63
PENGARUH KOMPETENSI BATUAN TERHADAP
KERAPATAN KEKAR TEKTONIK YANG
TERBENTUK PADA FORMASI SEMILIR DI
DAERAH PIYUNGAN, BANTUL, DAERAH
ISTIMEWA YOGYAKARTA
Budi SANTOSO1*, Yan Restu FRESKI1 dan Salahuddin HUSEIN1
1
Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada Jalan Grafika no 2, Mlati, Sleman D.I.Yogyakarta, Indonesia
Diterima tanggal : 15 November, 2013
Abstrak
Rekaman gaya tektonik terekam pada batuan dalam bentuk kekar-kekar ekstensi maupun gerus. Secara kuantitatif, respon batuan terhadap deformasi dapat didekati dari aspek densitas kekar, yang dikontrol oleh sifat kompetensi batuan. Kompetensi batuan dipengaruhi oleh ukuran butir, komposisi, dan tingkat sementasi batuan. Penelitian ini bermaksud menyajikan hubungan antara densitas kekar dan faktor-faktor geologi yang mempengaruhi kompetensi suatu batuan, dengan studi kasus pada batuan volkaniklastik Formasi Semilir yang tersingkap di Piyungan, Bantul, D.I. Yogyakarta.
Area kajian berupa singkapan tebing setinggi 7 meter dan lebar 30 meter. Pada singkapan tersebut, Formasi Semilir yang berumur Miosen Tengah tersusun atas perselingan batupasir bergradasi normal dan batulanau. Ketebalan masing-masing lapisan bervariasi dari 5 cm hingga 400 centimeter. Struktur kekar dijumpai hampir di setiap lapisan dengan kerapatan yang berbeda-beda.
Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengukuran distribusi kekar secara kuantitatif pada setiap lapisan dengan lebar singkapan 5 meter. Data diolah secara statistik dan diplot ke dalam grafik versus antar aspek yang mempengaruhi kompetensi batuan.
Batuan yang memiliki ukuran butir kasar dan tebal mempunyai tingkat kompetensi tinggi sehingga hanya sedikit merekam kekar. Batuan yang memiliki ukuran butir halus dan tipis mempunyai tingkat kompetensi rendah sehingga dapat merekam kekar dengan rapat. Komposisi volkanik pada Formasi Semilir mempunyai peran dalam tingkat pengelasan antar fragmen (welded structure) yang dapat menambah tingkat kompetensi batuan.
Kata kunci:Densitas Kekar, Formasi Semilir, Kompetensi Batuan.
Pendahuluan
Latar Belakang
Lokasi penelitian berada di sebuah bukit, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Gambar 1). Lokasi dapat diakses melalui Jalan Raya Piyungan – Prambanan.Di daerah tersebut terdapat singkapan batuan piroklastik dengan dimensi 20 meter x 30 meter dengan ketebalan lapisan sekitar 7 meter yang memiliki ekspresi kekar yang cukup beragam di setiap lapisannya.
64
der Pluijm dan Marshak, 2004). Kekar yang terdapat pada singkapan daerah penelitian terdiri atas kekar tektonik dan kekar non-tektonik. Kekar yang diperhitungkan dalam penelitian ini adalah kekar tektonik.
Gaya tektonik yang mempengaruhi suatu daerah akan terekam dalam batuan. Batuan merekam gaya tektonik tersebut berdasarkan beberapa variabel yaitu arah gaya, ketebalan lapisan batuan, dan tingkat kompetensi batuan. Uji kompetensi batuan tersebut dilakukan dengan mengukur kerapatan kekar yang terbentuk pada masing-masing lapisan batuan.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kompetensi batuan pada singkapan dan efeknya terhadap densitas kekar tektonik yang terekam pada masing-masing lapisan batuan.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan cara melakukan pengukuran stratigrafi satu jalur dan menghitung jumlah kekar tektonikyang terekam pada setiap lapisan. Penghitungan jumlah kekar dibatasi dalam jalur pengukuran selebar 5 meter. Kekar tektonik yang dianalisis meliputi kekar yang memotong lapisan batuan dengan ketebalan minimal 5 cm; kekar menerussecara vertikal; dan mengikuti pola kekar secara umum di sekitarnya. Hasil dari observasi dan tabulasi data di lapangan dilanjutkan dengan analisis laboratorium terhadap karakteristik dan tekstur batuan untuk mengetahui hubungan antara mineralogi dengan tingkat kompetensi batuan terhadap densitas kekar yang terbentuk. Analisis petrografi menggunakan mikroskop polarisasi dengan perbesaran 4x, kecuali pada pengamatan kandungan organik yang menggunakan perbesaran 60x.
