LAPORAN PENELITIAN
AKTIVITAS MANUSIA DAN PENGARUHNYA TERHADAP JUMLAH
JENIS BURUNG DI CAGAR ALAM PULAU SEMPU
Oleh:
KELOMPOK PENGAMAT PENELITI DAN PEMERHATI BURUNG
FAMILY OF FOREST RESOURCE CONSERVATION
(FORESTATION)
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Burung berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, baik dalam
proses penyerbukan maupun dalam mengendalikan ledakan populasi serangga,
terutama serangga yang bersifat hama. Keanekaragaman jenis tumbuhan dan
banyaknya jenis burung yang mendiami suatu tempat dengan kondisi suatu habitat
yang baik sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim alamnya yang baik. Habitat adalah
suatu kawasan atau area yang terdiri dari beberapa komponen yang merupakan satu
kesatuan fisik dan biotik yang dipergunakan sebagai tempat hidup serta berbiak
suatu jenis hewan (Alikodra, 2000). Widodo (2009) memberikan pernyataan bahwa
habitat yang kondisinya baik dan jauh dari gangguan manusia serta di dalamnya
mengandung bermacam-macam sumber pakan, memungkinan memiliki jenis
burung yang banyak.
Salah satu lokasi yang berperan penting sebagai habitat berbagai jenis burung
adalah Kawasan Cagar Alam Pulau Sempu. Pulau sempu ditetapkan sebagai Cagar
alam berdasarkan SK. GB No. 46 Stbl. 1928 No. 69 tahun 1928 dengan luas 877
Ha. Letak kawasan Cagar Alam Pulau Sempu di perairan Samudera Indonesia yang
secara administratif pemerintahan termasuk ke dalam Desa Tambakrejo Kecamatan
Sumbermanjing wetan Kabupaten Daerah Tingkat II Kabupaten Malang. Penetapan
kawasan tersebut sebagai Cagar alam karena keadaan alamnya yang khas. Cagar
Alam Pulau Sempu memiliki 4 (empat) tipe ekosistem dimana masing-masing
memiliki ciri yang berbeda satu sama lain, tetapi secara keseluruhan merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Di Pulau sempu, bisa ditemui berbagai
macam jenis burung, termasuk jenis dengan status konservasi tinggi seperti Fregata andrewsi.
Dalam perkembangannya, lokasi CA Pulau Sempu mulai ramai dikunjungi
oleh manusia, sehingga aktivitas manusia di kawasan tersebut menjadi lebih tinggi.
Burung merupakan jenis satwa yang bisa dipengaruhi banyak faktor di habitatnya,
di antaranya keberadaan manusia. Oleh karena itu, diperlukan adanya studi
mengenai pengaruh aktivitas manusia terhadap jumlah jenis burung di Kawasan CA
Pulau Sempu. Hasil studi dilakukan kebijakan dalam pengelolaan kawasan dan
B. Rumusan Masalah
Burung merupakan satwa yang dipengaruhi banyak faktor, di antara aktivitas
manusia. Namun belum diketahui bagaimana aktivitas manusia mempengaruhi
jumlah jenis burung di Cagar Alam Pulau Sempu.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk Mengetahui pengaruh
aktivitas manusia dan jarak terhadap lokasi perkemahan terhadap jumlah jenis
burung di Cagar Alam Pulau Sempu.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menyediakan data dan informasi yang
dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengelolaan Cagar Alam Pulau
Sempu , khususnya terkait dalam pelestarian burung.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Cagar Alam Pulau Sempu
Pulau sempu ditetapkan sebagai Cagar alam berdasarkan SK. GB No. 46 Stbl.
1928 No. 69 tahun 1928 dengan luas 877 Ha. Letak kawasan Cagar Alam Pulau
Sempu di perairan Samudera Indonesia yang secara administratif pemerintahan
termasuk ke dalam Desa Tambakrejo Kecamatan Sumbermanjing wetan Kabupaten
Daerah Tingkat II Kabupaten Malang. Penetapan kawasan tersebut sebagai Cagar
alam karena keadaan alamnya yang khas. Cagar Alam Pulau Sempu memiliki 4
(empat) tipe ekosistem dimana masing-masing memiliki ciri yang berbeda satu
sama lain, tetapi secara keseluruhan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
dipisah-pisahkan. Satwa liar yang hidup di dalam kawasan Cagar Alam Pulau
Sempu sekitar 51 jenis yang terdiri dari 36 jenis aves, 12 jenis mamalia dan 3 jenis
reptil.
