PERANAN AUDIT INTERNAL
DALAM PENGENDALIAN RISIKO PEMBIAYAAN
DI BANK BRI SYARIAH KANTOR CABANG DIPONEGORO
SURABAYA
SKRIPSI
OLEH :
ISMATUL KHAYATI
NIM : C04211019
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH
SURABAYA
▸ Baca selengkapnya: kode cabang bank bri jawa tengah
(2)PERANAN AUDIT INTERNAL
DALAM PENGENDALIAN RISIKO PEMBIAYAAN
DI BANK BRI SYARIAH KANTOR CABANG DIPONEGORO
SURABAYA
SKRIPSI
Diajukan kepada
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Dalam Menyelesaikan Program Sarjana Strata Satu
Ilmu Ekonomi Syariah
OLEH:
ISMATUL KHAYATI
NIM : C04211019
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Prodi Ekonomi Syariah
SURABAYA
ABSTRAK
Skripsi yang berjudul ‚Peranan Audit Internal dalam Pengendalian Risiko Pembiayaan di Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya‛ ini merupakan hasil penelitian kualitatif yang bertujuan menjawab pertanyaan tentang bagaimana mekanisme audit internal dalam pembiayaan dan bagaimana peranan audit internal dalam mengendalikan risiko pembiayaan di Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya.
Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus pada objek yang diteliti. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan wawancara kepada informan yaitu tim audit internal dan pegawai Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya. Data tersebut kemudian dianalisis dengan pola pikir induktif yang berarti pola pikir yang berpijak pada fakta-fakta bersifat khusus, kemudian diteliti, dianalisis dan disimpulkan menjadi pemecahan persoalan atau solusi yang dapat berlaku secara umum.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, mekanisme audit internal dalam pembiayaan di Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya meliputi tahap persiapan audit, tahap penyusunan program audit, tahap pelaksanaan penugasan audit, tahap pelaporan audit, tahap tindak lanjut hasil audit dan tahap dokumentasi dan administrasi, dan kedua, peranan audit internal dalam mengendalikan risiko pembiayaan diklasifikasikan dalam peran pemecah masalah, peran kepatuhan, peran negosiator dan peran pengendalian yang diantaranya tertuang dalam laporan audit.
DAFTAR ISI
SAMPUL DALAM ... i
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
PENGESAHAN ... iv
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR TRANSLITERASI ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi dan Batasan Masalah ... 11
C. Rumusan Masalah ... 12
D. Tujuan Penelitian ... 12
E. Kegunaan Hasil Penelitian ... 12
F. Definisi Operasional ... 13
G. Kajian Pustaka ... 15
H. Metode Penelitian ... 20
BAB II PEMBIAYAAN, RISIKO PEMBIAYAAN, DAN AUDIT
INTERNAL PEMBIAYAAN BANK SYARIAH ... 26
A. Pembiayaan Bank Syariah ... 26
1. Produk Bank Syariah ... 27
2. Pelaksana Pembiayaan ... 29
3. Proses Pemberian Pembiayaan ... 31
4. Kolektibilitas Pembiayaan ... 35
B. Risiko Pembiayaan Bank Syariah ... 38
C. Audit Internal Bank ... 41
1. Pengorganisasian Audit Internal ... 45
2. Pelaksanaan Audit Internal ... 45
3. Peran Audit Internal ... 48
BAB III APLIKASI AUDIT INTERNAL PADA BANK BRI SYARIAH KANTOR CABANG DIPONEGORO SURABAYA ... 50
A. Gambaran Umum Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya ... 50
1. Sejarah Singkat Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya ... 50
2. Visi dan Misi Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya ... 51
4. Pembiayaan di Bank BRI Syariah Kantor Cabang
Diponegoro Surabaya ... 54
B. Satuan Kerja Audit Internal (SKAI) Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya ... 59
1. Visi dan Misi SKAI ... 60
2. Kedudukan, Peranan dan Fungsi SKAI ... 61
3. Wewenang SKAI ... 62
4. Tanggung Jawab SKAI ... 63
5. Ruang Lingkup Kerja SKAI ... 64
C. Aplikasi Audit Internal Pengendalian Risiko Pembiayaan di Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya ... 65
1. Pengendalian Risiko Pembiayaan Bank ... 65
2. Audit Internal Pengendalian Risiko Pembiayaan ... 66
D. Peran Audit Internal dalam Pengendalian Risiko Pembiayaan di Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya ... 71
BAB IV ANALISIS PERANAN AUDIT INTERNAL DALAM PENGENDALIAN RISIKO PEMBIAYAAN DI BANK BRI SYARIAH KANTOR CABANG DIPONEGORO SURABAYA ... 74
A. Analisis Mekanisme Audit Internal Pembiayaan di Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya ... 74
BAB V PENUTUP ... 89
A. Kesimpulan ... 89
B. Saran dan Rekomendasi ... 92
DAFTAR PUSTAKA ... 95
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Undang-Undang Dasar 1945 sebagai pedoman bangsa Indonesia
mengamanatkan kepada pemerintah untuk memajukan kesejahteraan umum.
Amanat untuk memajukan kesejahteraan umum mempunyai makna untuk
memajukan kesejahteraan bagi rakyat secara keseluruhan, bukan hanya
kesejahteraan orang per orang. Oleh karena itu, perlu disusun suatu sistem
yang dapat menjamin terselenggaranya keadilan sosial yang salah satunya
berupa kesejahteraan ekonomi.
Pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan indikator
penting untuk menilai keberhasilan pembangunan suatu negara dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakatnya. Kesejahteraan ekonomi
masyarakat dapat direpresentasikan dari tingkat hidup masyarakat yang
ditandai oleh terentasnya kemiskinan, tingkat kesehatan yang lebih tinggi dan
peningkatan produktivitas masyarakat.1
Perbankan merupakan sektor yang mempunyai pengaruh besar dalam
perekonomian suatu negara, karena bank berfungsi sebagai lembaga perantara
untuk menampung dana masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada
masyarakat dalam kegiatan perekonomian yang bersifat produktif. Aktivitas
perekonomian yang merupakan kegiatan produktif, baik dalam pengadaan
1 MP. Todaro dan Stephen C. Smith, Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga (Jakarta: Erlangga,
2
barang maupun jasa menjadi sangat tergantung pada sektor perbankan.
Lembaga keuangan perbankan, baik bank konvensional maupun bank syariah,
memainkan peranan yang sangat penting dalam penyaluran dana terhadap
masyarakat, terutama pada pengusaha. Para pengusaha maupun masyarakat
pada umumnya dapat menggunakan dana dari bank untuk keperluan modal
kerja, konsumtif maupun investasi.
Bank syariah sebagai salah satu lembaga keuangan perbankan yang ikut
berperan dalam penyaluran dananya merupakan lembaga keuangan yang
operasional produknya dikembangkan berlandaskan Alquran dan Hadis Nabi,2
atau dengan kata lain bank syariah adalah lembaga keuangan yang usaha
pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas
pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan
syariat Islam.
Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah menurut Undang-Undang
Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan adalah penyediaan uang atau
tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau
kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang
dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka
waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.3
2 Sulhan dan Ely Siswanto, Manajemen Bank Konvensional dan Syariah (Malang: UIN Maliki
Press, 2008), 125.
3 Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2009 tentang Bank Indonesia dan
3
Pembiayaan merupakan operasional perbankan syariah yang dapat ikut
memajukan kesejahteraan ekonomi. Pembiayaan yang disalurkan bank yang
dapat digunakan untuk keperluan konsumsi, investasi maupun modal kerja ini
melancarkan perputaran kegiatan ekonomi antara produksi dan konsumsi.
