• Tidak ada hasil yang ditemukan

askep ckr praktek

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "askep ckr praktek"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

Cedera kepala hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama yang merupakan masalah kesehatan masyarakat karena insiden dan mortilitasnya yang tinggi. Akibat trauma kepala bagi pasien dan keluarga sangat mempengaruhi perubahan fisik maupun psikologis. Untuk itu diperlukan penanganan yang serius dalam memberikan asuhan keperawatan. Dalam memberikan pelayanan, keperawatan sebagai subsistem pelayanan kesehatan bekerjasama dengan pelayanan medis yaitu dokter, guna mencapai tujuan bersama yaitu untuk memenuhi kebutuhan pasien, disertai dengan kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya (analis, gizi, dll).

Pentingnya laporan kasus ini dibuat karena perawat berada di dalam posisi yang sentral untuk memahami perubahan-perubahan baik fisilogis maupun psikologis, di mana pasien dengan cedera kepala rata-rata dirawat dalam perawatan akut. Disinilah dirasakan betapa pentingnya peran tenaga perawat harus mampu menganalisa dan mengambil keputusan yang tepat dalam melakukan tindakan keperawatan.

B. Tujuan penulisan 1. Tujuan Umum

Mendapatkan gambaran tentang asuhan keperawatan pada pasien dgn gangguan sistem neurologi : cedera kepala.

2. Tujuan Khusus

a. Diperolehnya gambaran dan pengalaman belajar dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dgn gangguan system neurologi: cedera kepala.

b. Dapat membandingkan perbedaan gangguan system neurologi : cedera kepala yang tepat di dalam teori dan praktek dilapangan.

(2)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep penyakit

1. Definisi

Cidera kepala adalah pukulan atau benturan mendadak pada kepala dengan atau tanpa kehilangan kesadaran (Tucker, 1998).

Cidera kepala (terbuka dan tertutup) terdiri dari fraktur tengkorak, commusio (gegar) serebri, contusio (memar) serebri, laserasi dan perdarahan serebral yaitu diantaranya subdural, epidural, intraserebral, dan batang otak (Doenges, 2000:270). Cidera kepala diklasifikasikan berdasarkan:

1. Keadaan kulit kepala dan tulang tengkorak 1) Cidera kepala terbuka

2) Cidera kepala tertutup

2. Cidera pada jaringan otak (secara anatomis) 1) Commusio serebri (gegar otak)

2) Edema serebri

3) Contusio serebri (memar otak) 4) Laserasi

(Ergan, 1998:642)

3. Adanya penetrasi durameter (secara mekanisme) 1) Cidera tumpul

a. Kecepatan tinggi (tabrakan otomobil) b. Kecepatan rendah (terjatuh, dipukul) 2) Cidera tembus

Luka tembus peluru dan cidera tembus lainnya 4. Tingkat keparahan cidera (berdasarkan GCS)

1) Cidera Kepala Ringan (CKR) GCS 13-15 2) Cidera Kepala Sedang (CKS) GCS 9-12 3) Cidera Kepala Berat (CKB) GCS 3-8

(3)

GCS (Glasgow Coma Scale) 1. Membuka mata (E)

 Spontan

 Dipanggil/diperintah

 Tekanan pada jari/rangsang nyeri  Tidak berespon

2. Respon Verbal (V)

 Orientasi baik: dapat bercakap-cakap  Bingung, dapat bercakap tapi disorientasi  Kata yang diucapkan tidak tepat, kacau  Tidak dapat dimengerti, mengerang  Tidak bersuara dengan rangsang nyeri 3. Respon Motorik

 Mematuhi perintah  Menunjuk lokasi nyeri  Reaksi fleksi

 Fleksi abnormal thdp nyeri (postur dekortikasi)

 Ekstensi abnormal

 Tidak ada respon, flacid

4 3 2 2 5 4 3 2 1 6 5 4 3 2 1 5. Berdasarkan morfologi 1) Fraktur tengkorak

a. Kranium: linear/ stelatum, depresi/ non depresi, terbuka/ tertutup.

b. Basis: dengan/ tanpa kebocoran cairan cerebrospinal, dengan/ tanpa kelumpuhan nervus VIII

2) Lesi intra cranial

a. Foxal: epidural, subdural, intraserebral

b. Difus: konkusi ringan/ klasik, cidera aksonal difus. 2. Etiologi

Cidera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas ( Mansjoer, 2000:3).

