BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Kerangka Teori dan Literatur
Sebagai kerangka pikir dari temuan yang akan dibahas pada bab 4, maka pada bab ini akan dijelaskan landasan teoritis yang dihimpun dari berbagai pakar dalam berbagai literatur.
2.2 Auditing
2.2.1 Definisi Auditing
Menurut Aren dan Alvin (2007:56) Auditing adalah :
Proses pengumpulan dan penilaian bukti atau pengevaluasian bukti mengenai informasi untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian antara informasi tersebut dan kriteria yang ditetapkan. Auditing harus dilakukan oleh orang-orang yg kompeten dan independen.
Menurut (Sukrisno Agoes, 2004:9), Auditing adalah:
Suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.
Sedangkan pengertian Auditing menurut Mulyadi (2002:35),
Auditing merupakan suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.
Menurut Susilo,W (2003:80),
Audit adalah kegiatan mengumpulkan informasi faktual dan signifikan melalui interaksi (pemeriksaan, pengukuran dan penilaian yang berujung pada penarikan kesimpulan ) secara sistematis, objektif, dan terdokumentasi yang berorientasi pada azas penggalian nilai atau manfaat.
Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa Auditing adalah suatu proses sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai informasi tingkat kesesuaian antara tindakan dan peristiwa ekonomi dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta melaporkan hasilnya kepada pihak yang membutuhkan, dimana auditing harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen.
Menurut Rahayu (2009:2), hal – hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan auditing adalah:
1. Proses sistematis
Merupakan serangkaian tahap dan prosedur yang logis, terstruktur dan terorganisir. Audit memerlukan suatu perencanaan yang baik, terstruktur dan terorganisir untuk mendapatkan tujuan dari pemeriksaan yang diharapkan
2 Memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif
Bahan bukti merupakan segala sesuatu yang merupakan informasi bagi auditor dalam menentukan apakah informasi yang diaudit disajikan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan atau tidak. Memperoleh dan mengevaluasi bahan bukti dalam audit merupakan aktivitas utama auditor dalam melaksanakan audit. Secara objektif dimaksudkan sebagai kegiatan memeriksa dasar asersi dan menilai hasilnya secara tidak memihak. Bahan bukti terdiri dari pernyataan lisan dari klien, informasi dari pihak ketiga, dan hasil pengamatan auditor. Merupakan hal yang
penting untuk mendapatkan bahan bukti dalam jumlah dan kualitas yang cukup untuk dapat memenuhi tujuan audit.
3. Asersi
Asersi adalah pernyataan yang dibuat oleh individu atau entitas secara implisit, dimaksudkan untuk digunakan oleh pihak lain. Pelaksanaan audit memerlukan informasi yang dapat diverifikasi dan juga memerlukan kriteria sebagai pedoman untuk mengevaluasi informasi tersebut.
4. Kriteria yang ditetapkan
Merupakan standar-standar yang digunakan untuk menguji asersi misalnya peraturan-peraturan, standar kinerja, prinsip akuntansi yang berlaku umum dan sebagainya.
5. Kompeten dan independen
Kompeten artinya auditor harus mempunyai kemampuan, ahli dan berpengalaman dalam memahami kriteria dan dalam menentukan jumlah bahan bukti yang dibutuhkan untuk dapat mendukung kesimpulan yang akan diambilnya. Independen artinya auditor juga harus mempunyai sikap mental yang independen yaitu sikap yang tidak memihak kepada kepentingan siapapun. Informasi yang digunakan untuk mengambil keputusan harus tidak bias sehingga independensi merupakan tujuan yang harus selalu diupayakan.
