pada Masyarakat Pengrajin
Penulis:
Ana Nadhya Abrar Budiyono Emmy Poentarie
Nur Zaini Daru Nupikso Inasari Widiyastuti
Puji Rianto
Editor :
Katalog Dalam Terbitan (KDT) Demokrasi Bermedia Online
Tiara Wacana Lokus: Nopember 2014: Yogyakarta vi + 238 hlm, ISBN 9786027664401
Penulis : Ana Nadhya Abrar
Penanggung jawab : Kepala Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Yogyakarta
Ketua Dewan Redaksi : Budiyono, SH., MA. Dewan Redaksi : Drs. Topohudoyo, MPA
Dra. Emmy Poentarie, MA Darmanto, S.Pd., MPA Suwarta, SH., MPA
Mitra Bestari : Dr. Ana Nadhya Abrar, Ph.D Puji Rianto, SIP.
Editor : Dr. Restu Sukesti, M.Hum. Ketua Redaksi Pelaksana : RM. Agung Harimurti, M.Kom Desain Grafis : Novian Anata Putra, S.I.Kom Sekretariat : Vieka Aprilya Intanny, ST.
Penerbit:
Tiara Wacana Lokus
Jl. Kaliurang Km. 7,8 Kopen Utama No. 16 Yogyakarta Hp. 081392712176, 0274-6651615
Anggota IKAPI
Dicetak : CV. Haksoro
Sanksi pelanggaran Pasal 72: Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta terkait dengan Bab XIII, Ketentuan Pidana
1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.1.000.000,-[satu juta rupiah, atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.5.000.000,- (lima juta rupiah).
pada Masyarakat Pengrajin
KATA PENGANTAR
Perkembangan global teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memicu pertumbuhan komuni-kasi. Buku Bunga Rampai ini mengupas perkembangan baru dunia komunikasi dengan hadirnya internet sebagai media baru (new media) yang telah banyak dimanfaatkan sebagai media komunikasi di berbagai bidang, termasuk di bidang politik.
Topik-topik penelitian bernuansa komunikasi diawali dengan tulisan “Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Sarana Komunikasi Politik”, sebagai pembuka Bunga Rampai kali ini. Berikutnya tulisan yang terkait dengan pemanfataan media online untuk kepentingan politik, yakni berjudul “Kampanye Melalui Media Online: Kasus Implementasi Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 14 Tahun 2014 Tentang Kampanye Pemilihan Umum melalui Penggunaan Jasa Telekomu-nikasi”. Masih berkaitan dengan media online, tulisan berjudul “Bingkai Media Online Tentang Isu Kebijakan Penanganan Situs Internet Bermuatan Negatif,” ber -orientasi pada pembahasan kebijakan komunikasi. Tiga tulisan di atas menengarai perkembangan media baru dalam dunia politik praktis.
dengan ranah komunikasi politik pemerintah dalam menjembatani kebutuhan akses komunikasi masyara-kat. Seperti tulisan “Situs Web Pemerintah Daerah Sebagai Media Meningkatkan Partisipasi Publik Melalui Menu Informasi dan Interaksi,” mengisahkan imple men-tasi situs website pemerintah daerah untuk penyediaan ruang publik, meski penerapannya masih minimalis. Demikian juga pengembangan Rencana Pita-lebar Indonesia (RPI), dalam tulisan berjudul “Menimbang Kebijakan Supply-Demand Side Dalam Perpres No. 96 Tahun 2014 Tentang Rencana Pitalebar Indonesia 2014-2019,” yang menyimpulkan bahwa Indonesia siap menyaingi beberapa negara di Asia dalam rangka mem-bangun pita-lebar demi tersedianya akses yang lancar ke informasi superhighway. Dengan lancarnya informasi superhighway, harapannya tentu saja, masyarakat makin bebas berkomunikasi.
Demikian kiranya Buku Bunga Rampai Hasil Penelitian edisi kedua Tahun ini, produk BPPKI Yogya-karta bekerjasama dengan Mitra Bestari dari Perguruan Tinggi dan Lembaga Swadaya Masyarakat di Yogya-karta, mencoba memberi gambaran perkembangan internet dalam memenuhi perkembangan kebutuhan media komunikasi, baik di kalangan pemerintah, elit politik dan masyarakat. Semoga memberi manfaat bagi pihak-pihak yang berkompeten sesuai bidangnya.
Yogyakarta, November 2014 Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi
dan Informatika (BPPKI) Yogyakarta, Kepala,
pada Masyarakat Pengrajin
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iii DAFTAR ISI ... v
PROLOG: Kebebasan Berkomunikasi ... Ana Nadhya Abrar ... 1
Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Sarana Komunikasi Politik ... Budiyono ... 23
Kampanye Melalui Media Online : Kasus Terhadap Imple-mentasi Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 14 Tahun 2014 ... Emmy Poentarie ... 57
Isu Kebijakan tentang Penanganan Situs Internet Ber-muatan Negatif dalam Pemberitaan Media Online
Nur Zaini ... 83
Situs Web Pemerintah Daerah Sebagai Media Mening-katkan Partisipasi Publik Melalui Menu Informasi dan Interaksi ... Daru Nupikso ... 143
EPILOG: Menjawab Kebutuhan Penelitian Komunikasi dan Media di Era Baru ... Puji Rianto ... 211
Menimbang Kebijakan
Supply
-
Demand Side
dalam
Perpres No 96 Tahun 2014 Tentang
Rencana Pitalebar Indonesia 2014-2019
Inasari Widiyastuti
PENDAHULUAN
banyak negara menelaah faktor-faktor pendorong pene-trasi pitalebar.
