• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN WAJIB BELAJAR PENDIDIKAN DASAR SEMBILAN TAHUN DI KECAMATAN DARUL MAKMUR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEBIJAKAN WAJIB BELAJAR PENDIDIKAN DASAR SEMBILAN TAHUN DI KECAMATAN DARUL MAKMUR"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

57

KEBIJAKAN WAJIB BELAJAR PENDIDIKAN DASAR SEMBILAN

TAHUN DI KECAMATAN DARUL MAKMUR

1) George Herisusanto, M. Pd

1Guru SMA Negeri 1 Darul Makmur Dinas pendidikan Nagan Raya email: [email protected]

2) Radhiah, S.Pd

2Guru SMA Negeri 1 Darul Makmur Dinas pendidikan Nagan Raya email: [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan, faktor pendukung, faktor penghambat dan dampak dari program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun di Kecamatan Darul Makmur. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut:(1) pelaksanaan kebijakan wajib belajar pendidikan dasar di Kecamatan Darul Makmur secara kuantitatif telah berhasil yang ditandai dengan adanya peningkatan APK dan APM dari tahun 2008 sampai dengan 2010; rendahnya anak yang putus sekolah; dan tidak ada perbedaan dalam memperoleh pendidikan. (2) faktor pendukung pelaksanaannya adalah berkaitan dengan tersedianya biaya, partisipasi masyarakat, SDM pengelola, sarana, prasarana, peran pemerintah dan peran media. (3) faktor penghambat pelaksanaannya adalah keadaan ekonomi orang tua siswa, tingkat pendidikan orang tua siswa, konflik internal keluarga dan jarak dari rumah ke sekolah. (4) keberhasilan pelaksanaan kebijakan tersebut akan berdampak kepada pemerintah, masyarakat dan individu murid.

Kata Kunci: kebijakan dan wajib belajar 1. PENDAHULUAN

Setiap warga negara berhak untuk memperoleh pendidikan dan pemerintah berkewajiban menenuhi hak-hak warganya. Hak-hak tersebut telah tertuang dalam Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia (RI) tahun 1945 baik pada pembukaan maupun batang tubuhnya (Shaleh, 2004:307). Oleh karena itu, kebijakan pendidikan nasional harus mengarah pada visi dan misi pendidikan nasional. Murniati dan Usman (2009:28) menjelaskan bahwa: “Visi pendidikan nasional adalah untuk terwujudnya pendidikan sebagai

pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warganya agar berkembangan menjadi manusia yang berkualitas. Sedangkan salah satu misi pendidikan nasional adalah mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Sementara makna pendidikan dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) menurut Djojonegoro (1998:18) bahwa “Pendidikan harus berorientasi dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa yang

(2)

58 diwujudkan melalui program pemerataan dan

perluasan akses belajar yang seluas-luasnya bagi seluruh warga negara” (Usman, 2007:27). Namun berbagai persoalan muncul dalam pemenuhan hak-hak warga negara dalam memperoleh pendidikan. Secara umum persoalan-persoalan pendidikan nasional adalah berhubungan dengan pemerataan dan perluasan akses memperoleh pendidikan, mutu, relevansi, daya saing, efektifitas dan efesiansi.

Persoalan pendidikan yang sampai saat ini belum terselesaikan adalah masalah pemerataan dan perluasan akses pendidikan. Sebab persoalan tersebut berkaitan dengan hak-hak warga negara untuk memperoleh pendidikan. Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam menyelesaikan persoalan pemerataan dan perluasan akses untuk memperoleh pendidikan adalah melalui program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun.

Kebijakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun merupakan program prioritas pemerintah dalam pembangunan pendidikan nasional. Tujuan utama kebijakan tersebut adalah untuk memfasilitasi setiap warga negara untuk dapat menikmati pendidikan secara merata dan kemudahan akses tanpa ada diskriminasi.

Untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan kebijakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun, pemerintah telah menentukan beberapa indikator antara lain: APK (angka partisipasi kasar), APM (angka partisipasi murni), angka mengulang kelas, AAPS (angka anak putus sekolah) dan lain-lain.

