Penyelesaian Sengketa Tata Usaha Negara di Bidang Ketenagakerjaan setelah diberlakukannya Undang-Undang No.2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial Oleh : Agus Budi Susilo, SH., MH
(Hakim PTUN Medan 2004-2008, saat ini Hakim PTUN Semarang)
A. Latar Belakang Penulisan
Sebagai negara berkembang, Indonesia saat ini sedang membangun diberbagai sektor. Di sektor perekonomian misalnya, sejalan dengan isu globalisasi yang tidak dapat dielakkan lagi, negara kita tidak dapat menutup mata begitu saja terhadap dampak perkembangan ekonomi dunia.
Dilihat dari sudut pandang ekonomi politik, globalisasi merupakan proses perubahan organisasi dari fungsi kapitalisme yang ditandai dengan munculnya integrasi pasar dan perusahaan-perusahaan transnasional dan tertinggalnya institusi supranasional. Pengertian globalisasi disini memberikan indikasi bahwa deregulasi dan privatisasi merupakan ciri utama globalisasi yang mengarah pada pengurangan peran pemerintah dibidang ekonomi termasuk di bidang ketenagakerjaan di satu pihak, dan peningkatan peran pasar di lain pihak. Berangkat dari konsep globalisasi tersebut, pembahasan implikasi globalisasi terhadap masalah hukum ketenagakerjaan menjadi sangat penting dan menarik untuk ditelaah. Hal ini dikarenakan akhir-akhir ini banyak permasalahan yang timbul terhadap para pekerja (buruh) baik mengenai tidak sesuainya UMR (upah minimum regional), PHK (pemutusan hubungan kerja), kurang harmonisnya hubungan serikat pekerja dengan pengusaha maupun antar serikat pekerja, dll.
Karena peliknya masalah yang berkenaan dengan para pekerja, perlu upaya-upaya dari pemerintah dalam menghadapi era globalisasi yang kaitannya dengan ketenagakerjaan. Oleh sebab itu dituntut peran pemerintah dalam mengatasi permasalahan tersebut, setidak-tidaknya meminimalisir permasalahan ketenagakerjaan/ perburuhan yang timbul.
Sebelum tahun 2004, pemerintah dalam melakukan upaya tindakan preventifnya adalah dengan membentuk lembaga P4D (Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Daerah) dan P4P (Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat) yang diatur dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan, agar masalah ketenagakerjaan/ perburuhan dapat diselesaikan dengan baik dan adil. Disinilah dituntut suatu lembaga penyelesian sengketa perburuhan yang dapat bekerja optimal menuju suatu keadilan dengan tidak mengesampingkan independensinya. Akan tetapi lembaga P4D dan P4P bagaimanapun juga eksistensinya masih dirasakan cukup lemah, karena keberadaannya dibawah lembaga eksekutif yaitu Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Pasal 48 Undang-undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN).
Adanya upaya administratif ini adalah merupakan bagian dari suatu sistem peradilan administrasi, karena upaya administratif merupakan kombinasi atau komponen khusus yang berkenaan dengan PTUN, yang sama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan memelihara keseimbangan, keserasian dan keselarasan antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan masyarakat atau kepentingan umum, sehingga tercipta hubungan rukun antara pemerintah dan rakyat dalam merealisasikan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 (1).
Meskipun dengan adanya upaya administrasi diharapkan dapat menyelesaikan sengketa ketenagakerjaan yang masuk dalam lingkup hukum administrasi negara, tetapi dalam perkembangannya banyak kalangan (terutama yang awam terhadap hukum administrasi negara) berpendapat perkara khusus harus diselesaikan dengan peradilan khusus, artinya agar dicapainya suatu keadilan perlu dibentuk lembaga-lembaga peradilan khusus untuk menyelesaikan perkara-perkara tertentu. Salah satunya adalah dengan dibentuknya Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) yang kedudukannya berada dibawah Peradilan Umum serta menghapuskan keberadaan P4D dan P4P.
Dengan didudukannya PHI sebagai peradilan khusus mungkin para penganut paham tadi mengasumsikan bahwa masalah hubungan industri ketenagakerjaan merupakan masalah khusus sehingga harus diselesaikan secara khusus pula. Selain itu, upaya dari pemerintah dan DPR membentuk PHI adalah agar penyelesaian sengketa hubungan industrial dapat cepat, tepat, adil dan murah. Tetapi bagaimanakah realisasi setelah dibentuknya PHI, apakah sengketa ketenagakerjaan sebagai akibat dikeluarkannya keputusan tata usaha negara (KTUN) bukan lagi menjadi kewenangan PTUN ?. Dari permasalahan tersebut, penulis mencoba mendeskripsikan serta mengajak rekan-rekan atau para pembaca untuk mengkaji lebih lanjut dengan menggunakan analisa yuridis normatif dan mengenyampingkan anasir-anasir non yuridis, akan tetapi aspek penekanannya menggunakan hukum administrasi negara di Indonesia.
B. PHI Sebagai Pranata Penegakan Hukum Ketenagakerjaan
Berangkat dari permasalahan diatas, penulis mencoba untuk mengkaji fungsi dan kedudukan PHI menurut Undang-undang No.2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PPHI).
Aspek filosofis dibentuknya PHI adalah adanya suatu keinginan agar terwujud suatu hubungan industrial yang harmonis, dinamis dan berkeadilan yang secara optimal sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Apabila kita melihat nilai yang terkandung diatas, maka keberadaan PHI memang sangat dibutuhkan bahkan sangat urgen melihat masalah ketenagakerjaan yang semakin kompleks.
Meskipun sudah ada lembaga penegakan hukum ketenagakerjaan baik yang berada dibawah naungan lembaga eksekutif ( dahulu seperti P4D dan P4P) maupun lembaga yudikatif, tetapi masih dirasa belum mumpuni dalam hal penegakan norma hukum ketenagakerjaan. Oleh karena masalah-masalah ketenagakerjaan mempunyai nilai problematik yang khas, maka disepakati baik oleh pemerintah maupun DPR perlu lembaga penegak hukum khusus masalah ketenagakerjaan dan lembaga itu adalah PHI.
Dengan adanya kekhasan penyelesaian sengketa ketenagakerjaan, maka dalam PHI inipun membatasi perselisihan hubungan industrial ke dalam beberapa jenis, yaitu : perselisihan hak, perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja, dan perselisihan antara para serikat pekerja/ serikat buruh hanya dalam satu perusahaan (Pasal 2 Undang-Undang tentang PPHI).
Tetapi dengan adanya perselisihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 tersebut, bukan berarti setiap perselisihan ketenagakerjaan ini selalu harus diselesaikan melalaui PHI. Karena adanya PHI merupakan jalan terakhir apabila perselisihan dalam ketenagakerjaan, sedangkan upaya yang harus dilalui terlebih dahulu menurut nilai-nilai dalam Pancasila adalah dirundingkan atau dimusyawarahkan karena dengan adanya musyawarah para pihak yang berselisih diyakini apabila terselesaikan akan lebih baik dibanding diselesaikan melalui PHI.
Karena penyelesaian sengketa ketenagakerjaan melalui PHI merupakan jalan terakhir, maka diberikan kesempatan kepada para pihak yang berselisih melakukan penyelesaian melalui beberapa macam cara, seperti : bipartit, mediasi, konsiliasi, dan arbitrasi.
Segi positif dalam sistem penyelesaian sengketa perselisihan hubungan industrial menurut Undang-Undang tentang PPHI adalah penyelesaian lewat PHI lebih sederhana karena proses penyelesaian sengketa harus sudah selesai dalam kurun waktu kurang lebih 140 hari (2), dan ini berbeda dengan penyelesaian perselisihan ketenagakerjaan sebelumnya yang bisa memakan waktu sampai 3 tahun.
Tugas dan wewenang PHI menurut Pasal 55 Undang-Undang tentang PPHI adalah memeriksa dan memutus :
1. Perselisihan Hak sebagai pengadilan tingkat pertama.
2. Perselisihan Kepentingan sebagai pengadilan tingkat pertama sekaligus terakhir. 3. Perselisihan PHK sebagai pengadilan tingkat pertama.
