DI SLB-B DHARMA WANITA SIDOARJO
SKRIPSI
Diajukan Kepada Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya “Almamater Wartawan Surabaya” untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
dalam Menyelesaikan Program Sarjana Ilmu Komunikasi
Oleh :
NABILA MEGA PUTRI NPM : 16.01.0014
KEKHUSUSAN : BROADCASTING
SEKOLAH TINGGI ILMU KOMUNIKASI ALMAMATER WARTAWAN SURABAYA
iv MOTTO
HAI MASALAH BESAR, AKU PUNYA TUHAN YANG LEBIH BESAR
v ABSTRAK
Nama : NABILA MEGA PUTRI NPM : 16.01.0014
Skripsi dengan judul POLA KOMUNIKASI GURU DAN MURID SMA DI SLB-B DHARMA WANITA SIDOARJO (Studi kasus mengenai Pola Komunikasi antara guru SMA dan murid SMA sebagai informan). Skripsi (S-1), Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi – Almamater Wartawan Surabaya, Kekhususan Broadcasting, April 2020. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola komunikasi serta hambatan komunikasi guru SMA terhadap murid SMA yang memiliki keterbatasan khusus dalam pendengeran (tuna rungu). Kajian pustaka dalam penelitian ini ialah pola komunikasi serta pola komunikasi guru dan murid. Dimana pola komunikasi yang memiliki tiga arah untuk memahami menerapan komunikasi antara guru dan murid. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif, dimana sumber data diperoleh melalui wawancara informan atau narasumber. Subjek dalam penelitian ini ialah dua guru SMA yakni Syaiful sebagai wali kelas XII dan Bambang sebagai wali kelas X, serta dua siswa SMA SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo bernama Nasya dan Imam. Teknik pengumpulan data dengan observasi dan wawancara. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif yaitu data kualitatif yang diperoleh dari wawancara informan dan observasi kemudian akan memberikan gambaran proses komunikasi guru dengan murid. Kesimpulan dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa guru dan siswa SMA di SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo memiliki penerapan pola komunikasi Linear, Primer, dan sekunder serta pola komunikasi guru dan murid dua arah, dan multiarah dalam berkomunikasi terhadap muridnya. Sedangkan dalam hambatan komunikasi dapat disimpulkan bahwa guru dan siswa SMA di SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo kerap mengalami hambatan sosial budaya, prasangka, lingkungan, dan semantis dalam berkomunikasi terhadap murid namun dapat mengatasinya.
vi ABSTRACT Name : NABILA MEGA PUTRI
NPM : 16.01.0014
Thesis with the title HIGH SCHOOL TEACHER AND STUDENT COMMUNICATION PATTERNS AT DHARMA WANITA INCLUSIVE SCHOOL IN SIDOARJO (Case study on Communication Patterns between high school teachers and high school students as informants). Bachelor Degree Thesis, College of Communication Sciences - Alma mater Journalist Surabaya, Broadcasting Specificity, April 2020. This study aims to determine the communication patterns and communication barriers of high school teachers to high school students with particular limitations in hearing (deaf). The literature review in this study is the communication patterns and communication patterns of teachers and students. The communication pattern has three directions to understand the application of communication between teachers and students. This type of research is descriptive qualitative, where the source of the data is obtained through interviews with informants or sources. The subjects in this study were two high school teachers, namely Syaiful as the homeroom teacher for class 12 and Bambang as the homeroom teacher for class 10, and two high school students of Dharma Wanita Inclusive School in Sidoarjo named Nasya and Imam. Data collection techniques by observation and interviews. The technique used in this research is qualitative analysis, namely qualitative data obtained from informant interviews and observations, which will provide an overview of the teacher-student communication process. The conclusion of the study, the teachers and high school students at Dharma Wanita Inclusive School in Sidoarjo have applied Linear, Primary, and secondary communication patterns as well as two-way and multidirectional communication patterns of teachers and students in communicating with their students. Meanwhile, in terms of communication barriers, it can be concluded that teachers and high school students at Dharma Wanita Inclusive School in Sidoarjo often experience socio-cultural, prejudice, environmental, and semantic obstacles in communicating with students but can overcome them.
Keywords: Communication Patterns, Communication Barriers, High School teachers and students, Inclusive School
vii
KATA PENGANTAR
Segala puji stukur atas kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, nikmat, karunia serta hidah-Nya kepada kami sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. Semoga adanya keberkahan untuk digunakan sebagai acuan maupun pedoman bagi pembaca.
Allhamdulillah rabbil allamin, skripsi dengan judul Pola Komunikasi Guru dan Murid SMA di SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo dapat diselesaikan guna memenuhi standart kelulusan Strata-1 Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi – Almamater Wartawan Surabaya.
Proses dari pengerjaan skripsi ini tentunya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Kepada Allah SWT, karena atas kehendak-Nya dalam penulisan ini penulis diberikan kemudaham menghadapi berbagai hambatan dalam proses penulisan.
2. Kepada Ayahanda Suharjito, Ibunda Lilik Nuraini, beserta Kakak Surya Putra Bahari, dan adik saya Rangga Akbar Samudra yang tidak pernah berhenti memberikan dukungan untuk selalu optimis serta do’a yang selalu di panjatkan.
3. Ibu Prida Ariani Ambar Astuti, S.sos, M.Si., Ph.D Selaku Ketua STIKOSA – AWS. 4. Bapak Drs. Mas’ud Sukemi,M.si sebagai Dosen Pembimbing dalam penulisan skripsi 5. Kepala sekolah, seluruh guru, dan siswa-siswi SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo yang
dengan senang hati memberikan penulis ruang sebagai subjek penelitian dalam peroleh data.
viii
6. Seluruh jajaran Dosen STIKOSA-AWS, yang memberikan banyak pengetahuan mengenai Ilmu Komunikasi terutama dalam bidang kekhususan Broadcasting.
7. Seluruh Staf STIKOSA-AWS yang membantu kelancaran proses perkuliahan dan skripsi.
8. Seluruh Angkatan 2016 yang memberikan warna baru dalam cerita perkulihan.
9. Untuk teman-teman yang membantu penulis turut serta dalam observasi sebagai dokumentasi saya ucapkan terima kasih untuk, Nur Shoobihah Rahayu (Mak) , Rizki Amalia (Kinong) , dan Afif Nash.
10. Serta teman-teman perkuliahan Yuniar, Ayu, Mbak.kikik, Desy Iin, Femalda, Rizki Amalia, dan Ade Resty yang selalu memberikan semangat dan hiburan selama mengerjakan skripsi.
11. Teman-teman ZIBFA, Zeze, Ida, Fiqa, Ajeng, yang selalu memberikan dorongan positif dan saran dalam pengerjaan skripsi.
12. Serta teman-teman dekat penulis terlebih Faisal Januar dan Mbak. Rani yang selalu mendoakan dan memberikan dungkungan dalam proses pengerjaan penelitian. Penulis tidak dapat menyampaikan satu per satu.
Akhir kata, dari penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran sangat membantu dalam kesalahan penelitian guna menjadi pedoman yang baik bagi penelitian selanjutnya menggunakan judul yang sama. Semoga bermanfaat bagi mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi. Semoga keikhalasan untuk pihak yang turut membantu penulis dalam proses skripsi dibalas kebaikannya oleh Allah SWT dengan keberkahan yang melimpah.
Surabaya, 23 Maret 2020
ix DAFTAR ISI
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... i
PENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSI ... ii
PERNYATAAN ORISINILITAS ... ii
MOTTO ... iii
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6
1.3.1 Tujuan Penelitian ... 6 1.3.2 Manfaat Penelitian ... 6 1.3.2.1 Manfaat Teoritis ... 6 1.3.2.2 Manfaat Praktis ... 6 1.4 Kajian Pustaka... 7 1.4.1 Pola Komunikasi... 7
1.4.2 Pola Komunikasi Guru dan Siswa ... 8
1.4.3 Hambatan Komunikasi ... 10
1.4.4 Komunikasi Non Verbal ... 12
1.4.5 Komunikasi Anak SLB-B ... 13
1.4.6 Teori Interaksi Simbolik ... 15
1.5 Kerangka Berfikir ... 17
1.6 Metodologi Penelitian Kualitatif ... 18
1.6.1 Metode Riset ... 18
1.6.2 Jenis Penelitian dan Sumber Data ... 19
1.6.3 Teknik Pengumpulan Data dan Pencatatan Data ... 19
1.6.3.1 Teknik Pengumpulan Data ... 19
x
1.6.4 Pemeriksaan Keabsahan Data ... 21
1.6.5 Teknik Analisis dan Interpretasi Data ... 22
BAB II : DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN 2.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ... 23
2.1.1 Sejarah Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Sidoarjo... 23
2.1.2 Sekolah Luar Biasa-B Dharma Wanita Sidoarjo ... 26
2.1.3 Sekolah Menengah Atas SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo ... 32
2.1.4 Bahasa Isyarat ... 33
BAB III : HASIL DAN ANALISIS PENELITIAN 3.1 Penyajian Data ... 37
3.1.1 Teknik Penyajian Data ... 37
3.1.2 Pembahasan Hasil Penelitian ... 38
3.1.2.1 Pola Komunikasi Guru dan Murid di SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo.... 38
3.2 Analisis Data ... 54
3.2.1 Ditinjau dari pola komunikasi : ... 54
3.2.2 Ditinjau dari Hambatan Komunikasi : ... 55
BAB IV : PENUTUP 4.1 Kesimpulan ... 57
4.2 Saran ... 59
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komunikasi antarpribadi (personal) suatu komunikasi yang tidak bisa dianggap remeh, sebab jika ingin melakukan komunikasi antarpribadi kita harus memahami karakter lawan bicara. Beragamnya karakter komunikan menimbulkan perbedaan tanggapan dalam satu topik pembicaraan yang sama. Contohnya, jika komunikator membahas satu topik pembicaraan yang sama kepada komunikan A dan komunikan B jawaban yang diperoleh akan cenderung memiliki pendapat atau respon yang berbeda. Dengan kita memahami karakter dengan lawan bicara, tentunya kita dapat menanggapi dan memahami respon yang diberikan, hal ini untuk mengurangi adanya konflik kesalah pahaman komunikasi (miss communication).
