II-1
BAB II
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
Gambaran Umum kondisi daerah Kabupaten Lingga memberikan gambaran awal tentang kondisi daerah dan capaian pembangunan Kabupaten Lingga secara umum. Gambaran umum tersebut menjadi pijakan awal penyusunan rencana pembangunan 5 (lima) tahun kedepan melalui pemetaan secara objektif kondisi daerah dari aspek geografi dan demografi, kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, dan daya saing daerah.Sebagaimana kita ketahui bersama, Kabupaten Lingga telah dikenal beberapa abad silam sebagai Kerajaan Melayu Lingga dan mendapat julukan “Negeri Bunda Tanah Melayu”. Pada kurun waktu 1722-1911, terdapat dua Kerajaan Melayu yang berkuasa dan berdaulat yaitu Kerajaan Riau Lingga yang pusat kerajaan dan Kerajaan Melayu Riau di Pulau Bintan.
Sebelum ditandatanganinya Treaty of London, maka kedua Kerajaan Melayu tersebut dilebur menjadi satu sehingga kerajaan tersebut menjadi semakin kuat. Wilayah kekuasaannya pun tidak hanya terbatas di Kepulauan Riau saja, tetapi telah meliputi daerah Johor dan Malaka (Malaysia), Singapura, dan sebagian kecil wilayah Indragiri Hilir. Pusat kerajaan terletak di wilayah Pulau Penyangat dan menjadi terkenal di seluruh wilayah nusantara dan juga kawasan Sepenanjung Malaka. Setelah Sultan Riau meninggal pada tahun 1911, Pemerintah Hindia Belanda menempatkan amir-amirnya sebagai Districh Thoarden untuk daerah yang besar dan Onder Districh Thoarden untuk daerah yang agak kecil. Pemerintah Hindia Belanda akhirnya menyatukan wilayah Riau Lingga dengan Indragiri untuk dijadikan sebuah karesidenan yaitu: Afdelling Tanjungpinang yang meliputi Kepulauan Riau-Lingga, Indragiri Hilir, dan Kateman yang kedudukannya berada di wilayah Tanjungpinang dan sebagai penguasanya ditunjuk seorang Residen.
II-2
Berdasarkan Surat Keputusan dari delegasi Republik Indonesia (RI) maka Provinsi Sumatera Tengah pada tanggal 18 Mei 1950 menggabungkan diri ke dalam Republik Indonesia dan Kepulauan Riau diberi status daerah Otonom Tingkat II yang dikepalai oleh Bupati sebagai kepala daerah dengan membawahi empat daerah kewedanan sebagai berikut:
1. Kewedanan Tanjungpinang meliputi wilayah Kecamatan Bintan Selatan (termasuk Kecamatan Bintan Timur, Galang, Tanjungpinang Barat, dan Tanjungpinang Timur sekarang).
2. Kewedanan Karimun meliputi wilayah Kecamatan Karimun, Kundur, dan Moro. 3. Kewedanan Lingga meliputi wilayah Kecamatan Lingga, Kecamatan Singkep,
dan Kecamatan Senayang.
4. Kewedanan Pulau Tujuh meliputi wilayah Kecamatan Jemaja, Siantan, Midai, Serasan, Tambelan, Bunguran Barat dan Bunguran Timur.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2000, Kabupaten Kepulauan Riau dimekarkan menjadi 3 kabupaten yang terdiri dari: Kabupaten Kepulauan Riau, Kabupaten Karimun dan Kabupaten Natuna. Wilayah Kabupaten Kepulauan Riau hanya meliputi 9 kecamatan saja, meliputi: Kecamatan Singkep, Kecamatan Lingga, Kecamatan Senayang, Kecamatan Teluk Bintan, Kecamatan Bintan Utara, Kecamatan Bintan Timur, Kecamatan Tambelan, Kecamatan Tanjungpinang Barat, dan Kecamatan Tanjungpinang Timur. Kemudian dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 5 tahun 2001, maka Kota Administratif Tanjungpinang berubah menjadi Kota Tanjungpinang yang mana statusnya sama dengan kabupaten yang membawahi Kecamatan Tanjungpinang Barat dan Tanjungpinang Timur. Dengan demikian, maka Kabupaten Kepulauan Riau hanya meliputi Kecamatan Singkep, Lingga, Senayang, Teluk Bintan, Bintan Utara, Bintan Timur dan Tambelan. Pada akhir tahun 2003 dibentuklah Kabupaten Lingga sesuai dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2003 tanggal 18 Desember 2003, yang mana memiliki wilayah Kecamatan Singkep, Singkep Barat, Lingga, Lingga Utara dan Senayang.
II-3
2.1. Aspek Geografis dan Demografi
Aspek geografi dan demografi mengambarkan karateristik lokasi wilayah pengembangan wilayah, kerentanaan wilayah dan domegrafi Kabupaten Lingga.
Kabupaten Lingga terletak di antara 0 derajat 20 menit Lintang Utara dengan 0 derajat 40 menit Lintang Selatan dan 104 derajat Bujur Timur dan 105 derajat Bujur Timur. Luas wilayah daratan dan lautan mencapai 45.456,7162 km persegi dengan luas daratan 2.117,72 km persegi dan lautan 43.338,9962 km persegi. Wilayahnya terdiri dari 531 buah pulau besar dan kecil. Tidak kurang dari 95 buah diantaranya sudah dihuni, sedangkan sisanya 436 buah walaupun belum berpenghuni sebagiannya sudah dimanfaatkan untuk berbagai aktifitas kegiatan pertanian, khususnya pada usaha perkebunan.
Kabupaten Laingga secara administrasi berbatasan dengan: Sebelah Utara : Kota Batam dan laut Cina Selatan; Sebelah Selatan : Laut Bangka dan Selat Berhala; Sebelah Barat : Laut Indragiri Hilir;
II-4 Gambar. G-II.1
Peta Wilayah Kabupaten Lingga
Sumber: Dokumen LPPD Kab. Lingga, 2010 2.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah
Karateristik lokasi dan wilayah pada sub bab ini menjelaskan tentang luas dan batas wilayah serta letak dan kondisi geografis Kabupaten Lingga.
a. Luas dan Batas Wilayah
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Lingga di Provinsi Kepulauan Riau, Kabupaten Lingga mempunyai luas wilayah daratan dan lautan mencapai 211,772 km2 dengan luas daratan 2.117,72 km2 (1 %) dan lautan 209,654 km2 (99%).
II-5 Tabel. T-II.1.
Pembagian Dan Luas Wilayah Kabupaten Lingga
No Kecamatan Banyaknya Luas Daratan
Km2 Kelurahan Desa 1 Singkep Barat 1 8 337,10 2 Singkep 2 9 491,90 3 Lingga 1 17 609,51 4 Lingga Utara 1 7 283,21 5 Senayang 1 10 396,00 Jumlah 6 51 2.177,72
Sumber : BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2009.
Gambar. G-II.2
Luas Daratan Menurut Kecamatan di Kabupaten Lingga
Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2009
Dari Kecamatan yang ada di Kabupaten Lingga, terluas adalah Kecamatan Lingga yaitu 609,51 km2 (29% dari total luas daratan) yang terdiri dari 17 Desa dan 1 Kelurahan, kemudian Kecamatan Singkep yaitu 491,90 km2 (23% dari total luas daratan) yang terdiri dari 9 Desa dan 2 Kelurahan. Tabel. T-II.2. berikut ini menunjukkan jumlah Desa/Kelurahan yang ada dimasing-masing Kecamatan.
II-6 Tabel. T-II.2.
Desa/Kelurahan Yang Ada di Kabupaten Lingga
No Kecamatan Desa/Kelurahan
1 Singkep Barat Raya Sungai Buluh
Bakong Sungai Raya
Kuala Raya Sungai Harapan
Marok Tua Jagoh
Posek
2 Singkep Dabo Berhala
Dabo Lama Tanjung Harapan
Berindat Batu Berdaun
Kote Batu Kacang
Lanjut Sedamai
Marok Kecil
3 Lingga Daik Panggak Darat
Pekajang Panggak Laut
Kelombok Musai
Mapar Kerandi
Penuba Pekaka
Selayar Keton
Kelumu Sei Pinang
Mentuda Bukit Langkap
Merawang Kudung
4 Lingga Utara Pancur Resun
Bukit Harapan Sekanah
Duara Teluk
Limbung Linau
5 Senayang Senayang Mensanak
Mamut Tanjung Kelit
Pasir Panjang Pulau Batang
Rejai Benan
Temiang Batu Belubang
Pulau Medang
II-7 b. Letak dan Kondisi Geografis
Secara Geografis Kabupaten Lingga terletak di antara 0° 00’ - 1° 00’ Lintang Selatan dan 103° 30’ - 105°00’ Bujur Timur.
Topografi
Jika dilihat dari topografinya, sebagian besar daerah di Kabupaten Lingga adalah berbukit-bukit. Berdasarkan data dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), terdapat 73.947 ha yang berupa daerah berbukit-bukit, sementara daerah datarnya hanya sekitar 11.015 ha. Pada dasarnya, wilayah Kebupaten Lingga memiliki kemiringan yang ideal untuk dikembangkan sebagai kawasan perkotaan, karena hampir mencapai 65 %, wilayah Kabupaten Lingga berada dalam kemiringan 0-2 %, disusul oleh wilayah dengan kemiringan di atas 40 % yaitu mencapai hampir 17 %. Hal ini dapat dilihat pada Tabel. T-II.3 dan Error! Reference source not found. berikut ini:
Tabel. T-II.3.
