• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daftar Isi. 30 Harmoni Menakar Efektivitas Suku Bunga KUR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Daftar Isi. 30 Harmoni Menakar Efektivitas Suku Bunga KUR"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

5

4

5

8

20

11

17

14

24

27

Capaian 2017 & Prospek 2018 Mengoptimalkan Kinerja di Era Digital

Menyiapkan Masa Pensiun Berkualitas

Memagari Kompleksitas Tekfin Direktur Umum dan Kepatuhan Samiluddin

Ajak Nasabah Ngopi Sembari Bicara Bisnis

Menakar Efektivitas Suku Bunga KUR

Jati Diri di Tepi Sungai Sekanak Industri Keuangan 2018

Menanti Militansi Selepas Restrukturisasi

Mata Uang Virtual Kontroversi di Balik Semarak Bitcoin

Sengketa Utang Antara Kepailitan dan Kepastian Bisnis

Gerbang Pembayaran Nasional Saling Terhubung di GPN

Perbankan Syariah

Saatnya Agresif Membiayai Infrastruktur

Ekonomi Kreatif,

Mesin Pertumbuhan Baru Industri Keuangan Non-Bank Menggegas Reformasi, Mendorong Konsolidasi Dapur Redaksi

Insight

Laporan Utama

Finansial & Modal

44

Bidik Lensa

33

Human Capital

30

Harmoni

36

Leasure

39

Bijak Investasi

41

Etalase

20

8

30

36

41

(4)

Pelindung:

Direktur Utama BANK SUMSEL BABEL Muhammad Adil

Pemimpin Umum/ Pemimpin Redaksi:

Pemimpin Divisi Sekretaris Perusahaan & Hukum

Faisol Sinin

Wakil Pemimpin Redaksi:

Surya Mahendra Saputra

Sidang Redaksi:

Board of Directors BANK SUMSEL BABEL Pemimpin Divisi Sekretaris

Perusahaan & Hukum Surya Mahendra Saputra

Redaktur:

Teddy Pratama Putra

Reporter:

Dinda Wulandari, Ibnu Holdun, Muhammad Ikhsan

Fotografer:

Teddy Pratama Putra KOMUNITAS FOTOGRAFER

BANK SUMSEL BABEL

Distribusi:

Ansori Fauzi Sin Karyadi

Percetakan:

PT Aksara Grafika Pratama

ALAMAT REDAKSI:

Kantor Pusat Bank Sumsel Babel Lantai 11 Jl. Gubernur H. Ahmad Bastari No. 7

Silaberanti Kec. Seberang Ulu I, Jakabaring Palembang Email: [email protected]

B

ank Sumsel Babel, bank kebanggaan dan harga diri masyarakat di Sumatera Selatan dan Bangka Belitung, menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Senin (26/2/2018). Hasil RUPS itu menyepakati

pembagian dividen tahun buku 2017 kepada pemegang saham sebesar 50% dari laba bersih yakni senilai Rp146,55 miliar.

Konsistensi Bank Sumsel Babel untuk membagikan dividen ke pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota di Sumatra Selatan dan Kepulauan Bangka Belitung mencerminkan komitmen yang kuat dalam menyokong pertumbuhan daerah.

Komitmen itu juga menandai kemampuan Bank Sumsel untuk berkelit di tengah perekonomian yang sulit. Tahun 2017 tentu bukan periode yang mudah bagi industri perbankan. Ekonomi global yang tak menentu dan belum membaiknya harga komoditas yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional maupun daerah jelas memberikan tekanan sekaligus tantangan.

Tahun ini, situasinya tak bakal banyak berbeda. Artinya, sangat dibutuhkan strategi yang kuat untuk mengelak dari sentimen yang menghadang serta cepat beradaptasi dengan perkembangan bisnis di era digital. Harapannya, perusahaan dapat memelihara pertumbuhan sehingga kontribusi berupa dividen dapat terus mengalir ke pemegang saham.

Kami dari Tim Redaksi akan memotret dan melaporkan kinerja Bank Sumsel Babel tahun lalu serta prospeknya pada 2018. Tema ini juga bakal dilengkapi dengan beragam topik lain yang tak kalah menarik untuk disajikan dalam terbitan majalah edisi ke-12 ini.

Majalah Finansial senantiasa mendukung kegiatan

sosialisasi program dan misi yang dijalankan oleh Bank Sumsel Babel untuk mencapai tujuan menjadi bank daerah terbaik, sekaligus menjadi tuan rumah dalam geliat perekonomian dan pembangunan di Sumatera Selatan dan Bangka Belitung.

Majalah ini ingin menjadi sarana bagi Bank Sumsel Babel dalam menumbuhkan budaya dan etos kerja bagi karyawan, sekaligus menjadi duta untuk memberikan citra positif bagi kemajuan bank yang kita cintai ini. Untuk itu, terimalah salam hormat dari kami. Faisol Sinin

Pemimpin Redaksi

(5)

Tahun 2017 tentu bukan periode yang mudah bagi

industri perbankan. Ekonomi global yang tak menentu

dan belum membaiknya harga komoditas yang menjadi

tulang punggung ekonomi nasional maupun daerah jelas

memberikan tekanan sekaligus tantangan.

K

endati demikian, PT

Bank Pembangunan Daerah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung mampu berkelit dari situasi sulit. Sejumlah indikator kinerja tahun lalu yang tersaji dalam Rapat Umum Pemegang

Saham (RUPS) yang digelar Senin (26/2), merepresentasikan kemampuan Bank Sumsel Babel untuk tetap konsisten menjaga pertumbuhan usaha.

Dengan capaian itu, Bank Sumsel Babel membagikan dividen sebesar 50% dari laba bersih yang

diraih bank pembangunan daerah tersebut kepada pemegang saham yakni sebesar Rp146,55 miliar.

Direktur Utama Bank Sumsel Babel M. Adil mengatakan

penetapan penggunaan laba bersih mencapai total Rp293,10 miliar. “Dividen sebesar 50% dari laba

Capaian 2017 & Prospek 2018

Mengoptimalkan

Kinerja

(6)

bersih itu akan dibayarkan kepada pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota di Sumatra Selatan dan Kepulauan Bangka Belitung, di samping pula Koperasi Cermat yang tercatat sebagai pemegang saham,” katanya usai RUPS.

Menurut Adil, tahun ini pihaknya akan mengarahkan perkembangan perusahaan ke teknologi digital. Oleh karena itu, dalam rapat tersebut, pihaknya juga telah menyampaikan ke pemegang saham terkait dengan penyertaan modal untuk kepentingan ekspansi.

“Pemegang saham janjinya mau nambah [modal] tapi

nilainya tidak disebut, kami butuh sekitar Rp100 miliar lagi untuk ekspansi, perluasan jaringan dan peningkatan IT,” ujarnya.

Berdasarkan catatan perusahaan, total modal yang telah disetor mencapai Rp934,141 miliar tumbuh3,43% year on year (yoy) dibandingkan pada 2016.

Adil menilai perkembangan industri perbankan nasional termasuk BPD pada 2018 juga bakal dipenuhi dengan banyak tantangan seperti halnya pada tahun lalu. Namun, Bank Sumsel Babel optimistis bisa mencetak pertumbuhan seiring banjirnya momentum penunjang, termasuk Asian Games 2018.

“Kami harus bersyukur karena di Sumsel ada Asian Games sehingga kami tahu arah program pembangunan ke mana.”

Untuk itu, dalam rencana bisnis bank (RBB) yang telah disahkan, perusahaan mematok target kredit bisa tumbuh 10%—12%. Angka pertumbuhan itu sesuai pula dengan target Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam penyaluran pembiayaan bank tahun ini. Sementara untuk funding atau penghimpunan DPK, pihaknya menargetkan bisa tumbuh 12%—14%.

Dia mengatakan untuk

mencapai target pembiayaan bakal dipicu beberapa faktor, seperti sektor UMKM dan proyek-proyek infrastruktur. Pasalnya, Bank Sumsel Babel juga berpartisipasi dalam membiayai sejumlah proyek bergengsi di Sumsel.

“Kami ikut [membiayai] beberapa proyek infrastruktur, proyek yang berlangsung sekarang jalan LRT, tol dan sejumlah pabrikan. Ini belum dicairkan semua masih undistribute loan,

kalau dicairkan langsung melonjak realisasinya,” ujarnya.

RESTRUKTURISASI

Sementara itu, hasil RUPS Bank Sumsel Babel juga memutuskan pengajuan nama calon direktur kepatuhan dan komisaris independen kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Untuk calon direktur kepatuhan, terdapat dua nama yang muncul dan berasal dari internal perusahaan yakni Aran Haryadi dan Riera Ecirhynalda.

“Kami harap proses pengisian direksi ini tidak lama mengingat calon berasal dari internal perusahaan. Namanya segera kami usulkan ke OJK untuk dilakukan fit and proper test,” katanya.

Sementara itu, untuk calon komisaris independen, nama yang diusulkan dalam RUPS yakni Harris Oemar dan Marsuan.

Kinerja PT BPD Sumatera Selatan dan Bangka Belitung

(Rp miliar)

Indikator Keuangan (Rp M)2015 (Rp M) 2016 (Rp M)2017 Total Aset 16.515 18.911 22.145 Total DPK - Pemerintah - Masyarakat 12.110 1.555 10.555 14.221 1.577 12.644 17.173 1.739 15.434 Total Kredit - Konsumtif - Produktif 11.556 9.134 2.422 12.645 9.897 2.748 13.561 10.811 2.750 Laba Kotor 413 419 411

(7)

Hasil RUPS memutuskan calon komisaris independen Harris Oemar dan Marsuan untuk diusulkan ke OJK dan dilakukan fit and proper test. Selain itu, rapat pemegang saham tersebut juga menyetujui laporan tahunan perseroan untuk tahun buku 2017.

