• Tidak ada hasil yang ditemukan

IDENTITAS MAHASISWI BERCADAR DI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "IDENTITAS MAHASISWI BERCADAR DI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA."

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Kepada

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar

Sarjana Ilmu Sosoal (S.sos) dalam Bidang Sosiologi

Oleh:

GHONIMAH

NIM. B75213046

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

Kata Kunci: Identitas, Cadar, Konstruksi Sosial

Penggunaan cadar yang dilakukan mahasiswi bercadar sesuai dengan syariat Islam yakni menutup aurat sampai pada wajah sebagai pelindung dari pandangan buruk laki-laki dan seharusnya masyarakat memahami mereka yang bercadar. Mahasiswi bercadar menjadi menarik untuk diteliti karena cara mereka menjalankan perintah Allah yang berbeda dengan muslimah pada umumnya. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana mahasiswi bercadar di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya mengkonstruk keadaan lingkungannya sehingga memutuskan untuk memakai cadar atau niqab dan ingin mengetahui bagaimana cara mahasiswi bercadar mempertahankan untuk terus memakai cadar atau niqab, Serta untuk mengetahui tantangan apa saja yang dihadapi oleh mahasiswi bercadar dalam proses memakai cadar atau niqab.

(7)

i DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... ..ii

MOTTO ... iii

PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN PERTANGGUNGJAWABAN PENULISAN SKRIPSI ... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR SKEMA ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang ... 1

B.Rumusan Masalah ... 7

C.Tujuan Penelitian ... 7

D.Manfaat Penelitian ... 7

E. Definisi Konseptual ... 9

F. Sistematika Pembahasan ... 11

BAB II : IDENTITAS KULTURAL MAHASISWI BERCADAR DALAM BINGKAI ANALISIS KONSTRUKSI SOSIAL PETER L. BERGER……….. 14

A.Penelitian Terdahulu ... 14

B.Identitas kultural mahasiswi bercadar ... 20

(8)

ii

2. Konsep Cadar ... 30

3. Cadar Sebagai Pakaian dan Fashion ... 33

4. Pakaian (Cadar) Sebagai Budaya ... 34

5. Fungsi Sosial Pakaian (Cadar) ... 36

C. Konstruksi sosial atas realitas peter L. Berger ... 37

BAB III : METODOLODI PENELITIAN ... 47

A.Pendekatan Penelitian ... 47

B.Lokasi dan Waktu Penelitian ... 49

C.Pemilihan Subyek Penelitian ... 50

D.Tahap-Tahap Penelitian ... 52

E. Teknik Pengumpulan Data ... 59

F. Teknik Analisis Data ... 61

G.Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data... 62

BAB IV : MAHASISWI BERCADAR DI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA ... 64

A. Deskripsi Umum Objek Penelitian ... 64

1. Perkembangan Mode Pakaian Pada Mahasiswa di UIN Sunan Ampel Surabaya ... 64

2. Ciri-ciri Mahasiswi Bercadar ... 66

B. Penyajian Data ... 67

1. Kehidupan Mahasiswi Bercadar ... 68

2. Arti Penting Bercadar ... 74

3. Makna Cadar ... 74

4. Respon Masyarakat Kampus Tentang Cadar ... 79

5. Perubahan perilaku Mahasiswi Bercadar ... 85

6. Tantangan Bagi Mahasiswi Bercadar ... 87

C. Analisis Data ... 92

(9)

iii

DAFTAR TABEL

(10)

iv

DAFTAR SKEMA

(11)

v

DAFTAR GAMBAR

(12)

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Diskriminasi jilbab menjadi salah satu catatan penting diberbagai pelosok dunia. Terlebih lagi di barat, jilbab sudah menjadi momok yang mengerikan dan harus dihilangkan dari kehidupan sosial, budaya maupun politik. Misalnya saja di Prancis jilbab dilarang di sekolah umum. Jilbab juga bukan menjadi pilihan bagi gadis-gadis muda di Amerika karena itu akan membatasi kebebasan mereka yang mulai sadar akan lawan jenis, menyukai pakaian minim, bercelana pendek serta mempromosikan bahwa tubuh mereka adalah nilai sejati yang dihargai oleh lawan jenisnya.1 Indonesia sendiri termasuk salah satu negara muslim terbesar di dunia, namun demikian fenomena berjilbab (dan bercadar) baru mulai mendapatkan perhatian masyarakat beberapa tahun terakhir. Hal ini terkait dengan kebijakan pemerintah orde baru yang sempat melarang penggunaan jilbab di sekolah maupun diruang kerja. Pasca reformasi jilbab mulai mendapatkan kebebasannya sebagai identitas perempuan muslim, meskipun penggunaan jilbab atau lebih utamanya cadar masih menjadi suatu kontroversi mengenai pemaknaan penggunaanya.

1

Deddy Mulyana, Komunikasi Lintas Budaya, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010), 135

(13)

Berjilbab adalah persoalan baru, meskipun Indonesia merupakan Negara yang masyarakat muslimnya sangat besar, penerimaaan terhadap jilbab membutuhkan proses yang panjang mengingat jilbab dianggap bukan bagian dari budaya Indonesia, terlebih dalam iklim tropis. Bercadar adalah langkah selanjutannya dari penggunaan jilbab, dalam studi tafsir Islam sendiri dalil-dalil yang mengatur mengenai wajib atau tidaknya penggunaan cadar masih diperdebatkan. Namun satu hal yang pasti, penggunaan cadar membawa konsekuensi penolakan lebih besar dari jilbab. Selain persoalan stigma yang dilekatkan pada perempuan bercadar yakni aliran Islam fundamental yang erat juga kaitannya dengan terorisme, cadar kini juga menghadapi penolakan teknis terutama yang berkaitan dengan pelayanan publik maupun penolakan dari lingkungan sekitar. Seperti yang terjadi pada mahasiswi bercadar asal Malaysia. Karena lingkungan yang ada di UINSA Surabaya dimana hampir semua mahasiswinya tidak menggunakan cadar, kemudian dia merasa terintimidasi dengan kultur yang ada akhirnya mahasiswi tersebut melepaskan cadar atau niqabnya.

(14)

akademiknya berlangsung di Jalan Ahmad Yani 117, Jemurwonosari, Wonocolo Kota Surabaya, Jawa Timur 60237, Indonesia.

Dalam sebuah perguruan tinggi pasti memiliki Kode Etik Mahasiswa (KEM) masing-masing. Begitu juga UIN Sunan Ampel memiliki Kode Etik Mahasiswa (KEM) yang menjelaskan mengenai ketentuan busana bagi mahasiswa yang tertuang dalam buku pedoman akademik program sarjana, program magister dan program doktor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tertulis pada pasal 7 tentang sebagai berikut:2

1. Busana mahasiswi harus menutupi aurat yakni:

a. harus menggunakan buasana yang menutupi seluruh tubuh mulai dari kepala sampai dengan mata kaki dan pergelangan tangan terkecuali wajah atau memakai baju yang panjangnya minimal 30 cm dari pinggang kebawah dan baju lengan panjang sampai pergelangan tangan.

b. Memakai celana atau rok yang tidak ketat atau tidak menampakkan bentuk tubuh yang panjangnya sampai mata kaki.

2. Bahan busana:

a. Tidak transparan.

b. Tidak terdiri dari bahan kaos.

2 pedoman akademik program sarjana, program magister dan program doktor Universitas Islam Negeri

(15)

3. Model busana:

a. Celana longgar dan blouse panjang harus menutupi paha. b. Rok bawah dengan model tertutup dan blous panjang tertutup

hingga pinggul.

c. Kerudung dengan rambut, leher dan dada tertutup jilbab. 4. Bersepatu tertutup atau sepatu sandal dengan kaos kaki.

5. Ketentuan-ketentuan khusus disesuaikan dengan kebijakan Fakultas masing-masing.

6. Untuk acara-acara resmi lembaga mahasiswa wajib mengenakan jaket almamater.

Penafsiran mahasiswa dari ketentuan Kode Etik Mahasiswa (KEM) terkait busana tersebut bermacam-macam, bahkan dari salah salah satu Dekan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya mengatakan bahwa ketentuan tersebut merupakan sebuah larangan bagi mahasiswi memakai cadar atau niqab.

Implikasi dari ketentuan tersebut adalah banyak mahasiswi yang sudah menerapkan sesuai dengan ketentuan Kode Etik Mahasiswa (KEM) dan banyak juga mahasiswi yang memakai busana, namun masih memperlihatkan lekuk tubuh mereka atau busana mereka yang tidak disyariatkan.

(16)

diharuskan berbusana muslimah. Namun tidak jarang juga ditemui mahasiswi yang tidak sesuai dengan ketentuan Kode Etik Mahasiswa (memakai busana yang masih memperlihatkan lekuk tubuh), dari sekian mahasiswi yang memakai busana tersebut berargumen sudah menutupi aurat.