Tinggi Rata-Rata Dari Permukaan Laut Menurut Kecamatan
No Kecamatan Tinggi (m dpl) 1. Singkep Barat 0-415 2. Singkep 0-519 3. Lingga 0-1.272 4. Lingga Utara 0-800 5. Senayang 0-200
Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2009
Jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Lingga pada umumnya adalah podsolik merah kuning, litosol, dan organosol. Adapun lapisan tanahnya berstruktur remah sampai gumpal. Sedangkan lapisan bawahnya berselaput liat dan teguh. Sementara untuk jenis batu-batuannya, batuan Pluton Asam (Acid Pluton) yang berupa batuan sejenis granit tersebar pada kawasan Gunung Daik di bagian barat Pulau Lingga, selain itu terdapat juga batuan endapan dari Zaman Prateseiser yang tersebar di seluruh Pulau Lingga.
II-8 Tabel. T-II.4.
Kelas Lereng Dengan Luas Penyebaran Di Kabupaten Lingga
N o Kecamata n 0 - 2% 2 - 15% 15 - 40% > 40% Jumlah (Ha) Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % 1 Singkep Barat 13,810. 34 40. 97 4,790. 96 14. 20 11,203 .17 33. 18 3,905. 53 11. 56 33,798. 34 10 0 2 Singkep 31,250. 60 63. 53 13,696 .30 27. 81 3,726. 88 7.5 6 516.22 1.0 5 49,288. 90 10 0 3 Lingga 35,281. 80 57. 89 1,421. 89 2.3 3 3,354. 13 5.5 0 20,893 .18 34. 24 61,016. 71 10 0 4 Lingga Utara 16,571. 13 58. 51 - - 1,478. 35 5.2 1 10,271 .52 36. 19 28,384. 72 10 0 5 Senayang 39,247. 41 99. 11 - - 352.59 0.8 9 - - 39,700. 00 10 0 Jumlah 136,161 .28 64. 30 19,909 .15 9.3 9 20,115 .12 9.4 8 35,586 .45 16. 77 212,188 .68 10 0
Sumber: Bakosurtanal dan Hasil Analisis, 2009
Geomorfologi
Berdasarkan bentuk bentang alam dan sudut lerengnya, daerah penyelidikan dapat dibagi menjadi 6 (enam) satuan morfologi, yaitu:
1) Dataran
Merupakan daerah dataran aluvial sungai dengan kemiringan lereng medan antara 0-5% (0-30), ketinggian wilayah antara 18-45 meter di atas permukaan laut. Pada daerah yang termasuk dalam satuan morfologi ini mempunyai tingkat erosi sangat rendah. Penyebaran satuan ini adalah di bagian timur daerah pemetaan, yaitu sekitar Kecamatan Senayang, Kecamatan Lingga Utara, dan sebagian di Kecamatan Singkep Barat.
II-9
2) Perbukitan berelief halus
Satuan morfologi ini mempunyai bentuk permukaan bergelombang halus dengan kemiringan lereng medan 5-15% (3-80), ketinggian wilayah antara 45-144 meter di atas permukaan laut. Pada daerah yang termasuk ke dalam satuan morfologi ini mempunyai tingkat erosi rendah. Penyebaran satuan ini antara lain menempati daerah sebagian di Kecamatan Singkep Barat dan Kecamatan Singkep.
3) Perbukitan berelief sedang
Satuan morfologi ini mempunyai bentuk permukaan bergelombang sedang dengan kemiringan lereng medan 15-30% (8-170) dengan ketinggian wilayah 150-400 meter di atas permukaan laut. Pada daerah yang termasuk dalam satuan morfologi ini mempunyai tingkat erosi rendah sampai menengah. Penyebaran satuan ini antara lain di daerah sekitar sebagian di Kecamatan Singkep Barat dan Kecamatan Singkep serta sebagian di Kecamatan Lingga.
4) Perbukitan berelief agak kasar
Satuan morfologi ini mempunyai bentuk permukaan bergelombang agak kasar dengan kemiringan lereng 30-50% (17-270), dengan ketinggian wilayah 200-550 meter di atas permukaan laut. Pada daerah yang termasuk dalam satuan morfologi ini mempunyai tingkat erosi menengah. Penyebaran satuan ini antara lain di daerah sekitar Kecamatan Singkep, dan sebagian kesil terdapat di Kecamatan Singkep Barat, Kecamatan Lingga dan Kecamatan Lingga Utara.
5) Perbukitan berelief kasar
Satuan morfologi ini mempunyai bentuk permukaan bergelombang kasar dengan kemiringan lereng 50-70% (27-360), dengan ketinggian wilayah 225-644 meter di atas permukaan laut. Pada daerah yang termasuk dalam satuan morfologi ini mempunyai tingkat erosi tinggi. Penyebaran satuan ini antara lain sebagian besar di Kecamatan Lingga
II-10
dan sebagian kecil di Kecamatan Lingga Utara serta sebagian kecil di sekitar Kecamatan Singkep.
6) Perbukitan berelief sangat kasar sampai hampir tegak
Satuan morfologi ini mempunyai bentuk permukaan bergelombang sangat kasar dengan kemiringan lereng lebih besar dari 70% (>360), dengan ketinggian wilayah 262-815 meter di atas permukaan laut. Pada daerah yang termasuk dalam satuan morfologi ini mempunyai tingkat erosi sangat tinggi, terutama erosi vertikalnya. Penyebaran satuan ini antara lain terdapat di sekitar di Kecamatan Lingga dan sebagian kecil di Kecamatan Lingga Utara serta sebagian kecil di sekitar Kecamatan Singkep.
Iklim dan Hidrologi
Kabupaten Lingga mempunyai iklim tropis dan basah dengan variasi curah hujan rata-rata 216,7 mm sepanjang tahun 2009. Setiap bulannya curah hujan cenderung bervariasi. Sementara pada bulan desember merupakan bulan dengan curah hujan paling banyak.
Berdasarkan data-data yang ada maka dapat diketahui bahwa iklim di daerah Lingga mempunyai sifat-sifat yaitu suhu rata-rata 26,8 ⁰C; kelembaban relatif rata-rata 84%; Kecepatan angin rata-rata 5 knot; tekanan udara rata-rata 1009,4 millibar; jumlah curah hujan rata-rata 13,5 mm/hari. Kabupaten Lingga dialiri oleh sungai-sungai yang menjadi potensi sumber air bagi pemenuhan kebutuhan air baik bagi pertanian ataupun kegiatan yang lainnnya. Di Kabupaten Lingga mempunyai potensi air yang surplus sepanjang tahun, dengan jumlah curah hujan yang berkisar antara 2000-3500 mm/thn dengan kondisi air surplus maka potensi sumber daya air cukup besar yang dapat dimanfaatkan, berikut merupakan uraian potensi ketersediaan air lahan.
II-11 Tabel. T-II.5.
Potensi Ketersediaan Air Lahan Di Kabupaten Lingga
Nama Daerah Curah Hujan
(mm/th) Air Tersedia (mm) Kondisi Air (mm/th) Defisit Surplus Lingga 2600,7 64 0 968 Singkep 2600,7 82,2 0 968 Senayang 2600,7 62,7 0 968
Sumber: Hasil Analisis, 2009
Kemampuan Lahan
Berbagai aspek geologi tata lingkungan yang ditemui di Kabupaten Lingga antara lain, kemampuan lahan hidrogeologi, kemampuan lahan morfologi, kestabilan lereng, kemampuan lahan pertambangan, dan kemampuan lahan bencana alam. Sebagai dasar dalam melakukan analisis kemampuan lahan digunakan sebagai pedoman adalah peta geologi kuarter yang merupakan peta geologi yang memperlihatkan proses pembentukan alam pada periode kuarter sampai sekarang sehingga informasi yang diperoleh akan lebih relevan. Karakteristik lahan mencerminkan potensi, kendala dan limitasi yang berperan sebagai faktor penunjang dan penghambat dalam pengembangan pola tataguna lahan, yaitu:
a. Lahan yang dapat dikembangkan (disebut wilayah kemungkinan), merupakan wilayah yang mempunyai kendala relatif kecil. Kemungkinan kesuaian lahan wilayah ini antara lain kesesuaian lahan untuk permukiman serta kesesuaian lahan pertanian lahan basah dan kering. b. Lahan yang mungkin dikembangkan dengan berbagai konsekuensi
ekonomi dan fisik (Wilayah Kendala). Wilayah kendala dalam pemanfaatan lahan sebaiknya diprioritaskan sebagai kawasan hutan produksi, perkebunan, dan persawahan.
c. Lahan yang tidak mungkin dikembangkan, karena merupakan limitasi mutlak yang berkonsekuensi luas secara ekonomi maupun fisik (Wilayah
II-12
Limitasi). Wilayah ini harus dikonservasi atau dikembangkan sebagai kawasan lindung.
Tabel. T-II.6.
