i LAPORAN
“ Analisis Faktor Risiko Penyebab Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 di Wilayah Puskesmas Rowosari, Kota Semarang ”
Disusun Oleh: Kelompok 1 Kelas D 2013
Ria Yuniati 25010113140242
Tabita Kartikawati 25010113130243
Stefanny Chillvia A. 25010113140244
Kusuma Dara Z. 25010113140245
Desi Putri Utami 25010113130246
Laksnita Kumara S. 25010113130247
Fitri Khoiriyah P. 25010113140248
Devi Eka Meirinda 25010113140249
Della Zulfa Rifda 25010113140250
Adha Triyanto 25010113140274
Bintar Wahyu I. 25010115183021
Tugas PBL dilakukan untuk memenuhi salah satu tugas MK Isu Terkini Penyakit Tidak Menular Semester V 3 sks
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS DIPONEGORO
ii HALAMAN PENGESAHAN
(Proposal Project Based Learning Isu Terkini Penyakit Tidak Menular)
1. Judul : Analisis Faktor Risiko Penyebab Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 di Wilayah Puskesmas Rowosari,
: Isu Terkini Penyakit Tidak Menular/ 3 sks 4. Lokasi Kegiatan : Puskesmas Rowosari, Kota Semarang 5. Waktu Kegiatan : September 2015 – November 2015
Sudah diperiksa isi materi keilmuan dan disetujui. Semarang, 5 Oktober 2015
Dosen Pembimbing/ Penguji PBL,
Lintang Dian Saraswati, SKM, M.Kes NIP. 198111042003122001
Menyetujui,
Penanggung Jawab Mata Kuliah Isu Terkini Penyakit Tidak Menular
iii 1.1 Latar Belakang ...1
1.2 Tujuan Penelitian ...3
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Diabetes Mellitus ...4
2.1.2 Riwayat Alamiah Diabetes Mellitus ...5
2.1.3 Level of Prevention Diabetes Mellitus ...6
2.1.4 Patogenesis Diabetes Mellitus...7
2.1.5 Faktor Risiko Diabetes Mellitus...10
2.1.6 Epidemiologi Diabetes Melilitus...11
2.1.7 Kebijakan Penanggulangan dan Penanganan Diabetes Mellitus ...12
2.2 Kerangka Teori...14
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Konsep ...15
3.2 Tempat dan Waktu 3.2.1 Tempat...15
3.2.2 Waktu ...15
3.3 Jenis dan Desain Studi ...16
3.4 Populasi dan Sampel 3.4.1 Populasi ...16
3.4.2 Sampel ...17
3.5 Variabel 3.5.1 Variabel bebas ...18
3.5.2 Variabel terikat ...18
iv
3.6 Sumber Data ...22
3.7 Instrumen...22
3.8 Pengelolaan Data dan Analisis ...24
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Gambaran Umum Lokasi ... 27
3.2 Hasil dan Pembahasan 3.2.1 Analisis Data Univariat ... 29
3.2.2 Analisis Data Bivariat ... 32
3.2.3 Gambaran Faktor-Faktor Risiko ... 36
BAB V PENUTUP 4.1 Kesimpulan ... 42
4.2 Saran ... 42
DAFTAR PUSTAKA ... 43
v DAFTAR TABEL
HALAMAN JUDUL ... Tabel 1. Waktu penelitian ... 16 Tabel 2. Definisi Operasional Variabel Bebas ... 21 Tabel 3. Definisi Operasional Variabel Terikat ... 22 Tabel 4. Distribusi Faktor Risiko Riwayat DM
pada Pasien Puskesmas Rowosari ... 29 Tabel 5. Distribusi Faktor Risiko Riwayat Hipertensi
pada Pasien Puskesmas Rowosari ... 29 Tabel 6. Distribusi Faktor Risiko Obesitas
pada Pasien Puskesmas Rowosari ... 30 Tabel 7. Distribusi Faktor Usia
pada Pasien Puskesmas Rowosari ... 31 Tabel 8. Data Kegiatan Aktifitas Fisik
pada Pasien Puskesmas Rowosari ... 31 Tabel 9. Analisis Hubungan antara Riwayat DM
dengan Kejadian DM Tipe 2 ... 32 Tabel 10. Analisis Hubungan antara Riwayat Hipertensi
dengan Kejadian DM Tipe 2 ... 33 Tabel 11. Analisis Hubungan antara Obesitas
dengan Kejadian DM Tipe 2 ... 34 Tabel 12. Analisis Hubungan antara Usia
dengan Kejadian DM Tipe 2 ... 34 Tabel 13. Analisis Hubungan antara Aktifitas Fisik
vi DAFTAR ISTILAH
DM : Diabetes Mellitus
HHNK : Hiperglikemik Hiperosmolar Non Ketosis
Hiperglikemia : Peningkatan kadar glukosa
IDDM : Insulin-Dependent Diabetes Mellitus
IFG : Impaired Fasting Glucose
IGF : Impaired Glucose Tolerance
JKN : Jaminan Kesehatan Nasional
TGT : Toleransi Glukosa Terganggu
NIDDM : Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diabetes Mellitus (DM) yang umum dikenal sebagai kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia (peningkatan kadar gula darah) yang terus-menerus dan bervariasi, terutama setelah makan. Diabetes mellitus merupakan keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membrane basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron (Suyono, 2005).
Jumlah penduduk dunia yang sakit diabetes mellitus cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini berkaitan dengan jumlah populasi meningkat, pola hidup, prevalensi obesitas meningkat dan kegiatan fisik kurang. Laporan dari WHO mengenai studi populasi DM di berbagai negara, jumlah penderita Diabetes Mellitus pada tahun 2000 di Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita diabetes mellitus dengan prevalensi 8,4 juta jiwa. Urutan diatasnya adalah India (31,7 juta jiwa), China (20,8 juta jiwa), dan Amerika Serikat (17,7 juta jiwa) (Darmono, 2007). Pada tahun 2010 jumlah penderita DM di Indonesia minimal menjadi 5 juta dan di dunia 239,9 juta penderita. Diperkirakan pada tahun 2030 prevalensi Diabetes Mellitus di Indonesia meningkat menjadi 21,3 juta. Angka kesakitan dan kematian akibat DM di Indonesia cenderung berfluktuasi setiap tahunnya sejalan dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang mengarah pada makanan siap saji dan sarat karbohidrat (Depkes RI, 2006).
2 Menurut data Riskesdas 2013 prevalensi Diabetes Mellitus di Jawa Tengah sebesar 1,6%. Sedangkan berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah 2014 terdapat 95.342 kasus Diabetes Mellitus. Dengan jumlah kasus tersebut, diabetes mellitus menempati peringkat kedua tertinggi jumlah kasus penyakit tidak menular di Provinsi Jawa Tengah. (Dinkes Provinsi Jawa Tengah, 2014)
Hasil dari data laporan puskesmas Kota Semarang pada tahun 2014 didapatkan jumlah kasus Diabetes Mellitus adalah sebanyak 16.474 kasus, terdiri atas 1.010 tergantung insulin dan 15.464 kasus diabetes mellitus non insulin/ DM tipe 2 (Profil Kesehatan Kota Semarang, 2014).
Berdasarkan data yang kami peroleh dari Puskesmas Rowosari, angka kesakitan karena penyakit diabetes terus meningkat setiap tahun (2009-2014). Pada tahun 2009, angka kesakitan Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin (Diabetes Mellitus tipe 2) sebanyak 448 kasus. Pada tahun 2010, angka kesakitan akibat Diabetes Mellitus tipe 2 meningkat menjadi 554 kasus, kemudian pada tahun 2011 semakin meningkat menjadi 746 kasus. Pada tahun 2012, angka kesakitan akibat Diabetes Mellitus tipe 2 sempat menurun menjadi 556 kasus, namun pada tahun 2013 kembali meningkat menjadi 612 kasus. Lalu pada tahun 2014 angka kesakitan akibat Diabetes Mellitus tipe 2 semakin meningkat menjadi 784 kasus.
Jumlah tersebut semakin membuktikan bahwa penyakit ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Data Departemen Kesehatan RI menyebutkan bahwa jumlah pasien rawat inap maupun rawat jalan di Rumah Sakit menempati urutan pertama dari seluruh penyakit endokrin adalah Diabetes Mellitus. Organisasi yang peduli terhadap permasalahan Diabetes, Diabetic Federation mengestimasi bahwa jumlah penderita Diabetes Mellitus di Indonesia
3 1.2 Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
Mengetahui faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian Diabetes Mellitus tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Rowosari Kota Semarang dan besarnya pengaruh faktor risiko tersebut.
b. Tujuan Khusus
1. Mengetahui besarnya risiko umur terhadap kejadian Diabetes Mellitus tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Rowosari Kota Semarang.
