Pemanfaatan Modal Sosial Sebagai Strategi Masyarakat dalam Mengatasi Dampak dan Upaya Menurunkan Tingkat Risiko Bencana:
Studi Kasus: Nagari Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman Provinsi Sumatera Barat
Oleh: Lany Verayanti Program Magister Sosiologi
Pascasarjana Universitas Andalas Padang
RINGKASAN
Pasca kejadian gempa bumi 30 September 2009, banyak lembaga bantuan kemanusiaan yang datang ke wilayah terdampak termasuk di antaranya Nagari Batu Kalang, Kecamatan Padang Sago, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Di samping menyalurkan bantuan kemanusiaan dalam bentuk logistik dan perlengkapan darurat lainnya secara langsung, banyak juga di antara Organisasi Non Pemerintah (ORNOP) ini berupaya melakukan program atau proyek Pengurangan Risiko Bencana dengan menggunakan pendekatan partisipatif. Namun pada praktiknya, tidak semua lembaga ini secara murni melakukan penilaian kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan kegiatan, pemantauan dan evaluasi kegiatan dengan penggunakan prinsip partisipatif seperti pendekatan berbasis komunitas yang ideal. Tidak hanya itu, seringkali bantuan yang diberikan justru menjadi salah satu faktor yang menurunkan rasa solidaritas dan modal sosial yang selama masa-masa darurat sebelum bantuan dari pihak luar datang terasa semakin kuat di antara warga masyarakat yang menjadi korban.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk dan cara-cara modal sosial digunakan oleh warga masyarakat, peran bantuan dari pihak luar terkait dengan modal sosial dan mendeskripsikan hubungan antara cara masyarakat mengatasi dampak bencana dengan struktur sosial masyarakat wilayah penelitian. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dengan konsep modal sosial Putnam dan teori masyarakat aktif Etzioni yang dipakai sebagai sentral analisis yang akan dirujuk pada pembahasan beberapa kasus yang ditemui pasca kejadian bencana gempa bumi 30 September 2009 yang menimpa Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan paradigma alternatif (paradigma teori kritis) dan pendekatan studi kasus.
Namun begitu ketika modal sosial warga yang berfungsi untuk saling memperkuat diri bersentuhan dengan kepentingan lain atau pihak luar (eksternal), ternyata justru berakibat pada melemahnya modal sosial.
Penggunaan Jaringan, Norma dan Rasa Saling Percaya (Trust) dalam Mengatasi Dampak Bencana
Seburuk apapun, dampak bencana harusnya bisa diatasi oleh warga karena sebetulnya korban tidaklah pasif, hanya duduk meratapi nasib dan menunggu bantuan datang untuk menyelamatkan mereka. Mereka mampu mencari jalan keluar dari segala kesulitan baik perseorangan maupun kolektif dalam menanggulangi kebutuhan-kebutuhan mereka melalui berbagai macam cara. Begitu pula dalam keadaan setelah bencana gempa bumi 30 September 2009 di Kabupaten Padang Pariaman, di mana jumlah korban baik jiwa, harta maupun psikologis tidaklah sedikit.
Seperti dikatakan Putnam bahwa ide yang menjadi inti teori modal sosial adalah jaringan sosial (Putnam, 2002: 6). Stok modal sosial ini mengarah pada memperkuat diri (self reinforcing) dan bersifat kumulatif (Putnam, 1993: 4). Modal sosial mengikat, menyatukan orang-orang yang memiliki kesamaan dalam hal-hal penting untuk menghadapi masalah dan mencari jalan keluar bersama salah satunya adalah kesamaan wilayah tempat tinggal.
Warga Batu Kalang hidup berkelompok baik dalam satu kesatuan genealogis tertentu seperti suku maupun dalam satu kelompok kecil yang terdiri dari dua atau lebih suku atau beberapa buah rumah yang berdekatan dan saling terhubung dalam ikatan sosial budaya dalam kehidupan sehari-hari. Kelompok ini menampakkan perannya yang besar dalam mengatasi dampak bencana dengan saling membantu untuk memperkecil tingkat risiko bencana yang lebih besar yang mungkin akan didapat jika persoalan di depan mata tidak dihadapi atau ditanggulangi bersama. Seperti yang akan disajikan berikut ini, warga menggunakan jaringan sosial, norma serta mengandalkan rasa percaya mereka terhadap orang-orang tertentu dalam memecahkan persoalan yang dihadapi sebagai dampak dari bencana.
Sepanjang sore hingga malam hari setelah gempa besar itu, masih terjadi beberapa kali gempa susulan dengan kekuatan dan intensitas guncangan yang makin lama makin menurun. Namun begitu, ketakutan dan kepanikan mereka hadapi bersama dengan berkumpul dalam suatu tempat tertentu dan berusaha saling melindungi dan saling menenangkan. Mereka berkumpul di rumah tetangga yang masih bisa ditempati, di dalam tenda-tenda darurat yang mereka buat dari terpal plastik yang biasanya digunakan untuk menjadi alas atau penutup komoditas pertanian yang dijemur setelah dipanen atau di laga-laga, surau atau rumah sanak keluarga yang masih layak ditempati. Berapapun jumlah atau apapun yang dimasak akan dinikmati bersama-sama.
Sejak hari ke 2 pasca kejadian gempa bumi warga saling membantu membangun hunian sementara di depan atau samping rumah warga. Kegiatan ini dilakukan oleh sekelompok warga yang tinggal berdekatan atau mengelompok dengan sistem julo-julo karajo atau julo-julo tanago. Sistem julo-julo ini hampir sama dengan arisan yang pelaksanaannya bergiliran dari satu rumah anggota ke rumah lainnya di waktu yang berlainan, namun pada julo-julo ini, yang diterima pemilik rumah bukanlah uang akan tetapi tenaga dari anggota lainnya. Satu hunian sementara untuk satu keluarga biasanya bisa mereka selesaikan bersama-sama dalam waktu satu hari. Bangunan ini pada umumnya didirikan berbentuk bangunan kamar dari seng atau triplek dari sisa bangunan yang masih bisa dipakai beratapkan terpal plastik atau hanya berupa tenda-tenda dari terpal plastik jika tidak ada sisa bahan bangunan yang bisa digunakan lagi.
lebih akrab dengan sebutan heler. Sementara untuk lauk pauk mereka hanya mengkonsumsi sayur yang ada di sekitar rumah, mie instant atau telur dari beberapa warung yang tersisa atau masakan hari raya yang masih bisa dikonsumsi.
