MEDIA KOMUNIKASI. Media merupakan kata yang berasal dari bahasa latin medium yang berarti tengah, diantara atau penghubung.

Teks penuh

(1)

MEDIA KOMUNIKASI

Pengertian

Media merupakan kata yang berasal dari bahasa latin “medium” yang berarti tengah, diantara atau penghubung.

Denis McQuail (2000) menyatakan, media merupakan sebuah tempat dimana kultur dapat berubah, nilai-nilai masyarakat disusun, disimpan dan diekspresikan dengan jelas.

Media seperti jendela yang dapat menjelaskan, menginterpretasikan realitas sebagai suatu ilmu, pengalaman, informasi, komunikasi, instruksi dan petunjuk arah.

Ada juga yang menyatakan bahwa media adalah orang, bahan, peralatan yang menciptakan kondisi dimana seseorang dapat memperoleh pengetahuan,

keterampilan dan perubahan sikap.

Media komunikasi adalah suatu alat yang digunakan untuk mempermudah dalam menyampaikan informasi dari seseorang kepada orang lain dengan maksud tertentu.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa media komunikasi merupakan segala sesuatu yang menjadi penghubung antara sumber informasi dengan penerima informasi yang secara mekanis bekerja baik secara tunggal ataupun reproduktif (duplikasi) yang diharapkan memberikan pengaruh terhadap terjadinya

perubahan sikap, pengetahuan, ataupun perilaku bagi penerimanya.

Batasan Media

1. Assosiasi Teknologi dan Komunikasi (Association of Education and Communication Technology/ AECT) di Amerika memberi batasan yaitu media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/ informasi.

2. National Education Assosiation (NEA) membatasi media sebagai bentuk-bentuk komunikasi, baik cetak, audio, maupun audio visual yang dapat dibaca, didengar dan dilihat.

(2)

3. Menurut Santoso S. Hamidjojo dalam Amir Achsin (1980), media dibatasi pada semua bentuk perantara yang dipakai orang menyebar ide, sehingga ide atau gagasan itu sampai pada penerima.

Fungsi

Fungsi media komunikasi menurut Burgon & Huffner (2002) antara lain: 1. Efisiensi penyebaran informasi; dengan adanya media komunikasi

membuat penyebaran informasi menjadi lebih efisien. Efisiensi yang dimaksudkan adalah penghematan dalam biaya, tenaga, pemikiran dan waktu. Media Koran, televisi, radio ataupun internet mampu menjangkau khalayak dalam jumlah besar dengan wilayah geografis yang luas dengan biaya yang relative efisien dengan tingkat efektivitas yang baik.

2. Memperkuat eksistensi informasi; dengan adanya media

komunikasi kita dapat membuat informasi atau pesan lebih kuat dan berkesan terhadap audience. Keunggulan yang dimiliki media adalah kemampuan duplikasi, fitur suara, visual statis atau dinamis (gerak) akan memperkuat pemahaman dan kepercayaan.

3. Menghibur; media komunikasi tentunya memberikan efek yang menyenangkan dan dapat memberikan hiburan tersendiri bagi audience. Penggunaan media komunikasi berteknologi tinggi akan menimbulkan efek hiburan lebih besar lagi bagi penggunanya.

4. Kontrol sosial; media komunikasi yang berteknologi tinggi akan lebih mempunyai fungsi pengawasan terhadap kebijakan sosial.

Jenis Media

Menurut sifatnya media dapat di bagi:

1. Media komunikasi audio, yaitu media yang hanya dapat didengar saja, seperti radio, telepon, dll.

2. Media komunikasi visual, yaitu media yang hanya dapat dilihat saja, seperti koran, majalah, dll.

(3)

3. Media komunikasi audio visual, yaitu media yang dapat dilihat serta didengarkan dalam penyampaian informasinya, seperti televisi, handphone 3G.

