• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Soil-Transmitted Helminths - Hubungan Higiene Perorangan Anak Usia Sekolah Dengan Infeksi Cacing STH Pada Lingkungan Yang Tercemar Telur/Larva Cacing STH Di Desa Bagan Kuala Pemkab. Serdang Bedagai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Soil-Transmitted Helminths - Hubungan Higiene Perorangan Anak Usia Sekolah Dengan Infeksi Cacing STH Pada Lingkungan Yang Tercemar Telur/Larva Cacing STH Di Desa Bagan Kuala Pemkab. Serdang Bedagai"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Soil-Transmitted Helminths

Cacing yang tergolong dalam kelompok Soil Transmitted Helminths

(STH) adalah cacing yang dalam menyelesaikan siklus hidupnya memerlukan

tanah yang sesuai untuk berkembang menjadi bentuk infektif. Terdapat empat

jenis STH yang paling sering ditemukan, yaitu cacing gelang (Ascaris

lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), dan cacing tambang atau

hookworm (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale) (Serra, 2011).

2.1.1 Cacing gelang (A. lumbricoides)

Cacing gelang merupakan cacing yang hidup dan tersebar di daerah

tropis dan sub tropis dengan kelembaban udara yang tinggi. Cacing gelang

dewasa habitatnya terdapat di usus halus manusia dan stadium larvanya

mengalami migrasi ke paru-paru. Cacing dewasa berbentuk silindris

memanjang berwarna krem keputihan dengan panjang dapat mencapai 40 cm.

Ukuran cacing betina 20-35 cm dengan diameter 3-6 mm, dan cacing jantan

15-31 cm dengan diameter 2-4 mm. Umur yang normal dari cacing dewasa

adalah 12 bulan, paling lama bisa lebih dari 24 bulan. Cacing betina dapat

memproduksi lebih dari 200.000 telur sehari terdiri dari telur yang dibuahi dan

telur yang tidak dibuahi. Dalam kondisi yang memungkinkan telur dapat tetap

bertahan hidup selama bertahun-tahun (Pacifico, 2001).

Telur cacing yang telah dibuahi yang keluar bersama tinja penderita, di

dalam tanah yang lembab dan suhu yang optimal akan berkembang menjadi

telur yang infektif (mengandung larva cacing) dalam waktu 2-3 minggu.

Infeksi terjadi dengan masuknya telur cacing yang infektif ke dalam mulut, di

dalam usus halus bagian atas dinding telur akan pecah sehingga larva dapat

keluar untuk selanjutnya menembus dinding usus halus dan masuk ke vena

porta hati. Bersama aliran darah vena, larva akan beredar menuju jantung,

paru-paru, lalu menembus dinding kapiler masuk ke dalam alveoli. Masa

(2)

bronki, trakea, dan laring, untuk selanjutnya masuk ke faring, esofagus, turun

ke lambung akhirnya sampai ke usus halus. Sesudah berganti kulit, larva akan

tumbuh menjadi cacing dewasa. Dua bulan sejak infeksi (tertelan telur yang

infektif), seekor cacing betina mulai mampu bertelur (Soedarto, 2008).

Gambar 2.1. Siklus Hidup Ascaris lumbricoides

2.1.2 Cacing cambuk (T. trichiura)

Cacing dewasa berbentuk cambuk, dengan bagian anterior yang

merupakan tiga perlima panjang tubuh berbentuk langsing seperti tali cambuk,

sedangkan dua perlima bagian tubuh posterior lebih tebal mirip pegangan

cambuk. Cacing jantan panjangnya sekitar 4 cm, dengan bagian ekor

melengkung ke arah ventral, mempunyai satu spikulum yang terselubung

refraktil. Cacing betina panjangnya 5 cm dengan bagian caudal membulat

tumpul seperti koma. Telur berwarna coklat mirip biji melon, berukuran sekitar

50x25 mikron, mempunyai dua kutub jernih yang menonjol (Pacifico, 2001).

Infeksi terjadi jika manusia tertelan telur yang infektif sesudah telur

(3)

dinding telur pecah dan larva cacing keluar menuju sekum lalu berkembang

menjadi cacing dewasa. Cacing dewasa melekat pada mukosa usus halus

terutama di daerah sekum dan kolon dengan membenamkan kepalanya di

dalam dinding usus. Satu bulan sejak masuknya telur infektif ke dalam mulut,

cacing dewasa yang terjadi sudah mulai mampu bertelur. Cacing dewasa dapat

hidup beberapa tahun di dalam usus manusia (Serra, 2011).