6. Pelaporan
Penyusunan laporan audit merupakan tahap akhir dalam audit, dan merupakan alat yang digunakan auditor untuk menyampaikan temuannya. Laporan audit merupakan laporan tertulis yang menyatakan tingkat kesesuaian antara informasi
yang diperiksa dan kriteria yang telah ditetapkan. Laporan dapat disajikan dalam bentuk yang berbeda dan bervariasi tergantung pada entitas ekonomi yang diperiksa. Komunikasi hasil audit dapat memperkuat atau mempelemah kredibilitas informasi yang dibuat pihak lain.
7. Pihak-pihak yang berkepentingan
Pihak yang berkepentingan atas laporan audit adalah individu-individu yang menggunakan temuan auditor.
2.2.2 Jenis Audit
Menurut Rahayu,K (2009:6), audit dibagi menjadi : 1. Audit Laporan Keuangan
Audit laporan keuangan bertujuan untuk menentukan apakah laporan keuangan telah disajikan wajar, sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu.
2. Audit Operasional
Audit operasional adalah audit yang bertujuan untuk mengevaluasi efisiensi, efektifitas, dan keekonomisan dari kegiatan operasi perusahaan, fungsi-fungsi dalam perusahaan penguna sumber daya, dan memberikan masukan kepada manajemen untuk peningkatan 3E tersebut.
3. Audit Kepatuhan
Audit kepatuhan adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah perusahaan sudah menaati peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan yang berlaku.
1. Financial Audit
Adalah audit yang dilaksanakan untuk menentukan apakah seluruh laporan keuangan (informasi yang diuji) telah dinyatakan sesuai dengan kriteria tertentu. 2. Special Audit
Audit khusus adalah audit yang dilakukan atas lingkup audit yang bersifat khusus. 3. Information Technology Audit
Adalah bentuk pengawasan dan pengendalian dari infrastruktur teknologi informasi secara menyeluruh.
4. Government Audit
Menurut Boynton dan Kell (2001:16), auditor pemerintah adalah auditor profesional yang bekerja di instansi pemerintah yang tugas pokoknya melakukan audit atas pertanggungjawaban keuangan yang disajikan oleh unit-unit organisasi atau entitas pemerintahan atau pertanggungjawaban keuangan yang ditujukan kepada pemerintah.
5. Compliance Audit
Adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah perusahaan sudah menaati peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan yang berlaku, baik yang ditetapkan oleh pihak intern (manajemen, dewan komisaris) maupun pihak-pihak ekstern (pemerintah,Bapepam, dan lain-lain.
2.2.3 Kriteria Audit
Menurut Sumarlin,B (2005:44) yaitu,
Dalam perencanaan audit, seorang auditor harus dapat menyatakan kriteria yang akan dipergunakan dalam audit diantaranya :
1. Mengenal dan mengembangkan kriteria audit
3. Menentukan kriteria audit dari pekerjaan auditan.
Dari pengertian yang dijelaskan diatas dapat disimpulkan bahwa didalam melakukan perencanaan perlu menetapkan kriteria yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan.
Kriteria audit dapat dipergunakan sebagai alat untuk menilai pengendalian, menilai sumber daya, menilai proses pekerjaan dan menilai hasil-hasil kerja auditan. Supaya kriteria audit dapat digunakan sebagai tolak ukur penilaian, maka kriteria tersebut:
1. Harus berasal dari sumber yang berwenang sehingga hasil penilaiannya dapat dipertahankan (valid)
2. Harus tidak berat sebelah, tidak memihak, tidak berprasangka (objective);
3. Harus dapat dinyatakan secara tepat sebagai alat ukur dalam satuan jumlah tertentu (spesifik)
4. Harus dapat disajikan sebagai standar pelaksanaan dan standar hasil serta dapat dicapai (realistic dan attainable)
Kriteria harus memenuhi syarat dan untuk mendpatkan kriteria yang memenuhi syarat seperti penilaian kriteria audit yang ada, kriteria audit perlu dikembangkan. Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mengembangkan kriteria audit adalah:
1. Menetapkan tujuan atau sasaran audit secara jelas
2. Menunjuk sumber informasi dari mana kriteria audit akan diangkat 3. Mengadakan penilaian terhadap kriteria audit.
2.2.4 Jenis-Jenis Auditor Audit
Menurut Rahayu, K (2009:13), auditor dibagi menjadi : 1. Auditor Independen
Independen dimaksudkan sebagai sikap mental auditor yang memiliki integritas tinggi, obyektif pada permasalahan yang timbul dan tidak memihak kepada kepentingan manapun.