Cagar Alam Pulau Sempu merupakan salah satu hutan primer yang ada di Jawa.
Keadaannya yang masih perawan memposisikannya sebagai salah satu habitat yang
baik untuk satwa, termasuk burung.
B. Biologi Burung
Burung merupakan salah satu dari lima kelas hewan yang bertulang belakang,
berdarah panas, berkembang biak melalui telur, tubuhnya tertutup bulu, dan melalui
bermacam-macam adaptasi untuk terbang (Anonim, 1988). Burung memiliki
peranan sebagai indikator kualitas lingkungan. Hal ini berkaitan dengan status yang
dimiliki burung yang merupakan salah satu kelompok vertebrata terbesar yang
banyak dikenal, diperkirakan ada sekitar 8600 jenis yang tersebar di dunia (Mac
Kinnon, 1988).
Goucher (1978) berpendapat bahwa burung secara umum memiliki ciri-ciri yang
besar keseragamannya, sehingga mudah dibedakan dengan hewan lain. Ciri-ciri
umum burung tersebut adalah:
1. Tubuh seluruhnya ditumbuhi bulu. Mempunyai sayap yang merupakan hasil
untuk berjalan. Mulut berbentuk paruh, tidak bergigi berfungsi untuk mencucuk dan
sebagai tangan.
2. Jantung beruang 4 dan berdarah panas.
3. Tidak kencing, kotoran berbentuk pasta.
4. pembuahan secara internal (di dalam) dan bertelur.
Burung adalah bagian dari keanekaragaman hayati yang harus dijaga
kelestariaannya dari kepunahan maupun penurunan keanekaragaman jenisnya.
Burung memiliki banyak manfaat dan fungsi bagi manusia, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Manfaat dan fungsi burung secara garis besar dapat
digolongkan dalam nilai budaya, estetik, ekologis, ilmu pengetahuan dan ekonomis
(Yuda, 1995). Alikodra (2002) dan Ontario et al. (1990) menambahkan bahwa
burung memiliki peranan penting dari segi penelitian, pendidikan, dan untuk
kepentingan rekreasi dan pariwisata.
C. Habitat Satwa Burung dan Aktivitas Manusia
Morrison (2002) mendefinisikan habitat sebagai sumberdaya dan kondisi yang
ada di suatu kawasan yang berdampak ditempati oleh suatu spesies. Habitat suatu
organisme itu pada umumnya mengandung faktor ekologi yang sesuai dengan
persyaratan hidup organisme yang menghuninya.
Salah satu faktor yang mempengaruhi komunitas burung di suatu habitat
adalah aktivitas manusia. Burung dalam masa breeding (berbiak) lebih rentan terhadap aktivitas manusia di dekatnya. Aktivitas manusia yang terlalu dekat dengan
sarang bisa membuat sarang ditinggal kabur oleh induknya. Dalam kondisi ini, telur
dan anakan tak mampu bertahan hidup karena predasi oleh hewan lain (Watson,
1996).
Manusia bisa mempengaruhi burung dan habitatnya secara langsung dengan
cara modifikasi vegetasi atau bahkan dengan perburuan. Manusia juga punya
pengaruh secara tidak langsung saat perubahan habitat bisa memberi dampak
predator dan membuat spesies invasif makin tersebar. Pengukuran tidak langsung
seperti jarak dari jalur dan pemukiman bisa digunakan untuk mengukur dampak
akibat aktivitas manusia (Bibby, 1998). Gangguan manusia bisa menimbulkan
pengubahan area menjadi kawasan pertanian, industri dan kawasan urban, struktur
vegetasi juga mengalami perubahan besar. (Norton, et al., 1994). Beberapa studi di lingkungan terrestrial telah menggunakan pengukuran seperti jarak terdekat ke area
BAB III
METODE PENELITIAN
A.Lokasi Penelitian
Secara administratif Cagar Alam Pulau Sempu terletak di Dusun Sendang Biru,
Desa Tambak Rejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur. Sedangkan secara geografis terletak antara 112°40’45” Bujur Timur dan 8°24’54” Lintang Selatan. wilayah Resort Cagar Alam Pulau Sempu, Seksi Konservasi Wilayah Probolinggo, Wilayah Konservasi Bidang III Jember,
Balai Besar Konservasi Saumber Daya Alam Jawa Timur. Lokasi penelitian
mencakup keseluruhan pulau dengan luasan 877 ha.
