Konferensi Nasional Teknik Sipil 11 Universitas Tarumanagara, 26-27 Oktober 2017
PENGEMBANGAN PROFIL KINERJA PEMBINA JASA KONSTRUKSI DI
INDONESIA
Adrianto Oktavianus1 dan Anjar Pramularsih2
1
Kelompok Keahlian Manajemen dan Rekayasa Konstruksi, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha No. 10, Bandung
Email: [email protected]
2
Subdirektorat Teknologi Konstruksi dan Produksi Dalam Negeri, Direktorat Bina Kelembagaan dan Sumber Daya Jasa Konstruksi, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat, Jl. Patimura No. 20, Jakarta Selatan Email: [email protected]
ABSTRAK
Industri konstruksi yang sehat, kokoh, dan memiliki daya saing yang terbangun melalui tata kelola yang baik (good governance) memerlukan peran sentral Pemerintah sebagai Pembina Jasa Konstruksi. Keadaan pembina jasa konstruksi saat ini di tingkat nasional dan daerah menggambarkan keadaan yang sesungguhnya dari dunia jasa konstruksi di Indonesia, dimana tenaga kerja konstruksi sebagai salah satu bagian dari industri jasa konstruksi menjadi salah satu tanggung jawab pembinaannya. Dengan kata lain, peran pembina jasa konstruksi menjadi sentral dalam upaya mempersiapkan dan meningkatkan kuantitas dan kualitas tenaga kerja sektor konstruksi. Adanya permasalahan terkait sertifikasi dan kompetensi tenaga kerja di Indonesia mengindikasikan bahwa peran pembinaan yang dilakukan oleh Pemerintah belum secara optimal dilakukan. Terlebih lagi, situasi dunia jasa konstruksi menjadi makin kompleks dengan adanya UU Jasa Konstruksi dan UU Pemerintahan Daerah yang baru, dimana ada pembagian kewenangan pembinaan tenaga kerja konstruksi antara Pusat dan Daerah, yang mana tugas berat pelaksanaan pelatihan tenaga kerja konstruksi dilimpahkan ke Daerah. Profil kinerja pembina jasa konstruksi merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk melihat kondisi dan kinerja dari pembina jasa konstruksi. Selain itu, profil juga memperlihatkan hubungan antara pembina dengan badan usaha, tenaga kerja (ahli dan terampil), lembaga jasa konstruksi serta masyarakat profesional jasa konstruksi. Studi ini bertujuan untuk melihat kondisi dan upaya dari pembina jasa konstruksi melalui profil kinerja pembina jasa konstruksi serta mengembangkan konsep profil yang lebih mantap dan dapat diimplementasikan secara nasional. Studi ini juga menunjukkan model pembina jasa konstruksi yang mampu membina jasa konstruksi di wilayahnya. Studi ini dilakukan dengan metode studi literatur yang mencakup studi terkait kelembagaan, kriteria penyusunan profil berbasis kinerja, dan perundang-undangan. Keluaran studi ini adalah konsep dan profil kinerja pembina jasa konstruksi yang kokoh, yang selanjutnya dapat digunakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam melaksanakan tugas pembinaan jasa konstruksi.
Kata kunci: profil kinerja, pembina jasa konstruksi, jasa konstruksi, nasional, daerah.
1. PENDAHULUAN
Sejak tahun 2015, Pemerintahan Kabinet Kerja (2014-2019) fokus memprioritaskan pembangunan infrastruktur yang diikuti upaya menurunkan kesenjangan antar wilayah. Prioritas pembangunan tersebut ditunjukkan dengan adanya peningkatan secara signifikan persentase anggaran infrastruktur pada anggaran belanja negara dimana pada tahun 2017 mencapai 18,6% (Gambar 1). Alokasi anggaran sebesar 931,5 triliun rupiah yang tertuang dalam Rencana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) juga mengindikasikan keseriusan pemerintah dalam menjalankan prioritas pembangunan infrastruktur.
Gambar 1. Anggaran infrastruktur dalam APBNP Tahun 2012-2017
Di sisi lain, prioritas pembangunan infrastruktur sesungguhnya menimbulkan suatu konsekuensi terhadap jumlah dan mutu sumber daya manusia di sektor konstruksi. Kementerian PUPR menyatakan bahwa terdapat 6,9 juta pekerja di sektor konstruksi dimana 60% merupakan tenaga kasar, 30% tenaga terampil, dan hanya 10% tenaga ahli. Dari total tenaga kerja tersebut, kurang dari 10% yang telah disertifikasi (Rencana Strategis Kementerian PUPR, 2015). Data dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) menyatakan bahwa saat ini terdapat 166.057 tenaga ahli dan 348.558 tenaga terampil yang mempunyai sertifikasi, dimana sekitar 70% dari jumlah tenaga konstruksi tersebut berada di Pulau Jawa dan Sumatera.