Hal lain yang menggambarkan secara nyata bekerjanya norma sosial yang menjadi dasar jaringan sosial dan turut memperkuat modal sosial di Nagari Batu Kalang pasca gempa bumi 30 September 2009 adalah perbuatan saling tolong menolong, bahu membahu keluar dari kesulitan di antara para korban bencana itu sendiri. Meskipun mereka semua adalah korban bencana, menolong korban yang tertimpa reruntuhan meskipun rumah mereka juga roboh, adalah sebuah keharusan. Menyelenggarakan mayat meskipun mereka juga dalam keadaaan duka yang mendalam karena menjadi korban adalah kewajiban sesama muslim dan urang kampuang (orang kampung); mengajak keluarga lain yang tidak memiliki persediaan untuk menikmati bersama hasil olahan makanan keluarga yang masih menyimpan persediaan beras, lauk-pauk yang cukup; menyumbangkan beras kepada sanak keluarga dan orang kampung; memberi tumpangan kepada sanak keluarga dan/atau tetangganya yang rumahnya tidak lagi bisa ditempati oleh keluarga yang rumahnya masih bisa ditempati, dan lain sebagainya.
Kuatnya jaringan sosial di antara warga diperkuat oleh norma-norma yang ada dan hidup di dalam adat dan budaya warga masyarakat setempat. Semua hal ini sesuai dengan adat hidup orang Minangkabau yakni:
Adat hiduik tolong-manolong : Adat hidup tolong-menolong Adat mati janguak-manjanguak : Adat mati saling melayat Adat lai bari-mambari : Adat kaya beri-memberi Adat tidak baselang tenggang : Adat miskin saling membantu
Adat hiduik tolong-manolong mengisyaratkan bahwa orang Minang tidak boleh menganut paham individualistis yang hanya memikirkan diri sendiri, atau hanya mengurus kepentingan sindiri sertapeduli pada lingkungan. Yang lemah dan kesulitan harus dibantu, tetangga harus diperhatikan. Hidup dan kehidupan kekerabatan dan kekeluargaan lebih diutamakan dibandingkan dengan kedirian. Adat mati janguak-manjanguak menunjukkan bahwa kesedihan tetangga merupakan kesedihan kita juga. Sebagai tetangga, kenalan, karib kerabat, apalagi dunsanak, adalah kewajiban kita untuk meringankan beban batin keluarga yang ditinggalkan. Sedangkan adat lai bari-mambari, Adat tidak baselang tenggang bermakna mereka yang mendapat rezeki cukup berkewajiban untuk memberi bantuan kepada yang membutuhkan. Begitulah pula mereka yang dalam kesulitan ekonomi wajar sekali untuk mencari bantuan (M.S, 2011: 82-83).
Struktur Sosial Sebagai Tambatan Modal Sosial
Modal sosial tertambat pada struktur sosial. Modal sosial terdiri dari beberapa aspek struktur sosial dan mereka memfasilitasi tindakan tertentu dari aktor - baik individu maupun kelompok dalam struktur. Karena itu, struktur sosial turut memfasilitasi terbentuknya modal sosial. Sebaliknya, struktur sosial itu tidak dengan sendirinya menjadi tambatan modal sosial kalau tidak ada individu atau kelompok yang memanfaatkan atau memfungsikan struktur sosial itu untuk keperluan individu atau kelompok.
peranan yang sangat penting dalam mengatasi dampak bencana. Hubungan di anatar para aktor yang terdapat pada ketiga tataran struktur sosial.
Dalam kajian merantau, Naim (2013: 65) menggambarkan bahwa wilayah budaya minangkabau berpusat di Luhak nan Tigo yang terdiri dari Luhak Tanah Datar, Agam dan 50 Kota. Dari ketiga luhak ini kemudian berekspansi ke dataran rendah pantai barat (rantau pesisir) maupun ke timur (rantau timur). Selain luhak, ketiga wilayah asal minangkabau ini juga dikenal sengan sebutan darek. Wilayah Kabupaten Padang Pariaman adalah salah satu wilayah rantau. Wilayah Pariaman yang terletak di rantau pesisir yang di samping berfungsi sebagai pusat perdagangan, rantau pesisir juga berfungsi sebagai pusat-pusat kegiatan dakwah Islam (Naim, 2013: 76). Berbeda dengan masyarakat darek yang homogen, masyarakat Padang Pariaman adalah masyarakat heterogen. Karena persentuhan masyarakat pantai secara terus menerus dengan para pendatang asing menyebabkan mereka memiliki karakter yang berbeda dengan masyarakat darek. Mereka lebih bersifat inklusif terhadap perbedaan yang datang silih berganti (Suryadi, dalam Natsir 2011: 54). Beberapa bentuk dari sistem matrilinial yang berlaku di darek juga tidak dipatuhi di rantau ini seperti pemberian gelar Sidi, Bagindo atau Sutan yang merupakan gelar turunan dari Bapak, tradisi „jemputan‟. topografi yang tidak sesubur di daratan yang membuat masyarakatnya banyak menjadi pedagang yang cendrung materialistik membentuk watak penduduknya (Ka‟bati, 2009).
Makna dari kata sosial dalam modal sosial haruslah bersifat positif. Dia harus mampu mejadi alat perekat di antara warga masyarakat atau anggota sebuah kelompok untuk dapat menghasilkan solusi yang baik dari pemecahan masalah sosial yang dihadapi. Karena itu, peran dan status seseorang beserta nilai dan norma yang terkandung di dalam dalam hubungan-hubungan sosial di antara individu dalam masyarakat atau dengan kata lain hubungan-hubungan yang terjadi di dalam memenuhi status dan peran sangatlah penting dilihat dalam proses membangun kerekatan ini. Status seseorang sebagai orangtua, suami, istri, anak, pastilah memiliki peran tertentu dalam sebuah rumah tangga yang diikat oleh nilai dan norma dalam masyarakat, begitu pula halnya dengan status sebagai tetangga atau teman. Dalam mempertahankan sebuah hubungan, tiap individu senantiasa berusaha melakukan hal-hal yang baik, yang dapat menguntungkan dirinya dan orang lain sesuai dengan nilai dan norma dalam masyarakat. Hubungan ini terus dipertahankan agar suatu saat nanti ketika dia berada dalam sebuah kesulitan, orang lain yang diharapkannya dapat membantu keluar dari kesulitan memang betul-betul dapat berperan sesuai dengan harapannya itu.