Seiring dengan berkembangnya budaya jilbab memiliki potensi diterima oleh sebagian masyarakat dan jilbab mulai bermunculan dengan model yang bermacam-macam. Tampil modis dengan model hijab yang beraneka ragam merupakan ekspresi dari identitas pribadi mereka dan itu juga dapat menyampaikan atau mengomunikasikan pesan yang istimewa dan personal. Cara mereka memakai jilbab beserta aksesorisnya mengungkapkan sesuatu tentang siapa dan bagaimana mereka bersikap. Sayangnya tidak demikian dengan cadar, apalagi paska aksi terorisme yang sampai sekarang masih diberitakan dengan kasus yang berbeda, mahasiswi bercadar serta merta memiliki keterbatasan.

(17)

akan dianggap aneh karena ditengah era kemajuan zaman mereka tidak mau bermode “kekinian” akan tetapi mereka masih tetap bertahan dengan mode

“kunonya”. Dan juga tidak mudah bagi mahasiswi yang bercadar untuk

merefleksikan tindakannya sesuai dengan syari’at ditengah mahasiswi yang

secara kultural berbeda dan mereka termasuk kelompok yang minoritas di UIN Sunan Ampel Surabaya.

Dari situ menarik bagi peneliti untuk memgkaji lebih mendalam lagi dimana ditengah lingkungan kampus yang mayoritas tidak menggunakan cadar, terbentur dengan aturan yang tertuang dalam Kode Etik Mahasiswa (KEM) dan juga stigma masyarakat yang terlanjur jelek terhadap muslimah bercadar. Mahasiswi bercadar masih kukuh dan eksis dengan cadar yang digunakannya.

(18)

B. Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang masalah diatas, maka peneliti memunculkan tiga rumusan masalah, sebagai berikut:

1. Bagaimana makna cadar bagi mahasiswi bercadar di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya?

2. Apa tantangan yang dihadapi oleh mahasiswi bercadar di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya?

3. Bagaimana Strategi Mahasiswi Bercadar Mengatasi Tantangan Yang Didapatkannya?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang dikemukakan diatas, penelitian ini bertujuan sebagai berikut:

1. Ingin memahami bagaimana mahasiswi bercadar di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya memaknai cadar dalam kehidupannya. 2. Ingin mengetahui tantangan apa saja yang dihadapi oleh mahasiswi

bercadar dalam proses memakai cadar atau niqab

3. Ingin mengetahui strategi yang digunakan untuk mengatasi tantangan tersebut

D. Manfaat Hasil Penelitian

(19)

diaktualisasikan secara aplikatif dalam dunia pendidikan dan dalam kehidupan sosial masyarakat. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini yaitu: 1. Secara Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih terhadap pengembangan disiplin ilmu sosial serta mengetahui lebih mendalam tentang permasalahan-permasalahan sosial yang ada dilingkungan masyarakat dan juga penelitian ini dapat lebih memperkaya khasanah keilmuan.

2. Secara Praktis

(20)

E. Definisi Konseptual

Penjelasan konsep yang mendasari pengambilan judul di atas sebagai bahan penguat sekaligus spesifikasi penelitian yang akan dilakukan, sebagai berikut:

1. Identitas Kultural

Dalam arti yang sederhana adalah rincian karakteristik atau ciri-ciri sebuah kebudayaan yang dimiliki oleh sekelompok orang yang kita ketahui batas-batasnya tatkala dibandingkan dengan karakteristik atau ciri-ciri kebudayaan orang lain.3 Jadi, ketika kita ingin mengetahui dan menentukan identitas kultural maka kita tidak sekadar menentukan karakteristik atau ciri-ciri fisik atau biologis semata, namun juga mengkaji identitas kultural sekelompok manusia melalui tatanan berpikir (cara berpikir, orientasi berpikir), perasaan (cara merasa dan orientasi perasaan), dan cara bertindak (motivasi tindakan atau orientasi tindakan).

2. Mahasiswi

Mahasiswa adalah siswi sekolah tinggi.4 Mahasiswa itu sendiri diambil dari suku kata pembentuknya. Maha dan siswa, atau pelajar yang paling tinggi levelnya. Sebagai seorang pelajar tertinggi, tentu mahasiswa sudah terpelajar, sebab mereka tinggal menyempurnakan pembelajarannya hingga menjadi manusia terpelajar yang paripurna. Menurut Siswoyo

(21)

mahasiswa5 dapat didefinisikan sebagai individu yang sedang menuntut ilmu ditingkat perguruan tinggi, baik negeri ataupun swasta atau lembaga lainnya yang setingkat dengan perguruan tinggi. Mahasiswa dinilai memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi, kecerdasan dalam berfikir dan kerencanaan dalam bertindak. Berfikir kritis dan bertindak dengan cepat dan tepat merupakan sifat yang cenderung melekat pada diri mahasiswa. Sedangkan mahasiswi sendiri adalah pelajar atau mahasiswa wanita.6

Mahasiswi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mahasiswi yang masih aktif dalam mengikuti perkuliahan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya terutama yang memakai jilbab menjulur kebawah disertai dengan pemakaian cadar atau niqab.

3. Cadar

Cadar dalam bahasa arab disebut niqab, yang berarti pakaian wanita yang menutup wajah. Dalam kamus Lengkap Bahasa Indonesia disebutkan bahwa cadar adalah kain penutup kepala atau muka.7 Pada dasarnya cadar merupakan versi lanjutan dari penggunaan jilbab. Dalam konteks ini penggunaan cadar terdapat beberapa model seperti pakaian wanita yang menutup seluruh wajah kecuali alis dan mata, ada juga yang lebih ekstrim seperti kain penutup kepala atau muka namun hanya mata saja yang terlihat.

5

Dwi Siswoyo, Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: UNY. Pers, 2007), 121.

6 Denny Anwar, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Terbaru, (Surabaya: Amelia, 1996), 296. 7

(22)

F. Sistematika Pembahasan

Dalam penelitian tentang Identitas Kultural Mahasiswi Bercadar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Agar penelitian ini dapat mengarah pada tujuan yang diharapkan maka akan disusun sistematika. Sistematika penulisannya terdiri dari lima bab, yang masing-masing bab membicarakan masalah yang berbeda-beda namun saling memiliki keterkaitan. Secara rinci pembahasan masing-masing bab tersebut adalah: BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini peneliti menyajikan gambaran umum pola pikir seluruh isi yang ada dalam skripsi. Diantaranya peneliti mengemukakan pendahuluan yang menggambarkan objek kajian secara ringkas, setelah itu membuat rumusan masalah serta menyertakan tujuan dan manfaat dilakukannya penelitian. Kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan definisi konseptual, Selain itu, peneliti juga menyajikan sistematika pembahasan penelitian.

BAB II : KAJIAN TEORETIK

(23)

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

Dalam bab ini, peneliti menjelaskan tentang metodologi penelitian yang digunakan, yang diantaranya tentang pendekatan dan jenis pendekatan, lokasi penelitian, subyek penelitian, tahap penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data serta teknik pemeriksaan keabsahan data.

BAB IV : PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

(24)

BAB V : PENUTUP

(25)

14

BAB II

IDENTITAS KULTURAL MAHASISWI BERCADAR DALAM BINGKAI

ANALISIS KONSTRUKSI SOSIAL PETER L. BERGER

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu merupakan kajian yang sangat penting bagi penulis, karena dengan mengkaji penelitian terdahulu, dapat memudahkan penulis melakukan penelitian. Berikut ini beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini:

1. Yenny Puspasari NIM. D2C006084, mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosioal dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro Semarang

pada tahun 2013, yang berjudul “Memahami Pengalaman Komunikasi

Wanita Bercadar dalam Pengembangan Hubungan dengan Lingkungan

Sosial”.

(26)

yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana interaksi yang terjadi antara wanita bercadar dengan orang-orang yang berada di lingkungan sosialnya.

Hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa wanita yang menggunakan cadar tidak selalu menutup diri dengan lingkungan sekitar. Bahkan di satu sisi, wanita bercadar memiliki potensi-potensi yang dapat dikembangkan dan bermanfaat bagi lingkungan. Kepercayaan diri dan konsep diri yang positif menjadi hal utama yang harus dimiliki oleh wanita bercadar dalam berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengembangan hubungan, informan bercadar juga pernah mengalami kegagalan maupun keberhasilan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Kegagalan komunikasi biasanya terjadi karena mereka gagal melawan hambatan psikologis yang menghalangi mereka yaitu stigma masyarakat.

Mereka juga belum konsisten mengenakan cadar dalam aktivitas sehari-hari. Hal ini dikarenakan adanya hambatan diantaranya keterbatasan komunikasi ketika berada di ruang publik dan adanya ketidaksetujuan keluarga dalam keputusan menggunakan cadar.

(27)

dari cadar yang banyak orang menilai kurang baik atas hal itu dan juga kendala-kendala yang diperoleh oleh mahasiswi bercadar.

