• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Peradaban Islam pdf (2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sejarah Peradaban Islam pdf (2)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH SEJARAH PERADABAN ISLAM

KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DAN

PENGEMBANGANNYA SEBELUM KEDATANGAN

BANGSA EROPA

D

I

S

U

S

U

N

OLEH:

SAMSUL BAHRI

DOSEN PENGAMPU : Prof. Dr. H. ABBAS PULUNGAN

SEMESTER III

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

i

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya kami

dapat menyusun makalah Sejarah Peradaban Islam, dengan judul

Kerajaan-Kerajaan Islam di Nusantara sebelum kedatangan Bangsa Eropa ini dapat

terselesaikan.

Terima kasih kami ucapkan kepada bapak dosen Prof. Dr. Abbas Pulungan

yang telah memberikan tugas kepada kami sehingga akan dapat menambah ilmu

dan pengetahuan kami. Terima kasih juga kepada teman-teman seperjuangan yang

telah memberikan sumbangan baik moril maupun materil.

Tiada gading yang tak retak begitu jugalah dalam penyusuanan makalah kami

ini, kami sangat mengharapkan kritik, saran, dan masukan demi perbaikan

makalah ini. Demikianlah makalah kami ini semoga bermanfaat dan dapat

menambah pengetahuan bagi para pembaca.

Medan, 26 November 2017

Penyusun

(3)

ii DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...i

Daftar Isi...ii

BAB I PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang ...1

B. Rumusan Masalah ...1

C. Tujuan ...1

BAB II PEMBAHASAN ...2

A. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Sumatera ...2

1. Samudera Pasai ...2

2. Aceh Darussalam ...3

B. Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa...4

1. Demak ...4

2. Pajang ...5

3. Cirebon ...6

C. Kerajaan-Kerajaan Islam di Kalimantan ...7

1. Berdirinya Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan ...7

2. Kutai di Kalimantan Timur ...8

D. Hubungan Politik dan Keagamaan antara Kerajaan-kerajaan Islam ...9

BAB III PENUTUP ...11

Kesimpulan ...11

(4)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebelum penjajah Belanda datang ke Indonesia, di Indonesia telah berdiri

kerajaan-kerajaan besar seperti: Samudera pasai dan Aceh Darussalam

(Sumatera), Pajang, Demak, dan Cirebon (Jawa), Kerajaan Banjar dan Kutai

(Kalimantan).

Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudera Pasai yang

merupakan kerajaan kembar. Kerajaan ini terletak di pesisir timur laut Aceh.

Kerajaan Aceh terletak di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Kabupaten

Aceh Besar. Di sini pula terletak ibu kotanya. Kurang begitu diketahui kapan

kerajaan ini sebenarnya berdiri. Anas Machmud berpendapat, Kerajaan Aceh

berdiri pada abad ke-15 M, di atas puing-puing kerajaan Lamuri, oleh Muzaffar

Syah (1465 – 1497).

Sedangkan di Pulau Jawa juga berdiri kerajaan Demak yang dipimpin oleh

Raden Patah, kemudian berdiri pula Kesultanan Pajang yang dipandang sebagai

pewaris kerajaan Islam Demak. Kesultanan Cirebon adalah kerajaan Islam

pertama di jawa Barat. Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Gunung Jati.

Di Kalimantan juga berdiri dua buah kerajaan yaitu kerajaan Banjar yang

rajanya bernama Sultan Suruiansyah, dan kerajaan Kutai yang salah satu rajanya

bernama Tuan di bandang atau lebih dikenal dengan sebutan Dato’Ri Bandang.

Untuk lebih jelasnya simaklah isi makalah berikut ini.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam makalah kami ini adalah apa-apa saja kerajaan Islam

di Nusatara sebelum kedatangan Penjajah.

C. Tujuan

Tujuan utama makalah ini adalah unutk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah

Peradaban Islam dan tujuan khususnya adalah untuk menambah wawasan atau

pengetahuan tentang kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara (Indonesia) sebelum

(5)

2 BAB II

PEMBAHASAN

A. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Sumatera

1. Samudera Pasai

Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudera Pasai yang

merupakan kerajaan kembar. Kerajaan ini terletak di pesisir timur laut Aceh.