Di dalam satu kelompok rumah warga di Minangkabau yang biasa disebut sebagai kampuang ketek biasanya terdiri dari orang-orang yang memiliki ikatan kekerabatan atau hubungan perkawinan. Dalam kehidupan sehari-hari warga saling berinteraksi dan berusaha membangun hubungan baik yang saling menguntungkan di antara mereka. Kejadian bencana gempa bumi yang telah menyebabkan kehilangan dan kerugian telah mendorong warga untuk bekerja bahu membahu keluar dari kesulitan yang mereka hadapi. Keluarga dalam masyarakat minangkabau dapat juga berarti keluarga inti dan keluarga luas. Dalam penanganan korban bencana, mengatasi kesulitan bahan makanan, pakaian, pengobatan, pembangunan hunian baik sementara maupun permanen menjadi tanggungjawab dan dilakukan bersama antara orangtua, anak, suami, istri, cucu, nenek, kakek, mamak, mamak rumah, mamak kapalo warih, anak pisang, bako, dan lain sebagainya.
terbangun di antara individu dalam sebuah kelompok atau komunitas tertentu membuat mereka yakin dapat saling mengandalkan dalam memecahkan persoalan bersama. Interaksi di antara anggota kelompok atau komunitas memungkinkan untuk saling mengenal satu sama lain dan karena itulah rasa saling percaya di antara mereka tumbuh. Hubungan dan rasa saling percaya ini diikat oleh norma bersama yang sangat mereka yakini bahwa setiap kesulitan, jika dihadapi bersama tidak saja akan meringankan beban orang yang ditolong, namun juga akan dapat menolong kita di masa depan. Terlebih lagi, mereka semua adalah korban gempa bumi yang sama-sama menderita. Penderitaan jika dihadapi bersama akan semakin terasa ringan.
Dalam masyarakat yang komunal seperti masyarakat Minangkabau, semua tugas menjadi tanggung jawab bersama. Gotong royong menjadi keharusan, saling membantu dan menunjang menjadi kewajiban. Yang berat sama dipikul dan yang ringan sama dijinjing (Amir, M.S, 2011: 122). Ini tergambar dalam pepatah Minangkabau yang berbunyi:
Nan barek samo dipikua : Yang berat sama dipikul Nan ringan samo dijinjiang : Yang ringan sama dijinjing Ka bukik samo mandaki : Ke bukit sama mendaki Ka lurah samo manurun : Ke lurah sama menurun Nan ado samo dimakan : Yang ada sama dimakan Nan indak samo dicari : Yang tidak sama dicari
Di sisi lain, norma juga memegang peranan yang sangat signifikan dalam memperkuat jaringan sosial warga. Norma berisi suatu keharusan bagi individu atau warga masyarakat dalam berperilaku, menjadi pedoman bagi individu apa yang harus dilakukan, bersikap dan menyesuaikan dengan aturan-aturan yang ada serta memiliki pengaruh yang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam masyarakat Minangkabau, norma sering disebut sebagai adat, seperti yang dinyatakan oleh Amir. M.S (2011: 189) bahwa adat adalah aturan hidup berkelompok (bermasyarakat) yang ditaati secara turun temurun dari masa ke masa.
Pepatah Nan buruak dibuang jo etongan, nan elok dipakai jo mufakat (Yang buruk dibuang dengan perhitungan, yang baik dipakai dengan mufakat) memperlihatkan kepada kita bahwa adat Minang mempunyai daya lentur yang luar biasa (Amir, M.S, 2011: 73) dan ini terlihat pada kasus Baharuddin. Kelenturan ini telah memperkuat rasa saling percaya semakin meningkatkan hubungan kekerabatan dan sosial serta rasa persaudaraan di antara para korban bencana yang saling memperkuat diri (self reinforcing).
Norma yang ada dalam masyarakat dengan tingkat ikatan dan keeratan hubungan antara satu individu dengan individu yang lain cukup kuat seperti pada wilayah penelitian ini menjadi jaringan kontrol yang dibutuhkan dalam mencapai tujuan atau mengatasi masalah bersama. Untuk mengontrol perilaku dalam hubungan di antara warga, seseorang haruslah memiliki pengetahuan dan komitmen untuk mencapai sebuah tujuan bersama agar mereka dapat memutuskan tindakan apa yang tepat diambil dalam mengatasi dampak bencana. Tanpa komitmen bersama yang diwujudkan dalam tindakan, tidak akan terjadi apa yang disebut Etzioni sebagai masyarakat aktif. Tanpa komitmen, warga hanya akan menjadi orang-orang yang pasif dan pasrah.
hubungan masyarakat yang seperti ini disebut Tӧnnies sebagai hubungan darah (relationship by blood) dan hubungan pertetanggaan (relationship by neighbourliness) dalam konsep gemeinschaft yang dia kemukakan.
Korban yang sadar betul akan keterbatasan kemampuan diri dan keluarganya dalam menghadapi dampak bencana mengambil keputusan untuk saling bantu dalam keadaan yang serba sulit. Diminta atau tidak, memiliki hubungan kekerabatan atau tidak, orang-orang yang tinggal dalam satu lingkungan teritorial tertentu bertindak meringankan beban orang atau keluarga yang dianggap paling tinggi memiliki kesulitan.
Kesadaran akan diri dan lingkungannya ditunjang oleh pengambilan keputusan yang diwujudkan dalam tindakan-tindakan yang dilandasi oleh nilai dan norma serta tujuan hidup bersama telah menjadikan warga korban bencana di Nagari Batu Kalang menjadi masyarakat yang aktif. Mereka mengambil tindakan-tindakan berdasarkan komitmen personal maupun kelompok agar dapat megontrol sendiri nasib diri sendiri. Adat babuhue sentak telah menjadi dasar bagi keputusan dan tindakan yang diambil oleh keluarga korban dan anggota sukunya yang lain sehingga penerapan norma adat tidak lagi terlalu ketat dan dapat menanggulangi kebutuhan korban bencana.
