• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aktivitas Manusia dan Pengaruhnya Terhad

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Aktivitas Manusia dan Pengaruhnya Terhad"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENELITIAN

AKTIVITAS MANUSIA DAN PENGARUHNYA TERHADAP JUMLAH

JENIS BURUNG DI CAGAR ALAM PULAU SEMPU

Oleh:

KELOMPOK PENGAMAT PENELITI DAN PEMERHATI BURUNG

FAMILY OF FOREST RESOURCE CONSERVATION

(FORESTATION)

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

(2)

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Burung berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, baik dalam

proses penyerbukan maupun dalam mengendalikan ledakan populasi serangga,

terutama serangga yang bersifat hama. Keanekaragaman jenis tumbuhan dan

banyaknya jenis burung yang mendiami suatu tempat dengan kondisi suatu habitat

yang baik sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim alamnya yang baik. Habitat adalah

suatu kawasan atau area yang terdiri dari beberapa komponen yang merupakan satu

kesatuan fisik dan biotik yang dipergunakan sebagai tempat hidup serta berbiak

suatu jenis hewan (Alikodra, 2000). Widodo (2009) memberikan pernyataan bahwa

habitat yang kondisinya baik dan jauh dari gangguan manusia serta di dalamnya

mengandung bermacam-macam sumber pakan, memungkinan memiliki jenis

burung yang banyak.

Salah satu lokasi yang berperan penting sebagai habitat berbagai jenis burung

adalah Kawasan Cagar Alam Pulau Sempu. Pulau sempu ditetapkan sebagai Cagar

alam berdasarkan SK. GB No. 46 Stbl. 1928 No. 69 tahun 1928 dengan luas 877

Ha. Letak kawasan Cagar Alam Pulau Sempu di perairan Samudera Indonesia yang

secara administratif pemerintahan termasuk ke dalam Desa Tambakrejo Kecamatan

Sumbermanjing wetan Kabupaten Daerah Tingkat II Kabupaten Malang. Penetapan

kawasan tersebut sebagai Cagar alam karena keadaan alamnya yang khas. Cagar

Alam Pulau Sempu memiliki 4 (empat) tipe ekosistem dimana masing-masing

memiliki ciri yang berbeda satu sama lain, tetapi secara keseluruhan merupakan satu

kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Di Pulau sempu, bisa ditemui berbagai

macam jenis burung, termasuk jenis dengan status konservasi tinggi seperti Fregata andrewsi.

Dalam perkembangannya, lokasi CA Pulau Sempu mulai ramai dikunjungi

oleh manusia, sehingga aktivitas manusia di kawasan tersebut menjadi lebih tinggi.

Burung merupakan jenis satwa yang bisa dipengaruhi banyak faktor di habitatnya,

di antaranya keberadaan manusia. Oleh karena itu, diperlukan adanya studi

mengenai pengaruh aktivitas manusia terhadap jumlah jenis burung di Kawasan CA

Pulau Sempu. Hasil studi dilakukan kebijakan dalam pengelolaan kawasan dan

(3)

B. Rumusan Masalah

Burung merupakan satwa yang dipengaruhi banyak faktor, di antara aktivitas

manusia. Namun belum diketahui bagaimana aktivitas manusia mempengaruhi

jumlah jenis burung di Cagar Alam Pulau Sempu.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk Mengetahui pengaruh

aktivitas manusia dan jarak terhadap lokasi perkemahan terhadap jumlah jenis

burung di Cagar Alam Pulau Sempu.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan mampu menyediakan data dan informasi yang

dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengelolaan Cagar Alam Pulau

Sempu , khususnya terkait dalam pelestarian burung.

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Cagar Alam Pulau Sempu

Pulau sempu ditetapkan sebagai Cagar alam berdasarkan SK. GB No. 46 Stbl.