Ketersediaan jumlah dan peningkatan mutu tenaga kerja konstruksi, baik tenaga ahli maupun tenaga terampil, menjadi bagian dari permasalahan yang harus diselesaikan oleh Pemerintah guna menyediakan dan menghasilkan infrastruktur yang berkualitas. Di sisi lain, adanya ketidakmerataan jumlah tenaga kerja di tiap Provinsi juga menjadi isu penting yang perlu mendapatkan pembenahan.
Undang-Undang No. 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi (UUJK) dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah (UU Pemda) mengamanatkan secara jelas peran penyelenggaraan jasa konstruksi untuk Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Salah satu bentuk penyelenggaraan Terkait dengan upaya peningkatan jumlah dan kompetensi tenaga kerja konstruksi, kewenangan menyelenggarakan pelatihan tenaga kerja diserahkan ke Pemerintah Daerah, pelatihan tenaga ahli di tingkat Provinsi dan tenaga terampil di tingkat Kabupaten/Kota. Pemerintah Pusat hanya menyelenggarakan pelatihan tenaga kerja yang sifatnya percontohan (pilot project). Selain tugas pelatihan di atas, diamanatkan juga bagi pemerintah untuk menyediakan data dan informasi jasa konstruksi dalam Sistem Informasi Jasa Konstruksi.
Pembagian kewenangan dan tugas penyelenggaraan jasa konstruksi yang kompleks antara Pemerintah Pusat dan Daerah menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana sesungguhnya kinerja dari Pemerintah dapat dipantau dalam menyelenggarakan tugas pembinaan di bidang jasa konstruksi. Profil kinerja pembina jasa konstruksi menggambarkan upaya yang dilakukan Pemerintah Pusat dan Daerah, selaku pembina jasa konstruksi, dalam menyelenggarakan tugas pembinaan. Jadi, Sistem Informasi Jasa Konstruksi diharapkan bukan hanya menyajikan data dan informasi mengenai kondisi riil jasa konstruksi di tiap daerah, namun juga kinerja pembina jasa konstruksi dalam menciptakan kondisi jasa konstruksi yang lebih baik.
Studi ini bertujuan untuk menyusun suatu profil yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi dan kinerja dari upaya dan penyelenggaraan pembinaan oleh pembina jasa konstruksi.
2. METODE PENELITIAN
Penyusunan tahapan kegiatan disesuaikan dengan langkah-langkah penting untuk mencapai tujuan. Kegiatan studi ini dibagi dalam lima tahap yakni: (1) Persiapan dan Studi Literatur, (2) Pengumpulan Data dan Informasi, (3) Analisis, (4) Penyusunan Konsep Profil Pembina jasa konstruksi daerah Provinsi, dan (5) Penyusunan Kesimpulan dan Rekomendasi.
Pada tahap persiapan dilakukan dua kegiatan, yaitu pemantapan metodologi, maksud dari kegiatan; serta studi literature. Pada tahap selanjutnya dilakukan pengumpulan data, baik data dari instansi terkait maupun data yang diperoleh dari hasil-hasil studi yang telah dilakukan terkait dengan profil pembina jasa konstruksi daerah. Beberapa data dan informasi yang terkait dengan studi ini antara lain terkait dengan (a) kajian pembina jasa konstruksi daerah yang telah dilakukan sebelumny, (b) pengumpulan data eksisting berupa data Profil Pembina jasa konstruksi daerah di Daerah Wilayah Timur dan Wilayah Barat (2009); dan (c) pengaturan organisasi perangkat daerah oleh Kementerian Dalam Negeri di tahun 2017 sesuai dengan UU 23 tahun 2014 dan UU 2 tahun 2017.
Pada tahap analisis, dilakukan analisis berupa analisis konsep penilaian kinerja pembinaan jasa konstruksi daerah, analisis penyusunan profil pembina jasa konstruksi daerah, dan analisis penyusunan bobot kriteria profil pembina jasa konstruksi daerah. Melalui analisis di atas dan hasil diskusi yang dilakukan dengan stakeholders maka dapat dirumuskan model penyusunan profil pembina jasa konstruksi daerah. Dari hasil analisa kondisi dan tantangan profil pembina jasa konstruksi, verifikasi hasil model profil pembina jasa konstruksi dan input seluruh stakeholder; maka dapat dikembangkan profil pembina jasa konstruksi untuk tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota serta arah dan rekomendasi terkait profil pembina jasa konstruksi daerah.