Unit sosial seperti organisasi yang ada di dalam masyarakat ditujukan salah satunya untuk mengatasi masalah sosial. Seperti sudah disinggung sebelumnya, bahwa bencana juga dipandang sebagai salah satu masalah sosial yang menyebabkan terganggunya unit-unit sosial di dalam masyarakat. Sesuai dengan tujuan dan fungsinya itulah, organisasi sosial yang ada dalam masyarakat diharapkan mampu mengatasi dampak dari kejadian bencana seperti memberikan pelayanan dan perlindungan kepada keluarga korban atau jaminan sosial tertentu sehingga mereka dapat terus melanjutkan hidupnya.
Namun kenyataan yang nampak di berbagai kejadian bencana, unit-unit atau organisasi sosial banyak yang tidak dapat menjalankan peran dan fungsinya. Ketika unit-unit sosial tidak lagi mampu memberikan perlindungan bagi anggota kelompok atau warganya, maka ancaman atau bahaya sekecil apapun dapat berubah menjadi bencana. Karena itu, berbagai upaya harus dilakukan secara bersama-sama dalam menyadari dan memahami ancaman atau bahaya yang dihadapi sehari-hari serta menemukan cara atau alternatif pemecahan masalah untuk menanggulanginya. Pengetahuan dan kesadaran satu orang, satu keluarga harus terus diperluas kepada seluruh warga agar menjadi kesadaran bersama sehingga dapat menimbulkan aksi-aksi nyata yang dapat melindungi mereka semua dari ancaman atau bahaya.
Pengalaman seorang ketua UEMSP dapat menjadi pembelajaran penting bagi kita. Sebagai pemimpin dengan cara berpikir berbeda dari kebanyakan orang dengan melihat bahwa korban juga adalah orang-orang yang berdaya dan mampu segera bangkit dari kesulitan ditunjang oleh kemampuannya persuasifnya mampu mempengaruhi keputusan anggota kelompok. Pandangannya terhadap keberdayaan korban bencana dan situasi serta kondisi riil telah membantunya dalam menemukan solusi untuk membantu anggota kelompok keluar dari kesulitan yang dihadapi. Dalam masa kepemimpinannya yang selalu mengutamakan hubungan baik dan komunikasi dengan anggota yang diikat oleh kesepakatan-kesepakatan yang dibangun bersama telah membuahkan tingkat kepercayaan di antara mereka yang cukup tinggi dan dengan demikian telah mampu meningkatkan modal sosial di antara anggota kelompok.
lainnya maupun dengan kelompok atau warga lain di luar nagari sangat membantunya dalam proses interaksi sehari-hari dengan orang lain. Perannya sebagai tokoh atau pemimpin informal kemudian nampak pada situasi darurat pasca bencana. Dengan pengalamannya dalam mengorganisir masyarakat dan luasnya hubungan dengan pihak luar ditunjang oleh sikap luwesnya dan pemikiran yang berorientasi pada pemecahan maslah bersama, dia kemudian mengambil peran sebagai pengelola posko Korongnya. Tidak hanya sekedar mengelola bantuan yang sampai di posko korong saja, dia juga mendorong anak-anaknya untuk dapat mencari alternatif pemecahan masalah kebutuhan untuk bertahan hidup dengan memanfaatkan posisi dan jejaring anak-anaknya dalam menggalang bantuan dari para perantau.
Peran institusional dalam menghadapi dampak bencana turut mempertegas kelekatan atau ketertambatan modal sosial dengan struktur sosial khususnya pada level mezo. Kebutuhan krusial para korban baik terkait dengan kesehatan fisik maupun mental jika tidak diintervensi oleh peran institusional seperti digambarkan di atas akan dapat berdampak sangat buruk yang bisa saja berupa kematian atau depresi. Pengetahuan dan keahlian yang dimiliki oleh orang-orang yang mewakili institusi ini, tanpa dibarengi dengan komitmen individu dari petugas yang diwujudkan dalam tindakan konkrit tidak akan menolong korban dan keluarganya untuk dapat bangkit dari keterpurukannya. Melalui peran kedua institusi ini warga korban bencana menjadi masyarakat aktif yang dapat menentukan sendiri nasib mereka serta lebih tenang dan bisa lebih fokus berpikir untuk mencari alternatif pemecahan solusi dari masalah lainnya yang mereka hadapi, misalnya masalah keterbatasan makanan, pakaian dan tempat berlindung.
Tipologi Modal Sosial dalam Menghadapi Dampak Bencana
Modal Sosial Menjembatani (Bridging) dan Modal Sosial Berwawasan ke luar (Out Ward Looking)
Hal ini nampak mana kala cara dan orientasi berpikir seorang pemimpin kelompok memandang bahwa semua orang dapat berperan dan memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam memecahkan masalah. Hal ini ditunjang oleh sikap hidup yang selalu membantu orang yang sedang menghadapi kesulitan, terbukti dapat menyumbang pada pemenuhan kebutuhan warga korban bencana. Seperti apa yang dikatakan Putnam bahwa:
“....sebuah komunitas yang hanya memiliki bonding social capital saja dan tidak memiliki bridging social capital berada dalam bahaya serius....”
Bahaya yang serius mungkin saja berupa kelaparan, penyakit dan kematian yang merupakan dampak ikutan setelah sebuah kejadian bencana. Ini mungkin saja terjadi pada kasus ini bila tidak ada orag-orang seperti mengambil peran dalam menjembatani kebutuhan ini. Bantuan yang berdatangan dari rantau didistribusikannya kepada sanak keluarga dan warga lainnya di Korong tersebut. Hasbullah (2006: 31) menyatakan:
bersama untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh
kelompok (pada situasi tertentu)... “
Sementara, banyak kasus lainnya di mana anak-anak korban yang pulang dari rantau masih banyak yang berpikir hanya untuk menyelamatkan keluarganya saja, tidak atau belum berpikir untuk turut membantu warga lain di kampung halamannya terutama bagi korban yang tidak memiliki sanak keluarga di rantau yang mampu atau berkesempatan pulang ke kampung untuk membantu mereka.
