HALAMAN JUDUL
TUGAS PRAKTIKUM ASISTENSI
SURVEI HIDROGRAFI
KELAS B
Laporan Praktikum Pengukuran
Oleh : Kelompok 5
Friska Melia Ode Binta 3513100002
Ruly Oktavia Supriyani 3513100068
Fadhil Hamdi 3513100070
Izhad Miftachurrozaq 3513100073
Atik Indra Puspita 3513100080
Kindy Nurhakim 3513100083
Mohammad Avicenna 3513100087
Dosen:
Yanto Budisusanto, S.T.,M.Eng. Akbar Kurniawan, S.T, M.T Meiriska Yusfania, S.T, M.T
Jurusan Teknik Geomatika
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan laporan “Perencanaan Area Tambang Batu Kapur Bungah, Kabupaten Gresik” dengan tepat waktu. Laporan ini disusun sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Sistem Informasi Geografis.
Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih kepada :
1. Yanto Budi Susanto, S.T., M.Eng selaku dosen pengajar mata kuliah Sistem Informasi Geografis
2. Akbar Kurniawan S.T.,M.T dan Meiriska Yusfania S.T., M.T selaku dosen responsi mata kuliah Sistem Informasi Geografis
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, khususnya dari dosen pengajar dan responsi mata kuliah guna menjadi acuan dalam bekal pengalaman bagi kami untuk lebih baik di masa yang akan datang.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan pengembangan ilmu pengetahuan. Aamiin.
Surabaya, 20 April 2016
DAFTAR ISI
2.1.2 Tahap Pemetaan Pertambangan...2
2.1.2 Aplikasi Pemetaan Pertambangan...8
2.2 Perhitungan Volume...8
2.7.1 Definisi AutoCAD Land Dekstop...11
2.7.2 Keunggulan dan kelemahan AutoCAD...11
2.8 ArcGIS...11
3.1.2 Waktu dan Lokasi...13
3.2 Diagram Alir Pengerjaan...14
3.3 Penjelasan Diagram Alir...15
3.4 Langkah Pengerjaan...16
3.4.1 Kondisi awal lokasi pertambangan (Eksisting)...16
3.4.3 Desain Profil Memanjang dan Melintang Rencana...17
3.4.4 Konvert File .dwg ke .shp dengan Global Mapper...20
3.4.5 Desain 3D Modelling dengan ArcScene...22
BAB IV HASIL DAN ANALISA...25
4.1 Hasil Desain Perencanaan Lokasi Tambang...25
4.1.1 Hasil Kontur Eksisting Lokasi Tambang...25
4.1.2 Hasil Desain Profil Eksisting Memanjang Dan Melintang...25
4.1.3 Hasil Desain Desain Profil Rencana Memanjang Dan Melintang...26
4.1.4 Hasil Volume Galian Rencana Lokasi Pertambangan...27
4.1.5 Hasil Desain Bentuk 3D Modelling Rencana Desain Tambang...28
4.2 Analisa...28
BAB V SIMPULAN...34
5.1 Simpulan...34
5.2 Saran...34
DAFTAR PUSTAKA...35
DAFTAR GAMB
Gambar 2. 1 Tambang Terbuka...2
Gambar 2. 2Tambang Tertutup...2
Gambar 2. 3 Garis kontur...9
Gambar 2. 4 Profil Memanjang Tampak Atas...9
Gambar 2. 5 Profil melintang...10
Gambar 2. 6 ArcGIS...12
Y Gambar 3. 1 Diagram Alir Pengerjaan...14
Gambar 3. 2 Kondisi Kontur Eksisting...16
Gambar 3. 3 Tampilan AutoCAD...16
Gambar 3. 4 Toolbar Terrain...17
Gambar 3. 5 Tampilan untuk memilih profil...17
Gambar 3. 6 Kontur Bayangan Desain Tambang...17
Gambar 3. 7 Titik perencanaan lokasi tambang...18
Gambar 3. 8 Zoom layer kontur bayangan...18
Gambar 3. 9 Layer bayangan...18
Gambar 3. 10 Zoom layer kontur bayangan rencana Building...19
Gambar 3. 11 Langkah Menampilakn Profil Memanjang...19
Gambar 3. 12 Tampilan Profil Memanjang...19
Gambar 3. 13 Langkah Menampilakn Profil Melintang...20
Gambar 3. 14 Tampilan Profil Memanjang...20
Gambar 3. 15 Tampilan Awal Software Global Mapper...20
Gambar 3. 16 kotak dialog sistem proyeksi...21
Gambar 3. 17 Tampilan File di Global Mapper...21
Gambar 3. 18 Export Data ke .shp...21
Gambar 3. 19 Kotak Dialog Format Data...21
Gambar 3. 20 Tampilan Save As...22
Gambar 3. 21 Sharpfile Export Options...22
Gambar 3. 22 Add Data ArcScene...22
Gambar 3. 23 Tampilan Peta 2D...23
Gambar 3. 24 toolbox output Tin...23
Gambar 3. 25 kotak dialog Referensi Datum...24
Gambar 3. 26 Create TIN...24
Gambar 3. 27 Tampilan 3D...24
Gambar 3. 28 Tampilan 3D (zoom samping)...24
Gambar 4. 1 Tamppilan kontur data awal...25
Gambar 4. 2 Tampilan Profil Memanjang Eksisting...25
Gambar 4. 3 Tampilan Profil Melintang Eksisting...26
Gambar 4. 4 Tampilan Profil Memanjang Rencana...26
Gambar 4. 5 Tampilan Profil Melintang Rencana...27
Gambar 4. 6 Volume Galian...28
Gambar 4. 7 Tampilan desain 2D...28
Gambar 4. 8 Tampilan Desain 3D...28
Gambar 4. 9 Kondisi Kontur Eksisting...29
Gambar 4. 10Kontur Bayangan Desain Tambang...29
Gambar 4. 11Layer bayangan...29
Gambar 4. 13Tampilan Profil Melintang Eksisting...31
Gambar 4. 14Tampilan Profil Memanjang Rencana...31
Gambar 4. 15Tampilan Profil Melintang Rencana...32
Gambar 4. 16Tampilan Desain 3D...33
BAB I . PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam. Dalam perkembangannya, telah berbagai macam teknik dan teknologi yang dipergunakan oleh manusia untuk dapat mengelolanya semaksimal mungkin. Perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan merupakan salah satu perusahaan yang memanfaatkan sumber daya alam tersebut. Dalam pemanfaatannya tentu saja menggunakan berbagai metode dan teknologi sehingga dapat diperoleh hasil yang optimal dengan keuntungan yang besar, biaya produksi yang relatif kecil serta ramah lingkungan.