3. DATA DAN ANALISIS
KONSEP PROFIL PEMBINA JASA KONSTRUKSI PUSAT DAN DAERAH Pembinaan jasa konstruksi
Undang-Undang No. 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi (UUJK) yang menggantikan Undang-Undang No. 18 Tahun 1999 memberikan pemahaman yang lebih baru mengenai pembinaan jasa konstruksi. Perbedaan utama dalam hal pembinaan adalah sifat pembinaan yang berubah dari sentralisasi menjadi desentralisasi. Hal ini mengikuti pola pengaturan Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah yang membagi kewenangan pembinaan antara Pusat dan Daerah (UU Pemda). Pada dasarnya, UUJK melengkapi amanat penyelenggaraan pembinaan jasa konstruksi di UU Pemda. Peran sentral pembinaan yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat yang diatur oleh UU 18/1999 berubah menjadi pembinaan yang dilakukan dan diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) sementara Pemerintah Pusat mempunyai peran yang lebih di bagian pengaturan dan koordinasi pembinaan.
Selain dari tugas utama peningkatan kemampuan dan kapasitas usaha jasa konstruksi nasional, Pemerintah Pusat mempunyai tanggung jawab yang terkait dengan tenaga kerja, yaitu Pemerintah Pusat bertanggung jawab atas meningkatnya kompetensi, profesionalitas, dan produktivitas tenaga kerja konstruksi nasional. Untuk melaksanakan tanggung jawab yang diemban tersebut, Undang-Undang mengamanatkan kewenangan yang berbeda untuk Pemerintah Pusat dan Daerah. Kewenangan untuk Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota disajikan pada gambar berikut.
Gambar 2. Kewenangan Pemerintah dalam hal tenaga kerja konstruksi (UU No. 2 Tahun 2017)
Kewenangan tersebut dilakukan dengan memberikan tugas pembinaan kepada Pemerintah. UUJK mengamanatkan lingkup pembinaan jasa konstruksi pada empat hal, yaitu: (1) penetapan kebijakan; (2) penyelenggaraan kebijakan; (3) pengawasan, pemantauan, dan evaluasi; serta (4) pengembangan jasa konstruksi dan pengembangan kerjasama. Secara lebih spesifik, Pemerintah Pusat dan Daerah mempunyai tanggung jawab pembinaan yang berbeda sesuai dengan yang disajikan pada gambar di bawah ini. Lebih lanjut, pembinaan jasa konstruksi dilakukan oleh pembina jasa konstruksi yaitu Menteri PUPR selaku pembina jasa konstruksi di tingkat Pusat; serta Gubernur/Bupati/Walikota untuk pembinaan yang di tingkat Daerah. Selain itu, dalam melaksanakan pembinaan, Pemerintah Pusat dapat mengikutsertakan masyarakat Jasa Konstruksi. Di daerah, perangkat daerah yang menyelenggarakan pembinaan jasa konstruksi adalah Dinas/Instansi Teknis yang membidangi jasa konstruksi.
Gambar 3. Penyelenggaraan pembinaan jasa konstruksi oleh Pemerintah Pusat dan Daerah (UU No. 2 Tahun 2017)
Pembagian Urusan Pemerintahan
Pembagian tanggung jawab dan kewenangan di bidang jasa konstruksi pada UUJK dilakukan sejalan dengan asas desentralisasi yang diusung oleh UU Pemda. Perimbangan kekuasaan antara Pemerintah Pusat dan Daerah berdasarkan asas desentralisasi seperti yang diamanatkan melalui UU Pemda dilakukan dengan melakukan pembagian urusan pemerintahan kepada Pemerintahan Pusat, Daerah Provinsi, dan Daerah Kabupaten/Kota.
Urusan pekerjaan umum dan penataan ruang merupakan satu dari enam urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar. Itu berarti urusan pekerjaan umum dan penataan ruang merupakan urusan pemerintahan yang sebagian substansinya merupakan pelayanan dasar kepada masyarakat sehingga penyelenggara pemerintahan pusat dan daerah harus memprioritaskan pelaksanaan urusan tersebut. Pada pelaksanaannya, pelaksanaan urusan tersebut oleh Pemerintah Daerah tetap harus berpedoman pada standar pelayanan minimal yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.
Pembagian urusan pemerintahan bidang pekerjaan umum dan penataan ruang terbagi menjadi 11 sub-urusan pemerintahan dimana jasa konstruksi menjadi salah satu dari sub-urusan tersebut. Implikasi dari pengaturan ini adalah bahwa wadah institusi pembina jasa konstruksi adalah Dinas Teknis yang membidangi urusan pekerjaan umum dan penataan ruang. Kewenangan Pemerintah Daerah Urusan Konkuren dalam UU Pemda terkait Jasa Konstruksi dijabarkan pada Tabel 1. Kewenangan yang pada tabel tersebut sejalan dengan kewenangan pemerintah yang terdapat pada UUJK (Gambar 2).