Untuk menjamin pelaksanaan kebijakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun

sesuai dengan rencana maka perlu dilakukan evaluasi dengan tujuan untuk mendapatkan berbagai informasi dan peristiwa atau fakta-fakta tertentu terkait dengan kemajuan pelaksanaan, pendukung dan penghabat pelaksanaan dan dampak pelaksanaan kebijakan tersebut.

Berdasarkan asumsi dan pengamatan awal, pada saat peneliti berada di daerah tersebut, ada sejumlah anak-anak di Kecamatan Darul Makmur yang belum menikmati pendidikan. Padahal apabila kita cermati uraian di atas, setiap masyarakat memiliki hak untuk memperoleh pendidikan tanpa terkecuali. Hak masyarakat tersebut telah dijamin oleh berbagai peraturan yang ada, baik peraturan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimanakah implementasi kebijakan wajib belajar pendidikan dasar Sembilan tahun di Kecamatan Darul Makmur?

Sedangkan yang menjadi pertanyaan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) pelaksanaan kebijakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun di Kecamatan Darul Makmur; (2) faktor pendukung pelaksanaan kebijakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun di Kecamatan Darul Makmur; (3) faktor penghambat pelaksanaan kebijakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun di Kecamatan Darul Makmur; (4) dampak pelaksanaan kebijakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun di Kecamatan Darul Makmur.

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan kebijakan wajib

(3)

59 belajar pendidikan dasar sembilan tahun di

Kecamatan Darul Makmur.

2. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Inquiry Qualitative Interactive (IQI). Menurut Garna (1996:29-30) bahwa “Metode kualitatif yaitu salah satu pendekatan penelitian khusus dalam ilmu sosial untuk memahami objek kajian” (Usman, 2007:147). Sementra pendekatan IQI menurut McMillan dan Schunacher (2001:35) (Usman, 2007:3) bahwa “Sebuah studi mendalam yang menggunakan cara tertentu untuk mengumpulkan data dari responden sesui dengan keadaan yang sesungguhnya tanpa ada rekayasa”.

Subjek data penelitian ini adalah semua responden yang dapat memberikan informasi untuk memenuhi tujuan penelitian. Subjek dalam penelitian ini adalah Kepala UPTD pendidikan Kecamatan Darul Makmur, Tokoh Masyarakat Kabupaten Nagan Raya, beberapa Kepala Sekolah SD dan beberapa Kepala Sekolah SMP se-Kecamatan Darul Makmur.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian inia adalah metode wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Teknik wawancara digunakan untuk menggali informasi langsung dari subjek penelitian ini. Sementara studi dokumentasi dan kegiatan observasi merupakan teknik yang digunakan untuk mendukung teknik wawancara.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN a. Hasil Penelitian

Secara umum pelaksanaan kebijakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun di Kecamatan Darul Makmur bila ditinjau dari aspek tujuan dan target telah berhasil dengan baik. Pandangan tersebut didukung oleh berbagai data-data sebagai berikut: (1) hampir tidak ada anak yang mengulang kelas; (2) rendahnya anak yang putus sekolah; (3) tidak ada perbedaan kesempatan bersekolah antara laki-laki dan perempuan; dan (4) semakin banyaknya anak yang berminat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan setingkat SMP/sederajat. Sementara Target-target tersebut antara lain: terjadi peningkatan anak yang masuk ke jenjang SMP/sederajat, berkurangnya anak putus sekolah pada senjang pendidikan dasar, dan semakin banyaknya anak usia sekolah yang dapat bersekolah.

Bila ditinjau pada aspek Indikator utama untuk melihat keberhasilan pelaksanaan kebijakan tersebut adalah dengan melihat APK dan APM, baik untuk jenjang pendidikan SD/sederajat maupun jenjang pendidikan SMP/sederajat. Dimana pada tahun 2008 APK SD =124%, tahun 2009 =106 % dan tahun 2010 =99%. Sementara APM-nya tahun 2008 =115%, tahun 2009 =113% dan tahun 2010=93%. Sedangkan APK SMP pada tahun 2008 =89,95%, pada tahun 2009 =92,81% dan pada tahun 2010 =93,00%. Sementara APM-nya pada tahun 2008 =74,36%, pada tahun 2009 =90,23% dan pada tahun 2011 naik menjadi 91,00%.