Modal Sosial Formal dan Informal
Meskipun semua adalah korban, namun tanggungjawab sebagai peminjam untuk mengembalikan dana pinjaman dan hak sebagai anggota untuk dapat mengakses pijaman selalu berusaha dijamin keberlangsungannya oleh para pengurus. Mengingat kondisi pasca bencana, pengurus dan anggota membangun kembali kesepakatan dari yang semula pinjaman hanya diperbolehkan untuk usaha menjadi sedikit lebih longgar, untuk mencukupi kebutuhan hidup dan membeli perlengkapan lainnya yang dibutuhkan. Dengan berpegang pada tujuan dan kesepakatan bersama, salah satu kelompok UEMSP di Nagari Batu Kalang ini telah terbukti mampu menjadi solusi dalam mengatasi kesulitan anggota.
Modal sosial informal seperti kelompok julo-julo, pengajian, majelis taklim, posko mandiri (meskipun didirikan sebagai bentuk kekecewaan) telah mampu menjadi jawaban atas kesulitan yang dihadapi para korban. Kebutuhan untuk bersama-sama melakukan sebuah upaya keluar dari kesulitan dengan prinsip saling menguntungkan dilakukan kelompok julo-julo dalam membangun hunian sementara maupun permanen. Sementara pemenuhan kebutuhan secara psikologis atau dalam bentuk ketenangan batin agar dapat segera bangkit dari keterpurukan dipenuhi oleh kelompok pengajian dan majelis taklim.
Modal Sosial Mengikat (Bonding) dan Modal Sosial Berorientasi ke Dalam (Inward Looking) ; Limitasi Modal Sosial
Tipologi modal sosial mengikat (bonding) ini biasanya bersifat eksklusif. Dia berada di antara, dilakukan dan digunakan oleh serta bermanfaat bagi individu anggota sebuah kelompok, organisasi atau komunitas tertentu. Mereka biasanya adalah orang-orang dengan kesamaan tertentu seperi suku, ras, agama, kepentingan, kesamaan wilayah tempat tinggal (teritorial) dan lain sebagainya. Karena itu, peran, hubungan, tanggungjawab dan perhatian lebih berorientasi ke dalam dibandingkan ke luar.
Modal sosial dengan tipe seperti ini nampak sekali pada hubungan kekerabatan dan pertetanggaan masih sangat kuat diikat oleh norma bersama-sama bahu membahu mengatasi kesulitan yang dihadapi. Meski semua orang adalah korban, namun norma “yang berat sama dipikul, yang ringan sama dijinjing” sudah sangat menginternalisasi dan mewarnai kehidupan masyarakat. Apa yang masih bisa dilakukan dalam membantu meringankan penderitaan orang lain harus dilakukan oleh orang-orang yang tinggal dalam komunitas tersebut.
Kondisi seperti inilah yang kemudian membuat modal sosial menjadi terbatas. Kekuatan modal sosial hanya terbatas pada satu lingkungan atau kelompok kecil saja dan pada keadaan tertentu dapat merugikan kelompok lain. Limitasi modal sosial pada kasus pendirian posko mandiri, julo-julo menghilang, upah buruh melambung dan tukang gempa serta kasus manipulasi data menunjukkan kepada kita bahwa modal sosial warga korban bencana menjadi melemah ketika bersentuhan dengan bantuan (sumberdaya) eksternal yang direncanakan dan dikelola dengan tidak mempertimbangkan sumberdaya internal atau energi sosial yang dimiliki warga korban bencana.
Bagaimanapun, masyarakat memiliki cara-cara sendiri yang mereka bangun untuk menghadapi kesulitan bersama secara internal berdasarkan nilai dan norma yang ada dan mengikat hubungan di antara mereka. Kesadaran diri akan situasi lingkungan, kemampuan diri dan diwujudkan dalam bentuk tindakan-tindakan yang bertujuan untuk dapat saling merigankan beban, saling bantu serta saling mengandalkan menjadikan warga korban bencana menjadi masyarakat aktif yang mampu menentukan sendiri nasib mereka dan dapat mengubah hukum sosial.
Itulah mengapa penting mempertimbangkan sumberdaya internal atau energi sosial yang telah ada dan berkembang di antara korban bencana harus menjadi pertimbangan penting bagi tindakan-tindakan yang akan diambil oleh pihak eksternal yang akan membantu mereka. Bukannya meringankan beban, interaksi bantuan dari pihak eksternal dengan modal sosial warga korban bencana malah justru dapat menurunkan modal sosial yang telah ada.
Di sisi lain, untuk dapat terus menjadi masyarakat aktif yang dapat menguasai dunia sosial, mampu mengendalikan diri sendiri dan dapat mengubah hukum sosial, masyarakat harus terus berupaya mengembangkan kesadaran diri terhadap kondisi lingkungan. Kesadaran dan pengetahuan untuk melakukan tindakan-tindakan yang bertujuan untuk kebaikan diri, keluarga dan kelompok kecil di mana mereka hidup akan menjadi kunci dari masyarakat aktif yang dapat membimbing dirinya sendiri (self guiding). Pemimpin dan institusi yang ada dapat memainkan peranan penting dalam mendorong masyarakat untuk bernegosiasi dalam mengambil keputusan yang menguntungkan semua pihak akan sangat membantu untuk tetap menjadi masyarakat aktif.
Kesimpulan
Modal sosial yang digunakan terdiri dari jaringan sosial, kepercayaan dan norma. Dalam dimensi jaringan sosial, kelompok kekerabatan dan ketetanggaan (teritorial) paling umum digunakan. Ini menunjukkan bahwa tipe hubungan gemeinschaft yang dikemukakan Tӧnnies menjadi dasar modal sosial warga. Jaringan dari kelompok kekerabatan di sini tidak hanya dari kekerabatan matrilineal, melainkan juga dengan kelompok kekerabatan dari pihak bapak (laki-laki). Jaringan sosial ini bekerja dan berkontribusi berdasarkan norma-norma adat dan agama tentang saling membantu, bukan berdasarkan pertukaran sosial. Rasa percaya terhadap kerabat yang dapat diandalkan untuk menjadi jembatan penghubung yang sangat penting terhadap aktor-aktor.
kerangka mencapai tujuan pemecahan masalah yang diahadapi bersama terbukti menjadi faktor yang penting dalam meningkatkan modal sosial.