Laporan tahunan itu terdiri atas Laporan Direksi, Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris, serta mengesahkan Laporan Keuangan Perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2017 beserta penjelasannya yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Doli, Bambang, Sulistiyanto, Dadang & Ali.

Dalam laporan keuangan tahunan 2017 tercatat aset perusahaan tumbuh 17,10%

menjadi Rp22,14 triliun.

Sementara untuk penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 20,76% menjadi Rp17,17 triliun dibandingkan dengan tahun lalu.

“Kinerja keuangan kami mulai dari aset sampai DPK bisa tumbuh di atas rata-rata nasional pada tahun lalu,” ujarnya.

Adapun untuk kredit, penyaluran yang dilakukan

perusahaan tercatat tumbuh 7,24% pada tahun 2017 yakni sebanyak Rp13,56 triliun.

Dia menjelaskan pihaknya berencana menaikkan share kredit produktif menjadi 25% dalam portofolio kredit yang disalurkan. Saat ini kredit produktif

berkontribusi sebesar 22% dari total kredit Bank Sumsel Babel. Adil menimbang, porsi 25%

kredit produktif dan 75% kredit konsumer sudah seimbang untuk portofolio perusahaan.

“Kredit produktif itu mulai dari konstruksi, UMKM, modal kerja, investasi, KUR termasuk juga untuk replanting kebun sawit di Sumsel.”

Adapun rasio keuangan tahun 2017 dengan perincian yakni loan to funding ratio (LFR) sebesar 78,97%, rasio BOPO sebesar 79,71%, dan rasio NPL Net 3,17%.

Bank Sumsel Babel saat ini memiliki 598 outlet yg tersebar di Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, dan Jakarta. Ratusan outlet itu terdiri dari 29 Kantor cabang, 50 KCP, 99 kantor kas, 50 payment point, 366 unit ATM, tiga unit CDM, dan tujuh unit mobil kas keliling. (Dinda/Finansial)

“Kami ikut

[membiayai] beberapa

proyek infrastruktur,

proyek yang

berlangsung

sekarang jalan LRT,

tol dan sejumlah

pabrikan. Ini belum

dicairkan semua

masih undistribute

loan, kalau dicairkan

langsung melonjak

realisasinya,”

• The Best Annual report award (ARA) kategori BUMD non-listed pada 2014, 2015, dan 2016 • 1 best over all performance

Banking Service Excellence Award kategori BPD oleh MRI dan majalah Infobank

• The best over all top BUMD kategori BPD BUKU II oleh majalah Business News • BPD dengan digital inovasi

terbaik kategori BUKU II tahun 2016 oleh Harian Seputar Indonesia

• The best champion of

Palembang WoW SEA, kategori conventional bank (BUKU II) oleh Markplus

• Infobank Award tahun 2016 dan 2017 sebagai bank berpredikat sangat baik oleh majalah Infobank

• Silver champion of Indonesia WoW service excellence award oleh Markplus

• Lembaga dengan implementasi e-LHKPN terbaik pada 2017 oleh KPK

BPD Sumsel Babel beberapa tahun terakhir juga telah

menorehkan sejumlah penghargaan, yakni

(8)

Sepanjang tahun lalu, industri keuangan khususnya

perbankan masih berkutat dengan restrukturisasi yang

berpengaruh terhadap pertumbuhan intermediasi. Kini,

usai restrukturisasi, perbankan diharapkan bisa memacu

pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan penyaluran

kredit ke masyarakat pada tahun ini.

Menanti Militansi

Selepas Restrukturisasi

INDUSTRI KEUANGAN 2018

A

hmad Hidayat, Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Audit Internal, Manajemen Risiko dan Pengendalian Kualitas, mengatakan pihaknya optimistis perbankan bisa cepat menyalurkan pembiayaan pada tahun ini

pascarestrukturisasi.

“Saya rasa momentum [tahun ini] bagus, perbankan punya

(9)

banyak ruang untuk lending, tahun lalu sibuk restrukturisasi, 2018 ini diharapkan penyaluran bisa lebih cepat karena memang masyarakat membutuhkannya,” katanya saat acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan di Palembang, Januari 2018.

Dengan target pertumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 5,4%, otoritas yakin sektor jasa keuangan mampu mendukung pencapaian target tersebut.

“Hal ini didukung oleh solidnya indikator sektor jasa keuangan baik dari sisi pemodalan dan likuiditas, maupun tingkat risiko yang terkendali,” katanya.

Pihaknya mencatat, ruang gerak perbankan, untuk

menyalurkan kredit masih sangat leluasa di mana potensi kredit yang bisa diberikan ke masyarakat mencapai Rp640 triliun.

Potensi kredit itu, kata Ahmad, dihitung otoritas dengan melihat kondisi permodalan di mana capital adequacy ratio (CAR) perbankan sebesar 23,36%.

Menurut dia, angka tersebut menunjukkan bahwa permodalan lembaga jasa keuangan nasional relatif kuat.

“Dengan asumsi CAR disesuaikan ke level setara dengan rata-rata CAR Perbankan di kawasan ASEAN-5 yaitu 18%, maka industri perbankan kita memiliki potensi untuk mendorong penyaluran kredit bahkan sampai dengan Rp640 triliun,” jelasnya.

Tahun 2018

memang tidak

mudah, tetapi

Sumsel ada

momen-momen,

seperti Asian

Games, yang bisa

menjadi trigger

pertumbuhan

kredit.

suku bunga kredit turun 77 bps,” ujarnya.

KONDISI SUMSEL DAN BABEL

Ahmad mengemukakan, secara regional, kualitas kredit di Sumatra Selatan juga menunjukkan perbaikan. Hal ini tercermin dari penurunan NPL tahun 2017 dengan rasio 1,73% net.

Sedangkan untuk perbankan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih perlu lebih memperhatikan NPL-nya yang di atas rata-rata nasional yang sebesar 3,20% net,” katanya.

Otoritas memahami, kinerja intermediasi perbankan juga masih perlu ditingkatkan

mengingat realisasi pertumbuhan kredit mencapai 8,35% yoy pada 2017, yang masih di bawah Rencana Bisnis Bank (RBB) sebesar 11,86% yoy.

“Sebetulnya, kami melihat hal ini masih dalam batas yang wajar karena beberapa debitur masih dalam proses restrukturisasi yang dilakukan perbankan untuk memitigasi peningkatan risiko kredit,” katanya.

Terlebih, pertumbuhan kredit di Sumsel pada 2017 yang meningkat sebesar 7,71%, atau sedikit di bawah capaian nasional.

Meskipun demikian kinerja perbankan Sumsel tercatat cukup baik. Hal ini tercermin dari aset bersih yang meningkat sebesar 10,12%, dan Dana Pihak Ketiga bertumbuh sebesar 14,14%. Ahmad melanjutkan, kuatnya

permodalan ini juga didukung oleh tingkat risiko kredit yang terkendali dengan rasio NPL 1,11% net, dengan tren yang menurun.

Otoritas memandang, saat ini merupakan momentum yang tepat untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah kondisi ekonomi dan sektor jasa keuangan yang kondusif.

Hal ini ditandai dengan

pertumbuhan ekonomi tahun 2017 di kisaran 5%—5,1%, nilai tukar rupiah yang stabil, serta inflasi yang rendah yakni 3,61% secara year on year.

Dia melanjutkan penanda lainnya terlihat dari keseimbangan eksternal yang membaik ditandai oleh surplus neraca perdagangan US$11,8 miliar, defisit APBN yang terkendali sebesar 2,42% terhadap PDB, dan kecenderungan suku bunga yang terus menurun.

“Sepanjang 2017 suku bunga deposito telah turun 65 bps dan

(10)

“Kinerjanya baik karena kedua rasio tersebut di atas rata-rata nasional. Kami optimis dengan percepatan proses restrukturisasi serta membaiknya pertumbuhan ekonomi domestik akan

mendorong penyaluran kredit lebih tinggi lagi pada tahun-tahun ke depan,” ujarnya.

Optimisme juga diperlihatkan oleh pelaku industri jasa

keuangan, sebagaimana tercermin dalam Rencana Bisnis Bank tahun 2018, yang menargetkan ekspansi kredit sebesar 12,2% dan Dana Pihak Ketiga sebesar 11,16%.

Tumbuh 10%—12%

Sementara itu, penyaluran kredit di Sumatra Selatan diyakini bisa tumbuh lebih baik yakni mengikuti target nasional sebesar 10%—12% pada tahun ini seiring

dengan adanya momen yang bisa menunjang bisnis pembiayaan salah satunya Asian Games 2018.

Sabil, Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Kantor Regional 7 Sumatra Bagian Selatan, mengatakan agenda besar seperti Asian Games dapat mendorong sektor perdagangan dan pariwisata di Sumsel menggeliat.

“Tahun 2018 memang tidak mudah, tetapi Sumsel ada momen-momen, seperti Asian Games, yang bisa menjadi trigger pertumbuhan kredit,” katanya.

Sabil mengatakan, penyaluran kredit akan banyak diserap sektor perdagangan karena peredaran uang di sektor itu lebih cepat berputar. Bahkan, katanya, momen besar tersebut juga bisa memacu pertumbuhan pembiayaan untuk pelaku usaha mikro,kecil

dan menengah (UMKM) yang menggarap peluang usaha berkenaan dengan Asian Games.

“Pelaku usaha yang cepat bergerak itu kan UMKM, mereka fleksibel dan lebih cepat beradaptasi terhadap kebutuhan pasar,” katanya.

Dia mengatakan pihaknya ingin kinerja penyaluran kredit oleh perbankan di Sumsel bisa sejajar dengan kinerja perbankan lain secara nasional.

Oleh karena itu, katanya, OJK Kantor Regional 7 Sumbagsel mendorong perbankan yang ada di Sumsel untuk gencar ekspansi pada tahun ini.

