PENGARUH PERAJANGAN BUNGA KENANGA
(Canangium odorotum Baill), KEPADATAN DAN METODE
PENYULINGAN TERHADAP RENDEMEN DAN MUTU
MINYAK KENANGA YANG DIHASILKAN
Oleh DIAR YUNIARTI
F34050734
2010
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Diar Yuniarti. F34050734. Pengaruh Perajangan Bunga Kenanga (Canangium odorotum Baill), Kepadatan dan Metode Penyulingan Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Kenanga yang Dihasilkan. Di bawah bimbingan S.Ketaren dan Ma’mun. 2009.
RINGKASAN
Indonesia merupakan salah satu dari negara produsen minyak kenanga dengan jumlah ekspor sekitar 50 ton minyak kenanga dari Indonesia setiap tahun, yang diekspor ke Eropa dan Amerika. Bilangan ester menjadi syarat utama dalam perdagangan minyak kenanga. Harga minyak kenanga di pasaran saat ini Rp. 600.000,00. Lebih kecil jika dibandingkan dengan minyak ylang-ylang yang memiliki bilangan ester lebih tinggi dan harga di pasaran Rp. 1.000.000,00. Sehingga perlu adanya perbaikan mutu minyak kenanga melalui proses penyulingan minyak kenanga tersebut. Daerah penghasil minyak kenanga di Indonesia antara lain kabupaten Boyolali, Cirebon, Banten dan Blitar. Saat ini metode penyulingan yang biasa dilakukan pada beberapa penyulingan yang terdapat di Indonesia umumnya dengan menggunakan metode rebus dan sebelumnya dilakukan perajangan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perajangan bunga, kepadatan bahan dan metode penyulingan yang dalam rangka mendapatkan rendemen dan mutu minyak kenanga yang optimal dan baik.
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial 3x2x2 dengan dua kali ulangan. Faktor yang digunakan adalah kepadatan bunga kenanga dalam ketel (0.075 kg/L, 0.0875 kg/L dan 0.1 kg/L), metode penyulingan bunga kenanga (kukus dan rebus) dan perajangan bunga sebelum penyulingan (bunga dengan perajangan dan tidak dirajang).
Hasil penelitian pendahuluan diperoleh kadar air(82%), kadar protein 17,30 % dan kadar minyak(1,6%) serta kondisi optimum lama penyulingan 10 jam.
Semakin meningkatnya kepadatan akan cenderung menurunkan nilai rendemen, bobot jenis, indeks bias, putaran optik, dan bilangan ester, namun cenderung menaikkan nilai bilangan asam dan sisa penguapan. Semua minyak kenanga yang dihasilkan dapat larut dengan baik dalam etanol 95% dengan perbandingan 1 : 1.
Metode kukus dibandingkan metode rebus menghasilkan minyak kenanga dengan nilai lebih tinggi dalam hal rendemen, bobot jenis, indeks bias, putaran optis, dan bilangan asam, sedangkan metode rebus menghasilkan nilai lebih tinggi dalam hal sisa penguapan dan bilangan ester.
Bunga dirajang menghasilkan minyak kenanga dengan nilai lebih tinggi dalam hal bobot jenis, indeks bias, putaran optis, sisa penguapan dan bilangan ester, sedangkan bunga yang tidak dirajang menghasilkan nilai lebih tinggi dalam hal rendemen dan bilangan asam.
Berdasarkan analisis komponen dengan metode GCMS diketahui bahwa perkiraan komponen utama yang terkandung dalam minyak kenanga terdiri dari Linalool, Geranyl acetate, beta.-Caryophyllene, alpha.- Caryophyllene, Germacrene-D, alpha.-Bergamotene, delta.-Cadinene, Benzyl benzoate dan
Cis-Farnesol dengan jumlah total 80.82 %, sedangkan komponen minor berjumlah 19.18 % terdiri dari golongan monoterpen dan benzena serta sebagian Monoterpen O, seskuiterpen, benzene O dan seskuiterpenO.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan perlakuan yang terbaik adalah penyulingan dengan metode kukus, bunga tanpa dirajang dengan kepadatan 75 gram/l dan menghasilkan minyak dengan rendemen 1.5 %, indeks bias 1.4982, bobot jenis 0.913, kelarutan dalam etanol 2 :1, sisa penguapan 3.057 %, putaran optik -22,1, bilangan asam 2.26, dan bilangan ester 34.72 serta memiliki 43 komponen penyusun.
Diar Yuniarti. F34050734. The Influence of Slicing of the Cananga Flower (Canangium odorotum Baill), Bulk Density and Distillation Method on Yield and Quality of The Cananga Oil. Supervised by S.Ketaren dan Ma’mun. 2009.
SUMMARY
Indonesia is one of the developing countries which have the potency to export cananga oil. About 50 tons cananga oil from Indonesia every year exported to Europe and American. Cananga oil Producer area in Indonesia for example regency Boyolali, Cirebon, Banten And Blitar. In this time in Indonesia the ordinary distillation method done some distillation generally by using water distillation and is previously done by slice.
This research aim are to studying influence slice of the sliced cananga flower, distillation method and substance density. Others, to produce optimal yield and quality of cananga oil.
The Experimental design were subjected to an analysis of variance for a completely random design 3x2x2 with duplo procedure. The treatment are the bulk density of cananga flower in the vessel (0.075 kg/L, 0.0875 kg/L dan 0.1 kg/L), the distillation method of cananga flower (water distillation, water and steam distillation), and sliced flower before distillation and without slice.
This research done in 2 step, the first preliminary research consist of analysis water content (82%), cananga oil content (1.6 %) and look for the optimum condition from distillation of cananga oil. The second step is the main research were done distillation according to treatment which have been specified .
Interaction of distillation method and slicing of cananga flower has influence in evaporation residu number and acid number. Interaction of distillation method, slice of cananga flower, and bulk density of flower has influenced to acid number. Factor of distillation didn’t influence to specific gravity and index of refraction. Factor of slicing of cananga flower didn’t influence to specific gravity, index of refraction, optical rotation, ester number and acid number. Factor of bulk density of flower didn’t influence to specific gravity, index of refraction and optical rotation. Interaction of distillation method and slicing of cananga flower didn’t influence to yield, specific gravity, index of refraction, optical rotation, and ester number. Interaction of distillation method and bulk density of flower and interaction of bulk density of flower and slicing of cananga didn’t influence to quality of the cananga oil. Interaction from three factor didn’t influence to specific gravity, index of refraction, optical rotation, ester number, evaporation residu number, and yield of cananga oil.
Progressively the increasing of bulk density will tend to decrease yield, specific grafity, index refraction, optical rotation, and the ester number, but tend to increase value of evaporation residu and acid number. All cananga oil are yielded soluble in etanol 95% with ratio 1:1 to 1:10.
Water and steam distillation yielded cananga oil with value more height than water distillation in yield, specific grafity, index refraction, optical rotation,
and acid number. Flower with slicing yielded cananga oil with value more height than flower without slicing in specific grafity, index refraction, optical rotation, ester number and evaporation residu number.
Based on the GCMS analysis showed that the component which implied in cananga oil consist of Linalool, Geranyl acetate, beta.-Caryophyllene, alpha.- Caryophyllene, Germacrene-D, alpha.-Bergamotene, delta.-Cadinene, Benzyl benzoate dan Cis-Farnesol amounted to 80.82 %, as for minor component amounted to 19.18% consist of monoterpen and benzena and part of Monoterpen O, seskuiterpen, benzene O dan seskuiterpenO.
The best treatment is cananga oil with distillation of the sliced cananga flower (bulk density 0.075 kg/L) by using water and steam distillation method. This treatment has produced cananga oil 1.5%, index of refraction 1.4982, specific gravity 0.913, soluble in ethanol 95% with ratio 1:1 to 1:10, optical rotation -22.1, acid number 2.2596, ester number 34.7165, and consist of 43 component.
SURAT PERNYATAAN
Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa Skripsi dengan judul:
“Pengaruh Perajangan Bunga Kenanga (Canangium odorotum Baill), Kepadatan dan Metode Penyulingan Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Kenanga yang Dihasilkan”
Adalah karya asli saya sendiri, dengan arahan dosen pembimbing, kecuali yang dengan jelas ditunjukkan rujukannya.
Bogor, 11 Januari 2010
Yang Membuat Pernyataan,
Diar Yuniarti
PENGARUH PERAJANGAN BUNGA KENANGA
(Canangium odorotum Baill), KEPADATAN DAN METODE
PENYULINGAN TERHADAP RENDEMEN DAN MUTU
MINYAK KENANGA YANG DIHASILKAN
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor
Oleh : DIAR YUNIARTI
F34050734
2010
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Skripsi : PENGARUH PERAJANGAN BUNGA KENANGA (Canangium odorotum baill), KEPADATAN DAN METODE PENYULINGAN TERHADAP
RENDEMEN DAN MUTU MINYAK KENANGA YANG DIHASILKAN.
