PERCERAIAN DALAM BERITA
(ANALISIS WACANA KRITIS BERITA KONFLIK RUMAH TANGGA PADA RUBRIK NGANAL KODEW RADAR MALANG)
Shabrina Paramacitra
ABSTRAK
Berita Nganal Kodew pada koran Radar Malang memuat kisah tentang konflik rumah tangga, yang seringkali berujung pada perceraian. Berita yang dimuat rutin setiap hari ini mengupas konflik tersebut dalam gaya bahasa yang berbeda dengan bahasa jurnalistik pada umumnya. Perceraian tersebut diceritakan lewat diksi yang unik. Penelitian ini menggunakan analisis wacana kritis Teun A. van Dijk. Dari hasil analisis, ditemukan bahwa teks Nganal Kodew cenderung mengisahkan perceraian sebagai humor. Kendati perceraian adalah konflik yang serius dalam sebuah hubungan rumah tangga, Nganal Kodew lebih menonjolkan perceraian dari sisi hiburan dan seks. Wacana ini dipengaruhi oleh konteks pekerja media yang secara kognitif dibentuk dan dipengaruhi oleh tujuan ekonomi. Nganal Kodew adalah bentuk dari komodifikasi konten untuk meraih keuntungan.
Kata-kata kunci: perceraian, Nganal Kodew, analisis wacana kritis.
Pendahuluan
Media adalah salah satu hal yang berpengaruh pada perubahan sosial masyarakat. Kebiasaan dan perilaku masyarakat dapat dipengaruhi oleh apa yang disampaikan oleh media. Cara pandang masyarakat, nilai dan norma yang berlaku, salah satunya dipengaruhi oleh informasi yang disampaikan media. Begitu pun sebaliknya, isi media juga dipengaruhi oleh keadaan dan perubahan-perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Hal itu karena antara media massa dan masyarakat ada proses interelasi, yaitu proses menyampaikan dan menerima pesan, serta memengaruhi dan dipengaruhi (Oetama, 2004, h. 223).
Tidak semua hal layak dijadikan sebuah informasi dan disajikan kepada publik. Kusumaningrat dan Kusumaningrat (2005, h. 64-66) menyebutkan:
Nilai-nilai berita tersebut tidak berdiri sendiri dalam sebuah berita. Nilai-nilai ini biasanya terkombinasi, misalnya unsur ketidaklaziman dengan humor, atau unsur konflik dengan seks.
Salah satu nilai berita yang mampu menarik minat khalayak adalah konflik. Nilai berita ini mengangkat sesuatu yang mengancam rasa aman yang diinginkan manusia. Konflik antar individu, kelompok maupun negara dengan mudah dapat menggugah perhatian orang (LPM Perspektif, 2011, h.33). Bahkan konflik interpersonal juga dianggap mempunyai suatu nilai berita yang menarik, contohnya seperti yang dimuat dalam rubrik Nganal Kodew pada koran Radar Malang. Rubrik ini memuat berita seputar konflik hubungan percintaan, baik antara sepasang kekasih maupun pasangan suami istri. Konflik-konflik tersebut seringkali berujung pada perceraian.
Yang menarik, meski mengandung unsur konflik, bahasa yang digunakan cenderung tidak serius seperti bahasa jurnalistik pada umumnya, karena mengandung unsur humor dengan tujuan menghibur. Dengan adanya rubrik Nganal Kodew, berita-berita yang disajikan koran Radar Malang terasa lebih beragam. Selain itu karena pengemasan bahasanya yang mengundang rasa humor, konflik rumah tangga yang menjadi bahasan utama rubrik ini tidak terkesan berat.
Hubungan pernikahan adalah hubungan yang sakral. Mitos sebuah institusi keluarga tidak hanya dibangun atas landasan cinta, namun juga hukum dan agama). Masyarakat di Indonesia dikenal dengan masyarakat yang religius, dan keberagamaannya pun tidak dapat diremehkan (Yewangoe, 2009, h. 65). Faktor kesetiaan sangat
dijunjung dalam agama, sehingga rumah tangga tersebut harus diupayakan agar tetap utuh. Sebuah rumah tangga tentu mempunyai tujuan dasar dengan peranan yang berbeda dari masing-masing individu. Megawangi (1999, h. 68) menyebutkan, dalam rumah tangga suami dan istri menempati struktur yang berbeda. Ia menulis:
“Berhubung suami
diharapkan berada di luar rumah untuk mencari nafkah, dan istrinya biasanya di rumah, maka istri diharapkan berperan memberikan kedamaian agar integrasi dan keharmonisan dalam keluarga
dapat tercapai.
Ketidakseimbangan antara peran instrumental dan ekspresif dalam keluarga akan membuat keluarga tidak seimbang.”
Suami dan istri mempunyai fungsi dan peranan yang berbeda. Suami menempati posisi sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab pada pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Sedangkan istri berperan sebagai sosok yang membangun keharmonisan, juga berfungsi sebagai ibu yang melahirkan dan mengasuh anak. Struktur dan fungsi ini berkaitan dengan konstruksi gender. Dalam perspektif Megawangi, ketika suami dan istri mengalami ketimpangan fungsi dan peran, akan ada potensi timbulnya konflik.
peran dan egoisme menimbulkan konflik dalam rumah tangga.
Langer (1998, h. 17) menyatakan, berita dan produk media lainnya merupakan bentuk representasi yang seharusnya dipahami sebagai sebuah praktik penandaan. Bagaimana Radar Malang menuliskan berita tentang konflik rumah tangga, bagaimana alur cerita dan gaya bahasanya, sebenarnya juga merupakan sebuah praktik penandaan. Praktik penandaan ini berhubungan dengan bagaimana sebuah teks berita tidak saja mengandung arti, tapi lebih jauh, mengandung makna. Makna itu sendiri berhubungan dengan konstruksi. Sobur (2001, h. 88) menyebutkan, disebabkan sifat dan faktanya bahwa pekerjaan media massa adalah menceritakan peristiwa-peristiwa, maka seluruh isi media adalah realitas yang telah dikonstruksikan (constructed reality).
Berita yang merupakan hasil konstruksi media massa tentunya mempunyai makna dan maksud tertentu. Tujuan tersebut bukan saja seputar bagaimana media menghibur dan mendidik masyarakat. Pun ketika media massa mengaku memproduksi teks dengan tujuan edukatif, sebetulnya ada maksud tertentu, mengapa teks diproduksi dengan konten dan bahasa yang demikian. Analisis wacana kritis adalah metode yang dipilih oleh penulis dalam penelitian ini. Berdasarkan paparan inilah, penulis mengambil judul penelitian Perceraian dalam Berita (Analisis Wacana Kritis Berita Konflik Rumah Tangga pada Rubrik Nganal Kodew Radar Malang).
