BAB II
KONSEP DASAR
A. Pengertian
Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, terutama meningens, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Suddarth, 2003).
Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang bervariasi, akibat kuman mycobacterium tuberkulosis sistemik sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer (Mansjoer, 2000).
Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi yang menyerang pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri yaitu mycobacterium tuberculosis, (Smeltzer dan Bare, 2002).
Jadi penulis menyimpulkan bahwa, TB Paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman mycobakterium tuberculosis yang menyerang saluran pernafasan terutama parenkim paru.
Klasifikasi tuberculosis di Indonesia yang banyak dipakai berdasarkan kelainan klinis, radiologist dan mikrobiologis :
1. Tuberkulosis paru 2. Bekas tuberkulosis paru
Tuberkulosis tersangka yang terbagi dalam :
a. TB paru tersangka yang diobati (sputum BTA negatif, tapi tanda-tanda lain positif)
b. TB paru tersangka yang tidak diobati (sputum BTA negatif dan tanda-tanda lain meragukan)
(Suyono, 2001) B. Anatomi Dan Fisiologi
1. Anatomi
Gambar 2.1 Anatomi Sistem Pernafasan
(Prestasiherfen.blogspot.com/2009)
Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung, faring, laring, trakhea, bronkus, dan bronkiolus. Hidung; Nares anterior adalah saluran-saluran didalam rongga hidung. Saluran-saluran itu
bermuara kedalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum (rongga hidung). Rongga hidung dilapisi sebagai selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah, dan bersambung dengan lapisan faring dan dengan selaput lendir sinus yang mempunyai lubang masuk kedalam rongga hidung. Faring (tekak) adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan esophagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. Maka letaknya di belakang laring (laring-faringeal).
Laring (tenggorok) terletak di depan bagian terendah faring yang memisahkan dari columna vertebrata, berjalan dari faring sampai ketinggian vertebrata servikalis dan masuk ke dalam trakhea di bawahnya. Laring terdiri atas kepingan tulang rawan yang diikat bersama oleh ligamen dan membran.
Trakhea atau batang tenggorok kira-kira 9 cm panjangnya trachea berjalan dari laring sampai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat ini bercabang menjadi dua bronkus (bronchi). Trakhea tersusun atas 16 – 20 lingkaran tak tetap yang berupa cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran di sebelah belakang trakhea, selain itu juga membuat beberapa jaringan otot.
Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trakea pada ketinggian kira-kira vertebra torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trakhea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus-bronkus itu berjalan ke
dan lebih lebar daripada yang kiri, sedikit lebih tinggi dari arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang utama lewat di bawah arteri, disebut bronkus lobus bawah. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan, dan berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelum dibelah menjadi beberapa cabang yang berjalan ke lobus atas dan bawah. Cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkus lobaris dan kemudian menjadi lobus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus. Yang ukurannya semakin kecil, sampai akhirnya menjadi bronchiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara).
Bronkiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih 1 mm. bronkiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Saluran-saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkiolus terminalis disebut saluran penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru-paru. Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari bronkiolus dan respiratorius yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya.
Ductus alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveolis dan sakus alveolaris terminalis merupakan akhir paru-paru, assinus atau kadang disebut lobulus primer memiliki tangan kira-kira 0,5-1,0 cm. terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari trachea sampai sakus alveolaris. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn.
Paru-paru terdapat dalam rongga toraks pada bagian kiri dan kanan. Dilapisi oleh pleura yaitu parietal pleura dan visceral pleura. Di dalam rongga pleura terdapat cairan surfaktan yang berfungsi untuk lubrikai. Paru kanan dibagi atas tiga lobus yaitu lobus superior, medius dan inferior sedangkan paru kiri dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan inferior. Tiap lobus dibungkus oleh jaringan elastik yang mengandung pembuluh limfe, arteriola, venula, bronchial venula, ductus alveolar, sakkus alveolar dan alveoli. Diperkirakan bahwa setiap paru-paru mengandung 150 juta alveoli, sehingga mempunyai permukaan yang cukup luas untuk tempat permukaan/pertukaran gas (Price dan Wilson, 2002).
