BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Deskripsi data merupakan gambaran dari hasil penelitian yang telah

Teks penuh

(1)

64 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Data

Deskripsi data merupakan gambaran dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Data yang diperoleh dalam penelitian ini terdiri dari dua macam, yaitu:

1. Data mengenai keberhasilan program prakerin pada program keahlian

teknologi sepeda motor (variabel X).

2. Data mengenai kesiapan siswa SMKN 8 Bandung dalam menghadapi dunia

kerja (variabel Y).

Tabel 4.1

Distribusi Frekuensi Skor Mentah Variabel X dan Y

No Variabel X Variabel Y

Kelas Interval fi Kelas Interval fi

1 5 – 5,5 4 52 – 53 5 2 5,6 – 6,0 7 54 – 55 4 3 6,1 – 6,5 13 56 – 57 16 4 6,6 – 7,0 11 58 – 59 18 5 7,1 – 7,5 15 60 – 61 12 6 7,6 – 8,0 15 62 – 63 13 7 8,1 – 8,5 6 64 – 65 8 8,6 – 9,0 1 66 – 67 4 Jumlah 72 72

Data-data tersebut yang diperoleh di atas merupakan skor mentah data hasil penyelenggaraan program keahlian sepeda motor setiap siswa, yang kemudian dikonversi menjadi T-skor. Nilai T-skor adalah yang selanjutnya dianalisis.

(2)

4.1.1. Analisis Data

Analisis data yang dilakukan dengan menggunakan analisis statistik dan selanjutnya analisis data tersebut digunakan untuk menguji hipotesis. Cara yang digunakan dilakukan dengan menggunakan statistik parametrik dengan terlebih dahulu memenuhi asumsi normalitas.

4.1.1.1 Uji Normalitas Distribusi Frekuensi

1. Uji Normalitas Distribusi Frekuensi untuk Variabel X

Perhitungan uji normalitas distribusi frekuensi variabel X dilakukan dengan uji Chi-Kuadrat. Dari hasil perhitungan diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.2

Nilai Statistik Variabel X

Tabel 4.3

Distribusi Frekuensi Data Variabel X

No. Statistik Variabel X

1. 2. 3. 4. 5. Jumlah sampel (n) Skor tertinggi Skor terendah Rata-rata skor Standar deviasi 72 73 25 49,194 9,686 No Kelas

Interval Xi fi fi . Xi (Xi-Mean) (Xi-Mean) 2 fi.(Xi-Mean)2 1 25 – 31 28 2 56 -21,194 449,204 898,409 2 32 – 38 35 9 315 -14,194 201,482 1813,34 3 39 – 45 42 14 588 -7,194 51,760 724,640 4 46 – 52 49 20 980 -0,194 0,038 0,756 5 53 – 59 56 15 840 6,806 46,316 694,734 6 60 – 66 63 11 693 13,806 190,593 2096,53 7 67 - 73 70 1 70 20,806 432,871 432,871 Σ - 72 3542 - - 6661,278 Mean 49,194 SD 9,686

(3)

Tabel 4.4

Distribusi Chi-Kuadrat Variabel X

No Kelas Interval fi BK Z Lo Li ei χ 2 24,5 -2,55 0,4946 1 25 – 31 2 0,0282 2,0304 0,0005 31,5 -1,83 0,4664 2 32 – 38 9 0,1021 7,3512 0,3698 38,5 -1,10 0,3643 3 39 – 45 14 0,2163 15,5736 0,1590 45,5 -0,38 0,1480 4 46 – 52 20 0,2811 20,2392 0,0028 52,5 0,34 0,1331 5 53 – 59 15 0,2223 16,0056 0,0632 59,5 1,06 0,3554 6 60 – 66 11 0,1084 7,8048 1,3081 66,5 1,79 0,4638 7 67 – 73 1 0,0302 2,1744 0,4599 73,5 2,51 0,4940 Σ 72 - - - - - 2,3632 Mean 49,194 SD 9,686

Hasil perhitungan uji normalitas distribusi frekuensi variabel X diperoleh harga χ2 sebesar 2,363. Hasil perhitungan chi-kuadrat tersebut selanjutnya dibandingkan dengan tabel χ2, maka didapat χ2 tabel 0,95(6) = 12,592. Ternyata χ2 hitung ≤ χ2 tabel, oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa skor untuk variabel X

berdistribusi normal pada taraf signifikansi α = 0,05 taraf kepercayaan 95% dengan derajat kebebasan dk = 1.