Metode Penelitian
Penulis menggunakan analisis wacana yang digagas oleh Teun A. van Dijk. Menurut van Dijk, analisis
wacana tidak terpaku pada analisis tekstual saja, tapi juga memperhatikan unsur praktik sebuah produksi teks. Van Dijk (1997, h. 32) menaruh perhatiannya terhadap wacana dengan tiga dimensi utama, yaitu penggunaan bahasa, kognisi, dan interaksi dalam konteks sosiokultural. Penulis memilih analisis wacana van Dijk karena model analisis wacananya tidak saja menelaah unsur gramatikal dalam sebuah teks, tapi juga mengaitkan faktor gramatikal tersebut dengan faktor kognisi pembuat teks dan konteks yang melingkupinya. Unit analisis yang didapat dari teks berita Nganal Kodew antara lain bahasa jurnalistik, ilustrasi pernyataan individu yang menjadi informan (wartawan, redakur dan ilustrator Nganal Kodew).
Data teks dalam penelitian ini adalah teks berita Nganal Kodew tentang konflik rumah tangga yang terbit selama bulan Januari 2013. Penulis mengambil data ini karena kasus cerai di Malang selama bulan tersebut adalah yang paling tinggi selama semester pertama 2013. Hal ini didasarkan pada berita yang pernah dimuat pada koran Radar Malang pada edisi 11 Agustus 2013. Penulis juga hanya menggunakan teks berita yang didapat dari pengadilan agama. Alasan penulis adalah, jika konflik hubungan perkawinan sudah sampai pada pelaporan di pengadilan agama, itu berarti konflik tersebut sudah benar-benar serius karena individu-individu dalam hubungan tersebut memilih solusi memutuskan hubungan pernikahan untuk mengatasi konflik rumah tangganya.
edisi 17, 26 dan 31 Januari 2013. Beberapa inisial yang yang tercantum dalam 3 berita tersebut antara lain yon, lid, bb, nen, riq. Pemilik inisial yon, bb dan riq adalah wartawan yang meliput berita Nganal Kodew. Sedangkan pemilik inisial lid dan nen adalah redaktur yang menyunting berita Nganal Kodew. Selain itu pada ilustrasi berita juga tercantum nama ilustrator, Andhiwira. Penulis menjadikan para pemilik insial ini sebagai informan. Analisis pada penelitian ini menggunakan analisis wacana yang digagas Teun A. van Dijk. Analisis wacana van Dijk terdiri dari tiga dimensi, yakni teks, kognisi sosial, dan konteks.
A. Teks
Pada level teks, analisis wacana mempelajari bagaimana struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan sebuah tema. Dimensi tekstual menjelaskan struktur wacana pada berbagai tingkat deskripsi (van Dijk, 1988, h. 25). Van Dijk membagi elemen-elemen analisisnya meliputi:
Tabel 3.3 Uraian analisis dimensi teks van Dijk Hal yang diamati Elemen Tematik: bahasan
wacana secara keseluruhan (van Dijk, 1988, h. 30)
Topik
Skematik: struktur global dari sebuah wacana yang mendukung tema (van Dijk, 1988, h. 51)
Skematik
Semantik: makna kata, kalimat dan
Latar, tingkat deskripsi,
wacana. (van Dijk, 1988, h. 25)
implisit, penyangkalan Sintaksis: deskripsi
kata benda dan frasa nomina dalam kalimat dan kombinasi antar kalimat (van Dijk, 1988, h. 25)
Bentuk kalimat, koherensi lokal
Stilistik: variasi leksikal atau diksi (van Dijk, 2000, h. 89)
Leksikon
Retoris: properti wacana yang digunakan untuk tujuan persuasif (van Dijk, 1988, h. 28)
Metafora, grafis
Sumber: olahan penulis
B. Kognisi Sosial
Kognisi sosial berkaitan dengan proses produksi teks yang melibatkan kognisi individu yang memproduksi teks. Cara pandang tertentu (seperti opini, sikap, dan ideologi) dari individu yang memproduksi teks inilah yang berpengaruh terhadap produk teks media. Ini tidak hanya berhubungan dengan pengetahuan dan kepercayaan, tapi juga norma dan nilai, yang disebarkan melalui kelompok sosial dan budaya (van Dijk, 1988, h. 108). Analisis kognisi sosial dibutuhkan untuk menghubungkan teks (wacana) dengan konteks masyarakat yang lebih luas. Van Dijk menyatakan (2005, h. 87):
social cognitions are primarily defined in terms of the beliefs shared by members of groups and communities. It is also within this perspective that we defined knowledge not as personal beliefs, but as social beliefs certified, shared and hence discursively presupposed by the members of epistemic communities.”
Pada saat yang bersamaan, kognisi yang memengaruhi proses produksi teks juga berinteraksi dengan pengetahuan dan ideologi wartawan. Van Dijk menganggap aspek kognisi wartawan yang sebetulnya bersifat sangat pribadi juga merupakan hasil dari interaksi wartawan dengan lingkungan di sekitarnya, karena wartawan itu sendiri juga merupakan individu dalam komunitas masyarakat. Itulah sebabnya kognisi merupakan penghubung antara teks dengan konteks.
Strategi-strategi yang ada dalam dimensi teks, seperti pemaknaan, koherensi, skema naratif dan lain-lain, menunjukkan bahwa pengguna bahasa mempunyai pengetahuan. Mereka tahu bagaimana cara mengatur dan mengolah tata bahasa sedemikian rupa hingga membentuk sebuah wacana (van Dijk, 1997, h. 17). Ada beberapa strategi menurut van Dijk (1988, h. 115-117) yang dilakukan wartawan dalam memproduksi sebuah wacana. Strategi itu antara lain:
a. Seleksi
Seleksi adalah strategi wartawan ketika menentukan layak dan tidaknya sebuah peristiwa menjadi sebuah
berita. Jika sebuah peristiwa itu memang berpotensi menarik perhatian khalayak, dan sesuai dengan standar nilai berita yang dianut media massa tersebut, maka proses seleksi akan lebih mudah. b. Reproduksi
Reproduksi berhubungan dengan sumber informasi berupa teks tertulis. Terkadang informasi tertulis dari narasumber berita bisa dijadikan data yang tidak kalah akurat dibanding sumber lainnya.
c. Penyimpulan
Penyimpulan adalah peringkasan. Sebuah peristiwa tidak akan ditulis secara utuh dan seimbang oleh wartawan. Penghilangan informasi, penambahan informasi lain yang dianggap umum, menyamaratakan atau mengeneralisasi informasi-informasi tertentu, semua proses tersebut dilakukan untuk meringkas teks yang diproduksi. Intensitas dan frekuensi wartawan mewawancarai narasumber tertentu, atau menerima informasi tertulis dari narasumber juga memengaruhi cara mereka dalam penyimpulan ini.
d. Transformasi lokal
dan ungkapan-ungkapan agar sebuah berita menjadi lebih menarik.