Nama : Diar Yuniarti
NIM : F34050734
Menyetujui ,
Pembimbing I, Pembimbing II,
( Ir. S. Ketaren, MS.) ( Drs. Ma’mun, Bsc. ) NIP. 19460124 197501 10 011 NIP : 19530327 197604 01 003
Mengetahui : Ketua Departemen,
( Prof.Dr.Ir.Nastiti Siswi Indrasti) NIP : 19621009 198903 2 001
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Diar Yuniarti dilahirkan pada tanggal 22 Juni 1987 di Sukabumi dan merupakan putri pertama dari pasangan Bapak Paidi dan Ibu Rita Aryani. Penulis menempuh pendidikan dasar di SDN Tunggorono II Purworejo (1993), pendidikan menengah pertama di SLTPN 3 Purworejo (1999-2002), dan pendidikan menengah atas di SMUN 2 Purworejo (2002-2005). Penulis melanjutkan pendidikannya di Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Insititut Pertanian Bogor pada tahun 2005 melalui jalur USMI. Selama menempuh pendidikan di IPB, penulis aktif sebagai pengurus Organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama sebagai anggota divisi sosial dan kesejahteraan mahasiswa (2005-2006) dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (2006-2007). Selain itu, penulis juga menjadi Asisten Praktikum Teknologi Minyak atsiri, Rempah dan Kosmetika (2009) dan Asisten Praktikum Pati, Gula dan Sukrokimia (2009). Penulis melaksanakan kegiatan praktek lapang pada tahun 2008 di perusahaan Sido Mulyo dengan judul Mempelajari Aspek Pasca Panen dan Proses Penyulingan Minyak Kenanga (Sido Mulyo) dan Ylang-ylang di Kabupaten Boyolali Jawa Tengah. Penulis telah menyelesaikan skripsi dengan judul Pengaruh Perajangan Bunga Kenanga (Canangium odorotum Baill), Kepadatan dan Metode Penyulingan Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Kenanga yang Dihasilkan.
KATA PENGANTAR Bismillahirrahmaanirrahim,
Penulis mengucapkan puji syukur dan terima kasih kepada Allah SWT atas rahmat, karunia, serta berkah-Nya yang telah diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh Perajangan Bunga Kenanga (Canangium odorotum Baill), Kepadatan dan Metode Penyulingan Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Kenanga yang Dihasilkan”. Shalawat dan Salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW.
Pada kesempatan ini, perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu, mendukung, serta membimbing penulis baik secara langsung maupun tidak langsung hingga skripsi ini selesai ditulis, terutama kepada :
1. Keluarga tercinta, Bapak, Ibu dan Adik-adikku Ardi dan Dini atas doa, kasih sayang, nasihat, pengarahan, dorongan dan motivasi yang diberikan selama ini.
2. Bapak Ir.Semangat Ketaren,MS selaku dosen pembimbing I yang selalu sabar dan bijaksana serta kasih sayangnya dalam membimbing dan mendukung penulis.
3. Bapak Drs. Ma’mun, Bsc selaku pembimbing II yang selalu membimbing dan memberikan masukan-masukan yang berguna hingga terselesaikannya skripsi ini dan manajer teknik di Balai Penelitian Tanaman dan Aromatik yang telah mengijinkan penulis melakukan penelitian.
4. Bapak Drs. Purwoko, Msi selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan masukannya kepada penulis.
5. Bapak Dedi sebagai staff departemen teknik Penelitian Tanaman dan Aromatik.
6. Staf laboran departemen TIN yang telah membantu pada saat penelitian. 7. Anto Purwanto yang telah memberikan dukungan dan dorongan kepada
8. Hilda E.Putri teman satu bimbingan yang selalu saling mendukung.
9. My best friends Binda, Ika, Dhina, Epul, Agung, Zulfa, Nutri, Choir, Teni, Asih, Jihan, Mbok Te, Deden, Pute, Ambar, Roisah dan seluruh rekan TIN 42 atas dukungan, doa dan kebersamaan yang indah.
10.Terakhir kepada semuanya yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak mendukung penulis selama ini. Terima kasih banyak.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam tulisan ini, oleh sebab itu masukan dan kritik yang membangun selalu penulis harapkan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
Bogor, Januari 2010
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ………... DAFTAR ISI ………... DAFTAR TABEL ……….... DAFTAR GAMBAR ………... DAFTAR LAMPIRAN ………... I. PENDAHULUAN………... A. Latar Belakang... B. Tujuan... II. TINJAUAN PUSTAKA ………... ..
A. Tanaman dan Bunga Kenanga ... 1. Tanaman Kenanga... 2. Pemanenan Bunga Kenanga... 3. Bunga Kenanga... B. Penyulingan Minyak Kenanga...……….... 1. Perajangan... 2. Metode Penyulingan... 1) Penyulingan cara rebus ………..
2) Penyulingan cara kukus ……….
3) Penyulingan dengan uap ………
4) Penyulingan Minyak Kenanga di Boyolali……… 3. Kepadatan Bahan... C. Minyak Kenanga...………... 1. Komposisi Kimia……… ………... 2. Sifat Fisiko Kimia……..………... 3. Kegunaan Minyak Kenanga... III. METODOLOGI ...………... A. Bahan ...………... 1. Bahan Baku... 2. Bahan Kimia... B. Alat Penyulingan.………... C. Peralatan Analisis...……... i iii v vi vii 1 1 2 3 3 3 4 5 6 6 7 8 8 8 9 10 11 11 19 20 21 21 21 21 22 23
D. Metode Penelitian... 1. Prosedur Penelitian……….. a. Penelitian Pendahuluan………...
b. Penelitian Utama……….
1) Perlakuan Pendahuluan………. 2) Perlakuan dalam Penelitian………... 3) Operasi Penyulingan………. c. Penyulingan sistem uap……….. 2. Analisis untuk Minyak……….... E. Rancangan Percobaan……… IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ……….... A. Penelitian Pendahuluan ……… B. Penelitian Utama……….
a. Rendemen Minyak Kenanga……….. b. Karakteristik minyak kenanga….………...
1. Warna Minyak…………..………. 2. Bau minyak……...………. 3. Bobot Jenis……… 4. Indeks Bias……… 5. Kelarutan dalam Etanol 95%... 6. Sisa Penguapan……….. 7. Putaran Optik………. 8. Bilangan Asam……….. 9. Bilangan Ester………... C. Penelitian Uap……….. V. KESIMPULAN DAN SARAN ...………...
A. Kesimpulan……….…... B. Saran………..……... DAFTAR PUSTAKA ………... LAMPIRAN...………... 24 24 24 24 24 24 25 27 27 27 29 29 29 29 31 32 33 34 35 37 37 40 42 44 49 51 51 52 53 55
DAFTAR TABEL Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 8. Tabel 9.
Komponen minyak kenanga ……….
Sifat Fisiko kimia minyak kenanga di Cirebon……….
Hasil uji minyak kenanga Perusahaan Sido Mulyo di Boyolali……..
Standar pengujian mutu minyak kenanga yang berlaku di Indonesia..
Warna minyak kenanga dengan berbagai faktor………..
Bau minyak kenanga yang dihasilkan………..
Kelarutan minyak kenanga dalam etanol 95%...
Hidrokarbon dalam minyak kenanga……….
Mutu minyak kenanga yang disuling dengan metode penyulingan uap………. 11 19 19 20 33 33 37 48 49
DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10. Gambar 11. Gambar 12. Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Gambar 16. Gambar 17. Gambar 18. Gambar 19. Gambar 20. Gambar 21. Gambar 22. Gambar 23.
Tanaman kenanga di Boyolali……….. Kadinene………... Benzil asetat……….. Benzil benzoate………. Geraniol……… Linalool………. Nerol………. Metil salisilat……… p-Kresil metil eter ……… Eugenol………. Iso eugenol……… Farnesol……… Safrole……….,. Kariofilen……….. Bunga Kenanga dari muda sampai matang.………. Perangkat Penyulingan Kukus dan Rebus Skala Laboratorium... Diagram Alir Penelitian……… Histogram Pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap rendemen minyak kenanga yang dihasilkan……….. Penampilan warna minyak kenanga secara visual……… Histogram pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap bobot jenis minyak kenanga yang dihasilkan……….. Histogram pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap indeks bias minyak kenanga yang dihasilkan……….. Histogram pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap sisa penguapan minyak kenanga yang dihasilkan………. Histogram pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap putaran optik minyak kenanga yang dihasilkan……….. 3 12 13 14 14 15 16 16 16 17 17 18 18 19 21 22 26 29 32 35 36 38 41
Gambar 24.
Gambar 25.
Histogram pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap bilangan asam minyak kenanga yang dihasilkan………. Histogram pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap bilangan ester minyak kenanga yang dihasilkan………...
43
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Lampiran 2. Lampiran 3. Lampiran 4. Lampiran 5. Lampiran 6. Lampiran 7. Lampiran 8. Lampiran 9. Lampiran 10. Lampiran 11. Lampiran 12. Lampiran 13. Lampiran 14. Lampiran 15. Lampiran 16. Lampiran 17.
Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai rendemen minyak kenanga………. Hasil test post hoc/ uji lanjut duncan terhadap rendemen……….. Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai bobot jenis minyak kenanga………. Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai indeks bias minyak kenanga………. Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai sisa penguapan minyak kenanga………... Hasil test post hoc/ uji lanjut duncan terhadap nilai sisa penguapan………... Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai putaran optik minyak kenanga……… Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai bilangan asam minyak kenanga……….. Hasil test post hoc/ uji lanjut duncan terhadap nilai bilangan asam……… Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai bilangan ester minyak kenanga……….. Hasil test post hoc/ uji lanjut duncan terhadap nilai bilangan ester………. Data Hasil Analisis Sifat Fisiko Kimia Minyak Kenanga……….. Prosedur Analisis Karakterisasi Minyak Kenanga………. Skema Alat Penyulingan Kukus dan Rebus………... Kurva hasil Uji GCMS Komponen Minyak Kenanga……… Perkiraan Analisis Jenis Komponen Penyusun Minyak Kenanga dengan Metode GCMS………... Struktur Kimia Komponen Minyak Kenanga……….
55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 73 78 79 81 83
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara penghasil minyak atsiri terbesar di dunia. Indonesia menghasilkan 40 jenis dari 70 jenis minyak atsiri yang diperdagangkan di pasar dunia. Dari jumlah tersebut, 11 jenis telah memasuki pasar atsiri dunia, yaitu nilam, serai wangi, cengkeh, jahe, pala, lada, cendana, melati, akar wangi, kenanga, dan kayu putih (Warta Penelitian dan Pengembangan Penelitian, 2006).
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang potensial mengekspor minyak kenanga. Sekitar 50 ton minyak kenanga dari Indonesia setiap tahun diekspor ke Eropa dan Amerika. Daerah penghasil minyak kenanga di Indonesia antara lain kabupaten Boyolali, Cirebon, Banten dan Blitar. Luas lahan tanaman kenanga di Boyolali 468 hektar dengan produksi 113,63 ton per tahun. Minyak kenanga dari Boyolali menyuplai kebutuhan bahan baku minyak wangi di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jakarta.
Bilangan ester sangat menentukan harga minyak kenanga di pasaran. Semakin meningkatnya bilangan ester akan meningkatkan harga jual dari minyak kenanga. Harga jual minyak kenanga saat ini Rp. 600.000,00 lebih rendah jika dibandingkan dengan harga minyak ylang-ylang yaitu Rp. 1.000.000,00 yang memiliki bilangan ester lebih tinggi. Sehingga perlu adanya perbaikan mutu minyak kenanga yang dihasilkan. Selain itu, waktu penyulingan yang cukup lama yaitu 72 jam perlu dikurangi untuk menghindari hidrolisis karena semakin lamanya waktu penyulingan akan menurunkan nilai bilangan ester.
Kenanga merupakan salah satu nama bunga yang sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tumbuhan ini merupakan tumbuhan asli di Indonesia dan Filipina, dan lazim ditanam di Polinesia, Melanesia, dan Mikronesia. Bunga kenanga biasanya diperjualbelikan dalam jumlah kecil untuk bunga tabur dan diperjualbelikan dalam jumlah besar untuk penyulingan minyak kenanga. Minyak kenanga ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena merupakan salah satu komoditi ekspor dengan nama Java Cananga
Oil. Minyak kenanga dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam pewangi produk misalnya bahan baku parfum, kosmetika, sabun dan produk-produk rumah tangga lain misalnya untuk pewangi pembersih lantai. Selain dimanfaatkan bunganya untuk penyulingan minyak atsiri bagian lain dari tanaman kenanga ini juga dapat dimanfaatkan untuk sumber obat, sumber kayu, dan sebagai tanaman hias.
Metode penyulingan yang biasa dilakukan pada beberapa penyulingan yang terdapat di Indonesia umumnya dengan menggunakan metode rebus dan sebelumnya dilakukan perajangan. Menurut Ketaren (1985), bahan berupa bunga (mawar, kenanga, melati) dapat disuling langsung tanpa dirajang terlebih dahulu. Perajangan juga akan menurunkan mutu minyak. Jadi sebaiknya bahan tidak perlu dirajang terlebih dahulu apalagi kalau tidak segera disuling. Hal ini akan menyebabkan minyak menguap lebih banyak. Penyulingan dengan metode rebus akan mengakibatkan proses hidrolisis ester terutama pada bunga kenanga yang mengandung ester sebagai komponen utama minyak kenanga yang dihasilkan.
B. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh perajangan bunga, kepadatan bahan dan metode penyulingan yang tepat dalam rangka mendapatkan rendemen minyak kenanga optimal dan mutu minyak yang baik.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tanaman dan Bunga Kenanga (Canangium odorotum Baill) 1. Tanaman Kenanga
Gambar 1. Tanaman Kenanga di Boyolali
Tanaman kenanga termasuk dalam familia Annonacea dan tanaman ini sudah dibudidayakan. Kenanga termasuk dalam genus Canangium dan memiliki nama spesies Canangium odorotum Baill ( Steenis, 1992).
Tanaman kenanga ini berbentuk pohon atau perdu dan dibudidayakan untuk diambil bunganya. Bunganya hijau kekuningan (ada juga yang semu dadu, tetapi jarang), menggelung seperti bentuk bintang laut, dan mengandung minyak kenanga berbau wangi. Umumnya bunga kenanga ini digunakan dalam upacara-upacara khusus misalnya untuk bunga tabur dalam pemakaman dan upacara perkawinan karena baunya yang wangi. Pohon kenanga ini tumbuh dengan cepat hingga lebih dari 5 meter per tahun dan mencapai tinggi rata-rata 12 meter (Sunanto, 1993).
Dalam perdagangan dikenal dua jenis tanaman kenanga yaitu tanaman kenanga (Canangium odoratum baill forma Macropylla), dan tanaman ylang-ylang (Canangium odoratum baill forma Genuina). Jenis pertama dianggap sebagai tanaman asli Indonesia, termasuk tanaman tahunan dengan tinggi bisa mencapai 30 meter. Tanaman ylang-ylang juga termasuk tanaman tahunan dengan tinggi setengah tinggi pohon kenanga.
Tanaman kenanga bisa mencapai tinggi 38 m, daunnya berbentuk agak bulat dan ujungnya meruncing, bertulang menyirip, bersisi merata. Bunga berbentuk bintang, berwarna hijau pada waktu masih muda dan berwarna kuning setelah masak (tua). Bunga berbau wangi, berada tunggal atau berkelompok pada tangkai bunga dengan jumlah 3-4 kuntum, bagian kelopak bunga berjumlah 3 berbentuk lidah yang bertaut pada dasarnya, setelah tua mahkota umumnya berjumlah 6 kadang 8-9 berbentuk pita, berdaging, terlepas satu sama lain dan tersusun dalam 2 lingkaran yang masing-masing biasanya berjumlah 3. Benang sari berjumlah banyak bertangkai pendek dan tersusun dalam gulungan spiral, kotak sari berbentuk tiang terdiri 2 sel, bersifat menempel dan membelah memanjang. Bakal buah bersifat sinkarpus. Bakal biji berjumlah banyak dan menyebar pada sisi-sisinya. Putik pendek, berkepala bundar dan berlendir. Buah berbentuk oval, berdaging tebal, berwarna hijau ketika masih muda dan menjadi hitam ketika sudah tua pada umumnya mengelompok 6-10 buah pada 1 tangkai utama, tiap buah mempunyai 8-12 biji, berbentuk pipih, berkulit keras, berwarna coklat (Sunanto, 1993).
Tanaman kenanga tumbuh dengan baik di seluruh nusantara dengan ketinggian daerah di bawah 1200 m (dpl). Tanaman ini semula hanya tumbuh di hutan-hutan tapi kini sudah banyak dibudidayakan. Tentu saja tanaman ini dapat tumbuh lebih baik jika kondisi tanahnya subur terutama tanah jenis alluvial, dan dapat berbunga lebat jika ketinggian antara 20-700 meter (dpl) yang beriklim panas dan lembab (Sunanto, 1993) dan tumbuh dengan baik pada ketinggian 200 meter (dpl) (Steenis, 1992).
2. Pemanenan Bunga Kenanga
Waktu pemanenan berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, yang tergantung keadaan iklim di daerah tempat tumbuh tanaman. Perbedaan waktu panen mempengaruhi jumlah dan mutu minyak yang dihasilkan. Umumnya panen pada musim kering akan menghasilkan minyak dengan mutu yang lebih tinggi. Selain itu, harus diperhatikan pula bahwa pemanenan sebaiknya jangan dilakukan pada siang hari, karena
kadar minyak dalam bunga lebih kecil daripada malam hari. Akan tetapi, karena panen pada malam hari tidak mungkin dilakukan, maka waktu panen paling baik adalah sebelum jam 09.00 pagi. Pemanenan dapat dilakukan dengan menggunakan galah atau dengan cara memetik langsung atau dipanjat (Ketaren, 1985).
Pada umur 4-5 tahun tanaman kenanga jenis pohon berbunga, sedangkan jenis kenanga perdu pada umur kurang dari 4 tahun sudah mulai berbunga. Musim berbunga tanaman kenanga berbeda-beda tergantung pada daerah tempat tumbuhnya. Produksi bunga kenanga tergantung pada umur tanaman. Pada umur 4 sampai 8 tahun setiap pohon kenanga dapat menghasilkan bunga segar sebanyak 5-15 kg setiap musim, sedangkan menjelang umur 25 tahun, dapat menghasilkan 50-70 kg bunga segar setiap musim, kemudian setelah berumur lebih dari 50 tahun tanaman sudah mulai tidak produktif (produksi bunganya semakin menurun) sehingga sudah waktunya untuk melakukan peremajaan (Sunanto, 1993).