Gambar 1. Peta kawasan CA Pulau Sempu
B. Waktu penelitian
Pengambilan data lapangan dilaksanakan pada tgl 2 dan 4 Maret 2014.
Pengambilan data dilaksanakan pukul 07.00 – 15.00 pada tiap hari pengambilan
data.
C. Alat yang digunakan
- GPS - Buku Panduan Identifikasi Burung
- Protractor - Kamera - Kompas
- Peta Kawasan
- Binokuler
- Tally Sheet
D. Metode Pengambilan data
1. Pengambilan Data Burung
Gambar 2. Desain pengambilan data burung menggunakan metode Point Count dengan jarak antar titik pengamatan 200 m dan jari-jari 50m
Gambar 3. Penempatan plot pengamatan di kawasan CA Pulau Sempu
Pencatatan dilakukan dengan menghitung jumlah burung didalam kedua bands
pengamatan. Individu burung dicatat baik melalui perjumpaan langsung maupun
tidak langsung dengan mendengar suara atau kicaunnya.
2. Pengambilan Data Aktivitas Manusia
Data aktivitas manusia yang diambil adalah jarak jalur yang sering digunakan
pengunjung terhadap plot, dan jarak plot pengamatan ke lokasi perkemahan
E. Analisis Data
Analisis menggunakan R-Statistic dengan model analisis Generalized Linear Model. Data variabel dependen adalah jumlah jenis pada tiap plot, sedangkan variabel independen adalah jarak plot terhadap jalur tracking dan jarak plot terhadap lokasi perkemahan. Dalam analisis statistik, taraf kepercayaan yang
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Pengambilan Data Burung
Dari hasil pengamatan sebanyak 30 plot pengamatan, didapat total jenis 129
individu burung yang terdiri dari 33 jenis.. Jenis yang paling banyak dijumpai pada
pengamatan adalah Takur Tenggeret (Megalaima australis) sebanyak 30 individu, Cipoh Kacat (Aegithinia tiphia) sebanyak 26 individu dan Cinenen Pisang (Orthotomus sutoritus) sebanyak 6 individu. Dari 33 jenis, Rangkong Badak (Buceros rhinoceros) dan Takur Tulungtumpuk (Megalaima javensis) merupakan jenis yang statusnya mendekati terancam punah (Near Threatened)
Jenis Nama Ilmiah
Sebaran
Jumlah
Status Konservasi IUCN
Alap-alap Kawah Falco peregrines Umum 2 Least Concern
Ayam Hutan Hijau Gallus varius Umum 1 Least Concern
Ayam Hutan Merah Gallus gallus Khusus 2 Least Concern
Bondol Jawa Lonchura leucogastroides Umum 2 Least Concern
Buntut Sate Merah Phaethon rubricauda Khusus 2 Least Concern Burung Madu
Sriganti Nectarinia jugularis
Umum
1 Least Concern
Cekakak Sungai Halcyon chloris Umum 4 Least Concern
Cinenen Kelabu Orthotomus ruficeps Umum 4 Least Concern
Cinenen Pisang Orthotomus sutoritus Umum 6 Least Concern
Cipoh Kacat Aegithinia tiphia Umum 26 Least Concern
Cucak Kutilang Pycnonotus aurigaster Umum 2 Least Concern Elang Laut Perut
Putih Haliaeetus leucogaster
Khusus
1 Least Concern
Elang Ular Bido Spilornis cheela Khusus 1 Least Concern
Gemak Tegalan Turnix sylvatica Umum 1 Least Concern
Kacamata Biasa Zopterops palpebrosus Khusus 3 Least Concern Kangkareng Perut
Putih Anthracoceros albirostris
Umum
4 Least Concern
Kangkok Ranting Cuculus saturates Umum 1 Least Concern
Kucica Kampung Copsychus saularis Umum 1 Least Concern
Kuntul Karang Egretta eulophotes Khusus 1 Least Concern
Layang-layang Batu Hirundo tahitica Umum 3 Least Concern
Merbah Cerukcuk Pycnonotus goiavier Umum 4 Least Concern
Paok Pancawarna Pitta guajana Khusus 2 Least Concern
Pelatuk Besi Dinopium javanense Khusus 2 Least Concern
Perling Kumbang Aplonis panayensis Umum 3 Least Concern
Raja Udang
Meninting Alcedo meninting
Khusus
5 Least Concern
Rangkong Badak Buceros rhinoceros Khusus 2 Near Threatened
Sikatan Belang Ficedula westermanni Khusus 1 Least Concern
Sikatan Ninon Eumyias indigo Khusus 1 Least Concern
Takur Tenggeret Megalaima australis Umum 30 Least Concern
Takur Tulungtumpuk Megalaima javensis Khusus 4 Near Threatened Takur
Ungkut-Ungkut Megalaima haemacephala
Umum
1 Least Concern
Walet Linchii Collocalia linchii Umum 4 Least Concern
Total 129
Tabel 1. Tabel jenis, jumlah dan status konservasi burung hasil pengamatan.