NBP dan 18,6% lebih tinggi untuk penetrasi mobile broadband. Organisasi Komisioner Broadband (Broad-band Commission Organisation) mengungkapkan bahwa NBP, apa pun bentuknya, menjadi panduan bagi tiap negara untuk tidak hanya meningkatkan penetrasi dan adopsi pitalebar tetapi juga menjadi pijakan arah pem-bangunan dan pengembangan pitalebar yang kontributif bagi ekonomi nasional. Hingga kemudian mereka menetapkan bagi negara-negara anggotanya untuk me-miliki NBP hingga tahun 2015, termasuk Indonesia.
cyber-space, percepatan transfer knowledge based economy, peningkatan produktivitas, serta pendukung kompetisi ekonomi global (Ridwan).
Pada mulanya, laju pembangunan pitalebar di Indonesia tidak memiliki payung kebijakan yang rele-van. Regulasi yang ada tidak mengakomodasi perkem-bangan teknologi pitalebar yang bergerak cepat. Dapat dikatakan, pemangku kebijakan tertatih-tatih mengikuti tren teknologi dan akhirnya tertinggal. Ketertinggalan ini menimbulkan problematika yang mengkhawatirkan jika tidak tidak disikapi segera. Terutama dalam hal kompetisi pasar yang terbuka, perlindungan konsumen, dan kemanfaatan nasional. Meski telah diperbincang-kan secara intens, arah kebijadiperbincang-kan pembangunan pitalebar di Indonesia yang legal belum jua muncul. Beberapa kebijakan pitalebar yang telah hadir hanya mengakomodasi pada sisi infrastruktur dan bersifat silo. Hingga di pertengahan 2014, pemerintah mene-tapkan Peraturan Presiden No 96 Tahun 2014 tentang Rencana Pitalebar Indonesa (RPI). Perpres 96/2014 ini bertujuan unuk memberikan arah dan panduan stra-tegis dalam percepatan dan perluasan pembangunan pitalebar yang komprehensif dan terintegrasi untuk periode 2014-2019. Adanya RPI diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing nasional serta meningkatkan kualitas hidup masya-rakat Indonesia.
memasarkannya ke publik. Padahal, persoalan men-dasar berupa infrastruktur (spectrum frekuensi, per-ijinan, regulasi) belum ditangani oleh pemerintah. Tatkala regulator masih berkemelut bagaimana penga-turan frekuensi dan proses perizinan, pihak penye-lenggara telah mencuri start dengan menggelar infra-struktur backbone. Maka tak heran jika kemudian regulator berada pada posisi terdesak untuk memper-cepat proses alokasi frekuensi dan perijinan tanpa perencanaan yang jelas bagaimana arah pembangunan pitalebar yang memberi kemanfaatan secara nasional. Manakala hal ini dibiarkan, persoalan pitalebar sebagai kanal hiburan yang non-produktif seperti teknologi sebelumnya akan kembali terjadi. Dengan demikian, tak layak rasanya jika pejabat publik justru memper-tanyakan kemanfaatan kecepatan dan lebar data yang ditingkatkan jika hanya untuk aktivitas non-produktif seperti yang pernah terjadi di masa kabinet akhir SBY. Karena sejatinya, pertanyaan tersebut menjadi tugas regulator untuk mengatur dan merealisasikan tujuan pembangunan pitalebar itu sendiri.
RPI terhadap penetrasi pitalebar melalui pengamatan empiris pada 5 (lima) negara Asia dengan tingkat pene-trasi pitalebar tinggi selama kurun waktu 12 tahun (2001 hingga 2012). Negara Asia tersebut meliputi Cina, India, Indonesia, Korea Selatan, dan Jepang. Pengaruh NBP ini akan berimpak pada peran Perpres 96/2014 tentang RPI terhadap ketercapaian tujuannya melalui studi peramalan dan benchmarking mengacu pada pengalaman terbaik negara-negara Asia tersebut. Tulisan ini juga menelaah kelayakan RPI pada sisi penyedia (supply side) dan sisi pengguna (demand side) sebagaimana yang direkomendasikan oleh organisasi internasional dan studi relevan tentang NBP yang baik.