3. Bunga Kenanga
Bunga kenanga berbentuk bintang, berwarna hijau pada waktu masih muda dan berwarna kuning setelah masak (tua). Bunga berbau harum, berada tunggal atau berkelompok pada tangkai bunga dengan jumlah 3-4 kuntum, bagian kelopak bunga berjumlah 3 berbentuk lidah yang bertaut pada dasarnya, setelah tua mahkota umumnya berjumlah 6 kadang 8-9 berbentuk pita, berdaging, terlepas satu sama lain dan tersusun dalam 2 lingkaran yang masing-masing biasanya berjumlah 3 (Sunanto, 1993).
Ylang-ylang (Cananga odorata forma genuina, Hook Fil. Et Thompson) termasuk famili anonaceae dan berkeluarga dekat dengan tanaman kenanga (Cananga odorata forma macrophylla, Hook Fil. Et Thompson) (Mauludi et al.1990). Tanaman Cananga odorata asli dari asia tenggara dan menyebar secara alamiah ke seluruh Asia Tenggara, Australia dan beberapa pulau di lautan pasifik. Penanaman secara komersial untuk menghasilkan tanaman ylang-ylang pertama kali
dilakukan di Filipina. Saat ini daerah pengekspor utama minyak ylang-ylang adalah pulau Nossi-Be Madagaskar, Pulau Comoro, Pulau Reunion, Filipina dan Indonesia (Yusuf dan Sinohin, 1999).
Bunga ylang-ylang berbentuk bintang, berwarna hijau pada waktu masih muda dan berwarna kuning setelah tua. Komposisi bunga mengelompok pada tangkai bunga yang terdiri dari 2-20 dan terkadang lebih (Guenther, 1952). Kelopak bunga berjumlah 3, berbentuk lidah yang bertaut pada dasarnya, berbulu, berwarna hijau ketika masih muda dan berwarna kuning setelah tua. Mahkota bunga pada umumnya berjumlah 6, namun kadang-kadang berjumlah 8-9, berbentuk pita berdaging terlepas satu sama lainnya dan tersusun dalam 2 lingkaran yang masing-masing biasanya berjumlah 3. Dasar bunganya berbentuk bundar pipih dan menggembung (Sunanto,1993).
Morfologi tanaman ylang-ylang memiliki habitus lebih ramping dan batangnya relatif kecil, cabang-cabang agak jarang, sehingga daunnya kurang rimbun. Bentuk daun berbeda pada perbandingan panjang dan lebar daun, sehingga daun kenanga lebih besar dari daun ylang-ylang. Urat daun ylang-ylang lebih besar sehingga nampak lebih kaku, permukaan keriput warnanya hijau tua (Hobir et al 1990).
B. Penyulingan Minyak Kenanga 1. Perajangan
Menurut Ketaren (1985), bahan berupa bunga (mawar, kenanga, melati) dan daun (nilam, kayu putih) tidak berserat, dapat disuling langsung tanpa dirajang terlebih dahulu. Perajangan juga akan menurunkan mutu minyak. Jadi sebaiknya bahan tidak perlu dirajang terlebih dahulu apalagi kalau tidak segera disuling.
Sebelum bunga disuling, terlebih dahulu dirajang, jika tidak dirajang penyulingan bunga tersebut tidak menghasilkan minyak karena menggunakan alat yang kuno dengan proses pendinginan yang tidak sempurna. Proses perajangan tersebut akan menurunkan rendemen dan mutu minyak, sehingga hal ini merupakan salah satu sebab, bunga yang
diolah tanpa dirajang menghasilkan mutu minyak yang lebih baik (Ketaren, 1985).
Menurut Guenther (1949), penyusutan minyak yang disebabkan karena proses penguapan dan oksidasi sebelum penyulingan terutama terjadi pada bahan yang sedang dirajang, terlebih lagi apabila perajangan dilakukan dengan penghancuran dan penggilingan dengan alat yang berputar cepat. Besarnya kehilangan minyak tergantung dari besarnya kecepatan sirkulasi udara dalam sistem, kemudian suhu akibat adanya gesekan alat giling dan daya tahan minyak atsiri tersebut terhadap proses oksidasi.
Selama perajangan, akan terjadi penguapan komponen minyak bertitik didih rendah, yang apabila dibiarkan maka akan terjadi penyusutan bahan sekitar 0,5 % akibat penguapan minyak. Oleh sebab itu, apabila diinginkan rendemen dan mutu minyak yang baik, maka hasil rajangan harus segera dimasukkan ke dalam ketel suling. Kelemahan bahan yang dirajang adalah karena jumlah total minyak dalam bahan yang berkurang akibat adanya penguapan selama perajangan serta adanya perubahan komposisi kimia dan akan mempengaruhi bau minyak atsiri yang dihasilkan setelah proses ekstraksi. Kedua hal ini terutama terjadi pada minyak yang mengandung komponen mudah menguap dalam jumlah yang cukup besar (Ketaren, 1985).
Menurut Ketaren (1985), proses perajangan bertujuan untuk memudahkan penguapan minyak atsiri dari bahan, dan untuk mengurangi sifat kamba bahan olah. Kelemahan bahan yang dirajang adalah karena :
•Jumlah total minyak berkurang, akibat penguapan selama perajangan
•Komposisi minyak akan berubah, dan akan mempengaruhi baunya. 2. Metode Penyulingan
Metode penyulingan yang umumnya digunakan pada penyulingan minyak kenanga di Indonesia adalah metode penyulingan rebus. Alat penyulingan yang digunakan antara lain ketel suling, kondensor dan receiver (separator).
Menurut Guenther (1947), pada awal penyulingan komponen yang lebih mudah menguap mempunyai konsentrasi yang lebih tinggi dalam uap, sedangkan komponen yang lebih sulit menguap terdapat pada konsentrasi yang lebih tinggi pada cairan. Uap yang dihasilkan dikondensasikan kembali untuk mendapatkan komponen yang lebih mudah menguap. Proses penyulingan memanfaatkan perbedaan titik didih masing-masing komponen.
5) Penyulingan cara rebus (water distillation)
Cara penyulingan seperti ini disebut dengan direct distillation karena penguapan air dan minyak atsiri berlangsung bersamaan. Bahan baku yang digunakan biasanya dari bunga atau daun yang mudah bergerak dalam air dan tidak mudah rusak oleh panas uap air.
Prinsip kerja penyulingan dengan air adalah sebagai berikut: Ketel penyulingan diisi air sampai volumenya hampir separuh, lalu dipanaskan. Sebelum air mendidih, bahan baku dimasukkan kedalam ketel penyulingan. Dengan demikian penguapan air dan minyak atsiri berlangsung bersamaan.
6) Penyulingan cara kukus (water and steam distillation)
Cara penyulingan seperti ini paling banyak digunakan oleh para petani atsiri di Indonesia. Cara penyulingan seperti ini disebut dengan indirect distillation karena bahan baku diletakan diatas saringan sehingga tidak berhubungan langsung dengan air yang mendidih, tetapi akan berhubungan dengan uap air.
Prinsip kerja penyulingan dengan air dan uap adalah sebagai berikut: Ketel penyulingan diisi air sampai pada batas saringan . Bahan baku diletakkan di atas saringan, sehingga tidak berhubungan langsung dengan air yang mendidih, tetapi akan berhubungan dengan uap air. 7) Penyulingan dengan uap (steam distillation)
Cara penyulingan ini hampir sama dengan cara indirect distillation, namun antara ketel uap dan ketel penyulingan terpisah. Ketel uap yang berisi air dipanaskan kemudian uapnya akan mengalir ke dalam ketel
yang berisi bahan baku. Partikel-partikel minyak pada bahan baku terbawa bersama uap dan dialirkan ke alat pendingin. Di dalam alat pendingin itulah terjadi pengembunan sehingga uap air yang bercampur minyak akan mengembun dan mencair kembali. Selanjutnya, dialirkan ke alat pemisah yang akan memisahkan minyak atsiri dari air.
Menurut Ketaren (1985), sistem penyulingan uap baik digunakan untuk mengekstraksi minyak dari biji-bijian, akar dan kayu-kayuan yang umumnya mengandung komponen minyak yang bertitik didih tinggi, misalnya minyak cengkeh, kayu manis, akar wangi, ketumbar, sereh, minyak “boise de dose”, “sassafras”, “cumin”, “cedar wood”, kamfer, kayu putih, “pimento”, “eucalyptus” dan jenis minyak lainnya yang bertitik didih tinggi. Kelemahan dari penyulingan ini adalah karena tidak baik dilakukan terhadap bahan yang mengandung minyak atsiri yang mudah rusak oleh pemanasan dan air.