“Tambahlah jaringan kantor karena berpotensi untuk

meningkatkan penyaluran kredit maupun penghimpunan DPK,” ujarnya. (Dinda/Finansial)

BANK

BANK

RUMAH SAKIT TOKO

SUPERMARKET

BIOSKOP TOKO

(11)

BANK

BANK

RUMAH SAKIT TOKO

SUPERMARKET

BIOSKOP TOKO

Saling Terhubung di GPN

N

amun, sadarkah

Anda bahwa jejeran mesin EDC tersebut menunjukkan interkoneksi perbankan yang belum berjalan yang berujung pada inefisiensi baik untuk industri perbankan, merchant, maupun konsumen.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardjojo mengatakan platform sistem pembayaran yang ada saat ini belum saling terhubung satu sama lain, sehingga belum mampu menyediakan ekosistem layanan yang dapat saling melayani.

“Ilustrasi paling sederhana

GERBANG PEMBAYARAN NASIONAL

Deretan mesin electronic data capture (EDC) sudah

menjadi pemandangan lumrah apabila kita tiba di meja

kasir supermarket. Setiap bank berupaya menyediakan

infrastruktur untuk memudahkan nasabahnya dalam

bertransaksi nontunai.

yang paling sering kita jumpai adalahnya banyaknya deretan mesin ATM di mal atau jejeran mesin EDC di supermarket,” katanya saat memberikan sambutan di peresmian Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) pada Desember 2017.

Padahal, kata Agus, apabila mesin-mesin tersebut dapat saling interoperabel, terdapat potensi yang begitu besar untuk merelokasinya ke daerah-daerah di penjuru Tanah Air yang masih mengalami kekurangan. Sehingga akan mampu mendorong

(12)

perluasan akses dan keuangan inklusif di Indonesia.

Bank sentral menilai kondisi fragmentasi sistem pembayaran itu terjadi karena kecenderungan industri untuk membangun platform sistem pembayaran yang sifatnya eksklusif; hanya dapat melayani instrumen yang diterbitkannya sendiri.

Fragmentasi itu pada akhirnya melahirkan inefisiensi di mana nasabah, yakni masyarakat, juga merasakan dampaknya.

Agus mengatakan, masyarakat menjadi perlu untuk memiliki banyak kartu, karena akseptasi kartu yang masih terbatas. Hal ini dikarenakan kartu tertentu hanya dapat digunakan di mesin terminal pembayaran tertentu akibat setiap ATM atau EDC tidak dapat menerima semua jenis kartu.

“Kalaupun diterima, kartu yang digunakan pada terminal ATM/EDC yang berbeda akan dikenakan biaya yang relatif tinggi, di mana merchant discount rate (MDR) dapat mencapai 2%—3% per transaksi. Biaya ini tentu pada akhirnya ikut ditanggung oleh konsumen,” ujarnya.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia, transaksi yang dilakukan masyarakat baik menggunakan ATM, debit, dan kartu kredit mencapai 10.000 transaksi setiap menit pada tahun lalu.

Oleh karena itu, BI menilai sudah seharusnya Indonesia yang merupakan negara dengan populasi besar dan jangkauan

geografis luas memiliki sistem pembayaran nasional yang aman, lancar, efisien, dan andal.

GAGASAN LAMA

Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) bukanlah gagasan yang baru muncul memerhatikan kondisi saat ini, melainkan sejak 20 tahun yang lalu telah digagas bank sentral.

“Bank Indonesia meyakini kehadiran Gerbang Pembayaran Nasional menjadi amat penting dan dibutuhkan oleh seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Agus.

Pengembangan GPN merupakan pelaksanaan mandat yang diberikan Undang-Undang kepada BI selaku Otoritas Sistem Pembayaran

Nasional untuk mencapai sistem pembayaran nasional yang aman, lancar, dan efisien.

Peluncuran GPN dinilai sebagai buah dari sinergi yang telah dibangun bersama industri sejak lama. Guna memastikan kesiapan dan kelancaran implementasinya, mulai tahun 2016 Bank Indonesia bersama industri secara intensif telah menyelesaikan uji konsep dan melakukan uji coba (piloting) di 122 merchant besar berskala nasional.

Pada saat peluncuran akhir tahun lalu, tercatat empat Lembaga Switching GPN telah terkoneksi dengan 60 penerbit dan 14 acquirer, dengan tingkat interoperabilitas transaksi debit mencapai 75%.

RP RP

(13)

Dia menjelaskan terdapat tiga sasaran utama dari implementasi GPN, yakni pertama menciptakan ekosistem pembayaran yang saling interkoneksi, interoperabel, dan mampu melaksanakan pemrosesan transaksi yang mencakup otoritasi, kliring, dan settlement secara domestik.

Kedua, meningkatkan perlindungan konsumen antara lain melalui pengamanan data transaksi nasabah dalam setiap transaksi. Dan ketiga, meyakinkan ketersediaan dan integritas data transaksi sistem pembayaran nasional, guna mendukung efektivitas transmisi kebijakan moneter, efisiensi intermediasi, serta resiliensi sistem keuangan.

“Selain itu, GPN juga dihadirkan sebagai backbone untuk memberikan dukungan penuh kepada program-program pemerintah,” katanya.

Program yang dimaksud antara lain penyaluran bantuan sosial nontunai, elektronifikasi jalan tol dan transportasi publik, keuangan inklusif, serta pengembangan sistem perdagangan nasional berbasis elektronik yang telah dimandatkan dalam PERPRES 74 tahun 2017 tentang Roadmap E-Commerce.

Enam Ketentuan GPN

Bank Indonesia telah

menerbitkan ketentuan GPN yang terdiri dari enam pokok kebijakan, yaitu pertama, membentuk tiga Penyelenggara GPN yang terdiri

dari Lembaga Standar, Lembaga Switching, dan Lembaga Services.

Lembaga Standar bertugas menyusun dan mengelola standar teknologi pembayaran nasional yang ditetapkan Bank Indonesia dan wajib dipatuhi oleh seluruh industri, yaitu untuk ATM/Debit adalah NSICCS, dan untuk Uang Elektronik melalui penerapan SAM Multi Applet.

Saat ini Lembaga Standar telah dibentuk dan dijalankan oleh Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) sebagai

representasi industri. Untuk selanjutnya, Lembaga Standar akan diarahkan berbentuk badan hukum dengan pengelolaan yang bersifat profesional, kompeten, dan mandiri.

Lembaga Switching bertugas menyelenggarakan pemrosesan data transaksi pembayaran domestik secara aman dan efisien. Pada momen peluncuran GPN, Bank Indonesia telah menetapkan empat penyelenggara switching domestik sebagai Lembaga Switching GPN, yaitu Jalin Pembayaran Nusantara, Artajasa Pembayaran Elektronik, Rintis Sejahtera, dan Alto Network.

Sementara itu, Lembaga Services dibentuk dan dimiliki bersama oleh Lembaga Switching GPN dan anak usaha dari pelaku industri utama yaitu BRI, BNI, Bank Mandiri, dan BCA yang mencakupi 75% pangsa transaksi pembayaran ritel nasional melalui konsorsium.

Kedua, penataan infrastruktur yaitu dengan mewajibkan

penerbit, acquirer, agen, dan payment gateway terkoneksi kepada minimal dua Lembaga Switching GPN.

Ketiga, kewajiban pemrosesan transaksi (routing) domestik, yaitu terhadap instrumen yang diterbitkan di dalam negeri dan ditransaksikan melalui kanal pembayaran dalam negeri, wajib untuk diproses melalui infrastruktur dan sistem yang ada di dalam negeri.

Keempat, menetapkan skema harga (pricing policy) yang wajar. Untuk tahap awal, dalam PADG GPN telah ditetapkan besaran MDR kartu debit sebesar 1% per transaksi off-us, atau lebih rendah dari yang berlaku selama ini di kisaran 2%—3%.

“Penetapan skema harga ini kami yakini akan mampu mendorong efisiensi, kompetisi yang sehat, dan inovasi layanan,” katanya.

Kelima, menerapkan logo nasional guna memperluas akseptasi instrumen pembayaran ritel nontunai yang dapat

digunakan di seluruh merchant dalam negeri.

“Mulai tahun 2018 seluruh penerbit wajib menyediakan kartu berlogo nasional dan menjelaskan manfaatnya kepada nasabah,” ujarnya.

Keenam, menetapkan

standarisasi fitur layanan sehingga mampu menjawab perkembangan kebutuhan transaksi masyarakat.

(14)

Belakangan ini bitcoin marak

diperbincangkan masyarakat

untuk menjadi instrumen investasi.

Pergerakan harga mata uang digital

atau cryptocurrency yang selalu

meningkat menjadi salah satu daya

tarik yang menggiurkan meski

Bank Indonesia dan pemerintah

mewanti-wanti untuk tidak

berinvestasi di bitcoin.

Kontroversi di Balik

Semarak Bitcoin

MATA UANG VIRTUAL

S

aat ini beragam instrumen investasi bisa dipilih masyarakat, mulai dari produk konvensional seperti deposito di perbankan hingga menjadi investor di pasar modal dengan membeli saham emiten. Di dunia maya, ternyata menyajikan pula instrumen investasi yakni bitcoin yang populer dimainkan warganet.

Mengutip Reuters, bitcoin yang dirilis pada Januari 2009 diciptakan oleh orang/kelompok tak dikenal

bernama Satoshi Nakamoto. Bitcoin diperoleh lewat proses yang disebut mining dan merupakan cryptocurrency terdesentralisasi pertama.

(15)

Bank Indonesia menjelaskan mining, proses menghasilkan sejumlah mata uang virtual dengan melibatkan proses matematika yang rumit, merupakan salah satu cara penerbitan virtual currency. Selain itu, mata uang tersebut dapat diperoleh dengan cara pembelian dan transfer pemberian (reward).