Sumber daya manusia merupakan salah satu elemen organisasi yang paling dinamis dan kompleks. Hal ini terlihat dari usaha yang dilakukan oleh manusia dari waktu ke waktu untuk menanggapi lingkungannya dan mempertahankan eksistensinya. Manusia merupakan suatu subyek pengguna teknologi yang utama. Oleh karena itu perlu adanya suatu usaha peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu upaya untuk menyeimbangkan antara perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kemampuan manusia sebagai pengguna serta keberadaan sumber daya alam sebagai obyek yang dimanfaatkan.
Melihat potensi perkembangan perusahaan pertambangan di Jawa Timur khususnya di Kabupaten Gresik yang sebagian besar mengolah bahan galian tambang yang dapat bermanfaat bagi pengembangan ekonomi masyarakat sekitar.
1.2 Maksud dan Tujuan Praktikum
Adapun maksud adan tujuan yang dilakukan dalam laporan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui desain lokasi penentuan lokasi area tambang 2. Untuk mengetahui desain kontur rencana lokasi tambang
3. Untuk mengetahui desain profil eksisting memanjang dan melintang 4. Untuk mengetahui desain profil rencana memanjang dan melintang
5. Untuk mengetahui volume galian yang dihasilkan dari proses pembuatan rencana lokasi pertambangan
BAB II DASAR TEORI 2.1 Pertambangan
Pertambangan menurut UU RI Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengelolaan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan serta kegiatan pasca tambang.
2.1.1 Jenis-Jenis Tambang
Jenis-Jenis Tambang menurut letak mineralnya:
- Tambang terbuka adalah suatu kegiatan penggalian bahan galian seperti batubara, ore (bijih), batu dan sebagainya di mana para pekerja berhubungan langsung dengan udara luar.dan iklim. Tambang terbuka (open pit mining) juga disebut dengan open cut mining; adalah metoda penambangan yang dipakai untuk menggali mineral deposit yang ada pada suatu batuan yang berada atau dekat dengan permukaan.
Gambar 2. 1 Tambang Terbuka
- Tambang Tertutup adalah proses pengambilan suatu jenis barang tambang dengan cara membuat sumur (penambangan vertikal atau Shaf Mining) atau terowongan (penambangan horizontal atau Slope Mining) ke dalam lapisan-lapisan batuan karena lokasi barang tambang jauh di dalam perut bumi.
Gambar 2. 2Tambang Tertutup 2.1.2 Tahap Pemetaan Pertambangan
(Prospeksi), Eksplorasi, Penambangan, Pengolahan, Pengangkutan, dan Pemasaran. 1. Penyelidikan Umum (Prospeksi)
Prospeksi merupakan kegiatan penyelidikan, pencarian, atau penemuan endapan-endapan mineral berharga. Atau dengan kata lain kegiatan ini bertujuan untuk menemukan keberadaan atau indikasi adanya bahan galian yang akan dapat atau memberikan harapan untuk diselidiki lebih lanjut. Jika pada tahap prospeksi ini tidak ditemukan adanya cadangan bahan galian yang berprospek untuk diteruskan sampai ke tahapan eksplorasi, maka kegiatan ini harus dihentikan. Apabila tetap diteruskan akan menghabiskan dana secara sia-sia. Sering juga tahapan prospeksi ini dilewatkan karena dianggap sudah ditemukan adanya indikasi atau tanda-tanda keberadaan bahan galian yang sudah langsung bisa dieksplorasi.
Metoda prospeksi antara lain tracing float dan pemetaan geologi dan bahan galian. metode tracing float ini digunakan terutama pada anak sungai, yang lebih mudah dilakukan pada musim kemarau. Metode ini dilakukan untuk mencari atau menemukan float bahan galian yang diinginkan, yang berasal dari lapukan zone mineralisasi yang melewati lereng bukit atau terpotong anak sungai dan terhanyutkan oleh aliran sungai. Dengan melakukan tracing float dari arah hilir ke hulu sungai, maka bisa diharapkan untuk menemukan adanya zone mineralisasi yang tersingkap pada arah hulu sungai. Pada metode ini litologi setempat sebagian besar sudah diketahui.
Kedua, metode pemetaan geologi dan bahan galian. Metode ini dilakukan apabila litologi setempat pada umumnya tidak diketahui, atau diperlukan data yang rinci lagi.
2. Eksplorasi
Eksplorasi merupakan kegiatan yang dilakukan setelah prospeksi atau setelah endapan suatu bahan galian ditemukan yang bertujuan untuk mendapatkan kepastian tentang endapan bahan galian yang meliputi bentuk, ukuran, letak kedudukan, kualitas (kadar) endapan bahan galian serta karakteristik fisik dari endapan bahan galian tersebut.
Setelah diketahui terdapatnya bahan galian di suatu daerah dalam kegiatan prospeksi, yang mempunyai prospek untuk dilakukan kegiatan selanjutnya, maka dilakukanlah eksplorasi dengan metode atau cara antara lain sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui penyebaran secara lateral dan vertical dapat dilakukan dengan cara membuat parit uji, sumur uji, pembuatan adit dam pemboran inti. 2. Untuk mengetahui kualitas bahan galian, diambil contoh bahan galian yang
berasal dari titik percontohan dan dianalisis di laboratorium.
