ANALISIS KUALITAS AIR DILIHAT DARI TOTAL SUSPENDED SOLID
(TSS) DI PERAIRAN PULAU PAHAWANG LAMPUNG
Kurniawan
08101005002
Program Studi Ilmu Kelautan
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sriwijaya
e-mail: [email protected]
ABSTRAK
TSS (Total Suspended Solid) adalah materi padat seperti pasir, lumpur, tanah,
maupun logam berat yang tersuspensi di daerah perairan. TSS adalah padatan yang
menyebabkan kekeruhan air, tidak terlarut dan tidak dapat mengendap langsung.
Padatan tersuspensi terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih
kecil dari sedimen, misalnya tanah liat, bahan-bahan organik tertentu, sel-sel
mikroorganisme, dan sebagainya.
Kandungan TSS memiliki hubungan yang erat dengan kecerahan perairan.
Keberadaan padatan tersuspensi tersebut akan menghalangi penetrasi cahaya yang
masuk ke perairan sehingga hubungan antara TSS dan kecerahan akan menunjukkan
hubungan yang berbanding terbalik. TSS umumnya semakin rendah ke arah laut. Hal ini
disebabkan padatan tersuspensi tersebut disupply oleh daratan melalui aliran sungai.
Rata-rata nilai TSS dari yang terkecil hinga terbesar untuk ketiga lokasi adalah
1,8-5,6 mg/L, nilai ini menunjukkan keadaan air untuk parameter TSS masih dalam
keadaan baik. Sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51
tahun 2004 tentang baku mutu air laut untuk biota laut, diperoleh nilai baku mutu TSS
untuk kehidupan coral dan lamun < 20 mg/L, sedangkan untuk mangrove < 80 mg/L.
Berdasarkan hasil analisis (TSS) diatas tidak ada yang melebihi nilai baku mutu
tersebut. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa kondisi TSS di perairan laut Pulau
Pahawang secara umum masih memenuhi baku mutu perairan laut.
1. Pendahuluan
Pulau Pahawang berada di
Kawasan Teluk Lampung, secara
administrasi berada di Kecamatan
Punduh Pedada, Kabupaten Pesawaran
Provinsi Lampung dengan luas wilayah
berdasarkan PP tahun 1999 adalah 1.046
hektar. Secara geografis berada pada
5°40,2’ - 5°43,2’ LS dan 105°12,2’ -
105°15,2’BT. Wilayah Desa Pulau Pahawang merupakan kawasan pesisir,
terdiri dari laut, pantai, rawa, daratan dan
daerah perbukitan, serta termasuk bagian
pulau-pulau kecil yang ada di kawasan
Teluk Lampung (Rizani dan M. Syahril
Karim, 2006).
Total suspended solid atau
padatan tersuspensi total (TSS) adalah
residu dari padatan total yang tertahan
oleh saringan dengan ukuran partikel
maksimal 2μm atau lebih besar dari
ukuran partikel koloid. TSS
menyebabkan kekeruhan pada air akibat
padatan tidak terlarut dan tidak dapat
langsung mengendap. TSS terdiri dari
partikel-partikel yang ukuran maupun
beratnya lebih kecil dari sedimen,
misalnya tanah liat, bahan-bahan organik
tertentu,sel-sel mikroorganisme, dan
sebagainya (Darwis, H. 2012).
TSS umumnya dihilangkan
dengan flokulasi dan penyaringan. TSS
memberikan kontribusi untuk kekeruhan
(turbidity) dengan membatasi penetrasi
cahaya untuk fotosintesis dan visibilitas
di perairan. Sehingga nilai kekeruhan
tidak dapat dikonversi ke nilai TSS. Pola
dan intensitas sebaran akan berbeda
akibat perubahan dengan ukuran dan
bentuk partikel serta materi. Sebuah
sampel yang mengandung 1.000 mg / L
dari fine talcum powder akan
memberikan pembacaan yang berbeda
kekeruhan dari sampel yang
mengandung 1.000 mg / L coarsely
ground talc . Kedua sampel juga akan
memiliki pembacaan yang berbeda
kekeruhan dari sampel mengandung
1.000 mg / L ground pepper.
