Proposal ini disusun untuk diajukan dalam program

19 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PEMBERIAN BAHAN TERTULIS SEBELUM PROSES

PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA

INDONESIA SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN

PARTISIPASI AKTIF SISWI DALAM

PEMBELAJARAN

DENGAN METODE DISKUSI DAN TANYA JAWAB

Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Proposal ini disusun untuk diajukan dalam program

Seleksi Hibah Bersaing Penelitian Tindakan Kelas yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta

d

isusun oleh

Agustinus Suyoto, S.Pd

SMA STELLA DUCE 2 YOGYAKARTA

JL. DR. SUTOMO 16 TELP. (0274) 513129

(2)

Judul Penelitian :

Pemberian Bahan Tertulis Sebelum Proses Pembelajaran Bahasa dan Sastra

Indonesia Sebagai Upaya Peningkatan Partisipasi Aktif Siswi dalam

Pembelajaran dengan Metode Diskusi dan Tanya Jawab.

Mata Pelajaran :

Bahasa dan Sastra Indonesia

Tim Peneliti :

1. Agustinus Suyoto, S.Pd. (ketua tim)

Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Stella Duce 2 Yogyakarta 2. Dra. Th. M. Issri Windarjati. (anggota)

Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Stella Duce 2 Yogyakarta

Lokasi Penelitian:

SMA Stella Duce 2 Yogyakarta, Jl. Dr. Sutomo 16 Yogyakarta

Lama Penelitian :

3 bulan

Biaya penelitian yang diusulkan :

Rp 1.900.000,00

Yogyakarta, 29 April 2006 Ketua Peneliti

Agustinus Suyoto, S.Pd

Menyetujui, Kepala Sekolah

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Walaupun masih menjadi perdebatan berkepanjangan, perubahan paradigma pendidikan yang dimulai dengan pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

atau Kurikulum 2004 terus bergulir. Perubahan ini diperlukan untuk menjawab tantangan perkembangan zaman dan peningkatan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia Indonesia secara umum.

Konsekuensi logis perubahan tersebut ternyata tidak sekedar menyentuh materi pembelajaran, melainkan juga berkaitan erat dengan berbagai perubahan paradigma. Guru yang pada mulanya bertindak sebagai center proses pembelajaran diubah menjadi fasilitator pembelajaran. Buku pelajaran yang pada mulanya menjadi sumber utama pembelajaran diubah menjadi salahsatu sumber pembelajaran, yang artinya masih banyak sumber belajar lainnya. Sistem ujian yang sentralistik secara konseptual diserahkan kembali kepada sekolah dan guru yang bersangkutan.

Wujud konkret perubahan pola pembelajaran di kelas adalah terjadinya pergeseran dominasi aktivitas belajar mengajar. Jika pada mulanya guru lebih aktif dalam memberikan pembelajaran, sekarang siswi dituntut lebih aktif mencari dan menemukan sendiri konsep-konsep yang perlu mereka pelajari. Guru lebih banyak memosisikan diri sebagai fasilitator dan evaluator daripada sebagai pemberi pengetahuan.

Perubahan pola pembelajaran tersebut sejalan dengan konsep belajar menurut paham konstruktivisme. Kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif di mana para pelajar membangun sendiri pengetahuannya. Pelajar harus memiliki pengalaman belajar dengan membuat hipotesis, menguji hipotesis, memecahkan persoalan, mengungkapkan pertanyaan dan sebagainya. (Suparno, 1997: 62).

(4)

Tanggapan siswa atas perubahan metode pembelajaran ini tampaknya juga sangat bagus. Hal itu terbukti ketika siswa diberi kesempatan berdiskusi, mereka terlihat gembira dan antusias, bahkan kadang-kadang mereka membutuhkan waktu cukup banyak untuk berdiskusi. Demikian juga ketika siswa diberi tugas mencari jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh guru. Para siswi terlihat sibuk mencari jawabannya di buku pelajaran ataupun di buku-buku yang ada di perpustakaan.

