Konsep Pendidikan Esensialisme dalam Pandangan Filsafat Pendidikan Islam
Written By Warta Madani on Selasa, 12 Maret 2013 | 10.01
PENDAHULUAN
Fase awal dimulainya pengetahuan adalah pengenalan indrawi yang mencatat semua perkara menurut urut-urutannya datang pada indera dengan bentuknya, warnanya, besarnya, letaknya dan sebagainya. Akan tetapi kita segera kemudian mengetahui bahwa tiap-tiap perkara mempunyai esensinya (mahiyyah) yang tetap, meskipun sifat-sifat yang indrawi berubah-ubah dan keadaannya pun berbeda-beda, sedang fungsi esensi sesuatu ialah memegangi ciri-ciri khasnya yang pokok ketika terjadi perobahan keadaan.1[1]
Setiap kemajuan yang dikembangkan dalam rangka mengejar keterpurukan, seringkali dapat mengubah tingkat pemikiran hingga berwujud pada perkembangan yang akan dituju dan menjadi tujuan akhir. Dunia pendidikan, misalkan, telah banyak menghasilkan bentuk, macam, dan fungsi serta wujud dari pokok pondasi dasar yang mendasari (ranah filosofis), karena pendidikan ditempatkan pada objek kajian.
Esensialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda. Menurut para esensialis, dalam dunia pendidikan fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menimbulkan pandangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu. Sehingga menyebabkan pendidikan kehilangan arah. Dengan demikian pendidikan harus bersendikan pada nilai-nilai yang dapat mendatangkan stabilitas yaitu nilai yang memiliki tata yang jelas dan telah teruji oleh waktu. Prinsip esensialisme menghendaki agar landasan pendidikan adalah nilai-nilai yang esensial dan bersifat menuntun.2[2]
Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya bersumber pada Al-Qur'an dan al-Hadistsejak awal telah menancapkan revolusi di bidang pendidikan. Langkah yang ditempuh Al-Qur'an ini ternyata amat strategis dalam upaya
1[1] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1990, Cet. IV, hlm. 13-14.
mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini diakui jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan serta ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya.3[3]
Dalam makalah ini, akan dibahas tentang konsep pendidikan esensialisme dalam pandangan filsafat pendidikan Islam. Dalam hal ini, penting bagi penulis untuk membatasi wilayah mana yang akan bisa dijadikan sumbu positif dan mana yang menjadi sumbu negatif dalam perspektif ini, yakni filsafat pendidikan Islam –yang terangkum dalam ontologi, epistemologi, dan aksiologi– dalam pelaksanaan sistem pendidikan Islam (tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib).
I. RUMUSAN MASALAH
A. Pengertian pendidikan esensialisme.
B. Bagaimana konsep pendidikan esensialisme dalam pandangan filsafat
pendidikan Islam?
PEMBAHASAN
A. Konsep Pendidikan Esensialisme
Esensialisme merupakan aliran pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
Dengan demikian, Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme, karena itu timbul pada zaman itu, esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman.4[4]
Realisme modern, yang menjadi salah satu eksponen esensialisme, titik berat tinjauannya adalah mengenai alam dan dunia fisik, sedangkan idealisme modern sebagai eksponen yang lain, pandangan-pandangannya bersifat spiritual. John Butler mengutarakan ciri dari keduanya yaitu, alam adalah yang pertama-tama memiliki kenyataan pada diri sendiri, dan dijadikan pangkal berfilsafat.
Penguatan kualitas esensialisme semakin terlihat dengan adanya dukungan dari pandangan aliran yang berkualitas pula, karena esensialisme mendapat dukungan dari kualitas-kualitas dari pengalaman yang terletak pada dunia fisik dari aliran idealisme dan realisme. Di sana terdapat sesuatu yang menghasilkan penginderaan dan persepsi-persepsi yang tidak semata-mata bersifat mental. Dengan demikian di sini jiwa dapat diumpamakan sebagai cermin yang menerima gambaran-gambaran yang berasal dari dunia fisik, maka anggapan mengenai adanya kenyataan itu tidak dapat hanya sebagai hasil tinjauan yang menyebelah, berarti bukan hanya dari subyek atau obyek semata-mata, melainkan pertemuan keduanya.
Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.5[5]
4[4] Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan Manusia, Filsafat dan Pendidikan, Jakarta: Arruz Media, 2010, Cet. III, hlm. 99-100.
Idealisme modern mempunyai pandangan bahwa realita adalah sama dengan substansi gagasan-gagasan (ide-ide). Dibalik dunia fenomenal ini ada jiwa yang tidak terbatas yaitu Tuhan, yang merupakan pencipta adanya kosmos. Manusia sebagai makhluk yang berpikir berada dalam lingkungan kekuasaan Tuhan. Menurut pandangan ini bahwa idealisme modern merupakan suatu ide-ide atau gagasan-gagasan manusia sebagai makhluk yang berpikir, dan semua ide yang dihasilkan diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit, serta segala isinya. Dengan menguji dan menyelidiki semua ide serta gagasannya maka manusia akan mencapai suatu kebenaran yang berdasarkan kepada sumber yang ada pada Allah SWT.
Aliran esensialisme, dengan bercokol dari filsafat-filsafat sebelumnya, dapat memenuhi nilai-nilai yang berasal dari kebudayaan dan falsafat yang korelatif sejak empat abad ke belakang, sejak zaman Renaisance sebagai pangkal timbulnya pandangan esensialisme awal. Sedangkan puncak dari gagasan ini adalah pada pertengahan abad ke-19,6[6] dengan munculnya tokoh-tokoh utama yang berperan menyebarkan aliran esensialisme.
1. Tokoh-Tokoh Esensialisme
Tokoh utama esensialisme pada permulaan awal munculnya adalah Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770–1831). Georg Wilhelm Friedrich Hegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan, yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak, maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak.
George Santayana, dengan memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu
tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter atau nilai-nilai, namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih, melaksanakan).7[7]
Pada perkembangan selanjutnya, banyak tokoh-tokoh yang muncul dan menyebarluaskan esensialisme, diantaranya adalah:
a. Desiderius Erasmus, humanis Belanda yang hidup pada akhir abad 15 dan
permulaan abad 16, yang merupakan tokoh pertama yang menolak pandangan hidup yang berpijak pada dunia lain. Erasmus berusaha agar kurikulum sekolah bersifat humanistis dan bersifat internasional, sehingga bisa mencakup lapisan menengah dan kaum aristokrat.
b. Johan Amos Comenius (1592-1670), adalah seorang yang memiliki
pandangan realis dan dogmatis. Comenius berpendapat bahwa pendidikan mempunyai peranan membentuk anak sesuai dengan kehendak Tuhan, karena pada hakikatnya dunia adalah dinamis dan bertujuan.
c. John Locke (1632-1704), sebagai pemikir dunia berpendapat bahwa
pendidikan hendaknya selalu dekat dengan situasi dan kondisi. Locke mempunyai sekolah kerja untuk anak-anak miskin.
d. Johann Henrich Pestalozzi (1746-1827), sebagai seorang tokoh yang
berpandangan naturalis Pestalozzi mempunyai kepercayaan bahwa sifat-sifat alam itu tercermin pada manusia, sehingga pada diri manusia terdapat kemampuan-kemampuan wajarnya. Selain itu ia mempunyai keyakinan bahwa manusia juga mempunyai transendental langsung dengan Tuhan. e. Johann Friederich Frobel (1782-1852), sebagai tokoh yang berpandangan
kosmis-sintesis dengan keyakinan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang merupakan bagian dari alam ini, sehingga manusia tunduk dan mengikuti ketentuan-ketentuan hukum alam. Terhadap pendidikan, Frobel memandang anak sebagai makhluk yang berprestasi kreatif, yang dalam tingkah lakunya akan nampak adanya kualitas metafisis. Karenanya tugas
pendidikan adalah memimpin anak didik ke arah kesadaran diri sendiri yang murni, selaras dengan fitrah kejadiannya.
f. Johann Friederich Herbert (1776-1841), sebagai salah seorang murid
Immanuel Kant yang berpandangan kritis, Herbert berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebajikan dari yang mutlak dalam arti penyesuaian dengan hukum-hukum kesusilaan dan inilah yang disebut proses pencapaian tujuan pendidikan oleh Herbert sebagai pengajaran yang mendidik.