Gambar 2.2. Siklus Hidup Trichuris trichiura

2.1.3 Cacing tambang (A.duodenale dan N.americanus)

Cacing dewasa berbentuk silindris berwarna putih keabuan. Cacing

betina panjangnya 9-13 mm dan cacing jantan panjangnya 5-11 mm,

mempunyai bursa kopulatriks di ujung posterior tubuhnya. Morfologi telurnya

mirip antara satu spesies dengan lainnya. Telur berbentuk lonjong tidak

berwarna, berukuran 65x40 mikron. Dinding telur tipis, tembus sinar, dan

(4)

Dalam siklus

habditiform (tidak infektif), bentuk tubuhnya agak

250 mikron, dan larva filariform (infektif)

n panjang tubuhnya sekitar 600 mikron. Tel

enderita, dalam waktu 2 hari akan tumbuh di

orm. Sesudah berganti kulit sebanyak 2 kali, da

berkembang menjadi larva filariform. Larva f

selama 7-8 minggu. Jika larva filariform m

suki pembuluh darah dan limfe, beredar di dala

jantung kanan, lalu masuk ke dalam kapi

nding kapiler masuk ke dalam alveoli, kemudi

aring, dan faring, akhirnya tertelan masuk ke

.duodenale jika tertelan juga dapat menyebabka

berganti kulit untuk yang ketiga kalinya

kitar 10 hari. Dari esofagus larva masuk ke usus

keempat kalinya, lalu tumbuh menjadi cacing

n cacing betina sudah mampu bertelur (Pacifico, 2001

(5)

2.2 Epidemiologi

Cacing STH tersebar luas di daerah tropis dan subtropis, terutama di

daerah pedesaan dan daerah kumuh perkotaan di negara berkembang. Intensitas

infeksi merupakan indeks epidemiologi yang menggambarkan infeksi STH,

karena morbiditas dan penularan cacing ini berhubungan langsung dengan

jumlah cacing di dalam tubuh manusia. Intensitas infeksi terbesar didapatkan

pada anak-anak prasekolah dan anak usia sekolah. Hal ini karena anak-anak

tersebut terpapar dengan banyak faktor resiko. Beberapa faktor resiko yang

berhubungan dengan tingginya infeksi STH adalah kondisi geografis yang

sesuai untuk perkembangan cacing, fasilitas jamban yang belum memadai,

higiene pribadi yang buruk, rendahnya tingkat pendidikan, status sosial

ekonomi yang lemah (Serra, 2011).

2.2.1 Kondisi Geografis

Kondisi geografis yang sesuai untuk perkembangan cacing STH

meliputi iklim dan kondisi tanah (Suriptiastuti, 2006).

a. Iklim

Faktor iklim yang terdiri dari temperatur, curah hujan, cahaya matahari,

dan angin, merupakan faktor utama dari penyebaran infeksi STH. Temperatur

sangat penting untuk cacing ini melanjutkan siklus hidupnya, setiap jenis

cacing mempunyai temperatur optimum yang berbeda. Untuk perkembangan

telur A. lumbricoides memerlukan temperatur 200C-250C, T. trichiura

memerlukan temperatur 300C, dan cacing tambang antara 280C-320C. Curah

hujan berpengaruh terhadap kelembaban tanah. Cahaya matahari berperan

dalam memberikan panas, terutama terhadap telur dan larva yang ada pada

permukaan tanah. Angin berperan dalam mempercepat proses pengeringan dan

penyebaran telur-telur cacing yang infektif melalui debu (Serra, 2011).

b. Tanah

Jenis tanah merupakan faktor yang mempengaruhi epidemiologi STH

yang berperan sebagai penunjang perkembangan dan penyebaran cacing, yaitu

(6)

berdasarkan diameter partikelnya dan kelembaban yang ditimbulkan atau

jumlah air yang diperlukan untuk membuatnya lembab. Untuk perkembangan

telurnya, A. lumbricoides dan T. trichiura memerlukan tanah yang liat, lembab,

dan terlindung dari cahaya matahari. Kondisi tanah yang paling sesuai dan

menguntungkan bagi pertumbuhan larva cacing tambang adalah tanah berpasir,

gembur, berhumus dan terlindung dari cahaya matahari langsung, karena larva

cacing ini memerlukan oksigen untuk pertumbuhannya. Karakteristik lainnya

dari ketiga jenis tanah yang juga menguntungkan pertumbuhan dan

perkembangan telur cacing adalah berat jenis masing-masing jenis tanah, pasir

memiliki berat jenis paling besar dibandingkan dengan lumpur dan tanah liat

dan pasir akan tenggelam di air, oleh karena itu pasir ditemukan didasar sungai.