2. Umu Rohmawati NIM. B05302025, mahasiswa prodi Sosiologi Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya dalam skripsinya pada tahun 2006

yang berjudul “Interaksi Komunitas Muslimah Bercadar Dengan Lawan

Jenis Pra Nikah (Studi Kasus Muslimah Bercadar Diyayasan Nahdhotul

Fitrah)”.

Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui bagaimana interaksi komunitas muslimah bercadar dengan lawan jenis dan untuk mengetahui bagaimana proses pra-nikah muslimah bercadar.

(28)

Temuan penelitian ini adalah dalam berinteraksi dengan laki-laki yang bukan mukhrimnya muslimah bercadar memakai hijab sebagai penghalang diantara mereka. Sedangkan pada proses pra-nikah muslimah bercadar tidak mengenal adanya pacaran sebagai awal menuju pernikahan. Perbedaan antara penelitian yang dilakukan Umu Rohmawati dengan penelitian saya terletak pada pendekatan dan teori yang digunakannya yakni pendekatan kualitatif deskriptif dan fenomenologi dan teori interaksinisme simbolik. Sedangkan pendekatan dan teori yang saya gunakan adalah pendekatan fenomenologi dan teorikonstruksi sosial.

Penelitian Umu Rohmawati memberikan kontribusi bagi penelitian yang sedang peneliti lakukan yakni tentang proses interaksi muslimah bercadar dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Muslimah bercadar memakai hijab sebagai penghalang diantara mereka, dan juga pada proses pra nikah muslimah bercadar.

3. Rahmawati NIM. 12210020, mahasiswa Prodi Komunikasi Dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam skripsinya pada tahun 2016 yang berjudul

“Konstruksi Wacana Kesetaraan Gender Dan Ketimpangan Budaya

Perempuan Bercadar Dalam Novel Akulah Istri Teroris Karya Abidah

El-Khalieqy”

(29)

komunikasi. Isi dari novel tersebut membahas tentang isu mengenai kesetaraan gender dan ketimpangan budaya dikalangan perempuan bercadar. Yang telah digambarkan oleh Abidah El-Khalieqy diskriminasi dan pelabelan negatif.

Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana penggambaran ketidakadilan dan ketimpangan budaya, sehingga dapat menentukan konstruksi yang melatarbelakanginya. Untuk mengungkapkan persolan tersebut secara menyeluruh dan memdalam, penelitian ini menggunakan metode analisis Sara Mills.

Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat konstruksi wacana kesetaraan gender yang diangkat melalui ketidakadilan gender dalam tokoh ayu yang mengakibatkan ketidaksetaraan gender karena Abiddah memasukkan gagasan pembelaan dan penggambaran dampak yang harus diterimanya. Sedangkan ketimpangan budaya yang Abidah tampilkan dalam novel tersebut dihadirkannya melalui sikap diskriminasi dan pandangan miring melalui tokoh-tokoh utama, yang menghasilkan kesimpulan bahwa masuknya kebudayaan baru bukan untuk dibandingkan melainkan untuk menjadi bahan pembelajaran.

(30)

sebuah kesimpulan bahwa masuknya kebudayaan baru bukan untuk dibandingkan melainkan untuk menjadi bahan pembelajaran.

4. Rina Budipratiwi NIM. 20060530088, mahasiswa Prodi prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dalam skripsinya pada tahun 2011 yang

berjudul “Gaya Komunikasi Antara Wanita Bercadar Dari Manhaj Salafi

Dengan Masyarakat Umum”.

Manhaj salafi adalah metode beragama dengan mengikuti amalan soleh yang telah lalu. Manhaj salafi merupakan ajaran agama yang berdasarkan ajaran Rasulullah, dengan berpedoman pada Al-Qur’an dan AS-Sunnah. Dalam manhaj salafi, terdapat perbedaan tampilan dari wanita-wanita yang mempelajari ilmu salafi secara fanatik, yaitu dimana wanita-wanita tersebut menggunakan cadar atau kain penutup wajah sebagai cara mereka menjaga diri dari pandangan lakilaki.

(31)

penelitian ini dengan melakukan wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Kemudian dalam menguji analisis data, peneliti menggunakan triangulasi sumber.

Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah bahwa dari hasil pengumpulan data, ketiga informan wanita bercadar secara umum memiliki gaya komunikasi verbal asertif. Gaya komunikasi yang paling menonjol adalah gaya non verbal, yaitu dalam bentuk artifak dan warna yang terlihat dari gaya berpenampilan mereka. Orang-orang disekitar wanita bercadar tersebut menilai gaya komunikasi verbal mereka dapat diterima dengan baik, walaupun tetap ada yang antipati mengenai gaya berpenampilan mereka.

Penelitian Yenny Puspasari berbeda dengan penelitian saya. Saya lebih fokus pada bagaimana mahasiswi bercadar mengkonstruksi lingkungan sekitarnya sehingga penting bagi mereka untuk memutuskan memakai cadar atau niqab. Saya ingin melihat lebih jauh tentang makna dari cadar yang banyak orang menilai kurang baik atas hal itu dan juga kendala-kendala yang diperoleh oleh mahasiswi bercadar.

B. Tinjauan Identitas Kultural Mahasiswi Bercadar

1. Identitas Kultural

(32)

kebudayaan yang melatarbelakanginya.9 Manusia adalah makhluk yang akan bertanya dan mencari identitas dirinya. Identitas adalah diri sebagaimana yang dipahami secara reflektif oleh orang dalam konteks biografinya. Dalam pencarian suatu identitas individu berusaha menjawab pertanyaan kritis seperti apa yang dilakukan, bagaimana bertindak dan ingin jadi siapa. Individu berusaha mengkonstruksi suatu identitas dimana diri membentuk suatu lintasan perkembangan dari masa lalu ke masa depan yang dapat diperkirakan. Identitas bersifat pribadi dan sosial. Disatu sisi, identitas menandai kita sama seperti orang lain. disisi lain, identitas menjadi pembeda kita dengan orang lain. jadi, identitas menyangkut kehidupan pribadi dan kehidupan sosial, persamaan dan perbedaan.

Selanjutnya, identitas dipengaruhi atau dikonstruksi oleh institusi keluarga, sekolah, pemerintah, hukum, agama, bahasa atau komunikasi dan media. Sehingga dapat dikatakan bahwa identitas adalah konstruksi yang merupakan hasil dari interaksi, hubungan yang kait-mengait, pengaruh antara individu-individu dengan institusi. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Berger bahwa identitas dibentuk oleh proses-proses sosial dan ia merupakan suatu fenomena yang timbul dari dialektika antara individu dan masyarakat.10 Proses-proses sosial tersebut adalah setelah

memperoleh wujud, dipelihara, dimodifikasi atau malahan dibentuk ulang

9 Alo Liliweri, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, (Yogyakarta: LKIS, 2002), 69. 10 Peter L Berger dan Thomas Luckmann, Tafsir Sosial Atas Kenyataan: Risalah Tentang Sosiologi

(33)

oleh hubungan-hubungan sosial. Proses-proses sosial yang terlibat dalam membentuk dan mempertahankan identitas tersebut ditentukan oleh struktur sosial.

Sedangkan budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh yang bersifat kompleks, abstrak, dan luas.11 Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna dan diwariskan dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok. Budaya berkenaan dengan bentuk fisik serta lingkungan sosial yang mempengaruhi hidup individu atau kelompok. Budaya dipelajari bukan diwariskan secara genetis, budaya juga akan berubah ketika seorang individu berhubungan dengan individu yang lain.

Jadi, identitas kultural adalah rincian karakteristik atau ciri-ciri sebuah kebudayaan yang didimiliki oleh sekelompok orang yang kita ketahui batas-batasnya tatkala dibandingkan dengan karakteristik atau ciri-ciri kebudayaan orang lain. Ketika kita ingin mengetahui dan menentukan identitas kultural maka kita tidak sekadar menentukan karakteristik atau ciri-ciri fisik atau biologis semata, namun juga mengkaji identitas kultural sekelompok manusia melalui tatanan berpikir (cara berpikir, orientasi

11

(34)

berpikir), perasaan (cara merasa dan orientasi perasaan), dan cara bertindak (motivasi tindakan atau orientasi tindakan).

Kenneth Burke menjelaskan,12 bahwa untuk menentukan identitas

kultural itu sangat tergantung pada ‘bahasa’ (bahasa sebagai unsur

kebudayaan nonmaterial), bagaimana representasi bahasa menjelaskan sebuah kenyataan atas semua identitas yang dirinci kemudian dibandingkan. Menurutnya, penamaan identitas seseorang atau sesuatu itu selalu meliputi konsep penggunaan bahasa, terutama untuk mengerti suatu kata secara denotative dan konotatif.