2. Mengetahui besarnya risiko keturunan terhadap kejadian Diabetes Mellitus tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Rowosari Kota Semarang.
3. Mengetahui besarnya risiko obesitas terhadap kejadian Diabetes Mellitus tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Rowosari Kota Semarang.
4. Mengetahui besarnya risiko hipertensi terhadap kejadian Diabetes Mellitus tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Rowosari Kota Semarang.
4 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus adalah sekelompok kelainan yang ditandai oleh peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia). (Baughman, 2000)
Kadar gula darah normal adalah 120 mg/dl. Diabetes mellitus akan menimbulkan komplikasi yang berakibat fatal seperti penyakit jantung, penyakit ginjal, kebutaan, amputasi, dan mudah mengalami aterosklerosis jika dibiarkan tidak terkendali. (Krisnatuti, 2014)
Pada penderita Diabetes Mellitus, terdapat penurunan dalam kemampuan tubuh untuk berespons terhadap insulin, atau penurunan atau tidak terdapatnya pembentukan insulin oleh pankreas. Kondisi ini mengarah pada hiperglikemia yang dapat menyebabkan terjadinya komplikasi metabolik akut seperti ketoasidosis diabetik dan Sindrom Hiperglikemik Hiperosmolar Non Ketosis (HHNK). (Baughman, 2000)
Diabetes mellitus sendiri memiliki 2 tipe, yaitu:
a. Diabetes Mellitus tipe 1: Insulin-Dependent Diabetes Mellitus (IDDM).
Pada diabetes mellitus tipe ini, sel-sel beta pankreas yang normalnya menghasilkan insulin dihancurkan oleh proses autoimun. Hal ini menyebabkan penderita memerlukan suntikan insulin untuk mengontrol kadar gula darah. (Baughman, 2000). Penderita jenis ini mengalami kerusakan sel-sel pada pulau langerhans dalam pankreas yang memproduksi insulin. (Krisnatuti, 2014)
b. Diabetes Mellitus tipe 2: Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM).
5 darah. Pada tahap ini hiperglikemia dapat diatasi, salah satunya dengan penggunaan obat antidiabetes yang dapat meningkatkan sensitivitas terhadap insulin atau mengurangi produksi glukosa dari hati. Diabetes tipe 2 ini lebih sering terjadi jika dibandingkan dengan diabetes tipe 1. (Krisnatuti, 2014)
2.1.2 Riwayat Alamiah Diabetes Mellitus
Terdapat 5 tahap Riwayat Alamiah Penyakit Diabetes Melitus: a. Tahap Prepatogenesis
Pada kondisi ini, individu belum merasakan gejala (simptom) dan belum dinyatakan diabetes. Tahap prepatogenesis dapat berpindah menjadi prediabetes dipengaruhi oleh faktor resiko masing-masing individu.
b. Tahap Prediabetes
Prediabetes adalah kondisi dimana kadar gula darah seseorang berada diantara kadar normal dan diabetes, lebih tinggi dari pada normal tetapi tidak cukup tinggi untuk dikatagorikan ke dalam diabetes tipe 2. Pada masa prediabetes ini belum terdapat abnormalitas dari metabolisme, tapi sudah membawa faktor genetik (carriers). Apabila tidak dikontrol dengan baik, kondisi prediabetes dapat meningkat menjadi diabetes tipe 2 dalam kurun waktu 5-10 tahun. Ada dua tipe kondisi prediabetes:
1. Impaired Fasting Glucose (IFG), yaitu keadaan dimana kadar glukosa darah puasa seseorang sekitar 100-125 mg/dl (kadar glukosa darah puasa normal: <100 mg/dl).
2. Impaired Glucose Tolerance (IGT) atau Toleransi Glukosa Terganggu (TGT), yaitu keadaan dimana kadar glukosa darah seseorang pada uji toleransi glukosa berada di atas normal tetapi tidak cukup tinggi untuk dikategorikan ke dalam kondisi diabetes.
6 c. Tahap Diabetes Kimiawi
Pasien masih bersifat asimptomatik (belum timbul gejala-gejala) namun sudah terdapat abnormalitas metabolisme pada pemeriksaan laboratoris.
d. Tahap Klinis
Fase dimana penderita sudah menunjukkan gejala-gejala dan tanda-tanda penyakit DM. Gejala-gejala diabetes melitus yaitu Trias DM (Poliuria, Polidipsia, Polifagia).
e. Tahap Akhir Penyakit Penyakit
Diabetes Melitus adalah penyakit kronis yang belum dapat disembuhkan. Penyakit ini hanya dapat dikontol dan diberi pengawasan khusus. Penyakit komplikasi yang muncul dari penyakit diabetes melitus dapat menimbulkan kecacatan atau kematian misalnya katarak, ganggrene, stroke, PJK, dll.
2.1.3 Level of Prevention Diabetes Mellitus
Upaya pencegahan terjadinya diabetes milletus terdiri atas tiga tahap sebagai berikut:
a. Pencegahan Primer
Pencegahan primer ialah mencegah orang yang normal dan pengidap prediabetes agar tidak menjadi pengidap diabetes. Banyak masyarakat yang tidak sadar bahwa dirinya mengidap prediabetes. Prediabetes dapat dicegah agar tidak menjadi diabetes dengan mengendalikan faktor risiko diabetes.
Pencegahan dini terjadinya diabetes dapat dilakukan dengan mencegah kelebihan bobot badan dan kegemukan (obesitas), olahraga teratur, serta pengaturan pola makan yang baik. Selain itu, kondisi prediabetes dapat diterapi dengan obat-obatan.
b. Pencegahan Sekunder
7 Berbagai upaya untuk mencegah timbulnya komplikasi upaya tersebut meliputi lima pilar, diantaranya :
1. Edukasi Diabetes, dapat melalui kegiatan membaca, ceramah edukasi, seminar, dan lain sebagainya.
2. Mengatur pola makan, harus mengatur pola makan dengan prinsip 3J (tepat Jadwal, tepat Jenis, tepat Jadwal makan).
3. Melakukan aktivitas fisik dan olahraga, dosis olahraga dapat diatur dengan pedoman FIT (Frekuensi, Intensitas, Time).
4. Obat hipoglikemik oral dan mungkin juga suntikan insulin diberikan jika upaya pengaturan makanan dan olahraga tidak cukup mengendalikan kadar gula darah.
5. Pemantauan gula darah secara mandiri, pemeriksaan gula darah secara mandiri bermanfaat agar pengidap diabetes dapat mengetahui kadar gula darahnya sehingga dapat mengatur pola makan, aktivitas, dan dosis obat atau dosis hormon insulin yang harus diterapkan.
c. Pengendalian Tersier
Apabila pengidap diabetes sudah mengalami komplikasi diabetes, maka tindakan pencegahannya adalah mencegah kecacatan akibat berbagai komplikasi diabetes. Pengidap diabetes harus tetap menjalani lima pilar pencegahan diabetes. Berbagai penyakit komplikasi seperti penyakit jantung koroner, retinopeti diabetic, atau nefropati diabetic harus diterapi oleh dokter agar tidak berlanjut
menjadi serangan jantung, kebutaan, atau kegagalan fungsi jantung.
2.1.4 Patogenesis Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus secara umum terjadi karena adanya proses patogenesis. Ini bersamaan dengan rusaknya autoimun pada sel beta di pankreas yang menyebabkan berkurangnya produksi insulin hingga menjadi abnormal yang menghasilkan resistensi terhadap kerja insulin.
8 Kekurangan insulin bisa absolut apabila pankreas tidak menghasilkan sama sekali insulin atau menghasilkan insulin, tetapi dalam jumlah yang tidak cukup, misalnya yang terjadi pada DM tipe 1. Patogenesis DM tipe 2 didasari atas gangguan sekresi insulin oleh sel beta pankreas dan gangguan kerja insulin akibat ketidakpekaan (insensitifitas) jaringan sasaran terhadap insulin (Josten dkk, 2006).
Kekurangan insulin dikatakan relatif apabila pankreas menghasilkan insulin dalam jumlah yang normal, tetapi insulinnya tidak bekerja secara efektif. Hal ini terjadi pada penderita DM tipe 2, dimana telah terjadi resistensi insulin. Baik kekurangan insulin absolut maupun relatif akan mengakibatkan gangguan metabolisme bahan bakar untuk melangsungkan fungsinya, membangun jaringan baru, dan memperbaiki jaringan (Baradero dkk, 2005 dalam Syamiyah, 2014).
