• Tidak ada hasil yang ditemukan

Melampaui Positivisme dan Modernitas dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Melampaui Positivisme dan Modernitas dalam"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Melampaui Positivisme dan Modernitas :

Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas

Oleh : F. B Hardiman (2003)

Bagian 1 : Kriti atas Positivisme 1. Untuk Apa Mempersoalkan Realitas ?

Ilmu filsafat yang disebut sebagai induk dari semua ilmu menuntu kita untuk lebih berpikir kritis dan kreatif terhadap suatu hal, bagaimana cara kita memandang suaru reakitas yang patut kita hadapi dan pikirkan sewbagai suatu hal yang wajar dan fakta secara nyata. Ilmu filsafat memiliki dau unsur penting didalamnya yakni antara “mempersoalkan” dan “realitas”, mengapa dua unsur atau hal ini penting dalam filsafat.

Realita ketika tidak dianggap msalah atau tidak persoalan maka akan dianggap bukan masalah dan sbelaiknya juga ketika kita menganggap suatu kenyataan atau realita yang ada merupakan suatu persoalan maka itu akan kita anggap sebagai masalah, maka hal ini akan memacu kita untuk berpikir untuk bagaimana cara mengahadapai, memecahkan dan menyelesaikan masalah tersebut. Tentunya dengan jalan memahami apa masalah atau hal yang sedang kita hadapi saat ini, misalkan kemiskinan yang menurut senagian orang merupakan masalah, namun ada pula sebagian orang menganggap itu merupakan hal yang wajar.

Pemikrian seperti ini tidak terlepas dari pemahaman seseorang tentang apa yang sedanag di hadapi atau sedang dialaminya. Kaitan anatara realitas dan cara kita memahami hal ini sangat penting, apakah ini meruakan realita alam atau manusiawi, disisi lain kadang disebut juga sebagai realitas alamaiah dan sosial, dari hal ini kita dapat menagatur pemahaman atau interpretasi kita terhadap suatu realita.

Realitas merupakan kenyataan yang dihadapi oleh seseorang yang sifatnya patologi atau dianggap abnormal (tidak normal) misalnya : ketimpangan sosial, ketidakadilan, kemiskinan, sehingga kita bdituntut untuk lebih peka dan memahami hal tersebut dan mencari jalan keluarnya. 2. Penelitian dan Praksis.

Tema dalam bab kali ini adalah memahami paradigma atau pandangan dalam suatu metode penelitian dengan pemaparan ilmiah yang berisafta terbuka dan dialogis. Tujaun dari setaip pnelitian dan observasi adalah ilmu pengetahuan, namun pengetahuan ini idapat dari hasil bermcam-macam pendekatan, metode , prosedur dan hal lainnya. Hasil ini oleh beberapa filsuf dibagi kedalam dua jenis ilmu pengetahuan yakni yang bersifat ilmu alam dan sosial.

(2)

Perkebangan ilmu pengetahuan di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh ilmu-ilmu barat, apapaun jenis ilmu pengetahuannya, baik itu alam atau pun social bersumber dari ilmu barat. Persoalan menganai paradigm metode penelitian juga tidak terlepas dari perkembangan zaman, dan akan semakin kompleks ketika membahas mengenai ilmu social, karena dalam penelitian harus melihat apa yang ada (das sein) dana pa yang seharusnya (das sollen), sehingga ini juga ynag menjadi kritik pada paham positivisme karena pengetahuan dalam hal ini tidak memberikan atau mendorong sebuah perubahan melainkan menghasilkan data social saja sesuai dengan kritik yang dieberikan kepada salah satu filsuf yakni Harbermas.

Perspektif Harbermas tentang penelitian ilmiah , ada 3 wilayah yakni : wilayah akal sehat, wilayah ilmu-ilmu alam dan wilayah ilmu-ilmu social. Namun dlam kenyataan tidak seperti itu yang ada hanya alamiah dan sosail saja yang campur aduk satu sama lain.