Menurut Atwi Suparman (1997: 174) pada prinsipnya metode diskusi sangat bermanfaat untuk mengembangkan daya kreatif siswa dalam menemukan ide-ide baru. Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan menemukan ide-ide baru, nilai baru dan sipak positif terhadap ide sangat diperlukan. Namun demikian, model diskusi ini dapat mudah menyimpang ke arah lain sehingga tidak menghasilkan sesuatu dan malah membuang-buang waktu saja.

Akhir-akhir ini sudah mulai muncul gejala kurang efektifnya metode diskusi dan tanya jawab dalam pembelajaran. Hal itu terbukti dari kurang memuaskannya hasil diskusi siswi dan kurang lancarnya aktivitas tanya jawab di kelas. Ssiswi hanya melaporan hasil diskusi yang sangat singkat dan dangkal. Hasil diskusi maupun hasil pencarian jawab dari berbagai sumber tidak sebanding dengan waktu yang mereka minta untuk melaksanakan diskusi maupun mencari jawaban dari berbagai buku sumber.

Jika hal ini tidak segera diatasi, akan terjadi dilema dalam diri guru. Guru dihadapkan pada dua pilihan pahit sekaligus. Pilihan pertama adalah kembali menggunakan metode ceramah (menjelaskan) agar materi pembelajaran yang seharusnya dikuasai siswi dapat tercapai. Hal ini berarti guru tidak melakukan perubahan pola pembelajaran. Pilihan kedua adalah tetap menggunakan metode diskusi dan tanya jawab dengan konsekuensi target pencapaian kurikulum terancam tidak tercapai.

(5)

Untuk membuktikan dugaan di atas perlu dilakukan sebuah penelitian tindakan kelas agar metode diskusi dan tanya jawab yang sekarang sedang menjadi trend dan mampu menggeser dominasi guru dalam proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien dan mampu mengantarkan siswi pada penguasaan materi yang lebih mendalam dibandingkan dengan metode-metode konvensional seperti ceramah dan mencatat.

B. Rumusan Masalah

Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian tindakan kelas ini adalah

1. Apakah pemberian bahan-bahan tertulis sebelum proses pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia mampu meningkatkan partisipasi aktif siswi bertanya jawab di kelas?

2. Apakah pemberian bahan-bahan tertulis sebelum proses pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia mampu meningkatkan kualitas hasil diskusi siswi?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah

1. Memperoleh data pengaruh pemberian bahan-bahan tertulis sebelum proses pembelajaran terhadap peningkatan partisipasi aktif siswi dalam bertanya jawab di kelas.

2. Memperoleh data pengaruh pemberian bahan-bahan tertulis sebelum proses pembelajaran terhadap kualitas hasil diskusi siswi.

D. Manfaat Hasil Penelitian

Jika permasalahan-permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian tindakan kelas ini dapat terjawab, ada sejumlah manfaat yang dapar diperoleh.

(6)

2. Bagi siswi. Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran bagi siswi tentang sumbangan persiapan belajar dalam peningkatan prestasi belajar.

3. Bagi sekolah. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi sekolah dalam mempersiapkan sarana/prasarana pendukung proses pembelajaran seperti bahan bacaan di perpustakaan, penyediaan saluran akses data, dan sebagainya.

4. Bagi guru pada umumnya. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan akan pentingnya pemberian materi tertulis sebagai pengganti ceramah agar fokus pembelajaran tetap ada pada siswa.

(7)

BAB II

KERANGKA TEORITIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Kerangka Teoritik

Henri Guntur Tarigan (1993:1) mengatakan bahwa keterampilan berbahasa mempunyai empat komponen yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keempat komponen tersebut memiliki hubungan yang erat. Masing-masing komponen juga memiliki keterkaitan yang erat dengan proses berpikir.