Total Suspended Solid (TSS),
adalah salah satu parameter yang
digunakan untuk pengulkuran kualitas
air. Pengukuran TSS berdasarkan pada
berat kering partikel yang terperangkap
oleh filter, biasanya dengan ukuran pori
tertentu. Umumnya, filter yang
digunakan memiliki ukuran pori 0.45
μm.
Bahan-bahan tersuspensi dan
terlarut pada perairan alami tidak bersifat
toksik, akan tetapi jika berlebihan, dapat
meningkatkan nilai kekeruhan yang
selanjutnya akan menghambat penetrasi
akhirnya berpengaruh terhadap proses
fotosintesis di perairan.
Larutan menjadi keruh bila
terjadi pengendapan (presipitasi) yang
merupakan keadaan kejenuhan dari suatu
senyawa kimia. Partikel-partikel
tersuspensi biasa, mempunyai ukuran
lebih besar dari partikel koloid dan dapat
menghalangi sinar yang akan menembus
suspensi, sehingga suspensi tidak dapat
dikatakan keruh, karena sebenarnya air
di antara partikel-partikel tersuspensi
tidak keruh dan sinar tidak menyimpang
(Alaerts dan Santika, 1987)
Air merupakan salah satu
kebutuhan hidup dan merupakan dasar
bagi perikehidupan di bumi. Tanpa air,
berbagai proses kehidupan tidak dapat
berlangsung. Oleh karena itu,
penyediaan air merupakan salah satu
kebutuhan utama bagi manusia untuk
kelangsungan hidup dan menjadi faktor
penentu dalam kesehatan dan
kesejahteraan manusia. Sumber daya air
dapat dimanfaatkan untuk berbagai
keperluan, antara lain kepentingan
rumah tangga, industri, perikanan,
pertanian, dan sarana angkutan air.
Sesuia kebutuhan akan air dan kemajuan
tekhnologi air permukaan dapat
dimanfaatkan lebih luas lagi untuk baku
mutu sumber air minum dan air industri
(Arif, 2010).
Tersedianya persediaan air yang
cukup dalam hal jumlah dan kualitas
sangat penting bagi manusia. Sejak awal
manusia mengakui pentingnya air dari
segi jumlah. Peradaban berkembang
disekitar badan air sehingga dapat
mendukung pertanian dan transportasi
sebaik menyediakan air minum.
Kesadaran pentingnya kualitas air
berkembang lebih perlahan. Sejak awal
manusia menilai kualitas air hanya
melalui penampakan fisik, rasa dan bau.
Tidak hingga ilmu pengetahuan biologi,
kimia, dan medis berkembang berbagai
cara tersedia untuk mengukur kualitas air
dan menentukan pengaruhnya pada
kesehatan manusia (Arif, 2010).
Pada penelitian ini melihat
kualitas air dari nilai Total Suspended
Solid (TSS) di perairan laut apakah
kualitas airnya masih baik sebagai
tempat pertumbuhan terumbu karang,
ekosistem lamun, ikan serta biota
lainnya. nilai yang kita dapatkan
mengacu pada Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun
2004 tentang baku mutu air laut untuk
2. Metodologi
Praktikum ini dilaksanakan pada
bulan november 2013 di sekitar pulau
Pahawang Lampung Selatan dan sampel
dianalisis di Laboratorium Oseanografi
Fisika Program Studi Ilmu Kelautan,
Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya,
Inderalaya.
Sampel diambil pada 3 stasiun
yaitu stasiun 1, stasiun 2, dan stasiun 3,
pada masing-masing stasiun tersebut
sampel diambil berdasarkan lapisan
(layer) yaitu lapisan permukaan, lapisan
kolom dan dasar. setiap stasiun telah
mewakili dari tiap daerah. Stasiun 1 yang
terdapat di dekat pantai yakni mewakili
daerah yang ada pada pantai dan masukan
dari daratan, Stasiun 2 yang berada sedikit
ditengah, yakni mewakili antara daerah
dekat pantai dan pertengahan laut, Stasiun
3 yang berada di tengah laut, yakni
mewakili dari semua masukan baik dari
daratan maupun yang terbawa arus dari
daerah lain. Parameter pendukung dalam
analisis kualitas air yang memiliki
kemudian ditimbang untuk
mengetahui berat awal (BC) kertas
saring tersebut.
b) Sampel sebanyak 100 ml disaring
menggunakan kertas saring yang
telah diketahui berat awalnya.
c) Kertas saring yang telah berisi
sampel, dikeringkan dalam oven
pada suhu 80 0C selama 24 jam.
d) Kemudian ditimbang kembali
untuk mengetahui berat
akhir/kering (BK).
e) Total suspended solid dihitung
2) Menghitung nilai kecerahan
Alat yang digunakan untuk
mengukur kecerahan adalah secchi disk,
rumus yang digunakan adalah sebagai
berikut :
Kecerahan =
Keterangan :
D1 = jarak antara permukaan air sampai
hilangnya warna hitam putih pada
secchi disk (m).