Faktor pendukung pelaksanaan kebijakan wajib belajar pendidikan sembilan tahun di Kecamatan Darul Makmur, antara lain: (1) tersedianya biaya/anggaran yang cukup; (2)

(4)

60 partisipasi masyarakat yang baik; (3) SDM

pengelola yang cukup; dan (4) sumber sarana dan prasarana yang cukup; serta (5) peran pemerintah yang baik; dan (6) sosialisasi dari media yang cukup.

Faktor penghambat pelaksanaan kebijakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun di Kecamatan Darul Makmur antara lain: (1) keadaan ekonomi orang tua siswa; (2) rendahnya tingkat pendidikan orang tua siswa; (3) jarak tempat tinggal dengan sekolah di beberapa daerah yang masih cukup jauh; (4) konflik rumah tangga orang tua siswa.

Dampak bagi pemerintah terhadap pelaksanaan kebijakan tersebut, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, khususnya pemerintah tingkat Kecamatan Darul Makmur adalah penambahan jumlah warga negara yang dapat menikmati pendidikan tanpa ada diskriminasi; berkurangnya jumlah warga negara yang buta huruf setingkat pendidikan dasar; mengurangi angka secara nasional terkait indikator pemerataan dan perluasan akses untuk memperoleh pendidikan bagi warga negara; mengurangi pengangguran dan menghindari konflik antar individu maupun masyarakat dengan pemerintah sebab meraka telah berpendidikan. Dampak bagi masyarakat terhadap pelaksanaan kebijakan tersebut adalah terciptanya SDM masyarakat sehingga akan memudahkan masyarakat menerima berbagai informasi dari pemerintah maupun dari non pemerintah. Sebab, selama ini banyak terjadi konflik disebabkan oleh adanya mis komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat atau masyarakat dengan non pemerintah disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan masyarakat

di Kecamatan Darul Makmur. Sementara dampak bagi individu murid terhadap pelaksanaan kebijakan tersebut adalah murid dapat menikmati pendidikan dasar dengan merata dan murid mendapatkan kemudahan dalam memperoleh kesempatan untuk masuk sekolah sampai pada pendidikan dasar.

b. Pembahasan Hasil Penelitian

Tingkat keberhasilan pelaksanaan suatu kebijakan dapat ditentukan dengan melihat tujuan, sasaran, dan indikator yang telah dirumuskan sebelumnya. Evaluasi pelaksanaan kebijaksanan dapat dilakukan pada saat awal pelaksanaan kebijaksanan, pada saat pelaksanaan atau pada akhir dari pelaksanaan. Evaluasi pelaksanaan kebijakan diperlukan sebagai sarana untuk mengetahui pelaksanaan di lapangan, apakah sudah berjalan sesuai yang diharapkan atau tidak. Bila dalam evaluasi terdapat sesuatu yang baik maka dengan sendirinya perlu diteruskan dan apabila terdapat sesuatu yang tidak baik maka perlu dihapuskan. Evaluasi pelaksanaan juga perlu dilakukan untuk membuat rekomendasi terhadap berbagai kebijakan baru yang di buat oleh pemerintah. Evaluasi juga perlu dilakukan untuk menghemat anggaran, sebab dengan mengetahui telah berhasilnya pelaksanaan suatu kebijakan maka apa perlu di buat kebijakan baru atau menghentikan kebijakan dan menggantinya dengan program baru yang lebih membutukan perhatian pemerintah sehingga akan menghemat anggaran.

Bagaimanapun kesuksesan setiap pelaksanaan suatu kebijakan selalu ada faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung perlu diketahui untuk menjadi

(5)

61 pedoman dalam pembuatan kebijakan baru, itu

artinya faktor pendukung dapat dipertahankan apabila dibuat kebijakan baru. Sementara faktor penghambat perlu diketahui sebagai pedoman agar penghambat pelaksanaan kebijakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun atau kebijakan baru sebagai lanjutan dari kebijakan sebelumnya dapat diketahui.