Menurut Sasarannya terdiri dari

1. Media komunikasi nirmassa, yaitu media yang dalam penyampaian

informasinya hanya ditujukan kepada sasaran tunggal atau terbatas, contoh telepon,

2. Media komunikasi massa, yaitu media yang dalam penyampaian informasinya ditujukan kepada banyak orang/massa, seperti majalah.

Tujuan Media Komunikasi:

1. Membantu promosi dalam meningkatkan pemasaran produk, 2. Meningkatkan kepercayaan pada publik/masyarakat,

3. Meningkatkan citra baik perusahaan.

Kelebihan dan kelemahan media komunikasi Media Komunikasi Audio

Kelebihan :

1. Murah dan Mudah Pengadaannya 2. Mempunyai jangkauan luas 3. Bentuk sederhana

4. Mudah digunakan

5. Dapat menyampaikan pesan secara langsung 6. Dapat mengembangkan daya imajinasi

7. Alat perekam kaset mudah digunakan Kelemahan :

(4)

2. Biaya pemasangan relative mahal 3. Tidak menggambarkan suatu unsure 4. Penyajian terikat pada jadwal

5. Kecepatan penyampaian informasi sudah tidak dapat dirubah

Media Komunikasi Visual Kelebihan:

1. Biaya Murah

2. Dapat memperjelas suatu masalah

3. Dapat menimbulkan inspirasi dan imajinasi 4. Dapat menimbulkan suatu ide

5. Alat dan pemeliharaannya sederhana Kelemahan:

1. Menimbulkan rasa bosan

2. Hanya untuk indra penglihatan 3. Tidak bergerak

4. Memiliki rasa keterbatasan audien 5. Keterikatan pada suatu ukuran

Media Komunikasi Audio Visual Kelebihan:

1. Informasi dapat diterima sesuai dengan kenyataan 2. Dapat dimengerti hasil yang sebenarnya

3. Tidak membosankan

4. Dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda 5. Pesan yang disampaikan bisa secara langsung Kelemahan:

(5)

2. Kadang-kadang kejelasan suara kurang dipahami 3. Kadang-kadang terjadi gangguan

(6)

Strategi Media

Media sebagai alat penyebaran informasi dalam berbagai bentuknya tentu saja memuat berbagai kepentingan. Termasuk juga di dalamnya kepentingan bisnis yang menyangkut aktivitas branding dan marketing a.k.a. periklanan. Strategi media merupakan bentuk dan cara memilih media yang tepat dan sesuai dengan kepentingan komunikasi yang akan dilakukan. Sehingga tujuan akhir dari proses komunikasi dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Strategi media sebenarnya dikembangkan dari strategi periklanan yang lebih umum. Terdapat empat kegiatan strategi media:

1. Memilih audiens sasaran. 2. Menspesifikasi tujuan media.

3. Memilih kategori media dan sarana. 4. Membeli media.

Memilih audiens sasaran

Faktor utama dalam mensegmentasi audiens sasaran: 1. Geografis

2. Demografis

3. Pemakaian produk 4. Gaya hidup/psikografis

Audiens sasaran didefinisikan dalam batas spesifik yang mempunyai implikasi jelas untuk pesan dan strategi media.

Menentukan Tujuan Media

Dasar perencanaan media:

1. Jangkauan

• Persentase audiens sasaran yang diekspos sekurang-kurangnya satu kali dengan pesan pemasang iklan selama jangka waktu tertentu. • Beberapa faktor yang menentukan jangkauan kampanye pemasangan

iklan:

a. Banyaknya media yang digunakan.

b. Jumlah dan keragaman sarana media yang digunakan. c. Pembedaan bagian-bagian hari saat iklan ditayangkan.

(7)

2. Frekuensi

Jumlah waktu rata-rata, dalam periode empat minggu di mana para anggota audiens sasaran diekspos kepada sarana media yang termasuk dalam jadwal media tertentu.

3. Bobot

Gross Rating Points (GRPs) merupakan indikator jumlah bobot kotor yang dapat disampaikan jadwal periklanan tertentu.