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang bertujuan mengantarkan para siswa untuk menguasai keterampilan berbahasa juga mengajarkan keempat komponen tersebut. Secara tegas dituliskan dalam kurikulum bahwa ada empat aspek keterampilan berbahasa yang perlu dipelajari oleh siswa.. Keempat aspek tersebut adalah membaca, menulis, berbicara, dan menyimak.

Khaerudin Kurniawan (1992:71-80) berpendapat bahwa orientasi pengajaran bahasa adalah agar siswa mampu berkomunikasi dengan bahasa, atau siswa terampil berbahasa Indonesia. Hal ini sesuai dengan fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia. Untuk itu, siswa harus menyadari adanya faktor-faktor penentu dalam tindak berbahasa.

Dalam hal aktivitas pengajaran, Kurniawan (1992:71-80) berpendapat bahwa aktivitas yang dilakukan pada saat mengajarkan materi harus diarahkan pada komunikasi yang sebenarnya. Materi juga harus dikaitkan dengan makna yang mencerminkan suatu ide, konsep, makna yang sesuai dengan latar belakang siswa. Materi juga harus sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Untuk siswa sekolah menengah fungsi penalaran harus diprioritaskan. Kesempatan berlatih berbahasa harus diperluas.

(8)

Dalam berkomunikasi, ada dua hal yang dibutuhkan. Dua hal tersebut adalah kemampuan berkomunikasi (menyampaikan gagasan) dan materi yang akan dikomunikasikan (pengetahuan, gagasan, dan sejenisnya). Jika seseorang memiliki kemampuan berkomunikasi cukup bagus tetapi tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang topik yang dikomunikasikan, proses interaksi akan terhambat. Demikian juga jika seseorang hanya memiliki pengetahuan dan gagasan tetapi tidak memiliki keterampilan berkomunikasi yang cukup, proses interaksi juga akan terhambat (Sukadi, 1993 :48)

Baik keterampilan berkomunikasi maupun kemampuan menyusun pengetahuan untuk berkomunikasi perlu dibangun dalam pembelajaran bahasa dan sastra indonesia. Hal ini berkaitan erat dengan tujuan akhir pembelajaran bahasa yang telah dikemukakan di atas yaitu dikuasainya keterampilan berkomunikasi. Hal itu hanya dapat dicapai jika dalam proses pembelajaran siswa mendapat kesempatan mengaktualisasikan diri dalam menggunakan bahasa. Kesempatan mengaktualisasikan diri dalam menggunakan bahasa tersebut dapat terlaksana jika guru membatasi diri untuk tidak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berceramah.

Alternatif metode yang dimungkinkan untuk memberikan kesempatan pada siswi dalam menggunakan bahasa secara aktif adalah dengan metode diskusi, tanya jawab, presentasi, dan sejenisnya. Dalam metode diskusi siswa dituntut memiliki kemampuan berkomunikasi dengan teman-temannya sekaligus kemampuan mengungkapkan gagasan yang berkualitas. Dalam metode tanya jawab siswi dituntut memiliki pengetahuan tentang hal yang dibicarakan.

Maka tidak salah jika seiring dengan perubahan paradigma pendidikan dewasa ini para guru mulai menggunakan metode diskusi dan tanya jawab dan secara bertahap meninggalkan metode ceramah. Pilihan metode yang memberi peluang bagi siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran ini kiranya akan semakin mengasah kemampuan siswa dalam berkomunikasi dan mengkomunikasikan gagasan-gagasannya. Jika dapat dipertahankan dan dikembangkan secara terus menerus, besar harapannya akan dihasilkan generasi muda yang memiliki kemampuan tinggi dalam berbahasa baik berbahasa secara lisan maupun secara tertulis.