4. Perselisihan antar SP/SB dalam satu perusahaan sebagai pengadilan tingkat pertama sekaligus terakhir.
pengusulan yang selanjutnya ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Negeri untuk jangka waktu 5 tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 kali masa jabatan. Selain itu salah satu persyaratan penting untuk menjadi Hakim Ad-hoc bukan harus dari seorang sarjana hukum melainkan strata satu (S1) yang berpengalaman di bidang hubungan industrial minimal 5 tahun. Sedangkan mengenai hukum acara yang digunakan adalah hukum acara perdata disamping hukum acara yang ada dalam Undang-Undang tentang PPHI. Sejak 14 Januari 2004 Undang-Undang tentang PPHI secara hukum sudah berlaku sah serta dapat diterapkan, dan beberapa wilayah di Indonesia saat ini sudah memiliki lembaga PHI sepeti : Jakarta, Medan, Semarang, dll.
C. Penyelesaian Sengketa Ketenagakerjaan di PTUN sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan TUN oleh Badan atau Pejabat TUN
Sebagaimana kita ketahui, yang menjadi pangkal sengketa dalam Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) adalah Keputusan TUN. Keputusan TUN adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkret, individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata (3).
Melihat pada definisi tersebut, yang menjadi pangkal sengketa dalam PTUN itu sangat terbatas pada keputusan saja, dan ini pun dipersempit lagi hanya Keputusan TUN yang tertulis saja. Hal ini berarti, tidak semua tindakan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara ini dapat digugat melalui PTUN. Namun, yang dapat digugat melalui PTUN sebatas Keputusan TUN saja. Tindakan-tindakan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang tanpa Keputusan TUN tidak menjadi obyek sengketa tata usaha negara (4).
Dari pengertian Keputusan TUN ini pula, apabila ditelaah lebih dalam lagi ternyata pengertian tersebut belumlah tuntas. Karena, pengertian Keputusan TUN yang termaktub dalam Pasal 1 angka 3 Undang-Undang tentang PTUN itu masih dikurangi dengan apa yang tercantum dalam Pasal 2 dan masih ditambah lagi dengan apa yang tercantum dalam Pasal 3 Undang-Undang tentang PTUN. Oleh karena itu Keputusan TUN yang bersifat konkret, individual, dan final inilah yang dapat digugat ke PTUN yang kemudian di putus oleh Hakim Tata Usaha Negara.
Apabila dipahami adanya Keputusan TUN meliputi beberapa bidang, seperti : bidang kepegawaian, pertanahan, perpajakan, ketenagakerjaan/perburuhan, dll. Sepanjang Badan atau Pejabat TUN mengeluarkan keputusan dalam rangka menjalankan urusan pemerintahan dan masuk dalam kriteria Pasal 1 angka 3 Undang-Undang tentang PTUN, maka apabila ada sengketa yang berkenaan dengannya sudah masuk kewenangan absolut PTUN untuk menyelesaikannya.
Menurut hukum administrasi negara (hukum publik), wewenang-wewenang dalam urusan pemerintahan (eksekutif) bukanlah merupakan monopoli instansi-instansi resmi di lingkungan pemerintah dibawah Presiden saja. Demikian halnya karena dalam kenyataan kehidupan sehari-hari berbagai tugas pemerintahan berada pada instansi-instansi di luar pemerintah, seperti : badan-badan hukum perdata yang didirikan oleh pemerintah sendiri (mis : BUMN/BUMD dan Bank Pemerintah), instansi-instansi yang merupakan hasil kerjasama antara pemerintah dengan pihak swasta (mis : Pemda DKI kerjasama dengan PT Pembangunan Jaya), dan kadangkala suatu badan swasta murni melalui peraturan perundang-undangan atau sistem perizinan diberi wewenang untuk melaksanakan dan bertindak sebagai pelaksana suatu bidang urusan pemerintahan (mis : lembaga-lembaga swasta yang bergerak dibidang pendidikan, kegiatan sosial, kesehatan, dll). Dengan alasan itulah, menurut Indroharto bahwa apa saja atau siapa saja yang dapat disebut sebagai Badan atau Pejabat TUN dengan nama apapun secara garis besar dapat dikelompokkan dalam (5) :
1. Instansi-instansi resmi pemerintah yang berada di bawah Presiden sebagai kepala eksekutif.
2. Instansi-instansi dalam lingkungan kekuasaan negara di luar lingkungan kekuasaan eksekutif yang berdasarkan peraturan perundang-undangan melaksanakan suatu urusan pemerintahan.
3. Badan-badan hukum perdata yang didirikan oleh pemerintah dengan maksud untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan.
4. Instansi-instansi yang merupakan kerjasama antara pihak pemerintah dengan pihak swasta yang melaksanakan tugas-tugas pemerintahan.
5. Lembaga-lembaga hukum swasta yang berdasarkan peraturan perundang-undangan dan sistem perizinan melaksanakan tugas-tugas pemerintahan.
Dari uraian diatas, menurut penulis dalam kenyataanannya hukum administrasi negara terlihat sudah semakin berkembang pesat dan maju. Hal ini dikarenakan semakin berkembang dan majunya suatu negara banyak terjadi pelimpahan-pelimpahan wewenang yang banyak dimiliki oleh pemerintah. Proses pelimpahan wewenang dari pemerintah kepada instansi diluar pemerintah ini merupakan suatu keharusan karena dinamika kehidupan sosial dan pembangunan/ modernisasi yang menuju kepada globaliasi sesuatu yang tidak bisa dihindari lagi. Adanya era globalisasi membuat tugas-tugas yang diemban pemerintah semakin kompleks sehingga untuk efisiensi dan efektifitas pembangunan secara politis dan sesuai konstitusi sudah disepakati perlu adanya pelimpahan wewenang tersebut sepanjang bukan yang berkenaan dengan pengambil kebijakan publik maupun menyangkut kepentingan hajat hidup rakyat Indonesia.
Setelah ditelusuri mengenai apa saja yang bisa dijadikan sebagai subjek dan objek dalam sengketa TUN, maka permasalahan selanjutnya apakah setelah dibentuknya PHI sengketa TUN yang berkenaan dengan ketenagakerjaan sudah bukan lagi menjadi kewenangan PTUN untuk mengadilinya ?.
Sedangkan mengenai penyelesaian sengketa melalui upaya administrasi sebagaimana dimaksud Pasal 48 Undang-Undang tentang PTUN, penulis berpendapat setelah dibentuknya PHI berdasarkan Pasal 125 Undang-Undang tentang PPHI, PTTUN selaku pengadilan tingkat pertama sudah tidak berwenang lagi menyelesaikan perselisihan ketenagakerjaan/perburuhan karena P4D dan P4P sudah tidak ada lagi eksistensinya.
Dalam hal ini pun penulis sependapat PHI berada dibawah Peradilan Umum karena perselisihan yang terjadi antara tenaga kerja/ buruh atau SP/SB dengan organisasi pengusaha biasanya bersifat keperdataan. Tetapi perlu dicatat, bahwa tidak selamanya sengketa yang berkenaan dengan ketenagakerjaan/ perburuhan bersifat perdata/ privat, karena pada dasarnya ketentuan-ketentuan ketenagakerjaan/ buruh itu kadangkala masuk wilayah hukum publik. Oleh karena itu penulis sependapat dengan Koko Kosidin yang dalam disertasinya menyatakan mengenai pemahaman yang luas dari hukum ketenagakerjaan atau perburuhan ini, yaitu di samping bersifat keperdataan juga bersifat publik karena menyangkut pula pengaturan mengenai kebijakan pemerintah di dalamnya6). Pendapat yang sama diungkapkan oleh Hari Supriyanto dalam salah satu penelitiannya tentang hukum ketenagakerjaan/ perburuhan dengan menyitir pendapat Pitlo dan Utrecht, yang menyatakan pengaturan lapangan hukum ketenagakerjaan/ perburuhan termasuk pengaturan yang menyangkut van openbare orde (aturan-aturan hukum publik), yaitu aturan-aturan yang menyangkut atau meliputi bagian-bagian yang esensial daripada struktur kehidupan masyarakat, dari sinilah pemerintah tidak dapat menghindari adanya campur tangan dilapangan ketenagakerjaan/ perburuhan. Turut campur tangannya pemerintah secara aktif di lapangan ketenagakerjaan karena pemerintah dalam segala segi kehidupan sosial membawa suatu “enorme utibouw van de sociale wetgeving” dan suatu “enorme groei van het adminitrative recht”, dengan demikian aktifnya pemerintah tersebut adalah dalam rangka penyelenggaraan kesejahteraan umum yang menuju suatu negara kesejahteraan (welfare state) 7).