C. Konteks
Menurut van Dijk (2001, h. 356), konteks didefinisikan sebagai struktur representasi mental dari situasi sosial yang relevan dengan produksi dan pemahaman wacana. Konteks misalnya terdiri dari situasi, setting (waktu dan tempat), keadaan masyarakat, beserta representasi mental (tujuan, pengetahuan, opini, sikap dan ideologi). Untuk menganalisis dimensi konteks, van Dijk menaruh beberapa poin perhatian. Di antaranya akses dan kekuasaan (access and power) idologi (ideology) dan aspek intertekstualitas (intertextuality). Semua poin ini saling berkaitan satu sama lain:
1. Akses dan kekuasaan
Analisis wacana kritis bertumpu pada ketidakseimbangan, dominasi dan praktik kekuasaan. Dalam ketidakseimbangan ini, ada kelompok yang lebih berkuasa atas yang lain. Kuasa ini didasarkan atas akses pada banyak hal, misalnya uang, status, ketenaran, pengetahuan, informasi, dan otoritas (van Dijk, 2001, h. 355). Van Dijk meminjam konsep hegemoni Gramsci, bahwa kekuasaan dari kelompok dominan terintegrasi ke dalam hukum, peraturan, norma, kebiasaan yang diakui sebagai sebuah konsensus (Gramsci, dikutip dari van Dijk, 2001, h. 355). Kekuasaan ini kemudian dapat memengaruhi wacana, mulai dari pemilihan topik bahkan sampai level struktur teks (van Dijk, 2001, 356).
2. Ideologi
Van Dijk (2006, h. 115) mengombinasikan ideologi sebagai gabungan dari komponen diskursif, kognitif dan sosial yang merepresentasikan kelompok sosial. Ia menyebutkan:
“As 'systems of ideas',
ideologies are
sociocognitively defined as shared representations of social groups, and more specifically as the `axiomatic' principies of such representations. As the basis of a social group's selfimage, ideologies organize its identity, actions, aims, norms and values, and resources as well as its relations to other social groups.”
Ideologi memang memengaruhi proses produksi dan wacana yang dihasilkan. Namun pengaruhnya tidak dirasakan secara langsung. 3. Intertekstualitas
Pembahasan
Dari ketiga berita yang dianalisis, pada berita pertama dan ketiga, konflik yang digambarkan cenderung menyudutkan istri. Sedangkan berita kedua tampak bahwa suami yang menjadi korban konflik. Meskipun disebutkan bahwa terkadang suami adalah pihak yang menimbulkan konflik namun wacana ini seringkali terpinggirkan. Baik dalam ungkapan yang eksplisit maupun implisit, istri justru selalu tampak menjadi pihak yang lemah. Bahkan ketika suami dinarasikan sebagai pihak yang salah, selalu ada narasi lain yang mengungkapkan kesalahan di pihak istri.
Bungin (2003, h. 130) mengungkapkan, perempuan (istri) menempati posisi tersubordinasi dan selalu kalah. Hal inilah yang direkonstruksi dalam media massa. Melalui bahasa, media menyebarkan wacana bahwa istri selalu salah. Kalau pun suami yang salah, itu karena istrinya tidak bisa bersikap sesuai struktur dan fungsinya. Dalam teks Nganal Kodew, sangat sulit bagi seorang istri untuk bisa sekadar mendapat perhatian, diingat dan dicintai oleh suaminya. Istri harus selalu tampil awet muda, serta selalu ada sebagai penyedia layanan hubungan seks bagi suaminya.
Mengenai struktur dan fungsi, rumah tangga dalam teks Nganal Kodew mengalami konflik. Konflik terjadi akibat adanya ego dari salah satu pihak. Seperti yang dikatakan Megawangi (1999, h. 77), menurut perspektif sosial konflik, kehidupan manusia selalu diwarnai dengan pola relasi dominasi dan penindasan. Sementara menurut Dahrendorf (1958,
h. 171-175), konflik akan selalu timbul, karena stabilitas dan perubahan, integrasi dan konflik, fungsi dan disfungsi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan selama masih ada pembagian masyarakat berdasarkan kelas. Dalam kaitannya dengan rumah tangga, pernyataan Dahrendorf tersebut dapat diartikan bahwa selama rumah tangga itu dikonsep berdasarkan struktur, maka konflik tidak akan bisa dihindari.
Penulis menemukan bahwa berita Nganal Kodew banyak menggunakan bahasa yang sering digunakan dalam bahasa tutur, seperti bahasa slang. Bahasa tutur atau bahasa yang biasa digunakan dalam percakapan verbal sehari-hari ini mewarnai bahasa jurnalistik pada berita. Banyak kata-kata khusus yang maknanya menyimpang dari makna yang dikenal pada umumnya. Mulyana (2007, h. 311) menyebut bahasa ini sebagai bahasa khusus, bahasa gaul, atau argot. Bahasa gaul ini ditunjukkan lewat kata-kata, singkatan maupun istilah tertentu yang unik, menyimpang, bahkan berbeda jauh artinya dengan apa yang ada dalam kamus denotatif.
berita. Penggambaran tentang seks ini mengarahkan pikiran pembaca tentang bagaimana dan seperti apa seks itu.
Pornoteks ini seringkali dikemas dengan menggunakan kiasan atau majas. Majas dalam teks Nganal Kodew digunakan untuk mengemas hal-hal yang dianggap tabu oleh redaksi, agar terlihat lebih sopan, unik dan menarik. Padahal, majas adalah warisan budaya bangsa Indonesia yang memiliki kedalaman makna dan tingkat intelektualitas tinggi. Majas memiliki peranan yang penting dalam pergaulan sehari-hari yang positif, berkelas, berkualitas dan berbudi pekerti luhur (Tim Dunia Cerdas, 2013, h. 323).
Sedangkan dalam Nganal Kodew majas digunakan untuk mengemas hal-hal yang konotasinya negatif. Meski dianggap lebih menarik, namun penggunaan majas di sini sudah berbeda dengan fungsi majas pada umumnya. Majas yang seharusnya digunakan untuk tujuan mendidik justru digunakan untuk hal-hal yang kurang mendidik, kendati redaksi menyatakan tujuan diadakannya rubrik Nganal Kodew itu sendiri adalah untuk mendidik.
Dalam analisis kognisi sosial, penulis memerhatikan latar belakang budaya dan lingkungan informan. Sesuai apa yang ditulis oleh van Dijk (2005, h. 87), bahwa ideologi, pengalaman dan kepercayaan pembuat wacana akan memengaruhi bagaimana wacana tersebut diproduksi. Kognisi ini kemudian memengaruhi proses dan hasil produksi teks Nganal Kodew. Dari hasil wawancara, penulis menemukan perbedaan antara informan laki-laki dan perempuan. Wartawan, redaktur dan ilustrator laki-laki cenderung lebih imajinatif. Mereka banyak menggunakan peribahasa,
singkatan yang unik, bahkan cenderung mengarah ke hal yang berbau seks. Penggunaan bahasa seperti ini mereka lakukan untuk menimbulkan nilai humor pada berita Nganal Kodew. Hal yang sama juga terjadi pada ilustrasi. Ilustrator membuat gambar dengan balon kata yang berisikan kalimat-kalimat percakapan yang lucu dan terkadang seronok.
Berbeda dengan redaktur wanita, yang mengaku tidak pernah membuat singkatan-singkatan serupa. Ia hanya menggunakan singkatan-singkatan yang dibuat oleh temannya sesama redaktur karena memang demikianlah pakemnya. Ia memakai singkatan itu hanya untuk mewarnai berita agar menjadi lucu, bukan untuk mengasah kreativitasnya dalam mengarang bahasa dan singkatan yang aneh. Ini terjadi karena memang ada perbedaan antara komunikator laki-laki dan perempuan. Lakoff (1973, h. 45) menyebutkan, perempuan sering berada dalam dominasi laki-laki, sehingga bahasa perempuan tidak setegas laki-laki. Perempuan juga kurang rasa humor, kurang pandai menyampaikan lelucon, serta enggan menyumpahi dan memaki (Mulyana, 2007, h. 315). Hal ini seperti yang terjadi pada informan yang bernama Nenny Fitrin. Ia mengaku tidak pandai membuat singkatan-singkatan yang aneh sebagai “bumbu” dalam berita Nganal Kodew.
seperti penegas dan pendukung apa yang ditulis oleh wartawan Nganal Kodew, yang semuanya adalah laki-laki. Ini terjadi karena kognisi Nenny berada di bawah pengaruh laki-laki.