2. Auditor Pemerintah
Auditor pemerintah adalah auditor yang berasal dari lembaga pemeriksa pemerintah.
3. Auditor Internal
Auditor internal adalah pegawai dari suatu organisasi/perusahaan yang bekerja di organisasi tersebut untuk melakukan audit bagi kepentingan manajemen perusahaan yang bersangkutan, dengan tujuan untuk membantu manajemen organisasi untuk mengetahui kepatuhan para pelaksanana operasional organisasi terhadap kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
2.2.5 Laporan Audit
Pembuatan laporan audit adalah langkah terakhir dalam proses audit. Laporan audit dapat didefenisikan sebagai laporan yang menyatakan pendapat auditor yang independen mengenai kelayakan atau ketepatan pernyataan klien bahwa laporan keuangannya disajikan secara wajar dan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Jenis-jenis pendapat akuntansi : 1. Pendapat wajar tanpa pengecualian
2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelasan 3. Pendapat wajar dengan pengecualian
4. Pendapat tidak wajar
5. Pernyataan tidak memberikan pendapat Menurut Susilo,W (2003:85),
Laporan audit berupa kesimpulan yang dibuat berdasarkan hasil temuan auditor untuk disampaikan kepada pihak-pihak berkepentingan, yang biasanya adalah auditee dan manajemen. Unsur-unsur yang biasanya termuat dalam laporan audit adalah latar belakang audit, uraian temuan audit, penjelasan mengenai unsur ketidaksesuainnya dibandingkan dengan kriteria yang dijadikan acuan, akar penyebab permasalahan, lokasi temuan, aktivitas yang berkaitan dengan temuan, klausul peraturan atau standar yang terkait dengan temuan, bukti-bukti objektif, skala kekritisan temuan dan akhirnya adalah rekomendasi auditor termasuk batas waktu penyelesaiannya.
2.3 Audit Kepatuhan.
Agoes (2004:11) mendefenisikan audit kepatuhan sebagai pemeriksaan untuk mengetahui apakah prosedur dan aturan yang telah ditetapkan otoritas berwenang sudah ditaati oleh personel di organisasi tersebut.
Sementara itu, Rahayu,K (2009:12) mendefenisikan sebagai berikut :
Audit kepatuhan bertujuan untuk menentukan apakah auditee telah mengikuti kebijakan, prosedur dan peraturan yang telah ditentukan pihak yang otoritasnya lebih tinggi.
Dapat disimpulkan bahwa audit kepatuhan bertujuan untuk menilai apakah peraturan yang berlaku, baik secara internal, maupun eksternal, sudah ditaati oleh setiap entitas pada suatu organisasi.
Manajemen bertanggung jawab untuk menjamin bahwa entitas yang dikelolanya memamtuhi perundang-undangan yang berlaku atas aktivitasnya. Tanggung jawab ini
mencakup pengidentifikasian peraturan yang berlaku dan penyusunan pengendalian intern yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai bahwa entitas tersebut mematuhi peraturan..
2.3.1 Tujuan Audit Kepatuhan
Menurut Agoes (2004:11), audit kepatuhan bertujuan untuk mengetahui apakah prosedur dan aturan yang telah ditetapkan otoritas berwenang sudah ditaati oleh personel pada organisasi tersebut.