Tabel 1. Kewenangan Pemerintah Daerah Urusan Konkuren terkait Jasa Konstruksi
Pusat Provinsi Kabu[paten/Kota
1. Penyelenggaraan Pelatihan tenaga kerja konstruksi percontohan
2. Pengembangan sistem informasi jasa konstruksi cakupan nasional 3. penerbitan izin usaha jasa
konstruksi asing 4. pengembangan standar
kompetensi kerja dan pelatihan jasa konstruksi
1. Penyelenggaraan pelatihan tenaga ahli konstruksi 2. Penyelenggaraan sistem
informasi jasa konstruksi cakupan daerah provinsi
1. Penyelenggaraan pelatihan tenaga terampil konstruksi 2. Penyelenggaraan sistem
informasi jasa konstruksi cakupan Daerah kabupaten/kota 3. Penerbitan izin usaha jasa
konstruksi nasional (non kecil dan kecil)
4. Pengawasan tertib usaha, terbit penyelenggaraan dan tertib pemanfaatan jasa konstruksi
Sebagai peraturan pelaksana dari UU Pemda, Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 2016 (PP 18/2016) tentang Perangkat Daerah mengatur mengenai pembentukan perangkat daerah yang disesuaikan dengan kewenangan yang dipunyai oleh Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota. Lebih lanjut, PP 18/2016 ini tidak hanya mengatur
mengenai pembentukan, jenis, dan kriteria tipelogi perangkat daerah; namun juga mengenai pemetaan urusan dan beban pemerintah daerah.
PP 18/2016 mengatur beban kerja dari suatu pemerintah daerah melalui indikator pemetaan intensitas urusan pemerintahan dan penentuan beban kerja perangkat daerah. Beban kerja tersebut menentukan tipelogi perangkat daerah untuk Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota. Semakin besar beban kerjanya maka tipe perangkat daerah yang dibutuhkan akan semakin besar pula. Penilaian beban kerja perangkat darerah terdiri dari penilai atas variabel umum (jumlah penduduk, luas wilayah, dan besar Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah(APBD)) dan variabel teknis untuk masing-masing urusan.
Sistem Informasi Jasa Konstruksi
Sistem Informasi Jasa Konstruksi (SIJK) adalah suatu sistem informasi yang terintegrasi untuk menyediakan data dan informasi yang akurat dan terintegrasi dalam penyelenggaraan Jasa Konstruksi. Data dan informasi yang terdapat pada SIJK adalah yang terkait dengan:
1. tanggung jawab dan kewenangan di bidang Jasa Konstruksi yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
2. tugas pembinaan di bidang Jasa Konstruksi yang dilakukan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah; dan 3. tugas layanan di bidang Jasa Konstruksi yang dilakukan oleh masyarakat jasa konstruksi.
SIJK ini secara sistem dikelola oleh Pemerintah Pusat, sedangkan terkait penyediaan data dan informasi melibatkan Pemerintah Daerah, Pengguna Jasa, dan Penyedia Jasa serta institusi yang terkait dengan Jasa Konstruksi.
Secara penyelenggaraan, Pemerintah Pusat bertanggung jawab atas tersedianya SIJK dan memiliki kewenangan untuk mengembangkan SIJK nasional. Sementara, Pemerintah Daerah Provinsi memiliki kewenangan dalam penyelenggaraan penyediaan data dan informasi SIJK cakupan daerah provinsi. Sedangkan, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota memiliki kewenangan dalam penyelenggaraan penyediaan SIJK cakupan daerah kabupaten/kota. Jadi, SIJK merupakan suatu sarana untuk menyajikan upaya penyelenggaraan pembinaan dan layanan informasi di bidang jasa konstruksi oleh Pemerintah Pusat dan Daerah sesuai dengan kewenangan yang diembannya. Oleh karena itu, SIJK sesungguhnya bukan hanya menyajikan kondisi mengenai jasa konstruksi di daerah yang dikoordinasikan secara nasional, namun juga memberikan informasi jasa konstruksi serta upaya pembinaan dan layanan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah di bidang jasa konstruksi dalam rangka penyelenggaraan secara nasional oleh Pemereintah Pusat.
