1 WAWASAN SOSIAL BUDAYA MARITIM
A. PENGANTAR
Tata cara penetapan kawasan konservasi sesuai dengan peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. PER.02/MEN/2009 dalam pasal 4 disebutkan bahwa kawasan konservasi perairan ditetapkan berdasarkan kriteria ekologi, social budaya dan ekonomi, secara ekologi kawasan konservasi perairan harus memiliki keanekaragaman hayati, kealamiahan, keterkaitan ekologis, keunikan, produktivitas, sehingga kriteria sosial budaya meliputi dukungan masyarakat, potensi konflik, kepentingan, potensi ancaman dan kearifan lokal serta adat istiadat, serta kriteria ekonomi meliputi nilai penting perikanan sehingga mudah untuk diakses Pengelolaan kawasan konservasi laut oleh pemerintah daerah merupakan implementasi asas desentralisasi kewenangan pemerintah sesuai Undang-Undang Pemerintah daerah dan Undang-Undang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kelembagaan sangat penting, seperti diungkapkan Kartodihardjo (2006), lemahnya
Nama : Nisfah Ainun Mardiyah
Nim : L041 171 003
Prodi/Fakultas : Sosial Ekonomi Perikanan/Ilmu Kelautan Dan Perikanan
Topik : Manajemen Perikanan
2 penguatan kelembagaan telah terbukti diikuti oleh kegagalan kebijakan untuk mencapai tujuannya (Kushartono, 2009).1
Tanjung Vagita, di wilayah pesisir Kampung Folley, Distrik Misool Timur, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, merupakan salah satu wilayah yang menerapkan konservasi tradisional “Sasi”.
Sasi sendiri bisa diartikan sebagai larangan. Sebuah hukum adat berupa larangan mengambil sesuatu di lokasi tertentu, yang bertujuan untuk menjaga kelestarian dan populasi sumberdaya hayati. Sasi dikenal luas di daerah timur Indonesia, khususnya Maluku dan Papua. Selama ini Sasi yang banyak dilakukan keluarga, dan itu tanpa pengawasan. Itupun tergantung kita saja kapan mau buka atau tutup. Beda dengan sekarang sudah ada pengelolanya dari gereja yang difasilitasi oleh TNC. The Nature Conservancy Program Indonesia berupaya meningkatkan kesejahteraan Indonesia tanpa mengorbankan keberlanjutan alam bagi generasi saat ini dan mendatang dengan cara mendorong nilai penting alam, mempercepat transformasi di bidang konservasi dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan melalui serangkaian kegiatan pengelolaan kawasan lindung, konservasi spesies penting, dan pemberdayaan masyarakat2
Jadi kawasan konservasi yang berada didaerah wilayah pesisir Kampung Folley menarik untuk dikunjungi karena kita bisa melihat Taripang Hasil Panen buka Sasi dimana Tanjung Vagita merupakan salah satu wilayah yang menerapkan konservasi tradisional.
1Yusmanto, Sutrisno Anggoro, Tukiman Taruna 2012 “Kerawanan dan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi laut”, diakses dari
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=106988&val=4048&title=KERAWANAN%20DAN%20KE BIJAKAN%20PENGELOLAAN%20KAWASAN%20KONSERVASI%20LAUT%20DAERAH%20UJUNGNEGORO%E2% 80%93ROBAN%20KABUPATEN%20BATANG pada tanggal 17 november 2017 pukul 11.55
Jurnal EKOSAINS | Vol. IV | No. 3 | November 2012 HAL 50
2Akhmad solihin 2010 “Upaya Konservasi dalam membangun desa pesisir”, diakses dari
3 Sasi sendiri bisa diartikan sebagai larangan. Sebuah hukum adat berupa larangan mengambil sesuatu di lokasi tertentu, yang bertujuan untuk menjaga kelestarian dan populasi sumberdaya hayati. Sasi dikenal luas di daerah timur Indonesia, khususnya Maluku dan Papua.
Sakralisasi sasi ini bisa dilihat dari proses penutupan dan pembukaannya, yang selalu didahului oleh ritual dan doa-doa tertentu, baik oleh pemangku adat, pendeta di gereja ataupun imam di mesjid meski Folley dikenal kaya dengan teripang, namun pada 1990-2000, teripang berkurang drastis dan bahkan hilang. Ini akibat penangkapan berlebihan tanpa adanya aturan ukuran yang boleh diambil. “Dulu semuanya diambil dan ini membuat teripang sempat hilang. Kita tak menemukan teripang dimana pun, tak seperti sekarang-sekarang ini
Tujuan saya menulis artikel ini adalah untuk melestarikan daratan dan perairan yang menjadi sandaran bagi semua kehidupan. bersama-sama kami mempromosikan nilai alam yaitu taripang dari wilayah konservasi yang penerapannya secara tradisional, dan membantu memicu perubahan dalam konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan sumberdaya alam untuk kepentingan alam dan manusia yang berkesinambungan untuk generasi yang akan datang Sebuah Indonesia yang sejahtera tempat kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan alam berada dalam keseimbangan untuk generasi sekarang dan akan datang
B. METODE PENULISAN
Metode penulisan yang saya gunakan adalah mengumpulkan data-data dari internet yaitu metode sekunder, saya hanya menggunakan metode sekunder karena waktu yang tidak menentu sehingga saya belum bisa mengambil data secara langsung dengan berkunjung ke wilayah konservasi tersebut.
