah
penting untuk memilih dan
mengembangkan pengukuran yang valid dan reliable terhadap variabel yang akan diteliti. Jika variabel yang
tidak memadai dikumpulkan,
koefesien korelasi yang dihasilkan akan mewakili estimasi tingkat
korelasi yang tidak akurat.
Selanjutnya, jika pengukuran yang
digunakan tidak secara nyata
mengukur variabel yang diinginkan, koefesien yag dihasilkan tidak akan mengindikasikan hubungan yang diinginkan.
Sebagai contoh; Seorang
peneliti ingin menentukan
hubungan antara hasil belajar matematika dengan hasil belajar
fisika. Jika dia memilih dan
menggunakan tes keterampilan
berhitung yang valid dan reliable serta tes hasil belajar fisika yang juga valid dan reliabel, koefesien korelasi yang dihasilkan tidak akan
menjadi estimasi akurat dari
hubungan yang diinginkan. Hal ini
dikarenakan keterampilan
berhitung hanya merupakan satu
jenis hasil belajar matematika;
koefesien korelasi yang dihasilkan akan mengindikasikan hubungan antara hasil belajar fisika dan satu jenis dari hasil belajar matematika yaitu keterampilan berhitung. Oleh
karena itu, pemilihan dan
penggunaan instrument yang valid dan reliable harus diperhitungan dengan hati-hati untuk tujuan penelitian tersebut.
3. Desain dan Prosedur
Desain korelasional dasar tidaklah rumit; dua atau lebih skor yang diperoleh dari setiap jumlah sampel yang dipilih, satu skor untuk setiap variabel yang diteliti, dan
skor berpasangan kemudian
dikorelasikan. Koefesien korelasi yang dihasilkan mengindikasikan tingkatan /derajat hubungan antara kedua variabel tersebut. Studi yang
berbeda menyelidiki sejumlah
variabel, dan beberapa penggunaan prosedur statistik yang komplek, namun desain dasar tetap sama dalam semua studi korelasional.
12
4. Teknik Analisis Korelasional
Teknik analisa korelasional
ialah teknik analisa statistik
mengenai hubungan antar dua variabel atau lebih. Adapun tujuan analisis adalah:
a. Ingin mencari bukti
(berlandaskan pada data yang ada), apakah memang benarr
antara variabel yang satu
dengan variabel yang lain
terdapat hubungan atau
korelasi.
b. Ingin menjawab pertanyaan
apakah hubungan antar
variabel itu (jika memang ada
hubungannya), termasuk
hubungan yang kuat, cukupan ataukah lemah
c. Ingin memperoleh kejelasan
dan kepastian (secara
matematis), apakah hubuungan antar variabel itu perupakan hubungan yang berarti atau meyakinkan (signifikan) ataukah hubungan yang tidak berarti atau tidak meyakinkan.
Teknik analisa korelasional – sebagaimana yang telah sedikit diungkap di atas - dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu Teknik analisa Korelasional Bivariat dan
Teknik Analisa Multivariat.
Sebagaimana dalam tabel berikut:
Tabel 3: pembagian teknik analisa Korelasional Teknik Analisa Korelasi Bivariat Teknik Analisa Korelasi Multivariat Korelasi product moment Korelasi parsial Korelasi tata jenjang Spearmen Korelasi Regresi Ganda Korelasi tata jenjang Kendall Analisis Faktor
Korelasi biserial Korelasi Kanonikal
Korelasi Point Biserial Korelasi tetrachoric Korelasi Kontingency Korelasi Koefesien Phi Korelasi Koefesien Cramer Korelasi Rasio
Pengembangan oleh penulis dari Tuckman, B.W. 1978.
Conducting Educational Research. New York: Harcout
Brace Jovanovich, Publisher
Teknik korelasi parsial
digunakan untuk mengetahui
hubungan antara dua variabel, sedangkan efek variabel ketiga ditekan. Teknik korelasi ganda
digunakan untuk menentukan
hubungan antara satu variabel bebas dengan beberapa variabel bebas yang telah digabung. Teknik
korelasi kanonikal digunakan
apabila variabel terikatnya terdiri
atas sub-sub variabel. Teknik
analisis factor digunakan untuk
mengelompokkan sejumlah
variabel menjadi beberapa
kelompok atau variabel baru
(Suryabrata, 1998) dan Sudijono (2003).