(9)

peluang bagi guru dalam mengatur pola pembelajaran secara bebas. Masalah Ujian Nasional, Ulangan Umum Bersama, Target Kurikulum dan sebagainya mau tidak mau merisaukan guru ketika ditemui kenyataan bahwa dengan metode diskusi dan tanya jawab proses penyelesaian materi pelajaran berjalan lambat. Jika guru menggunakan kedua metode di atas siswi memibutuhkan waktu yang lebih banyak untuk menyelesaikan suatu pokok bahasan.

Jika dicermati lebih lanjut, lambat dan dangkalnya penguasaan materi oleh siswa jika guru menggunakan metode diskusi dan tanya jawab dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, kurang tersedianya bahan bacaan (buku sumber) yang mendukung diskusi siswi. Ketika siswa mendiskusikan suatu masalah mereka dituntut mencari berbagai argumen mendukung dari berbagai sumber. Logisnya, sumber tersebut tidak berasal dari gurunya melainkan dari berbagai buku baik buku referensi, ensiklopedia, maupun majalah. Namun, sebagian besar sekolah kurang memperhatikan hal ini sehingga buku sumber yang ada di perpustakaan sangat terbatas baik dari segi jumlahnya maupun variasi bukunya. Akibatnya, hasil diskusi sangat dangkal dan kurang lengkap.

Kedua, rendahnya minat baca siswa. Motivasi para siswa untuk membaca buku sangat rendah. Hal ini mengakibatkan minimnya pengetahuan siswa. Karena pengetahuan siswa minim, kemampuan siswa dalam menganalisis sesuatu menjadi sangat dangkal yang pada akhirnya menjadikan diskusi kurang berkembang. Efek lainnya adalah siswa cenderung menggunakan kesempatan diskusi untuk mengobrol atau membicarakan hal-hal lain di luar pokok persoalan. Pada akhirnya hasil diskusi yang dilaporkan pada guru kurang berkualitas.

Ketiga, mentalitas siswi. Sebagian besar siswa berangkat ke sekolah tanpa persiapan yang memadai. Persiapan yang dimaksud adalah persiapan materi pelajaran. Ketika bertemu dengan guru siswa tidak membawa bekal persialan apa-apa, mereka terbiasa mendengar ceramah dari guru yang artinya siap menerima pengetahuan dari guru.

(10)

mendominasi proses pembelajaran di kelas perlahan-lahan tetapi pasti guru akan ditinggalkan oleh para siswanya.

.B. Hipotesis Tindakan

(11)

BAB III

RANCANGAN PENELITIAN

A. Setting Penelitian dan Latar Belakang Subjek Didik

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta, Jl. Dr. Sutomo 16 Telp. (0274)513129

2. Karakteristik Subjek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah siswi kelas XI IPS tahun ajaran 2006-2007. Perlu diketahui bahwa SMA Stella Duce 2 Yogyakarta merupakan sekolah khusus putri.

B. Rencana Tindakan

1. Persiapan

Ada tigal hal yang dilakukan dalam persiapan tindakan.

Pertama, menentukan materi pembelajaran. Materi yang akan dipelajari untuk siklus pertama adalah unsur-unsur intrinsik prosa cerita, untuk siklus kedua adalah paragraf, dan untuk siklus ketiga adalah analisis puisi.

Kedua, membuatkan bahan tertulis berupa ringkasan teori dari masih-masing pokok bahasan. Pada dasarnya ringkasan yang dimaksud merupakan pengganti bahan yang biasa diceramahkan di kelas oleh guru.

Ketiga, menentukan bahan yang akan dianalisis (cerpen, berbagai paragraf, dan puisi) yang harus didiskusikan.

2. Pelaksanaan Tindakan

Prosedur tindakan kelas yang akan dilakukan adalah

Siklus I

Pertama, dua hari sebelum proses pembelajaran siswi diberi bahan tertulis berupa ringkasan teori analisis intrinsik prosa cerita. Siswi diminta mempelajari bahan tersebut.