Agoes (2009:49) menjelaskan,
Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui apakah perusahaan sudah menaati peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan yang berlaku, baik yang ditetapkan oleh pihak intern perusahaan (manajemen, dewan komisaris) maupun pihak ekstern (Pemerintah, BAPEPAM, Bank Indonesia, Direkorat Jenderal Pajak, dan lain-lain).
Oleh karena itu, dapat disimpulkan audit kepatuhan bertujuan untuk : 1. Mengukur tingkat kepatuhan setiap fungsi dalam suatu perusahaan
2. Meminimalisir terjadinya pelanggaran atas peraturan yang ditetapkan di suatu perusahaan
3. Meningkatkan kinerja perusahaan
Hasil audit kepatuhan berupa pernyataan temuan atas tingkat kepatuhan. Hasil audit kepatuhan dilaporkan kepada pemberi tugas yaitu pimpinan organisasi, karena pimpinan organisasi yang paling berkepentingan atas dipatuhinya prosedur dan peraturan yang telah ditetapkan.
2.3.2 Kriteria Audit Kepatuhan
Seperti menurut Rahayu,K (2009:13),
Kriteria yang ditetapkan dalam pelaksanaan audit kepatuhan, misalnya adalah kebijakan, peraturan, persyaratan pinjaman kredit, prosedur yang ditetapkan, Undang-undang Peraturan Perburuhan dan Undang-undang Perpajakan. Informasi terukur dalam audit kepatuhan misalnya, data mengenai pelaksanaan kebijakan, peraturan, prosedur, pengangkatan, pengupahan, pemberhentian pegawai, Pelaporan SPT Pajak dan Pelaksanaannya.
Dan dapat disimpulkan, kriteria audit kepatuhan dibagi menjadi dua, yaitu kriteria internal dan kriteria eksternal. Kriteria internal adalah kriteria–kriteria yakni peraturan-peraturan yang berasal dari organisasi itu sendiri. Sedangkan kriteria eksternal adalah kriteria-kriteria yang merupakan standar yang berlaku umum yang bukan merupakan kebijakan dari organisasi tersebut.
Contoh kriteria internal antara lain : 1. Kode etik perusahaan
2. Peraturan perusahaan
3. Kebijakan-kebijakan perusahaan
Sedangkan kriteria eksternal dapat berupa : 1. Standar Pelayanan Asuransi di Indonesia 2. PSAK
2.3.3 Tanggung Jawab Auditor pada Audit Kepatuhan Menurut Rahayu,K (2009:13),
Hasil audit kepatuhan berupa pernyataan temuan atau tingkat kepatuhan. Hasil audit kepatuhan dilaporkan kepada pemberi tugas yaitu pimpinan organisasi, karena pimpinan organisasi yang paling berkepentingan atas dipatuhinya prosedur dan peraturan yang telah ditetapkan. Sehingga auditor yang diperkerjakan untuk melakukan tugas itu adalah Auditor Intern, Auditor Pemerintah dan Akuntan Publik.
Dapat disimpulkan, bahwa auditor yang melakukan audit kepatuhan, bertanggung jawab memberikan laporan kepada pimpinan organisasi, terkait temuan nya atas tingkat kepatuhan pada organisasi tersebut, dinilai dari peraturan yang berlaku, baik secara internal maupun eksternal.
2.3.4 Tahapan Audit Kepatuhan
Tahapan dalam melakukan audit kepatuhan menurut Rumata, K (2012:24) adalah : 1. Audit Pendahuluan
Dalam bagian ini, penulis akan mencari informasi tentang latar belakang objek, menelaah peraturan dan kebijakan yang berlaku, menelaah objek yang berpotensi mempunyai kelemahan dan menentukan audit sementara.
2. Audit Terinci
Pada bagian ini, penulis akan mengumpulkan bukti yang cukup dan relevan, kemudian mengembangkan temuannya, menemukan keterkaitan temuan yang satu dengan temuan yang lain , dan memaparkannya dalam kertas kerja audit sebagai pendukung kesimpulan dan rekomendasi.