4. Setelah titik percontohan yang dibuat dianggap cukup memadai untuk mengetahui penyebaran lateral dan vertical bahan galian, maka dibuat peta penyebaran cadangan bahan galian dan dilakukan perhitungan cadangan bahan galian.
5. Selain dari itu, juga kadang-kadang diperlukan analisis contoh batuan yang berada di lapisan atas atau bawah bahan galian untuk mengetahui sifat-sifat fisik dan keteknikannya.
B. Tahapan Eksplorasi
Tahapan-tahapan eksplorasi secara umum ada dua, yaitu eksplorasi awal atau pendahuluan dan eksplorasi detil. Penjelasan tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut,
1. Tahap Eksplorasi Pendahuluan
Dalam tahap eksplorasi pendahuluan ini tingkat ketelitian yang diperlukan masih kecil sehingga peta-peta yang digunakan dalam eksplorasi pendahuluan juga berskala kecil 1 : 50.000 sampai 1 : 25.000. Adapun langkah-langkah yang
dilakukan pada tahap ini adalah : a. Studi Literatur
Dalam tahap ini, sebelum memilih lokasi-lokasi eksplorasi dilakukan studi terhadap data dan peta-peta yang sudah ada (dari survei-survei terdahulu), catatan-catatan lama, laporan-laporan temuan dll, lalu dipilih daerah yang akan disurvei. Setelah pemilihan lokasi ditentukan langkah berikutnya, studi faktor-faktor geologi
regional dan provinsi metalografi dari peta geologi regional sangat penting untuk memilih daerah eksplorasi, karena pembentukan endapan bahan galian dipengaruhi dan tergantung pada proses-proses geologi yang pernah terjadi, dan tanda-tandanya dapat dilihat di lapangan.
b. Survei Dan Pemetaan
Jika peta dasar (peta topografi) dari daerah eksplorasi sudah tersedia, maka survei dan pemetaan singkapan (outcrop) atau gejala geologi lainnya sudah dapat dimulai (peta topografi skala 1 : 50.000 atau 1 : 25.000). Tetapi jika belum ada, maka perlu dilakukan pemetaan topografi lebih dahulu. Kalau di daerah tersebut sudah ada peta geologi, maka hal ini sangat menguntungkan, karena survei bisa langsung ditujukan untuk mencari tanda-tanda endapan yang dicari (singkapan), melengkapi peta geologi dan mengambil conto dari singkapan-singkapan yang penting.
Selain singkapan-singkapan batuan pembawa bahan galian atau batubara
(sasaran langsung), yang perlu juga diperhatikan adalah perubahan/batas batuan, orientasi lapisan batuan sedimen (jurus dan kemiringan), orientasi sesar dan tanda-tanda lainnya. Hal-hal penting tersebut harus diplot pada peta dasar dengan bantuan alat-alat seperti kompas geologi, inklinometer, altimeter, serta tanda-tanda alami seperti bukit, lembah, belokan sungai, jalan, kampung, dll. Dengan demikian peta geologi dapat dilengkapi atau dibuat baru (peta singkapan).
model geologi hepatitik tersebut kemudian dirancang pengambilan conto dengan cara acak, pembuatan sumur uji (test pit), pembuatan paritan (trenching), dan jika diperlukan dilakukan pemboran. Lokasi-lokasi tersebut kemudian harus diplot dengan tepat di peta (dengan bantuan alat ukur, teodolit, BTM, dll.).
Dari kegiatan ini akan dihasilkan model geologi, model penyebaran endapan, gambaran mengenai cadangan geologi, kadar awal, dll. dipakai untuk menetapkan apakah daerah survei yang bersangkutan memberikan harapan baik (prospek) atau tidak. Kalau daerah tersebut mempunyai prospek yang baik maka dapat diteruskan dengan tahap eksplorasi selanjutnya.
2. Tahap Eksplorasi Detai
Setelah tahapan eksplorasi pendahuluan diketahui bahwa cadangan yang ada mempunyai prospek yang baik, maka diteruskan dengan tahap eksplorasi detail (White, 1997). Kegiatan utama dalam tahap ini adalah sampling dengan jarak yang lebih dekat (rapat), yaitu dengan memperbanyak sumur uji atau lubang bor untuk mendapatkan data yang lebih teliti mengenai penyebaran dan ketebalan cadangan (volume cadangan), penyebaran kadar/kualitas secara mendatar maupun tegak. Dari sampling yang rapat tersebut dihasilkan cadangan terhitung dengan klasifikasi terukur, dengan kesalahan yang kecil (<20%), sehingga dengan demikian perencanaan tambang yang dibuat menjadi lebih teliti dan resiko dapat dihindarkan. Pengetahuan atau data yang lebih akurat mengenai kedalaman, ketebalan, kemiringan, dan penyebaran cadangan secara 3-Dimensi (panjang-lebar-tebal) serta data mengenai kekuatan batuan sampling, kondisi air tanah, dan penyebaran struktur (kalau ada) akan sangat memudahkan perencanaan kemajuan tambang, lebar/ukuran bahwa bukaan atau kemiringan lereng tambang. Juga penting untuk merencanakan produksi bulanan/tahunan dan pemilihan peralatan tambang maupun prioritas bantu lainnya.
3. Studi Kelayakan
Merupakan tahapan akhir dari rentetan penyelidikan awal yang dilakukan sebelumnya sebagai penentu apakah kegiatan penambangan endapan bahan galian tersebut layak dilakukan atau tidak. Dasar pertimbangan yang digunakan meliputi pertimbangan teknis dan ekonomis dengan teknologi yang ada pada saat ini, dan dengan memperhatikan keselamatan kerja serta kelestarian lingkungan hidup. Bila tidak atau belum layak maka data tersebut diarsipkan.
3. Perencanaan Tambang
tahap perencanaan tambang. Berarti cadangan bahan galiannya telah sampai pada tingkat cadangan terukur.
Perencanaan tambang dilakukan untuk merencanakan secara teknis, ekonomi dan lingkungan kegiatan penambangan, agar dalam pelaksanaan kegiatannya dapat dapat dilakukan dengan baik, aman terhadap lingkungan.
