Modul 6
Untuk Meningkatkan
Ketahanan dan Kehati-hatian Keluarga
Untuk Para Calon Suami, Calon Istri, Suami atau Istri
Oleh
Khoiril Arief Saleh
Kewajiban Bersama Suami-Istri
Oleh : Khoiril Arief Saleh
Jl. Bolavoli 18 Arcamanik, Bandung. Telp. (022)7102411
Kewajiban ini merupakan prioritas kedua setelah kewajiban utama dilaksanakan. Kewajiban ini dilakukan secara bersama-sama dan serasi baik olah suami ataupun istri.
Tabel
RINGKASAN KEWAJIBAN SUAMI DAN ISTRI
DALAM MEMBANGUN KELUARGA
KEWAJIBAN UTAMA
KEWAJIBAN SUAMI TERHADAP ISTRI KEWAJIBAN ISTRI TERHADAP SUAMI Memberi nafkah lahir dan batin Taat, patuh dan menjaga harta suami (QS. 2:233, 223; QS. 4:34; QS. 65:6-7) (QS. 4:34)
Mendidik dan memimpin Taat dan patuh (QS. 4:34; QS. 26:214-215) (QS. 4:34)
Menggauli dengan ma’ruf (baik) Melayani sebaik-baiknya (QS. 4:19; QS. 2:187, 222-223)
Tidak membuka rahasia istri (QS. 4:34) Tidak membuka rahasia suami (QS. 4:34) Tidak boleh menyakiti istri Menutup aurat (QS. 24:31)
Suami yang paling baik adalah yang paling Tidak boleh bepergian dan berpuasa Baik kepada istrinya tanpa seizin suami
KEWAJIBAN BERSAMA SUAMI-ISTRI Syukur, bila mendapat nikmat. (QS. 14:17). Sabar, bila memperoleh kesulitan. (QS. 31:17). Tawakal, bila mempunyai rencana. (QS. 3:157).
Musyawarah, dalam menyelesaikan segala masalah. (QS. 3:159). Tolong menolong dalam hal kebaikan. (QS. 5:2).
Memenuhi janji, bila berjanji. (QS. 5:2).
Segera bertaubal, bila terlanjur berbuat salah. (QS. 3:135). Saling nasehat menasehati. (QS. 103:1-3; 90:17).
Saling memberi maaf dan meminta maaf, bila bersalah. (QS. 3:134). Saling selalu berbaik sangka. (QS. 49:12).
Mempererat silaturahmi keluarga suami dan istri. (QS. 49:13). Mendirikan shalat berjamaah dan tahajjut. (QS. 17:79).
Melakukan shalat istikharah, bila menghadapi kebimbangan dalam memilih. Mencintai dan menghormati keluarga suami dan istri seperti keluarga sendiri.
Memberi kesempatan menambah ilmu dan berbuat baik kepada masyarakat. Melaksanakan berbagai kewajiban lain dan menjauhi berbagai dosa. (QS. 66:6).
Berbeda dengan kewajiban utama suami terhadap istri dan kewajiban utama istri terhadap suami, dalam menjalankan kewajiban bersama suami-istri dilandasi dengan persamaan hak antara suami dan istri. Disini kata "saling" mendominasi pelaksanaannya. Saling sabar, saling bersyukur, saling musyawarah, saling menghormati, saling tolong-menolong dan lain sebagainya.
Dalam hal ini tidak akan diuraikan panjang lebar karena dalam kehidupan masyarakat modern saat ini telah banyak memahami kewajiban-kewajiban yang berlandaskan pada persamaan hak. Tidak ada kesalahan persepsi sama sekali, bahkan budaya barat yang akhir-akhir ini merembes ke Indonesia lebih banyak mendorong kearah tersebut.