Meskipun patogenesis DM tipe 2 belum dimengerti sepenuhnya, tapi ada 3 faktor penting yang perlu diperhatikan yaitu: (1) faktor-faktor genetik; (2) gangguan fungsi sel beta pankreas; dan (3) penurunan kerja insulin pada jaringan yang peka terhadap insulin (insulin resisten), yang meliputi otot kerangka, hati dan jaringan lemak. Resistensi insulin pada DM tipe 2 sebenarnya tidak begitu jelas, tetapi faktor-faktor di bawah ini banyak berperan:
a. Obesitas terutama yang bersifat sentral (bentuk apel) b. Diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat
c. Kurang gerak badan d. Faktor keturunan
9 Insulin bekerja pada hidratarang, lemak, serta protein, dan kerja insulin ini pada dasarnya bertujuan untuk mengubah arah lintasan metabolik sehingga gula, lemak, dan asam amino dapat disimpan serta tidak terbakar habis. Jika tidak ada insulin, lemak, gula, dan asam amino tidak dapat masuk ke dalam sel sehingga unsur-unsur gizi tersebut tetap berada di dalam plasma. Sebagai akibatnya, sel-sel tubuh mengalami starvasi dan terjadi peningkatan kadar glukosa, kolesterol, serta lemak. (Jordan, 2002 dalam Syamiyah, 2014).
Berkurangnya hasil kerja insulin adalah dari tidak cukupnya sekresi insulin dan/atau kurangnya respon jaringan terhadap insulin dalam jalur kompleks kerja hormon. Penurunan sekresi insulin dan resistensi kerja insulin sering terjadi pada pasien yang sama, dan itu menjadi tidak jelas apa kelainannya. Jika hanya salah satu saja, penyebabnya adalah hiperglikemia.
Gejala hiperglikemia meliputi polyuria, polydipsia, penurunan berat badan, kadang dengan polipagia, dan penglihatan kabur. Melambatnya pertumbuhan dan kerentanan terhadap infeksi tertentu juga dapat menyertai penderita hiperglikemia kronik. Bahayanya, ancaman hidup dari akibat diabetes adalah hiperglikemia dengan ketoasidosis atau sindrom hiperosmolar nonketotik.
10 Dampak emosional dan sosial diabetes dan tuntutan terapi dapat menyebabkan disfungsi psikososial yang signifikan pada pasien dan keluarganya (Jafar, 2004).
2.1.5 Faktor Risiko Diabetes Mellitus Faktor risiko DM dibagi 2:
a. Faktor tidak dapat dimodifikasi: 1. Umur
Manusia mengalami penurunan fisiologis setelah umur 40 tahun, dimana usia ini rawan terkena diabetes mellitus. Semakin bertambahnya umur, maka risiko menderita diabetes mellitus akan meningkat.
2. Jenis Kelamin
Sebenarnya belum ada kejelasan mengenai mekanisme yang menghubungkan jenis kelamin dengan kejadian Diabetes Mellitus.
3. Bangsa dan etnik
Berdasarkan penelitian terdapat hubungan yang nyata antara etnik di suatu negara dan bangsa dengan kejadian Diabetes Mellitus.
4. Faktor keturunan
Diabetes Mellitus cenderung diturunkan, bukan ditularkan. 5. Riwayat menderita Diabetes Gestasional
Biasanya ibu hamil yang menderita diabetes gestasional akan lebih berpotensi menderita diabetes mellitus nantinya.
6. Riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 4000 gram.
b. Faktor yang dapat dimodifikasi 1. Obesitas
11 menumpuk dalam pembuluh darah, sehingga terjadi peningkatan kadar glukosa darah. Obesitas merupakan faktor risiko terjadinya diabetes mellitus tipe 2 dimana sekitar 80-90% penderita mengalami obesitas.
2. Aktivitas fisik yang kurang
Prevalensi Diabetes Mellitus mencapai 2 - 4 kali lipat terjadi pada individu yang kurang aktif.
3. Hipertensi
Hipertensi dapat menimbulkan resistensi insulin dan merupakan salah satu faktor risiko terjadinya Diabetes Mellitus.
4. Stres
Kondisi stress kronik cenderung membuat sesorang mencari makanan yang manis dan berlemak tinggi. Tetapi efek mengkonsumsi makanan tersebut berbahaya bagi mereka yang berpotensi terkena Diabetes Mellitus.
5. Pola makan
Pola makan yang salah dapat mengakibatkan kurang gizi atau kelebihan berat badan. Kedua hal tersebut dapat meningkatkan risiko terkena diabetes.
6. Penyakit pada pancreas: pankreatiti, neoplasma, fibrosis kistik. 7. Alkohol
Alkohol dapat menyebabkan pankreatits. Penyakit tersebut dapat menimbulkan gangguan produksi insulin yang akhirnya dapat menyebabkan Diabetes Mellitus.
2.1.6 Epidemiologi Diabetes Mellitus
12 Berdasarkan hasil pengamatan pada indeks penyakit DM di RSUD Tugurejo Semarang, untuk jumlah pasien rawat inap JKN dengan diagnosis utama DM yang dirawat mulai dari bulan Januari sampai dengan Maret (triwulan I) tahun 2014 tercatat sebanyak 87 pasien. Persentase jumlah pasien DM pada triwulan I paling banyak terdapat pada bulan Februari sebanyak 39 dan paling sedikit terdapat pada bulan Maret sebesar 23 pasien, sedangkan untuk bulan Januari sebanyak 25 pasien. Hal ini berarti Pada bulan Maret jumlah pasien DM mengalami peningkatan yang cukup banyak sebesar 21,87%, namun pada bulan Maret kembali menurun jumlahnya sebanyak 25,81%. Kasus DM paling banyak menyerang kelompok umur 51-60 tahun yaitu sebesar 34,48% dan kelompok umur 41–50 tahun yaitu sebesar 26,45%. Hal ini menggambarkan bahwa hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang menyebutkan bahwa mulai pada kelompok usia >45 tahun keatas menjadi faktor resiko DM, khususnya pada tipe 2. (Dian Aristika, 2014)
2.1.7 Kebijakan Pengendalian dan Penanggulangan Diabetes Mellitus Untuk mencapai tujuan dari pengendalian DM, perlu ditetapkan
kebijakan teknis sebagai berikut (Depkes, 2008):
a. Menetapkan standar, norma, pedoman, kriteria kesehatan dan prosedur kerja dengan mengacu pada pedoman dan peraturan yang berlaku.
b. Menyelenggarakan pengendalian DM melalui pencegahan dan penanggulangan faktor risiko, penemuan dan tatalaksana kasus secara tepat, surveilans epidemiologi dan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) DM.
13 d. Meningkatkan kemampuan petugas dan masyarakat serta mengupayakan ketersediaan sarana dan prasarana dalam pengendalian DM.
e. Meningkatkan jejaring kerja lintas program, lintas sektor dan stakeholder terkait baik di Pusat maupun Provinsi dan Kabupaten/ Kota.
f. Menumbuh kembangkan potensi masyarakat kearah kemandirian melalui pendekatan kelembagaan di tingkat desa/kelurahan.
g. Meningkatkan peran pemerintah Provinsi, Kabupaten/ Kota dan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi upaya pengendalian DM.
Untuk mencapai keberhasilan program secara efektif dan efisien, perlu dikembangkan strategi pelaksanaan kegiatan, yaitu (Depkes, 2008): a. Pengendalian DM berdasarkan fakta dan skala prioritas.
b. Melaksanakan sosialisasi dan advokasi pada pemerintah, pihak legislatif dan stake holder serta pemerintah daerah.
c. Melakukan pembinaan dan monitoring serta evaluasi program pengendalian DM.
d. Intensifikasi upaya pencegahan dan penanggunglangan faktor risiko, surveilans epidemiologi, penemuan dan tatalaksana kasus serta KIE DM.
e. Meningkatkan kemitraan melalui jejaring kerja baik nasional, regional maupun internasional.
f. Memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta hasil-hasil penelitian atau kajian yang mendukung dalam upaya peningkatan program pengendalian DM
g. Pemberdayaan masyarakat melalui pembentukan berbagai kelompok masyarakat di desa/ kelurahan seperti posyandu, poslansia, dll.
15 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Konsep
3.2 Tempat dan Waktu 3.2.1 Tempat
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas kelurahan Rowosari, Semarang Selatan.
3.2.2 Waktu
NO KEGIATAN SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER
I II III IV I II III IV I II III IV 1. Rapat menentukan
tempat penelitian 2. Persiapan Survey 3. Survey Lokasi
16 4. Pembagian job
pembuatan makalah 5. Pembuatan proposal 6. Pengumpulan
Proposal
7. Presentasi Proposal 8. Survey Lokasi
kedua (pembagian kuisioner)
9. Observasi dan penelitian
Tabel 1. Waktu Penelitian
3.3 Jenis dan Desain Studi
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengolah data-data yang diperoleh dari lokasi penelitian, dimana data kuantitatif tersebut diperoleh melalui data primer dan sekunder. Hasil yang akan kami peroleh berupa angka-angka dari kuesioner yang akan disebar kepada sampel.