Melihat pengertian diatas bisa disimpulkan bahwa fungsi dari Komunikasi Antarpribadi ialah meningkatkan kedekatan antar komunikator dan komunikan, memahami karakter lawan bicara, dan mencegah terjadinya kesalah pahaman pesan komunikasi. Dengan terjadinya proses komunikasi antarpribadi terbentuknya pula kosep diri dari setiap individu. Konsep diri adalah pandangan dan sikap disetiap individu melalui karakteristik, fisik, dan motivasi diri. Konsep diri terbentuk karena dorongan dari setiap perbedaan lingkungan yang di adaptasi, dengan bertemu berbagai macam karakteristik lawan komunikasi. Bila lingkungan sekitar positif, konsep diri yang terbentuk tentunya menghasilkan individu yang baik, lebih percaya diri dan mudah bersosialisasi dengan siapa saja. Namun sebaliknya, jika lingkungan negatif, konsep diri
yang terbentuk akan menghasilkan individu yang kurang aktif, cenderung diam dan takut bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Komunikasi antarpribadi kini terasa lebih mudah dengan dibantunya teknologi yang semakin berkembang, melalui aplikasi chatting orang akan lebih mudah terbuka karna tidak kesusahan lagi jikalau ingin berkomunikasi. Namun, hal ini tidak semua bisa dilakukan beberapa individu.
Bagaimana dengan mereka para penyandang disabilitas?. Melakukan komunikasi antarpribadi pada lawan bicaranya dan tidak semua dapat berjalan dengan mudah sekalipun dibantu dengan kecagihan teknologi masa kini. Belum lagi dengan orang – orang Indonesia yang lebih memilih pergi ketika diajak berkomunikasi dengan orang disabilitas terutama dengan orang pengidap tuna rungu atau tuna wicara. Mengenai Pendidikan Luar Biasa (PLB) kini tidak berfokus kepada kondisi disabilitas individu, namun lebih kepada kebutuhan dari setiap individu. Kebutuhan yang dimaksud ialah dilihat dari hambatan apa saja yang dialami oleh anak disabilitas. Sehingga sebutan PLB kini diganti dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang diresmikan dalam Undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Mengapa pembelajaran dalam sekolah sangat dibutuhkan ABK?. Karena melihat dari fenomena yang ada tidak semua anak berkebutuhan khusus mendampatkan pembelajaran yang tepat di lingkungan keluarganya. Hal ini dikarenakan kesibukan atau kurang perhatian orang tua terhadap anaknya untuk melakukan komunikasi. Kini belajar untuk memahami bahasa isyarat lebih mudah untuk dipelajari, dengan adanya gerakan atau komunitas yang dengan senang hati membuka kelas bahasa isyarat secara gratis. Dengan ini bisa kita lihat bahwa kini bahasa isyarat sangat penting dan dibutuhkan dalam berkomunikasi.
Peneliti temukan tanpa adanya perbedaan itu disalah satu Sekolah Luar Biasa. Pengertian dari SLB dari kutipan IDN Times ialah sekolah khusus anak – anak
berkebutuhan khusus seperti tuna netra (buta), tuna rungu (bisu, tuli), tuna daksa (cacat tubuh), dan down syndrom. Sekolah Luar Biasa di Indonesia memiliki kesesuaian kebutuhan disabilitas yakni, SLB-A untuk tuna netra, SLB -B untuk tuna rungu, SLB-C tunagrahita, SLB-D tunadaksa, SLB-E tunalaras, dan SLB-G untuk cacat ganda.
Komunikasi adalah hal yang paling penting untuk meningkatkan kualitas berfikir. Seperti yang kita ketahui pada umumnya guru di Sekolah Umum, cukup susah untuk melakukan komunikasi kepada murid-muridnya, faktanya masih ada guru yang membedakan letak bangku murid yang pintar atau rajin dan murid yang kurang pintar atau malas. Hal ini, bisa kita analisa kurangnya penerapan komunikasi secara mendalam dari beberapa murid. Sebab karakteristik dan kadar daya tangkap setiap individu berbeda-beda.
Sekolah yang beralamat di Jalan Pahlawan GG TMP Sidoarjo ini memiliki laman blog (slb-bdharmawanita.blogspot) yang berisikan profil sekolah, denah sekolah, prestasi siswa, dan beberapa gambar kegiatan para siswa. Mereka yang selalu dipandang sebelah mata, yang dianggap tidak bisa melakukan hal-hal yang biasa dilakukan anak normal, tidak di dalam sekolah ini. Karena didorongnya faktor komunikasi yang baik antar guru dan muridnya, serta fasilitas yang diberikan. Hal ini dibuktikan dengan diperolehnya beberapa prestasi dari siswa-siswi SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo dalam bidang akademik maupun non akademik. Sekolah ini tidak hanya untuk penyandang tuna rungu (SLB-B), namun juga ada kategori SLB-A dan SLB-C. Mulai dari Taman Kanak Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Pembelajaran kategori SLB-B diterapkan secara bertahap hingga kemampuan siswa benar-benar bisa dikatakan mampu untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, mempeljari mulai dari bahasa yang mendasar hingga bahasa nasional atau bahasa paten yang sudah diakui.
Alasan peneliti memilih guru dan murid dari SLB-B sebagai subyek, karena ingin mengetahui proses komunikasi dengan murid yang memiliki keterbatasan bahasa dalam menyampaikan pesan baik dalam pembelajaran maupun di luar pembelajaran. Mereka dapat melakukan komunikasi seperti layaknya anak normal, hanya saja tanpa suara. Dapat dengan jelas mengekpresikan apa yang di bicarakan dengan lawan bicara sesama peyandang tuna rungu. Tidak bersuara bukan berarti tidak berkomunikasi. Disamping itu peneliti akan lebih siaga dan berani mengajak berkomunikasi dengan penyandang tuna rungu. Selain itu melihat fenomena dimana guru di sekolah umum kerap mengeluh kesulitan mengatur muridnya, disini Peneliti ingin mengetahui bagaimana guru yang mengajar di Sekolah Luar Biasa membimbing muridnya yang memiliki berkebutuhan khusus terutama keterbatasan dalam pendengaran (tuli).
Peneliti memilih Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Sidoarjo karena selain sekolah ini mencangkup beberapa ABK dari tingkat TK-SMA, sistem dari pembelajaran dalam tingkat kelas cukup berbeda. Siswa digabung dalam satu ruangan pada setiap tingkatan kelas yang sama. Setiap kelas terdapat minimal 2 siswa dan maksimal 5 siswa. Seperti sekolah pada umumnya, setiap hari kamis para guru dan murid di sekolah ini mengenakan baju batik bebas, bukan seragam sekolah. Tergabungnya murid dalam satu ruangan, membuat para guru dapat berinteraksi secara langsung mengenai tumbuh kembang para muridnya. Sekolah ini juga memiliki lingkungan yang bersih, dengan fasilitas bagi siswa/i terutama ruang praktek mata pelajaran kewirausahaan seperi, laboratorium komputer, koperasi, dan tempat pencucian sepeda motor yaang dibuka untuk umum. Mata Pelajaran sebagai pengembangan diri mulai diajarkan kepada siswa di tingkat Sekolah Menengah Pertama, lalu di praktekkan pada jenjang Sekolah Menengah Atas.
Obyek sebagai informan dalam penelitian ini ialah guru wali kelas dari jenjang pendidikan SMA dalam proses wawancara dan observasi. Sedangkan proses wawancara dengan murid sebagai bentuk bukti jawaban dari pertanyaan Guru bahwa adanya bentuk pola komunikasi serta hambatan komunikasi. Siswa yang menjadi informan diwakilkan dua siswa dari jenjang Sekolah Menengah Atas, hal ini dikarenakan proses komunikasi melalui wawancara peneliti dengan informan lebih mudah di tangkap dibandingkan dengan siswa pada jenjang Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Dalam proses wawancara peneliti dengan siswa tetap didampingi salah satu guru untuk menolong ketika adanya kesulitan ketika menyampaikan pertanyaan wawancara.
Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian, salah satunya milik M.Syaghilul Khoir mahasiswa Universitas Islam Negri dengan judul penelitian “Pola Komunikasi Guru dan Murid di Sekolah Luar Biasa B (SLB-B) Frobel Montesorri Jakarta Timur” melalui jurnal online. Penelitian ini dapat dikatakan penting, karena dengan ini kita semua bisa belajar untuk berkomunikasi antar pribadi dengan cara yang benar guna mewujudkan komunikasi yang baik, sekalipun dalam bentuk komunikasi Non Verbal. Adapula manfaat yang bisa dirasakan, kita menjadi dapat memahami orang lain, menepatkan diri pada lingkungan, dan dapat mengintropeksi diri.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pola komunikasi guru terhadap murid SMA di Sekolah SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo?
2.Bagaimana hambatan guru berkomunikasi kepada murid SMA di Sekolah SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui cara komunikai guru SMA di SLB-B Dharmawanita Sidoarjo kepada murid-muridnya.
2. Guna mengetahui hambatan dan cara mengatasi guru SMA di SLB-B Dharmawanita Sidoarjo ketika sedang berkomunikasi kepada murid - muridnya.
1.3.2 Manfaat Penelitian
1.3.2.1 Manfaat Teoritis
1. Diharapkan dapat lebih memahami komunikasi yang baik melalui karakteristik setiap anak.
2. Penelitian ini diharapkan menjadi solusi permasalahan atau kendala hambatan komunikasi melalui teori beserta kajian.
1.3.2.2 Manfaat Praktis
1. Manfaat untuk Peneliti : Mengetahui pola dan hambatan komunikasi guru SMA di SLB-B Dharmawanita Sidoarjo kepada murid-muridnya.
1.4 Kajian Pustaka
1.4.1 Pola Komunikasi
Pola Komunikasi memiliki arti dan makna yang beragam, menurut Kamus Besar Indonesia dapat diartikan sebagai bentuk atau struktur yang tetap. Adapula yang menyebutkam Pola Komunikasi adalah pola hubungann dua orang atau lebih dalam proses pemgiriman dan penerimaan cara yang tepat, sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami (Deddy Mulyana, 2004). Pola komunikasi Model Aristoteles dibagi beberapa macam , yaitu:
a. Pola Komunikasi Primer
Pola komunikasi primer ialah suatu proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan simbol sebagai media komunikasi baik secara verbal atau nonverbal. Lambang verbal yaitu bahasa yang sering kita gunakan secara lisan. Sedangkan nonverbal bahasa berupa simbol atau isyarat dengan menggunakan anggota tubuh yang lain.
b. Pola Komunikasi Sekunder
Proses komunikasi Sekunder adalah proses penyampain pesan oleh komunikator kepada komunikam dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua. Dalam proses pola komunikasi ini berkomunikasi lebih efektif karena adanya teknologi komunikasi yang menjadi alat berkomunikasi. c. Pola Komunikasi Linear
Pola komunikasi linear mengandung komunikasi yang bersifat lurus dalam proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan. Contoh dalam komunikasi ini biasanya terjadi dalam komunikasi tatap muka (face to face), tetapi tidak menutup kemungkinan berkomunikasi melalui media.
Komunikasi ini akan berjalan lancar jika sebelumnya ada perencanaan dalam melakukan komunikasi.
d. Pola Komunikasi Sirkular
Sirkular dapat diartikan bulat dalam terjemahan dari kata “circular”. Dimaksudkan dalam proses komunikasi ini adanya feedback atau umpan balik suatu pesan yang disampaikan komunikan kepada komunikator. Dalam pola komunikasi sirkular tingkat kegagalan dalam berkomunikasi sangat sedikit, mengingat adanya saling berdiskusi antara komikan dan komunikator.
1.4.2 Pola Komunikasi Guru dan Siswa
Komunikasi guru terhadap siswa sangat mempengaruhi daya kembang siswa. Peran seorang guru sangat diperlukan jikalau komunikasi individu tidak berjalan dengan baik dilingkungan rumahnya atau keluarga, dorongan faktor yang menjadikan alasan kurangnya komunikasi antar orang tua dan anak. Berikut 3 jenis pola komunikasi guru terhadap murid menurut Dr.Nana Sudjana (1989):
a. Komunikasi Sebagai Aksi (satu arah)
G
A A A
Jenis komunikasi ini tidak selalu berhasil, sebab daya tangkap yang dimiliki individu berbeda-beda, ada yang dengan mudah memahami maksud penjelasan guru dan sebaliknya. Dimana guru sebagai yang memunculkan aksi dan murid sebagai penerima aksi.
Dapat dicontohkan ketika guru sedang menerangkan pelajaran di dalam kelas.
b. Komunikasi Sebagai Interaksi (dua arah)
G
A A A
Komunikasi dua arah, adanya saling terbukanya antara murid dengan guru dan guru dengan murid. Maksudnya, dalam komunikasi ini guru bukan lagi menjadi penguasa dalam mentransfer ilmu tetapi, murid juga dapat mentransfer ilmu ke guru. Antara guru dan murid akan ada terjadinya dialog yang saling memberi tanggapan dari pesan yang sedang dibahas atau mengalami feedback.
c. Komunikasi Sebagai Transaksi (multiarah) G
A A A
Tingkat kemajuan dalam komunikasi ini meningkat cukup tinggi. Kadar keaktifan siswa meningkat, guru dan siswa dapat berperan menjadi komunikator, dan proses belajar mengajar lebih bervariasi.
Komunikasi banyak arah terjalin antar guru dengan siswa, siswa dengan guru, dan siswa dengan siswa.
Untuk mencegah terjadinya miss communicatiion antar murid dan guru, media yang digunakan untuk menstransfer pembelajaran sangat penting untuk dipertimbangkan. Biasanya guru mrnggunakan media alat peraga atau audiovisual aids (AVA). Namun, beberbeda lagi untuk anak dengan berkebutuhan khusus, guru biasanya menyampaikan pesan dengan bahasa isyarat total, yakni mengunakan gerakan tangan, gerakan bibir, dan mimik wajah untuk menggambarkan susana hati.
1.4.3 Hambatan Komunikasi
Hambatan Komunikasi memiliki beberapa faktor yang mengakibatkan terhambatnya pesan atau informasi yang akan disampaikan, berikut faktor penghambat komunikasi :
a. Status Sosial
Hambatan dalam faktor status sosial yang dimaksud adalah kita tidak mengetahui secara dalam latar belakang komunikan, yang mungkin saja tidak berksinambung dengan kebiasaan kita hingga menimbulkan ketidak cocokkan topik komunikasi.
b. Status Psikologis
Psikologis berhubungan dengan perasaan yang sedang dirasakan, jika tidak bisa mengontrol dengan baik hal ini akan sangat mempengaruhi berkomunikasi. Sama halnya jika perasaan kita sedang marah dengan
seseorang, ketika ingin melakukan komunikasi dengan siapapun (bukan dengan orang yang bersangkutan) amarah kita akan terlampiaskan, tentunya hal ini menimbulkan ketidaknyamanan berkomunikasi.
c. Sosial Budaya
Faktor ini sangat bepengaruh di Indonesia, mengingat keberagaman bahasa, ras, suku, dan budanyanya. Jika komunikator dan komunikan tidak bisa saling memahami terjadinya kegagalan berkomunikasi akan sangat terasa. Disinilah faktor perbedaan budaya seharusnya tidak diperuntukan menjadi topik perundungan di setiap individu. Sudah seharusnya saling memahami dan menghargai perbedaan antar individu.
d. Prasangka
Faktor ini pasti paling sering menjadi hambatan ketika berkomunikasi, pesan yang belum benar adanya menimbulkan prasangka negatif. Hal buruknya akan merujuk kepada perasaan salah sangka yang menyebabkan putusnya komunikasi antar individu. Solusi yang seharusnya mudah diterapkan, menjadi sangat sulit karena prasangka buruk sudah menjadi faktor utamanya.
e. Hambatan Semantis
Faktor hambatan semantis adalah bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan kepada lawan bicara. Contohnya, seperti seorang mengidap tunarungu yang menggunakan bahasa isyarat berkomunikasi dengan orang yang tidak paham dengan bahasa isyarat. Hal ini menjadi faktor utama terhambatnya proses komunikasi.
f. Lingkungan
Penempatan lingkungan ketika melakukan komunikasi perlu diperhatikan. Sebab, jika kita ingin berkomunikasi membicarakan suatu hal yang penting namun lingkungan sekitar ramai kemungkinan besar akan terjadinya hambatan penyampaian pesan antar komunikator dan komunikan. Beda halnya jika ketika kita rapat, menyesuaikan dengan tempat yang lebih tertutup dan nyaman pesan yang akan disampiakan akan lebih mudah tersampaikan. (Mulyana, Deddy. 2016)
1.4.4 Komunikasi Non Verbal
Komunikasi yang dilakukan tidak secara lisan, melalui bahasa isyarat bahasa tubuh, ekspersi wajah, dan simbol-simbol. Berikut adalah bentuk-bentuk dari komunikasi non verbal :
a. Sentuhan
Sentuhan secara non verbal seperti, bersalaman, mencium, mengelus, memukul, dll.
b. Gerakan
Bentuk komunikasi dalam gerakan ialah kontak mata, bahasa tubuh, isyarat, dan ekspresi wajah. Contohnya seperti menganguk ketika ingin mengatakan “iya”, menggeleng ketika menyampaikan kata “tidak”. c. Vokalik
d. Kronemik
Kronemik adalah penggunaan waktu ketika ingin berkomunikasi. Maksudnya, melakukan komunikasi non verbal harus dengan durasi yang tepat agar pesan bisa tersampaikan.