Sebetulnya, selain bitcoin, bank sentral mencatat terdapat 1.300 virtual currency di dunia. Di mana, lima besar mata uang krypto yakni bitcoin, ethereum, ripple,bitcoin cash dan cardano.

Tingginya imbal hasil yang diperoleh melalui instrumen bitcoin tentu membuat penggemar mata uang ini terus bertambah. Bahkan Bank Indonesia menyebut, pedagang (trader) bitcoin

mencapai lebih dari 1 juta orang. “Jumlah trader bitcoin di Indonesia lebih dari satu juta orang. Makanya kami lakukan sosialisasi supaya tidak ada lagi pemain baru,” katanya.

Oscar Darmawan, CEO bitcoin. co.id, mengklaim saat ini total anggota yang telah terdaftar di tempatnya mencapai sekitar 700.000 orang. Kendati demikian, dia tidak merinci berapa jumlah anggota yang aktif.

Angka ini terbilang fantastis karena mendekati jumlah investor pasar modal yang mencapai 1,09 juta single investor identification (SID) per 15 November 2017. Adapun, jumlah investor aktif di pasar modal hanya mencapai

separuh dari jumlah SID tersebut. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih belum memberikan kepastian terkait dengan

kehadiran regulasi yang mengatur instrumen bitcoin.

Direktur Inovasi Keuangan OJK Fithri Hadi menjelaskan, pihaknya sebagai regulator tetap mengutamakan perlindungan konsumen, terutama investor ritel.

“Kami selalu berusaha

bagaimana melindungi konsumen, terlebih jika terjadi fluktuasi yang cukup dalam,” tuturnya.

BUKAN ALAT PEMBAYARAN

Bank Indonesia

sendiri menegaskan bahwa virtual currency termasuk bitcoin tidak diakui sebagai alat pembayaran yang sah, sehingga dilarang digunakan sebagai alat pembayaran di Indonesia.

Hal tersebut sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang No. 7 tahun 2011 tentang Mata Uang.

Dalam regulasi itu tertuang bahwa mata uang adalah uang yang dikeluarkan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia dan setiap transaksi yang mempunyai tujuan pembayaran, atau kewajiban lain yang harus dipenuhi dengan uang, atau transaksi keuangan lainnya yang dilakukan di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib menggunakan rupiah.

Direktur Eksekutif Bank Indonesia, Agusman mengatakan pemilikan virtual currency sangat berisiko dan sarat akan spekulasi.

Pasalnya, tidak ada otoritas yang bertanggung jawab terhadap mata uang tersebut. Selain itu juga tidak terdapat administrator resmi, tidak terdapat underlying asset yang mendasari harga virtual currency serta nilai perdagangan sangat fluktuatif.

“Nilai perdagangan yang sangat fluktuatif itu rentan terhadap risiko penggelembungan (bubble) serta rawan digunakan sebagai

(16)

sarana pencucian uang dan pendanaan terorisme, sehingga dapat mempengaruhi kestabilan sistem keuangan dan merugikan masyarakat,”katanya dalam siaran pers beberapa waktu lalu.

Dia mengemukakan teknologi yang digunakan dalam virtual currency memungkinkan transaksi secara pseudonymous sehingga berpotensi untuk digunakan dalam tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme.

“Contoh kasusnya pelaku bom Mal Alam Sutera (Leopard) mengancam manajemen mal dengan bom dan minta tebusan 100 bitcoin pada 2015 lalu,” katanya.

Sementara kasus secara internasional terjadi pada 2013, di mana FBI menutup Silk Road,

yaitu sebuah black market online yang memperjualbelikan barang ilegal termasuk obat-obatan terlarang menggunakan bitcoin.

Contoh kasus lainnya, kelompok hacker Ghost Security Group berhasil mengungkap beberapa akun keuangan ISIS dalam jaringan bitcoin, salah satunya memiliki nominal yang mencengangkan, yakni sebesar Rp41,1 miliar.

Oleh karena itu, Bank Indonesia memperingatkan kepada seluruh pihak agar tidak menjual, membeli atau memperdagangkan virtual currency.

Agusman menambahkan pihaknya menegaskan bahwa sebagai otoritas sistem pembayaran, Bank Indonesia

melarang seluruh penyelenggara jasa sistem pembayaran baik itu prinsipal, penyelenggara switching, penyelenggara kliring, penyelenggara penyelesaian akhir, penerbit, acquirer, payment gateway, penyelenggara dompet elektronik, penyelenggara transfer dana, dan penyelenggara teknologi finansial di Indonesia baik Bank dan Lembaga Selain Bank untuk memproses transaksi pembayaran dengan virtual currency.

Menurut dia, larangan

tersebut juga telah tertuang dalam PBI 18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran dan dalam PBI 19/12/PBI/2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial. (Dinda Finansial)

(17)

Saatnya Agresif

Membiayai

Infrastruktur

P

erbankan syariah sudah

mulai menjajal berbagai potensi pasar, mulai dari segmen ritel seperti pembiayaan perumahan, segmen menengah dari para pelaku usaha industri halal, sampai segmen korporasi yang menyasar pembiayaan proyek infrastruktur. Dari berbagai pilihan yang ada, sektor apakah yang akan menjadi pendorong utama pembiayaan bank syariah tahun ini?

Dari sisi pembiayaan, bank syariah sudah menunjukkan sinyal kebangkitan sejak 2016. Kapasitas permodalan yang terus meningkat membuat kemampuan untuk menyalurkan pembiayaan juga terus berkembang secara bertahap. Apabila mesin permodalan terus digenjot, ditambah dengan upaya lebih untuk menghimpun dana pihak ketiga, pembiayaan bank syariah pada 2018 berpotensi tumbuh semakin ekspansif.

Sampai Agustus 2017, bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) sudah mencatatkan kenaikan penyaluran pembiayaan sebesar 15,69% menjadi Rp150,48 triliun dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu. Persentase kenaikan itu lebih tinggi ketimbang pertumbuhan pada 2016 yang naik sebesar 14,43%.

Demikian pula kemampuan bank syariah untuk menghimpun

PERBANKAN SYARIAH

(18)

dana juga semakin matang. Hingga Agustus 2017, total dana pihak ketiga (DPK) bank syariah tumbuh 26,2% menjadi Rp309 triliun. Persentase pertumbuhan itu juga lebih tinggi ketimbang periode 2016 yang sebesar 20,83%.

Alhasil, dengan pertumbuhan bisnis itu, perbankan syariah mencatatkan lonjakan perolehan laba bersih 75,81% menjadi Rp2,9 triliun. Persentase kenaikan itu jauh lebih tinggi ketimbang 2016 yang hanya naik 17,35%.

Sebelumnya, perbankan syariah menunjukkan tren penurunan pada 2014 setelah pembiayaan merosot 32,67% dibandingkan dengan 2013. Anjloknya pembiayaan itu juga membuat laba bersih perbankan syariah turun 46,34%.

Petaka anjloknya bisnis perbankan syariah pada 2014 disebabkan oleh laju kenaikan rasio pembiayaan bermasalah atau nonperforming financing (NPF) menjadi sebesar 4,95% dibandingkan dengan 2013 yang sebesar 2,62%. Sampai Agustus 2017, posisi NPF perbankan syariah pun masih berada dikisaran 4,49%.

Pada 2018, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah bisa jauh lebih tinggi ketimbang bank konvensional.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan,

pertumbuhan pembiayaan syariah pada tahun ini harusnya bisa lebih tinggi dari 2017 dan capaiannya tentu di atas bank konvensional.

“Kalau untuk bank konvensional kami pasang target 10% sampai 12%, untuk perbankan syariah bisa lah sentuh 13%,” ujarnya.

Wimboh menyebutkan, salah satu sektor yang potensial dibiayai oleh bank syariah pada 2018 adalah infrastruktur. Pasalnya, sektor infrastruktur membutuhkan pendanaan dalam jumlah besar dan tidak bisa diserap seluruhnya oleh perbankan konvensional maupun pasar modal. Bank syariah diharapkan lebih banyak berpartisipasi.

Meski menyimpan potensi besar, Wimboh mengingatkan agar perbankan syariah bersikap lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit ke sektor infrastruktur karena risikonya juga cukup tinggi. Selain risiko mismatch antara sumber pendanaan jangka

pendek versus pembiayaan jangka panjang, risiko lainnya adalah proyek mangkrak atau tidak selesai sesuai tenggat yang ditetapkan. Padahal, salah satu prinsip utama bank syariah adalah kehati-hatian.

Oleh karena itu, OJK mendorong agar bank syariah tetap memberikan porsi cukup banyak untuk pembiayaan ritel dan mikro. Dengan diverisifikasi penyaluran pembiayaan dari sektor infrastruktur yang besar sampai segmen ritel yang kecil akan membuat bisnis bank syariah lebih berkelanjutan.

“Jadi, sektor infrastruktur boleh saja dijajal bank syariah, tetapi jangan terlalu banyak sampai mengurangi porsi penyaluran ke ritel,” ujarnya.

TANTANGAN

Ada peluang, sudah pasti ada pula tantangannya. Bagi perbankan syariah, penyaluran

(19)

pembiayaan ke infrastruktur bukan berarti tanpa kendala. Salah satunya adalah kendala likuiditas.

Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) berencana mengurangi porsi penempatan dana pada deposito perbankan syariah. BPKH berencana

mencari instrumen investasi yang memberikan imbal hasil lebih besar.

Peneliti Ekonomi Syariah SEBI School of Islamic Economics Aziz Setiawan mengatakan, potensi penurunan porsi dana haji di deposito perbankan syariah akan memberikan dampak pada 2018, meskipun tidak akan terlalu besar.

“Pada 2018, porsi dana haji di bank syariah dikurangi 10%. Tetapi dengan perhitungan pertumbuhan dana haji

keseluruhan yang naik menjadi Rp110 triliun, berarti porsi dana haji di perbankan syariah hanya berkurang Rp4 triliun–Rp5 triliun,” ujarnya.

