BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Air merupakan komponen utama bagi semua makhluk hidup dan kekuatan yang membentuk permukaan bumi. Air juga menjadi faktor penentu di dalam pengaturan iklim untuk kehidupan manusia. Salah satu contoh air di permukaan bumi adalah sungai. Setiap sungai memiliki daerah aliran sungai.
Di dalam suatu sistem Daerah Aliran Sungai, sungai yang berfungsi sebagai wadah pengaliran air selalu berada di posisi paling rendah dalam landskap bumi. Menurut PP 38 Tahun 2011, kondisi sungai tidak dapat dipisahkan dari kondisi Daerah Aliran Sungai. Kualitas air sungai dipengaruhi oleh kualitas pasokan air yang berasal dari daerah tangkapan sedangkan kualitas pasokan air dari daerah tangkapan berkaitan dengan aktivitas manusia yang ada di dalamnya (Wiwoho, 2005).
Perubahan pola pemanfaatan lahan menjadi lahan pertanian, tegalan, dan permukiman serta meningkatnya aktivitas industri dapat memberikan dampak terhadap kondisi hidrologis dalam suatu Daerah Aliran Sungai. Berbagai aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang berasal dari kegiatan industri, rumah tangga, dan pertanian akan menghasilkan limbah. Limah dapat menurunkan kualitas dan kuantitas air sungai.
Penurunan kuantitas dan kualitas air terjadi pada Sungai Musi, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Hal tersebut ditunjukkan melalui pendapat Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya, M.Said (dalam Kompas: 2015) bahwa banyak aktivitas masyarakat di sepanjang Sungai Musi. Di Palembang saja ada sejumlah industri. Di luar Palembang ada perkebunan dan tambang yang berkontribusi terhadap kualitas dan kuantitas air. Pembukaan lahan dan kebakaran lahan di hulu juga berpotensi memengaruhi Musi.
lokasi yang diambil secara periodik (dalam Kompas: 2015). Berdasarkan penelitian dan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa kualitas dan kuantitas air Sungai Musi memburuk. Diperlukan dukungan oleh semua pihak dan cara mengatasi pencemaran air Sungai Musi. Dengan berbagai cara mengatasi masalah tersebut kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya pun tidak akan terganggu. Berdasarkan masalah tersebut, penulis akan menulis mengenai cara menurunkan pencemaran air Sungai Musi dengan judul “Upaya Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Air Sungai Musi Sumatera Selatan”.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana meningkatkan kualitas dan kuantitas air Sungai Musi? C. Tujuan Makalah
Untuk mengetahui cara meningkatkan kualitas dan kuantitas air Sungai Musi? D. Manfaat Makalah
1. Bagi Masyarakat Musi
a. Dapat mengetahui cara melestarikan dan menjaga DAS Musi. b. Dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas air Sungai Musi. 2. Bagi Pemerintah
a. Dapat mengawasi dan membuat kebijakan tentang kelestarian DAS Musi. b. Dapat bekerja sama dengan masyarakat untuk melestarikan DAS Musi. 3. Bagi Pembaca
a. Dapat mencegah kerusakan ataupun pencemaran sungai di daerah sekitar masyarakat.
BAB II PEMBAHASAN A. Kajian Teori
1. Pengertian Upaya
Dalam kamus Bahasa Indonesia menyebutkan pengertian upaya adalah tindakan yang dilakukan seseorang, untuk mencapai apa yang diinginkan atau merupakan sebuah strategi.Upaya adalah aspek yang dinamis dalam kedudukan (status) terhadap sesuatu. Apabila seseorang melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu upaya (Soeharto 2002; Soekamto 1984: 237).
Upaya dijelaskan sebagai usaha (syarat) suatu cara, juga dapat dimaksud sebagai suatu kegiatan yang dilakukan secara sistematis, terencana dan terarah untuk menjaga sesuatu hal agar tidak meluas atau timbul.