Kemunculan sebagai kerajaan Islam diperkirakan mulai awal atau pertengahana

abad ke 13 M, sebagai hasil dari proses Islamisasi daerah-daerah pantai yang

pernah disinggahi pedagang-pedagang muslim sejak abad ke-7, ke-8 M, dan

seterusnya. 1 Bukti berdirinya kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-13 M itu

didukung oleh adanya nisan kubur terbuat dari granit asal Samudera Pasai. Dari

nisan itu dapat diketahui bahwa raja pertama kerajaan itu meninggal pada bulan

Ramadhan tahun 696 H, yang diperkirakan bertepatan dengan tahun 1297 M.

Malik al-Saleh, raja pertama itu, merupakan pendiri kerajaan tersebut. Hal

itu diketahui melalui tradisi Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Melayu, dan juga hasil penelitian atas beberapa sumber yang dilakukan sarjana-sarjana barat,

khususnya para sarjana Belanda, seperti Snouck Hurgronye, J.P. Molquette, J.L.

Moens, J. Hushoff Poll, G.P. Rouffaer, H.K.J. Cowan, dan lain-lain. 2

Pendapat bahwa Islam sudah berkembang di sana sejak awal abad ke-13

M, didukung oleh cerita Cina dan pendapat Ibn batutah, seorang pengembara

terkenal asala Maroko, yang pada pertengahan abad ke-14 M ( tahun 746 H / 1345

M ) mengunjungi Samudera Pasai dalam perjalanannya dari Delhi ke Cina. Ketika

itu Samudera Pasai diperintah oleh Sultan Malik Zahir, putera Sultan Malik

al-Saleh. Menurut sumber-sumber Cina, pada awal tahun 1282 M kerajaan kecil

Sa-mu-ta-la ( Samudera ) mengirim kepada raja Cina duta-duta yang disebut dengan

nama-nama muslim yakni Husein dan Sulaiman.3 Ibnu Batutah menyatakan

bahwa Islam sudah hampir seabad lamanya disiarkan di sana. Ia meriwayatkan

1

Uka Tjandrasasmita (Ed), Sejarah Nasional Indonesia III, (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984), hlm. 3.

2

Muhammad Ibrahim dan Rusdi Sufi, ”Proses Islamisasi dan Munculnya Kerajaan

-kerajaan Islam di Aceh”, dalam A. Hasymy (Ed), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, (PT Almaarif, 1989), hlm. 420.

3

(6)

3

kesalehan, kerendahan hati, dan semangat keagamaan rajanya yang seperti

rakyatnya, mengikuti mazhab Syafi’i. Berdasarkan beritanya pula, kerajaan

Samudera Pasai ketika itu merupakan pusat studi agama Islam dan tempat

berkumpul ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi berbagai

masalah keagamaan dan keduniaan.

Mata uang dirham dari Samudera Pasai tersebut pernah diteliti oleh H.K.J.

Cowan untuk menunjukkan bukti-bukti sejarah raja-raja Pasai. Mata uang tersebut

menggunakan nama-nama Sultan Alaudin, Sultan manshur malik al-zahir, Sultan

Abu Zaid dan Abdullah. Pada tahun 1973 M, ditemukan lagi 11 mata uang dirham

di antaranya bertuliskan nama Sultan Muhammad Malik al-Zahir, Sultan Ahmad,

Sultan Abdullah, semuanya adalah raja-raja Samudera Pasai pada abad ke-14 M

dan 15 M.

Kerajaan Samudera Pasai berlangsung sampai tahun 1524 M. pada tahun

1521 M kerajaan ini ditaklukan oleh Portugis yang mendudukinya selama 3 tahun,

kemudian tahun 1524 M dianekasasi oleh raja Aceh, Ali Mughayatsyah.