Identitas kultural juga dapat diartikan sebagai suatu ciri berupa kebudayaaan yang membedakan suatu individu atau kelompok masyarakat dengan kelompok yang lain. setiap individu atau kelompok masyarakat pasti memiliki kebudayaan sendiri yang berbeda dengan yang lain. dalam hal ini, mahasiswa yang ada di UIN Sunan Ampel Surabaya tentu memiliki berbagai kebudayaan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Kebudayaan yang dimiliki oleh masing-masing mahasiswa tersebut tentunya memiliki ciri atau keunikan tersendiri, misalnya mahasiswi bercadar. Yang nampak terlihat dari luar ciri atau keunikan mereka terletak pada busana yang besar, jilbab yang dipakai menjulur kebawah disertai dengan pemakaian cadar, meskipun jumlah mereka sangat sedikit di UIN Sunan Ampel Surabaya.

(35)

Hubungan antar individu atau antar kelompok memiliki tataran identitas yang lebih kompleks. Untuk menjadi individu yang lebih penting daripada hal yang lain haruslah menunjukkan suatu usaha membedakan dengan yang lain. seperti contoh orang yang munafik tidak pernah memperhatikan perbedaan antar suku, bangsa dan budaya asalnya.

Bagi Orrin Klapp identitas kultural meliputi segala hal pada seseorang yang dapat menyatakan secara sah dan dapat dipercaya tentang dirinya sendiri, status, nama, kepribadian, dan masa lalunya.13 Orang lain harus menafsirkan tanda-tanda identitas seseorang secara benar karena suatu identitas tersebut dipahami dan disahkan seperti halnya identitas nasional secara integral dihubungkan dengan simbol, bendera, dan tanda-tanda yang lain.

Ketika tanda digunakan sebagai identitas seseorang maka pakaian, bahasa tubuh, kontak mata, ekspresi wajah, sentuhan dan penggunaan bahasa menjadi penting.14 berikut penjelasannya:

a. Pakaian

Untuk memahami secara konkret, bagaimana pakaian dapat menjadi penanda. Ketika seseorang memiliki janji wawancara di kantor pusat, apa yang seseorang kenakan bukanlah pertanyaan sepele.

13 Arthur Asa Berger, Tanda-tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer, (Yogyakarta: Tiara Wacana,

2000), 107.

(36)

Jawaban pertama tergantung dari apakah seseorang tersebut laki-laki atau perempuan.

Karena pakaian dikenakan ditubuh dank arena tubuh merupakan tanda dari diri, pakaian dapat didefinisikan sebagai tanda yang memperluas makna dasar tubuh dalam konteks budaya. karena itu pakaian dan tubuh yang ditutupi olehnya disusupi oleh signifikansi moral sosial dan estetis. Pakaian memiliki fungsi yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam bertahan hidup. Pakaian dalam level denotatif adalah perluasan buatan manusia dari sumber perlindungan tubuh. Pakaian adalah tambahan bagi rambut dan ketebalan kulit di tubuh seseorang yang berfungsi untuk melindungi.

Seperti yang ditunjukkan oleh Wernwe Enniger, bahwa pakaian bervariasi menurut geografi dan topografi.15 Jenis pakaian dengan iklim yang berbeda-beda dan variasi pakaian yang dikenakan seiring dengan perubahan kondisi cuaca menunjukkan fungsinya sebagai perlindingan. Namun, seperti halnya semua sistem buatan manusia, pakaian akan selalu memperoleh arti konotasi dalam latar sosial. Konotasi ini dibangun berdasarkan berbagai kode pakaian yang memberitahu orang bagaimana mereka seharusnya berpakaian dalam berbagai situasi sosial.

15

(37)

b. Bahasa Tubuh

Bahasa tubuh merupakan istilah umum yang digunakan untuk mengindikasikan komunikasi melalui isyarat,postur dan sinyal serta tanda tubuh lainnya baik yang sadar maupun tidak. Tanda tubuh juga termasuk kebiasaan berpenampilan rapi, gaya rambut dan berpakaian dan praktik-praktik seperti tato dan tusuk badan. Bahasa tubuh mengomunikasikan informasi tak terucapkan mengenai identitas, hubungan dan pikiran seseorang, juga suasana hati, motivasi dan sikap. Bahasa ini memainkan peran sangat penting dalam hubungan antarpribadi. pesan-pesan yang dibuat dengan bahasa tubuh dapat memberikan tampilan dan kesan pada sebuah percakapan yang akan diingat setelah kata-kata lisan terlupakan. Bahasa tubuh juga dapat dibangun untuk berbohong atau menutupi sesuatu. seperti mengatupkan bibir dapat mengindikasikan ketidaksetujuan atau keraguan, bahkan jika pernyataan dan bahasa tubuh berbenturan, pendengar akan cenderung lebih mempercayai bahasa tubuh.

c. Kontak Mata

Pola “melihat”mengutarakan makna-makna spesifik dalam

(38)

indikasi menatap dengan pandangan sempit, penuh selidik dan berkesan sukar melihat. Jelalatan sebagai indikasi menatap dengan penuh cinta dan biasanya tidak sopan.

Dalam banyak kebudayaan, lamanya waktu kontak mata mengungkapkan hubungan yang dimiliki oleh sesorang, mengadakan kontak mata diawal percakapan atau irama setelah percakapan berlangsung akan mengindikasikan jenis hunungan yang ingin seseorang miliki dengan lawan percakapan, saat pupil berkontraksi dalam keadaan bersemangat cenderung timbul respon seksual dari orang yang melihatnya, kelopak mata yang sempit mengomunikasikan sikap merenung diberbagai budaya, mendekatkan alis satu sama lain secara umum mengomunikasikan sikap berfikir dan ketika alis naik menimbulkan rasa terkejut, ada juga konsep mata jahat dipersepsikan sebagai tatapan jenis tertentu yang dikatakan memiliki kekuatan melukai atau menenung seseorang.

d. Ekspresi Wajah

(39)

kemudian membentuk sebuah ekspresi wajah seperti ekspresi wajah terhibur, marah, terkejut dan sedih.

e. Sentuhan

Dalam kebanyakan budaya, bentuk dasar pemberian salam mencakup jabat tangan yang merupakan contoh tepat dari perilaku sosial yang diatur oleh kode takhil (sentuhan), artinya kode yang mengatur pola sentuhan dalam situasi antarpribadi.

Desmond Morris mengklaim bahwa bentuk jabat tangan di Barat mungkin bermula sebagai cara untuk menunjukkan bahwa kedua belah pihak tidak memegang senjata.16 Berjabat tangan menjadi sebuah tanda pengikat yang sengaja diciptakan. Seseorang bisa meremas tangan, menjabat tangan orang lain dengan kedua tangan, menjabat tangan dan kemudian menepuk punggung atau merangkul, mencondongkan tubuh ke depan atau berdiri tegak sambil berjabatan mengindikasikan tanda tandingan. Bentuk sentuhan lainnya seperti menepuk-nepuk seseorang di lengan, bahu atau punggung untuk mengindikasikan persetujuan atau untuk memuji; Bergantian lengan untuk mengindikasikan keakraban; merangkul bahu dengan satu lengan untuk mengindikasikan persahabatan atau kedekatan dan sebagainya.

(40)

Makna sentuhan juga bergantung pada lokasi yang disentuh, lamanya dan intensitasnya. Sentuhan dapat bersifat elektrik tetapi dapat juga menjengkelkan, melecehkan, atau mengenakkan. Sentuhan sangat ambigu yang maknanya sering bergantung pada konteks, sifat hubungan dan cara melakukannya.

f. Bahasa

Bentuk yang paling nyata dalam komunikasi adalah bahasa. Secara sederhana bahasa dapat diartikan sebagai suatu sistem lambing yang terorganisasi, disepakati secara umum dan merupakan hasil belajar yang digunakan untuk menyajikan pengalaman-pengalaman suatu komunitas geografis atau budaya.

Ketidakmampuan seseorang dalam berbahasa sering mengakibatkan kerusakan sebuah hubungan. Bahasa merupakan alat utama yang digunakan budaya untuk menyalurkan kepercayaan, nilai dan norma. Bahasa berfungsi sebagai suatu mekanisme untuk berkomunikasi dan sekaligus sebagai pedoman untuk melihat realitas sosial. Bahasa mempengaruhi persepsi, menyalurkan dan turut membentuk pikiran.17

17 Ahmad Sihabudin, Komunikasi Antarbudaya: Suatu Perspektif Multidimensi, ( Jakarta: Bumi

(41)

2. Konsep Cadar

Pemahaman konsep jilbab berkaitan erat dengan pemahaman aurat seorang perempuan. Dalam mengenakan jilbab seorang muslimah dituntut untuk memahami ilmu tentang aurat serta batas-batas yang harus ditutup dan dilindungi. Hal ini karena jilbab mengandung nilai ketertutupan terhadap aurat perempuan. Persoalan pemakaian jilbab tidak bisa terlepas dari persoalan aurat. Bahasan aurat dalam Islam adalah bahasan tentang bagian-bagian tubuh atau sikap dan kelakuan yang rawan dapat mengundang bahaya.