5. Proses Analisis Data dan Interpretasi
Bila dua variabel
dikorelasikan hasilnya adalah
koefesien korelasi. Suatu koefesien korelasi disimbolkan dengan angka decimal, antara 0,00 dan +1,00,
atau –0,00 dan –1,00, yang
13
dua variabel. Jika koefesien
mendekati +1,00; kedua variabel
tersebut mempunyai hubungan
positif. Hal ini berarti bahwa
seseorang dengan skor yang tinggi pada suatu variabel akan memiliki skor yang tinggi pula pada variabel lain. Dan seseorang dengan skor rendah pada satu variabel akan memiliki skor yang rendah pada sutau variabel yang lain. Suatu peningkatan pada suatu variabel berhubungan /diasosiasikan dengan peningkatan pada variabel lain. Jika
koefesien korelasi tersebut
mendekati 0,00, kedua variabel
tidak berhubungan. Hal ini berarti
bahwa skor seseorang pada suatu variabel tidak mengindikasikan skor orang tersebut pada variabel lain.
Jika koefesien tersebut
mendekati -1,00, kedua variabel memiliki hubungan yang sebaliknya (negatif). Hal ini berarti bahwa seorang dengan skor tinggi pada suatu variabel akan memiliki skor
rendah pada variabel lain.
Peningkatan pada suatu variabel
akan diasosiasikan dengan
penurunan pada variabel lain, dan sebaliknya (Gay,1981)
Menurut Emzir (2010),
Interpretasi suatu koefesien
korelasi tergantung pada
bagaimana ia akan digunakan. Dengan kata lain seberapa besar ia
diperlukan agar bermanfaat
tergantung pada tujuan
perhitungannya. Dalam studi yang
dirancang untuk menyelidiki
hubungan yang dihipotesiskan,
suatu koefesien korelasi
diinterpretasikan dalam istilah
signifikansi statistiknya. Signifikansi statistik mengacu pada apakah koefesien yang diperoleh berbeda secara nyata dari zero (0) dan
mencerminkan sutau hubungan
yang benar, bukan suatu
kemungkinan hubungan. Keputusan berdasarkan signifikansi statistik
dibuat pada suatu level
kemungkinan (probability) yang
diberikan.
Jadi, berdasarkan ukuran sampel yang diberikan, seorang peneliti tidak diperkenankan untuk secara langsung menentukan secara positif apakah ada atau tidak ada hubungan yang benar antara dua variabel, tetapi dapat dikatakan bahwa secara probabilitas ada atau tidak ada hubungan.
Sementara untuk
menentukan signifikansi statistik maka harus dikonsultasikan pada tabel yang dapat mengatakan
tentang sebeberapa besar
koefesien yang diperlukan untuk
menjadi signifikan pada level
probabilitas dan ukuran sampel yang diberikan.
Untuk level probabilitas yang sama, atau level signifikansi yang sama, koefesien yang besar diperlukan bila sampel yang lebih kecil dilibatkan. Secara umum, memiliki lebih banyak bukti dalam koefesien yang didasarkan pada 100 subjek daripada 10 subjek.
Contoh, pada level Bukti 95%, dengan 10 kasus, seorang
peneliti akan memerlukan
sekurangnya koefesien 0,6319 agar
dapat menyimpulkan eksistensi
suatu hubungan; di pihak lain, dengan 102 kasus, seorang peneliti
hanya memerlukan koefesien
0,1946. Konsep ini berarti bahwa seorang peneliti memperhatikan kasus tersebut ketika dia akan mengumpulkan data pada setiap anggota populasi, bukan hanya sampel. Dalam kasus ini, tidak ada kesimpulan yang dilibatkan, dan
14 tanpa memperhatikan seberapa kecil koefesien korelasi yang ada, itu akan mewakili derajat koefesien yang benar antara variabel untuk populasi tersebut.
Ketika penginterpretasian suatu koefesien korelasi dilakukan, peneliti harus selalu ingat bahwa dia hanya berbicara tentang suatu hubungan, bukan hubungan sebab
akibat (Causal Correlation).
Koefesien korelasi yang signifikan mungkin menyarankan hubungan
sebab akibat tetapi tidak
menetapkannya. Hanya ada satu cara untuk menetapkan hubungan sebab akibat, yaitu eksperimen. Bila seseorang menemukan hubungan yang dekat antara dua variabel, hal itu sering menjadi pemicu untuk
menyimpulkan bahwa satu
menyebabkan yang lain. Dalam kenyataannya, itu hal itu mungkin
tidak saling mempengaruhi;
mungkin terdapat variabel ketiga yang mempengaruhi kedua variabel tersebut. (Emzir,2010:46).