D. Kesimpulan
Berdasarkan permasalahan yang ada dan argumentasi hukum oleh penulis, maka dapat disimpulkan berkenaan dengan materi yang sedang dibahas yaitu kedudukan PHI sebagai peradilan khusus sudah sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu berada di bawah Peradilan Umum, sedangkan mengenai fungsi dan kewenangannya adalah hanya menangani masalah ketenagakerjaan/ perburuhan yang bersifat keperdataan maupun pidana, sedangkan yang sifatnya sengketa tata usaha negara termasuk wilayah HAN bukanlah merupakan kompetensi PHI untuk menyelesaikan perkara tersebut melainkan kewenangan absolut PTUN. Dengan demikian, penulis mengajak para pembaca (terutama bagi kalangan eksekutif, politisi, akademisi maupun praktisi) dalam membentuk dan menerapkan suatu aturan harus memilah dari segi keilmuan hukum, atau dengan kata lain janganlah sampai terjadi disharmonisasi atau overlap peraturan perundang-undangan (inilah yang sering terjadi di Indonesia), oleh karenanya harus mengacu pada teori-teori suatu bidang keilmuan hukum serta menghilangkan anasir-anasir politis/ non yuridis.
1) SF.Marbun, Peradilan Administrasi Negara dan Upaya Administrasi di Indonesia, Liberty, 1997, Yogyakarta, hlm.83.
kerja terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan Kasasi harus sudah memutusa perkara tersebut.
3) Lihat : Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Tentang PTUN.
4) Menurut sistem hukum kita, kewenangan untuk menilai perbuatan materiil dari badan atau pejabat TUN ini tidak termasuk kompetensi PTUN, Kewenangan untu menilai perbuatan ini diserahkan kepada Peradilan Umum atau perdata, yang didasarkan penafsiran yang luas dari Pasal 1365 KUHPerdata (tentang onrechtmatig daad)
5) Lihat Indroharto, Usaha Memahami Undang-Undang Tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2000, hlm. 135-137.
6) Koko Kosidin, Aspek-Aspek Hukum Dalam Pemutusan Hubungan Kerja Di Lingkungan Perusahaan Perseroan (PERSERO), Disertasi Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, Bandung, 1996, hlm.305-307.
7) lihat Hari Supriyanto, Perubahan Hukum Privat ke Hukum Publik (Studi Hukum Perburuhan di Indonesia), Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, 2004, hlm.77 dan 81.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah sebuah sistem Jaminan sosial yang diberlakukan di Indonesia. Jaminan sosial ini adalah salah satu bentuk perlindungan sosial yang
diselenggarakan oleh negara Republik Indonesia guna menjamin warganegaranya untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar yang layak, sebagaimana dalam deklarasi PBB tentang HAM tahun 1948 dan konvensi ILO No.102 tahun 1952.[1]
Dasar Hukum
1. Dasar Hukum pertama dari Jaminan Sosial ini adalah UUD 1945 dan perubahannya tahun 2002, pasal 5, pasal 20, pasal 28, pasal 34.
2. Deklarasi HAM PBB atau Universal Declaration of Human Rights tahun 1948 dan konvensi ILO No.102 tahun 1952.
3. TAP MPR RI no X/MPR/2001 yang menugaskan kepada presiden RI untuk membentuk Sistem Jaminan Sosial Nasional.
4. UU No.40 tahun 2004 tentang SJSN
Keterangan
Manfaat program Jamsosnas tersebut cukup komprehensif, yaitu meliputi jaminan hari tua, asuransi kesehatan nasional, jaminan kecelakaan kerja, dan jaminan kematian. Program ini akan mencakup seluruh warga negara Indonesia, tidak peduli apakah mereka termasuk pekerja sektor formal, sektor informal, atau wiraswastawan.
Paradigma Jamsosnas
Sistem jaminan sosial nasional dibuat sesuai dengan “paradigma tiga pilar” yang
direkomendasikan oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO). Pilar-pilar itu adalah :
1. Program bantuan sosial untuk anggota masyarakat yang tidak mempunyai sumber keuangan atau akses terhadap pelayanan yang dapat memenuhi kebutuhan pokok mereka. Bantuan ini diberikan kepada anggota masyarakat yang terbukti mempunyai kebutuhan mendesak, pada saat terjadi bencana alam, konflik sosial, menderita penyakit, atau kehilangan pekerjaan. Dana bantuan ini diambil dari APBN dan dari dana masyarakat setempat.
2. Program asuransi sosial yang bersifat wajib, dibiayai oleh iuran yang ditarik dari perusahaan dan pekerja. Iuran yang harus dibayar oleh peserta ditetapkan berdasarkan tingkat pendapatan/gaji, dan berdasarkan suatu standar hidup minimum yang berlaku di masyarakat.
3. Asuransi yang ditawarkan oleh sektor swasta secara sukarela, yang dapat dibeli oleh peserta apabila mereka ingin mendapat perlindungan sosial lebih tinggi daripada jaminan sosial yang mereka peroleh dari iuran program asuransi sosial wajib. Iuran untuk program asuransi swasta ini berbeda menurut analisis risiko dari setiap peserta.
Asas Jamsosnas
Program Jamsosnas diselenggarakan menurut asas-asas berikut ini:
1. Asas saling menolong (gotong royong): peserta yang lebih kaya akan membantu peserta yang kurang mampu, peserta yang mempunyai risiko kecil akan membantu peserta yang mempunyai risiko lebih besar, dan mereka yang sehat akan membantu mereka yang sakit
2. Asas kepesertaan wajib: seluruh penduduk Indonesia secara bertahap akan diwajibkan untuk berpartisipasi dalam program Jamsosnas
3. Asas dana amanah (trust fund): dana yang dikumpulkan dari peserta akan dikelola oleh beberapa Badan Pengelola Jamsosnas dalam sebuah dana amanah yang akan dipergunakan semaksimal mungkin untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh peserta
4. Asas nirlaba: dana amanah ini harus bersifat nirlaba dan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan jaminan sosial seluruh peserta
5. Keterbukaan, pengurangan risiko, akuntabilitas, efisiensi, dan efektifitas: dasar pengelolaan ini akan digunakan sebagai dasar pengelolaan program Jamsosnas 6. Portabilitas: peserta akan terus menjadi anggota program Jamsosnas tanpa
memedulikan besar pendapatan dan status kerja peserta, dan akan terus menerima manfaat tanpa memedulikan besar pendapatan dan status keluarga peserta sepanjang memenuhi kriteria tertulis untuk menerima manfaat program tersebut.
Program jaminan hari tua (JHT) adalah sebuah program manfaat pasti (defined benefit) yang beroperasi berdasarkan asas “membayar sambil jalan” (pay-as-you-go). Manfaat pasti
program ini adalah suatu persentasi rata-rata pendapatan tahun sebelumnya, yaitu antara 60% hingga 80% dari Upah Minimum Regional (UMR) daerah di mana penduduk tersebut
bekerja. Setiap pekerja akan memperoleh pensiun minimum pasti sejumlah 70% dari UMR setempat. Jaminan Kesehatan
Program Jaminan Kesehatan Sosial Nasional (JKSN) ditujukan untuk memberikan manfaat pelayanan kesehatan yang cukup komprehensif, mulai dari pelayanan preventif seperti imunisasi dan Keluarga Berencana hingga pelayanan penyakit katastropik seperti penyakit jantung dan gagal ginjal. Baik institusi pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta dapat memberikan pelayanan untuk program tersebut selama mereka menandatangani sebuah kontrak kerja sama dengan pemerintah [2]
Badan Penjamin Jaminan Sosial
Berdasarkan [[UU No. 40 Tahun 2004 tentang SJSN, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah :
1. Badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial (pasal 1 ayat 6)
2. Badan hukum nirlaba (pasal 4 dan Penjelasan Umum) 3. Pembentukan dengan Undang-undang (pasal 5 ayat 1)
Lihat pula
1. ^ http://sjsn.menkokesra.go.id/dokumen/publikasi/buku_reformasi_sjsn_ind.pdf 2. ^ http://www.smeru.or.id/report/workpaper/jamsosnas/Jamsosnasind.pdf
Sistem Jaminan Sosial Nasional: Apakah itu? Monday, 13 September 2010 20:43 administrator
Seperti menemukan air di gurun, ketika Presiden Megawati mensahkan UU No. 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) pada 19 Oktober 2004, banyak pihak berharap tudingan Indonesia sebagai ”negara tanpa jaminan sosial” akan segera luntur. Kenyataannya jauh panggang dari api, sudah lewat lima tahun UU SJSN itu disahkan, hingga kini belum kunjung terealisasi. Berikut adalah beberapa hal yang diatur dalam UU SJSN ini. Sistem Jaminan Sosial Nasional bertujuan memberi kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia seumur hidup. Melalui program ini, setiap penduduk diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak apabila terjadi hal-hal yang dapat mengakibatkan hilang atau berkurangnya pendapatannya, karena menderita sakit, mengalami kecelakaan, kehilangan pekerjaan, memasuki usia lanjut, atau pensiun.
ataupun informal selama dia mampu wajib mengiur tiap bulannya sesuai dengan prosentasi tertentu untuk jaminan sosialnya.