Aziz menyebutkan, secara umum pengurangan porsi dana haji di bank syariah tidak akan berdampak signifikan, tetapi secara individu bank memang harus menyiapkan langkah mitigasi.

Selain kendala likuiditas, tantangan bank syariah dalam menjajal pembiayaan infrastruktur adalah kapasitas sumber daya manusia.

Dhias mengakui, hingga saat ini SDM bank syariah yang memiliki kapabilitas untuk

mengelola pembiayaan di sektor infrastruktur masih terbatas.

“Bank syariah harus

mengembangkan individu yang mumpuni dalam memitigasi risiko. Soalnya, pembiayaan kepada infrastruktur akan sangat berbeda dengan segmen lainnya seperti ritel,” sebutnya.

Tantangan selanjutnya adalah permodalan. Saat ini mayoritas

bank syariah masih berada pada kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU) I dan II, tercatat hanya satu bank yang berada di BUKU III. Dengan modal yang masih rendah, berarti exposure pembiayaan ke infrastruktur juga tidak bisa terlalu besar.

Selain itu, tantangan bank syariah lainnya adalah biaya dana yang masih tinggi. Porsi dana murah di bank syariah masih cukup rendah. Ketika ingin masuk

ke proyek infrastruktur, yang juga meminta imbal hasil rendah, maka bank syariah harus menekan margin.

“Walaupun proyek

infrastruktur potensial, kami tidak bisa masuk dalam jumlah besar karena berbagai faktor tersebut.”

Di luar berbagai tantangan itu, proyek infrastruktur tetap sebagai salah satu potensi nyata yang bisa mendorong ekspansi pembiayaan perbankan syariah pada 2018. Pasalnya, sektor lainnya seperti industri halal belum banyak berkembang secara maksimal di Indonesia, sedangkan sektor perumahan pun harus bersaing dengan bank konvensional.

Aziz menilai penetrasi perbankan syariah dalam mendanai infrastruktur bisa menjadi momentum bagus untuk pengembangan industri keuangan syariah.

“Untuk RBB [Rencana Bisnis Bank] 2018, beberapa bank syariah tampaknya mulai memasukkan sektor

infrastruktur dalam fokus ekspansi pembiayaannya. Selain, tetap fokus juga melakukan pembiayaan pada sektor perumahan maupun UMKM [Usaha mikro, kecil, dan menengah],” ujarnya.

Dengan melihat peluang dan tantangan itu, patut ditunggu seberapa besar geliat perbankan syariah dalam penyaluran pembiayaan kepada sektor infrastruktur pada 2018. (Surya/

Finansial)

Pada 2018, porsi dana

haji di bank syariah

dikurangi 10%. Tetapi

dengan perhitungan

pertumbuhan dana

haji keseluruhan

yang naik menjadi

Rp110 triliun, berarti

porsi dana haji di

perbankan syariah

hanya berkurang Rp4

triliun–Rp5 triliun.

(20)

Kepailitan, retrukturisasi utang via pengadilan, ataupun

penyelesaian sengketa bisnis ikut menentukan cara investor

melihat kemudahan berbisnis di Tanah Air. Maka tak salah jika

pembenahan lembaga peradilan memberi dampak yang signifikan

bagi kepercayaan pelaku usaha, baik lokal maupun asing.

Antara Kepailitan

dan Kepastian Bisnis

(21)

D

uta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Osamh Mohammed Al-Shuibi pernah mengeluhkan soal kepastian hukum itu. “Kepastian hukum, itu yang menjadi hambatan berinvestasi di Indonesia,” tegas Osamh.

Dia bercerita bagaimana pengalaman perusahaan Arab Saudi yang bersengketa di pengadilan Indonesia. Menurutnya, putusan dari pengadilan belum memberikan proteksi kepada warganya yang berbisnis di negeri ini.

Keluhan itu tentu melukai garansi kepastian berinvestasi. Hukum di Indonesia diharapkan mampu memberikan proteksi

yang pasti bagi para investor luar negeri. Tujuannya untuk memberikan rasa percaya sehingga mengerek jumlah investor

bertandang ke Tanah Air.

Kabar baiknya, Bank Dunia baru saja merilis Ease of Doing Business Index 2018. Indeks tersebut memproyeksikan kemudahan berusaha di Indonesia untuk tahun ini. Indonesia menempati urutan ke-72, atau meloncat dari posisi 91 pada 2017. Peringkat ini merupakan pencapaian Indonesia yang terbaik sejak 2008.

Indeks kemudahan berusaha terdiri dari 10 indikator. Adapun salah satunya yakni penyelesaian kepailitan (resolving insolvency). Peringkat salah satu indikator ini merangkak naik dari peringkat 76

pada 2017 menjadi peringkat 38 untuk tahun ini.

Tentu masih ada indikator lainnya yang juga mengalami kenaikan. Namun tulisan ini akan fokus pada produk hukum kepailitan.

Kenaikan peringkat pada penanganan kepailitan ini dapat menjadi preseden yang baik bagi dunia usaha. Meski belum masuk peringkat 10 besar, paling tidak penanganan sengketa utang

(22)

piutang di pengadilan mengalami perbaikan.

Tidak semua usaha berjalan lancar. Ada beberapa yang tersendat dan akhirnya terlilit utang. Namun dalam kondisi terjerat utang, perusahaan pasti menginginkan output terbaik dalam proses insolvensi, likuidasi hingga pemberesan aset. Dimulai dengan niat baik, maka setiap usaha diakhiri dengan cara yang baik pula. Oleh karena itu, penyelesaian perkara kepailitan menjadi hal penting untuk dunia usaha.

Ketua Umum Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia (AKPI) Jamaslin James Purba mengatakan, poin penting dari perbaikan peringkat penangan perkara kepailitan adalah kepastian hukum.

Artinya, penanganan kepailitan lebih memberikan kejelasan mulai dari proses rapat kepailitan, jangka waktu penyelesaian

kepailitan, besarnya biaya kepailitan hingga membaiknya kinerja kurator dalam mengurus kepailitan.

“Jaminan kepastian hukum membuat investor paham dan hasilnya akan membuat nyaman,” katanya.

Kepastian dalam kepailitan bisa berupa prediksi yang bisa dipertanggungjawabkan dan tidak meleset dari ekspektasi. Selain itu, adanya konsistensi dari praktisi kepailitan dalam menjalankan peraturan berdasarkan UU No.

37/2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

James melihat sudah ada kecenderungan naiknya kepercayaan dunia usaha dalam menyelesaikan sengketa utang piutang di pengadilan niaga.

Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menyebutkan terdapat 162 perkara permohonan PKPU dan 68 perkara pailit terdaftar per 28 Desember 2017.

Perkara PKPU sepanjang 2017 naik 13,28% dari kasus PKPU 2016 sebanyak 143 perkara. Sementara itu, perkara kepailitan naik tipis 1,49% dari 67 perkara pada 2016 menjadi 68 perkara pada 2017.

Menurut James, sengketa utang-piutang didominasi dengan perdamaian. Hasil PKPU yang berakhir damai lebih besar ketimbang

berakhir pailit. Artinya, terdapat semangat

antara debitur dan kreditur untuk menyelesaikan masalah dengan damai sehingga dunia usaha tetap jalan dan debitur bangkit kembali. Sebaliknya, apabila berakhir pailit maka usaha terhenti, karyawan menganggur dan tak jarang tagihan tak terbayar.

TRANSPARANSI

Dewan Kehormatan AKPI Andrey Sitanggang mengungkapkan kenaikan peringkat penanganan kepailitan tidak lepas dari faktor internal kepailitan itu sendiri.

Ada tiga hal yang memoles penanganan kepailitan menjadi apik yakni tranparansi, kecepatan dan waktu. Tiga hal itu sudah menjadi rumusan penanganan perkara pailit. Hal ini didukung

dengan sistem administrasi pengadilan niaga

(23)

yang juga mumpuni.

Selain itu, faktor internal lainnya yakni sikap kurator yang terus berbenah dalam menjalankan tugasnya. Apabila hukum membaik, terdapat aksi kurator yang meningkatkan kualitas pelayanannya untuk kepentingan debitur dan kreditur.

Kendati begitu, peringkat penanganan kepailitan ke angka 38 bukanlah pencapain final. Pasalnya, masih ada faktor eksternal yang sulit dikendalikan.

Salah satu contohnya yaitu penjualan budel pailit yang terkadang memakan waktu, lamanya penjualan budel tentu berpengaruh terhadap waktu penyelesaian kepailitan.

Penjualan budel tergantung dari respons pasar. Apabila budel tidak marketable atau tidak layak beli, aset sulit untuk terjual. Andrey mengaku beberapa aset bahkan masih ada yang belum terjual meski sudah di balai lelang.

Kendala lainnya yakni mengenai pembagian budel yang kerap menuai perselisihan. Perselisihan kerap terjadi antara kreditur separatis (bank) atau pemegang jaminan dengan pajak.

Sebagai kreditur preferen atau yang harus diprioritaskan, pajak meminta dibayar terlebih dahulu. Namun separatis keberatan karena haknya harus terpotong padahal pihaknya yang menggelontorkan piutang ke debitur.

Belakangan, ada gagasan agar perbankan bisa mengajukan

pemohonan PKPU dan kepailitan di pengadilan niaga. Sebab, dalam hal ini perbankan memiliki hak bagaimana mengembalikan kredit (utang) yang telah digelontorkan. Meskipun, utang tersebut

ditanggung dengan jaminan, tapi nyatanya saat melakukan eksekusi jaminan bank kerap menemui masalah.

Bagaimanapun, gagasan itu memang ditujukan untuk memperkaya penyusunan naskah

akademis revisi UU Kepailitan yang tengah disusun oleh tim kelompok kerja dari Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Kementerian Hukum dan HAM.