4. Persiapan/Konstruksi
Persiapan/konstruksi adalah kegiatan yang dilakukan untuk mempersiapkan fasilitas penambangan sebelum operasi penambangan dilakukan. Pekerjaan tersebut seperti pembuatan akses jalan tambang, pelabuhan, perkantoran, bengkel, mes karyawan, fasilitas komunikasi dan pembangkit listrik untuk keperluan kegiatan penambangan, serta fasilitas pengolahan bahan galian.
5. Penambangan
Penambangan bahan galian dibagi atas tiga bagian yaitu tambang terbuka, tambang bawah tanah dan tambang bawah air. Tambang terbuka dikelompokan atas quarry strip mine, open cut, tambang alluvial, dan tambang semprot. Tambang bawah tanah dikelompokkan atas room and pillar, longwall, caving, open stope, supported stope, dan shrinkage. System penambangan dengan menggunakan kapal keruk dapat dikelompokkan menjadi tambang bawah air, walaupun relative dangkal.
a. Metoda tambang terbuka
Tambang terbuka secara umum didefinisikan sebagai kegiatan penambangan bahan galian yag berhubungan langsung dengan udara luar. Terdapat tahapan umum dalam kegiatan penambangan terbuka yaitu pembersihan lahan, pengupasan tanah pucuk dan menyimpannya di tempat tertentu, pembongkaran dan penggalian tanah penutup (overburden) dengan menggunakan bahan peledak ataupun tanpa bahan peledak dan memindahkannya ke disposal area, penggalian bahan galian atau eksploitasi, dan membawanya ke stockpile untuk diolah dan dipasarkan serta melakukan reklamasi lahan bekas penambangan (pembahasan selanjutnya).
b. Tambang Bawah Tanah
Tambang bawah tanah secara umum didefinisikan sebagai tambang yang tidak berhubungan langsung dengan udara luar. Terdapat beberapa tahapan dalam tambang bawah tanah yaitu, pembuatan jalan utama (main road), pemasangan penyangga (supported), pembuatan lubang maju untuk produksi, ventilasi, drainase, dan fasilitas tambang bawah tanah lainnya. Setelah itu melakukan operasional penambangan bawah tanah dengan atau tanpa bahan peledak dan kemudian membawa bahan galian ke stock pile untuk diolah dan dipasarkan.
c. Tambang bawah air
Tambang bawah air ialah metode penambangan di bawah air yang dilakukan untuk endapan bahan galian alluvial, marine dangkal dan marine dalam. Pralatan utama penambangan bawah air ini ialah kapal keruk.
ini kegiatannya terdiri dari pembongkaran/penggalian, pemuatan ke dalam alat angkut, dan pengankutan ke fasilitas pengolahan maupun langsung dipasarkan apabila tidak dilakukan pengolahan terlebih dahulu.
6. Pengolahan
Bahan galian yang sudah selesai ditambang pada umumnya harus diolah terlebih dahulu di tempat pengolahan. Hal ini disebabkan antar lain oleh tercampurnya pengotor bersama bahan galian, perlu spesifikasi tertentu untuk dipasarkan serta kalau tidak diolah maka harga jualnya relative lebih rendah jika dibandingka dengan yang sudah diolah, dan bahan galian perlu diolah agar dapat mengurangi volume dan ongkos angkut, mningkatkan nilai tambah bahan galian, dan untuk mereduksi senyawa-senyawa kimia yang tidak dikehendaki pabrik peleburan.
Cara Pengolahan bahan galian secara garis besar dapat dibagi atas pengolahan secara fisika, secara fisika dan kimia tanpa ekstraksi metal, dan pengolahan secra fisika dan kimia dengan ekstraksi metal. Pengolahan bahan galian secara fisika ialah pengolahan bahan galian dengan cara memberikan perlakuan fisika seperti peremukan, penggerusan, pencucian, pengeringan, dan pembakaran dengan suhu rendah. Contoh yang tergolong pengolahan ini seperti pencucian batu bara. Yang kedua pengolahan secara fisika dan kimia tanpa ekstraksi metal, yaitu pengolahan dengan cara fisika dan kimia tanpa adanya proses konsentrasi dan ekstraksi metal. Contohnya, pengolahan batu bara skala rendah menggunakan reagen kimia. Ketiga, pengolahan bahan galian secara fisika dan kimia dengan ekstraksi metal, yaitu pengolahan logam mulia dan logam dasar.
7. Pemasaran
Jika bahan galian sudah selesai diolah maka dipasarkan ke tempat konsumen. Antara perusahaan pertambangan dan konsumen terjalin ikatan jual beli kontrak jangka panjang, dan spot ataupun penjualan sesaat. Pasar kontrak jangka panjang yaitu pasar yang penjualan produknya dengan kontrak jangka panjang misalnya lebih dari satu tahun. Sedangkan penjualan spot, yaitu penjualan sesaat atau satu atau dua kali pengiriman atau order saja.
8. Reklamasi
bekas tambang yang sudah diperbaiki ekologinya untuk pemanfaatannya selanjutnya
2.1.2 Aplikasi Pemetaan Pertambangan 2.2 Perhitungan Volume
Perhitungan Volume berdasarkan tinggi rencana tanah didatarkan, maka dicari luas galian/timbunan setiap profil melintang berdasarkan bentuk bagian penampang. Volume galian = (½ luas galian P1 + P2) jarak P1 – P2(dari profil memanjang) Volume timbunan = (½ luas timbunan P1 + P2) jarak P1 – P2(dari profil memanjang )
2.2 Kelerengan
Lereng adalah kenampakan permukan alam disebabkan adanya beda tinggi apabila beda tinggi dua tempat tesebut di bandingkan dengan jarak lurus mendatar sehingga akan diperoleh besarnya kelerengan.
