• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTENSI FISIK DAN BUDAYA LOKAL SEBAGAI D (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "POTENSI FISIK DAN BUDAYA LOKAL SEBAGAI D (1)"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

POTENSI FISIK DAN BUDAYA LOKAL

SEBAGAI DAYA TARIK DESA WISATA YANG LESTARI DI YOGYAKARTA

Anna Pudianti 1 V. Reni Vitasurya2 Program Studi Arsitektur dalam suasana tradisional. Sebagai tujuan wisata, potensi fisik merupakan hal penting untuk mendukung keberlangsungan suatu desa wisata. Unsur alam menjadi dominan, sehingga partisipasi masyarakat untuk memelihara lingkungan yang asri merupakan kunci utama keberhasilan desa wisata tersebut. Budaya menjadi faktor pendukung yang memperkuat pelestarian melalui adat dan tradisi warga desa. Pembahasan dalam tulisan ini akan menilai dengan membuat perbandingan 3 (tiga) contoh desa wisata yang mempunyai unsur alam sebagai potensi fisik yang didukung budaya local sebagai tradisi untuk memperkuat pelestarian desa. Tulisan ini memberi gambaran nilai dari karakter lokalitas desa yang diangkat agar tetap menjadi desa wisata yang lestari dan berkelanjutan.

Kata kunci: desa wisata, potensi alam, budaya lokal, pelestarian.

Pendahuluan

Perkembangan pariwisata beberapa tahun terakhir terlihat peningkatan yang pesat. Hal ini ditandai oleh beragam obyek unik yang dikunjungi wisatawan. Obyek unik yang merupakan lingkungan fisik alam ataupun buatan. Jika di perkotaan banyak ditandai dengan pembangunan wahana wisata buatan dengan ciri penggunaan teknologi dalam wahana-wahana permainan, maka di perdesaan juga menjadi obyek wisata yang justru menawarkan lingkungan alam yang masih asli.

Minat kunjungan wisata alam perdesaan terus meningkat dari tahun ke tahun. (Dinas Pariwisata, Kabupaten Sleman, 2011). Selain itu ada kecendrungan baru dalam berwisata yang semula berorientasi pada pariwisata massal, yang menyediakan atraksi wisata yang diminati dan dinikmati umum, saat ini bergeser ke pariwisata kelompok kecil, yang lebih menekankan pada pengalaman pribadi secara mendalam sesuai dengan minat kelompok. Obyek wisata lebih ditekankan pada kedalaman pengalaman yang terkait dengan alam dan budaya. Obyek wisata yang dituju direncanakan sendiri oleh wisatawan (tailor made) dengan bantuan atau tanpa bantuan pihak lain (agen perjalanan misalnya). Kegiatan wisata semacam ini merupakan wisata minat khusus atau ekowisata (Fandeli, 2000) yang perkembangannya perlu dicermati secara mendalam.

Ekowisata memang merupakan pengembangan pariwisata yang relatif baru dikembangkan di Indonesia, walaupun secara internasional sejak Oktober 1999 sebenarnya World Tourism Organization (WTO) telah mengeluarkan “Global Code of Ethics for Tourism” yang berupaya untuk mendorongan negara-negara di dunia untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan. Diantaranya wisata perdesaan

1

Staf Pengajar, Prodi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta 2

(2)

2

yang menjadi salah satu bentuk pariwisata berkelanjutan. Indonesia memiliki potensi keindahan dan kekayaan alam yang bernilai tinggi dalam industry wisata alam, sehingga ekowisata menjadi hal khusus yang dapat dikembangkan. (Nugroho, 2011)

Secara historis wisata perdesaan di Indonesia berkembang dengan cara yang beragam. Ada yang bermula dari ketertarikan terhadap aktifitas pertanian (seperti contohnya perkebunan salak Turi, perkebunan kopi Tuntang dan sebaginya). Ada pula yang berawal dari penggalian pengetahuan tentang budaya yang lebih fokus pada penelitian aktivitas berkehidupan pada suatu masyarakat terisolir dengan budayanya yang asli dan khas (seperti contohnya Kampung Naga, Baduy, kampung Betawi dan sebagainya). Selain itu juga ada yang perkembangannya diawali dari daerah dengan potensi historis sebagai obyek utama (seperti Masjid Demak dan Kudus, Sangiran, Borobudur dan sebagainya). Dalam kelompok ini sebagian besar jenis atraksi wisata yang ditawarkan merupakan bentuk wisata minat khusus yang berorientasi pada pendidikan. Bentuk wisata minat khusus ini berkembang dengan obyek kehidupan pada lingkungan asli seperti di perdesaan sebagai fokus utamanya. Setelah sekian lama berkembang model wisata ini lebih dikenal sebagai wisata perdesaan.

Yogyakarta sebagai kota budaya dan pendidikan tidak lepas dari pengaruh trend baru wisata minat khusus tersebut. Obyek wisata berbasis budaya atau yang biasa disebut desa wisata baru mulai terkumpul datanya sejak tahun 2005 (lihat table 1). Sejak sekitar tahun 2005 di Sleman memang banyak bermunculan Desa Wisata baru, yang mengandalkan potensi suasana perdesaan dengan hamparan sawah, rumah yang sederhana dengan segala kehidupan berciri khas agraris. Saat ini pengalaman berwisata di desa wisata yang ditawarkan sangat beragam, dari kesempatan untuk mengalami budaya hidup orang-orang perdesaan dengan tinggal bersama dalam satu rumah sebagai salah satu anggota keluarga selama beberapa hari (disebut juga excursion, Royo-Vela, 2009) atau hanya berkunjung untuk waktu lebih singkat dan mempelajari budaya lokal (disebut juga tourist, Royo-Vela 2009). Orang-orang desa beraktifitas seperti yang biasa dilakukan dalam kehidupan sehari – hari dan para wisatawan ikut beraktifitas dengan penghuni. Aktifitas yang dapat diikuti berupa menanam padi di sawah, memetik buah-buahan untuk dijual, membuat kerajinan lokal, berkesenian lokal dan sebagainya. Dari data tabel dibawah ini terlihat pertumbuhan minat masyarakat untuk menikmati jenis pariwisata model baru ini. Minat pemerintah untuk mendorong pengembangan desa wisata dapat terlihat dari diadakannya berbagai lomba dan penghargaan desa wisata. Hal ini ditunjukkan melalui tabel 1 berikut ini.

Tabel 1: Jumlah Wisatawan Obyek Desa Wisata di Sleman

TAHUN ASAL WISATAWAN JUMLAH

DOMESTIK ASING

2005 40.055 384 40.439

2006 34.964 1.880 36.844

2007 30.557 607 31.164

(3)

Mengingat model wisata perdesaan ini merupakan wisata minat khusus yang dirancang sendiri oleh wisatawan, maka data formal sulit untuk dideteksi karena sangat tergantung pada ketertiban masing-masing desa wisata dalam mengelola data kedatangan wisatawan. Walaupun belum ada data formal yang menunjukkan kecenderungan dari tahun 2008 sampai dengan 2009, namun dari data salah satu desa wisata terbaik di Sleman yaitu desa Pentingsari, dari tahun 2009 hingga 2011 cukup memperlihatkan kecendungan kenaikan yang sangat pesat (lihat tabel 2). Desa wisata Pentingsari adalah desa wisata yang baru terbentuk ( diresmikan 15 April 2008). Walaupun relatif baru, prestasi desa wisata ini telah melebihi desa wisata lainnya. Pertengahan 2008 meraih juara II Tingkat Kabupaten Sleman, kemudian akhir 2009 menjadi juara I “Alam yang unik dan pelestarian budaya” mewakili Sleman di tingkat Provinsi DIY. Tahun 2011, desa Pentingsari meraih penghargaan dari PBB untuk “Pelestarian Alam dan Budaya”. Oleh karena itu desa Pentingsari ini sedikit banyak dapat memberi gambaran mengenai meningkatnya minat wisata perdesaan sejak 2008 hingga 2012. Gambaran kenaikan kunjungan wisatawan dapat dilihat pada table 2 berikut ini.

Tabel 2. Kunjungan Wisatawan di Desa Wisata Pentingsari, Sleman

Tahun Jumlah Kenaikan

2008 1.293 - (baru terbentuk)

2009 5.008 287%

2010 9.576 91%

2011 13.156 37%

2012 20.479 56%

Sumber: Data lapangan desa wisata Pentingsari per September 2012, diolah oleh peneliti Desember 2014

Kabupaten Sleman terletak di wilayah utara Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berbatasan dengan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, dengan Kabupaten Klaten di sebelah timur, dengan Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunung Kidul dan kota Yogyakarta di sebelah selatan, dan berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo, dan Kabupaten Magelang di sebelah barat.

Keadaan topografi Kabupaten Sleman di bagian selatan relatif datar kecuali daerah perbukitan di bagian tenggara Kecamatan Prambanan dan sebagian kecamatan Gamping. Semakin ke utara kondisi tanah semakin miring dan berpusat ke arah Gunung Merapi. Di wilayah Gunung Merapi sendiri relatif terjal dan terdapat sekitar 100 sumber mata air. Hampir setengah dari luas wilayah merupakan tanah pertanian yang subur dengan didukung irigasii teknis di bagian barat dan selatan, dengan jenis tanah dibedakan atas sawah, tegal, pekarangan, hutan. Tanah sawah dalam lima tahun terakhir turun rata-rata pertahun 0,96%, tegalan naik 0,82% dan pekarangan naik 0,31% (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, 2007).

(4)

4

konservasi air Yogyakarta, namun sekaligus merupakan daerah yang cepat berkembang karena daerah ini merupakan pusat pendidikan (dengan 39 Perguruan Tinggi di Sleman). Proses urbanisasi terjadi sangat cepat akibat konversi lahan dari pertanian menjadi permukiman yang dipicu oleh adanya kampus-kampus sebagai pusat pertumbuhan. Munculnya desa-desa wisata di sebelah utara Sleman diharapkan dapat membatasi konversi lahan tersebut mengingat perilaku masyarakat perdesaan yang sangat dimungkinkan akan mempertahankan keberlanjutan pengembangan potensi wisata yang mereka miliki (Hwang, 2012). Oleh karena itu fenomena desa wisata ini sangat didukung perkembangannya oleh pemerintah Kabupaten Sleman.

Gambar 1. Foto Tujuh Jenis Wisata Perdesaan Sleman

(a. wisata budaya, b. wisata pertanian, c. wisata agro, d. wisata pendidikan, e. wisata fauna, f. wisata kerajinan, g. wisata lereng merapi)

Diolah dari sumber : leaflet desa wisata dan dokumentasi riset, 2014

Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman mengidentifikasi terdapat tiga puluh tujuh desa wisata di Kabupaten Sleman yang terbagi atas tujuh jenis wisata yaitu wisata budaya, wisata pertanian, wisata agro, wisata pendidikan, wisata fauna, wisata kerajinan dan wisata lereng Merapi. Gambaran masing – masing atraksi wisata dari tujuh jenis tersebut seperti terlihat pada Gambar 1. Potensi yang berbeda-beda dari ke tujuh jenis wisata tersebut dapat menjadi keunggulan tersendiri bagi pariwisata Sleman.

Royo-Vela (2009) mengklasifikasikan atraksi wisata menjadi empat kelompok yaitu atraksi natural (hutan, sungai dan sebagainya), atraksi kesejarahan (candi, istana, prasasti dan sebagainya), atraksi budaya (atraksi relijius, museum,

(5)

kerajinan dan sebagainya), dan aktraksi buatan (taman tematik, wahana permainan dan sebagainya). Desa wisata di Sleman memiliki keempat macam klasifikasi tersebut dengan fokus obyek menyangkut potensi fisik (alam) dan potensi budaya. Pertanyaan yang muncul adalah kekhasan apakah sebenarnya yang dimiliki desa wisata yang ditawarkan?. Jika budaya lokal yang akan menjadi fokus pembeda, apakah budaya lokal unik yang dimiliki mampu bertahan dari pengaruh budaya modern yang dapat menyebabkan keunikan budaya akan menjadi sangat umum dijumpai? Jika kondisi fisik alamnya yang akan ditawarkan, maka permasalahan lain yang timbul adalah seberapa besar pembeda budaya dan fisik alam memiliki keunikan dengan daerah lain?.

Dengan memperhatikan pertanyaan tersebut maka tulisan ini bertujuan untuk melakukan identifikasi elemen fisik yang menjadi ciri khas sebuah desa wisata khususnya di daerah Sleman dan menganalisis nilai pembeda lokasi dengan memadukan ciri fisik dengan kekhasan budaya lokalnya, sehingga keunikan yang akan dibahas di sini adalah keunikan yang berfokus pada fisik dan budaya lokal.

Permukiman Perdesaan dan Desa Wisata

Menurut Doxiadis (1968) permukiman selalu terkait dengan lima elemen yaitu manusia (man), masyarakat (society), lingkungan buatan (shell), jaringan (network) dan sumber daya alam (nature). Permukiman secara garis besar terdiri atas content dan container (Doxiadis, 1968). Isi dan tempat merupakan satu kesatuan. Manusia sebagai isi atau content, sedangkan sumber daya alam serta lingkungan buatan dengan segala aktivitasnya sebagai wadah atau contaniner atau disebut juga physical settlement. Kesatuan keduanya dalam arti luas adalah bumi itu sendiri. Manusia juga merupakan bagian dari alam, namun Doxiadis menempatkan manusia sebagai obyek utama atau pusat dari elemen yang lain. Oleh karena itu manusia merupakan bagian yang paling utama dalam permukiman. Definisi desa menurut Rondinelly (1978) dapat dikaitkan dengan luasan, fungsi utama, fungsi pendukung, besaran dari sisi jarak tempuh, dan jumlah penduduk yang membedakannya dengan kota. Namun yang paling mendekati dengan definisi settlement menurut Doxiadis adalah pengertian desa menurut Adisasmita 2006 yaitu suatu kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan permukiman, pemerintahan, sosial dan ekonomi. Pengertian tersebut mengandung wadah atau container menurut Doxiadis. Oleh karena itu pengertian permukiman perdesaan secara spesifik menyangkut wadah yang memiliki kegiatan atau aktivitas manusia yang khusus yaitu pertanian.

(6)

6

menyangkut atraksi alam/natural, historis dan budaya seperti suasana perdesaan dengan hamparan sawah, rumah yang sederhana dengan segala kehidupan berciri khas agraris.

Metode kajian yang dipergunakan dalam tulisan ini adalah membandingkan kekhasan dari beberapa desa wisata yang menjadi daya tarik utama. Makna wisata perdesaan sendiri sangatlah beragam dan masih menjadi dilema (Fagence, 1997). Menurut Royo-Vela, 2006 jika dilihat dari kajian tujuan wisata (destination study) makna tersebut dapat dianalisis dengan menggunakan lima fokus yang berbeda yaitu daur hidup, nilai kontingen, pengalaman wisata, kualitas tujuan, dan citra tujuan (life cycle, contingent value, tourist experience, destination quality, and destination image). Jika dikaitkan dengan tujuan makalah ini maka fokus pembahasan menggunakan dasar kualitas tujuan wisata untuk mengidentifikasi nilai pembeda obyek wisata. Kualitas dari tujuan wisata perdesaan dapat dibedakan dengan melihat keunikan obyeknya, yaitu dari ciri fisik dan ciri budayanya. Keduanya mewakili container dan content (Doxiadis, 1968).

Elemen fisik dianalisis dengan menggunakan dasar genius loci (Trancik,

1986), bahwa setiap tempat memiliki keunikan yang bermakna, untuk menemukan

keragaman dan kesamaan dalam struktur formal desa wisata. Elemen fisik diidentifikasi dengan melihat 1) lokasi desa wisata 2) topografi lingkungan 3) iklim lingkungan 4) fasilitas aktifitas wisata 5) keindahan alam dan lingkungan. Elemen budaya dianalisis dari cara berkehidupan masyarakat desa wisata yang menjadi obyek utama wisata Sedangkan analisis pembeda dilakukan dengan menggunakan matriks perpaduan elemen fisik dengan elemen budaya. Pembahasan akan daya tarik wisata dilakukan dengan membandingkan potensi perpaduan elemen fisik dan kekhasan budayanya dengan tuntutan wisatawan terhadap wisata perdesaan.

Desa Wisata dan Elemen Kunci Dalam Pariwisata

Dalam pariwisata ada empat elemen kunci (Cooper, 1998), yang sangat penting untuk diperhatikan yaitu permintaan (demand), tujuan (destination), industri dan organisasi pemerintah, pemasaran (marketing). Keempat elemen ini saling berkaitan satu dengan yang lain, sehingga pembahasan mengenai salah satu elemen akan menyinggung pula elemen lainnya.

(7)

banyaknya potensi suatu daerah dalam melakukan perjalanan wisata (contohnya orang Jakarta lebih berpotensi melakukan aktifitas wisata dibandingkan dengan kota kecil lainnya seperti Ambarawa misalnya). Oleh karena itu dalam mengidentifikasi karakteristik desa wisata akan terkait dengan keenam hal tersebut.

Aspek permintaan (demand) kaitannya dengan elemen tujuan (destination) adalah pada jenis atraksi wisata dan motif wisata. Wisata perdesaan terkait dengan motif kebudayaan mengingat wisatawan desa wisata datang tidak hanya untuk menyaksikan dan menikmati atraksi akan tetapi mereka biasanya melakukan penelitian. Oleh karenanya desa yang dapat menjadi tujuan wisata perdesaan adalah desa yang memiliki keunikan menurut sisi pandang wisatawan.

Sementara itu aspek industri dan organisasi pemerintah terkait dengan demand adalah sebagai pihak yang memberi sarana prasarana menuju wisata perdesaan. Infrastruktur dan angkutan wisata adalah fasilitas minimal yang dibutuhkan agar obyek wisata dapat diakses oleh wisatawan, namun jika dikaitkan dengan motif kebudayaan justru seringkali aspek ini dapat mengubah daya tarik wisata yang ditawarkan. Dengan demikian aspek akses juga merupakan aspek fisik yang penting untuk diidentifikasi sebagai karakteristik obyek wisata perdesaan. Aspek pemasaran (marketing) merupakan aspek aktualisasi perjalanan wisata. Kebutuhan obyek wisata untuk dikenali merupakan hal pokok sebagai awal proses dimulainya kegiatan wisata, namun pada obyek desa wisata kegiatan pemasaran ini tidak terlalu diharapkan intervensinya dari wisatawan mengingat keaslian budaya merupakan keunikan yang dipertahankan. Cara pemasaran yang dilakukan agar tidak terlalu mengganggu nilai keaslian budaya perdesaan, merupakan salah satu isu penting untuk dibahas. Terkait dengan identifikasi karakteristik desa wisata, aspek pemasaran merupakan salah satu aspek yang akan mempengaruhi kecepatan tingkat perubahan desa wisata.

Mengenali Kekhasan Desa Wisata

Jika kekhasan mengacu pada pendekatan tipologi, maka penelusuran akan dibatasi berdasarkan standar yang sudah pernah digunakan sebelumnya. Kata ‘tipologi’ jika dibandingkan dengan kata ‘tipe’ memiliki arti yang ambigu. Tipe merupakan konstruksi baik produk maupun proses dari model dasar atau cara pikir, sedangkan tipologi dalam arti yang paling sederhana mengandung makna kajian atau teori dari tipe dan sistem klasifikasi.

Sistem klasifikasi biasa digunakan untuk memberi kejelasan dan menyederhanakan fenomena dengan menggunakan sesedikit mungkin variabel untuk menjelaskan suatu fenomena (Lang, 2005). Pada tulisan ini mengenali kekhasan desa wisata digali dengan pendekatan naturalistik agar budaya lokal yang terkandung dalam kasus-kasus dapat dikenali karakteristiknya secara lebih mendalam sesuai dengan maksud menangkap sedekat mungkin fenomena yang ada.

(8)

8

dengan wisata kota, maka struktur kehidupan masyarakatnyalah yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikannya dengan lebih jelas. Struktur kehidupan masyarakat desa sangat dipengaruhi oleh struktur fisik desa dan pola permukiman desa. Struktur fisik desa sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik dengan berbagai aspeknya terutama lingkungan geografis seperti iklim, curah hujan, keadaan atau jenis tanah, ketinggian tanah, tingkat kelembaban udara, topografi dan lainnya, karena akan sangat mempengaruhi jenis tanaman, sistem pertanian dan pola perilaku petaninya. Jadi jelaslah bahwa pada kawasan perdesaan ada dua elemen utama yang mempengaruhi yaitu lingkungan fisik terkait lokasi dan budaya penduduknya.

Dengan pendekatan naturalistik, desa wisata di Sleman dianalisis dengan menggunakan aspek fisik desa di Sleman yang di dalamnya menyangkut isi yaitu budaya petani dan lokasi tempat petani beraktifitas, sehingga dapat dilihat gambaran secara lebih menyeluruh. Desa wisata di Sleman didominasi oleh lokasi desa dengan potensi pertanian sawah, kebun salak, serta kebun buah-buahan lain. Gambaran potensi perkebunan dan pertanian dapat dilihat pada gambar 2 ini.

Gambar 2. Potensi perkebunan dan pertanian di desa wisata Pentingsari dan Brayut, Sleman Yogyakarta. Sumber : dok. Survey, 2015

Salak banyak dibudidayakan di Sleman mengingat jenis tanah dengan tekstur pasir atau lempung berpasir yang banyak tersebar di sekitar lereng Merapi. Salak dapat pula tumbuh pada jenis tanah yang lain teutama yang subur, gembur dan mengandung banyak bahan organis. Iklim sedang 200-300 sangat sesuai dengan tanaman salak, namun salak tidak tahan terhadap genangan air walaupun perlu cukup air. Akan lebih baik jika salak ditanam pada air tanah dangkal. Kawasan lereng Merapi sangat sesuai dengan persyaratan tumbuh salak. Kondisi khas perkebunan salak inilah yang tidak dijumpai di banyak daerah lain, oleh karena itu lokasi Sleman sangat sesuai untuk melakukan studi mengingat keunikan budidayanya yang juga akan mempengaruhi pola kehidupan masyarakatnya.

Untuk mencari karakteristik desa wisata di Sleman perlu ditelusuri terlebih dahulu desa manakah yang akan menjadi studi kasus. Dari ketiga puluh tujuh desa wisata yang terdapat di kabupaten Sleman, akan dipilih dengan menggunakan kriteria desa wisata menurut Dinas Pariwisata yaitu pertama melihat jumlah kunjungan wisatawan yang menjadi penentu utama dan kemudian dilengkapi dengan persyaratan kedua yaitu pada saat dilakukannya penelitian lapangan masih aktif menerima kunjungan wisatawan.

a. Kebun buah – buahan di desa Pentingsari

(9)

Berdasarkan tahap seleksi pertama ada 22 desa wisata yang telah hidup yang dikenal dengan klasifikasi desa wisata berkembang dan desa wisata mandiri, sedangkan desa wisata tumbuh tidak dapat memenuhi kriteria tersebut karena masih dalam tahap pengembangan identitas dan belum memiliki karakteristik yang cukup mapan. Pada pemilihan tahap kedua hanya tersisa 8 desa wisata saja yang memenuhi syarat. Untuk menghasilkan karakteristik unik yang lebih mendalam dipadukan aspek keunikan fisik dan budayanya sebagai basis pengembangan wisatanya sehingga hanya dibahas tiga desa wisata yang mewakili tiga karakteristik yang berbeda yaitu desa Kembang Arum, desa Pentingsari dan desa Gabugan. Desa Kembang Arum dan Desa Pentingsari mewakili desa wisata mandiri sedangkan desa Gabugan mewakili desa wisata berkembang. Suasana desa Kembang Arum dan Pentingsari dapat dilihat pada gambar 3 berikut ini

Gambar 3. Suasana pedesaan yang ditawarkan desa wisata Kembang Arum dan desa wisata Pentingsari (dok. Leaflet wisata dan riset 2014)

Desa wisata mandiri diwakili oleh dua desa mengingat karakteristiknya yang sangat berbeda, desa wisata Kembang Arum mewakili atraksi buatan yang sangat menarik karena memiliki anomali jumlah kunjungan wisata yang cukup tinggi walaupun atraksi buatan yang ditawarkan. Desa Pentingsari mewakili atraksi natural pada karakter desa wisata mandiri. Desa wisata Gabugan mewakili desa wisata berkembang yang potensi budayanya tidak terlalu menonjol namun mendapat kunjungan wisatawan yang tidak kalah banyak dengan dua desa sebelumnya.

Karakteristik Desa Wisata Dengan Kenyamanan Akses dan Budaya Desa-Kota

(Karakteristik 1)

Karakteristik 1 diwakili oleh Desa Kembang Arum, desa wisata ini terletak kurang lebih 16 km dari kota Yogyakarta dan memiliki akses sangat dekat dengan jalan arteri Tempel Pakem. Desa ini termasuk desa wisata mandiri yaitu desa wisata yang telah mengembangkan potensi wisatanya secara mandiri, yang artinya sudah dapat bertahan dengan kemampuan dan upaya desa tersebut sendiri melalui lembaga yang dibentuk desa wisata. Sedangkan istilah mandiri perkotaan diberikan setelah melihat kondisi lapangan desa wisata yang menunjukkan

a. Salah satu suasana desa yang terdapat di desa Kembang Arum.

(10)

10

pengembangan wisatanya yang berorientasi pada aktifitas yang bersifat kekotaan. Jika dilihat secara fisik ciri lansekap maupun arsitektur rumahnya mengacu pada kebutuhan wisatawan kota lengkap dengan kenyamanan kota.

Secara umum tipologi ini tetap berada di lingkungan perdesaan asli, namun ada perbedaan yang cukup mencolok dari sisi pola persebaran permukimannya (Gambar 4). Permukiman berpola terpencar, aktifitas wisata berpusat pada satu titik tertentu, fasilitas pendukung wisata sangat beragam dan telah mengacu standar inap setaraf hotel. Terlihat dari gambar jalan masuk menuju pusat aktifitas wisata yang berada di utara desa. Jalan masuk sempit dan suasana perkebunan salak sangat terasa, namun ketika berada di halaman kompleks wisata terasa berada di sebuah resort yang tertata. Begitu pula lingkungan homestay dengan berbagai tipe telah tersedia.

Peta Blok Plan desa Kembang Arum

Legenda:

 Rumah dan homestay

Jalan akses utama Jalan lingkungan desa Sungai/kali

a. Fasilitas Homestay

a. Jalan masuk desa wisata

(11)

b. Fasilitas aktivitas outdoor Gambar 4. Desa Wisata Kembang Arum

Sumber: analisis penulis 2014.

Pada awal perkembangan desa wisata ini homestay yang digunakan masih menggunakan rumah tempat tinggal penduduk, namun pada perkembangannya investor telah membeli atau menyewa lahan di desa dan dibangun rumah-rumah baru untuk homestay. Walaupun rumah penduduk juga masih dapat digunakan, namun sebagian besar aktifitas berada di resort yang telah berubah menjadi desa bernuansa kota. Perubahan ini tidak dapat dihindari mengingat telah masuknya investor yang sekaligus membawa konsep pemasaran dengan memperhitungkan nilai keuntungannya. Oleh karena itu akan mempercepat proses perubahan.

Aktivitas budaya utama yang ditawarkan pada desa wisata ini bermula dari aktifitas sanggar lukis yang mengambil tempat pada lokasi perdesaan agar memberikan inspirasi obyek lukis melalui pemandangan kehidupan sehari-hari masyarakat perdesaan saat mereka melakukan aktifitas pertanian padi dan perkebunan salak. Desa ini kemudian berkembang dengan adanya aktifitas inap pada rumah penduduk. Tahap berikutnya adalah desa ini kemudian dilengkapi dengan fasilitas inap/homestay pada lingkungan tersendri, fasilitas outbound seperti flying fox, jembatan goyang dan sebagainya. Aktivitas lain adalah belajar seni budaya, tracking alam perdesaan, mempelajari aktivitas perdesaan. Aktivitas lukis sebagai daya tarik terlihat pada gambar 5 berikut ini.

Gambar 5. Sanggar lukis Pratista di desa wisata Kembang Arum (sumber : olahan leaflet wisata desa Kembang Arum, 2015)

a. Sanggar Lukis Pratista Desa Kembang Arum

(12)

12

Partisipasi masyarakat juga terlihat dengan melibatkan masyarakat sebagai pendamping kegiatan kelompok wisatawan dan pelaku aktifitas upacara-upacara adat perdesaan. Pengelolaan dilakukan oleh lembaga tersendiri yang menjadi satu dengan pengelolaan sanggar lukis yang ada di kota Yogyakarta, sehingga tidak melibatkan secara langsung masyarakat desa.

Keunikan fisik pada desa ini adalah pada akses yang mudah menuju desa wisata dengan kualitas jalan yang sangat baik karena hanya berjarak 400 m dari jalan alternatif Tempel-Pakem. Sementara itu akses di dalam desanya sendiri terpisah dari akses utama, sehingga dari sisi lokasi secara spasial sangat menguntungkan untuk membentuk suasana perdesaan. Akses kemudian diperkuat dengan lingkungan permukiman yang menyatu dengan kebun salak dan keberadaan sungai dangkal yang sangat jernih airnya. Suasana perdesaan di desa Kembang Arum saat ini telah dikembangkan dengan kehadiran kompleks homestay yang dibangun oleh investor dengan kualitas setara fasilitas di kota. Oleh karena itu peminat desa wisata ini adalah orang-orang yang tuntutan alamiahnya juga tidak terlalu tinggi.

Karakteristik Desa Wisata Lokasi Terisolir dan Budaya Lokal (Karakteristik 2)

Karakteristik 2 diwakili desa wisata Pentingsari, desa ini berada kurang lebih 20 km dari kota Yogyakarta di lereng gunung Merapi dan berada lebih dekat dengan kawasan Kaliurang. Desa ini merupakan kawasan yang berbentuk seperti semenanjung, karena di sebelah timur dan baratnya merupakan daerah yang relatif curam dengan batasan dua buah kali /sungai yaitu kali kuning di sebelah barat dan kali pawon di sebelah timur, dan kedua kali itu bertemu di sebelah selatan desa. Satu-satunya akses menuju desa ini melalui jembatan menyeberangi kali Pawon, sehingga lokasinya agak terisolir dari daerah lainya. (lihat gambar 7).

Lokasi desa wisata Pentingsari yang agak terisolir inilah yang membentuk suasana perdesaan dengan wisata alam sangat terasa. Hutan dengan berbagai macam tanaman diselingi dengan tanaman buah seperti alpokat, durian, salak dan tanaman coklat sangat rapat dijumpai di sana. Daerah berupa dataran tinggi berbentuk linier sehingga pola permukimannyapun tersebar secara linier. Lokasinya yang khas inipun membentuk hubungan masyarakatnya yang erat dan akrab satu dengan lainnya. Potensi alam dapat dilihat pada gambar 6 berikut.

Gambar 6. Wisata Alam yang terkait dengan unsur sejarah Pancuran Sendang yang disajikan bersama dengan wisata jelajah desa (dok. Leaflet wisata, 2015)

(13)

Selain wisata alam desa inipun dikenal dengan sejarahnya karena konon daerah ini merupakan persembunyian Pangeran Diponegoro saat berperang tahun 1825-1830 menyerang penjajah yang berada di daerah Kaliurang. Suasana mistis juga sangat terasa dengan adanya beberapa mitos seperti mitos pancuran Sendangsari yang dihuni Ratu Kidul, mitos Sunan Kalijaga yang pernah datang di desa ini, mitos tempat bertemunya para wali dan sebagainya. Mitos dan legenda itulah yang sampai kini mewarnai desa wisata Pentingsari. Kepercayaan masyarakat inilah yang menyebabkan desa ini tetap bertahan untuk melindungi pohon-pohon yang ada di desa tersebut. Oleh karena itu desa ini diminati oleh terutama wisatawan yang sangat perduli pada kelestarian alam.

Legenda:

 Rumah dan homestay Jalan akses utama Jalan lingkungan desa Sungai/kali

alan tanah

a. Jalan masuk desa

b. Joglo untuk latihan seni

(14)

14

b. Dam penahan lahar Merapi Gambar 7. Desa Wisata Pentingsari

Sumber: Analisis penulis 2014.

Kunjungan wisata yang cukup tinggi frekuensinya dan didukung pengelolaan yang merupakan partisipasi murni dari masyarakat, maka desa Pentingsari termasuk ke dalam kelompok desa wisata yang telah mandiri. Padahal desa ini merupakan desa wisata yang termasuk baru (dibentuk tahun 2008). Kekuatan partisipasi masyarakat merupakan modal untuk menghambat masuknya investor dalam pengelolaan obyek wisata, sehingga pihak luar yang dapat terlibat di dalamnya adalah jasa wisata yang lebih berfungsi sebagai agen pemasaran.

Karakteristik Desa Wisata Akses Terbuka dan Budaya Lokal (Karakteristik 3)

Karakteristik 3 diwakili desa Gabugan, desa wisata ini lokasinya juga berada kurang lebih 16 km dari kota Yogyakarta, hanya 1 km dari desa wisata Kembang Arum. Permukiman tersebar di sekitar akses utama dengan jalan beraspal, namun pusat aktifitas wisata yang mengambil tempat di sekitar pendopo yang berada di utara desa. sangat kental dengan suasana perdesaan. Walaupun demikian potensi fisik desa ini masih berada di bawah desa pentingsari. Adat menjadi kekuatan desa ini seperti terlihat pada gambar 8 berikut ini.

Gambar 8. upacara adat Merti Bumi di desa Gabugan (dok. Warga desa, 2013)

a. Hasil bumi yang sebagai symbol ucapan syukur

b. Barisan pemuda mengawali prosesi Merti Bumi

(15)

Suasana perdesaan di desa ini dengan budaya berkehidupan masyarakatnya masih sangat kental budaya pendesaan walaupun sebenarnya dari persebaran permukimannya dipotong oleh akses utama menuju desa lain. Inilah yang menjadi keunikan desa ini. Lebih terasa lagi uniknya karena dengan keterbukaan akses ini ternyata tidak mempengaruhi kehidupan sosial masyarakatnya yang masih sangat kuat memegang budaya leluhur seperti mempertahankan penghargaan cikal bakal atau leluhur desa, mempertahankan kepemilikan lahan pada keluarga dalam (keluarga yang masih memiliki garis darah dengan cikal bakal atau leluhur desa).

Peta Blok Plan Desa Gabugan

Legenda:

 Rumah dan homestay Jalan akses utama Jalan lingkungan desa Sungai/kali

a. Akses utama desa

b. Jalan menuju pendopo pertemuan

(16)

16

b. Sungai

Gambar 9. Desa Wisata Gabugan Sumber: Analisis penulis 2014.

Partisipasi masyarakat di desa ini juga cukup tinggi. Semua pengelolaan wisata dilakukan oleh pemuda karang taruna dan beberapa orang pemuka masyarakat. Terlihat melalui gambar 9. Dengan keunikannya ini, desa wisata ini lebih diminati oleh wisatawan dari kalangan pendidikan (terutama sekolah menengah pertama dan atas) untuk tujuan pendidikan luar sekolah dengan fokus pembelajaran penelitian. Potensi unik dari desa ini adalah pada keberagaman obyek yaitu pertanian padi, perkebunan salak, perikanan, peternakan puyuh, dan pembelajaran membatik.

Tingginya partisipasi masyarakat dan kuatnya kepercayaan masyarakat untuk mempertahankan tanah leluhur, maka desa ini juga memiliki kekuatan untuk mencegah intervensi pihak luar untuk ikut mengembangkan desa wisata. Jasa wisata yang terlibat di desa ini adalah agen perjalanan yang memiliki misi pendidikan, oleh karena itu pemasaran yang dilakukan adalah pemasaran pada lingkup yang terbatas.

Kesimpulan

Keterkaitan potensi fisik dan budaya local pada desa wisata lestari

Pembahasan yang dilakukan pada 3 desa wisata yang menjadi contoh dari 3 karakter desa wisata lestari mengarahkan pada satu kesamaan, yaitu adanya unsur keterlibatan warga desa untuk mempertahankan keberlanjutan desa wisatanya sehingga menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Tabel perbandingan dari ketiga desa tersebut dikaitkan dengan minat wisatawan dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 4. Matriks Keterpaduan Fisik dan Budaya Terhadap Tuntutan Wisatawan

Keterpaduan fisik dan budaya lokal

Tuntutan Wisatawan

(berdasarkan intepretasi minat terhadap tipologi)

Karakteristik 1 Karakteristik 2 Karakteristik 3

(17)

Standar Keunikan budaya Perlu ada sebagai

bahan inspirasi,

Karakteristik 1 adalah yang paling rentan dipengaruhi oleh kekuatan budaya global mengingat orientasi pada pasar yang lebih memprioritaskan pada standar kenyamanan, masuknya investor dan partisipasi masyarakat yang tidak terlalu tinggi, sehingga lebih mudah terkena dampak pemasaran modern dengan target pasar wisatawan golongan menengah ke atas dengan segala tuntutan modern. Selain itu karakteristik spasialnya yang dekat dengan akses utama juga sangat memungkinkan untuk terkena dampak modernisasi. Sedangkan karakteristik 3 berada pada kekuatan yang cukup tingi untuk bertahan dari pengaruh luar selama masih menghormati tuntutan yang disampaikan oleh leluhurnya masih tinggi. Hal ini disebabkan karena tingginya partisipasi masyarakat yang masih menjunjung budaya leluhur. Walaupun karakteristik fisik desa ini sangat terbuka terhadap akses jalan kolektor, namun kekuatan mempertahankan tanah leluhur menjadi modal yang sangat kuat dalam mempertahankan keaslian budayanya. Sedangkan karakteristik 2 adalah tipologi yang paling memiliki kekuatan terbesar untuk melindungi dirinya dari pengaruh budaya global selain karena kekuatan mempertahankan kebanggaan terhadap nilai sejarah lokasi tersebut yang berawal dari tingginya partisipasi masyarakat, juga didukung oleh kekuatan lokasinya yang terisolir dan jauh dari pengaruh modernisasi.

Dari karakteristik ketiga desa yang dikaji tersebut terlihat bahwa karakteristik desa wisata dengan akses terbuka dan memiliki potensi budaya lokal (karakteristik 3) adalah desa wisata yang perlu dikaji lebih dalam kekuatan yang dimilikinya dalam mempertahankan diri dari kekuatan modernisasi. Fenomena yang biasa terjadi adalah suatu tempat dengan akses yang baik maka akan sangat mudah terkena dampak modernisasi. Karakteristik desa 3 ini justru sebaliknya, walaupun aksesnya baik namun pengaruh modernisasinya belum atau tidak terlalu cepat dan bahkan ada kecenderungan untuk tetap mempertahankan nilai-nilai budaya leluhurnya.

Perpaduan Budaya Lokal dan Potensi Fisik Dalam Era Globalisasi

(18)

18

kehidupan masyarakatnya dengan dipadukan dengan kekuatan fisiknya, namun dari studi kasus desa wisata dengan tiga tipologi yang berbeda, ternyata terdapat perbedaan tuntutan wisatawan yang sangat mungkin berimbas pada perubahan ketahanan budaya lokal dalam menghadapi tekanan budaya global.

Potensi fisik yang ditunjang dengan adanya unsur tradisi menjadi kekuatan bagi keberlangsungan suatu desa wisata.

Perpaduan kondisi fisik yang memiliki akses terbuka dengan budaya leluhur yang masih dipegang teguh oleh penduduknya merupakan suatu hal yang unik untuk dikembangkan dalam penelitian yang lebih mendalam melalui pertanyaan-pertanyaan penelitian, contohnya seperti: Apa kekuatan yang dimiliki desa tersebut? Apa makna kekuatan tersebut bagi penduduk desa sehingga mereka masih mempertahankan kepercayaan terhadap leluhur? Dan pertanyaan lain yang masih dapat dieksplorasi.

Dengan demikian desa wisata dengan perpaduan budaya lokal yang kuat namun memiliki potensi lokasi dengan akses terbuka memang merupakan daya tarik tersendiri bagi wisata perdesaan. Selain itu fenomena yang dimiliki juga patut untuk dikembangkan ke dalam penelitian lebih lanjut mengingat fenomena tersebut merupakan fenomena lain dari yang biasa terjadi.

Daftar Pustaka

Barlybaev, AA; Akhmetov V.Ya; Nasyrov GM, (2007), “Tourism as a Factor of Rural Economy Diversification”, Studies on Russian Economic Development 2009, Vol 20 no 6, pp 639-643.

Cooper, Fletcher, Gilbert, Shepperd, and Wanhill, (1998), “Tourism Principle and Practice”, Prentice Hall, London.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kabupaten Sleman, (2007), “Profil Desa Wisata di Kabupaten Sleman”, tidak dipublikasikan.

Doxiadis, Constantion A., (1968), “Ekistic: An Introdusction to the Science of Human Settlement”, London: Hutchinson and Co.

Fandeli, C., (2000), “Pengusahaan Ekowisata”, Penerbit Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Fagence, Michael, (1997), “Ancangan Perencanaan Pariwisata Desa dan

Pariwisata Perdesaan : Upaya Mewujudkan Potensi Desa dan Daerah Perdesaan’, dalam “Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan“, Prosiding Pelatihan dan Lokakarya Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan, Penerbit ITB, Bandung, pp 90-102.

Hwang, Doohyun ; Stewart, William P., and Ko, Dong-wan, (2012), “Community Behaviour and Sustainable Rural Tourism Development“, Journal of Travel Research 51(3) (2012) pp. 328-341.

(19)

Liu, Abby, (2006), “Tourism in Rural Areas: Kedah Malaysia“, Tourism Management 27(2006) pp 878-889.

Nuryanti, Wiendu, (1993), “Concept, Perspective and Challenges”, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional “Pariwisata Budaya”. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, pp.2-3.

Nugroho, Iwan, (2011), “Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan”, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Rondinelly, Dennis A., (1978), “Urbanization and Rural Development: A Spacial Policy for Equitable Growth“, Praeger Publishers, New York.

Royo-Vela, Marcelo, (2009), “Rural-Cultural Excurtion Conseptualization: A Local Tourism Marketing Management Model Based on Tourist Destination Image Measurement”, Journal Tourism Management 30 (2009) pp. 419-428, Journal online Elsevier.

Soetomo, Sugiono, (2009), “Urbanisasi dan Morfologi”, Graha Ilmu, Yogyakarta.

Gambar

Tabel 1: Jumlah Wisatawan Obyek Desa Wisata di Sleman
Gambar 1. Foto Tujuh Jenis Wisata Perdesaan Sleman
Gambar 3.  Suasana pedesaan yang ditawarkan desa wisata Kembang Arum dan desa wisata Pentingsari (dok
Gambar 4. Desa Wisata Kembang Arum
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dengan ini saya menyatakan bahwa isi intelektual Skripsi saya yang berjudul “PENGARUH VARIASI SUHU SINTERING PADA PEMBUATAN STRONTIUM TITANAT MENGGUNAKAN METODE

Secara keseluruhan kepuasan kerja karyawan Hotel Aliga Padang tergolong pada kategori cukup puas, ditinjau dari masing-masing indikator yaitu isi pekerjaan, supervisi,

Dengan konsep New Experience yang diharapkan adalah memberikan pengalaman – pengalaman baru dalam hal menikmati sinepleks di kota Kendari, dengan menggunakan

Ulama ahli Ushūl Fikih menyatakan bahwa jika suatu teks keagamaan (ayat Qur’an atau Hadits) hanya mengandung satu makna yang jelas dan tidak membuka kemungkinan

Keadaan tersebut berbeda dengan wilayah kondisi lingkungan dan perilaku peternak sedang (LPS), karena pada wilayah ini ketersediaan air untuk minum dan sanitasi

ditetapkan di bawah Klausa 20 Pemilihan Pemenang dan Penyerahan Hadiah. Pihak Bank tidak akan bertanggungjawab atas sebarang kegagalan atau kelewatan dalam memaparkan

memiliki korelasi kuat dengan apa yang lebih disukai untuk dipelajari dan bagaimana cara terbaik yang kita pilih untuk mempelajari hal yang kita sukai.. Suatu kaidah umum berlaku

Diantara banyak faktor yang mempengaruhi tersebut, penelitian ini dibatasi pada permasalahan upaya guru dalam membelajarkan siswa, artinya guru harus mengelola proses