2. Pengertian Kualitas dan Kuantitas
Menurut wikipedia, kualitas ialah tingkat baik buruknya atau taraf atau derajat sesuatu. Istilah ini lebih sering digunakan pada bidang bisnis, teknis dan lain sebagainya. Ukuran dari sebuah kualitas ialah di saat ukuran tersebut dinilai oleh baik atau buruknya sesuatu.
Kuantitas merupakan banyaknya atau jumlah (artikata.com). Berbeda halnya dengan kualitas yang memiliki standard ukuran dengan baik atau buruk. Sedangkan kuanitas lebih terarah pada jumlah sesuatu.
Tabel 1.1 Perkiraan Kuantitas Air di Bumi
Jenis Air Areal Volume
134,8 10.530.00012.870.000 0,760,93 30,1
-Lengas tanah 82,0 16.500 0,0012 0,05
Es lain dan salju 0,3 340.600 0,025 1,0 Danau
Air tawar Air asin
1,2
0,8 91.00085.400 0,0070,006 0,26
-Marshes 2,7 11.470 0,0008 0,03
Sungai 148,8 2.120 0,0002 0,006
Air biologis 510,0 1.120 0,0001 0,003
Air di atmosfer 510,0 12.900 0,001 0,04
Total air 510,0 1.385.984.61 0
100
-Air tawar 148,0 35.029.210 2,5 100
Tabel dari World Water Balance and Water Resources of The Earth, Copyright: UNESCO (1978); dikutip dari Chow (1998), Maidment (1993) (dalam Hidrologi, Indarto: 7)
3. Sungai
Sungai merupakan bagian permukaan bumi yang letaknya lebih rendah dari tanah di sekitarnya dan menjadi tempat mengalirnya air tawar menuju ke laut, danau, rawa atau ke sungai lainnya (Satrio:2013, http://satrio-aji-p.blogspot.com/2013/03/perairan-darat-sungai-daerah-aliran.html). Menurut wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Sungai), sungai adalah aliran air yang besar dan memanjang yang mengalir secara terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara).
Pada beberapa kasus, sebuah sungai secara sederhana mengalir meresap ke dalam tanah sebelum menemukan badan air lainnya. Melalui sungai merupakan cara yang biasa bagi air hujan yang turun di daratan untuk mengalir ke laut atau tampungan air yang besar seperti danau. Sungai terdiri dari beberapa bagian, bermula dari mata air yang mengalir ke anak sungai. Beberapa anak sungai akan bergabung untuk membentuk sungai utama. Aliran air biasanya berbatasan dengan saluran dengan dasar dan tebing di sebelah kiri dan kanan. Pengujung sungai di mana sungai bertemu laut dikenali sebagai muara sungai.
limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertentu juga berasal dari lelehan es/salju. Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan.
Kemanfaatan terbesar sebuah sungai adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya potensial untuk dijadikan objek wisata sungai. Di Indonesia saat ini terdapat 5.950 daerah aliran sungai (DAS).
4. Sungai Musi
Sungai Musi adalah sebuah sungai yang terletak di provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Dengan panjang 750 km, sungai ini merupakan yang terpanjang di pulau Sumatera dan membelah Kota Palembang menjadi dua bagian. Jembatan Ampera yang menjadi ikon Kota Palembang pun melintas di atas sungai ini. Sejak zaman Kerajaan Sriwijaya hingga sekarang, sungai ini terkenal sebagai sarana transportasi utama bagi masyarakat (situs http://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Musi).
sehingga air permukaan (run off) dapat bekembang secara luas, dan akhirnya akan membentuk pola aliran sungai (river channels) yang menyebar ke daerah tangkapan aliran sungai (catchment area). Sumber utama mata air Sungai Musi berasal dari Kepahiang-Bengkulu dan bermuara di Sembilan anak sungai besar atau yang biasa disebut Batanghari Sembilan. Sembilan anak sungai tersebut adalah sungai Ogan, sungai Komering, sungai Lematang, sungai Kelingi, sungai Lakitan, sungai Leko, sungai Telang, sungai semanggus dan sungai rawas.