3. Pelaporan
Pada bagian ini, penulis akan menjelaskan kesimpulan dari hasil penelitiannya, kepada pihak yang berwenang, seta memberikan rekomendasi. Dan apabila memungkinkan, penulis juga akan mendorong pihak yang berwenang untuk melaksanakan tindak lanjut.
2.4 Pengertian, Fungsi dan Tujuan Kode Etik Profesi 2.4.1 Defenisi dan Pengertian
Sedangkan menurut Sofyan (2006), kode etik merupakan suatu ciri profesi yang bersumber dari nilai-nilai internal dan eksternal suatu disiplin ilmu dan merupakan pernyataan komprehensif suatu profesi yang memberikan tuntutan bagi anggota dalam melaksanakan pengabdian profesi.
Menurut Math,Z (2010:3), kode etik profesi merupakan sarana untuk membantu para pelaksana sebagai seseorang yang professional supayat tidak dapat merusak etika profesi.
Jadi kode etik profesi pada hakikatnya adalah memuat aturan-aturan atau norma-norma yang dijadikan pedoman dalam melaksanakan tugas fungsi semua orang yang terlibat dalam suatu organisasi. Dan nilai-nilai atau norma-norma itu terkandung didalam suatu sistem yang dijadikan pedoman untuk bertingkah laku ataupun dalam menjalankan tugas yang berlaku bagi sekelompok orang yang terlibat dalam kelompok profesi.
Prinsip – prinsip umum yang dirumuskan dalam suatu profesi akan berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan perbedaan adat, kebiasaan, kebudayaan, dan peranan tenaga ahli profesi yang didefinisikan dalam suatu negara tidak sama.
2.4.2 Fungsi Kode Etik Profesi
Elviza,H (2009), menyatakan bahwa pada dasarnya kode etik profesi memiliki fungsi ganda yaitu sebagai perlindungan dan pengembangan bagi profesi.
Menurut Math,Z (2010:3),
Ada tiga fungsi kode etik profesi yaitu :
1. Kode etik profesi memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan. Maksudnya bahwa dengan kode etik profesi, pelaksana profesi mampu mengetahui suatu hal yang boleh dialakukan dan yang tidak boleh dilakukan. 2. Kode etik profesi merupakan sarana kontrol sosial bagi masyarakat
atas profesi yang bersangkutan. Maksudnya bahwa etika profesi dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat agar juga dapat memahami arti pentingnya suatu profesi sehingga memungkinkan pengontrolan terhadap para pelaksana di lapangan kerja.
3. Kode etik profesi mencegah campur tangan pihak diluar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam keangotaan profesi. Arti tersebut dapat dijelaskan bahwa para pelaksana profesi pada suatu instansi atau perusahaan yang lain tidak boleh mencampuri pelaksanaan profesi di lain instansi atau perusahaan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan utama dari kode etik profesi adalah memberikan arahan tentang segala sesuatu yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan terkait profesinya.
2.4.3 Tujuan Kode Etik Profesi
Menurut Sulistyo-Basuki (2001), tujuan kode etik sebenarnya adalah untuk mengatur ruang gerak para profesonal agar memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya dan mencegahnya dari perbuatan yang tidak profesional
Adapun yang menjadi tujuan pokok dari rumusan etika yang dituangkan dalam kode etik (Code of Conduct) profesi adalah :
1. Standar-standar etika menjelaskan dan menetapkan tanggung jawab terhadap klien, institusi, dan masyarakat pada umumnya. Standar-standar etika membantu tenaga ahli profesi dalam menentukan apa yang harus mereka perbuat kalau mereka menghadapi dilema-dilema etika dalam pekerjaan.
2. Standar-standar etika membiarkan profesi menjaga reputasi atau nama dan fungsi-fungsi profesi dalam masyarakat melawan kelakuan-kelakuan yang jahat dari anggota-anggota tertentu.