g. William T. Harris (1835-1909), tokoh dari Amerika yang pandangannya
dipengaruhi oleh Hegel dengan berusaha menerapkan idealisme obyektif pada pendidikan umum. Tugas pendidikan baginya adalah mengizinkan terbukanya realita berdasarkan susunan yang pasti, berdasarkan kesatuan yang memelihara nilai-nilai yang telah turun temurun dan menjadi penuntun penyesuaian diri kepada masyarakat.8[8]
2. Beberapa Pandangan Esensialisme dalam Bidang Pendidikan
Pandangan esensialisme dan penerapannya di bidang pendidikan antara lain:
a. Mengenai Belajar
Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Menurut idealisme, bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Pandangan Immanuel Kant, bahwa segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera memerlukan unsur apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu.
Bila orang berhadapan dengan benda-benda, tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunyai bentuk, ruang dan ikatan waktu. Bentuk,
ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. Jadi, apriori yang terarah bukanlah budi kepada benda, lelapi benda-benda itu yang terarah kepada budi. Budi membentuk, mengatur dalam ruang dan waktu. Dengan mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri.
Seorang filosuf dan ahli sosiologi yang bernama Roose L. Finney menerangkan tentang hakikat sosial dari hidup mental. Dikatakan bahwa mental adalah keadaan rohani yang pasif, yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang telah tertentu yang diatur oleh alam. Berarti pula bahwa pendidikan itu adalah sosial. Jadi belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilai-nilai sosial angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan di teruskan kepada angkatan berikutnya.
Dengan demikian pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas. Pertama, determinisme mutlak, menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya, jadi harus ada, yang bersama-sama membentuk dunia ini. Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis. Kedua, determinisme terbatas, memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar. Bahwa meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka, namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan.9[9]
b. Mengenai Kurikulum
Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Herman Harrel Horne dalam bukunya mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan alas fundamen tunggal, yaitu watak manusia yang ideal dan
ciri-ciri masyarakat yang ideal. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang, asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah ditentukan.
Bogoslousky, mengutarakan di samping menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan yang lain, kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian:
1) Universum. Pengetahuan merupakan latar belakang adanya kekuatan
segala manifestasi hidup manusia. Di antaranya adalah adanya kekuatan-kekuatan alam, asal usul tata surya dan lain-Iainnya. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas.
2) Sivilisasi. Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat.
Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan tcrhadap lingkungannya, mengejar kebutuhan, dan hidup aman dan sejahtera.
3) Kebudayaan. Kebudayaan merupakan karya manusia yang mencakup di
antaranya filsafat, kesenian, kesusasteraan, agama, penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan.
4) Kepribadian. Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil
yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal. Dalam kurikulum hendaklah diusahakan agar faktor-faktor fisik, fisiologi, emosional dan ientelektual sebagai keseluruhan, dapat berkembang harmonis dan organis, sesuai dengan kemanusiaan ideal.
Realisme mengumpamakan kurikulum sebagai balok-balok yang disusun dengan teratur satu sama lain yaitu disusun dari paling sederhana sampai kepada yang paling kompleks. Susunan ini dapat diutarakan ibarat sebagai susunan dari alam, yang sederhana merupakan fundamen atau dasar dari susunannya yang paling kompleks. Jadi bila kurikulum disusun atas dasar pikiran yang demikian akan bersifat harmonis.10[10]
B. Konsep Pendidikan Esensialisme dalam Pandangan Filsafat
Pendidikan Islam
Esensialisme dalam permulaannya, telah meletakkan ajarannya dalam hal-hal berikut: (a) Berkaitan dengan hal-hal esensial atau mendasar yang seharusnya manusia tahu dan menyadari sepenuhnya tentang dunia di mana mereka tinggal dan juga bagi kelangsungan hidupnya. (b) Menekankan data fakta dengan kurikulum yang tampak bercorak vocational. (c) Konsentrasi studi pada materi-materi dasar tradisional seperti: membaca, menulis, sastra, bahasa asing, matematika, sejarah, sains, seni dan musik. (d) Pola orientasinya bergerak dari skill dasar menuju skill yang bersifat semakin kompleks. (e) Perhatian pada pendidikan yang bersifat menarik dan efisien. (f) Yakin pada nilai pengetahuan untuk kepentingan pengetahuan itu sendiri. (g) Disiplin mental diperlukan untuk mengkaji informasi mendasar tentang dunia yang didiami serta tertarik progressivism.11[11]
Dasar dan tujuan filsafat pendidikan Islam pada hakikatnya identik dengan dasar tujuan ajaran Islam itu sendiri, keduanya berasal dari sumber yang sama, Al-Qur'an dan Hadits Rasulullah.12[12] Menurut Al-Syaibani, filsafat pendidikan Islam sebagaimana filsafat pendidikan umum, merupakan pedoman bagi perancang dan orang-orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran Islam. Filsafat pendidikan Islam pada hakikatnya merupakan landasan dasar bagi penyusunan suatu sistem pendidikan Islam. Pemikiran-pemikiran filsafat pendidikan Islam menjadi pola dasar bagi para ahli pendidikan Islam mengenai bagaimana
10[10]Ibid., hlm. 109-110.