Menurut Mulyana (2007, h.316), laki-laki menggunakan lebih banyak pembicaraan instrumental untuk memengaruhi, mengendalikan orang lain dan melaporkan informasi. Nenny berbeda dengan informan yang bernama Kholid. Meski sama-sama berperan sebagai redaktur, Kholid mengaku lebih mengandalkan kreativitas. Karena itulah ia banyak menambahkan singkatan, ungkapan, kiasan, bahkan mengubah angleberita. Kholid lebih banyak melakukan pengubahan sedangkan Nenny tidak begitu banyak melakukan pengubahan. Hal ini terlihat dari teks berita Nganal Kodew edisi 17 dan 31 Januari 2013 yang diedit oleh Kholid. Dua edisi tersebut tampak lebih banyak menggunakan ornamen majas, singkatan dan kiasan dibanding berita Nganal Kodew edisi 26 Januari 2013 yang diedit oleh Nenny.
Selain karena masalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan, apa yang Kholid lakukan sesuai dengan pernyataan mantan Chief Executive Officer (CEO) Jawa Pos, Dahlan Iskan (dikutip dari Wazis, 2012):
“Wartawan ibaratnya adalah pencari bahan-bahan berita di lapangan. Sedangkan yang akan meramu dan memasak bahan-bahan itu untuk menjadi ‘suguhan berita’ yang enak dibaca dan perlu, seperti slogan majalah Tempo, adalah para redakturnya. Apabila suguhan beritanya tidak menarik, berarti sang juru masaknya, yakni para redaktur itu, yang tidak ahli memasaknya”.
Jadi, Kholid dan Dahlan Iskan, yang sama-sama laki-laki, sebetulnya mempunyai kesamaan pandangan, bahwa redaktur harus membuat berita yang sebeda mungkin, agar terlihat menarik. Berbeda dengan Nenny, meski ia tahu bahwa tugas redakur adalah mengedit berita agar lebih menarik, ia tidak melakukannya seperti yang dilakukan Kholid. Ia hanya mengedit sebatas ejaan dan tanda baca saja.
Meski ada sedikit perbedaan pada strategi pewacanaan, semua informan menganggap bahwa nilai berita konflik rumah tangga mampu menarik minat masyarakat. Menurut mereka, masyarakat menganggap hal ini menarik karena konflik mampu menggugah emosi khalayak. Selain itu
masyarakat juga suka
memperbincangkan masalah rumah tangga ketika mereka sedang berkumpul dalam suatu komunitas. Konflik-konflik yang diangkat ditulis berdasarkan kisah nyata. Menurut redaksi, tujuan rubrik ini adalah agar pembaca tidak meniru konflik-konflik yang ada dalam berita. Selain itu juga sebagai variasi rubrik agar koran Radar Malang mempunyai bacaan khas yang ringan namun tetap menarik dan menjadi ciri khas Radar Malang. Karena konflik ini begitu penting, wartawan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan data. Wartawan dan redaktur juga menggunakan bahasa yang unik ketika menulis dan mengedit berita Nganal Kodew.
Pada analisis konteks, ada tiga bahasan utama yaitu:
1. Akses dan kekuasaan
rumah tangga terletak pada materi dan struktur hierarkis yang lebih tinggi. Mills (2000, h. 10) mengungkapkan, rumah tangga yang menempatkan suami dan istri pada struktur justru mengindikasikan dominasi“Insofar as the family as an institution turns women into darling little slaves and men into their chief providers and unweaned dependents, the problem of a satisfactory marriage remains incapable of purely private solution”. Istri, menurut Mills, istri dianggap sebagai “budak kecil tercinta”, sedangkan suami sebagai kepala atau atasan. Relasi suami dan istri di sini tidak seimbang, meskipun dalam teori struktural fungsional pada awalnya disebutkan bahwa relasi dengan struktur adalah untuk mencapai keseimbangan.
Konteks Radar Malang adalah budaya Jawa, karena Malang sendiri adalah bagian dari Pulau Jawa. Selain itu, Radar Malang juga merupakan koran yang dibasiskan pada target khalayak lokal. Penulis mengambil konteks budaya Jawa dalam poin analisis ini. Istri dalam konteks budaya budaya Jawa diartikan sebagai sigaraning nyawa. Maksudnya, istri adalah belahan jiwa dari suami. Karena suami dan istri adalah satu, maka setengah dari yang satu bagian itu adalah sebuah entitas (Handayani & Novianto, 2004, h. 120). Entitas di sini adalah pernikahan. Masyarakat Jawa menganggap hubungan pernikahan adalah sebuah hubungan yang sakral, hingga satu bagian (istri) adalah setengah dari bagian yang lain (suami).
Masih menurut Handayani dan Novianto (2004, h. 203), ciri kekuasaan wanita Jawa tetap berpusat pada urusan domestik dengan sifat
yang lembut, tenang, kalem, pasif dan tidak menunjukkan pemberontakan. Kekuasaan istri di sini hanya berkutat pada lingkungan yang sempit. Meski dikatakan bahwa istri adalah “setengah bagian dari suami”, namun kekuasaan yang mereka miliki berada pada lingkungan yang berbeda dan cenderung kurang menguntungkan istri.
Penulis juga menarik sumber dari konteks agama Islam. Konteks ini penulis ambil berdasarkan data teks yang menjadi objek penelitian, yang semuanya menceritakan perceraian yang berujung di pengadilan agama (PA). Di Indonesia, perceraian yang didaftarkan ke PA adalah perceraian yang timbul dari pasangan muslim. Sedangkan pasangan yang menganut agama lain mendaftarkan perceraiannya ke pengadilan negeri (PN).
Hasil analisis teks mengemukakan bahwa istri harus selalu ada untuk suami sebagai “pelayan seks”. Jika tidak, suami bisa akan mencari wanita lain. Dalam sebuah ayat pada kitab suci agama Islam disebutkan, “Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai…” (QS. Al Baqarah 2: 223). Situs www.radioshahabat.net juga menuliskan tentang perempuan-perempuan yang dilaknat dalam agama:
“Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berkumpul hendaknya wanita itu mendatanginya sekalipun dia berada di dapur.” (HR. Tirmidzi: 4/387; dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib: 2/199)
istri enggan sehingga suami marah pada malam harinya, malaikat melaknat sang istri sampai waktu subuh.” (HR. Bukhari: 11/14)
Istri di sini diibaratkan sebagai “ladang milik suami yang bisa didatangi kapan saja”. Suami dibebaskan melakukan hubungan seks dengan istrinya. Istri, dalam konteks ini, diposisikan sebagai properti milik suami. Kekuasaan suami atas istri dalam hubungan seks sangat besar. Konteks budaya dan agama ini membuat teks diproduksi sedemikian rupa sehingga melanggengkan kekuasaan atas dasar gender.