2. Fisiologi
Pernafasan paru merupakan pertukaran oksigen dan karbondioksida yang terjadi pada paru-paru. Pernafasan melalui paru-paru atau pernafasan ekternal, oksigen diambil melalui mulut dan hidung pada waktu bernafas, dan oksigen masuk melalui trakea sampai ke alveoli berhubungan dalam darah dalam kapiler pulmonal. Alveoli memisahkan oksigen dari darah, oksigen menembus membran, diambil oleh sel darah merah di bawa ke jantung dan dari jantung dipompakan ke seluruh tubuh.
Proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida terjadi ketika konsentrasi dalam darah mempengaruhi dan merangsang pusat pernafasan terdapat dalam otak untuk memperbesar kecepatan dalam pernafasan sehingga terjadi pengambilan O2 dan pengeluaran CO2 lebih banyak.
tubuh masuk kedalam jaringan mengambil karbon dioksida dibawa ke paru-paru dan di paru-paru terjadi pernafasan eksterna.
Besarnya daya muat udara dalam paru-paru 4500-5000 ml (4,5-5 liter). Udara yang diproses dalam paru-paru (inspirasi dan ekspirasi) hanya 10 %, kurang lebih 500ml, disebut juga udara pasang surut (tidal air) yaitu yang dihirup dan yang dihembuskan pada pernafasan biasa. Kecepatan pernafasan pada wanita lebih tinggi dari pada pria. Pernafasan secara normal, ekspirasi akan menyusul inspirasi dan kemudian istirahat. Pada bayi ada kalanya terbalik inspirasi-istirahat-ekspirasi, disebut juga penafasan terbalik. (Syaifuddin, 2006)
C. Etiologi
Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1 – 4 µm dan tebal 0,3 – 0,6 µm dan digolongkan dalam basil tahan asam (BTA). (Suyono, 2001)
D. Patofisiologi
Individu rentan yang menghirup basil tuberculosis dan terinfeksi. Bakteri dipindahkan melalui jalan nafas ke alveoli untuk memperbanyak diri, basil juga dipindahkan melalui system limfe dan pembuluh darah ke area paru lain dan bagian tubuh lainnya.
Sistem imun tubuh berespon dengan melakukan reaksi inflamasi. Fagosit menelan banyak bakteri, limfosit specific tuberculosis melisis basil dan
jaringan normal, sehingga mengakibatkan penumpukkan eksudat dalam alveoli dan menyebabkan bronkopnemonia.
Massa jaringan paru/granuloma (gumpalan basil yang masih hidup dan yang sudah mati) dikelilingi makrofag membentuk dinding protektif. Granuloma diubah menjadi massa jaringan fibrosa, yang bagian sentralnya disebut komplek Ghon. Bahan (bakteri dan makrofag) menjadi nekrotik, membentuk massa seperti keju. Massa ini dapat mengalami klasifikasi, membentuk skar kolagenosa. Bakteri menjadi dorman, tanpa perkembangan penyakit aktif. Individu dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau respon inadekuat sistem imun, maupun karena infeksi ulang dan aktivasi bakteri dorman. Dalam kasus ini tuberkel ghon memecah, melepaskan bahan seperti keju ke bronki. Bakteri kemudian menyebar di udara, mengakibatkan penyebaran lebih lanjut. Paru yang terinfeksi menjadi lebih membengkak mengakibatkan bronkopnemonia lebih lanjut (Smeltzer dan Bare, 2001).
E. Manifestasi klinik
Gambaran klinis tuberculosis mungkin belum muncul pada infeksi awal dan mungkin tidak akan pernah timbul bila tidak terjadi infeksi aktif. Bila timbul infeksi aktif klien biasanya memperlihatkan gejala : batuk purulen produktif disertai nyeri dada, demam (biasanya pagi hari), malaise, keringat malam, gejala flu, batuk darah, kelelahan, hilang nafsu makan dan penurunan berat badan (Corwin, 2001).
F. Penatalaksanaan
1. Pengobatan
Tujuan terpenting dari tata laksana pengobatan tuberkulosis adalah eradikasi cepat M. tuberculosis, mencegah resistensi, dan mencegah terjadinya komplikasi.