Sejak zaman Kerajaan Sriwijaya hingga sekarang, Sungai Musi terkenal sebagai sarana transportasi utama bagi masyarakat. Di tepi Sungai musi terdapat Pelabuhan Boom Baru dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Fungsi sungai di kota Palembang sebelumnya adalah sebagai alat anggkutan sungai ke daerah pedalaman, namun sekarang sudah banyak mengalami perubahan fungsi, antara lain sebagai drainase dan untuk pengendalian banjir. Selain itu aliran sungai Musi juga dimanfaatkan untuk PLTA (dalam situs http://fransiskatya.blogspot.com/2012/11/sungai-musi-sumatera-selatan_11.html).
adanya sedimentasi sungai. Sedimentasi sungai ini dapat menyebabkan pendangkalan sungai atau penyempitan (bottle neck) seperti yang terjadi di daerah Mariana Kecamatan Seberang Ulu II. Hal itu disebabkan karena penambangan pasir sungai atau gravel pada dasar sungai yang akan mengakibatkan pendalaman cekungan, pemanfaatan bentaran pada bentaran sungai untuk pemukiman, persawahan serta aktivitas lain yang akan berdampak pada aliran sungai dan adanya penebangan hutan illegal di daerah hulu sungai.
5. Daerah Aliran Sungai
Menurut Indarto (2010:57), DAS (basin, drainage basin, or watershed) menunjukkan suatu luasan yang berkonstribusi pada aliran permukaan. Suatu batas wilayah imaginer, dibatasi oleh punggung-punggung pegunungan dan lembah, di mana air yang jatuh pada setiap lokasi di dalam batas tersebut, mengalir dari bagian hulu DAS melalui anak-anak sungai ke sungai utama, sampai akhirnya ke luar satu outlet.
Aliran dasar (baseflow) merupakan komponen aliran yang teramati dalam jangka waktu yang lama. Baseflow akan teramati sebagai debit di sungai pada saat musim kemarau. Pada saat musim kemarau, relatif tidak ada hujan yang jatuh, tetapi pada sebagian besar sungai masih ada debit air yang mengalir yang disebut baseflow. Aliran tersebut berasal dari cadangan air tanah, selanjutnya pada lokasi tertentu mengalir ke luar dan bergabung dengan aliran sungai.
pembuangan massa (seperti tanah longsor) (http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/09/fungsi-daerah-aliran-sungai.html).
Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan ekosistem yang terdiri dari unsur utama vegetasi, tanah, air dan manusia dengan segala upaya yang dilakukan di dalamnya (Soeryono, 1979). Sebagai suatu ekosistem, di DAS terjadi interaksi antara faktor biotik dan fisik yang menggambarkan keseimbangan masukan dan keluran berupa erosi dan sedimentasi.
DAS merupakan kumpulan dari beberapa Sub-DAS. Mangundikoro (1985) mengemukakan Sub-DAS merupakan suatu wilayah kesatuan ekosistem yang terbentuk secara alamiah, air hujan meresap atau mengalir melalui sungai. Manusia dengan aktivitasnya dan sumberdaya tanah, air, flora serta fauna merupakan komponen ekosistem di Sub-DAS yang saling berinteraksi dan berinterdependensi. Pengelolaan DAS dapat dianggap sebagai suatu sistemdengan input manajemen dan input alam untuk menghasilkan barang dan jasa yang diperlukan baik di tempat (on site)maupun di luar (off-site). Secara ekonomi ini berarti bentuk dari proses produksi dengan biaya ekonomi untuk penggunaan input manajemen dan input alam serta hasil ekonomi berupa nilai dari outputnya (Hulfschmidt, 1985). Tujuan pengelolaan DAS secara ringkas adalah :
a. menyediakan air, mengamankan sumber-sumber air dan mengatur pemakaian air.
b. menyelamatkan tanah dari erosi serta meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah.
c. Meningkatkan pendapatan masyarakat. 6. Pencemaran Air
Menurut Data Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Indikator Pencegahan Pencemaran Air bahwa pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Danau, sungai, lautan dan air tanah adalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Selain mengalirkan air juga mengalirkan sedimen dan polutan. Berbagai macam fungsinya sangat membantu kehidupan manusia. Pemanfaatan terbesar danau, sungai, lautan dan air tanah adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya berpotensi sebagai objek wisata.