PERAMALAN DAN BENCHMARKING BEST PRACTICE EXPERIENCE SEBAGAI ALAT ANALISIS KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PITALEBAR
Anderson (dalam Winarno, 2013) berpendapat bahwa kebijakan publik mengarah pada upaya-upaya yang ditetapkan oleh sejumlah aktor (pembuat kebijakan) untuk mengatasi suatu persoalan. Artinya, ada tujuan yang hendak dicapai dari upaya pengambilan keputusan dan arahan tersebut. Meski banyak pakar silang pendapat tentang konsep kebijakan publik, setidaknya ada titik pijak yang perlu dipahami bersama, bahwa kebijakan publik merupakan upaya dan tindakan yang ditempuh oleh pembuat kebijakan untuk mengatasi persoalan khalayak dalam mencapai tujuan tertentu, dengan mempertimbangkan implikasi logis yang mungkin akan dihadapi.
pendekatan analisis peramalan kebijakan yang menganalisis dan membuat proyeksi masa depan atas dasar data masa kini dan masa lalu (time series analysis).
Salah satu bentuk peramalan yang memungkinkan untuk dilakukan adalah time series analysis (analisis deret waktu), yakni meninjau kemungkinan beberapa variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Tulisan ini menggunakan analisis deret waktu untuk mengetahui pengaruh NBP terhadap penetrasi pitalebar dengan pendekatan data panel. Analisis data panel tidak hanya meninjau satu obyek saja tetapi juga beberapa obyek dengan pertimbangan tertentu. Dalam hal ini, penulis menggunakan data panel 5 (lima) negara di Asia yang dinilai memiliki tingkat penetrasi pitalebar yang sangat tinggi dengan jumlah penduduk, luas kawasan, dan iklim ekonomi serta demokrasi yang setara. Kelima negara tersebut terdiri dari 3 (tiga) negara berkembang yaitu Cina, India, Indonesa dan 2 (dua) negara maju yaitu Korea Selatan dan Jepang. Untuk mendapatkan perkiraan pengaruh NBP terhadap penetrasi pitalebar, digunakan data pada rentang waktu 12 tahun yaitu dari tahun 2001 hingga 2012. Rentang waktu ini adalah sebelum dan sesudah berlakunya NBP di negara tersebut. Beberapa variabel pembanding yang diserta-kan dalam analisis adalah GDP per kapita, jumlah populasi penduduk produktif (usia 15-65 tahun), kepadatan penduduk per km2, laju tenaga kerja, indeks
seperti telepon tetap, internet, dan telepon seluler. Data tersebut diperoleh dari bankdata ITU dan World Bank.
Selanjutnya, untuk mendapatkan kajian yang komprehensif, hasil forecasting ini akan ditunjang dengan analisis pembanding (benchmarking) terkait pengalaman terbaik (best practice experience) kelima negara tersebut. Utamanya untuk mengetahui perfor-mansi strategis yang diterapkan oleh Cina, India, Korea Selatan, dan Jepang dalam mendorong pembangunan pitalebar yang berkelanjutan. Hasil pembandingan ini dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk meng-adopsi hal-hal baik sehingga sasaran-sasaran strategis dalam Perpres 96/2014 tentang RPI ini dapat dicapai dengan cara-cara yang lebih efektif dan efisien. Pada akhirnya, mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional secara merata dan berkeadilan.
REGULASI (NBP) SEBAGAI FAKTOR PENDORONG PENETRASI DAN PEMBANGUNAN BROADBAND
(2005), Finlandia (2005), Yunani (2006), dan Irlandia (2008). Sementara itu, di negara-negara Asia (mayoritas adalah negara berkembang), NBP baru dimiliki di akhir tahun 2010 dengan tingkat penetrasi pitalebar yang masih rendah, meski beberapa negara menunjukkan tingkat penetrasi pitalebar yang sangat tinggi.
Tabel 1. Adopsi NBP Beberapa Negara dan Tingkat Penetrasi Pitalebarnya
Norwegia 2001 Action Plan Broadband Communication
36,900
Singapura 2005 Intelligent Nation 2015 (iN2015)
25,441
Finlandia 2005 Broadband 2015 Project, Kainuu Information Society Strategy 2007-2015
30,400
Yunani 2006 Digital Stratgey 2008-2013
23,500
Irlandia 2008 Ireland’s Broadband Strategy
22,700
US 2010 Conneting America: The National Broadband Plan
28,348
Canada 2010 Broadband Canada: Connecting Rural Canadians
32,477
broadband Future
India 2011 National Optical Fibre Network
Thailand 2010 The National Broadband Policy
8,151
*per 100 penduduk
di tahun 2005. Kondisi ini menunjukkan bahwa seba-gian besar negara Asia meletakkan rencana pem-bangunan pitalebar pada sisi infrastruktur dan mengabaikan impak lebih besar yang dimungkinkan terjadi dari pembangunan ini. Selain dari tuntutan global akan pentingnya perencanaan pembangunan. Fakta ini memperlihatkan bahwa negara-negara Asia belum menetapkan target pembangunan pitalebar yang terarah den berkelanjutan. Kendati laju penetrasi pita-lebar meningkat dari tahun ke tahun (kecuali Korea, sempat teralami masa saturasi di tahun 2008). Oleh karena ittu, penting untuk melihat proyeksi NBP terhadap penetrasi pitalebar di masa depan.
besar jika NBP memperhatikan upaya-upaya pening-katan kapasitas sumber daya manusianya. Ada strategi paralel berkelanjutan yang harus dimainkan di sini.