Desain studi yang kami gunakan ialah dengan desain cross sectional. Cross Sectional merupakan suatu penelitian yang menggunakan rancangan
atau desain observasi dimana semua pengukuran variabel (dependen dan independen) yang diteliti dilakukan pada waktu yang sama.
3.4 Populasi dan Sampel 3.4.1 Populasi
17 jumlah yang ada pada objek/ subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/ sifat yang dimiliki oleh objek atau subjek itu.
Populasi pada penelitian kali ini ialah semua masyarakat yang berobat di Puskesmas Rowosari selama penelitian berlangsung.
3.4.2 Sampel
Sedangkan sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Sehingga sampel merupakan responden tujuan dari penelitian yang akan kami lakukan secara terperinci.
Untuk menentukan sampel dari populasi digunakan perhitungan maupun acuan tabel yang dikembangkan para ahli. Secara umum, untuk penelitian korelasional jumlah sampel minimal untuk memperoleh hasil yang baik adalah 30 dari masing-masing kelompok dan untuk penelitian survey jumlah sampel minimum adalah 100.
Roscoe (1975) yang dikutip Uma Sekaran (2006) memberikan acuan umum untuk menentukan ukuran sampel:
1. Ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk kebanyakan penelitian
2. Jika sampel dipecah ke dalam subsampel (pria/ wanita, junior/ senior, dan sebagainya), ukuran sampel minimum 30 untuk tiap kategori adalah tepat
3. Dalam penelitian mutivariate (termasuk analisis regresi berganda), ukuran sampel sebaiknya 10x lebih besar dari jumlah variabel dalam penelitian
18 Maka dari itu kami menggunakan 30 sampel dengan teknik Sampling Kuota yaitu teknik sampling yang menentukan jumlah sampel dari populasi yang memiliki ciri tertentu sampai jumlah kuota (jatah) yang diinginkan.
3.5 Variabel
Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono, 2009).
Jadi, dapat kita ketahui bahwa variabel penelitian ini mengenai apa saja yang akan diteliti oleh peneliti untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan agar lebih spesifik lagi.
Sugiyono (2009) menyampaikan bahwa variabel penelitian dalam penelitian kuantitatif dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
3.5.1 Variabel bebas (independen variable)
Variabel bebas, merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependent (terikat). Variabel bebas (X) pada penelitian ini adalah faktor-faktor risiko.
3.5.2 Variabel terikat (dependent variable)
Variabel terikat, merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat krena adanya variabel bebas. Variabel terikat (Y) pada penelitian ini adalah penyakit Diabetes Miletus.
3.5.3 Definisi operasional
19 Variabel Bebas
No Variabel Definisi
Operasional Instrumen Skala Keterangan
1 Umur Usia
Kuisoner Nominal a. Memiliki riwayat penyakit
b. Tidak memiliki riwayat penyakit (Seisar Komala Dewi,
2007: 26)
21
5 Hipertensi Disebut hipertensi
Tabel 2. Definisi Operasional Variabel Bebas
Variabel Terikat
22 suntikan insulin.
Tabel 3. Definisi Operasional Variabel Terikat
3.6 Sumber Data
Sumber data adalah segala sesuatu yang dapat memberikan informasi mengenai data. Berdasarkan sumbernya, data dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder.
3.6.1 Data Primer
Data primer dalam penelitian adalah data hasil penelitian/ uji fisik. Data dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek penelitian dilakukan.
3.6.2 Data Sekunder
Data sekunder yaitu data yang telah dikumpulkan untuk maksud selain menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Data ini dapat ditemukan dengan cepat. Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data sekunder adalah literatur, artikel, jurnal serta situs di internet yang berkenaan dengan penelitian yang dilakukan. Selain data primer, sumber data yang dipakai peneliti adalah sumber data sekunder, data sekunder didapat melalui berbagai sumber yaitu literatur artikel, serta situs di internet yang berkenaan dengan penelitian yang dilakukan.
3.7 Instrumen
Instrumen penelitian adalah semua alat yang digunakan untuk mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah, atau mengumpulkan, mengolah, menganalisa dan menyajikan data-data secara sistematis serta objektif dengan tujuan memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Alat tulis
23 c. Papan jalan
d. Checklist e. Kuesioner
Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: a. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh data dengan cara dokumentasi, yaitu mempelajari dokumen yang berkaitan dengan seluruh data yang diperlukan dalam penelitian. Dokumentasi dari asal kata dokumen yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti laporan keuangan perusahaan serta dokumen lain dalam perusahaan yang relevan dengan kepentingan penelitian.
b. Kuesioner
Kuesioner adalah daftar pertanyaan tertulis yang ditujukan kepada responden. Jawaban responden atas semua pertanyaan dalam kuesioner kemudian dicatat/ direkam. Kuesioner merupakan metode pengumpulan data yang efisien bila peneliti mengetahui secara pasti data/ informasi apa yang dibutuhkan dan bagaimana variabel yang menyatakan informasi yang dibutuhkan tersebut diukur.
3.8 Pengelolaan Data dan Analisis 3.8.1 Pengelolaan Data
Metode analisis data adalah suatu metode yang digunakan untuk mengolah hasil penelitian guna memperoleh suatu kesimpulan. Dengan melihat kerangka pemikiran teoritis, maka teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif dengan perhitungan menggunakan SPSS 21.
24 risiko diabetes melitus. Dalam penelitian ini menggunakan lima teknik dalam pengolahan data, yaitu sebagai berikut:
a. Editing
Editing adalah pengecekan atau pengoreksian data yang telah
terkumpul, tujuannya untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada pencatatan dilapangan dan bersifat koreksi (Hasan, 2006).
b. Coding
Pengodean menurut Mc Millian dan Schumacher (2001) adalah proses membagi data ke dalam bagian-bagian sistem klasifikasi. Menurut Lofland (1977) dalam Alwasilah (2002), ada enam fenomena yang dapat dijadikan kode dalam penelitian kualitatif: 1. Tindakan (acts), yaitu hal yang terjadi pada waktu relatif singkat
seperti memulai pelajaran, mengucapkan salam, atau memanggil siswa
2. Aktivitas (activities), yaitu hal yang terjadi dalam satu periode dan merupakan unsur penting dalam partisipasi sosial, misalnya diskusi kelas, presentasi di depan kelas,dll
3. Makna (meanings), yaitu produk ucapan (verbal) dari responden yang membatasi atau mengarahkan kegiatan
4. Partisipasi (paticipation), yaitu keterlibatan responden secara keseluruhan dalam situasi yang sedang diteliti
5. Hubungan (relationship), yaitu hubungan-hubungan antara berbagai orang secara simultan dalam satu latar
6. Latar (settings), yaitu latar dalam suatu studi dan dianggap sebagai satu unit analisis.
25 Dalam penelitian ini kami melakukan pengkodean di mana jawaban “ya” diberi kode 1 dan jawaban “tidak” diberi kode 0, selanjutnya pengkodean tersebut diinput pada software SPSS 21.
c. Tabulasi
Tabulasi adalah pembuatan tabel-tabel yang berisi data yang telah diberi kode sesuai dengan analisis yang dibutuhkan. Dalam melakukan tabulasi diperlukan ketelitian agar tidak terjadi kesalahan. Tabel hasil Tabulasi dapat berbentuk:
1. Tabel pemindahan, yaitu tabel tempat memindahkan kode-kode dari kuesioner atau pencatatan pengamatan. Tabel ini berfungsi sebagai arsip
2. Tabel biasa, adalah tabel yang disusun berdasar sifat responden tertentu dan tujuan tertentu
3. Tabel analisis, tabel yang memuat suatu jenis informasi yang telah dianalisa. (Hasan, 2006: 20)
d. Prosesing
Setelah seluruh data terkumpul dan terisi penuh/benar dan sudah melewati edit pengkodean, selanjutnya adalah memproses data agar dapat dianalisis. Pemrosesan data dilakukan dengan cara mengentri data ke dalam program komputer. Ada banyak program yang dapat digunakan untuk pemrosesan data dengan masing-masing kelebihan dan kekurangannya.
e. Cleaning
Cleaning merupakan pengecekan kembali data yang sudah dientri
apakah ada kesalahan atau tidak. Kesalahan tersebut kemungkinan terjadi pada saat kita mengentri data ke komputer.
f. Interpretasi
26 kesimpulan yang berisikan intisari dari seluruh rangkaian kegiatan penelitian dan membuat rekomendasinya.