Karakteristik Lahan Berdasarkan Kawasan
URAIAN
KAWASAN DAYA DUKUNG LAHAN (Ha)
SINGKEP BARAT SINGKEP LINGGA LINGGA UTARA SENAYANG TOTAL Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) %
KAWASAN LINDUNG 9,230.30 28.01 2,038.02 6.19 14,421.67 43.77 2,817.10 8.55 4,441.41 13.48 32,948.50 16 Hutan Lindung 6,204.19 27.53 2,038.02 9.04 13,202.66 58.59 1,088.41 4.83 - - 22,533.28 68.39 Hutan Bakau 3,026.10 13.43 - - 1,219.01 - 1,728.69 - 4,441.41 - 10,415.22 46.22 KAWASAN BUDIDAYA 24,479.70 13.69 47,151.98 26.37 46,529.34 26.02 25,503.89 14.26 35,158.59 19.66 178,823.50 50 Hutan Produksi 8,091.89 35.91 16,160.03 71.72 22,216.53 98.59 12,489.93 55.43 - - 58,958.38 55.69 Pesawahan 475.15 2.11 2,351.17 10.43 1,589.73 7.06 1,205.35 5.35 6,508.59 28.88 12,129.99 11.46 Perkebunan 3,492.56 15.50 799.37 3.55 7,881.25 34.98 1,205.35 5.35 21,394.98 94.95 34,773.51 32.85 Permukiman 1,017.10 4.51 554.15 2.46 266.57 1.18 476.31 2.11 73.02 0.32 2,387.15 3.27 Pertanian Lahan Basah 4,483.00 19.90 15,357.26 68.15 10,071.26 44.70 3,198.00 14.19 4,908.00 21.78 38,017.52 52.11 Pertanian Lahan Kering 6,920.00 30.71 11,930.00 52.94 4,504.00 19.99 6,928.95 30.75 2,274.00 10.09 32,556.95 44.62 T O T A L 33,710.00 15.92 49,190.00 23.23 60,951.00 28.78 28,321.00 13.37 39,600.00 18.70 211,772.00 100
Sumber: Hasil Analisis, 2009
a) Kemampuan Lahan Morfologi-Kestabilan Lereng
Kestabilan lereng erat kaitannya dengan morfologi dan sifat batuan/tanah. Untuk wilayah Kabupaten Lingga, sifat tanah/batuan pada umumnya juga dapat dikatakan stabil, kecuali wilayah yang terdiri dari endapan lempung laut (M), serta endapan sungai yang muda.
b) Kemampuan Lahan Sumber Air
Kemampuan lahan hidrogeologi didasarkan kondisi topografi (morfologi), jenis batuan dan pola aliran sungai, juga kenampakannya di lapangan. Kemampuan lahan hidrogeologi Kabupaten Lingga adalah kemampuan
II-13
lahan mata air, kemampuan lahan air tanah dangkal dan kemampuan lahan air daerah pantai.
c) Kemampuan Lahan Mata Air
Suatu wilayah yang berfungsi sebagai tempat munculnya mata air di permukaan. Biasanya pada lereng punggung perbukitan, dicirikan oleh mulai berkembangnya sungai di beberapa tempat dapat pula dikontrol oleh perselingan litologi.
Pola aliran meandering mulai sedikit tampak tetapi disini proses sedimentasi umumnya belum terjadi kecuali pada sungai-sungai yang agak besar, kemampuan lahan mata air berpengaruh regional dalam kesetimbangan air khususnya air permukaan.
Wilayah di Kabupaten Lingga yang memiliki kemampuan sebagai lahan mata air adalah diantaranya Sungai Sergang di Kecamatan Singkep, Pelakak Kecamatan Singkep, Pulau Penuba Kecamatan Lingga, Kampung Putus Kecamatan Lingga, sekitar Sungai Keton Kecamatan Lingga, Kudung Kecamatan Lingga, Teluk tebing Kecamatan Lingga Utara, dan sekitar Limbong dan Sungai Limbong Kecamatan Lingga Utara.
d) Kemampuan Lahan Air Tanah Bebas
Kemampuan lahan air tanah bebas adalah suatu wilayah yang didominasi oleh kedalaman muka air tanah bebas sampai dangkal. Biasanya pada daerah landaian sampai dataran, dicirikan oleh pola aliran sungai yang kadang meandering dengan diisi oleh proses sedimentasi fluvial. Proses erosi lateral sudah nyata berkembang membentuk penampang sungai U. Kemampuan lahan air tanah bebas mempunyai pengaruh atas ketersedian air tanah dangkal yang sangat bermanfaat untuk kehidupan. Litologi di daerah ini berupa endapan aluvial yaitu endapan limpah banjir dan endapan sungai muda (sungai aktif). Batuan di daerah zona air tanah bebas ini umumnya telah lapuk menjadi lempung (tanah liat) berwarna abu-abu kecoklatan. Sebagian besar wilayah di Kabupaten Lingga mempunyai zona lahan air tanah bebas (zona air tanah dangkal).
II-14
e) Kemampuan Lahan Hidrologi Pantai
Kemampuan lahan hidrologi pantai adalah suatu wilayah yang berfungsi sebagai daerah pantai serta fungsi pelestarian air tanah tawar. Fisiografinya datar serta litologinya aluvium pantai. Bentuk sungai menganyam dan dimuaranya terbentuk endapan delta ataupun tidak. Proses sedimentasi kuat dan arus lemah.
Kemampuan lahan hidrologi pantai sangat mempengaruhi tata air dengan fungsi penahan intrusi air laut dan abrasi air laut, yang termasuk kawasan pantai adalah sepanjang pantai timur dan utara Lingga termasuk Kecamatan Lingga Utara, Kecamatan Lingga bagian Selatan. Kemampuan lahan hidrologi pantai ini dibagi dua zona, yaitu zona pantai sendiri dan zona rawa.
2.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah
Kabupaten Lingga memiliki sejumlah potensi yang perlu dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat serta kemajuan pembangunan Kabupaten Lingga itu sendiri, salah satunya adalah potensi sektor pertanian. Luas wilayah daratan Kabupaten Lingga untuk potensi lahan pertanian dan perkebunan pada tahun 2008 adalah seluas 78.232 ha. Potensi lahan pertanian terdiri potensi lahan sawah seluas 2.250 ha, potensi lahan perkebunan seluas 46.112 ha dan potensi lahan pertanian seluas 29.870 ha, sedangkan potensi lahan yang sudah dimanfaatkan baru seluas 21.610 ha yang terdiri dari perkebunan seluas 15.477 ha dan pertanian seluas 6.133 ha. Sisa lahan seluas 56.622 ha belum dimanfaatkan secara optimal.
Sekarang ini yang sudah dikembangkan adalah pertanian tanaman pangan yang terdiri dari tanaman palawija dan hortikultura. Setelah mengalami penurunan produksi pada tahun 2006, pada tahun-tahun berikutnya sebagian besar jenis komoditi memperlihatkan tren peningkatan yang cukup siginifikan. Produksi terbesar dan merupakan jenis komoditi yang merupakan unggulan daerah adalah ubi kayu, ubi jalar, dan jagung.
II-15
Upaya yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan pemenuhan kebutuhan pangan di masyarakat, Pemerintah Kabupaten Lingga antara lain mengembangkan pembudidayaan jagung di daerah transmigrasi pada tahun 2008. Hasil penanaman jagung di daerah transmigrasi Bukit Langkap dan sekitarnya seluas 40 Ha menunjukkan tingkat produktifitas sebesar 3 Ton/Ha jagung pipilan. Hal ini memberikan harapan pengembangan produksi jagung hibrida di Kabupaten Lingga yang cukup besar dengan memanfaatkan lahan potensial yang mencapai luas 17.300 Ha.
Pada sektor komoditas sayur-sayuran, luas tanam sayur-sayuran pada tahun 2009 seluas 140 ha dengan rata-rata produksi sebanyak 35,97 ton/ha. Rata-rata produksi sayur-sayuran terbesar adalah cabe dengan luas tanam 13 ha dan rata-rata produksi sebanyak 13 ton/ha. Kedua adalah kacang panjang dengan luas tanam 13 ha dan rata-rata produksi sebanyak 9,1 ton/ha. Dan ketiga adalah ketimun dengan luas tanam 24 ha dan rata-rata produksi sebanyak 3,32 ton/ha. Komoditas sayur-sayuran lainnya mempunyai rata-rata produksi kurang dari 3 ton/ha. Beberapa kendala yang dihadapi para petani selain disebabkan kendala produksi adalah karena sulitnya pemasaran produk hasil pertanian. Meskipun demikian upaya peningkatan dan pengembangan produktivitas sayur-mayur di Kabupaten Lingga terus dilaksanakan.
Beberapa produksi buah-buahan di Kabupaten Lingga mempunyai potensi untuk dikembangkan di masa mendatang yaitu buah durian, dimana pada tahun 2009 sebesar 31,40 ton pertahun dan pada tahun 2008 produktivitasnya mencapai 3-4 Ton/Ha permusimnya dan dapat memenuhi permintaan durian di seluruh Kabupaten Lingga. Luas lahan yang telah dimanfaatkan untuk penanaman Durian di Kabupaten Lingga mencapai 538 Ha. Komoditas buah-buahan lainnya yang cukup berkembang antara lain nangka/cempedak yang bisa menghasilkan 141 Ton/Tahun, rambutan yang bisa menghasilkan 99 Ton/Tahun dan beberapa buah-buahan lainnya. Pemerintah Kabupaten Lingga juga mengembangkan budidaya tanaman salak pondoh. Luas lahan yang telah dimanfaatkan untuk pengembangan salak pondoh seluas 165 Ha. Beberapa desa
II-16
yang telah mengembangkan salak pondoh antara lain Kelurahan Dabo, Desa Kuala Raya, Desa Resun, Desa Merawang dan telah menghasilkan salak pondoh dengan produktifitas 9,37 Ton/Ha. adalah durian yang seluruhnya menghasilkan produksi sebanyak 3.848 Ton serta buah cempedak dengan hasil produksi seluruhnya 450 Ton.