Lumpur memiliki berat jenis sama dengan air, maka lumpur akan

melayang-layang di air, sedangkan tanah liat memiliki berat jenis lebih kecil daripada air

dan tanah liat terdapat di lapisan atas air sungai. Berat jenis telur A.

lumbricoides dan T. trichiura sama dengan berat jenis air, oleh karena itu

apabila telur-telur cacing tersebut jatuh ke dalam sungai akan bersama-sama

dengan lumpur dan keadaan seperti itu akan melindungi telur-telur tersebut dari

sinar matahari. Jenis tanah pasir akan sangat menguntungkan telur cacing

tambang, sedangkan jenis tanah lumpur sangat menguntungkan telur

A.lumbricoides dan T. Trichiura. Kelembaban merupakan faktor penting untuk

mempertahankan hidup cacing. Bila kelembaban rendah maka telur A.

lumbricoides dan T. trichiura tidak akan berkembang dengan baik, dan larva

cacing tambang akan cepat mati. Kelembaban tanah tergantung pada besarnya

curah hujan (Suriptiastuti, 2006).

Pencemaran tanah oleh STH ditandai dengan adanya telur/larva STH

pada tanah permukaan. Dengan indikasi tanah tersebut telah tercemar oleh

kotoran manusia yang terinfeksi STH. Hal ini erat kaitannya dengan

ketersediaan jamban keluarga. Di daerah endemis cacing, pencemaran tanah

oleh STH umumnya meliputi telur A.lumbricoides dan telur T.trichiura, dan

larva cacing tambang. Lingkungan rumah tangga yang berpotensi tercemar

telur STH meliputi bagian dalam rumah (dapur, ruang keluarga, kamar mandi),

(7)

jamban, di bawah pohon, jalan kecil/gang, dan lapangan yang berumput.

Singkatnya tempat-tempat dimana manusia biasanya berkumpul dan tempat

dimana manusia buang air besar akan berpotensi tinggi tercemar (Gyoten,

2010).

Tanah yang tercemar telur/larva STH dapat terbawa jauh karena

menempel pada kaki atau alas kaki, juga melalui debu yang terbawa angin.

Tanah pekarangan rumah maupun sekolah yang tercemar telur/larva cacing

akan menjadi sumber penularan infeksi STH terutama pada anak-anak karena

anak usia sekolah memiliki frekuensi bermain yang relatif tinggi baik di

sekolah, di rumah, dan di kebun. Anak-anak dipedesaan lazimnya bermain

bersama-sama. Perilaku bermain anak-anak sering tidak bisa dilepaskan dari

terjadinya kontak dengan tanah (Ziegelbauer, 2012).

Terdapat hubungan yang konsisten antara infeksi dan pencemaran tanah

pada askariasis dan trichuriasis, sehingga pemeriksaan telur A.lumbricoides

dan T.trichiura akan bermanfaat untuk memprediksi infeksi ini pada anggota

keluarga. Hubungan antara rasio pencemaran tanah oleh telur STH dengan

prevalensi kecacingan adalah signifikan secara statistik. Hal ini menunjukkan

tingkat pencemaran tanah oleh telur STH merupakan refleksi status infeksi

cacing pada masyarakat (Gyoten, 2010).

2.2.2 Fasilitas Jamban Yang Belum Memadai

Fasilitas jamban dapat mengurangi setengah resiko terinfeksi oleh STH.

Ziegelbauer (2012) menemukan bahwa ketersediaan dan penggunaan jamban

berhubungan signifikan terhadap pencegahan infeksi STH yaitu odds ratio

(OR) = 0,51 (95% CI= 0,44–0,61). Dibandingkan dengan orang tanpa akses ke

jamban, kesempatan terinfeksi STH orang-orang yang memiliki akses ke

jamban adalah 0,49. Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan orang-orang

yang menggunakan jamban lebih kecil untuk terinfeksi parasit cacing.