Selain itu hasil analisis teks juga menyebutkan bahwa istri harus awet muda dan selalu ada sebagai penyedia layanan seksual. Wolf (2002, h. 12-14) menyebutkan banyak fenomena perempuan yang takut terlihat tua agar tampak menarik di mata laki-laki. Ini mengakibatkan banyak perempuan muda yang takut terlihat tua seperti ibunya, dan perempuan tua takut tersaingi oleh perempuan-perempuan lain yang masih muda, yang muda takut tua. Wollf (2002, h. 95) juga menjelaskan, wacana ini membuat perempuan sangat menghargai identitas kecantikan yang identik dengan perempuan muda. Contohnya terlihat dari banyaknya klinik kecantikan yang menawarkan perawatan anti-penuaan, dan itu sangat laku bagi konsumen perempuan, bahkan bagi yang masih muda sekali pun. Wacana bahwa istri harus selalu awet muda rupanya tertanam kuta dalam masyarakat. Bahkan dalam teks Nganal Kodew dengan konteks Malang, wacana tersebut terus direproduksi.
2. Intertekstualitas
Bahasan mengenai kekuasaan di atas sebetulnya juga berkaitan dengan aspek intertekstualitas. Intertekstualitas sendiri mempunyai makna yang luas. Van Dijk (2000a, h. 93-94) mendefinisikan intertextuality sebagai bentuk dari evidentiality. Artinya, bukti-bukti pendukung dari teks lain yang saling berkaitan adalah bentuk dari intertekstualitas. Menurut van Dijk, teks tidak hadir sendiri, tapi menjadi bagian dari perdebatan sosial-politik yang kompleks. Jadi, penulis menghadirkan teks-teks lain mengenai konflik rumah tangga (perceraian) dalam media lain. Tujuannya agar penulis mendapatkan gambaran bagaimana konflik direpresentasikan dalam teks-teks lainnya. Agar tidak terlalu meluas, penulis mengambil contoh teks berupa berita dan lagu Indonesia.
Teks pertama dikutip dari media www.memoarema.com, edisi 25 Oktober 2013. Penulis mengambil contoh teks dari situs ini karena Memo Arema adalah media lokal Malang yang sama-sama berada dalam naungan Jawa Pos Group, sepeti Radar Malang. Penulis di sini berusaha mengidentifikasi bagaimana media lokal di Malang yang lain selain Radar Malang merepresentasikan perceraian.
Teks berita ini berjudul “Mike D’Bagindas Gugat Cerai”. Tampak sekali istri menjadi tersudutkan dalam berita ini. Posisi istri di sini berada di pihak yang salah karena media tidak memberi ruang bagi pihak istri untuk memberikan statement. Sementara suami seolah menjadi korban atas kesalahan istrinya, dan menjadi lebih berkuasa dalam mendominasi wacana yang muncul di media.
Penulis mengutip dari media ini karena situs ini adalah media nasional yang juga berada di bawah naungan Jawa Pos Group. jpnn.com memuat berita-berita dari seluruh media nasional dan lokal milik Jawa Pos Group, termasuk salah satunya Radar Malang. Dengan menganalisis teks dari jpnn.com, penulis dapat mengetahui bagaimana media massa nasional yang berada satu grup dengan Radar Malang merepresentasikan relasi suami dan istri yang sedang berkonflik.
Teks berita ini berjudul “Masih Proses Cerai, Cut Tari Sudah Punya Gandengan?” Hampir sama dengan berita sebelumnya, berita ini membuat posisi istri sangat buruk. Pertama, Cut Tari diduga menjalin hubungan dekat dengan Richard Kevin meski kasus perceraiannya dengan Jusuf belum berakhir. Padahal, dugaan ini belum terbukti, hanya memuat komentar-komentar dari orang lain yang tidak ada hubungannya dengan rumah tangga Cut Tari, seperti satpam kantor dan pemilik rumah.
Berita lainnya penulis kutip dari media massa lain di luar Jawa Pos Group, yaitu ruangkabar.com edisi 15 Februari 2013. Penulis mengutip dari media ini untuk mengetahui bagaimana media nasional lain di luar Jawa Pos Group merepresentasikan perceraian suami-istri. Teks berita tersebut berjudul “Istri Melahirkan Anak Jelek, Suami Minta Cerai”.
Kembali, teks di sini menyudutkan pihak perempuan. Bahkan setelah istri berupaya mempunyai fisik yang cantik dengan mengeluarkan banyak uang, istri tersebut masih saja diceraikan karena alasan anak. Ia diceraikan karena melahirkan anak yang berfisik tidak menarik. Posisi istri dalam konflik ini sangat lemah. Media juga
tidak terlalu membela istri, karena media justru melabeli usaha istri untuk tampil cantik sebagai sebuah “ketidakjujuran”. Hal ini terdapat dalam kalimat “Namun jika melihat dari peristiwa tersebut bisa dikatakan bahwa kejujuran adalah awal dari permasalahan tersebut. Jika saja perempuan tersebut sejak awal telah menceritakan kisah hidupnya pada suaminya tersebut bisa jadi tidak akan demikian,” (paragraf 5, baris 1-4).
Teks lainnya yang dikuti oleh penulis adalah lagu tentang perceraian, yaitu “Surat Cerai” yang dinyanyikan Elvi Sukaesih. Dalam lirik lagu ini, istri juga menempati posisi yang lemah. Setelah bertengkar, ia ditinggal oleh suaminya. Kemudian ia menerima surat cerai dari suaminya dan tidak berdaya atas gugatan tersebut. Istri dalam lagu ini sangat merugi karen tidak mempunyai pembelaan atas gugatan dan penelantaran yang dilakukan oleh suaminya.
lemah, tidak punya kuasa, dan itu dilakukan justru karena ada strutur kekuasaan dalam rumah tangga.
Untuk analisis intertekstual lainnya, penulis mencari teks-teks lain yang terkati dengan penamaan tokoh perempuan dalam berita Nganal Kodew, yaitu Markonah. Seperti diberitakan situs www.koran-sindo.com, “Markonah” adalah judul sebuah pementasan teater dari Emak Production. Tokoh utama dalam teater ini adalah Nurbanah yang sering dijuluki dengan nama Markonah.
Dalam teater karya Asmara GT ini, Markonah ditokohkan sebagai seorang istri yang sangat setia pada suaminya. Meski ia ditinggal suaminya berperang, Markonah tetap menjaga diri. Karena bentuk fisiknya yang cantik dan molek, ditambah dasar sifat Markonah sendiri yang memang hobi berdandan, banyak suami di lingkungan sekitar tempat tinggal Markonah yang menyukai dan berusaha mendekati Markonah. Karena itu, banyak ibu-ibu tetangga Markonah yang membenci Markonah, karena iri pada fisik Markonah yang cantik dan cemburu pada suami yang lebih menyukai Markonah.