Dampak pelaksanaan suatu kebijakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun akan berpengaruh kepada pemerintah yang merupakan penanggung jawab terhadap hak-hak warga negara untuk dapat menikmati pendidikan. Disamping berdampak pada pemerintah juga akan berdampak kepada masyarakat/warga negara yang merupakan kelompok yang menerima program. Sementara dampak lain dari pelaksanaan kebijakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun adalah kepada individu murid yang merupakan unsur penting penerima manfaat dari pelaksanaan kebijakan yang dimaksud.

4. KESIMPULAN

Kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Pelaksanaan kebijaksanaan wajib belajar sembilan tahun di Kecamatan Darul Makmur bila ditinjau dengan aspek tujuan dan target maka dinyatakan telah berhasil. Secara aspek tujuan keberhasilan pelaksanaan kebijaksanaan tersebut ditandai dengan telah terpenuhinya hak-hak anak usia 7-15 tahun untuk menikmati pendidikan dasar secara merata tanpa ada diskriminasi, hal tersebut ditandai dengan APM dan APK tahun 2010 sebagai berikut: APK SD tahun 2010 adalah

99% dan APM SD tahun 2010 adalah 93%. Sedangkan APK SMP pada tahun 2010 adalah 93,00% dan APM SMP tahun 2010 adalah 91,00%. Sementara bila ditinjau dari aspek target keberhasilan pelaksanaan kebijaksanaan tersebut adalah pada tahun 2009 tidak ada lagi anak usia sekolah yang tidak dapat bersekolah pada pendidikan dasar, baik pada lembaga formal maupun non formal. Kemudian bila ditinjau dari aspek indikator keberhasilan pelaksanaan kebijaksanaan tersebut adalah telah terpenuhinya beberapa indikator penentu keberhasilan yang ditandai dengan adanya peningkatan anak yang dapat bersekolah pada jenjang pendidikan dasar, rendahnya anak putus sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan rendahnya anak mengulang kelas serta tidak adanya diskriminasi dalam memperoleh pendidikan pada pendidikan dasar.

b. Faktor pendukung pelaksanaan kebijaksanaan tersebut adalah sebagai berikut: sumber pendanaan; partisipasi masyarakat; SDM pengelola; sarana dan prasarana; peran pemerintah; dan media. c. Faktor penghambat pelaksanaan

kebijaksanaan tersebut adalah orang tua siswa berkaitan dengan masalah ekonomi, pendidikan dan masalah konflik kelurga; dan jarak tempat tinggal dengan sekolah di beberapa daerah ada yang masih cukup jauh. d. Dampak pelaksanaan kebijaksanaan tersebut

bagi pemerintah adalah penambahan jumlah warga negara untuk dapat menikmati pendidikan tanpa ada diskriminasi; berkurangnya jumlah warga negara yang buta

(6)

62 huruf setingkat pendidikan dasar dan

mengurangi angka secara nasional terkait indikator pemerataan dan perluasan akses untuk memperoleh pendidikan bagi warga negara. Dampak bagi masyarakat, khususnya masyarakat di Kecamatan Darul Makmur adalah terciptanya SDM masyarakat yang baik sehingga akan memudahkan menerima berbagai informasi dari pemerintah maupun dari non pemerintah, dengan demikian konflik antar pemerintah dengan masyakatnya, masyarakat dengan masyarakat tidak akan terjadi. Sementara dampak bagi individu murid adalah murid dapat menikmati pendidikan dasar dengan mudah dan merata.