3.8.2 Analisis Data
a. Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk menjelaskan karakteristik masing-masing variabel.
b. Analisis Bivariat
Untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat berskala data nominal atau ordinal digunakan uji chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Dengan melihat hasil chi-Square tersebut dapat disimpulkan adanya hubungan dua variabel (bebas dan terikat) bermakna atau tidak bermakna, dengan ketentuan: 1. Jika nilai p ≤ 0,05, maka hipotesis diterima, H0 ditolak dan Ha
diterima, artinya ada hubungan bermakna antara variabel bebas dan terikat.
27 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Gambaran Umum Lokasi
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Rowosari Kecamatan Tembalang Semarang. Puskesmas Rowosari adalah unit organisasi fungsional yang melaksanakan tugas teknis Dinas Kesehatan Kota Semarang yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di Kecamatan Tembalang. Puskesmas tersebut dibangun di area seluas 1.883 m2 dan dipimpin oleh Heri Wibowo, SKM, M.Kes. Puskesmas Rowosari berlokasi di jalan Rowosari Raya No. 1 Kelurahan Rowosari Kecamatan Tembalang Kota Semarang dengan batas wilayah kerja sebelah timur dengan Kabupaten Demak, sebelah barat dengan Kecamatan Candisari, sebelah selatan dengan Kecamatan Banyumanik dan sebelah utara dengan Kelurahan Mangunharjo.
Puskesmas Rowosari bertanggung jawab terhadap 5 wilayah kerja termasuk membawahi masing-masing puskesmas di setiap kelurahan di antaranya: 1) Kelurahan Rowosari
2) Kelurahan Meteseh 3) Kelurahan Bulusan 4) Kelurahan Tembalang 5) Kelurahan Kramas.
Selain membawahi 5 wilayah kerja tersebut, Puskesmas Rowosari juga memiliki 1 Puskesmas Pembantu (Pustu), yaitu Pustu Bulusan.
Visi dari Puskesmas Rowosari adalah “Puskesmas Andalan Masyarakat” yang dijabarkan dalam tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek.
Tujuan jangka panjang adalah:
1. Penanggulangan penyakit menular seperti Demam Berdarah dan TB paru. 2. Upaya kesehatan keluarga seperti menurunkan angka kematian maternal
dan perinatal.
3. Upaya penanggulangan gizi kurang 4. Upaya kesehatan lingkungan
28 1. Menurunkan angka kesakitan demam berdarah
2. Menurunkan angka kematian maternal, perinatal, dan neonatal. 3. Menurunkan angka prevalensi gizi kurang
4. Menurunkan angka kesakitan TB paru 5. Memberikan penyuluhan kesehatan
6. Menurunkan angka kesakitan penyakit tidak menular seperti hipertensi dan DM.
Program kegiatan Pusesmas Rowosari terdiri dari dua kegiatan, yaitu program pelayanan dan program promosi.
Program Pelayanan: 1. Promosi Kesehatan 2. Kesehatan Ibu dan Anak 3. Balai Pengobatan Umum 4. Balai Pengobatan Gigi 5. Konsultasi Gizi 6. Imunisasi
7. Konsultasi Kesehatan Remaja dan Usila 8. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)/ UKGS 9. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit 10. Kesehatan Lingkungan
11. Kesehatan Jiwa
12. Pemeriksaan Laboratorium Sederhana 13. Kesehatan Mata
14. Kesehatan Telinga Program Promosi: 1. UKK
29 3.2. Hasil dan Pembahasan
3.2.1. Analisis Data Univariat a. Riwayat Diabetes Melitus tipe 2
Berikut ini merupakan distribusi faktor risiko riwayat menderita Diabetes Mellitus pada 30 orang pasien di Puskesmas Rowosari :
Tabel 4. Distribusi Faktor Risiko Riwayat DM pada Pasien Puskesmas Rowosari
Variabel Kategori Frekuensi Presentase
Riwayat DM Ya 24 80 %
Tidak 6 20 %
Total 30 100 %
Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa dari 30 responden pasien Puskesmas Rowosari, 24 orang responden memiliki riwayat DM pada keluarganya (dengan persentase 80%) dan 6 orang responden tidak memiliki riwayat DM pada keluarganya (dengan persentase 20%).
b. Riwayat Hipertensi
Berikut ini merupakan distribusi faktor risiko riwayat hipertensi pada 30 orang pasien di Puskesmas Rowosari :
Tabel 5. Distribusi Faktor Risiko Riwayat Hipertensi pada Pasien Puskesmas Rowosari
Variabel Kategori Frekuensi Presentase
30 Hipertensi
Tidak 15 50 %
Total 30 100 %
Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa dari 30 responden pasien Puskesmas Rowosari, 15 orang responden memiliki riwayat Hipertensi (dengan presentase 50%) dan 15 orang responden tidak memiliki riwayat Hipertensi (dengan presentase 50%).
c. Obesitas
Berikut ini merupakan distribusi faktor risiko obesitas pada 30 orang pasien di Puskesmas Rowosari :
Tabel 6. Distribusi Faktor Risiko Obesitas pada Pasien Puskesmas Rowosari Variabel Kategori Frekuensi Presentase
Obesitas Ya 11 36.7%
Tidak 19 63.3%
Total 30 100 %
31 d. Usia
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, didapatkan sebaran data usia responden di Puskesmas Rowosari sebagai berikut:
Tabel 7. Distribusi usia pada responden di Puskesmas Rowosari Variabel Kategori Frekuensi Presentase
Usia < 40 tahun 10 33,3 %
>= 40 tahun 20 66,7 %
Total 30 100 %
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa dari 30 responden, 20 orang responden (66,7%) berusia ≥40 tahun dan 10 orang responden (33,3%) berusia <40 tahun. Responden ini merupakan responden yang bersedia diwawancara dan didapat saat penelitian dilakukan.
e. Aktivitas Fisik
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, didapatkan data aktivitas fisik para responden yang ada di Puskesmas Rowosari sebagai berikut:
Tabel 8. Data kegiatan aktivitas fisik responden di Puskesmas Rowosari Variabel Kategori Frekuensi Presentase
Aktifitas Fisik Ya 9 30 %
Tidak 21 70 %
32 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa dari 30 responden, 9 orang responden (30%) melakukan aktivitas fisik berupa olahraga seperti jalan kecil, lari kecil, senam dan lainnya dalam dan 21 orang responden (70%) tidak melakukan olahraga. Responden ini merupakan responden yang bersedia diwawancara dan didapat saat penelitian dilakukan.
3.2.2. Analisis Data Bivariat
a. Riwayat Diabetes Melitus
Berikut adalah hasil analisis bivariat yang menggambarkan hubungan risiko variabel riwayat DM terhadap kejadian DM tipe 2 pada pasien Puskesmas Rowosari:
Tabel 9. Analisis Hubungan antara Riwayat DM dengan Kejadian DM Tipe 2
Riwayat DM
Gejala DM Tipe 2
Total
P value
Ya Tidak
N % N % N %
Ya 19 90,5% 5 55,6% 24 80%
0,049
Tidak 2 9,5% 4 44,4% 6 20%
Jumlah 21 100% 9 100% 30 100%
Sumber: Data Primer
33 b. Riwayat Hipertensi
Berikut adalah hasil analisis bivariat yang menggambarkan hubungan risiko variabel riwayat Hipertensi terhadap kejadian DM tipe 2 pada pasien Puskesmas Rowosari:
Tabel 10. Analisis Hubungan antara Riwayat Hipertensi dengan Kejadian DM Tipe 2
Riwayat Hipertensi
Gejala DM Tipe 2
Total
P value
Ya Tidak
N % N % N %
Ya 13 61,9% 2 22,2% 15 50%
0,109
Tidak 8 38,1% 7 77,8% 15 50%
Jumlah 21 100% 9 100% 30 100%
Sumber: Data Primer
Berdasarkan tabel 10 diketahui bahwa responden dengan riwayat Hipertensi dan menderita DM tipe 2 adalah 13 responden (61,9%) serta dengan riwayat Hipertensi yang tidak menderita DM tipe 2 adalah 2 orang (22,2%). Sedangkan responden yang tidak memiliki riwayat Hipertensi dan menderita DM tipe 2 adalah 8 orang (38,1%) serta responden yang tidak memiliki riwayat Hipertensi dan tidak menderita DM tipe 2 adalah 7 orang (77,8%).
c. Obesitas
34 Tabel 11. Analisis Hubungan antara Obesitas dengan Kejadian DM Tipe 2
Obesitas
Berdasarkan tabel 11 diketahui bahwa responden yang memiliki obesitas dan yang menderita DM tipe 2 adalah 13 responden (61.9%) serta yang memiliki obesitas dan yang tidak menderita DM tipe 2 adalah 6 orang (66.7%). Sedangkan responden yang tidak memiliki obesitas dan menderita DM tipe 2 adalah 8 orang (38.1%) serta responden yang tidak memiliki obesitas dan tidak menderita DM tipe 2 adalah 3 orang (33.3%).
d. Usia
Hasil analisis hubungan antara usia dengan kejadian DM tipe 2 pada responden di Puskesmas Rowosari dapat dilihat pada tabel 12.