Selanjutnya, kerajaan Samudera Pasai berada di bawah pengaruh kesultanan Aceh

yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam. 4

2. Aceh Darussalam

Kerajaan Aceh terletak di daerah yang sekarang dikenal dengan nama

Kabupaten Aceh Besar. Di sini pula terletak ibu kotanya. Kurang begitu diketahui

kapan kerajaan ini sebenarnya berdiri. Anas Machmud berpendapat, Kerajaan

Aceh berdiri pada abad ke-15 M, di atas puing-puing kerajaan Lamuri, oleh

Muzaffar Syah ( 1465 – 1497 ). Dialah yang membangun kota Aceh Darussalam. 5

Menurutnya, pada masa pemerintahannya Aceh darussalam mulai mengalami

kemajuan dalam bidang perdagangan, karena saudagar-saudagar muslim yang

sebelumnya berdagang dengan Malaka memindahkan kegiatan mereka ke Aceh,

setelah Malaka dikuasai Portugis ( 1511 M ). Sebagai akibat penaklukan Malaka

oleh portugis itu, jalan dagang yang sebelumnya dari laut Jawa ke utara melalui

Selat Karimata terus ke Malaka, pindah melalui Selat Sunda dan menyusur pantai

4

Taufik Abdullah ( Ed ), Sejarah Umat Islam Indonesia, ( Jakarta: MUI, 1992 ), hlm. 55.

5

Anas Machmud, “Turun Naiknya Peranan Kerajaan Aceh Darussalam di Pesisir Timur

(7)

4

Barat Sumatera, terus ke Aceh. Dengan demikian, Aceh menajadi ramai

dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri.

Menurut H.J. de Graaf, Aceh menerima Islam dari Pasai yang kini menjadi

bagian wilayah Aceh, dan pergantian agama diperkirakan terjadi mendekati

pertengahan abad ke-14.6 Menurutnya, kerajaan Aceh merupakan penyatuan dari

dua kerajaan kecil, yaitu Lamuri dan Aceh Dar al-kamal. Ia juga berpendapat

bahwa rajanya yang pertama adalah Ali Mughayat Syah.

Peletak dasar kebesaran kerajaan Aceh adalah Sultan Alauddin Riayat

Syah yang bergelar al-Qahar. Dalam menghadapi balatentara Portugis, ia menjalin

hubungan persahabatan dengan kerajaan Usmani di Turki dan negara-negara

Islam yang lain di Indonesia. Dengan bantuan Turki Usmani tersebut, Aceh dapat

membangun angkatan perangnya dengan baik. Aceh ketika itu nampaknya

mengakui kerajaan Turki Usmani sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dan

kekhalifahan dalam Islam.

B. Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa

1. Demak

Sebagaimana telah disebutkan dalam bab terdahulu, perkembangan Islam

di Jawa bersamaan waktunya dengan melemahnya posisi raja Majapahit. Hal itu

memberi peluang kepada penguasa-penguasa Islam di pesisir untuk membangun

pusat-pusat kekuasaan yang independen. Di bawah pimpinan Sunan Ampel Denta,

Wali Songo bersepakat mengangkat Raden Patah menjadi raja pertama kerajaan

Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa, dengan gelar Senopati Jimbun

Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama.7 Raden Patah

dalam menjalankan pemerintahannya, terutama dalam persoalan-persoalan agama,

di bantu oleh para ulama, Wali Songo. Sebelumnya, Demak masih bernama

Bintoro merupakan daerah vasal Majapahit yang diberikan Raja Majapahit kepada

Raden Patah. Daerah ini lamabat laun menjadi pusat perkembangan agama

Islamyang diselenggarakan oleh para wali.

Pemerintahan Raden Patah berlangsung kira-kira di akhir abad ke-15

(8)

5

seorang ibu muslim keturunan Campa. Ia digantikan oleh anaknya, Sambrang Lor,

dikenal juga dengan nama Pati Unus.

Pati Unus digantikan oleh Trenggono yang dilantik sebagai sultan oleh

Sunan Gunung Jati dengan gelar Sultan Ahmad Abdul ‘Arifin. Ia memerintah

pada tahun 1524 – 1546. Pada masa sultan Demak ketiga inilah Islam

dikembangkan ke seluruh tanah Jawa,bahkan sampai ke Kalimantan. Pada tahun

1527 Tuban dan majapahit jatuh ke tangan kerajaan Demak. Pada tahun 1529

berhasil menundukan Madiun, Blora ( 1530 ), Surabaya ( 1531 ), Pasuruan ( 1535

), antara tahun 1541 – 1542 Lamongan, Blitar, Wirasaba, dan Kediri ( 1544 ).