3.1. PENYUSUNAN PROFIL KINERJA PEMBINA JASA KONSTRUKSI Konsep Profil
Kondisi geografis dan kependudukan antar daerah di Indonesia yang berbeda-beda memberikan pemahaman bahwa terdapat adanya beban kerja di bidang konstruksi yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Terlebih, terdapat perbedaan antar struktur pemerintahan daerah yang disesuaikan dengan prioritas wilayah dan potensi daerah dalam pembangunan juga berdampak pada struktur organisasi perangkat daerah di bidang jasa konstruksi yang juga berbeda antar daerah. Sehingga dalam melihat profil pembina jasa konstruksi perlu adanya pengelompokan yang berbeda dari seluruh daerah-daerah. Penyusunan tipelogi daerah tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan tiga aspek, yaitu (1) kondisi umum (pemerintahan, geografis, kependudukan dan pendapatan); (2) beban kerja jasa konstruksi (jumlah badan usaha konsultan, jumlah badan usaha kontraktor, jumlah tenaga ahli, jumlah tenaga terampil); serta (3) beban kerja infrastruktur konstruksi (infrastruktur sumber daya air, infrastruktur bina marga, infrastruktur cipta karya, infrastruktur perumahan dan penataan ruang, jasa konstruksi). Tipelogi ini, berbeda dengan tipelogi PP 18/2016, harus mempertimbangkan urusan jasa konstruksi untuk menentukan beban kerja suatu daerah. Beban kerja sub-urusan jasa konstruksi tidak cukup jika hanya mempertimbangkan jumlah penerbitan IUJK di suatu daerah.
Setelah menentukan beban kerja, maka masuk ke dalam penyusunan profil kinerja yang akan memperlihatkan bagaimana suatu organisasi perangkat daerah bekerja sesuai dengan beban yang diampunya. Penyusunan profil kinerja pembina jasa konstruksi perlu menggunakan metode penilaian yang dapat menggambarkan bagaimana suatu institusi bekerja. Metode Balanced Score Card (BSC) merupakan salah satu metode yang umum digunakan dalam mengukur profil dan kinerja dari suatu institusi karena mempertimbangkan bukan saja aspek finansial, namun juga aspek operasional. Balanced Score Card dapat digunakan untuk menyusun suatu profil institusi berdasarkan empat perspektif, yaitu:
1. Perspektif learning and growth.
Yaitu perspektif yang menggambarkan kemampuan suatu perusahaan untuk melakukan perbaikan dan perubahan dengan memanfaatkan sumber daya internal perusahaan, dimana kesinambungan suatu perusahaan dalam jangka panjang sangat bergantung pada perspektif ini.
2. Perspektif financial.
Balanced score card pertama kali dikembangkan dari studi pengukuran kinerja di sektor bisnis, sehingga yang dimaksud perspektif finansial disini ialah terkait dengan financial sustainability, yaitu berupa pandangan stakeholder yang digunakan untuk menilai kinerja organisasi atau perusahaan.
3. Perspektif internal business process.
Merupakan serangkaian aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh suatu organisasi atau suatu perusahaan untuk menciptakan produk dan jasa dalam rangka memenuhi dan melebihi harapan pelanggan. Perspektif ini menjelaskan tentang proses bisnis yang dikelola oleh perusahaan untuk memberikan layanan dan nilai-nilai kepada stakeholder dan customers.
4. Perspektif customer’s satisfaction.
Perspektif customer’s satisfaction ialah perspektif yang berorientasi kepada pelanggan, karena pada dasarnya merekalah pemakai produk dan jasa organisasi. Dengan kata lain, suatu organisasi harus memperhatikan dan memenuhi apa yang diinginkan oleh pelanggan mereka.
Keempat perspektif di atas dapat diejawantahkan ke dalam persepektif input, proses, output, dan outcome yang mencerminkan seluruh perspektif tersebut. Perspektif input mencakup learning & growth dan financial. Sementara, perspektif proses memberikan gambaran dari internal business process. Sedangkan, customer’s satisfaction diterjemahkan ke dalam perspektif output dan outcome. Keempat perspektif tersebut disusun ke dalam profil yang menggambarkan kondisi dari pembina jasa konstruksi di daerah melalui penjabaran kriteria yang terkait pembinaan jasa konstruksi di daerah seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.