11[11] http://www.infogue.com/viewstory/2008/05/29/esensialisme/?
url=http://durrah-uin-bi-2b.blogspot.com/2008/05/esensialisme.html
sistem pendidikan Islam yang dikehendaki dan sesuai dengan konsep ajaran Islam yang berhubungan dengan pendidikan.13[13]
Dalam kaitannya dengan pandangan filsafat pendidikan Islam pada konsep pendidikan esensialisme ini, terdapat beberapa pandangan yang perlu mendapatkan perhatian serius, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan dan alat ukur pada pengembangan ilmu pendidikan Islam itu sendiri, pandangan yang dimaksudkan adalah:
1. Pandangan secara Ontologi
Ontologi esensialisme adalah suatu konsep bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela, yang mengatur isinya dengan tiada ada pula. Pendapat ini berarti bahwa bagaimana bentuk, sifat, kehendak dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata alam yang ada.
Dalam pandangan ini, filsafat pendidikan Islam memberikan pandangan bahwa prinsip yang mendasari dalam pendidikan adalah konsep mengenai sang pencipta (Khalik), ciptaan-Nya (Makhluk), hubungan antara ciptaan-Nya dan pencipta serta hubungan antara sesama ciptaan dan utusan yang menyampaikan risalah (Rasul).
Dari pandangan ini juga, filsafat pendidikan Islam memiliki titik tolak pada konsep the creature of God, yaitu manusia dan alam. Sebagai pencipta, maka Allah yang telah mengatur di alam ciptaan-Nya. Maka lebih luas jauh dalam pandangan ini, filsafat pendidikan Islam telah menguasai seluruh aspek pendidikan, yakni Tuhan (Allah) sebagai pencipta, manusia (makhluk) dan ciptaan lain, penghubung (Rasul) yang menghubungkan khalik dan makhluk-Nya.14[14]
2. Pandangan secara Epistemologi
Epistemologi esensialisme adalah Teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan, inilah jalan untuk mengerti. Sebab jika manusia mampu menyadari realita sebagai mikrokosmos dan makrokosmos, maka manusia pasti mengetahui dalam tingkat atau kualitas apa rasionya mampu
13[13] Jalaluddin dan Abdullah Idi, op.cit., hlm. 38.
memikirkan kesemestaannya. Berdasarkan kualitas inilah dia memperoduksi secara tepat pengetahuannya dalam benda-benda, ilmu alam, biologi, sosial, dan agama.
