Penanaman Konsep Pranata Sosial sebagai Kolaborasi Pilar Ilmu
Eksakta, Sosial dan Humaniora dalam Membangkitkan Semangat
Nasionalisme
Oleh :
Azizah Putri Purwasari
121411133023
Sastra Indonesia
Fakultas Ilmu Budaya
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga saya mahasiswa UNAIR dapat menyelesaikan makalah yang berbentuk karya tulis ilmiah ini dengan baik.Makalah ini dibuat sebagai bentuk keinginan untuk berpartisipasi sebagai anak Indonesia dalam upaya membangkitkan semangat perjuangan dan nasionalisme di kalangan generasi muda
Makalah ini dibuat dengan berbagai kajian literatur untuk menyelesaikan tantangan dan hambatan dalam pembahasan materi tersebut.Tidaklah akan terwujud dan terlaksana penulisan ini tanpa adanya kebijaksanaan dan bantuan dari pihak-pihak lain, oleh karena itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penulisan makalah. Ucapan terima kasih penulis berikan kepada :Pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini..
Saya menyadari bahwa makalahini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, adanya kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan dalam masyarakat.
Daftar isi
Halaman Judul………..………1
Lembar Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah………...2
Lembar Pengesahan………..3
Kata Pengantar………..4
Daftar Isi………...5
Abstrak……….6
Pendahuluan……….6
I.
Latar Belakang………....6
II.
Masalah Penelitian…………..………7
III.
Tujuan Penelitian………7
IV.
Tinjauan Pustaka……….8
V.
Metode Penelitian………9
Pembahasan………10
A. Orientasi nilai nasionalisme dalam dimensi penggolongan prantana social……….10
B. Proses penanaman pemahaman konsep pranata dalam masyarakat……….16
Kesimpulan………...16
Daftar Pustaka………17
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan pada modernisme dewasa ini untuk memahami polemik di Indonesia.Hal ini di karenakan untuk memahami satu persatu biang masalah di Indonesia sangatlah rumit dan sulit untuk di pahami dari kacamata berbagai Aspek dan bidang keilmuan.Indonesia terkenal memiliki kekayaan yang begitu kaya dan beranekaragam ragam budaya dari begitu banyak suku bangsa dan bahasa daerah yang berhasil di persatukan dalam sumpah pemuda Suatu kebanggaan yang tak ternilai serta perjuangan rakyat Indonesia yang begitu heroic dan berakhir dengan proklamasi.Sehingga selain dengan sejuta pesona keindahan yang di tawarkan Indonesia memiliki sejuta Permasalahan yang berhubungan dengan nasionalisme bangsa Indonesia sendiri yang mungkin cukup menguras tenaga dan emosi.Nasionalisme dapat di tumbuhkan dari pemahaman konsep pranata sosial yang telah mencakup 3 pilar ilmu yaitu eksakta,social dan humaniora yang digolongkan menjadi 8 dengan berlatar kebutuhan hidup manusia sebagai prinsip penggolongannya untuk pemerincian yang mencakup permasalahan yang ada di Indonesia secara Untiversal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Dengan mendeskripsikan gagasan tentang pentingnya peran pranata social dalam membangkitkan nasionalisme. Oleh sebab itu, salah satu aspek yang sangat menentukan keberhasilan adalah dengan konsep pemahaman tentang pranata kebudayaan itu sendiri. Maka konsep ini diharapkan dapat membantu Indonesia dalam menyelesaikan masalah mengenai nasionalisme
Kata Kunci : Pranata Sosial, Nasionalisme ,Permasalahan Indonesia, 3 Pilar Ilmu,Keadaan Masyarakat.
Pendahuluan
I.Latar Belakang
yang dianggap berguna dan itu sangat di butuhkan pada saat pembangunan rasa nasionalisme generasi muda.Perlu kita mengingat pada era proklamasi dahulu kebudayaan sangat di junjung tinggi karena budaya adalah cerminan suatu bangsa.Rasa Nasionalisme dapat di tumbuhkan saat mempertahankan budaya itu sendiri.Budaya bukan hanya berbicara tentang seni tetapi dari berbagai segi kehidupan di era modernisme ini kita sebagai generasi muda memiliki kebebasan untuk berpendapat tetapi terkadang kebebasan itu disalah artikan untuk menguasai semuanya,yang seharusnya mereka bersekolah agar pandai dan membanggakan Indonesia dengan moral dan akal budi mereka untuk mengontrol ilmu yang masuk tetapi sering kali mereka mengabaikan itu.