Jenis burung terbagi menjadi dua berdasarkan sebarannya, yaitu umum dan
khusus. Jenis dengan sebaran umum adalah jenis yang memiliki daya adaptasi tinggi,
mampu hidup di berbagai tipe lahan seperti hutan, pinggir hutan, pantai bahkan area
dengan tingkat aktivitas manusia yang tinggi. Jenis dengan sebaran khusus adalah
jenis yang membutuhkan habitat spesifik untuk bertahan hidup. Dari hasil
pengambilan data, didapat sebaran jenis sebaran umum dan khusus seperti gambar
berikut.
Plot tempat ditemui jenis sebaran khusus dilambangkan dengan warna biru,
sedangkan jenis dengan sebaran umum dilambangkan dengan warna merah. Untuk
plot tempat ditemuinya jenis sebaran umum dan khusus, dilambangkan dengan
lingkaran biru dan merah.
Pengambilan data berlangsung selama 2 hari, yaitu hari minggu dan selasa. Pada
hari minggu, keramaian pengunjung di kawasan CA Pulau Sempu mencapai titik
tertinggi, sedangkan hari selasa keramaian pengunjung sudah berkurang. Karena
adanya perbedaan tingkat keramaian pengunjung, hasil pengamatan bisa dibagi secara
temporal, yaitu pada hari minggu dan selasa.
Gambar 4. Peta sebaran data pada hari pengamatan minggu
Dari gambaran sebaran jenis pada pengamatan hari minggu, 5 plot didapat sebagai
lokasi ditemuinya jenis-jenis dengan sebaran khusus. Dari 5 plot, 3 plot jaraknya
jauh dari camp Segara Anakan. 2 plot lainnya jaraknya relatif lebih dekat dengan
camp Segara Anakan.
Pada plot yang menjadi lokasi pengamatan di hari selasa, jenis-jenis dengan
sebaran khusus keberadaannya relatif jauh dari camp Segara Anakan, namun beberapa
jenis bisa ditemui di Teluk Semut yang menjadi titik awal jalur track menuju Segara Anakan. Pada hari selasa, aktivitas manusia sangat minim.
2. Hasil Pengambilan data Aktivitas Manusia
Aktivitas manusia yang diambil berupa jarak plot pengamatan dari jalur Segara
anakan dan jarak plot pengamatan dari lokasi perkemahan di Segara Anakan. Dari
pengambilan data aktivitas jarak ke lokasi kemah, didapat plot yang terjauh dari
Segara anakan jaraknya 2000 m, sedangkan yang terdekat 500 m. Pada pengukuran
jarak dari plot ke jalur, didapat jarak terjauh 625 m dan jarak terdekat 0. Jarak
terdekat dianggap 0 jika plot pengamatan berada tepat di jalur menuju Segara Anakan.
Selain adanya jalur menuju Segara anakan, di beberapa plot ditemui adanya jalur lain,
namun bukan termasuk jalur yang sering digunakan pengunjung sehingga tidak
ditemui kegiatan manusia.