Sedangkan bantuan sosial maksudnya pemerintah akan memberikan bantuan iuran bagi penduduk miskin atau orang tidak mampu. Intinya SJSN harus menjamin bahwa seluruh rakyat baik itu PNS, buruh formal ataupun informal, petani, nelayan, pedagang kecil dan sebagainya mendapatkan benefit (manfaat) yang sama atas jaminan sosial, yang berarti sama-sama hidup bermartabat.
SJSN ini meliputi jaminan kesehatan, jaminan kematian, jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua dan jaminan pensiun. Dalam UU SJSN ditetapkan sebelas prinsip dasar yang menjadi acuan dan landasan dalam menyelenggarakan sistem jaminan sosial nasional ini, yaitu:
1. Kegotongroyongan. Kebersamaan antar-peserta dengan kewajiban membayar iuran (yang berpenghasilan tinggi membantu yang berpenghasilan rendah, yang mampu membantu yang kurang mampu, yang berisiko rendah membantu yang berisiko tinggi, dan yang sehat membantu yang sakit).
2. Nirlaba. Pengelolaannya mutlak untuk memberi manfaat kepada peserta, dan bukan melulu komisaris yang biasanya datang dari unsur pemerintah.
3. Keterbukaan. Informasi harus mudah diakses oleh semua penduduk.
4. Kehati-hatian. Dijalankan secara cermat, teliti, aman dan tertib.
5. Akuntabilitas. Harus akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan. 6. Portabilitas. Jaminan berkelanjutan di seluruh wilayah RI. Prinsipnya peserta harus selalu aman (security) kapan dan di mana pun ia berada di dalam jurisdiksi Indonesia. Peserta yang berpindah pekerjaan atau berpindah tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus selalu menerima manfaat.
7. Kepesertaan bersifat wajib. Seluruh penduduk menjadi peserta Jaminan Sosial secara bertahap.
8. Dana amanat. Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan titipan (bukan pendapatan bukan anggaran) kepada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial untuk dikelola sebaik-baiknya untuk kesejahteraan peserta.
9. Hasil pengelolaan Dana. Hasilnya dikembalikan untuk kepentingan peserta.
10. Asuransi sosial. Kaya miskin, sehat sakit, tua muda, resiko rendah dan tinggi semuanya berhak atas jaminan sosial.
11. Ekuitas. Kesamaan dalam memperoleh pelayanan.
adalah merumuskan Rancangan Undang-Undang mengenai Badan penyelenggara Jaminan sosial (BPJS). UU inilah yang kelak mengatur bagaimana peran dan fungsi dari Badan penyelenggara jaminan sosial ini berdasarkan aturan dalam undang-undang SJSN.
UU inilah juga yang belum disusun oleh pemerintah, melampaui batas lima tahun sejak 19 Oktober 2004 yang diamanatkan UU SJSN. Untunglah DPR mengajukan hak inisiatif dengan memasukkan RUU BPJS ke dalam program legislasi nasional tahun 2010 ini. (riz)
http://www.pikiran-rakyat.com/node/159201
UU Sistem Jaminan Sosial Nasional Banyak Kelemahan
Rabu, 21/09/2011 - 06:51
JAKARTA, (PRLM).- Undang-undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dinilai lemah karena terkesan terburu-buru dalam pembahasannya. Selain itu, UU ini juga cenderung pada program asuransi kesehatan bukan jaminan sosial.
"Terlalu banyak kelemahan UU SJSN sehingga ditemukan banyak inskonsistensi dan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang perlu jawabannya," kata pengamat kebijakan publik, Ichsanuddin Noorsy di Jakarta, Selasa (20/9).
Menurut dia, UU yang ditandatangani pada akhir pemerintahan Megawati Soekarnoputri itu tidak terdapat pengaturan tentang bantuan sosial. Sejumlah 10 pasal di dalamnya mengatur kesehatan dan hanya empat pasal tentang jaminan lain.
Padahal, program jaminan sosial di antaranya mencakup jaminan kesehatan, jaminan kematian, jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, dan jaminan pensiiun.
Dalam UU SJSN dikatakan, jaminan kesehatan diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial (pasal 19 ayat 6), tetapi prinsip asuransi sosial tidak dikenal dalam badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS).
RUU BPJS saat ini sedang dibahas dalam panitia khusus (Pansus) di DPR. RUU BPJS adalah RUU yang mengatur badan penyelenggara jaminan sosial di mana program jaminan sosial diatur dalam UU SJSN. RUU BPJS mengenal prinsip kebersamaan dan gotong royong melalui iuran bersama peserta dan pemberi kerja.
Ichsanuddin juga mengkritisi pasal 17 ayat 4 UU SJSN yang menyatakan iuran untuk
Pasal 17 ayat 5 dikatakan pada tahap pertama, iuran dibayar oleh pemerintah untuk program jaminan kesehatan. "Bagaimana dengan tahap selanjutnya? Siapa yang membayarnya?" kata dosen yang mengajar di sejumlah universitas negeri dan swasta itu.
Kemudian, pada pasal 44 dikatakan peserta Jaminan Kematian adalah setiap orang yang telah membayar iuran. Pertanyaannya yang muncul, bagaimana dengan mereka yang tidak
membayar iuran?
Begitu juga dengan pasal 46 yag menyatakan iuran Jaminan Kematian ditanggung oleh pemberi kerja, sementara prinsip iuran dibayar bersama antara peserta dan pemberi kerja.
Sebelumnya, Ketua Umum Komunitas Jamsosnas Indonesia (KJI) Achmad Subianto mencatat sedikitnya ada 18 hal yang perlu dicermati dalam UU SJSN tersebut. Hal tersebut merupakan kesimpulan dari sejumlah diskusi demi perbaikan dan penyempurnaan UUS SJSN. (A-78/das)***
Sabtu, 11 Juni 2011 | 08:55 WIB 0 Komentar
Tak peduli kaya atau miskin, setiap orang Indonesia kini tengah diupayakan untuk memiliki lima jaminan sosial dasar yaitu Jaminan Kesehatan, Kecelakaan Kerja, Kematian, Pensiun, dan Hari Tua. Bagi kalangan yang mampu (nantinya) diharuskan membayar iuran, begitu pun para pemberi kerja (swasta maupun Pemerintah). Sebaliknya, fakir miskin dan orang tak mampu akan ditanggung
iurannya oleh Pemerintah.
Inilah yang dinamakan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Undang-undangnya telah ditandatangani Megawati Soekarnoputri, dua hari sebelum ia menyelesaikan masa jabatan kepresidenan. Dalam UU No. 40/2004 tentang SJSN itu disebutkan, Jaminan Sosial (jamsos) adalah salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hi-dupnya yang layak. Sedangkan SJSN dimaksudkan sebagai suatu tatacara penye-lenggaraan program jamsos oleh beberapa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
BPJS merupakan sebuah badan hukum baru yang dibentuk untuk menyelengga-rakan program jamsos. Pelaksanaannya akan mengusung sembilan prinsip SJSN yakni prinsip Kegotong-royongan, Nirlaba, Keterbukaan, Kehati-hatian, Akuntabilitas, Portabilitas, Kepesertaan bersifat wajib, Dana amanat, dan prinsip hasil pengelolaan dana jamsos nasional berupa deviden dari pemegang saham
yang dikembalikan untuk kepentingan peserta jamsos.
Kenapa mesti badan hukum baru? Karena, selama dekade terakhir ini, Indonesia sebenarnya telah menjalankan beberapa program jamsos. UU yang secara khusus mengatur jamsos bagi tenaga kerja swasta adalah UU No.3/1992 tentang Jamsostek, yang mencakup program jaminan pemeliharaan kesehatan,
kece-lakaan kerja, hari tua, dan kematian.
Untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS), telah dikembangkan program Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai negeri (Taspen) yang dibentuk dengan PP No. 26/1981 dan Program Asuransi Kesehatan (Askes) yang diselenggarakan berdasarkan PP No. 69/1991 yang bersifat wajib bagi PNS/Penerima Pensiun/Perintis
Kemerdekaan/Veteran dan anggota keluarganya.
merupakan perubahan atas PP No. 44/1971. Berbagai program jamsos tadi, sulit dipungkiri, baru menjamin sebagian kecil peserta/masyarakat. Sebagian besar rakyat belum memperoleh perlindungan yang memadai. Selain itu, pelaksanaan berbagai program tersebut pun belum mampu memberikan perlindungan yang adil dan memadai kepada para peserta sesuai dengan manfaat program yang menjadi haknya. Simak saja misalnya, potret nyata program Jaminan Kesehatan berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada 2010. Dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 237,5 juta jiwa, masih terdapat 116,9 juta jiwa penduduk (49,22%) yang belum memiliki program Jaminan Kesehatan. Sementara yang menjadi pe-serta Askes 95,2 juta jiwa, Jamsostek 4,4 juta jiwa, ASABRI 2 juta jiwa, Badan Pelaksana (Bapel) Asuransi 5 juta jiwa, dan peserta Asuransi Komersial 8,8 juta jiwa.
Nantinya, dengan pelaksanaan UU SJSN, program Jaminan Kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia tak akan lagi menyedihkan seperti itu. Karena, Jaminan Kesehatan akan diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas (kesamaan dalam memperoleh pelayanan sesuai dengan kebutuhan medisnya yang tidak terkait dengan besaran iuran yang telah dibayarkannya).
Sungguh, besarnya jumlah rakyat Indonesia yang selama ini hidup tanpa Jaminan Kesehatan tak dapat dianggap remeh. Selain program Jaminan Keseha-tan, dapat pula dibayangkan, dalam satu hari saja misalnya, berapa banyak orang Indonesia yang mengalami kecelakaan kerja, meninggal dunia, memasuki
masa pensiun, dan menjalani hari tuanya.
Disinilah, mudah untuk memprediksikan betapa besar tumpukan dan perputaran dana yang akan mengalir dalam operasional Asuransi Sosial ini. Karena memang, UU SJSN menyebutkan bahwa, Asuransi Sosial adalah suatu mekanisme pengum-pulan dana yang bersifat wajib yang berasal dari iuran guna memberikan perlindungan atas resiko sosial ekonomi yang menimpa peserta dan/atau
ang-gota keluarganya.
Secara teori, SJSN memberi nafas baru bagi harkat kehidupan seluruh rakyat Indonesia, meskipun, disebutkan juga bahwa peserta (program jamsos nasional) adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat enam bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran alias sejumlah uang yang dibayar secara teratur oleh peserta, pemberi kerja, dan/atau Pemerintah. Kini, terkait upaya melaksanakan UU SJSN, masih dilakukan pembahasan intensif antara Pemerintah dengan tim Pansus dan Panja DPR RUU BPJS. Bila persidangan yang alot dan sempat dicibir---karena rapat kerja Panja DPR dan Pemerintah pada 6-8 Juni kemarin dilangsungkan secara tertutup di hotel mewah berbintang lima---ini berhasil membuahkan pengesahan BPJS, maka rakyat patut bersyukur karena program jamsos nasional sebagai hak sekaligus kewajibannya sudah di
pelupuk mata.
Meskipun, bila diikuti persidangan raker tersebut selalu menyemburatkan kesan bahwa Pemerintah tak serius dan berusaha mengulur-ulur waktu pembahasan. Dampaknya, bila praktek politik ‘mulur-mengkeret’ ini tetap dimainkan, akan membuat pembahasan menjadi deadlock, sehingga RUU BPJS tidak dapat disahkan pada periode saat ini. Artinya pula, dambaan rakyat agar segera
diber-lakukannya UU SJSN menjadi pupus lagi.
Untuk itu, seluruh pihak, nampaknya harus lebih aware dengan upaya menjalankan amanat konstitusi. Termasuk yang telak-telak disebut dalam UU SJSN, diantaranya Fasilitas Kesehatan yang meliputi rumah sakit, dokter praktek, klinik, laboratorium, apotek dan fasilitas kesehatan lainnya yang tentu saja harus telah diakui serta memiliki izin dari instansi Pemerintah yang bertanggung-jawab
Selain itu, pihak asosiasi fasilitas kesehatan juga musti mempersiapkan diri untuk melaksanakan UU SJSN. Maklum, Pasal 24 misalnya, menyebutkan bahwa besarnya pembayaran kepada fasilitas kesehatan untuk setiap wilayah di-tetapkan berdasarkan kesepakatan antara BPJS dan asosiasi fasilitas kesehatan. Contoh asosiasi fasilitas kesehatan ini sebut saja misalnya, Asosiasi Rumah Sakit Daerah Seluruh Indonesia (Arsada), Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI), Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi), dan lainnya. Karenanya, meski agak terlambat, disarankan kepada seluruh pihak terkait untuk segera melakukan sejumlah hal. Pertama, mengikuti dan memantau per-kembangan atas pembahasan rapat kerja Pansus dan Panja DPR dengan Peme-rintah tentang RUU BPJS. Karena, hingga pekan kedua Juni ini, Panja DPR RUU BPJS dan Pemerintah baru menyepakati garis besar dari tujuh hal yang krusial (definisi BPJS, bentuk badan hukum, jumlah, organ, masa peralihan atau transisi dan transformasi Program, Kepesertaan, Aset dan Kelembagaan dari empat BUMN-Askes, Jamsostek, Taspen, dan Asabri, Bab Kepesertaan dan Iuran, serta
Bab tentang Sanksi).
Kedua, mulai mempelajari dan mengintensifkan sosialisasi UU SJSN. Dan ketiga, melakukan penyesuaian dan pemantapan sedini mungkin terkait pelaksanaan
UU SJSN.
Patut pula mengamini seruan Rieke Diah Pitaloka Intan Permatasari, politisi PDIP yang menjadi anggota Pansus dan Panja DPR RUU BPJS, agar seluruh elemen masyarakat berada dalam satu barisan guna memperjuangan pengesahan RUU BPJS dan menjalankan UU SJSN. Karena, tidak ada keadilan dan kesejahteraan
sosial tanpa SJSN.
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/473994/ Kemenkes Berikan Jaminan Ketersediaan Obat
untuk BPJS
Thursday, 01 March 2012
JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan kesiapannya untuk memenuhi kebutuhan obat pada pelaksanaan program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan 2014.
Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes Maura Linda Sitanggang mengatakan, saat ini ada 94 juta dosis obat untuk masyarakat Indonesia. Saat penyelenggaraan BPJS Kesehatan pada 2014,kebutuhan obat naik diperkirakan 2,5 – 3 kali lipat. “Secara universal di Indonesia kebutuhan obat di Indonesia pada 2014 bisa mencapai 240 juta dosis. Sebagai informasi,90% industri farmasi diproduksi di dalam negeri sehingga untuk persiapan BJPS diprediksi akan sangat siap,” kata Linda seusai menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemenkes 2012 di Jakarta kemarin.
Beberapa tahun ini mencuat masalah peningkatan obat tidak rasional seperti penggunaan antibiotik yang berlebihan dan over-preskripsi, dokter meresepkan obat secara berlebihan karena faktor bisnis. Namun, dengan pemberlakuan BPJS, dia memastikan, semua akan lebih terkontrol karena menjadi bagian sebuah sistem.
Wakil Menteri Kesehatan Ali Gufron Mukti mengatakan, dari regulasi yang dipersiapkan Kemenkes untuk penyelenggaraan BPJS Kesehatan, akan dicantumkan juga aturan mengenai ketersediaan, pasokan, dan penjualan obat. Gufron menjelaskan,menurut amanat UU No 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), ada 11 peraturan pemerintah (PP)
Sedangkan di dalam UU No 24/2011 tentang BPJS ada delapan PP yang harus disusun. “Kami sudah mempersiapkan tim. Berdasarkan perkembangan, dari sisi regulasi BPJS Kesehatan cukup dengan dipayungi satu PP dan satu peraturan presiden (perpres) saja. Tim ini juga akan mengatur persiapan ketersediaan obat pada penyelenggaraan BPJS Kesehatan,”ungkapnya.