(4)

Gambar 4.1 Diagram Distribusi Frekuensi Data Variabel X

2. Uji Normalitas Distribusi Frekuensi Untuk Variabel Y

Perhitungan uji normalitas distribusi frekuensi variabel Y dilakukan dengan uji Chi-Kuadrat. Dari hasil perhitungan diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.5

Distribusi Frekuensi Data Variabel Y

No. Kelas Interval Xi fi fi . Xi (Xi-Mean) (Xi-Mean)2 fi.(Xi-Mean)2

1 41 – 43 42 5 210 -8,417 70,840 354,201 2 44 – 46 45 6 270 -5,417 29,340 176,042 3 47 – 49 48 20 960 -2,417 5,840 116,806 4 50 – 52 51 19 969 0,583 0,340 6,465 5 53 – 55 54 15 810 3,583 12,840 192,604 6 56 – 58 57 3 171 6,583 43,340 130,021 7 59 - 61 60 4 240 9,583 1,840 367,361 Σ - 72 3630 - - 1343,5 Mean 50,417 SD 4,35

(5)

Tabel 4.6

Nilai Statistik Variabel Y

No. Statistik Variabel Y

1. 2. 3. 4. 5. Jumlah sampel (n) Skor tertinggi Skor terendah Rata-rata skor Standar deviasi 72 61 41 50,417 4,35 Tabel 4.7

Distribusi Chi-Kuadrat Variabel Y

No Kelas Interval fi BK Z Lo Li ei χ 2 40,5 -2,28 0,4887 1 41 – 43 5 0,0446 3,2112 0,9965 43,5 -1,59 0,4441 2 44 – 46 6 0,1282 9,2304 1,1306 46,5 -0,90 0,3159 3 47 – 49 20 0,2327 16,7544 0,0037 49,5 -0,21 0,0832 4 50 – 52 19 0,2676 19,2672 0,0698 52,5 0,48 0,1844 5 53 – 55 15 0,1946 14,0112 1,8463 55,5 1,17 0,3790 6 56 – 58 3 0,0896 6,4512 2,4190 58,5 1,86 0,4686 7 59 - 61 4 0,0260 1,8720 7,0945 61,5 2,55 0,4946 Σ 72 - - - - - 7,0945 Mean 50,417 SD 4,35

Hasil perhitungan uji normalitas distribusi frekuensi variabel Y diperoleh harga χ2 sebesar 7,095. Hasil perhitungan chi-kuadrat tersebut selanjutnya dibandingkan dengan tabel χ2, maka diadapat χ2(0,95) (6) = 12,592. Ternyata χ2 hitung

(6)

Y berdistribusi normal pada taraf signifikansi α = 0,05 taraf kepercayaan 95% dengan derajat kebebasan dk = 1.

Gambar 4.2 Diagram Distribusi Frekuensi Data Variabel Y

4.1.2. Uji Linieritas Regresi

Agar dapat meramalkan bagaimana keberhasilan program prakerin pada program keahlian teknologi sepeda motor dengan kesiapan siswa SMK dalam menghadapi dunia kerja dinaikkan atau diturunkan, maka perlu dilakukan analisis regresi yang terlebih dahulu harus ditentukan persamaan regresinya. Data dari hasil penelitian perlu disusun ke dalam tabel. Setelah dibuat tabel tersebut maka dapat ditentukan harga-harga dari a dan b dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

( )

(

2

)

(

)(

2

)

2 ) ( . X X n XY X X Y a ∑ − ∑ ∑ ∑ − ∑ ∑ = 2

(

)( )

2 ) ( X X n Y X XY n b ∑ − ∑ ∑ ∑ − ∑ = (Sugiyono, 2007: 262)

(7)

Setelah menggunakan rumus di atas maka dapat diperoleh persamaan regresi untuk variabel X yaitu keberhasilan prakerin pada program keahlian teknologi sepeda motor dengan kesiapan siswa SMK dalam menghadapi dunia kerja adalah Y = 51,889 – 0,041X. Hasil kelinieran regresi untuk uji Fhitung

sebesar 13,560, dengan signifikansi α = 0,05, derajat kebebasan (dk) pembilang = 1 dan derajat kebebasan (dk) penyebut = 70 didapat Ftabel = 3,98. Ini menunjukkan

Fhitung > Ftabel yaitu13,560 > 3,98. Maka dengan demikian maka koefesien arah

regresi signifikan pada taraf nyata 0,05 dan model regresi terbukti linier karena Fhitung < Ftabel yaitu 0,537 < 1,76, dengan (dk) pembilang = 17 dan (dk) penyebut =

53. Kesimpulan dari persamaan yang diperoleh di atas berarti keberhasilan prakerin program keahlian teknologi sepeda motor tidak akan naik, bila kesiapan siswa SMK dalam menghadapi dunia kerja diturunkan.