Lalu, dengan rangkaian

pembenahan dan pekerjaan rumah terkait dengan kepailitan, bisakah peringkat resolving insolvency terdongkrak menjadi 10 besar di Indeks Kemudahan Berusaha 2019? Mari kita tunggu. (Surya/

Finansial) PN JAKARTA PUSAT PERMOHONAN PKPU 162 68 37 22 2 1 17 1 PAILIT PN

SURABAYA MAKASSARPN MEDANPN

JUMLAH PERMOHONAN PKPU DAN PAILIT 2017 *)

KUALITAS LEMBAGA PENGADILAN **)

KUALITAS LEMBAGA PENGADILAN **)

PENEGAKAN KONTRAK NILAI (SKALA 0-100) WAKTU 145 47,23 403 Hari 70,3% dari nilai klaim 7,9 (skala 0-18)

BIAYA KUALITASINDEKS PROSES PENGADILAN 1 4 2 3 PENYELESAIAN KEPAILITAN NILAI (SKALA 0-100) WAKTU BIAYA 38 67,61 1,1 tahun 21,6% dari harta

Keterangan: *) Kepailitan di luar permohonan pembatalan perdamaian **) Berdasarkan laporan Bank Dunia

(24)

Ekonomi Kreatif,

Mesin Pertumbuhan Baru

Data statistik ekonomi

kreatif Indonesia yang

baru dirilis pekan ini

menunjukkan bahwa

konsep ekonomi baru

yang menjunjung tinggi

ide kreatif, budaya,

dan teknologi, semakin

memainkan peran penting

dalam pertumbuhan

ekonomi nasional.

S

ecara perlahan tetapi

pasti, ekonomi kreatif— yang terdiri atas 16 subsektor—mencatat pertumbuhan dari tahun ke tahun, dan digadang-gadang menjadi mesin pertumbuhan baru ekonomi nasional.

Berdasarkan data yang dihimpun Finansial, kontribusi ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional 8 tahun lalu atau tepatnya pada 2008 hanya sekitar Rp151 triliun atau 7,28%. Pada 2016, kontribusi ekonomi kreatif melejit menjadi Rp922,59 triliun atau 7,44% terhadap PDB.

Dengan kontribusi terhadap PDB yang terus meningkat, Indonesia kini berada di posisi

(25)

ketiga. Di peringkat satu dan dua, ada Amerika Serikat (11,12%) dan Korea Selatan (8,67%). Indonesia masih mengungguli Rusia (6,06%), Singapura (5,70%), Filipina

(4,92%), dan Kanada (4,50). Sementara itu, nilai ekspor industri kreatif pada 2008 tercatat hanya sebesar Rp114,9 triliun atau sekitar 7,52% terhadap ekspor nasional. Delapan tahun kemudian, ekspor ekonomi kreatif menyumbang US$20 miliar atau hampir 14% terhadap total ekspor nasional. Dengan kurs rupiah sekitar Rp13.000, dalam hitungan rupiah, kontribusi ekspor ekonomi kreatif tercatat sekitar Rp260 triliun.

Negara tujuan ekspor ekonomi kreatif terbesar adalah Amerika Serikat (US$6.044,6 juta), diikuti Swiss, Jepang, Singapura, dan Jerman.

Jika ditelusuri lebih lanjut, kontribusi masing-masing subsektor ekonomi kreatif sepanjang 2016 tercatat terus meningkat. Kuliner masih menjadi kontributor

pendapatan terbesar dengan pangsa sekitar 41%, diikuti oleh fesyen (18%), dan kriya (15%). Kontribusi ketiganya masing-masinig Rp382 triliun, Rp166 triliun, dan Rp142 triliun.

Kendati dari sisi pendapatan menyumbang angka yang besar, dari sisi pertumbuhan tidak demikian. Pertumbuhan tertinggi justru dialami oleh subsektor televisi dan radio (10,33); film, animasi & video (10,09%); seni pertunjukan (9,54%); desain

komunikasi visual (8,98%); serta aplikasi & games developer (8,06%).

Dari sisi penyerapan tenaga kerja, sektor ini menyerap 15,96 juta pekerja pada 2015 dan meningkat menjadi 16,91 juta pekerja pada 2016, atau tumbuh 5,95%. Adapun, perbandingan tenaga kerja ekonomi kreatif terhadap nasional tercatat sebesar 13,9% pada 2015 dan 14,28% pada 2016.

Pengusaha ekonomi kreatif didominasi perempuan (54,96%). Dari total jumlah usaha ekonomi kreatif di Indonesia sebesar 8,2 juta, sekitar 65,37% masih terpusat di Pulau Jawa.

Soal pendapatan, rata-rata usaha/perusahaan bidang subsektor kriya, kuliner, fesyen,

aplikasi & games developer, penerbitan dan periklanan mengantongi lebih dari Rp50 miliar per tahun sepanjang 2016.

Sementara itu pada 2017, Badan Ekonomi Kreatif memperkirakan kontribusi ekonomi kreatif menembus Rp1.000 triliun. Perkiraan ini mungkin saja dengan mudah dicapai jika melihat tren pertumbuhan PDB ekonomi kreatif yang terus meningkat.

Namun, perkiraan itu bisa saja tidak tercapai jika melihat problem mendasar yang masih dihadapi oleh sektor ekonomi kreatif.

Boleh dibilang persoalan yang membelit sektor ini bisa dibilang itu-itu saja, yakni pembiayaan, teknologi, sumber daya alam, sumber daya manusia, institusi, dan suitainable trade. Keenam persoalan ini sebetulnya telah disadari bertahun-tahun lalu oleh pemerintah. Hanya saja masih terus menjadi tantangan yang seolah tak pernah terselesaikan.

Di antara keenam tantangan itu, pembiayaan menjadi masalah terbesar. Bukan rahasia lagi, tidak banyak perbankan yang mau membantu pendanaan bagi sektor tersebut.

Merujuk data OJK 2016, pembiayaan perbankan untuk sektor ekonomi kreatif baru mencapai Rp5,1 triliun. Kendati masih kecil, angka tersebut meningkat 18,6% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ini membuktikan, perbankan mulai

Dari sisi penyerapan

tenaga kerja, sektor ini

menyerap 15,96 juta

pekerja pada 2015 dan

meningkat menjadi

16,91 juta pekerja pada

2016, atau tumbuh

5,95%. Adapun,

perbandingan tenaga

kerja ekonomi kreatif

terhadap nasional

tercatat sebesar 13,9%

pada 2015 dan 14,28%

pada 2016.

(26)

melirik sektor tersebut. Di sisi lain, hasil survei khusus ekonomi kreatif Badan Ekonomi Kreatif dan BPS pada 2016 menunjukkan baru sekitar 24% pelaku ekonomi kreatif yang tersentuh akses permodalan karena terbentur problem agunan.

Persoalan ini tentu saja mendesak dituntaskan, begitu juga lima tantangan lainnya. Jika berbagai persoalan ini bisa diatasi, bukan tidak mungkin sektor ekonomi kreatif akan menjadi sumber pertumbuhan baru.

Bukan tidak mungkin pula, ekspor ekonomi kreatif akan terus melejit. Jika itu terjadi, tentu kita tak perlu lagi risau kala dihantam problem penurunan harga komoditas.

PROSPEK 2018

Badan Ekonomi Kreatif memprediksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sektor industri ekonomi kreatif pada tahun 2018 bisa mencapai hingga 6,25% sehingga mampu menyerap hingga 16,7 juta tenaga kerja.

“Salah satu sektor industri kreatif yang potensinya sangat besar adalah arsitektur,” kata Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Hari Santoso.

Menurutnya, bidang arsitektur memiliki tantangan tersendiri, salah satunya adalah kurangnya jumlah arsitek di Indonesia.

Berdasarkan data Ikatan Arsitek Indonesia, dari 250 juta penduduk, hanya 15.000 orang

yang berprofesi sebagai arsitek. “Selain itu, tantangan lainnya adalah pengembang besar lebih banyak menggunakan arsitek asing daripada arsitek lokal,” tuturnya.

Untuk itu, katanya, Bekraf memasukkan arsitektur sebagai salah satu subsektor yang layak untuk dikelola secara lebih serius. Selain itu, memaksimalkan potensi generasi milenial juga patut menjadi perhatian.

“Saat ini generasi milenial mendominasi bisnis kreatif di Indonesia, dengan rataan 80% dari 1,6 juta industri kreatif yang ada, karena para pelaku ekonomi kreatif rata-rata dalam usia 20 sampai dengan 40 tahun dengan berbagai macam bidang usaha yang mereka geluti.” (Surya/

(27)

Industri keuangan non bank atau IKNB niscaya menjadi

sektor yang penting dalam gerak ekonomi Indonesia.

Layanan jasa keuangan ini terus berkembang, sejalan

dengan sektor perbankan dan pasar modal nasional.

Menggegas Reformasi,

Mendorong Konsolidasi

INDUSTRI KEUANGAN NON-BANK

J

umlah pelaku usaha di

sektor ini tercatat terus mengalami pertumbuhan. Penyedia layanan jasa keuangan IKNB, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, telah mencapai 1.100 entitas pada Agustus 2017. Seiring dengan itu, total aset sektor IKNB pun

meningkat signifikan, yakni mencapai Rp2.100 triliun pada akhir Agustus 2017.

Sebagai pembanding, pada 2016 total aset IKNB mencapai Rp1.907 triliun atau tumbuh 14,5% jika dibandingkan total aset pada 2015 yang tercatat sebesar Rp1.665 triliun. Dari sisi pelaku, OJK mencatat

terdapat 1.045 entitas pada akhir tahun lalu atau meningkat dari 936 entitas pada 2015.