Tabel 12. Analisis Hubungan antara Usia dengan Kejadian DM Tipe 2
35 Berdasarkan tabel 12 diketahui bahwa responden dengan usia < 40 tahun dan menderita DM tipe 2 adalah 4 responden (19%) serta responden usia < 40 tahun yang tidak menderita DM tipe 2 adalah 6 orang (66,7%). Sedangkan responden dengan usia ≥ 40 tahun dan menderita DM tipe 2 adalah 17 orang (81%) serta responden usia ≥40 tahun dan tidak menderita DM tipe 2 adalah 3 orang (33,3%).
e. Aktifitas Fisik
Hasil analisis hubungan antara faktor risiko aktivitas fisik dengan kejadian DM tipe 2 pada responden di Puskesmas Rowosari dapat dilihat pada tabel 13.
Tabel 13. Analisis Hubungan antara Aktivitas Fisik dengan Kejadian DM Tipe 2
Aktivitas Fisik
DM Tipe 2
Total
P value
Tidak Ya
N % N % N %
Tidak 3 33,3% 18 85,7% 21 33,3%
0,008
Ya 6 66,7% 3 14,3% 9 66,7%
Jumlah 9 100% 21 100% 30 100%
Sumber: Data Primer
36 3.2.3. Gambaran Faktor-faktor Risiko
a. Gambaran dan Risiko Riwayat Keluarga Mendrita Diabetes Melitus tipe 2
Riwayat keluarga menderita DM menjadi faktor risiko seseorang untuk terkena Diabetes Mellitus tipe 2. Seorang anak merupakan keturunan pertama dari orang tua yang DM (Ayah, ibu, termasuk saudara laki-laki dan saudara perempuan) (Kemenkes RI, 2008). Berdasarkan hasil uji chi square (Fisher's Exact Test) didapatkan nilai pvalue 0,049 (pvalue <0,05), maka hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara riwayat DM dengan kejadian kasus DM tipe 2.
Hubungan antara riwayat keluarga menderita DM dengan kejadian Diabetes Mllitus tipe 2 dalam penelitian ini juga tampak jelas pada proporsi kelompok penderita DM yang memiliki riwayat DM. Sebanyak 19 responden (55,6%) menderita DM tipe 2 dan memiliki riwayat DM pada keluarganya, sedangkan 2 responden yang menderita DM tipe 2 (9,5%) tidak memiliki riwayat DM pada keluarganya. Sesuai dengan postulat kejadian penyakit kronis Dr. Robert Koch, bahwa riwayat keluarga menderita DM yang dianggap sebagai faktor risiko kejadian penyakit Diabetes Mellitus tipe 2 lebih banyak ditemukan pada kelompok penderita penyakit tersebut. Risiko seorang anak mendapat DM tipe 2 adalah 15% bila salah seorang tuanya menderita DM dan kemungkinan 75% bilamana kedua-duanya menderita DM. Selain itu apabila seseorang menderita DM maka saudara kandungnya mempunyai risiko DM sebanyak 10% (Kemenkes RI, 2008). Oleh sebab itu, riwayat keluarga menderita DM menjadi faktor risiko bagi seseorang untuk menderita Diabetes Mellitus tipe 2.
Penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Zahtamal (2007) dimana ditemukan bahwa orang yang memiliki riwayat keluarga menderita DM berisiko 3,75 kali untuk terkena Diabetes Mellitus tipe 2. Penelitian tersebut juga menggunakan disain case control study.
37 dilakukan upaya pencegahan. Justru dengan mengetahui riwayat keluarga, bisa membuat seseorang menjadi lebih berhati-hati untuk mengatur gaya hidup sehat agar terhindar dari penyakit Diabetes Mellitus tipe 2. Dengan melindungi diri dari penyakit tersebut, bukan hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga menjaga keturunan kita dari risiko terkena Diabetes Mellitus tipe 2. Oleh karena itu, disarankan kepada masyarakat khususnya bagi yang memiliki riwayat keluarga menderita DM untuk senantiasa melakukan deteksi dini penyakit Diabetes Mellitus, agar segera bisa dilakukan upaya pencegahansedini mungkin.
b. Gambaran dan Risiko Riwayat Hipertensi
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah yang tingginya tergantung usia individu yang terkena. Pada orang dewasa dikatakan hipertensi bila tekanan darahnya lebih dari 140/90 mmHg. Hipertensi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah di pembuluh darah meningkat secara kronis. Hal tersebut dapat terjadi karena jantung bekerja lebih keras memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh (Kemenkes RI, 2013). Berdasarkan hasil uji chi square (Fisher's Exact Test) didapatkan nilai pvalue 0,109 (pvalue > 0,05), maka hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara riwayat hipertensi dengan kejadian kasus DM 2.
Hubungan antara riwayat Hipertensi dengan kejadian Diabetes Mllitus tipe 2 dalam penelitian ini tidak tampak jelas pada proporsi kelompok penderita DM yang memiliki riwayat Hipertensi. 15 orang responden memiliki riwayat Hipertensi (dengan presentase 50%) dan 15 orang responden tidak memiliki riwayat Hipertensi (dengan presentase 50%). Sebagaimana konsep postulat kejadian penyakit kronis oleh Dr.Robert Koch, masih ada kemungkinan hipertensi yang dianggap menjadi faktor risiko Diabetes Mellitus tipe 2 menjadi lebih sering terjadi pada orang yang menderita Diabetes Mellitus tipe 2 dibandingkan pada orang yang tanpa penyakit tersebut
38 kemungkinan bisa disebabkan oleh karakteristik kelompok kontrol yang diambil masih merupakan pasien rawat jalan yang berobat ke puskesmas dengan penyakit selain Diabetes Mellitus. Pengaruh hipertensi terhadap kejadian Diabetes Melitus disebabkan oleh penebalan pembuluh darah arteri yang menyebabkan diameter pembuluh darah menjadi menyempit. Hal ini akan menyebabkan proses pengangkutan glukosa dari dalam darah menjadi terganggu (Trisnawati, 2013).
Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya yaitu Hubungan Kadar Gula Darah dengan Hipertensi Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar dengan menggunakan desain studi cross sectional yang dilakukan oleh Iin Mutmainah pada tahun 2013.
c. Gambaran dan Risiko Obesitas
Obesitas merupakan salah satu factor risiko yang dapat dimodifikasi sehingga mudah untuk dilakukan pencegahan sedini mungkin. Dengan mengetahui obesitas, bisa membuat seseorang menjadi lebih berhati-hati untuk mengatur gaya hidup.
Hubungan antara obesitas dengan kejadian diabetes mellitus tipe 2 dalam penelitian ini tampak jelas pada proporsi masing-masing kelompok obesitas dan yang tidak terkena obesitas. Sebanyak 36.7% kasus memiliki obesitas, dua kali lebih sedikit dibandingkan dengan yang tidak memiliki obesitas sebanyak 63.6%. sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada hubungan obesitas dengan kejadian diabetes mellitus.
Berdasarkan hasil uji chi square (Fisher's Exact Test) didapatkan nilai pvalue 1,000 (pvalue > 0,05),maka hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara obesitas dengan kejadian kasus DM tipe 2.
39 d. Gambaran dan Risiko Usia
Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan dari 30 responden yang paling banyak adalah usia ≥40 tahun yang memiliki risiko tinggi yaitu sebanyak 17 orang (81%) dan usia <40 tahun yang berisiko rendah sebanyak 6 orang ( 66,7%). Hasil uji statistik dengan Chi-Square (Fisher's Exact Test) nilai pvalue 0,030 (pvalue < 0,05), maka hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara umur dengan kejadian diabetes Mellitus tipe 2 di Puskesmas Rowosari.
Hal ini sejalan dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai hubungan faktor risiko usia dengan kejadian DM menunjukkan bahwa umur penerita diabetes pada usia ≥40 tahun 3 kali lebih banyak di banding usia muda <40 tahun, umur ≥40 tahun berkaitan terjadinya diabetes karena pada usia tua, fungsi tubuh secara fisiologis menurun karena terjadi penurunan sekresi atau resistensi insulin sehingga kemampuan fungsi tubuh terhadap pengendalian glukosa darahnya tinggi. Salah satu faktor yang berhubungan seseorang mengalami diabetes mellitus adalah faktor umur dimana usia ≥40 tahun banyak organ-organ vital melemah dan tubuh mulai mengalami kepekaan terhadap insulin. Bahkan pada wanita yang sudah tua (≥40 tahun) dan telah mengalami monopause punya kecenderungan untuk lebih tidak peka terhadap hormon insulin (Bustan, 2007).