Namun, kegiatan bank syariah berupa pembiayaan ini senantiasa dihadapkan
pada risiko-risiko. Sebagaimana tertera dalam Undang-Undang Nomor 10
Tahun 1998 tentang Perbankan dan dalam Penjelasan Pasal 37
Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah menjelaskan bahwa
pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang diberikan oleh bank
mengandung risiko, sehingga dalam pelaksanaannya bank harus
memperhatikan asas-asas maupun pembiayaan berdasarkan prinsip syariah
yang sehat.4
Bank yang tidak memperhatikan asas-asas pembiayaan yang sehat
dalam menyalurkan pembiayaannya, akan terkena berbagai risiko yang harus
ditanggungnya antara lain; utang/kewajiban pokok pembiayaan tidak dibayar,
margin/bagi hasil/fee tidak dibayar, membengkaknya biaya yang dikeluarkan
dan turunnya kesehatan pembiayaan (finance soundness). Risiko-risiko
tersebut dapat mengakibatkan timbulnya pembiayaan bermasalah (Non
Performing Financing/NPF) yang dapat disebabkan oleh faktor ekstern
maupun intern bank.5
4 Ibid., 201.
5 Faturrahman Djamil, Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syariah (Jakarta: Sinar
4
Ukuran untuk mengetahui pembiayaan itu bermasalah yaitu berdasarkan
penggolongan suatu pembiayaan ke dalam tingkat kolektibilitas pembiayaan
nasabah yang tercermin dalam catatan pembukuan bank, yaitu mencakup
ketepatan pembiayaan/angsuran pokok, margin maupun kewajiban lain dari
persyaratan pencairan pembiayaan. Tingkat kolektibilitas pembiayaan yang
dimaksud digolongkan dalam tabel 1.1 di bawah ini:
Tabel 1.1
Kolektibilitas Nasabah Pembiayaan6
Kolektibilitas Kriteria
Performing 1 2 Lancar Dalam Perhatian Khusus Tidak terdapat tunggakan Tunggakan sampai 90 hari
Non Performing
3 Kurang Lancar Tunggakan sampai 120 hari
4 Diragukan Tunggakan sampai 180 hari
5 Macet Tunggakan sampai di atas 180
hari
Sumber: Wiroso, Jual Beli Murabahah (2005)
Menurut tabel 1.1 di atas, suatu pembiayaan dikatakan masuk dalam
kategori Non Performing Finance apabila menempati tingkat kolektibilitas
nasabah pembiayaan ke-3 (Kurang Lancar), ke-4 (Diragukan) dan ke-5
(Macet). Terjadinya pembiayaan bermasalah (NPF) tersebut di antaranya
disebabkan oleh faktor internal pembiayaan seperti kebijakan pembiayaan
yang ekspansif, penyimpangan dalam pelaksanaan prosedur pembiayaan,
itikad kurang baik dari pemilik atau pengurus bank dan lemahnya sistem
informasi pembiayaan macet. Sedangkan penyebab dari faktor eksternal di
antaranya kegagalan usaha debitur, pemanfaatan iklim persaingan perbankan
5
yang tidak sehat oleh debitur, maupun perubahan kondisi perekonomian
negara dan faktor lingkungan alam.7
Bank BRI Syariah dalam laporan keuangannya menunjukkan adanya
risiko pembiayaan dari tingkat pembiayaan bermasalah (NPF) pada tahun
2013 sebesar 3,26%.8 Angka tersebut menunjukkan bank berada di peringkat
dua dalam penilaian kesehatannya. Hal ini sebagaimana ketentuan dalam
Matriks Perhitungan/Analisis Komponen Faktor Kualitas Aset (Asset
Quality), bahwa bank memiliki kriteria penilaian peringkat NPF sebagai
berikut:
Tabel 1.2 tersebut mengindikasikan ukuran tingkat permasalahan
pembiayaan yang dihadapi oleh bank. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan
bank semakin menghadapi risiko dari pembiayaan yang disalurkan. Bank BRI
Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya pada tahun 2013 memiliki
7 Iswi Hariyani, Restrukturisasi dan Penghapusan Kredit Macet (Jakarta: PT Elex Media
Komputindo, 2010), 38.
8 BRI Syariah, “Laporan Tahunan 2013”, dalam
http://www.brisyariah.co.id/sites/default/files/laporantahunan/Laporan%20Tahunan%202013.pdf, “diakses pada” 31 Oktober 2014.
9 Bank Indonesia, “Kodifikasi Peraturan Bank Indonesia: Kelembagaan, Penilaian Tingkat
Kesehatan Bank”, dalam
6
tingkat NPF di kisaran 5%, yang mana menunjukkan bank masih menghadapi
risiko pembiayaan-pembiayaan yang bermasalah.
Risiko pembiayaan di Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro
Surabaya, menurut Made Dharmawan di antaranya disebabkan oleh
pembiayaan macet nasabah maupun oleh kesalahan pelaksana pembiayaan
dalam mengelola pembiayaan yang disalurkan. Hal ini sebagaimana dikatakan
oleh Ade Irfan dan Reza bahwa kesalahan atau kurang tepatnya bagian
pembiayaan bank dalam mengelola pembiayaan itu seperti pada syarat-syarat
pencairan yang tidak dipenuhi, kesalahan proses pencairan, analisa verifikasi
tidak dilakukan monitoring dan lain-lain.10
Tindak lanjut bank dalam menelusuri, menilai dan mengevaluasi risiko
pembiayaan tersebut yaitu harus menerapkan fungsi pengawasan pembiayaan
yang bersifat menyeluruh (multi layers control), dengan tiga prinsip utama,
yaitu; prinsip pencegahan dini (early warning system), prinsip pengawasan
melekat (built in control) dan prinsip pemeriksaan internal (internal audit).
Pencegahan dini adalah tindakan preventif terhadap kemungkinan
terjadinya hal-hal yang dapat merugikan bank dalam pembiayaan atau
terjadinya praktik pembiayaan yang tidak sehat. Adapun prinsip pengawasan
melekat yaitu di mana para pejabat pembiayaan melakukan supervisi
sehari-hari untuk memastikan bahwa kegiatan pembiayaan telah berjalan sesuai
dengan kebijakan yang telah ditetapkan. Pengawasan pembiayaan juga harus
10 Made Dharmawan, Anggota Tim Audit, Wawancara, Surabaya, 13 November 2014; Ade Irfan,
7
dilengkapi dengan audit internal terhadap semua aspek pembiayaan yang telah
dilakukan. Audit internal ditujukan sebagai upaya lanjutan dalam pengawasan
pembiayaan untuk lebih memastikan bahwa pembiayaan dilakukan dengan
benar sesuai dengan kebijakan pembiayaan dan telah memenuhi
prinsip-prinsip pembiayaan yang sehat serta mematuhi ketentuan-ketentuan yang
berlaku dalam pembiayaan.11
Konsep audit internal menurut Mulyadi adalah kegiatan penilaian yang
terdapat dalam organisasi secara independen dengan cara memeriksa
akuntansi keuangan maupun kegiatan lain untuk menjadi bahan pertimbangan
keputusan manajemen. Hasil penilaian tersebut disajikan dalam bentuk
analisis penilaian, rekomendasi, maupun komentar-komentar penting terhadap
kegiatan manajemen.12 Audit internal memiliki fungsi penilaian yang
independen dalam organisasi untuk menguji dan mengevaluasi kegiatan yang
dilaksanakan perusahaan (auditing).13 Dilanjutkan menurut Mulyadi bahwa
audit internal yang bertugas menjalankan fungsi auditing pada risiko
pembiayaan tergolong dalam audit kepatuhan, yaitu audit yang tujuannya
untuk menentukan apakah yang diaudit sesuai dengan kondisi atau peraturan
tertentu yang dalam hal ini kesesuaian pembiayaan yang disalurkan dengan
peraturan penyaluran pembiayaan.14 Dengan adanya audit kepatuhan yang
dijalankan oleh audit internal bank, berarti bank telah berupaya menerapkan
11 Sukrisno Agoes, Auditing (Pemeriksaan Akuntan) oleh Kantor Akuntan Publik (Jakarta:
Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, 2004), 11-12.
8
manajemen risiko sebagaimana berdasarkan SE. BI. No. 13/23/DPNP tanggal
25 Oktober 2011 bahwa bank harus memiliki Pedoman Standar Penerapan
Manajemen Risiko. Manajemen risiko ini merupakan upaya mengelola risiko
agar peluang mendapatkan keuntungan sesuai risiko dapat diwujudkan secara
berkelanjutan.15
Penerapan manajemen risiko sangat diperlukan karena bank berada
dalam bisnis berisiko tinggi, di mana bank dalam menjalankan usahanya
melakukan penawaran jasa-jasa keuangan, bank juga harus mengambil atau
menerima dan mengelola bernagai jenis risiko keuangan secara efektif agar
dampak negatifnya tidak terjadi. Oleh karena itu dalam terciptanya kondisi
bank yang sehat dan baik maka perlu diterapkannya manajemen risiko dengan
melakukan audit yang dilaksanakan oleh auditor internal.