3. Hasil Analisis data
Dari hasil analisis data variabel jumlah jenis burung dan data-data jarak aktivitas
manusia menggunakan generalized linear model, didapat persamaan sebagai berikut :
Keterangan:
Y = Jumlah jenis burung
X1 = Jarak dari Jalur Tracking
X2 = Jarak dari Camp Segara Anakan
Hasil dari aktivitas manusia disini diasumsikan dengan adanya jalur tracking dan tempat camp di Segara Anakan. Jalur tracking tersebut merupakan jalur utama yang sering digunakan masyarakat (pengunjung) untuk menuju Segara Anak. Sedangkan
Segara Anakan merupakan tempat peristirahatan utama pengunjung ketika berkunjung
di Cagar Alam Pulau Sempu. Jarak dari kedua jalur tersebut di dapatkan dengan
mengukur jarak terdekat (meter) menggunakan peta dan atau GPS.
4. Pembahasan
Pada persamaan di atas didapatkan bahwa kedua jarak yaitu jarak dari jalur
tracking dan jarak dari camp Segara Anakan memiliki hubungan yang positif terhadap jumlah jenis burung yang didapatkan. Artinya jika semakin jauh (semakin besar
jaraknya) jarak dari jalur tracking dan camp Segara Anakan maka akan didapatkan jenis – jenis burung yang lebih banyak.
Gambar 6. Sebaran Data Jenis Burung Berdasarkan Jarak dengan Segara Anakan
Dari grafik sebaran data jenis burung, bisa diketahui jika semakin jauh jarak plot
dengan Segara Anakan, jumlah jenis burung yang didapat semakin banyak. Jumlah
tertinggi jenis burung dalam satu plot sebanyak 7 jenis. Titik dengan jumlah jenis
tertinggi jaraknya sejauh 1250 meter dari Segara Anakan.
Beberapa plot yang jaraknya cukup jauh dibandingkan plot yang lain memiliki
jumlah jenis burung yang lebih banyak dibandingkan jika jaraknya dari hasil aktivitas
manusia yang semakin dekat. Namun pengaruh kedua jarak tersebut yang signifikan
adalah jarak dari camp Segara Anakan, yang dapat dilihat dari nilai signifikansinya
yaitu 0,004. Menurut taraf kepercayaan yang dipakai jika angka signifikannya kurang
dari 0,05 maka pengaruh jarak dari camp Segara Anakan berpengaruh signifikan dengan jumlah jenis burung yang didapatkan. Tetapi jarak dari jalur tracking tidak
memiliki pengaruh signifikan dengan jumlah jenis burung karena nilai signifikansinya
yang lebih dari 0,05.
Dari analisis pengaruh tersebut dapat dikatakan bahwa pada jalur tracking
memiliki frekuensi kehadiran manusia yang lebih rendah dibandingkan camp Segara Anakan. Karena masyarakat atau pengunjung lebih banyak beraktivitas di camp
Segara Anakan, sedangkan jalur tracking hanya digunakan untuk sarana datang dan perginya pengunjung dari camp Segara Anakan (CA Pulau Sempu) oleh karena
frekuensi aktivitas manusianya akan lebih sedikit. Burung adalah satwa dengan
mobilitas tinggi dan memiliki home range yang cukup luas. Dalam hal ini burung juga memiliki respon terhadap aktivitas manusia.
Burung dapat menghindar dari aktivitas manusia atau tetap di wilayahnya
walaupun terdapat aktivitas manusia di dalamnya. Namun dalam hal ini burung lebih
cenderung menghindar dengan aktivitas manusia yang banyak. Jarak dari jalur
tracking yang memiliki aktivitas manusia yang jarang tidak berpengaruh signifikan dikarenakan burung yang terdapat di sekitar jalur dapat merespon tanda – tanda
manusia yang datang mendekat. Apabila ada pengunjung yang mendekat maka
burung akan cenderung menghindar dan apabila pengunjung tersebut menjauh maka
burung akan datang kembali.
Camp Segara Anakan adalah tempat utama bagi pengunjung CA Pulau Sempu untuk tempat berkemah dan menikmati panorama alam. Aktivitas manusia di tempat
tempat ini. Jumlah spesies burung yang di dalam plot yang berdekatan dengan tempat
camp Segara Anakan lebih sedikit dibandingkan jumlah jenis burung yang ada di dalam plot yang berjarak lebih jauh.
Gambar 2. Coplot jarak dari lokasi perkemahan terhadap jumlah jenis burung
Coplot di atas memberikan informasi tentang jarak dari camp Segara Anakan yang efektif terhadap jumlah jenis burung. Jarak dari lokasi camp Segara Anakan yang baik adalah pada kisaran 800 meter s.d. > 1800 meter. Jarak yang semakin jauh ini akan
membuat area tersebut memiliki kekayaan jenis burung yang tinggi. Burung akan
lebih nyaman jika frekuensi aktivitias manusia lebih sedikit atau bahkan tidak ada.