Setelah Sultan Trenggono terbunuh, ia digantikan oleh adiknya Prawoto. Kerajaan

Demak berakhir setelah terbunuhnya Prawoto, pembunuhnya adalah Aria

panangsang dari Jipang pada tahun 1549.

2. Pajang

Kesultanan Pajang adalah pelanjut dan dipandang sebagai pewaris

kerajaan Islam Demak. Kesultanan yang terletak di daerah Kartasura sekarang itu

merupakan kerajaan Islam pertama yang terletak di daerah pedalaman Pulau Jawa.

Usia kesultanan ini tidak panjang. Kekuasaan dan kebesarannya kemudian

diambil alih oleh kerajaan Mataram.

Raja pertama kesultanan ini adalah Jaka Tingkir yang berasal dari

Pengging, di lereng gunung Merapi. Oleh Raja Demak ketiga, Sultan Trenggono,

Jaka Tingkir diangkat menjadi penguasa di Pajang, setelah sebelumnya

dikawinkan dengan anak perempuannya. Kediaman penguasa Pajang itu, menurut

Babad, dibangun dengan mencontoh kraton Demak.

Pada tahun 1546 Sultan Demak meninggal dunia. Setelah itu muncul

kekacauan di ibu kota. Konon Jaka Tingkir yang telah menjadi penguasa Pajang

itu dengan segera mengambil alih kekuasaan karena anak sulung Sultan

Trenggono yang menjadi pewaris tahta kesultanan, susuhunan Prawoto, dibunuh

oleh kemenakannya, Aria Panangsang yang waktu itu menjadi penguasa di Jipang

( Bojonegoro sekarang ).

Selama pemerintahan Sultan Adiwijaya, kesusasteraan dan kesenian

(9)

6

Jawa. Pengaruh agama Islam yang kuat di pesisir menjalar dan tersebar ke daerah

pedalaman.

Riwayat kerajaan Pajang berakhir tahun 1618. kerajaan pajang pada waktu

itu memberontak terhadap Mataram yang ketika itu di bawah Sultan Agung.

Pajang dihancurkan, rajanya melarikan diri ke Giri dan Surabaya.

3. Cirebon

Sultan Gunung Kesultanan Cirebon adalah kerajaan Islam pertama di jawa

Barat. Kerajaan ini didirikan oleh Jati. Di awal abad ke-16, Cirebon merupakan

sebuah daerah kecil di bawah kekuasaan Pakuan Pajajaran. Raja Pajajaran hanya

menempatkan seorang juru labuhan di sana, bernama Pangeran Walangsungsang,

seorang tokoh yang mempunyai hubungan darah dengan raja Pajajaran. Ketika

berhasil memajukan Cirebon, ia sudah menganut agama Islam. Disebutkan oleh

Tome Pires, Islam sudah ada di Cirebon sekitar 1470 – 1475 M. akan tetapi, orang

yang berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kerajaan adalah Syarif

Hidayat yang terkenal dengan gelar Sunan Gunung Jati, pengganti dan keponakan

dari Pangeran Walangsungsang. Dialah pendiri dinasti raja-raja Cirebon dan

kemudian juga Banten.

Sebagai keponakan dari Pangeran Walangsungsang, Sunan Gunung Jati

juga mempunyai hubungan darah dengan raja Pajajaran.8 Raja dimaksud adalah

Prabu Siliwangi, raja Sunda yang berkedudukan di Pakuan Pajajaran, yang nikah

dengan nyai Subang Larang tahun 1422.

Dari Cirebon, Sunan Gunung Jati mengembangkan Islam ke daerah-daerah

lain di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali ( Galuh ), Sunda Kelapa

dan Banten. Dasar bagi pengembangan Islam dan perdagangan kaum Muslimin di

Banten diletakkan oleh Sunan Gunung jati tahun 1524 atau 1525 M. Ketika ia

kembali ke Cirebon, Banten diserahkan kepada anaknya, Sultan hasanuddin.