Lebih lanjut Gufron mengatakan, aturan mengenai ketersediaan, pasokan,dan penjualan obat ini akan dicantumkan pada peraturan mengenai susunan paket pelayanan dasar jaminan kesehatan. radi saputro
BPJS Siapkan Layanan Pekerja
Friday, 24 February 2012
JAKARTA – PT Jaminan Sosial Tenaga (Jamsostek) Persero menjamin tidak akan ada perbedaan kualitas layanan kesehatan kepada pekerja setelah program jaminan kesehatan diambil alih oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Direktur Pelayan PT Jamsostek Djoko Sungkono mengatakan, pemerintah tetap akan menjaga agar kualitas pelayanan jaminan kesehatan para pekerja tidak akan menurun. “Jadi nanti pemerintah membentuk tim sebagai upaya untuk mempersiapkan peraturan sebagai petunjuk pelaksana UU No 24/2011 tentang BPJS. UU ini merupakan petunjuk pelaksana UU No 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN),” ungkapnya kepada wartawan di Jakarta kemarin. Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) Jamsostek akan dikelola
badan hukum BPJS Kesehatan mulai 2014.
Dia menjelaskan,UU BPJS mengamanatkan pembentukan BPJS Kesehatan yang merupakan transformasi dari PT Askes (Persero) dan BPJS Ketenagakerjaan yang salah satunya merupakan transformasi dari PT Jamsostek (Persero). Dengan ini,program JPK yang dilaksanakan PT Jamsostek untuk pekerja dan keluarganya akan diambil alih oleh BPJS Kesehatan. Wakil Ketua Komisi IX DPR Irgan Chairul Mahfiz meminta PT Jamsostek segera menyesuaikan diri dengan UU BPJS yang tidak akan menyelenggarakan JPK mulai 1 Januari 2014.
Dia juga mengingatkan PT Jamsostek untuk tidak melakukan pengurangan karyawan akibat peralihan ini. Peralihan JPK kepada BPJS Kesehatan juga tidak akan bermasalah karena tinggal menyesuaikan sistem.Irgan pun menjamin, premi program JPK tidak akan lebih tinggi dari yang berlaku sekarang. Premi JPK Jamsostek saat ini sebesar 3% untuk pekerja yang masih lajang radi saputrodan 6% bagi pekerja yang sudah berkeluarga.
UJI MATERI
Pemohon Diingatkan soal Gugatan UU SJSN
JAKARTA (Suara Karya): Hakim konstitusi Achmad Sodiki mengingatkan "penggugat" Undang-Undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) agar memikirkan gugatannya.
Salah satu alasan Achmad Sodiki, karena pendaftaran yang dipersoalkan penggugat justru penting untuk mendapat jaminan sosial dari pemerintah.
"Mendaftar itu penting karena untuk memprediksi kewajiban negara berapa yang harus ditanggung secara pasti, agar negara tahu
berapa yang dianggarkan," ujarnya usai sidang di Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, akhir pekan lalu.
Achmad Sodiki juga menyatakan, jika ke-22 Pasal UU SJSN
dibatalkan maka itu berarti tidak ada aturan bagi sistem jaminan sosial. "Kalau dibatalkan lalu mana yang mengatur, justru kalau semua pasal dibatalkan tidak bisa dilaksanakan sistem jaminan sosial. Jadi permohonan uji materiil ini harus dipikirkan kembali," sarannya.
Pendapat dan saran Achmad Sodiki didukung hakim konstitusi Ahmad Fadhil Sumadi. "Kalau dibatalkan semua, sistem jaminan sosial bukannya membaik tapi justru tidak bisa dilaksanakan karena tak ada landasan hukum," katanya mengingatkan.
14 warga negara di antaranya Fathul Hadie Utsman, Abdul Halim Soebahar, Kholiq Syafaat, dan Qomari menggugat 22 Pasal UU SJSN.
Mereka menilai pasal-pasal itu tidak dapat memberikan jaminan sosial kepada fakir miskin dan anak-anak terlantar. "Kami menguji UU ini karena kami merasa hak-hak konstitusi kami terabaikan, tidak terpenuhi atau minimal dikurangi karena adanya UU SJSN ini," ujar Fathul Hadie Utsman.
Meski UU SJSN sudah jelas mengatur tentang jaminan sosial, ia menganggap UU itu tidak memenuhi hak-hak warga negara yang diatur dalam konstitusi, terutama untuk fakir miskin dan anak-anak terlantar.
"Fakir miskin dan anak-anak terlantar hanya mendapat jaminan kesehatan, itupun bagi mereka yang sudah mendapatkan kartu jaminan kesehatan masyarakat miskin, kartu keluarga miskin atau sejenisnya. Bagi yang tidak dapat kartu tersebut jangan harap mendapat layanan jaminan kesehatan," ujarnya.
Menurutnya, dengan UJSN ke depan fakir miskin tidak dapat jaminan apa-apa. "Hanya ada UU-nya, tetapi tak ada aturannya. Sewaktu-waktu bisa diubah, bisa dihindari karena tidak ada jaminan sosial bagi fakir miskin untuk mendapat haknya yang telah dijamin Konstitusi. Ini tidak ada kepastian hukum dan melanggar konstitusi karena pemerintah seharusnya memenuhi hak-hak fakir miskin," paparnya.
UU SJSN disebutkan hanya menjamin warga negara yang
dibayarkan iurannya tidak akan mendapat manfaat dari sistem jaminan sosial sekarang ini. (Wilmar P)
INFORMASI SEMINAR SISTEM JAMINAN SOSIAL
NASIONAL (SJSN)
Januari 13, 2012 wandyTinggalkan komentarGo to comments
Melalui UU tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), PT (Persero) Askes akan ditransformasi menjadi BPJS Kesehatan yang mengelola program Jaminan Kesehatan bagi seluruh penduduk. Karenanya, BPJS Kesehatan akan menerima pengalihan pengelolaan program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan dan program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) Jamsostek.
Hingga bulan Agustus 2011, dari sekitar 41,5 juta pekerja sektor formal di Indonesia, baru sekitar 2,4 juta tenaga kerja (dengan 5,6 juta tertanggung) yang sudah menjadi peserta program JPK Jamsostek. Artinya, tantangan BPJS Kesehatan untuk memperluas cakupan kepesertaan masih sangat berat.
Oleh karena itulah, sosialisasi yang ditujukan untuk menguatkan kepedulian, kepatuhan, dan penegakan hukum untuk mempercepat cakupan kepesertaan semesta dalam program Jaminan Kesehatan, harus dilakukan secara intensif.
Pembicara:
1. dr. Ahmad Nizar Shihab, Sp.An. (Wakil Ketua Komisi IX DPR RI);
2. drg. Usman Sumantri, M.Kes. (Kepala Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan, Kemkes RI);
3. dr. Wahyu Handoko, MM. (Kepala Regional IX PT Askes (Persero);
4. Prof. Dr. dr. Muhammad Alimin Maidin, MPH. (Dekan FKM Universitas Hasanuddin); dan
5. Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH., Dr.PH. (Pakar jaminan kesehatan/Pendiri IJSI).
TEMPAT :
Auditorium Prof. Ahmad Amiruddin Fak. Kedokteran Universitas Hasanuddin Rabu, 18 Januari 2012
Pengganti Makalah, Sertifikat dan Snack Perusahaan Rp. 100.000,- Mahasiswa Rp.
30.000,-Dukungan & Informasi:
Tony : +62 813 2029 5409
Eda : +62 813 5528 7543
Website : www.inssin.org/kegiatan
Email : [email protected]
Facebook : www.facebook.com/IJSIndonesia
Twitter : www.twittercom/IJSIndonesia
Kajian Sistem Jaminan Sosial Nasional
May 25, 2010 | admin | Publikasi | No Comments
Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah sistem penyelenggaraa program Negara dan pemerintah untuk memberikan perlindungan sosial agar setiap penduduk dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak menuju terwujudnya kesejahteraan sosial bagi seluruh penduduk Indonesia. Jaminan Sosial diperlukan apabila terjadi hal-hal yang tidak
dikehendaki yang dapat mengakibatkan hilangnya atau berkurangnya pendapatan seseorang baik karena memasuki usia lanjut atau pensiun maupun karena gangguan kesehatan, cacat, kehilangan pekerjaan dan lain sebagainya.
Pengembangan sistem jaminan sosial nasional di Indonesia masih sangat lemah dan lembaga penyelenggara jaminan sosial yang ada masih berjalan sendiri-sendiri, belum terintegrasi dengan agenda pembangunan nasional. Jaminan sosial dapat diwjudkan melalui antara lain mekanisme asuransi sosial dan tabungan sosial. Adanya perlindungan terhadap resiko soial ekonomi melalui asuransi sosial dapat, mengurangi beban belanja Negara dalam penyediaan dana bantuan sosial yang memang sangat terbatas. Melalui prinsip kegotong royongan mekanisme asuransi sosial merupakan sebuah instrument Negara yang kuat dan digunakan di hampir seluruh Negara maju dalam menanggulangi resiko sosial ekonomi yang setiap saat dapat terjadi pada setiap warga Negara.
bekerja, menjanda, hari tua …..”. Konvensi ILO No 102 tahun 1952 menganjurkan agar semua Negara di dunia memberi perlindungan dasar kepada setiap warga negara dalam rangka memenuhi Deklarasi PBB tentang Hak Jaminan sosial. Konvensi ini menyatakan bahwa setiap Negara harus bertang-gungjawab terhadap tiga perlindungan dasar bagi masyarakatnya, perlindungan hari tua atau penggangguran, kecelakaan kerja, dan kematian. Diabaikannya perlindungan tersebut dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia.