Pengambilan data dilaksanakan di dua hari terpisah, yaitu di hari minggu 2 Maret
2014 dan selasa 4 maret 2014, dengan lokasi plot berbeda pada masing-masing hari.
Pada dua hari pengamatan, hari minggu merupakan puncak keramaian pengunjung di
kawasan CA Pulau Sempu. Hari minggu biasanya merupakan hari libur yang
dimanfaatkan pengunjung untuk datang ke CA Pulau Sempu. Di hari selasa,
keramaian pengunjung di kawasan CA sudah berkurang. Tingkat aktivitas manusia
yang berbeda ini memberi dampak terhadap sebaran jenis burung Dari gambar 4,
terlihat jika sebaran burung dengan habitat khusus letaknya jauh dari jalur tracking.
Pada gambar 5, jenis dengan sebaran khusus bisa ditemui dekat dengan jalur tracking.
Hal ini menjadi indikasi jika beberapa jenis burung menganggap keberadaan manusia
sebagai suatu gangguan, yang membuat burung pergi menjauhi habitat di jalur
tracking. Dari hasil pengamatan di kawasan CA Pulau Sempu, ditemui spesies-spesies yang mampu hidup di lokasi aktivitas manusia dan spesies yang sensitif terhadap
ini selain menghuni kawasan hutan di CA Pulau Sempu juga menjadi jenis yang
umum dijumpai di kawasan pemukiman, lokasi di mana aktivitas manusia lebih tinggi
dibanding area lain. Jenis-jenis ini tidak terlalu terganggu oleh keberadaan manusia,
meskipun akan menghindar jika jarak antara burung dan manusia terlalu dekat. Di
area pemukiman, bahkan beberapa spesies urban bersarang di pusat aktivitas manusia
seperti taman kota dan pekarangan rumah. Spesies-spesies yang sering berdekatan
dengan lokasi aktivitas manusia adalah Walet Linchi, Cipoh Kacat, Cucak Kutilang,
Merbah Cerukcuk dan Bondol Jawa. Jenis-jenis ini merupakan jenis yang cukup
umum ditemui di tempat dengan aktivitas manusia tinggi. Dalam kegiatan
pengamatan, jenis-jenis ini tidak terlalu sensitif terhadap keberadaan manusia, lebih
mudah teramati atau teridentifikasi dari suara keras, terutama pada jenis Cipoh Kacat.
Di kawasan CA Pulau Sempu, jenis ini merupakan jenis yang umum ditemui,
meskipun jenis ini secara visual sulit untuk dideteksi, karena warna bulunya yang
hijau zaitun dan kuning membuat burung ini tersamar baik di tajuk pohon dan semak
belukar.
Salah satu jenis yang menggunakan disturbed area sebagai habitat adalah Kangkareng Perut-Putih. Jenis yang merupakan Jenis famili Bucerotidae terkecil di
pulau Jawa ini bisa ditemui di lokasi terbuka dan disturbed area (Winnasis, 2012). Hal ini sesuai dengan hasil pengambilan data di CA Pulau Sempu. Di CA Pulau
Sempu, jenis ini menghuni kawasan yang dekat dengan jalur tracking. Dari hasil pengamatan lapangan, burung dengan jengger warna putih ini didapati tersebar di area
hutan yang jaraknya paling jauh 400 meter dari garis pantai. Kangkareng Perut-Putih
menjaga jarak dengan manusia dengan cara hinggap di pohon yang tajuknya tinggi.
Selain tajuk tinggi, jenis ini juga menyukai pohon berbuah untuk mencari pakan.