Menutup aurat yang baik adalah dengan menggunakan pakaian yang tidak memperlihatkan kulit bagian aurat, tidak memperlihatkan bentuk tubuh yang menarik bagi lawan jenis, tidak tembus pandang, modelnya tidak menarik perhatian orang lain dan yang tidak kalah penting adalah nyaman digunakan. Untuk laki-laki tutuplah bagian pusar sampai ke lutut. Sedangkan untuk perempuan wajib menutup seluruh tubuh terkecuali wajah dan telapak tangan, namun disunnahkan untuk menutup wajah, karena wajah merupakan sumber fitnah (godaan).

(42)

(QS.An-Nur: 31) terdapat banyak petunjuk yang menyatakan kewajiban

"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra mereka, atau putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra-putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS.An-Nur: 31) "

(43)

Cadar merupakan versi lanjutan dari jilbab. Pengguna cadar menambahkan penutup muka sehingga hanya terlihat mata mereka saja, bahkan telapak tangan pun harus ditutupi. Bercadar diikuti penggunaan gamis, rok-rok panjang dan lebar dan biasanya seluruh aksesorisnya berwarana hitam atau gelap.

Dalam bahasa inggris, istilah veil (sebagaimana varian Eropa lain, misalnya voile dalam bahasa Perancis) biasa dipakai untuk merujuk pada penutup tradisional kepala, wajah (mata, hidung dan mulut), atau tubuh perempuan di Timur Tengah atau Asia Selatan. Makna yang terkandung dalam kata ini adalah penutup dalam arti menutupi, menyembunyikan atau menyamarkan. Dalam bahasa Arab kata veil tidak ada padanannya yang tepat. The Enchyclopedia of Islam menunjukkan banyak istilah untuk menunjukkan bagian-bagian pakaian, yang kebanyakan digunakan untuk padanan kata veiling. Beberapa istilah yang dapat disebutkan disini adalah ‘abayah, burqu’, burnus, disydasya, gallaiyah, gina’, gargush, habarah,

hayik, jellabah, mungub, milyah, niqab dan yashmik.19 Intinya ialah selembar kain tipis yang menutupi wajah wanita, saat dirinya berada di luar rumah.

Penggunaan cadar di lingkungan kampus tergolong jarang ditemui. Umumnya mereka (mahasiswi) mengenakan cadar atas keinginaan mereka

19 Lintang Ratri, Cadar, Media dan Identitas Perempuan Muslim, Jurnal Universitas Diponegoro.

(44)

dan berdasarkan pengetahuan serta keyakinan mereka terhadap perintah Allah tentang kewajiban menutup aurat. Mereka yang mengenakan cadar atau niqab juga selalu identik dengan mengenakan pakaian yang serba longgar, berwarna gelap yang menutupi seluruh tubuhnya dan hanya menyisakan kedua mata untuk melihat. Menurut pendapat mereka wajah adalah pusat dari kecantikan yang merupakan aurat seorang perempuan, maka dari itu harus tertutupi sampai seorang laki-laki tidak akan tertarik. karena Allah telah memerintahkan seluruh wanita muslimah untuk mengenakan jilbab panjang untuk menutupi lekuk tubuh mereka mulai rambut, wajah dan seterusnya. Bercadar juga merupakan upaya untuk lebih menjaga diri dari fitnah.

3. Cadar sebagai Pakaian dan Fashion

Fashion dan pakaian adalah bentuk komunikasi nonverbal karena tidak menggunakan kata-kata lisan atau tertulis. Seolah-olah potongan-potongan pakaian memiliki makna yang oleh pemakainya kemudian dipadupadankan menjadi satu kesatuan. Berdasarkan pengalaman sehari-hari, pakaian dipilih sesuai dengan apa yang akan dilakukan pada hari itu, bagaimana suasana hati seseorang, siapa yang akan ditemui dan seterusnya. Fashion dan pakaian digunakan untuk mengirimkan pesan tentang diri seseorang pada orang lain.

“Menurut Malcolm Barnard dalam karyanya “Fashion as

Com-munication” disebutkan fashion digunakan untuk menunjukkan

(45)

berdasarkan atas apa yang dipakai oleh orang lain. Fashion juga merupakan salah satu cara bagi suatu kelompok untuk mengidentifikasi dan membentuk dirinya sendiri sebagai suatu kelompok.”20

Jadi, cadar merupakan sebuah bentuk komunikasi nonverbal yang menunjukkan sebuah identitas diri yang dapat membedakan dengan orang lain tanpa harus mengucapkan melalui kata-kata. Melalui cadar yang digunakan seseorang akan bertindak atau bersikap terhadap manusia lainnya pada dasarnya dilandasi atas pemaknaan yang mereka kenakan. Dengan demikian, dapat di jelaskan bahwa makna tidak muncul atau melekat pada sesuatu atau suatu objek secara alamiah.

4. Pakaian (Cadar) Sebagai Budaya

Fashion atau pakaian bukan sekedar untuk mengekspresikan pesan, tetapi juga menjadi dasar relasi sosial, sehingga kultur, praktik-praktik dan produk-produk tersebut tidaklah “diturunkan”, dari tatanan sosial yang sudah ada. Melainkan praktek-praktek dan produk-produk tersebut

merupakan “unsur-unsur utama dalam pembentukannya” Ini bukanlah soal

adanya kelompok-kelompok sosial yang sudah ada sebelumnya dalam posisi kekuasaan relatif yang kemudian menggunakan praktek-praktek dan produksi kultural untuk merefleksikan posisi tersebut.

Dalam hal ini, budaya adalah sistem sosial yang dikomunikasikan, direproduksi, dialami, dan dieksplorasi. Fashion, busana, dan dandanan

20

(46)

kini dipandang sebagai hal yang kurang lebih merupakan praktek penandaan hidup keseharian (sama halnya dengan seni, filsafat, jurnalisme, dan iklan), yang menyusun kultur sebagai sistem penandaan umum. Fashion dan pakaian itu merupakan cara yang sama, yang selanjutnya di dalamnya dialami, dieksplorasi, dikomunikasikan, dan direproduksi tatanan sosial. Fashion, pakaian, dan busana merupakan praktek penandaan, di dalamnya terjadi pembangkitan makna, yang memproduksi dan mereproduksi kelompok-kelompok budaya tersebut sejalan dengan posisinya di dalam kekuasaan yang relatif.

(47)

gelap. Orang memakai cadar dalam kehidupan sehari-hari yang mengonstruksi nilai-nilai, harapan-harapan dan keyakinan-keyakinannya dalam bercadar akan mengomunikasikan identitas mereka.

5. Fungsi Sosial Pakaian (Cadar)

Perlindungan merupakan salah satu fungsi yang dimiliki pakaian. Dengan kehangatan, kesopanan dan ornamen yang terkait dengan pakaian masing-masing memiliki itu secara berurutan. Sebagai motif atau alasan untuk berpakaian, perlindungan merupakan salah satu fungsi pakaian. Pakaian melindungi tubuh mulai dari dingin, panas, kecelakaan tak terduga hingga tempat dan olahraga yang berbahaya.

Menurut Flugel, bahaya moral pun bisa dihindarkan dengan menggunakan pakaian tebal dan bewarna gelap. Flugel menghubungkan fungsi ini dengan fantasi Rahim, yakni fantasi untuk kembali pada rumah yang hangat, menjaga dan melindungi yang kita alami selama Sembilan pertama eksistensi kita.21

Ini bisa saja perasaan yang sama yang dimunculkan oleh pakaian yang tak benar-benar melindungi dari kecelakaan lalu lintas atau niat jahat orang lain, namun pakaian itu membuat seseorang terlindungi. Seperti yang kita sadari muncul berbagai masalah yang berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia sehingga menjadi sutu respons kultural. Salah satu masalahnya adalah perbedaan budaya yang melahirkan perbedaan respons terhadap kebutuhan-kebutuhan tersebut. Banyaknya budaya yang ada setiap

21

(48)

wilayah membuat sulit untuk diakui jika hal tersebut merupakan respons terhadap salah satu kebutuhan dasar untuk memperoleh perlindungan.

C. Teori Konstruksi Sosial atas Realitas

Teori merupakan seperangkat pernyataan atau proposisi yang berhubungan secara logis, untuk menerangkan fenomena tertentu. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori konstruksi sosial atas realitas Peter Ludwing Berger. Peneliti menganggap teori konstruksi sosial Peter L. Berger relevan untuk digunakan sebagai pisau analisis dalam mengkaji penelitian ini. Dalam perspektif Peter L. Berger masyarakat adalah fenomena dialektik dalam pengertian bahwa masyarakat adalah suatu produk manusia yang akan selalu memberikan timbal balik pada produsennya. Masyarakat tidak mempunyai bentuk lain kecuali bentuk yang diberikan kepadanya dari aktivitas dan kesadaran manusia. Namun realitas sosial tidak pernah terpisah dari manusia, sehingga dapat dipastikan bahwa manusia adalah produk masyarakat. Masyarakat sudah ada sebelum individu dilahirkan dan masih akan ada sesudah individu mati. Didalam masyarakat juga individu menjadi pribadi dan melaksanakan perannya yang menjadi bagian dari kehidupannya.