Sultan inilah yang menurunkan raja-raja Banten. Di tangan raja-raja Banten

tersebut, akhirnya, kerajaan Pajajaran dikalahkan. Atas prakarsa Sunan Gunung

Jati juga penyerangan ke Sunda Kelapa dilakukan ( 1527 M ). Penyerangan ini

dipimpin oleh Falatehan dengan bantuan tentara Demak.

8

(10)

7

Setelah Sunan Gunung Jatiwafat, ia diganti oleh cicitnya yang terkenal

dengan gelar Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. Panembahan Ratu wafat

tahun 1650, dan digantikan oleh puteranya yang bergelar Panembahan Girilaya.

Keutuhan Cirebon sebagai satu kerajaan hanya sampai pangeran Girilya

itu. Sepeninggalnya, sesuai dengan kehendaknya sendiri, Cirebon diperintah oleh

dua puteranya, Martawijaya atau Panembahan Sepuh dan Kartawijaya atau

Panembahan Anom. Panembahan Sepuh memimpin Kesultanan Kesepuhan

sebagai rajanya yang pertama dengan gelar Samsuddin, sementara Panembahan

Anom memimpin Kesultanan Kanoman dengan gelar Badruddin.

C. Kerajaan-Kerajaan Islam di Kalimantan

Kalimantan terlalu luas untuk berada di bawah satu kekuasan pada waktu

datangnya Islam. Daerah barat laut menerima Islam dari malaya, daerah timur dari

makasar dan wilayah selatan dari Jawa.

1. Berdirinya Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan

Tulisan-tulisan yang membicarakan tentang mesuknya Islam di

Kalimantan selatan selalu mengidentifikasikan dengan berdirinya kerajaan

Banjarmasin. Kerajaan banjar merupakan kelanjutan dari Kerajaan Daha yang

beragama Hindu. Peristiwanya dimulai ketika terjadi pertentangan dalam keluarga

istana, antara pangeran Samudera sebagai pewaris sah kerajaan Daha, dengan

pamannya Pangeran Tumenggung. Seperti dikisahkan dalam Hikayat Banjar,

ketika Raja Sukarama merasa sudah hampir tiba ajalnya, ia berwasiat, agar yang

mengantikannya nanti adalah cucunya Raden Samudera. Tentu saja keempat

orang puteranya tidak menerima sikap ayahnya itu, lebih-lebih Pangeran

Tumanggung yang sangat berambisi. Setelah Sukarama wafat, jabatan raja

dipegang oleh anak tertua, Pangeran Mangkubumi. Waktu itu, Pangeran

Samudera baru berumur 7 tahun. Pangeran Mangkubumi tidak terlalu lama

berkuasa. Ia terbunuh oleh seorang pegawai istana yang berhasil dihasut Pangeran

Tumanggung. Dengan meninggalnya Pangeran Mangkubumi, maka Pangeran

Tumanggunglah yang tampil menjadi raja Daha.

Dalam pada itu Pangeran Samudera berkelana ke wilayah muara. Ia

kemudian diasuh oleh seorang patih, bernama Patih Masih. Atas bantuannya

(11)

8

pertamanya Pangeran Samudera berhasil menguasai Muara Bahan, sebuah

pelabuhan strategis yang sering dikunjungi para pedagang luar, seperti dari pesisir

utara Jawa, Gujarat, dan Malaka.

Dalam peperangan itu, Pangeran Samudera memperoleh kemenangan, dan

sesuai dengan janjinya, ia beserta seluruh kerabat kraton dan penduduk Banjar

menyatakan diri masuk Islam. Pangeran Samudera sendiri, setelah masuk Islam,

diberi nama Sultan Suryanullah atau Suriansyah, yang dinobatkan sebagai raja

pertama dalam kerajaan Islam Banjar.

Ketika Suryanullah naik tahta, beberapa daerah sekitarnya sudah mengakui

kekuasaannya, yakni daerah Sambas, Batanglawai, Sukadana, Kotawaringin,

Sampit, Medawi, dan Sambangan.