Komunikasi non verbal sangat membantu berkomunikasi dengan orang yang memiliki kekurangan seperti, tuna rungu. Mereka biasanya berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat yang secara universal, namun adapula yang menggunakan secara sederhana supaya lebih mudah memahami biasanya diteruntukan anak usia dini. Bila bentuk-bentuk komunikasi dapat tersampaikan dengan baik, proses ini dapat disebut dengan istilah meaning full, adanya pengertian dari kedua belah pihak. Hal ini diterapkan pula di Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Sidoarjo dalam kelas percoban I (Taman Kanak Kanak) guru menggunakan bahasa isyarat yang sederhana, menggunakan simbol, bahasa bibir, dan ekspresi wajah.
1.4.5 Komunikasi Anak SLB-B
Kini pendidikan pada Sekolah Luar Biasa mulai ditingkatkan dengan baik, bahkan di salah satu Sekolah Dasar Negri bisa menerima anak dengan berkebutuhan khusus atau biasa disebut dengan (ABK). Anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lain yang dibedakan dalam beberapa kategori. Kategori A (tunanetra) keterbatasan dalam indera penglihat, kategori B (tunarungu dan tunawicara) gangguan pendengaran dan gangguan bicara, kategori C (tunagritha) perkembangan kecerdasan yang rendah, kategori D (tunadaksa) gangguan pada unsur motorik lebih pada cacat fisik.
Dari pengertian diatas, Sekolah Luar Biasa-B (SLB-B) termasuk pada kategori anak yang memiliki gangguan pada pendengeran dan kesulitan berbicara. Dalam konteks ini komunikasi yang diberikan kepada siswa kategori B yakni dengan menggunakan bahasa isyarat (non verbal). Ada dua bahasa isyarat yang diterapkan dalam SLB-B yakni, Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang diadopsi dari bahasa isyarat di Negara Amerika yang bernama American Sign Language (ASL). Bahasa Isyarat SIBI menjadi bahasa yang paten karena sudah disebar luaskan oleh Pemerintah Indonesia untuk digunakan Anak Berekebutuhan Khusus (ABK). Selanjutnya ada Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang terbentuk dari komunitas Tuli sendiri karena merasa SIBI kurang fleksibel untuk digunakan berkomunikasi sehari-hari. Bahasa Isyarat Indonesia atau bisa disebut bahasa isyarat daerah karena memiliki sifat yang bebas atau tidak paten, maka disetiap daerah memiliki BISINDO yang berbeda-beda. Bahasa Isyarat Indonesia hanya memiliki ketentuan abjad untuk dijadikann sebagai pedoman, untuk kalimat atau ungkapan yang lain biasanya muncul pada suatu komunitas anak Tuli.
Hal ini pula yang diterapkan oleh guru di SLB-B Dharmawanita Sidoarjo. Peneliti mendapatkan data dimana bahasa isyarat dilakukan secara bertahap dari yang mendasar hingga ke bahasa Isyarat Internasional (SIBI). Menggunakan cara yang lebih sederhana, lebih menegaskan pada gerak tangan, gerak bibir, dan ekspresi wajah. Dengan seiringnya waktu berjalan ketika kenaikan kelas, guru akan lebih meningkatkan bahasa isyarat yang lebih umum (universal) dan dengan tempo yang lebih cepat. Hal ini tentunya dibantu dengan dorongan keinginan setiap individu untuk meningkatkan komunikasinya. Perkembangan dalam kelas SLB-B tidak bisa disamakan, begitupun seharusnya berlaku pada sekolah umum. Jika dirasa murid belum bisa memahami dengan baik, guru tidak akan menaikan
ketahap kelas berikutnya hal ini diperlakukan guna mengurangi hambatan-hambatan komunikasi terhadap lawan bicaranya nanti.
1.4.6 Teori Interaksi Simbolik
Teori interaksi simbolik adalah manusia berinteraksi secara tidak langsung melalui simbol-simbol yang berupa kata-kata, baik secara verbal maupun non-verbal. Kata-kata yang akan menjadi makna karena adanya kesepakatan yang telah di bentuk dari masyarakat itu sendiri (Multialela, Ratu. 2017) . George Herbert Mead salah satu tokoh pencetus Teori Interasksi menyebutkan ada tiga ide dasar interaksi simbolik, berikut penjelasannya :
1. Mind (pikiran)
Kemampuan menggunakan simbol yang memiliki makna sama yang sudah dibentuk dari masyakat. Dalam ide dasar yang pertama ini kemampuan disetiap individu tergantung pada interaksi sosial yang dilakukan individu tersebut.
2. Self (diri sendiri)
Kemampuan untuk menerima diri dari penilaian sudut pandang masyarakat dan pendapat orang lain. Hal ini dimaksudkan agar setiap individu dapat memilah dan berfikir positif mengenai pendapat dari masyarakat mengenai dirinya.
3. Society (masyarakat)
Dalam tahap ini individu mulai mengambil peran ditengah masyarakat, dan setiap individu tersebut terlibat dalam perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela. Peran yang dikembangkan tergantung dari
setiap individu yang infin bersosialisasi secara meluas dengan masyarakat.
Secara keseluruhan Teori Interaksi simbolik ini menjelaskan bagaimana individu dapat terbentuk dari interaksi yang dibentuk dari masyarakat itu sendiri. Dengan memahami masyarakat, seorang individu dapat berada ditengah masyarakat yang membentuk bermacam-macam simbol atau kata yang memiliki makna berbeda-beda, tergantung dimana individu itu berada.
1.5 Kerangka Berfikir
Pola Komunikasi Guru Terhadap Murid SMA di SLB-B Dharma Wanita
Sidoarjo
1. Bagaimana pola komunikasi guru Terhadap Murid SMA di SLB-B
2.Bagaimana hambatan guru ketika berkomunikasi Terhadap Murid SMA di
SLB-B
Pola Komunikasi Guru dan Murid
Metode Deskriptif Analisis Kualitatif
ANALISIS
SIMPULAN
1. Komunikasi sebagai Aksi (satu arah) 2. Komunikasi sebagai Interaksi (dua arah) 3. Komunikasi sebagai Transaksi (multiarah) Hambatan Komunikasi Gurudan Murid 1. SOSIAL BUDAYA 2. PRASANGKA 3. LINGKUNGAN (KELUARGA) 4. SEMANTIS
1.6 Metodologi Penelitian Kualitatif
Metode berasal dari bahasa Yunani “Methodos” yang berarti cara atau jalan yang ditempuh menyangkut penelitian menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan dengan teori. Menurut Rosdy Ruslan (2003:4) Metode merupakan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan suatu cara kerja (sistematis) untuk memahami suatu subjek atau objek penelitian, sebagai upaya untuk menemukan jawaban yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan termasuk keabsahannya.
Pengertian dari Penelitian adalah Proses pengumpulan informasi untuk mengembangkan suatu penyelidikan atau kelompok penyelidikan. Menurut Tuckman =>Penelitian merupakan suatu usaha yang sistematis untuk menemukan jawaban ilmiah terhadap suatu masalah (a systematic attempt to provide answer to question). Sistematis artinya mengikuti prosedur atau langkah-langkah tertentu. Jawaban ilmiah adalah rumusan pengetahuan, generaliasi, baik berupa teori, prinsip baik yang bersifat abstrak maupun konkret yang dirumuskan melalui alat primernya yaitu empiris dan analisis. Penelitian itu sendiri bekerja atas dasar asumsi, teknik dan metode.
Metode yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah metode Kualitatif,yakni metode yang lebih menekankan aspek pemahaman secara mendalam terhadap suatu permasalahan.
1.6.1 Metode Riset
Metode riset dalam penelitian guna mendapatkan data, peneliti menggunakan metode Deskriptif Analisis melalui pendekatan kualitatif. Penelitian Kualitatif bersifat deskriptif ialah mendiskripsikan suatu obyek, fenomena, atau setting social yang akan dituangkan dalam tulisan yang bersifat naratif. Penulisan data berbentuk
kata arau gambar dan laporan data didapat melalui data yang valid dari hasil lapangan. (Bogdan and Biklen (1982:27-29))
Menurut Wibowo metode deskriptif kualitatif memiliki 4 tuntutan bagi peneliti untuk memperkuat data penelitian yakni, peneliti dituntu memiliki daya analitis yang kritis, mampu menghindari bias, memiliki naluri untuk memperoleh data yang absah, dan mampu berpikir secara abstrak dimana dimaksudkan, peneliti sudah membangun pandangan akan hal yang akan di teliti.