Pencemaran air merupakan masalah global utama yang membutuhkan evaluasi dan revisi kebijakan sumber daya air pada semua tingkat (dari tingkat internasional hingga sumber air pribadi dan sumur). Telah dikatakan bahwa pousi air adalah penyebab terkemuka di dunia untuk kematian dan penyakit, dan tercatat atas kematian lebih dari 14.000 orang setiap harinya. Ditambah lagi selain polusi air merupakan masalah akut di negara berkembang, negara-negara industri/maju masih berjuang dengan masalah polusi juga.
7. Faktor-Faktor Pencemaran Air
Menurut Achmad Lutfi,2009:01 pada dasarnya pencemaran air sungai di indonsia disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu:
a. Berkembangnya industri-industri di Indonesia
1) Logam Berat: timbale, tembaga, seng dll.
2) Panas: air yang tinggi temperaturnya sulit menyerap oksigen yang pada akhirnya akan mematikan biota air.
b. Belum tertanganinya pengendalian limbah rumah tangga
Limbah rumah tangga yang belum terkendali merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pencemaran lingkungan khususnya air sungai. Karena dari limbah rumah tangga dihasilkan beberapa zat organik dan anorganik yang dibuang dan dialirkan melalui selokan-selokan dan akhirnya bermuara ke sungai. Selain dalam bentuk zat organik dan anorganik, dari limbah rumah tangga bisa juga membawa bibit-bibit penyakit yang dapat menular pada hewan dan manusia sehingga menimbulkan epidemi yang luas di masayarakat.
c. Pembuangan limbah pertanian tanpa melalui proses pengolahan.
Limbah pertanian biasanya dibuang ke aliran sungai tanpa melalui proses pengolahan, sehingga dapat mencemari air sungai karena limbah pertanian mengandung berbagai macam zat pencemar seperti pupuk dan pestisida.
Penggunaan pupuk di daerah pertanian akan mencemari air yang keluar dari pertanian karena air ini mengandung bahan makanan bagi ganggang dan tumbuhan air seperti enceng gondok sehingga ganggang dan tumbuhan air tersebut mengalami pertumbuhan dengan cepat yang dapat menutupi permukaan air dan berpengaruh buruk pada ikan-ikan dan komponen ekosistem biotik lainnya.
Penggunaan pestisida juga dapat menggagu ekosistem air karena pestisida bersifat toksit dan akan mematikan hewan-hewan air, burung dan bahkan manusia.
d. Pencemaran air sungai karena proses alam
berupa endapan/sediment seperti tanah dan lumpur yang dapat menyebabkan air menjadi keruh, masuknya sinar matahari berkurang, dan air kurang mampu mengasimilasi sampah. Iklim juga berpengaruh pada tingkat pencemaran air sungai misalnya pada musim kemarau volume air pada sungai akan berkurang, sehingga kemampuan sungai untuk menetralisir bahan pencemaran juga berkurang.
Dari uraian penyebab pencemaran air sungai di Indonesia diatas, bahan pencemarannya dapat dikelompokkan menjadi:
a. Sampah yang dalam proses penguraiannya memerlukan oksigen yaitu sampah yang mengandung senyawa organik, misalnya sampah industri makanan, sampah industri gula tebu, sampah dari tanaman air seperti enceng gondok yang mati, sampah rumah tangga (sisa-sisa makanan, kotoran manusia dan kotoran hewan ternak), dll. Untuk proses penguraian sampah-sampah tersebut memerlukan banyak oksigen, sehingga apabila sampah-sampah tersebut berada di dalam air, maka perairan tersebut akan kekurangan oksigen.