Potensi perkebunan di Kabupaten Lingga didominasi oleh komoditas sagu yang luas lahannya mencapai 1.323 Ha dengan produksi yang dihasilkan seluruhnya adalah 12.439,564 Ton pada tahun 2009. Potensi perkebunan lainnya yang menjadi unggulan yaitu karet dengan luas lahan perkebunan mencapai 9.275,15 Ha dengan hasil produksi perkebunan karet seluruhnya sebanyak 3.118,082 Ton. Kemudian kelapa dengan luas lahan perkebunan mencapai 2.787,46 Ha dengan hasil produksi perkebunan kelapa sebanyak 1.160,698 Ton. Pada tahun 2009 pemerintah Kabupaten Lingga juga mulai mengembangkan tanaman Lada. Luas lahan yang telah digunakan seluas 73,87 Ha dan telah berproduksi sebesar 31.542 ton.
Potensi peternakan juga memiliki peluang pengembangan yang cukup besar di Kabupaten Lingga. Pada tahun 2009, populasi ternak sapi dan kambing telah dihasilkan 1.300 ekor sapi dan 624 ekor kambing dan telah tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Lingga. Sedangkan populasi babi mencapai 320 ekor babi. Untuk jenis ternak kecil/unggas yaitu ayam buras dan itik, populasinya menyebar diseluruh kecamatan dengan rincian populasi ayam buras sebanyak 72.412 ekor ayam buras dan itik sebanyak 1.847 ekor itik, sedangkan ayam ras pedaging populasinya sebanyak 31.200 ekor ayam ras.
Untuk potensi Potensi perikanan di Kabupaten Lingga didominasi oleh perikanan laut, baik itu penangkapan maupun budidaya laut (keramba jaring apung). Sektor perikanan laut merupakan sektor andalan di Kabupaten Lingga. Tahun 2009, produksi hasil penangkapan mencapai 19.245,946 ton, sedangkan hasil budidaya laut mencapai 164,979 ton. Meningkatnya hasil produksi perikanan di Kabupaten Lingga dari tahun ke tahun tidak bisa terlepas dari usaha Pemerintah Kabupaten Lingga dalam meningkatkan sarana dan prasarana sektor
II-17
perikanan. Pada tahun 2009, jumlah alat penangkapan ikan mencapai 9.768 unit, kapal motor berjumlah 2.691 unit, motor tempel berjumlah 99 unit, perahu tanpa motor berjumlah 1.745 unit, keramba berjumlah 1.021 kantong, kolam, 2,7 ha, dan rumpul laut 29 ha.
Potensi kehutanan yang masih terdapat di Kabupaten Lingga adalah hutan seluas 168.412 Ha yang menurut fungsinya terdiri dari hutan lindung 29.903 Ha atau 17,76 %, hutan produksi terbatas 14.423 Ha atau 8,56 % dan hutan produksi konversi seluas 124.086 Ha atau 73,68 % dari luas hutan yang ada di Kabupaten Lingga.
Untuk pengembangan pariwisata dan panorama alam, Kabupaten Lingga mempunyai tempat-tempat peninggalan sejarah yang layak untuk pengembangan pariwisata dan panorama alam yang indah yang berbukit dan terjal. Daerah ini mempunyai nilai-nilai budaya sebagai inti peradaban masyarakat yang kuat yang dapat dijadikan objek wisata. Objek wisata di Kabupaten Lingga seluruhnya ada 32 objek wisata yang terdapat di Kecamatan Singkep 7 objek wisata, Kecamatan Singkep Barat 2 objek wisata, Kecamatan Lingga 19 objek wisata, Kecamatan Lingga Utara 2 objek wisata dan Kecamatan Senayang 2 objek wisata.
Selain potensi sumber daya alam Kabupaten Lingga tersebut, potensi pengembangan wilayah juga menjelaskan rencana pola ruang wilayah Kabupaten Lingga yang merupakan peruntukan rencana distribusi peruntukan ruang dalam wilayah Kabupaten Lingga untuk melaksanakan cita-cita pembangunan, yang meliputi peruntukkan ruang untuk fungsi lindung dan rencana peruntukkan ruang untuk fungsi budidaya. Rencana pola ruang wilayah Kabupaten Lingga dijelaskan pada Tabel. T-II.7 berikut ini:
II-18 Tabel. T-II.7.
Rencana Pola Ruang Kabupaten Lingga Tahun 2011-2031
No POLA RUANG
RINCIAN LUASAN TIAP KECAMATAN (Ha)
TOTAL
(Ha) %
LINGGA LINGGA
UTARA SENAYANG SINGKEP
SINGKEP BARAT I KAWASAN LINDUNG 1. Hutan Lindung 18.859 - - 5.573 957 25.389 11,99 2. Hutan bakau 2,788 2.308 13.518 1.331 8.648 28.593 13,50 3. Perlindungan Setempat 1.046 177 208 2.540 331 2.765 1,31 4. Resapan Air 1.801 - - 2.540 1.259 5.600 2,64 5. Hutan Kota 1.674 - - 315 - 1.989 0,94 6. Cagar Budaya 157 - - - - 157 0,07 7. Kawasan Lindung Lainnya 96,00 3,00 305,00 11,00 68,00 483 0,23 LUAS KAWASAN LINDUNG 64.977 30,68 II KAWASAN BUDIDAYA 1. Hutan Produksi Terbatas 4.415 3.172 4.747 1.968 1.169 15.471 7,31 2. Hutan Produksi Konversi 3.457 4.292 369 - - 8.118 3,83 3. Hutan Tanaman Rakyat 3.698 802 3.022 163 4.453 12.138 5,73 4. Industri 164 - - - 384 548 0,26 5. Pusat Pemerintah 121 - - - - 121 0,06 6. Pemukiman Perkotaan 5.156 164 779 3.056 643 9.798 4,63 7. Pemukiman Pedesaan 1.210 1.599 1.515 1.400 1.073 6.797 3,21 8. Perkebunan 9.845 12.755 20.493 15.660 18.247 77.000 36,36 9. Perikanan 538 74 267 - 443 1.322 0,62
II-19 10. Tanaman Pangan 3.647 40 - - 2.001 5.688 2,69 11. Hortikultura 860 1.489 - - 2.874 5.223 2,47 12. Peternakan 121 - 1.355 614 381 2.471 1,17 13. Pariwisata 706 269 788 549 45 2.357 1,11 14. TNI AL - - - 200 - 200 0,09 15. TPST 5 - - 5 - 10 0,00 16. TPU 7 - - 4 - 11 0,00 17. PLTGB - - - - 6 6 0,00 LUAS KAWASAN BUDIDAYA 147.278 69,55 JUMLAH TOTAL 211.772 100,00
Sumber: RTRW Kab. Lingga 2011-2031
2.1.3. Wilayah Rawan Bencana
Di beberapa wilayah Kabupaten Lingga yang meliputi Kecamatan Lingga dan sebagian kecil di Kecamatan Lingga Utara serta Kecamatan Singkep, terindikasi termasuk wilayah rawan bencana, terutama wilayah yang memiliki kemiringan lereng lebih besar dari 70% (>360), ketinggian wilayah 262-815 meter di atas permukaan laut, dan tingkat erosi sangat tinggi terutama erosi vertikalnya. Dengan rasio luas daratan 2.117,72 km2 (1 %) dan lautan 209,654 km2 (99%). Dapat dipastikan ancaman abrasi laut didukung dengan perubahan cuaca yang ekstrim dapat saja terjadi.
Aktivitas penambangan timah, pembabatan hutan dan pembangunan yang terus meningkat, akan menuntut dibukanya jaringan jalan lintas wilayah perkotaan pedesaan dan fasilitas publik lainnya, sehingga dapat dipastikan jika tidak dilakukan pengendalian secara baik maka akan mempercepat kerusakan ekosistem lingkungan hidup. Kerusakan ekosistem dengan mengeksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali akan cenderung menimbulkan bencana longsor dan banjir.
Bencana gempa bumi, air pasang, angin ribut walaupun tidak dapat diprediksi kejadiannya juga masih menjadi tantangan di masa 20 tahun
II-20
mendatang, sehingga upaya-upaya penanggulangan bencana dan penyadaran masyarakat bahwa wilayah Kabupaten Lingga merupakan daerah yang rawan bencana harus terus dilakukan.
2.1.4. Demografi
Kesejahteraan penduduk merupakan sasaran utama dari suatu pembangunan. Pembangunan yang dilaksanakan adalah dalam rangka membentuk manusia Indonesia seutuhnya. Untuk itu, maka pemerintah pusat telah melaksanakan berbagai usaha dalam rangka untuk memecahkan masalah kependudukan. Masalah kependudukan apabila tidak diantisipasi secara dini maka akan menjadi bumerang bagi pemerintah Indonesia, khususnya Kabupaten Lingga.
Berdasarkan data penduduk tahun 2009, penduduk Kabupaten Lingga berjumlah 91.600 jiwa yang terdiri dari jenis kelamin laki-laki 50.180 jiwa (51,66 %) dan jenis kelamin perempuan 46.964 jiwa (48,34 %) dengan jumlah penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Singkep (30.503 jiwa) sedangkan jumlah penduduk terkecil terdapat di Kecamatan Lingga Utara (11.517 jiwa), dengan jumlah rumah tangga (Kepala Keluarga) sebanyak 19.344 Kepala Keluarga (KK). Jumlah penduduk Kabupaten Lingga tersebar di 5 Kecamatan dan 51 Desa dan 6 Kelurahan di Kabupaten Lingga.
Dilihat dari jumlah rumah tangga, Kecamatan Singkep merupakan kecamatan dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) terbanyak karena kecamatan ini merupakan kecamatan yang memiliki jumlah penduduk terbanyak. Jumlah rumah tangga di Kecamatan Singkep adalah sebanyak 6.228 Kepala Keluarga dan Kecamatan yang jumlah rumah tangganya paling sedikit adalah Kecamatan Lingga Utara dengan jumlah rumah tangga sebanyak 2.675 Kepala Keluarga. Untuk lebih jelasnya jumlah penduduk dan rumah tangga di Kabupaten Lingga dapat dilihat pada Tabel. T-II.8.