4 topik dari Artikel saya, dan saya mencoba cari di Internet dan muncullah Topik tersebut dan lebih menariknya wilayah ini merupakan salah satu yang menerapkan konservasi tradisional yaitu “sasi”.
Saya menggabungkan beberapa data atau informasi dari berbagai link, sehingga dapat dijadikan artikel, mulai dari kita memberikan informasi tentang apa yang membuat artikel ini menarik untuk dibaca, dan apa pentingnya artikel ini sehingga pentingnya kearifan local dalam konservasi.
C. PEMBAHASAN
1. Pengelolaan Sumber Daya Berbasis Masyarakat
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki luas laut dan
jumlah pulau yang besar. Panjang garispantai Indonesia mencapai 104 000 kmdengan luas
wilayah laut yang mendominasi total luas teritorial Indonesia sebesar 7.7 juta km. Potensi tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki kekayaan
keanekaragaman hayati dan non hayati yang tersebar di dunia kelautan terbesar (Data Pusat
Statistik KKP, 2011). Karakteristik geografis Indonesia serta struktur dan ekosistemnya
yang didominasi oleh lautan menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki terbesar
di dunia, dan hal ini sekaligus merupakan justifikasi bahwa Indonesia merupakan salah satu
negara bahari terbesar di dunia (Dahuri, 2003)3
Hal tersebut dapat diketahui bahwa masyarakat adat menjaga sumber daya laut, untuk
keberlanjutan kehidupan mereka, karena secara tidak langsung kehidupan mereka
tergantung dengan laut. Salah satu cara yang dikembangkan untuk melihat keberlanjutan
dalam pengelolaan sumber daya laut berbasis masyarakat adalah dengan metode tersebut
3Elva Lestari dan Arif Satria, 2015 “Peranan system sasi dalam menunjang pengelolaan
berkelanjutan pada kawasan konservasi perairan daerah Raja Ampat” diakses dari
http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/mra/article/download/2073/pdf pada tanggal 20 november 2017 pukul 18.15
5
yang digunakan oleh penulis untuk menilai keberlanjutan di Raja Ampat, tepatnya di
daerah kampong Folley, selain itu perlu ada kajian dan beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan karena masih sedikit penelitian mengenai pengelolaan sumberdaya laut
berbasis masyarakat secara khusus pada kawasan konservasi di beberapa wilayah Raja
Ampat. 4
2. FAKTOR INTERNAL DAN FAKTOR EKSTERNAL
Istilah moderen Sasi dikenal sebagai konservasi tradisional, dengan model
pengelolaan berbasis masyarakat telah berlangsung secara turun-temurun. Pada awalnya
praktek Sasi terdapat Maluku, kemudian menyebar ke wilayah kawasan Papua, termasuk di
wilayah Distrik Misool Barat, Kabupaten Raja Ampat Papua Barat, dan salah satunya di
wilayah Lilinta dan Sasi “ibu-ibu”.Menurut Ruddle (1999) sebagaimana dikutip Satria (2009), menyebutkan bahwa unsur-unsur pengelolaan sumberdaya perikanan Berbasis
masyarakat antara lain, batas wilayah, aturan, hak, pemegang otoritas, sanksi, dan
monitoring serta evaluasi. Pada pengelolaan Sumber daya Berbasis masyarakat Di kawasan
kampong folley Barat berupa Sasi laut, contoh pada Sasi yang untuk melarang
penangkapan biota laut yaitu : lola, teripang, lobster dan juga ikan (khusus di Kapatcol),
sedangkan jenis biota lainnya tidak di Sasi. 5
Batasan wilayah daerah yang diatur dalam Sasi di Distrik Misool Barat adalah
seluruh batas wilayah laut di area desa tersebut, dengan menggunakan tanda batas tanda
alam (natural sign) seperti kampung dengan kampung dan pulau dengan pulau, untuk
memberitahukan bahwa wilayah tersebut telah di Sasi atau dengan menggunakan
pelampung, kayu-kayu, dan papan yang bertulisakan Sasi. Area Sasi termasuk ke dalam
4 ibid, hal 70
5Elva Lestari dan Arif Satria, 2015 “Peranan system sasi dalam menunjang pengelolaan
berkelanjutan pada kawasan konservasi perairan daerah Raja Ampat” diakses dari
http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/mra/article/download/2073/pdf pada tanggal 20 november 2017 pukul 18.55
6
kawasan konservasi yang dimanfaatkan oleh masyarakat, wilayah kawasan konservasi
sendiri meliputi beberapa pulausaja yang dikavling untuk wilayah konservasi, tetapi ketika
di dalam pembukaan Sasi makawilayah-wilayah yang di kavling sebagai wilayah
Tidak ada aturan tertulis dan baku dalam penerapan Sasi di Distrik Misool Barat.