Hasil Penelitian
Singkapan batuan pada lokasi penelitian (Gambar 2) memiliki total ketebalan 7,07 meter. Litologi penyusunnya terdiri atas lapilli tuff, tuff, dan pyroclastic breccia (Fisher, 1966).
Lapilli tuff berada pada lapisan 1 (100 centimeter), lapisan 10 (10 centimeter), dan lapisan
13 (20 centimeter). Lapilli tuff memiliki ciri-ciri warna putih, ukuran butir ash, mud
supported, komposisi lapilli dan tuf kasar. Pyroclastic breccia berada di lapisan paling atas
yaitu lapisan 17 dengan ketebalan 400 centimeter. Pyroclastic breccia memiliki ciri-ciri warna putih keabu-abuan, ukuran butir fragmen kerikil-kerakal, ukuran matriks pasir, sortasi buruk, grain supported, struktur welded, komposisi fragmen tuf dan litik andesit, komposisi matriks tuf. Sisanya, terdiri dari lapisan tuff yang berlapis dan tebalnya berkisar antara 5-20 centimeter. Ciri-ciri tuff warnanya putih hingga abu-abu, terkadang ada yang berwarna merah akibat oksidasi, berukuran butir ash, mud supported, dan komposisinya berupa abu vulkanik.
Tabulasi data kekar pada setiap lapisan dapat dilihat pada Tabel 1. Jumlah kekar yang terbentuk di lapisan-lapisan lapilli tuff yaitu berjumlah 11 (di lapisan 1, tebal 100 centimeter), 32 (di lapisan 10, tebal 10 centimeter), dan 29 (di lapisan 13, 20 centimeter). Kekar yang terbentuk di pyroclastic breccia berjumlah 9 ( di lapisan 17, tebal 400 centimeter). Jumlah kekar di tuff berkisar antara 24 – 73 dengan kisaran ketebalan lapisan 5-20 centimeter.
65
Lapisan 1 (lapilli tuff) memiliki porositas tipe vuggy yang persebarannya cukup melimpah dan terdapat struktur welded (lihat Gambar 5). Komposisi batuan terdiri dari kuarsa, plagioklas, dan gelas vulkanik. Lapisan 16(tuff) memiliki ciri porositas tipe fracture, terlihat kenampakan bedding fissility, terdapat fracture yang terisi oleh kuarsa, komposisi antara lain; gelas vulkanik, material organik, dan material berukuran abu. Lapisan 17 (Pyroclastic breccia) memiliki ciri grain supported, porositas intergranular dan kurang melimpah, struktur welded, komposisi; kuarsa, plagioklas, ortoklas, dan gelas vulkanik.
Pembahasan
Kekar dapat terbentuk pada batuan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kekuatan batuan terhadap tekanan, tekanan pori, retakan akibat tarikan, dan retakan akibat gaya kompresi (Mandl, 2005). Menurut Van der Pluijm dan Marshak (2004), kekar dapat terbentuk dipengaruhi oleh beberapa parameter, yaitu; ketebalan lapisan, litologi (modulus elastisitas batuan), kuat tarikan, tegangan. Faktor ketebalan lapisan dan litologi lebih mudah dianalisis karena terlihat secara kasat mata.
Hubungan Antara Jumlah Kekar dengan Ukuran Butir
Hubungan antara kerapatan kekar dengan litologi diukur melalui tingkat kekakuan (stiffness) melalui nilai elastisitas batuan. Batuan yang lebih kaku akan memiliki nilai elastisitas yang lebih besar (Van der Pluijm dan Marshak, 2004). Pada percobaan Van der Pluijm dan Marshak (2004), tidak dijelaskan secara spesifik pengaruh ukuran butir terhadap kerapatan kekar.
Percobaan ini dilakukan untuk mencari hubungan antara kerapatan kekar dengan ukuran butir batuan. Berdasarkan hasil analisis dari tiga sampel, didapatkan hasil bahwa semakin kasar ukuran butirnya maka jumlah kekar yang terbentuk akan semakin sedikit, hubungan keduanya digambarkan dalam grafik (lihat Gambar 3). Hal ini disebabkan oleh faktor litologi yang merupakan batuan piroklastik. Ukuran butir yang lebih kasar memiliki tingkat pengelasan (welding) yang lebih tinggi sehingga membuat struktur batuan lebih rapat (Mcphie et. al, 1993)
Hubungan Antara Jumlah Kekar dengan Ketebalan Lapisan
Jarak antar kekar akan semakin rapat bila lapisan batuan semakin tebal, dengan asumsi bahwa semua parameter pengontrol dianggap sama (Van der Pluijm dan Marshak, 2004). Berdasarkan dari tiga sampel batuan dengan ketebalan berbeda yang dianalisis, didapatkan hasil bahwa lapisan 17 yang merupakan lapisan paling tebal memiliki jumlah kekar yang paling sedikit, digambarkan dengan grafik (lihat Gambar 4). Grafik menunjukkan hubungan antara jumlah kekar yang semakin menurun pada lapisan-lapisan yang semakin tebal. Jika dibandingkan dengan teori, maka secara umum teori terbukti benar dan memiliki korelasi dengan hasil penelitian. Hubungan kerapatan kekar dengan ketebalan lapisan yaitu terletak pada refleksi stress shadow, semakin tebal batuan maka kekar yang terbentuk akan semakin panjang mengikuti ketebalan dan stress shadow akan semakin melebar seiring dengan semakin panjangnya kekar.