8) Penyulingan Minyak Kenanga di Boyolali
Berdasarkan hasil studi yang telah dilakukan (Yuniarti, 2008) kapasitas bahan yang disuling tergantung dari ketel suling yang digunakan. Penyulingan minyak kenanga di Boyolali kapasitas ketel suling yang digunakan ada 1 ton, 4 kwintal dan 0,5 ton. Kepadatan bahan yang digunakan umumnya 1 kg bahan/liter air, sedangkan laju destilat yang keluar adalah 520 cc/menit/ton. Bunga dengan lama penyulingan sekitar 72 jam.
Bahan baku yang digunakan adalah bunga kenanga yang masih muda maupun tua, yang sudah mekar ataupun masih kuncup atau bisa dikatakan bahwa bunga kenanga yang akan digunakan untuk penyulingan tanpa melalui proses penyortiran bunga terlebih dahulu. Pemanenan bunga kenanga dilakukan setelah tanaman kenanga sudah berusia sekitar 3 tahun, dan dipanen pada pagi hari sekitar pukul 05.00-10.00.
Rendemen minyak kenanga yang dihasilkan ± 1,5 %. Penentuan mutu minyak kenanga di lapangan umumnya masih dilakukan secara organoleptik dengan menilai bau. Jika minyak memiliki aroma gosong
dan warna kuning kecoklatan maka harganyapun akan turun karena mutunya dianggap rendah.
Kelemahan penyulingan cara rebus adalah ekstraksi minyak atsiri tidak dapat berlangsung secara sempurna, walaupun bahan dirajang. Selain itu beberapa jenis ester, misalnya linalil asetat akan terhidrolisa sebagian. Persenyawaan yang peka seperti aldehid, akan mengalami polimerisasi karena pengaruh air mendidih. Penyulingan air memerlukan ketel suling yang lebih besar, ruangan yang lebih luas dan jumlah bahan bakar yang lebih banyak. Kelemahan lainnya adalah akibat komponen minyak yang bertitik didih tinggi dan bersifat larut dalam air tidak dapat menguap secara sempurna, sehingga komponen minyak yang dihasilkan tidak lengkap.
Menurut Ketaren (1985), dibandingkan dengan penyulingan rebus, maka sistem penyulingan kukus lebih unggul karena proses dekomposisi minyak lebih kecil (hidrolisa ester). Sistem penyulingan kukus lebih efisien daripada metode penyulingan rebus, karena jumlah bahan bakar yang dibutuhkan lebih kecil, penyulingan lebih singkat, dan rendemen minyak yang dihasilkan lebih besar. Kelemahan dari metode penyulingan kukus adalah karena jumlah uap yang dibutuhkan cukup besar dan waktu penyulingan lebih lama. Dalam proses ini sejumlah besar uap akan mengembun dalam jaringan tanaman, sehingga bahan bertambah basah dan mengalami aglutinasi.
3. Kepadatan Bahan
Kepadatan bahan berhubungan dengan pengaturan pengisian bahan dalam ketel suling. Menurut Guenther (1972), tingkat kepadatan bahan berhubungan erat dengan besar ruangan antar bahan. Kepadatan bahan yang terlalu tinggi dan tidak merata menyebabkan terjadinya jalur uap yang dapat menurunkan rendemen dan mutu minyak.
Semakin tinggi bahan dalam ketel, akan makin rendah rendemen, karena makin tinggi bahan dalam ketel, akan semakin besar jarak yang ditempuh dan halangan yang dialami uap air. Pertambahan jarak dan benturan yang dialami uap air akan mengakibatkan semakin rendahnya
kecepatan penyulingan dan dengan sendirinya makin kecil rendemen yang diperoleh (Rusli dan Hasanah, 1977).
C. Minyak Kenanga
Tumbuhan kenanga merupakan tumbuhan asli di Indonesia dan Filipina, dan lazim ditanam di Polinesia, Melanesia, dan Mikronesia. Di Indonesia minyak kenanga umumnya berasal dari pulau Jawa antara lain berasal dari daerah Cirebon, Blitar, Banten dan Boyolali.
1. Komposisi Kimia
Menurut Ketaren (1985), minyak kenanga diperoleh dari hasil penyulingan bunga tanaman kenanga. Minyak tersebut mengandung ester, benzyl alcohol, benzyl asetat, benzyl format, benzyl benzoate, metil salisilat, geraniol, geraniol asetat, linalool, eugenol, iso-eugenol, metil eugenol dan metil iso-eugenol.
Tabel 1. Komponen minyak kenanga menurut Bucellato (1999)
Nama komponen komposisi
β-kariofilen 37% Farnesene 12,2 % α-kariofilen 10,5% gama cadinene 7,6 % teta cadinene 5,4 % benzil benzoat 2,9 % geranil asetat 1,8 % Linalool 1,7 %
p-cresil methyl ehter 1,1 %
(Z,E) farnesol 1,1 %
Nerolidol 1 %
Geraniol 0,6 %
benzil salysilat 0,1 %
Komponen utama yang terdapat pada minyak kenanga adalah β Kariofilen, α Terpineol, Borneol, Benzil asetat dan Benzil alkohol. Dari hasil analisis kromatografi gas menurut Masada (1947), diketahui bahwa di dalam minyak kenanga terdapat juga komponen-komponen lain seperti α Pinen, Kampene, β Pinen, Mirsen, Limonen, Benzaldehid, Linalool, Metil salisilat, Geranil asetat, Safrol, Eugenol, Timol, Karvakrol, dan isoeugenol.
Semua komponen kimia yang terdapat dalam minyak ylang-ylang, juga terdapat dalam minyak kenanga, hanya berbeda jumlahnya. Minyak kenanga terutama banyak mengandung seskuiterpen dan seskuiterpen alkohol, tetapi lebih sedikit mengandung ester jika dibandingkan dengan minyak ylang-ylang. Minyak kenanga banyak mengandung seskuiterpen terutama kadinene. Ester yang terdapat dalam minyak merupakan ester dari asam format, asetat, volerat, asam dengan C5, C6, C8, C10, dan asam
benzoat. Jenis ester yang terpenting adalah benzil asetat dan benzil benzoat (Ketaren, 1985).
Menurut Poucher (1974), komponen penyusun minyak kenanga adalah linalool, geraniol, paracreasol metil ether, cadinene, safrole, nerol, farnesol, eugenol, iso-eugenol, metil-eugenol, benzil asetat dan benzil benzoat, metil salisilat, dan antranilat.
Beberapa senyawa penyusun minyak kenanga, antara lain : a. Kadinene
Kadinene termasuk dalam golongan seskuiterpen, dan banyak ditemukan di dalam beberapa jenis minyak atsiri, diantaranya savin, kamfer. Karakteristik kadinene meliputi bobot jenis pada 15,5 ºC yaitu 0,922, indeks bias pada 20 ºC adalah 1,5070, putaran optik dari (-105 º) – (- 111 º ), dan nilai titik uap adalah 271 ºC - 275 ºC. Kadinene bersifat sangat stabil, dan bila dipanaskan dibawah tekanan pada suhu 330 ºC tidak akan berubah (Parry and Guenther, 1972). Kadinene, hexahydro-4-iso-profil-1, 6- dimetil naptalena (C15H24) jarang
digunakan dalam ramuan parfum (Poucher, 1974).
b. Benzil Alkohol
Benzil alkohol adalah komponen dasar dari pembentuk aroma dalam berbagai minyak atsiri. Benzil alkohol banyak ditemukan terikat dalam bentuk benzil asetat, benzil benzoat dan benzil cinamat, dalam berbagai minyak dari bunga-bungaan, seperti melati dan ylang-ylang. Komponen ini banyak digunakan pada berbagai industri pembuatan parfum. Baunya tidak terlalu kuat, tetapi sangat wangi (Parry and Guenther, 1972).
c. Benzil Asetat
Karakteristik dari benzil asetat, CH3COOCH2C6H5, adalah berupa
cairan tidak berwarna dan memiliki aroma bunga-bungaan. Indeks bias pada 20 ºC adalah 1,5015-1,5035. Bobot jenis pada 20 ºC adalah 1,052-1,056. Bilangan asam maksimal 1,0. Bilangan ester minimum 98 persen, dan kandungan klorin negatif (Bedoukian, 1967).
Gambar 3. Benzil asetat d. Benzil Benzoat
Benzil benzoat, COOCH2(C6H5)2, dalam keadaan murni berupa
padatan, tapi untuk tujuan komersial biasanya berupa cairan. Cairan ini bersifat sangat kental dan memiliki aroma samar, serta banyak digunakan di bidang obat-obatan. Dalam pembuatan parfum digunakan secara luas sebagai pelarut dan juga sebagai pengikat berbagai komponen parfum. Ester ini mempunyai bobot molekul besar (Poucher, 1974). Karakteristik benzil benzoat meliputi titik penguapan (B.p) yaitu 323 ºC -324 ºC, bobot jenis pada 18 ºC adalah 1,114, indeks bias pada 21 ºC adalah 1,5681, dan titik nyala 147 ºC (Bedoukian, 1967).