Jenis dan dosis OAT : a. Isoniazid (H)
Isoniazid (dikenal dengan INH) bersifat bakterisid, efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif, yaitu kuman yang sedang berkembang. Efek samping yang mungkin timbul berupa neuritis perifer, hepatitis rash, demam Bila terjadi ikterus, pengobatan dapat dikurangi dosisnya atau dihentikan sampai ikterus membaik. Efek samping ringan dapat berupa kesemutan, nyeri otot, gatal-gatal. Pada keadaan ini pemberian INH dapat diteruskan sesuai dosis.
b. Rifampisin (R)
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman semi-dorman (persisten). Efek samping rifampisin adalah hepatitis, mual, reaksi demam, trombositopenia. Rifampisin dapat menyebabkan warna merah atau jingga pada air seni dan keringat, dan itu harus diberitahukan pada keluarga atau penderita agar tidak menjadi cemas. Warna merah tersebut terjadi karena proses metabolisme obat dan tidak berbahaya.
c. Pirazinamid (P)
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Efek samping pirazinamid adalah hiperurikemia, hepatitis, atralgia.
d. Streptomisin (S)
Bersifat bakterisid, efek samping dari streptomisin adalah nefrotoksik dan kerusakan nervus kranialis VIII yang berkaitan dengan keseimbangan dan pendengaran.
e. Ethambutol (E)
Bersifat bakteriostatik, ethambutol dapat menyebabkan gangguan penglihatan berupa berkurangnya ketajaman penglihatan, buta warna merah dan hijau, maupun optic neuritis.
2. Pembedahan
Dilakukan jika pengobatan tidak berhasil, yaitu dengan mengangkat jaringan paru yang rusak, tindakan ortopedi untuk memperbaiki kelainan tulang, bronkoskopi untuk mengangkat polip granulomatosa tuberkulosis atau untuk reseksi bagian paru yang rusak.
3. Pencegahan
Menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi basil tuberkulosis, mempertahankan status kesehatan dengan asupan nutrisi adekuat, minum susu yang telah dilakukan pasteurisasi, isolasi jika pada analisa sputum terdapat bakteri hingga dilakukan pengobatan, pemberian imunisasi BCG
untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi oleh basil tuberkulosis virulen.
G. Komplikasi
Penderita TB paru antara lain:
1. Pendarahan dari saluran pernafasan bagian bawah yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas.
2. Penyebaran infeksi ke organ lain
Misalnya : otak, jantung persendian, ginjal aslinya.
H. Pengkajian fokus
Berdasarkan klasifikasi Doenges (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah:
1. Aktivitas/istirahat:
Subjektif:
a. Kelelahan umum dan kelemahan b. Dispnea saat kerja maupun istirahat
c. Kesulitan tidur pada malam hari atau demam pada malam hari, menggigil dan atau berkeringat
d. Mimpi buruk Objektif:
a. Takikardia, takipnea/dispnea pada saat kerja b. Kelelahan otot, nyeri, sesak (tahap lanjut)
2. Sirkulasi
Subjektif: a. Palpitasi Objektif:
a. Takikardia, disritmia
b. Adanya S3 dan S4, bunyi gallop (gagal jantung akibat effusi) c. Nadi apikal (PMI) berpindah oleh adanya penyimpangan
mediastinal
d. Tanda Homman (bunyi rendah denyut jantung akibat adanya udara dalam mediatinum)
e. TD: hipertensi/hipotensi f. Distensi vena jugularis 3. Integritas ego:
Subjektif:
a. Gejala-gejala stres yang berhubungan lamanya perjalanan penyakit, masalah keuangan, perasaan tidak berdaya/putus asa, menurunnya produktivitas.
Objektif:
a. Menyangkal (khususnya pada tahap dini) b. Ansietas, ketakutan, gelisah, iritabel.
c. Perhatian menurun, perubahan mental (tahap lanjut) 4. Makanan dan cairan:
a. Kehilangan napsu makan b. Penurunan berat badan Objektif:
a. Turgor kulit buruk, kering, bersisik
b. Kehilangan massa otot, kehilangan lemak subkutan 5. Nyeri dan Kenyamanan:
Subjektif:
a. Nyeri dada meningkat karena pernapsan, batuk berulang
b. Nyeri tajam/menusuk diperberat oleh napas dalam, mungkin menyebar ke bahu, leher atau abdomen.