Namun masyarakat sudah mengetahui dan memahami mengenai aturan adat tersebut saat
bukaSasi ataupun saat tutup Sasi. Aturan Sasi yang diterapkan yakni, pada saat tutup Sasi
masyarakat hanya boleh melintas di area yang di Sasi, tidak diperbolehkan mengambil lola,
lobster, teripang, dan ikan yang juga di Sasi di wilayah tersebut. Saat dimulai penutupan
Sasi,maka saat itulah aturan Sasi diberlakukan, aturan berakhir ketika telah diumumkan
bahwa sudah saatnya buka Sasi. Mekanisme dalam menutup dan membuka Sasi hampir
sama di seluruh desa di Distrik Misool Barat penerapannya.
Apabila ada warga yang melanggar akan diberikan sanksi. Pengambilan keputusan
yang melanggar aturan, tokoh adat, tokoh agama dan pemerintah yang berhak menentukan
hukuman yang didapat oleh pihak yang melanggar (Satria 2002).
Faktor Eksternal
a. Pengakuan dari pemerintah
Sasi merupakan kearifan lokal yang sudah secara turun-temurun dilakukan oleh masyarakat
di Distrik Misool Barat, telah diakui oleh masyarakat yang dibuktikan dengan membuat
kawasan konservasi perairan daerah yang melibatkan unsur pemerintah, masyarakat dan
LSM dalam membuat kebijakan, yang memperhatikan praktek Sasi yang sudah lama
berlangsung diDistrik Misool Barat. Peran Sasi dinilai penting dalam pembuatan
aturan-aturan kawasan konservasi perairan daerah6
b. Kebijakan pengelolaan sumber daya
Kebijakan pengelolaan sumber daya laut pada dasarnya memiliki tujuan yaitu
meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat (social well-being) di daerahnya secara
7
berkelanjutan. Kebijakan pemerintah yang melibatkan peran Sasi memberikankesempatan
bagi seluruh masyarakat untuk dapat mengelola dan memanfaatkan sumber daya laut, dan
didalamnya terdapatkesepakatan-kesepakatan bersama yang dibuat oleh masyarakat, ketua
adat, tokoh masyarakat dan kepala kampung dengan ketua adat yang memiliki kedudukan
tertinggi.
Faktor Internal
a. Tingkat Homogenitas Masyarakat
Di Distrik Misool Barat merupakan sekumpulan masyarakat yang hidup
bersama-sama mendiami wilayah pesisir (Satria 2004) yaitu desa-desa yang ada berada di sana, dari
segi mata pencaharian utama lebih banyak sebagai nelayan karena demografi mereka yang
mendukung mereka bekerja sebagai nelayan, sedikit dari mereka yang bekerja sebagai
petani yaitu di daerah Biga, Gamta dan Magey. Masyarakat yang tinggal di desa, biasanya
masih memiliki hubungan saudara dan memiliki garis keturunan yang sama atau satu suku,
dua suku yang terkenal di Distrik Misool yaitu Matbat dan Matlo7
b. Sejarah pengelolaan lokal
Dalam segi pengelolaan sumber daya, pengelolaan sumber daya didasarkan atas
pengetahuan lokal (Satria 2009b), tunduk dan selaras dengan alam (Kluckhon dalamSatria
2002b), yakni masyarakat di Misool Barat secara terus menerus melakukan kegiatan Sasi
yang telah mereka sadari bahwa kearifan lokal tersebut akan menjadi hal yang berguna,
sebagai tabungan untuk anak dan cucuk mereka di masa yang akan datang. Sasi yang
dilakukan tidak hanya Sasi
c. Kompleksitas ekonomi wilayah
Wilayah di Distrik Misool Barat, sebagian besar bekerja untuk menghidupi
kebutuhannya menjadi seorang nelayan, namun dibeberapa desa di Misool Barat,
menghidupi kehidupannya dengan bercocok tanam dengan komoditas unggulan adalah
sagu, masih ada sistem barter dalam memenuhi kebutuhan dengan cara masyarakat di desa
8
Biga datang ke Lilinta untuk menjual sagu, masyarakat dari Lilinta membayar sagu tersebut
dengan ikan. Membahas ekonomi di wilayah Distrik Misool Barat, seperti yamg telah
dipaparkan bahwa masyarakat tunduk dan selaras dengan alam
Jadi seperti yang kalian ketahui sebagia Negara kepulauan, masyarakat Indonesia
memiliki kearifan local dalam mengelola sumberdaya ikan yang bertanggung jawab dan
berkelanjutan, kearifan local tersebut merupakan hak-hak kepemilikan yang tidak hanya
diartikan sebagai penguasaan terhadap suatu kawasan, akan tetapi juga sebagai salah satu
bentuk stategis dalam melindungi sumberdaya dari kegiatan perikanan yang merusak dan
berlebihan.