Gambar 4. Benzil benzoat
e. Antranilat
Antranilat (O-Aminobenzoic Acid), NH2C6H4COOCH3, memiliki
karakteristik berupa kristal berwarna kuning pucat. Antranilat sedikit larut dalam air dingin, serta mudah larut dalam air panas dan alkohol (Poucher, 1974).
f. Geraniol
Geraniol (trans-3, 7-dimetil okta-2, 6-dien-1, ol), ((CH3)2C=CHCH2–CH2CCCH3)=CHCH2OH, merupakan cairan tidak
berwarna dengan aroma wangi yang menyenangkan seperti mawar. Berada di alam secara luas, kadang-kadang dalam bentuk geraniol bebas atau dalam bentuk ester. Di dalam minyak atsiri yang mengandung alkohol ini, geraniol akan berisomerisasi dengan linalool (Poucher, 1974).
Geraniol adalah terpen alkohol primer tidak jenuh yang terdiri dari dua rantai etilen. Isomer dari linalool C10H18O, geraniol berbeda dari
linalool pada titik didih yang lebih tinggi dan bobot jenis yang lebih tinggi (Guenther, 1952).
g. Linalool
Linalool 3,7 dimetol okta-1,6-dien-3-ol), (CH3)2C=CHCH2CH2–
C(CH3)(OH)CH=CH2, merupakan isomer dari geraniol dan nerol.
Karakteristik dari linalool meliputi titik penguapan (B.p.) 83/10 ; 116/50 dan bobot jenis pada 15 ºC 0,8700 (Poucher, 1974). Linalool dan esternya merupakan sumber wangi-wangian yang tidak dapat diberikan oleh komponen lain. Linalool dengan kualitas baik memiliki bau harum yang lembut dan berbeda dari isomerny yaitu geraniol dan citronellol. Lagipula mempunyai titik penguapan yang lebih rendah daripada bentuk alkoholnya. Linalool banyak digunakan sebagai top note dalam parfum. Esternya, terutama asetat merupakan komponen utama dalam minyak atsiri seperti bergamot, lavender, dan petitgrain. Linalool berupa larutan yang stabil dan tidak berwarna (Bedoukian, 1967).
Gambar 6. Linalool h. Nerol
Nerol, C10H17OH3, (cis-3, 7-dimetilokta-2, 6-dien-1-ol), ditemukan
dalam bentuk neral bebas atau sebagai ester pada beberapa minyak atsiri. Nerol dapat ditemukan sebagai komponen dari ylang-ylang. Nerol merupakan cairan tidak berwarna dengan aroma harum bunga mawar(Poucher, 1974).
Gambar 7. Nerol i. Metil salisilat
Metil salisilat, HOC6H4COOCH3, (metil o-hidroksi benzoat),
merupakan aroma penting dalam industri obat-obatan, khususnya untuk produk kesehatan gigi (Poucher, 1974).
Gambar 8. Metil salisilat j. p-Kresil metil eter
p-Kresil metil eter (metil p-tolyl eter), C7H7OCH3 merupakan
larutan tidak berwarna dengan suatu karakteristik wangi tertentu. Secara alami dapat ditemukan dalam minyak ylang-ylang. Komponen ini banyak digunakan untuk pembuatan parfum-parfum sintesis, seperti parfum jonquille (Poucher, 1974).
k. Eugenol
Eugenol (4 alil 2 metoksi phenol), C10H12O, merupakan cairan
kental berwarna kuning, dan berasal dari pemisahan alkali. Eugenol digunakan dalam pembuatan parfum sabun, tapi memiliki kecenderungan untuk berubah menjadi gelap, sehingga biasanya digunakan dalam jenis sabun berwarna coklat kekuningan. Karakteristik dari eugenol meliputi titik didih (B.p.) yaitu 255 ºC, titik cair (m.p.) adalah -92 ºC, dan bobot jenis pada 20 ºC 1,066 (Poucher, 1974).
Gambar 10. Eugenol l. Iso-eugenol
Iso-eugenol (4 propenil-2-metoksi penol), CH3CHCHC6H3–
(OCH3)OH, secara komersial digunakan dalam bentuk cairan kental
berwarna kuning terang, mempunyai bau menyerupai clove pink, dan sebagai bahan baku pembuatan produksi vanili. Iso-eugenol sebagian besar digunakan sebagai dasar parfum carnation. Karakteristik iso-eugenol meliputi titik didih 267,5 ºC, titik cair (m.p.) adalah -10 ºC, dan bobot jenis adalah 1,0839 (Poucher, 1974).
Gambar 11. Iso eugenol m. Eugenil metil ester
Eugenil metil ester (4-alil-1, 2-metoksi benzen), CH2=CHCH2C6H3(OCH3)2, merupakan larutan kental berwarna kuning
dengan aroma menyerupai eugenol tapi kurang menyengat. Senyawa ini terdapat dalam beberapa minyak atsiri, komponen ini memiliki titik
didih (B.p.) yaitu 248 ºC, serta bobot jenis pada 15 ºC adalah 1,005 (Poucher, 1974).
n. Farnesol
Farnesol (trans:trans-3,7,11-tri metidodeca-2,6,10,trien-1-ol), C15H26O, tidak dipergunakan secara luas dalam pembuatan parfum
(Poucher, 1974).
Gambar 12. Farnesol o. Safrole
Safrole (3,4-metil dioksialil benzen), CH2O2C6H3CH2CH=CH2,
dalam kadar tinggi terdapat dalam minyak sassafras, ylang-ylang dan lainnya. Pada temperatur normal, safrole berupa cairan tidak berwarna dengan aroma menyenangkan, sedang pada suhu rendah berupa padatan kristal putih. Karakteristik safrole meliputi titik didih 233 ºC, titik cair 11,2 ºC, dan bobot jenis 1,1004 (Poucher, 1974).
Gambar 13. Safrole p. Kariofilen
Kariofilen merupakan seskuiterpen yang terdapat dalam banyak minyak atsiri. β-Kariofilen memiliki bobot molekul 204.36 dan bobot jenis 0.908. Rumus molekul β-Kariofilen adalah C15H24 (Guenther, 1949).
Gambar 14. Kariofilen
2. Sifat Fisiko-Kimia
Komponen kimia minyak kenanga dari suatu daerah dengan daerah lain sangat bervariasi, sehingga menyebabkan perbedaan sifat fisiko-kimia minyak yang dihasilkan. Sifat fisiko-kimia minyak kimia yang dihasilkan di daerah Cirebon, Boyolali, dan standar yang berlaku di Indonesia dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2. Sifat Fisiko kimia minyak kenanga di Cirebon
Karakteristik I II
Bobot jenis (15 ºC) 0.921 0.923
Putaran optik -29º58’ -26º55’
Indeks bias (20 ºC) 1.5018 1.5030 Kelarutan dalam alkohol
95 persen (20 ºC)
- 1:0.5
Larut, seterusnya keruh Sumber : Guenther, 1952
Tabel 3. Hasil uji minyak kenanga Perusahaan Sido Mulyo di Boyolali
Sumber : Pengujian Laboratorium Mutu Barang Semarang
Jenis uji Hasil uji
Warna Kuning muda
Bobot jenis 20ºC / 20 ºC 0,906
Indeks bias nD20 1,498
Putaran optik -26
Sisa penyulingan uap % (v/v) 4
Bilangan ester 18
Tabel 4. Standar pengujian mutu minyak kenanga yang berlaku di Indonesia adalah SNI 06-3949-1995:
Jenis uji Hasil uji
Warna Kuning muda-tua
Bobot jenis 20ºC / 20 ºC 0,906-0,920 Indeks bias nD20 1,495-1,504
Putaran optic (-15)-(-30)
Sisa penyulingan uap % (v/v) Maksimal 5
Bilangan ester 15-35
Kelarutan dalam etanol 95% 1:0,5 jernih seterusnya jernih Zat asing : • Lemak • Alkohol tambahan • Minyak pelikan • Minyak kruing Negatif Negatif Negatif Negatif Sumber : SNI 06-3949-1995
3. Kegunaan Minyak Kenanga
Minyak kenanga dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam pembuatan produk misalnya bahan baku ramuan parfum, kosmetika, sabun dan produk-produk rumah tangga lain misalnya sebagai pewangi pembersih lantai. Selain bunganya sebagai sumber minyak kenanga, bagian lain dari tanaman kenanga ini juga dapat dimanfaatkan untuk sumber obat, sumber kayu, dan sebagai tanaman hias (Sunanto, 1993).
Tanaman kenanga memiliki berbagai macam kegunaan. Kegunaan tanaman kenanga dapat dilihat dari bunga, kayu dan kulit batang tanaman kenanga. Bunga kenanga memiliki nilai guna sebagai bahan campuran untuk pewangi tembakau. Ekstrak bunga kenanga berfungsi sebagai obat malaria. Bunga kenanga digunakan sebagai pewangi minyak klentik yang umumnya digunakan sebagai minyak rambut. Kayu kenanga kebanyakan digunakan untuk batang korek api, sebagai bahan perahu (sampan), pembuatan payung, tangkai sapu ijuk dan juga dapat digunakan untuk pembuatan drum kayu. Selain bunga dan kayu dari tanaman kenanga, kulit batang kenanga yang digulung dapat digunakan sebagai tempat menyimpan ikan oleh nelayan dan untuk membuat tali. Selain itu kulit batang kenanga dapat digunakan untuk membuat salep penyakit kudis, mengobati busung air, dan pembesaran limfa (Sunanto, 1993).