D2 = jarak antara dasar perairan sampai
munculnya warna hitam putih pada
secchi disk (m).
Z = kedalaman perairan, yaitu saat secchi
disk menyentuh dasar perairan(m).
3. Hasil dan Pembahasan
a. Hasil Analisis TSS
Dari analisis TSS yang
diambil di Perairan Pulau Pahawang
Lampung Selatan diperoleh hasil
seperti pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Hasil analisis TSS
Stasiun Lapisan BC awal BC+BK BK TSS
1
Permukaan 1,25 1,47 0,22 2,2
Kolom 1,24 1,48 0,24 2,4
Dasar 1,22 1,78 0,56 5,6
2
Permukaan 1,26 1,46 0,2 2
Kolom 1,26 1,44 0,18 1,8
Dasar 1,25 1,47 0,22 2,2
3
Permukaan 1,24 1,46 0,22 2,2
Kolom 1,22 1,42 0,2 2
Dasar 1,2 1,48 0,28 2,8
ket : BC = Berat cawan BK = Berat kering
b. Hasil perhitungan kecerahan
Hasil perhitungan kecerahan
yang diukur dengan menggunakan
secchi disk pada masing-masing stasiun
Tabel 2. Hasil perhitungan kecerahan
nilai TSS tertinggi terdapat pada lapisan
dasar perairan stasiun 1 yaitu 5,6 mg/L,
sedangkan nilai TSS terkecil terdapat
pada lapisan kolom perairan pada
stasiun 2 yaitu 1,8 mg/L. Pada stasiun 1
lapisan dasar memiliki nilai TSS yang
tinggi, jika ditinjau dari sampel
memiliki kekeruhan yang tinggi hal ini
tidak sesuai dengan keadaan perairan
yang ada di pulau Pahawang. banyak
faktor yang mempengaruhi seperti pada
saat pengambilan sampel menggunakan
water sampler, alat tersebut jatuh
terkena dasar perairan sehingga substrat
yang ada didasar ikut masuk ke dalam
water sampler atau yang lainnya.
Banyak faktor yang mempengaruhi TSS
ialah Kecepatan arus, Longsoran, Air
Limbah dan Limbah Sistem Septic,
Membusuknya Tumbuhan dan Hewan,
masuknya pakan ikan serta masukan
dari daratan.
TSS yang tinggi dapat
menghalangi cahaya mencapai vegetasi
yang ada dalam perairan. Ketika jumlah
cahaya yang melewati air berkurang,
fotosintesis melambat. Kecepatan
penurunan fotosintesis menyebabkan
kurang oksigen terlarut akan dirilis ke
dalam air oleh tanaman. Sebagai
tanaman yang membusuk, bakteri akan
menggunakan oksigen lebih banyak dari
air. Oksigen terlarut rendah dapat
menyebabkan membunuh ikan. TSS
yang tinggi juga dapat menyebabkan
peningkatan suhu permukaan air, karena
partikel menyerap panas dari sinar
matahari. Hal ini dapat menyebabkan
kadar oksigen terlarut untuk jatuh lebih
jauh (karena air hangat dapat
menampung kurang DO), dan dapat
membahayakan kehidupan air.
Nilai TSS umumnya semakin
rendah ke arah laut. Hal ini disebabkan
padatan tersuspensi tersebut di
supply oleh daratan melalui aliran
sungai.
Kandungan TSS memiliki
perairan. Keberadaan padatan
tersuspensi tersebut akan menghalangi
penetrasi cahaya yang masuk ke perairan
sehingga hubungan antara TSS dan
kecerahan akan menunjukkan hubungan
yang berbanding terbalik. Nilai
kecerahan yang diukur dengan
menggunakan secchi disk memiliki nilai
rata-rata 90 % artinya kecerahan
perairan masih sesuai dengan baku mutu.