Sejalan dengan perkembangan strategis berkaitan dengan penyelenggaraan jaminan sosial, pemerintah telah menetapkan UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Undang-undang tersebut mengamanatkan, bahwa “setiap orang berhak atas
jaminan soaial untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak dan meningkatkan martabatnya menuju terwujudnya masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur serta memberikan jaminan sosial yang menyeluruh, Negara mengembangkan sistem jaminan bagi seluruh rakyat Indonesia”. Program jaminan sosial yang diatur dalam UU SJSN ada 5 jenis, meliputi: (1) Jaminan Kesehatan; (2) Jaminan Kecelakaan Kerja; (3) Jaminan Hari Tua; (4) Jaminan Pensiun; dan (5) Jaminan Kematian.
Kajian ini membahas tentang pelaksanaan undang-undang nomor 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional khususnya program Jaminan Kesehatan. Tujuan dari kajian ini untuk mengiden-tifikasi berbagai kebijakan yang berkaitan dengan program jaminan kesehatan, dan untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan dalam pelaksanaan program jaminan kesehatan yang meliputi: (1) kebijakan ; (2) aspek kelembagaan; (3) sumber dana/keuangan; dan (4). Kepesertaan, hak dan kewajiban. Dalam kajian ini digunakan data lapangan baik data sekunder maupun data primier yang relevan dan mendukung topik kajian. Disamping itu, dilakukan pula diskusi terbatas dengan mengundang para ahli/pakar dan praktisi dari berbagai lembaga/ institusi yang menyelenggarakan program jaminan sosial khususnya pogram jaminan kesehatan. Data dan informasi yang berkaitan dengan program jaminan kesehatan diperoleh dari berbagai sumber baik pusat maupun daerah kajian, seperti: (1) PT Askes (Persero); (2) PT Jamsostek (Persero); (3) Departemen Kesehatan, serta lembaga-lembaga lain yang terkait dengan fokus kajian. Sedangkan daerah yang dijadikan obyek kajian, antara lain: (1) Propinsi Bali, (2) Propinsi Jawa Timur, (3) Propinsi Jawa Tengah, (4) Daerah Istimewa Yogyakarta, (5) Prfopinsi Jawa Barat, dan (6) Propinsi Kalimantan Timur
Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh di lapangan , dapat diidentifikasi hal-hal berikut: (1) aspek kebijakan, terdapat berbagai peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang program jaminan social seperti a) UUD 1945 pasal 34 ayat (2), UU No. 23/1992, c) UU No. 3/1992, d) PP No. 67/1991, e) PP No. 6/1992,f) PP no.14/1993, g) UU No.40/2004, h) Keputusan Menteri Kesehatan No.1241/MENKES/SK/XI/2004, I) Keputusan Menteri Kesehatan No. 56/MENKES/SK/I/2005. Berbagai kebijakan tersebut telah dijadikan landasan dalam penyelenggaraan program jaminan sosial, khususnya program jaminan kesehatan, dengan kelompok sasaran yang berbeda-beda. Dari aspek kebijakan, berdasarkan data/informasi yang diperoleh dapat diidentifikasi antara lain: a) program sistem jaminan sosial belum dapat dilaksanakan, hal tersebut dikarenakan beberapa hal antara lain belum adanya tindak lanjut peraturan pelaksanaan dari UU ttg SJSN sehingga program tersebut belum bisa dilaksnaakan secara operasional; c) Undang-undang tentang sistem jaminan sosial nasional belum disosialisakan keseluruh daerah bahkan masih dalam tarap seminar sehingga program SJSN yang telah direncanakan oleh pemerintah pusat belum dipahami dan
terkena kebijakan SJSN. (2) aspek kelembagaan, dari segi kelembagaan dapat diidentifikasi bahwa dalam penyelenggaraan program jaminan kesehatan pada saat ini diselenggarakan oleh PT Askes (Persero) yang pesertanya Pegawai Negeri Sipil, PT Jamsostek (Persero) yang peserta para pekerja sektor formal dan informal. Kedua lembaga tersebut dalam menjalankan tugasnya belum melakukan koordinasi secara optimal. Bahkan PT Askes (Persero) yang diberi tugas oleh Pemerintah untuk melaksanakan program jaminan kesehatan bagi
masyarakat miskin, juga kurang melakukan koordinasi antara PT Askes sebagai pelaksana program dengan Pemerintah Daerah/Dinas Kesehatan sebagai institusi teknis di lapangan dalam menyediakan tenaga medis baik yang bertugas dirumah sakit maupun di Puskesmas yang akan melayani asuransi kesehatan untuk keluarga miskin. Disamping perlu kejelasan tugas dan peran dari masing-masing lembaga/institusi yang mengelola SJSN antara PT Askes sebagai manajemen pengelolaan sumber dana SJSN dengan Dinas Kesehatan di daerah. Badan pengelolaan SJSN, semestinya dikelola oleh satu badan non profit, sehingga dapat memberikan pelayanan yang optimal. (3) aspek sumber dana/keuangan, pada saat ini sumber dana untuk peserta Askes yang peserta PNS bersumber dari besaran premi yang dipotong langsung berdasarkan Keppres No. 7/1977, 2% dari gaji pokok dan 5% pensiunan pokok. Sedangkan peserta program jaminan kesehatan yang dikelola oleh PT Jamsostek (Persero). Pada saat ini untuk program jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin yang diselenggarakan oleh PT Askes (Persero) yang sudah direncanakan untuk daerah sebagaian besar belum dapat dicairkan dari PT Askes kepada puskesmas atau rumah sakit yang telah ditetapkan. Akibatnya program SJSN untuk masyarakat miskin yang mestinya sudah dapat dilayani pengobatan gratis dari pemerintah belum terlaksana sesuai dengan rencana
pemerintah. (4) aspek kepesertaan, hak dan kewajiban, dari berbagai daerah yang menjadi obyek kajian belum teridentifikasi jumlah peserta/keluarga miskin yang berhak menjadi peserta, sementara yang ada data masyarakat miskin yang ditetapkan oleh BPS.
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas maka dalam pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan, direkomendasikan:
1. Diperlukan landasan hukum yang mengatur program jaimanan kesehatan khususnya dalam hal kebijakan operasional kesehatan.
2. Diperlukan Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Nasional seperti telah diamanatkan oleh undang-undang sistem jaminan sosial nasional.
3. Badan terdiri dari: wakil Pemerintah (Dinas Kesehatan, Bappeda, Dinas Sosial dan lain-lain); Masyarakat (wakil Lembaga Keagamaan, akuntan public dan lembaga masyarakat lain); serta Provider (RSU, Puskesmas, Ikatan Profesi, dan sebagainya 4. Badan bertanggung jawab langsung kepada presiden dan memiliki perwakilan di
Provinsi, Kabupaten/Kota serta Kecamatan. Untuk memperoleh model kelembagaan yang tepat, perlu dilakukan uji coba beberapa alternatif model untuk memilih yang lebih efektif, efisien dan terjamin kesinambungan-nya. Memberikan wewenang kepada masing-masing pimpinan wilayah (seperti: Lurah/Kepala Desa, Camat, Bupati/Walikota/Gubernur) untuk melakukan pendataan, sehingga kebenarannya lebih dapat dipertanggung-jawabkan.
5. Diperlukan adanya kejelasan tentang besarnya unit cost Program Jaminan Kesehatan pertahun, berdasarkan kajian ilmiah yang sahih. Hal ini memerlukan adanya analisa kebutuhan biaya program jaminan kesehatan dengan pendekatan bottom up, sehingga mendekati kebutuhan riil yang ada dalam masyarakat itu sendiri dan lebih realistis. 6. Diperlukan pendataan penduduk yang dilakukan secara berjenjang oleh: Lurah/Kepala
http://politikana.com/baca/2009/12/07/menata-ulang-sistem-jaminan-sosial-nasioanal.html
Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) adalah salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak. Sistem ini diharapkan dapat mengatasi masalah mendasar masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan, kecelakaan, pensiun, hari tua, dan santunan kematian. Di akhir pemerintahannya, Presiden Megawati Soekarnoputri telah menandatangani UU 40/2004 tentang SJSN, tetapi sampai sekarang nasib UU ini tidak jelas.