Tabel 2. Hasil Analisis Data Panel-Runtut Waktu Faktor Pendorong Penetrasi Pitalebar
Variabel Independen Coefficient t-Statistic Prob.
GDP Kapita 6.80E-07 7.12566 0
Populasi Usia Produktif -0.4049 -2.49986 0.0157 Kepadatan Penduduk 0.0114 2.38888 0.0206 Laju Tenaga Kerja 1.78E-08 3.61890 0.0007 Indeks Pembangunan
Manusia
26.4666 1.99081 0.0519
Ketersediaan Regulasi (NBP)
2.2317 2.92932 0.0051
Penetrasi Fixed Phone -0.1086 -3.09105 0.0032 Penetrasi Internet 0.3666 9.09887 0 Penetrasi Mobile Phone -0.0660 -4.10657 0.0001
R-squared 0.9842
dihadapi, memberdayakan konsumen, mengatasi dikri-minasi pola pasar layanan TIK, sehingga mencapai tujuan yang diharapkan (Paleologos & Palemis, 2013). ITU menggambarkan NBP sebagai kunci yang memper-temukan berbagai kepentingan stakeholders tanpa mengabaikan peran satu dengan lainnya. NBP dipan-dang sebagai proses ke depan untuk membangun konsensus bersama terhadap visi pembangunan pita-lebar. Oleh karenanya, ITU merekomendasikan siklus rencana pembangunan pitalebar yang memberikan outcome seperti yang diharapkan. Meski tidak ada jaminan bahwa NBP adalah segala-galanya dalam pencapaian tujuan itu tetapi dapat mengurangi ke-mungkinan negatif yang terjadi di masa datang.
BENCHMARKING NATIONAL BROADBAND POLICY
(Sumber: hasil pengolahan dari ITU dan Worldbank)
1. Kebijakan Pitalebar di Cina
Rezim kebijakan bidang TIK di Cina sejatinya telah dimulai sejak 1989 melalui Decre No. 216 yang menyatakan bahwa jaringan telekomunikasi adalah infrastruktur nasional yang berada di bawah ken-dali negara untuk menjamin keamanan dan kedau-latan bangsa. Mulanya, Cina memandang bahwa TIK merupakan alat pertahanan dan keamanan negara bukan sebagai enabler kesejahteraan rakyat. Paradigma ini meski telah bergeser tetap berpijak hingga saat ini. Terlihat dari pemblokiran beberapa situs global dan situs tandingan yang dikaryakan oleh bangsa sendiri tetapi justru secara mengejut-kan menjadi situs global (contoh Alibaba dan Baidu). Ambisi Cina untuk merajai dunia di bidang TIK telah terlihat sejak lama, termasuk pada tekno-logi pitalebar. Di tahun 2000, Cina merekomen-dasikan standar 3G internasional bernama TD-SDCMA ke ITU. Standar ini kemudian diterima dan menjadi standar internasional bersanding dengan
0 5 10 15 20 25
CHINA INDIA INDONESIA JEPANG KOREA SELATAN
Grafik 1. Tingkat Penetrasi Pitalebar Berbanding Pendapatan Nasional dan Populasi Penduduk (dalam lognormal)
WCDMA (hasil riset negara-negara Eropa) dan CDMA2000 (buatan US). Cina, menjadi satu-satunya negara Asia yang merekomendasikan dan diterima standar teknologi pitalebar-nya secara internasional. Ini berarti bahwa upaya Cina telah dimulai sebelum tahun 2000 melalui riset-riset. Program pembangunan pitalebar di Cina diawali dengan Next Generation Wireless Broadband Porgam di tahun 2006 sebagai bagian “Repelita” versi Cina dengan menitikberatkan pada research and development (RnD) teknologi strategis. Dilanjutkan dengan peluncuran National Wireless Mega Program di tahun 2008 dengan memasukkan teknologi 4G sebagai fokus pembangunan nasional. Dan akhir-nya ditetapkan tahun 2010 sebagai awal NBP mela-lui “Three Network Convergence-National Government Investment”. Cina merumuskan kebijakan-kebijakan tersebut dalam beberapa langkah strategis yang sukses, diantaranya (Kshetri & Nikhilesh, 2007; Nam, Kim, Lee, & Duan, 2009; Yu, Zhang, & Gao, 2012):
ada pra syarat yang dipegang teguh oleh pemerintah Cina terhadap masuknya investor dan dinamisasi pasar TIK.
2) Gencarnya RnD teknologi yang berkaitan dengan pitalebar. Seperti telah diungkapkan sebelumnya, adopsi pitalebar di Cina dimulai dari riset-riset yang mendalam. Sepanjang 2008-2011, Cina telah menghasilkan 141 RnD pitalebar.
3) Cina juga mendorong perusahaan-perusahaan untuk menggunakan inovasi hasil RnD nasional. Termasuk menerapkan standar TD-SDCMA seba-gai standar nasional dan menolak penggunaan standar lainnya. Cina juga mendorong perusahan TIK untuk melebarkan sayap ke dunia interna-sional. Indonesia termasuk negara yang bergan-tung pada teknologi dari perusahaan Cina. Dua perusahaan Cina yang tidak hanya berkembang pesat tetapi juga menopang backbone nasional adalah Huawei dan ZTE.