Di samping itu, modal sosial formal dan informal juga ditemukan dalam wilayah penelitian. Bentuk modal sosial ini berkembang dan meningkat ketika penggunaannya ditunjang oleh faktor kepemimpinan yang memiliki hubungan atau jaringan sosial yang kuat dengan anggota atau warga lainnya, memiliki integritas tinggi dan terbukti dapat dipercaya sebagai orang yang dapat diandalkan dalam mencari jalan keluar dari kesulitan bersama. Selain itu, dia juga haruslah orang yang memiliki kemampuan negosiasi untuk mempengaruhi tindakan orang-orang yang berada di dekatnya agar sesuai dengan apa yang diinginkannya. Inilah yang kemudian menjadi faktor penting bagi munculnya masyarakat aktif.
Dalam penelitian ini juga ditemukan kenyataan bahwa modal sosial mengikat (bonding) dengan modal sosial berwawasan ke dalam (inward looking) selain berguna dalam mempererat kohesivitas dan rasa solidaritas kelompok juga sekaligus sebagai penghambat berkembang atau meningkatnya modal sosial warga korban bencana. Solidaritas dan kedekatan hubungan serta kesamaan wilayah tempat tinggal membuat orang-orang yang berada dalam satu kelompok tidak dapat mengembangkan solidaritasnya kepada anggota kelompok lainnya.
Limitasi ini berpengaruh pada keputusan seseorang untuk bekerjasama, rasa saling percaya saling bantu dan saling mengandalkan untuk keluar dari kesulitan yang sama-sama dihadapi. Akibatnya dalam kasus-kasus yang diungkapkan di dalam penelitian ini, modal sosial warga menjadi menurun ketika bersentuhan dengan bantuan eksternal yang dikelola dengan tidak mempertimbangkan sumberdaya internal (modal sosial) warga.
Dengan demikian kemampuan masyarakat aktif dalam menentukan sendiri nasib mereka dapat terganggu ketika bersentuhan dengan sumberdaya eksternal yang sulit dikontrol secara internal. Ketidakmampuan mengontrol di sini disebabkan oleh situasi dan kondisi yang dihadapi saat banyaknya bantuan datang ditengah-tengah kekurangan dan tingginya tingkat kebutuhan yang dirasakan warga korban bencana. Di sinilah letak pentingnya bantuan dari pihak luar untuk dapat menjembatani (bridging) kebutuhan warga korban bencana.
Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa modal sosial bekerja di dalam dan tertambat pada struktur sosial masyarakat baik dalam level mikro dan mezo. Pada level mikro, posisi dan peran seseorang dalam sebuah komunitas yang memiliki tingkat kohesivitas yang tinggi. Di sini hubungan yang terjalin diatur oleh norma dan dilandasi rasa saling percaya dan telah terbukti menjadi faktor yang sangat kuat dalam mendorong modal sosial. Institusi sosial (dalam kasus ini ditunjukkan oleh institusi kesehatan dan agama) yang dalam hal ini diwakili oleh individu seperti bidan, garin, labai, memiliki peranan yang sangat penting dalam menolong korban bencana. Sementara dalam tataran makro, peran pemimpin formal dan informal dengan cara berpikir serta integritas yang tidak dipertanyakan menjadi sangat signifikan. Ditunjang oleh kemampuan berkomunikasi dan negosiasi yang baik dalam menggalang dukungan dalam menentukan tindakan, tipe pemimpin seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat agar dapat bertindak dan menentukan arah nasib mereka sendiri ke depannya.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa poin penting yang penulis anggap penting untuk menjadi rekomendasi bagi para pihak adalah sebagai berikut:
sosial yang ada dalam masyarakat baik oleh pemerintah daerah setempat dan terutama oleh warga masyarakat itu sendiri.
2. Untuk dapat menemukan sumber kekuatan sosial warga korban bencana Pemerintah, dalam hal ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) perlu menyusun sebuah alat (tool) penilaian pasca bencana yang di dalamnya selain mengidentifikasi dampak kerusakan dan kerugian secara fisik, ekonomi dan psikologis, juga daftar kebutuhan bagi kelompok khusus serta upaya-upaya yang telah dilakukan warga dalam mengatasi dampak bencana sehingga bantuan yang diberikan kepada korban dapat lebih optimal.
3. Mengingat besarnya tingkat bahaya atau ancaman serta risiko bencana di wilayah Sumatera Barat, perlu dilakukan langkah-langkah yang sistematis dalam meningkatkan kesadaran, kewaspadaan dan kesiapsiagaan serta kemampuan teknis masyarakat untuk meminimalkan risiko dan mengelola dampak bencana. Sistematisasi di sini termasuk jaminan keberlanjutannya dengan memasukkannya dalam rencana pembangunan dan anggaran daerah.
4. Pendekatan cash for work dalam mengatasi persoalan atau dampak bencana harus diganti dengan yang lebih memberdayakan warga korban dan meminimalkan tingkat kecurangan dalam pelaksanaannya. Karena itu, menemukan dan mengenali dengan tepat apa yang menjadi kebutuhan dan sumberdaya lokal termasuk sistem dan struktur sosial yang ada menjadi sangat penting sehingga dapat ditemukan strategi yang tepat pula. Dalam hal ini peneliti mengusulkan kalau dalam profil nagari juga disertakan gambaran dan analisa mengenai hubungan antara bahaya atau ancaman serta risiko bencana – dalam hal ini tidak hanya alam - yang ada di wilayah itu dengan sumberdaya lokal yang ada dan memungkinkan untuk menjadi sarana untuk mengurangi risiko atau mengelola dampak bencana.
DAFTAR PUSTAKA A. Buku
Adnan, Nurlela, 2001, Kamus Bahasa Indonesia-Minangkabau, Balai Pustaka, Jakarta, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Adolf, Frank, The Interaction of Collective Actors, dalam McWilliams, Wilson Carey, The Active Society Revisited, 2006, Wilson Rowman & Littlefield publishers, Inc, USA.