Kendati begitu, perkembangan sektor jasa keuangan bukannya tanpa tantangan. Seperti layanan jasa keuangan lain, IKNB pun masih dihadapkan pada sejumlah problem yang menghambat optimalisasi perkembangannya.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, pihaknya telah mengidentifikasi sejumlah tantangan yang secara umum dihadapi berbagai

(28)

sektor layanan jasa keuangan. Salah satunya terkait dengan kapasitas dan daya saing sektor jasa keuangan nasional yang masih terbilang rendah bila dibandingkan dengan kawasan regional dan internasional. Selain itu, tantangan lain masih terkait dengan minimnya jumlah masyarakat yang memanfaatkan layanan jasa keuangan.

“Tingkat inklusi keuangan masyarakat masih rendah dan tidak merata membuat pemerataan kesejahteraan

masyarakat menjadi sulit,” jelasnya.

Menghadapi kendala tersebut, Wimboh yang baru saja dilantik pada pertengahan 2017 untuk memimpin OJK periode 2012– 2017, menjelaskan pihaknya menetapkan sepuluh kebijakan utama yang akan menjadi langkah pokok sesuai arah tujuan otoritas dalam lima tahun ke depan.

Untuk sektor IKNB, jelasnya, OJK akan mendorong reformasi guna mewujudkan industri yang kuat dan berdaya saing. “Reformasi pengaturan, perizinan, pengawasan dan exit policy di IKNB dan konsolidasi jumlah pelaku di industri agar lebih berdaya saing.”

Wimboh menjelaskan

kebijakan terkait sektor IKNB itu dimaksudkan untuk menciptakan industri yang sehat dengan pelaku usaha yang kuat dan berkesinambungan. Kebijakan ini terkait dengan fokus otoritas untuk meningkatkan proteksi kepada masyarakat sebagai pengguna jasa keuangan.

Menurutnya, OJK mesti memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa layanan jasa keuangan IKNB tidak akan menimbulkan kerugian bagi

masyarakat pengguna. “Yang dimaksud tidak merugikan masyarakat itu adalah lembaga keuangan tersebut harus sustain dan tidak bangkrut. Jangan sampai ada hal-hal yang membahayakan kepentingan masyarakat,” ungkapnya.

Terkait dengan itu, Wimboh menilai perbandingan antara jumlah pelaku usaha dan nasabah atau pengguna jasa harus

proporsional. Jangan sampai ketatnya persaingan antara pelaku jasa keuangan menyebabkan sejumlah perusahaan tidak mampu bertahan dalam menjalankan bisnisnya dan pada akhirnya gagal memenuhi kewajiban kepada masyarakat.

Untuk itu, OJK akan melakukan pemetaan terkait proporsi antara pelaku usaha dan pengguna jasa pada setiap sektor di IKNB. Jika persaingannya sangat ketat, maka perlu dilakukan konsolidasi pelaku usaha.

“Jadi lembaga keuangan non bank harus kuat, dan berkesinambungan untuk jangka panjang. Kalau banyak yang membahayakan harus dilakukan konsolidasi.”

Data OJK tentang statistik IKNB per Agustus 2017

menunjukkan terdapat 152 pelaku jasa asuransi dengan nilai total aset mencapai Rp1.101 triliun. Lembaga pembiayaan tercatat sebanyak 269 entitas dengan total aset senilai Rp533,51 triliun, sedangkan sektor dana pensiun memiliki 238 entitas dengan akumulasi aset sebesar Rp256,33 triliun.

Pada periode yang sama, OJK mencatat ada 38 lembaga keuangan khusus, 238 entitas jasa penunjang IKNB dan 165 LKM. Masing-masing sektor itu memiliki total aset sebesar Rp200,59 triliun, Rp8,26 triliun dan Rp297 miliar.

IKNLUSI KEUANGAN

Di samping upaya mereformasi IKNB, tidak dapat dipungkiri bahwa masih rendahnya tingkat inklusi keuangan masyarakat masih menjadi problem bagi pengembangan layanan jasa keuangan. Tingkat inklusi atau utilisasi layanan jasa IKNB masih tertinggal jauh dari sektor perbankan.

Tingkat inklusi keuangan masyarakat masih

rendah dan tidak merata membuat pemerataan

kesejahteraan masyarakat menjadi sulit

(29)

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2016, yang diselenggarkan OJK, menunjukkan tingkat pemanfaatan layanan perasuransian mencapai 12,08% atau bertumbuh dari 11,81% pada 2013. Tingkat inklusi layanan jasa lembaga pembiayaan dan pergadaian meningkat lebih signifikan, yakni secara berturut-turut dari 6,33% dan 5,04% menjadi 11,85% dan 10,49%.

Sektor dana pensiun mencatatkan tingkat inklusi paling rendah, yakni sebesar 4,66% pada 2016, meningkat dari 1,53% pada 2013.

Wimboh menilai saat ini menciptakan kebutuhan masyarakat akan produk

keuangan lebih penting ketimbang mendorong literasi atau tingkat melek masyarakat terhadap layanan jasa. Pasalnya, produk IKNB khususnya asuransi di Indonesia belum menjadi sebuah kebutuhan bagi masyarakat.

“Meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa asuransi itu

perlu adalah hal yang utama. Kalau di negara lain, kesadaran masyarakat terhadap asuransi itu sudah tinggi, karena sudah jadi kebutuhan dan memang diwajibkan,” ujarnya.

FRAUD ASURANSI

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank OJK Riswinandi menjelaskan di tengah tren pertumbuhan sektor asuransi, saat ini aksi penipuan atau fraud perlu mendapatkan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan. Penanganan fraud secara tepat dinilai wajib guna menjaga kualitas pertumbuhan industri asuransi.

“Seiring dengan peningkatan pertumbuhan industri yang menggembirakan, fraud

merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi industri secara serius,” katanya.

Riswinandi menjelaskan, tidak efektifnya penanganan fraud bakal berdampak buruk baik dari sisi

keuangan maupun dari sisi non-keuangan. Meningkatnya aktivitas fraud dinilai dapat mengakibatkan meningkatnya biaya yang ditanggung perusahaan maupun broker.

Untuk mengatasi masalah itu, perusahaan asuransi kemungkinan akan memilih untuk membebankan biaya itu melalui peningkatan premi kepada pemegang polis. “Di samping permasalahan keuangan tersebut, fraud yang dilakukan oleh beberapa individu berpotensi menimbulkan ketidakpercayaan dan meningkatkan risiko reputasi industri asuransi di Indonesia secara keseluruhan,” jelasnya.

OJK sebenarnya telah melakukan langkah mitigasi risiko fraud di asuransi, baik berupa pengawasan operasional perusahaan maupun melalui sejumlah regulasi anti-fraud.

Kendati begitu, ke depan OJK berencana mengembangkan sistem daftar hitam guna meminimalkan aksi fraud di sektor asuransi. Sistem tersebut akan menyerupai layanan yang telah disediakan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia, yakni AAUI Checking, dan BI Checking yang dimiliki Bank Indonesia.

Sistem tersebut dapat dikembangkan melalui sinkronisasi Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). “Supaya industri kalau mau berhubungan dengan nasabah bisa cek dulu track record-nya, apa pernah [melakukan] pelanggaran.”

(30)

Menakar Efektivitas

Suku Bunga KUR

U

ntuk semakin

menggairahkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), suku bunga kredit usaha rakyat (KUR) diturunkan pemerintah pada tahun ini menjadi 7% dari sebelumnya 9%. Tak hanya itu, pemerintah pun mematok target penyaluran KUR hingga Rp120 triliun untuk menggerakkan ekonomi rakyat sepanjang 2018.

Minimnya akses pembiayaan kepada pelaku UMKM sudah

menjadi masalah yang mengakar di Tanah Air. Pasalnya, seringkali UMKM yang disebut-sebut sebagai sektor usaha yang ‘tahan banting’ itu tidak memiliki agunan. Padahal agunan atau jaminan merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi calon debitur apabila mengetuk ‘pintu’ pembiayaan perbankan.

Oleh karena itu, pemerintah membuat skema KUR untuk meningkatkan akses pembiayaan kepada usaha rakyat.

Selain itu, KUR juga bertujuan

untuk meningkatkan dan memperluas pelayanan bank kepada UMKM yang produktif. Penurunan suku bunga KUR menjadi 7% diyakini juga bisa meringankan pelaku usaha dalam menunaikan kewajibannya sebagai debitur perbankan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, besaran suku bunga KUR menjadi 7% per tahun merupakan salah satu kebijakan prioritas pemerintah.

(31)

Dengan suku bunga 7%, maka besaran subsidi suku bunga yang diberikan pemerintah pada tahun ini mengalami kenaikan.

Subsidi suku bunga KUR Mikro dan KUR Ritel naik 1% di mana masing-masing menjadi 10,5% dan 5,5%. Sementara untuk subsidi suku bunga KUR penempatan TKI naik 2% dari 12% menjadi 14%.

“Pemerintah terus mendorong penyaluran KUR untuk sektor produksi yang meliputi sektor pertanian, perikanan, industri, konstruksi, dan jasa,” kata Darmin.

Kemenko Perekonomian menargetkan penyaluran KUR di sektor produksi minimal 50% dari total plafon yang disiapkan pemerintah senilai Rp120 triliun.

Penyaluran KUR telah berjalan sejak 2007 silam dan mengalami beberapa evolusi. Skema ini sendiri sempat dihentikan pada 2015 karena hampir melampaui target.

Kementerian Koperasi dan UKM mencatat sejak 2007 s.d 31 Desember 2016 KUR yang disalurkan mencapai Rp295,15 triliun kepada 17,7 juta debitur dengan NPL secara nasional sekitar 3,3%.

Adapun realisasi KUR

sepanjang 1 Januari –31 Desember 2017 mencapai Rp96,71 triliun atau sebesar 87,9% dari angka yang ditargetkan Rp110 triliun.