Wilayah akal sebenarnya merupakan hasil dari berpikir ilmiah melalui proses penelitian, abstraksi, dan objektifitas. Tadi telah di singgung mengenai garis besar paradigm, perpsektif atau wilayah dalam proses penelitian, karena tidak menyangkut objek pengetahuan saja tetapi juga subjek dari pengetahuan itu sendiri. Hal ini kadang menjadi bahan untuk bertindak dan secara radikal pengetahuan sering berbenturan dengan praksis karena mengandung unsur subjektif didalamnya.

Penelitian sosial sebagai praksis komunikasi, sebagai mana kita ketahui bahwa di Indonesia kita mengenal berbagai macam pendekatan ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi, hanya yang bersifat humanistis-interpretatif lah yang bias di pakai senagai metode penelitian yang memiliki paradigma komunikasi. Bekerja menurut paradigm komunikasi ialah mengelolah data yang bersifat kuantitatif kemudian mengeneralisasikan ke dalam bentuk hal yang unik, dalam metode ini yang sering dipakai adalah kualitatuf yang bersifat hermeneutik.

Metode hermeneutik ini merupakan penafrisan dalam bentuk teks, yang memiliki rasa empati. Kedudukan penelitian sosial dalam masyarakat untuk memahami peneltian sosial sebagai praksis komunikatif. Kata praksis menagacu pada tingkah laku, tindakan atau perbuatan, namun bukan kerja dalam hal hubungan antara subjek sdan objek semata melainkan kemampuan komunikasi yang muncul dari suatu penelitian sehingga disebut sebagai diskursus (wacana) yang sering digunakan dalam ilmu-ilmu sosial.

3. Hermeneutik, apa itu ?

(3)

adalah perubahan atau peralihan dari pikiran-pikiran ke dalam bentuk ungkapan yang jelas yakni dalam bentuk Bahasa.

Hermeneutik sebagai fenomena khas dari manusia merupakan suatu penggunaan lambing, symbol atau Bahasa yang membedakan dengan mahluk lainnya. Hermeneutik menjadi ciri khas manusia karena manusia dapat melakukan penafsiran terhadap suatu hal, hal ini pada dasarnya tidak terlepas dari manusia akan selalu meberukan makna terhadap suatu hal.

Pemahaman manusia ada 3 yaitu : pemahaman mengenai alam material, pemahaman atas kebudayaan, dan pemahaman menegnai diri kita secara pribadi. Dari salah pemahan ini yang menghasilkan bahsa yakni pemahaman akan kebudayan, Bahasa terdiri dari sub terkecik yakni kata yang digabungkan dan dirangkai menjadi kalimat dan digunakan sebagai alat komunikasi, berikut skema nya : Suku kata, kata, kalimat, gaya Bahasa, dan gaya sastra.

Sejarah hemeneutik ini sendiri berasal dari pemikiran teologi, sejarah teologi sendiri berasal dari tradisi agama yahudi yang menciptakan filsuf-filsuf atau ahli tafsir yang disebut para Nabi. Kemudian berlanjut ke tradisi kristiani awal yang juga menerapkan konsep ini dan puncaknya terjadi pada zaman reformasi karena agama kristen terpecah oleh perbedaan hemenutik ini. Sumbangan yang sangat berarti dalam sejarah perkembangan hermeneutik ini diberikan oleh teologi modern yakni Rudolf Bultmann dengan konsep “demitologisasi” yakni penerapan gagasan Heidegger tentang pra-paham pada teologi.

Struktur dalam pemahaman manusia, daalam perkembangannya Ricardo Antonich meperlihatkan ada 4 struktur dasar tentang pemahaman yakni : cakrawala pemahaman, gerak melingkar dari pemahaman, struktur dialogis pemahaman dan pengantara pemahaman. Keempat hal itu tadi akan dipakai dalam menafsirkan teks atau kata-kata, namaun kendala yang sering diahdapi dalam menafsirkan ialah ada jangka waktu yang membentang natar kita dan zaman pembuatan tulisan tersebut. Karena terkadang beda zaman maka akan beda apa yang dirsakan. 4. Positivism dan Hermeneutik.