(4)

Penyebab cidera kepala antara lain: kecelakaan lalu lintas, perkelahian, terjatuh, dan cidera olah raga. Cidera kepala terbuka sering disebabkan oleh peluru atau pisau (Corkrin, 2001:175).

3. Patofisiologi

Cidera kepala dapat terjadi karena benturan benda keras, cidera kulit kepala, tulang kepala, jaringan otak, baik terpisah maupun seluruhnya. Cidera bervariasi dari luka kulit yang sederhana sampai gegar otak, luka terbuka dari tengkotak, disertai kerusakan otak, cidera pada otak, bisa berasal dari trauma langsung maupun tidak langsung pada kepala. Trauma tak langsung disebabkan karena tingginya tahanan atau kekuatan yang merobek terkena pada kepala akibat menarik leher. Trauma langsung bila kepala langsung terbuka, semua itu akibat terjadinya akselerasi, deselerasi, dan pembentukan rongga, dilepaskannya gas merusak jaringan syaraf.

Trauma langsung juga menyebabkan rotasi tengkorak dan isinya. Kerusakan itu bisa terjadi seketika atau menyusul rusaknya otak oleh kompresi, goresan, atau tekanan. Cidera yang terjadi waktu benturan mungkin karena memar pada permukaan otak, laserasi substansia alba, cidera robekan, atau hemmorarghi. Sebagai akibat, cidera skunder dapat terjadi sebagai kemampuan auto regulasi serebral dikurangi atau tidak ada pada area cidera, konsekuensinya meliputi hiperemia (peningkatan volume darah, peningkatan permeabilitas kapiler, serta vasodilatasi arterial, tekanan intra cranial) (Huddak & Gallo, 1990:226).

Pengaruh umum cidera kepala juga bisa menyebabkan kram, adanya penumpukan cairan yang berlebihan pada jaringan otak, edema otak akan menyebabkan peningkatan tekanan intra cranial yang dapat menyebabkan herniasi dan penekanan pada batang otak (Price and Wilson, 1995:1010).

(5)
(6)

4. Manifestasi Klinik

Tanda dan gejala yang umum terjadi pada korban trauma kepala, yaitu: 1) Hilangnya kesadaran kurang dari 30 menit atau lebih.

2) Gelisah.

3) Mual dan muntah. 4) Irritable. 5) Pucat. 6) Pusing. 7) Hematoma. 8) Cemas. 9) Sukar dibangunkan

Manifestasi klinis berdasarkan tingkatan cedera/trauma: 1) Tingkat I

Bila dijumpai adanya riwayat kehilangan kesadaran/pingsan yang sesaat setelah mengalami trauma dan kemudian sadar. Pada waktu diperiksa dalam keadaan sadar penuh, orientasi baik dan tidak ada deficit neurologis.

2) Tingkat II

Kesadaran menurun namun masih dapat mengikuti perintah yang sederhana dan dijumpai adanya deficit neurologis.

3) Tingkat III

Kesadaran sangat menurun dan tidak dapat mengikuti perintah walaupun yang sederhana sama sekali. Penderita masih bisa bersuara, namun susunan kata dan orientasinya kacau, gaduh gelisah. Respon motorik bervariasi dari keadaan yang mampu melokalisir rasa nyeri sampai tidak ada respon sama sekali – desebrasi. 4) Tingkat IV

Tidak ada fungsi neurologis sama sekali. 5. Penatalaksanaan

1) Penatalaksanaan Keperawatan

a. Menjamin kelancaran jalan nafas dan control vertebra cervicalis b. Menjaga saluran nafas tetap bersih, bebas dari secret

c. Mempertahankan sirkulasi stabil

d. Melakukan observasi tingkat kesadaran dan tanda tanda vital

e. Menjaga intake cairan elektrolit dan nutrisi jangan sampai terjadi hiperhidrasi f. Menjaga kebersihan kulit untuk mencegah terjadinya decubitus