4) Adanya intervensi pemerintah Cina dalam struk-tur pasar pitalebar. Meski Cina mengundang investor masuk, kendali tetap dipegang oleh pemerintah. Pengambilan keputusan di sektor TIK dipengaruhi secara signifikan oleh perjanjian makro-politik dan acapkali berorientasi pada misi nasional. Di Cina, pembangunan (termasuk struktur pasar) TIK mengikuti kebijakan, technology follow the politic rules.
2. Kebijakan Pitalebar di India
entrepre-neurship. Program kesehatan yang didukung oleh teknologi pitalebar diimplementasikan melalui National Rural Health Mission (NHRM). Pemerintah India berkeyakinan pitalebar dapat menjadi enabler untuk efisiensi dan efektifitas biaya layanan administrasi dan tindakan layanan kesehatan yang menjangkau lebih dari 168 juta penduduk rural. Dan sebagai negara pertanian, pemerintah India merencanakan aplikasi pertanian yang memakan banyak bandwidth (teknologi pitalebar akan sangat menolong) untuk menyokong produktivitas pertanian dan mengalokasikan dana USO untuk pembangunan jaringan dan konten.
3. Kebijakan Pitalebar di Korea Selatan
kematangan-nya sekaligus masa saturasi di tahun 2005. Pasar pitalebar mengalami kejenuhan sehingga diperlukan dobrakan untuk mendorong semangat berkompetisi dan berinovasi. Ketika pasar global masih disibuk-kan dengan teknologi pitalebar, Korea Selatan telah mengambil ancang-ancang teknologi ultra broad-band (tahun 2009). Sehingga kemudian, Korea Sela-tan terkenal sebagai negara yang memperkenalkan konsep ubiquitous country, konsep negara yang ter-hubung jaringan secara luas kapan pun dimana pun layanan apapun. Ki-young (2013) mencatat beberapa kunci sukses pembangunan pitalebar di Korea Selatan yaitu (1) kebijakan yang konsisten dan kuat dimana pemerintah memegang kendali proses pembangunan dari tahap perencanaan hing-ga implementasi, (2) mendorong pasar yang kompe-titif agar pengguna merasakan layanan berkualitas dengan tarif terjangkau, (3) mengupayakan kesen-jangan yang kecil antara infrastruktur dengan la-yanan TI, dan (4) menciptakan jaringan bisnis yang handal dengan membuat kerangka kebijakan yang mendorong investasi. Sedangkan Kim et al (2010) mengkaji kesuksesan pitalebar di Korea Selatan karena adanya kebijakan yang kuat baik pada sisi hulu (supply-side) seperti kebijakan infrastruktur, industri, kompetisi, dan regulasi serta pada sisi hilir (demand-side) berupa pembangunan aplikasi layan-an publik dlayan-an peningkatlayan-an literasi digital.
5. Kebijakan Pitelebar di Indonesia
nama Perpres No 96 Tahun 2014 tentang Rencana Pitalebar Indonesia (RPI).
ber-ada pber-ada kategori kedua (medium-intervention). Dimana pemerintah menyerahkan sepenuhnya penggarapan infrastruktur di perkotaan kepada pasar dan fokus pada penggelaran di daerah minim infrastruktur.
PERPRES 96/2014 TENTANG RPI DAN REGULASI PITALEBAR EKSISTING
cenderung konsumtif. Kondisi ini tidak dapat dibiarkan berlarut-larut sehingga harapan akan Perpres 96/2014 tentang RPI yang membawa perubahan iklim ber-TIK tentulah besar.
Tabel 3. Beberapa Kebijakan Terkait Pitalebar Yang Pernah Dikeluarkan
Penataan Pita Frekuensi Radio Untuk Keperluan Layanan Pitalebar Nirkabel (Wireless Broadband)
PM
NO.08/P/M/KOMI NFO/01/2009
Penetapan Pita Frekuensi Radio Untuk Keperluan Layanan Pitalebar Nirkabel (Wireless Broadbani) pada Pita Frekuensi Radion 2,3 GHz
PM
NO.09/P/M/KOMI NFO/04/2009
Penetapan Pita Frekuensi Radio Untuk Keperluan Layanan Pitalebar Nirkabel (Wireless Broadbani) pada Pita Frekuensi Radion 3,3 GHz
PM
NO.26/P/M/KOMI NFO/06/2009
Penetapan Pita Frekuensi Radio Untuk Keperluan Layanan Pitalebar Nirkabel (Wireless Broadbani) pada Pita Frekuensi Radion 2 GHz
PM
NO.27/P/M/KOMI NFO/06/2009
Penetapan Pita Frekuensi Radio Untuk Keperluan Layanan Pitalebar Nirkabel (Wireless Broadbani) pada Pita Frekuensi Radion 5,8 GHz
wilayah. Pitalebar sendiri didefinisikan sebagai akses internet dengan jaminan konektivitas yang selalu ter-sambung, terjamin ketahanan dan keamanan infor-masinya, serta memiliki kemampuan triple-play dengan kecepatan minimal 2 Mbps untuk akses tetap dan 1 Mbps untuk akes bergerak (RPI, pasal 1). Dalam lampiran penjelas, RPI memiliki visi memberdayakan
masyarakat untuk mengakselerasi transformasi Indo-nesia menjadi negara maju melalui pengembangan dan pemanfaatan pitalebar sebagai pra sarana dan meta-infrastructure. Tujuannya untuk (1) mendorong partum-buhan ekonomi dan peningkatan daya saing nasional, (2) mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan (3) menjaga kedaulatan bangsa. Untuk mewujudkan visi dan tujuan tersebut, pemerintah menetapkan pilar-pilar RPI yang mendukung meliputi prasarana dan keamanan, adopsi dan utilisasi kreatif, kebijakan (legislasi, regulasi, dan kelembagaan), serta pendanaan. Dengan menekankan prinsip dasar univer-sality, ekosistem, kolaborasi dan inklusif, inovasi, dan intervensi.