Kangkareng Perut-Putih bukan satunya-satunya anggota Bucerotidae yang
ditemui di area pengamatan. Di area pengamatan, ditemui juga pasangan Rangkong
Badak, Bucerotidae terbesar di Pulau Jawa. Meskipun satu famili dengan Kangkareng
Perut-Putih, Rangkong Badak ini memiliki sifat yang jauh berbeda dalam interaksinya
dengan aktivitas manusia. Rangkong Badak akan langsung menghindar jika
mendeteksi keberadaan manusia. Dalam hal pakan dan perilaku lain, burung
berjengger merah-kuning ini hampir mirip dengan Kangkareng Perut-Putih. Burung
ini menyukai pohon tinggi yang berbuah. Selain buah-buahan, jenis ini juga memakan
Dari hasil pengamatan di 30 titik, terdapat tiga spesies burung pemangsa. Ketiga
burung pemangsa yang ditemukan adalah Elang Ular Bido, Elang Laut Perut Putih
dan Alap-alap Kawah pada lokasi pengamatan. Ketiga elang ini memiliki sebaran
yang berbeda. Elang Ular Bido lebih mudah ditemukan di area hutan dataran rendah,
jauh dari garis pantai, karena jenis ini lebih memilih untuk berburu mangsa seperti
reptil dan mamalia kecil di area hutan. Elang Laut Perut Putih lebih mudah ditemui di
garis pantai, dengan aktivitas terbang soaring. Elang Laut Perut Putih lebih memilih lokasi pantai karena pakan utama bagi Accipitridae berukuran besar ini adalah ikan.
Elang dengan warna dominan putih ini terbang memutar di atas permukaan laut. Saat
mendeteksi aktivitas manusia, jenis ini memilih menghindar dengan cara menjauh dari
lokasi pengamatan atau terbang lebih tinggi.
Pada jenis Alap-alap Kawah, anggota famili Falconidae ini bisa ditemui di
kawasan hutan dan juga pantai. Saat pengamatan, jenis ini hinggap di lokasi yang jauh
dari aktivitas manusia. Lokasi terbang raptor berukuran sedang ini juga jauh dari
BABV
KESIMPULAN
1. Kesimpulan
Dari hasil analisis statistik, didapat persamaan Y = 0,896 + 0,0001 X1 + 0,0018
X2. Aktivitas manusia berpengaruh terhadap jumlah jenis burung di CA Pulau
Sempu. Faktor yang berpengaruh signifikan adalah jarak dengan lokasi perkemahan.
Semakin jarak titik pengamatan terhadap lokasi kemah Segara Anakan, jumlah jenis
yang ditemui semakin banyak.
2. Saran
a. Kawasan CA Pulau Sempu merupakan habitat berbagai jenis burung. Menurut UU
no. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya,
semua jenis yang berada di kawasan CA dilindungi. Oleh karena itu, perlu adanya
pembatasan akses pengunjung ke dalam kawasan.
b. Penelitian ini menggunakan 30 titik sebagai lokasi pengamatan dengan jarak antar
plot 200 m, sedangkan lokasi CA Pulau Sempu luasnya 877 Ha. Untuk data yang
mencakup seluruh area CA Pulau Sempu, perlu dilakukan penambahan jumlah
DAFTAR PUSTAKA
Alikodra, H.S. 1986. Pengelolaan Habitat Satwa Liar. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Alikodra, H.S. 1990. Pengelolaan Satwa Liar Jilid 1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Pusat Antar Ilmu Hayat,
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Bibby, C. Jones, M. Marsden, S. 1998. Expedition Field Techniques : Bird Survey. Royal Geographical Society. London
MacKinnon, J., K. Phillips, dan B. van Balen, 2010. Burung- burung di Sumatera. Jawa. Bali. dan Kalimantan. LIPI-Burung Indonesia. Bogor.
Norton, D. A., Hobbs, R. J. and Atkins, L.: 1995, Fragmentation, disturbance, and plant distributions: Mistletoes in woodland remnants in the western Australian
wheatbelt, Conserv. Biol. 9, 426–438.
Ontario, J; J.B. Hernowo; Haryanto & Ekarelawan. 1990. Pola Pembinaan Habitat Burung di Kawasan Pemukiman Terutama di Perkotaan. Media Konservasi Vol. III No. 1.
Reijnen, R., Foppen, R., Ter Braak, C. and Thissen, J.: 1995, The effects of car traffic on breeding bird populations in woodland. III. Reduction of density in relation to the proximity of main roads, J. Appl. Ecol. 32, 187–202.
Watson, J. J., Kerley, G. I. H, McLachlan, A. 1996. Human activity and potential impacts on dune breeding birds in the Alexandria Coastal Dunefield. Landscape and Urban Planning 34 (1996) 3 15-322
Winnasis, S. 2012. Bird of Baluran National Park. Balai Taman Nasional Baluran. Situbondo