Bentuk lereng bergantung pada proses erosi juga gerakan tanah dan pelapukan. Leeng merupakan parameter topografi yang terbagi dalam dua bagian yaitu kemiringan lereng dan beda tinggi relatif, dimana kedua bagian tersebut besar pengaruhnya terhadap penilaian suatu bahan kritis. Bila dimana suatu lahan yang lahan dapat merusak lahan secara fisik, kimia dan biologi, sehingga akan membahayakan hidrologi produksi pertanian dan pemukiman. Salah satunya dengan menbuat
Peta Kemiringan Lereng (Peta Kelas Lereng). Dengan pendekatan rumus “Went-Worth” yaitu pada peta topografi yang menjaadi dasar pembuatan peta kemiringan lereng dengan dibuat grid atau jaring-jaring berukuran 1 cm kemudian masing-masing bujur sangkar dibuat garis horizontal.
Dengan mengetahui jumlah konturnya dan perbedaan tinggi kontur yang memotong garis horizontal tersebut, dapat ditentukan :
kemiringan atau sudut lereng dengan menggunakan rumus S (%)=[((n-1)×Ci)/(D ×Ps)] Mencari Kontur Interval dengan menggunakan rumus
Ci=1/2000×Ps Mencari Panjang Diagonal dengan menggunakan rumus
D² = √(a^2+b^2 )
2.4 Garis Kontur
Garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama dari suatu datum/bidang acuan tertentu. Konsep dari garis kontur dapat dengan mudah dipahami dengan membayangkan suatu kolam air. Jika air dalam keadaan tenang, maka tepi permukaan air menunjukkan garis yang mempunyai ketinggian yang sama dan garis tersebut akan menutup pada tepi kolam membentuk garis kontur. Jika permukaan air turun, sebagai contoh permukaan air turun 5 meter, maka tepi dari permukaan air akan membentuk garis kontur yang kedua. Demikian selanjutnya setiap permukaan air turun akan membentuk garis kontur yang lainnya.
Gambar 2. 3 Garis kontur
Garis-garis kontur merupakan garis-garis yang kontinu dan tidak dapat bertemu atau memotong garis kontur lainnya dan tidak pula dapat bercabang menjadi garis kontur yang lain, kecuali pada hal kritis seperti jurang atau tebing. Gambar 10.1.2 memperlihatkan gambar garis kontur dan gambar irisan dari pulau tersebut. Garis pasang di sebelah kiri ditunjukkan dengan garis kontur yang mempunyai ketinggian nol, jika permukaan air naik setiap l0cm pada jarak tertentu, maka tepi permukaan air pada permukaan tanah akan membentuk garis kontur yang mempunyai ketinggian 10 m, 20 m, 30 m, dan 40 m.
2.5 Profil
2.5.1 Profil Memanjang
Pelaksanaan pengukuran Sipat datar profil memanjang tidak jauh berbeda dengan sipat datar memanjang, yaitu melalui jalur pengukuran yang nantinya merupakan titik ikat bagi sipat datar profil melintangnya, sehingga mempunyai ketentuan sebagai berikut :
o Pengukuran harus dilakukan sepanjang garis tenah (as) jalur pengukuran dan dilakukan pengukuran pada setiap perubahan yang terdapat pada permukaan tanah.
Gambar 2. 4 Profil Memanjang Tampak Atas 2.5.2 Profil Melintang
Profil melintang adalah potongan/penampang melintang dari suatu areal pengukuran tanah arah melintang dari suatu areal pengukuran tanah arah melintang yang memperlihatkan jarak dan elevansi tertentu.
Gambar 2. 5 Profil melintang
Penrukuran profil melintang alat ditempatkan diatas setiap profil memanjang yang telah dihitung ketinggian dan jarak antara titik ke titk . setiap pengukuran harus diambil siku terhadap profil memanjang yang diarahkan kekiri dan kekanan dengan jarak sesui kebutuhan
2.6 3D Modeling
3D modeling adalah sebuah proses untuk menciptakan objek 3D yang ingin dituangkan dalam bentuk visual nyata. Dalam 3D modeling, komponen penyusun objek dikelompokkan dalam 5 level.
Komponen penyusun ini disebut objek. Berikut adalah kelima sub-objek dalam 3D modeling adalah :
1. Vertex, adalah komponen dasar pembentuk objek, berupa titik sudut dalam ruang 3D. Sebuah vertex adalah sebuah titik koordinat dari sebuah polygon. Dalam memodifikasi sebuah objek dapat juga dilakukan dengan cara memodifikasi posisi vertex.
3. Face, adalah elemen-elemen yang lebih kecil berbentuk bidang segitiga. Gabungan face face inilah yang membentuk sebuah polygon. Sebuah face sendiri terdiri dari vertex dan edge.
4. Polygon, adalah bidang persegi banyak pada permukaan objek yang dibatasi oleh beberapa edge. Polygon sendiri adalah element tertinggi dari sebuah objek mesh. Polygon merupakan sub-objek yang dibentuk dari rangkaian vertex, edge, dan face. Sebuah polygon dapat berbentuk segitiga, segiempat, segilima, dan seterusnya.
5. Element, adalah kelompok polygon yang saling terhubung.
2.7 Compute Aided Design (CAD)
CAD adalah singkatan dari Computer Aided Design, yang diterjemahan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai : merancang dengan bantuan computer. AutoCAD adalah salah satu software menggambar teknik (drafting) yang sangat dikenal di dunia teknik. Tingkat keakuratannya yang sangat tinggi menjadikan AutoCAD sebagai salah satu alat bantu (tools) untuk menggambar di kalangan teknik. Tidak mengherankan apabila beberapa bidang teknik sangat intensif menggunakan AutoCAD sebagai alat bantu gambar, di antaranya adalah Teknik Geomatika, Teknik Arsitektur, Teknik Sipil, Teknik Mesin, dan lain-lain yang sangat erat dengan pembuatan dan penggunaan gambar teknik.
