Pengaruh Penggunaan Titik Ikat GPS untuk Penentuan Posisi
Offshore Platform
Hidayat Panuntuna*, Nurrohmat Widjadjantib, T. Aris Sunantyoc, Djawahird, Parsenoe
Jln. Grafika No. 2 Yogyakarta, Telp. +062-274-520226, Email: [email protected]
Abstract
Offshore platforms have an important role and function in offshore oil exploration. The rig needs to be maintained in order to support that activities. One aspect of the maintenance that need to consider is the position of offshore platform. GPS technology can be used for monitoring position with high precision level. Meanwhile, the use of scientific software and distribution of reference point will affect to
coordinate’s accuracy. Therefore, assessment needs to be done on the coordinates that can be generated
from the processing of GPS data using regional and global reference points. The purpose of this study is
to determine offshore platforms’ coordinates and its precise using regional and global reference points, to
investigate that the coordinate value was significantly different between two reference points. Data processing used GPS observation span from June 13th until June 16th 2011. This study consisted of four projects namely, global, regional, combination and per-doy projects. Global project used 7 global reference points, regional project used 6 regional reference points, whereas combination project used 13 of global and regional reference points that used on global and regional project. Per -doy project used 7 global reference points. Processing data use GAMIT/GLOBK software. The result showed that using global reference points generate higher level precision than using regional reference point. Global project resulted coordinates as follow : PUA1, X(-1696188,055 m ± 3,88 mm), Y(6120082,781 m ± 8,54 mm), Z(588439,1200 m ± 2,25 mm); PUA2, X(-1696204,440 m ± 5,29 mm), Y(6120087,087 m ± 13,80 mm), Z(588393,7599 m ± 3,04 mm); PUA3, X(-1696217,865 m ± 2,46 mm), Y(6120081,937 m ± 5,34 mm), Z(588409,1717 m ± 1,53 mm). The results of statistical tests using T-test showed that there was no significant difference coordinates between global-combination project and global-perdoy project.
Keywords: GAMIT, titik ikat GPS, titik ikat regional, titik ikat global, platform offshore.
Pendahuluan
Anjungan minyak lepas pantai adalah sebuah struktur bangunan besar beserta perangkatnya di lepas pantai yang digunakan sebagai sumur pengeboran dan digunakan untuk memproses minyak dan gas alam. Anjungan tersebut mempunyai peran dan fungsi yang penting dalam kegiatan eksplorasi minyak di lepas pantai (Widjajanti, 2010). Diperlukan pemeliharaan secara kontinyu agar anjungan tersebut bisa tetap aman saat melakukan eksplorasi. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah aspek posisi dari anjungan minyak tersebut. Salah satu teknologi pemetaan yang bisa digunakan untuk pemantauan posisi dengan tingkat ketelitian tinggi dari anjungan minyak lepas pantai adalah menggunakan GPS.
Pengukuran GPS untuk aplikasi yang menuntut ketelitian tinggi bertumpu pada metode penentuan posisi secara diferensial dengan menggunakan data
fase, dalam hal ini pengamatan GPS pada umumnya dilakukan selama selang waktu yang panjang dan dalam suatu kerangka jaringan GPS. Selain itu, penggunaan perangkat lunak ilmiah dan distribusi titik ikat merupakan faktor yang tidak bisa dipisahkan untuk mendapatkan ketelitian yang tinggi pada pengolahan data GPS.
pengolahan data GPS pada anjungan minyak lepas pantai dengan menggunakan titik ikat regional dan titik ikat global. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan koordinat anjungan minyak lepas pantai dan ketelitiannya serta untuk mengetahui signifikansi perbedaan hasil pengolahan dengan menggunakan titik ikat global dan regional. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan koordinat dan ketelitian posisi dari anjungan minyak lepas pantai yang diikatkan pada titik ikat regional dan global, menghitung signifikansi perbedaan koordinat yang dihasilkan dengan titik ikat regional dan titik ikat global dan menentukan kecepatan posisi anjungan minyak lepas pantai. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui koordinat anjungan minyak lepas pantai secara teliti. Selain itu dapat diketahui secara optimal dalam melakukan pemilihan titik ikat berdasarkan kebutuhan tingkat ketelitian koordinat yang akan ditentukan.
Metodologi
Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 2 buah, yaitu perangkat keras dan perangkat lunak.
Perangkat keras yang digunakan antara lain : Satu buah notebook (Processor Intel Core 2 Duo 2.2 Ghz, RAM 4GB, Harddisk 160 GB) digunakan sebagai alat pengolah data; Printer Canon IP3500 yang digunakan untuk mencetak hasil.
Perangkat lunak yang digunakan antara lain : Sistem operasi Microsoft Windows XP SP3 dan Linux Ubuntu 10.10; GAMIT dan GLOBK versi 10.4, digunakan untuk pengolahan data RINEX; Microsoft Office 2010, digunakan untuk melakukan penulisan hasil penelitian; netCDF (Network Common Data Form) 3.6.1, yang digunakan untuk interface pada akses (sharing dan transfer) data yang bersifat scientific; GCC (GNU C Compiler) 4.4.1, merupakan perangkat lunak yang dipakai untuk pemrograman bahasa C yang dibuat oleh GNU Project; GMT (Generic Mapping Tools) 4.0, digunakan untuk plotting data hasil pengolahan dengan perangkat lunak GAMIT; TEQC, yang digunakan untuk Translation, Editing (metadata extraction, formatting, windowing dan splicing) dan Quality Checking file RINEX.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 2 buah bahan, yaitu bahan utama dan bahan pendukung.
Bahan utama yang digunakan adalah Data pengamatan GPS anjungan minyak dan data 6 stasiun MASS/MyRTK Regional Malaysia selama 5 hari pada tanggal 13 Juni 2011 sampai dengan 16 Juni 2011 (doy 164, doy 165, doy 166, doy 167), Data pengamatan dari stasiun IGS tanggal 13 juni 2011
sampai dengan 16 juni 2011 (COCO, KUNM, BAN2, PIMO, TOW2, DARW, DGAR), dan Data precise ephemeris untuk pengamatan tanggal 13 Juni hingga16 Juni 2011.
Bahan Pendukung : File gelombang laut (otl_FES2004.grid), File pemodelan cuaca (vmf1grid.2011), dan File atmosfer (atmdisp_cm.2011).
Persiapan
Pekerjaan yang dilakukan pada tahapan ini adalah instalasi perangkat lunak yang digunakan yaitu : instalasi sistem operasi yang digunakan (Linux Ubuntu), instalasi compiler, instalasi NetCDF, instalasi GMT, instalasi GAMIT serta menyusun strategi pengolahan data pengamatan GPS. Pengolahan data pengamatan dilakukan dengan menggunakan 4 project, yaitu :
Gambar 1. Project pada pengolahan data GPS a. Project Global. Project ini menggunakan 7 buah
titik ikat dari stasiun global IGS yaitu : COCO (Cocos Island), KUNM (Kunming, China), BAN2 (Bangalore), PIMO (Filipina), DGAR (Diego Garcia Island), TOW2 (Townsville), DARW (Darwin), dan 3 buah stasiun pengamatan PUA1 (Pulai A 1), PUA2 (Pulai A 2), PUA3 (Pulai A 3). b. Project Regional. Project ini menggunakan 6
buah titik ikat dari stasiun regional MASS/MyRTK Malaysia yaitu : GETI (Tanah Geting), KUAL (Kuala Terengganu), CENE, BIN1 (Bintulu), MIRI (Miri), LAB1 (Labuan) dan 3 buah stasiun pengamatan PUA1 (Pulai A1), PUA2 (Pulai A2), PUA3 (Pulai A3).
c. Project Kombinasi. Project ini menggunakan 6 buah titik ikat dari stasiun regional MASS/MyRTK Malaysia, 7 buah titik ikat dari stasiun global IGS, dan 3 buah stasiun pengamatan.
d. Project Per-Doy. Project ini menggunakan titik Project
Global Regional Kombinasi
ikat yang sama dengan yang digunakan pada project kombinasi. Perbedaannya adalah pengolahan GAMIT/GLOBK yang dilakukan pada project ini dilakukan per-doy.
Ilustrasi dari penggunaan titik ikat pada masing-masing project dapat dilihat pada gambar 1. Pengolahan
Pekerjaan selanjutnya setelah semua project disusun, adalah melakukan pengolahan masing-masing project tersebut dengan menggunakan perangkat lunak GAMIT dan GLOBK. Pengolahan dengan GAMIT menggunakan automatic batch processing (sh_gamit). Perintah yang digunakan pada pengolahan dengan menggunakan automatic batch processing adalah sebagai berikut : sh_gamit –s <yyy> <d1 d2> -expt <expt>, dalam hal ini : yyy adalah data tahun pengamatan yang diolah; d1 adalah doy awal pengamatan; d2 adalah doy akhir pengamatan; expt adalah nama eksperimen yang telah ditentukan pada file sites.defaults. Perintah tersebut dilakukan setelah melakukan editing terhadap 6 file input GAMIT yaitu L-file, Sittbl, Sites.default, Process.default, Sestbl dan Station.info. Pengolahan menggunakan GLRED dan GLOBK dilakukan dengan menggunakan perintah glred <std out> <print file> <log file> <expt list> <command file> dan globk <std out> <print file> <log file> <expt list> <command file>. Dalam hal ini : <std out> adalah nilai numerik (bila nilai diisi 6 maka output ditampilkan pada jendela terminal; <print file> adalah nilai numerik atau nama file untuk keluaran dengan solusi di dalamnya; <log file> adalah nilai numerik atau nama untuk file log; <expt list> adalah nama list h-file biner yang sudah dibuat sebelumnya; <command file> adalah nama command file yang digunakan dalam hal ini adalah globk.cmd (Herring, T. A., King, R. W. dan Mc. Clusky, S. C, 2010).
Hasil dan Pembahasan
Hasil cek kualitas data dengan TEQC
Gambar 2 dan gambar 3 menunjukkan hasil cek kualitas data dengan menggunakan perangkat lunak TEQC dengan melihat besaran nilai moving average dari multipath (MP1 dan MP2).
Gambar 2. Grafik efek multipath (MP1) data pengamatan
Efek multipath diklasifikasikan baik apabila mempunyai nilai kurang dari 0,5 m.
Gambar 3. Grafik efek multipath (MP2) data pengamatan Dari hasil cek kualitas data diperoleh informasi bahwa nilai rata-rata dari MP1 adalah 0,44 m dan nilai rata-rata dari MP2 adalah 1,22 m.
Semakin kecil nilai MP1 dan MP2 pada masing-masing doy menandakan semakin sedikit multipath yang terjadi sehingga kualitas data pengamatan yang dihasilkan semakin baik. Nilai MP1 dan MP2 untuk stasiun observasi PUA2 (Pulai A2) tidak ada karena tidak tersedianya data RINEX dari stasiun tersebut. Hal itu disebabkan karena kegagalan dalam proses download data pengamatan untuk stasiun observasi PUA2.
Hasil Project Global
Pengolahan project global dengan menggunakan perangkat lunak GAMIT/GLOBK menghasilkan file keluaran antara lain :
1. Postfit nrms, File tersebut digunakan untuk mengevaluasi kualitas model pengamatan yang dibentuk dari pengolahan project global dengan
menggunakan GAMIT. Gambar 4 menunjukkan grafik besaran postfit nrms untuk pengolahan project global.
Gambar 4. Nilai postfit nrms hasil pengolahan project global
Gambar 4 menunjukkan bahwa nilai loose nrms selalu lebih kecil dibandingkan dengan nilai dari constrained nrms. Hal itu menunjukkan bahwa tidak ada nilai yang salah dari parameter orbit dan koordinat stasiun pengamat.
2. Koordinat. Nilai koordinat hasil pengolahan pada project global ditunjukkan pada tabel 1
Stasiun Koordinat (m)
X Y Z
PUA1 -1696188,055 6120082,781 588439,1200
PUA2 -1696204,441 6120087,087 588393,7599
PUA3 -1696217,865 6120081,937 588409,1717 Nilai simpangan baku dari koordinat hasil pengolahan project global dapat dilihat pada tabel 2
Tabel 2. Simpangan baku koordinat hasil project global
Stasiun Simpangan baku (mm)
Sx Sy Sz
PUA1 3,88 8,54 2,25
PUA2 5,29 13,76 3,04
PUA3 2,46 5,34 1,53
Tabel 2 menunjukkan besar simpangan baku masing-masing koordinat hasil pengolahan project global. Secara keseluruhan stasiun PUA2 mempunyai nilai rata-rata simpangan baku yang paling besar yaitu 7,63 mm. Sedangkan nilai rata-rata simpangan baku terkecil dimiliki oleh stasiun PUA3 dengan nilai 3,11 mm.
Hasil Project Regional
1. Postfit nrms. Evaluasi dengan postfit nrms dilakukan dengan melihat perbandingan antara nilai akar kuadrat chi-square dan nilai degree of freedom. Gambar 5 menunjukkan grafik besaran postfit nrms untuk pengolahan project regional.
Gambar 5. Nilai postfit nrms hasil pengolahan project regional
Gambar 5 menunjukkan bahwa nilai dari loose nrms selalu lebih kecil dibandingkan dengan nilai dari constrained nrms. Hal itu menunjukkan bahwa tidak ada nilai yang salah dari parameter orbit dan koordinat stasiun pengamat.
2. Koordinat. Nilai koordinat hasil pengolahan pada project regional ditunjukkan pada tabel 3.
Tabel 3. Koordinat kartesi 3D hasil project regional
Stasiun Koordinat (m)
X Y Z
PUA1 -1696187,996 6120082,818 588439,2319
PUA2 -1696204,384 6120087,125 588393,8705
PUA3 -1696217,805 6120081,968 588409,2823 Nilai simpangan baku dari koordinat hasil pengolahan project global dapat dilihat pada tabel 4. Tabel tersebut menunjukkan bahwa bahwa nilai simpangan
baku untuk masing-masing komponen pada tiap stasiun mempunyai nilai yang hampir sama. Komponen sumbu X mempunyai rata-rata nilai simpangan baku sebesar 55,59 mm. Komponen sumbu Y mempunyai rata-rata nilai simpangan baku sebesar 123,81 mm. Komponen sumbu Z mempunyai rata-rata nilai simpangan baku sebesar 39,35 mm. Nilai rata-rata tersebut adalah rata-rata dari nilai simpangan baku masing-masing komponen sumbu ketiga stasiun pengamatan.
Tabel 4. Simpangan baku koordinat hasil project regional
Stasiun Simpangan baku (mm)
Sx Sy Sz
PUA1 55,59 123,83 39,35
PUA2 55,71 123,95 39,41
PUA3 55,48 123,64 39,29
Hasil Project Kombinasi
1. Postfit nrms. Evaluasi dengan postfit nrms dilakukan dengan melihat perbandingan antara nilai akar kuadrat chi-square dan nilai degree of freedom. Gambar 6 menunjukkan grafik besaran postfit nrms untuk pengolahan project kombinasi.
Gambar 6. Nilai postfit nrms hasil pengolahan project kombinasi
Gambar 6 menunjukkan nilai dari loose nrms selalu lebih kecil dibandingkan dengan nilai dari constrained nrms. Hal itu menunjukkan bahwa tidak ada nilai yang salah dari parameter orbit dan koordinat stasiun pengamat.
2. Koordinat. Nilai koordinat hasil pengolahan pada project regional ditunjukkan pada tabel 5.
Tabel 5. Koordinat kartesi 3D hasil project kombinasi
Stasiun Koordinat (m)
X Y Z
PUA1 -1696188,056 6120082,786 588439,1209
PUA2 -1696204,443 6120087,091 588393,7596
Tabel 6. Simpangan baku koordinat hasil project regional
Stasiun Simpangan baku (mm)
Sx Sy Sz
PUA1 3,98 8,94 2,35
PUA2 5,51 14,28 3,15
PUA3 2,51 5,46 1,57
Tabel 6 menunjukkan bahwa sumbu y mempunyai nilai simpangan baku terbesar dibandingkan dengan sumbu yang lain. Selain itu, stasiun PUA2 mempunyai nilai rata-rata simpangan baku yang paling besar yaitu 123,81 mm. Nilai rata-rata simpangan baku terkecil dimiliki oleh stasiun PUA3 dengan nilai 39,35 mm.
Perbandingan Koordinat
Koordinat hasil pengolahan project regional, project global, dan project kombinasi selanjutnya dibandingkan untuk mengetahui nilai perbedaan koordinatnya. gambar 7 sampai dengan gambar 10 menyajikan perbandingan koordinat hasil pengolahan project global, project regional, dan project kombinasi pada masing-masing komponen sumbu.
Gambar 7. Perbedaan komponen koordinat sumbu X
Gambar 7 menunjukkan bahwa koordinat sumbu X hasil pengolahan project regional mempunyai perbedaan yang cukup besar jika dibandingkan dengan project yang lainnya. Perbedaan nilai
koordinat sumbu X tiap stasiun hasil pengolahan project regional dibandingkan dengan hasil pengolahan project yang lain mencapai 0,05 m. Koordinat sumbu X hasil pengolahan project global dan project kombinasi tidak mempunyai perbedaan yang besar.
Gambar 8. Perbedaan komponen koordinat sumbu Y
Gambar 8 menunjukkan bahwa koordinat sumbu Y hasil pengolahan project regional mempunyai perbedaan yang cukup besar jika dibandingkan dengan project yang lainnya. Perbedaan nilai koordinat sumbu Y tiap stasiun hasil pengolahan project regional dibandingkan dengan hasil pengolahan project yang lain mencapai 0,03 m. Koordinat sumbu Y hasil pengolahan project global, dan project kombinasi tidak mempunyai perbedaan yang besar.
Gambar 10. Perbedaan komponen koordinat sumbu Z
Gambar 9 dan gambar 10 menunjukkan bahwa koordinat sumbu Z hasil pengolahan project regional mempunyai perbedaan yang cukup besar jika dibandingkan dengan project yang lainnya. Perbedaan nilai koordinat sumbu Z tiap stasiun hasil pengolahan project regional dibandingkan dengan hasil pengolahan project yang lain mencapai 0,1 m. Koordinat sumbu Z hasil pengolahan project global dan project kombinasi tidak mempunyai perbedaan yang besar.
Simpangan baku koordinat hasil pengolahan project regional, project global dan project kombinasi disajikan pada gambar 11sampai dengan gambar 13.
Gambar 11. Simpangan baku sumbu X masing-masing project
Gambar 11 menunjukkan bahwa nilai simpangan baku komponen sumbu X tiap stasiun pada project regional mempunyai nilai yang paling besar apabila dibandingkan dengan project global dan project kombinasi. Hal ini mengindikasikan bahwa komponen sumbu X pada koordinat yang dihasilkan oleh project regional mempunyai ketelitian yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan project yang
lainnya. Dari gambar tersebut dapat diketahui bahwa stasiun PUA3 merupakan stasiun yang mempunyai simpangan baku yang paling kecil pada semua project pengolahan.
Gambar 12. Simpangan baku sumbu Y masing-masing project
Gambar 12 menunjukkan bahwa nilai simpangan baku komponen sumbu Y tiap stasiun pada project regional mempunyai nilai yang paling besar apabila dibandingkan dengan project global dan project kombinasi. Hal ini mengindikasikan bahwa komponen sumbu Y pada koordinat yang dihasilkan oleh project regional mempunyai ketelitian yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan kedua project yang lainnya. Sesuai dengan yang terlihat pada Gambar 12, stasiun PUA3 mempunyai ketelitian yang lebih tinggi pada masing-masing project pengolahan dibandingkan dengan stasiun pengamatan yang lain.
Gambar 13. Simpangan baku sumbu Z masing-masing project
Gambar 13 menunjukkan bahwa nilai simpangan baku komponen sumbu Z tiap stasiun pada project regional mempunyai nilai yang paling besar apabila dibandingkan dengan project global, project kombinasi. Hal ini mengindikasikan bahwa komponen sumbu Z pada koordinat yang dihasilkan oleh project regional mempunyai ketelitian yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan project yang lainnya.
mengindikasikan bahwa hasil koordinat hasil pengolahan project regional mempunyai ketelitian yang paling rendah apabila dibandingkan dengan koordinat hasil pengolahan project yang lainnya. Nilai simpangan baku paling kecil untuk semua komponen sumbu X, Y, dan X terdapat pada koordinat hasil pengolahan project global. Hal ini menunjukkan bahwa koordinat hasil pengolahan project global mempunyai ketelitian posisi yang lebih teliti dibandingkan dengan koordinat hasil pengolahan project lainnya.
Uji-T
Untuk menguji perbedaan koordinat yang dihasilkan pada pengolahan project regional, project global, dan project kombinasi, dilakukan pengecekan dengan menggunakan uji-T. Uji ini digunakan untuk menentukan signifikansi perbedaan dari koordinat yang dihasilkan pada masing-masing project tersebut. Uji-T pada project global-project regional
Uji-T pada project global-project regional menggunakan koordinat hasil pengolahan pada project global sebagai koordinat referensi yang digunakan untuk menghitung signifikansi perbedaan koordinat hasil pengolahan antar project tersebut. Project global digunakan sebagai referensi karena mempunyai nilai simpangan baku yang paling kecil dibandingkan dengan project regional. Dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95% dan derajat
kebebasan ∞, maka nilai adalah 1,960 (Abidin,
2006). Nilai dari T-hitungan bisa dilihat pada Tabel 6
Tabel 6. T-hitungan project global-project regional Stasiun Parameter T-hitungan
PUA1
Tabel 6 menunjukkan bahwa T-hitungan untuk project global-project regional pada komponen sumbu Z masing-masing stasiun mempunyai nilai yang lebih besar dari 1,960. Nilai T-hitungan untuk komponen tersebut adalah 2,8398 (PUA1), 2,7981 (PUA2) dan 2,8146 (PUA3). Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan koordinat pada komponen sumbu Z hasil pengolahan project regional secara statistik berbeda signifikan dibandingkan dengan hasil pengolahan project global. Komponen sumbu X dan sumbu Y memiliki nilai dibawah 1,960 sehingga tidak terdapat
perbedaan yang signifikan untuk masing-masing sumbu tersebut.
Uji-T pada project global-project kombinasi
Uji-T dilakukan dengan menggunakan tingkat
kepercayaan 95% dan derajat kebebasan ∞, maka
nilai adalah 1,960. Project global digunakan sebagai referensi karena memiliki nilai simpangan baku yang lebih kecil dibandingkan dengan project kombinasi. Nilai dari T-hitungan dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. T-hitungan project global- project kombinasi Stasiun Parameter T-hitungan
PUA1
Tabel 7 menunjukkan bahwa T-hitungan untuk project global-kombinasi mempunyai nilai yang lebih kecil dari 1,960. Hal ini menunjukkan bahwa koordinat hasil pengolahan project global dan project kombinasi tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Uji-T pada project kombinasi-project regional Uji-T pada project kombinasi-project regional menggunakan koordinat hasil pengolahan pada project kombinasi sebagai koordinat referensi karena mempunyai nilai simpangan baku yang lebih kecil dibandingkan dengan project regional. Uji-T dilakukan dengan menggunakan tingkat
kepercayaan 95% dan derajat kebebasan ∞, maka
nilai adalah 1,960. Nilai dari T-hitungan dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. T-hitungan project kombinasi-project regional Stasiun Parameter T-hitungan
PUA1
kombinasi-project regional pada komponen sumbu Z masing-masing stasiun mempunyai nilai yang lebih besar dari 1,960. Nilai T-hitungan untuk komponen sumbu Z tersebut adalah 2,8173 (PUA1), 2,8046 (PUA2) dan 2,8112 (PUA3). Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan koordinat pada komponen sumbu Z hasil pengolahan project kombinasi berbeda secara signifikan dibandingkan dengan hasil pengolahan project regional. Komponen sumbu X dan sumbu Y memiliki nilai di bawah 1,960 sehingga tidak terdapat perbedaan yang signifikan untuk masing-masing sumbu tersebut.
Kesimpulan dan Saran
Dari analisis hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan titik ikat global menghasilkan koordinat dengan tingkat ketelitian yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pengolahan dengan titik ikat regional, dan titik ikat kombinasi (global dan regional). Hasil pengolahan dengan menggunakan titik ikat regional menghasilkan koordinat dengan ketelitian yang paling rendah jika dibandingkan dengan menggunakan titik ikat global dan titik ikat kombinasi. Selain itu, dari hasil pengujian dengan menggunakan uji-T diperoleh kesimpulan bahwa secara statistik tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari koordinat hasil pengolahan pada project global dengan project kombinasi. Nilai perbedaan koordinat yang signifikan terdapat pada kordinat hasil pengolahan project global dengan project regional dan project kombinasi dengan project regional.
Daftar Pustaka
Abidin, H,Z, (2006), XIII FIG Congress : Land Subsidence Characteristics of Bandung Basin (Indonesia) between 2000 and 2005 as Estimated from GPS Surveys, Munich, Germany.
Azhari, (2010), Seminar Juru Ukur : Malaysian Geodetic Infrastructures, Department of Survey and Mapping Malaysia, Kuala Lumpur.
Herring, T. A., King, R. W. and Mc. Clusky, S. C, (2010), GAMIT Reference Manual. GPS Analysis at MIT. Release 10.4, Department of Earth, Atmospheric and Planetary Sciences, Massachusetts Institute of Technology.
Herring, T. A., King, R. W. and Mc. Clusky, S. C, (2010), GLOBK Reference Manual. GPS Analysis at MIT. Release 10.4, Department of Earth, Atmospheric and Planetary Sciences, Massachusetts Institute of Technology.
Herring, T. A., King, R. W. and Mc. Clusky, S. C, (2006), Introduction to GAMIT/GLOBK. Release 10.3, Department of Earth, Atmospheric and Planetary Sciences, Massachusetts Institute of
Technology.
Hernandez. S, (2006), GPS Data Processing via GAMIT/GLOBK: Application to the East Africa Rift, Academic Affiliation RESESS/SOARS, USA. Isaac. N, (2007), Analysis of data from the GPS reference station at AAU Using GAMIT, Aalborg University, Institute of Development and Planning. Kamaludin, (2011), Pulai Deformation Monitoring: GNSS Processing Results, Faculty of Geoinformation Engineering & Sciences, Universiti Teknologi Malaysia.
Leick, A. (2004), GPS Satellite Surveying. Third Edition, John Wiley and Sons Inc. Hoboken, New Jersey.
Mikhail, E. dan Gracie, G., (1981), “Analysis and Adjustment of Survey Measurement”, Newyork, Van
Nostrand Reinhold Company.Inc.
Popovas, D. (2001), Adjustment of the Lithuanian GPS network using GAMIT, Aalborg University, Institute of Development and Planning.
Widjajanti. N, (2010), “Deformation Analysis of
Offshore Platform using GPS Technique and its
Application in Structural Integrity Assessment”,
Universiti Teknologi PETRONAS, Malaysia.
Widjajanti, N. Matori A.N, (2008), Effect of Reference Station Configuration for GPS Long Baseline Processing, ICCBT, pp349-366
Offshore platform,