1. Kewajiban Bersama
Garis besar kewajiban bersama suami-istri telah disajikan pada Tabel. Dasar dari kewajiban bersama tersebut diterangkan secara singkat sebagai berikut :
1. Musyawarah dalam menyelesaikan segala persoalan. Al-Quran menjelaskan dalam surat 3 ayat 159 yang artinya sebagai berikut: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu... (QS. 3:159)
2. Tolong menolong dalam hal kebaikan. Lihat penjelasan sebagian dari surat 5 ayat 2 yang artinya sebagai berikut: ... Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. 5:2) 3. Memenuhi janji apabila berjanji. Aturan tersebut ditunjukkan dalam Al-Quran yang artinya
sebagai berikut: Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu... (QS. 5:1)
4. Segera bertaubat, apabila terlanjur berbuat dosa. Perintah tersebut ditunjukkan dalam Al-Quran yang artinya sebagai berikut: Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
(QS. 3:135)
5. Saling nasehat-menasehati. Hal tersebut dijelaskan dalam beberapa rangkaian ayat dalam surat 103 yang artinya sebagai berikut: Demi masa. (QS. 103:1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian (QS. 103:2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. 103:3). Selain itu ditunjukkan juga pada surat 90 ayat 17 yang artinya sebagai berikut : Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. (QS. 90:17)
6. Saling memberikan maaf dan minta maaf bila bersalah. Hal tersebut terlihat dalam Al-Quran surat 3 ayat 134 yang artinya sebagai berikut: (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. 3:134)
jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 49:12)
8. Mempererat silaturahmi antara keluarga suami-istri. Suami-istri atau suami bersilaturahmi kekeluarga istri, dan sebaliknya suami-istri atau istri bersilaturahmi kekeluarga suami. Al-Quran mengatakan: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. 49:13)
9. Mendirikan shalat berjamaah dan tahajjud. Hadis berikut menjelaskan tentang shalat berjamaah tersebut sebagai berikut: Rasulullah bersabda " shalat berjamaah lebih utama duapuluh tujuh derajat dari pada shalat sendiri-sendiri". (hadis riwayat Mutafaq 'alaih). Allah berfirman: Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.
(QS. 17:79).
10. Melakukan shalat istikharah, bila menghadapi kebimbangan dalam memilih sesuatu. Rasulullah memberi petunjuk dalam hadis sebagai berikut: Rasulullah bersabda "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, pilihkanlah bagiku mana yang baik menurut ilmu-Mu, dan aku mohon kepada-Mu kekuatan dengan kodrat-ilmu-Mu, dan aku memohon dengan karunia-Mu yang besar, karena sesungguhnya Engkaulah yang sanggup sedang aku tiada sanggup, Engkaulah yang mengetahui sedang aku tiada mengetahui dan Engkaulah yang mengetahui segala perkara yang gaib. Ya Allah, jika memang telah Engkau ketahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusan agamaku dan penghidupanku, maka takdirkanlah ia untukku dan mudahkan ia bagiku, serta berkatilah bagiku di dalamnya. Tetapi jika Engkau ketahui bahwa perkara itu buruk bagiku dalam agamaku dan penghidupanku serta akibat urusanku, maka hindarkanlah ia bagiku dan jauhkan pula aku dari padanya. Dan takdirkanlah kebaikan bagiku dimana saja adanya, lalu jadikanlah hatiku merindlainya". (hadis riwayat Bukhori).
11.Mencintai dan menghormati keluarga istri atau suami sebagaimana mencintai keluarga sendiri. Hal tersebut dijelaskan dalam hadis berikut: Rasulullah bersabda: "Tidak sempurna iman seseorang diantara kamu, sehingga mencintai saudaranya (keluarga, sahabat dan sebagainya) seperti mencintai dirinya sendiri".
12. Memberikan kesempatan kepada suami atau istri untuk menambah ilmu pengetahuan dan
berbuat baik kepada masyarakat. Suami harus memberi kesempatan tersebut pada istrinya, demikian juga istri harus memberi kesempatan tersebut kepada suaminya. Kesempatan tersebut bisa diwujudkan secara lesan, bantuan langsung, tindakan maupun dorongan.
14.Mendidik anak agar menjadi anak saleh. Kewajiban bersama suami-istri untuk mendidik anak merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Maju mundurnya generasi yang akan datang tergantung pada pendidikan orang-tua masing-masing saat ini.
Untuk melaksanakan segala kewajiban baik kewajiban suami terhadap istri, kewajiban istri terhadap suami, maupun kewajiban bersama suami-istri harus didasari landasan sebagai berikut: 1. Tawaqal, bila mempunyai rencana. Al-Quran menjelaskan hal tersebut dalam surat 3 ayat
157 dan 159 sebagai berikut: Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan. (QS. 3:157). Selain itu ayat berikut juga menjelaskan: ...Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS. 3:159)
2. Syukur, bila mendapat nikmat. Kewajiban bersyukur tersebut dijelaskan dalam Al-Quran yang artinya sebagai berikut: Dan (ingatlah juga), takala Rabbmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. 14:7) 3. Sabar, bila memperoleh kesulitan. Hal tersebut dijelaskan dalam Al-Quran yang artinya
sebagai berikut: Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. 31:17). Sabar tidak berarti hanya sekedar menerima saja tetapi mempunyai arti yang dalam. Sabar dalam aturan manual manusia mempunyai arti yang sangat luas antara lain ulet, tekun dan tabah (tidak cepat pupus asa).