Fungsi dan tugas audit internal perbankan dijalankan oleh bagian yang
independen, yaitu Satuan Kerja Audit Intern (SKAI).16 Pada Bank BRI
Syariah, fungsi SKAI dijalankan oleh Audit Group Head (AGH) yang berada
pada kantor pusat di Jakarta, sedangkan untuk masing-masing kantor wilayah
dikenal dengan istilah Resident Auditor (RA).17
Resident Auditor yang menjalankan fungsi audit internal di Bank BRI
Syariah Kantor Cabang Surabaya terbagi dalam dua bagian, yaitu audit
internal pembiayaan dan audit internal operasional yang meliputi operasional
15 Ikatan Bankir Indonesia, Memahami Bisnis Bank Syariah (Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama, 2014), 341-342.
16 Zainul Arifin, Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah (Tangerang: Pustaka Alvabet, 2009), 257. 17 Made Dharmawan, Anggota Tim Audit, Wawancara, Surabaya, 15 November 2014; Ade Irfan,
9
keuangan (akuntansi) dan operasional pegawai bank selain pembiayaan. Audit
internal keuangan menjalankan fungsinya dalam mengevaluasi laporan
akuntansi perbankan. Audit internal operasional menjalankan fungsinya dalam
mengevaluasi kinerja manajerial bank selain bagian pembiayaan dan keuangan
(akuntansi). Adapun audit internal pembiayaan menjalankan fungsinya dalam
mengevaluasi pembiayaan yang bermasalah.18
Pembiayaan yang bermasalah di Bank BRI Syariah Kantor Cabang
Diponegoro Surabaya menurut tim auditornya, paling banyak disebabkan oleh
ketidakpatuhan pelaksana pembiayaan bank dalam mengelola pembiayaan
yang disalurkannya.19 Hal ini dapat menimbulkan adanya risiko kepatuhan.
Risiko kepatuhan merupakan risiko akibat bank tidak mematuhi dan/atau
tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang
berlaku.20 Salah satu kasus yang ditemukan auditor pembiayaan menyebutkan
adanya kasus berupa side streaming yang disebabkan oleh lemahnya
monitoring pasca pembiayaan sehingga penggunaan dana pembiayaan tidak
sesuai dengan tujuan awal pembiayaan. Kasus ini terjadi atas pelanggaran
Nodin B422 tgl 16 Agustus 2010, Kebijakan Pembiayaan Bab VI tentang
Status dan Pengawasan Pembiayaan dan Kebijakan Pembiayaan BAB II
Prinsip Kehati-hatian dalam Pembiayaan.21
18 Ibid. 19 Ibid.
20 Ikatan Bankir Indonesia, Memahami Bisnis Bank Syariah, 345.
21 Made Dharmawan, “Kertas Kerja Pemeriksaan Auditor (KKPA) Bidang Pembiayaan”,
10
Terjadinya kasus pada pembiayaan tersebut, maka bank perlu mendapat
perhatian lebih pada keberadaan audit internal terutama pada bidang
pembiayaan. Audit internal pembiayaan bertanggung jawab pada
pengendalian risiko-risiko yang dapat menjadikan pembiayaan bermasalah.
Dalam menemukan kasus-kasus seperti pada pembiayaan tersebut, audit
internal tidak jarang akan langsung menginterogasi pegawai bank bagian
pembiayaan maupun melihat langsung kondisi nasabah. Setelah mendatangi
pihak bank dan nasabah pembiayaan yang bermasalah, audit internal
melakukan penilaian, evaluasi hasil dan memberikan masukan komentar pada
manajemen bank perihal tindakan apa yang perlu dilakukan.22
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam penelitian ini mengangkat tema
besar tentang penerapan manajemen risiko pada kepatuhan penyaluran
pembiayaan yang dilakukan oleh audit internal. Posisi audit internal ini
menjadi penting sebagaimana fungsi dan tanggung jawabnya dalam
mengevaluasi pembiayaan yang disalurkan agar tidak menjadi bermasalah
hingga merugikan bank. Penelitian ini mengambil objek pada Bank BRI
Syariah Kantor Cabang Surabaya dikarenakan menjadi Kantor Cabang yang
membawahi beberapa Kantor Cabang Pembantu di wilayah Jawa Timur.
Sehingga menjadi menarik bagaimana porsi audit internal dalam
mengendalikan risiko pembiayaan di bank tersebut, yang mana dalam tiga
tahun terakhir ini juga mengalami penurunan NPF. Alasan inilah yang
menjadikan penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dalam skripsi
11
yang berjudul: “Peranan Audit Internal dalam Pengendalian Risiko
Pembiayaan di Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya”
B.Identifikasi dan Batasan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat beberapa masalah yang
dapat diidentifikasi sebagai berikut:
a. Asas-asas penyaluran pembiayaan yang sehat sesuai syariah di Bank
BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya
b. Risiko yang timbul dari pembiayaan yang disalurkan oleh Bank BRI
Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya
c. Faktor-faktor penyebab adanya risiko dari penyaluran pembiayaan
(pembiayaan bermasalah) di Bank BRI Syariah Kantor Cabang
Diponegoro Surabaya
d. Mekanisme audit internal dalam penilaian dan evaluasi penyaluran
pembiayaan di Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya
e. Pengendalian risiko pembiayaan berdasar hasil kinerja audit internal
pembiayaan di Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya.
2. Batasan Masalah
Setelah diidentifikasi adanya beberapa masalah yang timbul, agar
penelitian ini lebih terarah dan terfokus maka dibutuhkan adanya batasan
masalah. Penelitian ini terfokus pada mekanisme audit internal pembiayaan
12
Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya yang beralamat di Jl.
Diponegoro No. 16D Kelurahan Darmo Kecamatan Wonokromo.
C.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah penelitian ini, dapat dirumuskan
dua pokok permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana mekanisme audit internal dalam pembiayaan di Bank BRI
Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya
2. Bagaimana peranan audit internal dalam mengendalikan risiko pembiayaan
di Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya
D.Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini berdasarkan pada rumusan masalahnya antara lain:
1. Untuk menganalisis bagaimana mekanisme audit internal dalam
pembiayaan di Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya
2. Untuk mengetahui peran yang diberikan audit internal untuk dapat
mengendalikan risiko pembiayaan di Bank BRI Syariah Kantor Cabang
Diponegoro Surabaya.
E. Kegunaan Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan
13
1. Aspek keilmuan (teoretis)
a. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi wacana pengetahuan baru yang
dapat menambah wawasan mengenai audit internal bank beserta
peranannya dalam pengendalian risiko pembiayaan
b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan acuan atau pertimbangan
bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut di bidang
audit internal.
2. Aspek terapan (praktis)
a. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan Bank BRI
Syariah untuk lebih waspada dalam memberikan pembiayaan pada para
nasabahnya
b. Penelitian ini diharapkan menjadi input bagi lembaga keuangan syariah
lain dalam mengendalikan risiko pembiayaan dengan adanya posisi audit
internal.
F. Definisi Operasional
Definisi operasional pada penelitian adalah unsur penelitian yang terkait
dengan variabel yang terdapat dalam judul penelitian atau yang tercakup
dalam paradigma penelitian sesuai dengan hasil perumusan masalah.23
Berdasarkan judul yang menjadi pokok pembahasan penelitian ini, maka
definisi operasionalnya dari variabel yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
14
1. Audit internal
Audit internal merupakan bagian bank yang secara independen
melakukan kegiatan pemeriksaan atas kinerja organisasi sesuai tugas dan
tanggung jawabnya untuk dievaluasi menjadi bahan pertimbangan
keputusan manajemen.24 Audit internal sangat diperlukan dalam bisnis
perbankan sebagai pengawas serta pengendali risiko-risiko yang mungkin
terjadi dalam rangka penerapan manajemen risiko.