III. METODOLOGI A. Bahan
1. Bahan baku
Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah bunga kenanga (Cananga Odorata Baill) dari tanaman kenanga yang telah berumur kurang lebih 10 tahun. Bunga yang digunakan dalam keadaan 25-75% mekar (belum mekar sepenuhnya). Bunga diperoleh dari Desa Wirun kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Gambar 15. Bunga Kenanga dari muda sampai matang
Bunga kenanga yang digunakan untuk penelitian dalam keadaan segar. Bunga yang sudah dipetik pada pagi hari langsung dimasukkan dalam box stereofoam untuk mempertahankan sifat hidup dari bunga. Es dimasukkan pada sela-sela bunga segar untuk menghindari terjadinya pelayuan bunga kenanga. Perjalanan dari asal bunga kenanga sampai tempat penelitian sekitar 12 jam. Sampai di tempat penelitian bunga kenanga langsung disuling.
2. Bahan Kimia
Bahan kimia untuk analisis minyak kenanga hasil penyulingan adalah larutan etanol 95% (v/v) yang baru dinetralkan dengan larutan alkali, indikator fenolftalein, larutan kalium hidroksida 0,5 N dalam etanol, larutan standart volumetri asam klorida 0,5 N, larutan etanol 95%, dietil eter, alkohol dan larutan KOH alkohol 0,1 N.
B. Alat Penyulingan
Peralatan penyulingan yang digunakan dalam penelitian ini adalah peralatan penyulingan dengan sistem kohobasi yaitu air suling hasil penyulingan kukus dan rebus dimasukkan kembali ke dalam ketel suling untuk disuling. Pada sistem kohobasi air yang keluar bersama dengan minyak pada destilat setelah terpisah dari minyak, air dimasukkan lagi ke dalam ketel dan disuling kembali. Hal ini dilakukan untuk penghematan air yang digunakan selama penyulingan. Peralatan penyulingan dalam sistem kohobasi terdiri dari ketel suling, alat pendingin (kondensor), oil separator dan mecher burner.
Ketel suling yang digunakan dalam penelitian memiliki tebal 1,5 mm, diameter dalam ketel 210 mm, tinggi ketel 410 mm dan dudukan ketel 150 mm. Ketel suling tersebut terbuat dari bahan stainless steel dengan menggunakan sambungan dari besi. Penutup ketel juga terbuat dari bahan stainless steel dengan pinggirannya terbuat dari besi. Selain itu pada tutup bagian dalam dilengkapi dengan karet yang berfungsi untuk menghindari terjadinya kebocoran saat penyulingan berlangsung. Selain karet, penutup ketel ini juga dilengkapi mur yang berjumlah 4 buah.
Kondensor yang digunakan dalam penelitian ini adalah kondensor jenis penukar panas tubular condensor yang merupakan tipe badan satu lintasan dengan air sebagai media pendingin. Kondensor yang digunakan terdiri dari 2 tabung yang terbuat dari gelas kaca. Tinggi kondensor adalah 650 mm dilengkapi dengan selang dibagian atas untuk masuknya air pendingin dan selang dibagian bawah untuk keluarnya air setelah terjadinya proses kondensasi. Uap campuran minyak dan air hasil penyulingan akan masuk pada tabung bagian dalam kondensor sebelumnya melewati alat kohobasi. Pada tabung bagian dalam akan terjadi proses kondensasi dengan adanya aliran air yang mengalir di antara tabung dalam dan tabung luar sehingga terjadi perubahan fase uap menjadi fase cair.
Oil separator pada alat penyulingan ini berhubungan dengan pipa untuk menampung air hasil pemisahan destilat dan menyalurkannya lagi ke dalam ketel untuk disuling kembali. Oil separator yang terhubung dengan pipa untuk mengalirkan air hasil penyulingan ini memiliki tinggi 572 m dan dilengkapi skala 0-15 cc. Selain itu pada oil separator ini dilengkapi kran untuk mengeluarkan hasil kondensat. Air dan minyak hasil kondensasi akan mengalir ke alat kohobasi dan tertampung di dalamnya dengan lapisan minyak berada di bagian atas dan air di bagian bawah, berdasarkan perbedaan berat jenisnya (BJ minyak < BJ air ).
Mechel Burner berfungsi untuk menyediakan supply energi kalor untuk ketel suling selama proses penyulingan berlangsung. Energi yang digunakan berasal dari gas alam yang dialirka melalui pipa. Alat ini terbuat dari bahan besi dengan tinggi 115 mm.
C. Peralatan Analisis
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan, alat penyulingan bunga kenanga. Peralatan untuk analisa minyak adalah neraca analitik, penangas air, piknometer berkapasitas 10 ml, termometer refraktometer, polarimeter, tabung polarimeter, labu penyabunan, pendingin balik, gelas ukur kapasitas 5 ml, buret standart kapasitas 5 ml, pipet standar kapasitas 25 ml, penangas air, tabung reaksi dan erlenmeyer 500 ml.
D. Metode Penelitian 1. Prosedur Penelitian
a. Penelitian Pendahuluan
Pada penelitian pendahuluan dilakukan penyulingan dengan cara rebus dan kukus serta analisis pendahuluan. Analisis yang dilakukan pada penelitian pendahuluan adalah penentuan kadar air, kadar protein dan penentuan kadar minyak. Setelah itu, dilakukan penyulingan pendahuluan untuk mengetahui lama waktu penyulingan yang optimum. Penyulingan pendahuluan yang dilakukan dengan perlakuan perajangan dan metode penyulingan (rebus dan kukus) dengan kepadatan 0.075 kg/l.
c. Penelitian Utama
Pada penelitian utama dilakukan penyulingan bunga kenanga dengan dua faktor perlakuan utama yaitu perajangan dan metode penyulingan. Setelah itu dilakukan analisis hasil penyulingan.
1) Perlakuan Pendahuluan
Bunga kenanga yang akan disuling diberi 2 perlakuan yaitu bunga kenanga yang dirajang dengan ukuran rajangan ±3 cm dan bunga kenanga tidak dirajang.
2) Perlakuan dalam Penelitian
Perlakuan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah : a. Metode penyulingan terhadap bunga kenanga (A) yang terdiri
dari dua taraf, yaitu : A1(penyulingan cara kukus) dan A2 (penyulingan cara rebus).
b. Perajangan bunga kenanga (B) yang terdiri dari dua taraf, yaitu : B1 (bunga yang dirajang) dan B2 (bunga tanpa perajangan).
c. Kepadatan bahan (C) yang terdiri dari tiga taraf, yaitu : C1 (75gram/liter), C2 (87,5 gram/liter) dan C3 (100 gram/liter).
Setiap kombinasi perlakuan dilakukan 2 kali ulangan, sehingga jumlah satuan perlakuan adalah :
2 (perajangan) x 2 (cara penyulingan) x 3 (kepadatan bahan) x 2 (ulangan)
= 24 satuan perlakuan, sehingga jumlah bunga kenanga yang diperlukan sebanyak 58 kg.
3) Operasi Penyulingan
Setelah bunga dirajang atau tanpa perajangan, proses selanjutnya adalah penyulingan bunga kenanga. Pada penyulingan bunga kenanga diberi 2 perlakuan yaitu metode penyulingan dengan rebus dan penyulingan kukus. Selain perlakuan pada perajangan dan metode penyulingan, perlakuan lain yang diberikan adalah kepadatan. Penyulingan yang dilakukan pada kepadatan 75; 87,5 dan 100 gram/liter. Jumlah bunga yang disuling untuk sekali penyulingan pada metode rebus dan kukus 1,5; 1,75 dan 2 kg untuk masing-masing kepadatan.
Waktu penyulingan dihitung mulai dari kondensat pertama keluar sampai minyak tidak keluar lagi dari bahan. Lama penyulingan bunga kenanga selama 10 jam setelah dihitung waktu optimum pada penelitian pendahuluan. Api yang digunakan berasal dari mechel burner dengan ketinggian api ± 15 cm. Air pendingin yang masuk ke dalam kondensor bersuhu 23 ºC, sedangkan suhu air yang keluar 24 ºC. Suhu kondensat yang keluar adalah 31-34 ºC. Laju destilat pada penelitian ini adalah 0.52 L/jam/kg. Laju destilat diukur berdasarkan jumlah destilat yang keluar dari kondensor dengan menggunakan gelas ukur 1 liter selama 1 menit.
Selanjutnya dilakukan pemisahan antara air dan minyak dengan menggunakan oil separator dan air yang terdapat dalam minyak diikat dengan Na sulfat anhidrit. Na sulfat anhidrit akan mengendap di bagian bawah dengan mengikat air sehingga membentuk Na Sulfat hidrit. Kemudian minyak yang berada di bagian atas disaring dengan menggunakan kertas saring. Minyak dikemas dalam botol gelap dan siap untuk dianalisis. Tahapan penelitian yang dilakukan dijelaskan pada gambar 17 berikut.
Gambar 17. Diagram Alir Penelitian c. Penyulingan sistem uap
Pada penelitian ini juga dilakukan 1 kali penyulingan uap untuk membandingkan hasil yang diperoleh dengan metode penyulingan kukus dan rebus.