D. APLIKASI TEKNIK ANALISA KORELASIONAL
Di atas telah disinggung sedikit mengenai beberapa teknik analisa korelasional baik yang berupa bivariat maupun yang multivariate. Dalam pembahasan di sub bab ini hanya akan diKorelasi Tata Jenjang, dan Korelasi Point Biserial.
1. Korelasi Product Moment
Product Moment Correlation
atau Product of the Moment
Correlation adalah salah satu teknik untuk mencari korelasi antar dua variabel yang kerap kali digunakan. Teknik korelasi ini dikembangkan oleh Karl Pearson,
yang karenanya sering disebut dengan istilah Teknik Korelasi
Pearson. Sedangkan disebut
Product Moment Correlation
karena koefesien korelasinya
diperoleh dengan cara mencari
hasil perkalian dari
moment-moment variabel yang
dikorelasikan (Product of the
moment).
Teknik ini digunakan ketika
berhadapan dengan kenyataan
seperti; variabel yang dikorelasikan berbentuk gejala atau data yang bersifat continue, sampel yang diteliti mempunyai sifat homogen atau mendekati homogeny, dan
regresinya merupakan regresi
linier. Adapun lambang yang
digu aka adalah r da a gka indeksnya dengan huruf kecil dari huruf-huruf yang dipergunakan dalam variabel-variabel. Misalnya variabel X dan variabel Y, maka angka indeks korelasinya diberi lambang rxy.
Sementara untuk
memberikan interpretasi terhadap A gka I deks korelsi r Product
Moment ini adalah 1) dengan cara
sederhana (kasar) dan 2) dengan jalan berkonsultasi pada tabel Nilai
r Produ t Mo e t.
Dengan cara sederhana dapat digunakan pedoman atau ancer-ancer sebagai berikut:
Besar a r product Moment (rxy) Interpretasi 0,00 – 0,20
Antara Variabel X dan
variabel Y memang
terdapat korelasi, akan tetapi korelasi itu sangat lemah atau sangat rendah
15 diabaikan (dianggap tidak ada korelasi
0,20 – 0,40
Antara Variabel X dan
variabel Y memang
terdapat korelasi yang
lemah atau rendah 0,40 – 0,70
Antara Variabel X dan
variabel Y memang
terdapat korelasi yang
sedang atau cukup
0,70 – 0,90
Antara Variabel X dan
variabel Y memang
terdapat korelasi yang
kuat atau tinggi
0,90 – 1,00
Antara Variabel X dan
variabel Y memang
terdapat korelasi yang
sangat kuat atau sangat tinggi
Cara kedua adalah dengan
e gko sultasika pada ta el r , berikut ini tabelnya.
df. (degrees of freedom) Atau db (derajat bebas)
Banyaknya variabel yang dikorelasikan
2
Harga r pada taraf signifikansi 5% 1% 1 0,997 1,000 2 0,950 0,990 3 0,878 0,950 4 0,811 0,917 5 0,754 0,874 6 0,707 0,834 7 0,666 0,798 8 0,632 0,765 9 0,602 0,735 10 0,576 0,708 11 0,553 0,684 12 0,532 0,661 13 0,514 0,641 14 0,497 0,623 15 0,482 0,606 16 0,468 0,590 17 0,456 0,575 18 0,444 0,561 19 0,433 0,549 20 0,423 0,537
Apabila cara ke dua ini yang ditempuh, maka prosedur yang harus dilalui secara berturut-turut adalah:
a. Membuat hipotesa Ha (hipotesa alternative) dan Ho (hipotesa Nihil (Nul));
Contoh hipotesanya:
Ha: Ada terdapat korelasi positif (atau negatif) yang signifikan antara variabel X dan variabel Y
Ho: Tidak ada tidak terdapat
korelasi positif (atau
negatif) yang signifikan antara variabel X dan variabel Y
b. Menguji kebenaran atau
kepalsuan dari hipotesa yang telah diajukan
Tujuannya untuk
mengetahui kebenaran apakah Ha atau Ho dengan jalan
e a di gka esar a r
yang telah diperoleh dalam
proses perhitu ga atau r
observasi (ro) dengan besarnya r a g ter a tu dala ta el Nilai r Product Moment (rt), dengan terlebih dahulu mencari derajat bebasnya (db) atau degrees of freedomnya (df) yang rumusnya adalah:
16 df = degrees of freedom
N = Number of class
nr = banyaknya variabel yang dikorelasikan
Dengan diperolehnya db
atau df maka dapat dicari besarnya r a g ter a tu dala ta el ilai r Produ t Mo e t, aik pada taraf signifikansi 1% maupun 5%. Jika ro sama dengan atau lebih besar dari pad art maka Hipotesa alternative (Ha) diterima berarti memang benar antara variabel X dan variabel Y ada hubungan yang
signifikan, dan sebaliknya Ho
ditolak
Selanjutnya adalah
menghitung dan memberikan
intepretasi terhadap angka indeks
korelasi r Product Moment.