Audit internal pada Bank BRI Syariah Kantor Cabang Surabaya
tergolong dalam audit kepatuhan yang menjalankan fungsi auditing pada
entitas bank sesuai dengan peraturan yang berlaku. Entitas bank harus
menjalankan tugasnya sesuai dengan peraturan yang berlaku agar tidak
memicu adanya risiko-risiko. Sebagaimana pada kegiatan penyaluran
pembiayaan, bank yang mencakup seluruh petugas pembiayaan di
dalamnya harus dapat memutuskan pencairan pembiayaan hingga
monitoring sesuai aturan yang telah ditetapkan. Apabila tidak patuh pada
aturan, maka sangat rentan timbulnya risiko pembiayaan yang dapat
mengganggu perolehan laba dan tingkat kesehatan bank yang
bersangkutan.
2. Risiko pembiayaan
Risiko pembiayaan adalah risiko yang timbul dari pembiayaan
bermasalah disebabkan oleh kegagalan nasabah atau pihak lain dalam
24 Made Dharmawan, Anggota Tim Audit, Wawancara, Surabaya, 15 November 2014; Ade Irfan,
15
memenuhi kewajiban kepada bank sesuai dengan perjanjian yang disepakati
dan kesalahan proses penyaluran pembiayaan.25 Adanya risiko pembiayaan
berupa pembiayaan bermasalah (macet) cenderung disebabkan oleh
ketidakpatuhan bagian pembiayaan sebagaimana tugas dan tanggung
jawabnya sesuai aturan. Upaya yang dapat dilakukan bank dalam
menghadapi risiko pembiayaan ini yaitu dengan melakukan pengawasan
yang ketat dan pengendalian risiko berupa evaluasi kinerja penyaluran
pembiayaan oleh audit internal.
G.Kajian Pustaka
Kajian pustaka merupakan deskripsi ringkas tentang penelitian yang
sudah pernah dilakukan seputar masalah yang diteliti, sehingga terlihat bahwa
penelitian yang sedang dilakukan bukanlah duplikasi dari kajian penelitian
yang telah dilakukan.26
Berdasarkan penelusuran kajian kepustakaan yang penulis lakukan,
berikut ada beberapa penelitian terkait permasalahan yang ada dalam
penelitian ini, diantaranya:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Akbar Pribowo pada tahun 2007 dengan
judul penelitian “Peranan Audit Internal di dalam Menunjang Efektifitas
Pengendalian Internal Kredit Investasi: Studi kasus pada PT. Bank
Nasional Indonesia 46 (Persero) Cabang Asia-Afrika Bandung.
25 Ibid.
26 Fakultas Syariah dan Hukum Islam UIN Sunan Ampel Surabaya, Petunjuk Teknis Penulisan
16
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran
tentang efektivitas audit internal, efektivitas pengendalian internal kredit
investasi dan bagaimana peranan audit internal dalam menunjang
efektivitas pengendalian kredit investasi. Berdasarkan analisis statistiknya,
efektivitas audit internal dan pengendalian internal kredit investasi di PT.
Bank Nasional Indonesia 46 (Persero) Cabang Asia-Afrika Bandung telah
efektif sebesar 77,42% dan 76,77%, sehingga peranan audit internal dalam
menunjang efektivitas pengendalian internal kredit investasi telah berperan
sebesar 82%. Hasil ini menunjukkan kebenaran hipotesisnya yaitu apabila
audit internal dilaksanakan dengan memadai, maka akan berperan dalam
menunjang efektivitas pengendalian internal kredit investasi.27
Penelitian ini sama-sama membahas tentang peranan audit internal
bank sebagaimana yang penulis teliti. Hanya saja, pada penelitian ini
peranan audit internal diarahkan pada efektivitas pengendalian internal
kredit investasi bank konvensional, sedangkan pada penelitian penulis
mengarahkan peranan audit internal pada pengendalian risiko pembiayaan
bank syariah.
2. Penelitian oleh Elok Izza Afrianiswara pada tahun 2012 dengan judul
penelitian “Peranan Audit Internal dalam Menunjang Efektifitas
Pengendalian Internal Kredit Investasi Pada PT. Bank Mandiri (Persero)
Tbk. Kanwil VIII”
27Akbar Wibowo, “Peranan Audit Internal di dalam Menunjang Efektifitas Pengendalian Internal
17
Penelitian tersebut menghasilkan pembuktian bahwa pelaksanaan
audit internal atas kredit investasi pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Kantor Wilayah VIII Surabaya telah memadai sehingga dapat mendorong
tercapainya pengendalian internal perusahaan yang efektif. Hal ini didasari
pada penelusuran: a) Pelaksanaan audit internal yang dilakukan oleh tim
RIC perkreditan Bank Mandiri Kanwil VIII Surabaya telah sesuai dengan
pedoman pelaksanaan audit internal yang ditetapkan oleh kantor pusat, b)
Bank Mandiri Kanwil VIII Surabaya telah memiliki pelaksana audit
internal yang dilakukan oleh tim audit RIC perkreditan yang
bertanggungjawab kepada manager regional yang fungsinya adalah
memeriksa, mengevaluasi dan memberi solusi atas sistem pengendalian
internal kredit investasi, c) Auditor intern (RIC) perkreditan yang dimiliki
perusahaan mempunyai kedudukan yang independen terhadap
bagian-bagian yang diperiksanya. Hal ini terlihat dengan tidak terlibatnya tim
audit intern terhadap kegiatan operasional perusahaan, d) Pelaksanaan
audit intern Bank Mandiri Kanwil VIII Surabaya telah mencakup
verifikasi, compliance, dan evaluasi terhadap aktivitas pengelolaan kredit
investasi, dan e) Pelaksanaan audit intern untuk kredit investasi
dilaksanakan rutin minimal satu kali setahun, baik dilakukan dengan
pemberitahuan sebelumnya atau dengan surprise audit (bersifat urgent).28
28 Elok Izza Afrianiswara, “Peranan Audit Internal dalam Menunjang Efektifitas Pengendalian
18
Persamaan penelitian tersebut dengan yang penulis lakukan adalah
pada pembahasan peranan audit internal dalam salah satu operasional
perbankan. Adapun yang menjadi pembeda adalah operasional perbankan
yang menjadi objeknya. Pada penelitian yang dilakukan Elok, objeknya
berupa pengendalian internal kredit investasi di Bank Mandiri, sedangkan
penelitian yang penulis lakukan objeknya berupa risiko pembiayaan Bank
BRI Syariah.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Ihsan Kusumah pada tahun 2008 dengan
judul penelitiannya “Peranan Audit Internal dalam Pencegahan Kecurangan
(Fraud): Studi Kasus pada Kantor PT. Bank Jabar Banten Cabang Utama,
Bandung”.
Penelitian ini diadakan pada bagian pengawasan intern di bagian
Administrasi Kredit PT. Bank Jabar Banten Cabang Utama yang dinilai
sangat memadai dilihat dari sikap independensi, tanggung jawab dan
kewenangan audit, kemampuan profesional, ruang lingkup audit, survei
pendahuluan dan pelaksanaan kegiatan audit. Penilaian dilakukan melalui
hasil perhitungan kuosioner di mana nilai skor untuk variabel manfaat audit
internal adalah 954 (berada diantara nilai 882,4-1050,4) yang berarti
kriteria sangat memadai.29
Persamaan penelitian ini dengan yang penelitian penulis terletak pada
variabel peranan audit internal perbankan dalam permasalahan kegiatan
29Ihsan Kusumah, “Peranan Audit Internal dalam Pencegahan Kecurangan (Fraud): Studi Kasus
19
operasionalnya. Adapun letak perbedaannya adalah penelitian ini menguji
peranan audit internal dalam pencegahan kecurangan (fraud) menggunakan
perolehan data kuosioner, sedangkan penelitian yang penulis lakukan yaitu
mengetahui peranan audit internal dalam pengendalian risiko pembiayaan
menggunakan perolehan data wawancara dan dokumentasi.
H.Metode Penelitian
1. Data yang Dikumpulkan
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa:
a. Panduan dan kinerja Audit Internal Berbasis Risiko di Bank BRI Syariah
Kantor Cabang Diponegoro Surabaya
b. Data nasabah pembiayaan di Bank BRI Syariah Kantor Cabang
Diponegoro Surabaya tahun 2011-2013 sebagai objek audit
c. Laporan tim auditor internal (RA) bagian pembiayaan atas hasil
pemeriksaannya terhadap pengendalian risiko pembiayaan berupa Kertas
Kerja Pemeriksaan Audit (KKPA) dan Laporan Hasil Audit (LHA).