(7)

g. Mengelola pemberian obat sesuai program 2) Penatalaksanaan Medis

a. Oksigenasi dan IVFD

b. Terapi untuk mengurangi edema serebri (anti edema) Dexamethasone 10 mg untuk dosis awal, selanjutnya: a) 5 mg/6 jam untuk hari I dan II

b) 5 mg/8 jam untuk hari III c) 5 mg/12 jam untuk hari IV d) 5 mg/24 jam untuk hari V

c. Terapi neurotropik: citicoline, piroxicam d. Terapi anti perdarahan bila perlu

e. Terapi antibiotik untuk profilaksis f. Terapi antipeuretik bila demam g. Terapi anti konvulsi bila klien kejang

h. Terapi diazepam 5-10 mg atau CPZ bila klien gelisah i. Intake cairan tidak boleh > 800 cc/24 jam selama 3-4 hari 6. Komplikas

Kemunduran pada kondisi pasien mungkin karena perluasan hematoma intrakranial, edema serebral progresif, dan herniasi otak

Edema serebral dan herniasi

Edema serebral adalah penyebab paling umum peningkatan TIK pada pasien yang mendapat cedera kepala, puncak pembengkakan yang terjadi kira kira 72 jam setelah cedera. TIK meningkat karena ketidakmampuan tengkorak untuk membesar meskipun peningkatan volume oleh pembengkakan otak diakibatkan trauma. Sebagai akibat dari edema dan peningkatan TIK, tekanan disebarkan pada jaringan otak dan struktur internal otak yang kaku. Bergantung pada tempat pembengkakan, perubahan posisi kebawah atau lateral otak (herniasi) melalui atau terhadap struktur kaku yang terjadi menimbulkan iskemia, infark, dan kerusakan otak irreversible, kematian.

Defisit neurologik dan psikologik

Pasien cedera kepala dapat mengalami paralysis saraf fokal seperti anosmia (tidak dapat mencium bau bauan) atau abnormalitas gerakan mata, dan defisit neurologik seperti afasia, defek memori, dan kejang post traumatic atau epilepsy. Pasien mengalami sisa penurunan psikologis organic (melawan, emosi labil) tidak punya malu, emosi agresif dan konsekuensi gangguan.

(8)

Komplikasi lain secara traumatik:

1. Infeksi sitemik (pneumonia, ISK, sepsis)

2. Infeksi bedah neurologi (infeksi luka, osteomielitis, meningitis, ventikulitis, abses otak)

3. Osifikasi heterotropik (nyeri tulang pada sendi sendi) Komplikasi lain: 1. Peningkatan TIK 2. Hemorarghi 3. Kegagalan nafas 4. Diseksi ekstrakranial B. Asuhan Keperawatan CKS 1. Pengkajian

Data fokus yang perlu dikaji:

1) Riwayat kesehatan meliputi: keluhan utama, kapan cidera terjadi, penyebab cidera, riwayat tak sadar, amnesia, riwayat kesehatan yang lalu, dan riwayat kesehatan keluarga.

2) Pemeriksaan fisik 1. Keadaan umum

2. Pemeriksaan persistem

a) Sistem persepsi dan sensori (pemeriksaan panca indera: penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, dan perasa)

b) Sistem persarafan (tingkat kesadaran/ nilai GCS, reflek bicara, pupil, orientasi waktu dan tempat)

c) Sistem pernafasan (nilai frekuensi nafas, kualitas, suara, dan kepatenan jalan nafas)

d) Sistem kardiovaskuler (nilai TD, nadi dan irama, kualitas, dan frekuensi) e) Sistem gastrointestinal (nilai kemampuan menelan, nafsu makan/ minum,

peristaltik, eliminasi)

f) Sistem integumen ( nilai warna, turgor, tekstur dari kulit, luka/ lesi) g) Sistem reproduksi

h) Sistem perkemihan (nilai frekuensi b.a.k, volume b.a.k) 3. Pola fungsi kesehatan

1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan (termasuk adakah kebiasaan merokok, minum alcohol, dan penggunaan obat obatan)

(9)

2) Pola aktivitas dan latihan (adakah keluhan lemas, pusing, kelelahan, dan kelemahan otot)

3) Pola nutrisi dan metabolisme (adakah keluhan mual, muntah) 4) Pola eliminasi

5) Pola tidur dan istirahat 6) Pola kognitif dan perceptual 7) Persepsi diri dan konsep diri 8) Pola toleransi dan koping stress 9) Pola seksual dan reproduktif 10) Pola hubungan dan peran 11) Pola nilai dan keyakinan 2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan cidera kepala adalah sebagai berikut:

1) Perfusi jaringan tidak efektif (spesifik serebral) berhubungan dengan aliran arteri dan atau vena terputus.