(4)

pengetahuan dalam refleksi filsafatnya. Metode dalam hal ini merupakan suatu cara untuk menghasilkan pengetahuan, metode sebagai suatu cara untuk mendapatkan pengtahuan yang sahih tentang fakta, pergeseran, penyempitan atau reduksi ilmu pengetahuan dalam topologi positivism. Comte mengemukakan norma-norma metodologis sbb :

 Semua pengetahuan harus terbukti lewat rasa (kepastian) pengamatan secara intersubjektif.  Kepastian metodis dan kesatuan metode.

 Ketepatan pengetahuan dijamin oleh teori-teori yang dibangun.  Pengethaun ilmiah harus digunakan secara teknis.

 Pengetahuan tidak ada ujungnya dan bersifat relatife.

Metode untuk ilmu sosial muncul karena problematika yang muncul dari positivisme sehingga jarus menghidupkan kembali tipologi Kant yakni epistemologi karena persoalan pengetahuan berubah menjadi persoalan metodologi ilmu pengetahuan. Dalam hal ini ada juga yang dinamakan fenomenologis dimana akan memperluas konteks ilmu pengetahuan dengan sebuah konsepm yang sangat penting untuk menyelamatkan subjek penegtahuan.

Hermeneutik dan ilmu-ilmu sosial, degan mengambil unsur penting dari teori kritis dan fenomenologi sosial maka kita dapat melihatsecara sistematik hermeneutik dalam ilmu sosial. Penekana ke,nali pada subjek dalam ilmu-ilmu sosial hermeneutik yakni dengan cara merefleksikan epistemologi klasik, hal yang menarik adalah perkembangan teori pengetahuan adalah peralihan bolak balik antarakutub subjek ke kutub objek dam begitu pun sebaliknya. Bagian 2 : Modernitas dan Kritik

5. Modernisasi sebagai Proses Pembebasan.

Corak kesadaran modern, modernisasi aldalah westerninsasi, perubahan besar pada bidang sosail, ekonomi, kultural, politis dan ideologi yang diperdengar sebagai modernisasi, dari hal ini kita akan membahas dari sudut pandangn filsafat dan kebudayaan. Interpretasi perubahan perilaku sosial manusia dengan membaginya yakni : kebudayaan mitis, kebudayaan ontologis dan kebudayaan fungsionalis.

(5)

Studi komparatif pada umunya memuat 3 pokok kajian yang berkaitan dengan sikap individu dalam pengemban filsafat terhadap dunia, yaitu : manusia dipergunakan dalam mengkaji realitas, fokus pada kajian filsafat, dan kaitan antara fokus kajian dan praksis sikap hidup pengemban filsafat. Namun dalam pengembangan dan pembebasannya terjadi ketegangan.

6. Kesadaran yang Tak Bersarang.

Pembahasan modernisasi tak kunjung habis dibahas dalam semua lini pembahasan karena hal ini bersifat objektif. Modernisasi sebagai pembangun alam artifisial, manusia dianggap hewan yang sama dengan mahluk hidup lainnya namun terspesialisasi karena manusia tidak ditentukan oleh lingkungannya berbeda dengan hewan yang lain mereka sangat peka terhadap lingkugannya, berbeda dengan manusia mereka kadang mengambil jarak anatar dirinya dengan lingkungannya. Kemudian muncul momen eksternalisasi yang memunculkan kesadaran modern dan aspek-aspeknya. Dari zaman kezaman aka nada perbedaan namun ada pula kesamaannya yakni kesadaran modern yang menjadi topik pembahasannya, dan dijelaskan bahwa kesadaran modern muncul di Eropa dan penemuan subjektivitas dan gerakan rasionalisme dan dianggap empirisme. Momen objektivitas merupakan kesadaran lebih berada pada lingkup batiniah. Ada banyak macam pranata modern sebagai ganti pranata dalam masyarakay pra-modern. Momen internalisasi dalam Triad Berger adalah tahap pembatinan kembali hasil objektivitas denga mengubah struktur lahiriah itu menjadi struktur batiniah yakni kesadaran subjektif. Reaksi atas hasil objekvitas itu dimungkinkan karena kesadaran bukan hanyabisa megadaptasi, melainkan juga bisa ‘mentransendir dir’ , dua bentuk reaksi yang mungkin adalah memberontak atau menarik diri.

7. Kritik, Krisis, dan Tradisi.

Gambaran dari puis tersebut menggambarkan bahwa zaman edan adalah zaman krisis. Sketsa kritik bahwa kritik dan krisis saling bertautan. Dengan tulisan tersebut penulis mencoba mengana;ogikan dan menafsirkan kritik dan krisis dengan sejumlah bidang yang ada dalam aspek kehidupan. Lewat pembangunan masyarakat dalam puis tesbut menyeratkan yakni masyarakat yang stabil sudah lama ditinggalkan, dan telah terjadi transformasi namun hal ini bukan merupakan suatu hal yang negative, melainkan sesuatu yang dikehendaki dan dibuat. Dan hal ini menimbulkan kebingungan dimasyarakat terkhusus masyarakat awam.

(6)

dimaksudkan adalah tradisi kultural mencakup praktek-praktek komunikasi sosial. Kritik dan elemen-elemen tradisi yang berkelit, kalua keedanan dapat didefinisikan sebagai hilangnya kontrol kesadaran diri yang diperluas secara bermasyarakat.

8. Kaum Intelektual dan modernitas.

Lapisan sosial yang berkembang dan berpengaruh sekarang dikenal sebagai kaum intelektual atau kaum cendekia yang perlu dilihat dan di perhatikan dalam rangka modernitas. Ada kesejajaran tertentu di antara kondisi-kondisi dalam masyarakat barat tradisional dan dalam masyarakat tradisional kita yang membuat subur pertumbuhan lapisan ini, yakni kondisi ketergantungan infantil pada suatu dominasi, yakni feodalisme (Barat) dan kolonialisme (Indonesia). Pertama : Modern itu seharunya mengutamakan kesadaran diri sebagai objek, dalam hal ini orang modern memperhatikan soal hak, hak asasi, fungsi ilmu pengetahuan, otonomi pribadi, dan demokrasi. Kedua : modern itu harus kritis, ketiga : m odern hatusnya progresif, peran kritis kaum intelektual pra-kemerdekaan adalah sebuah peran revolusioner dalam mebentuk subjektivitas bangsa dengan cara disilusionasi autoritas tradisi kolonialistik.

Sesudah penemuan dan penciptaan subjektivitas bangsa, tahap selanjutny adalah progresif, progres dengan orientasi pada pembentukan sistemsistem objektif, seperti sistem birokrasi dan sistem ekonomi sebagai upaya pemecahan masalah. Didalan masa dewasa ini kita ditugaskan menggalang solidarittas sosial adalah tugas menginterpretasikan konstelasi tiga unsur : agama, tradisi, dan modernitas. Tugas ini semakin kompleks pada era pembangunan karena modernitas tidak hanya menampilkan sisi emansipasi tetapi juga sisi eliminasinya. Memasuki kondisi kultural masyarakat, kaum intelektual memang hidup dalam horizon politik tertentu. Hal ini turut mempengaruhi pandangan yang mereka hasilkan. Dalam pluralisme nilai, kreativitas, keterbukaan dan kodrat pengembara kaum intelektual direalisasikan, karena itu sebuah kelompok intelektual multietnis, multireligi, dan multidisipliner sehingga memungkinkan untuk menghancurkan Batasan yang ada. Kadang karena kekuatan-kekuatan objektif seperti modal dan kekuasaan mampu membuat masyarakat merasakan amnesia sejarah. Bukankah tugas kaum intelektual membuat anamnesis secara kreatif dan konstruktif demi masa depan yang bermakna ?

9. Mengenang Gerakan Kiri Baru.

(7)

(khusunya) di Barat, pada masa itu bangkit kesadaran manusia akan subjektivitas dan individualitas.

Kritik dari gerakan kiri baru sangat antibirokrasi dan teknologi, bentuk ktitiknya bermacam-macam seperti menentang komsurisme, borjuis dan demokrasi dipandang semu. Apa yang merka lawan adalah saintisme, positivisme, netralitas, dan objektivisme. Gerakan bermula dengan gerakan jak-hak sipil, gerakan ini berkembang dan memunculkan dua gerakan yakni gerakan memabngkitkan kesadaran akan hak-hak asasi manusia di getto afrika sehingga menimbukna gerakan hitam. Gerakan hitam ini merupakan gerakan hak-hak sipil yang ingin melakukan gerakan kebebasan berbicara atau mimbar, gerakan anti perang (gerakan anti milisi), gerakan anti nuklir (gerakan feminisme).

Gerakan kiri baru sebagai gerakan radikal tampak pada cita-cita dasariah meraka, yaitu mengadakan perubahan-perubahan sosio-historis secara struktural maupun kultural, dan didalamnya terdapat berbagai mahzab yang bermunculan anatara lain Kalr Marx, Frankfurt, dll. Ciri-ciri gerakan kiri yang radikal dapat dilihat dari 5 tema sentral yang mereka perjuangkan dalam praksis, yakni :

a. Tema pertama mengubah sistem universitas yang dalam padangannya terkait dengan system kapitalisme.

b. Tema kedua yakni pembebasan rakyat kecil yang menjadi korban struktur sosial yang tidak adil (grassroot movement).

c. Tema ketiga adalah usaha pengadaan proyek aksi demi gerakan universal bagi kaum miskin, tanpa batas spesifik ras, dan kelompok minoritas.

d. Tema keempat, kontra terhadap perang Indocina.

e. Tema kelima terkait dengan gerakan-gerakan bawah tanah untuk mewujudkan masyarakat alternatife dengan menghapus struktur masyarakat yang kapitalis modern yang ada.

Basis nilai yang diperjuangkan gerakan kiri baru secara implisit nilai-nilai yang menjadi kerangka acuan atau orientasi mereka, Sargent membaginya kedalam 7 nilai dasar yakni : praksis, jatidiri, komunitas, persamaan, kebebasan, demokrasi partisipatoris, dan revolusi.

(8)

lama, karena mekanisme sistem yang lama masih berjalan meskipun sudah ada mekanisne sistem yang baru dan dengan menggunakan cara kekerasan sehingga semakin menekan kebebasan dan juga mencerminkan sikap-sikap opersif, karena penindasan yang satu akan diganti dengan penindasan yang lain.

Bagian 3 : Postmodernisme sebagai Kritik

10. Kritik atas Patologi Modernitas dan [Post]Modernisme.

Modernitas menjadi sebuah proyek yang normatif di negara-negara berkembang dan modernitas sebagai tujuan yang di dambakan. Dengan mengikuti analisis Jurgen Habermas dari tahun 1960-an sampai 1980-an, kita bahkan mampu menemukan filsuf ini berusaha menunjukkan secara empiris bahwa masyarakat sedang berkembang menjadi rasional dalam arti menuju modernitas.

Kehendak menjadi modern merupakan kehendak politis yang secara empirirs dibuktikan adanya olrh Geertz du berbagai negara. Para pemikir seperti Heidegger, Horkhelmer, dan Adorno berusaha meperlihatkan bahwa modernisasi bukan sekedar perjalanan yang terseok-seok melainkan juga perjalana yang disintegrasi sosial.

Hari ini kita mengenal dua posisi antinomis dalam pemikiran Barat kontemporer yaitu : mendukung modernitas sebagai tujuan universal segala bentuk masyarakat, kemudian yang kedua berupaya meninggalkan modernitas. Tulisan kecil ini menggambarkan sketsa tentatif untuk menggambarkan atau menggariskan proyek teori kritis Habermas dengan dialognya dengan ahli waris Nietzsche. Teori kritis dan potsmodernisasi menjadi paradigma-paradigma yang berpengaruh dalam ilmu-ilmu sosial, sebagai alternative bagi teori-teori modernisasi yang masih besar pengaruhnya di negara-negara berkembang, tak terkecuali di Indonesia.

Teori kritis, modernitas, dan dilema modernitas, teori kritis oleh Max Herkheimer dkk, dari mahzab Frankfurt berupaya ndalam mengantisipasi determinisme ekonomis dari maxisme ortodoks. Teori Marx adalah bentuk pemikiran modern yang dikembangkan pra pencerahan yakni pada abad ke-19. Dengan demikian, disamping memperluas reformasi religius post-Renaisans ke reformasi politik lewat revolusi Prancis.

(9)

aadalah mereka yang kurang jernih memahami refleksi diri. Muatan arti dialektika pencerahan adalah paradox bahwa kita sebagai mahluk sosial, tidak pernah mencapai rasionalitas.

Usaha-usaha dalam meninggalkan modernitas, Habermas dengan sangat tajam menunjukkan kelemahan para penganut postmodernisme. Habermas menemukan konsep dialektika pencerahan dari pada pendahulunya sebagai semacam arena diskusinya dengna pemikiran postmodern. Postmodernisme menjadi pola lazim dalam karya Habermas juga muncul dalam diskusinya dengan pemikiran postmodern. Melanjutkan proyek modernisme dengan rasio komunikatif, Habermas menaruh penghargaan besar terhadap para partner diskusinya. Para ahli waris Nietzsche ini sukses menggali dasar dari modernitas dan kesadaranya.

11. Ilmu-ilmu Sosial dalam Diskursus Modernisme dan Pasca-Modernisme.

Diskusi modernisme/pasca-modernisme ini merembes ke berbagai dinding disiplin intelektual. Penghancuran tembok perbatasan itu di lakukan bukannya tanpa intensi, dengan metode empiris dan pendekatan subjektivisnya. Pertanyaan yang dijawab dalam tulisan ini adalah bagaimana perkembangan epsitemologi tersebut dalam ilmu-ilmu sosial, dan bagaimanakah pasca modernisasi dapat ditanggapi.

Penelitian filosofis berperan penting apa yang sejak lama ingin ditolaknya. Filsafat sebagai penemuan orang Yunani muncul bukan dalam segala kepenuhannya sebagai logos. Dalam buku ini sang penulis menggambarkan penyebaran kekuatan rasional dalam masyarakat akan membawa perubahan dan kemajuan di berbagai aspek kehidupan seperti pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Mungkin dalam arti sedudah diskursus modernisme/pasca-modernisme kita akan semakin berhati-hati dengan keangkuhan intelektual dan semakin rendah diri dengan kemampuan intelektual yang kita miliki.

12. Pluralisme dan Komunikasi.

Modernitas dianggap sebagai konsep waktu dalam artian zaman baru maupun sebagai epistemis atau kesadaran baru. Secara epistemis ada empat elemen yakni : subjektivitas yang reflektif, subjektivitas berkaitan dengan kritik atau reflektif, kesadran historis yang dimunculkan oleh subjek, dan universalisme yang merupakan dasar dari ketiga elemen sebelumnya. Reaksi postmodern dalam hal ini ada 3 pokok bahasan yakni :

 Ide mengenai subjektivitas yang dipegang teguh yang dianggap sebagai penyembunyian kekuasan.

 Ide kritik dan refleksi dicurigai sebagai jalan untuk mencapai tujuan yang totaliter ideologi tertentu.

(10)

Referensi

Dokumen terkait

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau classroom action research. 33) PTK merupakan upaya yang dilakukan oleh guru dalam

Bagi RSUP Dr.Sardjito, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai tolok ukur untuk mengevaluasi pemenuhan hak-hak pasien dan bahan pertimbangan dalam

Dalam pada itu ketika Ki Go-thian harus menghindarkan diri lagi dari suatu serangan si orang aneh yang dipandangnya paling tangguh diantaranya tiga lawan itu, diluar dugaan

Menurut Cole (2004), dampak perceraian adalah: 1) Merasa diabaikan oleh orangtua yang mening- galkannya; 2) Mengalami kesulitan dalam meneri- ma kenyataan pada perubahan

Oleh karena itu fokus penelitian ini akan melihat bagaimana strategi komunikasi yang dilakukan oleh Siberkreasi dalam meningkatkan literasi digital sehingga menarik

Berdasarkan metode maching, kelas kesesuaian lahan untuk tanaman karet berdasakan satuan lahan di Kecamatan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan

Penulis menitikberatkan pada pelaksanaan perjanjian peminjaman nama perusahaan dalam pekerjaan jasa konstruksi dan perlindungan hukum bagi para pihak apabila

Dari contoh reaksi penguraian batu kapur, tampak adanya perpindahan kalor dari lingkungan ke sistem. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan kalor sistem setelah reaksi