Keempat perspekif yang ada pada Balanced Score Card ditunjukkan melalui aspek input dan process yang terkandung dalam bagian landasan hukum, organisasi, finansial, dan program karena merupakan unsur yang melekat dengan badan. Itu berarti bahwa suatu tim/unit yang terbentuk pasti terdapat unsur-unsur inheren yang melekat kepadanya, tanpa adanya unsur dasar tersebut maka tim/unit tersebut tidak dapat bekerja. Dalam studi ini, unsur-unsur dasar tersebut dikategorikan sebagai Profil Dasar. Kemudian, target/capaian dari suatu organisasi dalam bentuk output yang dihasilkan dan outcome yang dicapai. Perspektif stakeholder's satisfaction yang terkandung dalam bagian output dan outcome sangat terkait dengan hasil dan capaian yang diharapkan oleh seluruh pemangku kepentingan terhadap perangkat daerah. Pengkategorian 3 profil tersebut (Profil Dasar, Profil Pengembangan, dan Profil Capaian) menggambarkan kondisi kinerja suatu organisasi sehingga dapat meningkatkan kinerjanya sesuai dengan yang diharapkan.
Kemudian, penjabaran kriteria yang terdapat pada masing-masing profil di atas dikelompokkan menjadi enam bagian yang menggambarkan pembagian sesuai dengan struktur organisasi dan tata kelola pemerintahan di Indonesia. Enam bagian tersebut berisi kriteria profil yang disusun berdasarkan perspektif dan unsur-unsur pembentuk seperti yang dijelaskan pada Gambar 4. Enam bagian profil pembina jasa konstruksi itu antara lain landasan hokum; struktur dan sumber daya organisasi; program dan anggaran; lembaga dan masyarakat professional di daerah; pembinaan jasa konstruksi kabupaten/kota (khusus profil tingkat provinsi); serta data lainnya.
Sebagai resume dari seluruh penjelasan terkait dengan tipelogi beban kerja, kriteria profil, dan pembagian pemetaan profil di atas; maka penyusunan profil pembina jasa konstruksi ini dapat digambarkan mekanismenya dalam bentuk bagan alir yang terdapat pada Gambar 5 di bawah ini.
Gambar 5. Penyusunan Profil Pembina Jasa Konstruksi Daerah
Kriteria Profil
Profil pembina jasa konstruksi terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu tipelogi beban kerja dan kriteria profil. Variabel dan indikator untuk profil kinerja pembina jasa konstruksi dijelaskan pada Tabel 2 dan Tabel 3.
Tabel 2. Beban kerja pada profil kinerja pembina jasa konstruksi
No. Bagian/Variabel Indikator
A. Tipelogi Beban Kerja
I. Umum
1 Pemerintahan a Nama Resmi
b Ibukota
c Jumlah Kabupaten/Kota (untuk Provinsi)
2 Geografis a Luas Wilayah
b Deskripsi Singkat Potensi Daerah c Potensi Nilai Investasi Konstruksi 3 Kependudukan dan Pendapatan a Jumlah Penduduk
b Tenaga Kerja c PAD d APBD e PDRB
f PDRB Sektor Konstruksi
II. Beban Kerja Jasa Konstruksi
4 Jumlah Badan Usaha Konsultan 5 Jumlah Badan Usaha Kontraktor 6 Jumlah Tenaga Ahli
7 Jumlah Tenaga Terampil
III. Beban Kerja Infrastruktur Konstruksi
8 Infrastruktur Sumber Daya Air a. Drainase b. Pantai c. Irigasi d. Sungai
9 Infrastruktur Bina Marga a. Jalan b. Jembatan 10 Infrastruktur Cipta Karya a. Air baku
b. Jumlah fasilitas pengelolaan air limbah c. Luas Sistem Pengelolaan Air Limbah 11 Infrastruktur Perumahan a. Jumlah permukiman
b. Luas permukiman c. Bangunan Strategis d. Kawasan strategis e. Penggunaan lahan
Tabel 3. Kriteria pada profil kinerja pembina jasa konstruksi
No. Bagian/Variabel Indikator
B. Kriteria Profil I. Landasan Hukum
1 Landasan peraturan terkait pembinaan jasa konstruksi
a Susunan organisasi dan tata kerja b Jasa konstruksi
c TPJK (Tim Pembina Jasa Konstruksi)
d Peraturan terkait jasa konstruksi (SMK3, SMM, SIJK, dll). 2 Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Program
II. Struktur dan Sumber Daya Organisasi
3 TPJK Provinsi a Susunan TPJK (Bagan) b Tupoksi dan SOP TPJK
c Sumber Daya Manusia Pendukung d Sarana dan Prasarana Pendukung
4 Unit Pembina Jasa Konstruksi a Susunan Dinas Terkait Jasa Konstruksi (Bagan) b Tupoksi Unit Jasa Konstruksi
c Sumber Daya Manusia Pendukung d Sarana dan Prasarana Pendukung e Administrator SIJK
i. SK Administrator SIJK
ii. Keberadaan Administrator SIJK di Unit Pembina Jasa Konstruksi iii. PIC Administrator SIJK
III. Program dan Anggaran
5 TPJK/Kepala Daerah a Koordinasi Bidang Jasa Konstruksi
b Arahan Pelaksanaan Kebijakan Pembinaan Jasa Konstruksi
c Arahan Penyebarluasan Peraturan Perundang-Undangan Jasa Konstruksi d Arahan Pelaksanaan Pelatihan, Bimbingan Teknis, dan Penyuluhan
e Arahan Pelaksanaan Pengawasan untuk Tertib Penyelenggaraan Pekerjaan Jasa Konstruksi
f Penetapan upah tenaga kerja konstruksi 6 Unit Pembina Jasa Konstruksi
a
Program Pengaturan Jasa Konstruksi
i. Penyebarluasan peraturan perundang-undangan jasa konstruksi. ii. Sosialisasi Kebijakan Pusat.