Masyarakat adalah sebagai kenyataan objektif sekaligus kenyataan subjektif.22 Sebagai kenyataan objektif, masyarakat sepertinya berada diluar

diri manusia dan berhadap-hadapan dengannya. Contoh, pemilihan busana yang besar dengan warna yang cenderung gelap atau kalem pada mahasiswi

22

(49)

bercadar saat keluar dari rumah. Jika habitualisasi ini telah berlangsung maka terjadilah pengendapan dan tradisi. Seluruh pengalaman manusia tersimpan dalam kesadaran, mengendap dan akhirnya dapat memahami dirinya dan tindakannya dalam konteks kehidupan sosialnya.

Sedangkan sebagai kenyataan subjektif, individu berada dalam masyarakat itu sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Dengan kata lain, bahwa individu adalah pembentuk masyarakat dan masyarakat adalah pembentuk individu. Ketika individu melihat fenomena yang ada, individu kemudian menafsirkan melalui ide-idenya yang kemudian diaktualisasikan menjadi realitas. Contoh, seorang mahasiswi yang memakai cadar atau niqab di UINSA Surabaya melihat serta memahami kondisi lingkungan sekitarnya seperti bagaimana seharusnya mahasiswi yang memakai cadar atau niqab

berinteraksi dengan mahasiswa yang sesuai dengan syari’at. Kemudian

mereka akan berusaha untuk bisa mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-harinya.

(50)

melalui tindakan dan interaksi dimana individu menciptakan secara terus menerus suatu realitas yang dialami bersama secara subyektif.23

Dengan demikian, individu adalah makhluk yang bebas yang dapat berhubungan dengan manusia satu dengan yang lain. individu merupakan penentu dalam dunia sosial yang dikonstruksi berdasarkan kehendaknya. Manusia dalam banyak hal memiliki kebebasan untuk bertindak diluar batas kontrol struktur dan pranata sosialnya, dimana individu itu sendiri berasal. Manusia secara efektif dan kreatif mengembangkan dirinya melalui respon-respon terhadap stimulus dalam dunia kognitifnya.24 Dalam proses sosial, individu dipandang sebagai manusia pencipta realitas sosial yang relative bebas didalam dunia sosialnya.

“Peter L. Berger berpandangan bahwa kenyataan dibangun secara sosial dalam pengertian yang membangun masyarakat adalah individu-individu yang berada dalam masyarakat tersebut. Maka pengalaman individu tidak terpisahkan dengan masyarakatnya. Berger memandang manusia sebagai pencipta kenyataan sosial yang objektif melalui tiga momen dialektis yang simultan yaitu eksternalisasi, objektivasi dan

internalisasi.”25

Melalui proses dialektika ini, realitas sosial dapat dilihat dari tiga tahap tersebut. Pertama, eksternalisasi adalah usaha pencurahan atau ekspresi diri manusia kedalam dunia sosio-kultural, baik dalam kegiatan mental maupun fisik. Proses ini merupakan bentuk ekspresi diri untuk menguatkan eksistensi individu dalam masyarakat, dengan kata lain disebut proses

23 Margaret Poloma, Sosiologi Kontemporer, (Jakarta: Raja Grafindo, 2004), 301. 24

Bungin Burhan, Metodologi Penelitian Kualitatif. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), 3.

25

(51)

penyesuaian diri dengan sosio-kultural. Pada tahap ini masyarakat dilihat sebagai produk manusia (Society is a human product).

“Seperti yang dimaksudkan dengan eksternalisasi Berger, bahwa

produk-produk sosial dari eksternalisasi manusia mempunyai suatu sifat yang sui generis dibandingkan dengan konteks organimus dan konteks lingkungannya, maka penting ditekankan bahwa eksternalisasi itu sebuah keharusan antropologis yang berakar dalam perlengkapan biologis manusia. Keberadaan manusia tak mungkin berlangsung dalam suatu lingkungan interioritas yang tertutup dan tanpa gerak. Manusia harus terus menerus mengeksternalisasikan dirinya dalam

aktivitas.”26

Dengan demikian, tahap eksternalisasi ini berlangsung ketika produk sosial tercipta di dalam masyarakat, kemudian individu mengeksternalisasikan (penyesuaian diri) ke dalam dunia sosio-kulturalnya sebagai bagian dari produk manusia. Dalam penelitian ini, manusia (mahasiswi bercadar) melakukan proses eksternalisasi terhadap apa yang dia pahami dari berbagai macam informasi mengenai cadar atau niqab baik dari ayat suci, literartur tentang cadar, maupun hasil interaksinya dengan dunia luar. Kemudian dari hasil proses eksternalisasi, masyarakat melihat cadar atau niqab sebagai sebuah produk sosial dan dilembagakan dalam sebuah struktur sosial dalam masyarakat.

Kedua, Objektivasi adalah hasil yang telah dicapai baik mental maupun fisik dari kegiatan eksternalisasi manusia tersebut. Hasil itu berupa realitas yang objektif, yang berbeda dengan kenyataan subjektif perorangan. Pada tahap ini masyarakat dilihat sebagai realitas yang objektif (Society is an

(52)

objective reality) atau proses interaksi sosial dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi. Hal terpenting dalam objektivasi adalah pembuatan signifikasi yakni pembuatan tanda-tanda oleh manusia.

“Berger dan Luckman mengatakan bahwa, sebuah tanda (sign) dapat dibedakan dari objektivasi-objektivasi lainnya, karena tujuan yang eksplisit untuk digunakan sebagai isyarat atau indeks bagi pemaknaan subjektif, maka objektivasi juga dapat digunakan sebagai tanda

meskipun semula tidak dibuat untuk itu.”27

Suatu wilayah penandaan (signifikasi) dapat menghubungkan wilayah-wilayah kenyataan dapat didefinisikan sebagai simbol. Dalam penelitian ini hasil dari kelembagaan tersebut diobjektivasi yang menghasilkan suatu pemahaman mengenai produk manusia dalam hal ini adalah cadar sebagai sebuah tanda atau simbolisasi yang membedakan orang didalam masyarakatnya.

Ketiga, internalisasi adalah pemahaman individu mengenai dunia sebagai sesuatu yang maknawi dari kenyataan sosial atau lebih pada penyerapan kembali dunia objektif kedalam kesadaran sehingga subjektif individu dipengaruhi oleh struktur dunia sosial, dengan kata lain realitas sosial itu berada di dalam diri manusia dan dengan cara itu manusia akan teridentifikasi di dalam dunia sosio-kulturalnya. Melalui internalisasi manusia menjadi hasil dari masyarakat (Man is a social product).

27

(53)

“Berger dan Luckman mengatakan, dalam kehidupan setiap individu

ada suatu urutan waktu dan selama itu pula ia diimbaskan sebagai partisipan ke dalam dialektika masyarakat. Titik awal dari proses ini adalah internalisasi, yaitu pemahaman atau penafsiran yang langsung dari suatu peristiwa objektif sebagai pengungkapan suatu makna, artinya sebagai suatu manifestasi dari proses-proses subyektif orang lain, dengan demikian menjadi bermakna secara subyektif bagi individu itu sendiri. Tidak peduli apakah subyektif orang lain bersesuaian dengan subyektif individu tertentu. Karena bisa jadi individu memahami orang lain secara keliru, karena subyektivitas orang lain itu tersedia secara objektif bagi individu dan menjadi

bermakna baginya.”28

Dalam penelitian ini mahasiswi bercadar melakukan proses internalisasi terhadap dirinya kepada institusi atau lembaga sosial yang ada, dimana didalamnya dia menyerap pemahaman mengenai cadar, kemudian dia mendapatkan informasi mengenai cadar atau niqab. Informasi tersebut kemudian diinternalisasikan dalam dirinya dan memahami bahwa cadar atau niqab bukan merupakan hasil produk manusia namun hal itu merupakan seolah-olah hasil alam seperti fakta-fakta alam lainya yang berada diluar diri manusia. Oleh karena itu, cadar atau niqab merupakan suatu syariat yang harus dikerjakan dan dilaksanakan oleh semua muslimah.

Dialektika ini berjalan secara simultan, artinya ada proses menarik keluar (eksternalisasi) sehingga seakan-seakan hal itu berada diluar (objektif) dan kemudian ada proses penarikan kembali kedalam (internalisasi) sehingga sesuatu yang berada diluar tersebut seakan-akan juga merupakan sesuatu yang berada didalam diri atau kenyataan subyektif. Masyarakat adalah produk

28

(54)

individu sehingga menjadi kenyataan objektif melalui proses (eksternalisasi) dan individu produk masyarakat melalui proses internalisasi.