Selain teater, penulis juga menemukan tokoh Markonah dalam lagu berjudul “Markonah 19” karya Benyamin S. Ada satu kesamaan dalam diri tokoh Markonah, yaitu masalah fisik. Fisik Markonah dalam dua teks tersebut tidak lepas dari kecantikan dan bentuk tubuh, sehingga membuat laki-laki mudah tertarik. Penulis menarik kesamaan dengan teks Nganal Kodew, bahwa Markonah juga digambarkan sebagai sosok yang fisiknya menarik laki-laki. Misalnya kalimat “Markonah bertipe SMK (semok dan kencang) pada teks Nganal Kodew edisi 17
Januari. Pada teater berjudul “Markonah”, selain cantik, Markonah juga disebutkan sebagai istri yang setia pada suaminya.
Namun, Markonah pada dua teks tersebut juga mengalami nasib yang sama seperti Markonah pada berita Nganal Kodew, yaitu selalu merugi, salah dan bernasib sial. Misalnya tokoh Markonah yang pada akhir cerita teater “Markonah” mati dikeroyok tetangganya sendiri. Hanya karena cantik, ia dibenci lalu dibunuh. Sedangkan Markonah pada lirik lagu “Markonah 19” digambarkan sebagai sosok yang malas, tidak naik kelas dan menyesal. Meski disebutkan wacana bahwa Markonah itu istimewa karena setia dan cantik, namun pada akhirnya wacana ini juga terpinggirkan dengan wacana Markonah yang dibunuh dan tidak naik kelas. Sama seperti tokoh Markonah dalam Nganal Kodew, selalu ada penggambaran buruk yang hadir bersamaan dengan penggambaran yang baik mengenai sosok Markonah dalam sebuah teks.
3. Ideologi
“ideologically news implicity promotes the dominant beliefs and opinions of elite groups in society”.Jadi implisitas yang ada dalam berita mendukung kepercayaan dan opini kelompok yang berkuasa dalam masyarakat.
Lebih jauh, Gordon (1995, h. 18) menghubungkan ketidaksederajatan antara laki-laki dan perempuan dengan hierarki seksual dan kapitalisme. Ketidaksetaraan gender terlihat dari bagaimana teks Nganal Kodew menyudutkan istri, bahkan ketika istri tersebut sebenarnya menjadi pihak yang dirugikan akibat konflik. Sekalipun, ada juga, teks Nganal Kodew yang menggambarkan posisi suami lebih lemah dibanding istri, seperti pada berita Nganal Kodew edisi 26 Januari 2013. Konten berita semacam ini dapat menarik simpati pembaca, sehingga dijadikan sebagai komoditas untuk media Radar Malang.
Konflik yang diangkat dalam berita Nganal Kodew hampir mirip seperti konflik yang diangkat dalam infotainment. Wazis (2012, h. 14) menyatakan, konten informasi gosip dalam infotainment dianggap sebagai salah satu pemantik rasa penasaran masyarakat sehingga menimbulkan efek psikologis terhadap publik. Disadari atau tidak, masyarakat mulai menyukai bahkan menikmati sajian yang berisi gosip itu. Berita-berita dalam infotainment biasanya mengangkat kisah kehidupan kaum selebritas, misalnya tentang pernikahan, gaya pacaran artis-artis, bahkan tentang konflik rumah tangga, seperti perceraian. Konten ini mampu menarik rasa penasaran masyarakat dan dijadikan bahan berita yang disiarkan oleh media.
Berita infotainment mengangkat kisah pribadi artis yang sebetulnya
tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan masyarakat. Namun penelitian Nabiu membuktikan bahwa masyarakat memang senang dengan berita seperti ini, salah satunya yang menyangkut tentang perceraian. Media massa pun memfasilitasi masyarakat untuk mengakses informasi itu. Konflik dalam berita perceraian artis disukai masyarakat dan dianggap sebagai peristiwa yang penting. Ini sesuai dengan pandangan Kusumaningrat dan Kusumaningrat (2005, h. 65), bahwa peristiwa atau kejadian yang mengandung pertentangan selalu menarik perhatian pembaca. Hal ini sudah diteliti oleh para sosiolog, bahwa pada umumnya manusia memberi perhatian terhadap konflik. Apalagi jika konflik tersebut dialami oleh orang lain, bukan oleh diri mereka sendiri.
Hal yang hampir sama juga terjadi pada Nganal Kodew pada koran Radar Malang. Rubrik ini juga menyajikan berita tentang konflik pribadi yang dialami masyarakat, yang juga tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan pembacanya. Namun, karena berita
Nganal Kodew mampu
membangkitkan emosi, menggugah hati dan memberikan sentuhan emosional pada pembacanya, berita ini pun menjadi bernilai. Ini sesuai dengan pendapat Kusumaningrat dan Kusumaningrat (2005, h. 66), bahwa nilai emosional inilah yang membuat khalayak suka membaca berita pertentangan, karena di dalamnya terkandung unsur konflik dan drama.
karena pengaruh dari gaya bahasa penulisan Radar Malang. Drama yang disajikan dalam berita Nganal Kodew mampu menarik pembaca.
Bahasa gaul juga digunakan oleh masyarakat dari subkultur tertentu. Mulyana (2007, h. 311) meyebutkan, bahasa ini merujuk pada bahasa komunitas. Dalam hal ini terkait dengan masyarakat Jawa, khususnya masyarakat Malang. Teks Nganal Kodew tidak berdiri sendiri sebagai sebuah teks, namun berkaitan dengan konteks masyarakat Malang yang menjadi pembacanya. Karena itulah penulis menggolongkan istilah dan singkatan-singkatan dalam berita Nganal Kodew sebagai bahasa gaul. Larasati (2014, h. 92-93) meneliti bahasa jurnalistik Nganal Kodew dari segi etika, termasuk di antaranya faktor alasan penggunaan kosa kata yang akrab digunakan dalam percakapan masyarakat Jawa. Menurutnya, penggunaan bahasa Jawa ini disesuaikan dengan konteks media dan pembaca yang merupakan masyarakat Malang. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan nilai proximity (kedekatan) dengan pembaca.
Penulis melihat ada praktik ekonomi media yang terjadi dalam proses produksi berita Nganal Kodew. Konten konflik rumah tangga dalam berita ini menjadi bahan dagangan bagi media. Perceraian, perselingkuhan dan masalah rumah tangga lainnya bukan saja mempunyai nilai berita konflik, tapi juga modal bagi media untuk meraih keuntungan. Isi atau konten berita yang sudah menjadi komoditas ini tergolong dalam komodifikasi konten. Komoditas adalah sesuatu yang tersedia untuk dijual di pasar dan komodifikasi adalah proses yang diasosiasikan dengan kapitalisme, di
mana objek, kualitas dan tanda berubah menjadi komoditas (Barker, 2009, h. 14).
Terlebih, konflik tersebut dikemas dengan bahasa yang unik, seronok, sehingga menimbulkan kelucuan, konflik tersebut semakin diyakini oleh media Radar Malang dapat menarik perhatian. Konflik yang tadinya merupakan masalah rumah tangga, menjadi sesuatu yang lucu, sehingga berbaur dengan nilai humor. Humor ini disadari menjadi kekuatan bagi redaksi, karena mereka sadar bahwa masyarakat menyukainya. Ini sejalan dengan yang dikemumakakan Santosa dan Wahyuningtyas (2010, h. 19), bahwa situasi cerita yang sarat dengan konflik yang mencekam, pembaca akan lekas jenuh, dalam situasi inilah unsur humor sudah sepantasnya mengambil peranan aktif dalam mengendurkan ketegangan pikiran. Peranan kedua selain untuk mengendurkan pikiran, yaitu humor dapat dijadikan media untuk menyalurkan konflik sosial.