(12)

menawarkan pada siswi lain untuk menjawab pertanyaan, jika ada, siswi tersebut yang akan menjawab pertanyaan temannya. Guru meneguhkan atau menambah jawaban tersebut.

Ketiga, guru memberikan sebuah cerita pendek yang telah dipersiapkan. Siswi diminta berdiskusi untuk menganalisis unsur-unsur intrinsik cerita pendek tersebut. Hasil diskusi dilaporkan secara tertulis.

Keempat, di luar jam tatap muka guru memeriksa hasil diskusi siswi.

Siklus II

Pertama, dua hari sebelum proses pembelajaran siswi diberi bahan tertulis berupa ringkasan teori paragraf. Siswi diminta mempelajari bahan tersebut. Kedua, pada saat tatap muka, sekitar 30 menit siswi diajak mendalami teori

tersebut dengan bertanya jawab. Fokusnya adalah siswi bertanya, guru menawarkan pada siswi lain untuk menjawab pertanyaan, jika ada, siswi tersebut yang akan menjawab pertanyaan temannya. Guru meneguhkan atau menambah jawaban tersebut.

Ketiga, guru memberikan beberapa buah paragraf yang telah dipersiapkan. Siswi diminta berdiskusi untuk menganalisis gagasan utama, pola pengembangan paragraf, dan pola paragrafnya. Hasil diskusi dilaporkan secara tertulis.

Keempat, di luar jam tatap muka guru memeriksa hasil diskusi siswi.

Siklus III

Pertama, dua hari sebelum proses pembelajaran siswi diberi bahan tertulis berupa ringkasan teori analisis puisi. Siswi diminta mempelajari bahan tersebut. Kedua, pada saat tatap muka, sekitar 30 menit siswi diajak mendalami teori

tersebut dengan bertanya jawab. Fokusnya adalah siswi bertanya, guru menawarkan pada siswi lain untuk menjawab pertanyaan, jika ada, siswi tersebut yang akan menjawab pertanyaan temannya. Guru meneguhkan atau menambah jawaban tersebut.

(13)

Keempat, di luar jam tatap muka guru memeriksa hasil diskusi siswi.

3. Rencana perekaman/pencatatan data dan pengolahan/penafsiran data Perekaman/pencatatan data dilakukan dengan cara sebagai berikut

Pertama, peneliti 2 mengamati dan mencatat nama siswi yang mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan. Pada akhir pengamatan peneliti 2 menghitung jumlah siswi yang berperan aktif baik bertanya maupun menjawab pertanyaan.

Kedua, pada saat siswi berdiskusi, peneliti mencatat keaktifan masing-masing peserta diskusi (dengan memberikan tanda pada lembaran check list) yang meliputi memberikan usul, mendebat, memberikan alternatif, melihat kembali dasar teori yang dipakai untuk menganalisis.

Ketiga, di luar tatap muka peneliti mengoreksi hasil diskusi untuk menentukan tingkat kebenaran analisisnya (dengan memberikan skor).

4. Analisis dan Refleksi

Langkah analisa dan refleksi dilakukan sebagai berikut

Pertama, peneliti 2 mengkomunikasikan hasil pencatatannya dengan peneliti 1. Dari data tersebut dilakukan penghitungan tingkat partisipasi siswi dalam proses pembelajaran dengan cara menghitung jumlah siswi yang bertanya dan menjawab dibagi jumlah siswi seluruhnya.

Kedua, peneliti membandingkan tingkat partisipasi siswi tersebut dengan data sebelumnya (sebelum dilakukan tindakan). Dari perbandingan tersebut ditentukan ada tidaknya (jika ada : seberapa besar) pengaruh pemberian bahan tertulis terhadap tingkat partisipasi aktif siswi dalam proses pembelajaran. Jika terjadi kenaikan tingkat partisipasi di atas 20% dari data sebelumnya, dapat ditafsirkan bahwa pemberian bahan tertulis sebelum proses pembelajaran mampu meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam tanya jawab.