Pada pandangan ini, filsafat pendidikan Islam lebih memberikan lingkup yang semakin luas, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an surat as-Syura ayat 52;
y7Ï9ºx‹x.ur !$uZø‹ym÷rr& y7ø‹s9Î) %[nrâ‘ ô`ÏiB $tRÌøBr& 4 $tB |
MZä. “Í‘ô‰s? $tB Ü=»tGÅ3ø9$# Ÿwur ß`»yJƒM}$# `Å3»s9ur
çm»oYù=yèy_ #Y‘qçR“ωök¨X¾ÏmÎ/`tB âä!$t±®Sô`ÏB $tRÏŠ$t6Ïã
4y7¯RÎ)urü“ωöktJs94’n<Î):ÞºuŽÅÀ5OŠÉ)tGó¡•BÇÎËÈ
“Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
Ayat tersebut menjelaskan adanya relevansi sebagai dasar pendidikan agama mengingat bahwa diturunkannya Al-Qur'an adalah untuk memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus. Kemudian yang menjadi dasar pandangan tentang pengetahuan manusia memuat pemikiran bahwa pengetahuan adalah potensi yang dimiliki manusia, terbentuk berdasar kemampuan nalar, memiliki kadar dan tingkatan yang berbeda sesuai dengan obyek.15[15]
3. Pandangan secara Aksiologi
Dasar ontologi dan epistemologi sangat mempengaruhi pandangan aksiologi. Bagi aliran ini, nilai-nilai berasal, tergantung pada pandangan-pandangan idealisme dan realisme sebab esensialisme terbina oleh keduanya; idealisme melihat sikap, tingkah laku maupun ekspresi feeling manusia mempunyai hubungan dengan kualitas baik dan buruk. Sedang
realisme melihat sumber pengetahuan manusia terletak pada keteraturan lingkungan hidup. Sehingga nilai baik dan buruk didasarkan atas keturunan dan lingkungan.
Filsafat pendidikan Islam memiliki pandangan aksiologi dimana di antara prinsip-prinsip yang terpenting yang mengandung nilai praktis di bidang pendidikan adalah; keyakinan bahwa akhlak termasuk diantara makna yang terpenting dalam hidup ini. Akhlak tidak terbatas pada penyusunan hubungan antara manusia dengan yang lainnya tetapi lebih dari itu juga mengatur hubungan manusia dengan segala yang tercipta di dalam wujud
dan kehidupan bahkan mengatur hubungan antara hamba dengan Tuhan.16
[16]
Satu hal pokok yang menjadi inti dalam konsep adalah tujuan, tujuan
umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. Isi pendidikan esensialisme mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia. Kurikulum sekolah bagi esenisalisme semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan keagungan. Maka dalam sejarah perkembangannya, kurikulum esensialisme menerapkan berbagai pola idealisme, realisme dan sebagainya.17[17]
Dalam hal ini filsafat pendidikan Islam memiliki tujuan yang lebih kompleks dengan dual dimensi; dimensi pertama, untuk mencapai kesejahteraan hidup dan keselamatan di akhirat. Dimensi kedua, berhubungan dengan fitrah kejadian manusia, yaitu sebagai pengabdian kepada Allah Swt (ibadah).
KESIMPULAN
Pembahasan tentang konsep dasar pendidikan esensialisme dalam pandangan filsafat pendidikan Islam di atas, telah dapat membuka wawasan penyusun, sehingga dapat memberikan kesimpulan bahwa:
16[16]Ibid., hlm. 125.
Konsep dasar dalam pendidikan esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. Isi pendidikan esensialisme mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia. Kurikulum sekolah bagi esenisalisme semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan keagungan. Maka dalam sejarah perkembangannya, kurikulum esensialisme menerapkan berbagai pola idealisme, realisme dan sebagainya.
Setiap konsep filosofis tentu memiliki dasar kajian dalam wilayah ontologi, epistemologi dan aksiologi. Demikian pula pemikiran filsafat pendidikan Islam yang diwariskan para filosof muslim sangat kaya dengan bahan-bahan yang dijadikan rujukan guna membangun filsafat pendidikan Islam ke depan. Pandangan filsafat pendidikan Islam terhadap konsep pendidikan esensialisme memiliki perbedaan, antara kain dalam konsep Tuhan, manusia sebagai makhluk, dan alam lingkungan. Dalam pandangan filsafat pendidikan Islam semuanya telah terangkum dalam konsep dasar Islam (Al-Qur'an dan Hadits) serta pemikiran para ahli dan tokoh ulama Islam.
Rumusan, ide dan gagasan mengenai kependidikan yang dari luar dapat saja diterima oleh Islam apabila mengandung persamaan dalam hal prinsip, atau paling kurang tidak bertentangan, maka tugas kita selanjutnya adalah melanjutkan penggalian secara intensif terhadap apa yang telah dilakukan oleh para ahli, karena apa yang dirumuskan para ahli tidak lebih sebagai bahan perbandingan. Karena itu, upaya penggalian masalah kependidikan ini tidak boleh terhenti.