Kelompok umur yang paling banyak menderita DM adalah kelompok umur 45-52. Peningkatan diabetes risiko diabetes seiring dengan umur, khususnya pada usia ≥40 tahun, disebabkan karena pada usia tersebut mulai terjadi peningkatan intoleransi glukosa. Adanya proses penuaan menyebabkan berkurangnya kemampuan sel β pankreas dalam memproduksi insulin. Selain itu pada individu yang berusia lebih tua terdapat penurunan aktivitas mitokondria di sel-sel otot sebesar 35%. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar lemak di otot sebesar 30% dan memicu terjadinya resistensi insulin (Trisnawati, 2013).
40 e. Gambaran dan Risiko Kurangnya Aktivitas Fisik
Sebagian besar faktor risiko Diabetes Melitus adalah gaya hidup yang tidak sehat seperti kurangnya aktivitas fisik, diet yang tidak sehat seimbang serta obesitas. Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan energi. Kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor risiko independen untuk penyakit kronis dan secara keseluruhan diperkirakan menyebabkan kematian secara global (WHO, 2013).
Pada Diabetes Melitus tipe 2 olahraga berperan dalam pengaturan kadar glukosa darah. Masalah utama pada Diabetes Melitus tipe 2 adalah kurangnya respon terhadap insulin (resistensi insulin) sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel. Permeabilitas membran terhadap glukosa meningkat saat otot berkontraksi karena kontraksi otot memiliki sifat seperti insulin. Maka dari itu, pada saat beraktivitas fisik seperti berolahraga, resistensi insulin berkurang. Aktivitas fisik berupa olahraga berguna sebagai kendali gula darah dan penurunan berat badan pada diabetes melitus tipe 2 (Ilyas, 2011).
Pada penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik seseorang terhadap kejadian Diabetes Mellitus di Puskesmas Rowosari pada Tahun 2015. Hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Rachmawati dkk tahun 2011 menyatakan bahwa penderita DM Tipe 2 yang memiliki aktivitas fisik ringan kemungkinan 7,15 kali lebih besar mempunyai risiko kadar gula darah tidak terkontrol daripada penderita dengan aktivitas fisik sedang. Diketahui dari total jumlah responden hanya 30% dari responden yang melakukan aktivitas fisik (praktik olahraga) berupa jalan kecil, lari kecil, senam, dan lain-lain.
41 disebabkan peningkatan jumlah hormone katekolamin dan growth hormone yang lebih besar pada intensitas berat, dapat meningkatkan gula darah.
Aktivitas fisik merupakan intervensi yang baik untuk meningkatkan aksi insulin pada homeostasis glukosa pada individu sehat dan individu yang memiliki resistensi insulin seperti pasien DM tipe 2. Efek aktivitas fisik yang menguntungkan ini dikarenakan adanya peningkatan aksi insulin dalam ambilan glukosa di otot rangka sehingga dapat menyebabkan penularan kadar glukosa plasma. Maka dari itu, perlu adanya aktivitas fisik berupa olahraga secara teratur untuk mencegah kejadian DM di puskesmas Rowosari. Aktivitas fisik yang dianjurkan untuk para penderita Diabetes Melitus tipe 2 adalah aktivitas fisik secara teratur (3-4 kali seminggu) selama kurang lebih 30 menit dan sesuai dengan CRIPE (continuous, rhythmical, interval, progresive, endurance training), dan diusahakan mencapai 75-85% denyut nadi maksimal (Waspadji, 2011).
42 BAB IV
PENUTUP 4.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian ini, diperoleh kesimpulan bahwa riwayat keluarga menderita DM, usia, dan aktivitas fisik merupakan faktor risiko yang memiliki hubungan erat terhadap munculnya penyakit Diabetes Mellitus tipe 2 di wilayah Puskesmas Rowosari.
Sedangkan faktor risiko obesitas dan riwayat hipertensi merupakan faktor risiko yang tidak terlihat hubungannya terhadap munculnya penyakit Diabetes Mellitus tipe 2 di wilayah Puskesmas Rowosari.
Maka dari itu, dapat dikatakan isu terkini mengenai Diabetes Mellitus tipe 2 adalah obesitas dan riwayat hipertensi bukan merupakan faktor risiko Diabetes Mellitus tipe 2.
4.2. Saran
43 DAFTAR PUSTAKA
Arsono, S., Hadisaputro, S., Chasani, S. Diabetes Mellitus Sebagai Faktor Risiko Kejadian Gagal Ginjal Terminal di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Program Pasca Sarjana UNDIP Semarang. 2005.
Baughman, Diane C. 2000. Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta: EGC
David, G. 1998. Risk Factors Diabetic Foot Ulcers and Prevention, Diagnosis, and Classification, University of Texas Health Science Center at San Antonio and the Diabetic foot Research Group. San Antonu: Texas.
Dian Aristika. 2014. Deskripsi Karakteristik Penderita, Lama Dirawat (Los) Dan Epidemiologi Penyakit Diabetes Mellitus Pada Pasien Jkn Di Rsud
Dinas Kesehatan Jawa Tengah. Laporan Kesehatan. Semarang, 2009 Profil Kesehatan Kota Semarang. Semarang, 2009
Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular. 2008. Pedoman Pengendalian Diabetes Melitus Dan Penyakit Metabolik. Direktorat Jendral
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Hadisaputro, S., Setyawan, H. 2007. Epidemiologi dan Faktor-Faktor Risiko Terjadinya Diabetes Mellitus tipe 2. Dalam : Darmono, dkk, editors. Naskah Lengkap Diabetes mellitus Ditinjau dari Berbagai Aspek Penyakit dalam rangka Purna Tugas Prof Dr.dr.RJ Djokomoeljanto. Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang. p. 133-154.
Handayani, Sri Ani. 2003. Faktor-Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe-2 di Semarang dan Sekitarnya (Studi Kasus di RSUP Dr. Kariadi dan RSUD Kota Semarang). Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang. (http://core.ac.uk/download/pdf/11713910.pdf) Diunduh pada 11 September 2015.
Hans Tandra. 2008. Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang Diabetes. Jakarta : Gramedia.
Hasan, Iqbal.2006.Analisis Data Penelitian dengan Statistik. Jakarta: Bumi Aksara.
Ilyas, E. I., 2011. Olahraga bagi Diabetes dalam: Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu bagi Dokter Maupun Edukator Diabetes. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
44 (http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/2675/B15%20D ABETES%20MELLITUS.docx?sequence=1) Diunduh pada 11 Sepember 2015.
Josten, dkk. 2006. Profil Lipid Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 P.
(http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-PDF%20Vol%2013-01 06.pdf.html) Diunduh pada 11 September 2015.
Krisnatuti, Diah, dkk. 2014. Diet Sehat untuk Penderita Diabetes Mellitus. Jakarta: Penebar Swadaya
Laporan Nasional. Jakarta. 2008. Tugurejo Semarang Triwulan I Tahun 2014. Semarang: Udinus Riset Kesehatan Dasar.
Moeleong, Lexy. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya
Mutmainaih, Iin. 2013. Hubungan Kadar Gula Darah Dengan Hipertensi Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rumah Sakit Umum Daerah
Karanganyar. Surakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
(http://eprints.ums.ac.id/24357/14/2_NASKAH_PUBLIKASI.pdf , diakses pada 12 November 2015)
Profil Dinas Kesehatan Kota Semarang. Semarang. 2012.
Purnama, Rosita Dewi. 2013. Faktor Risiko Perilaku Yang Berhubungan Dengan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 di RSUD Kabupaten Karanganyar. Semarang: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang.
Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : FKUI.
Rachmawati, Syam Aminuddin, Kidayati. 2011. Pola Makan dan Aktivitas Fisik dengan Kadar Glukosa Darah Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Rawat Jalan di RSUD Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Vol 1. Agustus 2011: hal 52-58
Sekaran, Uma. 2006. Metode Penelitian Bisnis. Jakarta: Salemba Empat. Seisar Komaladewi. 2007. Faktor Risiko yang Berhubungan dengan kejadian
Diabetes Melitus Tipe II di RS DR. Kariadi Semarang tahun 2007. Skripsi: Universitas Dian Nuswantoro Semarang.
45 Sugiyono.Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.2001
Sugiyono.Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif.Bandung : Alfabeta.2009. Sutopo, HB. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press
Suyono S. Patofisiologi Diabetes Mellitus. Dalam Soegondo S dkk (eds), Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Penerbit FKUI. Jakarta. 2005.
Trisnawati, Shara Kurnia dan Soedijono Setyorogo. 2013. Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe II Di Puskesmas Kecamatan Cengkareng Jakarta Barat Tahun 2012.