1928 No. 69 tahun 1928 dengan luas 877 Ha. Letak kawasan Cagar Alam Pulau

Sempu di perairan Samudera Indonesia yang secara administratif pemerintahan

termasuk ke dalam Desa Tambakrejo Kecamatan Sumbermanjing wetan Kabupaten

Daerah Tingkat II Kabupaten Malang. Penetapan kawasan tersebut sebagai Cagar

alam karena keadaan alamnya yang khas. Cagar Alam Pulau Sempu memiliki 4

(empat) tipe ekosistem dimana masing-masing memiliki ciri yang berbeda satu

sama lain, tetapi secara keseluruhan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat

dipisah-pisahkan. Satwa liar yang hidup di dalam kawasan Cagar Alam Pulau

Sempu sekitar 51 jenis yang terdiri dari 36 jenis aves, 12 jenis mamalia dan 3 jenis

reptil.

Cagar Alam Pulau Sempu merupakan salah satu hutan primer yang ada di Jawa.

Keadaannya yang masih perawan memposisikannya sebagai salah satu habitat yang

baik untuk satwa, termasuk burung.

B. Biologi Burung

Burung merupakan salah satu dari lima kelas hewan yang bertulang belakang,

berdarah panas, berkembang biak melalui telur, tubuhnya tertutup bulu, dan melalui

bermacam-macam adaptasi untuk terbang (Anonim, 1988). Burung memiliki

peranan sebagai indikator kualitas lingkungan. Hal ini berkaitan dengan status yang

dimiliki burung yang merupakan salah satu kelompok vertebrata terbesar yang

banyak dikenal, diperkirakan ada sekitar 8600 jenis yang tersebar di dunia (Mac

Kinnon, 1988).

Goucher (1978) berpendapat bahwa burung secara umum memiliki ciri-ciri yang

besar keseragamannya, sehingga mudah dibedakan dengan hewan lain. Ciri-ciri

umum burung tersebut adalah:

1. Tubuh seluruhnya ditumbuhi bulu. Mempunyai sayap yang merupakan hasil

(5)

untuk berjalan. Mulut berbentuk paruh, tidak bergigi berfungsi untuk mencucuk dan

sebagai tangan.

2. Jantung beruang 4 dan berdarah panas.

3. Tidak kencing, kotoran berbentuk pasta.

4. pembuahan secara internal (di dalam) dan bertelur.

Burung adalah bagian dari keanekaragaman hayati yang harus dijaga

kelestariaannya dari kepunahan maupun penurunan keanekaragaman jenisnya.

Burung memiliki banyak manfaat dan fungsi bagi manusia, baik secara langsung

maupun tidak langsung. Manfaat dan fungsi burung secara garis besar dapat

digolongkan dalam nilai budaya, estetik, ekologis, ilmu pengetahuan dan ekonomis

(Yuda, 1995). Alikodra (2002) dan Ontario et al. (1990) menambahkan bahwa

burung memiliki peranan penting dari segi penelitian, pendidikan, dan untuk

kepentingan rekreasi dan pariwisata.

C. Habitat Satwa Burung dan Aktivitas Manusia

Morrison (2002) mendefinisikan habitat sebagai sumberdaya dan kondisi yang

ada di suatu kawasan yang berdampak ditempati oleh suatu spesies. Habitat suatu

organisme itu pada umumnya mengandung faktor ekologi yang sesuai dengan

persyaratan hidup organisme yang menghuninya.

Salah satu faktor yang mempengaruhi komunitas burung di suatu habitat

adalah aktivitas manusia. Burung dalam masa breeding (berbiak) lebih rentan terhadap aktivitas manusia di dekatnya. Aktivitas manusia yang terlalu dekat dengan

sarang bisa membuat sarang ditinggal kabur oleh induknya. Dalam kondisi ini, telur

dan anakan tak mampu bertahan hidup karena predasi oleh hewan lain (Watson,

1996).