2.7.1 Definisi AutoCAD Land Dekstop
AutoCAD menggunakan sistem perintah yang matematis. Dengan penggunaan sistem koordinatnya yang sudah kita kenal sejak di Sekolah Dasar. Hal ini memudahkan kita dalam menentukan orientasi menggambar. Selain itu, sifat matematisnya ini dapat mempermudah kita dalam melakukan perhitungan. Sebagai contoh, ketika kita ingin mengetahui berapa luas sebuah lingkaran, maka dengan perintah tertentu (AREA) kita dapat mengetahui secara akurat, sekaligus bisa kita dapatkan informasi lain yang berhubungan, seperti panjang keliling lingkaran tersebut
2.7.2 Keunggulan dan kelemahan AutoCAD
Keunggulan CAD dibandingkan penggambaran secara manual :
Meningkatkan waktu rancang produk yang sangat signifikan Hasil output yang presisi dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi
Mudah dilakukan perbaikan apabila ditemukan kesalahan karena data gambar
masih disimpan dalam komputer.
Karakteristik para drafter dapat ditekan seminim mungkin
Dapat menggunakan data gambar terdahulu yang memiliki karakteristik yang
hampir sama
Mampu mengerjakan suatu rancangan secara bersama-sama walaupun terpisah
jarak secara fisik.
yang tepat, sekaligus di dalamnya kita menggambar seekor semut. fungsi dari berbagai macam software GIS yang berbeda seperti GIS desktop, server, dan GIS berbasis web.
2.8.2 Sejarah Perkembangan
Software arcGIS mulai dirilis oleh ESRI pada tahun 2000. Produk utama dari ArcGIS adalah ArcGIS desktop, dimana ArcGIS dekstop merupaka software GIS professional yang komprehensif dan dikelompokkan atas tiga komponen yaitu :
ArcView merupakan komponen yang fokus ke penggunaan data yang
komprehensif, pemetaan dan analisis
ArcEditor merupakan komponen yang lebih fokus ke arah editing data
spasial)
ArcInfo (lebih lengkap dalam menyajikan fungsi-fungsi GIS termasuk
untuk keperluan analisis geoprosesing)
2.8.3 Kelemahan ArcGIS
Sebuah ciptaan manusia tidak ada yang sempurna begitu juga dengan software ArcGIS. Berikut ini merupakan beberapa kelemahan dari ArcGIS :
ArcGIS memerlukan spek hardware yang tinggi.
ArcGIS secara default tidak support multi View dan multi layout. Hal ini
sangat menyulitkan pembuatan peta masal seperti peta kegiatan GNRHL
Penggunaan ArcGIS tidak akan efisien jika tidak menggunakan beberapa
software yang lain selain ArcMap yang dibuka bersama, misalnya ArcCatalog, Windows Explorer, dan Notepad.
ArcGIS tidak 100% persen kompatible dengan ArcView 3x. Proses
BAB III METODOLOGI PERENCANAAN 3.1 Metodologi
Dalam pelaksanaan pembuatan desain lokasi pertambangan di Gresik dilakukan dalam beberapa tahap
3.1.1 Alat dan Bahan a. Alat:
- Laptop/PC - Mouse
- Software Pengolah Data:
o AutoCAD Land Desktop o ArcGIS
o Microsoft Office 2010 b. Bahan:
- Desain data awal lokasi tambang 3.1.2 Waktu dan Lokasi
a. Waktu
Waktu penerjaan Laporan : 5-19 April 2016 b. Lokasi
3.2 Diagram Alir Pengerjaan
3.3 Penjelasan Diagram Alir
1. Mulai
2. Masukkan data desain mentah yang didapatkan dari pengukuran terestrial dalam format .dwg yang terdiri dari 3 file
3. Menetukan rencana desai lokasi tambang awal yang akan digunakan, dimana terdapat 4 tahap perencanaan yang akan dilakukan, diantaranya:
a. Pembuatan kontur bayangan
b. Pembuatan titik baru perencanaab titik desain lokasi tambang
c. Pembuatan rencana jalur eksploitasi hasil tambang
d. Menentukan desain profil eksisting
4. Pada pelaksanaan pekerjaan point (d) dilakukan dengan menentukan desain profil eksisiting,
5. Dalam langkah ini akan didapatkan hasil berupa tampilan profil eksisiting memanjang dan melintang pada desain tambang yang akan direncanakan dan desain berdasartak data awal.
6. Dalam pelaksanaan pekerjaan pada point (c) dilakukan untuk melakukan Pembuatan Rencana Jalur Eksploitasi Hasil Tambang. Dengan syarat kemiringan jalan tambang (grade) ≤ 8% dari titik eksploitasi menuju akases jalan elevasi tertinggi, jika kemiringan didapatkan ≥ 8% maka desain yang dibuat harus diulang kembali mengingat untuk efisiensi dan keamanan selama proses pengankutan hasil tambang yang akan dilakukan, jika telah mememnuhi syarat dapat dilanjutkan pada proses selanjutnya menuju point (a) dan (b).
8. Dari proses tersebut didapatkan hasil berupa Hasil Building Countour Baru pada desain lokasi tambang.
9. Dari hasil tersebut dilanjutkan dengan dua tahap lagi, diantaranya (1) penentuan volume desain tambang dan (2) menentukan profil rencana memanjang dan melintang.
10. Dalam langkah point (1) akan didapatkan hasil berupa nilai volume desain perencanaan lokasi pertambangan, yang kemudian dilanjutkan dalam langkah menentukan dan menampilakn dalam bentuk 3D Modelling rencana desain lokasi tambang
11. Yang kemudian dilanjutkan dengan didapatkannya hasil berupa Design 3D Modelling lokasi area pertambangan.
12. Dalam langkah lanjutan dari point (2) dalam menentukan prifil rencana memanjang dan melintang didapatkan hasil berupa tampilan Design Profil memanjang dan melintang.
13. Finish, dengan didapatkan hasil data akhir berupa 4 hasil, dinataranya: profil eksisiting memanjang dan melintang, profil rencana memanjang dan melintang,
Design Profil memanjang dan melintang, dan 3D Modelling rencana desain lokasi tambang.