Sultan Suryanullah diganti oleh putera tertuanya yang bergelar Sultan

Rahmatullah. Raja-raja banjar berikutnya adalah Sultan Hidayatullah ( putera

Sultan Rahmatullah ) dan Marhum Panembahan yang dikenal dengan

Musta’inullah. Pada masa Marhum Panembahan, ibu kota kerajaan dipindahkan beberapa kali. Pertama ke Amuntai, kemudian ke Tambangan dan Batang Banju,

dan akhirnya ke Amuntai kembali. Perpindahan ibu kota kerajaan itu terjadi akibat

datangnya pihak Belanda ke Banjar dan menimbulkan huru-hara.

2. Kutai di Kalimantan Timur

Menurut risalah Kutai, dua orang penyebar Islam tiba di Kutai pada masa

pemerintahan Raja Mahkota. Salah seorang di antaranya adalah Tuan di bandang,

yang dikenal dengan Dato’Ri Bandang dari makassar; yang lainnya adalah Tuan

Tunggang Parangan. Setelah pengislaman itu, Dato’Ri Bandang kembali ke

Makassar sementara Tuan Tunggang Parangan tetap di Kutai. Melalui yang

terakhir inilah Raja Mahkota tunduk kepada keimanan Islam. Setelah itu, segera

dibangun sebuah mesjid dan pengajaran agama dapat dimulai. Yang pertama

sekali mengikuti pengajaran itu adalah Raja Mahkota Sendiri, kemudian pangeran,

para menteri, panglima dan hulubalang, dan akhirnya rakyat biasa.

Sejak itu, Raja mahkota berusaha keras menyebarkan Islam dengan

pedang. Proses Islamisasi di Kutai dan daerah sekitarnya diperkirakan terjadi pada

(12)

9

terutama pada waktu puteranya, Aji di Langgar, dan pengganti-penggantinya,

meneruskan perang ke daerah Muara Kaman.

D. Hubungan Politik dan Keagamaan antara Kerajaan-kerajaan Islam

Hubungan antara satu kerajaan Islam dengan kerajaan Islam lainnya

pertama-tama memang terjalin karena persamaan agama. Hubungan itu pada mulanya,

mengambil bentuk kegiatan dakwah, kemudian berlanjut setelah

kerajaan-kerajaan Islam berdiri. Demikianlah misalnya antara Giri dengan daerah-daerah

Islam di Indonesia bagian timur, terutama Maluku. Adalah dalam rangka

penyebaran Islam itu pula Fadhillah Khan dari Pasai datang ke Demak, untuk

memperluas wilayah kekuasaan ke Sunda Kelapa.

Dalam bidang politik, agama pada mulanya dipergunakan untuk memperkuat

diri dalam menghadapi pihak-pihak atau kerajaan-kerajaan yang bukan Islam,

terutama yang mengancam kehidupan politik maupun ekonomi. Persekutuan

antara Demak dengan Cirebon dalam menaklukkan Banten dan Sunda Kelapa

dapat diambil sebagai contoh. Contoh lainnya adalah persekutuan

kerajaan-kerajaan Islam dalam menghadapi Portugis dan Kompeni Belanda yang berusaha

memonopoli pelayaran dan perdagangan.

Meskipun demikian, kalau kepentingan politik dan ekonomi

antarkerajaan-kerajaan Islam itu sendiri terancam, persamaan agama tidak menjamin bahwa

permusuhan tidak ada. Peperangan di kalangan kerejaan-kerajaan Islam sendiri

sering terjadi. Misalnya, antara Pajang dan Demak, Ternate dan Tidore,

Gowa-Tallo dan Bone. Oleh karena kepentingan yang berbeda di antara

kerajaan-kerajaan itu pula, sering satu kerajaan-kerajaan Islam meminta bantuan kepada pihak lain,

terutama Kompeni Belanda, untuk mengalahkan kerajaan islam yang lain.