Manusia bisa mempengaruhi burung dan habitatnya secara langsung dengan

cara modifikasi vegetasi atau bahkan dengan perburuan. Manusia juga punya

pengaruh secara tidak langsung saat perubahan habitat bisa memberi dampak

predator dan membuat spesies invasif makin tersebar. Pengukuran tidak langsung

seperti jarak dari jalur dan pemukiman bisa digunakan untuk mengukur dampak

akibat aktivitas manusia (Bibby, 1998). Gangguan manusia bisa menimbulkan

(6)

pengubahan area menjadi kawasan pertanian, industri dan kawasan urban, struktur

vegetasi juga mengalami perubahan besar. (Norton, et al., 1994). Beberapa studi di lingkungan terrestrial telah menggunakan pengukuran seperti jarak terdekat ke area

(7)

BAB III

METODE PENELITIAN

A.Lokasi Penelitian

Secara administratif Cagar Alam Pulau Sempu terletak di Dusun Sendang Biru,

Desa Tambak Rejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur. Sedangkan secara geografis terletak antara 112°40’45” Bujur Timur dan 8°24’54” Lintang Selatan. wilayah Resort Cagar Alam Pulau Sempu, Seksi Konservasi Wilayah Probolinggo, Wilayah Konservasi Bidang III Jember,

Balai Besar Konservasi Saumber Daya Alam Jawa Timur. Lokasi penelitian

mencakup keseluruhan pulau dengan luasan 877 ha.

Gambar 1. Peta kawasan CA Pulau Sempu

B. Waktu penelitian

Pengambilan data lapangan dilaksanakan pada tgl 2 dan 4 Maret 2014.

Pengambilan data dilaksanakan pukul 07.00 – 15.00 pada tiap hari pengambilan

data.

C. Alat yang digunakan

- GPS - Buku Panduan Identifikasi Burung

- Protractor - Kamera - Kompas

- Peta Kawasan

- Binokuler

- Tally Sheet

(8)

D. Metode Pengambilan data

1. Pengambilan Data Burung

Gambar 2. Desain pengambilan data burung menggunakan metode Point Count dengan jarak antar titik pengamatan 200 m dan jari-jari 50m

Gambar 3. Penempatan plot pengamatan di kawasan CA Pulau Sempu

Pencatatan dilakukan dengan menghitung jumlah burung didalam kedua bands

pengamatan. Individu burung dicatat baik melalui perjumpaan langsung maupun

tidak langsung dengan mendengar suara atau kicaunnya.

2. Pengambilan Data Aktivitas Manusia

Data aktivitas manusia yang diambil adalah jarak jalur yang sering digunakan

pengunjung terhadap plot, dan jarak plot pengamatan ke lokasi perkemahan

(9)

E. Analisis Data

Analisis menggunakan R-Statistic dengan model analisis Generalized Linear Model. Data variabel dependen adalah jumlah jenis pada tiap plot, sedangkan variabel independen adalah jarak plot terhadap jalur tracking dan jarak plot terhadap lokasi perkemahan. Dalam analisis statistik, taraf kepercayaan yang

(10)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Pengambilan Data Burung

Dari hasil pengamatan sebanyak 30 plot pengamatan, didapat total jenis 129

individu burung yang terdiri dari 33 jenis.. Jenis yang paling banyak dijumpai pada

pengamatan adalah Takur Tenggeret (Megalaima australis) sebanyak 30 individu, Cipoh Kacat (Aegithinia tiphia) sebanyak 26 individu dan Cinenen Pisang (Orthotomus sutoritus) sebanyak 6 individu. Dari 33 jenis, Rangkong Badak (Buceros rhinoceros) dan Takur Tulungtumpuk (Megalaima javensis) merupakan jenis yang statusnya mendekati terancam punah (Near Threatened)