Tiga dialektis yang simultan dalam proses Reproduksi yaitu Eksternalisasi, Objektivasi dan Internalisasi secara berkesinambungan merupakan agen sosial yang mengeksternalisasi realitas sosial. Pada saat yang bersamaan pemahaman akan realitas yang dianggap objektif pun terbentuk. Pada akhirnya melalui proses eksternalisasi dan objektivasi individu dibentuk sebagai produk sosial. Sehingga bisa dikatakan bahwa setiap individu memiliki pengetahuan dan identitas sosial sesuai dengan peran institusional yang terbentuk atau diperankan.29

Konstruksi sosial Peter L. Berger mengandung dimensi objektif dan subjektif. Ada dua hal yang menonjol melihat realitas peran media dalam dimensi objektif yakni pelembagaan dan legitimasi.

Pelembagaan dalam perspektif Berger terjadi ketika semua kegiatan manusia mengalami proses pembiasaan (habitualisasi). Artinya setiap tindakan yang sering diulangi pada akhirnya akan menjadi suatu pola yang kemudian bisa direproduksi dan dipahami oleh para pelakunya sebagai pola yang dimaksudkan. Sedangkan legitimasi menghasilkan makna-makna baru yang berfungsi mengintegrasikan makna-makna yang sudah diberikan kepada proses-proses kelembagaan yang berlainan. Fungsi legitimasi adalah membuat obyektivasi yang sudah dilembagakan menjadi tersedia secara obyektif dan

(55)

masuk akal secara subyektif. Disini legitimasi tidak hanya soal nilai-nilai, ia juga selalu mengimplikasikan pengetahuan.

Apabila pelembagaan dan legitimasi merupakan dimensi obyektif dari realitas, maka internaslisasi merupakan dimensi subyektifnya. Analisis Berger menyatakan bahwa individu dilahirkan dengan suatu paradiposisi kearah sosialitas dan ia menjadi anggota masyarakat. Titik awal dari proses ini adalah internalisasi, yaitu suatu pemahaman atau penafsiran yang langsung dari peristiwa objektif sebagai suatu pengungkapan makna. Kesadaran diri individu selama internalisasi menandai berlangsungnya proses sosialisasi. Sosialisasi dikatakan berhasil kalau kesadaran tersebut berhasil diinternalisasikan.30

Dalam kehidupan masyarakat terdapat aturan-aturan dan hukum yang menjadi pedoman bagi berbagai institusi sosial. Aturan itu sebenarnya adalah produk manusia untuk melestarikan keteraturan sosial. Sehingga meskipun aturan tersebut bersifat mengekang, tidak menutup kemungkinan pelanggaran akan dilakukan oleh individu. Hal itu dikarenakan ketidakmampuan individu untuk menyesuaikan dengan aturan yang digunakan untuk memeliharan ketertiban sosial. Dalam proses eksternalisasi bagi masyarakat yang mengedepankan ketertiban sosial individu berusaha sekeras mungkin untuk menyesuaikan diri dengan peranan-peranan sosial yang sudah dilembagakan.

30

(56)

“Berger mengatakan institusi masyarakat tercipta dan dipertahankan

atau diubah melalui tindakan dan interaksi manusia, meskipun masyarakat dan institusi sosial terlihat nyata secara obyektif namun pada kenyataan semuanya dibangun dalam definisi subyektif melalui proses interaksi. Objektivasi baru bisa terjadi melalui definisi subyektif yang sama. Pada tingkat generalitas yang paling tinggi, manusia menciptakan dunia dalam makna simbolis yang universal, yaitu pandangan hidupnya yang menyeluruh yang memberi legitimasi dan mengatur bentuk-bentuk sosial serta memberi makna pada

berbagai bidang kehidupannya.”31

Dalam pandangan Berger bahwa sosiologi adalah suatu bentuk kesadaran. Analisisnya tentang masyarakat sebagai realitas subyektif dan obyektif akan mempelajari bagaimana realitas telah menghasilkan dan akan terus menerus menghasilkan individu.32 Dalam hal ini, pemahaman atas

“kenyataan” dan “pengetahuan” ditentukan dalam gejala-gejala sosial

sehari-hari dalam pengalaman bermasyarakat yang terjadi secara terus menerus berproses.

Realitas sosial tidak berdiri sendiri melainkan dengan kehadiran individu, baik didalam maupun diluar realitas tersebut. Realitas sosial memiliki makna ketika realitas tersebut dikonstruksi dan dimaknakan secara subyektif oleh individu lain sehingga memantapkan realitas itu secara objektif. Individu mengkonstruksi realitas sosial dan merekonstruksinya dalam dunia realitas, memantapkan realitas itu berdasarkan subyektifitas individu lain dalam institusi sosialnya.

31 Yesmil Anwar dan Adang, Sosiologi untuk Universitas, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2013), 380. 32

(57)

Skema 2.1

Alur Berfikir Teori

Skema diatas menjelaskan bahwa terdapat tiga proses dialektika dalam Peter L. Berger, yaitu eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Proses pertama yakni eksternalisasi untuk melihat pencurahan diri atau penyesuaian individu atas penggunaan cadar atau niqab. Proses kedua yakni objektivasi untuk melihat cadar yang digunakan sebagai sebuah tanda atau simbol yang membedakan orang didalam masyarakatnya. Proses ketiga yakni Internalisasi, Pemahaman individu mengenai cadar atau niqab yang merupakan suatu syariat yang harus dikerjakan dan dilaksanakan oleh semua muslimah.

Eksternalisasi

Objektivasi

Internalisasi Pencurahan diri atau penyesuaian

individu dengan dunia sosio-kultural

Cadar yang digunakan sebagai sebuah tanda atau simbol yang membedakan orang didalam

masyarakatnya.

(58)
(59)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian merupakan suatu pedoman bagi seorang peneliti agar tidak menyimpang dari prosedur dan tata cara ilmiah. Sehingga hasil ilmiah mempunyai bobot ilmiah yang tinggi. Berikut ini metode yang digunakan dalam melakukan penelitian.

A. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif, yang bertujuan untuk menggambarkan fenomena realitas sosial yang ada di masyarakat yang menjadi objek penelitian, dan berupaya menarik realitas itu ke permukaan sebagai gambaran tentang kondisi suatu fenomena tertentu.33 Penelitian ini memusatkan diri pada suatu unit tertentu dari

berbagai fenomena, studi ini amat mendalam dan kedalaman data yang menjadi pertimbangan dalam penelitian ini. Karena itu, penelitian ini bersifat mendalam dan menusuk sasaran penelitian.

Dalam penelitian kualitatif ini, peneliti menggunakan pendekatan fenomenologi Alferd Schutz, yang memahami suatu gejala dari bahasanya baik lisan maupun tulisan dan bertujuan untuk mengetahui suatu gejala dari gejala itu sendiri yang dikaji secara mendalam. Orang secara aktif menginterpretasikan pengalamannya dengan memberi tanda dan arti

33

M. Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Prenada Media Group, 2007), 68.

(60)

tentang apa yang mereka lihat. Interpretasi merupakan proses aktif dalam menandai dan mengartikan tentang sesuatu yang diamati seperti bacaan, tindakan dan pengalaman.

“Menurut Schutz, fenomenologi adalah studi tentang pengetahuan

yang datang dari kesadaran atau cara kita memahami sebuah objek atau peristiwa melalui pengalaman sadar tentang objek atau peristiwa tersebut. Sebuah fenomena adalah penampilan sebuah objek, peristiwa atau kondisi dalam persepsi seseorang, jadi bersifat subjektif. Bagi Schutz dan pemahaman kaum fenomenologis, tugas utama analisis fenomenologis adalah

merekonstruksi dunia kehidupan manusia “sebenarnya” dalam

bentuk yang mereka alami sendiri. Realitas dunia tersebut bersifat intersubjektif dalam arti bahwa sebagai anggota masyarakat berbagi persepsi dasar mengenai dunia yang mereka internalisasikan melalui sosialisasi dan memungkinkan mereka

melakukan interaksi atau komunikasi.”34

Dengan fenomenologi kita dapat mempelajari bentuk-bentuk pengalaman dari sudut pandang orang yang mengalaminya secara langsung, seolah-olah kita mengalaminya sendiri. Fenomenologi tidak saja mengklasifikasikan setiap tindakan sadar yang dilakukan, namun juga meliputi prediksi terhadap tindakan di masa yang akan datang, dilihat dari aspek-aspek yang terkait dengannya. Semua itu bersumber dari bagaimana seseorang memaknai objek dalam pengalamannya. Oleh karena itu, tidak salah apabila fenomenologi juga diartikan sebagai studi tentang makna, dimana makna itu lebih luas dari sekedar bahasa yang mewakilinya.