(8)

4.1.3. Uji Korelasi

Analisis korelasi ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara variabel X (keberhasilan program prakerin pada program keahlian teknologi sepeda motor) dengan variabel Y (kesiapan siswa SMK dalam menghadapi dunia kerja). Di dalam penelitian ini jenis statistik yang digunakan adalah statistik parametrik, karena data penelitian berdistribusi normal. Jenis analisis parametrik yang digunakan adalah korelasi product moment.

Hasil perhitungan koefesien korelasi product moment diperoleh data r sebesar 0,793. Angka ini menunjukkan derajat hubungan antara variabel X (keberhasilan prakerin program keahlian teknologi sepeda motor) dengan variabel Y (kesiapan siswa SMK dalam menghadapi dunia kerja). Cara mengetahui bagaimana derajat keeratan hubungan antara kedua variabel tersebut, maka nilai tersebut dikonsultasikan pada tabel kriteria penafsiran nilai r (Suharsimi Arikunto, 2006: 276), dengan demikian nilai 0,793 berada pada korelasi cukup.

4.1.4. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk menerima atau menolak hipotesis dan ada atau tidaknya hubungan dari variabel penelitian yang diajukan. Adapun hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut: Ada hubungan yang signifikan dari Keberhasilan Program Prakerin dengan Kesiapan Siswa SMK dalam Menghadapi Dunia Kerja”.

Hipotesis di atas, kemudian dijabarkan ke dalam bentuk hipotesis statistik menjadi sebagai berikut:

(9)

Ho : Tidak terdapat hubungan yang signifikan dari Keberhasilan Program

Prakerin dengan Kesiapan Siswa dalam Menghadapi Dunia Kerja”.

H1 : Terdapat hubungan yang signifikan dari Keberhasilan Program Prakerin

dengan Kesiapan Siswa dalam Menghadapi Dunia Kerja”.

Berdasarkan hasil perhitungan uji t-student, diperoleh harga thitung = 10,894

harga tersebut dibandingkan dengan harga ttabel dengan dk = n – 2 = 70 dengan

taraf kepercayaan 95% (taraf signifikansi α = 0,05) maka harga t tabel pada n = 70 adalah 1,658. Jadi thitung > ttabel artinya Ho ditolak dan sebaliknya hipotesis statistik

H1 diterima, yaitu: “Terdapat hubungan yang signifikan dari Keberhasilan

Program Prakerin dengan Kesiapan Siswa dalam Menghadapi Dunia Kerja”.

4.2. Pembahasan Hasil Penelitian

Pembahasan dari hasil penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran hasil penelitian secara terperinci, mengacu pada teori-teori maupun konsep-konsep yang relevan. Berdasarkan pengolahan data dengan statistik diperoleh hasil penelitian sebagai berikut:

4.2.1. Keberhasilan Program Praktek Kerja Industri

Berdasarkan hasil penelitian bahwa keberhasilan program praktek kerja industri pada program keahlian teknologi sepeda motor tidak lepas dari proses belajar mengajar yang sangat di pengaruhi oleh faktor dalam diri siswa yang terdiri kognitif, psikomotor dan afektif. Siswa yang mengalami proses belajar akan mengalami perubahan prilaku yang ditunjukkan dalam bentuk tindakan,

(10)

seperti yang dikemukakan oleh Nana Sudjana (1989: 28) yang menyatakan bahwa:

“Belajar adalah suatu proses yang di tandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang yang sedang belajar, perubahan itu sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti: pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan dan kemampuan, daya reaksi, daya penerimaan dan lain-lain aspek yang ada di individu tersebut.”

