BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Filum anelida (bahasa Latin untuk “bercincin” terdiri atas cacing-cacing yang tubuhnya terbagi-bagi menjadi segmen-segmen (metamer). Segmentasi itu jelas bersifat eksternal, tapi juga internal dalam wujud membrane (septum) yang membagi-bagi bagian interior cacing. Metamerisme juga terdapat pada Arthropoda, yang dipercaya berkerabat langsung dengan anelida, dan juga pada Chordata. Dinding badan dan tractus digestivus dengan lapisan-lapisan otot sirkuler dan longitudinal, sudah mempunyai rongga badan (coelom) dan umumnya terbagi oleh septa (George, 2009).
Annelida memiliki segmen di bagian luar dan dalam tubuhnya. bAntara satu segmen dengan segmen lainya terdapat sekat yang disebut septa. Pembuluh darah, sistem ekskresi, dan sistem saraf di antara satu segmen dengan segmen lainnya saling berhubungan menembus septa. Rongga tubuh Annelida berisi cairan yang berperan dalam pergerakkan annelida dan sekaligus melibatkan kontraksi otot. Ototnya terdiri dari otot melingkar (sirkuler) dan otot memanjang (longitudinal). Sistem pencernaan annelida sudah lengkap, terdiri dari mulut, faring, esofagus (kerongkongan), usus, dan anus. Cacing ini sudah memiliki pembuluh darah sehingga memiliki sistem peredaran darah tertutup. Darahnya mengandung hemoglobin, sehingga berwarna merah. Annelida memiliki panjang tubuh sekitar 1 mm hingga 3 m (campbell, 2003).
Pada cacing tanah, sejenis anelida terestrial yang khas, keseluruhan tubuh terbagi-bagi menjadi segmen-segmen yang secara umum mirip satu sama lain. Setiap segmen memiliki empat pasang bulu kejur (bristle) eksternal, yang digunakan untuk menambatkan dan menggerakkan cacing tersebut. Segmentasi terekspresi secara iternal dengan adanya tabung-tabung nefridia (ekskretoris) dan pori-pori ekskretoris pada nyaris semua segmen. Akan tetapi, saluran pencernaannya tidak tersegmentasi (George, 2009).
Sistem saraf annelida adalah sistem saraf tangga tali. Ganglia otak terletak di depan faring pada anterior. Ekskresi dilakukan oleh organ ekskresi yang terdiri dari nefridia, nefrostom, dan nefrotor. Nefridia (tunggal–nefridium) merupakan organ ekskresi yang terdiri dari saluran. Nefrostom merupakan corong bersilia dalam tubuh. Nefrotor merupakan pori permukaan tubuh tempat kotoran keluar. Terdapat sepasang organ ekskresi tiap segmen tubuhnya (Campbell, 2003).
Cacing dari filum ini bersegmen, artinya tubuhnya terdiri atas satuan yang berulang-ulang. Meskipun beberapa struktur, sepeti saluran pencernaan, terdapat di sepanjang tubuh cacing tersebut, tetapi yang lain seperti organ ekskresi terulang pada segmen demi segmen. Dari luar segmenentasi ini tampak seperti rangakaian cincin. Ciri-ciri khas lain annelida adalah simetri bilateral, suatu sistem peredaran yang efisien dengan darah yang dipompa melalui sistem pembuluh dari tertutup, dan sistem saraf yang cukup rumit. Pembuluh saraf utama terdapat di bagian ventral (Kimball, 2000).
Sebagian besar annelida hidup dengan bebas dan ada sebagian yang parasit dengan menempel pada vertebrata, termasuk manusia. Habitat annelida umumnya berada di dasar laut dan perairan tawar, dan juga ada yang segaian hidup di tanah atau tempat-tempat lembap. Annelida hidup diberbagai tempat dengan membuat liang sendiri. Annelida umumnya bereproduksi secara seksual dengan pembantukan gamet. Namun ada juga yang bereproduksi secara fregmentasi, yang kemudian beregenerasi (Campbell, 2003).