Biasanya kewajiban bersama suami-istri berupa musyawarah dan saling menasehati, dapat menggeser kewajiban-kewajiban utama. Budaya barat yang penuh dengan slogan persamaan hak, demokrasi dan "emansipasi" mendorong penerapan musyawarah dan saling menasehati
menjadi primadona dan dapat menyingkirkan kewajiban utamanya. Penerapan tersebut tidak akan menimbulkan masalah bila didampingi dengan penerapan tawakal, sabar, syukur, dan saling berbaik sangka secara benar. Bila tidak didampingi hal-hal tersebut, tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan penurunan kerukunan keluarga. Tidak jarang suatu keluarga dapat menaikkan kembali nilai kerukunan keluarganya dengan mengandalkan penerapan
tawakal, sabar dan syukur yang sangat dalam.
2. Himbauan Dalam Melaksanakan Musyawarah Dan Saling Menasehati
Kesuksesan pelaksanaan musyawarah dan saling nasehat-menasehati sangat tergantung dari sifat toleransi, tidak mementingkan diri sendiri, serta penghayatan tentang keadilan dari suami maupun istri. Penerapan hal-hal tersebut didekati dari sudut psikologi. Penjelasannya diuraikan dalam subbagian-subbagian berikut.
2.1. Toleransi Dan Tidak Mementingkan Diri Sendiri
Tidak jarang suatu musyawarah yang tidak sukses berkembang menjadi saling menyalahkan atau saling menuduh lawan bicaranya. Menyangka lawan bicaranya mementingkan diri sendiri atau egois. Hal tersebut bisa terjadi berkali-kali. Bila tidak ada penengah………susah jadinya. Mungkin bisa menimbulkan dampak lain yang tidak diinginkan bersama. Bila hal tersebut terjadi berulang-ulang mungkin ada sesuatu penyebab lain yang harus diselesaikan secepatnya.
Besar kemungkinan khasus tersebut diatas disebabkan oleh sifat pribadi suami atau istri. Untuk membantu mengatasi masalah tersebut disarankan untuk melakukan tes tentang toleransi dan tidak mementingkan diri sendiri. Tes tersebut dapat dilakukan sendiri dengan mengikuti buku Tes Kepribadian yang disusun oleh Peter Lauster,1997, atau pengarang-pengarang lainnya. Hal itu penting untuk mengetahui diri anda, sejauh mana tingkat toleransi dan tidak mementingkan diri sendiri pada diri anda. Dari hasil tes tersebut diharapkan dapat bercermin pada diri sendiri, sekaligus mengetahui tingkat pasangannya (suami atau istri). Bila anda termasuk pada tingkat lemah, silahkan menyadarinya dalam setiap musyawarah dan berusahalah untuk meningkatkannya.
2.2. Adil
Untuk melaksanakan kewajiban bersama berupa musyawarah dan saling nasehat-menasehati, perlu menghayati pengertian adil, baik pada suami maupun pada istri. Allah berfirman dalam Al-Quran sebagai berikut :
1. Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (Qs. 4:135)
2. Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku
adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. 5:8)
3. Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabatmu, dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat, (Qs. 6:152)
4. Katakanlah: "Rabb-ku menyuruh menjalankan keadilan". Dan (katakanlah): "Luruskan muka (diri) mu di setiap sholat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya". (Qs. 7:29)
5. Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada ummat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan. (Qs. 7:181)
7. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Qs. 16:90)
8. Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. 33:5)
9. Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (Qs. 38:26)
10. Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya-lah kembali (kita)". (Qs. 42:15)
11. Dan tegakkanlah timbangan dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (Qs. 55:9)
Dari firman-firman tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kita diperintah untuk bertindak adil dan adil itu sendiri artinya bukan menyamaratakan segala sesuatu. Bukan mengikuti slogan “sama rata dan sama rasa”. Adil adalah meletakkan segala sesuatu sesuai dengan tempatnya masing-masing. Keadilan bisa tidak terlaksana bila hati tertutup oleh nafsu. Dalam menerapkan keadilan pada saat melakukan musyawarah dan saling nasehat-menasehati, masing-masing pelaku harus dapat memposisikan dirinya sendiri-sendiri. Mengetahui tentang kemampuan diri sendiri dan mengetahui pula kemampuan pasangannya. Mengetahui keperluan diri sendiri dan mengetahui pula keperluan pasangannya. Hal ini perlu diketahui karena hasil musyawarah dan sanehat-menasehati tidak akan optimal bila dilakukan tidak sesuai dengan posisinya masing-masing.