Kesimpulan
Dari analisis data yang dilakukan dapat disimpulkan
• Kerapatan kekar dipengaruhi oleh parameter ukuran butir batuan dan tingkat pengelasannya, khususnya pada batuan piroklastik.
• Kerapatan kekar dipengaruhi oleh ketebalan lapisan, semakin tebal lapisan maka
66
• Struktur welded mempengaruhi tingkat kompetensi batuan karena struktur batuan menjadi lebih rapat.
Ucapan Terimakasih
Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada
• Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada selaku penyelenggara seminar nasional
• Anggota-anggota AAPG UGM-SC yang turut membantu dalam diskusi selama penelitian berlangsung
Daftar Pustaka
Fisher, R.V., dan Schmincke, H-U., Pyroclastic Rocks. Springer-Verlag, Berlin,1984.
Mandl, G., Rock Joints. Springer-Verlag, Berlin,2005.
McPhie, J., Doyle, M., dan Allen, R., Volcanic Textures : A guide to the interpretation
of textures in volcanic rocks. Codes Key Centre, Tasmania, 1993.
Van der Pluijm, B. A., dan Marshak, S., Earth Structure: An Introduction to Structural
Geology and Tectonics Second Edition, W. W. Norton and Company, New York. 2004
Williams, H., Turner, F.J., dan Gilbert, C.M., Petrography : an introduction to the
study of rocks in thin sections. W.H. Freeman and Company, New York, 1982
67
Tabel 1. Kolom Litologi dan hasil tabulasi jumlah kekar pada setiap lapisan
Log Batuan
(tidak berskala, tebal total 707cm) No.
Tebal (cm)
Jumlah kekar
Nama Batuan
(Fisher, 1966B) Deskripsi singkat
17 400 9 Pyroclastic breccia
Batuan berwarna putih keabu-abuan, ukuran fragmen kerakal dan matriks material piroklastik berukuran pasir, sortasi buruk, grain supported, struktur
welded, komposisi fragmen tuf dan andesit, matriks tuf.
16 20 56 Tuff Batuan berwarna abu-abu, ukuran butir ash, mud supported, komposisi tuf.
15 20 49 Tuff Batuan berwarna abu-abu, ukuran butir ash, mud supported, komposisi tuf.
14 20 56 Tuff Batuan berwarna abu-abu, ukuran butir ash, mud supported, komposisi tuf.
13 20 29 Lapilli-tuff Batuan berwarna putih, ukuran butir ash, matrix supported, komposisi tuf
kasar.
12 20 40 Tuff Batuan berwarna merah keungu-unguan, ukuran butir ash, mud supported,
komposisi tuf.
11 10 73 Tuff Batuan berwarna abu-abu, ukuran butir ash, mud supported, komposisi tuf.
10 10 32 Lapilli-tuff Batuan berwarna merah keungu-unguan, ukuran butir ash, matrix supported,
komposisi tuf kasar.
9 5 41 Tuff Batuan berwarna abu-abu, ukuran butir ash, mud supported, komposisi tuf.
8 10 30 Tuff Batuan berwarna abu-abu, ukuran butir ash, mud supported, komposisi tuf.
7 10 38 Tuff Batuan berwarna abu-abu, ukuran butir ash, mud supported, komposisi tuf.
6 12 41 Tuff Batuan berwarna abu-abu, ukuran butir ash, mud supported, komposisi tuf,
carbon flakes
5 20 39 Tuff Batuan berwarna abu-abu, ukuran butir ash, mud supported, komposisi tuf.
4 5 58 Tuff Batuan berwarna putih, ukuran butir ash, mud supported, komposisi tuf.
3 20 24 Tuff Batuan berwarna abu-abu, ukuran butir ash, mud supported, komposisi tuf
dan carbon flakes.
2 5 57 Tuff Batuan berwarna coklat oksidasi, ukuran butir ash, mud supported,
komposisi tuf.
Gambar 3. Grafik hubungan jumlah kekar dengan ukuran butir
Lapisan 1
Lapilli tuff
Lapisan 16
Tuff
Lapisan 17
Pyroclastic breccia
//
X
TRO