a. Rumus
Apabila dalam mencari
a gka i deks korelasi r ,
perhitungannya didasarkan pada Deviasi Standar dari data yang sedang dicari korelasinya maka rumusnya adalah
rxy = ∑
N.SDx.SDy
b. Langkah-langkah
Menyiapkan tabel kerja atau tabel perhitungan, yang terdiri dari delapan kolom. Pada kolom 1 dimuat Subjek Penelitian; kolom 2 memuat skor variabel X; kolom 3 memuat skor Y; kolom 4 memuat deviasi sekor variabel X terhadap Mean Groupnya (Mx); Kolom 5 memuat deviasi skor variabel Y
terhadap Mean Groupnya (My); kolom 6 memuat hasil perkalian
antara deviasi x (yaitu x2) dan
kolom 8 memuat hasil
pengkuaadratan deviasi y (yaitu y2).
1) Menghitung Mean dari variabel
X (yaitu Mx) dengan
menggunakan rumus :
2) Menghitung Mean dari variabel
Y (yaitu My) dengan
menggunakan rumus:
3) Menghitung Deviasi Standar variabel X (yaitu SDx) dengan menggunakan rumus:
SDx =
4) Menghitung Deviasi Standar variabel Y (yaitu SDy) dengan menggunakan rumus:
17
5) Menghitung angka Indeks
Korelasi antara variabel X dan variabel Y (yaitu rxy), dengan menggunakan rumus:
rxy =
Adapun untuk menentukan
koefesien korelasi, terdapat tiga macam, sebagaimana tertian di bawah ini: 1) Rumus 1 rxy= 2) Rumus 2 rxy= 3) Rumus 3 rxy=
2. Korelasi Tata jenjang
Korelasi tata jenjang yang disebut dalam istilah bahasa inggris
Rank Difference Correlation atau Rank-Order Correlation, digunakan
untuk menentukan hubungan dua
gejala yang kedua-duanya
merupakan gejala ordinal atau tata jenjang. Teknik ini menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Spearmen, sebagai berikut:
Rho xy = 1 -
Artinya :
Rho xy = koefesien korelasi tata jenjang
D = Difference. Sering
digunakan juga B singkatan
dari Beda. D adalah beda
antara jenjang setiap
subjek
N = Banyaknya subjek
3. Point Bisereal Correlation
Point Bisereal Correlation
atau korelasi point biserial
digunakan apabila kita hendak mengetahui korelasi antara dua variabel, yang satu berbentuk variabel kontinu, sedang yang lain variabel diskrit murni. Misalnya ingin mengetahui hubungan antara jenis kelamin dengan inteligensi,
kemampuan berpidato atau
prestasi belajar.
Hasil perhitungan dengan
korelasi point biserial dapat
diko sultasika ke ta el r hasil
korelasi product Moment.
Rumusnya adalah sebagai berikut:
18
E. CONTOH
Sekali lagi untuk memberikan
ganbaran yang utuh tentang
pembahasan penelitian korelasional, maka penulis sengaja melengkapinya dengan 2 (dua) contoh hasil penelitian disertasi. Contoh penelitian disertasi diambil rangkum dari hasil karya Rusmini (2003) dan Tjut Afrida (2006) Contoh 1:
1. Judul Penelitian
Kualitas Pelayanan Karyawan
administrasi akademik Di
Perguruan Tinggi A.
