Ringkasan Religi, Religiusitas dan Filsafat
Oleh Niat Prihartini, Sastra Daerah untuk Sastra Jawa, 1106061964
Filsafat dan agama atau religi merupakan suatu hal yang berlawanan. Keduanya saling bertolak belakang. Filsafat membahas suatu hal yang kebenaran dengan menggunakan parameter yang dapat diukur, apakah hal tersebut logis atau tidak dengan cara kerja bertolak dari akal. Agama bertolak dari wahyu dan tidak mengukur suatu kebenaran dari suatu kelogisan, karena dalam agama hal ini tidak diperhatikan.
Jujun S Suriasumantri mengatakan bahwa filsafat menelaah segala persoalan yang mungkin dapat dipikirkan manusia. Sesuai dengan fungsinya sebagai pionir, filsafat mempermasalahkan hal-hal pokok, terjawab suatu per-soalan, filsafat mulai merambah pertanyaan lain1.
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.
Dalam presfektif ilmu sosial humaniora (antropologi, sosiologi, dan etnologi) memandang religi bagian dari kebudayaan manusia, namun tidak dibenarkan para sarjana theologi, seperti Islam, Kristen, dan Yahudi. Religi sebagai kebudayaan batin manusia mengandung potensi psikologis yang mempengaruhi jalan hidup manusia2. Pada sisi lain religi dipandang sebagai wahyu Tuhan yang mengandung
ajaran yang diyakini manusia.
Usia religi sama dengan adanya manusia. Hal ini terlihat dari teori asal-usul manusia, teori evolusi Darwin yang dikembangkan oleh antara lain E.B. Taylor dan Lubbog. Ada pula teori yang dikemukakan oleh religi berdasar wahyu,
1 Jujun S Suriasumantri. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Sinar Harapan, 1995, hlm. 25.
masyarakat manusia diawali dengan turunnya Adam dan Hawa ke dunia, dan sejak itu pula religi berdasar wahyu diturunkan Tuhan kepada mereka. Sulaiman (1984), merumuskan secara sederhana pengertian dari religi atau religion, yaitu:
1) Percaya pada kekuatan gaib yang mengikuti alam semesta dan bersifat suci.
2) Bersikap terhadap kekuatan gaib itu untuk menerima kebaikan-kebaikan dan mencari keselamatan.
3) Membentuk pribadi dalam kehidupan karena kepercayaan itu (pada masing-masing kelompok)
Mangunwijaya (Anggarasari, 1997), membedakan antara istilah religi atau agama dengan religiusitas. Agama atau religi menunjuk pada aspek formal yang berkaitan dengan aturan-aturan dan kewajiban-kewajiban, sedangkan religiusitas menunjuk pada aspek yang dihati oleh individu.
Terdapat dua unsur religi, yaitu unsur teoritis dan unsur praktis. Unsur teoritis yaitu percaya kepada kekuatan yang lebih tinggi, sedangkan unsur praktis usaha manusia untuk tunduk kepada kekuatan-kekuatan tersebut serta menggembirakannya. Unsur praktis menimbulkan bentuk dan tatacara pemujaan (ibadah). Dua unsur tersebut sebagai syarat mutlak bagi suatu kebudayaan religi.
Agama atau religi dan filsafat memainkan peran yang mendasar dan fundamental dalam kehidupan manusia. Usaha memisahkan antara keduanya tidak membuahkan hasil, karena filsafat berhubungan erat dengan hakikat dan tujuan akhir kehidupan, dengan filsafat manusia dapat mengartikan dan menghayati nilai-penting kehidupan, kebahagian, dan kesempurnaan hakiki.
Maka dari itu agama dan filsafat dapat saling berhubungan meskipun keduanya berbeda. Agama banyak berbicara tentang hubungan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa, sedangkan filsafat seperti yang dikemukakan di atas bertujuan menemukan kebenaran. Jika kebenaran yang sebenarnya itu mempunyai ciri sistematis, jadilah ia kebenaran filsafat.
kebenaran obyektif, karena yang memberikan pandangan dan keputusan hanyalah akal pikiran. Sedangkan kesanggupan akal pikiran itu terbatas, sehingga filsafat yang hanya berdasarkan kepada akal pikiran semata tidak akan sanggup memberikan kepuasan bagi manusia, terutama dalam tingkat pemahamannya terhadap yang gaib.
Daftar Pustaka
Firmansyah, Zaki. “BAB II- KAJIAN TEORI.” Style Sheet http://lib.uin-malang.ac.id/thesis/chapter_ii/04410014-zaki-firmansyah.ps
Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Vol. 3. Jakarta: PT Balai Pustaka, 2005.
Nasution, Hasan. Filsafat Agama. Jakarta: Bulan Bintang, 1983.