3.4 Langkah Pengerjaan
Dalam pembuatan desain tambang ini terdapat bebebrapa langkah yang akan dilakukan, sebelum melakukan langkah dalam pembuatan berikut ini adalah tampilan awal lokasi pertambangan yang akan didesain untuk kegiatan tambang.
3.4.1 Kondisi awal lokasi pertambangan (Eksisting)
Gambar 3. 2 Kondisi Kontur Eksisting 3.4.2 Kondisi Profil Memanjang dan Melintang Eksisting
Dalam menampilkan profil memanjang dan melintaang kondisi pertambangan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Klik menu layer pada autocad nyalakan layer yang dibutuhkan pada tahapan awal pembuatan profil eksisting.
Gambar 3. 3 Tampilan AutoCAD
Gambar 3. 4 Toolbar Terrain
3. Kemudian akan muncul gambar seperti dibawah ini, tekan enter pilih salah satu polyline profil melintang/memanjang.
Gambar 3. 5 Tampilan untuk memilih profil 3.4.3 Desain Profil Memanjang dan Melintang Rencana
Berikut ini merupakan langkah-langkah pengerjaan desain profil memanjang dan melintang rencana:
1. Berikut merupakan proses kontur awal yang digantikan dengan kontur bayangan yang telah dibuat.
2. Langkah berikutnya yaitu pembuatan titik baru perencanaan titik desain.
Gambar 3. 7 Titik perencanaan lokasi tambang
3. Berikut merupakan tampilan CAD saat di zoom dan sekaligus pembuatan layer titik-titik bayangan yang nantinya akan digunakan untuk perencanaan Building new contour design tambang.
Gambar 3. 8 Zoom layer kontur bayangan
4. Langkah selanjutnya yaitu mengaktifkan layer titik-titik bayangan yang telah dibuat, sehingga didapatkan hasil seperti dibawah ini.
Gambar 3. 9 Layer bayangan
Gambar 3. 10 Zoom layer kontur bayangan rencana Building
6. Langkah selanjutnya yaitu pembuatan rencana profil memanjang. Klik icon Terrain -> sections -> view quick sections -> pilih garis memanjang -> enter. Maka hasilnya seperti tampilan dibawah ini.
Gambar 3. 11 Langkah Menampilakn Profil Memanjang
7. Berikut adalah hasil setelah dilakukan proses pembesaran (zoom).
Gambar 3. 12 Tampilan Profil Memanjang
Gambar 3. 13 Langkah Menampilakn Profil Melintang
9. Berikut adalah hasil setelah dilakukan proses pembesaran (zoom).
Gambar 3. 14 Tampilan Profil Memanjang
3.4.4 Konvert File .dwg ke .shp dengan Global Mapper
Dalam mengubah format data dari.dwg ke .shp dengan global mapper dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
1. Buka software Global Mapper seperti pada tampilan gambar dibawah ini.
Gambar 3. 15 Tampilan Awal Software Global Mapper
Gambar 3. 16 kotak dialog sistem proyeksi
3. Berikut ini adalah tampilan file yang dibuka
pada software ini.
Gambar 3. 17 Tampilan File di Global Mapper
4. Selanjutnya melakukan proses export format data dari .dwg ke .shp. seperti pada tampilan idbawah ini. File Export Export Vector Data.
Gambar 3. 18 Export Data ke .shp
5. Kemudian akan muncul kotak dialog format data yang diinginkan. Pilih Sharpfile.
Gambar 3. 19 Kotak Dialog Format Data
tampilan dibawah ini.
Gambar 3. 20 Tampilan Save As
7. Kemudian untuk mengatur Sharpfile Export Option seperti pada gamba dibawah ini. Maka file sudah berhasil dilakukan proses konversi.
Gambar 3. 21 Sharpfile Export Options 3.4.5 Desain 3D Modelling dengan ArcScene
Langkah yang dilakukan dalam pembuatan 3D Modelling pada software ArcScene adalah sebagai berikut:
1. Buka software ArcScene, kemudian buka file yang telah di konvert ke format data .shp, dengan cara klik Add Data buka file Add
Gambar 3. 22 Add Data ArcScene
Gambar 3. 23 Tampilan Peta 2D
3. Kemudian dilanjutkan dengan proses pembuatan 3D Modelling dengan cara ArcScene ArcToolbox Data Management Tin Create Tin. Maka akan muncul tampilan kotak dialog seperti pada gambar dibawah ini. Kemudian pilih 3D simpan dengan nama save.
Gambar 3. 24 toolbox output Tin
Gambar 3. 25 kotak dialog Referensi Datum
5. Dilanjutkan dengan Create Tin, dengan memilih folder destinasi penyimpanan pada output TIN, memilih koordinat sistem, dan input feature class, kemudian pilih file 2D yang telah disimpan tadi ok.
Gambar 3. 26 Create TIN
6. Maka akan muncul tampilan seperti pada gambar dibawah ini.
Gambar 3. 27 Tampilan 3D
BAB IV HASIL DAN ANALISA 4.1 Hasil Desain Perencanaan Lokasi Tambang 4.1.1 Hasil Kontur Eksisting Lokasi Tambang
Berikut ini adalah hasil kontur data awal:
Gambar 4. 1 Tamppilan kontur data awal 4.1.2 Hasil Desain Profil Eksisting Memanjang Dan Melintang
Berikut hasil dari profil memanjang dan melintang lokai tambang eksisting. Dalam hasil ini kami mengambil 4 sample memanjang dan 5 melintang:
- Tampilan hasil profil memanjang eksisting
Memanjang 1 Memanjang 2
Gambar 4. 2 Tampilan Profil Memanjang Eksisting - Tampilan hasil profil melintang eksisting
Melintang 1 Melintang 2
Gambar 4. 3 Tampilan Profil Melintang Eksisting 4.1.3 Hasil Desain Desain Profil Rencana Memanjang Dan Melintang
Berikut hasil dari profil memanjang dan melintang lokai tambang rencana. Dalam hasil ini kami mengambil 4 sample memanjang dan 5 melintang:
Memnjang 1 Memanjang 2
Memanjang 3 Memanjang 4
Gambar 4. 4 Tampilan Profil Memanjang Rencana
-- Tampilan hasil profil melintangrencana
Melintang 1 Melintang 2
Melintang 3 Melintang 4
Melintang 5 Melintang6
Gambar 4. 5 Tampilan Profil Melintang Rencana
4.1.4 Hasil Volume Galian Rencana Lokasi Pertambangan
Berikut ini adalah hasil perhitungan volume yang dilakukan seperti terlihat pada gambar berikut ini.