Berdasarkan pemikiran-pemikiran di atas maka dapat ditarik implikasi-imlpikasi sebagai berikut:

a. Ketuntasan pelaksanaan kebijaksanaan pendidikan dasar sembilan tahun di Kecamatan Darul Makmur, baik bila ditinjau dari segi tujuan, target maupun indikotr maka akan berimplikasi pada peningkatan SDM yang berkualitas, minimal kemampuan dasar. Tuntasnya program tersebut juga akan berimplikasi pada peningkatan rasa percaya diri dalam menghadapi tantangan zaman di kemudian hari.

b. Dengan mengetahui faktor pendukung seperti sumber pendanaan, partisipasi masyarakat, sarana, prasarana, peran pemerintah, SDM pengelola dan media maka akan berimplikasi pada munculnya kesadaran seluruh Stakeholder akan pentingnya kerjasama dalam menjalankan suatu program. Sebab sebesar dan sebagus apapun kebijakan yang

dibuat tidak mungkin dapat berjalan dengan baik apabila tidak ada kerjasama yang baik seluruh komponen. Dengan adanya kerjasama yang baik dalam pelaksanaan suatu kebijakan maka secara tidak langsung akan tersusun suatu pranata sosial yang rapih dan ideal. Dengan sendirinya akan menghilangkan berbagai macam penyakit masyarakat, seperti tawuran antar warga, terorisme, dan penyakit-penyakit masyarakat lainnya.

c. Dengan mengetahui faktor penghambat seperti keadaan orang tua siswa dan jarak tempuh dari rumah ke sekolah yang terlalu jauh maka dalam pelaksanaan kebijakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun di Kecamatan Darul Makmur akan berimplikasi pada munculnya kesadaran pemerintah, masyarakat, orang tua murid, dan dunia usaha bahwa masih ada anak-anak yang perlu mendapat perhatian terkait tentang hak-haknya untuk mendapat pendidikan dengan mudah dan merata. Apabila segelintir anak tersebut tidak mendapat persiapan minimal kemampuan dasar, maka dikemudian hari akan menyulitkan semua pihak, bias jadi akan menjadi salah satu pelaku penyakit masyarakat.

d. Pelaksanaan kebijaksanaan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun akan berkontribusi terhadap pemenuhan hak-hak warga negara untuk dapat menikmati pendidikan secara merata dan tanpa diskriminasi. Hal ini bagi pemerintah akan besar implikasinya, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sampai

(7)

63 pemerintah kabupaten sebab telah

tersedianya SDM yang dapat menghadapi tantangan zaman. Bagi masyarakat keberhasilan pelaksanaan kebijaksanan tersebut akan memberi implikasi terhadap kemudahan anak-anaknya untuk dapat bersekolah tanpa ada kendala. Sementara bagi individu murid/anak tersebut akan berimplikasi pada adanya kematangan diri sehingga akan dapat menjalani hidup di dunia dengan penuh percaya diri. Karena telah memiliki modal untuk menjalaninya dengan adanya kemampuan dasar setelah mereka menjalani pendidikan dasar di sekolah.

Sehubungan dengan implikasi-implikasi sebagaimana dipaparkan tersebut, maka penelitian ini secara teoretis merekomendasikan sebagai berikut:

a. Dengan tuntanya pelaksanaan program wajib belajar pendidikan dasar Sembilan tahun di Kecamatan Darul Makmur maka ada beberapa rekomendasi yang dapat penulis tuliskan dalam tesis ini sebagai berikut: (1) perlu dilakukan penelitian pendahuluan seperti analisis SWOT guna menjajaki program lanjutan, (2) setelah menemukan gambaran umum melalui analisis SWOT maka perlu melakukan perencanaan strategik guna memantapkan program lanjutan seperti apa yang perlu dibuat. (3) setelah perencanan strategik selesai selanjutnya pemerintah daerah perlu membuat kebijakan, baik dalam bentuk qanun maupun kebijakan teknis di suatu lembaga sampai yang paling rendah. b. Dengan mengetahui faktor-faktor pendukung

pelaksanaan kebijakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun, penulis

menyarankan agar pemerintah daerah tetap mempertahankan apa yang menjadi pendukung pelaksanaan kebijakan tersebut. c. Dengan mengetahui faktor-faktor

penghambat pelaksanaan kebijakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun, penulis menyarankan agar pemerintah daerah mengusahakan agar memcari penyelesaian penghambat pelaksanaan kebijakan tersebut. d. Dampak pelaksanaan kebijakan wajib belajar

pendidikan dasar sembilan tahun sangat besar pengaruhnya terhadap peningkatan SDM, oleh karena itu pemerintah perlu membuat program lanjutan, seperti program wajib belajar 12 tahun.