II-21 Tabel. T-II.8.
Jumlah Penduduk Dan Kepala Keluarga Kabupaten Lingga
No Kecamatan
Luas Wilayah daratan (Km2)
Jumlah Penduduk (Jiwa) Jumlah Kepala Keluarga (KK) Rata-rata Angka Kelahiran
Laki-laki*) Perempuan*) Total
1 Singkep Barat 337,10 8,268 7,817 16,085 2,628 6 2 Singkep 491,90 15,228 14,520 29,748 6,228 5 3 Lingga 609,51 8,673 8,015 16,688 3,884 4 4 Lingga Utara 283,21 5,849 5,427 11,276 2,675 4 5 Senayang 396,00 10,383 9,603 19,986 3,929 5 Jumlah 22.117,72 48,401 45,382 93,783 19,344 5
Sumber: BPS, Kabupaten Lingga dalam Angka tahun 2009 dan Hasil Analisis, 2009. *) Data Aggregat Kependudukan tahun 2009
Jumlah penduduk di Kabupaten Lingga meningkat yaitu sebesar 3,04% bila dibandingkan tahun 2004, dimana pada tahun 2009 berjumlah 93,783 jiwa, sedangkan pada tahun 2004 berjumlah 80,289 jiwa. Dengan tingkat kepadatan penduduk 44 jiwa per km2.
Jumlah penduduk yang begitu besar dan terus bertambah setiap tahun tidak diimbangi dengan persebaran penduduk. Menurut hasil Sensus Penduduk 2010 penduduk dari Kabupaten Lingga tercatat 86.244 jiwa dengan kepadatan penduduk 41 jiwa per km2. Dibandingkan dengan hasil Sensus Penduduk tahun 2000 penduduk Kabupaten Lingga bertambah sebanyak 9.892 jiwa.
II-22 Gambar. G-II.3
LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK KABUPATEN LINGGA, 1990 - 2010
Sumber: Data dalam Angka Kab. Lingga, 2011
2.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat
Aspek kesejahteraan masyarakat menjelaskan tentang perkembangan kesejahteraan Kabupaten Lingga, ditinjau dari sisi kesejahteraan masyarakat dan pemerataan ekonomi, kesejahteraan sosial, serta seni budaya dan olahraga.
a. Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi
Gambaran umum ditinjau dari kesejahteraan masyarakat dan pemerataan ekonomi didasarkan atas indikator pertumbuhan ekonomi, PDRB perkapita dan pendapatan perkapita serta penduduk miskin. Laju pertumbuhan ekonomi merupakan suatu indikator ekonomi makro yang dapat menggambarkan tingkat pertumbuhan ekonomi. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lingga pada tahun 2009 adalah sebesar 6,63%, mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar 6,65%.
1,23 0,24 0,82 0,00 0,20 0,40 0,60 0,80 1,00 1,20 1,40 1990 2000 2010
II-23 Gambar. G-II.4
Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Lingga Tahun 2005-2009
Sumber: LKPJ-AMJ Tahun Anggaran 2005-2010 Ket:
*) Angka Perbaikan **) Angka Sementara
Jika dilihat pertumbuhan ekonomi menurut lapangan usaha pada tahun 2005-2009 hampir seluruh sektor mengalami pertumbuhan positif. Bahkan untuk beberapa sektor laju pertumbuhannya mencapai lebih dari 10%. Namun, perlu diperhatikan bahwa walaupun secara persentase, kenaikan laju pertumbuhan beberapa sektor tersebut cukup besar namun secara besaran nominal nilainya masih sangat kecil.
Laju pertumbuhan ekonomi menurut lapangan usaha untuk 3 sektor tertinggi adalah sektor Bangunan (13,16%), Pengangkutan dan Komunikasi (12,03%), dan Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan (11,60%). Sektor bangunan terjadi pertumbuhan setiap tahunnya dikarena meningkatnya pembangunan fisik di Kabupaten Lingga, seperti pembangunan gedung sekolah, gedung perkantoran, pustu, polindes, pembangunan infrastruktur jalan, jembatan dan dermaga serta pembangunan fisik lainnya. Hal ini dapat dilihat pada Tabel. T-II.9 berikut ini.
6,05
6,5
6,71
6,65 6,63
II-24 Tabel. T-II.9.
Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Lingga Menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2009 (%)
Lapangan Usaha 2005 2006 2007 2008* 2009**
1. Pertanian 4,15 5,60 5,35 4,37 3,56
2. Pertambangan & Penggalian 7,47 10,07 10,67 10,72 10,73
3. Industri Pengolahan 6,13 (3,30) (1,19) (0.97) (0,08)
4. Listrik,Gas & Air Bersih 6,25 5,16 4,77 6,69 5,80
5. Bangunan 8,09 12,15 13,01 13,15 13,16
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 8,79 11,88 11,05 11,29 11,26 7. Pengangkutan & Komunikasi 9,28 13,16 11,46 12,06 12,03 8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 7,44 13,42 11,25 11,66 11,60
9. Jasa-Jasa 4,71 10,81 10,43 10,67 10,66
PDRB 6,05 6,50 6,71 6,65 6,63
Sumber: LKPJ-AMJ Tahun Anggaran 2005-2010 Keterangan:
*) Angka Perbaikan **) Angka Sementara
Tabel. T-II.10 menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki peranan yang sangat besar dalam penciptaan nilai tambah pada perekonomian Kabupaten Lingga dalam kurun waktu empat tahun terakhir, dengan kontribusi diatas 37%, namun memiliki kecenderungan sumbangan yang terus menurun dari 41,63% pada tahun 2005 menjadi 37,01 pada tahun 2009. Subsektor yang memegang peranan penting pada sektor ini adalah perikanan. Kemudian kontributor terbesar kedua adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran yaitu 22,00%. Berbeda dengan sektor pertanian, sektor ini memiliki kecendrungan yang positif, yaitu 18,71% pada tahun 2005 menjadi 22,00% pada tahun 2009. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor ini masih menjanjikan untuk diminati oleh para pedagang karena wilayah Kabupaten Lingga merupakan daerah persimpangan atau transit perjalanan laut. Sub sektor perdagangan besar dan eceran merupakan kontributor terbesar terhadap pembentukan nilai tambah di sektor
II-25
ini. Sedangkan sektor yang paling kecil memberikan kontribusi pembentukan PDRB adalah sektor Listrik, Gas dan Air bersih yang hanya 0,22%.
Tabel. T-II.10.
Kontributor Pembentukan PDRB Kabupaten Lingga Menurut Lapangan Usaha Tahun 2005-2009 (%)
Lapangan Usaha 2005 2006 2007 2008* 2009**
1. Pertanian 41,63 40,41 39,26 38,16 37,01
2. Pertambangan & Penggalian 1,58 1,64 1,72 1,77 1,82
3. Industri Pengolahan 15,82 14,16 12,92 11,66 10,73
4. Listrik,Gas & Air Bersih 0,24 0,24 0,23 0,23 0,22
5. Bangunan 5,97 6,98 7,92 8,57 9,12
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 18,71 19,53 20,24 21,18 22,00
7. Pengangkutan & Komunikasi 7,98 8,60 8,95 9,49 9,88
8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 3,60 3,79 3,90 3,98 4,13
9. Jasa-Jasa 4,46 4,66 4,86 4,97 5,09
PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Sumber: LKPJ-AMJ Tahun Anggaran 2005-2010 Keterangan:
*) Angka Perbaikan **) Angka Sementara
Pengeluaran Rumah Tangga
Salah satu survei yang diselenggarakan BPS setiap tahun dan sangat dibutuhkan pemerintah sebagai alat monitoring program pembangunan khususnya bidang sosial adalah Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Data yang dicakup pada kegiatan Susenas ini diantaranya adalah pengeluaran rumah tangga dan konsumsi rumah tangga yang dibedakan menjadi konsumsi makanan dan bukan makanan.
Data pengeluaran yang dibedakan menurut kelompok makanan dan bukan makanan ini dapat digunakan untuk melihat pola pengeluaran penduduk. Dari
II-26
data pengeluaran (sebagai proksi dari pendapatan) dapat pula dihitung tingkat ketimpangan pendapatan. Pada kondisi pendapatan terbatas, pemenuhan kebutuhan makanan akan menjadi prioritas utama sehingga pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah akan terlihat bahwa sebagian besar pendapatannya digunakan untuk membeli makanan. Seiring dengan peningkatan pendapatan maka lambat laun akan terjadi pergeseran pola pengeluaran, yaitu penurunan porsi pendapatan untuk makanan dan peningkatan porsi pendapatan untuk bukan makanan.
Secara umum, pengeluaran rata-rata perkapita di Kabupaten Lingga mengalami kenaikan, yaitu dari Rp 347.195 pada tahun 2009 menjadi Rp 367.094 pada tahun 2010. Dari data susenas 2010 tercatat bahwa penduduk Kabupaten Lingga menghabiskan sekitar 61.36% dari pendapatannya untuk belanja makanan, angka ini cenderung menurun dari tahun sebelumnya yang sebesar 64.19%. Sedangkan 38,64% sisanya digunakan untuk belanja non makanan yang jika dilihatpersentasenya cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun.