Hal itu karena peraturan pemerintah yang akan mengatur lebih lanjut program idealis tersebut tidak kunjung diterbitkan, walaupun periode kedua Pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah di jalankan. Apa masalah mendasarnya?
Program ini terlalu ambisius, tidak melihat realitas di lapangan. Bahkan pada awalnya pernah diusulkan pengangguran mendapatkan jaminan. Memang program yang bagus tetapi, tidak operasional. Dari mana dana untuk menjamin pengangguran mutlak dan terselubung yang sangat banyak di negeri ini. Untung waktu itu jaminan pengangguran tidak jadi dimasukkan dalam program SJSN. Kalau dimasukkan, tentu UU akan tetap menjadi UU, tetapi tidak operasional di lapangan.
Bagaimana setelah program jaminan pengangguran tidak masuk dalam UU SJSN? Apakah program jaminan yang ada bisa operasional? Seharusnya bisa dan kita lihat ada program Askeskin yang sekarang menjadi program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), sudah mencakup jaminan bagi 76,4 juta orang miskin dan hampir miskin di Indonesia. Suatu terobosan yang banyak negara berkembang kesulitan memenuhinya.
Di banyak negara, program jaminan sosial dimulai dan dapat terselenggara dengan pendapatan per kapita lebih dari US$ 2.000. Jerman memulai program asuransi kesehatan sosial saat pendapatan per kapita US$ 2.237, Austria US$ 2.420, dan Jepang US$ 2.140. Pendapatan per kapita saat ini mulai menginjak US$ 2.000. Meski demikian, struktur ekonomi terutama sektor formal, harus diperkuat.
Penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) sudah menjadi komitmen nasional. Empat BUMN, yakni PT Jamsostek, PT Askes, PT Taspen, dan PT Asabri, sudah
menunjukkan komitmennya menerapkan SJSN. Untuk itu, agar program SJSN menjangkau seluruh rakyat, perlu UU yang mendorong lahirnya lebih dari satu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Pertahankan empat BUMN (Jamsostek, Askes, Taspen, dan Asabri) itu sebagai BPJS. Sedangkan untuk menjangkau lebih banyak orang, peluang untuk mendirikan BPJS baru, baik di pusat maupun daerah harus dibuka. Empat BUMN penyelenggara asuransi sosial itu kini mengelola dana besar. Jika diakumulasi, total dana kelolaan keempat BUMN di atas Rp 120 triliun. Ini bukan angka kecil untuk digabungkan ke badan baru yang belum jelas manajemennya.
Setelah ada uji materi dari Mahkamah Konstitusi, empat BUMN yaitu PT Askes, PT Asabri, PT Taspen, dan PT Jamsostek tidak bisa bertindak sebagai BPJS karena tidak dibentuk dengan UU.
Meski demikian, keempat BUMN tersebut diberi kesempatan sebagai badan penyelenggara dengan masa transisi untuk menyesuaikan diri sampai 19 Oktober 2009. Setelah uji materi pun, pemda dapat mendirikan badan penyelenggara. Hal ini tidak menjadi masalah, sepanjang ada sistem yang sama dan koordinasi, serta sinkronisasi.
Sistem jaminan sosial bukan pemaksaan atau sistem yang membebani keuangan negara. Ada orang yang tidak suka UU SJSN dan menakut-nakuti bahwa kalau diterapkan, pemerintah harus sediakan dana Rp 300-Rp 1.000 triliun, padahal itu tidak benar sama sekali. Kalau ada yang mengatakan, negara belum sanggup, orang itu pasti belum baca UU SJSN, sebab jaminan sosial (social security) di negara lain seperti Jerman, Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Korea, Malaysia dan lain-lain mengembangkan SJSN ketika ekonomi mereka, lebih buruk dari ekonomi Indonesia sekarang.
Ditegaskan, SJSN tidak dirancang didanai dari APBN, kecuali untuk jaminan kesehatan rakyat miskin yang besarnya tidak lebih dari Rp 15 triliun. Sekarang ada lebih dari 50 persen rakyat Indonesia yang memerlukan perawatan jatuh miskin jika sakit. Ini terjadi akibat karena biaya perawatan di RS publik (pemerintah) mahal. Ini karena sistem kesehatan yang lebih liberal dari sistem kesehatan di AS
Begitu juga dengan orang yang kehilangan pekerjaan, karena PHK atau memasuki usia pensiun akan jatuh miskin karena tidak memiliki gaji. Seperti diketahui SJSN mencakup jaminan kesehatan, kecelakaan kerja, hari tua, pensiun dan kematian.
Hampir seluruh negara di dunia memiliki sistem jaminan sosial berdasarkan iuran wajib. Bahkan, negara kapitalis seperti Amerika, Jepang, Jerman, Inggris memiliki sistem jaminan sosial. Amerika kini membahas "Health Care Reform Obama" yang juga bertujuan untuk cakupan semesta, asuransi kesehatan untuk semua penduduk.Kementerian Negara BUMN mendukung RUU BPJS. UU ini akan mengubah bentuk badan hukum empat BUMN yang akan menjadi anggota BPJS, yaitu PT Asabri, PT Jamsostek, PT Askes, dan PT Taspen.
Dalam RUU tersebut, tidak diatur bentuk badan hukum. Jika badan hukum keempat BUMN diubah menjadi wali amanat maka akan terjadi masalah hukum. Karena perubahan badan hukum harus disesuaikan dengan UU Perseroan Terbatas dan UU Tenaga Kerja.
Tag: SBY, Megawati Soekarnoputri, indonesia, presiden, megawati, pengangguran, Susilo Bambang Yudhoyono, Jamsostek, SJSN, sistem jaminan sosial nasional, perlindungan sosial, askeskin, jamkesmas, askes, taspen, asabri
MK Tolak Uji Materi UU Sistem Jaminan Sosial
Nasional
Irwan Nugroho - detikNews Senin, 21/11/2011 18:23 WIB
Browser anda tidak mendukung iFrame
Jakarta Sidang permohonan uji materi UU No 40/2004 yentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) memasuki tahap pembacaan putusan. MK menolak uji materi pasal 17 ayat (1, 2 dan 3) UU tersebut yang dianggap
bertentangan dengan UUD 1945.
"Menolak permohonan para pemohon untuk seluruhnya," kata Ketua MK Mahfud MD dalam pembacaan amar putusan sidang di Gedung MK, Jl Medan Merdeka
Barat, Jakarta Pusat, Senin (21/11/2011).
Di dalam permohonannya, para pemohon yang terdiri dari sepuluh pihak menilai pasal 17 ayat (1, 2, dan 3) UU SJSN bertentangan dengan sejumlah pasal dalam UUD 1945. Sebab, sistem jaminan nasional dilaksanakan dengan sistem asuransi, yang membuat pemberi kerja berhak memungut iuran atau premi dari karyawannya.
Menurut Mahkamah, meski negara wajib mengembangkan sistem jaminan sosial, namun UUD 1945 tidak menganut atau memilih sistem tertentu. Dengan demikian, sistem apapun yang dipakai harus dianggap konstitusional.
Sistem asuransi sosial yang didanai premi maupun bantuan sosial dari pendapatan pajak telah dipilih oleh UU SJSN. Sistem tersebut memiliki kelemahan dan kekurangan, namun pembuat UU telah menetapkannya sebagai
pilihan dari kebijakan hukum yang terbuka.
Mengenai konstitusionalnya sistem asuransi sosial itu, Mahkamah juga menyatakan dalam Putusan No 007/PUU-III/2005. Bahwa UU SJSN telah memenuhi pasal 34 ayat (2) UUD 1945, dalam arti sistem yang dikembangkan mencakup seluruh rakyat dan bertujuan meningkatkan keberdayaan rakyat yang
lemah dan tidak mampu.
Mahkamah menyatakan, dalam UU SJSN, setiap orang yang memenuhi syarat wajib mengikuti asuransi. Perikatan antara peserta dan penanggung (BPJS) akan timbul setelah yang bersangkutan membayar iuran atau iurannya dibayar
pemberi kerja.
"Bagi mereka yang tergolong fakir miskin dan orang yang tidak mampu, maka iurannya dibayar oleh pemerintah," ucap hakim anggota Achmad Sodiki.