Jenis Nama Ilmiah

Sebaran

Jumlah

Status Konservasi IUCN

Alap-alap Kawah Falco peregrines Umum 2 Least Concern

Ayam Hutan Hijau Gallus varius Umum 1 Least Concern

Ayam Hutan Merah Gallus gallus Khusus 2 Least Concern

Bondol Jawa Lonchura leucogastroides Umum 2 Least Concern

Buntut Sate Merah Phaethon rubricauda Khusus 2 Least Concern Burung Madu

Sriganti Nectarinia jugularis

Umum

1 Least Concern

Cekakak Sungai Halcyon chloris Umum 4 Least Concern

Cinenen Kelabu Orthotomus ruficeps Umum 4 Least Concern

Cinenen Pisang Orthotomus sutoritus Umum 6 Least Concern

Cipoh Kacat Aegithinia tiphia Umum 26 Least Concern

Cucak Kutilang Pycnonotus aurigaster Umum 2 Least Concern Elang Laut Perut

Putih Haliaeetus leucogaster

Khusus

1 Least Concern

Elang Ular Bido Spilornis cheela Khusus 1 Least Concern

Gemak Tegalan Turnix sylvatica Umum 1 Least Concern

Kacamata Biasa Zopterops palpebrosus Khusus 3 Least Concern Kangkareng Perut

Putih Anthracoceros albirostris

Umum

4 Least Concern

Kangkok Ranting Cuculus saturates Umum 1 Least Concern

Kucica Kampung Copsychus saularis Umum 1 Least Concern

Kuntul Karang Egretta eulophotes Khusus 1 Least Concern

Layang-layang Batu Hirundo tahitica Umum 3 Least Concern

Merbah Cerukcuk Pycnonotus goiavier Umum 4 Least Concern

Paok Pancawarna Pitta guajana Khusus 2 Least Concern

Pelatuk Besi Dinopium javanense Khusus 2 Least Concern

Perling Kumbang Aplonis panayensis Umum 3 Least Concern

(11)

Raja Udang

Meninting Alcedo meninting

Khusus

5 Least Concern

Rangkong Badak Buceros rhinoceros Khusus 2 Near Threatened

Sikatan Belang Ficedula westermanni Khusus 1 Least Concern

Sikatan Ninon Eumyias indigo Khusus 1 Least Concern

Takur Tenggeret Megalaima australis Umum 30 Least Concern

Takur Tulungtumpuk Megalaima javensis Khusus 4 Near Threatened Takur

Ungkut-Ungkut Megalaima haemacephala

Umum

1 Least Concern

Walet Linchii Collocalia linchii Umum 4 Least Concern

Total 129

Tabel 1. Tabel jenis, jumlah dan status konservasi burung hasil pengamatan.

Jenis burung terbagi menjadi dua berdasarkan sebarannya, yaitu umum dan

khusus. Jenis dengan sebaran umum adalah jenis yang memiliki daya adaptasi tinggi,

mampu hidup di berbagai tipe lahan seperti hutan, pinggir hutan, pantai bahkan area

dengan tingkat aktivitas manusia yang tinggi. Jenis dengan sebaran khusus adalah

jenis yang membutuhkan habitat spesifik untuk bertahan hidup. Dari hasil

pengambilan data, didapat sebaran jenis sebaran umum dan khusus seperti gambar

berikut.

(12)

Plot tempat ditemui jenis sebaran khusus dilambangkan dengan warna biru,

sedangkan jenis dengan sebaran umum dilambangkan dengan warna merah. Untuk

plot tempat ditemuinya jenis sebaran umum dan khusus, dilambangkan dengan

lingkaran biru dan merah.

Pengambilan data berlangsung selama 2 hari, yaitu hari minggu dan selasa. Pada

hari minggu, keramaian pengunjung di kawasan CA Pulau Sempu mencapai titik

tertinggi, sedangkan hari selasa keramaian pengunjung sudah berkurang. Karena

adanya perbedaan tingkat keramaian pengunjung, hasil pengamatan bisa dibagi secara

temporal, yaitu pada hari minggu dan selasa.

Gambar 4. Peta sebaran data pada hari pengamatan minggu

(13)

Dari gambaran sebaran jenis pada pengamatan hari minggu, 5 plot didapat sebagai

lokasi ditemuinya jenis-jenis dengan sebaran khusus. Dari 5 plot, 3 plot jaraknya

jauh dari camp Segara Anakan. 2 plot lainnya jaraknya relatif lebih dekat dengan

camp Segara Anakan.