Objektif:
a. Berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, gelisah. 6. Pernapasan:
Subjektif:
a. Batuk (produktif atau tidak produktif) b. Napas pendek
c. Riwayat terpajan tuberkulosis dengan individu terinfeksi Objektif:
a. Peningkatan frekuensi pernapasan
b. Peningkatan kerja napas, penggunaan otot aksesori pernapasan pada dada, leher, retraksi interkostal, ekspirasi abdominal kuat
c. Pengembangan dada tidak simetris
hiperresonan di atas area yang telibat.
e. Bunyi napas menurun/tidak ada secara bilateral atau unilateral f. Bunyi napas tubuler atau pektoral di atas lesi
g. Crackles di atas apeks paru selama inspirasi cepat setelah batuk pendek (crackels posttussive)
h. Karakteristik sputum hijau purulen, mukoid kuning atau bercak darah
i. Deviasi trakeal 7. Keamanan:
Subjektif:
a. Kondisi penurunan imunitas secara umum memudahkan infeksi sekunder.
Objektif:
a. Demam ringan atau demam akut. 8. Interaksi Sosial:
Sujektif:
a. Perasaan terisolasi/penolakan karena penyakit menular
b. Perubahan aktivitas sehari-hari karena perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran
9. Penyuluhan/pembelajaran:
Subjektif:
c. Gagal untuk membaik/kambuhnya TB d. Tidak berpartisipasi dalam terapi.
I. Pemeriksaan Diagnostik
Tes diagnostik yang dilakukan diuraikan pada tabel berikut: 1. Sputum:
a. Kultur
Mycobacterium tuberculosis positif pada tahap aktif, penting untuk menetapkan diagnosa pasti dan melakukan uji kepekaan terhadap obat.
b. Ziehl-Neelsen BTA positip
c. Tes Kulit (PPD, Mantoux, Vollmer)
Reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih) menunjukkan infeksi masa lalu dan adanya antibodi tetapi tidak berarti untuk
menunjukkan keaktivan penyakit. d. Foto thorax
Dapat menunjukkan infiltrasi lesi awal pada area paru, simpanan kalsium lesi sembuh primer, efusi cairan, akumulasi udara, area cavitas, area fibrosa dan penyimpangan struktur mediastinal. e. Histologi atau kultur jaringan (termasuk bilasan lambung, urine,
cairan serebrospinal, biopsi kulit)
Positif untuk gralunoma TB, adanya giant cell menunjukkan nekrosis.
2. Darah: a. LED
Indikator stabilitas biologik penderita, respon terhadap pengobatan dan predeksi tingkat penyembuhan. Sering meningkat pada proses aktif.
b. Limfosit
Menggambarakan status imunitas penderita (normal atau supresi) c. Elektrolit
Hiponatremia dapat terjadi akibat retensi cairan pada TB paru kronis luas.
d. Amalisa Gas Darah
Hasil bervariasi tergantung lokasi dan beratnya kerusakan paru e. Tes faal paru
Penurunana kapasitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara residu dan kapasitas paru total, penurunan saturasi oksigen sebagai akibat dari infiltrasi parenkim/fibrosis, kehilangan jaringan paru dan penyaki pleural.
J. Pathways Keperawatan Sumber : Price and Lourraine 2003.
Gangguan pertukaran
gas
Mycobacterium tuberculosis
Airbone / inhalasi droplet
Saluran pernafasan
Bakteri yang besar bertahan di bronkus Paru-paru
Saluran pernafasan bawah Saluran pernafasan atas
Peradangan bronkus
alveolus
Penyebaran infeksi secara limfa hematogen Alveolus mengalami konsolidasi dan eksudasi Sekret keluar saat batuk
Peningkatan suhu tubuh Penumpukan sekret
Demam
Efektif Tidak Efektif Anoreksia malaese, mual, muntah Sekret sulit dikeluarkan Keletihan Batuk terus menerus Terhirup orang sehat Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan Intoleransi aktifitas Bersihan jalan nafas tidak efektif Resiko
K. Diagnosa Keperawatan
1 Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi sekret yang berlebihan
2 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan permukaan efek paru, kerusakan membran di alveolar, kapiler, sekret kental dan tebal. 3 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake yang tidak adekuat sekunder terhadap mual.
4 Gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan sesak nafas dan batuk 5 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan dan inadekuat
oksigenasi untuk aktivitas.
6 Resiko tinggi penyebaran infeksi pada diri sendiri maupun orang lain berhubungan dengan kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan pathogen.