RPI merupakan kebijakan pembangunan pita-lebar nasional untuk jangka waktu 5 (lima) tahun yaitu dari 2014 hingga 2019. Pemerintah mengharapkan ter-capainya sasaran-sasaran berikut di akhir tahun 2019: 1. Peningkatan jangkauan dan kecepatan akses pra
sarana, dimana:
1 Mbps menjangkau seluruh populasi perkotaan.
b. Perdesaan : tingkat penetrasi 6% dari total populasi, 49% dari total HH dengan kecepatan 10 Mbps. Sasaran akses berkecepatan 1 Mbps menjangkau 52% dari populasi perdesaan. 2. Harga layanan maksimal 5% dari rata-rata
pendapatan per kapita per bulan.
3. Terlaksananya pengembangan di 5 (lima) sektor yaitu e-pemerintahan, e-pendidikan, e-kesehatan, e-logistik, dan e-pengadaan. Kelima sektor ini ditetapkan sebagai sektor prioritas RPI (RPI pasal 7 ayat (1)).
Untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut, pemerintah menetapkan kebijakan utama dan strategis yang meliputi:
1. Mentransformasi KPU/USO menjadi berorientasi pitalebar.
2. Mengoptimalkan pemanfaatan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit sebagai sumber daya terbatas.
3. Mendorong pembangunan akses tetap pitalebar. 4. Mendorong dunia usaha sebagai pelaku utama
dalam pembangunan pitalebar.
5. Membangun prasarana pitalebar di daerah perbatasan negara.
7. Mempercepat implementasi e-pemerintahan dengan mengutamakan prinsip keamanan, intero-perabilitas, dan skema pendanaan yang efektif. 8. Pemerintah sebagai fasilitator yang mendorong
penggunaan pitalebar.
9. Mendorong tingkat literasi TIK.
10. Mendorong kemandirian dan daya saing industri TIK dalam negeri.
11. Mendorong adopsi TIK untuk rumah tangga.
MENUJU KEBIJAKAN PITALEBAR NASIONAL YANG BERKELANJUTAN: SEBUAH REKOMENDASI DEMAND & SUPPLY-SIDE POLICIES
dapat menetapkan terlebih dahulu ekosistem pitalebar yang hendak dibangun dan memastikan terpenuhinya supply-side dan demand-side. Jika pemerintah meng-abaikan salah satu di antaranya, terutama demand-side, dapat dipastikan bahwa sasaran pembangunan pitalebar tidak akan tercapai.
Berkaca pada best practice kelima negara dan rekomendasikan yang ditawarkan oleh sejumlah organi-sasi dan pakar, kebijakan pitalebar yang diterapkan di Indonesia hendaknya memperhatikan kedua sisi tersebut agar visinya tercapai. Ditinjau dari visi dan tujuan yang hendak dicapai, nyata bahwa aspek demand-lah yang hendak ditarget oleh pemerintah. Dimana, pembangunan pitalebar memberikan outcome pada pertumbuhan ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan kedaulatan bangsa. Variabel outcome ini tampaknya bersifat absurd dan intangible. Artinya, pemerintah sulit mengukur tingkat keterca-paian tujuan ini. Seberapa tinggikah pertumbuhan ekonomi yang ingin dicapai? Seberapa tinggikah indeks pembangunan manusia yang diinginkan? Dan seberapa besarkah ancaman kedaulatan yang dapat dihalau melalui pembangunan pitalebar? Mari kita perban-dingkan dengan sasaran yang diinginkan di tahun 2019. Tampak bahwa antara tujuan dan sasaran dalam RPI tidaklah sinkron. Tujuan RPI bersifat demand oriented dengan pengukuran yang tidak jelas sedangkan Sasaran RPI bersifat supply oriented dengan pengukuran yang jelas.