Suatu pranata sosial dapat memberikan pandangan menyeluruh dari standard pandangan kehidupan manusia yang dapat di golongkan kan menjadi 8 golongan pranata yang menyerupai daftar dari 7 unsur kebudayaan yang universal.mengingat masyarakat kita sangat sulit sekali melepaskan diri dari apa yang disebut adat.Pranata tersebut sudah terperinci untuk menggolongkan segala permasalahan yang ada meskipun penggolongan tersebut terkadang tidak memuaskan karena ada beberapa hal yang tidak di cakup dalam golongan- golongan pranata tersebut.Seperti Kejahatan dan sejenisnya tidak mendapatkan tempat dalam pranata sosial melainkan yang demikian disebut dengan pranata kemasyarakatan yang tidak hanya mengambil dari aspek eksakta dan social tetapi humaniora juga.
II.Masalah Penelitian
1.Bagaimanakah orientasi nilai nasionalisme dalam dimensi penggolongan prantana sosial
2.Bagaimanakah proses penanaman pemahaman konsep pranata dalam masyarakat
II1.Tujuan Penelitian
1.Untuk mengetahui orientasi nilai nasionalisme dalam dimensi penggolongan prantana budaya
IV.Tinjauan Pustaka
Pengertian Pranata Sosial
Koenjaraningrat menyebut social institutions ataupranata social. Ia menyatakan bahwa pranata social adalah suatu system tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kebutuhan kompleks dan kebutuhan khusus dalam masyarakat. Misalnya aturan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, kebutuhan ekonomi, dan lain-lain.
Menurut Koenjaraningrat (2000,16), pranata social memiliki 8 macam tujuan, yaitu: a. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan social dan kekerabatan, yaitu yang
disebut kinship atau domestic institution. Contohnya perkawinan, pinagan, tolong-menolong antarkerabat, pengasuhan anak, soapan santun antar kerabat, system istilah kekerabatan, poligami, percerian, dan sebagainya.
b. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk mata pencaharian hidup, memproduksi, menimbun, dan mendistribusikan harta benda atau economic institutions. Contohnya pertanian, perikanan, koperasi dan macam-macam perdagangan. c. Pranata yang bertujan memenuhi kebutuhan pengetahuan dan pendidikan manusia
atau educational institutions. Contohnya pendidikan masyrakat, TK, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, tempat-tempat kursus, dan tempat-tempat pelatihan-pelatihannya.
d. Pranata yang betujuan untuk memenuhi kebutuhan ilmiah manusia atau scientific institutions. Contohnya sebagai macam metode ilmiah dan pendidikan ilmiah lainnya.
e. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk menyatakan rasa keindahan dan rekreasi atau aesthetic and recreational institutions. Contoh: seni suara, seni rupa, seni gerak, seni lukis, dan seni sastra.
f. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan Tuhan atau religus institutions. Contohnya doa.
g. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk mengatur kehidupan berkelompok atau bernegara atau political institutions. Contohnya pemerintahan, demokrasi, kehakiman kepoisian, dan sebagainya.
h. Pranata-pranata yang mengurus kebutuhan jasmani manusia atau somatic institutions. Contohnya pemeliharaan kecantikan, kesehatan, dan kedokteran.
aktivitas tersebut.Norma-norma yang terkandung dalam setiap pranata social memiliki kearifan local yang tinggi dan dapat berguna bagi kehidupan bangsa dan negara dalam menumbuhkan rasa nasionalisme. Di dalam pranata social terdapat seperangkat aturan yang berpedoman pada kebudayaan. Oleh karena itu pranata social bersifat abstrak karena merupakan seperangkat aturan.Adapun wujud dari pranata social adalah berupa lembaga(institute).
Beberapa pendapat tersebut tidak menentukan beberapa jauh lembaga yang berkaitan dengan pranata social. Namun demikian, perlu ditentukan karakteristik dari suatu pola social yang dapat disebut pranata social. Kriteria tersebut antara lain sebagai berikut:
a. Terdapat tujuan utama yang menjadi kebutuhan khusus masyarakat. b. Mengadung nilai-nilai pokok yang bersumber dari para anggotanya.
c. Lembaga yang dimaksud relative permanen, yaitu berkaitan dengan ola-pola perilaku yang ditetapkan dalam lembaga sehingga menjadi tradisi dalam kebudayaan yang ada.
d. Landasan lembaga hendaknya memiliki cangkupan yang luas sehingga mampu mengoordinasikan kegiatan masyarakat.
e. Secara organisasi disusun secara sempurna, walaupun tidak menutup kemungkinan terdapat saling menbantu antarlembaga.
f. Ide-ide lembaga hendaknya dapat terima oleh sebagian besar anggota.