c. Bahan pencemar senyawa organik/mineral misalnya logam-logam berat seperti merkuri (Hg), cadmium (Cd), timah hitam (Pb), tembaga (Cu), garam-garam anorganik.
d. Bahan pencemar organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yaitu senyawa organik yang berasal dari pestisida, herbisida, polimer seperti plastik, deterjen, serat sintesis, limbah industri dan limbah minyak.
e. Bahan pencemar berupa makanan tumbuh-tumbuhan seperti senyawa nitrat dan senyawa fosfat.
f.Bahan pencemar berupa zat radioaktif yang biasanya berasal dari limbah PLTN dan dari percobaan- percobaan nuklir lainnya.
g. Bahan pencemar berupa endapan/sedimen seperti tanah dan lumpur akibat erosi pada tepi sungai atau partikulat-partikulat padat/lahar yang disemburkan oleh gunung berapi yang meletus.
h. Bahan pencemar berupa kondisi (misalnya panas), berasal dari limbah pembangkit tenaga listrik atau limbah industri yang menggunakan air sebagai pendingin.
B. Permasalahan Menurunnya Kualitas dan Kuantitas Air Sungai Musi 1. Faktor-faktor Menurunnya Kualitas dan Kuantitas Air Sungai Musi
a. Berkurungnya kuantitas tanaman bakau di pesisir pantai. b. Di sekitar DAS, pemukiman semkin padat.
c. Limbah dari aktivitas rumah tangga, industri, pembusukan, dan lainnya. d. Pembukaan lahan dan kebakaran hutan.
e. Aktivitas perkebunan dan pertambangan di sekitar sungai yang tidak bertanggung jawab.
a. Berkurangnya kuantitas tanaman bakau di pesisir pantai menyebabkan intrusi laut. Hal ini dibuktikan dengan nelayan berhasil menangkapikan hiu di sekitar jembatan Ampera, Palembang. Padahal jarak Ampera ke ambang batas laut di Selat Bangka sekitar 100 kilometer. Penurunan kualitas daerah hulu juga terjadi sehingga paokan air tawa berkurang. b. Limbah dari aktivitas rumah tangga, industri, pembusukan, dan lainnya
menyebabkan kualitas air menurun dan jumlah air bersih menurun pula. Limbah merupakan sisa-sisa produksi. Limbah dari industri, rumah tangga, dan lainnya dibuang secara langsung ke sungai sehingga air sungai tercemar. Ekosistem di sungai pun juga terganggu, makhluk hidup air mati, dan air berwarna hitam (kotor).
c. Lahan di sekitar sungai dijadikan perkebunan dan perindustrian sehingga fungsi daerah sungai menurun, daerah aliran sungai tidak terdapat tempat penyerapan. Sehingga jika musim hujan tidak ada tempat resapan dan menyebabkan banjir. Kebakaran hutan saat musim kemarau dapat menyebabkan kualitas air menurun karena abu dan asap yang mengkontaminasi air sungai.
d. Dari sisi sedimentasi, kedalaman Musi tidak merata, mulai dari 2 meter hingga 20 meter. Beda kedalaman air saat musim hujan dan kemarau ada yang mencapai 2 meter sehingga riskan bagi aktivitas pelayaran dan pemanfaatan air bersih oleh perusahaan air minum daerah.
e. kerusakan yang terjadi pada Musi jelas mengancam pasokan air bersih kepada warga. Selama ini Musi dan delapan anak sungainya menjadi sumber utama bahan baku air bersih. Pendangkalan sungai juga mengakibatkan bencana banjir terus meluas beberapa tahun terakhir. f. Pada tahun ini tingkat pencemaran naik 10 persen karena angka baku
manusia. Oleh karena itu, perlu menjadi perhatian semua pihak. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi ekosistem di Sungai Musi, tetapi juga berdampak ke anak-anak sungainya.