2. Masalah Penelitian
a) Apakah terdapat hubungan
pengetahuan administrasi
akademik dengan kualitas
pelayanan karyawan?
b) Apakah terdapat hubungan
komunikasi interpersonal
dengan kualitas pelayanan
karyawan?
c) Apakah terdapat hubungan kemampuan berfikir mekanik
dengan kualitas pelayanan
karyawan?
d) Apakah terdapat hubungan
pengetahuan administrasi
akademik, komunikasi
interpersonal, dan kemampuan
berfikir mekanik dengan
kualitas pelayanan karyawan)
3. Kajian Teoritis
Teori-teori yang
dikemukakan dalam penelitian ini
menyangkut variabel-variabel
penelitian yang meliputi kualitas
pelayanan, pengetahuan
administrasi akademik, komunikasi
interpersonal, dan kemampuan berfikir mekanik
4. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian teoritis dan penyusunan kerangka berfikir tentang asumsi hubungan antara variabel bebas dengan variabel
terikat baik secara terpisah
maupun secara bersama-sama, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
a) Terdapat hubungan positif
antara pengetahuan
administrasi akademik dengan kualitas pelayanan
b) Terdapat hubungan positif
antara komunikasi interpersonal dengan kualitas pelayanan
c) Terdapat hubungan positif
antara kemampuan berfikir
mekanik dengan kualitas
pelayanan
d) Terdapat hubungan positif
antara pengetahuan
administrasi akademik,
komunikasi interpersonal, dan kemampuan berfikir mekanik dengan kualitas pelayanan
5. Metodologi Penelitian
Penelitian menggunakan
metode survey dengan pendekatan korelasional. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengetahuan
administrasi akademik (X1),
komunikasi interpersonal (X2), dan kemampuan berfikir mekanik (X3). Sementara itu variabel terikatnya adalah kualitas pelayanan (Y).
Penelitian ini dilakukan di Politeknik Kesehatan Jakarta II dengan unit analisis karyawan administrasi akademik. Penelitian
19 ini dilakukan mulai dari bulan Januari sampai dengan Juli 2003.
Pengambilan sampel sebanyak 60 karyawan dilakukan dengan metode random dari populasi karyawan administrasi akademik di Politeknik Kesehatan Jakarta II yang berjumlah 121 orang dengan tingkat pendidikan SMA.
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dari keempat variabel adalah daftar
pernyataan dan pertanyaan.
Kualitas pelayanan karyawan
sebagai variabel terikat didasarkan pada penilaian mahasiswa, dengan
cara masing-masing karyawan
dinilai oleh tiga orang mahasiswa (rater). Rater dipilih secara acak sederhana. Skor kualitas pelayanan karyawan diperoleh berdasarkan skor rata-rata dari ketiga penilai.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik regresi sederhana dan jamak, korelasi sederhana dan
jamak, dan korelasi parsial.
Sebelum dilakukan pengujian
hipotesis , terlebih dahulu
dilakukan uji persyaratan analisis berupa uji normalitas dan uji homogenitas.
6. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil pengujian
hipotesis penelitan, maka
didapatkan temuan penelitian
sebagai berikut:
a) Terdapat hubungan positif yang
sangat signifikan antara
pengetahuan administrasi
akademik dengan kualitas
pelayanan
b) Terdapat hubungan positif yang
sangat signifikan antara
komunikasi interpersonal
dengan kualitas pelayanan c) Terdapat hubungan positif yang
sangat signifikan antara
kemampuan berfikir mekanik dengan kualitas pelayanan d) Terdapat hubungan positif yang
sangat signifikan antara
pengetahuan administrasi
akademik, komunikasi
interpersonal, dan kemampuan
berfikir mekanik dengan
kualitas pelayanan
Dengan demikian, peneliti
menyimpulkan bahwa kualitas
pelayanan karyawan di Politeknik
Kesehatan Jakarta II dapat
ditingkatan dengan
mengembangkan pengetahuan
administrasi akademik, komunikasi interpersonal, dan berfikir mekanik (Rusmini, 2003)
Contoh 2:
Contoh ini diringkaskan dari hasil penelitian disertasi Tjut Afrida dalam bidang Manajemen Penelitian
pada tahun 2006, dengan
menggunakan analisis jalur (Path
Analysis)
1. Judul Penelitian
Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kemampuan Manajerial, dan
Kepemimpinan terhadap
Efektifitas Kerja Kepala Sekolah SMA Negeri Se-Provinsi Banten
2. Masalah Penelitian
a) Apakah kecerdasan
emosional berpengaruh
langsung terhadap
efektifitas kerja kepala
20 b) Apakah Kecerdasan emosional berpengaruh langsung terhadap kepemimpinan? c) Apakah kemampuan manajerial berpengaruh langsung terhadap
efektifitas kerja kepala
sekolah? d) Apakah kemampuan manajerial berpengaruh langsung terhadap kepemimpinan? e) Apakah kepemimpinan berpengaruh langsung
terhadap efektifitas kerja kepala sekolah?