Tujuan RPI Sasaran RPI
Aplikasi layanan di 5 sektor
Supply-side (Sumber: hasil pengamatan terhadap Perpres No 96/2014 tentang RPI)
Ketidaksinkronan juga terasa pada kebijakan utama dan strategis yang akan ditempuh pemerintah untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut. Pemerintah cenderung lebih memperhatikan aspek supply-side dan menjadikan industri (pelaku industri pitalebar) sebagai obyek sasaran kebijakan bukan masyarakat.
Tabel 5. Orientasi Aspek dan Sasaran Kebijakan Utama/Strategis RPI
Kebijakan utama dan strategis
Aspek
kebijakan Sasaran Kebijakan
Mentransformasi KPU/USO menjadi berorientasi pitalebar
Supply-side Pelaku industri pitalebar
Mengoptimalkan pemanfaatan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit sebagai sumber
daya terbatas
Mendorong pembangunan akses tetap pitalebar
Supply-side Pelaku industri
pitalebar Mendorong dunia usaha
sebagai pelaku utama dalam pembangunan pitalebar
Supply-side Pelaku industri
pitalebar
Membangun prasarana pitalebar di daerah perbatasan negara
Supply-side Pelaku industri
pitalebar, masyarakat Memberikan perlindungan
keamanan kepada penyelenggara serta kualitas dan keamanan informasi kepada skema pendanaan yang efektif
Supply-side Pelaku industri
pitalebar, masyarakar
Pemerintah sebagai fasilitator yang mendorong penggunaan pitalebar
Demand-side Pemerintah, pelaku industri pitalebar, masyarakat
Mendorong tingkat literasi TIK
Demand-side Masyarakat
Mendorong kemandirian dan daya saing industri TIK dalam negeri
Demand-side Pelaku industri
pitalebar
Mendorong adopsi TIK untuk rumah tangga
Demand-side Masyarakat
Matriks di atas memperlihatkan masih adanya kesenjangan dalam RPI dimana pemerintah fokus pada infrastruktural atau pada sisi supply. Aspek non-infra-struktural yang menjadi core business dalam RPI sangat sedikit dibahas dan ditetapkan dalam sebuah runtutan langkah strategis. Padahal, visi dan tujuan yang hendak dicapai adalah sisi demand sedangkan supply-side ada-lah jalan untuk mencapainya. Dari segi intervensi, secara tidak langsung RPI menyatakan bahwa pemerin-tah mengintervensi setiap pembangunan pitalebar. Namun, jika melihat kondisi yang tengah berlangsung, dimana pemerintah cenderung lamban bergerak, se-dangkan pasar telah bergerak cukup jauh, RPI ini dapat dikategorikan dalam medium-intervention strategies.
pemerintah, kesehatan, dan pendidikan. Visinya tidak jauh berbeda dengan Indonesia tetapi strategi yang ditempuh berbeda. Hal serupa juga berlangsung di Korea Selatan dan Cina.
Berdasarkan hasil empiris yang telah diungkap-kan sebelumnya, NBP memang memberi kontribusi yang signifikan terhadap penetrasi pitalebar. Akan tetapi, ada variabel lain yang berkontribusi jauh lebih besar dan signifikan, yaitu kualitas pembangunan nasional (setiap peningkatan 1% kualitas pembangunan manusia akan mendorong penetrasi pitalebar hingga 26,47%). Jepang telah menetapkan langkah nyata pembangunan manusianya melalui “IT Human Resources Development Plan” dan Korea Selatan mene-tapkan “10 Milion People IT Education Project”. Keduanya diluncurkan tahun 2000 dan bersifat berkelanjutan. Indonesia belum pernah menetapkan rencana, program, atau kebijakan yang demand-side oriented seperti ini. Program-program pembangunan manusia melalui TIK masih bersifat infrastruktur yang supply-side oriented seperti PLIK (Pusat Layanan Internet Kecamatan) dan MPLIK (Mobil PLIK) untuk masyarakat desa serta OSOL (One School One Lab) untuk sekolah. Program ini memberikan jaringan dan komputer tanpa adanya program pemberdayaan masyarakat. RPI ini baik, tetapi jika tetap dijalankan tanpa program dan tindakan nyata turunan yang menyentuh sisi demand, maka harapan tercapainya visi tidak akan terwujud. Hanya sasaran-sasaran kebijakan infrastruktural yang akan tercapai.
model kebijakan pitalebar yang baik menurut Kim et al (2010) perlu menetapkan pilar yang memfasilitasi de-mand-side yaitu accessibility (ketersediaan akses), affordability (keterjangkauan akses), dan attractiveness (layanan aplikasi yang menarik). Berdasarkan model ekosistem dan demand-side pitalebar Kim et al (2010), berikut adalah rekomendasi supply-side dan demand-side untuk memperkaya RPI.