5. REFERENSI

Arikunto, Suharsimi dan Jabar A. B. (2004) Evaluasi Program Pendidikan; Pedoman Teoretis Praktis Bagi Praktisi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta.

Depdiknas (2005) Pelaksanaan Wajib Relajar 9 Tahun, e-smartschool.com, PT. Bangun Satya Wacana, Jakarta [08 Januari 2005]. Dunn, William N. (2003a), Analisis

Kebijaksanaan Publik; Kerangka Analisis dan Prosedur Perumusan Masalah, Hanindita Graha Widya, Yogyakarta. ______________ (2003b), Pengantar Analisis

Kebijakan Publik, Edisi Kedua, Gadjah Mada Universitas Press, Yogyakarta.

Gunawan, Dadang (2006), Konsep Hasil

Pemeriksaan Atas Program Wajib

Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun

dan Program Bantuan Operasional

Sekolah (Bos) Tahun Anggaran 2005

(8)

64

dan 2006 pada Kantor Wilayah

Departemen Agama Provinsi Jawa

Barat

Di

Bandung,

Badan

Pemeriksaan

Keuangan

Republik

Indonesia, Bandung.

Imron,

Ali

(2008),

Kebijaksanaan

Pendidikan

di

Indonesia,

Bumi

Aksara, Jakarta

Maslan, M. Rizal (2007), Mendiknas

Optimis Wajib Belajar 9 Tahun

Tercapai 2009, detik com, Jakarta [19

September 2007].

Murniati, AR dan Usman, Nasir (2009), Implementasi Manajemen Stratejik Dalam Pemberdayaan Sekolah Manajemen Kejuruan, Bandung: Citapustaka Media Perintis.

Sagala, Saiful (2008), Administrasi Pendidikan Kontemporer, Alfabeta, Bandung.

Shaleh, Abdul Rachman (2004), Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa; visi, misi dan

aksi, Cetakan Pertama, PT. Raja Grafindi Persada, Jakarta.

Subarsono (2006), Analisis Kebijakan Publik, Yogyakarta: Pustak Pelajar.

Suharto, Edi (2005), Analisis Kebijakan Publik, Bandung, Alfabeta.

Suyanto, (2006), Arah Pengembangan

Manajemen Pendidikan Dasar Dan

Menengah,

Dokumen,

Direktorat

Jenderal

Manajemen

Pendidikan

Dasar Dan Menengah, Departemen

Pendidikan Nasional, Jakarta.

Syafaruddin (2008), Efektivitas Kebijakan

Pendidikan, Konsep, Strategi, Dan

Aplikasi

Kebijakan

Menuju

Organisasi Sekolah Efektif, Jakarta:

Reneka Cipta.

Usman, Nasir (2007), Manajemen Peningkatan Kinerja Guru, Cetakan Pertama, Mutiara Ilmu, Bandung.

Referensi

Dokumen terkait

Mengingat bahwa perairan Indonesia masih luas dan potensi lestari yang masih berada sangat jauh di atas hasil produksi tangkapan tuna saat ini, maka peluang untuk meningkatkan

Menyatakan bahwa “Tugas Akhir” yang saya buat untuk memenuhi persyaratan kelulusan pada progam studi Diploma Tiga D-III Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri UIN Maulana

Berdasarkan uraian tersebut penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut secara normatif yaitu dengan cara pengumpulan data sekunder atau data yang diperoleh dari

Dapat dilihat pada penggalan artikel di atas, bah-a terdapat sebuah penulisan kata yang salah, yakni kata moda. $ata moda tidak dapat ditemukan dalam $BBI, karena tidak

Teknik dasar yang digunakan adalah teknik bagi unsur langsung dengan membagi satuan lingual menjadi beberapa bagian atau unsur dan unsur-unsur tersebut dipandang

1. Keberadaan UKM kerajinan bambu di kampung Pajeleran kelurahan Sukahati telah berlangsung secara turun temurun dari generasi ke generasi, diperkirakan telah ada sejak

Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi pengaruh pursed lips breathing terhadap fatigue pasien gagal ginjal kronik di ruang hemodialisa rumah sakit umum