Hubungan antarkerajaan-kerajaan Islam lebih banyak terletak dalam bidang

budaya dan keagamaan. Samudera Pasai dan kemudian Aceh yang dikenal dengan

Serambi Mekah menjadi pusat pendidikan dan pengajaran Islam. Dari sini ajaran-ajaran Islam tersebar ke seluruh pelosok Nusantara melalui karya-karya ulama dan

murid-muridnya yang menuntut ilmu ke sana.

Demikian pula halnya dengan Giri di Jawa Timur terhadap daerah-daerah di

Indonesia bagian timur. Karya-karya sastera dan keagamaan dengan segera

(13)

10

mirip antara satu dengan yang lain. Kerajaan Islam itu telah merintis terwujudnya

idiom kultural yang sama, yaitu Islam. Hal ini menjadi pendorong terjadinya

interaksi budaya yang makin erat. 9

9

(14)

11 BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Sebelum datangnya para penjajah, baik itu Belanda ataupun Portugis, di

Indonesia telah berdiri bermacam-macam kerajaan seperti :

A. Di Pulau Sumatera, berdiri kerajaan:

1. Samudera Pasai

2. Aceh Darussalam

B. Di Pulau Jawa, berdiri kerajaan:

1. Demak

2. Pajang

3. Cirebon

C. Di Pulau Kalimantan, berdiri kerajaan :

1. Kerajaan Banjar

2. Kerajaan Kutai

Dalam bidang politik, agama pada mulanya dipergunakan untuk memperkuat

diri dalam menghadapi pihak-pihak atau kerajaan-kerajaan yang bukan Islam,

terutama yang mengancam kehidupan politik maupun ekonomi. Tapi pada

akhirnya masing-masing kerajaan Islam saling perang, seperti : antara kerajaan

(15)

12

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik ( Ed ). Sejarah Umat Islam Indonesia. Jakarta: MUI. 1992.

Anas Machmud. Turun Naiknya Peranan Kerajaan Aceh Darussalam di Pesisir Timur Pulau Sumatera. dalam A. Hasymy, Op. Cit.

Djajadiningrat, Hoesein. Tinjauan Kritis tentang Sejarah Banten. Jakarta: Penerbit Djambatan. 1983.

H.J. de Graaf. “Islam di Asia Tenggara sampai Abad ke-18” dalam Azyumardi Azra (Ed), Persepektif Islam di Asia Tenggara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1989.

Ibrahim, Muhammad dan Rusdi Sufi. Proses Islamisasi dan Munculnya Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh”, dalam A. Hasymy (Ed), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia. Aceh: PT Almaarif. 1989. Taufik

Tjandrasasmita, Uka (Ed). Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: PN Balai Pustaka. 1984.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan posisi yang sangat strategis ini, Kerajaan Samudera Pasai berkembang menjadi Kerajaan Islam yang cukup kuat pada masa itu.. 2.2 Sumber dan

Kerajaan Islam Tamiang dapat digambarkan sebagai institusi politik Islam yang berdiri pada abad ke 14, diawali oleh dua hal : pertama, Samudera Pasai mengirim

Masa kerajaan Samudera Pasai merupakan periode dimana hukum islam diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan yang kemudian berlangsung lebih dari 2 abad yangn diawali oleh

Nuwas terbunuh dalam kerusuhan rakyat. Dan raja terakhirnya adalah Zu Jadn. kerajaan Himyar juga merupakan lanjutan kerajaan Saba yang beribukota di Dafar. Lokasi kerajaan

Aceh merupakan daerah yang pertama mendapat pengaruh Islam. Kerajaan Islam yang pertama berdiri di Aceh, yaitu Kerajaan Samudra Pasai. Berita adanya Kerajaan Islam di

Banyak pendapat yang menyatakan bahwa Kerajaan Islam pertama di Indonesia Banyak pendapat yang menyatakan bahwa Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah Samudra

Kerajaan Islam Samudera Pasai dalam sejarah tercatat sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara yang menjadi cikal bakal pusat pengembangan dan penyebaran agama Islam di kawasan

JAWABAN : C Pembahasan : Banyak pendapat yang menyatakan bahwa Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah Samudra Pasai, namun dengan adanya bukti baru ditemukannya naskah-naskah tua