3. Kajian Teoritis
Teori-teori yang
dikemukakan dalam penelitian
ini menyangkut variabel
penelitian yang meliputi:
efektitas kerja kepala sekolah,
kecerdasan emosional,
kemampuan manajerial, dan
kepemimpinan.
4. Pengajuan Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian teoritis dan kerangka berfikir yang telah
didiskripsikan, peneliti
mengajukan hipotesis penelitian sebagai berikut:
a) Kecerdasan emosional
berpengaruh langsung
terhadap efektifitas kerja kepala sekolah? b) Kecerdasan emosional berpengaruh langsung terhadap kepemimpinan? c) Kemampuan manajerial berpengaruh langsung
terhadap efektifitas kerja kepala sekolah? d) Kemampuan manajerial berpengaruh langsung terhadap kepemimpinan? e) Kepemimpinan berpengaruh langsung
terhadap efektifitas kerja kepala sekolah?
5. Metodologi Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah
a) mengkaji pengaruh
kecerdasan emosional,
kemampuan manajerial, dan
kepemimpinan terhadap
efektifitas kerja kepala sekolah
dan b) mengkaji tingkat
pengaruh kecerdasan emosional,
kemampuan manajerial, dan
kepemimpinan terhadap
efektifitas kerja kepala sekolah
Tempat dan waktu
penelitian. Penelitian ini
dilakukan di SMA Negeri Se-Provinsi Banten pada Bulan
Desember 2005 – 2006
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik analisis jalur (path analysis), dengan model penelitian sebagai berikut:
21 Populasi dan sampel penelitian ini adalah seluruh kepala SMA se-Provinsi banten, dengan sampel 30 kepala sekolah yang diambil secara acak (5 kepala sekolah untuk sampel uji coba instrument dan 25 kepala
sekolah sebagai sampel yang
sesungguhnya.
Untuk mengukur variabel,
peneliti menggunakan kuesioner
untuk efektifitas kerja kepala sekolah dan kepemimpinan. Untuk kecerdasan
emosional dan kemampuan
manajerial digunakan tes. Hipotesis statistic a. H0 : 41 = 0 H1 : 41 > 0 b. H0 : 31 = 0 H1 : 31 > 0 c. H0 : 42 = 0 H1 : 42 > 0 d. H0 : 32 = 0 H1 : 32 > 0 e. H0 : 43 = 0 H1 : 43 > 0 6. Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
a. Kecerdasan emosional (X1)
berpengaruh langsung terhadap efektifitas kerja kepala sekolah (X4) sebesar 2, 28% dengan nilai koefesien jalur 0,1511.
b. Kecerdasan emosional (X1)
berpengaruh langsung terhadap
kepemimpinan (X3) sebesar
30,36% dengan nilai koefesien jalur 0,2730.
c. Kemampuan manajerial (X2)
berpengaruh langsung terhadap efektifitas kerja kepala sekolah (X4)
sebesar 1,59% dengan nilai
koefesien 0,1260.
d. Kemampuan manajerial (X2)
berpengaruh langsung terhadap kepemimpinan (X3) sebesar 7,5%
dengan nilai koefesien jalur
sebesar 0,2730.
e. Kepemimpinan (X3) berpengaruh langsung terhadap efektifitas kerja kepala sekolah (X4) sebesar 1,80%
dengan nilai koefesien jalur
sebesar 0,1343 Kecerdasan Emosional (X1) Kepemimpinan (X3) Kemampuan manajeria (X2)
Efektifitas
Kerja (X
4)
Efektifitas Kerja (X4)
22 Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyatakan bahwa variabel eksogenus kecerdasan emosional
dan kemampuan manjerial
berpengaruh langsung terhadap
variabel kepemimpinan sebagai
variabel endogenus pertama dan menjadi variabel eksogenus ketiga
terhadap variabel endogenus
efektifitas kerja kepala sekolah. Dilihat dari kekuatan pengaruh,
ternyata persentase pengaruh
variabel kecerdasan emosional lebih
besar dari pada persentase
pengaruh variabel kemampuan
manajerial terhadap variabel
endogenus kepemimpinan dan
efektifitas kerja kepala sekolah.