2) Nyeri akut berhubungan dengan agen injury fisik.

3) Hipertermi berhubungan dengan trauma (cidera jaringan otak, kerusakan batang otak)

4) Pola nafas tak efektif berhubungan dengan hipoventilasi

5) Kerusakan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif, afektif, dan motorik)

6) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif, motorik, dan afektif.

7) Defisit perawatan diri: makan/ mandi, toileting berhubungan dengan kelemahan fisik dan nyeri.

8) Kurang pengetahuan berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif, motorik, dan afektif.

9) Resiko aspirasi berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran.

10) Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan status hipermetabolik. 11) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma/ laserasi kulit kepala

12) Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah.

(10)

13) PK: peningkatan TIK dengan proses desak ruang akibat penumpukan cairan/ darah di dalam otak.

3. Rencana Perawatan

No Diagnosa

Keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Perfusi jaringan tak

efektif (spesifik sere-bral) b.d aliran arteri dan atau vena terputus, dengan batasan karak-teristik: 1. Perubahan respon motorik 2. Perubahan status mental 3. Perubahan respon pupil 4. Amnesia retrograde (gang-guan memori) NOC: 1. Status sirkulasi, 2. Perfusi jaringan serebral

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ….x 24 jam, klien mampu men-capai :

1. Status sirkulasi dengan indikator:

2. Tekanan darah sis-tolik dan diastolik dalam rentang yang diharapkan 3. Tidak ada ortostatik

hipotensi

4. Tidak ada tanda tan-da PTIK

5. Perfusi jaringan serebral, dengan indicator :

a) Klien mampu berko-munikasi dengan je-las dan sesuai ke-mampuan

b) Klien

menunjukkan perhatian,

Monitor Tekanan Intra Kranial 1. Catat perubahan respon klien

terhadap stimu-lus / rangsangan

2. Monitor TIK klien dan respon neurologis terhadap aktivitas

3. Monitor intake dan output 4. Pasang restrain, jika perlu 5. Monitor suhu dan angka

leukosit

6. Kaji adanya kaku kuduk 7. Kelola pemberian antibiotic 8. Berikan posisi dengan kepala

elevasi 30-40O dengan leher dalam posisi netral

9. Minimalkan stimulus dari lingkungan

10. Beri jarak antar tindakan keperawatan untuk meminimalkan peningkatan TIK

11. Kelola obat obat untuk mempertahankan TIK dalam batas spesifik

Monitoring Neurologis (2620) 1. Monitor ukuran,

(11)

konsen-trasi, dan orientasi c) Klien mampu mem-proses informasi d) Klien mampu mem-buat keputusan de-ngan benar e) Tingkat kesadaran klien membaik

kesimetrisan, reaksi dan bentuk pupil

2. Monitor tingkat kesadaran klien

3. Monitor tanda-tanda vital 4. Monitor keluhan nyeri

kepala, mual, dan muntah 5. Monitor respon klien

terhadap pengobatan

6. Hindari aktivitas jika TIK meningkat

7. Observasi kondisi fisik klien Terapi Oksigen (3320)

1. Bersihkan jalan nafas dari secret

2. Pertahankan jalan nafas tetap efektif

3. Berikan oksigen sesuai instruksi

4. Monitor aliran oksigen, kanul oksigen, dan humidifier

5. Beri penjelasan kepada klien tentang pentingnya pemberian oksigen

6. Observasi tanda-tanda hipoventilasi

7. Monitor respon klien terhadap pemberian oksigen 8. Anjurkan klien untuk tetap

memakai oksigen selama aktivitas dan tidur

(12)