4.1.5 Hasil Desain Bentuk 3D Modelling Rencana Desain Tambang
Berikut ini tampilan hasil dari pengolahan data desain dalam ArcScene yang berupa tampilan data 2D dan 3D seperti pada gambar dibawah ini:
Gambar 4. 7 Tampilan desain 2D
Gambar 4. 8 Tampilan Desain 3D
4.2 Analisa
Dalam pengerjaan desain lokasi tambang batu kapur ini terdapat hal-hal yang dilakukan, berikut adalah analisa dari tahapan pembuatan desain tambang yang telah dilakukan oleh kelompok 5:
Gambar 4. 9 Kondisi Kontur Eksisting
Gambar 4. 10Kontur Bayangan Desain Tambang
Gambar 4. 11Layer bayangan
2. Desain tambang ini memiliki nilai kontur terendah 0 meter dengan kontur tertingginya 45 meter dengan interval kontur 5 meter.
3. Desain tambang ini memiliki kemiringan lereng (slope) sebesar 19% dan kemiringan jalan sebesar 6.5%.
5. Setelah desain tambang terbentuk dilakukan identifikasi profil memanjang dan melintang, identifikasi ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui bentuk cekungan dari wilayah daerah pertambangan. Berikut adalah gambar profil memanjang dan melintang :
a. Data Eksisting (awal) i. Profil Memanjang
Memanjang 1 Memanjang 2
Gambar 4. 12Tampilan Profil Memanjang Eksisting
ii. Profil Melintang
Melintang 1 Melintang 2
Gambar 4. 13Tampilan Profil Melintang Eksisting
b. Data Rencana
i. Profil Memanjang
Memanjang 3 Memanjang 4 Gambar 4. 14Tampilan Profil Memanjang Rencana
ii. Profil Melintang
Melintang 1 Melintang 2
Melintang 3 Melintang 4
Melintang 5 Melintang 6
Gambar 4. 15Tampilan Profil Melintang Rencana
daerah pertambangan. Pada profil memanjang dan melintang pada tahap rencana terlihat bahwa elevasi terendah berada pada 0 (nol) meter.
7. Pada langkah pembuatan peta 3D model aplikasi yang digunakan adalah arcScene, pembuatan peta 3D dilakukan agar dapat dilihat perbedaan elevasi tiap interval kontur. Berikut adalah tampilan peta 3D :
Gambar 4. 16Tampilan Desain 3D
BAB V SIMPULAN 5.1Simpulan
Dalam pengerjaan desain lokasi pertambangan terdapat beberapa langkah yang harus diketahui untuk menunjang proses pembuatan desain keseluruhan. Berdasarkan data awal yang digunakan didapatkan kontur lokasi pertambangan yang berdasarkan pengukuran secara terestrial, kontur ini digunakan sebagai data awal perbandingan pembuatan desain. Dan berdasarkan data tersebut dibuat desain lokasi tambang seperti yang ditampilkan pada hasil pada halaman sebelumnya. Kemudian didapatkan desain profil memanjang dan melintang dari data eksisting dan rencana yang terdapat beberapa perbedaan setelah dilakukan pengglaian lokasi area tambang.
Untuk mengetahui volume galian rencana lokasi pertambangan dapat dilakukan dengan menggunakan software AutoCAD Land Desktop dari sisni akan kelihatan volume yang telah dilakukan pemotongan berdasarkan desai tambang yang dibuat. Pembuatan 3D Modelling rencana desain tambang dilakukan untuk melihat desain yang telah dibuat dalam keadaan tiga dimensi untuk mengetahui gambaran desain lokasi tambang yang akan dibuat.
5.2 Saran
Berikut saran yang dapat kami sampaikan untuk pembaca :
1. Sebelum melakukan pengerjaan desain tambang, sebaiknya kita mencari informasi dari berbagai sumber untuk dijadikan sebagai refrensi, sehingga dapat memudahkan dalam proses pengerjaan, baik dalam penentuan acuan desain luasan tambang, ataupun penentuan acuan titik desain elevasi model.
2. Mencari berbagai informasi dan mempelajari cara penggunaan ArcGIS dalam kegiatan desain 3 Dimensi.
DAFTAR PUSTAKA
anonim. (2011, juni jumat). pengukuran profil memanjang dan melintang . Retrieved april senin, 2016, from https://belajargeomatika.wordpress.com/2011/06/18/pengukuran-profil-memanjang-dan-melintang/.
anonim. (2011, desember senin). tahapan-tahapan kegiatan . Retrieved april senin, 2016, from http://kumpulaninfotambang.blogspot.co.id/2011/12/tahapan-tahapan-kegiatan-us.
Favian, E. (2010, mei selasa). aplikasi perpetaan dalam bidang pertambangan. Retrieved april senin, 2016, from
https://www.academia.edu/8522722/APLIKASI_PERPETAAN_DALAM_BIDAN G_PERTAMBANGAN.
kasmat. (2012, november kamis). pengertian kontur dan kemiringan lereng. Retrieved april senin, 2016, from http://kasmatyusufgeo10.blogspot.co.id/2012/11/pengertian-kontur-dan-kemiringan-lereng.html.
Risejet, R. (2013, mei sabtu). tambang terbuka surface mining. Retrieved april senin, 2016, from http://rachmatrisejet.blogspot.co.id/2013/05/tambang-terbuka-surface-mining.html.
Yusuf, K. (2012, November Jumat). Pengertian Kontur dan Kemiringan Lereng. Retrieved April Senin, 2016, from