Pengemasan bahasa ini bukan saja menyangkut humor tentang konflik. Dari analisis teks, ditemukan bahwa ada unsur pornoteks yang dieksploitasi. Kata-kata dalam berita seringkali menjelaskan tentang hal-hal yang berhubungan dengan seks dan bentuk anatomi tubuh. Eksploitasi ini kembali menunjukkan bahwa seks juga menjadi komoditas dalam berita ini.
menyebutkan, secara universal, fungsi pers berjalan seiring dengan peradaban setempat. Ia juga memaparkan, fungsi pers yaitu menyajikan informasi dengan menggalakkan komunikasi publik, melakukan pendidikan (edukasi), peran kontrol sosial dan penghiburan (entertainment). Dilihat dari salah satu fungsinya, yakni sebagai hiburan, maka Nganal Kodew memenuhi aspek tersebut. Rubrik ini sengaja dihadirkan untuk memenuhi aspek penghiburan pada pembacanya, untuk menikmati berita konflik dengan gaya bahasa yang menghibur, sehingga membaca berita ini adalah suatu aktivitas yang menyenangangkan.
Pada rubrik Nganal Kodew ini, redaksi mengonstruksi perceraian menjadi suatu hal yang bersifat humor. Pembaca diajak untuk menertawakan konflik yang ada. Maka, ketika redaksi mengaku tujuan dan fungsi rubrik Nganal Kodew adalah sebagai peringatan bagi pembaca agar tidak meniru konflik dalam berita, penulis mengkritisi bahwa sebenarnya ada tujuan lain yang diinginkan oleh redaksi. Yaitu untuk mempromosikan Radar Malang sehingga dapat meningkatkan penjualan. Hal ini terjadi karena berita yang tadinya mempunyai nilai guna, nilai informatif dan edukatif kepada pembacanya tentang bagaimana mengelola konflik rumah tangga, berubah menjadi nilai tukar yang cenderung mengarah ke tujuan ekonomis
Selain itu, perpindahan peletakan rubrik Nganal Kodew juga digunakan sebagai media promosi bagi koran Radar Malang. Rubrik Nganal Kodew yang sebelumnya diletakkan di halaman dalam dan dicetak hitam putih, kini pindah ke halaman 1 dan dicetak berwarna. Ini semakin
menguatkan fakta bahwa konflik suami-istri, dengan pengemasan bahasa yang mengandung unsur humor dan seks sudah menjadi komoditas yang dirasa ampuh untuk mempromosikan produk koran Radar Malang.
Dengan membaca Nganal Kodew yang lucu di halaman depan, diharapkan pembaca juga akan melanjutkan membaca ke berita-berita lainnya di halaman lain. Jadi, kisah tentang perceraian adalah sesuatu yang sengaja dijual oleh redaksi kepada pembaca, dan sekaligus juga menjadi media promosi yang dirasa efektif untuk menjual berita-bertia lainnya yang dimuat di koran Radar Malang.
Dari sini, komodifikasi konten semakin terlihat. Konflik tentang perceraian, dipadu dengan rangkaian bahasa, singkatan, ilustrasi tata letak yang strategis diklaim oleh Radar Malang mampu menaikkan penjualan koran. Redaksi mengklaim bahwa Radar Malang mampu menjawab kebutuhan pembaca sebagai konsumen. Yaitu dengan menyediakan produk yang menarik, unik, tidak membosankan, dan tentu saja, bersifat menghibur. Van Dijk (1988, h. 83) menyebutkan, “of course, economically, news is also a market commodity that must be promoted and sold”. Jadi berita adalah suatu bahan komoditas yang harus dipromosikan dan dijual.
liberal sejak era reformasi. Pada era orde baru, pers cenderung dikekang kebebasannya. Sejak masa reformasi, pers mulai lebih bebas berekspresi, dan industri pers tidak perlu lagi mempunyai SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers).
Azzam (dikutip dari Isnaini, 2011) memaparkan, kelahiran era reformasi di Indonesia pasca puncak krisis moneter tahun 1967-1998, telah melahirkan UU No. 40 tahun 1999 tentang pers yang bersemangat liberalis. Berdasarkan UU inilah pers di Indonesia bekerja. Pers, dalam lingkungan negara yang cenderung liberalis, tak lepas dari kondisi persaingan bebas, di mana perusahaan pers harus mampu bersaing dengan perusahaan pers pesaingnya. Untuk tetap dapat bertahan, perusahaan pers sebagai produsen berita dituntut untuk mampu menghasilkan produk yang layak jual, unik dan menarik. Hal inilah yang menjadi dasar bagi Radar Malang untuk terus menulis rubrik Nganal Kodew secara kontinyu, yaitu agar Radar Malang mampu bersaing dengan media lokal lainnya.
Penutup
Setelah melakukan penelitian ini, penulis menarik kesimpulan dalam poin-poin berikut:
1. Kisah mengenai perceraian ditampilkan secara ringan dengan menonjolkan sisi hiburan dan seks dalam teks, sehingga menunjukkan bahwa konflik rumah tangga antara suami dan istri bukan merupakan masalah yang serius dan ikatan rumah tangga bukan sebuah hubungan yang sakral.
2. Tidak ada perbedaan pandangan mengenai penggambaran relasi suami dan istri ketika berkonflik dalam kognisi wartawan dan redaktur. Namun diksi yang digunakan oleh redaktur laki-laki lebih banyak menggunakan deskripsi visual, terutama terkait fisik tokoh-tokoh dalam berita. 3. Konteks agama islam, budaya jawa
dan pers yang cenderung bertujuan untuk meraih keuntungan memengaruhi hasil produksi berita Nganal Kodew.
Daftar Pustaka
Akibat Cinta Terlarang. (2013, 26 Januari). Radar Malang, h.2 Alkitab. (2005). Jakarta: Lembaga
Alkitab Indonesia.
Al-Qur’an dan Terjemahnya. (2004). Jakarta: Departemen Agama Republik Indonesia
Barker, C. (2009). Cultural Studies: Teori dan Praktik. (Nurhadi, Terjemahan). Bantul: Kreasi Wacana.
Bloomfield, L. (1995). Language (Bahasa). (I. Sutikno, Terjemahan). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Bungin, B. (2003). Pornomedia. Jakarta: Kentjana.
Company Profile Jawa Pos Radar Malang
Dahrendorf, R. (1958). Toward a Theory of Social Conflict. The Journal of Conflict Resolution, 2 (2), 170-183.
Fairclough, N. (2001). Language and Power (2nd ed). Oxon: Pearson Education Limited.
Film Cinta tapi Beda Dilaporkan ke Polisi. (2013, 8 Januari). Jawa Pos, h. 10
Gauntlett, D. (2008). Media, Gender and Identity: an Introduction(2nd ed). Abingdon: Routledge.