g. Data yang disampaikan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumsel menyebutkan, sekitar 70 persen air Sungai Musi tercemar limbah rumah tangga, sedangkan sisanya 30 persen tercemar limbah perusahaan atau industri.. Berdasarkan hasil pengujian 9 dari 10 anak sungai yang airnya diteliti ternyata kualitas baku mutu sungai terus menurun. Dengan kata lain, terjadi kenaikan kenaikan kadar kandungan zat berbahaya.Beberapa anak sungai di Kota Palembang berisiko tercemar tersebut di antaranya, yaitu Sungai Bendung, Sungai Aur, Sungai Sekanak, Sungai Buah, Sungai Ogan, Sungai Demang Jambul, Sungai Sintren, Sungai Jeurju, dan Sungai Rendang. Selain menimbulkan bau tidak sedap, sampah mengambang di aliran anak sungai ini.
3. Solusi untuk Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Air Sungai Musi
Aspek sosial kelembagaan menjadi aspek prioritas dalam pengendalian pencemaran air dikarenakan pemanfaatan sumber daya alam dan kualitas lingkungan berkaitan dengan pola perilaku masyarakat di sekitarnya. Begitu pula dengan kondisi dan kualitas air sungai Musi, dipengaruhi oleh masukkan buangan air limbah yang berasal dari daerah tangkapan airnya yang dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat di dalamnya.
Aspek managemen perencanaan menjadi aspek prioritas kedua. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam strategi pengendalian pencemaran air diperlukan suatu instrumen kebijakan yang dijadikan pedoman dalam pengendalian pencemaran termasuk pembagian peran antar instansi terkait. Selain itu, Aspek ekologi menjadi prioritas ketiga, bahwa dalam melakukan upaya pencegahan pencemaran air dapat dilakukan melalui perbaikan kualitas lingkungan sekitar sumber air.
Musi, dipengaruhi oleh masukkan buangan air limbah yang berasal dari daerah tangkapan airnya yang dipengaruhi oleh pola perilaku masyarakat di sekitarnya. Masyarakat dalam hal ini adalah penduduk yang menggunakan air sungai Blukar sebagai tempat mandi, cuci dan buang air besar, perilaku petani di daerah sekitar sungai dalam penggunaan pupuk dan pestisida serta masyarakat industri yang membuang air limbah sisa produksi ke sungai Musi.
Peningkatan koordinasi antar instansi yang berkaitan dengan pengendalian pencemaran air juga perlu dilakukan. Peningkatan koordinasi disini dapat dilakukan dengan penerapan persyaratan prinsip - prinsip pengendalian pencemaran air terhadap rencana usaha/kegiatan yang mengajukan perizinan dimana masing-masing instansi menjadi anggota tim pertimbangan perizinan maupun dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan yang berkaitan dengan pencegahan pencemaran air.
Selama ini masing-masing instansi menjalankan program dan kegiatan secara sektoral dan belum terpadu dan terkoordinir, sehingga kegiatan yang dilakukan antar masing-masing instansi belum sinkron dan belum secara bersama-sama fokus menangani suatu daerah tertentu. Untuk melaksanakan program dan kegiatan secara terpadu dan terkoordinir diperlukan suatu pedoman berupa rencana induk pengelolaan sumber daya air berbasis Daerah Aliran Sungai termasuk pembagian peran antar instansi.
Upaya meningkatkan dengan melakukan pengawasan industri yang berada di bantaran Sungai Musi dengan memperketat baku mutu limbah sebelum dibuang ke sungai. Seluruh masyarakat dan termasuk industri, agar tidak membuang limbah bahan berbahaya, zat kimia, dan kotoran ke sungai. Selain itu, pemerintah kota segera menerbitkan peraturan daerah yang melarang orang membuang sampah dan kotoran berbahaya di Sungai Musi, baik langsung maupun melalui anak sungainya.
masyarakat tersebut dapat dimulai dengan mendukung kebersihan dan menggalakkan gotong royong tiap rumah masing-masing. Mulai dari halaman rumah dan saluran pembuangan air. Di samping itu, diperlukan peran aktif BLH Propinsi Sumsel dengan melakukan kerja sama dengan semua pihak yang terkait guna melakukan pembersihan di beberapa anak Sungai Musi yang tercemar.