Distribusi Pendapatan
Salah satu indikator ekonomi makro untuk menilai tingkat ketidakmerataan (ketimpangan) pendapatan penduduk adalah dengan menggunakan Indeks Gini atau Gini ratio dan Kriteria Bank Dunia. Semakin kecil indeks Gini maka semakin kecil ketimpangan distribusi pendapatan. Pada tahun 2010, 40% penduduk yang berpengeluaran rendah menerima 21.53% dari seluruh pendapatan. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 21.28. Peningkatan juga terjadi pada kelompok penduduk berpengeluaran sedang yaitu dari 38.97 menjadi 39.49. Sedangkan pada kelompok penduduk berpengeluaran tinggi terjadi penurunan persentase yaitu dari 39.75 pada tahun 2009 menjadi 38.99 pada tahun 2010.
Indeks gini mengalami penurunan yaitu sebesar 0.308 pada tahun 2009 menjadi 0.303 pada tahun 2010. Hal ini menunjukkan bahwa pola distribusi pengeluaran penduduk cenderung membaik.
II-27 Penduduk Miskin
Indikator jumlah danpersentase penduduk miskin merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan penduduk. Mengindentifikasi seseorang dikatakan miskin bukanlah hal yang mudah. Hal ini disebabkan karakteristik penduduk miskin antar daerah seringkali berbeda. Sementara di sisi lain, penentuan kriteria penduduk miskin juga menuntut agar keterbandingan antar daerah dapat dilakukan.
Berdasarkan data yang tersaji dalam Tabel. T-II.11 ini, jumlah rumah tangga miskin dan penduduk miskin di Kabupaten Lingga terjadi penurunan, dari 7.026 rumah tangga miskin menurun menjadi 6.810 rumah tangga miskin pada tahun 2009, begitu juga dengan jumlah penduduk miskin dari 24.352 jiwa turun menjadi 21.417 jiwa pada tahun 2009.
Tabel. T-II.11.
Banyaknya Rumah Tangga Miskin Dan Penduduk Miskin Menurut Kecamatan Di Kabupaten LinggaTahun 2005-2009
Kecamatan
Jumlah
Rumah Tangga Miskin Jumlah Penduduk Miskin
2005 2009 2005 2009 1. Singkep Barat 888 711 2.841 2.061 2. Singkep 1.223 1.165 3.750 3.108 3. Lingga 1.430 1.454 4.964 4.593 4. Lingga Utara 1.053 1.009 3.304 3.235 5. Senayang 2.432 2.471 9.493 8.420 Jumlah 7.026 6.810 24.352 21.417
Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2008 dan 2009
b. Kesejahteraan Sosial
Pada fokus kesejahteraan soaial Kabupaten Lingga diukur dengan sejumlah indikator yang terkait dengan pendidikan, kesehatan, ekonomi dan
II-28
sosial. Bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi secara langsung terkait dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Sejak terbentuknya Lingga menjadi Kabupaten pada tahun 2003 dan dikeluarkannya nilai IPM tahun 2004, nilai IPM Kabupaten Lingga telah mencapai 67,7. Meskipun tergolong baru, tingkat pencapaian angka IPM tahun 2004 ini telah memposisikan Kabupaten Lingga pada peringkat ke-236 dari total sebanyak 434 Kabupaten/Kota Se-Indonesia.
Gambar. G-II.5
Nilai IPM Kabupaten Lingga Tahun 2004-2009
Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kabupaten Lingga Tahun 2008 dan 2009
Jika dilihat pada Gambar. G-II.5 nilai IPM Kabupaten Lingga dari tahun 2004 s.d 2009 meningkat dari 67,7% tahun 2004, meningkat sebesar 69,4% tahun 2005, meningkat sebesar 69,6% pada tahun 2006, tahun 2007 meningkat sebesar 69,7%, dan meningkat sebesar 70,4% pada tahun 2008 serta meningkat sebesar 71.05 pada tahun 2009. Peningkatan angka IPM yang sangat signifikan diduga dipengaruhi oleh meningkatnya penduduk masuk ke Kabupaten Lingga yang berprofesi sebagai pegawai negeri dan tenaga pegawai daerah lainnya, utamanya dibagian
67,7
69,4 69,6 69,7
70,74 71,05
II-29
pemerintahan, pendidikan dan kesehatan. Selain itu, berbagai program pemerintah yang menyentuh masyarakat sudah mulai digulirkan.
Secara persentase, IPM Kabupaten Lingga meningkat dari tahun ke tahun, namun secara peringkat terjadi penurunan. Pada tahun 2008 dengan IPM sebesar 70,74. menempatkan Kabupaten Lingga berada pada peringkat lima diantara tujuh Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau. Sedangkan untuk peringkat nasional, Kabupaten Lingga berada pada peringkat 220 diantara 440 Kabupaten/Kota di Indonesia, Sedangkan pada tahun 2009 dengan IPM sebesar 71,05 turun satu level ke peringkat 6 dari tujuh Kabupaten/Kota di Provinsi Riau, dan untuk nasional berada pada peringkat 231 dari 497 Kabupaten/Kota di Indonesia. Selengkapnya, IPM kabupaten Lingga dapat dilihat pada Tabel. T-II.12 berikut ini.
Tabel. T-II.12.
Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota/Propinsi Se-Kepulauan Riau, Dan Indonesia, Serta Peringkatnya Tahun 2009
Kabupaten/ Kota/Propinsi Angka Harapan Hidup (tahun) Angka Melek Huruf (persen) Rata2 Lama Sekolah (tahun) Rata2 Pengeluaran per Kapita Riil Disesuaikan (Rp 000) IPM Peringkat dari semua kabupaten/ kota/propinsi di Indonesia Karimun 69,86 95,19 7,81 636,34 73,15 133 Bintan 69,66 94,50 8,00 644,59 73,66 111 Natuna 68,21 95,92 6,93 615,21 70,11 290 Lingga 70,02 91,11 7,22 625,42 71,05 231 Kep. Anambas 67,23 90,00 5,35 626,35 67,94 393 Batam 70,76 98,85 10,71 648,13 77,51 16 Tanjungpinang 69,56 97,31 9,24 633,65 74,31 88 Prop. Kepri 69,75 96,08 8,96 641,63 74,54 6 Indonesia 69,21 92,58 7,72 631,50 71,76 -
Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kabupaten Lingga Tahun 2009
Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)
Berdasarkan data yang bersumber dari Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2009 menunjukkan bahwa jumlah penyandang masalah kesejahteraan
II-30
sosial yang ada di Kabupaten Lingga sebanyak 981 orang, terbanyak adalah dewasa cacat yaitu 288 orang, kemudian lansia terlantar berjumlah 249 orang, tuna daksa sebanyak 131 orang, dan 93 orang penyandang tuna netra.
Berdasarkan sebarannya, Kecamatan Singkep memiliki penyandang masalah kesejahteraan sosial terbanyak yaitu 307 orang, kemudian Kecamatan Lingga Utara sebanyak 230 orang, 187 orang di Kecamatan Lingga, Kecamatan Singkep Barat 138 orang dan 119 orang di Kecamatan Senayang.
Angkatan Kerja
Tenaga kerja adalah modal dasar bagi geraknya roda pembangunan. Jumlah dan komposisi tenaga kerja akan terus mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses demografi. Angkatan Kerja adalah penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja, sementara tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Penduduk berumur kurang dari 15 tahun meskipun telah melakukan pekerjaan guna memenuhi suatu kebutuhan hidup tidak dikategorikan sebagai angkatan kerja. Angkatan kerja merupakan bagian dari aspek demografi penduduk yang mempunyai kecenderungan bertambah atau menurun sejalan dengan perubahan yang dialami oleh penduduk itu sendiri. Hal ini terjadi karena faktor alamiah sepeti kelahiran, kematian maupun perpindahan yang menyebabkan jadi bergesernya pola kependudukan secara keseluruhan.
Tabel. T-II.13.
Persentase Penduduk 15 Tahun Ke Atas Menurut Kegiatan Utama Dan Jenis Kelamin
Uraian Laki - laki Perempuan Lk + Pr
1. Angkatan Kerja 83,44 34,17 57,26
1. Bekerja 79,02 31,03 53,52
2. Mencari Pekerjaan 4,42 3,14 3,74
2. Bukan Angkatan Kerja 16,56 65,83 42,74
1. Sekolah 7,80 4,60 6,10
2. Mengurus Rumah Tangga 4,62 59,63 33,85
3. Lainnya 4,14 1,61 2,79
Jumlah 100,00 100,00 100,00
II-31
Berdasarkan data yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik, pada tahun 2009 terdapat 57,26% penduduk angkatan kerja dan 42,74% penduduk bukan angkatan kerja. Bila dibandingkan berdasarkan jenis kelamin, ditahui bahwa penduduk laki-laki yang bekerja sebanyak 79,02% sementara penduduk perempuan yang bekerja sebanyaj 31,03%.
Berdasarkan Tabel-II.14, penduduk di Lingga yang bekerja, sebagian besar bekerja di sektor pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan (39,54%) dan sektor Jasa Kemasyarakatan, Sosial, dan Perorangan (20,34%) . Sementara lapangan kerja yang paling sedikit dijadikan mata pencaharian oleh penduduk Lingga yaitu sektor Listrik, gas dan air minum yaitu 0,15%.
Tabel. T-II.14.
Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Dan Jenis Kelamin
Lapangan Usaha
Laki-Laki Perempua n Lk + Pr 1
. Pertanian, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan 47,59 21,47 39,54 2
. Pertambangan dan Penggalian 5,18 0,55 3,76
3
. Industri Pengolahan 6,96 16,07 9,76
4
. Listrik, Gas dan Air Minum 0,22 0,00 0,15
5
. Konstruksi 5,56 0,00 3,85
6
. Perdagangan Besar, Eceran, Rumah Makan Dan Hotel 11,91 25,21 16,00 7
. Transportasi, Pergudangan dan komunikasi 6,55 3,57 5,64
8 .