1.2. Tujuan Praktikum
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada umumnya Annelida hidup bebas, ada yang hidup dalam liang beberapa bersifat kommensal pada hewan-hewan aquatis, dan ada juga yang bersifat parasit pada Vertebrata. Annelida di samping tubuhnya bersegmen-segmen, juga tertutup oleh kutikula yang merupakan hasil sekresi dari epidermis. Filum ini sudah mempunyai sistem nervosum, sistem cardiovascular tertutup dan sudah ada rongga badan (Radiopoetro, 1996).
Annelida berarti “cincin kecil” dan tubuh bersegmen yang mirip dengan serangkaian cincin yang menyatu merupakan ciri khas cacing filum Annelida. Terdapat sekitar 15.000 spesies filum Annelida, yang panjangnya berkisar antara kurang dari 1 mm sampai 3 m pada cacing tanah raksasa Australia. Anggota filum Annelida hidup di laut, sebagian besar habitat air tawar, dan tanah lembab (Campbell, 2003).
Annelida dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Polychaeta (cacing berambut banyak), Oligochaeta (cacing berambut sedikit), dan Hirudinea. Polychaeta (dalam bahasa yunani, poly=banyak, chaetae=rambut kaku) merupakan annelida berambut banyak. Tubuh Polychaeta dibedakan menjadi daerah kepala (prostomium) dengan mata, antena, dan sensor palpus. Polychaeta memiliki sepasang struktur seperti dayung yang disebut parapodia (tunggal=parapodium) pada setiap segmen tubuhnya. Fungsi parapodia adalah sebagai alat gerak dan mengandung pembuluh darah halus sehingga dapat berfungsi juga seperti insang untuk bernapas. Setiap parapodium memiliki rambut kaku yang disebut seta yang tersusun dari kitin (Kimbal, 2000).
Masing-masing segmen hewan Polychaeta “banyak setae,” dinamakan demikian karena adanya bulu pada masing-masing segmen) memiliki sepasang struktur yang mirip dayung atau mirip bukit yang disebut parapodia (“hampir seperti kaki”) yang berfungsi lokomosi. Masing-masing parapodia memiliki beberapa setae yg terbuat dari poliskarida kitin. Pada banyak hewan polychaeta, parapodia sangat kaya dengan pembuluh darah dan berfungsi sebaga insang (Campbell, 2003).
Ciri lain pada cacing Annelida yang tidak terdapat pada hewan yang lebih primitif adanya rongga tubuh yang besar beisi cairan. Hal ini memungkinkan organ-organ dalam bergesekan satu sama lain dengan mudah, sehingga memudahkan gerakan tubuh yang ekstensif. Rongga ini, yang disebut selom, seluruhnya dilapisi oleh mesoderm. Akan tetapi, perkembangan embrionya sangat berbeda dengan perkembangan selom pada vertebrata. Dalam tahapan pembelahan awal, di dalam embrio terbentuk sel-sel mesoderm khusus. Pembelahan mitosis sel-sel ini menghasilkan massa jaringan mesoderm. Akhirnya dalam jaringan tersebut berkembang suatu rongga yang secara beangsur-angsur membesar menjadi selom (Kimball, 2000).
Kelas Oligochaeta atau kelas cacing bersegmen ini meliputi cacing tanah dan berbagai spesies akuatik. Selom cacing tanah terpartisi oleh septa, tetapi saluran pencrnaan, pembuluh darah longitudinal, dan tali saraf menembus septa itu dan memanjang di sekujur tubuh hewan itu (pembuluh utama memiliki cabang bersegmen). Sistem sirkulasi tertutup terdiri atas suatu jaringan pembuluh yang mengandung darah dengan hemoglobin pembawa oksgen. Pembuluh arah kecil sangat banyak terdapat pada kulit cacing tanah, yang berfungsi sebagai organ pernapasnnya. Pada masing-masing segmen cacing tersebut terdapat sepasang tabung ekskretoris yang disebut metanefridia dengan corong bersilia, yang disebut nefrostom yang megeluarkan buangan dari darah dan cairan selomik (Campbell, 2003).
lain adalah cacing tanah Amerika (Lumbricus terrestris), cacing tanah Asia
(Pheretima), cacing merah (Tubifex), dan cacing tanah raksasa Australia (Digaster
longmani). Cacing ini memakan oarganisme hidup yang ada di dalam tanah
dengan cara menggali tanah. Kemampuannya yang dapat menggali bermanfaat dalam menggemburkan tanah. Manfaat lain dari cacing ini adalah digunakan untuk bahan kosmetik, obat, dan campuran makan berprotein tinggi bagi hewan ternak (Radiopoetro, 1996).