2. Sumber Data
Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan yang
memfokuskan pada permasalahan risiko pembiayaan yang terjadi di
lapangan (kasus dari Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro
Surabaya). Sumber-sumber data didapat dari beberapa sumber primer dan
20
a. Sumber data primer
Sumber data primer adalah sumber informasi dari subjek
penelitian dengan penggalian data menggunakan alat pengukuran atau
pengambilan secara langsung (wawancara).30 Perolehan sumber data
primer dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive
sampling. Purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber
data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan ini ditentukan bahwa
subjek tersebut dianggap paling tahu tentang data yang peneliti
harapkan, atau dia sebagai penguasa data sehingga akan memudahkan
peneliti menjelajahi objek yang diteliti.31
Sumber data primer dalam penelitian ini ditempati oleh divisi
yang memiliki otoritas terhadap kebijakan pengauditan pembiayaan
yang menempati fungsi SKAI (Satuan Kerja Audit Internal) yaitu Tim
Audit Internal Bank BRI Syariah. Selain itu, yang termasuk dalam
sumber data primer lainnya yaitu berupa kasus pembiayaan bermasalah,
dokumen pengauditan hingga laporan hasil audit.
b. Sumber data sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber data penelitian yang diperoleh
secara tidak langsung32 atau data kepustakaan yang ada hubungannya
dengan audit internal perusahaan dan risiko pembiayaan. Sumber data
30 Saifuddin Azwar, Metode Penelitian (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2007), 91.
31 Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung:
Alfabeta, 2013), 300.
21
ini dapat diperoleh dari buku-buku, jurnal maupun literatur lain,
diantaranya:
1) Ismail Nawawi, Perbankan Syariah
2) Sunarto Zulkifli, Panduan Praktis Transaksi Perbankan Syariah
3) Veitzal Rivai dan Arviyan Rivai, Islamic Banking
4) Sulhan dan Ely Siswanto, Manajemen Bank Konvensional dan
Syariah
5) Ikatan Bankir Indonesia, Memahami Bisnis Bank Syariah
6) Tjukria P. Tawaf, Audit Internal Bank
7) Mulyadi dan Kanaka Puradireja, Auditing
8) Hiro Tugiman, Standar Profesional Audit Internal
9) Bambang Rianto Rustam, Manajemen Risiko Perbankan Syariah
10) Faturrahman Djamil, Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank
Syariah
11) Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data berkaitan dengan bagaimana metode yang
digunakan dalam pengumpulan data, yaitu bagian instrumen pengumpulan
data yang menentukan berhasil atau tidaknya suatu penelitian.33 Penelitian
ini dilakukan menggunakan teknik-teknik pengumpulan data sebagai
berikut:
33 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi (Jakarta: Kencana Prenada Media
22
a. Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data yang tidak langsung
ditujukan pada subjek penelitian, melainkan melalui dokumen.34
Penggalian data melalui dokumen ini dilakukan dengan menelaah dan
menganalisis dokumen job description audit internal meliputi tugas dan
tanggung jawabnya serta laporan tim audit internal Bank BRI Syariah
Kantor Cabang Surabaya (Resident Auditor/RA).
b. Wawancara, yaitu proses memperoleh keterangan untuk tujuan
penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara
pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancara, dengan
atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara.35 Dalam hal ini
wawancara dilakukan secara langsung kepada tim audit internal Bank
BRI Syariah.
c. Studi pustaka, yaitu mengumpulkan data dengan cara memperoleh dari
kepustakaan di mana penulis mendapatkan teori-teori serta beberapa
pendapat para ahli dari buku-buku referensi yang ada hubungannya
dengan penelitian ini.36
4. Teknik Pengolahan Data
Teknik pengolahan data dilakukan setelah data berhasil dihimpun
dari lapangan atau penulisan. Pengolahan data menggunakan teknik dengan
tahapan sebagai berikut:
34 M. Iqbal Hasan, Metodologi Penelitian dan Aplikasinya (Bogor: Ghalia Indonesia, 2002), 87. 35 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi, 133.
36 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial: Format-format Kuantitatif dan Kualitatif
23
a. Editing, yaitu pemeriksaan atau pengecekan data yang diperoleh
terutama dari segi kelengkapannya, kejelasan makna, keselarasan antara
data yang dan relevansinya dengan bahasan penelitian.37 Dalam hal ini
penulis hanya mengambil data yang akan dianalisis sesuai dalam
rumusan masalah saja.
b. Organizing, yaitu menyusun kembali data yang telah didapat berkaitan
dengan penelitian dalam kerangka paparan yang sudah direncanakan
dengan rumusan masalah secara sistematis.38 Penulis melakukan
pengelompokan data yang dibutuhkan dan menyusun data tersebut
dengan sistematis untuk memudahkan penulis dalam menganalisis data.
c. Penemuan Hasil, yaitu menganalisis data yang telah diperoleh dari
penelitian untuk memperoleh kesimpulan mengenai fakta yang
ditemukan sebagai jawaban dari rumusan masalah.39
5. Teknik Analisis Data
Penganalisisan data yang telah terkumpul dilakukan secara analisis
deskriptif kualitatif, yaitu analisis yang menghasilkan data deskriptif
berupa kata-kata tertulis atau dari penuturan lisan orang-orang dan perilaku
yang dapat diamati dengan metode yang telah ditentukan.40 Tujuan dari
metode ini adalah untuk membuat deskripsi atau gambaran mengenai objek
37 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2008), 243. 38 Ibid., 245.
39 Ibid., 246.
24
penelitian secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta,
sifat-sifat antar fenomena yang diselidiki.41
Data tersebut kemudian diolah dan dianalisis dengan pola pikir
induktif yang berarti pola pikir yang berpijak pada fakta-fakta bersifat
khusus untuk kemudian diteliti, dianalisis dan disimpulkan menjadi
pemecahan persoalan atau solusi tersebut dapat berlaku secara umum.
Fakta-fakta yang dikumpulkan berupa kondisi pembiayaan yang
disalurkan dan laporan kinerja audit internal untuk ditemukan hasil
pemeriksaan yang diberikan audit internal terhadap pembiayaan yang telah
disalurkan Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya.
Penulis mulai memberikan pemecahan persoalan melalui penentuan
rumusan masalah sementara dari hasil wawancara awal yang telah
dilakukan. Sehingga ditemukan pemahaman terhadap pemecahan persoalan
dari rumusan masalah yang telah ditentukan.
I. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan ini dipaparkan dengan tujuan untuk
memudahkan penulisan dan pemahaman. Oleh karena itu, penulisan skripsi ini
dibagi dalam beberapa bab, pada tiap-tiap bab terdiri dari beberapa sub bab,
sehingga pembaca dapat memahami dengan mudah. Adapun sistematika
pembahasannya adalah:
25
Bab pertama berisi tentang pendahuluan yang memuat latar belakang
masalah, identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, tujuan
penelitian, kegunaan hasil penelitian, definisi operasional, kajian pustaka,
metodologi penelitian (meliputi data yang dikumpulkan, sumber data, teknik
pengumpulan data, teknik pengolahan data dan teknik analisis data) serta
sistematika pembahasan.
Bab kedua berisi tentang landasan teori dalam penelitian yang memuat
tentang pembiayaan, risiko pembiayaan dan audit internal bank syariah.
Bab ketiga berisi tentang deskripsi gambaran umum Bank BRI Syariah,
deskripsi Pembiayaan Bank BRI Syariah, deskripsi Satuan Kerja Audit
Internal Bank BRI Syariah, aplikasi audit internal pengendalian risiko
pembiayaan dan peran audit internal dalam pengendalian risiko pembiayaan di
Bank BRI Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya.
Bab keempat berisi tentang analisis mekanisme audit internal Bank BRI
Syariah Kantor Cabang Diponegoro Surabaya dalam menilai dan
mengevaluasi pembiayaan yang disalurkan dan menggambarkan peranan audit
internal dalam mengendalikan risiko yang timbul dari penilaian pembiayaan
tersebut. Analisis ini dilakukan agar atas mekanisme kinerja audit, audit
berperan dalam mengendalikan risiko pembiayaan di Bank BRI Syariah
Kantor Cabang Surabaya.