2 Nyeri akut b.d dengan agen injuri fisik, dengan batasan karakteristik: 1. Laporan nyeri ke-pala secara verbal atau non verbal 2. Respon autonom (perubahan vital sign, dilatasi pupil) 3. Tingkah laku eks-presif (gelisah, me-nangis, merintih) 4. Fakta dari observasi 5. Gangguan tidur (mata sayu, menye-ringai, dll) NOC: 1. Nyeri terkontrol 2. Tingkat Nyeri 3. Tingkat kenyamanan Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama …. x 24 jam, klien dapat :

1. Mengontrol nyeri, de-ngan indikator:

a) Mengenal faktor-faktor penyebab b) Mengenal onset nyeri c) Tindakan

pertolong-an non farmakologi d) Menggunakan

anal-getik

e) Melaporkan gejala-gejala nyeri kepada tim kesehatan. f) Nyeri terkontrol 2. Menunjukkan tingkat nyeri, dengan indikator: a. Melaporkan nyeri b. Frekuensi nyeri c. Lamanya episode nyeri

d. Ekspresi nyeri; wa-jah e. Perubahan respirasi rate f. Perubahan tekanan darah Manajemen nyeri (1400)

1. Kaji keluhan nyeri lokasi, karakteristik onset/durasi frekuensi kualitas dan beratnya nyeri.

2. Observasi respon ketidaknyamanan secara verbal dan non verbal.

3. Pastikan klien menerima perawatan analgetik dg tepat. 4. Gunakan strategi komunikasi yang efektif untuk mengetahui respon penerimaan klien terhadap nyeri.

5. Evaluasi keefektifan penggunaan kontrol nyeri 6. Monitoring perubahan nyeri

baik aktual maupun potensial.

7. Sediakan lingkungan yang nyaman.

8. Kurangi faktor-faktor yang dapat menambah ungkapan nyeri.

9. Ajarkan penggunaan tehnik relaksasi sebelum atau sesudah nyeri berlangsung. 10. Kolaborasi dengan tim

kesehatan lain untuk memilih tindakan selain obat untuk meringankan nyeri.

(13)

g. Kehilangan nafsu makan 3. Tingkat kenyamanan, dengan indicator : a) Klien melaporkan kebutuhan tidur dan istirahat tercukupi

adekuat untuk meringankan nyeri.

Manajemen pengobatan (2380) 1. Tentukan obat yang

dibutuhkan klien dan cara mengelola sesuai dengan anjuran/ dosis.

2. Monitor efek teraupetik dari pengobatan.

3. Monitor tanda, gejala dan efek samping obat.

4. Monitor interaksi obat. 5. Ajarkan pada klien / keluarga

cara mengatasi efek samping pengobatan.

6. Jelaskan manfaat pengobatan yg dapat mempengaruhi gaya hidup klien.

Pengelolaan analgetik (2210) 1. Periksa perintah medis

tentang obat, dosis & frekuensi obat analgetik. 2. Periksa riwayat alergi klien. 3. Pilih obat berdasarkan tipe

dan beratnya nyeri.

4. Pilih cara pemberian IV atau IM untuk pengobatan, jika mungkin.

5. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgetik.

6. Kelola jadwal pemberian analgetik yang sesuai.

(14)

7. Evaluasi efektifitas dosis analgetik, observasi tanda dan gejala efek samping, misal depresi pernafasan, mual dan muntah, mulut kering, & konstipasi.

8. Kolaborasi dgn dokter untuk obat, dosis & cara pemberian yg diindikasikan.

9. Tentukan lokasi nyeri, karakteristik, kualitas, dan keparahan sebelum pengobatan.

10. Berikan obat dengan prinsip 5 benar

11. Dokumentasikan respon dari analgetik dan efek yang tidak diinginkan

3 Defisit self care b.d de-ngan kelelahan, nyeri

NOC:

Perawatan diri :

(mandi, Makan Toiletting, berpakaian)

Setelah diberi motivasi perawatan selama ….x24 jam, ps mengerti cara memenuhi ADL secara bertahap sesuai kemam-puan, dengan kriteria :

1. Mengerti secara seder-hana cara mandi, makan, toileting, dan berpakaian serta mau mencoba se-cara aman

NIC:Membantu perawatan diri klien Mandi dan toileting Aktifitas:

1. Tempatkan alat-alat mandi di tempat yang mudah dikenali dan mudah dijangkau klien 2. Libatkan klien dan damping 3. Berikan bantuan selama klien

masih mampu mengerjakan sendiri

NIC: ADL Berpakaian Aktifitas:

1. Informasikan pada klien dalam memilih pakaian

(15)

tanpa cemas

2. Klien mau

berpartisipasi dengan senang hati tanpa keluhan dalam memenuhi ADL

selama perawatan

2. Sediakan pakaian di tempat yang mudah dijangkau 3. Bantu berpakaian yang

sesuai

4. Jaga privcy klien

5. Berikan pakaian pribadi yg digemari dan sesuai

NIC: ADL Makan

1. Anjurkan duduk dan berdo’a bersama teman

2. Dampingi saat makan

3. Bantu jika klien belum mampu dan beri contoh 4. Beri rasa nyaman saat makan 4 PK: peningkatan

tekan-an intrakranial b.d pro-ses desak ruang akibat penumpukan cairan / darah di dalam otak (Carpenito, 1999) Batasan karakteristik : 1. Penurunan kesadar-an (gelisah, disori-entasi) 2. Perubahan motorik dan persepsi sensasi 3. Perubahan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ....x 24 jam dapat mencegah atau meminimalkan komplikasi dari peningkatan TIK, dengan kriteria :

1. Kesadaran stabil (orien-asi baik)

2. Pupil isokor, diameter 1mm

3. Reflek baik 4. Tidak mual 5. Tidak muntah

1. Pantau tanda dan gejala peningkatan TIK

a) Kaji respon membuka mata, respon motorik, dan verbal, (GCS)

b) Kaji perubahan tanda-tanda vital

c) Kaji respon pupil

d) Catat gejala dan tanda-tanda: muntah, sakit kepala, lethargi, gelisah, nafas keras, gerakan tak bertujuan, perubahan mental

2. Tinggikan kepala 30-40O jika tidak ada kontra indikasi 3. Hindarkan situasi atau

(16)

tanda vi-tal (TD

meningkat, nadi kuat dan lambat) 4. Pupil melebar, re-flek pupil menurun 5. Muntah 6. Klien mengeluh mual 7. Klien mengeluh pandangan kabur dan diplopia a) Masase karotis

b) Fleksi dan rotasi leher berlebihan

c) Stimulasi anal dengan jari, menahan nafas, dan mengejan

d) Perubahan posisi yang cepat

e) Ajarkan klien untuk ekspirasi selama perubahan posisi

4. Konsul dengan dokter untuk pemberian pe-lunak faeces, jika perlu

5. Pertahankan lingkungan yang tenang

6. Hindarkan pelaksanaan urutan aktivitas yang dapat meningkatkan TIK (misal: batuk, penghisapan, pengubahan posisi, meman-dikan)

7. Batasi waktu penghisapan pada tiap waktu hingga 10 detik

8. Hiperoksigenasi dan hiperventilasi klien se-belum dan sesudah penghisapan 9. Konsultasi dengan dokter

tentang pemberian lidokain profilaktik sebelum penghisapan

(17)

melalui posisi yang sesuai dan penghisapan yang teratur 11. Jika diindikasikan, lakukan

protokol atau kolaborasi dengan dokter untuk terapi obat yang mungkin termasuk sebagai berikut:

a) Sedasi, barbiturat (menurunkan laju meta-bolisme serebral) b) Antikonvulsan (mencegah kejang) c) Diuretik osmotik (menurunkan edema serebral)

d) Diuretik non osmotik (mengurangi edema serebral)

e) Steroid (menurunkan permeabilitas kapiler, membatasi edema serebral) f) Pantau status hidrasi,

evaluasi cairan masuk dan keluar)

(18)

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari hasil penulisan laporan kasus ini, maka penulis dapat membuat kesimpulan seperti dibawah ini :

1. Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi substansi otak dengan atau tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak.

2. Penyebab yang sering ditemukan dari CKR adalah Sebagian besar disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, perkelahian, jatuh dan cedera oleh raga dan Cedera kepala terbuka sering disebabkan akibat benda tajam dan tembakan sehingga dapat menyebabkan fraktur tulang dan laserasi dura mater.