V. Metode Penelitian
Penelitian ini tersusun dengan kelengkapan ilmiah yang disebut sebagai metode penelitian Cara kerja tersebut merupakan pengetahuan tentang langkah-langkah sistematis dan logis dalam upaya pencarian data yang berkenaan dengan masalah-masalah penelitian guna diolah, dianalisis, diambil kesimpulan dan selanjutnya dicarikan solusinya.
. Penelitian ini, menggunakan pendekatan fenomenologi. Alfred Schutz sebagai salah satu tokoh teori ini berpendirian bahwa tindakan manusia menjadi suatu hubungan sosial bila manusia memberi arti atau makna tertentu terhadap tindakannya itu, dan manusia lain memahami pula tindakannya itu sebagai sesuatu yang penuh arti.
penganalisaan terhadap masalah –masalah yang berhubungan dengan nasionalisme yang terjadi pada setiap kelompok masyarakat yang berbeda-beda suku dan ras.
Sedangkan jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan berdasarkan pada data yang muncul berwujud kata – kata dan bukan rangkaian angka.Serta dengan metode penelitian deskriptif artinya melukiskan variabel demi variabel, satu demi satu. Metode penelitian deskriptif bertujuan untuk :
a) Mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada.
b) Mengidentifikasi masalah atau memeriksa kondisi dan praktek-praktek yang berlaku.
c) Membuat perbandingan atau evaluasi.
d) Menentukan apa yang dilakukan dalam menghadapi masalah yang sama dan belajar dari
pengalaman mereka untuk menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang.
Dilihat dari sumber data, bahan tambahan yang berasal dari sumber tertulis dapat dibagi
atas sumber buku dan majalah ilmiah, sumber dari arsip, dokumen pribadi dan dokumen resmi.Dalam konteks ini, upaya untuk menggali data informasi yang berkaitan dengan permasalahan penelitian, peneliti mencari sumber data tertulis untuk memperkuat hasil penelitian. Dalam hal ini peneliti mendapatkan sumber data tertulis berupa buku atau artikel yang terkait dengan nasionalisme Dalam penelitian ini, pengumpulan data akan dilakukan langsung oleh peneliti dalam situasi yang sesungguhnya. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yangTahap analisis data dalam penelitian kualitatif secara umum di mulai sejak pengumpulan data 1) reduksi data yang diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan 2) penyajian data (display data) dilakukan dengan menggunakan bentuk teks naratif dan 3) penarikan kesimpulan serta verifikasi.
Pembahasan
A. Orientasi nilai nasionalisme dalam dimensi penggolongan prantana social
Pranata social memberi pedoman atau petinjuk kepada manusia bagaimana mereka harus bertingkah laku atau bersikap dalam masyarakat agar tingkah lakunya sesuai dengan yang diharapkan masyarakat. Contohnya larangan mebuang samapah di sembarang tempat, menghormati orang yang lebih tua, mebantu tetangga yang sedang tertimpa bencana atau musibah, dan lain-lain.Dan dapat diambil contoh lagi menurut fungsi pranata itu sendiri sebagai Menjaga keutuhan dan integrasi masyarakat dengan adanya norma yang dijadikan sebagai pedoman dan petunjuk, setiap anggota masyarakat tidak dapat bertindak semaunya sendiri. Dengan demikian, dalam masyarakat akan tercipta keteraturan dan kehidupan yang harmonis. Suasana tersebut apabila dipelihara dan dikembangkan secara terus-menurus dapat menjaga keutuhan dan itegrasi dalam masyarakat. Memberikan pegangan pada masyaraka tPranata social yang di dalamnya terkandung norma-norma dijadikan pedoman dan pegangan di anggota msyarakata untuk bertindak dan bertingkah. Hal itu dimaksudkan agar apa yang dilakukanya tidak menyimpang dari norma-norma yang ada dalam masyrakat. Dengan demikian, pranata social dijadikan sebagai system atau alat pengendalian social terhadap tingkah laku masyarakat.