Bab kelima merupakan bab terakhir yang berisi tentang kesimpulan dari
hasil penelitian serta saran dan rekomendasi yang berkaitan dengan
BAB II
PEMBIAYAAN, RISIKO PEMBIAYAAN, DAN AUDIT INTERNAL
PEMBIAYAAN BANK SYARIAH
A.Pembiayaan Bank Syariah
Bank syariah merupakan suatu lembaga keuangan yang berfungsi
sebagai perantara keuangan bagi pihak yang kelebihan dana dengan pihak
yang kekurangan dana untuk kegiatan usaha dan kegiatan lainnya sesuai
dengan hukum Islam. Bank syariah disebut sebagai Islamic Banking atau
interest fee banking, yaitu suatu sistem perbankan yang dalam pelaksanaan
operasionalnya tidak menggunakan sistem bunga, spekulasi dan
ketidakpastian atau ketidakjelasan.1
Posisinya sebagai lembaga keuangan, bank syariah memiliki tiga fungsi
utama yaitu menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk titipan dan
investasi, menyalurkan dana kepada masyarakat yang membutuhkan dalam
bentuk pembiayaan dan memberikan pelayanan dalam bentuk jasa perbankan
syariah. Penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk titipan biasanya
menggunakan akad wadi>’ah dan dalam bentuk investasi menggunakan akad
mud}a>rabah. Fungsi bank syariah yang kedua yaitu menyalurkan dana kepada
masyarakat dalam bentuk pembiayaan dapat menggunakan akad jual beli
(mura>bah}ah, sala>m dan istithna’), akad sewa (ija>rah) dan akad kemitraan/kerja
sama usaha (musha>rakah dan mud}a>rabah). Adapun fungsi yang ketiga bank
27
syariah adalah memberikan pelayanan jasa perbankan kepada masyarakat
berupa pengiriman uang (transfer), penagihan surat berharga, dan lain-lain.2
Fungsi bank syariah yang juga merupakan kegiatan yang dilakukannya
selain menerima dana dari masyarakat, juga menyalurkan dana yang
dinamakan pembiayaan. Pembiayaan atau financing dapat diartikan sebagai
pendanaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain untuk
mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun
lembaga. Kaitannya dengan pembiayaan pada perbankan Islam, istilah
teknisnya disebut aktiva produktif. Aktiva produktif adalah penanaman dana
bank syariah baik dalam rupiah maupun valuta asing dalam bentuk
pembiayaan, piutang, qard} dan sertifikat wadi>’ah.3
Pembiayaan yang disalurkan bank syariah mempunyai karakteristik
sendiri-sendiri, tergantung masing-masing bank. Namun secara umum dari
produk pembiayaan, pelaksana pembiayaan, proses pemberian pembiayaan dan
ketentuan tingkat kolektibilitas pembiayaan bank syariah dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Produk Pembiayaan
Secara garis besar, produk pembiayaan bank syariah terbagi ke dalam
empat kategori yang dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya, yaitu:
a. Pembiayaan dengan prinsip jual beli (Bai’) yang terdiri dari pembiayaan
mura>bah}ah, sala>m dan istithna’. Pembiayaan mura>bah}ah yaitu transaksi
jual beli di mana bank menyebutkan keuntungan yang diambilnya dari
28
nasabah. Pembiayaan sala>m yaitu jual beli di mana barang yang
diperjual belikan belum ada atau diserahkan secara tangguh sementara
pembayaran dilakukan tunai/cicilan. Sedangkan pembiayaan istithna’
yaitu jual beli yang pembayarannya dapat dilakukan oleh bank dalam
beberapa kali. Skim istishna’ dalam bank syariah biasanya diaplikasikan
dalam pembiayaan manufaktur dan konstruksi4
b. Pembiayaan dengan prinsip sewa (Ija>rah) yaitu transaksi yang dilandasi
adanya perpindahan manfaat. Bila pada jual beli objek transaksinya
adalah barang, pada ija>rah ini objek transaksinya adalah jasa5
c. Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil (Shirkah) yang terdiri dari
pembiayaan musha>rakah dan pembiayaan mud}a>rabah. Pembiayaan
musha>rakah yaitu semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau
lebih di mana mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk
sumber daya baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud.
Sedangkan pembiayaan mud}a>rabah yaitu bentuk kerja sama antara dua
atau lebih pihak di mana pemilik modal (s>}ah}ibul ma>l) mempercayakan
sejumlah modal kepada pengelola (mud{a>rib) dengan suatu perjanjian
pembagian keuntungan. Bentuk ini menegaskan kerja sama dalam
paduan kontribusi 100% modal kas dari s}>ah}ibul ma>l dan keahlian dari
mud}a>rib.6
4 Adiwarman A. Karim, Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan (Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2011), 98.
29
2. Pelaksana Pembiayaan
Pelaksana pembiayaan pada bank syariah umumnya dicakup dalam
bagian pemasaran. Hal ini sesuai dengan fungsi bagian pemasaran, yaitu
sebagai aparat manajemen yang ditugaskan untuk membantu direksi dalam
menangani tugas-tugas khususnya yang menyangkut bidang marketing dan
pembiayaan. Di samping itu berfungsi juga sebagai supervisi dan pekerjaan
lain sesuai dengan ketentuan manajemen.7
Sedikitnya ada empat petugas yang menjalankan aktivitas
pembiayaan pada bank syariah, mulai dari petugas yang menawarkan
produk bank syari’ah sampai pada petugas yang menangani pembiayaan
macet. Petugas-petugas tersebut adalah:
a. Account Officer (A/O)
A/O atau pembina pembiayaan bertugas memproses calon nasabah
pembiayaan atau permohonan pembiayaan sehingga menjadi nasabah.
Selanjutnya membina nasabah tersebut agar memenuhi kesanggupannya,
terutama dalam pembayaran kembali pembiayaannya. A/O juga
bertindak dalam penyelesaian kasus atau masalah nasabah yang mungkin
terjadi. Dengan demikian, jauh hari sebelum menjadi nasabah perlu
dilakukan penanggulangan kemungkinan terjadi masalah sehingga
sejauh mungkin dihindari dengan cara preventif.8
30
b. Unit Support Pembiayaan
Unit Support Pembiayaan ini bersama dengan A/O mengadakan
penilaian pemohon pembiayaan sehingga memenuhi kriteria dan
persyaratannya. A/O berperan dalam memproses calon nasabah dalam
keandalannya (kelayakannya), sedangkan unit support pembiayaan
berperan dalam segi keabsahannya seperti kebenaran lampiran, usaha
maupun penggunaan pembiayaan, taksasi jaminan, keabsahan jaminan
dan lain-lain. Setelah calon nasabah menjadi nasabah diupayakan
melakukan usaha preventif (penanggulangan) jika kemungkinan terjadi
permasalahan. Jika terpaksa ada masalah nasabah, maka masalah segera
diselesaikan.9
c. Unit Administrasi Pembiayaan
Pada proses pembiayaan terdapat administrasi yang ditangani oleh
A/O ataupun Unit Support Pembiayaan. Di samping itu, setelah
pemohon menjadi nasabah mulai dari pencairan dananya sampai
pelunasan ataupun pembayaran-pembayaran debitur akan ditangani oleh
unit administrasi pembiayaan.
d. Unit Pengawasan Pembiayaan
Unit Pengawasan Pembiayaan bertugas untuk memantau
pembiayaan antara lain membuat surat-surat peringatan kepada nasabah
31
berupa penagihan-penagihan. Di samping itu juga mengadministrasikan
jaminan ataupun mengurusi file nasabah.10
3. Proses Pemberian Pembiayaan
Proses pemberian pembiayaan merupakan suatu rangkaian yang
bersifat end to end, mulai tahap inisiasi, tahap analisis pembiayaan, tahap
pemutusan pembiayaan, tahap pencairan, tahap monitoring dan tahap
penyelesaian atau restrukturisasi jika pembiayaan menjadi bermasalah.