(14)

Keempat, peneliti membandingkan kualitas hasil diskusi tersebut dengan data sebelumnya (sebelum dilakukan tindakan). Dari perbandingan tersebut ditentukan ada tidaknya pengaruh pemberian bahan tertulis terhadap peningkatan kualitas hasil diskusi. Jika ditemukan peningkatan hasil diskusi sebesar 20% dapat ditafsirkan bahwa pemberian bahan tertulis sebelum proses pembelajaran memberikan pengaruh positif pada kualitas hasil diskusi.

Kelima, peneliti melakukan penilaian refleksi atas proses pembelajaran yang telah dilakukannya sekaligus merencanakan untuk mengulangi proses tersebut agar diperoleh data yang valid.

C. Data dan Cara Pengumpulannya

Data yang dicari dari penelitian ini adalah data kuantitatif. Data kuantitatif tersebut berupa (1) jumlah siswi yang berpartisipasi aktif dalam proses memahami materi pembelajaran dengan metode tanya jawab, (2) tingkat kebenaran hasil analisis cerita pendek dari proses diskusi kelompok.

Teknik yang dipakai untuk mengumpulkan data meliputi (1) pencatatan, dan (2) tes. Teknik pencatatan digunakan untuk mengumpulkan data jumlah siswi yang berpartisipasi aktif dalam proses tanya jawab sedangkan teknik tes digunakan untuk menentukan kualitas hasil diskusi.

D. Tim Peneliti

1. Agustinus Suyoto, S.Pd (peneliti utama)

Tugasnya : 1. Mempersiapkan bahan pembelajaran 2. Melaksanakan proses pembelajaran 2. Dra. Th. M. Issri Windarjati (anggota)

(15)

BAB IV

RENCANA ANGGARAN

Rencana permohonan anggaran penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut A. Honorarium

1. Honorarium peneliti utama : Rp 500.000,00 2. Honorarium peneliti anggota : Rp 250.000,00

3. Honorarium konsultan : Rp 150.000,00

B. Bahan-bahan penelitian

1. Kertas HVS kuarto 3 rim : Rp 90.000,00

2. Alat tulis, map, tas : Rp 150.000,00

3. Pembuatan ringkasan materi : Rp 50.000,00 4. Foto kopi ringkasan materi : Rp 100.000,00

5. Foto kopi cerpen : Rp 60.000,00

C. Penyusunan Laporan

1. Pengetikan laporan : Rp 100.000,00

2. Foto kopi dan jilid HC 5 exemplar : Rp 150.000,00

D. Transportasi : Rp 50.000,00

E. Seminar terbatas : Rp 200.000,00

F. Dokumentasi (foto) : Rp 50.000,00

(16)

BAB V

JADWAL PENELITIAN

Jadwal penelitian direncanakan sebagai berikut

TANGGAL KEGIATAN KET.

April 2006 Penyusunan dan pengajuan proposal

penelitian tindakan kelas

Juni 2006 Memantapkan rencana tindakan kelas

bersama tim yang meliputi

Pertengahan Juli 2006 Koordinasi dengan pihak sekolah (khususnya Wakasek Kurikulum) untuk memantapkan rencana tindakan kelas Minggu I Agustus Tindakan kelas siklus I

Minggu I Agustus Analisis dan refleksi bersama tim peneliti tentang hasil tindakan kelas siklus I Minggu II Agustus Tindakan kelas siklus II

Minggu II Agustus Analisis dan refleksi bersama tim peneliti tentang hasil tindakan kelas siklus II Minggu III Agustus Tindakan kelas siklus III

Minggu III Agustus Analisis dan refleksi bersama tim peneliti tentang hasil tindakan kelas siklus III Minggu IV Agustus Diskusi hasil penelitian dan kesimpulan

September Penyusunan Laporan Penelitian

Akhir September Pelaporan Hasil Penelitian pada pihak terkait

DAFTAR PUSTAKA

Kurniawan, Khaedar. 1992. “Pendekatan Komunikatif dalam Pengajaran Bahasa” dalam

(17)

Soewandi, A.M. Slamet. 1993. “Pengajaran Pragmatik” Makalah disampaikan dalam studi banding mahasiswa STKIP PGRI Bandarlampung ke IKIP Sanata Dharma, 10 Februari 1993.