Penyediaan sarana pembuangan tinja masyarakat tidaklah mudah, karena

menyangkut peran serta masyarakat yang biasanya sangat erat kaitannya

dengan perilaku, tingkat ekonomi, kebudayaan dan pendidikan. Pembuangan

(8)

yang banyak mendatangkan masalah dalam bidang kesehatan dan sebagai

media bibit penyakit. Selain itu dapat menimbulkan pencemaran lingkungan

pada sumber air dan bau busuk serta estetika. Jamban keluarga adalah suatu

bangunan yang dipergunakan untuk membuang tinja atau kotoran manusia

yang lazim disebut kakus atau WC. Pemanfaatan jamban keluarga sangat

dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan kebiasaan masyarakat. Tujuan

program JAGA (jamban keluarga) yaitu tidak membuang tinja ditempat

terbuka melainkan membangun jamban untuk diri sendiri dan keluarga.

Penggunaan jamban yang baik adalah kotoran yang masuk hendaknya disiram

dengan air yang cukup, hal ini selalu dikerjakan sehabis buang air besar

sehingga kotoran tidak tampak lagi. Secara periodik, leher angsa dan lantai

jamban digunakan dan dipelihara dengan baik, sedangkan pada jamban

cemplung lubang harus selalu ditutup jika jamban tidak digunakan lagi agar

tidak kemasukan benda-benda lain. Umar (2006) menyatakan bahwa perilaku

buang air besar tidak di jamban menyebabkan pencemaran tanah dan

lingkungan oleh tinja yang berisi telur cacing yang dapat menginfeksi

anak-anak karena menelan tanah yang tercemar telur cacing atau melalui tangan

yang terkontaminasi telur cacing.

2.2.3 Higiene Pribadi Yang Buruk

Higiene perorangan atau usaha kesehatan pribadi merupakan upaya dari

seseorang untuk memelihara dan mempertinggi derajat kesehatannya sendiri,

yang meliputi: memelihara kebersihan, makanan yang sehat, cara hidup yang

teratur, meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan jasmani, menghindari

terjadinya penyakit, meningkatkan taraf kecerdasan dan rohaniah, melengkapi

rumah dengan fasilitas yang menjamin hidup sehat, dan pemeriksaan kesehatan

(Entjang, 2001). Menurut WHO (2008) higiene adalah merupakan praktek atau

tindakan untuk menjaga diri dan lingkungan seseorang agar tetap bersih dan

bebas dari resiko infeksi. Ada banyak praktek higiene yang dapat membantu

mencegah penyakit, salah satunya yang terbukti efektif dan efisien di negara

(9)

Ada beberapa aspek higiene pribadi yang berhubungan dengan infeksi

STH seperti mencuci tangan sebelum makan, mencuci tangan setelah buang air

besar, buang air besar di jamban, kebersihan kuku, dan memakai alas kaki.

Mencuci tangan menggunakan air dan sabun memiliki peran yang penting

dalam pencegahan infeksi STH. Tangan adalah merupakan vektor yang dapat

membawa agan penyakit dari satu orang ke orang lain baik secara langsung

maupun tidak langsung. Tangan yang telah kontak dengan feses, tanah, atau

makanan yang tercemar dan tidak dicuci dengan bersih dapat membawa telur

cacing (WHO, 2008). Mencuci tangan dengan air saja lebih umum dilakukan,

namun hal ini terbukti tidak efektif dalam menjaga kesehatan dibandingkan

dengan mencuci tangan dengan sabun. Penggunaan sabun menjadi efektif

karena meningkatkan waktu kontak kedua tangan, memfasilitasi gesekan, dan

memecah lemak dan kotoran sehingga lemak dan kotoran yang menempel akan

terlepas saat tangan digosok dan bergesekan pada waktu mencuci tangan. Di

dalam lemak dan kotoran yang menempel di tangan inilah kuman penyakit

hidup. Transmisi STH dapat dicegah dengan mencuci tangan dengan sabun

oleh karena dapat memindahkan secara mekanis debu, tanah, atau kotoran yang

mengandung telur cacing dari tangan. Tidak ada perbedaan yang signifikan

antara mencuci tangan pakai sabun biasa dengan mencuci tangan pakai sabun

anti septik. Hal ini karena patogen lepas dari tangan oleh sabun dan air, bukan

karena aktifitas antiseptik yang mematikan kuman (Luby, 2005).