(http://lp3m.thamrin.ac.id/upload/artikel%202.%20vol%205%20no%201 _shara.pdf , diakses pada tanggal 12 November 2015)
Waspadji, S. 2011. Diabetes Melitus: Mekanisme dan Dasar Pengelolaannya yang Rasional. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
WHO. 2013. Physical Activity. (www.who.in diakses pada 4 November, 2015) Zahrawardani, Diana dkk. 2015. Analisis Faktor Risiko Kejadian Penyakit
46 LAMPIRAN
KUESIONER FAKTOR RISIKO DIABETES MELITUS
A. IDENTITAS
1. Nama :
2. Usia : ……
tahun
3. Pendidikan :
4. Pekerjaan :
5. Alamat :
6. Berat Badan : …… kg
7. Tinggi Badan : …… cm
B. KUESIONER a. Umur
1. Berapa lama Anda sudah didiagnosis menderita diabetes? ……. Tahun ……. Bulan ……… Hari
b. Riwayat Menderita Diabetes Mellitus
1. Apakah anda memiliki keluarga yang menderita Diabetes Mellitus? a. Ya
b. Tidak
Jika ya, apa hubungan anda dengan penderita tersebut? 2. Apakah anda rutin melakukan suntikan insulin?
a. Ya b. Tidak c. Obesitas
1. Berapa berat badan Anda saat didiagnosis Diabetes? …kg 2. Berapa tinggi badan Anda saat didiagnosis Diabetes? …cm d. Hipertensi
47 a. Ya
b. Tidak
Jika ya, berapa tekanan darah Anda saat ditensi? ... / ……… mmHg
3. Apakah tekanan darah anda lebih sering dikatakan tinggi oleh petugas kesehatan?
a. Ya b. Tidak e. Praktik Olahraga
1. Apakah anda melakukan olahraga (jalan kaki, jogging, senam, berenang, bersepeda, dll)?
a. Ya b. Tidak
Mengapa?...
Jenis Olahraga Lama (menit)
Jalan kaki Lari kecil Senam Lainnya
2. Apakah anda olahraga 3-5 kali seminggu? a. Ya
b. Tidak, berapa…… Mengapa?
3. Apakah anda tiap olahraga minimal 30-60 menit? a. Ya
b. Tidak
Mengapa?...
4. Apakah anda menentukan berat ringannya olahraga dengan menghitung detak jantung?
48 Mengapa?...
5. Apakah anda olahraga pada waktu pagi atau sore hari? a. Ya
b. Tidak, kapan…..
Mengapa?...
6. Apakah anda mengurangi kegiatan kurang gerak seperti tiduran, nonton tv,duduk-duduk, dll?
a. Ya b. Tidak
49 Lampiran Hasil Perhitungan Chi square
Riwayat * DM Tipe 2
Continuity Correctionb 2.867 1 .090
Likelihood Ratio 4.450 1 .035
Fisher's Exact Test .049 .049
Linear-by-Linear Association 4.642 1 .031
N of Valid Casesb 30
a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,80.
b. Computed only for a 2x2 table
INTREPRETASI
1. Tabel tersebut diatas diuji dengan uji Fisher karena ada sel yang nilai expectednya kurang dari lima.
50 2. Tabel kedua menunjukkan hasil uji Fisher. Nilai significancy nya 0,049
untuk 2 sided (two tail) dan 0,049 untuk 1 sided (one tail)
3. Karena nilai p (0,049) < 0,05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa “ada
hubungan antara riwayat DM dengan kejadian kasus DM 2.”
Riwayat Hipertensi * DM Tipe 2
Crosstab
Continuity Correctionb 2.540 1 .111
Likelihood Ratio 4.144 1 .042
Fisher's Exact Test .109 .054
Linear-by-Linear Association 3.836 1 .050
N of Valid Casesb 30
a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4,50.
51 INTREPRETASI
1. Tabel tersebut diatas diuji dengan uji Fisher karena ada sel yang nilai expectednya kurang dari lima.
2. Tabel kedua menunjukkan hasil uji Fisher. Nilai significancy nya 0,109 untuk 2 sided (two tail) dan 0,054 untuk 1 sided (one tail)
Karena nilai p (0,109) > 0,05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa “ Tidak ada
hubungan antara riwayat hipertensi dengan kejadian kasus DM 2.”
Obesitas * DM Tipe 2
Crosstab
Continuity Correctionb .000 1 1.000
Likelihood Ratio .062 1 .803
Fisher's Exact Test 1.000 .571
Linear-by-Linear Association .059 1 .807
N of Valid Casesb 30
a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3,30.
b. Computed only for a 2x2 table
52 INTREPRETASI
1. Tabel tersebut diatas diuji dengan uji Fisher karena ada sel yang nilai expectednya kurang dari lima.
2. Tabel kedua menunjukkan hasil uji Fisher. Nilai significancy nya 1,000 untuk 2 sided (two tail) dan 0,571 untuk 1 sided (one tail)
3. Karena nilai p (1,000) > 0,05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa “ Tidak ada hubungan antara Obesitas dengan kejadian kasus DM 2.”
Usia * DM Tipe 2
Continuity Correctionb 4.464 1 .035
Likelihood Ratio 6.283 1 .012
Fisher's Exact Test .030 .018
Linear-by-Linear Association 6.214 1 .013
N of Valid Casesb 30
a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3,00.
53 INTREPRETASI
1. Tabel tersebut diatas diuji dengan uji Fisher karena ada sel yang nilai expectednya kurang dari lima.
2. Tabel kedua menunjukkan hasil uji Fisher. Nilai significancy nya 0,030 untuk 2 sided (two tail) dan 0,018 untuk 1 sided (one tail)
Karena nilai p (0,030) > 0,05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa “ada hubungan Usia dengan kejadian kasus DM 2.”
Aktifitas Fisik * DM Tipe 2
Crosstab
Continuity Correctionb 5.926 1 .015
Likelihood Ratio 7.970 1 .005
Fisher's Exact Test .008 .008
Linear-by-Linear Association 7.957 1 .005
54 a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,70.
b. Computed only for a 2x2 table
INTREPRETASI
1. Tabel tersebut diatas diuji dengan uji Fisher karena ada sel yang nilai expectednya kurang dari lima.
2. Tabel kedua menunjukkan hasil uji Fisher. Nilai significancy nya adalah 0,008 untuk 2 sided (two tail) dan 0,008 untuk 1 sided (one tail)
55 Lampiran pembagian Jobdesk
No Nama NIM Deskripsi Kerja
1 Ria Yuniati 25010113140242 Penyusunan laporan
Pembuataan Tinjauan pustaka
Pembuatan kuisoner
Survei dan pengambilan data di lapangan
Analisis hasil data 2 Tabita Kartikawati 25010113130243 Penyusunan laporan
Pembuatan tinjauan pustaka
Pembuatan kerangka teori & mind mapping
Survei dan pengambilan data di lapangan
Analisis hasil data
Pembuatan PPT akhir 3 Stefanny Chillvia A. 25010113140244 Pembuatan latar belakang
Pembuatan tinjauan pustaka
Pembuatan kesimpulan dan saran
4 Kusuma Dara Z. 25010113140245 Pembuatan metode penelitian
Pembuatan tinjauan pustaka
Pembuatan PPT
Survei dan pengambilan data di lapangan
Analisis hasil data 5 Desi Putri Utami 25010113130246 Pembuatan kuisoner
Pembuatan gambaran umum
Pembuatan tinjauan pustaka
Survei dan pengambilan data di lapangan
6 Laksnita Kumara S. 25010113130247 Penyusunan laporan
Pembuatan tinjauan pustaka
Survei dan pengambilan data di lapangan
Analisis hasil data
7 Fitri Khoiriyah P. 25010113140248 Penyusunan laporan akhir
Pembuatan DO
Pembuatan metode penelitian
Pembuatan tinjauan pustaka
Pembuatan kuisoner
8 Devi Eka Meirinda 25010113140249 Pembuatan tinjauan pustaka
56
Survei dan pengambilan data di lapangan
Analisis hasil data 9 Della Zulfa Rifda 25010113140250 Penyusunan laporan
Pembuataan Tinjauan pustaka
Pembuatan kuisoner
Survei dan pengambilan data di lapangan
Analisi hasil data
10 Adha Triyanto 25010113140274 Pembuatan tinjauan pustaka
Pembuatan PPT
Pembuatan kesimpulan dan saran
11 Bintar Wahyu I. 25010115183021 Pembuatan tinjauan pustaka
Pembuatan kuisoner
Pembuatan DO
Pengolahan data
Survei dan pengambilan data di lapangan
57 Lampiran dokumentasi
a. Kondisi puskesmas Rowosari
58 c. Pengambilan data primer dengan responden
59 e. Pengambilan data primer dengan responden