Nilai TSS umumnya semakin rendah ke
arah laut. Hal ini disebabkan padatan
tersuspensi tersebut disupply oleh
daratan melalui aliran sungai.
Keberadaan padatan tersuspensi masih
bisa berdampak positif apabila tidak
melebihi toleransi sebaran suspensi baku
mutu kualitas perairan yang ditetapkan
oleh Kementrian Lingkungan Hidup,
yaitu 70 mg/l.
Hasil penelitian didapat nilai TSS
untuk ketiga lokasi adalah 1,8-5,6 mg/L,
nilai ini menunjukkan keadaan air untuk
parameter TSS masih dalam keadaan
baik. Sesuai dengan Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun
2004 tentang baku mutu air laut untuk
biota laut, diperoleh nilai baku mutu TSS
untuk kehidupan terumbu karang dan
lamun < 20 mg/L, sedangkan untuk
mangrove < 80 mg/L. Berdasarkan hasil
analisis (TSS) diatas tidak ada yang
melebihi nilai baku mutu tersebut. Oleh
karena itu dapat disimpulkan bahwa
kondisi TSS di perairan laut Pulau
Pahawang secara umum masih
memenuhi baku mutu perairan laut.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian
terhadap analisis kualitas air di Pulau
Pahawang Lampung Selatan, dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1. Hasil penelitian didapat nilai TSS
untuk ketiga lokasi adalah 1,8-5,6
mg/L, nilai ini menunjukkan keadaan
air untuk parameter TSS masih dalam
keadaan baik. Sesuai dengan
Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004
tentang baku mutu air laut untuk biota
laut.
2. Nilai TSS tertinggi terdapat pada
stasiun 1 lapisan dasar yaitu sebesar
5,6 mg/l, sedangkan nilai TSS terkecil
terdapat pada stasiun 2 lapisan kolom
yaitu sebesar 1,8 mg/l.
3. Nilai kecerahan yang diukur dengan
nilai rata-rata 90 % artinya kecerahan
perairan masih sesuai dengan baku
mutu.
5. Saran
1. Untuk pengelola kawasan wisata
perairan Pulau Pahawang perlu
pengadaan tempat sampah dan
mengadakan kegiatan rutin
pembersihan sampah pada
permukaan air, serta tidak
membuang sampah di laut.
2. Mengingat perairan Pulau Pahawang
merupakan tempat wisata maka jika
akan membangun KJA (Keramba
Jaring Apung) di Pulau Pahawang
harus memperhatikan pakan ikan,
karena akn mempengaruhi kekeruhan
perairan.
Daftar Pustaka
Alabaster, JS dan R Lloyd. 1982. Water
Quality Criteria for Freshwater
Fish. Second Edition. Food and
Agriculture Organization of
United Nations. Butterworths. London.
Arif, 2010. Tugas mata kulaih
sedimentologi.
http://agusnurul.blogspot.com/2 009/04/tugas-mata-kuliah-sedimentology.html. Diakses pada tanggal 19 November 2013 pukul 20.50 WIB
Darwis, H. 2012. Laporan Total
suspended Solid (TSS) dan Total Dissolve Solid (TDS).
http://hijrahdarwis.blogspot.com /2012/02/laporan-tss-tds.html. Diakses pada tanggal 27 November 2013 pukul 20.10 WIB.
Helfinalis. 2005. Kandungan Total
Suspended Solid dan Sedimen
Dasar di Perairan
Panimbang. Jurnal Makara,
Sainsm Vol 9, No. 2.
Kementerian Lingkungan Hidup. 2006.
Himpunan Peraturan Perundangan – Undangan di Bidang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Kementerian Lingkungan Hidup. Jakarta.
Rizani Dan Karim MS, 2006. Pemetaan
Partisipatif : Sebagai Upaya Masyarakat Melindungi Dan Mengelola Sumberdaya Alam Pesisir Laut Di Pulau
LAMPIRAN
Gambar 1. Grafik Nilai TSS
3. Kegiatan Analisis TSS
Kertas saring dan TSS basah Sampel
Proses pengukuran volome sampel Proses vakum sampel