Secara aritmatika, GRPs merupakan hasil dari jangkauan dikalikan dengan frekuensi. GRPs = Jangkauan (J) x Frekuensi (F)

4. Kontinuitas

Bagaimana iklan dialokasikan selama ditayangkannya suatu kampanye periklanan.

a. Jadwal yang kontinu

Jumlah uang yang sama diinvestasikan sepanjang kampanye. b. Pulsing

Digunakan beberapa iklan selama setiap periode kampanye, tetapi jumlahnya sangat bervariasi dari periode ke periode.

c. Flighting

Pemasang iklan mengeluarkan biaya yang bervariasi selama kampanye dan tidak mengalokasikan biaya pada beberapa bulan.

(8)

SEMIOTIKA VISUAL

Semiotik secara etimologi berasal dari kata Yunani semeion yang berarti tanda. Secara terminologi semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial/masyarakat dan

kebudayaan itu merupakan bentuk dari tanda- tanda. Semiotik juga mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut memiliki arti.

Pengertian di atas sejalan dengan apa yang dekemukakan oleh Ferdinand de Saussure yang mendefinisikan semiotika (semiologi) sebagai ilmu yang mengkaji tentang peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Secara implisit dari pengertian ini menunjukkan relasi bahwa bila tanda adalah bagian kehidupan sosial, maka tanda merupakan bagian dari aturan-aturan yang berlaku (kode). Ada system tanda (sign system) dan social system yang saling berkaitan, inilah yang disebut sebagai konvensi sosial (social convention) yang mengatur tanda secara sosial, yaitu pemilihan, pengkombinasian dan penggunaan tanda-tanda dengan cara tertentu, sehingga ia mempunyai makna dan nilai sosial.

Menurut Saussure tanda mempunyai dua entitas, yaitu signifier dan signified atau wahana tanda dan makna atau penanda dan petanda (signifier+signified= sign). coba perhatikan karya berikut: apa yang dapat kita tangkap dari gambar (penanda) hati (heart) yang memiliki petanda sebagai cinta ( love), dan

(9)

Sedangkan semiotik bagi Peirce adalah suatu tindakan (action), pengaruh (Influence), atau kerja sama tiga subjek yaitu tanda (sign), objek (object) dan interpretan (interpretant). Yang dimaksud pada semiotika pada semiotika Peirce bukan subjek manusia, tetapi tiga entitas semiotik yang sifatnya abstrak yang tidak dipengaruhi oleh kebiasaan komunikasi secara kongkrit.

Menurut Peirce tanda adalah … some thing wich stands to some body for some thing in some respect or capacity (tanda adalah segala sesuatu yang ada pada seseorang untuk menyatakan sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitas). Dalam hal ini tanda menurut Peirce menggunakan model triadic (representament + object + interpretant = sign)

Contoh misalnya kita melihat tanda gambar bibir yang merah basah dan

setengah terbuka (sexy lips) maka akan tebentuk proses tiga tingkatan (three-fold process) di antaragambar bibir sebagai representamen, bibir sebenarnya sebagai objek,dan interpretan (bibir) yang dikenal sebagai proses semiosis Lalu Bagaimana pemanfaatan dan Penerapan semiotika pada Desain Komunikasi Visual?

Berbicara pemanfaatan semiotika pada desain Komunikasi visual kita akan membicarakan terdahulu tentang komunikasi, Desain Komunikasi Visual dan desainer sebagai pelaku/subjek yang memproduksi tanda.