Pada anak-anak infeksi sering terjadi melalui tangan yang tercemar telur

yang infektif karena anak-anak suka memasukkan jari-jari ke dalam mulut,

atau makan tanpa mencuci tangan. Transmisi STH pada manusia melalui

tangan atau kuku jari yang kotor mengandung telur cacing (Sofiana, 2011).

Manusia yang terinfeksi STH akan mengeluarkan telur cacing bersama

fesesnya sehingga di daerah dimana masyarakatnya lazim buang air besar di

tempat terbuka seperti di sungai, selokan air, di bawah pohon dan di sekitar

rumah pada anak-anak, maka akan mencemari lingkungan dan pada kondisi

yang sesuai telur cacing tersebut akan berkembang menjadi bentuk infektif.

Infeksi terjadi bila tertelan telur yang infektif melalui makanan atau minuman,

(10)

setelah memegang tanah yang tercemar telur cacing, atau pada infeksi cacing

tambang terjadi saat larva filariform menembus kulit manusia yang tidak

memakai alas kaki (Ziegelbauer, 2012).

2.2.4 Rendahnya Tingkat Pendidikan

Pendidikan orang tua terutama ibu adalah faktor penting yang

mempengaruhi infeksi parasit usus pada anak-anak. Ibu yang berpendidikan

akan lebih peduli atau memperhatikan pentingnya sanitasi dan kebersihan,

sehingga bisa menerapkan higiene yang baik pada anak-anaknya yang

berdampak pada menurunnya prevalensi infeksi parasit usus. Anak-anak yang

dibesarkan ibu dengan pendidikan minimal SMA memiliki prevalensi parasit

usus lebih rendah (17,1%) dibandingkan dengan ibu yang tidak berpendidikan

atau berpendidikan lebih rendah (59,8%) (Chaudry, 2004).

2.2.5 Status Sosial Ekonomi

Status sosial ekonomi yang rendah merupakan faktor resiko infeksi

parasit usus. Dampak status sosial ekonomi yang rendah terhadap resiko

penyakit infeksi secara umum, dimana infeksi parasit merupakan bagiannya

adalah kompleks dan berkontribusi dengan beberapa faktor lain seperti

minimnya fasilitas air bersih, higiene lingkungan yang buruk, rendahnya akses

pendidikan dan kondisi tempat tinggal yang padat (Mehraj, 2008).

2.3 Gejala klinik

Gejala klinik dari infeksi STH dapat dibagi dalam manifestasi akut yang

berkaitan dengan migrasi larva melalui kulit dan visera, dan manifestasi akut

serta kronik akibat dari cacing dewasa berada di saluran pencernaan (Bethony,

2006).

2.3.1 Migrasi larva

Migrasi larva STH dapat menimbulkan reaksi pada jaringan yang

(11)

hipersensitif pulmonum, reaksi inflamasi, dan pada individu sensitif dapat

menyebabkan gejala seperti asma, misalnya batuk, demam, dan sesak nafas.

Reaksi jaringan karena migrasi larva yakni inflamasi eosinofilik granuloma

pada jaringan paru yang dikenal dengan sindrom Loffler’s, dan hipersensitifitas

lokal menyebabkan peningkatan sekresi mukus, inflamasi bronkiolar, dan

eksudat serosa. Larva yang mati saat migrasi menimbulkan vaskulitis dengan

reaksi granuloma perivaskuler. Larva filariform cacing tambang saat penetrasi

menembus kulit menyebabkan perubahan pada kulit seperti pruritus dan

eritema yang disebut Ground itch. Bila larva cacing tambang masuk secara oral

dapat mengakibatkan nausea, muntah, iritasi faring, batuk, sesak nafas, dan

suara serak (Bethony, 2006).

2.3.2 Parasit di intestinal

Manifestasi klinik akibat infeksi STH di saluran gastrointestinal

umumnya terjadi bila intensitas infeksinya sedang dan berat, dengan intensitas

infeksi yang paling tinggi pada anak-anak (Suriptiastuti, 2006).