Oligochaeta (“sedikit rambut”) umumnya terestrial, tapi ada sejumlah kecil yang hidup di lautan dan perairan tawar. Oligochaeta bersifat hermaprodit, dan umumnya sepasang cacing berkopulasi untuk menghasilkan peristiwa fertilisasi ganda. Oligochaeta hidup di lingkungan-lingkungan lembab, sebab gas yang dipertukarkan melalui permukaan tubuhnya harus berada dalam keadaan terlarut. Cacing tanah (Lumbricus) merupakan contoh utama dari kelas ini (George, 2009).
Hirudinea merupakan kelas annelida yang jenisnya sedikit. Hewan ini tidak memiliki arapodium maupun seta pada segmen tubuhnya. Panjang Hirudinea bervariasi dari 1-30 cm. Tubuhnya pipih dengan ujung anterior dan posterior yang meruncing. Pada anterior dan posterior terdapat alat pengisap yang digunakan untuk menempel dan bergerak. Sebagian besar Hirudinea adalah hewan ektoparasit pada permukaan tubuh inangnya. nangnya adalah vertebrata dan termasuk manusia. Hirudinea parasit hidup denga mengisap darah inangnya, sedangkan Hirudinea bebas hidup dengan memangsa invertebrata kecil seperti siput. Contoh Hirudinea parasit adalah Haemadipsa (pacet) dan Hirudo (lintah) (Campbell, 2003).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 18 Februari 2015, pukul 08.00 sampai dengan pukul 10.00 WIB, bertempat di Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya, Indralaya.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada parktikum kali ini adalah baki bedah, kaca pembesar, dan pinset. Sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah Hirudo
medicinalis dan Pheretima sp
3.3. Cara Kerja
BAB IV
HaASIL DAN PEMBAHASAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil sebagai berikut :
Hirudo medicinalis
Klasifikasi
Kingdom : Animalia Filum : Annelida Kelas : Clitellata
Ordo : Arhynchobdellae Famili : Hirudinidae Genus : Hirudo
Spesies : Hirudo medicinalis
Keterangan
1. Sucker
2. Scansor
3. Anterior
4. Scolex
5. Septa
6. Segmen Deskripsi:
Pheretima sp
Klasifikasi
Kingdom : Animalia Filum : Annelida Kelas : Clitellata Ordo : Haplotaxida Famili : Megascolecidae Genus : Pheretima
Spesies : Pheretima sp
Keterangan
1. Mulut
2. Klitelum
3. Rambut-rambut halus
4. Anus
Deskripsi:
Cacing tanah adalah nama yang umum digunakan untuk kelompok Oligochaeta, yang kelas dan sub kelasnya tergantung dari penemunya dalam filum annelida. Menurut Radiopoetro (1996) bahwa Cacing tanah jenis Lumbricus
BAB V
KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, didapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Cacing tanah (Pheretima sp) menunjukkan sistem saraf yang kompleks dimana
berbagai sel sensoris terpusat di ujung kepala, tetapi organ-organ sensoris tidak menonjol.
2. Cacing tanah (Pheretima sp) memiliki sistem sirkulatoris yang tertutup, ekskresi
dilaksanakan melalui asosisi erat antara sistem sirkulatoris dan nefridium.
3. Lintah (Hirudo medicinalis) merupakan hewan hermaprodit atau berkelamin
ganda.
4. Banyak anggota Hirudinea merupakan parasit pada avertebrata ataupun vertebrata
dengan menghisap darah inangnya.
5. Anggota kelas Oligochaeta hidup di lingkungan-lingkungan lembab, sebab gas
DAFTAR PUSTAKA
Campbell N. A. 2003. Biology Edisi Ketujuh. Erlangga. Jakarta
George, Fried, E. H & Hademos, G. J. 2009. Biologi Edisi Kedua. Erlangga. Jakarta. x + 386 hlm.
John, W Kimball. 2000. Biologi edisi ke lima. Erlangga. Jakarta. vii + 382 hlm.