Lembaga Keuangan, Real Estate,Usaha Persewaanan Jasa
II-32
9
. Jasa Kemasyarakatan, Sosial, dan Perorangan 14,91 32,52 20,34
Jumlah 100,00 100,00 100,0
0 Sumber: BPS, Kabupaten Lingga Dalam Angka Tahun 2009
Dari jenis pekerjaan yang ada di Kabupaten Lingga, wiraswasta adalah yang paling banyak dijalankan oleh penduduk. Tabel. T-II.15 menunjukkan penduduk yang bekerja sebagai wiraswasta sebanyak 4.161 jiwa atau 8,68 % dari keseluruhan jumlah penduduk usia kerja di Kabupaten Lingga. Kemudian diikuti oleh jenis pekerjaan sebagai buruh/nelayan perikanan sebanyak 3.989 jiwa atau 8,32 % dari keseluruhan jumlah penduduk usia kerja di Kabupaten Lingga.
Tabel. T-II.15.
Jumlah Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan Di Kabupaten Lingga Tahun 2009 (Penduduk Usia Kerja/Usia 15 Tahun Ke Atas)
No Jenis Pekerjaan Jumlah Prosentase
1 Wiraswasta 4.161 8,68
2 Buruh/ Nelayan Perikanan 3.989 8,32
3 Nelayan/ Perikanan 3.687 7,69
4 Buruh Harian Lepas 2.049 4,27
5 Karyawan Swasta 981 2,05
6 Pegawai Negeri Sipil 639 1,33
7 Guru 575 1,20
8 Karyawan Honorer 525 1,10
9 Petani/ Pekebun 437 0,91
10 Pembantu Rumah Tangga 437 0,91
11 Lainnya 30.456 63,53
Jumlah 47.936 100,00
II-33 c. Seni Budaya dan Agama
Kabupaten Lingga adalah masyarakat melayu sehingga memiliki daya tarik yang kuat terhadap kesenian. Bahkan sampai sekarang banyak yang terus dikembangkan dan dikenalkan, seperti kesusastraan, seni tari rakyat, seni teater dan lainnya. Ada beberapa kesenian yang terdapat di Kabupaten Lingga diantaranya:
a) Gurindam
Bahasa Gurindam cukup dikenal dan tidak asing lagi bagi telinga masyarakat Melayu Lingga. Bahkan Gema Gurindam menerobos sampai lintas negara dari yang paling dekat sampai yang paling jauh. Gurindam merupakan karya yang berisikan petuah dan nasehat. Gurindam 12 ini adalah karya dari Raja Ali Haji, beliau merupakan pujangga Istana masa Kerajaan Lingga-Riau. Konstum yang dikenakan untuk melantunkan Gurindam ini adalah baju kurung melayu, dengan peralatan musiknya berupa serunai, kompang dan gong. Dipentaskan pada saat penyambutan tamu, hari besar nasional dan festival kebudayaan-kesenian.
b) Teater Bangsawan
Teater Bangsawan adalah salah satu seni pertunjukan tradisional komedi stambul dengan cerita seputar kehidupan istana, keseniaan ini juga dikenal dengan nama wayang Bangsawan. Seni pertunjukan ini adalah kesenian yang menggabungkan musik, lagu, tari dan laga, dengan iringan musik seperti: biola, akordion, gendang, gong dan tambur.
c) Joget
Joget adalah salah satu tarian tradisional masyarakat melayu. Joget diantaranya: Joget Tandak atau Joget Lambak, disebut tandak karena penarinya bisa menjadi “ebeng”, dengan laki-lakinya yang menbayar disebut “Pandak”. Joget ini dikenal sejak abad 17 dengan iringan musik seperti: drum, violin dan gong dengan lagu dondang sayang dan tarian bertabik. Joget akan ditutup lagu khusus yaitu Cik Milik.
II-34 d) Zapin
Sebenarnya kesenian tari Zapin ini berasal dari Arab yang mentradisi masyarakat Melayu. Kesenian ini dibawa oleh kaum laki-laki karena tarian ini memang bayak mengeluarkan tenaga (energik). Seiring perkembangan jaman tarian ini tidak hanya dimonopoli oleh kaum lelaki tetapi kaum wanita juga ikut menarikannya, bahkan kesenian ini menjadi tarian pergaulan masyarakat Melayu.
Selaras dengan asalnya, tarian ini tidak terlepas dari rohnya yang islami, yang tercermin dari konstumnya berupa teluk belanga dan baju kurung yang tidak memperlihatkan aurat. Zapi ini diiringi dengan alat musik gambus. Kreasi tarian zapin terbaru adalah Zapin Tali, Zapin Lambak, Zapin Pedang, Zapin Tepurung, Zapin Bengkalis, Zapin Silang, Zapin Ar-Rajul (Para Lelaki), Zapin Tembong, Zapin Tradisional dan lainnya. Sementara di Masyarakat Daik Lingga Bunda Tanah Melayu di kenal tarian Zapin Damnah yang merupakan tarian dengan diangkat dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
e) Gazal
Kesenian ini juga berasal dari timur tengah. Gazal adalah bahasa Arab yang berarti Sajak. Kesenian ini masuk Melayu dari Malaysia tepatnya dari Muara ke Johor baru masuk Kepulaun Riau dan tumbuh subur di Pulau Penyengat.
Kesenian Gazal juga merupakan alat dakwah untuk penyebaran agama Islam, namun sekarang ini lebih berfungsi sebagai salah satu hiburan.
f) Kompang
Kompang adalah kesenian yang menyerupai hadrah dengan para pemain melantunkan syair berbahasa Arab-Parsi yang berisi puji-pujian terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diiringi dengan lantunan rebana. Kesenian ini biasanya diselenggarakan pada pesta perkawinan, khitanan, penyambutan tamu dan lainnya.
II-35
Kabupaten Lingga memiliki grup kesenian yang berjumlah 26 buah yang tersebar di beberapa Kecamatan, terbanyak terdapat di Kecamatan Singkep yaitu 10 buah, Kecamatan Lingga 6 buah, 4 buah di Kecamatan Lingga Utara dan Kecamatan Singkep Barat dan Kecamatan Lingga Utara masing-masing 4 buah, dan Kecamatan Senayang 2 buah.
Keagamaan
Pembangunan di bidang fisik harus diimbangi dengan pembangunan dibidang mental spiritual sehingga akan ada keseimbangan dan keserasian antara kepentingan duniawi dan ukhrawi. Kehidupan beragama yang harmonis antara umat beragama di Kabupaten Lingga telah terjalin dengan kokoh. Melaksanakan ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam. Jumlah jemaah haji dari Kabupaten Lingga yang diberangkatkan pada tahun 2010 adalah sebanyak 50 orang atau naik 11% dibandingkan dengan tahun 2009.
2.3. Aspek Pelayanan Umum
Bagian aspek pelayanan umum berikut ini mejelaskan perkembangan kinerja yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Lingga, baik pada urusan wajib maupun urusan pilihan.
2.3.1. Urusan Pelayanan Wajib
Urusan Pelayanan wajib merupakan urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang berkaitan dengan pelayanan dasar. Secara umum, penyelenggaran pelayanan dasar Kabupaten Lingga masih perlu ditingkatkan untuk meningkatkan pelayanan dasar kepada masyarakat secara baik.
Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan, untuk itu Pemerintah Kabupaten Lingga terus berupaya meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan yang ada serta meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Pengembangan sarana pendidikan dilakukan sesuai dengan peningkatan kualitas
II-36
dan kuantitas yang dibutuhkan oleh penduduk seoptimal mungkin dan pemerataan penyebaran jumlah penduduk yang akan dilayani dan perkiraan tingkat kebutuhan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan data yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik, bahwa pada tahun 2009/2010 di Kabupaten Lingga jumlah Taman Kanak-Kanak sebanyak 11 sekolah, 569 murid dan 50 guru dengan rasio murid terhadap guru 11,4 dan rasio murid terhadap sekolah 51,7. Selanjutnya pada tahun yang sama Sekolah Dasar berjumlah 125 buah dan SLTP berjumlah 33, dengan rasio murid terhadap guru 8,5 untuk SD dan 11 untuk SMP. Sedangkan Data statistik pendidikan menengah terbatas pada SMA dan SMK di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga saja, pada tahun 2009/2010 terdapat 7 SMA dan 3 SMK dengan jumlah murid SMA sebesar 2.060 dan murid SMK sebesar 297, sedangkan jumlah guru SMA 149 orang dan guru SMK 34 orang. Rasio murid terhadap guru SMA 13,8 dan SMK 8,7.
Angka Melek Huruf
Pada tahun 2009 persentase angka melek huruf usia 10 tahun keatas sebesar 92%. Artinya ada 8% yang masih buta huruf. Berdasarkan kelompok umur, usia 50 + memiliki tingkat buta huruf terbanyak yaitu 15,82%. Data menunjukkan bahwa angka melek huruf penduduk usia muda jauh lebih tinggi dari penduduk usia tua.
Tabel. T-II.16.
Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Yang Melek Huruf Berdasarkan Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin Tahun 2009 (%) Kelompok Umur
(Tahun) Laki-Laki Perempuan Laki-Laki + Perempuan
10–14 15–19 20–24 25–34 35–49 50 + 97,10 100,00 97,47 93,83 84,67 84,30 93,51 100,00 93,69 84,10 76,48 64,65 95,21 100,00 95,56 89,07 80,80 75,18 10 + 95,07 89,68 92,47
II-37
Angka melek huruf Kabupaten Lingga yang hanya sebesar 92% masih tertinggal dari capaian nasional pada tahun 2009 sebesar 94%, sehingga perlu kerja keras selama lima tahun untuk mengejar selisih 2% tersebut dan diharapkan pada tahun 2014, angka melek huruf Kabupaten Lingga minimal sama dengan capaian target dari nasional yaitu sebesar 94%.