1.6.2 Jenis Penelitian dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang peneliti dapatkan dalam penelitian ini ialah data primer. Data Primer merupakan alternatif lain dari data sekunder, data asli dari sumbernya yang dikumpulkan sendiri oleh periset (Istijanto, M.M., M.Com, 2005:32). Data Primer yang peneliti dapatkan melalui observasi langsung dilapangan dengan melihat secara langsung pola komunikasi dalam mengajar. Melakukan wawancara langsung dengan wali kelas Kelas Sekolah Menegah Atas. Kemudian peneliti juga akan melakukan wawancara kepada siswa/i Sekolah Menengah Atas.
1.6.3 Teknik Pengumpulan Data dan Pencatatan Data
1.6.3.1 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini peneliti melakukan beberapa teknik pengumpulan data, guna memperoleh gambaran yang jelas mengenai pola komunikasi guru
terhadap murid SMA dalam SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo. Maka teknik pengumpulan data yang peniliti akan lakukan sebagai berikut :
1. Observasi
Observasi adalah penelitian yang dilakukan langsung ditempat oleh peneliti untuk memperoleh dan mengumpulkan data yang akurat. Peneliti melakukan Observasi bertujuan untuk mengetahui secara langsung pola komunikasi yang diterapkan oleh guru SMA yang mengajar di SLB-B Dharmawanita Sidoarjo yang terletak di Jalan Pahlawan, RW.06 Sidokumpul, Sidoarjo. Peneliti bertujuan untuk mengobservasi tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Peneliti akan mengamati di beberapa kali pertemuan observasi mengenai cara berkomunikasi dan hambatan guru ketika berkomunikasi serta solusi untuk mengatasinya. 2. Wawancara
Peneliti akan mencari informasi mengenaai data yang dibutuhkan dari beberapa infoman yang berhubungan dalam penelitian ini dengan memberikan pertanyaan yang berkesinambung dengan penelitian. Pertanyaan yang akan diajukan ialah mengenai penerapan pola komunakasi guru terhadap murid yang memiliki keterbatasan khusus dalam pendengaraannya (tuna rungu dan tuna wicara). Peniliti juga akan mengajukan pertanyaan mengenai hambatan komunikasi apa yang kerap terjadi dalam komunikasi guru terhadap muridnya, dan bagaimana cara mengatasi hambatan tersebut. Dalam proses wawancara peneliti menggunakan buku catatan, telepon seluler guna merekam percakapan wawancara, dan kamera sebagai dokumentasi. Informan yang dituju dalam pengumpulan data ialah :
a. Guru tingkat Sekolah Menengah Atas b. Perwakilan siswa/i tingkat SMA
c. Waktu Penelitian di laksanakan mulai bulan Desember 2019 hingga Maret 2020, lokasi penelitian di kota Sidoarjo.
1.6.3.2 Teknik Pencatatan Data
Sebagai pedoman peneliti dalam melakukan wawancara, peneliti menggunakan teknik pencatatan data wawancarar sebagai berikut :
1. Peneliti melakukan wawancara dengan menggunakan tape recorder melalui telepon seluler guna mempermudah proses wawancara dengan informan. Selain itu, peneliti juga menggunakan catatan sebagai menulis poin-poin terntentu yang dapat diambil sebagai inti sari dari pertanyaan yang diajukan oleh peneliti.
2. Jika dalam situasi tertentu tape recorder tidak dapat digunakan karena rusak atau error, catatan wawancara menjadi alat utama sebagai hasil dari wawancara dengan informan.
1.6.4 Pemeriksaan Keabsahan Data
Salah satu Keabsahan Data yang digunakan peneliti demi mendapatkan data yang ingin diperoleh ialah dengan melakukan triangulasi. Teknik pemeriksaan yang digunakan ialah Tringulasi data, menggunakan berbagai sumber data seperti dokumen, arsip, hasil wawancara, hasil observasi dan mewawancarai lebih dari satu subjek yang dianggap memiliki sudut pandang yang berbeda (Patton, Sulistiany, 1999)
1.6.5 Teknik Analisis dan Interpretasi Data
Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan data kualitatif. Data Kualitatif adalah hasil pengamatan terhadap hasil dari pengumpulan data, seperti observasi, wawancara, dan narasi-narasi. Teknik analisi data yang akan dilakukan secara kualitatif dalam menguraikan mengenai Pola Komunikasi Interpersonal dalam bentuk non verbal guru SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo kepada muridnya.
Miss communication adalah masalah yang sering terjadi dalam komunikasi guru dengan murid, terkadang murid belum bisa memahami simbol atau isyarat yang diberikan oleh gurunya, alhasil guru akan mengulanginya hingga murid benar-benar memahaminya. Hal ini terjadi karena beberapa murid kurangnya terapan komunikasi dilingkungan rumahnya, disebabkan sibuknya orangtua yang akhirnya jarang melakukan interaksi. Namun kebanyakan siswa akan secara perlahan memiliki dorongan sendiri dalam dirinya untuk meningkatkan komunikasi, biasanya murid akan merasa malu dengan teman-temannya yang lebih dulu naik kelas sehingga ingin mengejar. Rasa keinginan berkomunikasi dengan baik dengan lawan bicara juga salah satu menjadi motivasi untuk lebih berani memahami bahsa isyarat.
23 BAB II
DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN
2.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
2.1.1 Sejarah Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Sidoarjo
Peniliti mendapatkan data mengenai Sejarah Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Sidoarjo oleh salah satu guru, Bu. Nasukah yang sudah mengabdi dari tahun 1987 dalam lingkup sekolah. Peneliti menuliskan menurut sudut pandang beliau mengenai proses perkembangan dalam SLB Dharma Wanita Sidoarjo.
Sebelum mendirikan Sekolah Luar Biasa (SLB), Yayasan Dharma Wanita sudah banyak mendirikan beberapa sekolah yang tersebar di Kabupaten Sidoarjo baik dari tingkat Taman Kanak Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Perlu diketahui tidak semua Sekolah Luar Biasa memberikan fasilitas setiap anak yang memiliki berkebutuhan khusus menurut kategorinya. SLB bagian (A) untuk anak yang memiliki berkebutuhan khusus tunanetra atau keterbatasan dalam
penglihatannya. SLB bagian (B) untuk anak tunarungu dan tunawicara, SLB bagian (C) untuk anak tunagrahita atau anak yang memiliki keterbatasan dalam perkembangan mentalnya. SLB bagian (D) untuk tunadaksa atau anak yang mengalami kelainan fisik dalam anggota gerak seperti tulang, otot, dan sendi. SLB bagian (E) tunalaras (gangguan perliaku dan emosi), SLB bagian (G) untuk anak disabilitas Ganda.
Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Sidoarjo dibangun adanya pergerakan dari ibu-ibu Dharma Wanita bersama Wali Kota Sidoarjo yang mempunyai tujuan ingin mengentaskan Anak-anak Bekebutuhan Khusus (ABK) agar terpenuhi dalam jenjang pendidikannya seperti anak normal pada umumnya. Awal berdirinya SLB A, B, dan C Dharma Wanita Sidoarjo didirikan menjadi satu gedung di daerah Lebo, Sidoarjo. Melihat adanya timbal balik (feedback) yang baik dari orang tua terhadap perkembangan dalam pendidikan, SLB Dharma Wanita Sidoarjo memperluas cakupannya dengan cara memisah lokasi Sekolah menurut kategori guna memperluas ruang kelas.
Sekolah Luar Biasa kategori (B) pindah di salah satu Gedung Olahraga Sidoarjo, untuk SLB-A di salah satu gedung Panti Asuhan Sidoarjo. Pada tahun 1988 Dharma Wanita Sidoarjo memutuskan untuk dijadikan dalam satu digedung baik Sekolah Luar Biasa kategori A dan B yang hingga kini terletak di Jl.Pahlawan, Sidokumpul, Kab.Sidoarjo. Sama halnya dengan sekolah lain, SLB Dharma Wanita Sidoarjo turut mengalami proses perkembangan sekolah, baik dalam segi fasilitas, pertambahan jumlah murid, mengembangkan tingkat pendidikan dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), dan peningkatan mata pelajaran ketrampilan guna mengetahui dan menambah tingkat kreatifitas siswa.
Pada tahun 1991 demi melanjutkan usai kelulusan di tingkat Sekolah Menenang Atas (SMA) dalam dunia kerja, SLB Dharma Wanita Sidoarjo khususnya Kategori (B) melakukan kerja sama dengan pihak Maspion untuk ketersediaan penerimaan ruang kerja bagi pegawai dengan Keterbatasan Khusus tunarungu/tunawicara. Keraguan guru akan melepaskan murid-muridnya dalam dunia kerja sempat diresahkan, karena melihat jam kerja selama 12 jam dan kekhawatiran mengenai lingkungan kerja. Namun, rasa keraguan guru terbantahkan melihat rasa nyaman yang dirasakan siswa/i SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo dalam dunia kerja, karena lingkungan dapat menerima mereka dengan baik, dan pihak perusahaanpun tidak pernah membedakan dari jumlah gaji maupun pekerjaan, semua dipukul sama rata.