Nasionalisme adalah suatu usaha untuk mempertahankan keutuhan dan
kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk
sekelompok manusia yang mempunyai tujuan atau cita-cita yang sama dalam mewujudkan kepentingan nasional, dan nasionalisme juga rasa ingin mempertahankan negaranya, baik dari internal maupun eksternal.Berarti nasonalisme sendiri bertujuan untuk melaksanakan ketertiban dunia.Untuk melaksanakan hal tersebut tidaklah mudah perlu usaha ekstra dan bantuan dari orang lain.interaksi dengan antar masyarakat atau sesamapun membutuhkan sebuah etika,sopan satun dan perilaku yang baik dengan begitu kita akan hidup rukun tidak ada perselisihan dan perpecahan yang terjadi.Seperti prinsip utama nasionalisme adalah menjaga keutuhan NKRI dengan begitu kita dapat merhargai sesama dan tidak melakukan seenaknya untuk merusak ketentraman hidup orang lain.
poligami, percerian, dan sebagainya.Dari segi aspek domestic institution ini kita dapat menyumbangkan aspirasi kita untuk mengungkapkan rasa nasionalisme itu sendiri. Contoh sebuah studi kasus dalam kehidupan perkawinan pastilah menyatukan visi dan misi yang berbeda dari kedua pihak yang mumgkin dari latar belakang yang berbeda.Setiap konflik yang terjadi pada kehidupan rumah tangga harus di tangani dengan berbagai solusi dengan penyelesaian yang tidak merugikan kedua pihak baik dalam masalah ekonomi seperti kemiskinan kita dapat menyelesaikan masalah dari 3 konsep itu jika eksakta menyelesaikan dengan angka-angka yang mungkin dikaitkan dengan masalah keuangan,tetapi jika social maka akan menemukan solusi dari pendekatan melalui interaksi social dan humaniora mencakup kebudayaan dari segi lingkungan atau kondisi lapangan baru mendapatkan solusi untuk menyelesaikan masalah dengan menghubungkan mainset apa yang perlu di ubah untuk memperbaikan keadaan.Dengan begitu maka kekerabatan akan terus terjaga tanpa adanya perpecahan seperti perceraian dan poligami.Dari masalah tersebut kita dapat mengambil pelajaran bagaimana cara menjaga sebuah kekerabatan da lam sebuah negarayang merupakan sebuah miniature kecil untuk membentuk sebuah negara.Seandainya penanaman konsep ini berhasil di terapkan dalam keluarga maka dapat diterapkan pula untuk menjaga keutuhan Indonesia sebagai bentuk nasionalisme.
menyambung hidup.Bukan berarti mereka kehilangan rasa nasionalismenya.Mereka masih mengingat tanah kelahiran mereka yaitu Indonesia tetapi mereka di dzalimi negara sendiri negara yang begitu makmur ternyata tidak bisa dinikmati sendiri oleh anak cucu Indonesia.Tamparan yang keras bagi pemerintah dalam upaya pembangunan itu sendiri bagaimana hal yang seserius ini masih di tangani dengan begitu sepele.Kita sebagai generasi mudapun seharusnya turut serta ikut membangun kedalam rasa nasionalisme yang di tunjukkan pada masalah tersebut.Bagaimana agar para pedagang Indonesia mau kembali ke negara kita setelah pemerintah mengabulkan tuntutan mereka dalam pembangunan agar tidak terlalu terlena oleh keindahan rumput tetangga yang subur dan dapat sedikit demi sedikit memudarkan semangat bangsa Indonesia yang berada pada negara tersebut.
Penggolongan pranata yang lainnya yaitu Pranata yang bertujan memenuhi kebutuhan pengetahuan dan pendidikan manusia atau educational institutions. Contohnya pendidikan masyrakat, TK, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, tempat-tempat kursus, dan tempat-tempat pelatihan-pelatihannya.Berbicara tentang pendidikan rasanya terasa berat sebelah bagi masyarakat Indonesia.Pada daerah perkotaan kita bisa merasakan fasilitas pendidikan yang lengkap mulai dari gedung sekolah,tempat-tempat kursus bahkan sampai dengan teknologi.tetapi pada daerah pinggiran jangankan untuk merasakan teknologi,gedung sekolah merekapun tak layak pakai dengan ruang kelas seadaanya dan guru pengajar seadaanya.Mereka yang di perkotaan bisa memanfaatkan transportasi untuk berangkat kesekolah tetapi mereka yang di daerah pinggiran bahkan harus melewati hutan,sungai atau bahkan rawa-rawa dengan berjalan tanpa alas kaki pakaian seadanya bukan seragam demi untuk mengenyam pendidikan.Rasa Nasionaisme mereka lebih tinggi untuk turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa tidak peduli apa dan bagaimana keadaan mereka tetap bersemangat untuk mencari ilmu berbeda dengan mereka yang di perkotaan yang lebih meluangkan waktu sekolah mereka untuk pergi ke mal.Tanpa memikirkan betapa beruntungnya mereka yang dapat mengenyam pendidikan.Pendidikan yang merupakan kunci awal kesejahteraan kehidupan justru menjadi manipolitik dalam kehidupan social dan humaniora.Pendidikan yang seharusnya menjadi kebutuhan wajib dan hak setiap warga negara justru menjadikan sebuah alat untuk memeras rakyat bukan untuk melahirkan ilmuwan seperti para ilmuwan pada bidang eksakta,social maupun humaniora.
membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya pintar tetapi juga cerdas dan berbudaya.Ikatan nasionalisme masyarakat terbentuk juga melalui pola piker yang sama tindakan yang sama pula yang di dasari oleh kesamaan latar belakang diantara mereka.Sebuah dunia ilmu pengetahuan akan melahirkan sebuah ilmu dari proses penelitian.Mereka yang berpendidikan dituntut untuk menciptakan produk dari ilmu yaitu sebuah teknologi melalui metode-metode ilmiah yang sudah ditetapkan dengan kevalidasian data tersebut.Dengan menciptakan teknologi manusia dapat mempermudah hidupnya dan membuat lebih sejahtera dan menggunakan hasil dari ilmu pengetahuan itu kepada era yang positive dengan kebebasan berkreasi dan berapresiasi.Melakukan hal yang positive berarti sama dengan mengisi kemerdekaan yang telah di berikan oleh leluhur dan pahlawan kusuma bangsa Indonesia dengan hal yang tidak sia-sia dan itu merupakan ungkapan dari nasionalisme sesungguhnya mungkin itu wujud nasionalisme dalam bidang sksakta
dalam pokok permasalahan Indonesia.Banyak sekali gizi buruk dan penyakit lainnya yang tidak dapat di tangani dengan baik karena keterbatasan biaya dan mahalnya kesehatan itu sendiri.Fasilitas mendapatkan penanganan yang lebih baik seharusnya menjadi hak setiap warga sekarang menjadi hal yang mustahil.
B.Proses penanaman pemahaman konsep pranata dalam masyarakat
Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk penanaman konsep pranata dalam masyarakat seperti kita ketahui bahwasannya pranata berisi tentang perilaku manusia yang berpola dan terperinci dan dapat diklarifikasikan menurut fungsi yang mencakup wujud ideal,komponen-komponen sistem dan norma pada tata kelakuan manusia.Fungsi pranata sebagai pedoman dan pegangan bagi masyarakat serta sebagai penjaga keutuhan dan integrasi masyarakat maka setiap manusia yang mempelajari tentang konsep pemahaman pranata social ini terlebih dahulu harus memahami jati dirinya terlebih dahulu.Selanjutnya sebagai putra-putri Indonesia kita juga harus memahami nilai-nilai leluhur yang terkandung pada ideology pancasila sebagai dasar negara dalam upaya pembelajaran sekaligus penerapan sikap nasionalisme yang terkandung dalam nilai-nilai pancasila tersebut.Selanjutnya kita harus dengan bijak menerima setiap teknologi yang berkembang pada lingkungan sekitar kita dengan diolah sebaik mungkin sebagai hasil ilmu pengetahuan,jangan sampai kita terlena dengan teknologi yang menyebabkan lupa akan sejarah bangsa semdiri.Menerapkan arti demokrasi yang sesungguhnya dengan pemahan nilai dan norma yang cukup agar kita sadar akan hokum yang berlaku dalam melaksanakan dan membantu mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia seperti yang tertuang pada pembukaan UUD 1945 alinea 4.Setelah melakukan pembelajaran semua itu diresmikan pada suatu instansi pendidikan sampai pada akhirnya penanaman konsep pranata social yang berguna bagi kehidupan
Kesimpulan
banyak hal kepada negara seharusnya kita bisa memberikan prestasi kepada negara sebagai bentuk rasa nasionalis kita.
Daftar Pustaka
Buku
Koentjaraningrat.2000.Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan.Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama
Sugiyono,Agus. 2001. Metodologi Ekonomi Positivisme. Jakarta : Gramedia
Website
Ardiwinata, S. Jajat. dkk. 2008. Sosiologi Antropologi Pendidikan. Bandung: UPI Press
Ningrum, Epon. Dkk.2006. Tempat Ruang dan Sistem Sosial. Bandung. UPI Press.
Hermawan, Ruswandi.dkk. 2006. Perkembangan Masyarakat dan Budaya. Bandung : UPI Press.
Rukandi, Kanda.dkk. 2006. Perspektif Sosial Budaya. Bandung : UPI Press.