Secara umum, tahapan pemberian pembiayaan yaitu:
a. Inisiasi
Pada tahap ini, bank menerima permohonan pembiayaan atau
penawaran pembiayaan kepada nasabah. Permohonan pembiayaan dari
nasabah diajukan secara tertulis. Selanjutnya pihak bank melakukan
investigasi berupa wawancara kepada calon nasabah sebagai bahan
pertimbangan keputusan apakah proses pemberian pembiayaan akan
diteruskan. Proses tidak akan diteruskan apabila permohonan
pembiayaan tidak bankable.11
b. Analisis Pembiayaan
Undang-Undang Republik Indonesia No. 21 tahun 2008 tentang
Perbankan Syariah, dalam Pasal 23 (Kelayakan Penyaluran Dana)
menyebutkan bahwa:
1) Bank syariah dan/atau UUS harus mempunyai keyakinan atas kemauan dan kemampuan calon Nasabah Penerima Fasilitas untuk
10 Ibid., 698.
32
melunasi seluruh kewajiban pada waktunya, sebelum Bank Syariah dan/UUS menyalurkan dana kepada Nasabah Penerima Fasilitas 2) Untuk memperoleh keyakinan sebagaimaa dimaksud pada ayat (1),
Bank Syariah dan/UUS wajib melakukan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha dari calon Nasabah Penerima Fasilitas.12
Berdasarkan Undang-Undang tersebut, maka bank perlu
melakukan analisis dalam penyaluran dana (pembiayaan) terlebih
dahulu. Analisis pembiayaan terdiri dari analisis kualitatif dan
kuantitatif yang berisi analisis aspek-aspek antara lain Character,
Capacity, Capital, Condition of Economic dan Collateral. Analisis
kualitatif pembiayaan meliputi aspek legalitas dan perizinan usaha,
aspek karakter dan manajemen, aspek teknis produksi, aspek pemasaran
dan aspek lingkungan dan sosial. Sedangkan aspek analisis kuantitatif
meliputi analisis laporan keuangan, feasibility analysis, analisis
sensitivitas, analisis agunan dan analisis risiko dan mitigasi.
Keseluruhan aspek yang dianalisis tersebut dapat teridentifikasi
pada analisis risiko dan mitigasi. Identifikasi setiap analisis kualitatif
dan kuantitatif perlu memperhatikan diantaranya potensi risiko dan
mitigasinya (key risk mitigation).13 Mitigasi risiko yang dimaksud
adalah upaya dalam menghadapi atau mengurangi risiko perbankan.
Berikut contoh indikator analisis risiko dan mitigasi (key risk
mitigation):
12 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah
(Bandung: Citra Umbara, 2013), 157.
keahlian/tenaga ahli di bidangnya Disyaratkan merekrut tenaga ahli di bidangnya Industri dan Teknis Produksi:
Siklus industri sedang menurun Memonitor kinerja perusahaan
secara ketat Pemasaran:
Tingkat ketergantungan kepada
buyer tertentu Memiliki mengetahui reputasi dan performa regular contract,
buyer
AMDAL :
Tidak memenuhi ketentuan AMDAL Disyaratkan untuk dipenuhi
Keuangan:
Sumber: Ikatan Bankir Indonesia, Mengelola Bank Syariah (2014)
Tabel 2.1 di atas yang berupa key risk mitigation merupakan
ringkasan dari keseluruhan analisis aspek-aspek dalam analisis
pemberian pembiayaan yang perlu diperhatikan bank. Penyusunan key
risk mitigation tersebut dimaksudkan agar pengambil keputusan
pembiayaan dapat memutuskan dengan tepat apakah permohonan
pembiayaan disetujui atau ditolak.
c. Pemutusan Pembiayaan
Pada dasarnya, jumlah dan jenis pembiayaan yang akan diberikan
disesuaikan dengan kebutuhan calon nasabah. Jumlah dan struktur
pembiayaan yang tidak sesuai dengan kebutuhan (calon) nasabah pada
34
akhirnya akan menimbulkan risiko pembiayaan. Penetapan jumlah
pembiayaan yang diputuskan harus disesuaikan dengan Batas
Maksimum Pemberian Pembiayaan (BMPK), baik yang diatur secara
eksternal maupun internal bank.
d. Tahap Pencairan
Kewenangan dalam memutus pencairan pembiayaan dapat
dilakukan oleh level direksi maupun oleh pimpinan dan staf.
Kewenangan memutus pembiayaan dapat dilakukan dengan cara-cara
berikut:
1) Pendelegasian kewenangan memutus pembiayaan kepada individu
2) Pendelegasian kewenangan memutus pembiayaan kepada kombinasi
individu
3) Pendelegasian kewenangan memutus pembiayaan kepada dua
individu saat kondisi darurat atau ketika diperlukan tanggapan cepat
dari bank atas suatu permohonan pembiayaan.
Pada saat pemberian pembiayaan juga terdapat satu dokumen
penting yaitu Akad Pembiayaan. Akad Pembiayaan diperlukan tidak
hanya mengatur kewajiban kedua belah pihak antara bank dan nasabah,
namun juga mengatur kondisi bilamana pembiayaan akan dilunasi
sebelum jangka waktunya berakhir.
e. Tahap Monitoring
Pembiayaan yang telah ditarik oleh nasabah harus dipantau oleh
35
dan ketentuan yang berlaku dipenuhi nasabah dan bank. Monitoring
oleh bank harus memperhatikan tanda-tanda penurunan kualitas
keuangan dan pembiayaan yang diberikan. Bank dapat mengambil
tindakan untuk mencegah pembiayaan menjadi bermasalah atau
bertindak cepat untuk meminimalkan kerugian bank.
f. Penanganan Pembiayaan Bermasalah
Penyelesaian pembiayaan yang terlanjur bermasalah dapat
dilakukan alternatif solusi sebagai berikut:
1) Rehabilitasi, yaitu pertimbangan bank atas nasabah yang dapat
menyelesaikan kewajibannya di kemudian hari atau bank dapat
memperpanjang jangka waktu atau merestrukturisasi pembiayaan
nasabah
2) Likuidasi agunan
3) Menyatakan bangkrut atas nasabah
4) Hapus buku (write off) dan hapus tagih (hair cut).15
4. Kolektibilitas Pembiayaan
Kolektibilitas (collectibility) yaitu keadaan pembayaran pokok atau
angsuran pokok dan bagi hasil oleh nasabah serta tingkat kemungkinan
diterimanya kembali daa yang ditanamkan dalam surat-surat berharga atau
penanaman lainnya (pembiayaan) berdasarkan ketentuan Bank Indonesia.16
Kolektibilitas dari suatu pembiayaan yang disalurkan dapat dikelompokan
15 Ibid., 84-96.
16Otoritas Jasa Keuangan, “OJK-Pedia”, dalam http://www.ojk.go.id/pedia#tabK, diakses pada 11
36
dalam lima kelompok, yaitu pembiayaan lancar, dalam perhatian khusus,
kurang lancar, diragukan dan macet.
a. Pembiayaan Lancar (Pass)
Pembiayaan yang digolongkan lancar apabila memenuhi kriteria;
pembayaran angsuran pokok dan/atau bagi hasil atau margin tepat
waktu, memiliki mutasi rekening yang aktif dan terjamin dengan agunan
tunai (cash collateral).
b. Perhatian Khusus (Special Mention)
Pembiayaan yang digolongkan ke dalam pembiayaan dalam perhatian
khusus apabila memenuhi kriteria; terdapat tunggakan angsuran pokok
dan/atau bagi hasil atau margin yang belum melampaui 90 hari,
terkadang terjadi cerukan, mutasi rekening relatif aktif, jarang terjadi
pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan dan didukung oleh
pinjaman baru.17
c. Kurang Lancar (Substandar)
Pembiayaan yang digolongkan ke dalam pembiayaan kurang lancar
apabila memenuhi kriteria; terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau
bagi hasil atau margin yang telah melampaui 90 hari, sering terjadi
cerukan, frekuensi mutasi rekening relatif rendah, pelanggaran terhadap
kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90 hari, terdapat indikasi masalah
37
keuangan yang dihadapi debitur dan dokumentasi pinjaman yang
rendah.18
d. Diragukan (Doubtful)
Pembiayaan yang digolongkan ke dalam pembiayaan diragukan apabila
memenuhi kriteria; terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bagi
hasil atau margin yang telah melampaui 180 hari, terjadi cerukan yang
bersifat permanen, terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari, dokumentasi
hukum yang lemah baik untuk perjanjian pembiayaan maupun
pengikatan jaminan.19
e. Macet (Loss)
Pembiayaan yang digolongkan ke dalam pembiayaan macet apabila
memenuhi kriteria; terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bagi
hasil atau margin yang telah melampaui 270 hari, kerugian operasional
ditutup dengan pinjaman baru, dan jaminan tidak dapat dicairkan pada
nilai wajar, baik dari segi hukum maupun kondisi pasar.20
Tingkat kolektibilitas tersebut di atas akan menyertai setiap
pembiayaan yang dilakukan nasabah. Semakin kecil angka tingkat
kolektibilitasnya, menunjukkan suatu pembiayaan dikatakan baik dan tidak
berpengaruh besar pada penilaian bank yang sehat maupun laba bank.