Tingkat Pendidikan yang ditamatkan
Tingkat pendidikan yang ditamatkan merupakan ukuran kualitas sumber daya manusia yang selanjutnya dapat dijadikan ukuran keberhasilan baik dari sudut sosial maupun ekonomi.
Di Kabupaten Lingga persentase penduduk berusia 15 tahun keatas yang menamatkan hingga ke jenjang SLTP sampai perguruan tinggi hanya sebesar 36%. Tingkat pendidikan penduduk di dominasi oleh tamatan SD/MI dan SMU/MA/SMK yaitu masing-masing sebesar 30,13% dan 20,90%. Hal ini dapat dilihat pada Tabel. T-II.17. berikut ini.
Tabel. T-II.17.
Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Menurut Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Dan Jenis Kelamin, 2009 (%)
Pendidikan Tertinggi
yang Ditamatkan Laki-Laki Perem-puan
Laki-Laki + Perempuan
Tidak/belum pernah bersekolah Tidak/belum tamat SD SD/MI SMP/MTs SMU/MA/SMK Akademi/universitas 9,72 19,21 29,78 14,09 23,55 3,67 22,45 16,85 30,51 9,77 18,00 2,43 15,80 18,08 30,13 12,02 20,90 3,08 Jumlah 100,00 100,00 100,00
Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kabupaten Lingga Tahun 2009
II-38
Tingkat Partisipasi Sekolah
Angka Partisipasi Sekolah adalah untuk mengetahui seberapa banyak penduduk usia sekolah yang sudah dapat memanfaatkan fasilitas pendidikan, dapat dilihat dari penduduk yang masih sekolah pada umur tertentu.
Di Kabupaten Lingga, hanya kelompok umur 7-12 tahun yang mendekati angka 100% sedangkan kelompok umur lainnya masih di bawah 90%, terutama untuk kelompok umur 19-24 tahun yang hanya 6.11%. Sedangkan jika dilihat berdasarkan jenis kelamin perbedaan yang cukup berarti terjadi pada kelompok umur 16-18 tahun, dimana perempuan sebanyak 60.06% sedangkan laki-laki hanya 46%. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar. G-II.6. berikut.
Gambar. G-II.6
Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin Tahun 2009
Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kabupaten Lingga, 2009
Angka Partisipasi Kasar
Angka Partisipasi Kasar/APK merupakan indikator untuk mengukur proporsi anak sekolah pada suatu jenjang pendidikan tertentu dalam kelompok umur yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut. APK memberikan gambaran secara umum tentang banyaknya anak yang
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 '7-12 13-15 16-18 19-24 Laki+laki Perempuan Laki-laki + Perempuan
II-39
sedang/telah menerima pendidikan dasar dan menengah. Dari data yang ada, hanya nilai APK pada jenjang SD yang memiliki angka diatas seratus sedangkan untuk nilai APK pada jenjang SLTP, SLTA dan PT pada tahun 2009 masih dibawah seratus. Hal ini mengindikasikan bahwa hanya sebagian dari anak berusia 13-15 tahun, 16-18 tahun, dan 19-24 tahun sedang bersekolah pada jenjang tersebut dan kemungkinan sisanya sedang sekolah pada jenjang pendidikan di bawahnya/di atasnya atau bahkan mereka tidak sekolah lagi.
Gambar. G-II.7
Angka Partisipasi Kasar (APK) Menurut Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin Tahun 2009
Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kabupaten Lingga, 2009
Angka Partisipasi Murni
Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan proporsi anak sekolah pada satu kelompok umur tertentu yang bersekolah tepat pada tingkat yang sesuai dengan kelompok umurnya. Menurut definisi, besarnya APM akan selalu lebih kecil daripada APK. Nilai APM yang lebih kecil daripada nilai APKnya dapat menunjukkan komposisi umur penduduk yang sedang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan. Di Kabupaten Lingga capaian APM tahun 2009 untuk SD sebesar 89.8%,
0 20 40 60 80 100 120 SD / 7-12 SLTP / 13 -15 SLTA / 16-18 PT / 19-24 Laki+laki Perempuan Laki-laki + Perempuan
II-40
berarti selisih dengan APK sebesar 17.46% artinya bahwa diantara murid SD sebanyak 17.46%nya berumur kurang dari 7 tahun atau lebih dari 12 tahun, sedangkan untuk APM SLTP sebesar 63.23% ada selisih 10.87% terhadap APK, APM-nya SLTA sebesar 49.68% dan APM PT sebesar 3.86%.
Gambar. G-II.8
Angka Partisipasi Murni (APM) Menurut Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin Tahun 2009
Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kabupaten Lingga, 2009
Rasio Murid-Sekolah dan Rasio Murid-Guru
Rasio murid-sekolah menunjukkan kemampuan sekolah menampung murid, terbanyak adalah SMU/SMK/MA yaitu 1:191 artinya 1 sekolah menampung 191 murid sedangkan rasio yang paling sedikit adalah di SD/MI yaitu 1:83 (1 sekolah menampung 83 murid) sedangkan Rasio murid-guru menunjukkan beban kerja guru dalam mengajar, untuk SLTP/MTs dan SMU/SMK/MA, masing-masing 1:11 (1 guru mengajar 11 murid) sedangkan ratio untuk SD/MI yaitu 1:8 (1 guru mengajar 8 murid). Hal ini dapat dilihat pada Tabel. T-II.18 dan Tabel. T-II.19 berikut ini.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 SD / 7-12 SLTP / 13 -15 SLTA / 16-18 PT / 19-24 Laki+laki Perempuan Laki-laki + Perempuan
II-41 Tabel. T-II.18.
Jumlah Murid, Sekolah Dan Rasio Murid Sekolah Menurut Jenjang Tahun 2009
Jenjang Jumlah Murid Jumlah Sekolah Rasio Murid Sekolah
SD/MI SLTP/MTs SMU/SMK/MA* 10.591 3.706 2.479 127 35 13 83: 1 106: 1 191: 1
Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kabupaten Lingga Tahun 2009 *) Termasuk sekolah kelas jauh
Tabel. T-II.19.
Jumlah Murid, Guru Dan Rasio Murid Guru Menurut Jenjang Pendidikan Tahun 2009
Jenjang Jumlah Murid Jumlah Guru Rasio Murid Guru
SD/MI SLTP/MTs SMU/SMK/MA 10.591 3.706 2.479 1.255 349 220 8: 1 11: 1 11: 1
Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Kabupaten Lingga Tahun 2009
Rata-Rata Lama Sekolah
Rata-rata lama sekolah digunakan untuk mendapatkan informasi tentang sejauh mana tingkat pendidikan yang dicapai oleh penduduk dengan merujuk kepada rata-rata jenjang pendidikan yang telah diselesaikan oleh penduduk berusia 15 tahun. Pada tahun 2009 rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten Lingga adalah 7,22 tahun, sedangkan rata-rata nasional pada tahun 2009 adalah mencapai 8,25. Hal ini berarti bahwa rata-rata penduduk Kabupaten Lingga baru mampu menempuh pendidikan sampai dengan kelas I SMP atau putus sekolah dikelas II SMP. Kondisi ini menegaskan bahwa partisipasi pendidikan di Kabupaten Lingga perlu ditingkatkan dengan melibatkan instansi terkait, tentunya didukung oleh partisipasi aktif dari masyarakat. Rata-rata lama sekolah Kabupaten Lingga yang masih jauh dibawah rata-rata lama sekolah mengindikasikan bahwa pembangunan pendidikan di Kabupaten Lingga masih perlu ditingkatkan, sehingga pencapaian target lima tahun mendatang minimal sama dengan pencapaian rata-rata lama sekolah nasional.
II-42 Kesehatan
Pembangunan bidang kesehatan di kabupaten Lingga bertujuan agar semua lapisan masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara merata dan murah. Pembangunan di bidang kesehatan bertujuan agar semua lapisan masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara merata dan murah. Dengan tujuan tersebut diharapkan akan meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, pembangunan kesehatan juga memuat mutu dan upaya kesehatan dengan menciptakan akses pelayanan kesehatan dasar yang didukung oleh sumberdaya yang memadai.
Sarana dan Tenaga Kesehatan
Pembangunan tersebut diarahkan kepada peningkatan fasilitas kesehatan dan akses pelayanan kesehatan dasar yang didukung oleh sumber daya yang memadai, seperti rumah sakit, puskesmas, tenaga kesehatan dan ketersediaan obat. Jika dilihat pada Tabel. T-II.20. bahwa pada tahun 2009 jumlah sarana kesehatan yang terdapat di Kabupaten Lingga terdiri dari: Rumah Sakit 1 buah, Puskemas sebanyak 7 buah, Puskesmas Pembantu sebanyak 36 buah, Puskesmas Keliling sebanyak 7 buah, dan polindes 45 buah. Satu-satunya Rumah Sakit yang ada Di Kabupaten Lingga terdapat di Kecamatan Lingga, sedangkan untuk Puskesmas dan Puskesmas Pembantu, serta polindes sudah tersebar di masing-masing Kecamatan.
Tabel. T-II.20.
Banyaknya Rumah Sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, Balai Pengobatan/Klinik, Dan Polindes Menurut Kecamatan Tahun 2006-2009
Kecamata n Ruma h Sakit Puskesm as Puskesmas Pembantu Puskesmas Keliling Balai Pengobatan Polind es Singkep Barat - 1 7 1 - 7 Singkep - 2 4 3 - 4