Gharib, S. M. (2006). Rumah Tangga Tanpa Masalah. (A. Yaman, Terjemahan). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Gordon, A. A. (1995). Transforming Capitalism and Patriarchy. London: Lynne Rienner Publisher.
Haikal, M. (2007). Humor dan Kamus Gaul. Jakarta: Better Book. Handayani, C. S. & Novianto, A.
(2004). Kuasa Wanita Jawa. Jogjakarta: LKiS
Hartley, J. (2010). Communication, Cultural, and Media Studies: Konsep Kunci. (K. Wijayanti, Terjemahan). Jogjakarta: Jalasutra.
Hartono, I. (2006). Indonesia Raya Dibredel!.Jogjakarta: LkiS. Hogan, K. & Labay, M. L. (2008).
Personal Attraction. (A. Cahayani, Terjemahan). Jakarta: Ufuk Press.
http://lirik.kapanlagi.com/artis/elvi_suk aesih/surat_cerai, diakses 17 Juni 2014 pukul 15.23
http://liriklaguindonesia.net/mr-sodiq- minta-cerai-jaluk-pegat-feat-trio-macan.htm, diakses 17 Juni 2014 pukul 18.11
http://musicnitz.com/main.php?mode= 3&id=14760, diakses 12 Mei pukul 5.34
http://ruangkabar.com/berita-terbaru-
dunia-istri-melahirkan-anak-jelek-suami-minta-cerai/, diakses 17 Juni 2014 pukul 12.33
http://www.jpnn.com/read/2014/01/08/ 209618/Masih-Proses-Cerai,-Cut-Tari-Sudah-Punya-Gandengan-, diakses 17 Juni 2014 pukul 10.44
http://www.koran-sindo.com/node/307614, diakses pada 11 Mei pukul 23. 56
http://www.memoarema.com/25/10/20
13/mike-dbagindas-gugat-cerai/32326.html, diakses 17 Juni 2014 pukul 09.56
http://www.piss- ktb.com/2012/03/f0116-
perceraian-halal-tapi-dibenci.html, diakses pada 10 Mei 2014 pukul 23.36
http://www.radioshahabat.net/?p=282, diakses pada 11 Mei pukul 22.44 Indahnya Mentari Srintil. (2012, 14
Februari). Radar Malang, h. 2 Isnaini, F. A. (2011). Wartawan dan
Berita dengan Beberapa Dimensinya. Bandung: Fokusmedia.
Janji Tak Akan Rumit Asalkan Pedagang Diajak Dialog Bersama. (2012, 3 Januari). Radar Malang, h. 4.
Johnson, A. G. (2005). Gender Knot: Unraveling Our Patriarchal Legacy. Philadelphia: Temple University Press.
Kenal Srintil, Lupa Istri STMJ. (2013, 31 Januari). Radar Malang,h.2 Keraf, G. (2009). Diksi dan Gaya
Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kriyantono, R. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Prenada Media Grup.
Lakoff, R. (1973). Language and Woman’s Place. Dalam Language and Society, Vol. 2. Cambridge: Cambride University Press.
Langer, J. (1998). Tabloid Television: Popular Journalism and the ‘Other News’. London: Routledge.
Larasati, N. (2014). Penerapan Kode Etik Jurnalistik pada Rubrik Berita “Nganal Kodew” dalam Surat Kabar Radar Malang. Malang: Universitas Brawijaya. LPM Perspektif. (2011). Buku
Pedoman Lembaga Pers Mahasiswa Perspektif. Malang: LPM Perspektif FISIP UB.
Megawangi, R. (1999). Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender. Jakarta: Mizan Pustaka.
Mills, C. W. (2000). The Sociological Imagination. New York: Oxford University Press.
Moleong, L. J. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mosco, V. (2009). The Political Economy of Communication (2nd ed). London: Sage Publications. Mulyana, D. (2007). Ilmu Komunikasi:
Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nabiu, N. (2013). Hubungan antara Menonton Tayangan Infotainment di TV dan Agenda Komunikasi Ibu Rumah Tangga di Kota Makassar. Makassar: Universitas Hasanuddin.
Oetama, J. (2004). Pers Indonesia: Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Parsons, T. (1970). Social Structure and Personality. New York: The Free Press.
Santosa, W. H. & Wahyuningtyas, S. (2010). Pengantar Apresiasi Prosa.Surakarta: Yuma Pustaka. Sehari, 18 Pasutri Kabupaten Bercerai.
(2013, 11 Agustus). Radar Malang,h. 2.
Setiawan, Ebta (2010). KBBI Offline (Versi 1.5.1). Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional.
Siregar, A., (2002, Oktober), Perkembangan Media Cetak Lokal. Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional Being Local in National Context: Understanding Local Media and Its Struggle, Surabaya.
Sobur, A. (2001). Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing . Bandung: Remaja Rosdakarya.
Supratiknya, A. (1995). Komunikasi Antar Pribadi: Tinjauan Psikologis. Jakarta: Kanisius. Syaifuddin, H.. (2012). Rubrik
“Nganal-Kodew” Radar Malang: Jurnalisme Sastra dan Kontribusinya Bagi Dakwah Islam. Makalah dipresentasikan pada Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) XII, Surabaya: Universitas Islam Negeri Sunan Ampel.
Terkabulnya Doa Mantan Pacar. (2013, 17 Januari). Radar Malang, h. 2 Tim Dunia Cerdas (2013). Peribahasa,
Majas, Pantun. Jakarta: Dunia Cerdas.
Van Dijk, T. A. (1992). Text and Context: Explorations in the Semantics and Pragmatics of Discourse. New York: Longman. Van Dijk, T. A. (1998). Ideology: a
Multidisciplinary Approach. London: Sage Publications. Van Dijk, T. A. (2000). Ideology and
Discourse: A Multidisciplinary Introduction. Universitat Obarta de Catalunya (Open University), Barcelona. Diakses dari http://www.discourses.org.
Van Dijk, T. A. (2000). On The Analysis of Parliamentary Debates On Immigration. Dalam M. Reisigl & R. Wodak (Eds.). The Semiotics of Racism. Approaches to Critical Discourse Analysis. (h. 85-103). Vienna: Passagen Verlag.
Van Dijk, T. A. (2001). Critical Discourse Analysis. Dalam D. Tannen, D. Schiffrin & H. Hamilton (Eds.). Handbook of Discourse Analysis. (h. 352-371). Oxford: Blackwell.
Van Dijk, T. A. (2005). Contextual Knowledge Management in Discourse Production: a CDA Perspective. Dalam R. Wodak & P. Chilton (Eds.). A New Agenda in (Critical) Discourse Analysis. (h. 71-100). Amsterdam: Benjamins.
Van Dijk, T. A. (2006). Ideology and Discourse Analysis. Journal of Political Ideologies, 11 (2), 115-140.
Van Dijk, T. A. (Eds.). (1997). Discourse as Structure and Process: Discourse Studies, a Multidisciplinary Introduction. London: Sage Publications.
Wazis, K. (2012). Media Massa dan Konstruksi Realitas. Malang: Aditya Media.
Wodak, R. & Meyer, M. (Eds). (2009). Methods of Critical Discourse Analysis (2nd ed). London: Sage Publications.
Wolf, N. (2002). The Beauty Myth: How Images of Beauty are Used Against Women. New York: HarperCollins Publishers.