Sedangkan apabila pembiayaan sampai pada angka tingkat
kolektibilitasnya, menunjukkan pembiayaan tersebut berisiko. Risiko dari
38
pembiayaan ini dapat memicu ketidakpastian pada laba bersih dari
keterlambatan atau tidak terbayarnya pokok pembiayaan dan bagi hasil
sebagai pengembalian pada bank dan nasabah.
B.Risiko Pembiayaan Bank Syariah
Menurut Bank Indonesia, risiko perbankan merupakan suatu kejadian
potensial baik yang dapat diperkirakan (expected) maupun yang tidak dapat
diperkirakan (unexpected) yang berdampak negatif terhadap pendapatan dan
permodalan bank. Risiko yang melekat pada aktivitas perbankan (risiko
inheren) terdiri dari risiko pembiayaan, risiko pasar, risiko operasional, risiko
likuiditas, risiko kepatuhan, risiko hukum, risiko strategis, risiko reputasi,
risiko imbal hasil dan risiko investasi. Untuk menghadapi berbagai macam
risiko inheren, maka Bank Indonesia mewajibkan setiap bank umum agar
memiliki Pedoman Standar Penerapan Manajemen Risiko dalam SE. BI. No.
13/23/DPNP tanggal 25 Oktober 2011.
Suatu produk atau aktivitas bank dapat mengandung satu atau lebih dari
jenis risiko. Karena itu, bank perlu melakukan pengelolaan risiko secara
integratif melalui manajemen risiko. Pada hakikatnya manajemen risiko
merupakan serangkaian metodologi dan prosedur yang digunakan untuk
mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan risiko yang timbul
dari seluruh kegiatan usaha bank.21
21 Ikatan Bankir Indonesia, Memahami Bisnis Bank Syariah (Jakarta: PT Gramedia Pustaka,
39
Di antara risiko yang paling krusial dalam dunia perbankan yaitu risiko
pembiayaan. Namun dalam pembiayaan itu sendiri dapat mengandung risiko
lain seperti risiko kepatuhan. Risiko pembiayaan adalah risiko kegagalan
nasabah untuk memenuhi kewajibannya secara penuh dan tepat waktu sesuai
dengan kesepakatan. Risiko ini bisa muncul saat nasabah gagal memenuhi
kewajiban untuk membayar pinjamannya secara penuh pada waktu yang telah
disepakati maupun akibat ketidakmampuan atau ketidakmauan nasabah untuk
memenuhi kewajiban yang tertuang dalam kontrak (akad).22 Sedangkan risiko
kepatuhan adalah risiko akibat bank tidak mematuhi dan/atidak melaksanakan
peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku. Misalnya petugas
bank terlambat dalam menyampaikan laporan Sistem Informasi Debitur (SID)
kepada Bank Indonesia.23
Risiko pembiayaan perbankan syariah biasanya ditunjukkan dari
penghitungan tingkat Non Performing Financing (NPF). NPF merupakan
ukuran tingkat pembiayaan bermasalah oleh sebab-sebab tertentu. Untuk
menentukan langkah yang perlu diambil dalam menghadapi pembiayaan
bermasalah ini, terlebih dahulu memang perlu diteliti sebab-sebab terjadinya.
Apabila pembiayaan bermasalah disebabkan oleh faktor eksternal seperti
bencana alam, bank tidak perlu lagi melakukan analisis lebih lanjut melainkan
hanya membantu nasabah memperoleh penggantian dari perusahaan asuransi.
Sedangkan apabila pembiayaan bermasalah disebabkan oleh faktor internal
22 Tariqullah Khan dan Habib Ahmed, Manajemen Risiko Lembaga Keuangan Syariah (Jakarta:
Bumi Aksara, 2008), 12-13.
23 Ikatan Bankir Indonesia, Memahami Bisnis Bank Syariah (Jakarta: PT Gramedia Pustaka,
40
dalam manajerial bank itu sendiri, meskipun telah dilakukan pengawasan
seksama dan tetap timbul pembiayaan bermasalah, maka sedikit banyak
terkait dengan kelemahan pengawasannya.24 Beberapa hal yang menjadi
penyebab pembiayaan bermasalah yaitu:
Tabel 2.2
Penyebab Pembiayaan Bermasalah dari Aspek Risiko Pembiayaan25
Aspek Kualitatif Aspek Kuantitatif
Siklus bisnis dan idustri menurun
Tingginya kebergantungan bahan
baku pada supplier
Intervensi debitur dalam penyusunan
financial statement
Reputasi shareholder tidak bagus
Shareholder tidak memiliki
komitmen untuk going concern
usaha perusahaan
Debitur tidak memiliki keahlian dalam bidangnya
Realisasi sales rendah dibanding target
Sumber: Bambang Rianto Rustam, Manajemen Risiko Perbankan Syariah di Indonesia (2013)
Tabel 2.3
Penyebab Pembiayaan Bermasalah dari Aspek Risiko Operasional26
Tahapan Proses yang Salah
1. Aplikasi
pembiayaan Kurangnya verifikasi keaslian dan sah tidaknya permohonan pembiayaan 2. Analisis
pembiayaan Analisis awal kurang tajam Kebenaran informasi dan data kurang verifikasi Risiko pembiayaan tidak dimitigasi
pembiayaan Covenant Jaminan belum diasuransikan pembiayaan tidak dipantau dengan baik Kunjungan rutin tidak dilakukan
Sumber: Bambang Rianto Rustam, Manajemen Risiko Perbankan Syariah di Indonesia (2013)
24 Faturrahman Djamil, Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syariah (Jakarta: Sinar
Grafika, 2012),73-74.
25 Bambang Rianto Rustam, Manajemen Risiko Perbankan Syariah di Indonesia (Jakarta:
Salemba Empat, 2013), 57.
41
Penyebab pembiayaan menjadi bermasalah dari tabel 2.2 dan tabel 2.3 di
atas ternyata banyak diawali oleh analisis pembiayaan yang keliru (internal
bank) dan buruknya karakter nasabah. Upaya untuk mengendalikan atau
menghindarkan secara dini pembiayaan yang bermasalah, bank syariah sebagai
bank umum ikut berpedoman pada SE. No. 27/7/UPPB yang menetapkan
setiap bank umum agar melakukan penyusunan dan pelaksanaan
kebijaksanaan terhadap pembiayaan yang disalurkannya. Salah satu dari
pelaksanaan kebijaksanaan tersebut adalah bank harus memiliki pengawasan
pembiayaan, mengingat pembiayaan merupakan salah satu kegiatan usaha
yang rawan untuk merugikan bank.27
C.Audit Internal Bank
Rawannya risiko pada kegiatan bisnis perbankan menuntut bank harus
memiliki pengawasan untuk memastikan bahwa operasional bank telah
dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku (auditing) sekaligus memitigasi
dan meminimalisasi risiko yang telah terjadi dan/atau akan terjadi sehingga
segera mengambil langkah preventif. Auditing umumnya digolongkan menjadi
tiga golongan; audit laporan keuangan, audit kepatuhan dan audit operasional.
Audit laporan keuangan adalah audit yang dilakukan oleh auditor independen
terhadap kewajaran laporan keuangan atas dasar kesesuainnya dengan prinsip
akuntansi secara umum. Audit operasional merupakan audit terhadap kegiatan
organisasi dalam hubungannya dengan tujuan tertentu. Sedangkan audit
27 Teguh Pudjo Muljono, Bank Auditing: Petunjuk Pemeriksaan Intern Bank (Jakarta: Djambatan,