L. Fokus intervensi dan rasional
Rencana Keperawatan
NO Diagnosa
Keperawatan Tujuan dan criteria hasil Intervensi Rasional
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif
berhubungan dengan akumulasi sekret yang berlebih
Tujuan : bersihan jalan nafas efektif
KH : pasien dapat
mempertahankan jalan nafas dan mengeluarkan sekret tanpa bantuan.
a. Kaji fungsi pernafasan contoh bunyi
nafas, kecepatan, irama, dan
kelemahan dan penggunaan otot
bantu.
b. Catat kemampuan untuk
mengeluarkan mukosa batuk efektif,
catat karakter, jumlah sputum,
adanya hemoptisis
c. Berikan klien posisi semi atau fowler tinggi
d. Bersihkan sekret dari mulut dan trakea, penghisapan sesuai keperluan
e. Pertahankan masukan cairan
Peningkatan bunyi nafas dapat menunjukkan atelektasis, ronchi, mengi menunjukkan akumulasi sekret / ketidakmampuan untuk membersihkan jalan nafas yang dapat menimbulkan penggunaan otot akseseri pernafasan dan peningkatan kerja pernafasan.
Pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal sputum berdarah kental / darah cerah (misal efek infeksi, atau tidak kuatnya hidrasi).
Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan mekan upaya pernafasan.
Mencegah obstruksi respirasi, penghisapan dapat diperlukan bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan permukaan efek paru, kerusakan membran alveolar,
kapiler, sekret kental dan tebal
Tujuan : tidak ada tanda-tanda dispnea
KH : melaporkan tidak adanya
penurunan dispnea,
menunjukkan perbaikan
ventilasi dan O2 jaringan
adekuat dengan AGP dalam rentang normal, bebes dari gejala, distres pernafasan.
kontra indikasi
a. Kaji dispnea, takipnea, tidak normal
atau menurunnya bunyi nafas,
peningkatan upaya pernafasan,
terbatasnya ekspansi dinding dada dan kelemahan.
b. Evaluasi tingkat kesadaran, catat sianosis dan perubahan pada warna kulit, termasuk membran mukosa dan kuku
c. Tunjukkan/dorong bernafas dengan bibir selama endikasi, khususnya untuk pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim
d. Tingkatkan tirah baring/batasi
mengencerkan sekret, membantu untuk mudah dikeluarkan.
TB paru menyebabkan efek luas pada paru dari
bagian kecil bronkopneumonia sampai
inflamasi difus luas nekrosis effure pleural untuk fibrosis luas.
Akumulasi sekret/pengaruh jalan nafas dapat mengganggu O2organ vital dan jaringan.
Membuat tahanan melawan udara luar untuk mencegah kolaps atau penyempitan jalan nafas, sehingga membantu menyebarkan udara melalui paru dan menghilangkan atau menurunkan nafas pendek.
3.
Perubahan nutrisi
kurang dari
kebutuhan tubuh
berhubungan dengan
intake yang tidak
adekuat sekunder
terhadap mual.
Tujuan : kebutuhan nutrisi
terpenuhi (tidak terjadi
perubahan nutrisi)
Kriteria hasil : pasien
menunjukkan peningkatan
berat badan dan melakukan
perilaku atau perubahan pola hidup.
e. Kolaborasi medis dengan
pemeriksaan ACP dan pemberian oksigen
a. Catat status nutrisi pasien dari penerimaan, catat turgor kulit, berat badan dan derajat kekurangannya
berat badan, riwayat mual atau
muntah, diare.
b. Pastikan pada diet biasa pasien yang disukai atau tidak disukai.
c. kaji anoreksia, mual dan muntah dan catat kemungkinan hubungan dengan
obat, awasi frekuensi, volume
konsistensi feces.
d. Dorong dan berikan periode istirahat sering.
beratnya gejala.
Mencegah pengeringan membran mukosa, membantu pengenceran sekret.
Berguna dalam mendefinisikan derajat/ luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat.
Membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan
pertimbangan keinginan individu dapat
memperbaiki masukan diet.
Dapat mempengaruhi pilihan diet dan
mengidentifikasi area pemecahan masalah untuk
meningkatkan pemasukan atau penggunaan
nutrien.
Membantu menghemat energi khususnya
4.
Gangguan pola
istirahat tidur
berhubungan dengan
sesak nafas dan
batuk.
Tujuan : agar pola tidur
terpenuhi.
Kriteria hasil : pasien dapat istirahat tidur tanpa terbangun.
dan sesudah tindakan pernafasan.
f. Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein.
g. Kolaborasi, rujuk ke ahli diet untuk menentukan komposisi diet.
a. Diskusikan perbedaan individual
dalam kebutuhan tidur berdasarkan hal usia, tingkat aktivitas, gaya hidup tingkat stress.
b. Tingkatkan relaksasi, berikan
atau obat untuk pengobatan respirasi yang merangsang pusat muntah.