Berdasarkan penjelasan penyataan di atas dapat dikatakan bahwa hasil penyelenggaraan program keahlian teknologi sudah berjalan dengan baik. dan ini terlihat dari persentase yaitu sebesar 70,83%, sehingga dapat hasil penyelenggaraan program keahlian teknologi sepeda motor berada pada kategori baik. Jadi, bisa dikatakan bahwa sebagian siswa telah mampu memenuhi kriteria penilaian, dengan kata lain siswa telah memahami materi pelajaran dan menyelesaikan tugas-tugas dengan baik. Tetapi, masih ada sebagian siswa yang belum mampu memenuhi kriteria penilaian, misalnya dengan tidak dapat menyelesaikan ujian-ujian dan menyelesaikan tugas-tugas yang disebabkan oleh rendahnya motivasi, minat, kemampuan, usaha belajar siswa, guru yang kurang kreatif dalam proses pembelajaran, kondisi fisiologis siswa dan lingkungan belajar siswa itu sendiri.

4.2.2. Kesiapan Siswa Dalam Menghadapi Dunia Kerja

Berdasarkan hasil penelitian bahwa kesiapan siswa dalam menghadapi dunia kerja berada pada tingkat presentase 43,892%. Jadi, dapat dikatakan bahwa kesiapan siswa dalam menghadapi dunia pada kategori yang kurang begitu baik..

(11)

Hasil sebaran angket, responden mengungkapkan sebesar 60,435% siswa belum mengetahui tentang lapangan pekerjaan yang sebenarnya dan apa yang harus dilakukan, sedangkan hanya 29,565% siswa yang mengetahui kondisi lapangan pekerjaan yang ada di Industri. Sebanyak 67,977% siswa yang tidak mengetahui kondisi pekerjaan yang dihadapi atau yang dikerjakan, sehingga siswa akan menjadi kebingungan apa yang harus dilakukan ketika mendapatkan suatu kondisi pekerjaan. Sebanyak 67,958% siswa kurang mengetahui tentang tuntutan yang harus dipenuhi di Industri sehingga responden berpendapat bahwa kondisi pekerjaan yang ada di Industri kurang di sosialisasikan dan di jelaskan oleh pihak sekolah kepada para siswa yang menyebabkan rendahnya pengetahuan siswa tentang lapangan pekerjaan, kondisi pekerjaan dan tuntutan dari Industri. Sebanyak 53,629% siswa kurang memahami mengenai pemeliharaan motor dan komponen-komponenya, dimana ini mengindikasikan bahwa adanya ketidak sesuaian kompetensi yang diterima di sekolah dengan kompetensi yang ada di Industri, sehingga perlu adanya kerja sama yang lebih intensif antara sekolah dan pihak Industri, misalnya agar kekurangan-kekurangan yang ada di sekolah bisa di kurangi.

Hasil temuan ini di dukung oleh pendapat Djumhur dan Moh Surya (1996: 80) yang menyatakan:

“Memperoleh informasi tentang dunia pekerjaan, dengan demikian murid dapat membuat penyesuaian antara pemahaman tentang dirinya dengan pekerjaan. Murid akan mempunyai pilihan dan disesuaikan dengan pemahaman mereka terhadap bakat, sikap, minat dan kecakapan mereka. Murid akan mempunyai cita-cita yang didasarkan pada kemampuan diri dan kemungkinan yang tersedia”.

(12)

Selain itu Dirwanto menyatakan:

“7 faktor yang mempengaruhi kesiapan kerja pada siswa SMK. Faktor-faktor tersebut adalah (1) Faktor-faktor kemampuan, (2) Faktor-faktor citra diri, (3) faktor pendukung, (4) faktor akademis, (5) faktor dasar/bawaan, (6) faktor perilaku, serta (7) faktor cita-cita dan potensi diri”.

Berdasarkan hal di atas, bisa dikatakan siswa belum mampu memenuhi kriteria dari kesiapan kerja, sebagian siswa mereka menyatakan prakerin yang mereka laksanakan hanyalah melakukan pekerjaan ringan yang sifatnya membantu mekanik saja, dengan kata lain siswa belum memahami apa saja yang harus dilakukan agar tercipta pada diri siswa untuk siap bekerja, yang mungkin bisa disebabkan oleh rendahnya motivasi, minat, kemampuan, usaha belajar dari siswa, pengajar yang kurang kreatif dalam proses pembelajaran, kondisi psikologis siswa dan lingkungan.

Rendahnya kesiapan siswa dalam kreatifitas pada kriteria istimewa, diduga karena rendahnya kesungguhan mereka untuk menggali informasi teknologi di industri yang mana menuntut kreasi mereka untuk berinovasi, rendahnya partisipasi mereka pada program keahlian dan setiap kegiatan/aktivitas yang erat kaitannya dengan kreasi di industri. Selain itu, karena mereka hanya merespon stimulus yang sesuai dengan mereka. Hal ini senada dengan peniyataan Bimo Walgito (1987: 57) yang mengatakan bahwa: ...tidak semua stimulus akan direspon oleh individu, respon diberikan terhadap stimulus yang ada persesuaian atau yang menarik individu.