3. Standar-standar etika mencerminkan / membayangkan pengharapan moral-moral dari komunitas, dengan demikian standar-standar etika menjamin bahwa para anggota profesi akan menaati kitab UU etika (kode etik) profesi dalam pelayanannya.
4. Standar-standar etika merupakan dasar untuk menjaga kelakuan dan integritas atau kejujuran dari tenaga ahli profesi. Perlu diketahui bahwa kode etik profesi adalah tidak sama dengan hukum (atau undang-undang). Seorang ahli profesi yang melanggar kode etik profesi akan menerima sangsi atau denda dari induk organisasi profesinya.
Elviza,H (2009), menyebutkan bahwa tujuan dari kode etik profesi adalah: 1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota. 3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi. 4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi. 6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
2.5` Metode Pendekatan Penelitian
Untuk melakukan penelitian ini, penulis melakukan pendekatan secara kualitatif, dimana menurut Sugiono (2005:221),
Penelitian kualitatif adalah mengkaji perspektif partisipan dengan strategi-strategi yang bersifat interaktif dan fleksibel. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan.
Sedangkan menurut Emzir (2009:28),
Pendekatan kualitatif merupakan salah satu pendekatan yang secara primer menggunakan paradigma pengetahuan berdasarkan pandangan konstruktivist (seperti makna jamak dari pengalaman individual, makna yang secara sosial dan historis dibangun dengan maksud mengembangkan suatu teori atau pola) atau pandangan advokasi/partisipatori (seperti orientasi politik, isu, kolaboratif, atau orientasi perubahan) atau keduanya.
Menurut Sugiono (2005:232), penelitian kualitatif bersifat : 1. Menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data
Penelitian kualitatif menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam suatu situasi sosial merupakan kajian utama penelitian kualitatif. Peneliti pergi ke lokasi tersebut, memahami dan mempelajari situasi. Studi dilakukan pada waktu interaksi berlangsung di tempat kejadian. Peneliti mengamati, mencatat, bertanya, menggali sumber yang erat hubungannya dengan peristiwa yang terjadi saat itu. Hasil-hasil yang diperoleh pada saat itu segera disusun saat itu pula. Apa yang diamati pada dasarnya tidak lepas dari konteks lingkungan di mana tingkah laku berlangsung.
2. Memiliki sifat deskriptif analitik
Penelitian kualitatif sifatnya deskriptif analitik. Data yang diperoleh seperti hasil pengamatan, hasil wawancara, hasil pemotretan, analisis dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk dan angka-angka. Peneliti segera melakukan analisis data dengan memperkaya informasi, mencari hubungan, membandingkan, menemukan pola atas dasar data aslinya (tidak ditransformasi dalam bentuk angka). Hasil analisis data berupa pemaparan mengenai situasi yang diteliti yang disajikan dalam bentuk uraian naratif. Hakikat pemaparan data pada umumnya menjawab pertanyaan-pertanyaan mengapa dan bagaimana suatu fenomena terjadi. Untuk itu peneliti dituntut memahami dan menguasai bidang ilmu yang ditelitinya sehingga dapat memberikan justifikasi mengenai konsep dan makna yang terkandung dalam data. 3. Tekanan pada proses bukan hasil
Tekanan penelitian kualitatif ada pada proses bukan pada hasil. Data dan informasi yang diperlukan berkenaan dengan pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana untuk mengungkap proses bukan hasil suatu kegiatan. Apa yang dilakukan, mengapa dilakukan dan bagaimana cara melakukannya memerlukan pemaparan suatu proses mengenai fenomena tidak dapar dilakukan dengan ukuran frekuensinya saja. Pertanyaan di atas menuntut gambaran nyata tentang kegiatan, prosedur, alasan-alasan, dan interaksi yang terjadi dalam konteks lingkungan di mana dan pada saat mana proses itu berlangsung. Proses alamiah dibiarkan terjadi tanpa intervensi peneliti, sebab proses yang terkontrol tidak akan menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Peneliti tidak perlu mentransformasi data menjadi
angka untuk mengindari hilangnya informasi yang telah diperoleh. Makna suatu proses dimunculkan konsep-konsepnya untuk membuat prinsip bahkan teori sebagai suatu temuan atau hasil penelitian tersebut.