Masukan nutrisi tanpa kelemahan yang tidak perlu atau kebutuhan energi dari makan makanan banyak dari menurunkan iritasi gaster.
Bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet.
Rekomendasi yang umum untuk tidur 8 jam tiap malam nyatanya tidak mempunyai fungsi dasar ilmiah individu yang dapat rileks dan istirahat dengan mudah memerlukan sedikit tidur untuk merasa segar kembali dengan bertambahnya usia, waktu tidur. Total secara umum menurun, khususnya tidur tahap IV dan waktu tahap meningkat.
Tidur akan sulit dicapai sampai tercapai relaksasi, lingkungan rumah sakit dapat mengganggu
5. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan keletihan dan inadekuat oksigen untuk aktivitas.
Tujuan : agar aktivitas kembali efektif.
Kriteria hasil : pasien mampu
melakukan ADLnya secara
mandiri dan tidak kelelahan setelah beraktivitas.
penggunaan bantal, linen dan
selimut, berikan ritual waktu tidur
yang menyenangkan bila perlu
pastikan ventilasi ruangan baik, tutup
pintu ruangan bila klien
menginginkan.
a. Jelaskan aktivitas dan faktor yang
meningkatkan kebutuhan oksigen
seperti merokok. suhu sangat
ekstrim, berat badan kelebihan,
stress.
b.Secara bertahap tingkatan aktivitas
harian klien sesuai peningkatan
toleransi.
c. Memberikan dukungan emosional dan semangat
d. Setelah aktivitas kaji respon
Merokok, suhu ekstrim dan stress menyebabkan vasokastriksi yang meningkatkan beban kerja jantung dan kebutuhan oksigen, berat badan berlebihan, meningkatkan tahapan perifer yang juga meningkatkan beban kerja jantung.
Mempertahankan pernafasan lambat, sedang dan latihan yang diawasi memperbaiki kekuatan otot asesori dan fungsi pernafasan.
Rasa takut terhadap kesulitan bernafas dapat menghambat peningkatan aktivitas.
Intoleransi aktivitas dapat dikaji dengan
mengevaluasi jantung sirkulasi dan status
6.
Resiko tinggi
penyebaran infeksi
pada diri sendiri
maupun orang lain berhubungan dengan kurang pengetahuan
untuk menghindari
pemajanan pathogen.
Tujuan : penyebaran infeksi tidak terjadi.
Kriteria hasil : pasien
mengidentifikasi intervensi
untuk mencegah atau
menurunkan resiko penyebaran infeksi, melakukan perubahan pola hidup.
aktivitas.
a. Kaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi melalui droplet udara selama batuk, bersin, meludah, bicara, tertawa.
b. Identifikasi orang lain yang beresiko, missal: anggota keluarga, sahabat karib/ teman.
c. Kaji tindakan kontrol infeksi
sementara, missal: masker atau
isolasi pernafasan.
d. Anjurkan pasien untuk batuk/ bersin dan mengeluarkan pada tisu dan
menghindari meludah ditempat
umum. Kaji pembuangan tisu sekali pakai dan teknik mencuci tangan
Membantu pasien menyadari/ menerima perlunya mematuhi program pengobatan untuk mencegah
pengaktifan berulang atau komplikasi serta
membantu pasien atau orang terdekat untuk mengambil langkah untuk mencegah infeksi ke orang lain.
Orang-orang yang terpejan ini perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran/ terjadinya infeksi.
Dapat membantu menurunkan rasa terisolasi pasien dan membuang stigma sosial sehubungan dengan penyakit menular.
Perilaku yang diperlukan untuk mencegah penyebaran
e. Tekanan pentingnya tidak menghentikan terapi obat.
f. Dorong memilih mencerna makanan seimbang, berikan makan sering,
makanan kecil pada jumlah,
makanan besar yang tepat.
Periode singkat berakhir 2-3 hari setelah
kemoterapi awal, tetapi pada adanya rongga atau penyakit luas, sedang resiko penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan.
Adanya anoreksia (mal nutrisi sebelumnya,
merendahkan tahapan terhadap proses infeksi
dan mengganggu penyembuhan, makanan