Berikut ini disajikan beberapa contoh kekeliruan menerapkan pengamalan musyawarah dan saling nasehat-menasehati dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh pertama
Contoh kedua
Seorang pejabat atau pengusaha kadang-kadang mempunyai warna aneh dalam mengambil beberapa keputusan karena suaminya atau istrinya ikut mempengaruhinya. Suami atau istri penjabat atau pengusaha tersebut secara tidak sadar merasa harus mempunyai andil dalam proses mengambil keputusan meskipun tidak mempunyai kepiawaian dalam hal tersebut. Dalam kasus ini profesionalisme relatif ditumpangi nilai-nilai kebersamaan dan toleransi suami-istri. Seperti halnya dalam contoh pertama biasanya hal tersebut terjadi karena proses musyawarah dan saling menasehati dalam keluarga.
Contoh ketiga
Seorang ekonom belum tentu dapat menerapkan ilmunya sepenuhnya dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari. Kadang-kadang harus melakukan hal-hal yang tidak efisien dalam rumah tangga. Kondisi tersebut kadang-kadang harus ditempuh karena selain dia harus pertimbangkan ilmu ekonomi juga harus dapat menampung aspirasi suami atau istrinya yang bukan seorang ekonom. Penurunan kualitas pengambilan keputusan sangat mungkin terjadi karena harus menampung nilai–nilai kebersamaan dan toleransi keluarga. Kondisi ini biasanya juga disebabkan oleh proses musyawarah dan saling menasehati dalam keluarga.
Masih sangat banyak cantoh-contoh lain yang tidak mungkin ditulis semuanya dalam buku ini. Dari contoh kejadian-kejadian tersebut diatas diketahui bahwa tidak sedikit para suami atau para istri yang tidak dapat berbuat adil. Keadilan lebih ditutupi dengan persamaan hak suami ataupun istri. Banyak mereka yang tidak dapat menerapkan keadilan dalam kasus-kasus ini. Hal itu disebabkan karena mereka berpersepsi bahwa dalam segala bidang suami dan istri mempunyai hak yang sama. Mereka benar-benar tidak sadar bahwa sebenarnya mereka telah melakukan hal yang berlebihan dan tidak mengetahui posisi dirinya sendiri, apalagi posisi suami atau istrinya. Bila mereka mengetahui posisi dirinya dan posisi pasangannya, tentunya dalam contoh pertama sang suami atau sang istri harus menyerahkan sepenuhnya pada yang lebih ahli tanpa melihat hak-hak yang dimilikinya. Demikian juga yang terjadi pada contoh kedua dan ketiga.
Untuk menghindari ketidak adilan dalam menerapkan musyawarah dan saling nasehat-menasehati disarankan menggunakan landasan berpikir sebagai berikut :
1. Hendaknya suami atau istri harus berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara. Jangan melakukan hal sebaliknya, berbicara dahulu dipikir kemudian. Jangan sekali-kali berpikiran : “yang penting ngomong, punya mulut kenapa tidak boleh ngomong”. Rasulullah bersabda bahwa banyak orang masuk neraka karena tidak bisa menjaga mulutnya. Rasulullah juga pernah bersabda bahwa lebih baik diam dari pada berbicara hal-hal yang salah, berbicaralah hal-hal yang benar.
2. Hendaklah mengkoreksi diri sendiri terlebih dahulu agar melakukan kewajiban-kewajiban yang bersangkutan dengan hal yang akan dimusyawarahkan atau dinasehatkan. Jangan mengoreksi suami atau istri sebelum mengoreksi kewajiban sendiri terlebih dahulu.
3. Hendaklah mempertimbangkan posisi dan kemampuan diri sendiri dalam bidang yang akan dimusyawarahkan atau dinasehatkan. Misalnya dalam bidang dapur, dengan sendirinya istri mempunyai posisi yang lebih tinggi dibanding suami dan sebaliknya dalam bidang mencari nafkah keluarga, suami lebih tinggi posisinya dibanding istri. Kemampuan dan kepiawaian istri didapur mesti lebih tinggi dibanding kepiawaian suami didapur.
Untuk melaksanakan keempat hal penting tersebut diatas memang relatif sulit, apalagi bila sudah tercampur dengan emosi. Kepiawaian tersebut dapat diperoleh dengan latihan. Bila belum dapat melakukan keempat hal tersebut, minimal suami atau istri harus berusaha memenuhi hal pertama. Berpikirlah sebelum berbicara jangan berbicara dahulu kemudian dipikir.