Setelah berkembangnya zaman, dalam ruang pekerjaan pihak sekolah memperluas kerja sama antar perusahaan yang tersebar di Kabupaten Sidoarjo hingga di luar Sidoarjo seperti, Gresik, Margomulyo, dan Pasuruan. Tidak hanya bekerja di beberapa perusahaan yang sudah bekerja sama dengan pihak sekolah, beberapa murid memilih untuk membuka usaha sendiri seperti, menjahit dan membuka rumah makan.
Hingga sampai saat ini Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Sidoarjo selalu mengutamakan pada siswa/i untuk menerapkan sikap jujur dan bertanggung jawab sejak dini. Hal ini dikatakan Bu. Nasukah, “bahwa kecerdasan dan kreatifitas anak akan dapat berkembang dalam proses pengembangan diri karena mereka memiliki hasil perkembangan yang berbeda-beda, namun lain halnya sikap tanggung jawab dan jujur yang kami lebih utamakan untuk jenjang kedepannya”.
2.1.2 Sekolah Luar Biasa-B Dharma Wanita Sidoarjo
Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita memiliki ragam Disabilitas Pendidikan dari kategori A, B, C. Dalam penelitian ini, peneliti memilih melakukan penelitian Disabilitas Pendidikan Kategori B yakni anak berkebutuhan khusus dalam pendengarannya atau biasa disebut tunarungu dan tunawicara. Tingkatan dalam SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo mulai dari Kelas Percobaan atau sama dengan Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Guru menempatkan murid dalam kategori kelas menurut dari kemampuan setiap individu, jika sekiranya kemampuan individu dirasa lebih tinggi dibandingkan individu lain, murid tersebut dapat langsung dikategorikan ditingkatan kelas yang lebih tinggi.
Mata pelajaran yang diberikan dalam SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo sama dengan halnya mata pelajaran di sekolah pada umumnya, dengan beberapa tambahan mata pelajaran Kewirausahaan guna mengasah dan meningkatkan kreatifitas murid. Seperti tata boga, menjahit, sablon, pencucian motor dan koperasi milik sekolah. SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo memliki Visi & Misi sendiri untuk membentuk tujuan dalam mengembangkan Sekolah Luar Biasa pada kategori B, yang berbunyi sebagai berikut :
VISI :
Sekolah dengan lingkungan belajar mampu mengembangkan potensi peserta didik secara maksimal agar dapat hidup mandiri dan berakhkal terpuji.
MISI :
1. Mengembangkan sikap dan perilaku religius di lingkungan dalam dan luar sekolah.
2. Mengembangkan budaya disiplin, jujur, kerja keras, bertoleransi, bekerja sama, saling menghargai, kreatif, dan mandiri.
3. Menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, komunikatif, dan demokratif.
4. Menambahkan kepedulian sosial dan lingkungan cinta damai, dan semangat kebangsaan
Sekolah yang memiliki luas tanah 3.108 meter persegi ini memiliki fasilitas yang cukup baik. Halaman yang bersih dan memiliki alat bermain seperti ayunan dan prosotan mengingat adanya tingkat kelas percobaan dan Mushollah untuk beribadah para murid dan guru. Guna meningkatkan dalam pelajaran Kewirausahaan sekolah ini memiliki fasilitas laboratorium komputer untuk kelas desain gravis, koperasi guna mempraktekan jual beli bagi murid, dan pencucian sepeda motor yang dibuka untuk umum. Berikut struktur organisasi SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo tahun 2019-2020 :
Yayasan
Ny. Hj. Siti Sulandjari, M.Si
Kepala Sekolah
Muchlisina Fatmayanti, M.Pd Wakil Kepala Sekolah
Endang Sulistyorini, S.Pd Bendahara Ninik Susiati, S.Pd Kaur Sarpras Hendro Pratono, S.Pd Guru Kelas & Guru Mapel
Komite Sekolah Luluk Farida Kaur Kurikulum Evi Ernawati, S.Pd Kaur Kesiswaan Drs. Syaiful Bahri Kaur Humas Nurul Hidayah, S.Pd Wali Kelas & Guru Mapel
Tenaga Ahli Siswa TKLB Siswa SDLB Siswa SMPLB Siswa SMALB Dokter THT Psikolog Speech Terapist BK Pustakawan Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 4 Kelas 5 Kelas 6 Persiapan 1 Persiapan 2 Kelas 7 Kelas 9 Kelas 8 Kelas 10 Kelas 11 Kelas 12 Dinas Pendidikan
Prov. Jatim Wil. Sidoarjo
Kelas Khusus
Kelas Khusus
Kelas Khusus Ka.Tenaga Admin
Berikut data guru dan siswa SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo : Tabel II.5 NO . NAMAGURU/ NIP PENDIDIKAN TERAKHIR JABATA N 1. MUCHLISINA FATMAYANTI,S.P.d S1 TARI Kepala sekolah 2. ENDANG SULISTYORINI,S.Pd NIP: 19641003 198612 2 001 SI PLB Wakil Kep.sek 3. SRI MULYANI NIP: 19580804 198308 2 002 SGPLB Guru 4. Drs. SYAIFUL BAHRI NIP: 19620301 199203 1 007 SI PLB Guru 5. Sri Wijayati, S.Pd 19630421 198603 2 013 SI PLB Guru 6. MUNJAYANAH SGPLB Guru
NIP: 19631210 198603 2 015 7. NASUKAH NIP: 19641203 198703 2 006 SGPLB Guru 8. YUNAENI S.Pd NIP: 19720802 200801 2 017 SI PLB Guru 9. NINIEK SUSIATI,S.Pd NIP: 19691004 199501 2 001 SI PLB Guru 10. SOEBIDAH S.Pd NIP: 19690126 200701 2 008 SI PLB Guru 11. NURUL HIDAYAH,S.Pd NIP: 19671223 200009 2 002 SI PLB Guru 12. TUNINGTYAS HARIYANI NIP: 19650812 200012 2 001 SI PLB Guru 13.
WAHYUNI SRI INDARTI S.Pd
14. SITI ASMUNAH, S.Pd SI MAT Guru
15. EVI ERNAWATI, S.Pd SI PLB Guru
16. HENDRO PRATONO, S.Pd SI PPKN Guru
17. KARINA CHESARIA, S.Pd SI SEJARAH
Guru / Tata Usaha
18. AGUS HIKMAWAN, S.Pd SI PTB Guru
19.
WIDI AGUNG
PRASETYAWAN,S.Th.I
SI Guru
20. SISKA ASTRINI DEWI S1 Bhs. Ing Guru
21. BAMBANG SULISTIONO, S.Pd S 1 Bhs & Seni Guru 22 M. IVAN SETIAWAN, S.Pd S 1 Penjas Orkes Guru 23
EKA BOMA REZI ANGGARA
SMA ( Masih Kulia )
Guru
25 DIYAH AYU PRIHATININGRUM D1 Desain Grafis Koperasi Sekolah 26 NURIL HERNAWATI SMK Tata Usaha
2.1.3 Sekolah Menengah Atas SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo
Pada tingkat SMA siswa melakukan kegiatan yang sama dengan tigkat kelas yang lainnya, seperti baris, berhitung, dan memimpin doa sebelum melakukan pembelajaran. Pembelajaran dimulai pukul 07.30 WIB hingga pukul 12.00 WIB, mata pelajaran Kewirausahaan di tingkat SMA lebih ditingkatkan dalam praktek. Siswa mempraktekan dengan membuka jasa pencucian motor untuk orang umum, dan menjalankan koperasi sekolah, adapula yang membuat desain di kombinasikan dengan mug gelas.
Siswa yang telah lulus dari jenjang Sekolah Menengah Atas akan dibantu pihak sekolah jika ingin meneruskan dalam jenjang pekerjaan, seperti yang sebelumnya dijelaskan dalam latar belakang, SLB-B Dharma Wanita bekerja sama dengan beberapa perusahaan yang dapat menerima pekerja dari Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Jumlah keseluruhan untuk SMA ialah 23 siswa/i dari kelas 11 hingga 12.