Cacing dewasa A.lumbricoides dalam jumlah yang besar di usus halus

dapat menyebabkan distensi abdomen dan rasa sakit, juga dapat membentuk

bolus yang dapat menyebabkan obstruksi intestinal. Juga dapat menyebabkan

intoleransi laktosa, malabsorpsi vitamin A, dan menghisap karbohidrat dan

protein yang berpengaruh pada gangguan nutrisi dan pertumbuhan. Migrasi

cacing dewasa dari duodenum ke saluran empedu bisa menyebabkan kolik

empedu, kolesistitis, kolangitis, pankreatitis, abses hepar, migrasi ke saluran

appendiks menyebabkan appendiksitis (Soedarto, 2008).

Cacing cambuk dewasa yang menembus dinding usus menimbulkan

trauma dan kerusakan pada jaringan usus sehingga sering terjadi infeksi

sekunder dengan parasit usus lainnya seperti Entamoeba histolityca, Shigella.

Pada infeksi berat akan timbul gejala berupa anemia, diare berdarah, nyeri

perut, mual dan muntah, berat badan menurun, kadang terjadi prolaps rectum.

Kelainan akibat infeksi cacing tambang dewasa adalah kehilangan darah yang

(12)

terjadinya anemia defisiensi besi, daya kognitif yang menurun, dan malnutrisi

protein (Bethony, 2006).

2.4 Diagnosa

Diagnosa ditegakkan dengan menemukan telur, atau larva, atau cacing

dewasa dalam feses (Soedarto, 2008)

2.5 Pencegahan dan pemberantasan

Secara garis besar dapat dilakukan dengan tiga intervensi untuk

mengendalikan infeksi STH, yaitu pemberian obat antelmintik, sanitasi dan

pendidikan kesehatan (Serra, 2011). Tujuan pemberian obat antelmintik adalah

mengurangi kesakitan dengan menurunkan gangguan akibat infeksi STH dan

memutuskan rantai penularan. Pemberian obat berulang kali secara teratur

dengan interval tertentu pada kelompok resiko tinggi mampu menurunkan

angka kesakitan dan memperbaiki kesehatan serta pertumbuhan anak. Anak

usia pra sekolah (1-5 tahun) dan anak usia sekolah (5-15 tahun) merupakan

kelompok resiko tinggi untuk menderita infeksi STH dengan intensitas yang

tinggi. Obat yang direkomendasikan untuk mengendalikan infeksi STH di

masyarakat adalah benzimidazole, albendazole, mebendazole, levamisole, atau

pyrantel pamoate (Kappagoda, 2011). Sanitasi atau fasilitas jamban bertujuan

untuk mengendalikan penyebaran STH dengan cara menurunkan kontaminasi

air dan tanah. Sanitasi merupakan intervensi utama untuk menghilangkan

infeksi STH, tetapi agar efektif harus mencakup populasi yang luas dan

memerlukan waktu bertahun-tahun serta memerlukan biaya yang tidak sedikit

(Serra, 2011) . Pendidikan kesehatan bertujuan menurunkan penyebaran dan

terjadinya reinfeksi dengan cara memperbaiki perilaku kesehatan. Dengan

pendidikan kesehatan diharapkan dapat mengurangi kontaminasi STH dengan

tanah dan air melalui promosi penggunaan jamban dan perilaku kebersihan.

Tanpa perubahan kebiasaan buang air besar tidak di jamban, pengobatan secara

teratur tidak mampu menurunkan penyebaran infeksi STH, hal ini karena

(13)

2.6 Kerangka Konsep

Keterangan:

CTPS : Cuci tangan pakai sabun BAB : Buang air besar

Gambar 2.4. Kerangka Konsep Penelitian Higiene Perorangan

Cuci tangan sebelum makan

CTPS sebelum makan

Cuci tangan setelah main tanah

CTPS setelah main tanah

Main di tanah

Memakai alas kaki

Makan jajanan/makanan waktu main di tanah

Menghisap jari/gigit kuku

Kuku pendek dan bersih

BAB di wc

Gambar

Gambar 2.2. Siklus Hidup Trichuris trichiura
Gambar 2.3. Siklus Hidup Cacing Tambang Ga
Gambar 2.4. Kerangka Konsep Penelitian

Referensi

Dokumen terkait