Tabel 6. Rekomendasi Kebijakan RPI Berbasis Supply-Demand Side dan Model Virtous Circle Kim
et al (2010)
Virtuos Circle of Broadband
Strategi Kebijakan Orientasi Keterse diaan layanan pitalebar dan sumber daya
Services Menyediakan jaringan pitalebar di sekolah, pemerintahan, dan
Demand-side
terjangkau Menyediakan program-program literasi digital bagi masyarakat
(Sumber: hasil pengamatan dan analisis terhadap Perpres No 96/2014 tentang RPI)
PENUTUP
mendapatkan impak positif dalam berbagai sektor di sisi lain. Meski demikian, NBP tidak menjadi satu-satunya faktor yang menstimulasi secara signifikan. Ada faktor peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berkontribusi jauh lebih besar (hingga mencapai 26,47%). Hasil empiris ini mengindikasikan perlunya mempertemukan sisi supply dan sisi demand dalam rencana pitalebar nasional jika menginginkan tercapai-nya kemanfaatan secara nasional. Jika mengacu pada best experience yang diimplementasikan di Cina, Korea Selatan, dan Jepang, demand side merupakan bidang garap utama pembangunan pitalebar. Supply side merupakan jalan pembuka bagi pembangunan pitalebar. Sedangkan demand side merupakan faktor kunci kemanfaatan nasional pembangunan pitalebar yang meliputi layanan (services), konten dan aplikasi (application), dan pengguna (users). Dengan adanya per-paduan dari kedua sisi ini, tujuan pembangunan pitalebar Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan menjaga kedaulatan bangsa dapat terwujud.
Referensi
Bojnec, S., & Imre, F. (2012). "Broadband avaibility and economic growth”. Industrial Management & Data Systems, 112(9), 1292-1306.
Journal of Network and Computer Applications, 32, 795-807.
Cava-Ferreruela, I., & Alabau-Munoz, A. (2006). "Broadband policy assessment: A cross-national empirical analysis". Telecommunications Policy, 30, 445-463.
Doong, S. H., & Ho, S.-C. (2012). "The impact of ICT development on the global digital divide". Electronic Commerece research and Application, 11, 518-533.
Dunn, W. N. (1991). Pengantar Analisis Kebijakan Publik (2 ed.). (S. Wibawa, D. Asitadana, A. H. Hadna, & E. A. Purwanto, Trans.) Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Dwidjowijoto, R. N. (2006). Kebijakan Publik Untuk Negara-Negara Berkembang. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Frieden, R. (2005). "Lesson From Broadband Develop-ment in Canada, Japan, Korea, and the US". Journal of Telecommunication Policy, 29, 595-613. ITU. (2013). Planning for Progress, Why National
Broad-band Plans Matter. Geneva, Switzerland: ITU. Katz, R. (2011). The Impact of Broadband on the
Economy: Research to Date and Policy Issues. ITU. Kim, Y., Kelly, T., & Raja, S. (2010). Building broadband: strategies and policies for the developing world. Washington, DC: The World Bank.
Koutrompis, P. (2009). "The economic impact of broadband on growth: A simultaneous approach". Journal of Telecommunication Policy, 33, 471-485. Kshetri, N., & Nikhilesh, D. (2007). "Drivers Of The
Broadband Industry In China And India". OTC. Lee, S., & Brown, J. S. (2008). "Examining Broadband
Nam, C., Kim, S., Lee, H., & Duan, B. (2009). "Examining the Influencing Factors and the Most Efficient Point of Broadband Adoption in China". Journal of Research and Practice in Information Technology, 41(1), 25-38.
Ng, T. H., Lye, C. T., & Lim, Y. S. (2013). "Broadband penetration and economic growth in ASEAN countries: a generalized method of moments approach". Applied Economics Letters, 20(9), 857-862.
Paleologos, J. M., & Palemis, M. L. (2013). "What Drives Investment in the Telecommunication Sector? Some Lessons from the OECD Countries". Journal of Economic Modelling, 13, 49-57.
Shirazi, F., Gholami, R., & Higon, D. A. (2009). "The impact of information and communication technology (ICT), education and regulation on economic freedom in Islamic Middle Eastern countries". Information & Management, 45, 425-433.
Widiyastuti, I. (2013). "Impak Penetrasi Fixed Broadband Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia: Analisis Runtun Waktu 2001-2010". Proceeding Seminar Ilmu Pengetahuan Teknik 2013 (pp. 298-303). Yogyakarta: Pusat Penelitian Elektronika Telekomunikasi PPET-LIPI.
Winarno, B. (2013). Kebijakan Publik Teori, Proses, dan Studi Kasus. Yogyakarta: CAPS (Center of Academic Publishing Services).
Yu, J., Zhang, Y., & Gao, P. (2012). "Examining China's technology policies for wireless broadband infrastructure". Telecommunication Policy, 36, 847-857.
Peraturan Presiden No 96 Tahun 2014 tentang Rencana Pitalebar 2014-2019
Lampiran Peraturan Presiden No 96 Tahun 2014 tentang Rencana Pitalebar 2014-2019
Sumber Bahan Presentasi
Fujino, Masaru. 2009. National Broadband Policies: 1999-2009, Japan. Counselor for Communications Policy.
Ki-young, Ko. 2013. Case Study-Korea, Opportunities for BB Connectivity in APAC.
Raud, Muhammad Ridwan. ___. Acceleration Policy Development Broadband in Indonesia. Directorate of Telecommunications. Kementerian Komunikasi dan Informatikas