PENUTUP
itu, saran dan kritik konstruktif dari bapak dosen dan saudara sekalian kami terima sebagai
KASUS dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang guru yang juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Sekolah Menengah Atas Negeri di Jakarta Timur berinisial T (46) terhadap siswinya sendiri berinisial MA (17) beberapa waktu lalu, berkembang. Korban bercerita, Pelecehan seksual (oral seks) ini terjadi berkali-kali pelaku pertama kali memaksanya melakukan oral seks seusai kegiatan studi tur ke Bali. Saat korban berada di rumah, menelepon untuk menemuinya tidak jauh dari sekolah. Setelah bertemu, korban diajak jalan-jalan ke kawasan Ancol sekaligus menjadi tempat pertama kali pelaku memaksa korban untuk melakukan oral seks.
Setelah dari Ancol, korban diturunkan di Cempaka Putih dan memberikan uang Rp50.000,- untuk ongkos pulang ke rumah. Perlakuan bejat sang wakil Kepala Sekolah itu belum berakhir. Aksi pemaksaan kedua terjadi lagi di tempat yang sama. Sedangkan pelecehan ketiga terjadi di Sentul, Bogor, dan aksi pemaksaan keempat di rumah pelaku saat sedang kosong.
Menurut korban, pelaku selalu mengajak dirinya dengan alasan kegiatan sekolah, apalagi korban selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan sekolah. Pelaku juga sering mengancam tidak akan mengeluarkan nilai dan ijazah korban jika kasus tersebut bocor. Mendengarkan pengakuan korban, Arist Merdeka Sirait menegaskan akan melakukan pendampingan kepada korban. Pihaknya juga akan melakukan tindakan aksi sosial dengan menyebarkan foto-foto pelaku di setiap sekolah. (dikutip dari http://www. metrotvnews.com/metronews/read/2013/03/01/5/134819/Wakil-Kepala-Sekolah-Paksa-Murid-Melakukan-Oral-Seks)
Sekilas Tentang Pelecehan Seksual
Secara umum pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang tidak diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seks. Pelecehan seksual dapat terjadi di mana saja baik tempat umum seperti bis, pasar, sekolah, kantor, maupun di tempat pribadi seperti rumah.
Walaupun secara umum wanita sering mendapat sorotan sebagai korban pelecehan seksual, namun pelecehan seksual dapat menimpa siapa saja. Korban pelecehan seksual bisa jadi adalah laki-laki ataupun perempuan. Korban bisa jadi adalah lawan jenis dari pelaku pelecehan ataupun berjenis kelamin yang sama. Pelaku pelecehan seksual bisa siapa saja terlepas dari jenis kelamin, umur, pendidikan, nilai-nilai budaya, nilai-nilai agama, warga negara, latar belakang, maupun status sosial. Korban dari perilaku pelecehan sosial dianjurkan untuk mencatat setiap insiden termasuk identitas pelaku, lokasi, waktu, tempat, saksi, dan perilaku yang dilakukan yang dianggap tidak menyenangkan. Serta melaporkannya ke pihak yang berwenang.
kecenderungan untuk menjadi korban lebih lanjut pada masa dewasa, dan dan cedera fisik untuk anak di antara masalah lainnya.
Mari kita lihat dengan kacamata lebih jernih. Logikanya, jika memang benar ini kasus pelecehan, maka kita bisa asumsikan bahwa kondisi Si Guru ini melakukan pemaksaan kepada siswa perempuannya. Akan tetapi bisa juga, barangkali Si Siswi ini juga sebenarnya memiliki perasaan ‘suka’ sebagaimana seorang perempuan dewasa kepada laki-laki dewasa. Dengan kata lain, mereka berdua suka sama suka. Mengingat, kepergian mereka dalam kondisi berdua sudah terjadi berkali-kali. Karena, jika merupakan pemaksaan, kalaupun Si Siswi tersebut menolak untuk diajak pergi, menilik usianya yang sudah baligh, tentu agak janggal jika ia tidak bisa menyatakan penolakan tersebut.