34 Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif, Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu

(61)

Fenomenologi adalah pendekatan yang beranggapan bahwa suatu fenomena bukanlah realitas yang berdiri sendiri. Fenomena yang tampak merupakan objek yang penuh dengan makna transedental. Dunia sosial keseharian tempat manusia hidup merupakan suatu yang intersubjektif dan sarat dengan makna.35 Dengan demikian fenomena yang dipahami oleh manusia adalah refleksi dari pengalaman transedental dan pemahaman tentang makna. Dengan kata lain peranan yang penting dalam pendekatan fenomenologi ini adalah objek, makna, pengalaman dan kesadaran dari individu.

Jadi, metode penelitian ini berusaha untuk mempelajari pengalaman-pengalaman mahasiswi sebelum dan sesudah memakai cadar atau niqab. Dalam konteks fenomenologis, mahasiswi bercadar adalah aktor yang melakukan tindakan sosial bersama aktor lainnya sehingga memiliki kesamaan dan kebersamaan dalam ikatan intersubjektif. Kemudian mereka mengkonstruksi makna dari luar pengalaman melalui proses tipikasi. Dalam hal ini termasuk membentuk penggolongan atau klasifikasi dari pengalaman yang ada.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya di Jalan Ahmad Yani 117, Jemurwonosari, Wonocolo Kota

35

Hadiono Afdjani dan Soleh Soemirat, Makna Iklan Televisi (Studi Fenomenologi Pemirsa Di Jakarta

(62)

Surabaya, Jawa Timur 60237, Indonesia. Namun untuk keperluan penelitian lokasi tidak ditentukan, karena mengingat terbatasnya informan yang ada, kemudian peneliti menentukan beberapa ciri-ciri dan juga mengikuti kegiatan yang dimiliki oleh informan, tentunya di tempat yang berbeda-beda. Sedangkan waktu penelitian ini berlangsung pada pekan keempat bulan Oktober 2016 sampai minggu pertama bulan Januari 2017 dengan menggunakan metode observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi.

C. Pemilihan Subyek Penelitian

Sasaran penelitian tidak tergantung pada judul dan topik penelitian, tetapi secara konkret tergambarkan dalam rumusan masalah penelitian. Sedangkan informan penelitian adalah subjek yang memahami informasi objek penelitian sebagai pelaku maupun orang lain yang memahami objek penelitian.

Teknik pencarian subyek penelitian ini, menggunakan teknik purposive sampling. (teknik penentuan informan dengan pertimbangan tertentu).36 Informan yang diambil memiliki kriteria tertentu, dengan

tujuan untuk mendapatkan pemahaman secara menyeluruh tentang permasalahan dalam penelitian ini. Kriteria informan dalam penelitian atau sasaran penelitian ini adalah mahasiswi yang masih aktif dalam mengikuti perkuliahan terutama yang memakai jilbab menjulur kebawah

(63)

disertai dengan pemakaian cadar atau niqab. Serta kriteria-kriteria lain yang peneliti tentukan dalam pengambilan informan yang peneliti sebut dengan informan pembantu seperti teman satu kelas.

Berdasarkan kriteria tersebut peneliti menyeleksi kemudian menentukan subyek penelitian. Ada sembilan orang informan yang peneliti wawancarai. Tujuh informan tersebut adalah mahasiswi yang memakai jilbab menjulur kebawah disertai dengan pemakaian cadar atau niqab dan dua informan yakni teman satu kelas mahasiswi bercadar. Terkait pemilihan subyek dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut:

Table 3.1

Daftar Informan Penelitian

No. Nama Fakultas Prodi Asal daerah

1 Wahliya Ismi Faraddina

Adab Sastra Inggris Bercadar berasal dari Surabaya37

2 Tika Dzurriyatina Adab Sastra Inggris Bercadar berasal dari Jombang38

3 Brilliant Putri Pertiwi

Ushuludin Tafsir Hadits Bercadar berasal dari Lamongan39

4 Ima Adab SKI Bercadar berasal dari

Banyuwangi40

5 Hila Saifuddiniyah Adab BSA Bercadar berasal dari Lamongan41

6 Hajar Almasuddin Dakwah MD Bercadar berasal dari Lamongan 7 Rani Wibisono Ushuludin Akhlak Bercadar berasal dari Gresik42

8 Stefani Adab Sastra Inggris Bercadar berasal dari Surabaya43

(64)

D. Tahap-Tahap Penelitian

Untuk melakukan sebuah penelitian kualitatif, perlu diketahui terlebih dahulu tahap-tahap yang akan dilalui dalam proses penelitian ini. Tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tahap Pra Lapangan

Pada Tahap Pra Lapangan, peneliti sudah membaca masalah menarik untuk diteliti dan peneliti telah memberikan pemahaman bahwa masalah itu pantas dan layak untuk diteliti. Kemudian peneliti juga telah melakukan pengamatan terkait dengan masalah yang diteliti. Setelah itu, peneliti membuat rancangan penelitian atau proposal penelitian yang sebelumnya didiskusikan dengan dosen pembimbing dan beberapa dosen lain serta mahasiswa. Pembuatan proposal ini berlangsung sekitar satu bulan melalui diskusi terus-menerus dengan dosen pembimbing.

Pada tahap ini, peneliti juga mengurus perizinan melakukan penelitian yang dilakukan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Surat perizinan tersebut ditujukan kepada tiga Fakultas yaitu Fakultas Adab dan Humaniora, Fakultas Ushuludin dan Filsafat, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Dalam mengurus surat perizinan penelitian, peneliti sedikit mengalami kesulitan dikarenakan

44

(65)

pegawai dari Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi mengalami sakit dan Dekan dari Fakultas Ushuludin dan Filsafat berangkat umroh sehingga membuat peneliti harus menunggu lama.

Karena waktu penelitian yang cukup singkat dan mendekati waktu liburan semester Ganjil, peneliti langsung melakukan penelitian meskipun surat penelitian belum turun. Awal mula peneliti memperoleh gambaran tentang Mahasiswi Bercadar di UINSA Surabaya, melalui salah satu teman, bernama Yeni (teman dekat peneliti dalam ORMADA Tuban). Setelah itu peneliti mendapatkan nomor kontak informan Fara dan Tika (mahasiswi bercadar fakultas Adab dan Humaniora, prodi Sastra Inggris).

Setelah menghubungi dan berkenalan dengan kedua informan tersebut, peneliti selanjutnya menyiapkan pedoman wawancara, serta alat-alat yang digunakan untuk observasi dan dokumentasi seperti kamera dan alat perekam dan peneliti juga mulai mencari informan yang lainnya.

2. Tahap Lapangan

(66)

dengan subyek penelitian dengan menggunakan tutur bahasa yang baik dan sopan.

Pada tanggal 25 Oktober 2016 peneliti mulai melakukan wawancara dengan informan Wahliya (mahasiswi bercadar fakultas Adab dan Humaniora, prodi Sastra Inggris). Setelah mendapatkan nomor kontaknya kemudian peneliti menghubungi dan berkenalan dengan Wahliya sekaligus peneliti menjelaskan maksud dari peneliti. Pada pukul 12.30 peneliti memastikan tempat untuk wawancara dengan informan yaitu di lobby gedung fakultas Adab dan Humaniora. Disini peneliti juga membangun kedekatan dengan informan, agar informan lebih terbuka dan peneliti dapat lebih leluasa mengeksplorasi lebih dalam. Selain itu, peneliti juga mengamati interaksi yang terjalin antara mahasiswi bercadar dengan teman-temannya.

Gambar

Tabel 4.1 Temuan Data di Lapangan  .........................................................
GAMBAR 4.1 Ciri mahasiswi bercadar  ....................................................
Table 3.1 Daftar Informan Penelitian
Gambar 4.1 Ciri mahasiswi bercadar
+2

Referensi

Dokumen terkait

bunga, inflasi, dan kurs terhadap harga saham pada sektor industri dasar dan kimia. di Bursa Efek Indonesia periode 2014 –

1088/PID.B/2013/PN.MKS telah tepat, karena tindak pidana yang dilakukan Terdakwa telah memenuhi unsurunsur dari syarat pemidanaan atau telah memenuhi ketentuan

dibentuk oleh variabel self efficacy dan dukungan sosial adalah sebesar 38,1%, sedangkan masih terdapat 61,9% (100%- 38,1%) variabel bebas lainnya yang mempunyai

Model analisis dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 2, di mana terdapat 1 variabel dependen, yaitu Behavioral Intention To Use the System (BIUS) dan 4

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah kinerja operasional Bus Trans Bandar Lampung atau BRT sudah sesuai dengan standar yang ada.. Penelitian ini

Penguasaan kemahiran profesional adalah penting untuk membolehkan graduan menggunakan maklumat dan mengoptimakan pengetahuan ( IFAC 1996). Perbincangan dapatan kajian

Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah data aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran dan ketercapaian KKM hasil belajar matematika dalam

Jenis penelitian adalah eksperimen dengan desain faktorial ganda 3x3, variabel bebas adalah subtitusi tepung sorgum 10%, 20%, dan 30% dari berat total tapioka