Pada plot yang menjadi lokasi pengamatan di hari selasa, jenis-jenis dengan

sebaran khusus keberadaannya relatif jauh dari camp Segara Anakan, namun beberapa

jenis bisa ditemui di Teluk Semut yang menjadi titik awal jalur track menuju Segara Anakan. Pada hari selasa, aktivitas manusia sangat minim.

2. Hasil Pengambilan data Aktivitas Manusia

Aktivitas manusia yang diambil berupa jarak plot pengamatan dari jalur Segara

anakan dan jarak plot pengamatan dari lokasi perkemahan di Segara Anakan. Dari

pengambilan data aktivitas jarak ke lokasi kemah, didapat plot yang terjauh dari

Segara anakan jaraknya 2000 m, sedangkan yang terdekat 500 m. Pada pengukuran

jarak dari plot ke jalur, didapat jarak terjauh 625 m dan jarak terdekat 0. Jarak

terdekat dianggap 0 jika plot pengamatan berada tepat di jalur menuju Segara Anakan.

Selain adanya jalur menuju Segara anakan, di beberapa plot ditemui adanya jalur lain,

namun bukan termasuk jalur yang sering digunakan pengunjung sehingga tidak

ditemui kegiatan manusia.

3. Hasil Analisis data

Dari hasil analisis data variabel jumlah jenis burung dan data-data jarak aktivitas

manusia menggunakan generalized linear model, didapat persamaan sebagai berikut :

(14)

Keterangan:

Y = Jumlah jenis burung

X1 = Jarak dari Jalur Tracking

X2 = Jarak dari Camp Segara Anakan

Hasil dari aktivitas manusia disini diasumsikan dengan adanya jalur tracking dan tempat camp di Segara Anakan. Jalur tracking tersebut merupakan jalur utama yang sering digunakan masyarakat (pengunjung) untuk menuju Segara Anak. Sedangkan

Segara Anakan merupakan tempat peristirahatan utama pengunjung ketika berkunjung

di Cagar Alam Pulau Sempu. Jarak dari kedua jalur tersebut di dapatkan dengan

mengukur jarak terdekat (meter) menggunakan peta dan atau GPS.

4. Pembahasan

Pada persamaan di atas didapatkan bahwa kedua jarak yaitu jarak dari jalur

tracking dan jarak dari camp Segara Anakan memiliki hubungan yang positif terhadap jumlah jenis burung yang didapatkan. Artinya jika semakin jauh (semakin besar

jaraknya) jarak dari jalur tracking dan camp Segara Anakan maka akan didapatkan jenis – jenis burung yang lebih banyak.

Gambar 6. Sebaran Data Jenis Burung Berdasarkan Jarak dengan Segara Anakan

(15)

Dari grafik sebaran data jenis burung, bisa diketahui jika semakin jauh jarak plot

dengan Segara Anakan, jumlah jenis burung yang didapat semakin banyak. Jumlah

tertinggi jenis burung dalam satu plot sebanyak 7 jenis. Titik dengan jumlah jenis

tertinggi jaraknya sejauh 1250 meter dari Segara Anakan.

Beberapa plot yang jaraknya cukup jauh dibandingkan plot yang lain memiliki

jumlah jenis burung yang lebih banyak dibandingkan jika jaraknya dari hasil aktivitas

manusia yang semakin dekat. Namun pengaruh kedua jarak tersebut yang signifikan

adalah jarak dari camp Segara Anakan, yang dapat dilihat dari nilai signifikansinya

yaitu 0,004. Menurut taraf kepercayaan yang dipakai jika angka signifikannya kurang

dari 0,05 maka pengaruh jarak dari camp Segara Anakan berpengaruh signifikan dengan jumlah jenis burung yang didapatkan. Tetapi jarak dari jalur tracking tidak

memiliki pengaruh signifikan dengan jumlah jenis burung karena nilai signifikansinya

yang lebih dari 0,05.