Afrizal, 2008, Pengantar Metode Penelitian Kualitatif; Dari Pengertian Sampai Penulisan Laporan, Laboratorium Sosioligi FISIP Unand, Padang.
Affeltrnger et al., 2006. Living with Risk, “A Global Review of Disaster Reduction
Initiatives”. Buku terjemahan oleh MPBI (Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia), Jakarta.
dan Adaptasi Terminologi Edisi Bahasa Indonesia oleh Humanitarian Forum, Indonesia.
---, 2007, UU No. 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana , Pemerintah Republik Indonesia.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Padang Pariaman, Kecamatan Padang Sago dalam Angka, 2011.
Blackwood, Evelyn, 2000, Webs of Power: Women, Kin, and Community in a Sumatran Village, Rowman and Littlefield Publishers, USA.
Cuttler, M.D Howard., Dalai Lama, 2004, The Art of Happiness, PT SUN, Jakarta, diterjemahkan oleh Alex Tri Kantjono Widodo, Seni Hidup Bahagia; Buku petunjuk untuk hidup.
Denzin, Norman K., Yvonna S Lincoln, 2009, Handbook of Qualitative Research, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Giddens, Anthony, 2009, The consequences of modernity, Kreasi Wacana, Yogyakarta, diterjemahkan oleh Nurhadi, Konsekuensi-konsekuensi Modernitas.
Griffin, David Ray, Spiritually and Society: Post Modern Visions, terjemahan oleh Kanisius dalam Visi-visi Post Modern, Spiritualitas dan Masyarakat; Kanisius, Yosyakarta, 2005
Guba & Lincoln, Berbagai paradigma yang bersaing dalam penelitian kualitatif, dalam Denzin, Norman K., Yvonna S Lincoln, Handbook of Qualitative Research, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Hasbullah, Jousairi, 2006, Social Capital; Menuju Keunggulan Budaya Manusia Indonesia, MR-United Press, Jakarta.
Hunter, James Davidson., Stephen C Ainlay, 1986, Making Sense of Modern Times; Peter L Berger and the Vision of Interpretive Sociology, Routledge & Kegan Paul Inc, New York.
Hannigan, John, 2006, Environmental Sociology, Second edition, Routledge, USA.
Indian Ocean Tsunami and International Cooperation, East Asian Strategic Review 2006, Chapter 2.
ISDR, 2004, Living with Risk ” A Hundred Positive Examples of How People are Making
The World Safer” United Nation Publication, Geneva, Switzerland, 2004.
Jones, PIP, 1998, Pengantar Teori-teori Sosial; Dari Teori Fungsionalisme hingga Post-Modernisme, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta.
Kasim, Muslim, 2010, Getar Episentrum di Ranah Minang; Penanganan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Gempabumi di Kabupaten Padang Pariaman, Indomedia, Bogor.
Lash, Szerszynski., Wynne, 2010, Risk, Environment & Modernity Towards a New Ecology, Sage Publication Ltd, California.
Lawang, Rober. M, 2005, Kapital Sosial Dalam Perspektif Sosiologik; Suatu Pengantar, Fisip UI Press, Depok.
Loomis Charles P., 2002, Community and Society, David & Charles, Brunel House, Forde Close, Newton Abbot, Devon TQ12 4PU, United Kingdom.
Mehta, Michael. D., Eric Ouellet, 1995, Environmental Sociology, Theory and Practice, Captus Press Inc, Canada.
McWilliams, Wilson Carey, 2006, The Active Society Revisited, Wilson Rowman & Littlefield publishers, Inc, USA.
M.S Amir, 2011, Adat Minangkabau; Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang, Citra Harta Prima, Jakarta.
Muhadjir, Noeng, 2002, Metode Penelitian Kualitatif, Rake Sarasin, Yogyakarta.
Naim, Mochtar, 2013, Merantau Pola Migrasi Suku Minangkabau, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Panuh, Helmy, 2012, Peranan Kerapatan Adat Nagari dalam Proses Pendaftaran Tanah Adat di Sumatera Barat, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta
Pemerintah Daerah Sumatera Barat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Rencana Penanggulangan Bencana Provinsi Sumatera Barat 2008-2012.
---, Rencana Aksi Rehabilitasi Da n Rekonstruksi Wilayah Pascabencana Gempa Bumi Di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2009-2011
Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, RPJMD Kab. Padang Pariaman, 2010-2015.
---Laporan Korban Gempa Kab. Pd. Pariaman 30 September 2009.
Pemerintah Nagari Batu Kalang, R PJMD dan RKP Nagari Batu Kalang 2011-2015.
---, Rekap Data Kerusakan Bangunan Rumah Nagari Batu Kalang 2009.
Pemerintah Republik Indonesia, Badan Penanggulangan Bencana Nasional, Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014.
Poloma, Margaret M, 2010, Sosiologi Kontemporer, diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Yasogama dari judul asli Contemporary Sociological Theory, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Pranoto, 2011, Lessons Learned Pembelajaran Rehab Rekon Pasca Gempa di Sumater a Barat 30 September 2009; Building Back Better.
Priyono, Herry, 2002, Anthony Giddens; Suatu Pengantar, Kepustakaan Populer Gramedia.
Putnam, Robert D, 2002, Democracies in Flux: The Evolution of Social Capital in Contemporary Society, OXFORD UNIVERSITY PRESS, Inc, New York.
Reason, Peter, 2009, Tiga Pendekatan dalam Penelitian Partisipatif dalam Denzin, Norman K & Lincoln Yvonna S, Handbook of Qualitative Research, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Redclift, Michael., Graham Woodgate, 2004, The International Handbook of Environmental Sociology, Second Edition, MPG Books Group, UK.
Ritzer, George, 2010, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Ritzer, George,. Barry Smart, 2011, Handbook Teori Sosial, Diadit Media, Jakarta.
Ritzer, George., Douglas.J Goodman, 2010, Teori Sosiologi Modern, Kencana Prenada Media Group, Jakarta.
Rodríguez, Quarantelli., Dynes, 2007, Ha ndbook of Disaster Research, Springer, USA.