Yuana Setyowati, Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM menerangkan realisasi penyaluran KUR 2017 tersebut melalui 40 lembaga

keuangan penyalur yakni 34 perbankan, empat lembaga keuangan dan dua koperasi dengan jumlah debitur mencapai 4,09 juta orang.

“Realisasi penyaluran KUR per 31 Desember 2017 sebesar Rp96,71 triliun atau sekitar 87,9% dari target Rp110 triliun” katanya.

Yuana menerangkan bahwa untuk 15 bank umum nasional telah menyalurkan sebesar Rp94,2 triliun dengan jumlah debitur 4.057.069 orang dan untuk lembaga keuangan non-bank sebanyak empat penyalur telah merealisasikan Rp1,06 miliar

dengan debitur 87 orang dan dua koperasi menyalurkan sebesar Rp9,052 miliar dengan jumlah debitur 397 orang.

PERAN BPD

Bank pembangunan daerah (BPD) juga ikut ambil bagian dalam penyaluran KUR, di mana sepanjang tahun lalu tercatat ada 19 BPD yang telah merealisasikan Rp2,43 triliun kepada 29.418 debitur.

Sementara berdasarkan jenisnya, Yuana mencatat, KUR Mikro mencapai Rp65,176 triliun yang disalurkan kepada 3,85 juta debitur.

(32)

Lalu KUR Ritel sebesar Rp31,206 triliun untuk 217.175 debitur dan KUR P-TKI sebesar Rp329,63 miliar untuk 22.663 debitur.

Penyaluran KUR pada tahun lalu tidak mencapai 100%. Menurut Kementerian Koperasi dan UKM, salah satu faktornya masyarakat juga sudah mendapat informasi bahwa suku bunga KUR mengalami penurunan pada tahun ini. Sehingga, masyarakat menunda untuk

mengajukan KUR pada tahun lalu. Selain itu, katanya, lantaran pihak perbankan menyatakan masih menghadapi beberapa kendala seperti calon debitur banyak yang belum bankable serta memang dalam penyalurannya lebih prudent demi menjaga kualitas kredit mereka.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mengembangkan KUR Klaster sebagai upaya otoritas untuk mendorong peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

Ahmad Hidayat, Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Audit Internal, Manajemen Risiko dan Pengendalian Kualitas mengatakan KUR Klaster yakni penyaluran KUR yang diiringi dengan pendampingan dan pemasaran produk yang akan dilakukan oleh perusahaan inti, baik perusahaan BUMN, BUMDes/ BUMADes maupun swasta.

“Program ini sudah teruji keberhasilannya oleh pihak swasta. Kami berharap program ini dapat

mempercepat penyaluran KUR,” katanya saat acara pertemuan tahunan industri jasa keuangan di Palembang, Januari 2018.

Oleh karena itu, OJK telah meminta dukungan kepada Presiden Joko Widodo untuk menetapkan KUR Klaster menjadi program nasional dengan

melibatkan pemerintah daerah. “Dukungan pemerintah daerah terhadap keberhasilan program KUR Klaster ini sangat kami perlukan,” katanya.

Ahmad mengatakan pihaknya juga berharap mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi yang ada di wilayah Sumatra bagian Selatan (Sumbagsel), termasuk Pemprov Sumsel.

“Sehingga program KUR Klaster dapat berjalan dengan baik yang pada akhirnya dapat semakin mendorong gerak roda perekonomian di wilayah ini,” katanya.

BSB SIAP KUCURKAN KUR

Direktur Utama Bank Sumsel Babel Muhammad Adil

mengatakan pihaknya mendapat alokasi penyaluran KUR sebanyak Rp77 miliar.

“Eksekusi tahun ini, bunganya 7%. Kami inginnya penyaluran bisa ke semua sektor, termasuk perdagangan dan jasa,” katanya.

Untuk saat ini, kata Adil, pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM baru

menetapkan sektor perikanan dan pertanian untuk penyaluran KUR Bank Sumsel Babel.

Sementara itu, Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Kantor Regional 7 Sumbagsel, Sabil mengatakan pemerintah memang mendorong KUR di Sumsel untuk sektor pertanian, perikanan dan kelautan.

“Sektor usaha [perdagangan] juga ada tapi kan target

pemerintah mendorong ke sektor prioritas,” ujarnya.

Menurutnya, pihaknya tidak menemukan kendala penyaluran KUR karena perbankan telah memiliki banyak jaringan kantor di daerah. Selain itu masyarakat juga banyak membutuhkan.

OJK Kantor Regional 7 mencatat penyaluran KUR pada 2017 mencapai Rp2,28 triliun atau berkontribusi 2,36% terhadap penyaluran KUR secara nasional.

“Memang kontribusinya rendah karena aset perbankan di Sumsel juga sekitar 2% dari pangsa pasar industri perbankan nasional jadi masih in line,” katanya. (Dinda/

Finansial)

Dukungan

pemerintah

daerah terhadap

keberhasilan

program KUR

Klaster ini sangat

kami perlukan.

(33)

Ajak Nasabah Ngopi

Sembari Bicara Bisnis

B

agi Samiluddin,

mengemban tugas sebagai Direktur Umum Bank Sumsel Babel memerlukan sentuhan keterampilan berkomunikasi. Apalagi pria yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Perusahaan BPD kebanggaan wong Sumsel dan Babel itu juga menangani bidang satuan kredit khusus (SKK). Tak hanya membawahi bidang di Divisi Umum, Samiluddin juga sementara ini mengisi kekosongan sebagai Direktur Kepatuhan. Bagaimana pandangannya soal kedua bidang yang berpengaruh terhadap perkembangan Bank Sumsel Babel. Finansial berkesempatan mewawancarainya. Berikut petikannya.

(34)

Menjabat sebagai direktur umum sekaligus merangkap direktur kepatuhan, apa yang menjadi fokus Bapak saat ini?

Seluruh [bidang] harus fokus, cuma mana yang berbuah kinerja yang bentuknya upaya keras, kita upayakan.

Sebagai direktur umum saya membawahi berbagai bidang, yakni IT, logistik, akuntansi dan SKK (satuan kredit khusus).

Sementara di bidang kepatuhan, saya mengawal jalannya operasional agar patuh terhadap peraturan baik internal maupun eksternal.

Sebagai direktur umum, apa saja target Bapak sepanjang tahun ini?

Targetnya, di SKK misalnya, tentu kami harus dapat

berkontribusi terhadap penyehatan bank melalui perbaikan NPL (non performing loan) dan memeroleh pendapatan. Jika kedua hal itu bisa berjalan maka bisa berkontribusi kepada laba perusahaan.

Selain target penurunan NPL tentu juga bersama mencapai target laba. Prinsip kami [perusahaan] secara utility kan melalui ekspansi kredit, kami upaya sekeras-kerasnya. Kami harus optimistis di tahun kalender 2018 melalui potensi-potensi yang bisa digarap.

Apa strategi Bapak untuk mencapai target tersebut?

Sejak hari pertama kerja tahun 2018, saya sudah konsolidasi dengan tim SKK dan divisi bisnis

cabang yang mengkoordinir seluruh cabang Bank Sumsel Babel. Artinya, kami sudah menentukan apa yang bisa kami lakukan pada tahun ini, terutama terhadap kredit-kredit yang menjadi perhatian khusus.

Kalau di bidang pemasaran, [kerja] melalui ekspansi kredit. Kalau kami mendaur ulang seluruh potensi yang bersifat khusus akan tertagih. Kami akan selesaikan sehingga bisa bermanfaat dan berkontribusi terhadap pendapatan.

Perlakuan khusus atau inovasi terhadap kredit khusus?

Tidak ada perlakuan khusus, cuma seni saja. Kalau memberi kredit kan sudah ada aturan. Nah kalau di kredit khusus ini caranya juga bersifat khusus , saya lebih

mendekati komunikasi sama semua customer atau nasabah, semuanya yang punya kredit khusus kita ajak ngobrol, diskusi dari situlah jalan keluarnya bisa kami dapat.

Di situlah seninya, mengajak ngobrol nasabah sambil ngopi, kami ajak ngomong bisnis. Apa yang bisa kami lakukan baik untuk mereka, baik untuk kami. Eksekusinya tidak bisa kaku kalau bersifat khusus ini. Kami mengedapankan komunikasi, empati, bagaimana solusi yang mereka bayangkan, bagaimana solusi yang mereka harapkan sehingga dipadu menjadi solusi bersama.

Bank Sumsel Babel sedang gencar mengembangkan layanan digital. Bahkan, berencana membentuk divisi khusus untuk digital banking,

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini terdiri dari dua analisis, yaitu analisis untuk mengetahui pengaruh variasi tiga parameter scan yaitu tegangan tabung, arus-waktu

Hasil penelitian menunjukkan: (1) kesiapan SD di Kabupaten Kulon Progo untuk mengimplementasikan pendidikan karakter baik, dinilai dari kurikulum yang telah terintegrasi

Berdasarkan azas-azas Hukum Perdata Internasional, bahwa perubahan hukum terhadap harta perkawinan tidak berlaku surut, maka dalam mengabulkan permohonan perjanjian

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi dengan judul, “Partisipasi Masyarakat dan Willingness to Pay dalam Pembangunan Infrastruktur Ekonomi (Studi Kasus : Desa

Pada tabel di atas diketahui keuntungan yang diharapkan (Expected Return) terbesar adalah E(R) Reksadana PUAS, tetapi ini bukan berarti menim- bulkan kesimpulan bahwa Reksadana

Sampel berpasangan ujian-t digunakan untuk menganalisis min perbezaan antara bilangan kejadian buli dengan buli secara verbal dalam kalangan pelajar sekolah rendah

Dapatan kajian mendapati bahawa konsep kerohanian amat sesuai diamalkan dalam kalangan pesakit kanser wanita dan kepentingan aspek kerohanian seperti mengakui bahawa ujian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui aktivitas guru dalam meningkatkan kemampuan berargumentasi siswa dengan metode debat aktif menggunakan