2. Analisis untuk Minyak
Minyak yang dihasilkan dikarakterisasi dengan menganalisis sifat fisiko kimianya, yaitu:
a. Rendemen (SNI 06-2385-1998)
b. Kelarutan dalam Etanol 95% (SNI 06-3949-1995) c. Bilangan ester (SNI 06-3949-1995)
d. Bilangan asam (SNI 06-3949-1995) e. Bobot jenis (SNI 06-3949-1995) f. Indeks bias (SNI 06-3949-1995) g. Putaran optik (SNI 06-3949-1995) h. Sisa penguapan (SNI 06-3949-1995)
i. Analisis komponen dengan GCMS (ASTM D-4629) E. Rancangan Percobaan
Rancangan Percobaan yang dipergunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan percobaan faktorial, terdiri dari tiga faktor dengan dua kali ulangan.
Model matematis rancangan percobaan tersebut adalah :
Yijkl = µ + Ai + Bj + Ck + ABij + BCik + ACjk + ABCijk + eijkl, Yijk : nilai penagamatan untuk perlakuan perajangan dan
metode penyulingan pada masing-masing taraf ke-i, ke- j dan ke- k serta ulangan ke-l..
µ : rataan
Ai : pengaruh faktor metode penyulingan pada taraf ke-i = 1,2
Bj : pengaruh faktor perajangan pada taraf ke-j = 1,2
Ck : pengaruh faktor kepadatan bahan pada taraf ke-k = 1,2,3
ABij : pengaruh interaksi antara faktor metode penyulingan
dengan perajangan pada taraf ke-i, dan ke-j, serta ulangan ke-l.
BCjk : pengaruh interaksi antara faktor perajangan dengan
kepadatan bahan pada taraf ke-i, dan ke-j, serta ulangan ke-l.
ACik : pengaruh interaksi antara faktor metode penyulingan
dengan kepadatan bahan pada taraf ke-i, dan ke-j, serta ulangan ke-l.
ABCijk : pengaruh interaksi antara faktor metode penyulingan,
perajangan dan kepadatan bahan pada taraf ke-i, ke-j dan ke-k, serta ulangan ke-l.
€ ijk(l) : galat (kesalahan percobaan)
Untuk membuktikan pengaruh dari berbagai macam perlakuan dilakukan uji sidik ragam. Jika P<0.05 atau F hitung > F tabel pada selang kepercayaan 95 %, berarti faktor tersebut berpengaruh terhadap rendemen dan sifat fisiko kimia yang dihasilkan. Jika faktor tersebut berpengaruh maka dilanjutkan dengan uji Duncan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENELITIAN PENDAHULUAN
Dari hasil penelitian pendahuluan diperoleh bunga kenanga dengan kadar air 82 %, kadar protein 17,30% dan kadar minyak 1,6 %. Masing-masing penyulingan dilakukan pada kepadatan yang sama yaitu 75 gr/liter. Dari hasil penyulingan didapatkan hasil bahwa lama penyulingan bunga kenanga adalah 10 jam (lama waktu penyulingan ditentukan sampai minyak tidak menetes lagi). B. PENELITIAN UTAMA
a. Rendemen Minyak Kenanga
Rendemen minyak kenanga dinyatakan dalam perbandingan antara volume minyak yang dihasilkan dengan berat bunga kenanga yang disuling. Rendemen minyak kenanga yang dihasilkan dari 3 macam perlakuan yaitu metode penyulingan, perajangan dan kepadatan berkisar antara 1,13-1,50%. Rendemen tertinggi diperoleh pada perlakuan metode penyulingan kukus, tanpa perajangan dan kepadatan 0.075 kg/l. Rendemen terendah diperoleh dari penyulingan dengan cara rebus, dengan perajangan dan kepadatan 0.1 kg/l. Histogram nilai rendemen yang dihasilkan dapat dilihat pada gambar 18.
Gambar 18. Histogram Pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap rendemen minyak kenanga yang dihasilkan.
Hasil sidik ragam (lampiran 1) menunjukkan bahwa faktor metode penyulingan, perajangan dan kepadatan berpengaruh nyata terhadap rendemen
yang dihasilkan (nilai P<0.05). Akan tetapi, interaksi antara metode penyulingan, perajangan dan kepadatan tidak berpengaruh terhadap rendemen minyak kenanga yang dihasilkan (nilai P>0.05).
Uji lanjut Duncan pada (lampiran 2) menunjukkan bahwa kepadatan bahan berpengaruh nyata. Semakin bertambahnya kepadatan bahan maka nilai rendemen minyak yang dihasilkan akan semakin menurun. Kepadatan 0.075 kg/l menghasilkan rendemen yang lebih tinggi dibandingkan dengan kepadatan 0.087 kg/l dan kepadatan 0.1 kg/l. Hal ini sesuai dengan Rusli (1974), berdasarkan hasil penelitian dengan penyulingan uap dan air (kukus), semakin rendah kepadatan bahan dalam tangki penyuling akan menaikkan rendemen yang diperoleh. Selain itu sesuai dengan penelitian Rusli dan Hasanah (1977), dari penyulingan dengan tinggi bahan yang berbeda didapatkan bahwa semakin padat bahan dalam ketel maka rendemen semakin turun.
Kepadatan bahan yang terlalu tinggi menyebabkan ruang antar bahan semakin berkurang sehingga penetrasi uap ke dalam bahan juga akan berkurang. Laju alir uap akan terhambat karena bahan yang terlalu padat. Hal ini mengakibatkan minyak yang terbawa keluar dari bahan oleh uap akan berkurang sehingga rendemen minyak yang dihasilkan juga akan berkurang. Menurut Sukirman dan Aiman (1979), kepadatan bahan dalam ketel suling berhubungan dengan penetrasi uap, kapasitas ketel dan efisiensi uap. Menurut Guenther (1972), penyulingan dengan kepadatan bahan terlalu tinggi mengakibatkan terganggunya aliran uap panas, karena dapat membentuk jalur uap ( rat holes ).
Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa rendemen yang dihasilkan pada metode kukus lebih tinggi dibandingkan metode rebus. Hal ini disebabkan karena ketel suling yang digunakan pada penelitian belum memenuhi syarat penyulingan rebus yaitu diameter ketel harus lebih besar daripada tinggi ketel. Sehingga bunga yang disuling tidak dapat bergerak bebas dalam air akibatnya penetrasi uap ke dalam bunga akan terhambat. Hal ini akan menyebabkan rendemen minyak yang dihasilkan rendah. Menurut Ketaren (1985), ketel yang digunakan pada cara rebus, ukuran diameternya lebih besar dari ukuran tinggi sehingga partikel bahan bebas bergerak dalam air mendidih, sehingga proses penyulingan lebih singkat dan rendemen serta mutu minyak yang dihasilkan lebih baik.
Adanya protein dengan kadar 17,30% dalam bunga kenanga juga menyebabkan rendemen penyulingan dengan metode rebus akan lebih rendah daripada metode penyulingan kukus. Protein dalam air mendidih akan lebih mudah menggumpal sehingga bunga kenanga yang terkena panas akan juga menggumpal. Penggumpalan protein dalam bunga menyebabkan penetrasi air panas ke dalam jaringan bunga akan terganggu sehingga proses hidrodifusi minyak terhambat akibatnya rendemen minyak yang dihasilkan akan berkurang. Hal ini menyebabkan komponen seperti kadinene dan kariofilen yang merupakan komponen terbesar dalam minyak kenanga tidak tersuling sempurna sehingga akan menurunkan nilai rendemen yang dihasilkan.
Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa rendemen yang dihasilkan pada bunga yang dirajang lebih rendah daripada bunga tanpa perajangan. Hal ini disebabkan oleh, Perajangan bunga kenanga sebelum penyulingan menyebabkan rendemen minyak yang dihasilkan lebih rendah daripada rendemen minyak yang dihasilkan tanpa perajangan bunga terlebih dahulu. Hal ini disebabkan adanya waktu delay sekitar 30 menit pada saat perajangan sebelum dimasukkan ke dalam ketel, sehingga akan menguapkan sebagian minyak yang ada dalam bunga kenanga dibandingkan tanpa perajangan. Menurut Ketaren (1985), selama proses dan sesudah perajangan, akan terjadi penguapan komponen minyak yang bertitik didih rendah, dan jika dibiarkan beberapa menit akan terjadi penyusutan bahan sekitar 0,5 % akibat penguapan minyak.
Dari nilai rendemen minyak yang dihasilkan dapat diketahui bahwa kombinasi terbaik yang menghasilkan rendemen minyak tertinggi adalah minyak kenanga yang disuling tanpa perajangan, kepadatan 0.075 kg bunga/l menggunakan metode kukus.
b. Karakteristik minyak kenanga
Analisis sifat fisiko kimia dilakukan pada minyak kenanga yang dihasilkan. Pengujian dilakukan sesuai prosedur pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Parameter yang diukur adalah warna, bau, bobot jenis, indeks bias, putaran optis, sisa penguapan, kelarutan dalam etanol 95%, bilangan asam, bilangan ester dan analisis jenis komponen dengan metode GCMS.