Rojas, Fabio, 2006, The Sybernetic Institutionalist, dalam McWilliams, Wilson Carey, The Active Society Revisited, Wilson Rowman & Littlefield publishers, Inc, USA.
Smith, Anthony Oliver., Susanna M Hoffman, 1999, The Angry Earth; Disaster in Anthropological perspective, Routledge, New York.
---, 2001, Catasthrophe and Culture; The Anthropology of Disaster, School of Disaster Research Press, OXFORD.
Stake, Robert E, 2009, Studi Kasus dalam Denzin, Norman K & Lincoln Yvonna S, Handbook of Qualitative Research, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Stallings, Robert A, 1997, Sociological Theories and Disaster Studies, University of Delaware Disaster Research Center.
Suparjan dan Suyatno, 2003, Pengembangan Masyarakat; dari Pembangunan sampai Pemberdayaan, Aditya Media, Yogyakarta.
Wisner et. al., 2003, At Risk; Natural Hazards, Pepople’s vulnerability and Disasters, Second Edition, Routledge, New York.
B. Jurnal/Karya Ilmiah/Kertas Kerja/Laporan
Abdulah, Irwan, 2008, Konstruksi dan Reproduksi Sosial Atas Bencana Alam, Yogyakarta.
Anonim, 2010, Laporan Khusus Penanganan Bencana Gempa Bumi di Prov. Sumatera Barat Tanggal 27 Oktober.
---, 2007, Laporan Penilaian Kerusakan dan Kerugian akibat Bencana Gempabumi di Provinsi Sumatera Barat 6 Maret 2007, Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS).
---, 2004, Laporan Preliminary Dama ge and Loss Assessment, The December 26, 2004 Natural Disasters.
---, 2009, Ringkasan Eksekutif Rencana Aksi Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Wilayah Pascabencana Gempa Bumi Di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2009-2011, Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS).
---, 2007, West Sumatra and Jambi Natural Disasters: Damage, Loss and Preliminary Needs Assessment.
Coleman, James S, 1994, Foundations of Social Theory, Harvard University, USA.
---, 1988, Social Capital in the Creation of Human Capital, Supplement: Organizations and Institutions: Sociological and Economic Approaches to the Analysis of Social Structure, The American Journal of Sociology, Vol. 94.
Drabek Thomas E, 2006, Social Problems Perspectives, Disaster Research and Emergency Management: Intellectual Contexts, Theoretical Extensions, and Policy Implications.
Drabek, 2005, Sociology, Disasters and Emergency Management: History, Contributions, and Future Agenda, Department of Sociology and Criminology, University of Denver.
Dynes, Russel, 2006, Social Capital: Dealing with Community Emergencies, The Journal of The Naval Postgraduate School Center for Homeland Defense and Security, Volume II No. 2: July.
Fatimah dan Budhi, 2009, Kerentanan dan Dampak Bencana; Potret Gender Sumatera Barat, Desember.
Fischer Henry W, 2003, The Sociology of Disaster: Definitions,Research Questions, & Measurements Continuation of the Discussion in a Post-September 11 Environment, Sociology Department, Millersville University of Pennsylvania, USA.
Kreps, G. A, 1985, Disaster and the Social Order, Source: Sociological Theory, Vol. 3, No. 1.
---, 1994, Sociological Inquiry And Disaster Research, Department of Sociology, College of William and Mary, Williamsburg, Virginia.
Ka‟bati, 2009, Perempuan-perempuan Ordo Ulakan, Srinthil, Media Perempuan Multikultural, Edisi 17.
Maarif, Syamsul, 2010, Bencana dan Penanggulangannya; Tinjauan dari Aspek Sosiologis, Jurnal Dialog Penanggulangan Bencana.
Nakagawa, Yuko., Rajib Shaw, 2004, Social Capital: A Missing Link to Disaster Recovery, United Nation Center for Regional Development (UNCRD) dalam International Journal of Mass Emergencies and disasters, Vol. 22, No. 1, Maret.
Natsir, 2011, Peranan Surau Sebagai Lembaga Pendidikan Islam Tradisional Di Padang Pariaman Sumatera Barat (Surau Syaikh Burhanuddin), Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang.
Pretty, Jules., Hugh Ward, 2001, Social Capital and The Environment, World Development Vol. 29, No. 2, Elseiver Science Ltd, Great Britain.
Putnam, Robert D, 1995, Bowling Alone: America's Declining Social Capital, The Johns Hopkins University Press, Journal of Democracy 6:1. March 21.
---, 2004 , The Prosperous Community The American Prospect vol. 4 no. 13,
---, Social Capital: Measurement and Consequences, Kennedy School of Government, Harvard University.
---, 2004, Education, Diversity, Social Cohesion and “Social Capital” Note for Discussion, Meeting of OECD Education Ministers, Dublin.
---, 2007, Theory Award Lecture presented at the annual meeting of the American Sociological Association, New York City, New York, August.
Quarantelly, EL and Perry, 2005, What is a Disaster? New Answers to Old Questions, International Research Committee on Disasters, USA.
Rodrigues, Quarantelly and Dynes, 2007, Hand Book of Disaster Research, Springer, New York, USA.
C. Website
http://bundokanduang.wordpress.com/ (Diunduh pada tanggal 15 April 2013 pukul 08.36)
http://dictionary.reference.com/browse/trust (Dinduh pada tanggal 9 Juni 2013 pukul 14.27)
http://id.wikipedia.org/wiki/Bundo_Kanduang/ , (Diunduh pada tanggal 15 April 2013 pukul 07.58)
http://padangpariamankab.go.id/ , (Diunduh tanggal 01 Mei 2013 pukul 16.58)
http://www.socialcapitalresearch.com/, (Diunduh pada tanggal 19 Januari 2012 pukul: 0.54
http://www.imadiklus.com/, (Diunduh tanggal 7 November 2012 pukul 16.05)
http://www.infed.org/thinkers/putnam.htm, (Diunduh tanggal 12 Februari 2012 pukul 13.56)
http://www.scribd.com/, (Diunduh tanggal 6 November 2012 pukul 15.55)
http://www.surabaya.go.id/, (Diunduh pada tanggal 15 April 2013 pukul 09:14)
D. Surat Kabar