Dari analisis pengaruh tersebut dapat dikatakan bahwa pada jalur tracking

memiliki frekuensi kehadiran manusia yang lebih rendah dibandingkan camp Segara Anakan. Karena masyarakat atau pengunjung lebih banyak beraktivitas di camp

Segara Anakan, sedangkan jalur tracking hanya digunakan untuk sarana datang dan perginya pengunjung dari camp Segara Anakan (CA Pulau Sempu) oleh karena

frekuensi aktivitas manusianya akan lebih sedikit. Burung adalah satwa dengan

mobilitas tinggi dan memiliki home range yang cukup luas. Dalam hal ini burung juga memiliki respon terhadap aktivitas manusia.

Burung dapat menghindar dari aktivitas manusia atau tetap di wilayahnya

walaupun terdapat aktivitas manusia di dalamnya. Namun dalam hal ini burung lebih

cenderung menghindar dengan aktivitas manusia yang banyak. Jarak dari jalur

tracking yang memiliki aktivitas manusia yang jarang tidak berpengaruh signifikan dikarenakan burung yang terdapat di sekitar jalur dapat merespon tanda – tanda

manusia yang datang mendekat. Apabila ada pengunjung yang mendekat maka

burung akan cenderung menghindar dan apabila pengunjung tersebut menjauh maka

burung akan datang kembali.

Camp Segara Anakan adalah tempat utama bagi pengunjung CA Pulau Sempu untuk tempat berkemah dan menikmati panorama alam. Aktivitas manusia di tempat

(16)

tempat ini. Jumlah spesies burung yang di dalam plot yang berdekatan dengan tempat

camp Segara Anakan lebih sedikit dibandingkan jumlah jenis burung yang ada di dalam plot yang berjarak lebih jauh.

Gambar 2. Coplot jarak dari lokasi perkemahan terhadap jumlah jenis burung

Coplot di atas memberikan informasi tentang jarak dari camp Segara Anakan yang efektif terhadap jumlah jenis burung. Jarak dari lokasi camp Segara Anakan yang baik adalah pada kisaran 800 meter s.d. > 1800 meter. Jarak yang semakin jauh ini akan

membuat area tersebut memiliki kekayaan jenis burung yang tinggi. Burung akan

lebih nyaman jika frekuensi aktivitias manusia lebih sedikit atau bahkan tidak ada.

Pengambilan data dilaksanakan di dua hari terpisah, yaitu di hari minggu 2 Maret

2014 dan selasa 4 maret 2014, dengan lokasi plot berbeda pada masing-masing hari.

Pada dua hari pengamatan, hari minggu merupakan puncak keramaian pengunjung di

kawasan CA Pulau Sempu. Hari minggu biasanya merupakan hari libur yang

dimanfaatkan pengunjung untuk datang ke CA Pulau Sempu. Di hari selasa,

keramaian pengunjung di kawasan CA sudah berkurang. Tingkat aktivitas manusia

yang berbeda ini memberi dampak terhadap sebaran jenis burung Dari gambar 4,

terlihat jika sebaran burung dengan habitat khusus letaknya jauh dari jalur tracking.

Pada gambar 5, jenis dengan sebaran khusus bisa ditemui dekat dengan jalur tracking.

Hal ini menjadi indikasi jika beberapa jenis burung menganggap keberadaan manusia

sebagai suatu gangguan, yang membuat burung pergi menjauhi habitat di jalur

tracking. Dari hasil pengamatan di kawasan CA Pulau Sempu, ditemui spesies-spesies yang mampu hidup di lokasi aktivitas manusia dan spesies yang sensitif terhadap

(17)

ini selain menghuni kawasan hutan di CA Pulau Sempu juga menjadi jenis yang

umum dijumpai di kawasan pemukiman, lokasi di mana aktivitas manusia lebih tinggi

dibanding area lain. Jenis-jenis ini tidak terlalu terganggu oleh keberadaan manusia,

meskipun akan menghindar jika jarak antara burung dan manusia terlalu dekat. Di

area pemukiman, bahkan beberapa spesies urban bersarang di pusat aktivitas manusia

seperti taman kota dan pekarangan rumah. Spesies-spesies yang sering berdekatan

dengan lokasi aktivitas manusia adalah Walet Linchi, Cipoh Kacat, Cucak Kutilang,

Merbah Cerukcuk dan Bondol Jawa. Jenis-jenis ini merupakan jenis yang cukup

umum ditemui di tempat dengan aktivitas manusia tinggi. Dalam kegiatan

pengamatan, jenis-jenis ini tidak terlalu sensitif terhadap keberadaan manusia, lebih

mudah teramati atau teridentifikasi dari suara keras, terutama pada jenis Cipoh Kacat.