iii. Penyusunan Pedoman Teknis dan Kebijakan Pelaksanaan Jasa Konstruksi
b
Program Pemberdayaan Jasa Konstruksi
i. Pemberdayaan Pengguna Jasa (SKPD/PPK dan ULP)
ii. Pemberdayaan dan Penyelenggaraan Pembinaan Kepada Penyedia Jasa iii. Pemberdayaan Masyarakat
iv. Pemberdayaan LPJK (untuk Provinsi)
v. Pemberdayaan Pemda Kabupaten/Kota (untuk Provinsi) c
Program Pengawasan Jasa Konstruksi i. Pengawasan LPJK (untuk Provinsi)
ii. Evaluasi Kinerja Pemda Kabupaten/Kota (untuk Provinsi) 7 SPM Jasa Konstruksi
a
Peningkatan Ketersediaan Informasi Jasa Konstruksi (SIJK) i. Potensi Pasar Jasa Konstruksi
ii. Paket Pekerjaan Jasa Konstruksi iii. Profil TPJK
b Capaian SPM
8 Besar Anggaran a TPJK
b
APBD Terkait Infrastruktur i. Konsultansi
ii. Konstruksi c
Unit Pembina Jasa Konstruksi i. Sumber APBD
- Swakelola - Kontraktual
ii. Sumber APBN (Binjakonda, dll) iii. Sumber lainnya (Dana Asing, dll) 9 Serapan Penggunaan Anggaran a Serapan Anggaran Terkait Infrastruktur
b Serapan Anggaran Unit Pembina Jasa Konstruksi
IV. Lembaga dan Masyarakat Profesional Jasa Konstruksi
10 LPJK Provinsi (untuk Provinsi) a Organisasi
b Sumber Daya Manusia dan Pendukung c Anggaran
d Program dan Rapat Kerja
e
Pencapaian Tugas LPJKP (untuk Provinsi i. Diklat
ii. Litbang
iii. Registrasi dan Sertifikasi Tenaga Kerja iv. Registrasi Badan Usaha
v. Mediasi, Arbitrase, dan Penilai Ahli 11 Daftar Asosiasi Badan Usaha a Daftar Badan Usaha
b Daftar Badan Usaha yang masuk kelompok unsur LPJKP (untuk Provinsi) 12 Daftar Asosiasi Profesi a Daftar Asosiasi Profesi
b Daftar Asosiasi Profesi yang masuk kelompok unsur LPJKP (untuk Provinsi)
13 Kerjasama dengan Perguruan Tinggi dan LSM
a Daftar Kerjasama dengan Perguruan Tinggi dan LSM
b Daftar Perguruan Tinggi yang masuk kelompok unsur LPJKP (untuk Provinsi)
V. Pembinaan dan Pemberdayaan Jasa Konstruksi Pemda Kab/Kota (untuk Provinsi)
14 Profil Singkat Pembinaan Jasa Konstruksi Kabupaten/Kota
a Landasan Hukum dan Peraturan i. Peraturan IUJK di Kabupaten/Kota
ii. Peraturan Terkait Jasa Konstruksi di Kabupaten/Kota b Jumlah TPJK Kabupaten/Kota
c Unit Pembina Jasa Konstruksi Kab/Kota
i. Jumlah Unit Pembina Jasa Konstruksi Kab/Kota
ii. Posisi Kepala Unit Pembina Jasa Konstruksi Kab/Kota (Eselonisasi) d Administrator SIJK di Kabupaten/Kota
i. Kabupaten/Kota mempunyai SK Administrator SIJK
ii. Keberadaan Administrator SIJK di Unit Pembina Jasa Konstruksi Kabupaten/Kota
iii. PIC Administrator SIJK Kabupaten/Kota e SPM Jasa Konstruksi Kab/Kota
f Laporan Tahunan TPJK Kabupaten/Kota
VI. Data Lainnya
15 Penghargaan Bidang Jasa Konstruksi yang Diterima Pemerintah Daerah 16 PIC Unit Pembina Jasa Konstruksi
ARAH PENGEMBANGAN PROFIL PEMBINA JASA KONSTRUKSI DI INDONESIA
Profil pembina jasa konstruksi menunjukkan kondisi dan upaya pembinaan yang dilakukan oleh pembina jasa konstruksi di daerah. Profil ini menjadi bagian terintegrasi dengan SIJK yang menjadi sarana untuk mengkoordinasikan penyelenggaraan pembinaan yang dilakukan oleh Daerah, dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi, secara nasional. Penyelenggaraannya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah menjadi kunci utama dalam mewujudkannya, koordinasi secara nasional oleh Pemerintah Pusat serta dukungan dana juga mutlak diperlukan. Oleh karena itu, penyelenggaraannya memerlukan adanya sistem yang mutlak berbasis online. Bukan hanya diisi secara manual oleh administrator, namun perlu suatu sistem yang terhubung dengan data yang dimiliki oleh BPS dan Pemerintah Daerah. Sistem yang terintegrasi dengan pihak lain akan mempermudah dalam melakukan konfirmasi jika ada kesalahan. Selain itu, pengisiannya juga tidak memerlukan adanya inputisasi manual yang terus menerus oleh administrator, cukup dengan menghubungkannya dengan data yang sudah ada di unit lainnya. Secara substansial, profil ini harus dipahami sebagai data dan informasi yang dimiliki oleh Daerah namun dapat diakses secara luas secara nasional.