3. Adapun tanda dan gejala penyakit CKR atau Cidera Kepala Ringan yang di alami Nn. G adalah : Pasien mengatakan, “saya semalam pusing dan bagian telinga kanan saya sakit bila ditekan, karena terbentur waktu jatuh dari motor, semalam saya ada muntah 1 kali dan nafsu makan saya berkurang dari biasanya, badan saya terasa lemah dan saya malas mau beraktivitas / bergerak”. Pasien tampak memegang kepalanya, Pasien tampak meringis kesakitan, Kepala pasien tampak diverban, Pasien tampak lemah, Pasien tampak berbaring ditempat tidur, Pasien makan menghabiskan ½ porsi makan yang disediakan, BB 40 Kg, Infus RL drif Ketopain 1 amp dan Cedantron 1 amp 20 tts/mnt, Observasi TTV : S : 37 0C , : 84 x/mt , P : 20 x/mt, TD : 130 / 80 mmHg 4. Dari pengkajian yang dilakukan dari tanggal 10 April 2008, maka penulis dapat

membuat Diagnosa keperawatan :

1. Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan serebral yang berhubungan dengan edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial.

2. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan muntah dan anorexia.

3. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik

5. Selama tiga hari penulis melakukan pengkajian dan menerapkan asuhan keperawatan maka hasil evaluasi penulis dapat menyimpulkan masalah yang dialami Nn. G adalah Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan serebral yang berhubungan dengan edema

(19)

serebral dan peningkatan tekanan intrakranial belum teratasi setelah dilakukan evaluasi tanggal 12 April 2008, Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan muntah dan anorexia dan Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik teratasi setelah dilakukan evaluasi tanggal 11 April 2008.

B. SARAN

Adapun saran yang dapat penulis berikan adalah :

1. Diharapkan pada keluarga Nn. G untuk memperhatikan kesehatannya, terutama teratur minum obat dan melakukakan tindakan-tindakan pencegahan.

2. Hal-hal yang harus dilakukan oleh Nn. G ialah jangan bekerja yang terlalu berat, lebih banyak istrahat.

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume II. Edisi 8. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Carpenito, L.J. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan dan Masalah

Kolaborasi. Edisi 8. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Doenges, M.E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Hudak dan Gallo. 1996. Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik. Volume II. Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Marion Johnson, dkk. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. Mosby.

Mc. Closkey dan Buleccheck. 2000. Nursing Interventions Classification (NIC) Second

Edition. Mosby.

NANDA. 2005. Nursing Diagnosis: Definition and Classification. Philadelphia: North American Nursing Diagnosis Association.

(21)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S DENGAN CKR

DI RUNAG TOPAZ RS KEN SARAS

UNGARAN

DISUSUN OLEH:

SINTA ANGGARIYANTI

(010213a007)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN

Referensi

Dokumen terkait

penafsiran teleologis, guna menghindari ketidakpastian hukum dari ketentuan pasal 18, pasal 19, pasal 52 ayat (1), pasal 66 ayat (1), pasal 70 dan pasal 71 UUAP tersebut di atas,

Dilihat dari hasil uji statistik bahwa diperoleh nilai p = 0,047 maka dapat disimpulkan ada perbedaan proporsi terjadinya kelelahan antara pekerjaan operator yang tidak

Penelitian ini mengungkap perbedaan penilaian customer terhadap kompetensi lulusan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan yang disingkat LPTK Islam (Fakultas Tarbiyah dan Keguruan

Adapun filsafah pemikiran Socrates, diantaranya adalah pernyataan adanya kebenaran objektif, yaitu yang tidak bergantung kepada aku dan kita, dalam membenarkan kebenaran yang

4.14 Rekapitulasi Tanggapan Pelanggan tentang Store Atmosphere pada Restoran Bertema Lokal Riung Sari, Raja Sunda dan Manjabal 2 di Kota Bandung ……… 78 4.15 Tanggapan

SD Muhammadiyah Karangwaru yang berbasis agama dalam penanaman rasa cinta pada negara kepada siswanya tetap menggu- nakan standar kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah

Jenis sistem pendingin yang digunakan pada Pusat Mode ini adalah AC split ( pada lembaga kursus) dan AC Standing (pada ruang peragaan busana dan butik). AC Split terdiri

Melihat dari karakteristik demografi responden dapat diambil kesimpulan bahwa usia yang paling dominan adalah responden dengan usia 17-25 tahun karena dalam usia