4. Bersifat induktif
Penelitian kualitatif sifatnya induktif. Penelitian kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi dimulai dari lapangan yakni fakta empiris. Peneliti terjun ke lapangan, mempelajari suatu proses atau penemuan yang tenjadi secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan dan melaporkan serta menarik kesimpulan-kesimpulan dari proses tersebut. Kesimpulan atau generalisasi kepada lebih luas tidak dilakukan, sebab proses yang sama dalam konteks lingkungan tertentu, tidak mungkin sama dalam konteks lingkungan yang lain baik waktu maupun tempat. Temuan penelitian dalam bentuk konsep, prinsip, hukum, teori dibangun dan dikembangkan dari lapangan bukan dari teori yang telah ada. Prosesnya induktif yaitu dari data yang terpisah namun saling berkaitan.
5. Mengutamakan makna
Penelitian kualitatif mengutamakan makna. Makna yang diungkap berkisar pada persepsi orang mengenai suatu peristiwa.
2.6 Penelitian Terdahulu
Dalam prakteknya, jarang ditemukan tulisan/artikel/penelitian terkait audit kepatuhan, dikarenakan hamper semua perusahaan memakai jasa auditor internal, atau lazimnya disebut Sistem Pengendalian Internal (SPI) untuk mengevaluasi kepatuhan
terhadap peraturan yang berlaku di perusahaan tersebut. Berikut adalah beberapa penelitian terkait audit kepatuhan.
Badan Pemeriksa Keuangan (2010), BPK akan Audit Kepatuhan terhadap Pembayaran Pajak, yang mengambil objek yaitu peraturan pembayaran pajak oleh BUMN, dimana subjeknya adalah BUMN itu sendiri. Alasan dilakukannya audit kepatuhan ini karena kebanyakan BUMN sering menunggak pajak. Hasil dari audit kepatuhan ini adalah untuk menilai potensi dari penerimaan pajak oleh BUMN, serta kewajiban pembayaran Pajak oleh BUMN sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Inspektorat Jenderal Kementrian Pendidikan (2012), menerbitkan artikel terkait audit kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku. Objek dari penelitian ini adalah peraturan-peraturan yang berlaku di lembaga pendidikan di Indonesia, dan yang menjadi subjeknya adalah lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui apakah peraturan yang berlaku pada lembaga-lembaga pendidikan tersebut sudah sesuai dengan standar peraturan dari Pemerintah.
Fransiska Ginting (2013), membuat sebuah jurnal ilmiah tentang evaluasi atas audit kepatuhan untuk menghindari kredit bermasalah. Yang menjadi objek dari penelitian tersebut adalah pelaksanaan proses penyaluran kredit, dan yang menjadi subjeknya adalah debitur yang menggunakan jasa kredit, dan pihak BNI khususnya SKC Graha Pangeran Surabaya sebagai penyedia kredit. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui apakah proses penyaluran kredit sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku, dan untuk menghitung nilai kredit bermasalah / non performing loans.
Penulis melakukan penelitian terhadap kepatuhan pada PT.Askes (persero) dimana penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya. Penelitian ini berobjek pada kod
etik yang berlaku pada PT Askes (persero) dan yang menjadi subjeknya adalah Sumber Daya Manusia yang terdapat pada PT Askes (persero), dibatasi hanya pada kantor Pusat PT Askes (persero). Hasil penelitian nantinya berupa ketidakpatuhan atas kode etik pada PT Askes (persero) dari tahun 2008-2012 (5 tahun).