Di kawasan CA Pulau Sempu, jenis ini merupakan jenis yang umum ditemui,

meskipun jenis ini secara visual sulit untuk dideteksi, karena warna bulunya yang

hijau zaitun dan kuning membuat burung ini tersamar baik di tajuk pohon dan semak

belukar.

Salah satu jenis yang menggunakan disturbed area sebagai habitat adalah Kangkareng Perut-Putih. Jenis yang merupakan Jenis famili Bucerotidae terkecil di

pulau Jawa ini bisa ditemui di lokasi terbuka dan disturbed area (Winnasis, 2012). Hal ini sesuai dengan hasil pengambilan data di CA Pulau Sempu. Di CA Pulau

Sempu, jenis ini menghuni kawasan yang dekat dengan jalur tracking. Dari hasil pengamatan lapangan, burung dengan jengger warna putih ini didapati tersebar di area

hutan yang jaraknya paling jauh 400 meter dari garis pantai. Kangkareng Perut-Putih

menjaga jarak dengan manusia dengan cara hinggap di pohon yang tajuknya tinggi.

Selain tajuk tinggi, jenis ini juga menyukai pohon berbuah untuk mencari pakan.

Kangkareng Perut-Putih bukan satunya-satunya anggota Bucerotidae yang

ditemui di area pengamatan. Di area pengamatan, ditemui juga pasangan Rangkong

Badak, Bucerotidae terbesar di Pulau Jawa. Meskipun satu famili dengan Kangkareng

Perut-Putih, Rangkong Badak ini memiliki sifat yang jauh berbeda dalam interaksinya

dengan aktivitas manusia. Rangkong Badak akan langsung menghindar jika

mendeteksi keberadaan manusia. Dalam hal pakan dan perilaku lain, burung

berjengger merah-kuning ini hampir mirip dengan Kangkareng Perut-Putih. Burung

ini menyukai pohon tinggi yang berbuah. Selain buah-buahan, jenis ini juga memakan

(18)

Dari hasil pengamatan di 30 titik, terdapat tiga spesies burung pemangsa. Ketiga

burung pemangsa yang ditemukan adalah Elang Ular Bido, Elang Laut Perut Putih

dan Alap-alap Kawah pada lokasi pengamatan. Ketiga elang ini memiliki sebaran

yang berbeda. Elang Ular Bido lebih mudah ditemukan di area hutan dataran rendah,

jauh dari garis pantai, karena jenis ini lebih memilih untuk berburu mangsa seperti

reptil dan mamalia kecil di area hutan. Elang Laut Perut Putih lebih mudah ditemui di

garis pantai, dengan aktivitas terbang soaring. Elang Laut Perut Putih lebih memilih lokasi pantai karena pakan utama bagi Accipitridae berukuran besar ini adalah ikan.

Elang dengan warna dominan putih ini terbang memutar di atas permukaan laut. Saat

mendeteksi aktivitas manusia, jenis ini memilih menghindar dengan cara menjauh dari

lokasi pengamatan atau terbang lebih tinggi.

Pada jenis Alap-alap Kawah, anggota famili Falconidae ini bisa ditemui di

kawasan hutan dan juga pantai. Saat pengamatan, jenis ini hinggap di lokasi yang jauh

dari aktivitas manusia. Lokasi terbang raptor berukuran sedang ini juga jauh dari

(19)

BABV

KESIMPULAN

1. Kesimpulan

Dari hasil analisis statistik, didapat persamaan Y = 0,896 + 0,0001 X1 + 0,0018

X2. Aktivitas manusia berpengaruh terhadap jumlah jenis burung di CA Pulau

Sempu. Faktor yang berpengaruh signifikan adalah jarak dengan lokasi perkemahan.