Berdasarkan hal ini, tentu kita bisa ricek, sebenarnya bagaimana kondisi pergaulan di antara keduanya? Apakah masih dalam batas wajar antara guru dengan murid, ataukah sudah dihiasi bunga-bunga asmara terlarang? Oleh karenanya, kasus ini tidak cukup melihat siapa yang salah. Tapi kasus ini bisa saja terjadi karena tidak
memperhatikan aspek ijtima’iy sekalipun itu antara guru dan muridnya. Padahal, seharusnya sekolah menjadi lembaga untuk membina diri murid. Di dalamnya dilakukan proses pendidikan dan pembelajaran. Ternyata tindak asusila juga tetap saja terjadi di sekolah, lembaga pendidik generasi itu. Guru seharusnya menjadi contoh yang baik, sedangkan murid seharusnya menjadi generasi yang baik dan berakhlak mulia.
Pengaturan interaksi pria dan wanita dalam kehidupan publik menurut syariah Islam sudah banyak dibahas seperti perintah menundukkan pandangan (ghadhdhul bashar), perintah atas wanita mengenakan jilbab dan kerudung, larangan atas wanita bepergian selama sehari semalam, kecuali disertai mahramnya, larangan khalwat antara pria dan wanita, kecuali wanita itu disertai mahramnya, larangan atas wanita keluar rumah, kecuali dengan seizin suaminya, perintah pemisahan (infishal) antara pria dan wanita, Interaksi pria wanita hendaknya merupakan interaksi umum, bukan interaksi khusus.
Pengaturan tersebut sebenarnya bukan persoalan yang mudah, pengaturan yang ada hendaknya dapat
mengakomodir dua faktor berikut ini; Pertama, bahwa potensi hasrat seksual pada pria dan wanita dapat bangkit jika keduanya berinteraksi, misalnya ketika bertemu di jalan, kantor, sekolah, pasar, dan lain-lain.
Kedua, bahwa pria dan wanita harus saling tolong menolong (ta'aawun) demi kemaslahatan masyarakat, misalnya di bidang perdagangan, pendidikan, pertanian, dan sebagainya.
Bagaimana mempertemukan dua faktor tersebut? Memang tidak mudah. Dengan maksud agar hasrat seksual tidak bangkit, bisa jadi muncul pandangan bahwa pria dan wanita harus dipisahkan secara total, tanpa peluang
berinteraksi sedikit pun. Namun jika demikian, tolong-menolong di antara keduanya terpaksa dikorbankan alias tidak terwujud. Sebaliknya, dengan maksud agar pria dan wanita dapat tolong menolong secara optimal, boleh jadi interaksi di antara keduanya dilonggarkan tanpa mengenal batasan. Tapi, dengan begitu akibatnya adalah bangkitnya hasrat seksual secara liar, seperti pelecehan seksual terhadap wanita, sehingga malah menghilangkan kehormatan (al-fadhilah) dan moralitas (akhlaq).
Hanya syari’ah Islam, yang dapat mengakomodasi dua realitas yang seakan paradoksal itu dengan pengaturan yang canggih dan berhasil. Di satu sisi syari’ah mencegah potensi bangkitnya hasrat seksual ketika pria dan wanita berinteraksi. Jadi pria dan wanita tidaklah dipisahkan secara total, melainkan dibolehkan berinteraksi dalam koridor yang dibenarkan syari’ah. Sementara di sisi lain, syari’ah menjaga dengan hati-hati agar tolong menolong antara pria dan wanita tetap berjalan demi kemaslahatan masyarakat. Wallahu A’lam Bis-Shawaab.*
Masalah Pendidikan Indonesia Butuh Solusi
Artikel berjudul Masalah Pendidikan Indonesia Butuh Solusi diterbitkan pada tanggal 20 Mei 2012 oleh Penebar Cinta dalam kategori Pendidikan dan telah dibaca 953 kali, serta memiliki 7 Comments
Masalah pendidikan yang melanda di negara kita memang cukup beragam dan lebih bersifat kelompok. Mulai dari permasalahan dalam pemberian sarana dan prasarana pendidikan, kualitas tenaga pendidikan hingga masalah anggaran pendidikan.