Selain itu, penyelenggaraan ini mutlak memerlukan koordinasi oleh Pemerintah Pusat. Dukungan teknis dalam bentuk pelatihan dan sistem berbasis online yang terjamin fungsi dan kapasitasnya. Di sisi lain, penyelenggaraannya juga memerlukan dukungan dana dari Pemerintah Pusat ke Daerah. Jaminan pelaksanaan juga harus didapat dari Pemerintah Daerah dengan melakukan koordinasi secara terus menerus, bahwa profil ini sangat berguna bagi Pemerintah Daerah dalam mengembangkan usaha jasa konstruksi serta upaya menarik investasi yang diperlukan oleh daerahnya juga perlu dilakukan oleh Pemerintah Pusat.
4. KESIMPULAN
Profil pembina jasa konstruksi memberikan gambaran mengenai kondisi jasa konstruksi di daerah serta upaya pembinaan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Hal ini sesuai dengan amanat yang diberikan oleh UUJK untuk dapat melaksanakan tanggung jawab dan kewenangan serta tugas pembinaan dan layanan oleh Pemerintah Daerah. Dalam hal tenaga kerja konstruksi, upaya pembinaan ini menjadi pendorong utama peningkatan kompetensi tenaga kerja konstruksi yang berbasis di daerah. Profil memberikan gambaran jumlah tenaga kerja yang berada di sektor jasa konstruksi, baik tenaga ahli maupun tenaga terampil. Dengan mengetahui secara tepat jumlah tenaga kerja, maka upaya pembinaan diharapkan dapat lebih tepat sasaran.
Terlebih lagi, beban kerja dari jasa konstruksi dan infrastruktur juga dapat menjadi pertimbangan dalam melaksanakan pelatihan supaya dapat sesuai dengan kebutuhan dari usaha jasa konstruksi yang sedang berlangsung. Penyelenggaraan pembinaan dengan pemberdayaan dan kerja sama baik antar Pemerintah Pusat dan Daerah serta dengan lembaga dan masyarakat professional juga menjadi bagian yang sangat penting.
Maka, dengan pengembangan profil pembina jasa konstruksi diharapkan dapat mendukung upaya pembinaan untuk mewujudkan penyelenggaraan jasa konstruksi di daerah melalui peningkatan jumlah dan mutu tenaga kerja konstruksi. Tercapainya tenaga kerja yang unggul dan berdaya saing di sektor konstruksi maka akan mendukung adanya industri jasa konstruksi yang mentap sehingga tercipta infrastruktur yang berkualitas.
DAFTAR PUSTAKA
Direktur Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan Republik Indonesia (2017), “Informasi APBN 2017”. Indonesia
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (2017), “Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 13.1/PRT/M/2015, tentang Rencana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Tahun 2015-2019”. Indonesia
Pemerintah Republik Indonesia. (2014), “Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014, tentang Pemerintahan Daerah”. Indonesia.
Pemerintah Republik Indonesia. (2017), “Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2017, tentang Jasa Konstruksi”. Indonesia.
Pemerintah Republik Indonesia (2016), “Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2016, tentang Perangkat Daerah”. Indonesia.