Semakin jarak titik pengamatan terhadap lokasi kemah Segara Anakan, jumlah jenis

yang ditemui semakin banyak.

2. Saran

a. Kawasan CA Pulau Sempu merupakan habitat berbagai jenis burung. Menurut UU

no. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya,

semua jenis yang berada di kawasan CA dilindungi. Oleh karena itu, perlu adanya

pembatasan akses pengunjung ke dalam kawasan.

b. Penelitian ini menggunakan 30 titik sebagai lokasi pengamatan dengan jarak antar

plot 200 m, sedangkan lokasi CA Pulau Sempu luasnya 877 Ha. Untuk data yang

mencakup seluruh area CA Pulau Sempu, perlu dilakukan penambahan jumlah

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Alikodra, H.S. 1986. Pengelolaan Habitat Satwa Liar. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Alikodra, H.S. 1990. Pengelolaan Satwa Liar Jilid 1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Pusat Antar Ilmu Hayat,

Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Bibby, C. Jones, M. Marsden, S. 1998. Expedition Field Techniques : Bird Survey. Royal Geographical Society. London

MacKinnon, J., K. Phillips, dan B. van Balen, 2010. Burung- burung di Sumatera. Jawa. Bali. dan Kalimantan. LIPI-Burung Indonesia. Bogor.

Norton, D. A., Hobbs, R. J. and Atkins, L.: 1995, Fragmentation, disturbance, and plant distributions: Mistletoes in woodland remnants in the western Australian

wheatbelt, Conserv. Biol. 9, 426–438.

Ontario, J; J.B. Hernowo; Haryanto & Ekarelawan. 1990. Pola Pembinaan Habitat Burung di Kawasan Pemukiman Terutama di Perkotaan. Media Konservasi Vol. III No. 1.

Reijnen, R., Foppen, R., Ter Braak, C. and Thissen, J.: 1995, The effects of car traffic on breeding bird populations in woodland. III. Reduction of density in relation to the proximity of main roads, J. Appl. Ecol. 32, 187–202.

Watson, J. J., Kerley, G. I. H, McLachlan, A. 1996. Human activity and potential impacts on dune breeding birds in the Alexandria Coastal Dunefield. Landscape and Urban Planning 34 (1996) 3 15-322

Winnasis, S. 2012. Bird of Baluran National Park. Balai Taman Nasional Baluran. Situbondo

Gambar

Gambar 1. Peta kawasan CA Pulau Sempu
Gambar 2. Desain pengambilan data burung menggunakan metode Point
Tabel 1. Tabel jenis, jumlah dan status konservasi burung hasil pengamatan.
Gambar 4. Peta sebaran data pada hari pengamatan minggu
+3

Referensi

Dokumen terkait

Hubungan Kebiasaan Sarapan dan Konsumsi Suplemen dengan Status Hemoglobin Pada Remaja Putri di SMAN 10 Makassar.. Tubuh Sehat Ideal Dari Segi

Berikut yang bukan situs media interaktif berbasis web dan media sosial yang dapat dimanfaatkan guru sebagai sarana belajar dalam komunitas belajar di seluruh penjuru dunia....

Terdapat 46 baris yang mengandung elipsis pada empat lirik lagu dengan uraian sebagai berikut; pada lirik lagu Atemlos Durch Die Nacht terdapat 12 baris kalimat

Meskipun banyak penelitian tentang gerakan mahasiswa khususnya yang berbicara mengenai organisasi KAMMI, tentu menggunakan fokus penelitian yang berbeda-beda, skripsi yang

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia Nya, sehingga Tugas Akhir yang berjudul ”Perbandingan Model ARCH/GARCH

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut; 1) Keterampilan kerja, pengalaman kerja

(4) pengaruh sumber daya manusia terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Penelitian ini dilaksanakan pada SKPD Pemerintah kabupaten Wonosobo dengan

[r]