Melihat beragamnya sikap bekerja yang dimiliki siswa, diduga karena tiap siswa melakukan aktivitas/pekerjaan yang sama, sehingaa akan

(13)

timbul rasa suka/senang terhadap bidang pekerjaan yang menghasilkan sikap yang hampir sama pula. Hal ini senada pula dengan salah satu komponen yang diungkapkan oleh Mar'at (1984: 13) bahwa, sikap memiliki Komponen Konasi yaitu Komponen ini memungkinkan individu memiliki kecenderungan untuk berprilaku terhadap obyek sikap, cenderung mendekati, memuji atau bertindak positif terhadap suatu obyek. Sebaliknya, individu yang memiliki sifat negatif terhadap suatu obyek cenderung menjauhi, menolak atau menentangnya.

4.2.3. Keberhasilan Program Prakerin dihubungkan dengan Kesiapan Siswa Dalam Menghadapi Dunia Kerja

Arah serta derajat hubungan keberhasilan program prakerin pada program keahlian teknologi sepeda motor dengan kesiapan siswa dalam menghadapi dunia kerja dinyatakan dengan koefesien korelasi sebesar 0,793 dan apabila diinterprestasikan pada indeks derajat korelasi, maka harga koefesien korelasi sebesar 0,73 berada pada kategori cukup. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Suharsimi Arikunto, 2006: 276) menyatakan bahwa: “Tingkat derajat korelasi dikatakan cukup apabila 0,600 - 0,800”, oleh karena itu Keberhasilan Program Praktek Kerja Industri mempunyai hubungan yang cukup dengan kesiapan siswa SMK dalam menghadapi dunia kerja.

Keberhasilan program praktek kerja industri pada program keahlian teknologi sepeda motor tidak lepas dari proses belajar mengajar yang sangat di pengaruhi oleh faktor dalam diri siswa yang terdiri kognitif, psikomotor dan afektif. Siswa yang mengalami proses belajar akan mengalami perubahan prilaku

(14)

yang ditunjukkan dalam bentuk tindakan. Jadi, bisa dikatakan bahwa sebagian siswa telah mampu memenuhi kriteria penilaian, dengan kata lain siswa telah memahami materi pelajaran dan menyelesaikan tugas-tugas dengan baik. Tetapi, masih ada sebagian siswa yang belum mampu memenuhi kriteria penilaian, misalnya dengan tidak dapat menyelesaikan ujian-ujian dan menyelesaikan tugas-tugas yang disebabkan oleh rendahnya motivasi, minat, kemampuan, usaha belajar siswa, guru yang kurang kreatif dalam proses pembelajaran, kondisi fisiologis siswa dan lingkungan belajar siswa itu sendiri.

Rendahnya kesiapan siswa bisa dikarenakan siswa belum mampu memenuhi kriteria dari kesiapan kerja, sebagian siswa mereka menyatakan prakerin yang mereka laksanakan hanyalah melakukan pekerjaan ringan yang sifatnya membantu mekanik saja, dengan kata lain siswa belum memahami apa saja yang harus dilakukan agar tercipta pada diri siswa untuk siap bekerja, yang mungkin bisa disebabkan oleh rendahnya motivasi, minat, kemampuan, usaha belajar dari siswa, pengajar yang kurang kreatif dalam proses pembelajaran, kondisi psikologis siswa dan lingkungan.

Berdasarkan hasil perhitungan uji t-student, diperoleh hasil sebesar 10,894 dengan taraf kepercayaan 95% (taraf signifikansi α = 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan H1 diterima. Pembuktian hipotesis memberikan

hasil penelitian yang sama yang berbunyi: “Terdapat hubungan yang signifikan dari Keberhasilan Program Praktek Kerja Industri dengan Kesiapan Siswa SMK dalam Menghadapi Dunia Kerja”.

Figur

Gambar 4.1 Diagram Distribusi Frekuensi Data Variabel X

Gambar 4.1

Diagram Distribusi Frekuensi Data Variabel X p.4
Gambar 4.2 Diagram Distribusi Frekuensi Data Variabel Y

Gambar 4.2

Diagram Distribusi Frekuensi Data Variabel Y p.6

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :