Oleh:
Gun Kuntara Adhiarta
05/189818/SA/13525
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
ii
Oleh:
Gun Kuntara Adhiarta
05/189818/SA/13525
Skripsi ini diajukan kepada Panitia Ujian
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta sebagai salah satu syarat
untuk mendapatkan gelar Sarjana
iii
tinggikan bagimu sebutanmu. Karena sesungguhnyasesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnyasesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka
apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu
berharap” (Alam Nasyrah: 1-8)
v
Daya Tarik Museum Gunungapi Merapi: Kajian BerdasarkanVisitor Studies.
Penulis : Gun Kuntara Adhiarta
Tahun lulus :
Pembimbing : Dra. Djaliati Sri Nugrahani
Topik:
Evaluasi daya tarik Museum Gunungapi Merapi berdasarkan kajian pengunjung dengan metode statistik-deskriptif sehingga dihasilkan rekomendasi untuk perkembangan museum selanjutnya.
Permasalahan dan tujuan: Permasalahan:
1. Seperti apakah demografi pengunjung Museum Gunungapi Merapi? 2. Seperti apakah penilaian pengunjung terhadap daya tarik museum dan
materi pameran yang ada di Museum Gunungapi Merapi?
Tujuan:
1. Sebagai evaluasi terhadap pelaksanaan Museum Gunungapi Merapi. 2. Meningkatkan fungsi museum sebagai sarana pendidikan dan hiburan. 3. Mengetahui tingkat kepuasan pengunjung Museum Gunungapi Merapi.
Metode:
Penalaran : Induktif
Pendekatan : Statistik deskriptif
Kesimpulan:
Setelah melalui tahapan observasi dan penilaian, maka demografi pengunjung Museum Gunungapi Merapi adalah:
1. Sebagian besar pengunjung merupakan pelajar dan mahasiswa.
2. Pada umumnya tujuan pengunjung ke museum yaitu mencari ilmu dan rekreasi.
3. Kebanyakan pengunjung Museum Gunungapi Merapi berasal dari luar kota Yogyakarta.
4. Aksesibilitas museum tidak terjangkau kendaraan umum.
5. Informasi pemasaran Museum Gunungapi Merapi kurang tersebar secara maksimal.
Sedangkan penilaian untuk mengetahui daya tarik Museum Gunungapi Merapi, sebagai berikut:
1. Pengunjung memberikan nilai baik terhadap museum secara umum. Begitu pula dengan pameran, dan materi pameran, pengunjung memberikan nilai bagus dalam penilaiannya. Sehingga secara keseluruhan, penilaian pengunjung terhadap daya tarik museum adalah baik.
vi pengunjung.
3. Mengadakan evaluasi secara teratur terhadap kebutuhan pengunjung. 4. Secara berkala merubah tata pameran agar pengunjung yang datang lagi
tidak jenuh.
5. Meningkatkan nilai yang sudah dianggap baik oleh pengunjung. 6. Lebih meningkatkan nilai yang dianggap tidak baik oleh pengunjung.
vii
Fascination Volcano Merapi Museum: Assessment Based on Visitor Studies.
Authors : Gun Kuntara Adhiarta
Year of graduation :
Advisor : Dra. Djaliati Sri Nugrahani
Topic:
Evaluation the attractiveness of Merapi Volcano Museum based on the visitor studies, descriptive statistical methods to produce a recommendation for further development of the museum.
Problems and objectives: Problems:
1. How are the demographics of Merapi Volcano Museum visitor?
2. How is the assessment of the attractiveness of visitors to museums and exhibition material at Merapi Volcano Museum?
Objectives:
1. Evaluating of the implementation of the Merapi Volcano Museum. 2. Improving the function of museums as a means of education and
entertainment.
3. Knowing the level of visitor satisfaction Merapi Volcano Museum.
Methods:
Reasoning: Inductive
Approach: Descriptive statistics
Conclusion:
After going through the stages of observation and assessment, the demographics of Merapi Volcano Museum visitors are:
1. Most visitors are students and college students.
2. The purpose of most visitors to the museum is looking for knowledge and recreation.
3. The most of visitors are from outside Yogyakarta.
4. Accessibility of the museum is not affordable of public transportation. 5. Merapi Volcano Museum marketing information does not spread
maximally.
The evaluation to determine the attractiveness of Merapi Volcano Museum, as follows:
1. Visitors to the museum give a good value in general. Similarly, the exhibitions, and exhibition materials, give visitors a good value in its judgment. So that overall, the assessment of visitors to the museum is a good attraction.
viii comprehensible.
3. Conduct an evaluation regularly to the needs of visitors.
4. Periodically change the system exhibits so that visitors who come back are underwhelmed.
5. Increase the value that has been considered both by visitors.
6. Further enhance the value of which is considered good by the visitors.
ix
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi,
dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu
dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar acuan pustaka.
Yogyakarta, 29 Juni 2012
x
D. Keaslian Penelitian dan Tinjauan Pustaka... 5
E. Metode Penelitian... 8
BAB II GAMBARAN UMUM MUSEUM GUNUNGAPI MERAPI... 15
A. Tujuan Pendirian Museum Gunungapi Merapi ... 15
B. Lokasi dan Aksesibilitas Museum ... 16
C. Tata Pameran di Museum Gunungapi Merapi... 18
1. Lantai Pertama Museum Gunungapi Merapi ... 18
2. Pameran di Lantai Kedua Museum Gunungapi Merapi ... 54
BAB III HASIL STUDI PENGUNJUNG MUSEUM GUNUNGAPI MERAPI ... 62
A. Data Kunjungan Museum Gunungapi Merapi ... 62
B. Hasil Kuesioner Pengunjung Museum Gunungapi Merapi ... 64
1. Identitas Responden ... 65
2. Penilaian Responden Terhadap Daya Tarik Museum Gunungapi Merapi... 70
3. Penilaian Responden Terhadap Daya Tarik Materi Pameran Museum Gunungapi Merapi ... 73
4. Kepuasan Responden Terhadap Museum Gunungapi Merapi .. 80
BAB IV DAYA TARIK MUSEUM GUNUNGAPI MERAPI ... 82
A. Pengertian Daya Tarik Museum ... 82
B. Demografi Pengunjung... 83
xi
BAB V PENUTUP ... 103
A. Kesimpulan... 103
B. Rekomendasi... 102
DAFTAR PUSTAKA... 106
LAMPIRAN ... 108
xii
Penelitian tentang pengunjung museum (visitor studies) di luar Indonesia,
terutama di Eropa, sudah dimulai sejak 1884, sedangkan di Indonesia masih
sangat jarang dilakukan. Oleh karena itu, penulis tertarik mengangkat penelitian
dengan topik pengunjung di museum. Adapun judul yang dipilih adalah “Daya
Tarik Museum Gunungapi Merapi: Kajian Berdasarkan Visitor Studies”.
Penulis tertarik meneliti pengunjung museum karena pengunjung menjadi
penentu sukses atau tidaknya museum. Pengunjung adalah konsumen museum,
maka suksesnya suatu “penjualan” museum ditentukan oleh kepuasan
konsumen terhadap produk yang dijual, dalam hal ini adalah museum.
Penulis menyadari bahwa penelitian ini hanyalah sumbangan kecil bagi
Arkeologi dan khususnya bidang museologi. Meskipun penulis belum menjadi
ahli baik dalam bidang visitor studies maupun museologi, namun tulisan ini
merupakan harapan dan keinginan penulis agar museum di Indonesia dapat
lebih maju dan berkembang. Di masa depan, museum di Indonesia dapat
menjadi sumber pengetahuan yang menghibur dan menyenangkan bagi setiap
orang yang berkunjung ke museum.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
sebesar-besarnya kepada:
1. Alloh Subhanahuwataala, kerena kasih sayang-Nya dan rahmat-Nya,
penulis masih diberi kesehatan dan kemudahan menyelesaikan penelitian
ini
2. Dr. Mahirta, M.A., selaku Ketua Jurusan Arkeologi UGM dan seluruh staf
pengajar Jurusan Arkeologi FIB UGM yang telah memberikan wawasan
dan pengetahuan tentang berbagai hal, baik secara akademis maupun
xiii
kesempatan waktu yang diberikan, dan pengetahuan museum yang telah
diberikan..
4. Drs. Tjahjono Prasodjo, M.A. sebagai dosen pembimbing akademik yang
telah membimbing dan memberi nasehat kepada penulis.
5. “My beloved princess”de Ita Fitriana., S.S. terima kasih untuk dukungan,
semangat dan perhatiannya kepada penulis. I love you, semua akan
indah pada waktunya.
6. Bapak dan Ibu yang selalu menyayangi, mendukung, dan mengasihi
penulis dengan penuh cinta kasih hingga saat ini dan selamanya.
7. Kedua saudara penulis; Kasturi Bayu Aji., S.P dan Khairunnisa. Kalau kita
berkumpul semua jadi ramai.
8. Kepala Museum Gunungapi Merapi, Drs Suharna beserta staf Museum
Gunungapi Merapi yang memberikan kesempatan kepada penulis untuk
melakukan penelitian.
9. Teman-teman Arkeologi UGM angkatan 2003, 2004, 2005, 2006 dan
2007 atas segala kenangan, bantuan, dan hiburan selama penulis
menempuh pendidikan di arkeologi UGM, terima kasih banyak.
10. Teman-teman KKN PPM 2009.
11. Sahabat penulis; Lukh Firdiansyah, Alfian Rifky Fauzi, Sulistiyono, Sri Dwi
Mulyani, Retno Widya Hapsari, dan Burhanuddin Arif Rahman.
12. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini, yang tidak
dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari, masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini,
xiv
Yogyakarta, 29 Juni 2012
xv
Foto 2.1 Museum Gunungapi Merapi... 17
Foto 2.2 Pengunjung di maket simulasi guguran awan panas Merapi... 19
Foto 2.3 Maket kompleks Museum Gunungapi Merapi dan maket Ketep pass ... 20
Foto 2.4 Poster proses pembangunan Museum Gunungapi Merapi ... 21
Foto 2.5 Filosofi pembangunan Museum Gunungapi Merapi ... 22
Foto 2.6 Ruang pameran dampak erupsi Merapi 2010 ... 23
Foto 2.7 Ruang pameran dunia gunungapi (Volcano World)... 24
Foto 2.8 Evolusi kerak bumi dalam poster ... 25
Foto 2.9 Poster-poster yang menggambarkan lingkungan magmatik gunungapi ... 26
Foto 2.10 Alat peraga gunungapi aktif dunia dan Indonesia... 27
Foto 2.11 Pengunjung sedang menekan papan elektronik... 28
Foto 2.12 Poster wajah gunungapi Indonesia ... 28
Foto 2.13 Poster-poster tipe letusan gunungapi... 29
Foto 2.14 Poster indeks letusan gunungapi ... 30
Foto 2.15 Poster bentuk dan fenomena gunungapi... 30
Foto 2.16 Poster letusan gunungapi Indonesia dan dunia... 31
Foto 2.17 Poster sumber daya gunungapi ... 32
Foto 2.18 Ruang pameran tema seputar Gunungapi Merapi ... 34
Foto 2.19 Maket jalur pendakian Gunungapi Merapi... 35
Foto 2.20 Poster foto udara Gunungapi Merapi ... 36
Foto 2.21 Poster citra satelit Gunungapi Merapi ... 37
Foto 2.22 Poster selayang pandang Merapi... 38
Foto 2.23 Poster pertumbuhan kubah Merapi ... 39
Foto 2.24 Poster pengamatan dan pemeriksaan gunungapi Indonesia... 40
Foto 2.25 Poster cara penyelamatan diri dari ancaman bahaya gunungapi ... 40
Foto 2.26 Peta kawasan gempa bumi merusak Yogyakarta dan Jawa Tengah dan mitos Gunungapi Bromo, Rara Anteng dan Joko Seger... 41
xvi
Foto 2.30 Poster citra satelit puncak gunungapi Merapi... 44
Foto 2.30 Poster pengamatan Gunungapi Merapi... 45
Foto 2.31 Poster sejarah letusan Gunungapi Merapi ... 45
Foto 2.32 Kumpulan poster metode pengamatan Gunungapi Merapi ... 46
Foto 2.33 Poster peta rawan bencana sekitar Gunung Merapi ... 47
Foto 2.34 Poster sabo dam penanggulangan lahar Gunungapi Merapi... 48
Foto 2.35 Poster peringatan dini bencana Merapi... 49
Foto 2.36 Poster yang menggambarkan letusan Gunung Merapi ... 49
Foto 2.37 Poster dampak letusan Gunung Merapi ... 50
Foto 2.38 Foto singkapan batuan Merapi... 51
Foto 2.39 Foto mikroskopik sayatan Batuan ... 52
Foto 2.40 Penampang stratigrafi endapan awan panas Merapi ... 52
Foto 2.41 Lukisan mitologi Merapi dan lukisan upacara adat di Gunungapi Merapi .. 53
Foto 2.42 Berbagai contoh peralatan yang digunakan dalam upacara adat ... 54
Foto 2.43 Plaza tematik sedang dalam perbaikan... 54
Foto 2.44 Ruang I yang terletak di sisi timur lantai dua ... 55
Foto 2.45 Ruang II yang berbentuk melingkar ... 56
Foto 2.46 Ruang memorabilia... 57
Foto 2.47 Lorong yang menghubungkan ruang II dan ruang III... 58
Foto 2.48 Globe ... 59
Foto 2.49 Kolase foto keadaan ruang V... 60
Foto 2.50 Maket Gunungapi Merapi di ruang VI... 61
Foto 2.51 Maket erupsi Gunungapi Merapi yang terbagi dalam empat waktu ... 61
xvii
Tabel 3.1 Pengunjung Museum Gunungapi Merapi 2010 ... 63
Tabel 3.2 Penunjung Museum Gunungapi Merapi 2011 ... 63
Tabel 3.3 Jenis kelamin ... 65
Tabel 3.4 Status pekerjaan ... 65
Tabel 3.5 Teman... 66
Tabel 3.6 Asal kota ... 66
Tabel 3.7 Frekuensi kunjungan... 67
Tabel 3.8 Kendaraan yang digunakan ... 67
Tabel 3.9 Tujuan responden ... 68
Tabel 3.10 Persebaran informasi Museum Gunungapi Merapi... 68
Tabel 3.11 Penilaian responden tentang museum secara umum... 70
Tabel 3.12 Pendapat responden tentang pameran di Museum Gunungapi Merapi ... 71
Tabel 3.13 Pendapat responden tentang materi pameran di Museum Gunungapi Merapi ... 72
Tabel 3.14 Penilaian responden tentang poster... 73
Tabel 3.15 Penilaian responden tentang maket ... 75
Tabel 3.16 Penilaian responden tentang alat peraga ... 75
Tabel 3.17 Penilaian responden tentang lukisan... 76
Tabel 3.18 Penilaian responden tentang benda koleksi ... 76
Tabel 3.19 Penilaian responden tentang foto dokumentasi... 77
Tabel 3.20 Tabel kepuasan responden Museum Gunungapi Merapi ... 78
Tabel 4.1 Kategori daya tarik Museum Gunungapi Merapi secara umum ... 84
Tabel 4.2 Kategori daya tarik pameran Museum Gunungapi Merapi... 85
Tabel 4.3 Kategori daya tarik materi pameran Museum Gunungapi Merapi ... 86
Tabel 4.4 Kategori daya tarik poster ... 87
Tabel 4.5 Kategori daya tarik maket... 88
Tabel 4.6 Kategori daya tarik alat peraga ... 90
xix
Gambar 1.1 Peta lokasi Museum Gunungapi Merapi... 4
xx
Lampiran II. Gambar Denah Museum Gunungapi Merapi Lantai II ... 110
Lampiran III. Kuesioner Pengunjung Museum Gunungapi Merapi ... 111
Lampiran IV. Identitas Responden ... 118
Lampiran V. Penilaian Pengunjung Terhadap Daya Tarik Museum Gunungapi Merapi ... 120
Lampiran VI. Penilaian Pengunjung Terhadap Daya Tarik Materi Museum Gunungapi Merapi ... 124
xxi
Cm : Centimeter
Dr. : Doktor
ESDM : Energi dan Sumber Daya Mineral
ICOM :International Council of Museum
Ir. :Insinyur
Km : Kilometer
K.R.T :Kanjeng Raden Tumenggung
M : Meter
MGM :Museum Gunungapi Merapi
MSA : Magister Sains Akuntansi
Rp. : Rupiah
1
A. Latar Belakang Masalah
Manajemen adalah aktivitas kerja yang melibatkan koordinasi dan
pengawasan terhadap pekerjaan orang lain, sehingga pekerjaan tersebut dapat
diselesaikan secara efisien dan efektif (Robbin and Coulter, 2010: 7). Jika dilihat
dari penjelasan di atas maka manajemen memiliki dua fungsi, yaitu sebagai
koordinasi dan pengawasan dengan tujuan untuk mencapai efisiensi dan
efektivitas kerja.
Selain berfungsi sebagai koordinasi dan pengawasan, manajemen juga
memiliki fungsi lain dalam penerapannya. Henri Fayol, seorang pengusaha
berkebangsaan Prancis, di awal abad XX membagi fungsi manajemen menjadi
lima, yaitu: (1) Perencanaan (planning), (2) Penataan (organizing), (3)
Penugasan (commanding), (4) Pengoordinasian (coordinating), dan (5)
Pengendalian (controlling) atau evaluasi (evaluation) (Robbin and Coulter, 2010:
9).
Semenjak kata manajemen muncul pertama kali di awal abad XIX hingga
sekarang, manajemen mengalami perubahan dan pengertian yang beragam.
Mulanya istilah manajemen digunakan untuk organisasi komersial, namun karena
manfaatnya yang besar, istilah tersebut juga merambah organisasi sosial dan
nirlaba. Mengapa manajemen begitu berperan besar hingga organisasi sosial
dan nirlaba pun membutuhkan manajemen? Stephen P. Robbin dan Mary
Coulter (2010: 19-24) menuliskan manfaat manajemen melalui tiga hal, yaitu: (1)
Universalitas manajemen, yang merujuk pada kebutuhan manajemen dalam
semua bentuk dan ukuran organisasi; (2) Realitas dunia kerja, bahwa setiap
yang dikelola; (3) Imbalan dan tantangan ketika seseorang menjadi manajer.
Karena sifat manajemen yang universal itulah, maka manajemen diperlukan
dalam berbagai organisasi, termasuk juga organisasi nirlaba.
Museum merupakan organisasi nirlaba yang juga membutuhkan
manajemen dalam pengelolaannya. Hal ini dilakukan untuk mendukung efisiensi
museum agar mampu berkembang dan lebih kompetitif.
Mendirikan museum tidak terlalu sulit, namun menyelenggarakan dan
mengelola museum dengan baik tidaklah mudah. Dalam mendirikan museum
haruslah ditentukan terlebih dahulu tujuan museum didirikan, kemudian
perencanaan museum, dan pelaksanaan museum (Kecil Tetapi Indah, 1999:
25-33). Selain hal tersebut di atas, dalam pendirian museum juga haruslah
mempertimbangkan pengunjung. Sebab tanpa pengunjung, museum tidak dapat
menjalankan tugasnya dalam melayani masyarakat dan menjadi sumber
pengetahuan.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 840), menyebutkan bahwa
pengunjung berasal dari kata kunjung yang berarti pergi (datang) untuk
menengok, dan pengunjung adalah orang yang mengunjungi. Dari pengertian
tersebut, maka pengunjung museum adalah orang yang mengunjungi atau
mendatangi museum.
Meskipun pengunjung tersebut mendatangi museum, namun tidak semua
pengunjung menjadikan museum sebagai tujuan utama. Berkaitan dengan hal
tersebut, Timothy Ambrose dan Crispin Paine (2006, 23-24) berpendapat bahwa:
Keperluan dan kebutuhan pengunjung akan museum yang beragam
harus dipahami pihak manajemen museum sehingga pengunjung yang datang
tidak merasa kecewa karena tidak sesuai dengan harapan pengunjung. Untuk
dapat memahaminya, diperlukan suatu kajian terhadap pengunjung, atau disebut
juga visitor studies. Kegunaannya adalah untuk menjadi pertimbangan dalam
penentuan kebijakan manajemen museum dan juga sebagai bahan evaluasi
pelaksanaan museum.
Kajian pengunjung merupakan bagian dari kegiatan manajemen
pengunjung, yaitu evaluasi. Evaluasi sendiri menurut Schouten (1992: 77)
didefinisikan sebagai suatu himpunan data sistematis yang dapat memberikan
informasi mengenai tingkatan atau ukuran tentang pencapaian sasaran yang
telah direncanakan sebelumnya. Dengan kata lain, pengelola museum akan
mengetahui cara komunikasi yang efektif dan efisien dari museum kepada
pengunjung jika melakukan kajian terhadap pengunjung.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka masalah kajian pengunjung atau
yang biasa disebut visitor studies merupakan topik yang menarik untuk dikaji.
Oleh karena itu, penelitian ini mengambil fokus topik tersebut. Adapun lokasi
penelitian dilakukan di Museum Gunungapi Merapi, yang terletak di kawasan
lereng selatan Gunung Merapi, tepatnya berada di Jalan K.R.T.
Pringgondiningrat No. 13 Tridadi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa
Yogyakarta. (lihat Gambar 1.1).
Alasan pemilihan lokasi penelitian ini karena Museum Gunungapi Merapi
adalah museum yang relatif baru, diresmikan tanggal 1 Oktober 2009. Museum
tersebut memiliki disain arsitektur dan tata pameran yang unik dan berbeda
B. Rumusan Masalah
Dari penjelasan tersebut di atas, maka permasalahan yang dikaji dalam
penelitian ini adalah:
1. Seperti apakah demografi pengunjung Museum Gunungapi Merapi?
2. Seperti apakah penilaian pengunjung terhadap daya tarik museum dan
materi pameran yang ada di Museum Gunungapi Merapi?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah:
1. Sebagai evaluasi terhadap pelaksanaan Museum Gunungapi Merapi.
2. Meningkatkan fungsi museum sebagai sarana pendidikan dan hiburan.
3. Mengetahui tingkat kepuasan pengunjung Museum Gunungapi Merapi
D. Keaslian Penelitian dan Tinjauan Pustaka
Penelitian tentang pengunjung dan kualitas pameran pernah ditulis oleh
Muhammad Rosyid Ridlo (2011) dalam tesisnya yang berjudul Evaluasi Pameran
Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta: Kajian Untuk Mengembangkan
Pameran Berkiblat pada Pengunjung. Dalam tesis tersebut Ridlo melakukan
evaluasi pameran dengan dasar masukan dari pengunjung di Museum Benteng
Vredeburg. Berbeda dengan penelitian Ridlo, penelitian ini menitikberatkan pada
penilaian dan kepuasan pengunjung terhadap daya tarik museum.
Daud Aris Tanudirjo (2007: 16) dalam artikelnya di majalah Museografia
menuliskan bahwa:
Pendidikan disertai dengan hiburan adalah dua kata yang sangat
diperlukan dalam pengelolaan museum. Jika museum hanya berfungsi sebagai
pendidikan saja, maka suasana dalam museum terasa membosankan dan
menjemukan. Sedangkan jika museum hanya berfungsi sebagai hiburan, maka
museum tersebut tidak berbeda dengan taman hiburan.
Contoh sukses pengelolaan museum berdasarkan cara pandang ini
ditunjukan oleh kinerja museum seni dan budaya Jawa Ullèn Sentalu. Museum
tersebut bukan hanya memajukan unsur pendidikan saja sebagai pengetahuan,
namun juga menambahkan unsur seni sebagai hiburan bagi pengunjung.
Sehingga pengunjung yang datang ke museum tersebut merasa mendapat
pengetahuan dari koleksi yang ada di museum sekaligus terhibur dengan disain
unik bangunan dan letak koleksi yang mengandung estetika. Tanudirjo (2007:
17) menambahkan:
“pada umumnya, museum-museum kita masih lebih banyak menekankan pada unsur-unsur “memamerkan” benda dan seakan-akan terjerat oleh cara pandang sempit keilmuan. Sebagai akibatnya, banyak museum di Indonesia yang terjebak dengan obsesi menjadi lembaga ilmiah saja, tanpa berusaha membuat sajiannya menarik apalagi menghibur”.
Mengapa diperlukan kajian pengunjung (visitor studies)? Kajian mengenai
pengunjung diperlukan untuk mengetahui kebutuhan pengunjung. Sesuai dengan
definisi museum yang dirumuskan dalam statutaInternational Council of Museum
(ICOM, 2007) di Vienna, Austria. Definisi museum adalah:
“a non-profit, permanent institution in the service of society and its development, open to the public, which acquires, conserves, researches, communicates and exhibits the tangible and intangible heritage of humanity and its environment for the purposes of education, study and enjoyment”.
Dalam pengertian tersebut disebutkan bahwa museum bukan hanya
sebagai tempat mengumpulkan, melestarikan, dan meneliti benda-benda
memamerkan kepada masyarakat untuk tujuan pengajian, pendidikan dan
kesenangan. Sebelum pengelola museum mengkomunikasikan dan
memamerkan kepada masyarakat, pengelola museum tentunya harus dapat
memahami dan mempelajari kebutuhan pengunjung. Hal tersebut diperlukan
agar informasi yang diberikan pihak museum dapat diterima dengan baik dan
sesuai kebutuhan pengunjung. Luthfi Asiarto (2007: 7) mengatakan bahwa
pengunjung yang datang ke museum mempunyai beraneka ragam latar belakang
budaya, pendidikan, umur, dan tujuan. Sehingga perlu strategi agar pengunjung
dapat memahami informasi yang diberikan oleh museum. Asiarto juga
menambahkan (2007: 8) bahwa petugas museum, khusus bagian pelayanan
pengunjung, harus mengetahui dan mengkaji kebutuhan pengunjung. Lebih jauh
Kollmann (2010) menjelaskan bahwa:
“Visitor studies [is] the process of systematically obtaining knowledge from and about museum visitors, actual and potential, for the purpose of increasing and utilizing such knowledge in the planning and execution of those activities that relate to the public.”
Dalam penjelasan tersebut terdapat dua hal penting, yaitu pengetahuan
tentang pengunjung museum dan penggunaannya dalam perencanaan dan
pelaksanaan kegiatan museum yang berhubungan dengan publik. Kollmann
menjelaskan pula pentingnya melakukan studi pengunjung. Alasan pertama,
karena pengunjung museum memiliki berbagai latar belakang dan kepentingan.
Alasan kedua, karena museum adalah lingkungan belajar yang bebas pilih
(Kollmann, http://care-aam.org/).
Hein (1998, 100) dalam bukunya Learning in the Museum menuliskan
bahwa visitor studies dilakukan karena peneliti tertarik untuk mencari tahu apa
yang pengunjung pikirkan dan bagaimana mereka merasakan kunjungannya.
pengunjung. Metode tersebut adalah, metode observasi (observation methods),
metode berbasis bahasa (language-based methods), danfocus groups.
E. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan penalaran induktif, yaitu penalaran yang
berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan untuk menghasilkan
generalisasi empirik (Zuriah, 2006: 47). Metode penelitiannya menggunakan
language-based methods yang hasilnya diolah dengan menggunakan statistik
deskriptif.Language-based methodsadalah:
“language-based methods concerns about the “subjectivity” of respondents, inability to develop reproducible data, or doubts about their capability to be reflective have prompted some researchers to reject the most human of all qualities, our ability to speak and to reflect on our activities, as a research tool” (Hein, 1998: 114).
Sedangkan statistik deskriptif merupakan metode penelitian yang
berkaitan dengan penerapan metode statistik untuk mengumpulkan, mengolah,
menyajikan, dan menganalisis data kuantitatif secara deskriptif (Suprayogi,
http://file.upi.edu/).
F. Batasan Penelitian
Lokasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Museum Gunungapi
Merapi yang terletak di kawasan lereng selatan Gunung Merapi, tepatnya berada
di Jalan K. R. T. Pringgondiningrat No. 13 Tridadi, Kabupaten Sleman, Daerah
Istimewa Yogyakarta (lihat Gambar 1.1).
Sebenarnya Museum Gunungapi Merapi memiliki empat lantai, namun
baru lantai satu dan dua yang dapat dilihat pengunjung. Oleh karena itu, area
penelitian hanyalah ruang pameran di lantai satu dan lantai dua (lihat Lampiran
G. Tahapan Penelitian
Sebelum melakukan penelitian, terlebih dahulu meminta izin kepada pihak
pengelola Museum Gunungapi Merapi untuk melakukan penelitian. Kemudian
melakukan prapenelitian di museum dengan membuat denah museum, letak
koleksi yang dipamerkan di museum, dan mencatat label setiap benda yang
dipamerkan, serta menentukan alur pengunjung (lihat Lampiran I). Setelah
dilakukan prapenelitian, kemudian penulis melakukan tahap-tahap penelitian
sebagai berikut :
1. Pengumpulan Data
Penulis melakukan berbagai cara pengumpulan data untuk mendapatkan
data yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
1.1. Jenis Data
Data yang dikumpulkan pada penelitian ini terbagi menjadi dua jenis data,
yaitu:
a. Data Primer
Data primer diperoleh dari observasi penulis tentang tingkah laku dan
kebiasaan pengunjung yang datang ke Museum Gunungapi Merapi dan hasil
kuesioner yang dibagikan kepada pengunjung (lihat Lampiran III) serta
dokumentasi berupa foto displai pameran dan bangunan museum.
b. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh melalui kajian pihak lain yang didapat oleh
penulis. Publikasi yang berhubungan dengan manajemen museum dan
pengunjung, tingkat kunjungan Museum Gunungapi Merapi, dan berbagai
penunjang lainnya, baik media cetak yang diperoleh dari perpustakaan, dan
1.2. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode kuesioner
atau angket. Kuesioner atau angket adalah seperangkat pernyataan atau
pertanyaan tertulis dalam lembaran kertas atau sejenisnya dan disampaikan
kepada responden penelitian untuk diisi olehnya tanpa intervensi dari peneliti
atau pihak lain. (Danim, 2002: 138)
Metode kuesioner atau angket, berisi sejumlah pertanyaan yang
berhubungan dengan penilaian pengunjung terhadap daya tarik museum, materi
pameran dan kepuasan pengunjung (lihat Lampiran III). Pembagian kuesioner ini
ditujukan kepada pengunjung yang datang ke Museum Gunungapi Merapi pada
3 – 8 April 2012. Kuesioner ini diberikan saat pengunjung masuk ke Museum
Gunungapi Merapi dan diisi sambil pengunjung melihat seluruh museum,
kemudian diserahkan kembali kepada peneliti setelah pengunjung keluar dari
museum.
Penentuan jumlah sampel pengunjung yang akan diteliti ditentukan
dengan menggunakan rumus Slovin
(Sevilla, 1993: 161)
:= 1 +
n
= ukuran sampel
N = ukuran populasi
e = nilai kritis (batas ketelitian) yang diizinkan (persen kelonggaran,
ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel populasi)
Dalam penelitian ini, jumlah populasi yang didapat adalah jumlah rata-rata
pengunjung Museum Gunungapi Merapi tiap hari pada tahun 2010, yaitu 114
orang. Nilai kritis yang peneliti ambil adalah sebesar 10% atau 0,1. Jika
dimasukkan ke dalam rumus Slovin maka:
=
1 + 114 (0,01)
114
=
1 + 1,14
114
=
2,14
114
= 53,271
Berdasarkan rumus Slovin tersebut, maka jumlah sampel yang diteliti
adalah 53,271. Karena sampel tidak dapat dihitung dengan desimal, maka untuk
mempermudah perhitungannya, dibulatkan menjadi 55 orang.
2. Analisis Data
a. Untuk mengetahui demografi pengunjung Museum Gunungapi Merapi,
data yang dianalisis meliputi data identitas responden (lihat Lampiran III), yaitu
jenis kelamin, kota asal, status pekerjaan, kendaraan yang digunakan dan tujuan
datang ke Museum Gunungapi Merapi. Data tersebut kemudian dikorelasikan
dengan hasil observasi. Hasil observasi didapat dari pengamatan penulis
terhadap tingkah laku dan kebiasaan pengunjung saat berada di dalam museum.
b. Data yang dianalisis meliputi penilaian pengunjung terhadap daya tarik
museum dan materi pameran, serta kepuasan pengunjung Museum Gunungapi
Merapi menggunakan metode statistik deskriptif. Data yang telah dikumpulkan
diolah dengan menggunakan teknik statistik non-parametrik, yaitu dengan
mengubah data ordinal menjadi data interval (Ridlo, 2011: 100). Statistik
non-parametrik disebut juga statistik bebas sebaran yang tidak mensyaratkan bentuk
sebaran normal atau tidak normal. Statistik nonparametrik biasanya digunakan
untuk melakukan analisis pada data nominal atau ordinal (Supriana, 2010: 2).
Data ordinal adalah data yang dinyatakan dalam bentuk kategori, namun
posisi data tidak sama derajatnya karena dinyatakan dalam skala peringkat
(Supriana, 2010: 5). Penentuan skala peringkat dapat menggunakan bermacam
skala, pada penelitian ini skala peringkat yang digunakan adalah 1 – 5, dengan
penjelasan sebagai berikut:
Contoh penulisan tabel data ordinal berikut ini (lihat Tabel 3.11):
No Variabel Skala Penilaian Responden (orang)Tidak RespondenJumlah memilih 1 2 3 4 5
1 Gedung museum 2 0 3 21 10 19 55 2 Lingkungan museum 2 2 6 13 21 11 55
3 Pameran 1 0 6 21 17 10 55
4 Suasana ruang pamer 1 2 5 14 23 10 55
Tabel 1.2 Contoh penulisan data ordinal pada tabel
Data interval adalah data yang diukur dengan jarak di antara dua titik
pada skala yang sudah diketahui (Supriana, 2010: 4). Pada penelitian ini, data
interval yang digunakan contohnya berikut ini (lihat Tabel 4.1):
No Interval Kategori
1 220 ≤ x < 440 Sangat tidak baik
2 440 ≤ x < 660 Tidak baik
3 660 ≤ x < 880 Baik
4 880 ≤ x < 1100 Sangat baik
Langkah-langkah perubahan dari data ordinal menjadi data interval
adalah sebagai berikut: Pertama, data ordinal yang didapatkan dari kuesioner
dipindahkan ke dalam tabel. Tabel tersebut terbagi menjadi tiga kategori, yaitu
tabel identitas responden, tabel penilaian pengunjung tentang kualitas museum,
dan penilaian pengunjung tentang materi pameran museum. Kemudian
masing-masing tabel dihitung tiap jumlah responden yang memberi penilaian dan
persentasenya.
Kedua, data yang akan dihitung adalah tabel penilaian pengunjung
tentang kualitas museum dan tabel penilaian pengunjung tentang materi
pameran museum. Kedua data tersebut kemudian dijumlahkan dan
dikonversikan ke dalam tabel yang memiliki perhitungan interval, sehingga
diketahui kategori interval data tersebut.
3. Interpretasi Data
Pada tahap ini, data hasil analisis disingkronisasi dengan hasil observasi.
Pada hasil observasi, penulis mendapat pertanyaan, seperti; mengapa
kendaraan yang datang lebih banyak kendaraan pribadi dan sewa, sedangkan
kendaraan umum tidak ada? Apakah pengunjung tertarik pameran di Museum
Gunungapi Merapi? Apakah pengunjung tertarik dengan disain bangunan
museum yang berbeda dengan disain museum pada umumnya? Dari pertanyaan
hasil observasi tersebut kemudian dikaitkan dengan hasil analisis, sehingga dari
hasil tersebut dapat menjawab permasalahan yang diajukan pada rumusan
masalah.
4. Kesimpulan dan Rekomendasi
Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini bersifat hipotesis, karena
penelitian tersebut dilakukan. Sehingga belum dapat mewakili populasi yang
sebenarnya. Namun, hasilnya dapat menjadi rekomendasi bagi museum sebagai
evaluasi pelaksanaan museum dalam rangka meningkatkan fungsi museum
15
A. Tujuan Pendirian Museum Gunungapi Merapi
Museum Gunungapi Merapi adalah museum dengan koleksi mengenai
kegunungapian, yang diharapkan mampu menjadi sumber ilmu pengetahuan,
khususnya ilmu geologi. Pendirian Museum Gunungapi Merapi bertujuan sebagai
wahana edukasi konservasi yang berkelanjutan serta pengembangan ilmu
kebencanaan gunungapi, gempa bumi, dan bencana alam lainnya (Wulan, 2011:
2).
Gunungapi Merapi termasuk dalam gunungapi yang sering meletus,
sampai Juni 2006 erupsi Merapi tercatat sudah mencapai 83 kali kejadian.
Bahaya utama Merapi bukan pada lahar yang keluar saat erupsi, namun pada
aliran awan panas yang dapat mencapai puluhan kilometer ketika erupsi,
kecepatannya lebih dari 100 km/jam. Material awan panas terdiri atas batu, kerikil,
abu, dan pasir yang berasal dari runtuhan kubah lava dengan suhu sekitar 500
-600°C (http://www.merapi.bgl.esdm.go.id/). Dengan kecepatan dan suhu yang
sangat tinggi itu, runtuhan awan panas dapat dengan mudah menghancurkan
berbagai benda yang berada di lintasan alirannya.
Sebagai usaha melindungi kehidupan masyarakat yang bermukim di
sekitar daerah vulkanis, diperlukan tindakan mitigasi bencama, salah satu
aksinya adalah pemantauan aktivitas vulkanik. Dengan mitigasi tersebut
diharapkan dapat mendeteksi tanda-tanda peningkatan bahaya erupsi Merapi,
sehingga peringatan dini penyelamatan dapat diberikan. Selain pemantauan
aktivitas vulkanik, sosialisasi dan edukasi informasi kegunungapian, terutama
Gunungapi Merapi pada masyarakat sangatlah diperlukan. Sebab ketika
siaga dan dapat melakukan tindakan penyelamatan diri ketika erupsi
sewaktu-waktu terjadi.
Karena alasan itulah maka Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral
(ESDM), Pemerintah Provinsi Yogyakarta, dan Pemerintah Kabupaten Sleman
mendirikan Museum Gunungapi Merapi pada tahun 2005. Bangunan selesai
pada 1 Oktober 2009 dan dibuka untuk umum pada 1 Januari 2010. Pembukaan
dilakukan oleh menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro.
Visi Museum Gunungapi Merapi adalah memberikan pengetahuan
kepada masyarakat mengenai pemahaman kegunungapian, ilmu kebumian, dan
bencana. Misi Museum Gunungapi Merapi adalah menjadi sarana penyampaian
informasi dan pendidikan ilmu kebumian, serta memicu pengembangan potensi
ekonomi rakyat yang mendukung pariwisata. Tujuan pendirian Museum
Gunungapi Merapi adalah sebagai wahana edukasi serta pengembangan ilmu
kebencanaan gunungapi, gempa bumi, dan bencana alam lainnya .
B. Lokasi dan Aksesibilitas Museum
Lokasi Museum Gunungapi Merapi cukup terpencil, sehingga agak sukar
ditemukan. Terlebih jika pengunjung kurang jeli memperhatikan papan penunjuk
jalannya. Untuk mencapai lokasi MGM, pengunjung dapat melalui jalan Kaliurang.
Saat pengunjung sampai di perempatan Pakem, pengunjung dapat melihat
penunjuk jalan di sebelah kanan. Di papan tersebut tertuliskan bahwa jarak MGM
masih 7 km lagi. Kira-kira 5,5 km ke arah utara, pengunjung akan menemukan
papan penunjuk jalan di sebelah kanan. Papan tersebut menunjukkan bahwa
museum berjarak 1,5 km ke arah barat. Ikuti petunjuk tersebut, maka pengunjung
akan sampai ke Museum Gunungapi Merapi.
Museum hanya dapat dicapai menggunakan kendaraan pribadi atau
sewaan. Namun pengunjung yang menggunakan kendaraan umum akan
kesulitan mencapai museum tersebut, sebab kendaraan umum hanya sampai di
jalan utama saja. Untuk menuju museum tidak terdapat ojek maupun angkutan
umum lagi. Oleh karena itu, pengunjung yang ingin ke Museum Gunungapi
Merapi disarankan membawa kendaraan sendiri atau menyewa kendaraan.
Tiket masuk museum sebesar Rp. 3.000,00 jika hanya mengunjungi
museum saja dan Rp. 5.000,00 jika pengunjung ingin melihat film mengengai
Merapi di ruang theater. Jam operasional museum hari Selasa hingga hari
Minggu, mulai pukul 09.00 – 16.00 WIB. Tempat parkir sangat luas, dengan
biaya parkir sebesar Rp 1.000 untuk motor, Rp 2.000 untuk mobil, dan Rp 10.000
untuk bis.
C. Tata Pameran di Museum Gunungapi Merapi
Bangunan Museum Gunungapi Merapi terlihat unik dan menarik.
Mempunyai bentuk kerucut di puncak bangunannya. Tangga yang berjajar tiga di
depan pintu gerbang tampak dominan di teras museum yang lebar. Bangunan
museum menghadap utara selatan (lihat Foto 2.1).
Luas tanah museum 3,5 ha dan luas bangunannya 4.470 m2. Museum
terdiri atas empat lantai. Lantai pertama merupakan ruang pameran tentang
serba-serbi gunungapi di dunia, termasuk Gunungapi Merapi. Lantai kedua
berisikan pameran poster sejarah erupsi dan pengamatan Gunungapi Merapi
dari tahun 1920-2010. Lantai tiga dan lantai empat masih dalam tahap rencana
dan belum dibuka untuk pengunjung. Jadi, saat ini pengunjung hanya dapat
melihat dua lantai saja.
1. Lantai Pertama Museum Gunungapi Merapi
Lantai pertama Museum Gunungapi Merapi terdiri atas empat ruangan
yang dapat dinikmati pengunjung, yaitu (1).Lobby, (2). Ruang pameran dampak
erupsi Merapi 2010, (3). Ruang dunia gunungapi, (4). Ruang seputar gunungapi
Merapi, dan (5). Plaza tematik. Tata pameran di lantai I ini memiliki dua tema,
yaitu tema Dunia Gunungapi dan tema Seputar Gunungapi Merapi.
1.1. Lobby
Ruang ini merupakan ruang transisi pengunjung dari luar museum ke
dalam museum. Bentuklobby melingkar dan merupakan void2hingga lantai dua.
Di lobby terdapat maket replika Gunung Merapi dengan diameter + 6 m. Maket
2Voidmerupakan bukaan antarlantai yang biasanya terdapat pada rumah bertingkat. Fungsinya adalah menghubungkan lantai bawah dengan lantai atas.
tersebut bersifat interaktif, menyimulasikan letusan Gunung Merapi pada tahun
2002, 2006, dan 2010. Terdapat empat tombol pada maket tersebut. Tombol
pertama merupakan tombol narasi yang menjelaskan tentang Gunung Merapi
dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tombol kedua merupakan tombol
untuk menyimulasikan guguran awan panas Merapi ketika erupsi 2002. Tombol
ketiga merupakan tombol yang menyimulasikan guguran awan panas Merapi
ketika erupsi 2006. Tombol keempat merupakan tombol yang menyimulasikan
guguran awan panas Merapi ketika erupsi 2010. Dari keempat tombol tersebut,
yang masih berfungsi saat ini hanyalah tombol tahun 2006, tombol lainnya rusak.
Foto 2.2 Pengunjung di Maket Simulasi Guguran Awan Panas Merapi (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
Dalam lobby juga terdapat maket Museum Gunungapi Merapi dan maket
Ketep Pass yang dibuat dengan skala 1:200m. Maket Museum Gunungapi
Merapi (lihat Foto 2.3) menggambarkan keadaan museum saat ini, termasuk
2.3) menggambarkan obyek wisata Ketep yang ada di Magelang, lengkap
dengan bangunan dan vegetasi di sekitar bangunan.
Ketep Pass atau Bukit Ketep berada pada ketinggian 1.200 dpl dengan
luas area sekitar 8.000 m2. Terletak di Desa Ketep, Kecamatan Sawangan,
Kabupaten Magelang. Obyek wisata ini merupakan obyek wisata alam
kegunungapian. Selain digunakan pengunjung untuk menikmati pemandangan
alam, juga digunakan peneliti untuk mengamati aktivitas Gunung Merapi,
Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan Gunung Slamet3.
Foto 2.3 Maket kompleks Museum Gunungapi Merapi (kanan foto) dan maket Ketep pass (kiri foto)
(Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
Menyertai maket Gunung Merapi adalah dua panil yang
menginformasikan proses pembangunan Museum Gunung Merapi dan filosofi
pembangunannya. Proses pembangunan Museum Gunungapi Merapi disajikan
dalam poster yang menggambarkan tahapan pembangunannya, mulai dari
peletakan batu pertama oleh menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, pembuatan
fondasi bangunan, pengerjaan dinding museum, pembuatan maket Simulasi
Guguran Awan Panas Merapi, pembuatan panil, pembuatan plaza tematik,
hingga bangunan museum selesai dikerjakan.
Foto 2.4 Poster Proses Pembangunan Museum Gunungapi Merapi (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
Filosofi Pembangunan Museum Gunungapi Merapi dipaparkan dalam
bentuk poster yang berisikan konsep arsitektur museum yang dibuat oleh Dr. Ir.
Bambang Supriyadi, MSA. Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa filosofi
pembangunan museum tersebut terdiri atas konsep arsitektur, konsep budaya
lokal, dan implementasi disain. Konsep arsitektur bangunan Museum Gunungapi
Merapi berasal dari bentuk gunungapi, secara visual berbentuk kerucut yang
memusat di bagian atasnya. Konsep budaya lokal yang mempengaruhi bentuk
bangunan museum adalah bentuknya yang diilhami monumen Tugu Yogyakarta,
bentuk tangga di pintu utama Candi Ratuboko, konsep filosofi budaya Jawa
tentang orientasi utara selatan, dan pelataran Candi Sambisari. Implementasi
disain yang dimaksud merupakan penerapan konsep arsitektur dan konsep
budaya lokal dalam bangunan Museum Gunungapi Merapi. Penerapan konsep
arsitektur terlihat pada bentuk bangunan museum yang mengerucut, mengecil di
menara di atas bangunan yang merupakan representasi bentuk Tugu Yogyakarta.
Tangga di depan pintu utama terinspirasi oleh pintu gerbang Candi Ratuboko.
Arah bangunan yang menghadap utara-selatan merupakan representasi filosofi
budaya Jawa. Sementara teras luas di depan pintu masuk museum mengacu
pada pelataran Candi Sambisari.
Foto 2.5 Filosofi pembangunan Museum Gunungapi Merapi (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
1.2. Ruang Pameran Dampak Erupsi Merapi 2010
Ruangan ini berada di sebelah kanan pintu masuk setelah pengunjung
melewati lobby (lihat gambar 2.2). Ruangan ini memamerkan dokumentasi
aktivitas erupsi Merapi dalam bentuk foto, antara lain dampak awan panas
Merapi terhadap rumah di sekitar lereng Merapi, dan jembatan yang hancur
dihantam awan panas. Selain itu, terdapat bangkai sepeda motor yang terkena
dampak erupsi Merapi, dihibahkan pemiliknya ke museum. Di ruangan tersebut
terdapatvitrinyang berisi peralatan sehari-hari seperti sendok, garpu, wajan, dan
Gambar 2.2 Denah ruang pameran dampak erupsi Merapi 2010 (Gambar : Gun Kuntara Adhiarta)
Setelah ruang pamer foto, berikutnya adalah auditorium. Akan tetapi
ruangan tersebut belum dibuka untuk umum, auditorium nantinya akan
digunakan sebagai ruang pertemuan (lihat gambar 2.2).
1.3. Ruang Dunia Gunungapi (Volcano World)
Ruang Dunia Gunungapi (lihat Foto 2.7) merupakan ruang setelah lobby
(lihat Lampiran I). Di ruangan ini dipamerkan evolusi kerak bumi (lihat Foto 2.8),
lingkungan magmatik gunungapi (lihat Foto 2.9), gunung aktif dunia dan
Indonesia (lihat Foto 2.10), wajah gunungapi Indonesia (lihat Foto 2.12), tipe-tipe
letusan gunungapi (lihat Foto 2.13), indeks letusan gunungapi (lihat Foto 2.14),
bentuk gunungapi (lihat Foto 2.15), letusan gunungapi Indonesia dan dunia (lihat
Foto 2.16), dan sumber daya gunungapi (lihat Foto 2.17).
Pameran di ruangan ini disajikan dalam bentuk poster yang ditempel
pada panil, maket, alat peraga, dan koleksi obyek dalam vitrinkaca. Poster yang
disajikan terdiri atas gambar ilustrasi, dan foto yang diberi keterangan dalam
Bahasa Indonesia dan Inggris. Koleksi museum berupa objek material erupsi
Merapi yaitu batu yang diberi label dalam Bahasa Indonesia dan Inggris.
Sebaran gunungapi aktif dunia dan Indonesia dalam bentuk alat peraga yang
diberi penjelasan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris.
Poster dalam panil di ruangan ini memiliki kode, yang terbagi menjadi dua
kode, yaitu A dan B. Sedangkan koleksi museum dalam vitrin kaca dan maket
tidak memiliki kode.
a) Poster Evolusi Kerak Bumi
Ketika pengunjung masuk ruang pameran Dunia Gunungapi, poster ini
ada di sebelah kiri (lihat Lampiran I). Poster ditempel pada panil berukuran 1,5 m
x 4 m (lihat Foto 2.8).
Poster ini berisi proses evolusi kerak bumi yang dibagi menjadi lima
gambar. Gambar pertama, keadaan bumi pada zaman Perm (sekitar 225 juta
tahun lalu), gambar kedua yaitu keadaan bumi pada zaman Trias (sekitar 200
juta tahun lalu), gambar ketiga yaitu keadaan bumi pada zaman Jura (sekitar 135
juta tahun lalu), gambar keempat yaitu keadaan bumi pada zaman Kampur (65
juta tahun lalu), dan gambar kelima yaitu keadaan bumi pada zaman sekarang.
Selain informasi dalam bentuk tulisan, poster tersebut juga memuat gambar dan
captiontentang perubahan bentuk muka bumi dari zaman Perm hingga sekarang.
b) Poster Lingkungan Magmatik Gunungapi
Poster ini menginformasikan lingkungan magmatik gunungapi di dunia
(lihat Foto 2.9). Informasi tersebut dibagi menjadi empat poster yang ditempel
pada panil. Poster pertama, menjelaskan tentang lempeng tektonik yang
menyebabkan terbentuknya gunungapi. Poster kedua, menjelaskan tentang
punggungan tengah samudra dan cekungan busur belakang. Poster ketiga,
menjelaskan tentang tepian benua aktif dan busur kepulauan. Poster keempat,
menjelaskan tentang zona rekahan benua dan tatanan lempeng samudra.
Foto 2.9 Poster-poster yang menggambarkan lingkungan magmatik gunungapi (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
c) Alat Peraga Sebaran Gunungapi Aktif Dunia dan Indonesia
Setelah pengunjung melihat poster lingkungan magmatik gunungapi, di
seberang poster terdapat dua alat peraga, terdiri atas sebaran gunungapi aktif
dunia dan Indonesia (lihat Foto 2.10). Tepat di depan alat peraga tersebut,
terdapat papan elektronik. Papan elektronik dapat dikelompokkan menjadi dua,
bagian kiri terhubung dengan peta sebaran gunungapi aktif di Indonesia,
sedangkan di bagian kanan terhubung dengan nama dan lokasi gunungapi aktif
Pada alat peraga sebaran gunung api aktif di Indonesia, lampu LED
dibedakan warnanya. Warna tersebut menunjukkan klasifikasi gunungapi di
Indonesia. Warna merah menunjukkan gunungapi tipe A, yaitu gunungapi yang
tercatat pernah mengalami erupsi magmatik, sekurang-kurangnya sekali sesudah
tahun 1600. Lampu warna hijau menunjukkan gunungapi tipe B, yaitu gunungapi
yang sesudah tahun 1600 tercatat tidak ada aktivitas erupsi magmatik, namun
masih memperlihatkan gejala kegiatan vulkanik. Lampu warna biru menunjukkan
gunungapi tipe C, yaitu gunungapi yang sejarah erupsinya tidak diketahui dalam
catatan manusia, namun terdapat tanda-tanda kegiatan vulkanik pada tingkat
lemah4.
Berbeda dengan alat peraga di atas, alat peraga sebaran gunungapi aktif
dunia hanya mempunyai satu warna lampu LED, yaitu merah. Warna tersebut
hanya menunjukkan nama gunungapi di dunia, tanpa ada klasifikasinya.
Foto 2.10 Alat peraga gunungapi aktif dunia dan Indonesia (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
Foto 2.11 Pengunjung sedang menekan papan elektronik (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
d) Poster Wajah Gunungapi Indonesia
Poster berikut ini menampilkan sejumlah foto gunungapi Indonesia yang
disertai dengan keterangan nama gunung dan lokasi gunung. Foto dalam poster
dibuat dengan menggunakan efek olah digital, sehingga foto-foto tersebut
terkesan tiga dimensi (lihat Foto 2.12).
e) Poster Tipe Letusan Gunungapi
Poster ini terdiri atas enam poster yang disusun berdekatan.
Masing-masing poster menjelaskan tipe letusan gunungapi, yaitu tipe letusan Hawaiian,
tipe letusan Merapi, tipe letusan Pelean, tipe letusan Strombolian, tipe letusan
Vulcanian, dan tipe letusanPlinian(lihat Foto 2.13).
Foto 2.13 Poster-poster tipe letusan gunungapi (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
f) Poster Indeks Letusan Gunungapi
Informasi yang diberikan dalam poster ini adalah tingkat kedahsyatan
letusan gunungapi. Dari letusan berefek kecil yang hanya merusak sekitar
gunung, hingga letusan yang dampaknya sangat merusak dan dapat merubah
iklim bumi. Latar dinding yang berwarna kuning dan efek tata lampu berwarna
kuning membuat panil tersebut terlihat berbeda dengan panil-panil lain dalam
ruang yang sama (lihat Foto 2.14). Pada umumnya panil-panil di ruangan ini
memiliki latar belakang berwarna coklat atau krem. Selain itu, hanya panil ini
Foto 2.14 Poster indeks letusan gunungapi (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
g) Poster Bentuk dan Fenomena Gunungapi
Letak poster ini berada di tengah-tengah ruang Dunia Gunungapi
(Volcano World). Poster ditempel pada panil yang tidak menempel ke dinding
sebagaimana panil-panil sebelumnya. Panil ini dibentuk melengkung ke dalam
(cekung) dengan empat lampu penerang di bagian atas (lihat Foto 2.15).
Informasi yang digambarkan dalam poster adalah struktur penampang
gunungapi dari berbagai bentuk (lihat Foto 2.15). Poster di sebelah kanannya
menerangkan berbagai material yang keluar dari gunungapi ketika erupsi.
h) Poster Letusan Gunungapi Indonesia dan Dunia
Poster yang terletak paling utara di ruang Dunia Gunungapi ini berupa
kumpulan foto dokumentasi gunung yang meletus di Indonesia dan di luar
Indonesia. Jumlah keseluruhan ada 35 foto. Meskipun foto-foto tersebut
menggambarkan erupsi gunungapi, namun setiap foto tidak ada yang sama.
Terdapat foto yang menggambarkan berbagai kedahsyatan semburan lava di
malam hari, dan lahar yang meleleh menuruni puncak gunung. Selain itu, juga
terdapat erupsi gunung api berupa awan panas yang disertai dengan kilatan petir
sehingga foto tersebut terlihat menarik (lihat Foto 2.16).
i) Poster Sumber Daya Gunungapi
Poster ini berada di balik poster tentang bentuk dan fenomena gunungapi.
Informasi tentang sumber daya gunungapi diakomodasikan dalam empat poster
yang dipasang berdekatan. Poster-poster yang dimaksud adalah poster tentang
sumber daya pertanian, sumber daya wisata, dan dua panil terakhir
menggambarkan “dekorasi kehidupan”5. Dalam poster tampak bahwa gunungapi
selain menimbulkan bencana, juga memberikan manfaat bagi manusiai. Di
bawah poster terdapat displai objek berupa contoh batuan dari letusan
gunungapi (lihat Foto 2.17). Berbagai jenis batuan tersebut ditempatkan dalam
vitrin tanpa tutup. Label yang tertera di setiap contoh batuan adalah asal tempat
ditemukan batuan dan nama batuannya.
Foto 2.17 Poster sumber daya gunungapi (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
1.4. Ruang Seputar Gunungapi Merapi (On the Merapi Volcano Trail)
Setelah melewati ruang Dunia Gunungapi, pengunjung memasuki ruang
lain yang diberi nama Seputar Gunungapi Merapi. Ruang ini berisi informasi dan
serba-serbi seputar Gunung Merapi (lihat Foto 2.18).
Secara garis besar, ruangan ini memamerkan berbagai hal terkait dengan
tindakan yang harus dilakukan pada saat terjadi erupsi Merapi serta sejarah dan
mitos Merapi. Informasi disampaikan dalam bentuk poster, maket, lukisan, dan
koleksi objek museum. Poster yang disajikan terdiri dari berbagai macam; (1)
gambar ilustrasi tentang langkah-langkah penanggulangan bencana erupsi
Merapi, mitos Gunungapi Merapi dan Gunungapi Bromo, dan peringatan dini
saat terjadi erupsi. (2) Foto dokumentasi Merapi melalui satelit dan kamera digital.
(3) Peta kawasan bencana erupsi Merapi.
Maket di ruang ini adalah maket jalur pendakian Gunungapi Merapi dan
maket singkapan batuan Merapi. Lukisan di ruang ini menggambarkan mitologi
seputar Gunungapi Merapi dan suasana prosesi upacara adat di Gunungapi
Merapi. Koleksi objek museum dalamvitrin, terdiri dari peralatan yang digunakan
petugas saat memantau aktivitas vulkanik (seismik) Gunungapi Merapi, bebatuan
yang diambil dari puncak Merapi, dan motor serta alat seismik yang terkena
dampak erupsi Merapi.
a) Poster Panorama Gunungapi Merapi Tampak Selatan
Poster ini menggambarkan pemandangan alam dan Gunungapi Merapi
dari sisi selatan. Tidak ada tulisan maupun informasi dalam poster tersebut (lihat
Foto 2.19). Panil pada poster ini berbentuk cekung dengan dilengkapi empat
lampu di bagian atas panil. Banyak pengunjung yang berfoto dengan poster ini
sebagai latar belakang.
b) Maket Jalur Pendakian Gunungapi Merapi
Maket berbahan gypsum yang terletak di tengah ruangan
menggambarkan jalur resmi pendakian Gunungapi Merapi. Hanya terdapat label
pendakian dan tidak dilengkapi keterangan skala (lihat Foto 2.19).
Maket ini berwarna gelap, dan penanda pendakian Gunungapi Merapi
Foto 2.19 Maket jalur pendakian Gunungapi Merapi dan poster panorama Merapi sebagai latar belakang
(Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
c) Poster Tentang Gunungapi Merapi
Poster yang terletak di dinding sisi barat dinding ini menggambarkan
puncak Gunung Merapi yang difoto dengan satelit. Skala yang digunakan adalah
1:500.000. Tidak dijelaskan dengan satelit apa foto ini diambil, foto tersebut
hanya menjelaskan tanggal pengambilan gambar, yaitu pada 21 Juli 1981, 14
Agustus 1981, 5 September 1981, 15 Juni 1982, dan 19 Juni 1982 (lihat Foto
2.20).
d) Poster Citra Satelit Gunungapi Merapi
Poster ini terdiri dari gabungan enam foto yang menggambarkan
Gunungapi Merapi dengan menggunakan enam model satelit berbeda. (1) Model
pertama menggunakan satelit SPOT2 (Systeme Pour l'Obsevation de la Terre),
diambil pada 9 Agustus 1990. (2) Model kedua menggunakan satelit Landsat TM
Band 453 yang diambil pada 6 Juli 2000. (3) Model ketiga menggunakan satelit
ASTER (Advanced Space Thermal Emission and Reflection Radiometer) yang
diambil pada 17 Juli 2003. (4) Model keempat menggunakan satelit SPOT2
(Systeme Pour l'Obsevation de la Terre) color composite-band412 yang diambil
pada 4 September 2005. (5) Model kelima menggunakan satelit ALOS-AVNIR
(Advanced Land Observing Satellite) dengan sensor Advance Visible and Near
Infra Red Radiometeryang diambil pada 16 Mei 2006. (6) Model keenam adalah
dengan PALSAR (Phased Array L-band Synthetic Aperture Radar) yang diambil
pada 16 Mei 2006.
Perbedaan keenam foto tersebut terlihat dari warna foto yang dihasilkan
(lihat Foto 2.21). Foto pertama dengan satelit ALOS-AVNIR (foto bagian kiri atas),
warna foto lebih banyak hijau dan agak biru. Foto kedua dengan satelit PALSAR
(foto bagian kiri bawah), warna foto abu-abu dan hijau. Foto ketiga dengan satelit
ASTER (foto di tengah), warna foto dominan merah dan biru. Foto keempat
dengan satelit LANSAT (foto bagian kanan atas), warna foto merah tua dan
hitam. Foto kelima dengan satelit SPOT 2color composite-band412 (foto bagian
kanan tengah), warna foto dominan hijau, sedikit hitam dan putih. Foto keenam
Foto 2.21 Poster Citra Satelit Gunungapi Merapi (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
e) Poster Selayang Pandang Merapi
Poster ini memperlihatkan sepuluh foto yang menggambarkan berbagai
kondisi Merapi; pada saat mengeluarkan lahar, mengeluarkan awan panas,
dalam kondisi tenang (lihat Foto 2.22). Letak poster ini berada di sudut utara
ruang. Di poster itu juga terdapat sejumlah foto yang menggambarkan suasana
alam sekitar Merapi; kondisi lingkungan Merapi setelah terjadinya erupsi, dan
Foto 2.22 Poster selayang pandang Merapi (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
f) Pertumbuhan Kubah Merapi
Pertumbuhan kubah Merapi digambarkan dalam bentuk poster. Poster
tersebut terdiri atas sejumlah foto yang menggambarkan proses pertumbuhan
kubah Merapi yang diamati dari arah barat daya, mulai tahun 1786, 1872,
1883-1930, 1883-1930, 1931-1961, 1961, dan 2007 (lihat Foto 2.23).
g) Poster Pengamatan dan Pemeriksaan Gunungapi Indonesia
Poster ini terletak di tengah ruangan. Terdiri atas tiga poster yang
dipasang pada satu panil. Poster yang dimaksud adalah poster tentang
pemeriksaan gunungapi Zaman Hindia Belanda, poster pengamatan gunungapi
Indonesia Zaman Republik, dan poster pengamatan gunungapi era modern.
Ketiga poster tersebut menggambarkan cara-cara pengamatan dan pemeriksaan
gunungapi yang dilakukan pada Zaman Kolonial Belanda, setelah merdeka dan
pada masa sekarang (lihat Foto 2.24).
Foto 2.24 Poster pengamatan dan pemeriksaan gunungapi Indonesia (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
h) Poster Cara Penyelamatan Diri dari Ancaman Bahaya Gunungapi
Poster ini memberi informasi kepada masyarakat tentang cara
menghadapi dan menghindari bahaya erupsi gunungapi. Informasi disajikan
dengan model kartun, sehingga informasi lebih menarik dan lebih informatif (lihat
Foto 2.25 Poster cara penyelamatan diri dari ancaman bahaya gunungapi (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
i) Mitos Gunungapi Bromo, Rara Anteng dan Joko Seger
Poster menjelaskan tentang mitos Gunung Bromo dan asal usul nama
Tengger, disajikan dalam format kartun (lihat Foto 2.26). Poster ini tidak ada
penjelasan keterkaitan dengan Merapi. Sebaiknya poster ini diletakkan di ruang
Dunia Gunungapi.
j) Peta Kawasan Gempa Bumi Merusak Yogyakarta dan Jawa
Tengah
Peta ini dipasang di samping poster mitos Gunungapi Bromo, Rara
Anteng dan Joko Seger, dalam panil yang sama. Isi peta menjelaskan kerusakan
yang diakibatkan gempa bumi di Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang terjadi
Foto 2.26 Peta kawasan gempa bumi merusak Yogyakarta dan Jawa Tengah di bagian kiri panil dan mitos Gunungapi Bromo, Rara Anteng dan Joko Seger di bagian kanan panil
(Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
k) Mitos Merapi Nyai Gadung Melati
Poster ini menceritakan mitos Nyai Gadung Melati yang beredar di
kalangan masyarakat sekitar Gunung Merapi. Dalam mitos tersebut, Nyai
Gadung Melati akan mendatangi rumah penduduk tiap kali Gunung Merapi
hendak meletus (liat Foto 2.27).
l) Poster Pengaruh Letusan Gunungapi Terhadap Perubahan Iklim
Poster ini berisi ilustrasi yang memberikan informasi tentang pengaruh
letusan gunungapi terhadap perubahan iklim di sekitarnya (lihat Foto 2.28).
Foto 2.28 Pengaruh letusan gunungapi terhadap perubahan iklim (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
m) Poster Morfologi Puncak Gunungapi Merapi
Poster ini berisi sejumlah foto yang menggambarkan perubahan morfologi
puncak Merapi dari 1930 hingga 2010. Tidak ada informasi lebih lanjut mengenai
Foto 2.29 Poster morfologi puncak Gunungapi Merapi (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
n) Poster Citra Satelit Puncak Gunungapi Merapi
Poster ini menampilkan enam foto satelit puncak Gunung Merapi dengan
menggunakan satelit IKONOS. Keenam foto tersebut diambil Mei 2006 pada
tanggal yang berbeda dan skala yang berbeda pula (lihat Foto 2.30).
o) Poster Pos Pengamatan Gunungapi Merapi
Poster dengan kode displai C.9 ini diapit oleh poster citra satelit puncak
Gunungapi Merapi dan pemantauan Gunungapi Merapi. Gambar yang
ditampilkan adalah peta sebaran pos pengamat aktivitas Gunungapi Merapi. Pos
pengamat tersebut ada lima tempat, yaitu pos Kaliurang, pos Jrabah, pos Selo,
Pos Babadan, dan Pos Ngepos. Di samping kiri peta merupakan foto bangunan
pos pengamatan di Ngepos. Di samping kanan peta adalah foto Kantor Balai
Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) (lihat Foto
2.31).
Foto 2.30 Poster pengamatan Gunungapi Merapi (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
p) Poster Sejarah Letusan Gunungapi Merapi
Poster ini memberikan informasi aktivitas letusan Merapi yang tercatat
sejak 1870 hingga 2010. Data poster tersebut berasal dari catatan seismik,
jumlah korban, dan suasana saat erupsi Merapi yang dicatat pengamat
Gunungapi Merapi dari masa pemerintahan Belanda hingga sekarang (lihat Foto
Foto 2.31 Poster sejarah letusan Gunungapi Merapi (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
q) Poster Pemantauan Gunung Merapi
Pemantauan Gunungapi ditampilkan dalam empat poster, setiap poster
menjelaskan metode pemantauan Gunung Merapi, yaitu secara seismik, secara
visual, secara kimia gas, dan pengamatan melalui deformasi puncak Merapi.
Poster pemantauan seismik, berisikan informasi pemantauan Gunung Merapi
berdasarkan aktivitas pergerakan magma. Poster pemantauan visual,
menampilkan tentang pemantauan Gunung Merapi dengan memperhatikan
perubahan-perubahan puncak Merapi dari tempat yang sama. Poster
pemantauan kimia gas, menjelaskan tentang pemantauan kandungan kimia gas
Poster pemantauan Gunung Merapi secara deformasi adalah pemantauan
pergerakan longsoran tanah sekitar Gunung Merapi.
Poster-poster tersebut didisplai dalam satu panil zig-zag yang terletak di
sebelah kiri poster pos pengamatan gunungapi Merapi. Selain berupa poster,
juga terdapat koleksi objek museum di bawah poster. Objek museum tersebut
adalah alat seismik yang digunakan saat memantau Gunungapi Merapi.
Foto 2.32 Kumpulan poster metode pengamatan Gunungapi Merapi (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
r) Peta Rawan Bencana Gunung Merapi
Peta rawan bencana sekitar Gunung Merapi ditampilkan dalam tiga poster
yang memberikan informasi mengenai sebaran dampak bencana Gunungapi
Merapi (lihat Poster 2.33). Poster pertama, peta kawasan rawan bencana
gunungapi yang meliputi pemetaan daerah-daerah berbahaya ketika erupsi
Merapi. Poster kedua merupakan peta sebaran endapan awan panas Merapi
tahun 1913 – 2006, poster ini menjelaskan daerah-daerah yang merupakan
menggambarkan peta prakiraan ancaman bahaya landaan lahar Merapi
berdasarkan simulasi yang dilakukan BNPB. Poster tersebut menggambarkan
jalur yang akan dilalui lahar Merapi dan prakiraan kecepatan waktu tempuh
material tersebut.
Foto 2.33 Poster peta rawan bencana sekitar Gunung Merapi (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
s) Poster Sabo Dam Penanggulangan Lahar Gunung Merapi
Poster ini menginformasikan mengenai dam penahan material erupsi
Merapi yang mengalir ke sejumlah sungai yang berhulu di Merapi (lihat Foto
2.34). Dam tersebut berfungsi untuk memperlambat aliran lahar dingin Merapi,
sehingga aliran lahar dingin tidak mengalir terlalu deras dan dampak kerusakan
aliran lahar dingin pada rumah penduduk dan bangunan di pinggir sungai dapat
Foto 2.34 Poster sabo dam penanggulangan lahar Gunungapi Merapi (Dokumentasi : Gun Kuntara Adhiarta)
t) Poster Peringatan Dini Bencana Merapi
Poster ini digunakan untuk menggambarkan sistem peringatan dini akan
bahaya Merapi. Sistem yang digambarkan ada dua macam, yaitu peringatan dini
tradisional dan sistem peringatan dini instrumental. Poster peringatan dini
tradisional memberikan informasi berbagai macam alat-alat tradisional yang
digunakan masyarakat untuk memperingatkan masyarakat akan bahaya.
Sementara poster peringatan dini instrumental memberikan informasi berbagai
macam alat berteknologi mutakhir yang digunakan dalam peringatan dini (lihat
Foto 2.35).