Dengan demikian, peneliti
menyimpulkan bahwa kecerdasan
emosional lebih dominan
memengaruhi efektifitas kerja
kepala sekolah dibandingkan
kemampuan manajerial dan
kepemimpinan.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan tersebut di atas maka penulis dapat menarik kesimpulan, sebagai berikut:
1. Penelitian korelasional adalah
penelitian yang dirancang untuk
menentukan tingkat hubungan
variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi.
2. Hubungan antar variabel itu jika ditilik dari segi arahnya, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: hubungan yang sifatnya satu arah, dan hubungan
yang sifatnya berlawanan arah.
Hubungan yang bersifat searah diberi
nama korelasi positif, sedangan
hubungan yang sifatnya berlawanan arah disebut korelasi negative. Arah
hubungan variabel yang dicari
korelasinya, dapat diamati melalui sebuah peta atau diagram yang dikenal dengan istilah Peta Korelasi. Dalam peta korelasi itu dapat dilihat pencaran titik atau moment dari
variabel yang sedang dicari
korelasinya. Karena itu peta korelasi
juga disebut Scatter Diagram
(Diagram Pencaran Titik). Jadi Angka Indeks Korelasi adalah sebuah angka yang dapat dijadikan petunjuk untuk mengetahui seberapa besar kekuatan korelasi di antara variabel yang sedang diselidiki korelasinya.
3. Prosedur dasar penelitian korelasional meliputi: Pemilihan Masalah, sampel dan pemilihan instrument, desain dan prosedur, dan teknik analisa data serta interpretasi.
4. Macam-macam penelitian
korelasional terbagi menjadi dua
golongan, yaitu Teknik Analisa
Korelasional Bivariat dan Teknik
23
DAFTAR PUSTAKA
Afrida, Tjut. . Pe garuh Ke erdsasa
Emosional, Kemampuan
Manajerial, dan Kepemimpinan
terhadap Efektivitas Kerja
Kepala Sekolah SMA Negeri
se-Pro i si a te , .
Disertasi. Jakarta: PPS UNJ
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur
Penelitian; Suatu Pendekatan praktis. Jakarta: Rhineka Cipta
Borg & Gall. 1979. Educational Research. Edisi ke . Ne York: Lo g a ’s Green &co.
Dillon, William R,. & Goldstein, Matthew.
1984. Multivariate Data
Analysis; Methods and Aplication. Canada: Jhon Wiley
& Sons, Inc.
Emzir. 2008. Metodologi Penelitian
Pendidikan; Kualitatif dan Kuantitatif. Jakarta: PT. Grafindo Persada
Fox, David J. 1979. The Research Process in
Education. New York: Heider
and Heider.
Gay, L. R. & Airasian, Peter. 2000.
Educational Research: Competencies for Analysis and Application. London:
Prentice-Hall International (UK) ltd. Gay, L. R. 1981. Educational Research:
Competencies for Analysis and Application. Colombus: Charles
E. Merril Publishing Company. Hair, Joseph F., Anderson, Tatham, & Black.
1998. Multivariate Analysis.
Fifth edition. New Jersey:
Prentice Hall International, Inc.
Rus i i. . Kualitaas Pela a a
Karyawan Administrasi
Akademik: Survey di Politeknik
Kesehatan Jakarta (200 .
Sinopsis Disertasi. Jakarta: PPS
UNJ.
Seville, Consuelo G., Ochave, Jesus A., Punsulam, Twila G., Regela, Bella P., & Uriarte, Gabriel G,.
1998. Pengantar Metode
Penelitian. Jakarta: UI Press
Sudijono, Anas. 2003. Pengantar Statistik
Pendidikan. Jakarta: PT. Grafindo Persada
Tabachnick, Babara & Fidell, Linda S. 1983.
Using Multivariate Statistic.
New York: Harper & row
Publisher, Cambridge,
Philadelphia
Tuckman, B.W. 1978. Conducting
Educational Research. New York: Harcout Brace Jovanovich, Publisher
Wiersma, William. 1991. Research Methods
in Education: An Introduction.
Boston: Allyn and Bacon
Zechmeister & Shaughnessy. 2000.
Research Methods in
Psychology, 5/e Chapter 4: Correlational Research: Surveys.
(Online Learning Center).
http://www.mhhe.com/socscie nce/psychology/shaugh/ch04_s ummary.html.