Pertama

Untuk memahami komunikasi terkait dengan semiotik kita dapat meminjam asumsi John Fiske dalam Cultural and Communication Studies, menyatakan bahwa semua komunikasi melibatkan tanda (sign) dan kode (codes). Tanda adalah artefak atau tindakan yang merujuk pada sesuatu pesan yang lain di luar tanda itu sendiri. Sedangkan Kode adalah sistem dimana tanda-tanda

diorganisasikan dan menentukan bagaimana tanda-tanda itu berhubungan satu sama lain. Contoh dalam kehidupan sehari-hari kita misalnya lampu merah sebagai contoh pengorganisasian tanda ke dalam kode. Dalam pandangan semiologi milik Saussure rambu lalu lintas adalah bentuk paradigma (kumpulan tanda) yang dipergunakan secara sintagmatik menjadi susunan tanda yang terpadu dan dipilih untuk dipergunakan dalam sistem kode (konvensi).

(10)

Kedua

Definisi Komunikasi visual (visual communication) ialah: komunikasi yang menggunakan bahasa visual, dimana unsur dasar bahasa visual (yang menjadi kekuatan utama dalam menyampaikan komunikasi adalah segala sesuatu yang dapat dilihat dan dapat dipakai untuk menyampaikan arti, makna, atau pesan. Ketiga

Lebih sepesifik lagi definisi Desain Komunikasi Visual adalah ilmu yang

mempelajari konsep komunikasi dan ungkapan kreatif, teknik dan media untuk menyampaikan pesan dan gagasan secara visual, termasuk audio dengan mengolah elemen desain grafis berupa bentuk dan gambar, huruf dan warna, serta tata letaknya, sehingga pesan dan gagasan dapat diterima oleh

sasarannya

Sedangkan Metodologi dalam desain komunikasi visual adalah merupakan sebuah proses kreatif desainer baik perorangan ataupun dalam sebuah tim untuk menemukan dan memecahkan masalah /problem solving sebuah komunikasi visual.

Seperti halnya komunikasi pada umumnya, seorang desainer sesungguhnya melakukan proses komunikasi yang ditujukan dengan target audience melalui karya yang dihasilkan (sebagai tanda yang diproduksi). Dengan menggunakan media kreatif seorang desainer menerjemahkan pesan dari klien ke dalam berbagai macam bentuk tanda yang ditujukan kepada target audience berdasar konvensi (sistem kode) yang ada di tengah-tengah masyarakat, di mana karya desain akan dipublikasikan. Penerjemahan pesan (message) dari klien

(pengiklan) menjadi tanda-tanda atau simbol tertentu pada karya desain iklan dalam proses komunikasi ini disebut sebagai proses encoding. Kemudian desain inilah yang membawa pesan verbal dan visual secara kreatif dan efektif kepada konsumen dengan harapan makna pesan sama seperti apa yang diharapkan oleh pengiklan.

Sedangkan pada saat karya desain telah diproduksi siapapun bisa membaca dan menafsirkan, maka proses interpretasi yang kita lakukan konsumen terhadap pesan ini disebut sebagai decoding dalam proses komunikasi.

(11)

Semua aktivitas komunikasi melibatkan delapan elemen sebagai berikut 1. sumber (source)

2. penerjemahan (encoding) 3. pesan (message)

4. saluran penyampaian (message chanel) 5. penerima (receiver)

6. interpretasi (interpretation) 7. gangguan (noice)

8. umpan balik (feed back)

Kita bisa mengambil contoh, apabila seseorang menuturkan kata atau image, maka sesungguhnya ia telah terlibat di dalam sebuah proses produksi tanda, yang mempekerjakan tanda-tanda yaitu, memilih, menyeleksi, menata dan mengkombinasikan dengan cara dan aturan main tertentu/kode yang berlaku). Ketika orang lain membaca, kata (image) tersebut maka ia menggunakan tenaga kerja interpretsasi dengan cara mengerahkan segala kemampuan baca dan kode yang dipahaminya dalam rangka mamemahami kata atau image tersebut. Dan di sinilah proses komunikasi yang menjadikan tanda

(representamen) sebagai sarana pembawa pesan yang akan diterima oleh orang lain dan mengandung arti tertentu.