Sukadi, G. 1993. Public Speaking Bagi Pemula. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia

Suparman, Atwi. 1997. Model-Model Pembelajaran Interaktif. Jakarta : STIA-LAN Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta : Kanisius Tarigan, Henry Guntur. 1985. Pengajaran Sintaksis. Bandung: Angkasa

---. 1993. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa

Lampiran 1

BIODATA PENELITI I

Nama Lengkap : Agustinus Suyoto, S.Pd

(18)

Alamat rumah : Dusun Nanggulan, Desa Sendang Agung, Kec. Minggir, Kab. Sleman, Prov. DIY.

Status : Guru Tetap Yayasan Tarakanita Wilayah Yogyakarta

Sekolah : SMA Stella Duce 2 Yogyakarta,

Jl. Dr. Sutomo 16 Yogyakarta Telp. (0274) 513129.

Beberapa kejuaraan penulisan berhasil diraih, antara lain

1. Pemenang Harapan I Lomba penulisan Opini Guru SMU/SMK se-DIY yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan KEHATI tahun 2000;

2. Pemenang Harapan II Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat umum se-DIY yang diselenggarakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (JARAHNITRA) DIY pada tahun 2000;

3. Pemenang Pertama Lomba Penulisan Puisi tingkat umum se-Keuskupan Agung Semarang yang diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Kaum Muda Keuskupan Agung Semarang pada tahun 2001; 4. Pemenang III Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat umum se-DIY yang diselenggarakan oleh Balai

Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional DIY pada tahun 2001;

5. Pemenang kedelapan (dari 25 pemenang) Lomba Menulis Cerita Pendek tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Bagian Proyek Peningkatan Perpustakaan Sekolah dan Pelajaran Sastra pada tahun 2002.

6. Pemenang Harapan I Lomba Karya Ilmiah Populer Pemberdayaan Peninggalan Sejarah dalam Pengembangan Parfiwisata tingkat Umum se-DIY yang diselenggarakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada tahun 2003.

7. Pemenang ke-18 (dari 25 pemenang) Lomba Menulis Cerita Pendek tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Bagian Proyek Peningkatan Perpustakaan Sekolah dan Pelajaran Sastra pada tahun 2003

8. Pemenang Pertama Lomba Penulisan Esai Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Yogyakarta tahun 2003.

9. Pemenang Kedua Lomba Karya Tulis tingkat Umum yang diselenggarakan oleh BPR Bakti Daya Ekonomi (BDE) bekerja sama dengan Kedaulatan Rakyat pada bulan April 2004.

10. Pemenang Ketiga. Lomba Mengarang Kategori Guru sekolah Kristen – Katolik se Indonesia dalam rangka Ulang Tahun Majalah Bianglala, Mei 2004.

11. Pemenang Harapan II. Lomba Karya Tulis Hari Keluarga Nasional XI yang diselenggarakan oleh BKKBN Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Agustus 2004.

12. Pemenang Harapan I Lomba Karya Tulis tingkat Umum yang diselenggaran oleh BPR Bhakti Daya Ekonomi (BDE) bekerja sama dengan Kedaulatan Rakyat pada bulan April 2006.

(19)

1. Pada tahun 2001 mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra (MMAS) Terpadu Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional. 2. Pada tahun 2003 mengikuti Lokakarya Pengembangan Apresiasi Sastra Daerah tingkat Nasional yang

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...