D. PENUTUP
Pengelolaan kawasan konservasi perairan daerah, berjalan baik karena mengadopsi
system Sasi. Sasi merupakan kearifan lokal yang sudah secara turun-temurun dilakukan
oleh masyarakat di Distrik Misool Barat. Kegiatan Sasi yang dilakukan sejak lama untuk
menjaga sumber daya alam yang ada agar terjadi berkelanjutan. Sasi telah diakui oleh
pemerintah. Dalam membuat kawasan konservasi perairan daerah, pemerintah, masyarakat
dan LSM membuat kebijakan yang memperhatikan sistim Sasi.Pemerintah pusat memiliki
kebijakan dalam pengelolaan sumber daya dengan membuat aturan-aturan dan membuat
suatu kawasandengan zona-zona di dalamnya.
Implikasi KebijakanTingkat keberlanjutan sumber daya laut di Distrik Misool Barat,
termasuk kategori Good, walaupun Kabupaten Raja Ampat secara umum merupakan
kabupaten baru, namun dengan adanya Sasi yang masyarakat lakukan membuat kondisi
sumber daya alam terjaga dengan baik. Pada dimensi ekonomi atribut yang sangat perlu di
prioritaskan demi keberlanjutan sumber daya alam adalah pemberdayaan nelayan dalam
bidang ekonomi/koperasi dan pemasukan lain selain melaut. Masyarakat beranggapan
belum adanya perhatian khusus dari pemerintah untuk mereka terutama dari segi
pemenuhan ekonomi, walaupun sumber daya alam laut di Distrik Misool Barat sangat baik
9
menggunakan alat tradisional yang masih masyarakat menggunakan bom atau
sianida.Keberadaan kelompok nelayan khusus perlu diperhatikan untuk mengawasi dan
menjaga kawasan konservasi perairan daerah,dan termasuk kawasan Sasi. Hal ini
dilakukan untuk mengurangi kegiatan negatif yang merusak sumber daya. Selain itu
dengan adanya pengalokasian dana dari pemerintah membantu masyarakat di sekitar
kawasankonservasi perairan daerah bertujuan agar kegiatan pengawasan konservasi
sendiri/patroli pengawasan oleh kelompok masyarakat pengawasn berjalan baik8
DAFTAR PUSTAKA
Dahuri, R. 2003. Paradigma Baru Pembangunan Indonesia Berbasis Kelautan, dalam
Orasi Ilmiah : Guru Besar Tetap Bidang Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Lautan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor
http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/mra/article/download/2073/pdf pada tanggal 20 november 2017
pukul 18.15
Kushartono, Edi Wibowo. 2009. Beberapa Aspek Bio-Fisik Kimia Tanah di Daerah
Mangrove Desa Pasar Banggi Kabupaten Rembang. Ilmu Kelautan http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/mra/article/download/2073/pdf pada tanggal 20 november 2017 pukul 18.15http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/mra/article/download/2073/pdf pada tanggal 20
november 2017 pukul 18.15
Satria, A. 2002. Sosiologi Masyarakat Pesisir. PT Pustaka Cidesindo. Jakarta.
http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/mra/article/download/2073/pdf pada tanggal 20
november 2017
Satria, A. dan Y, Matsuda. 2004. Decentralization of fisheries management in Indonesia.
Dalam: Journal of Marine
http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/mra/article/download/2073/pdf pada tanggal 20 november 2017
10 pukul 18.15http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/mra/article/download/2073/pdf pada tanggal 20 november 2017
Santoso I. G. N., Gede Menaka Adnyana,I Ketut Kartha Dinata dan I GustiAlit Gunadi.
2010. Dampak Alih Fungsi Lahan Sawah Terhadap Pemanfaatan Sumberdaya Air
untukMenunjang Ketahanan Pangan.
http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/mra/article/download/2073/pdf pada tanggal 20 november 2017