Tak jarang pula kita dengar kabar berita mengenai penyelewengan dana pendidikan oleh oknum tertentu, demi kepentingan pribadi mereka untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tentu hal itu sangat menciderai dunia pendidikan yang seharus mampu membentuk kemandirian.
Sebelum lebih jauh kita menelisik tentang masalah pendidikan yang sedang melanda negeri ini, alangkah baiknya sejenak kita melihat potret di atas yang benar-benar nyata terjadi di negeri ini. Dari sekian banyak kabar yang sudah terekspos mengenai kondisi sekolah atau bahkan tidak layak untuk menuntut ilmu lagi, tapi masih dipaksa beroperasi demi kemajuan generasi bangsa khususnya bidang pendidikan.
masalah pendidikan di indonesia Masalah Pendidikan Indonesia Butuh Solusi
Bukan Sekolah Alam, melainkan sebuah realita prasarana pendidikan yang kurang | internet
Mungkin ada dari sebagian kita yang berkata, “Ah biarlah, itu kan urusan yang di atas, kita jalani saja.” Ya kalau pasrah sih boleh-boleh saja, tapi setidaknya kita berusaha atau mencari tahu kenapa semua ini bisa terjadi kan.
Saya pun sempat menelisik kabar terkini dari beberapa situs berita mengenai masalah pendidikan yang ada di negeri ini. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah mengenai alokasi dana pendidikan yang diselewengkan oleh pemerintah kabupaten atau kota di Indonesia. Berikut ini saya kutipkan kilasan berita dari kompas online ;
“Rata-rata pemerintah kabupaten atau kota di Indonesia menganggarkan lebih dari 60 persen anggaran pendidikannya hanya untuk wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun, bukan peningkatan mutu belajar,” kata Erman saat konferensi pers di kantor The Asia Foundation Jakarta, Rabu (16/5/2012).
The Asia Foundation telah melakukan wawancara terhadap 988 pelaku usaha di 20 kabupaten atau kota, dengan sekitar 50 responden per daerah. Survei dilakukan di Nangroe Aceh
Darussalam, Kalimantan Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Responden dipilih secara acak berdasarkan Sensus Ekonomi berdasarkan skala usaha (kecil, menengah, besar) dan sektor usaha (industri, perdagangan dan jasa). The Asia Foundation juga bekerjasama dengan Sekretariat Nasional Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran untuk melakukan studi serupa ini.
Nah lho, kalau dana anggaran pendidikan diselewengkan sekian persen dan melihat kondisi nyata dilapangan, tentu akan berakibat pada munculnya masalah pendidikan seperti di atas tadi.
Belum lagi kalau mereka yang harus mau tidak mau berkuliah atas kebijakan pendidikan yang telah dikeluarkan, kuliah itu tidak murah!
Salah satu bentuk jaminan itu ditunjukkan dengan pemberian tunjangan profesi pendidik (TPP) sejak tiga tahun lalu. Di mana, masing-masing guru berhak mendapat penghasilan tambahan sebesar satu kali gaji untuk guru Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan Rp 1,5 juta untuk guru berstatus non-PNS.
Akan tetapi, tunjangan yang sejatinya dapat digunakan untuk meningkatkan mutu seperti melanjutkan studi, dan pengayaan buku bacaan, atau untuk membantu menutupi biaya hidup tersebut penyalurannya seringkali terlambat. Jangankan untuk meningkatkan mutu, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari saja para guru masih banyak mengalami kesulitan. ***
Indonesia mengalami masalah pendidikan yang sangat komplek. Selain angka putus sekolah, pendidikan di Indonesia juga menghadapi berbagai masalah lain, mulai dari buruknya instruktur hingga kurangnya mutu pendidik, masalah utama pendidikan di Indonesia adalah kualitas pendidik yang masih rendah, kualitas kurikulum yang belum standar dan kualitas struktur yang memadai.
Dalam dunia pendidikan guru menduduki posisi tertinggi dalam hal penyampaian informasi dan pengembangan karakter mengingat guru melakukan interaksi langsung dengan peserta didik dalam pembelajaran di ruang kelas. Di sinilah kualitas pendidikan terbentuk dimana kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru ditentukan oleh kualitas guru yang bersangkutan.