Pemerintah mengajak perusahan-perusahan untuk menggali lumpur Musi, kemudian ditimbunkan ke kawasan rawa-rawa di daerah Jakabaring, Palembang.Ada pula perusahaan yang bernaung di bawah bendera PT Pupuk Indonesia Holding Company itu menanam pohon bambu sepanjang tepian Sungai Musi. Tahap awal ada seribu bibit pohon bambu yang ditanam. Tanaman ini akan dilakukan terus-menerus setiap tahun, sehingga akan ada sejuta bambu yang tumbuh di tegalan Musi.
Program yang diberi tajuk "Serumpun Bambu, Sejuta Berkah" itu merupakan salah satu bentuk kepedulian perusahaan pupuk tersebut terhadap lingkungan hidup, khususnya terhadap Sungai Musi yang saat ini terus mengalami pendangkalan. Program tersebut juga untuk pemberdayaan masyarakat karena prospeknya yang tinggi sebagai tanaman industri, yakni sebagai bahan baku industri tekstil dan industri kreatif (situs pusri, http://www.pusri.co.id/ina/berita-amp-kegiatan-media-massa/sejuta-bambu-untuk-pelestarian-sungai-musi-dan-tingkatkan-perekonomian-masyarakat/)
BAB III PENUTUP A. Simpulan
Sungai musi merupakan salah satu sungai terbesar di Indonesia. Sungai Musi mempunyai banyak manfaat yaitu sebagai sarana transportasi, mandi, minum, pariwisata, dan sebagainya. Namun, kondisi sungai Musi menurun berdasarkan kuantitas dan kualitasnya. Sungai Musi mengalami pencemaran, air sungai berwarna hitam pekat, dan jumlah air menurun. Sehingga mengganggu aktivitas kehidupan makhluk hidup.
Cara untuk mencegah dan meningkatkan kembali fungsi sungai Musi yaitu pemerintah harus bertindak tegas atas pelanggaran yang dilakukan oleh pabrik maupun perusahan ataupun masyarakat yang membuang limbah sembarangan. Selain itu, perijinan perusahaan ataupun pabrik harus ada peraturan melestarikan lingkungan. Perlu diadakan reboisasi hutan – hutan yang terdapat di aliran suangai sehingga mengurangi longsor. Jadi, pemerintah, perusahaan, pabrik, dan masyarakat harus saling bekerjasama untuk melestarikan sungai Musi.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA Indarto. 2010. Hidrologi. Bumi Aksara: Jakarta.
P. Aji Satrio, 2013. Perairan Darat diakses di http://satrio-aji-p.blogspot.com/2013/03/perairan-darat-sungai-daerah-aliran.html pada 10 April 2015.
Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Tya Fransiska. 2012. Sungai Musi Sumatera Selatan diakses di
http://fransiskatya.blogspot.com/2012/11/sungai-musi-sumatera-selatan_11.html pada 16 April 2015.
Wiwoho. 2005. Model Identifikasi Daya Tampung Beban Cemaran Sungai Dengan QUAL2E. Tesis. Universitas Diponegoro. Semarang.
___.2015. Kondisi Musi Menurun. Kompas Online: Jakarta (http://tataruangpertanahan.com/kliping-1505-kondisi-musi-menurun.html diakses pada tanggal 1 April 2015)
___. 2012.Pencemaran Air. Badan Lingkungan Hidup: Samarinda
(http://blh.samarindakota.go.id/index.php/public/page/detail/41 diunduh pada tanggal 10 Aprill 2015)
___.2011. Fungsi Daerah Aliran Sungai
(http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/09/fungsi-daerah-aliran-sungai.html diunduh pada tanggal 10 April 2015).
http://www.pusri.co.id/ina/berita-amp-kegiatan-media-massa/sejuta- bambu-untuk-pelestarian-sungai-musi-dan-tingkatkan-perekonomian-masyarakat/ pada 16 April 2015.