Tabel II.4 : Data Siswa Kelas Menengah Atas Kelas Jenis Ketunaan Jenis Kelamin Jumlah L P 10 B 2 4 6 11 B 3 1 4 12 B 3 1 4 Jumlah 14 2.1.4 Bahasa Isyarat
Pengertian Bahasa insyarat adalah bahasa yang menggunakan abjad jari yang telah dipatenkan secara Internasional, dapat diingat namun tidak semua bahasa atau ungkapan dapat di isyaratkan. Indonesia memiliki dua bahasa isyarat yang dapat digunakan dalam berkomunikasi, baik dengan sesama penyandang tuli maupun dengan orang yang tidak penyandang ketulian yakni, Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI), Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Menurut Jati Atmaja dalam pengenalan konsep bahasa disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak dalam perkembangan usianya :
a. Usia 0-6 tahun
Pada usia ini konsep belajar yang diterapkan ialah pengenalan bahasa isyarat bentuk- bentukan angka dan huruf, tidak memfoskuskan pada pemahaman kata-kata yang cenderung masih terasa berat.
b. Usia 6-10
Konsep belajar dalam usia ini mengalami peningkatan dengan dikenalkan konsep kata-kata dasar yang menggunakan gambar tunggal yang mempersentasikan satu kata.
c. Usia 10-12
Anak tunarungu dalam usia ini sudah dianggap mampu mengenali bentuk-bentuk gambar dan menceritakan objek dengan menggunakan kalimat yang sederhana. Anak sudah dikatakan mampu memproduksi kalimat dengan menggunakan sususan bahasa Indonesia yang benar, yaitu dengan struktur SPOK (Subjek Predikat Objek Keterangan).
d. Usia 12-16 tahun
Pada usia remaja ini anak tunarungu sudah memiliki banyak pengalaman belajar berbahasa sehingga mempunyai banyak kosakata baru dan sudah mampu memahami kalimat-kalimat dalam sebuah paragraf dengan baik. Faktor lingkungan yang menjadi salah satu pendorong bagi anak tunarungu pada usia ini untuk selalu mengasah untuk memproduksi kosakata baru.
e. Usia 16 tahun ke atas
Konsep berbahasa dalam usia ini tentunya berkembang dengan pesat dan hanya perlu ditekankan pada kalimat-kalimat kiasan dari interaksi dengan orang lain yang tidak menderita tunarungu. Ketrampilan anak pada usia ini tergantung
pada setiap individu mendalami komunikasi terhadap lawan bicara baik sesama tunarungu maupun dengan anak tidak menderita tunarungu.
Gambar II.1 : abjad dalam SIBI
Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) diadopsi dari bahasa isyarat yang di gunakan di Negara Amerika yang bernama American Sign Language (ASL). SIBI biasanya digunakan untuk berkomunikasi antar penyandang tunarungu dan tunawicara, karena bahasa yang digunakan bersifat tetap atau tidak dapat diubah. SIBI diciptakan guna mengajarkan Bahasa Indonesia dalan bentuk gerakan tangan yang disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). Pemerintah menerbitkan dan menyebarluaskan Kamus SIBI sudah sejak tahun 2001 melalui Sekolah Luar Biasa, khusunya kategori (B) untuk siswa penyandang tunarungu dan tunawicara.
Isyarat yang digunakan dalam SIBI terkadang cukup sulit jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari atau sekedar melakukan komunikasi dengan teman dekat, SIBI biasa digunakan untuk guru ketika menyampaikan materi pelajaran didalam kelas.
Isyarat SIBI cukup sulit digunakan dikarenakan terlalu baku dan kurang flesikbel gunakan dalam berkomunikasi sehari-hari.
Gambar II.2 : abjad dalam BISINDO
Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dicetuskan oleh Ketua DPP PERTRI yakni, Dimyati Hakim yang melakukan suatu penelitian mengenai bahasa isyarat bagi penyandang tunarungu, yang memiliki 3 unsur utama yaitu, kecepatan, keringkasan, dan kepahaman. BISINDO sendiri memiliki pengertian bahasa isyarat yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari, dan dikatakan sesuai dengan budaya tuli di Indonesia.
Bahasa Isyarat Indonesia dipraktekan secara berbeda-beda disetiap daerah di Indonesia, hal ini dikarenakan BISINDO bukan bahasa yang paten atau dapat diubah sesuai dengan kebutuhan, walaupun memiliki isyarat abjad BISINDO dapat menggunakan bantuan gerakan tubuh, isyarat, dan gerak bibir untuk menngartikan suatu kalimat. Bahasa Isyarat ini lebih mudah jika digunakan berkimunikasi dengan orang yang memiliki pendengaran normal (teman dengar).
37 BAB III
HASIL DAN ANALISIS PENELITIAN
3.1 Penyajian Data
3.1.1 Teknik Penyajian Data
Penelitian ini dilakukan di Sekolah Luar Biasa – B Dharma Wanita Sidoarjo yang terletak di Jalan Pahlawan, Kabupaten Sidoarjo. Subjek dalam penelitian ini yang dipilih untuk dijadikan sebagai informan ialah guru dan siswa SMA SLB-B Dharma Wanita. Dalam penelitian ini, Peneliti ingin mengetahui Pola komunikasi apa yang digunakan dalam berkomunikasi serta Hambatan Komunikasi apa yang kerap terjadi kepada guru terhadap murid-muridnya.
Data yang diperoleh melalui depth interview (wawancara mendalam) dengan informan guru Sekolah Menengah Atas. Peneliti turut melakukan wawancara dengan murid SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo tingkat Sekolah Menengah Atas, sehingga peneliti juga dapat mengamati secara langsung dan mendapatkan data secara akurat sesuai dengan rumusan masalah dalam penelitian. Setelah seluruh data yang sudah diperoleh, peneliti akan menyajikan hasil penelitian secara deskriptif serta dianalisis secara kualitatif sehingga memperoleh jawaban dan kesimpulan yang berhubungan dari permasalahan yang diangkat.
3.1.2 Pembahasan Hasil Penelitian
3.1.2.1 Pola Komunikasi Guru dan Murid di SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo
Wawancara yang dilakukan kepada informan-informan yang sudah ditentukan sebelumnya, peneliti ingin mengetahui pola komunikasi apa yang diterapkan guru kepada murid-muridnya yang memiliki keterbatasan khusus dalam pendengarannya (tuli). Wawancara ini difokuskan pada Pola Komunikasi Primer, suatu proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan simbol sebagai media komunikasi baik secara verbal atau nonverbal. Pola Komunikasi Sekunder, proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua, kemudian ada Pola Komunikasi Linear, yang memiliki pengertian komunikasi yang bersifat lurus dalam proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan. Serta Pola Komunikasi Sirkular, yang dimaksudkan dalam proses komunikasi ini adanya feedback atau umpan balik suatu pesan yang disampaikan komunikan kepada komunikator.
Hasil penelitian menurut pola komunikasi guru dan murid yakni, Pola Komunikasi Aksi (satu arah), dimana murid menangkap atau menerima aksi yang dimunculkan dari guru. Pola Komunikasi Interaksi (dua arah), adanya saling terbukanya antara murid dengan guru, dan sebaliknya. Kemudian yang terakhir Pola Komunikasi Multiarah (tiga arah), dimana dalam pola komunikasi ini guru dan murid saling berkomunikasi, lebih aktif berdiskusi satu sama lain. Kemudian jika dilihat dari hambatan komunikasi, berikut adanya
beberapa hambatan komunikasi yang dialami dalam penelitian. Hambatan Sosial Budaya, dimana adanya faktor perbedaan penggunaan alat komunikasi atau yang bisa dilihat dalam penelitian ini ialah bahasa isyarat, penggunaan bahasa isyarat yang berbeda memungkinkan timbulnya kesalahan dalam menyampaikan pesan. Kemudian ada Hambatan Prasangka, dalam hambatan ini contoh kasus yang kerap terjadi ialah ketika guru memberikan intruksi kepada murid, namun murid salah menangkap isi pesan yang mengakibatkan timbulnya kesalah pahaman antar guru dan murid. Hambatan Lingkungan, peneliti lebih mengambil pada sudut pandang lingkungan dalam keluarga yang berpengaruh pada komunikasi murid, dan Hambatan Semantis yang dapat terjadi ketika murid yang menghidap tuna rungu memiliki lawan bicara yang memiliki pendengar normal.
3.1.2.1.1 Pertanyaan untuk Informan Pertama (Guru SMA)
Nama : Bambang Sulistiono, S.Pd Wali Kelas : X SMA
Bambang Sulistiono guru Bahasa.Inggris sekaligus wali kelas sepuluh SMA. Beliau merasakan perkembangan pola komunikasi semakin meningkat dalam tingkat Sekolah Menengah Atas. Guru yang berusia 47 tahun ini merasakan kecerdasan para siswa/i nya dalam ketanggapan menerima pesan dari guru, begitu pula komunikasi antara murid dengan murid ketika melakukan diskusi mengenai pelajaran yang sebelumnya sudah dijelaskan oleh beliau. Keinginan murid untuk bertanya mengenai pelajaran, tetap adanya dorongan dari guru yang mengawali pertanyaan mengenai pemahaman pelajaran. Murid lebih sering melakukan komunikasi secara interpersonal dengan guru mengenai
pelajaran, bukan pada masalah pribadi. Jika bahsa isyarat menjadi hambatan dalam berkomunikasi, alternatif yang dilakukan oleh murid kepada guru dan sebaliknya yakni menggunakan bahasa tulisan. Selama 15 tahun mengajar, beliau merasa sangat terkesan dan tertantang untuk mengajar siswa/i dan membentuk karakter yang banyak dikatakan berkebutuhan khusus atau anak istimewa yang harus di perlakukan dengan istimewa.