Pemanfaatan dan penerapan semiotika pada ranah Desain Komunikasi Visual, dapat dilihat dari usaha mengkomunikasikan pesan dengan menggunakan tanda (representament) sebagai unsur utama karya desain. Tanda di sini terwujud dalam bentuk tanda verbal dan non verbal yang diproduksi oleh seorang

desainer; tanda verbal berupa pesan verbal (ucapan) yang terwakili baik suara atau tulisan, sedang tanda non verbal (visual) berupa gambar yang terangkai yang membawa pesan yang juga terkait dengan pesan yang disampaikan. Dari pesan yang disampaikan senantiasa memuat beberapa penanda berupa tulisan dan gambar yang mengacu pada makna yang sama. Terjadinya beberapa tanda (representament) yang mengacu pada satu interpretan disebut sebagai super sign.

(12)

SEMIOTIKA PADA PERIKLANAN

Alat dalam komunikasi periklanan selain bahasa, terdapat alat komunikasi lainnya yang sering dipergunakan yaitu gambar, warna dan bunyi. Untuk mengkaji iklan dalam perspektif semiotika, kita bisa mengkajinya melalui sistem tanda dalam iklan.

Iklan menggunakan sistem tanda yang terdiri atas lambang baik verbal maupun berupa ikon. Pada dasarnya lambang yang digunakan dalam iklan terdiri dari dua jenis yaitu verbal dan nonverbal. Lambang verbal adalah bahasa yang kita kenal, lambang nonverbal adalah bentuk dan warna yang disajikan dalam iklan yang tidak secara meniru rupa atas bentuk realitas.

Ikon adalah bentuk dan warna yang serupa atau mirip dengan keadaan sebenarnya seperti gambar benda, orang atau binatang (Sobur, 2003 : 116). Kajian sistem tanda dalam iklan juga mencakup objek. Objek iklan adalah hal yang diiklankan. Dalam iklan, produk atau jasa itulah objeknya. Yang penting dalam meneelaah iklan adalah penafsiran kelompok sasaran dalam proses interpretan. Jadi sebuah kata seperti eksekutif meskipun dasarnya mengacu pada manajer menengah, tetapi selanjutnya manajer menengah ini ditafsirkan “suatu tingkat keadaan ekonomi tertentu” yang juga kemudian ditafsirkan sebagai “gaya hidup” tertentu yang selanjutnya ditafsirkan “kemewahan” dan seterusnya. Penafsiran yang bertahap ini merupakan segi penting dalam iklan, proses seperti ini disebut Semiosis (Hoed, 2001 : 97). Menurut Berger (2000 : 199), bila akan menganalisis iklan kita harus mengambil iklan dengan orang, objek, latar belakang menarik, naskah yang menarik.

Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisis iklan : 1. Penanda dan petanda

2. Gambar, indeks dan simbol

3. Fenomena sosiologi, demografi orang dalam iklan dan orang-orang yang menjadi sasaran iklan, refleksikan kelas-kelas sosial ekonomi, gaya hidup dan sebagainya.

4. Sifat daya tarik yang dibuat untuk menjual produk, melalui naskah dan orang-orang yang dilibatkan dalam iklan.

(13)

5. Desain dari iklan, termasuk tipe perwajahan yang digunakan, warna dan unsur estetik yang lain.

6. Publikasi yang ditemukan di dalam iklan dan khayalan yang diharapkan oleh publikasi tersebut.

Referensi

Kismiaji,

Ferdinand de saussure, course in general linguistics, duckworth, London, 1990. John Fiske, Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar Komprehensif, Jalasutra, Yogyakarta, 2006.

Kris Budiman, Ikonisitas Semiotika Sastra Dan Seni Visual, Buku Baik, Yogyakarta, 2005 Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi, Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001.

Sachari, Agus, pengantar Metode Penelitian Budaya Rupa dan Desain (Arsitektur, Seni Rupa, dan Kriya), Jakarta, penerbit Erlangga, 2005

Shimp, Terence, Periklanan dan Promosi Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran Terpadu, Jakarta, penerbit Erlangga, 2003.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :