• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONFLIK STIGMA SIMBOLIK DAN PERJUANGAN H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KONFLIK STIGMA SIMBOLIK DAN PERJUANGAN H"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

KONFLIK KESEJAHTERAAN, STIGMA SIMBOLIK, DAN PERJUANGAN HIZBUT TAHRIR INDONESIA DI YOGYAKARTA

Fathianabilla Azhar

Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Artikel ini mendiskusikan konflik kesejahteraan, stigma simbolik, serta upaya anggota hizbut tahrir Indonesia berjuang dan bertahan memperjuangkan hak-haknya dalam rangka menciptakan Negara khilafah di Indonesia. Akan tetapi perjuangan mereka tidak mudah. Mereka kerap dimarjinalkan karena dianggap—distigma sebagai pengkhianat yang mampu memecah belah Indonesia dari sudut pandang agama. Parahnya kini terdapat peluncuran perppu ormas no. 2 tahun 2017 yang mencabut izin ormas seperti HTI karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Dikarenakan perppu tersebut kini HTI kehilangan kader dan hak untuk menyuarakan pendapat.

Kata kunci: hizbut tahrir, konflik, stigma simbolik, perjuangan, hizbut tahrir Indonesia, hak

suara.

A. PENDAHULUAN

HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) merupakan sebuah partai politik Islam yang menghendaki

Negara Indonesia menerapkan konsep khilafah (Suwanto, 2009). Dalam perkembangannya

sebenarnya tidak murni muncul di Indonesia karena Hizbut Tahrir ini berasal dari Yordania.

Tepatnya di Yerusalem Timur yang didirikan oleh Taqiuddin an-Nabhani al-Filastyni pada

tahun 1953 M (Rashta, 2009: 1-2). Baru pada tahun 1983-an hizbut tahrir mulai menyebar ke

Indonesia khususnya di Wilayah Bogor, dan orang pertama yang memperkenalkan hizbut

tahrir adalah Abdurrahman Baghdadi (Hayati, 2017:174). Kedatangan Abdurrahman

al-Baghdadi tersebut sebenarnya diundang secara terbuka oleh Mama Abdullah Nuh, pengelola

Pesantren al-Ghazali, Bogor (seorang dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia). Seperti

yang saya kutip dari tulisan (Shofwan, 2016:146) bahwa pada tahun 1983 Mama abdullah Nuh mengundang Abdurrahman al-Baghdadi untuk datang ke Bogor membantu pesantrennya. Melihat kasus tersebut menarik untuk disimak bahwa kedatangan Abdurrahman al-Baghdadi sebagai aktivisi Hizbut Tahrir sangat tergantung dari relasi. Ketika

relasi yang dibangun cukup kuat maka tidak menjadi masalah ketika mensyiarkan Islam dari

sudut pandang HTI secara frontal khususnya dilingkungan pesantren.

Adapun sasaran atau target masyarakat yang akan dijadikan anggota HTI tidak serta

merta dari anak pesantren namun juga dari kalangan mahasiswa. Anggota HTI beranggapan

(2)

sehingga memberikan relung—celah untuk menerima kehadiran HTI. Untuk itu, tidak

mengherankan jika HTI menyusup ke kampus-kampus baik negeri maupun swasta di seluruh

Indonesia, IPB misalnya. Sayangnya dalam penyebaran ajaran khilafah hizbut tahrir kerap

mengalami masalah. Pernah suatu ketika Taqiuddin an-Nabhani al-Filastyni menyuarakan

pendapat bahwa Negara-negara Islam masa kontemporer telah mengalami Darul Kufur—

hidup dalam kekafiran—budaya barat tidak mencerminkan ajaran islam. Kemudian Nabhani

mencoba untuk menggencarkan ajaran khilafah melalui Khilafah Islamiyah Internasional di

beberapa Negara dengan harapan Negara yang dianggap darul kufur bisa kembali kepada

ajaran islam yang kaffah (Jamuin dkk, 2015:162). Namun upaya tersebut tidak membuahkan

hasil bahkan Nabhani bersama dengan anggotanya dicekal—mereka dianggap sebagai teroris

yang mampu memecah belah persatuan. Dikarenakan adanya pencekalan tersebut dakwah

hizbut tahrir sempat meredup. Selain mengalami penolakan di Negara lain, Hizbut tahrir juga

pernah mengalami penolakan di Indonesia khususnya pada masa orde baru. Bahkan aktivitas

dakwah hanya bisa berjalan 10 tahun karena Soeharto melarang segala bentuk ideologi

kecuali ideologi pancasila (Hayati, 2017:174). Akan tetapi, ketika pertengahan menuju akhir

periode reformasi, HTI kembali menjalankan misinya—mereka pada masa ini tidak lagi

melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Tidak segan secara frontal mereka mulai

masuk ke kampus-kampus di seluruh kepulauan Indonesia khususnya di Sulawesi,

Kalimantan, dan Sumatera. Hanya saja mereka belum melakukan baiat1 kepada anggota baru—masih sebatas dakwah kampus.

Sejak menggencarkan ajaran khilafah Islamiyah melalui dakwah kampus, HTI menjadi

partai politik Islam yang cukup besar pada masa itu. Akan tetapi, di tahun 2017 ini HTI

kembali terpuruk karena pemerintah mengeluarkan perppu ormas no.2 tahun 2017, yang

mana dalam perppu ormas tersebut menghapus seluruh ormas yang dipandang melanggar

nilai-nilai dari Pancasila. Adapun salah satu ormas yang dihapus oleh pemerintah ialah HTI.

Namun perppu tersebut menimbulkan pro dan kontra. Pro khususnya di pihak pemerintah

karena dengan penghapusan HTI, NKRI akan tetap utuh. Untuk kontra tentu berada di pihak

HTI, mereka merasa bahwa dengan adanya perppu penghapusan ormas, pemerintah dan

presiden telah bersikap otoriter—HTI tidak lagi memiliki ruang untuk menyuarakan

pendapat. Bahkan perppu ormas yang hadir dinilai tidak demokratis—pihak HTI tidak

diberikan kewenangan untuk menolak atau menerima usulan perppu ormas.

1

(3)

Menurut hemat saya, isu terkait HTI ini menarik untuk didiskusikan karena pasca perppu

ormas no.2 tahun 2017 diluncurkan, HTI tidak diberikan hak untuk menyuarakan pendapat.

Untuk kasus ini seakan-akan pemerintah di Negara Indonesia memiliki paradoks dalam

hukum. Disisi lain hukum mengakui segala hak warga Negara untuk menyuarakan pendapat

namun di lain sisi lainnya hukum juga membungkam suara rakyat. Tentu HTI yang

merupakan partai politik islam yang tidak terlalu besar tidak memiliki power untuk menolak

aturan dari pemerintah—mereka harus tunduk terhadap aturan yang telah ditetapkan.

Berangkat dari masalah tersebut, menarik untuk dipertanyakan bagaimana anggota hizbut

tahrir berjuang untuk mempertahankan pendapatnya? Mengapa Negara dan masyarakat di

luar HTI memandang atau menstigma HTI sebagai partai politik Islam yang tidak baik?

Kemudian perubahan apa saja yang terjadi ketika HTI resmi dibubarkan?

Untuk metode penelitian, saya menggunakan wawancara terstruktur terhadap informan.

Kemudian untuk melengkapi data saya menggunakan beberapa literatur yang relevan dengan

konsep penelitian yang dikaji. Namun, untuk penelitian ini kerap mendapatkan tantangan

dimana saya sempat kesulitan mencari informan. Rata-rata mereka enggan untuk

diwawancarai—mereka menutup-nutupi informasi terkait hizbut tahrir di Indonesia. Adapun

strategi untuk mengatasi masalah pencarian informan tersebut saya tidak menyertakan tujuan

yang dirasa sensitif—sekedar mengatakan bahwa saya ingin berdiskusi terkait sejarah dan

perkembangan HTI. Namun pada akhirnya saya mendapatkan beberapa informan yang

bersedia untuk diwawancarai.

B. KAJIAN PUSTAKA

Riset terkait kesejahteraan serta pergerakan HTI ini tentu bukan riset satu-satunya, bisa

dilihat dari bukti tertulis seperti jurnal-jurnal yang secara komprehensif membahas HTI.

Misalkan saja riset yang dilakuan oleh Jamuin dan Sari (2015) menjelaskan bahwa hizbut

tahrir yang berkembang selama ini sering mengalami tantangan di berbagai tempat. Hal

tersebut terjadi karena HTI dianggap memiliki ajaran Islam yang sesat dan mampu memecah

belah bangsa dan negara. Terlebih HTI pernah dengan tegas menolak pernyataan pancasila

khususnya sila pertama yang berbunyi ―Ketuhanan yang maha Esa‖. Pada sila pertama ini

menurut HTI merupakan ideologi yang haram—kafir. Untuk itu HTI menyarankan supaya

Negara Indonesia kembali pada sistem kekhalifahan. Akan tetapi suara HTI tersebut tidak

didengarkan. Kendati tidak didengarkan HTI tidak lantas menyerah. Mereka tetap melakukan

(4)

masjid-mesjid di seluruh Indonesia. Berbeda dengan Jamuin dan Sari, menurut Hayati (2017) dalam

pergerakan dakwah, HTI tidak sekedar melakukan dakwah secara offline melainkan secara

online melalui media masa. Untuk lebih jelasnya berikut saya kutip pernyataan Hayati,

Media elektronik juga mereka manfaatkan dalam upaya merealisasikan Indonesia menuju negara Khilafah Islaamiyyah, seperti radio HTI, TV HTI serta melalui internet dengan situs resmi HTI yaitu http://hizbuttahrir.or.id/. Situs ini merupakan website resmi HTI yang dapat diakses setiap hari, yang di dalamnya berbagai bentuk tulisan baik berita, opini, majalah, buku, serta foto, audio dan video yang menjelaskan segala hal yang berhubungan dengan gerakan HTI terutama dalam mewujudkan berdirinya Indonesia sebagai negara Khilafah Islaamiyah dan menegakkan tuntutan syariat Islam yang sesuai dengan tuntutan al-Qur’an dan hadis. (Hayati, 2017: 178-179).

Melihat pernyataan Hayati tersebut menarik untuk disimak bahwa lagi-lagi HTI dalam

pergerakannya baik secara online maupun offline menghendaki konsep khilafah Islamiyah.

Pada konsep tersebut HTI juga menolak demokrasi yang dipadu-padankan dengan Islam.

Mereka memandang bahwa demokrasi sama dengan kekafiran karena dalam demokrasi

terdapat konsep kedaulatan rakyat seakan Tuhan tidak memiliki nilai kuasa dimata manusia.

Seperti yang di paparkan Kamilah (2017) ―demokrasi memiliki arti penguasa dan rakyat

yang memiliki kewenangan dalam menerapkan aturan syarak. Sedangkan menurut HTI satu-satunya yang berhak menjadi penguasa adalah Tuhan karena di anggap memiliki kedaula tan penuh dan sempurna ―(Kamilah, 2017: 70). Tentu saja konsepsi HTI tersebut sangat bertolak belakang dengan kultur dan hukum yang berlaku di Indonesia karena seperti yang kita

ketahui Negara Indonesia adalah Negara yang memiliki latar belakang penduduk yang

beraneka ragam khususnya dari aspek agama. Ketika konsep khilafah Islamiyah diterapkan

maka akan menjadi masalah yang serius seperti perang saudara misalnya—dengan kata lain

NKRI terpecah belah.

C. SEJARAH PERJUANGAN DAN PERGERAKAN HISBUT TAHRIR INDONESIA

Permasalahan HTI terkait dengan penghapusan ormas melalui perppu no.2 tahun 2017

sebenarnya bukanlah tantangan baru, karena jauh sebelum perppu tersebut diluncurkan HTI

telah menghadapi berbagai macam tantangan khususnya dari pemerintah. Bisa kita lihat pada

rezim Soeharto sekitar tahun 1988-an. Mengutip dari pendapat Hayati (2017) dimana rezim

Soeharto melarang segala bentuk gerakan yang tidak berideologi Pancasila—agama pada

rezim Soeharto dianggap sebagai musuh besar pembangunan sehingga salah satu kebijakan

yang dicanangkan adalah penghapusan ormas-ormas keagamaan. Kemudian dari isu

(5)

tidak memungkinkan lagi menjalankan syi’ar Islam secara transparan. Dan jalan satu-satunya yang paling memungkinkan adalah syiar Islam secara sembunyi-sembunyi dan

berpindah-pindah tempat hingga 10 tahun lamanya2. Namun setelah masa reformasi muncul yakni tahun

1998yang membawamisi untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat dari berbagai aspek,

HTI kembali berjaya—mereka diberikan hak untuk menyuarakan pendapat. Dikarenakan

adanya kebijakan tersebut HTI kembali mensyiarkan Islam secara terang-terangan.

Kemudian pada tahun 2000-an HTI berada di posisi keemasan. Hanya saja mereka

masih berhati-hati dalam berbagai pergerakan—mereka masih trauma terhadap kebijakan

Soeharto. Terlebih pada tahun 2000-an terjadi pergantian presiden dari Bacharuddin Jusuf

Habibie menuju presiden Abdurrahman Wahid. Untuk itu mereka mewaspadai kebijakan

yang akan dicanangkan. Akan tetapi kewaspadaan HTI tidak hanya terjadi pada masa

presiden Abdurrahman Wahid, mereka juga waspada terhadap kebijakan presiden-presiden

yang akan menjabat dimasa mendatang. Bahkan hingga kini (2017) yakni era presiden Joko

Widodo HTI tetap melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi—tetap tidak bisa secara

transparan mensyiarkan Islam.

D. PENGALAMAN MENJADI ANGGOTA HIZBUT TAHRIR INDONESIA

Berbicara mengenai dakwah HTI secara sembunyi-sembunyi rasanya tidak cukup

apabila hanya ditinjau dari bukti tertulis atau hanya merunut pada bukti sejarah. Untuk itu

disini saya akan menampilkan beberapa penjelasan informan yang telah berhasil

diwawancarai. Informan pertama yakni Awan (22 tahun)3 yang merupakan mantan anggota

HTI. Awan bercerita bahwa pada tahun 2009 dia dan keluarganya menerima sebuah

undangan dengan format seperti brosur dari rekan ibunya. Awalnya Awan tidak menyadari

bahwa undangan tersebut dari HTI sehingga dia mengabaikannya. Namun selang beberapa

hari rekan ibunya menemui Awan secara diam-diam. Rekan ibunya tersebut dengan semangat

menjelaskan konsep khilafah Islamiyyah, karena Awan mulai terbuai maka dia menjelaskan

dan meminta izin kepada ibunya. Namun ibunya menerima dengan lapang karena ternyata

ibunya merupakan simpatisan HTI dan pernah terasosiasi menjadi anggota HTI. Hanya saja

selama ini ibunya sengaja untuk tidak memperkenalkan HTI karena Awan dianggap masih

terlalu kecil. Kemudian dikarenakan sudah mengantongi izin Awan segera menemui rekan

ibunya dan langsung menyatakan kesepakatannya untuk terasosiasi dalam HTI.

2

Lihat artikel yang ditulis oleh Hayati (2017) pada halaman 174 ―Konsep Khilafah Islamiyyah Hizbut Tahrir Indonesia: Kajian Living al-Qur’an Perspektif Komunikasi‖.

(6)

Pada masa awal terasosiasi dalam HTI, Awan bercerita bahwa HTI tidak secara

langsung mengajarkan ideologi HTI. Justru hal pertama yang diajarkan yakni materi

keislaman secara mendasar –universal seperti membaca al-qur’an, menceritakan kisah nabi

dan rasul, dan pengajian. Namun ketika pertemuan semakin lama kurang lebih dua minggu

Awan secara rutin diajak untuk mengikuti acara konsolidasi kader. Disanalah Awan

mendapatkan gambaran secara spesifik ideologi yang ditanamkan HTI. Akan tetapi, ketika

Awan mengikuti konsolidasi, dia merasakan gemetaran karena acara konsolidasi begitu

sakral. Awan pada saat itu disuruh membawa Al-Liwa4 dan menempatkan diri di barisan ke dua. Suasana semakin sakral ketika para pemimpin HTI di setiap wilayah hadir dan

menempatkan diri dibarisan yang sesuai dengan asal daerah. Selain menempatkan diri

dibeberapa barisan, pemimpin HTI yang diceritakan Awan melontarkan kalimat-kalimat

profokatif seperti ―Hancurkan Israel!”;“Israel musuh Islam! Allahu Akbar!”.

Setelah konsolidasi kader selesai, Awan diwajibkan untuk mensyiarkan ideologi HTI

namun dengan syarat Awan mampu melaksanakan dua etiket syiar. Pertama, Jangan pernah

menyebut syari’ah atau khilaffah. Kedua, haram menyebut identitas HTI, Awan harus

mengaku dari BKMT (Badan Koordinasi Majelis Taklim). Ketika Awan bertanya kenapa

harus beretiket, pihak HTI menjelaskan supaya HTI tidak dicurigai, karena ketika HTI

dicurigai akan mengancam pembubaran. Namun ketika orang-orang mengetahui identitas

sesungguhnya Awan harus segera pergi dan berpindah tempat. Kemudian Awan juga

bercerita bahwa selama dia menjadi kader HTI dia merasa tidak sejahtera karena ruang gerak

HTI sangat sempit, dan berpura-pura bukanlah cara yang mudah. Selain terancam

dibubarkannya HTI, dia dapat terancam terkena drop out dari kampus dan tidak dapat

diterima oleh masyarakat umum. Awan sendiri pun bingung kenapa HTI seakan distigma

buruk oleh masyarakat. Masyarakat menstigma bahwa HTI adalah oknum-oknum teroris.

Melihat apa yang dipaparkan Awan tersebut menarik untuk disimak bahwa kesejahteraan

HTI selama ini sangat minim. Ini terlepas dari kebutuhan sandang—pangan—papan karena

anggota HTI memiliki konsepsi ―Allah akan memberikan rejeki pada waktu yang tepat‖,

melainkan kesejahteraan dari segi rekognisi atau pengakuan identitas. HTI selama ini hampir

tidak pernah diakui keberadaannya bahkan kerap distigma sebagai oknum-oknum teroris

yang akan memecah belah NKRI. Berangkat dari stigma itu kaum HTI secara langsung

merasa tidak nyaman dengan kepalsuan identitas demi mempertahankan HTI begitupun

dengan stigma yang ditempelkan masyarakat baik secara individu maupun kolektif.

4

(7)

E. DAMPAK PELUNCURAN PERPPU ORMAS NO. 2 TAHUN 2017 TERHADAP HTI

Menyinggung mengenai masalah konflik keejahteraan yang dialami HTI, disini saya

akan menampilkan pemaparan dari informan kedua yakni Razak5 (Mahasiswa Teknik Elektro

UGM). Sebelum membahas lebih jauh Razak pertama-tama bercerita bahwa faktor yang

memicu dia mengikui HTI adalah pemikiran keislaman dari ROHIS6. Hanya saja pada masa

SMA Razak belum begitu mengembangkan pemikiran keislaman secara mendalam karena

dia tidak memiliki kenalan dari HTI ataupun informasi secara mendalam terkait HTI.

Kemudian ketika dia masuk kuliah di UGM berulah dia berkenalan dengan anggota HTI,

sejak saat itulah dia memutuskan untuk terasosiasi. Akan tetapi selang tiga tahun, HTI

mengalami kegentingan karena diluncurkannya perppu ormas no.2 tahun 2017. Berangkat

dari persoalan perppu tersebut, anggota HTI tidak berani mensyiarkan islam secara frontal.

Bahkan kini secara sembunyi-sembunyi pun sangat berbahaya. Apalagi secara

terang-terangan. Razak bercerita banyak rekan HTI nya yang berada di kampus kemudian di catat

namanya oleh SKKK.

Pernah suatu ketika Razak membuat sebuah bulletin dan mencantumkan no hp-nya

sebagai Contact Person. Kemudian tiba-tiba ada 3 laki-laki dan 4 perempuan yang

menghubungi Razak dan meminta untuk bertukar pikiran terkait HTI. Razak pun mengiyakan

dan bertemu di GSP. Akan tetapi, ketika Razak tiba, mereka bukanlah klien yang tertarik

dengan HTI melainkan dari pihak SKKK. Namun beruntungnya saat itu Razak lolos.

Kemudian ketika ditanya masalah penerimaan dan batasan masyarakat kepada HTI dengan

tegas Razak mengatakan sejauh ini tidak ada batasan dan hampir tidak ada styreotype buruk khususnya di UGM. Hanya saja kini syiar tidak dapat dilakukan secara frontal. Bahkan ketika

ditanyai akankah mencantukan organisasi HTI di dalam CV, Razak menjawab tidak pernah

akan mencantukannya karena akan sangat berbahaya bahkan kini Razak memutuskan untuk

tidak berurusan lagi dengan HTI. Melihat kasus Razak yang telah diuraikan tersebut dapat

ditarik kesimpulan bahwa sejak terbitnya perppu no 2. Tahun 2017 ruang gerak HTI semakin

dipersempit. Bahkan kini pihak kampus pun telah bergegas untuk memberantas HTI. HTI

tidak lagi bebas bergerak. Saya tidak tahu bagaimana dengan kampus lainnya. Namun di

UGM kini telah gencar untuk menghapuskan HTI, karena adanya penghapusan HTI tersebut

5

(8)

banyak anggota yang mengundurkan diri. Dengan kata lain anggota HTI mengalami

pengurangan.

PENUTUP

Pergerakan dan perkembangan HTI dari masa ke masa mengalami pasang surut dan

menghadapi berbagai tantangan baik dari pemerintah maupun masyarakat. Untuk itu HTI

harus menyamar menjadi identitas yang lain—tidak boleh menampilkan identitas HTI yang

sesungguhnya. Dikarenakan adanya permasalahan dan tantangan tersebut kerap memicu

trauma pada HTI. Mereka menjadi tidak berani mesyiarkan ajaran atau ideologi keislaman

dari sudut pandang HTI secara frontal atau terang-terangan. Dengan kata lain mereka menjadi

tidak aman—tidak sejahtera secara batin karena dianggap sebagai pihak yang akan memecah

belah Negara dan bangsa. Permasalahan pun semakin mencuat ketika pemerintah

memberlakukan perppu no 2. Tahun 2017 yang berisikan penghapusan ormas yang tidak

sesuai dengan nilai-nilai pancasila, disini HTI tidak hanya kehilangan hak suara—hak untuk

menyuarakan pendapat namun mereka juga kehilangan kader-kader yang selama ini

berpengaruh terhadap perkembangan HTI.

DAFTAR PUSTAKA

Hayati, Nilda. 2017. ―Konsep Khilafah Islamiyyah Hizbut Tahrir Indonesia: Kajian Living

al-Qur’an Perspektif Komunikasi‖, dalam Epistemé, Vol. 12, No. 1, Juni 2017.

Jamu’in dkk. 2005. ―Infiltrasi Pemikiran dan Gerakan HTI di Indonesia‖, dalam Suhuf,

Vol.27 (2). November 2015. Halaman: 161-172.

Kamilah, Mumtazah. 2017. ―Menuju Kesejahteraan Hidup: Ikhtiar Memahami Khilafah

Islamiyah dan Teo-Demokrasi‖, dalam JIE. Volume V No. 1 Juni 2017 M. / Raamaddan 1438 H.

Rashta, Ata Abu. 2009.Hizb-Ut Tahrir. American Foreign Policy Council.

Shofwan, A M. 2016. ―Pandangan Hizbut Tahrir terhadap Radikalisme Gerakan ISIS dalam Menegakkan Daulah Khilafah‖, dalam Addin. Vol. 10, No. 1, Februari 2016.

Referensi

Dokumen terkait

Maksud dan tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh konsentrasi nanas bubuk dan madu yang tepat dalam pembuatan cokelat

Untuk mendapatkan hasil pekerjaan yang optimum, maka rencana kerja ini disusun berdasarkan kebutuhan yang akan dilaksanakan oleh Konsultan Individual PPK

One of Shakespeare's plays entitled Julius Caesar was chosen to be analyzed in this study because it used imageries and figures of speech in the conversation

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sistem pengajaran e-learning sebagai perkembangan teknologi komunikasi, mengetahui minat belajar siswa SMK Wikrama Bogor terhadap

Pada umur 63 Hst pemberian inokulum rhizobium 10 g/kg benih dan jenis pupuk kandang ayam memberikan hasil jumlah bintil akar lebih tinggi dan berbeda nyata

Analitycal Hierarchy Process (AHP) Adalah metode untuk memecahkan suatu situasi yang komplek tidak terstruktur kedalam beberapa komponen dalam susunan yang hirarki, dengan

PT. Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur. Tbk Cabang Nganjuk telah melakukan inspeksi on the spot oleh bagian analis kredit untuk dapat membuktikan bahwa kebenaran atas

Dalam makin turunnya kepala janin dalam jalan lahir, kepala janin akan berputar sedemikian rupa sehingga diameter terpanjang kepala janin akan bersesuaian