Tabel III : Pertanyaan Guru Sekolah Menengah Atas (SMA)
NO PERTANYAAN
(Peneliti)
JAWABAN
(informan)
ANALISIS
1. Tolong ceritakan kegiatan para murid dari sebelum memasuki kelas hingga pulang sekolah
Kegiatan anak-anak lumrah seperti anak sekolah yaitu berbaris, ada guru yang mendampingi ke depan. Setelah itu masuk berjabat tangan ke kelas masing-masing, setelah itu duduk, habis duduk salah satu dari murid mewakili untuk memimpin do’a, setelah itu dimulailah pembelajaran.
2. (Pola Komunikasi Primer)
Mata Pelajaran apa saja yang diajarkan di dalam kelas? Bagaimana proses penerapan
Mata pelajaran seperti biasa, tapi karena ini SLB jadi ditekankan di ketrampilan. Untuk menjelaskan mata pelajaran karena anak-anak ini
Dalam penerapan Pola Komunikasi Primer, menerapkan Bahasa Isyarat dan Bahasa
ketika sedang menjelaskan mata pelajaran kepada murid?
tunarungu tidak bisa mendengar, otomatis yang kita pakai selain bahasa isyarat juga bahasa tulis. Jadi lebih banyak bahasa isyarat dan bahasa tulis yang mereka mampu cernah, dan mampu diterima.
Tulis sebagai proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan.
3. (Pola Komunikasi 2 Arah)
Apakah ada interaksi antara guru dengan murid ketika pelajaran berlangsung?
Allhamdulilah sampai dengan hari ini penerapan interaksi antara guru dengan murid itu berjalan, cuman memang ada kendala bagaimana cara anak itu bisa bertanya sementara anak-anak untuk mengucapkan pertanyaan pun gabisa, otomatis kita membuat mekanisme bagaimana caranya dengan harapan apa yang mbak maksudkan bisa tercapai yaitu dengan cara bahasa tulis, kan beda dengan anak normal yang bisa “pak ini apa?” kayak gitu. Biasanya dia maju atau angkat tangan untuk menyampaikan apa maksudnya gitu.
Penerapan Pola
Komunikasi 2 Arah,
diterapkan murid
dengan maju ke depan
untuk menanyakan
pertanyaan mengenai
pembelajaran yang
belum di pahami.
4. (Pola Komunikasi Kebanyakan WA, karena memang kita ada grup, kita buat semacam
Murid dan guru menerapkan Pola
Sekunder)
Bagaimana cara komunikasi murid kepada guru melalui teknologi?
grup untuk anak-anak dan guru, jadi komunikasinya ada disana.
Komunikasi Sekunder dengan berkomunikasi melalu aplikasi WhatsApp. 5. (Pola Komunikasi Multiarah)
Bagaimana cara guru meningkatkan komunikasi siswa dengan siswa dalam berdiskusi mengenai mata pelajaran?
Sampai hari ini yang saya tahu, anak-anak itu sudah cerdas bisa
mengkondisikan. Kita buat grup di kelas untuk membahas suatu topik, nah dari itu timbulah komunikasi. Jadi kadang kalau misalkan nyalahin temannya itu sambil pakai bahasa isyarat bilang “bukan” gitu. Kadang sampai kita gurunya sendiri gapaham tapi yang penting proses belajar mengajar tadi sudah terlaksana.
Pola Komunikasi Mutliarah diterapkan murid antar murid dengan membuat kelompok kecil untuk berdiskusi membahas topik pembelajaran.
6. (Pola Komunikasi Linear)
Apakah guru kerap menerapkan komunikasi
Kalau face to face itu lebih banyak guru yang mendahului. Jadi kalau murid ya karena terbatasannya dalam berkomunikasi, jadi anak-anak
Guru kerap melakukan Pola Komunikasi Linear dengan cara tatap muka jika murid
secara personal (face to face) kepada murid? Biasanya mengenai hal apa?
cenderung tidak bisa
mengungkapkan. Memang harus guru yang mengiansisasi agar komunikasi tersebut berjalan dan lebih kepelajaran bukan ke masalah-masalah yang lain. Karena anak-anak kadang gamampu dan gamau untuk mendisukusikan hal-hal yang diluar pelajaran.
mengalami problem dalam pembelajaran.
7. (Hambatan Sosial Budaya)
Bahasa isyarat BISINDO dapat diakatak bahasa isyarat daerah yang diartikan setiap daerah atau setiap individu memiliki bahasa isyarat BISINDO sendiri. Apakah hal tersebut dapat menjadi hambatan dalam
berkomunikasi?
Yang saya tahu anak-anak ini sudah cerdas untuk BISINDO, jadi anak-anak itu punya cara sendiri untuk berkomunikasi dengan temannya, dengan gurunya agar komunikasi dapat terlaksana dan dimengerti. Jadi, memang ada bahasa-bahasa diluar BISINDO yang anak-anak bisa memahami karena keseharian.
Dalam Hambatan Sosial Budaya murid dapat mengatasi dan mudah menepatkan diri ketika berbicara
dengan lawan
bicaranya. Menepatkan Bahasa Isyarat menurut lawan bicara, seperti menggunakan SIBI ketika dengan guru, dan BISINDO ketika bersama teman.
8. (Hambatan Prasangka)
Komunikasi alternatif apa yang dugunakan guru kepada siswa jika bahasa isyarat menjadi hambatan berkomunikasi?
Lebih banyak ke tulis, jadi kebahasa tulis.
Guru dengan Murid kerap mengalami Hambatan Prasangka, dimana terkadang salah mengartikan pesan yang akan disampaikan. Namun, hal itu dapat di selesaikan dengan bahasa tulis. 9. (Hambatan Lingkungan
Keluarga)
Apakah lingkungan keluarga dapat menjadi salah satu faktor terhambatnya siswa melakukan komunikasi?
Kalau lingkungan keluarga, saya pribadi gak pernah masuk ke keluarga anak-anak. Tapi yang saya tau ada yang bisa pengaruh dari keluarga ada yang tidak. Karena, setiap keluarga memiliki karakter mendidik anak berbeda-beda.
Hambatan
Lingkungan Keluarga tidak banyak dirasakan oleh Pak. Bambang, dikarenakan murid yang terkadang masih tertutup akan hal-hal pribadi. Namun beliau dapat memahami problematika dalam Hambatan Lingkungan Keluarga melalui karakteristik muridnya.
10. (Hambatan Semantis)
Komunikasi apa yang diajarkan kepada siswa, jika siswa berkomunikasi dengan lawan bicara yang tidak memiliki keterbatasan dalam pendengaran?
Kalau anak-anak ini kebanyakan tidak minder, jadi cenderung lebih ke mengajarkan ke anak yang normal, bahwa ini lho saya yang tunarungu bahasanya seperti ini. Jadi mereka antusias dan rasa percaya dirinya tinggi.
Pada Hambatan Semantis, tentunya murid akan kerap mengalami kesulitan berbicara dengan teman dengar. Namun, hal ini tidak
menjadikan murid menurunkan kepercayaan dirinya dalam melakukan komunikasi. (Interview : 5 Desember 2019)
3.1.2.1.2 Pertanyaan Informan Kedua (Guru SMA) Nama : Drs. Syaiful Bahri
Wali Kelas : XII SMA
Bapak Ipul menjadi nama akrab untuk salah satu guru SMA dengan keterbatasannya di SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo. Beliau mengajar mata pelajara Pendidikan Kewanegaraan (PKN) dan Keterampilan pada siswa putra seperti otomotif dan listrik. Menurut beliau “Kita berkomunikasi dengan hati” dengan maksud jika kita berkomunikasi dengan hati baik secara verbal maupun non verbal komunikasi dapat berjalan dengan baik. Beliau mengaku tidak banyak mengalami hambatan ketika melakukan komunikasi dengan murid-muridnya, mereka berjalan secara alamiah dalam berkomunikasi baik dengan guru maupun teman-temannya.
Beliau lebih menerapkan komunikasi menggunakan bahasa isyarat SIBI dan lips reading atau membaca bahasa bibir, namun jika hal ini menjadi hambatan dalam proses komunikasi solusi yang dilakukan Pak. Ipul ialah menggunakan perantara melalui media visual. Dimana beliau akan mengunduh vidio mengenai topik pembelajaran dan membagikan kepada murid-muridnya, atau searching melalui Google. Sebab bagi beliau Google adalah guru pribadi terbaik. Baginya, selama mengajar di SLB-B Dharma Wanita Sidoarjo tidak pernah merasa tuntas akan ada banyak problematika yang bervariatif.
NO PERTANYAAN
(Peneliti)
JAWABAN (Informan)
ANALISIS
1. Tolong ceritakan kegiatan para murid dari sebelum memasuki kelas hingga pulang sekolah
Berbaris, salam, masuk kelas terus berdo’a, belajar, setelah itu istirahat, lalu pulang.
2. Mata Pelajarann apa saja yang diajarkan di dalam kelas? Bagaimana proses penerapan ketika sedang menjelaskan mata pelajaran kepada murid?
Mata pelajaran umum, contoh agama, PKN, IPS, Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, yang spesifik
pengembangan diri. Ada dua mata pelajaran per minggu. Kalau untuk ketrampilan, lebih ke vokasional ya,